Anda di halaman 1dari 125

DAFTARPUSTAKA

KEGIATAN HIBAH KOMPETISI


KONTEN MATAKULIAH E-LEARNING
USU-INHERENT 2006

BUKU AJAR

PERPINDAHAN PANAS

Disusun Oleh:

ZUHRINA MASYITHAH, ST, MSc.


BODE HARYANTO, ST, MT

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA


file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/Judul%20dll.html (1 of 7)5/8/2007 3:24:04 PM
DAFTARPUSTAKA

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2006

DAFTAR PUSTAKA

Foust, A.S., et a1., Principles of Unit Operations, John Wiley & Sons, New York, 1980.
Geankoplis, C.J., Transport Process and Unit Operations, A11yn and Bacon Inc., 1987.
Holman, J.P., Heat Transfer, Mc Graw Hill, New York, 1987.
Incropera, F.P., dan Dewitt, D.P., Fundamental of Heat and Mass Transfer, John Wiley &
Sons, 2002.
Kern, D.Q., Process Heat Transfer, Mc Graw Hill, New York, 1950.
McCabe, Smith dan Harriots, Unit Operations in Chemical Engineering, Mc Graw
Hill,1985.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/Judul%20dll.html (2 of 7)5/8/2007 3:24:04 PM


DAFTARPUSTAKA

LAMPIRAN

INFORMASI UMUM
Judul Mata Kuliah Perpindahan Panas
Nomor Kode/SKS TKK- 301/ 3 SKS
Dosen Pengampu Dr. Ir. Rosdanelli, MT
Anggota Zuhrina Masyithah, ST, MSc.
Bode Haryanto, ST, MT
Erni Misran, ST, MT
Deskripsi Singkat Mata kuliah ini berisi uraian mengenai Dasar-dasar
Perpindahan Panas Steady dan Unsteady; Perpindahaan
Panas ke Fluida yang Tak Berubah Fasa; Perpindahan
Panas ke Fluida yang Disertai dengan Perubah Fasa;
Peralatan Penukar Panas; Operasi dan Peralatan
Evaporasi; Kristalisasi

Tujuan Instruksional Umum Setelah mengikuti mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan
mampu memahami dasar-dasar perpindahan panas pada
keadaan steady dan unsteady, dapat menyelesaikan
masalah perpindahan panas ke fluida yang tak berubah
fasa dan ke fluida yang disertai dengan perubahan fasa,
rancangan proses dan evaluasi peralataan pertukaraan
panas tanpa dan disertai dengan perubahan fasa;
rancangan proses dan evaluasi peralataan evaporasi efek
tunggal dan ganda; serta proses kristalisasi

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/Judul%20dll.html (3 of 7)5/8/2007 3:24:04 PM


DAFTARPUSTAKA

Bahan bacaan Geankoplis, C.J., Transport Processes and Separation Process


Principles, Edisi ke-3, PTR, New Jersey, 1987.

McCabe, W.L., Smith, J.C. dan Harriott, P., Unit Operations


of Chemical Engineering, Edisi ke-4, McGraw-Hill,
Singapore, 1985.

Richardson, J.F., Harker, J.H. dan Backhurst, J.R., Coulson &


Richardson’s Chemical Engineering Vol. 1, Edisi ke-5, BH,
Oxford, 1996.

LAMPIRAN

GBPP DAN SAP

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/Judul%20dll.html (4 of 7)5/8/2007 3:24:04 PM


DAFTARPUSTAKA

LAMPIRAN

BAHAN PRESENTASI

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/Judul%20dll.html (5 of 7)5/8/2007 3:24:04 PM


DAFTARPUSTAKA

LAMPIRAN

BUKU AJAR
PERPINDAHAN PANAS

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/Judul%20dll.html (6 of 7)5/8/2007 3:24:04 PM


DAFTARPUSTAKA

LAMPIRAN

UMPAN BALIK

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/Judul%20dll.html (7 of 7)5/8/2007 3:24:04 PM


DAFTARPUSTAKA

KATA PENGANTAR

Buku Ajar Perpindahan Panas ini merupakan salah satu keluaran dari kegiatan HIBAH
KOMPETISI KONTEN MATAKULIAH E-LEARNING, USU-INHERENT 2006, untuk
matakuliah PERPINDAHAN PANAS. Mata kuliah ini diajarkan pada Departemen Teknik Kimia
Fakultas Teknik USU. Konten e-learning yang dikembangkan untuk mata kuliah ini bertujuan
untuk memperoleh metode pembelajaran yang lebih baik untuk mata kuliah perpindahan panas
yang mengkombinasikan kegiatan mengajar di kelas, aktivitas laboratorium dan penggunaan
konten e-learning.

Penyusun mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi yang
mendukung terlaksananya kegiatan ini. Semoga buku ajar yang dihasilkan ini dapat bermanfaat.

Medan, Desember 2006


Penyusun,

Zuhrina Masyithah, ST, MSc.


Bode Haryanto, ST, MT

DAFTAR ISI

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/Daftar%20Isi%20Buku%20Ajar.html (1 of 3)5/8/2007 3:24:05 PM


DAFTARPUSTAKA

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I Pendahuluan 1-1
1.1.Pancaran (Radiasi) 1-2
1.2.Hantaran (Konduksi) 1-4
1.3.Aliran (Konveksi) 1-6
BAB II Perpindahan Panas Konduksi 2-1
2.1.Konduksi Keadaan Steady 2-2
2.1.1.Dinding Datar 2-4
2.1.2.Sistem Radial-Silinder 2-6
BAB III Perpindahan Panas Konveksi 3-1
3.1. Konveksi Alamiah 3-4
3.2. Konveksi Paksa 3-7
3.3. Gabungan Konduksi dan Konveksi 3-14
BAB IV Alat Penukar Kalor 4-1
4.1. Alat Penukar Kalor Pipa 4-2
4.2. Penukar Kalor Pelat 4-5
4.3. Penukar Kalor Pendingin Udara 4-5
4.4. Analisa Alat Penukar Kalor Pipa Ganda 4-8
BAB V Perpindahan Kalor disertai Perubahan Fasa 5-1
5.1. Perpindahan Kalor dari Uap yang Mengembun 5-1
5.2. Perpindahan Kalor ke Zat Cair yang Mendidih 5-9
BAB VI Proses Evaporasi 6-1
6.1. Pendahuluan 6-1
6.2. Jenis-Jenis Evaporator 6-5
6.3. Kapasitas Evaporator 6-21
6.4. Ekonomi Evaporator 6-25

BAB VII Evaporator Efek Ganda 7-1


7.1. Kapasitas dan Ekonomi Evaporator 7-5
BAB VIII Kristalisasi 8-1

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/Daftar%20Isi%20Buku%20Ajar.html (2 of 3)5/8/2007 3:24:05 PM


DAFTARPUSTAKA

8.1. Prinsip Kristalisasi 8-4


Daftar Pustaka
Lampiran : Umpan Balik
Quiz
Soal Ujian Tengah Semester
Soal Ujian Akhir Semester
Tugas dan Soal-soal Latihan

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/Daftar%20Isi%20Buku%20Ajar.html (3 of 3)5/8/2007 3:24:05 PM


PERPINDAHAN PANAS

BAB I
PENDAHULUAN

Perpindahan ka1or dari suatu zat ke zat lain seringkali terjadi dalam industri proses. Pada
kebanyakan pengerjaan, diperlukan pemasukan atau pengeluaran ka1or, untuk mencapai dan
mempertahankan keadaan yang dibutuhkan sewaktu proses berlangsung. Kondisi pertama yaitu
mencapai keadaan yang dibutuhkan untuk pengerjaan, terjadi umpamanya bila pengerjaan harus
berlangsung pada suhu tertentu dan suhu ini harus dicapai dengan ja1an pemasukan atau
pengeluaran ka1or. Kondisi kedua yaitu mempertahankan keadaan yang dibutuhkan untuk
operasi proses, terdapat pada pengerjaan eksoterm dan endoterm. Disamping perubahan secara
kimia, keadaan ini dapat juga merupakan pengerjaan secara a1ami. Dengan demikian. pada
pengembunan dan penghabluran (krista1isasi) ka1or harus dikeluarkan. Pada penguapan dan pada
umumnya juga pada pelarutan, ka1or harus dimasukkan. Ada1ah hukum a1am bahwa ka1or itu
suatu bentuk energi.

Sama seperti bentuk lain dari energi, jumlah ka1or juga dinyatakan da1am suatu gaya kali suatu
jarak yaitu Newton ka1i meter atau Nm. 1 Nm dinamakan 1 Joule. Untuk memberikan sedikit
gambaran mengenai besarnya energi 1 Joule tersebut, bisa diperhatikan dari ha1 berikut: Untuk
penguapan 1 kg air, diperlukan cukup banyak energi yaitu perubahan zat cair ke dalam uap ini
kira-kira membutuhkan energi 2.225.000 Joule = 2,25 MJ. Pada pembakaran 1 kg minyak akan
terbebas kira-kira 45 MJ.

Ka1or mengalir dengan sendirinya dari suhu yang tinggi ke suhu yang rendah. Akan tetapi, gaya
dorong untuk a1iran ini ada1ah perbedaan suhu. Bila sesuatu benda ingin dipanaskan, maka harus
dimi1iki sesuatu benda lain yang lebih panas, demikian pula ha1nya jika ingin mendinginkan
sesuatu, diperlukan benda lain yang lebih dingin.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/01%20Bab%201%20Pendahuluan.html (1 of 7)5/8/2007 3:24:05 PM


PERPINDAHAN PANAS

Hukum kekekalan energi menyatakan bahwa energi tidak musnah yaitu seperti hukum asas yang
lain, contohnya hukum kekekalan masa dan momentum, ini artinya kalor tidak hilang. Energi
hanya berubah bentuk dari bentuk yang pertama ke bentuk yang ke dua. Bila diperhatikan
misalnya jumlah energi kalor api unggun kayu yang ditumpukkan, semua ini .menyimpan
sejum1ah energi dalam yang ditandai dengan kuantitas yang lazim disebut muatan kalor bahan.
Apabila api dinyalakan, energi terma yang tersimpan di dalam bahan tadi akan bertukar menjadi
energi kalor yang dapat kita rasakan. Energi kalor ini mengalir jika terdapat suatu perbedaan
suhu. Bila diperhatikan sebatang logam yang dicelupkan ke dalam suatu tangki yang berisi air
kalor. Karena suhu awal logam ialah T1 dan suhu air ialah T2, dengan T2 >> T1, maka logam
dikatakan lebih dingin daripada air. Ha1 yang penting dalam sistem yang terdiri dari air dan
logam ialah adanya suatu perbedaan suhu yang nyata yaitu (T2- T1).

