Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Anggrek

Secara taksonomi anggrek merupakan salah satu tumbuhan berbiji tertutup

dari famili Orchidaceae (Tjitrosoepomo, 1993). Penyebaran habitatnya sangat luas

dari dataran rendah sampai tinggi, memiliki keragaman genetik yang tinggi dan

banyak tersebar di pegunungan tropis serta 75% hidup epipfit pada pahon inang

(Dressler, 1993). Tanaman anggrek merupakan salah satu jenis tanaman hias

yang dinikmati keindahan bunganya karena setiap jenis bunga anggrek memiliki

bentuk, corak, warna dan wangi yang khas sehingga semua orang tidak jenuh

untuk menikmatinya.

Secara morfologi, tanaman anggrek terdiri dari akar, batang, daun, bunga,

buah dan biji. Akar anggrek berbentuk silindris, berdaging lunak, dan mudah

patah. Bagian ujung akar meruncing, licin dan sedikit lengket. Akar anggrek

berfilamen, yaitu lapisan luar yang terdiri dari beberapa lapis sel berongga dan

transparan, serta merupakan lapisan pelindung pada sistem saluran akar (Yahman,

2009). Akar anggrek berhubungan erat dengan cara hidupnya, akar anggrek tanah

berbeda dengan akar epifit dan saprofit terutama dengan keberadaan rambut akar

(Suryowinoto, 1982).

Suryowinoto (1982) menyebutkan bahwa tipe pertumbuhan batang

anggrek beranekaragam, berdasarkan tipe pertumbuhan batang tersebut

tanaman anggrek dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu tipe simpodial seperti

pada genus Dendrobium, Oncidium, dan Cattleya; serta monopodial pada genus

10
11

Vanda, Aranthera dan Phalaenopsis (Gambar 2.1). Anggrek tipe simpodial adalah

anggrek yang tidak memiliki batang utama, bunga keluar dari ujung batang dan

akan berbunga kembali pada pertumbuhan anakan atau tunas baru, sedangkan

monopodial dicirikan oleh adanya titik tumbuh di ujung batang, pertumbuhannya

lurus ke atas pada satu batang, bunga keluar dari sisi batang diantara dua ketiak

daun.

Daun anggrek terdiri atas bermacam-macam bentuk, ada yang bulat telur

(Renanthera coccinea), bulat telur terbalik, artinya bagian daun yang bagian atas

lebar dan bagian pangkal kurang lebar, memanjang bagai pita atau serupa daun

tebu. (Utami, 2007). Warna daun anggrek hijau muda, hijau tua, kekuningan,

kadang pula ada yang mempunyai bercak di permukaan (Yahman, 2009).

A B

Gambar 2.1. Tipe batang anggrek. A. Tipe batang simpodial,


B. Tipe batang monopodial (Sumber: Dwiyani, 2014)
12

Menurut Comber (2001), bunga anggrek memiliki beberapa bagian utama

yaitu sepal (daun kelopak), petal (daun mahkota), stamen (benang sari),

pistil (putik) dan ovarium (bakal buah). Sepal anggrek berjumlah tiga buah. Sepal

bagian atas disebut sepal dorsal, sedangkan dua lainnya disebut sepal lateral.

Anggrek memiliki tiga buah petal. Petal pertama dan kedua letaknya berseling

dengan sepal. Petal ketiga mengalami modifikasi menjadi labellum (bibir). Pada

labellum terdapat gumpalan-gumpalan yang mengandung protein, minyak dan zat

pewangi (Gambar 2.2).

Gambar 2.2. Bagian–bagian bunga anggrek (Sumber: Lokbuntar, 2010)

Tugu (column) yang terdapat pada bagian tengah bunga anggrek

merupakan tempat alat reproduksi jantan dan betina. Pada ujung tugu terdapat

sebuah cap (anther cap), di dalamnya terdapat serbuk sari atau pollen yang

tersusun menjadi suatu massa yang kompak dinamakan pollinia (Suryowinoto,

1982) (Gambar 2.3). Kepala putik (stigma) terletak di bawah rostellum dan

menghadap ke labellum. Ovarium bersatu dengan dasar bunga dan terletak di

bawah column, sepal dan petal.


