Anda di halaman 1dari 6

PLAGUE ICD-9 020; ICD-10 A20 (Pestis) 1.

Identifikasi Penyakit zoonosis spesifik yang melibatkan


binatang mengerat dan pinjal yang hidup padanya, yang menyebarkan infeksi bakteri kepada
berbagai binatang dan manusia. Tanda dan gejala awal bisa tidak khas berupa demam, menggigil,
lemah, nyeri otot, mual, sakit tenggorokan dan sakit kepala. Umumnya muncul radang kelenjar
getah bening (lymphadenitis) yaitu pada kelenjar yang bermuara pada lokasi gigitan pinjal, dimana
lesi ini merupakan lesi awal. Ini disebut dengan pes kelenjar (bubonic plague), dan lebih sering (90%)
terjadi pada kelenjar getah bening di daerah selangkang (inguinal) dan jarang terjadi pada aderah
ketika atau leher. Kelenjar yang terkenan akan menjadi bengkak, meradang dan menjadi lunak serta
kemungkinan bernanah. Demam biasanya muncul. Semua bentuk penyakit pes termasuk yang
limfadenopatinya tidak jelas, dapat berlanjut menjadi septicemic plague menyebar bersama aliran
darah ke bagian lain dari tubuh, termasuk selaput otak. Endotoxic shock dan Disseminated
Intravascular Coagulation (DIC) dapat terjadi tanpa menunjukkan tanda lokasi infeksi. Paru-paru
terkena dampak sekunder mengakibatkan terjadi pneumonia, mediastinitis atau efusi pleura (pleural
effusions). Pes paru (pneumonial plague) sekunder mempunyai makna khusus mengingat percikan
napas dapat berfungsi sebagai sumber penularan dari manusia ke manusia dengan akibat pes
pneumonia primer atau pes faringeal; dan ini dapat menyebabkan terjadi suatu KLB yang terlokalisir
atau wabah yang hebat. Walaupun pes yang didapat secara alamiah umumnya berbentuk pes
kelenjar (bubonic plague), namun penyebaran yang disengaja sebagai bagian dari perang kuman
atau terorisme dapat berbentuk terutama sebagai pes paru (pneumonic plague). Pes kelenjar yang
tidak diobati mempunyai CFR sekitar 50-60%. Organisme penyebab pes dapat ditemukan dari
pembiakan tenggorokan kontak tanpa gejala dengan seorang penderita pes paru.