Kalor dapat diangkut dengan tiga macam cara yaitu:


1. Pancaran, sering juga dinamakan radiasi.
2. Hantaran, sering juga disebut konduksi.
3. Aliran, sering juga disebut radiasi.

1.1. Pancaran (Radiasi)

Yang dimaksud dengan pancaran (radiasi) ia1ah perpindahan ka1or mela1ui gelombang dari
suatu zat ke zat yang lain. Semua benda memancarkan ka1or. Keadaan ini baru terbukti setelah
suhu meningkat. Pada hakekatnya proses perpindahan ka1or radiasi terjadi dengan perantaraan
foton dan juga gelombang elektromagnet. Terdapat dua teori yang berbeda untuk menerangkan
bagaimana proses radiasi itu terjadi. Semua bahan pada suhu mutlak tertentu akan menyinari
sejumlah energi ka1or tertentu. Semakin tinggi suhu bahan tadi maka semakin tinggi pula energi
ka1or yang disinarkan. Proses radiasi adalah fenomena permukaan. Proses radiasi tidak terjadi
pada bagian da1am bahan. Tetapi suatu bahan apabila menerima sinar, maka banyak ha1 yang
boleh terjadi. Apabila sejumlah energi ka1or menimpa suatu permukaan, sebahagian akan
dipantulkan, sebahagian akan diserap ke da1am bahan, dan sebagian akan menembusi bahan dan
terus ke luar. Jadi da1am mempelajari perpindahan ka1or radiasi akan dilibatkan suatu fisik
permukaan.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/01%20Bab%201%20Pendahuluan.html (2 of 7)5/8/2007 3:24:05 PM


PERPINDAHAN PANAS

Bahan yang dianggap mempunyai ciri yang sempurna ada1ah jasad hitam. Disamping itu, sama
seperti cahaya lampu, adaka1anya tidak semua sinar mengenai permukaan yang dituju. Jadi
da1am masalah ini kita mengena1 satu faktor pandangan yang lazimnya dinamakan faktor
bentuk. Maka jumlah ka1or yang diterima dari satu sumber akan berbanding langsung
sebahagiannya terhadap faktor bentuk ini. Dalam pada itu, sifat terma permukaan bahan juga
penting. Berbeda dengan proses konveksi, medan a1iran fluida disekeliling permukaan tidak
penting, yang penting ialah sifat terma saja. Dengan demikian, untuk memahami proses radiasi
dari satu permukaan kita perlu memahami juga keadaan fisik permukaan bahan yang terlibat
dengan proses radiasi yang berlaku.

Proses perpindahan kalor sering terjadi secara serentak. Misa1nya sekeping plat yang dicat hitam.
La1u dikenakan dengan sinar matahari. Plat akan menyerap sebahagian energi matahari. Suhu
plat akan naik ke satu tahap tertentu. Oleh karena suhu permukaan atas naik maka kalor akan
berkonduksi dari permukaan atas ke permukaan bawah. Da1am pada itu, permukaan bagian atas
kini mempunyai suhu yang lebih tinggi dari suhu udara sekeliling, maka jumlah kalor akan
disebarkan secara konveksi. Tetapi energi kalor juga disebarkan secara radiasi. Dalam hal ini dua
hal terjadi, ada kalor yang dipantulkan dan ada kalor yang dipindahkan ke sekeliling.

Gambar 1.1. Perpindahan panas radiasi


(a) pada permukaan, (b) antara permukaan dan lingkungan

Berdasarkan kepada keadaan terma permukaan, bahan yang di pindahkan dan dipantulkan ini
dapat berbeda. Proses radiasi tidak melibatkan perbedaan suhu. Keterlibatan suhu hanya terjadi
jika terdapat dua permukaan yang mempunyai suhu yang berbeda. Dalam hal ini, setiap
permukaan akan menyinarkan energi kalor secara radiasi jika permukaan itu bersuhu T dalam
unit suhu mutlak. Lazimnya jika terdapat satu permukaan lain yang saling berhadapan, dan jika

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/01%20Bab%201%20Pendahuluan.html (3 of 7)5/8/2007 3:24:05 PM


PERPINDAHAN PANAS

permukaan pertama mempunyai suhu T1 mutlak sedangkan permukaan kedua mempunyai suhu
T2 mutlak, maka permukaan tadi akan saling memindahkan kalor .

Selanjutnya juga penting untuk diketahui bahwa :


1. Kalor radiasi merambat lurus.
2. Untuk perambatan itu tidak diperlukan medium (misalnya zat cair atau gas)

1.2. Hantaran (Konduksi)

Yang dimaksud dengan hantaran ialah pengangkutan kalor melalui satu jenis zat. Sehingga
perpindahan kalor secara hantaran/konduksi merupakan satu proses pendalaman karena proses
perpindahan kalor ini hanya terjadi di dalam bahan. Arah aliran energi kalor, adalah dari titik
bersuhu tinggi ke titik bersuhu rendah.

Gambar 1.2. Perpindahan panas konduksi dan difusi energi akibat aktivitas molekul

Sudah diketahui bahwa tidak semua bahan dapat menghantar kalor sama sempurnanya. Dengan
demikian, umpamanya seorang tukang hembus kaca dapat memegang suatu barang kaca, yang
beberapa cm lebih jauh dari tempat pegangan itu adalah demikian panasnya, sehingga bentuknya
dapat berubah. Akan tetapi seorang pandai tempa harus memegang benda yang akan ditempa
dengan sebuah tang. Bahan yang dapat menghantar ka1or dengan baik dinamakan konduktor.
Penghantar yang buruk disebut isolator. Sifat bahan yang digunakan untuk menyatakan bahwa

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/01%20Bab%201%20Pendahuluan.html (4 of 7)5/8/2007 3:24:05 PM


PERPINDAHAN PANAS

bahan tersebut merupakan suatu isolator atau konduktor ialah koefisien konduksi terma. Apabila
nilai koefisien ini tinggi, maka bahan mempunyai kemampuan mengalirkan kalor dengan cepat.
Untuk bahan isolator, koefisien ini bernilai kecil.

Pada umumnya, bahan yang dapat menghantar arus listrik dengan sempurna (logam) merupakan
penghantar yang baik juga untuk kalor dan sebaliknya. Selanjutnya bila diandaikan sebatang besi
atau sembarang jenis logam dan salah satu ujungnya diulurkan ke dalam nyala api. Dapat
diperhatikan bagaimana kalor dipindahkan dari ujung yang panas ke ujung yang dingin. Apabila
ujung batang logam tadi menerima energi kalor dari api, energi ini akan memindahkan
sebahagian energi kepada molekul dan elektron yang membangun bahan tersebut. Moleku1 dan
elektron merupakan alat pengangkut kalor di dalam bahan menurut proses perpindahan kalor
konduksi. Dengan demikian dalam proses pengangkutan kalor di dalam bahan, aliran elektron
akan memainkan peranan penting .

Persoalan yang patut diajukan pada pengamatan ini ialah mengapa kadar alir energi kalor adalah
berbeda. Hal ini disebabkan karena susunan molekul dan juga atom di dalam setiap bahan adalah
berbeda. Untuk satu bahan berfasa padat molekulnya tersusun rapat, berbeda dengan satu bahan
berfasa gas seperti udara. Molekul udara adalalah renggang seka1i. Tetapi dibandingkan dengan
bahan padat seperti kayu, dan besi , maka molekul besi adalah lebih rapat susunannya daripada
molekul kayu. Bahan kayu terdiri dari gabungan bahan kimia seperti karbon, uap air, dan udara
yang terperangkat. Besi adalah besi. Kalaupun ada bahan asing, bahan kimia unsur besi adalah
lebih banyak.

1.3. Aliran (Konveksi)

Yang dimaksud dengan aliran ialah pengangkutan ka1or oleh gerak dari zat yang dipanaskan.
Proses perpindahan ka1or secara aliran/konveksi merupakan satu fenomena permukaan. Proses
konveksi hanya terjadi di permukaan bahan. Jadi dalam proses ini struktur bagian dalam bahan
kurang penting. Keadaan permukaan dan keadaan sekelilingnya serta kedudukan permukaan itu
adalah yang utama. Lazimnya, keadaan keseirnbangan termodinamik di dalam bahan akibat
proses konduksi, suhu permukaan bahan akan berbeda dari suhu sekelilingnya. Dalam hal ini
dikatakan suhu permukaan adalah T1 dan suhu udara sekeliling adalah T2 dengan Tl>T2. Kini

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/01%20Bab%201%20Pendahuluan.html (5 of 7)5/8/2007 3:24:05 PM


PERPINDAHAN PANAS

terdapat keadaan suhu tidak seimbang diantara bahan dengan sekelilingnya.

Perpindahan kalor dengan jalan aliran dalam industri kimia merupakan cara pengangkutan kalor
yang paling banyak dipakai. Oleh karena konveksi hanya dapat terjadi melalui zat yang mengalir,
maka bentuk pengangkutan ka1or ini hanya terdapat pada zat cair dan gas. Pada pemanasan zat
ini terjadi aliran, karena masa yang akan dipanaskan tidak sekaligus di bawa kesuhu yang sama
tinggi. Oleh karena itu bagian yang paling banyak atau yang pertama dipanaskan memperoleh
masa jenis yang lebih kecil daripada bagian masa yang lebih dingin. Sebagai akibatnya terjadi
sirkulasi, sehingga kalor akhimya tersebar pada seluruh zat.