13

Gambar 2.3. Tugu (column) anggrek (Sumber: Priandana, 2007)

Buah anggrek mengandung biji yang sangat kecil berwarna kuning sampai

coklat, dengan panjang 1.0-2.0 mm dan lebar 0.5-1.0 mm, per polong atau buah

terdapat 1.300-4.000.000 (Pierik, 1987). Struktur biji anggrek terdiri dari testa

atau kulit biji yang tebal dan embrio yang terdiri dari sekitar 100 sel, kapasitas

untuk membawa cadangan makanan sangat terbatas, sehingga perkecambahan biji

anggrek secara alami persentasenya sangat rendah. Biji anggrek dapat

berkecambah apabila bersimbiosis dengan mikoriza yang sesuai, berperan sebagai

penyedia zat gula sebagai sumber energi bagi biji untuk berkecambah (Arditti,

1992).

Kulit biji mempunyai sifat yang spesifik yaitu bentuk seperti jaring dengan

bentuk yang khas untuk tiap spesies anggrek. Testanya adalah jaringan yang

sudah mati dan terdiri dari banyak ruang kosong atau udara sebanyak 96%,

sehingga biji anggrek dapat dikatakan seperti suatu balon udara. Embrio anggrek

berbentuk bulat atau lonjong. Biji anggrek biasanya tidak bisa dibedakan bagian-

bagiannya seperti biji tanaman lain, yaitu tanpa kotiledon, tanpa akar dan tanpa

endosperm. Pada ujung distal biasanya terdapat titik tumbuh tetapi sulit untuk

diamati.
14

2.2 Daerah Sebaran Anggrek Dendrobium Alam Bali

Berdasarkan informasi dari peneliti anggrek UPT Balai Konservasi

Tumbuhan Kebun Raya Eka Karya Bali, serta pebisnis dan kolektor anggrek

(Tirta, Wibowo, Suwedi, komunikasi pribadi 2016) bahwa sebaran anggrek

Dendrobium terdapat di beberapa tempat di Bali. Lokasi tersebut adalah Sepang,

Busungbiu, Bukit Silangjana, Taman Wisata Alam (TWA) Danau Buyan -

Tamblingan, Hutan Mekori, Desa Tejakula, Desa Soka Jatiluwih, Bukit Tapak,

dan Hutan Lemukih. Sebagian besar lokasi tersebut merupakan kawasan hutan.

Kawasan hutan di Provinsi Bali sesuai SK Menhut No.433/Kpts-II/1999

tanggal 15 Juni 1999 tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi

Bali adalah seluas 130.686.01 ha, luas daratan kawasan hutannya mencapai

27.271.01 ha. Kawasan hutan tersebut meliputi: Hutan Konservasi seluas

26.293.59 ha, Hutan Lindung seluas 95.766.06 ha, Hutan Produksi Terbatas seluas

6.719.26 ha dan Hutan Produksi Tetap seluas 1.907.10 ha. Sebaran Kawasan

Hutan di Provinsi Bali berdasarkan RTK, fungsi dan posisi dalam DAS di

Provinsi Bali ada 17 kawasan yang tersebar pada beberapa kabupaten (Profil

Kehutanan Provinsi Bali, t.t).

Berdasarkan sebaran Kawasan Hutan di Provinsi Bali, lokasi sebaran

anggrek Dendrobium termasuk dalam Kesatuan Pengelolaan Hutan Bali Tengah,

dimana merupakan gabungan kelompok kawasan hutan hujan tropis di wilayah

tengah Propinsi Bali, dengan luas 14.651.32 ha, meliputi 4 kabupaten yaitu

kabupaten Badung, Bangli, Buleleng dan Tabanan. Dari segi fungsi semua

kawasan hutan yang ada di wilayah UPT KPH Bali Tengah adalah berupa hutan

Lindung (Dony et al., 2015).


