Anda di halaman 1dari 13

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Tuberkulosis (TB) adalah salah satu dari 10 penyebab kematian teratas di
seluruh dunia. Pada tahun 2017, 10 juta orang terinfeksi TB dan 1,6 juta meninggal
akibat penyakit tersebut. Indonesia adalah salah satu dari delapan negara yang
menyumbang dua pertiga dari kasus TB baru selain India, Cina, Filipina, Pakistan,
Nigeria, Bangladesh dan Afrika Selatan. (Juliasih and Sari 2020)
Tuberkulosis adalah penyakit mematikan di seluruh dunia, yang mana
menyebabkan 34,5 tewas per 100.000 populasi berpenghasilan rendah negara pada
tahun 2015. Di Indonesia, tuberkulosis adalah yang utama kejadian kematian pada
penyakit menular. Berdasarkan (World Health Organization 2016), Indonesia
memiliki yang tertinggi insiden tuberkulosis di seluruh dunia setelah India, yang
peringkatnya meningkat dari 2014. Jawa Timur adalah salah satu provinsi di
Indonesia yang memiliki kasus tuberkulosis tinggi 41.404 kasus. Apalagi Surabaya itu
salah satu yang terbesar kota-kota di Jawa Timur memiliki andil penyakit TB yang
tinggi insiden diikuti oleh Jember dan Banyuwangi dengan 3.990 kasus, masing-
masing 3.334 kasus, dan 1.760 kasus. Pada tahun 2011, kejadian tuberkulosis di
Jember dilaporkan sebanyak 2.182 kasus, meningkat dari tahun 2010 sebanyak 1.963
kasus. (Ma et al. 2019)
Tuberkulosis masih menjadi penyebab utama penyakit dan kematian pada
anak-anak di seluruh dunia. Pada 2016, (World Health Organization 2016) atau
(WHO) memperkirakan bahwa 6,9% dari 6,3 juta kasus baru tuberkulosis adalah
anak-anak, dan 210.000 kematian terjadi di antara anak-anak. WHO juga.
Diperkirakan ada 1,3 juta anak berusia 5 tahun tinggal di rumah tangga dengan kasus
tuberkulosis, namun hanya 13% yang menerima pengobatan pencegahan tuberkulosis.
Sebagian besar kasus tuberkulosis masuk anak-anak terjadi di negara endemis
tuberkulosis, seperti Indonesia, yang merupakan negara dengan beban tuberkulosis
tertinggi kedua di seluruh dunia pada tahun 2016. Pada tahun itu, jumlah tuberkulosis
baru kasus di Indonesia diperkirakan sekitar 1.020.000 atau 391 kasus per 100.000
penduduk, dan kasus tuberkulosis baru di antaranya anak-anak sekitar 7% dari semua
kasus tuberkulosis. (Rakhmawati, Nilmanat, and Hatthakit 2019)
Tuberkulosis (TB), meskipun sebagian besar merupakan penyakit yang dapat
disembuhkan, tetap menjadi penyebab utama kematian secara global, didorong oleh
peningkatan resistensi obat anti-mikobakteri yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dari jumlah tersebut, 558.000 adalah kasus baru yang resisten terhadap rifampisin-a
obat kunci dalam pengobatan lini pertama saat ini. (World Health Organization 2019).
Delapan puluh dua persen dari kasus resisten rifampisin memiliki TB yang resistan
terhadap beberapa obat (TB-MDR), yang setidaknya mencakup resistansi terhadap
yang pertama obat baris isoniazid (Organisasi Kesehatan Dunia, 2018). Sedangkan
kejadian resistensi obat adalah sekitar 5% dari total kasus TB, 17% kematian TB
disebabkan oleh jenis yang resistan terhadap obat (Naicker, Sigal, and Naidoo 2020).
Petugas kesehatan merupakan salah satu kelompok rentan tertular TB dari
pasien. Sebaliknya, petugas kesehatan yang menderita TB aktif dan memberikan
layanan kepada pasien juga dapat menjadi agen penularan infeksi. Kondisi tersebut
perlu mendapat perhatian khusus, terutama jika tenaga kesehatan memberikan
pelayanan kepada anak. Pasalnya, anak-anak terutama yang berusia di bawah enam
tahun merupakan kelompok yang rentan tertular TB dari petugas kesehatan, misalnya
pada saat anak mendapat imunisasi (Erawati and Andriany 2020).