Gambar 1.3. Perpindahan panas konveksi. (a) konveksi paksa, (b) konveksi alamiah,
(c) pendidihan, (d) kondensasi

Pada perpindahan kalor secara konveksi, energi kalor ini akan dipindahkan ke sekelilingnya
dengan perantaraan aliran fluida. Oleh karena pengaliran fluida melibatkan pengangkutan masa,
maka selama pengaliran fluida bersentuhan dengan permukaan bahan yang panas, suhu fluida
akan naik. Gerakan fluida melibatkan kecepatan yang seterusnya akan menghasilkan aliran
momentum. Jadi masa fluida yang mempunyai energi terma yang lebih tinggi akan mempunyai
momentum yang juga tinggi. Peningkatan momentum ini bukan disebabkan masanya akan
bertambah. Malahan masa fluida menjadi berkurang karena kini fluida menerima energi kalor.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/01%20Bab%201%20Pendahuluan.html (6 of 7)5/8/2007 3:24:05 PM


PERPINDAHAN PANAS

Fluida yang panas karena menerima kalor dari permukaan bahan akan naik ke atas. Kekosongan
tempat masa bendalir yang telah naik itu diisi pula oleh masa fluida yang bersuhu rendah. Setelah
masa ini juga menerima energi kalor dari permukan bahan yang kalor dasi, masa ini juga akan
naik ke atas permukaan meninggalkan tempat asalnya. Kekosongan ini diisi pula oleh masa fluida
bersuhu renah yang lain. Proses ini akan berlangsung berulang-ulang. Dalam kedua proses
konduksi dan konveksi, faktor yang paling penting yang menjadi penyebab dan pendorong proses
tersebut adalah perbedaan suhu. Apabila perbedaan suhu .terjadi maka keadaan tidak stabil terma
akan terjadi. Keadaan tidak stabil ini perlu diselesaikan melalui proses perpindahan kalor.

Dalam pengamatan proses perpindahan kalor konveksi, masalah yang utama terletak pada cara
mencari metode penentuan nilai h dengan tepat. Nilai koefisien ini tergantung kepada banyak
faktor. Jumlah kalor yang dipindahkan, bergantung pada nilai h. Jika cepatan medan tetap, artinya
tidak ada pengaruh luar yang mendoromg fluida bergerak, maka proses perpindahan ka1or
berlaku. Sedangkan bila kecepatan medan dipengaruhi oleh unsur luar seperti kipas atau peniup,
maka proses konveksi yang akan terjadi merupakan proses perpindahan kalor konveksi paksa.
Yang membedakan kedua proses ini adalah dari nilai koefisien h-nya.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/01%20Bab%201%20Pendahuluan.html (7 of 7)5/8/2007 3:24:05 PM


BAB II

BAB II
PERPINDAHAN PANAS KONDUKSI

Pada perpindahan panas secara konduksi, kalor/panas mengalir tanpa disertai gerakan zat, tetapi
melaui satu jenis zat. Arah aliran energi kalor dari titik bersuhu tinggi ke titik bersuh rendah.
Tidak semua bahan dapat menghantar kalor sama sempurnanya.

Konduktor: bahan yang dapat menghantar kalor dengan baik.


Isolator: penghantar kalor yang buruk.

Koefisien konduksi terma, k:


§ sifat bahan yang digunakan untuk menyatakan bahwa bahan tersebut merupakan suatu
isolator atau konduktor
§ menunjukkan berapa sepat kalor mengalir dalam suatu bahan
kkonduktor>kisolator

Konduksi panas mengikuti Hukum Fourier yang dapat dinyatakan dengan persamaan yang
berikut:
atau:

q = laju perpindahan panas


dT/dx = gradien suhu ke arah perpindahan panas

Dalam persamaan di atas Hukum Fourier telah dinyatakan dalam bentuk persamaan laju alir,
yang bentuk umumnya adalah:

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/02%20Perpindahan%20panas%20konduksi.html (1 of 7)5/8/2007 3:24:06 PM


BAB II

Dengan demikian persamaan konduksi panas mendefinisikan tahanan terhadap konduksi panas k
adalah konduktiviti panas suatu zat, yang besarnya tergantung pada temperatur zat itu. Biasanya
perubahan k dapat diperkirakan cukup dengan fungsi liniar

2.1. Konduksi Keadaan Steady (Tunak)

Persamaan neraca energi:

Analisa satu dimensi arah sumbu x ditunjukkan sebagai berikut:

Kuantitas energi panas adalah sebagai berikut:


Energi masuk :

Energi yang dibangkitkan :

Perubahan energi dalam

Energi keluar =

Pada keadaan steady, distribusi suhu konstan, suhu hanya merupakan fungsi posisi dan akumulasi
= 0, sehingga:

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/02%20Perpindahan%20panas%20konduksi.html (2 of 7)5/8/2007 3:24:06 PM


BAB II

Untuk konduksi keadaan steady, hukum Fourier dapat diintegrasi:

2.1.1.Dinding Datar

Sistem dengan lebih dari satu macam bahan, seperti dinding lapis rangkap, analisisnya akan
menjadi seperti berikut:

Untuk gradien suhu seperti gambar di atas, laju perpindahan panas:

Aliran panas pada setiap bagian adalah sama. Jika ketiga persamaan akan diselesaikan
bersamaan, maka aliran kalor dapat dituliskan:

Analogi listrik dapat digunakan untuk memecahkan persoalan yang lebih rumit.
Digunakan R, tahanan termal/panas/kalor, untuk menyatakan :

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/02%20Perpindahan%20panas%20konduksi.html (3 of 7)5/8/2007 3:24:06 PM


BAB II

Sehingga:

= penurunan suhu total melintas keseluruhan tebing

Aliran kalor melalui beberapa tahanan dalam susunan seri mempunyai analogi dengan arus listrik
yang mengalir melalui beberapa tahanan listrik dalam rangkaian seri.

Aliran kalor melalui beberapa tahanan dalam susunan paralel:

Jika suhu awal dan akhir kedua lapisan sama:

2.1.2. Sistem Radial-Silinder

Suatu silinder, dimana:


r1= jari-jari dalam
r0=jari-jari luar

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/02%20Perpindahan%20panas%20konduksi.html (4 of 7)5/8/2007 3:24:06 PM


BAB II

L=panjang
Ti-To=beda suhu

Laju perpindahan panas dapat ditentukan dari Hukum Fourier dengan penyesuaian rumus luas
menjadi:

Konsep tahanan termal dapat juga digunakan untuk dinding lapis rangkap seperti gambar di atas:

Contoh 4.2-1 (Geankoplis, 1987). Panjang tabung untuk koil pendingin


Tabung silinder berdinding tipis dari karet dengan ID 5 mm dan OD 20 mm digunakan sebagai
koil pendingin. Air pendingin dalam tabung mengalir pada suhu 274,9 K. Sebanyak 14,65 W
panas harus dipindahkan dengan pendinginan ini. Hitung panjang tabung yang diperlukan, jika
suhu permukaan luar tabung 297,1 K.

Penyelesaian:
Dari App. A-3 Geankoplis, 1987:
Khardbutter= 0,151 W/m.K

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/02%20Perpindahan%20panas%20konduksi.html (5 of 7)5/8/2007 3:24:06 PM


BAB II

r1 = 5/100 = 0,005 m; r2 = 20/1000 = 0,02 m

Ambil L= 1 m.

Tanda negatif menunjukkan bahwa arah aliran panas adalah dari r2, dinding luar ke r1, dinding
dalam.

Panjang tabung yang diperlukan:

Contoh 4.3-1 (Geankoplis, 1987). Aliran panas melalui dinding isolasi ruang pendingin
Ruang pendingin dilapisi dengan 12,7 mm kayu pine; 101,6 mm cork board dan lapisan terluar
76,2 mm concrete.
Temperatur permukaan luar 255,4 K (ruang pendingin) dan permukaan luar concrete 297,1 K.
Nilai: kpine = 0,151 W/m.K
kcorkboard = 0,0433 W/m.K
kconcrete = 0,762 W/m.K

Hitung panas yang hilang (dalam W) untuk 1 m2, dan temperatur antara pine dan cork board.

Penyelesaian:
T1 = 255,4 K; T4= 297,1 K;
kA= 0,151 ; xA= 0,0127 m
kB= 0,0433 ; xB= 0,1016 m
kC= 0,762 ; xC= 0,0762 m

Tahanan masing-masing material:


Dengan cara yang sama:

Untuk menghitung temperatur T2, antara pine dan cork board:

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/02%20Perpindahan%20panas%20konduksi.html (6 of 7)5/8/2007 3:24:06 PM


BAB II

Contoh 4.3-2 (Geankoplis, 1987). Panas yang hilang dari isolasi pipa.
Pipa stainless stell berdinding tipis (A) mempunyai k= 21,63 W/m.K dengan ID=0,0254 m dan
OD = 0,0508 m. Pipa dilapisi asbestos (B) sebagai isolasi setebal 0,0254 m dengan k=0,2433 W/
m.K.
Temperatur permukaan dalam pipa 811 K dan permukaan luar isolasi 310,8 K. Untuk pipa 0,305
m panjang, hitung:
a. Panas yang hilang
b. Temperatur antara pipa dengan isolasi

Penyelesaian:
T1= 811 K; T2 = T antara; T3=310,8 K

Luas permukaan pada L=0,305 m:

Tahanan masing-masing:

Laju perpindahan panas:

Untuk menghitung temperatur T2:

Hanya terjadi penurunan T yang kecil melintasi pipa, karena nilai k yang tinggi.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/02%20Perpindahan%20panas%20konduksi.html (7 of 7)5/8/2007 3:24:06 PM


BAB III

BAB III
PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI

Perpindahan panas antara suatu permukaan padat dan suatu fluida berlangsung secara konveksi.
Konveksi panas dapat dihitung dengan persamaan pendinginan Newton:

…(3.1)
Persamaan (3.1) mendefinisikan tahanan panas terhadap konveksi. Koefisien pindah panas
permukaan h, bukanlah suatu sifat zat, akan tetapi menyatakan besarnya laju pindah panas di
daerah dekat pada permukaan itu.