Kasus primer dengan septikemi dan pes paru yang tidak diobati umumnya fatal. Terapi modern
secara nyata dapat menurunkan kematian akan pes kelenjar, pes pneumonic dan pes septikemik,
juga memberikan respons yang baik bila terdiagnosa dan diobati secara dini. Namun penderita pes
pneumonik yang tidak diberi terapi adekuat dalam waktu 18 jam setelah timbul gejala-gejala pada
saluran pernafasan biasanya kemungkinan tertolong sangat kecil. Diagnosa adanya infeksi
ditegakkan dengan ditemukannya bakteri gram negatif basil bipolar berbentuk ”safety pin” ovoid
dengan pemeriksaan mikroskopis dari spesimen yang diambil dari bubo, sputum atau LCS. Diagnosa
dengan pemeriksaan mikroskopis ini bersifat sugestif tidak konklusif. Pemeriksaan dengan tes FA
atau ELISA lebih pesifik terutama bermanfaat pada kasus yang sporadis. Diagnosa pasti dibuat
dengan ditemukannya bakteri penyebab dengan kultur dari spesimen yang diambil dari eksudat yang
diaspirasi dari bubo, darah atau LCS atau sputum atau dengan pemeriksaan serologis ditemukan
adanya peningkatan atau penurunan titer antibodi sebesar 4 kali lipat atau lebih. Pertumbuhan yang
lambat dari organisme ini pada suhu inkubasi normal dapat menyebabkan terjadinya misidentifikasi
dengan sistem otomasi. Tes PHA dengan menggunakan antigen fraksi 1 yersenia pestis adalah tes
yang paling sering dipakai untuk serodiagnosis. Setiap petugas medis di daerah endemis hendaknya
selalu waspada akan adanya kasus pes agar dapat ditegakkan diagnosa dan pengobatan pes secara
dini; saying sekali seringkali terjadi misdiagnosis terhadap pes terutama pada pelancong yang
mengalami sakit setelah pulang dari daerah endemis. 2. Penyebab penyakit: Yersenia pestis, basil
pes. 3. Distribusi penyakit Pes tetap menjadi ancaman sebab masih banyak tikus liar yang terkena
infeksi pada daerah yang cukup luas. Kontak antara redentia liar dengan tikus rumah masih sering
terjadi di daerah enzootik tertentu. Pes pada rodentia liar masih tetap ditemukan di separuh bagian
barat AS; sebagian besar Amerika Selatan, Afrika tengah bagian Utara, bagian Timur dan Selatan
Afrika, Asia Tengah dan Asia Tnggara, ujung Tenggara Eropa dekat Laut Kaspia. Ditemukan banyak
fokus-fokus pes secara alamiah di republik Federasi Rusia dan Kazakhtan. Sementara pes di daerah
perkotaan sudah dapat ditanggulangi di sebagian besar negara-negara di dunia. Pes pada manusia
muncul pada tahun 1990-an di Afrika yaitu di Bostwana, Kenya, Madagaskar, Malawi, Mosambik,
Tanzania,Uganda, Zambia, Zimbabwe dan Republik Demokrasi Kongo. Sementara itu penyakit
endemis di Cina, Laos, Mongolia, Myanmar, India dan terutama di Vietnam. Dda tahun 1962 sampai
dengan 1972 telah dilaporkan ribuan penderita pes bubo di daerah pedesaan dan perkotaan disertai
dengan KLB pes pneumonik yang menyebar. Di benua Amerika, fokus pes ditemukan di Brasilia,
wilayah Andrean (peru, Ekuador dan Bolivia). Di daerah ini secara terus-menerus ditemukan kasus
pes sporadis dan kadang-kadang muncul sebagai KLB, misalnya pada tahun 1998 di Ekador terjadi
KLB pes pneumonik. Pes pada manusia di bagian barat AS bersifat sporadis, biasanya ditemukan satu
dua orang penderita, penularannya bersifat ”common source” dalam bentuk klaster di suatu wilayah
dengan rodentia liar atau dengan kutu mereka. Selama kurun waktu 10 tahun lebih yaitu pada
periode dari tahun 1987 sampai dengan 1996 ditemukan 10 penderita pes setiap tahun (berkisar
antara 2-15 penderita). Sejak tahun 1925 di AS tidak ditemukan adanya