B. TUJUAN
Dengan adanya laporan pendahuluan ini pembaca diharapkan dapat
mengetahui tentang Tuberklosis Paru.

C. RUMUSAN MASALAH
1. Konsep medis
2. Konsep keperawatan
KONSEP MEDIS

A. DEFINISI
Tuberculosis Paru Atau Infeksi TBC disebabkan oleh Mycobacterium
Tuberculosis (M. Tuberculosis), yang dapat menyebar dengan mudah dari penderita
ke orang di sekitarnya melalui udara ketika penderita batuk atau berbicara. Percikan
air liur dari penderita M. tuberculosis dapat dengan mudah terhirup dan masuk ke
paru-paru, tempat favorit bakteri karena kaya akan oksigen. Di paru-paru, bakteri
mencari tempat baru untuk hidup dan berkembang biak. Ketika sistem kekebalan
tubuh inang lemah, bakteri akan berkembang biak dan menyebabkan infeksi baru
(Erawati and Andriany 2020).
Pada Status gizi memiliki hubungan yang sangat erat dengan risiko menderita
TB Paru. Individu dengan status gizi buruk akan lebih mudah beralih status dari TB
paru laten menjadi TB paru aktif dibandingkan dengan individu dengan gizi baik.
Status gizi yang rendah terkait dengan asupan makanan yang tidak sesuai dengan
kebutuhan tubuh karena kurangnya pengetahuan (ketidaktahuan dan kesadaran yang
rendah) akan urgensi pemenuhan kebutuhan aspek tersebut di masyarakat. Gizi yang
buruk pada orang miskin juga membuat orang mudah menderita berbagai penyakit
(Muchsin, Siregar, and Sudaryati 2019).

B. ETIOLOGI
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri
yang disebut Mycobacterium tuberculosis, di mana bakteri biasanya menyerang tidak
hanya paru-paru tetapi juga bagian manapun tubuh seperti ginjal, tulang belakang,
otak, saraf, sirkulasi, kerangka, dan sendi (Rakhmawati, Nilmanat, and Hatthakit
2019).
Tuberkulosis ialah penyakit kronis, dan bakteri menyebar melalui udara.
Berdasarkan sosial ekonomi Aspek, penularan tuberkulosis juga dipengaruhi oleh
urbanisasi, daerah padat, dan kemiskinan. Tuberkulosis merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat di dunia khususnya di Indonesia (Ma et al. 2019).