15

2.3 Eksplorasi

Menurut Permentan Nomor: 67/Permentan/OT.140/12/2006, eksplorasi

sumber daya genetik (SDG) tanaman yang selanjutnya disebut eksplorasi adalah

kegiatan pencarian dan pengumpulan, yang kemudian diikuti dengan identifikasi,

karakterisasi, dokumentasi, dan evaluasi. Koleksi SDG tanaman yang selanjutnya

disebut koleksi adalah kegiatan pengumpulan yang diikuti dengan penyimpanan

dan pemeliharaan SDG tanaman hasil eksplorasi, baik dalam bentuk materi

maupun informasi SDG Tanaman. Eksplorasi dilengkapi dengan denah

penjelajahan yang menggambarkan tempat tujuan eksplorasi dan data paspor

(memuat nama daerah plasma nutfah anggrek, kondisi biogeografi, dan ekologi).

Konservasi yang dilakukan bersifat aktif (konservasi ex situ), yaitu

memindahkan tanaman anggrek dari tempat asalnya ke lingkungan yang baru atau

tempat pemeliharaan baru, sehingga keanakaragaman plasma nutfah dapat

dipertahankan dalam kebun koleksi dan pot-pot pemeliharaan. Karakterisasi suatu

tanaman dapat dilakukan pendekatan karakter morfologi, anatomi, agronomi, dan

molekular.

2.4 Karakter Morfologi

Karakter morfologi merupakan karakter yang didasarkan pada hereditas

Mendel yang sederhana, seperti bentuk, warna, ukuran dan berat pada organ

batang, daun, akar, dan karakter alat perkembangbiakan (bunga, buah, dan biji)

(Tjitrosoepomo, 1993; Suryo, 2008).

Karakter morfologi atau fenotip merupakan penanda yang penting dalam

pencanderaan sifat tanaman. Karakterisasi tanaman menggunakan penanda


16

morfologi sudah banyak dilakukan dan merupakan penanda yang paling awal

digunakan sebelum ditemukannya penanda biokimia dan molekular (Hoogendijk

and Williams, 2001). Kelemahannya terletak pada tingkat polimorfisme yang

terbatas dan dikontrol oleh banyak gen serta dipengaruhi oleh berbagai faktor

seperti pengaruh lingkungan, sehingga dianggap tidak stabil.

Karakter morfologi telah lama digunakan sebagai kriteria untuk

identifikasi berbagai jenis anggrek diantaranya tipe pertumbuhan batang, tinggi

tanaman (cm), panjang daun (cm), lebar daun (cm), bentuk daun, bentuk ujung

daun, perbandingan panjang dengan lebar daun, warna daun, jumlah kuntum

bunga, panjang tangkai bunga (cm), diameter bunga (cm), panjang kelopak bunga

(sepal) (cm), dan aroma bunga (Yulia, 2008; Rachmidiyani et al., 2010).

Beberapa karakter morfologi lainnya dicantumkan dalam metodologi.

2.5 Karakter Anatomi

Karakter anatomi yang menjadi objek kajian adalah struktur internal

tumbuhan seperti daun, yang mempunyai peran penting di dalam sistematika.

Karakteristik anatomi pada daun telah banyak digunakan untuk melihat

kekerabatan di antara tumbuhan. Daun merupakan salah satu organ yang

mendapatkan dampak langsung dari pengaruh lingkungan, terutama dari radiasi

cahaya matahari. Cahaya matahari langsung digunakan oleh daun untuk proses

fotosintesis. Keadaan lingkungan, seperti salinitas dan radiasi sinar matahari

direspon oleh tumbuhan dan terwujud dalam bentuk adaptasi morfologis maupun

anatomis. Menurut Hidayat (1995), daun merupakan organ yang amat beragam,

baik dari segi morfologi maupun anatominya.