penularan dari orang ke orang walaupun akhir-akhir ini ditemukan pes pneumonik sekunder yang
berasal dari 20% pes bubonik. Pada periode antara tahun 1977-1994 ditemukan 17 penderita pes
pneumonik primer yang tertulari oleh kucing peliharaan yang menderita pneumonia yang
disebabkan oleh pes. 4. Reservoir Pengerat liar (khususnya tupai tanah) merupakan reservoir
alamiah untuk pes. Lagomorph (kelinci dan sejenisnya), binatang pemakan daging liar dan kucing
domestik bisa menjadi sumber infeksi bagi manusia. Walaupn oganisme tetap hidup beberapa
minggu di air dan dimakanan serta padia-padian yang lembab, organsime ini akan mati dengan
paparan panas matahari beberapa jam. 5. Cara penularan Pes pada manusia yang didapat secara
alamiah terjadi karena masuknya manusia kedalam siklus zoonotik (disebut juga dengan istilah
sylvatic atau rural) selama atau setelah terjadi penyebaran secara epizootic, atau masuknya binatang
pengerat sylvatic atau pinjalnya yang terinfeksi kedalam habitat manusia dengan menulari tikus
domestik dan kutunya. Hal ini akan mengakibatkan terjadiya penularan pada tikus rumah berupa
epizootic dan pes endemik. Hewan piaraan khususnya kucing dan anjing dapat membawa kutu
hewan pengerat liar yang terinfeksi pes kedalam rumah, dan kucing kadang-kadang menularkan
melalui gigitan atau cakarannya; pada kucing dapat berkembang abses pes yang merupakan sumber
penularan bagi dokter hewan. Sumber paparan yang paling sering yang menghasilkan penyakit pada
manusia di seluruh dunia adalah gigitan pinjal yang telah terinfeksi (khususnya Xenopsylla cheopis,
kutu tikus oriental). Sumber penularan penting yang lain termasuk pada waktu penanganan jaringan
binatang yang terinfeksi, khususnya binatang pengerat dan kelinci, selain juga pemakan daging;
jarang sekali penularan terjadi melalui percikan udara dari penderita manusia atau kucing rumah
yang menderita pes tenggorokan atau pneumonia; atau karena ceroboh pada saat menangani
biakan pes di labratorium. Dalam rangka bioterorisme, bakteri pes dapat ditularkan dalam bentuk
aerosol. Penularan dari orang ke orang melalui gigitan pinjal Pulex irritans, kutu manusia, diduga
merupakan faktor penting penlaran penyakit ini d wilayah Andean Amerika Selatan dan di tempat
lain dimana pes muncul dan pinjal ini banyak ditemukan pada hewan domestik. Jenis pekerjaan
tertentu dan gaya hidup tertentu (seperti berburu, memasang perangkap, memelihara kucing dan
tinggal di daerah pedesaan), meningkatkan risiko paparan. 6. Masa inkubasi Dari 1 sampai 7 hari;
mungkin beberapa hari lebih lama pada orang yang sudah diimunisasi. Untuk pes pneumonia primer
masa inkubasi adalah 1-4 hari dan biasanya lebih pendek. 7. Masa penularan Pinjal tetap bisa
infektif selama beberapa bulan pada kondisi suhu dan kelembaban yang tepat. Pes bubo biasanya
tidak ditularkan secara langsung dari orang ke orang kecuali pernah kontak langsung dengan nanah
dari bubo. Pes pneumonia lebih menular pada kondisi iklim yang tepat; kepadatan yang tinggi
mempercepat penularan.

8. Kerentanan dan kekebalan Semua orang rentan terhadap penyakit ini, timbulnya kekebalan