Fluks Kalor:
Adalah laju perpindahan panas persatuan luas (q/A). Fluks kalor boleh didasarkan atas luas
permukaan luar atau dalam pipa.

Suhu arus rata-rata:


Adalah suhu yang dicapai apabila keseluruhan fluida yang mengalir melalui penampang itu
dikeluarkan lalu dicampur secara adiabatik.

Koefisien perpindahan kalor menyeluruh:


Jika terjadi konduksi dan konveksi secara berturutan, maka berbagai tahanan panas yang
tersangkut dapat dijumlahkan untuk memperoleh koefisien pindah panas keseluruhan U.
Persamaan perpindahan panas menjadi:

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (1 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB III

Th= suhu fluida panas


Tc=suhu fluida dingin
Th – Tc = gaya dorong atau beda suhu lokal menyeluruh

A = luas permukaan dalam/luar pipa


U = koefisien pindah panas keseluruhan berdasarkan A = faktor proporsionalitas antara q/A
dan •T
Jika A = Ao, luas permukaan luar tabung, maka U = Uo, koefisien yang didasarkan atas luas
permukaan luar.

Koefisien perpindahan panas individual, h:


Merupakan koefisien perpindahan panas untuk masing-masing fluida.

T = suhu rata-rata lokal


Tw= suhu dinding yang dalam kontak dengan fluida

Nilai h bila diterapkan:


§ Untuk sisi panas (bagian dalam tabung)
Th=suhu fluida panas
Twh=suhu dinding panas

§ Untuk sisi dingin (bagian luar tabung)

Tc=suhu fluida dingin

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (2 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB III

Twc=suhu dinding dingin

Koefisien pindah panas permukaan dapat diperkirakan dari fungsi-fungsi empiris, yang tersusun
dari bilangan-bilangan tanpa dimensi, dengan bentuk umum:

Nu = K Rep Prq Grr (L/d)s

dimana
K = bilangan tetap.
Nu = angka Nusselt, rasio antara diameter tabung terhadap tebal ekivalen lapisan laminar

h =koefisien konveksi
k =konduktivitas panas
D =diameter tabung
X =tebal lapisan film (lapisan batas laminar)

Korelasi untuk menentukan nilai h dipengaruhi oleh:


§ Sifat fisika fluida
§ Jenis dan kecepatan aliran
§ Perbedaan temperatur
§ Geometri sistem

Beberapa nilai h dapat dilihat pada Tabel 4.1-2 Geankoplis, 1987.

Perpindahan panas konveksi dapat dikelompokkan kepada dua bahagian:


1. Konveksi bebas/alamiah
§ Contohnya adalah pemanasan aliran udara yang melalui radiator, pemanasan air
dalam ketel.
§ Fluida panas yang menerima panas akan naik ke atas, kekosongan tempat massa
fluida yang telah naik diisi oleh massa fluida yang bersuhu rendah.
§ Aliran fluida terjadi akibat perbedaan densitas, dan perbedaan densitas akibat

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (3 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB III

adanya gradien suhu di dalam massa fluida itu.

2. Konveksi paksa
§ Jika aliran fluida digerakkan oleh piranti mekanik seperti pompa dan pengaduk.
§ Aliran/perpindahan panas tidak bergantung pada gradien densitas.
§ Contohnya aliran kalor melalui pipa panas.

3.1. Konveksi Alamiah

Pada perbatasan suatu permukaan dan suatu fluida akan terjadi perpindahan panas secara
konduksi dan konveksi. Biasanya temperatur permukaan itu cukup tinggi untuk menimbulkan
pula radiasi. Tanpa adanya aliran yang dipaksakan terhadap fluida, maka sekitar permukaan akan
terjadi konveksi secara alamiah. Perbedaan temperatur antara bagian-bagian fluida menyebabkan
perbedaan densiti dan karena itu timbul gerakan dan aliran dalam fluida. Aliran alamiah ini
memperbesar perpindahan panas yang semula sampai tercapai keadaan yang tecap. Cara
perpindahan panas semacam ini disebut konveksi alamiah atau konveksi bebas.

Besarnya koefisien perpindahan panas harus didapat dari hasil percobaan. Banyak penyelidikan
telah dilakukan untuk menentukan koefisien pindah panas itu. Jika berbagai hasil penyelidikan itu
dikumpulkan, ternyata dapat diperoleh persamaan empiris dalam bilangan-bilangan tanpa
dimensi, salah satu di antaranya adalah bilangan Grashof, yang dibuat untuk menunjukkan sifat-
sifat konveksi bebas .
Bentuk umum:

Bilangan-bilangan tanpa dimensi itu adalah:

Dimana:
L =panjang pipa
• =viskositas fluida
ρ =densitas fluida
g =percepatan gravitasi

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (4 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB III

Cp =kapasitas panas
β =koefisien ekspansi termal
hc =koefisien konveksi
k =konduktivitas termal

Hasil percobaan itu sering juga dinyatakan sebagai nomogram (alignment chart) atau grafik.

Persamaan empiris dan nomogram itu dapat dipakai guna memperkirakan koefisien perpindahan
panas untuk konveksi bebas. Karena terdapat berbagai persamaan dan nomogram, maka haruslah
dicari yang keadaan sistemnya sama dengan sistem yang sedang ditinjau.

Bagaimana beraneka ragamnya persamaan-persamaan itu dapat dilihat dari contoh-contoh di


bawah ini.

Untuk bidang tegaklurus dan silinder tegak lurus


Aliran bergolak:

Aliran berlapis:

Untuk silinder mendatar

Untuk lempeng mendatar yang dipanaskan, menghadap ke atas, atau lempeng mendatar, yang
didinginkan, menghadap ke bawah:

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (5 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB III

Untuk lempeng mendatar yang dipanaskan, menghadap ke bawah atau lempeng mendatar, yang
didinginkan, menghadap ke atas:

3.2. Konveksi Paksa

Seperti telah diketahui fluida sekitar benda, yang seluruhnya diliputi oleh fluida itu, mengalami
dua macam hambatan, yaitu hambatan gesekan dan hambatan bentuk. Dalam bilangan Reynolds
yang sangat rendah hanya hambatan gesekan yang berpengaruh. Jika bilangan Reynolds
bertambah besar, baik hambatan gesekan maupun hambatan bentuk berpengaruh, akan tetapi
pengaruh hambatan gesekan makin lama makin berkurang dan hambatan bentuk lebih
berpengaruh.

Pengaruh aliran ini juga terlihat pada perpindahan panas antara fluida dan benda-benda yang
terendam. Persamaan-persamaan empiris tentang koefisien pindah panas antara benda dan fluida
hanya berlaku untuk benda dengan bentuk tertentu. Jika dalam alat dikehendaki pertukaran panas,
maka perpindahan panas selalu terjadi secara konveksi paksa; karena laju panas yang
dipindahkan naik dengan adanya aliran atau pengadukan. Juga di sini pada waktu yang sama
berlangsung perpindahan panas secara konduksi, konveksi dan radiasi. Dalam hal ini radiasi
biasanya terjadi pada permukaan luar yang berhubungan dengan lingkungan yang tetap
temperaturnya.

Seringkali salah satu fluida dalam sebuah penukar-panas mengalir dalam pipa, sedang fluida yang
lain mengalir dalam ruang anulus sebuah pipa yang lebih besar atau dalam ruang sebuah shell
yang memuat banyak pipa, Perpindahan panas berlangsung secara radial terhadap pipa. Antara
fluida di dalam pipa dan permukaan dinding pipa sebelah dalam, panas dipertukarkan secara
konveksi, kemudian panas menjalar secara konduksi melalui logam dinding pipa. Di luar pipa
terjadi lagi konveksi.

Perhitungan dilakukan dengan persamaan yang berikut:

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (6 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB III

Kalau persamaan di atas diterapkan di satu tempat, maka U adalah koefisien perpindahan panas
keseluruhan setempat dan ∆T adalah selisih temperatur fluida di dalam pipa dan fluida di luar
pipa di tempat itu. Luas permukaan perpindahan panas A, harus dihitung sesuai dengan keadaan
sistem. Begitu juga koefisien perpindahan panas keseluruhan harus dihitung melalui penjumlahan
masing-masing tahanan panas, sesuai dengan persoalannya.

Karena terjadi perpindahan panas, maka sepanjang pipa fluida yang panas berkurang
temperaturnya dan fluida yang dingin naik temperaturnya.
Pada ujung keluar pipa itu akan terdapat selisih temperatur yang berbeda dengan pada ujung
awal. Begitu juga besarnya koefisien perpindahan panas konveksi akan berubah, karena
temperatur fluida berbeda. Untuk menerapkan persamaan pindah panas pada satu alat, maka
haruslah ada harga yang dirata-ratakan. Biasanya selisih temperatur dirata-ratakan secara
logaritma antara kedua ujung alat menjadi:

(Selisih temperatur rata-rata logaritma)

Dalam hal ini U dianggap tidak berubah banyak antara kedua ujung alat itu. Kalau U sangat
berbeda di kedua tempat itu, maka dilakukan rata-rata dengan persamaan yang berikut:

U dihitung dari jumlah tahanan panas keseluruhan. Besarnya koefisien pindah panas secara
konveksi diperkirakan dari persamaan-persamaan empiris.
Untuk konveksi dalam pipa sudah tentu persamaan empirisnya lain daripada untuk konveksi luar
pipa. Banyak buku yang memuat keterangan tentang koefisien pindah panas, baik dalam bentuk
persamaan, maupun dalam bentuk nomogram.