17

Hasil penelitian Rompas et al. (2011) mengelompokkan anggrek ke dalam

3 genus yaitu Arachnis, Phalaenopsis dan Vanilla dengan menggunakan struktur

sel epidermis dan stomata daun. Metode deskriptif digunakan untuk

menggambarkan struktur sel epidermis dan stomata daun berdasarkan pengamatan

irisan memanjang sel-sel epidermis pada permukaan bawah daun dengan

mikroskop cahaya. Bentuk sel epidermis anggrek kalajengking, anggrek bulan dan

vanili bervariasi yaitu memanjang, segi lima, segi enam dan ada yang tidak

beraturan. Susunan sel epidermis anggrek kalajengking searah, sedangkan

susunan epidermis anggrek bulan dan vanili tidak beraturan. Stomata anggrek

kalajengking dan vanili dikelilingi oleh 4 sel tetangga, sedangkan anggrek bulan

dikelilingi oleh 4-5 sel tetangga. Stomata ketiga tumbuhan ini berbentuk ginjal

dan memiliki tipe anomositik (kecuali vanili) seperti pada tumbuhan dikotil. Rata-

rata jarak antara stomata anggrek kalajengking adalah 83.77 μm, anggrek bulan

104.32 μm dan vanili 96.46 μm. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi

struktur sel epidermis dan stomata anomositik seperti pada tumbuhan dikotil.

2.6 Karakter Agronomi

Karakter agronomi suatu tanaman menyangkut karakter tanaman yang

mempunyai nilai ekonomis yang layak untuk dikembangkan. Umumnya pada

anggrek yang bernilai ekonomis adalah bunga atau habitus secara keseluruhan.

Keunikan bunga bisa dari segi warna, corak, bentuk, jumlah bunga dalam satu

tangkai dan lama kesegaran bunga (flower longevity). Keunikan ini yang

dimanfaatkan sebagai tetua atau induk persilangan. Pengamatan ekologi (suhu,

kelembaban dan curah hujan) merupakan data pelengkap dari karakter agronomi.
18

2.7 Studi Keragaman dengan Penanda SSR (Simple Sequence Repeat) dan
Deteksi Gen DOH1 (Dendrobium Orchid Homeobox 1)

Hubungan kekerabatan organisme dapat direkonstruksi berdasarkan

karakter morfologi, namun dengan berkembangnya teknik biologi molekular

penggunaan karakter genetik menjadi pilihan utama. Penanda genetik, biasa juga

disebut dengan 'marka', merupakan ekspresi pada individu yang terlihat oleh mata

atau terdeteksi dengan alat tertentu, yang menunjukkan dengan pasti genotip suatu

individu. Beberapa penanda genetik sangat terpercaya karena bersifat lembam

(konsisten), tidak mudah berubah karena pengaruh lingkungan. Penanda genetik

sangat penting dalam penyelidikan filogeni suatu organisme (Tao et al., 2009).

Penanda genetik hanya berguna apabila terjadi polimorfik dan terpaut

dengan sifat yang akan diamati atau dengan penanda genetik lain. Syarat

polimorfik diperlukan karena penanda genetik harus bisa membedakan individu-

individu dalam populasi yang diteliti. Suatu penanda genetik paling tidak harus

bisa mengelompokkan individu dalam dua kelompok. Syarat terpaut dengan

penanda, gen atau sifat lain diperlukan karena fungsi penanda genetik adalah

sebagai tanda pengenal yang harus melekat pada sifat yang diteliti (Sharma et al.,

2008).

Sifatnya yang obyektif dan stabil membuat karakter genetik lebih dapat

diandalkan dalam studi sistematika. Penggunaan karakter genetik juga

menguntungkan karena tetap dapat mendeteksi variasi walau tidak terekspresi

menjadi perbedaan morfologi. Variasi genetik tersebut penting untuk

meningkatkan keanekaragaman yang mampu memperbesar peluang keberhasilan

bertahan hidup di tengah perubahan kondisi lingkungan.