setelah sembuh dari sakit bersifat relatif, tidak melindungi seseorang jika terjadi inokulasi dalam
jumlah banyak. 9. Cara-cara pemberantasan A. Cara-cara pencegahan Tujuan utama dari upaya
pencegahan adalah mengurangi kemungkinan orang terkena gigitan pinjal yang terinfeksi, mencegah
kontak langsung dengan jaringan yang terinfeksi atau dengan eksudat dari penderita, atau terpajan
dengan penderita pes pneumonia. 1) Berikan penyuluhan kepada masyarakat di daerah enzootik
mengenai cara-cara bagaimana manusia dan binatang domestik terpajan, pentingnya bangunan yan
bebas tikus, mencegah binatang pengerat peridomestik memunyai akses terhadap makanan dan
pemukiman denganmelakukan penyimpanan yang benar serta pembuangan makanan sisa, sampah
dan barang bekas secara benar. Serta pentingnya menghindari gigitan pinjal dengan menggunakan
insektisida dan repelan. Pada daerah sylvatic atau daerah pedesaan endemsi pes, masyarakat
dianjurkan untuk menggunakan repelan serangga serta diingatkan janganberkemah di dekat sarang
binatang pengerat dan jangan memegang binatang pengerat dan melaporkan kalau ada binatang
yang sakit atau mati kepada otoritas kesehatan setemat atau kepada petugas kehutanan. Anjing dan
kucing di daerah endemis tersebut harus secara berkala ditaburi dengan bubuk insektisida yang
tepat. 2) Lakukan survei populasi binatang pengerat seara berkala untuk menentukan efektivitas
program sanitasi dan untuk mengevaluasi potensi pes epizotic. Pengurangan jumah populasi tikus
dengan peracunan (lihat 9B6 di bawah) ungkin diperlkan untuk mendukung upaya sanitasi dasar
lingkungan. Pembasmian tikus harus dilaukan sebelum dilakukan upaya penanggulangan pinjal.
Mempertahankan kegiatan surveilans terhadap fokus-fokus alamiah dengan melakukan tes
bakteriologis terhadap karnivora lar serta anjing dan kucing yang berkeliaran di lar rumah dalam
rangka memetakan wilayah pes. Lakukan pengumpulan dan pemeriksaan terhadap pinjal dari
binaang pengerat dan dari sarangnya. 3) Penanggulangan tikus pada kapal atau dermaga atau
gudang dilakukan dengan desain bangunan anti tikus atau dengan fumigasi, bila perlu dapat
dikombinasi dengan upaya pemusnahan tikus dan kutunya di kapal dan kargo, terutama kargo
dengan kontainer, sebelum pengapalan dan pada waktu tiba dari daerah endemis pes. 4) Gunakan
sarung tangan pada waktu berburu dan menangani binatang liar. 5) Imunisasi aktif dengan vaksin
yang berisi bakteri yang dimatkan memberikan proteksi terhadap pes bubo (tetapi tidak untukpes
pneumonia primer) palng tidak selama beberapa bulan bla diberikan sebanyak 3 dosis, dosis 1 dan 2
dengan interval 1-3 bulan diikuti dosis 3 diberikan 5-6 bulan kemudian; suntikan booster diperlukan
setiap 6 bulan apabila risiko terpapar berlanjut. Setelah pemberian boster ketiga, interval dapat
dijarangkanmenjadi 1-2 tahun. Pemberian imunisasi bagi pendatang yang berkunjung ke daerah
endemis atau bagi petugas laboratorium serta pekerja yang menangani bakteri pes atau binatang
yangerinfeksi dapat dilakukan namun jangan sampai mempunyai anggapan bahwa imunisasi