Dalam mencari persamaan-persamaan empiris itu harus diperhatikan sifat fluida, sifat aliran, jenis
perpindahan panas (pemanasan atau pendinginan), letak pipa dan lain sebagainya. Sebab untuk
keadaan yang berlainan mungkin berlaku persamaan yang lain pula, dan haruslah ditemukan
persamaan yang keadaan berlakunya sama dengan masalah yang dihadapi.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (7 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB III

Koefisien pindah panas sebuah alat penukar panas mengalami perubahan selama pemakaian.
Sewaktu masih baru permukaan logam pipa-pipa itu bersih. Selama pemakaian pada permukaan
itu akan tertentuk lapisan kotoran atau kerak. Biarpun tipis lapisan itu merupakan tahanan
tambahan terhadap perpindahan panas. Lapisan ini terutama timbul pada permukaan yang
berhubungan dengan air. Besarnya tahanan karena pengotoran itu dapat dihitung dari persamaan
yang berikut:

di mana Ud adalah koefisien pindah panas keseluruhan untuk alat yang kotor dan untuk alat yang
bersih, sedang hd koefisien pindah panas untuk lapisan kotoran atau kerak.

Menurut teori "dua lapisan" pada permukaan yang berhubungan dengan fluida terdapat, suatu
lapisan tipis fluida, yang keadaan alirannya berlapis, biarpun agak berjauhan dari permukaan
fluidanya mengalir secara bergolak. Pada dinding pipa yang kedua belah permukaannya terdapat
fluida, didapati dua lapisan batas itu. Karena keadaan dalam lapisan batas itu berlapis, maka
tahanan terhadap perpindahan panas di 1apisan lebih besar daripada di daerah yang bergolak.
Selisih temperaturpun lebih besar. Karena itu untuk perhitungan-perhitungan, seluruh tahanan
pindah panas dianggap berada dalam lapisan batas. Untuk perhitungan selisih temperatur selalu
diambil antara permukaan dan tengah-tengah aliran yang bergolak.

Pada dasarnya rumus empiris untuk konveksi paksa meliputi benda mempunyai bentuk umum
yang sama dengan rumus empiris untuk konveksi dalam pipa, yaitu:

Persamaan-persamaan itu dapat juga disajikan dalam bentuk grafik. Dalam menggunakan
persamaan-persamaan itu, arah perpindahan panas perlu terus diingat. Persamaan empiris hanya
memberikan cara untuk memperkirakan besarnya koefisien pindah panas. Tahanan panas
konveksi digambarkan sebagai terpusat dalam lapisan batas fluida pada permukaan padat. Karena
itu dalam menggunakan persamaan empiris semua sifat fisis fluida dinilai sesuai dengan
temperatur lapisan batas itu.

Karena persamaan empiris itu dinyatakan dengan bilangan tanpa dimensi maka sistem satuan

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (8 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB III

mana yang digunakan tidak menjadi soal, asalkan tetap hanya satu sistem satuan yang dipakai.
Banyak data telah diperoleh dalam percobaan-percobaan untuk menentukan koefisien pindah
panas h. Data dapat disajikan dalam grafik atau sebagai persamaan. Di bawah ini akan diberikan
berbagai contoh persamaan empiris yang sering dijumpai dengan batas-batas berlakunya.

Aliran laminar
Untuk aliran berlapis (laminar) dalam pipa tegak atau datar, di mana konveksi bebas dapat
diabaikan, berlaku persamaan:
Re < 2100
Dimana:
L =adalah panjang pipa di mana terjadi perpindahan panas; m.
d =diameter pipa; m
• =viskositas fluida pada suhu rata-rata; Pa.s
b
• =viskositas fluida pada suhudinding; Pa.s
w
Cp =kapasitas panas; J/kg.K
hc =koefisien perpindahan panas rata-rata
k =konduktivitas termal; W/m.K

Faktor (•/• w) digunakan sebagai koreksi, jika viskositas fluida di dekat dinding dan di tengah
pipa terlalu berbeda.
Semua sifat fluida dihitung pada suhu rata-rata kecuali • w
Untuk fluida masuk dan keluar pada T berbeda, T rata-rata secara aritmetik:

Tw= suhu dinding


Tbi= suhu fluida masuk
Tbo=suhu fluida keluar

Aliran turbulen

Untuk aliran bergolak (turbulen) dalam pipa yang bersih berlaku persamaan:
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (9 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM
BAB III

hL = koefisien konveksi didasarkan pada •Tm.

Beda suhu rata-rata logaritmik,LMTD, •Tm


Merupakan selisih suhu rata-rata secara logaritma pada kedua ujung peralatan.

Bilangan Grashof tidak ada dalam persamaan di atas, karena nilai bilangan Reynolds terlalu
tinggi untuk adanya pengaruh konveksi bebas.
Sifat-sifat fluida harus dinilai pada temperatur rata-rata antara temperatur masuk dan keluar.

Persamaan-persamaan empiris yang ada pada waktu ini belum mencakup semua keadaan yang
dijumpai dalam praktek. Banyak hal yang tidak dapat di hitung koefisiep pindah panasnya.
Dalam hal ini h harus diperkirakan dari data empiris, yang biasanya dalam buku-buku referensi
diberikan sebagai batas-batas nilai. Data yang dilaporkan dalam buku maupun dalam majalah
banyak berguna dalam memperkirakan koefisien pindah panas secara konveksi.

Nila h untuk udara, Ptotal= 1 atm, aliran turbulen

Nilai h untuk air, T=4-105oC, aliran turbulen

Nilai h aliran fluida yang melintasi plat datar

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (10 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB III

Aliran laminar : Re < 3.105; Pr > 0,7

Aliran turbulen: Re > 3.105; Pr > 0,7

Nilai h untuk aliran melintasi bola


Sebuah bola yang akan dipanaskan atau didinginkan oleh fluida yang mengalir tegak lurus
terhadap sumber bola.
1 < Re < 70.000
0,6 < Pr < 400

Nilai h aliran udara yang mengalir tegak lurus terhadap silinder tunggal dan udara yang mengalir
tegak lurus pada silinder, digunakan:

Nilai K dan n diperoleh dari daftar berikut:


Re n K Nu
1-4 0,33 0,891 0,891-1,42
4-40 0,385 0,821 1,4 – 3,4
40-4000 0,466 0,615 3,43 – 29,6
4000-40000 0,618 0,174 29,5 – 121
40000-250000 0,805 0,0239 121 - 529

3.3. Gabungan Konduksi dan Konveksi

Terdapat dua jenis fluida pada kedua sisi permukaan padatan.


T1 = suhu fluida panas
T2 = suhu fluida dingin

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (11 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB III

Laju perpindahan panas (gambar a):

Koefisien perpindahan panas menyeluruh, U, gabungan konduksi dan konveksi, dihitung melalui
penjumlahan masing-masing tahanan panas, sesuai dengan persoalannya.

U dalam W/m2.K

Laju perpindahan panas (gambar b):

A1 = 2p.L.r1 = luas permukaan dalam tabung


Aalm = luas permukaan rata-rata tabung
Ao = luas permukaan luar tabung

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (12 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB III

Contoh 4.5-1. (Geankoplis, 1987). Pemanasan udara dalam aliran turbulen.


Udara pada 206,8 kPa dan temperatur rata-rata 477,6 K akan dipanaskan melalui pipa dengan ID
25,4 mm dan kecepatan 7,62 m/dt. Sebagai media pemanas digunakan steam pada 488,7 K diluar
pipa. Karena koefisien konveksi steam besar sedangkan tahanan dinding pipa sangat kecil,
dianggap temperatur dinding pipa yang kontak dengan udara juga 488,7 K.
Hitung :
a. Koefisien perpindahan panas untuk L/D > 60.
b. Fluks panas (q/A)

Penyelesaian:
Dari App. A.3. Geankoplis 1987, udara pada 477,6 K:
mb = 2,6.10-5 Pa.s
k = 0,03894 W/m
Pr = 0,686
Pada 488,7 K, mw = 2,64.10-5 Pa.s

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (13 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB III

mb = 2,6.10-5 Pa.s = 2,6.10-5 kg/m.dt

(a) Aliran turbulen:

(b)

Contoh soal 4.5-2 (Geankoplis, 1987). Pemanasan air menggunakan steam dan penyelesaian
dengan trial and error.

Air mengalir melalui pipa horizontal 1” sch 40, pipa baja pada temperatur rata-rata 65,6 oC dan
kecepatan 2,44 m/dt. Air akan dipanaskan dengan steam pada 107,8 oC diluar dinding pipa.
Koefisien sisi uap diperkirakan ho = 10500 W/m2.K.
a. Hitung hi untuk air didalam pipa.
b. Hitung U, koefisien perpindahan panas keseluruhan, didasarkan atas permukaan dalam
pipa.
c. Hitung q untuk 0,305 m pipa.

Penyelesaian:
Dari App. A-5 (Geankoplis, 1987):
1” sch 40 : ID= 0,0266 m dan OD = 0,0334 m.

Air pada T = 65,6 oC dari App. A.2 : NPr = 2,72

r = 0,98 (1000) = 980 kg/m3


k = 0,633 W/m.K
µ = 4,32.10-4 Pa.S

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (14 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB III

TRIAL I
Temperatur dinding pipa diperlukan, dan diasumsikan berada diantara 65,6oC dan 107,8 oC,
diambil 80 oC = Tw.

•w,80oC = 3,56.10-4 Pa.s

Nre air pada temperatur rata-rata:

(b) Untuk L=0,305 m

K untuk baja adalah 45 W/m.K

Tahanan menjadi:

Penurunan temperatur melalui lapisan air:

=16,1oC

Sehingga Tw=65,5+16,1=81,7oC

Ini sangat dekat dengan nilai Trial I yaitu 80oC. Sifat fisika yang berubah adalah mw jika

dilakukan Trial II yaitu mw,80oC= 3,56.10-4 menjadi mw,81,7oC=3,53.10-4.