C. PATOFISIOLOGI
Ketika seorang klien TB paru batuk, bersin, atau berbicara, maka secara tak
sengaja keluarlah droplet nuklei dan jatuh ke tanah, lantai atau tempat lainanya.
Akibat terkena sinar matahari atau suhu udara yang panas, droplet nuklei tadi
menguap. Menguapnya droplet bakteri ke udara dibantu dengan pergerakan angin
akan membuat bakteri tuberkolosis yang terkandung dalam droplet nuklei terbang ke
udara. Apabila bakteri ini terhirup oleh orang sehat, maka orang itu berpotensi terkena
infeksi bakteri tuberculosis. Tempat masuk kuman mycobacterium adalah saluran
pernafasan, infeksi tuberculosis terjadi melalui (airborn) yaitu melalui instalasi dropet
yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang
terinfeksi. Basil tuberkel yang mempunyai permukaan alveolis biasanya diinstalasi
sebagai suatu basil yang cenderung tertahan di saluran hidung atau cabang besar
bronkus dan tidak menyebabkan penyakit (Utam 2018).
Penyakit Tuberculosis Paru (TB Paru) terjadi pada saat individu menghirup
bakteri dalam aerosol yang terinfeksi. Organisme ini tumbuh dengan lambat dan dapat
mentoleransi lingkungan intraseluler sehingga memungkinkan organisme ini untuk
tetap hidup secara metabolik selama bertahun-tahun sebelum reaktivasi dan
menimbulkan penyakit aktif. Setelah berada dalam ruangan alveolus biasanya di
bagian lobus atau paru-paru atau bagian atas lobus bawah basil tuberkel ini
membangkitkan reaksi peradangan, leukosit polimortonuklear pada tempat tersebut
dan memfagosit namun tidak membunuh organisme tersebut. Setelah hari-hari
pertama masa leukosit diganti oleh makrofag (Elsevier 2019). Alveoli yang terserang
akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Pneumonia seluler ini
dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga tidak ada sisa yang tertinggal atau proses
dapat juga berjalan terus dan bakteri terus difagosit atau berkembang biak, dalam sel
basil juga menyebar melalui gestasi bening reginal. Makrofag yang mengadakan
infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel
tuberkel epiteloid yang dikelilingi oleh limfosit, nekrosis bagian sentral lesi yang
memberikan gambaran yang relatif padat dan seperti keju-lesi nekrosis kaseora dan
jaringan granulasi di sekitarnya terdiri dari sel epiteloid dan fibrosis menimbulkan
respon berbeda, jaringan granulasi menjadi lebih fibrasi membentuk jaringan parut
akhirnya akan membentuk suatu kapsul yang mengelilingi tuberkel (Ardiansyah
2016)
Lesi primer paru-paru dinamakan fokus gholi dengan gabungan terserangnya
kelenjar getah bening regional dari lesi primer dinamakan komplet ghon dengan
mengalami pengapuran. Respon lain yang dapat terjadi pada daerah nekrosis adalah
pencairan dimana bahan cairan lepas ke dalam bronkus dengan menimbulkan kapiler
materi tuberkel yang dilepaskan dari dinding kavitis akan masuk ke dalam
percabangan keobronkial. Proses ini dapat terulang kembali di bagian lain dari paru-
paru atau basil dapat terbawa sampai ke laring, telinga tengah atau usus. Penyakit
dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah. Organisme atau lobus
dari kelenjar betah bening akan mencapai aliran darah dalam jumlah kecil, yang
kadang-kadang dapat menimbulkan lesi pada berbagai organ lain. Jenis penyebaran
ini dikenal sebagai penyebaran limfohematogen yang biasanya sembuh sendiri,
penyebaran ini terjadi apabila fokus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga
banyak organisme masuk ke dalam sistem vaskuler dan tersebar ke organ-organ tubuh
(Ardiansyah 2016).
Saat tuberculum basil ini mencapai alveoli maka akan dicerna oleh makrofag
alveolar, sehingga sebagian besar akan dihancurkan atau dihambat dan hanya sedikit
yang berkembang biak secara intraseluler dan dilepaskan saat makrofag mati. Basilus
menyebar melalui pembuluh darah atau pembuluh getah bening ke organ di luar paru-
paru, seperti kelenjar getah bening, genitourinari, pleura, tulang dan sendi, organ
peritoneal, meninges dan sistem saraf pusat, yang merupakan organ termanifestasi
EPTB yang paling umum (Muchsin, Siregar, and Sudaryati 2019).

D. MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan Gejala klinik tuberculosis dapat dibagi dalam 4 golongan yaitu antara lain :
1. Gejala Respiratorik
Batuk lebih dari 2 minggu, sputum yang mukoid atau mukopurulen, nyeri
dada, batuk darah, kelelahan dan kecemasan . Bila ada tanda tanda penyebaran ke
organ lain, seperti pleura, akan terjadi nyeri pleura, sesak nafas, ataupun gejala
meningeal (nyeri kepala, kaku kuduk, dan lain sebagainya).
1. Gejala sistemik
a. Malaise
b. Anoreksia
c. Berat badan menurun
d. Keluar keringan di malam hari
2. Gejala akut
a. Demam tinggi
b. Seperti flu dan merasa menggigil
3. Gejala milier
a. Demam akut
b. Sesak nafas
c. Sianosis ( kulit kuning ). (Ardiansyah 2016)

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Kultur sputum : positif untuk mycrobacterium tuberculosis
2. Ziehl-Neelsen : positif untuk basil-basil asam cepat
3. Teskulit (PPD, Mantoux, Potongan volumer) menunjukkan : infeksi masa lalu dan
adanya anti bodi, tetapi tidak secara berarti menunjukkan penyakit aktif.
4. Foto thorax : menunjukkan infiltrasi lesi awal pada area paru atas.
5. Histologi atau kulutr jaringan: positif untuk mycobacterium tuberculosis.
6. Pemeriksaan fungsi paru: penurunan kapasitas vital, peningkatan ruang mati,
peningkatan rasio udara residu dan kapasitas paru total, dan penurunan satuarasi
desigen sekunder terhadap infiltrasi perenkim atau fibrosis, kehilangan jaringan
paru dan penyakit pleural. (Ardiansyah 2016)

F. KOMPLIKASI
Komplikasi dari TB paru adalah :
1. Pleuritis tuberkulosa
2. Efusi pleura (cairan yang keluar ke dalam rongga pleura)
3. Tuberkulosa milier
4. Meningitis tuberkulosa
5. Menjalar ke organ lain (usus)
6. Obstruksi jalan napas (SOPT: sindrom obstruksi pasca tuberculosis)
7. Kerusakan parenkim berat (SOPT/Fibrosa paru, kor pulmonal)
8. Karsinoma paru
9. Sinrom gagal nafas dewasa (ARDS)

G. PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan dari TB paru adalah :
1. Pemeriksaan Rontgen Toraks
2. Pemeriksaan CT-SCAN
3. Radiologis Tb Paru dan Milier
4. Pemeriksaan laboratorium.
H. PROGNOSIS
Prognosis tuberkulosis (TB) tergantung pada diagnosis dini dan
pengobatan.  Tuberkulosis extra-pulmonary membawa prognosis yang lebih buruk. Seorang
yang terinfeksi kuman TB memiliki 10% risiko dalam hidupnya jatuh sakit karena TB. 
Namun penderita gangguan sistem kekebalan tubuh, seperti orang yang terkena HIV,
malnutrisi, diabetes, atau perokok, memiliki risiko lebih tinggi jatuh sakit karena TB. Pasien
TB juga ditentukan dari keberhasilan pengobatan. Ada beberapa sebab kegagalan
pengobatan, antara lain: panduan obat tidak adekuat, dosis obat tidak cukup, minum
obat tidak teratur, jangka waktu pengobatan kurang dari semestinya, terjadi resistensi
obat, dan bila terjadi resistensi obat harus diwaspadai yakni bila dalam satu sampai
dua bulan pengobatan tahap intensif, tidak terlihat perbaikan (Warganegara et al.
2016).
KONSEP KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Biodata
Identitas klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, alamat,
suku/bangsa, status pernikahan, pekerjaan, no.RM, tanggal masuk RS,
tanggal pengkajian, dan diagnosa medic.
Identitas penanggung jawab meliputi nama, umur, jenis kelamin,
pekerjaan, dan hubungan keluarga.
2. Keluhan utama
a. Alasan kunjungan: alasan klien masuk RS
b. Faktor pencetus: bertahap atau mendadak
c. Lamanya keluhan: sudah berapa lama keluhan yang dirasakan oleh
klien.
d. Timbulnya keluhan: kapan keluhan dirasakan
e. Upaya yang dilakukan utnuk mengatasinya: sendiri atau dibantu oleh
orang lain.
3. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
b. Riwayat kesehatan masalalu
c. Riwayat kesehatan keluarga
4. Riwayat psikososial
a. Pola konsep diri
b. Pola kognitif
c. Pola koping
d. Pola interaksi
5. Riwayat spiritual
a. Ketaatan klien beribadah
b. Dukungan keluarga klien
c. Ritual yang biasa dijalankan klien
6. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Kaji keadaan umum pasien meliputi, tingkat kesadaran, ekspresi
wajah, dan posisi klien saat datang.
b. Pemeriksaan tanda-tanda vital
Suhu meningkat, tekanan darah meningkat, Respirasi meningkat
c. Sistem Kardiovaskuler
Peningkatan frekuensi jantung/takikardia berat, Bunyi jantung
redup.
d. Pemeriksaan Dada
Bentuk barel chest, gerakan diafragma minimal, terdengar Bunyi
nafas ronchi, perkusi hyperresonan pada area paru, warna pucat
dengan cyanosis bibir dan dasar kuku, abu – abu keseluruhan, pada
Auskultasi terdengar Ronchi +/+, kedua lapang paru, Wizing
kadang (+), kadang samar.
e. Pemeriksaan Abdomen
f. Pemeriksaan anggota gerak
Bisa terdapat edema dependen, warna kulit/membran mukosa
normal/cyanosis, pucat, dapat menunjukkan anemi, turgor kulit
buruk, edema dependen, berkeringat.
g. Pola aktifitas sehari-hari dengan:
1) Aspek biologi:
Mual/muntah, nafsu makan buruk/anoreksia, ketidakmampuan
untuk makan, penurunan berat badan
2) Aspek Psiko:
Ansietas, ketakutan, peka  terhada prangsangan.
3) Aspek Sosio:
Terjadi hubungan ketergantungan, kegagalan dukungan dari/
terhadap pasangan/ orang terdekat.
B. DIAGNOSIS KEPERAWATAN YANG SERING MUNCUL
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d sekresi yang tertahan
2. Pola nafas tidak efektif b/d hambatan upaya nafas
3. Ansietas b/d kurang terpapar informasi (Tim pokja SDKI PPNI 2017)