sebagai satu-satunya upaya pencegahan. Imunisasi rutin tidak dilakukan walaupun bagi orang-orang
yang tingal di daerah enzootik seperti di AS bagian barat. Vaksin yang berasal dari bakteri yang
dilemahkan digunakan di beberapa negara, namun lebih banyak menyebabkan terjadinya reaksi
samping dan tidak ada bukti bahwa aksin ini lebih protektif. B. Pengawasan pnderita, kontak dan
lingkungan sekitar 1) Laporan kepada institusi kesehatan setempat: Laporan resmi adanya kasus
tersangka dan kasus pasti secara umum diperlukan yang diatur didalam Peraturan Kesehatan
Internasional (International Halth Regulation), Kelas 1 (lihat tentang pelaporan penyakit menular).
Karena saat ini terjadinya kasus primer pes pneumonia sudah sangat jarang maka walaupun
ditemkan hanya satu kasus saja harus segera dilaporkan kepada otorias kesehatan dan otoritas
penegak hukum karena kemungkinan adanya bioterorisme/perang kuman. 2) Isolasi: Bersihkan
penderita khususnya pakaian dan barang-barang yang dipakai dari pinjal dengan menggunakan
insektisida yang efektif terhadap kutu lokal dan yang aman untuk manusia. Bila memungkinkan kirim
penderita ke rumah sakit. Untuk penderita dengan pes bubo (bila tidak disertai batuk dan hasil foto
toraks negatif),lakukan kewaspadaan universal terhadap drainase dan sekret penderita 48 jam sejak
mulai diberikan pengobatan yang efektif. Untuk penderita dengan pes pneumonia dilakukan isolasi
ketat dengan kewaspadaan terhadap kemungkinan penyebaran lewat udara, dilakukan sampai
dengan 48 jam setelah pemberian terapi yang efektif selesai, dimana pemberian terapi tersebut
memberikan respons klinis yang memuaskan (lihat 9B7 di bawah). 3) Disinfeksi serentak: Disinfeksi
serentak dilakukan terhadap dahak (sputum) dan discharge purulen serta alat-alat yang tercemar.
Pembersihan serentak menyeluruh jenazah serta bangkai binatang yang mati karena pes harus
ditangani dengan kewaspadaan aseptik yang tinggi. 4) Karantina: Mereka yang tinggal serumah atau
kontak langsung dengan penderita pes pneumonik harus diobati dengan kemoprofilaksis (lihat 9B5
di bawah) dan di bawah pengawasan ketat selama 7 hari terhadap mereka yang menolak
pengobatan dengan kemoprofilaksis harus tetap dilakukan isolasi ketat dengan surveilans yang ketat
selama 7 hari. 5) Proteksi terhadap kontak: Pada situasi wabah dimana diketahui bahwa kutu
manusia ikut berperan maka terhadap mereka yang kontak dengan penderita pes bubo harus
didisinfeksi dengan insektisida yang tepat. Terhadap semua kontak dekat harus dilakukan evaluasi
untuk pemberian kemoprofilaksis. Kontak dekat dengan tersangka kasus atau kasus pasti pes
pneumonia (termasuk petugas medi) harus diberikan pengobatan kemoprofilaksis dengan tetrasiklin
(15-30 mg/kg BB) atau kloramfenikol (30 mg/kg BB) setiap hari dibagi dalam 4 dosis untuk satu
minggu setelah paparan selesai. 6) Investigasi konak dan sumber infeksi: Lakkan pencarian anggota
keluarga ata orang yang kontak langsung dengan penderita pes pneumnia dan binatang pengerat
yang sakit atau mati beserta kutunya. Pemberantasan pinjal harus dlakukan sebeum atau bersamaan
dengan upaya pemberanasan tikus. Taburi jalur tempat lewatnya tikus, tempat persembunyian,
lubang dan sarang di sekitar daerah