19

Karakterisasi genotip adalah karakterisasi dengan memperhatikan susunan

gen atau DNA yang merupakan ciri khas dari masing-masing spesies.

Karakterisasi bertujuan untuk mengetahui identitas satu spesies berdasarkan

struktur gen atau DNA. Selain itu karakteristik genotip juga didapatkan

pengelompokan atau klaster.

Mikrosatelit atau simple sequence repaeat (SSR) merupakan sekuen DNA

berulang yang pendek, sekitar 2-6 basa dan telah banyak dibuktikan sebagai alat

yang berguna pada studi-studi karakterisasi, konservasi dan perbaikan tanaman

pertanian penting. Prinsip dasar keberhasilan SSR sebagai alat molekular adalah

karena menyediakan kesempatan polimorfisme yang mudah dideteksi dari teknik

lainnya seperti RFLP dan RAPD. Marka-marka ini memiliki nilai yang tinggi

karena hipervariabel, ko-dominan, melimpah, dapat direproduksi dan mudah

untuk dideteksi dengan menggunakan metode PCR. Sidik jari menggunakan

marka mikrosatelit (SSR) telah berhasil digunakan untuk mengkonstruksi peta

pautan genetik dan untuk identifikasi dan penandaan untuk gen-gen yang secara

ekonomi penting pada sejumlah besar spesies tanaman (McCouch, 2002).

Sekuen mikrosatelit DNA yang pendek dengan sekuen DNA pengapit

yang bersifat conserve, yang memungkinkan mendesain primer untuk

mengamplifikasi situs-situs spesifik menggunakan PCR. Jika primer-primer

tersebut digunakan mengamplifikasi lokus-lokus SSR tertentu, maka setiap primer

akan menghasilkan polimorfisme dalam bentuk perbedaan panjang hasil

amplifikasi yang dikenal dengan SSLP (Simple Sequens Length Polymorphism).

Setiap panjang mewakili satu alel dari suatu lokus. Perbedaan panjang terjadi
20

karena perbedaan jumlah unit pengulangan pada lokus-lokus SSR tertentu (Gupta

et al., 1996; Liu, 1998).

Salah satu indikator dalam menentukan keunggulan anggrek secara

molekular dapat dengan menggunakan beberapa gen fungsional, diantaranya gen

DOH1. DOH1 adalah kelompok gen KNOX kelas 1 yang berhasil diisolasi dan

dikarakterisasi dari tanaman Dendrobium “Madame Thong-In” dan diketahui

berfungsi mengatur pembentukan, perkembangan dan pemeliharaan meristem

ujung batang agar sel-selnya tetap meristematik. Protein yang dikode oleh DOH1,

terutama tiga daerah yang conserve, secara struktural sangat mirip dengan gen

KN1 pada jagung, gen STM pada Arabidopsis, dan OSH1 pada padi. Gen DOH1

merupakan klon dengan cDNA 1400-bp mengandung open reading frame tunggal

dengan start codon di posisi 320. Daerah penyandi 861-bp dari cDNA mengkode

protein dengan massa molekul 32,0 kD (Yu et al., 2000). Perbandingan DOH1

dengan berbagai protein homeodomain dari organisme lain mengungkapkan

bahwa DOH1 adalah gen knox kelas 1 novel berisi homeodomain yang conserve

(Kerstetter and Hake, 1997; Bürglin, 1997).