Tetapi efeknya terhadap hi cukup kecil dan dapat diabaikan, sehingga tidak diperlukan trial ke-2.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (15 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB III

(c)

Soal latihan.
Suatu aliran minyak bumi, sebanyak 1 kg/detik, dipanaskan dalam tungku dan keluar tungku pada
temperatur 300oC melalui pipa baja 4 inci sch. 40, yang terpasang dalam udara terbuka. Pipa ini
hendak diinsulasi dengan lapisan asbes. Berapa tebal lapisan asbes, agar temperatur permukaan
asbes dapat mencapai 50oC, dan penurunan temperatur minyak bumi besarnya 0,1 oC/m panjang
pipa.

Analisa

Keadaan masalah digambarkan pada sketsa berikut.


Arah perpindahan panas adalah radial.

Perpindahan panas mengikuti persaman:

Dimana:
= tahanan panas konveksi dalam pipa

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (16 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB III

= tahanan konduksi panas melalui pipa


= tahanan konduksi panas melalui asbes
= tahanan panas konveksi bebas dalam udara

Untuk menghitung besarnya tahanan panas, perlu dikumpulkan keterangan dan data dari pustaka
sbb:
Pipa 4” sch. 40 mempunyai ukuran sbb:
ID = 102 mm
OD = 114 mm
Tebal dinding = 6,02 mm
Luas permukaan = 0,358 m2/m

Harga konduktivitas panas, k, ialah:


Baja (300 oC) = 43 W/m.K
Asbes (100 oC) = 0,178 W/m.K

Keterangan tentang udara:


K (kering) = 26,6 mW/m.K
r(lembab) = 1,107 kg/m3
Cp (lembab) = 1,07 kJ/kg.K
µ(lembab) = 19,0 N.detik/m2
Tf diambil 35 oC = 308 K

β= koefisien ekspansi termal = 1/Tf = 1/308

Keterangan tentang minyak bumi:


K = 0,138 W/m.K
r (100 oC) = 890 kg/m3
Cp (100 oC) = 1,97.103 J/kg.K
µ (100 oC) = 0,27.10-3 N.detik/m2

Pada permukaan luar insulasi asbes terjadi konveksi bebas. Untuk perhitungan pertama tahanan

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (17 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB III

konveksi bebas tidak perlu diikut sertakan, karena temperatur permukaan diketahui yaitu 50 oC.

Rencana:
Persaman pokok untuk perpindahan panas adalah:

Yang ditanyakan adalah tebal insulasi. Besaran ini terdapat dalam tahanan panas R. Jadi q dan ∆T
harus diketahui terlebih dahulu.
Q diperoleh dari penurunan temperatur minyak bumi sebesar G.Cp. ∆T Watt/m.pipa.

∆T = 0,1 oC
∆T diperoleh dari selisih temperatur keseluruhan 300 – 50 = 250 oC

Dari keempat tahanan panas R1 dan R2 dapat dihitung, karena semua keterangan diketahui, R4
untuk sementara tidak diperlukan. Substitusi harga besaran-besaran di atas ke dalam persamaan
perpindahan panas, memberikan harga untuk R3, yang kemudian menghasilkan tebal insulasi.

Penyelesaian:
Untuk dapat memilih persamaan empiris untuk menghitung h, maka bilangan Reynold harus
dihitung. Untuk minyak bumi perhitungan adalah sebagai berikut.

G = 1 kg/dt
D = 0,102 m
m= 0,27 . 10-3 N.det/m2

Dipakai persamaan berikut


Nre = 46.200

Tahanan konduksi melalui dinding pipa:

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (18 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB III

Kp=43 W/m.K

Tahanan konduksi melalui insulasi:

ka= 0,178 W/m.K

Laju perpindahan panas permeter pipa:

R = R1 + R2 + R3
1,27=0,0109+0,0004+R3

d= 0,7 (0,114 + d) = 0,08 + 0,7 d


d = 0,08/0,3 = 0,267 m

d ins = 0,114 + (2. 0,267) = 0,647 m

Penilaian:
Hasil perhitungan diatas perlu diperiksa dengan tahanan konveksi bebas. Kalau dimisalkan
temperatur udara 20 oC, maka temperatur lapisan batas udara Tf pada permukaan insulasi dapat
diambil Tf = ½ (50+20) = 35 oC

Perhitungan tahanan konveksi bebas:


b= 0,647 m

Berlaku 103 < Gr.Pr < 109 , sehingga dipakai persamaan Nu = 0,525 (Gr.Pr)1/4
Menurut perhitungan ini temperatur permukaan insulasi besarnya = 20 + 33 = 53 oC.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (19 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB III

Perbedaan sebesar 3 oC atau lebih kurang 6% masih baik untuk perhitungan rancangan seperti ini.
Kalau temperatur udara bukan 20 oC, akan tetapi lebih tinggi maka temperatur permukaan
insulasi akan lebih tinggi dari 50 oC. Untuk mempertahankannya pada 50 oC, harus diadakan
perhitungan tebal insulasi lagi, yang berarti insulasi harus dipertebal.

Soal Latihan
Gas karbondioksida kering sebanyak 8,0 .10-3 m3/detik, pada tekanan mutlak 2 bar dan
temperatur 60 oC, hendak didinginkan menjadi 40 oC. Gas berada dalam pipa tembaga ukuran 1”
dengan dinding BWG no.16. Setiap pipa berada dalam pipa tembaga yang lain dengan ukuran
1,5” dan dinding BWG no.14. Air mengalir melalui ruang anulus antara kedua pipa dengan
kecepatan 0,3 m/detik. Air mengalir berlawanan arah dengan gas dan masuk pada 25 oC. Gas
masuk dengan kecepatan 5,7 m/detik. Berapakah banyaknya dan panjang pipa yang diperlukan?.

Analisa:
■ Perhitungan dilakukan dengan persamaan

■ Banyaknya pipa terdapat adlam luas permukaan A


■ Faktor lain harus dihitung. Jika ada faktor yang tidak dapat dihitung, lakukan trial (coba-
coba).
■ Q dapat dihitung dari laju alir dan penurunan temperatur gas CO2.
■ U dihitung dengan menghitung masing-masing tahanan panas dan menjumlahkannya.
■ •Tm dapat dihitung dari kenaikan temperatur ini dan laju alirnya, berdasarkan anggapan
semua energi gas diserap oleh air.

Rencana:
1. Hitung laju perpindahan panas q
2. Hitung selisih temperatur rata-rata •Tm
3. Hitung koefisien perpindahan panas keseluruhan, U
4. Hitung luas permukaan

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (20 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB III

Penyelesaian:
Semua keterangan didapat dari lampiran atau pustaka.
Gas CO2 dianggap gas ideal.

1. Laju perpindahan panas

Berat 1 m3 gas pada 2 bar, 60 oC:

Pada kondisi standar:


P1 = 1 atm = 1,013 bar

V1 = 22,415 cm3/mol = 22,415 m3/kgmol


T1 = 273,15 K
N1 = 1 kgmol

Kondisi 2:
P2 = 2 bar

V2 = 1 m3/n2 kgmol
T2 = 273+60 = 333 K
N2 = kgmol

Cp CO2 diperhitungkan pada temperatur rata-rata = ½ (60+40) = 50 oC

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (21 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB III

Dengan interpolasi didapat harga = 0,208 Btu/lb.oF = 874 J/kg. oC

Berat keseluruhan gas:

Jadi panas yang dipindahkan:

Q = 25,4.10-3 (874) (60-40) = 445 J/dt

2. Selisih temperatur
Luas penampang dalam pipa 1,5” :

Luas penampang luar pipa 1” :


Luas penampang anulus :
9,03.10-4 – 5,07.10-4 = 3,96.10-4 m2
Luas penampang dalam pipa 1” :
Dengan kecepatan 5,7 m/dt tiap pipa dapat mengalirkan:
3,53 .10-4 (5,7) = 20,1.10-4 m3/dt

Jadi diperlukan pipa sebanyak:


Luas total penampang anulus menjadi 4 (3,96 .10-4) = 15,8 . 10-4 m2.

Banyaknya air yang mengalir:

(15,8 . 10-4) (0,3) (1000) = 0,474 kg/detik

Cp(25 oC) air = 4180 J/kg.K

Kenaikan temperatur air ialah:


Temperatur keluar air menjadi 25,22 oC

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (22 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB III

3. Koefisien perpindahan panas

Untuk dapat memilih persamaan empiris yang akan digunakan, selalu perlu diketahui apakah
aliran laminar atau turbulen. Sehingga Nre harus dihitung.

Untuk CO2:

k=0,105 BTU.ft/ft2.oF.jam=0,0105(1,73)=0,0182 W/m.K


Cp=874 J/kg.oC
µ= 1,6.10-5 N/dt.m2

Untuk aliran air:


Luas penampang anulus = 3,96.10-4 m2

Diameter anulus = diameter setara de = 4 x faktor bentuk S

Untuk perpindahan panas

De=4(0,5.10-2)meter=2,0.10-2 m
m25 oC = 0,967.10-3 N.dtk/m2

Persamaan yang akan digunakan:


Dengan menggunakan grafik, untuk L/d = 60 (perkiraan) terbaca dari grafik untuk absis Nre =
6300:

Untuk air didapat keterangan:


d=de=2.10-2 m
k= 0,606 W/m.K
m = 0,967.10-3 N.dtk/m2
Cp = 4,180 J/kg.K

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (23 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB III

Faktor diperkirakan mendekati 1, karena temperatur pipa diperkirakan hampir sama


dengan temperatur air.