yang diduga atau dipastikan sebagai daerah pes dengan insektisa khusus untuk pinjal serta dketahui
insektisida tersebut efektif terhadap kutu lokal. Bla dketahui ada jenis binatang pengerat yang tidak
membuat lubang berperan dalam penularan, insektisida berbentuk umpan dapat digunakan. Apabila
tikus kotajuga berperan, lakukan disinfestasi dengan menaburi rumah, sekiar rumah dan peralatan
rumah dengan insektida; taburi badan dan pakaian seluruh penhuni rumah dan sekitarnya. Tekan
jumlah populasi tikus dengan perencanaan yang matang serta lakukan kampanye peracunan dan
upaya-upaya lain secara serentak untuk mengurangi tempat persembunyian tikus dan sumber
makanannya. 7) Pengobatan spesifik: Streptomycin merupakan obat pilihan utama. Gentamycin
dapat dipakai bila streptomycin tidak tersedia. Tetrasiklin dan kloramfenikol merupakan pilihan
alternatif. Kloramfenikol dipakai untuk pengobatan meningitis pes. Semua obat tersebut
efektivitasnya tinggi bla digunakan seacra dini (dalam waktu 8-18 jam setelah serangan pes
pneumonia). Setelah timbul respons yang memuaskan karena pemberian terapi, demam dapat
timbul kembali sebagai akibat dari infeksi sekunder atau bubo bernanah yang memerlukan tindakan
untuk pengeluaran pus. C. Cara-cara penanggulangan Wabah 1) Lakukan penyeldikan terhadap
setiap kasus kematian yang diduga karena pes dengan otopsi dan pemeriksaan laboratorium bila ada
indikasi. Lakukan kegiatan pencarian kasus. Segera sediakan fasilitas sebaik mungkin untuk
mendiagnosa dan pengobatan. Memerintahkan setiap fasilitas kesehatan untuk melaporkan
sesegera mungkin setiap kasus yang ditemukan dan gunakan fasilitas diagnosa dan pengobatan yang
ada. 2) Usahakan untuk mengatasi histeria massa dengan memberikan informasi yang benar dan
tepat serta lakukan penyuluhan melalui media. 3) Lakukan upaya pemberantasan pinjal yang intensif
pada daerah yang lebih luas dari fokus-fokus yang diketahui. 4) Upaya pemusnahan binatang
pengerat di dalam wilayah yang terinfeksi baru dilakukan setelah upaya pemberantasan pinjal
selesai dilakukan dengan baik. 5) Lindungi setiap kontak seperti diuraikan pada seksi 9B5 di atas. 6)
Lindungi para pekerja lapangan terhadap pinjal; taburi pakaian mereka dengan serbuk insektisida
dan gunakan repelan seranga setiap hari. D. Implikasi bencana: Pes dapat menjadi masalah besar di
daerah endemis apabila terjadi bencana sosial, kepadatan dan kondisi yang tidak higienis. Lihat
uraian pada paragraf sebelum dan sesudahnya untuk tindakan yang tepat untuk kondisi seperti ini.
E. Tindakan Internasional 1) Pemerintah harus melaporkan dalam waktu 24 jam kepada WHO dan
negara-negara tetangga tentang kasus impor pertama, kasus transfer atau kasus pes bukan impor di
daerah yang sebelumnya bebas penyakit ini. Laporkan apabila ditemukan kasus baru atau terjadinya
reaktivasi foci pes pada binatang pengerat. 2) Lakukan semua upaya yang diwajibkan bagi kapal,
pesawat udara serta alat-alat transportasi darat yang datang dari daerah pes seperti yang dinyatakan
dalam International Health Regulations. Regulasi ini sedang direvisi,namun regulasi baru belum akan
diberlakukan sebelum tahun 2002 atau sesudahnya. 3) Semua kapal harus bebas dari binatang
pengerat atau secara berkala dibersihkan dari tikus (deratted). 4) Bangunan di pelabuhan dan
bandara harus bebas dari tikus; gunakan insektisida yang tepat, hapuskan tikus dengan rodentia
yang efektif. 5) Bagi mereka yang akan melakukan perjalanan internasional IHR mewajibkan mereka
untuk diisolasi selama 6 hari sebelum berangkat dihitung dari saat terakhir mereka terpajan apabla
orang ini berasal dari daerah yang tidak terjangkit pes paru-paru. Mereka yang diisolasi adalah
mereka yang diduga kuat telah terpajan dengan penderita. Terhadap alat angkut dan orang-orang
yang datang dari daerah wabah dilakukan upaya pemberantasan tikus dan pinjal sesuai dengan
standar prosedur. Lakukan surveilans yang ketat selama 6 hari terhadap penumpang dan alat angkut
sejak hari pertama mereka terhadap tiba. Imunisasi tidak dipersyaratkan bagi mereka yang
memasuki suatu negara. 6) Manfaatkan Pusat-pusat Kerja sama WHO. F. Upaya Penanggulangan
Bioterorisme Y. pestis tersebar di seluruh dunia; teknik untuk memproduksi secara massal dan
penyebaran dalam bentuk aerosol saat ini sudah tersedia; dan CFR dari pes pneumonia primer
sangat tinggi dan berpotensi untuk menyebar secara sekunder. Oleh karena itu serangan biologis
dengan menggunakan pes merupakan ancaman yang serius terhadap kesehatan masyarakat.
Beberapa kasus sporadis tidak akan terdeteksi atau tidak akan disadari sebagai aksi bioterorisme.
Setiap kasus tersangka pes harus segera dilaporkan melalui telepon kepada institusi kesehatan
setempat. Apabila di suatu daerah tiba-tiba ditemukan banyak penderita datang dengan demam,
batuk fulminan dan dengan tingkat kematian yang tinggi harus dicurigai sebagai kemungkinan
anthrax atau pes; apabila setiap batuk disertai dengan darah (hemoptysis), gejala ini mengarah pada
diagnosa tentatif pes pneumonik. Untuk kejadian yang diduga sebagai KLB pes pneumonik dan untuk
KLB yang sudah pasti ikuti prosedur pengobatan dan upaya penanggulangan seperti yang sudah
diuraikan pada seksi 9B di atas.

Judul Buku : Manual Pemberantasan Penyakit

JAMES CHIN, MD, MPH Editor

Editor Penterjemah : Dr. I NYOMAN KANDUN, MPH


Edisi 17

Tahun 2000