2.8 Kompatibilitas Persilangan Anggrek

Hibridisasi atau persilangan adalah metode menghasilkan kultivar

tanaman baru dengan cara menyilangkan dua atau lebih tanaman yang memiliki

konstitusi genetik berbeda dengan tujuan untuk menggabungkan karakter –

karakter baik dalam satu tanaman, memperluas variabilitas genetik tanaman

melalui rekombinasi gen, dan untuk mendapatkan hibrida vigor. Hibrida baru

dengan karakter unik dapat dibuat dengan informasi pewarisan sifat tetua jantan

dan betina.
21

Persilangan anggrek ditujukan untuk mendapatkan varietas baru dengan

warna dan bentuk yang menarik, mahkota bunga kompak dan bertekstur tebal

sehingga dapat tahan lama sebagai bunga potong, jumlah kuntum banyak dan

tidak ada kuntum bunga yang gugur dini akibat kelainan genetis serta produksi

bunga tinggi (Hadi, 2005). Menurut Andayani (2007) persilangan pada anggrek

dapat dilakukan melalui perlakuan penyerbukan sendiri (selfing) dan penyerbukan

silang. Penyerbukan sendiri artinya putik satu bunga diserbuki dengan benangsari

(polen) berasal dari bunga yang sama. Penyerbukan silang artinya putik pada satu

bunga diserbuki dengan menggunakan serbuksari yang berasal dari bunga pada

tanaman lain tetapi masih satu jenis tanaman. Penyerbukan silang yang bolak-

balik dinamakan resiprokal.

Pemilihan tetua merupakan tahap awal yang sangat penting dalam

menentukan keberhasilan suatu program hibridisasi. Menurut Widiastoety et al.

(2010) dalam pemilihan induk jantan dan betina yang akan disilangkan harus

disertai penguasaan sifat-sifat kedua induk tersebut, termasuk sifat dominan

seperti ukuran bunga, warna dan bentuk bunga yang akan muncul pada

turunannya. Namun hal yang harus sering diperhatikan selain faktor pemilihan

tetua dan sering menjadi kendala dalam proses hibridisasi adalah perbedaan

waktu dalam pematangan bunga, kepekaan atau kerusakan bagian bunga

terhadap pengaruh mekanis, serta adanya inkompatibilitas dan sterilitas

(Chaudhari, 1971).

Inkompatibilitas adalah suatu keadaan dimana tidak terjadinya pembuahan

antara sel telur dan sperma. Menurut Rieseberg dan Carney (1998), ada 2 tipe
22

inkompatibilitas yaitu prazigotik (ketidakcocokan yang muncul sebelum

penyerbukan) dan postzigotik (ketidakcocokan yang muncul sesudah

penyerbukan). Inkompatibilitas dapat disebabkan oleh beberapa faktor, baik faktor

marfologi, gemetik, maupun fisiologi. Faktor marfologis yang dapat

menyebabkan inkompatibilitas berkaitan dengan panjang pendeknya stamen dan

stylus. Inkompabilitas genetik disebabkan beberapa indikasi antara lain

pertumbuhan pollen menurun, pertumbuhan pollen normal tetapi tabung pollen

terhambat dalam stylus, pollen tube tumbuh normal dan gamet mencapai ovule

tetapi tidak terbentuk biji. Faktor fisiologis dapat juga menyebabkan terjadinya

inkompatibilitas. Apabila stamen lebih dahulu matang daripada pistil disebut

protandri, sebaliknya apabila pistil lebih dahulu matang daripada stamen disebut

protogeni (Kao and Huang, 1994; Poespodarsono, 1998; Suwarno, 2008).

Kebalikan dari inkompatibilitas adalah kompabilitas yaitu kesesuaian antara organ

jantan dan betina sehingga penyerbukan yang terjadi dapat diikuti dengan proses

pembuahan. Tanaman dikatakan bersifat kompatibel jika terjadi pembuahan

setelah penyerbukan.

Proses perkembangan buah akan diawali dengan pembengkakan (swollen)

gagang bunga. Menurut Pardal (2001) proses penyerbukan dimulai dengan proses

persarian kepala putik oleh serbuk sari (pollen). Selanjutnya pollen berkecambah

dan membentuk tabung pollen untuk mencapai bakal biji. Peristiwa bertemunya

pollen dengan bakal biji di dalam bakal buah disebut pembuahan. Bakal buah

akan membesar dan berkembang menjadi buah besamaan dengan pembentukan

biji. Akhirnya akan dihasilkan buah yang fertil.