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Bersihan jalas nafas tidak efektif b/d sekresi yang tertahan
a. Observasi
1) Monitor adanya retensi sputum
2) Monitor input dan output cairan
b. Terapeutik
1) Buang sekret pada tempat sputum
2) Atur posisi semi fowler atau fowler
c. Edukasi
1) Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif
2) Anjurkan tarik nafas dalam melalui hidung selama 4 detik,
ditahan selama 2 detik, kemudian keluarkan dari mulut
dengan bibir dibulatkan selama 8 detik
d. Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspektoran, jika
perlu (Tim pokja SIKI PPNI 2018)
2. Defisit Nutrisi berhubungan dengan kurangnya asupan makanan
a. Observasi
1) Identifikasi makanan status nutrisi
2) Identifikasi makanan yang disukai
3) Monitor berat badan
b. Terapeutik
1) Berikan suplemen makanan
c. Edukasi
1) Ajarkan posisi duduk, jika mampu
2) Ajarkan diet yang diprogramkan
d. Kolaborasi
1) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah
kalori dan jumlah nutrient yang dibutuhkan , jika perlu (Tim
pokja SIKI PPNI 2018)
3. Hipertermi b/d proses penyakit
a. Observasi
1) Identifikasi penyebab hipertermi
b. Edukasi
2) Monitor suhu tubuh
c. Terapeutik
1) Longgarkan/lepaskan pakaian
2) Anjurkan tirah baring
d. Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena, jika
perlu.(Tim pokja SIKI PPNI 2018)

D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Implementasi Keperawatan Pelaksanaan adalah realisasi rencana
tindakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan meliputi
pengumpulan data dan berkelanjutan dan mengobservasi kondisi klien.
Pertahankan keseimbangan produksi dan kehilangan pada klien dengan
intervensi yang telah ditetapkan (Setiadi 2016)