Untuk pipa tembaga:

Keliling pipa 1” rata-rata:


Tahanan dinding pipa permeter pipa:

Tahanan keseluruhan :
Tahanan dinding pipa:
Tahanan air:
Tahanan gas:
A=0,1587 m2

Luas permukaan pipa: 0,080 m2/m

Panjang pipa yang diperlukan:

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (24 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM


BAB IV

BAB IV
ALAT PENUKAR KALOR

Apabila kita berhubungan dengan dua macam zat cair atau gas di da1am proses yang akan saling
bertukar ka1ornya, maka kita perlu membincangkan tentang atat penukar ka1or yang bersesuaian
dengan material yang akan kita pindahkan. Pada industri-industri kimia, a1at penukar ka1or
biasanya digunakan untuk pemanasan dan pendinginan proses serta a1iran produk. Ana1isa dan
desain yang dilakukan digunakan untuk mengaplikasikan secara praktis prinsip-prinsip dasar
yang sudah dibahas sebelumnya.

Lazimnya a1at penukar ka1or adalah sistim yang digunakan penukaran ka1or diantara dua fluida
yang dibatasi oleh dinding pemisah. Pada kebanyakan sistem kedua fluida ini tidak mengalami
kontak langsung. Kontak langsung a1at penukar ka1or terjadi sebagai contoh pada gas kalor yang
terfluidisasi da1am cairan dingin untuk meningkatkan temperatur cairan atau mendinginkan gas.

Sa1ah satu a1at penukar ka1or yang sederhana terdiri dari pipa panjang di da1am suatu pipa
kedua. Kalor akan bertukar diantara fluida di da1am dan di luar pipa yaitu yang berada pada
daerah anulus. Kemudian di estimasi koefisien perpindahan kalor diantara kedua a1iran.

Alat penukar kalor berdasarkan fungsinya dapat digolongkan pada beberapa nama:

1. Exchanger: Memanfaatkan perpindahan kalor diantara dua fluida proses (steam dan air
pendingin tidak termasuk sebagai fluida proses, tetapi merupakan utilitas).

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/04%20Alat%20penukar%20kalor.html (1 of 10)5/8/2007 3:24:09 PM


BAB IV

2. Heater: Berfungsi memanaskan fluida proses, dan sebagai bahan pemanas a1at ini
menggunakan steam.
3. Cooler: Berfungsi mendinginkan fluida proses, dan sebagai bahan pendingin digunakan
air.
4. Condenser: Berfungsi untuk mengembunkan uap atau menyerap ka1or laten penguapan.
5. Boiler : Berfungsi untuk membangkitkan uap.
6. Reboiler : Berfungsi sebagai pensup1ai kalor yang diperlukan bottom produk pada
distilasi. Steam biasanya digunakan sebagai media pemanas.
7. Evaporator: Berfungsi memekatkan suatu larutan dengan cara menguapkan airnya.
8. Vaporizer: Berfungsi memekatkan cairan selain dari air.

Beberapa jenis a1at penukar ka1or yang banyak dipakai akan dibahas berikut ini.

4.1. Alat penukar ka1or pipa

a. Penukar ka1or pipa ganda (double pipe heat exchanger)

Adalah a1at perpindahan ka1or yang terdiri dari dua pipa konsentris (pipa kecil sebagai sentra1,
yang dibungkus oleh pipa yang lebih besar). Dimana satu fluida menga1ir lewat pipa da1am
sedangkan fluida yang lain menga1ir lewat anutus, antara dinding pipa da1am dan dinding pipa
luar. Alat ini digunakan da1am industri ska1a kecil. dan umumnya digunakan da1am ska1a
laboratorium.

Pipa ganda ini terdiri dari beberapa bagian:


■ Gland (sambungan)
■ Return head
■ Return bend
■ Tee

Ukuran standar yang biasa terdapat pada Penukar ka1or pipa ganda:
Diameter luar, in Diameter dalam, in

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/04%20Alat%20penukar%20kalor.html (2 of 10)5/8/2007 3:24:09 PM


BAB IV

2 1¼
2½ 1¼
3 2
4 3

b. Penukar kalor pipa-tabung (shell and tube heat exchanger)

Pada Gambar 4.1 terlihat suatu sketsa secara bagan dari jenis penukar ka1or ini. Seluruh alat
terdiri dari seberkas pipa yang dipasang diantara plat pipa. Kadang-kadang medium yang akan
didinginkan dibawa mela1ui pipa dan medium yang akan dipanaskan dibawa seke1i1ing pipa.
Adakalanya hal yang sebaliknya berlaku. Pilihan ini bergantung kepada berbagai keadaan yaitu
sifat ada media (cair atau gas), viskositas, terdapatnya kotoran padatan, dan sebagainya. Dinding
ba1ik vertikal di sekitar pipa, memaksa medium yang mengalir di sekeliling pipa, untuk berubah
arah beberapa ka1i. Dengan demikian dapat dicegah sudut mati dalam aparat, akan tetapi dengan
demikian dapat pula memperbesar kecepatan aliran, yang dapat lebih memperlancar lagi
pertukaran kalor.

Untuk menyangga beda muai antara pipa dan mantel, terdapat berbagai macam sistem. Gambar
4.1 memperlihatkan beberapa penyelesaian yang mungkin di1akukan. Kesemuanya dibedakan
berdasarkan jalur pemasukan dan pengeluaran bahan yang akan dipanaskan atau didinginkan.
Untuk luas per1ukan perpindahan kalor antara 100-200 ft2 digunakan penukar kalor jenis pipa
ganda.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/04%20Alat%20penukar%20kalor.html (3 of 10)5/8/2007 3:24:09 PM


BAB IV

Gambar 4.1. Penukar kalor pipa tabung (shell and tube heat exchanger)

Sedangkan untuk luas lebih besar dari 200 ft2 pemakaian pipa ganda akan memerlukan tempat
yang luas, dan karena banyaknya sambungan, titik tempat terjadinya kebocoran semakin banyak.
Industri ska1a besar memerlukan alat perpindahan kalor dengan luas perpindahan kalor yang
besar. Untuk itu lebih sesuai digunakan penukar kalor pipa tabung.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/04%20Alat%20penukar%20kalor.html (4 of 10)5/8/2007 3:24:09 PM


BAB IV

Keuntungan dari tipe ini:


■ Konfigurasi alat ini memberikan luas permukaan yang besar dalam volume yang kecil.
■ Mempunyai bentuk yang baik untuk operasi bertekanan.
■ Menggunakan teknik fabrikasi yang sudah baik.
■ Dapat dikonstruksi dari sejumlah besar material.
■ Mudah dibersihkan.

4.2. Penukar kalor pe1at

Alat penukar ka1or ini terdiri dari beberapa pelat yang tersusun di da1am bingkai yang besar. Zat
yang satu menga1ir mela1ui rusuk-rusuk diantara kedua pelat sebagaimana ditunjukkan pada
Gambar 4.2. Biasanya a1at ini digunakan terutama pada industri makanan dan minuman karena
alat ini mudah dibersihkan dan diperiksa kembali.

4.3. Penukar ka1or pendingin udara

Pemakaian alat ini adalah apabi1a air pendingin yang digunakan terbatas, sehingga udara
digunakan sebagai pcndingin. (Gambar 4.3)

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/04%20Alat%20penukar%20kalor.html (5 of 10)5/8/2007 3:24:09 PM


BAB IV

Gambar 4.2. Penukar kalor pelat

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/04%20Alat%20penukar%20kalor.html (6 of 10)5/8/2007 3:24:09 PM


BAB IV

Gambar 4.3. Penukar kalor pendingin udara

Masalah utama da1am perancangan alat perpindahan ka1or adalah:

1. Dot faktor (tahanan kotoran)


Tahanan kotoran adalah kotoran (kerak) yang terbentuk selama penukar kalor dioperasikan dan
akan menyebabkan koefisien perpindahan kalor menjadi berkurang.

RD (hitung) = dot faktor

UC = koefisien perpindahan ka1or dalam keadaan bersih.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/04%20Alat%20penukar%20kalor.html (7 of 10)5/8/2007 3:24:09 PM


BAB IV

UD = koefisien perpindahan kalor dalam keadaan kotor


RD(ketentuan) = dot faktor maksimum. yang dihitung bila kedua permukaan
pipa tidak dibersihkan. Harga ini merupakan batas tahanan yang maksimum,
dimana setelah itu kalor yang diijinkan menjadi 1ebih kecil dari yang dibutuhkan.

Bila dimisa1kan fluida yang 1ewat ada1ah fluida organik, maka harga RD=O,001 (ketentuan,
Tabel 12, Kern, 1965). Nilai RD (hitung) harus 1ebih besar dari RD (ketentuan). Berkisar antara
100% - 125% RD(ketentuan).

2. Penurunan tekanan
Terjadi dalam masing-masing aliran, dalam batas-batas yang diizinkan yaitu:
■ Untuk aliran uap dan gas, ∆P antara 0,5-2 psi
■ Untuk a1iran liquida (cairan), •P antara 5-10 psi.

4.4. Analisa Alat Penukar Kalor Pipa Ganda

Pada Alat Penukar Kalor Pipa Ganda aliran di da1am pipa dapat berupa aliran searah sepanjang
pipa maupun aliran berlawanan. A1iran searah ini di sebut cocurrent flow dan a1iran berlawanan
disebut countercurrent flow. Analisa-analisa kedua kasus ini agak berbeda.

Kita mulai dengan kesetimbangan kalor pada aliran dingin, sebagai berikut:
dQh =(wCp)C.dTC = CCdTC ...(4.1)

dimana C = wCp

Pada pernyataan ini dQh adalah kadar diferensial dimana kalor dipindahkan ke fluida dingin dari
fluida panas melewati bagian diferensia1 dari penukar kalor. W merupakan laju alira masa (mass

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/04%20Alat%20penukar%20kalor.html (8 of 10)5/8/2007 3:24:09 PM


BAB IV

f1ow rate) dan Cp adalah kapasitas kalor persatuan masa, dan bukan kapasitas kalor molar. Jika
tidak ada kehilangan panas dari penukar kalor. maka kesetimbangan untuk aliran panas hampir
sama dengan aliran dingin.

dQh = -(wCp)HdTH = -CHdTH ...(4.2)

Kalor dipindahkan dari saluran panas ke aliran dingin melewati susunan tahanan termal. Terdapat
tahanan konveksi pada permukaan pipa yang memisahkan dua aliran, dan tahanan konduksi
dihubungkan dengan dinding pipa itu sendiri. Tahanan-tahanan seri ini ditambahkan dan
didefinisikan bahwa koefisien perpindahan kalor keseluruhan, U, adalah:
dQh = U.dA.(TH -TC) ...(4.3)

Dimana dA adalah luas pem1ukaan diferensia1 yang memisahkan kedua aliran. Pendefinisian U
meliputi pemilihan apakah kita menggunakan permukaan da1am atau permukaan 1uar dari pipa
dalam untuk mendefinisikan dA.