23

Hasil penelitian Hartati et al. (2014) menunjukkan keberhasilan

melakukan persilangan ♀Vanda celebica x ♂Vanda insignis (100%). Pada

persilangan ♀Vanda celebica x ♂Vanda tricolor keberhasilannya mencapai 67%.

Pada tahun yang sama Hartati et al., (2014) juga berhasil 100 % menyilangkan

beberapa spesies Dendrobium yaitu:♀ Dendrobium mirbelianu x ♂ Dendrobium

liniale, ♀ Dendrobium liniale x ♂ Dendrobium mirbelianum, ♀ Dendrobium liniale x

Dendrobium bigibbum, ♀ Dendrobium bigibbum x ♂ Dendrobium liniale. Rajkumar

& Sharma (2009) berhasil menyilangkan intergenerik dua anggrek langka

terancam punah yaitu Renanthera imschootiana Rolfe and Vanda coerulea

Griff.exL. Dua anggrek vandaceous langka dan terancam punah Aerides

vandarum dan Vanda stangeana berhasil dilakukan hibridisasi (Rajkumar et al.,

2008).

2.9 Perkecambahan Biji Anggrek Secara In vitro

Keberhasilan kompatibilitas persilangan ditunjukkan dengan terbentuknya

buah anggrek, yang mengandung biji anggrek berukuran sangat kecil yaitu antara

0 - 2.0 mm dan lebar 0.5 - 1.0 mm, terdapat sekitar 1.300 – 4.000.000 biji per

polong atau buah, tetapi kandungan endospermnya sangat rendah (Pierik, 1987),

sehingga sulit berkecambah. Perkecambahan secara kultur in vitro dapat

dimanfaatkan untuk meningkatkan viabilitas dan perkecambahan biji anggrek.

Beberapa penelitian yang telah berhasil mengecambahkan biji anggrek

Dendrobium secara in vitro diantaranya, D. transparenes (Alam et al., 2002), D.

moniliforme, D. tosaense (Lo et al., 2004), D. parishii (Lyudmila et al. 2004), D.

fimbriatum (Sharma et al., 2005) dan D. strongylanthum (Kong et al., 2007), D.

lituiflorum (Vyas et al. 2009).


24

Keberhasilan perkecambahan biji anggrek dipengaruhi oleh beberapa faktor

seperti, kematangan buah, media dasar dan penambahan bahan organik (Kauth et al.,

2011; Parthibhan et al., 2012; Sonia et al., 2012). Komponen media kultur in vitro

harus mengandung unsur hara makro, mikro, vitamin, asam amino, dan myo-inositol.

Media tumbuh yang biasa digunakan untuk perkecambahan anggrek adalah media

Vaccin and Went (VW) (Gunawan, 1992; Bey et al., 2006), media Knudson C (KC)

dan media Murashinge and Skoog (MS) (Marveldani, 2009).

Dewasa ini, penambahan bahan organik seperti air kelapa dan tomat ke

dalam media diperlukan untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman yang

dikultur. Air kelapa mengandung sejumlah asam amino, seperti asam organic,

asam nukleat, beberapa vitamin, gula, hormone dan mineral (Shekarriz et al.,

2014). Buah tomat mengandung vitamin C, dan karoten total yang tinggi yang

berfungsi untuk mengatasi oksidasi senyawa fenolik dan mencegah pencoklatan

(Dwiyani et al., 2009).

Selain bahan organik, hormon GA3 dapat digunakan untuk memecah

dormansi biji. Giberelin merupakan hormon tumbuh pada tanaman yang bersifat

sintesis dan berperan mempercepat perkecambahan. Pada penelitian Murniati dan

Zuhri (2002), giberelin mampu mempercepat perkecambahan biji kopi. Giberelin

juga dapat mempercepat pembentukan plb pada anggrek bulan (Bey et al., 2006).