E. EVALUASI KEPERAWATAN
Evaluasi dilakukan dengan membandingkan respon klien terhadap hasil
yang diharapkan dari rencana keperawatan. Tentukan apakah dibutuhkan
revisi rencana. Setelah intervensi, pantau tanda vital klien untuk
mengevaluasi perubahan (Setiadi 2016)
Pathway

Microbacterium Droplet Masuk lewat jalan napas Menempel


Tuberculosa infection pada paru

Sembuh tanpa Keluar dari tracheobionchial


Dibersihkan oleh Menetap di
pengobatan bersama sekret
makrofag jaringan paru

Terjadi proses
peradangan

Pengeluaran Tumbuh dan


Peradangan pada saluran napas zat pirogen berkembang di
mycobacterium tubercolosis sitoplasma makrofag

Mekanisme pertahanan tubuh Mempengaruhi


terhadap dengan memproduksi hipotalamus Sarang primer / afek
mucus primer (fokus ghon)

Mempengaruhi sel
Akumulasi secret di saluran point
nafas disertai batuk yang terus Komplek primer
menerus
Hipertermi

anoreksia Menyebar ke organ lain


melalui media
(bronchogenpe,
perconti nuitum ,
Intake nutrisi kurang hematogen , limfogen)

Desisit nutrisi Pertahanan primer


tidak adekuat

Pembentukan
tuberkel

Bersihan jalan napas Pembentukan Kerusakan


tidak efektif sputum berlebihan membrane alveolar
DAFTAR PUSTAKA
Ardiansyah, M. 2016. Medikal Bedah Untuk Mahasiswa. Yogyakarta: Diva Press.
Elsevier, Nyimas Purwati. 2019. Pedriatic Nursing - 1st Indonesian Edition E-Book. Elsevier
Health Sciences.
Erawati, Meira, and Megah Andriany. 2020. “The Prevalence and Demographic Risk Factors for
Latent Tuberculosis Infection ( LTBI ) Among Healthcare Workers in Semarang ,
Indonesia.”
Juliasih, Ni Njoman, and Reny Mareta Sari. 2020. “Us Om m Er Ci on Er Al.” 12.
Ma, Isa et al. 2019. “Channa Striata ( Ikan Gabus ) Extract and the Acceleration of Tuberculosis
Treatment : A True Experimental Study.” 2019.
Muchsin, Muchsin, Fazidah Aguslina Siregar, and Etti Sudaryati. 2019. “The Influence of
Nutritional Status and Ventilation on the Incidence of Pulmonary Tuberculosis at Langsa.”
7(20): 3421–24.
Naicker, Nikita, Alex Sigal, and Kogieleum Naidoo. 2020. “Metformin as Host-Directed
Therapy for TB Treatment : Scoping Review.” 11(April): 1–11.
Rakhmawati, Windy, Kittikorn Nilmanat, and Urai Hatthakit. 2019. “International Journal of
Nursing Sciences Moving from Fear to Realization : Family Engagement in Tuberculosis
Prevention in Children Living in Tuberculosis Sundanese Households in Indonesia.”
International Journal of Nursing Sciences 6(3): 272–77.
Setiadi. 2016. Konsep & Penulisan Dokumentasi Asuhan Keperawatan Teori & Praktik.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Tim pokja SDKI PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.
Tim pokja SIKI PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.
Utam, Saktya Yudha Ardhi. 2018. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Sistem Respirasi.
Deepublish.
Warganegara, Rozi K, Ety Apriliana, Fakultas Kedokteran, and Universitas Lampung. 2016.
“Penatalaksanaan Tuberkulosis Paru Kasus Lalai Pengobatan Pada Wanita Usia 25 Tahun
Di Kelurahan Karang Anyar Management of Pulmonary Tuberculosis Negligent Case OnA
Woman Aged 25 Years In Karang Anyar Village.” 5: 91–97.
World Health Organization. 2016. Global Tuberculosis Report. Geneva: World Health
Organization.
———. 2019. Global Tuberculosis Report. Geneva, Switzerland: World Health Organization.

Anda mungkin juga menyukai