Kita sekarang mendefinisikan perbedaan temperatur diantara bagian panas dan dingin sebagai:

d(TH-TC)=d(•T) ...(4.4)
Dari persamaan (4.1) dan (4.2) dapat ditu1is:

dan …(4.5)

Substitusi persamaan (4.1) dan (4.2) dipero1eh:


…(4.6)

Kesetimbangan panas persamaan (4.6) ada1ah diferensial, berlaku untuk setiap titik disepanjang
aksis penukar ka1or. Untuk kesetimbangan panas keseluruhan, panas yang hi1ang disamakan
dengan f1uida panas untuk dibandingkan dengan fluida dingin, dan diperoleh:

...(4.7)

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/04%20Alat%20penukar%20kalor.html (9 of 10)5/8/2007 3:24:09 PM


BAB IV

Sehingga persamaan (4.6) dapat ditulis sebagai:


Dimana:
...(4.8)

∆T1 dan •T2 adalah perbedaan temperatur diantara kedua aliran pada ujung penukar panas,

sedangkan ∆T adalah perbedaan temperatur lokal diantara a1iran panas dan dingin.

Persamaan ( 4.8 ) dapat ditulis menjadi:


...(4.9)

Persamaan diferensial untuk dT dapat diintegrasikan jika diasumsikan bahwa v ada1ah konstan
disepanjang pipa, sehingga diperoleh:

…(4.11)

Jika persamaan-persamaan ini diatur kemba1i dapat diselesaikan laju perpindahan panas
keseluruhan, dengan hasil:
...(4.12)

Da1am persamaan (4.12) kita mendefmisikan apa yang disebut log-mean temperature difference
(LMTD, temperatur rata-rata logaritmik) sebagai:
...(4.13)

Hasil ini sama dengan definisi yang sudah diutarakan pada ana1isa a1at penukar ka1or
sebelumnya pada suatu penukar kalor single-tube. Untuk aliran counter current diperoleh hasil
yang sama, dengan sedikit perubahan tanda. Selanjutnya diberikan dua contoh Untuk
membedakan operasi cocurrent dengan counter current. Diasumsikan bahwa koefisien
keseluruhan U diketahui dan tidak tergantung pada arah aliran untuk bentuk geometri dan laju alir
kedua aliran yang ditentukan.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/04%20Alat%20penukar%20kalor.html (10 of 10)5/8/2007 3:24:09 PM


BAB 5

BAB V
PERPINDAHAN KALOR DISERTAI PERUBAHAN FASA

Perubahan fasa mencakup:


Penambahan atau pengurangan energi termal dalam jumlag yang agak banyak, pada suhu tetap
atau hampir tetap.

5.1. Perpindahan kalor dari uap yang mengembun (kondensasi)

■ Uap kondensasi mungkin terdiri dari sati zat saja, mungkin berupa campuran zat mampu
kondensasi dan zat tak mampu kondensasi, atau campuran dua zat mampu kondensasi atau
lebih.
■ Rugi-rugi gesekan di dalam kondenser biasanya cukup kecil, sehingga kondensasi itu dapat
dikatakan merupakan proses tekanan tetap.
■ Suhu kondensasi hanya bergantung pada tekanan sehingga proses kondensasi zat murni
merupakan proses isotermal.

Uap dapat mengembun menurut salah satu dari dua cara berikut:

1. Kondensasi tetes (dropwise condensation)

■ Kondensat mula-mula membentuk inti nukleasi (tetesan). Tetesan-tetesan bergabung


sehingga membesar dan mengalir ke bawah tabung karena pengaruh gaya gravitasi.
■ Sangat tidak stabil dan sangat sukar dipertahankan sehingga metode ini jarang
dipakai.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/05%20kalor%20%20perubahan%20fasa.html (1 of 9)5/8/2007 3:24:09 PM


BAB 5

■ Terjadinya bergantung pada sifat zat cair. Contoh: logam cair, nitrobenzen, gliserin.

2. Kondensasi film (film-type condensation)

§ Lebih sering terjadi


§ Kondensat cair itu membentuk film atau suatu lapisan sinambung yang lalu
mengalir di atas permukaan tabung karena pengaruh gaya gravitasi.

5.1.1. Koefisien untuk kondensasi film

Asumsi:
■ Satu-satunya tahanan terhadap aliran kalor adalah yang disebabkan oleh lapisan kondensat
yang mengalir ke bawah dalam aliran laminar karena pengaruh gaya gravitasi.
■ Kecepatan zat air pada dinding adalah nol.
■ Suhu dinding dan suhu uap konstan.
■ Kondensat meninggalkan tabung pada suhu kondensasi.

1. Tabung Vertikal

= koefisien lokal

= konduktivitas termal untuk kondensat film


= tebal film

Koefisien rata-rata untuk tabung vertikal, selama aliran kondensat di dalam film itu laminar, ialah:

…(5.1)
Dimana:
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/05%20kalor%20%20perubahan%20fasa.html (2 of 9)5/8/2007 3:24:09 PM
BAB 5

mf, rf, kf = viskositas, densitas, konduktivitas lapisan film.


g = percepatan gravitasi.
= pembebanan kondenat pada dasar tabung (lb/ft.jam).

Suhu rujukan untuk menentukan mf, rf, kf :

…(5.2)

Dimana
Tf = suhu rujukan
Th = suhu uap yang kondensasi
Tw = suhu permukaan luar dinding tabung

Bentuk ekivalen persamaan (5.1) dengan yang dieliminasi:

2. Tabung Horizontal

…(5.4)

…(5.5)

Dimana:
Γ= pembebanan kondensat persatuan panjang tabung, lb/ft.
N = jumlah tabung dalam susunan.

Pada tabung horizontal, alir an film kondensat itu dapat dikatakan selalu laminar.

Catatan:
1. Persamaan (5.1) dan (5.3) untuk tabung vertikal diturunkan dengan pengandaian bahwa

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/05%20kalor%20%20perubahan%20fasa.html (3 of 9)5/8/2007 3:24:09 PM


BAB 5

aliran kondensat itu laminar,


2. Bila kecepatan fase uap di dalam kondenser itu cukup besar, seret uap itu juga dapat
menimbulkan keturbulenan pada lapisan kondensat sehingga koefisien film kondensasi
menjadi jauh lebih besar. Maka untuk perhitungan praktis, koefisien pada persamaan (5.1)
an (5.3) dibuat masing-masing 1,76 dan 1,13.

Contoh 13.1. (Mc Cabe, dkk 1985)


Pada sebuah kondensor selongsong dan tabung (Shell and Tube) yang menggunakan tabung te,
baga vertikal dengan diameter ¾ in 16 BWG, klorobenzene mengkondensasi pada tekanan
atmosfer di dalam selongsongnya. Kalor laten kondensasi klorobenzen adalah 139,7 BTU/lb.
Panjang tabung 5 ft. Air pendingin dengan suhu rata-rata 175 oF mengalir di dalam tabung. Jika
koefisien sisi air adalah 400 BTU/jam.ft2.oF.
a. Berapakah laju kondensasi klorobenzen dan pembebanan kondensat.
b. Berapakah koefisien itu dalam kondenser horizontal yang mempunyai tabung sebanyak itu
juga, jika jumlah tabung rata-rata dalam susunan vertikal adalah 6. Abaikan faktor
pengotoran dan tahanan dinding tabung.

Penyelesaian:
Persamaan (5.3) berlaku, tetapi sifat-sifat kondensat harus dievaluasi pada suhu rujukan Tf, yang
diberikan oleh persamaan (5.2). Dalam menghitung Tf, suhu dinding Tw harus ditaksir dari h,
yaitu koefisien film kondensat. Karena itu diperlukan perhitungan coba-coba (trial and error).
Besaran dalam persamaan (5.3) yang dapat langsung ditentukan adalah:

l= 139 BTU/lb
g = 4,17.108 ft/jam2
L = 5 ft

Suhu kondensi Th adalah 270 oF

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/05%20kalor%20%20perubahan%20fasa.html (4 of 9)5/8/2007 3:24:09 PM


BAB 5

Suhu dinding Tw tentulah berada diantara 175 dan 270 oF.

I. Dianggap Tw = 205 oF

Penurunan suhu ∆T = 270 – 205 = 65 oF


Suhu rujukan, dari persamaan (5.2) ialah:
Tf = 27- ¾ (270 – 205) = 221 oF

Densitas dan konduktivitas termal zat cair hanya mengalami perubahan kecil dengan suhu
sehingga dianggap tetap pada nilai-nilai berikut:

rf = 65,4 lb/ft3

kf = 0,083 BTU/ft.jam. oF (lamp. 13 Mc Cabe dkk, 1985)

Viskositas film itu adalah:


mf = 0,3 (2,42) = 0,726 lb/ft.jam (lamp. 10 Mc Cabe dkk, 1985)

Taksiran pertama h, dengan menggunakan koefisien 1,13 sebagaimana disarankan:

Suhu dinding didapatkan dari persamaan :

Do=0,75/12 = 0,0625 ft

Suhu dinding :
Tw=175+33 = 208 oF

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/05%20kalor%20%20perubahan%20fasa.html (5 of 9)5/8/2007 3:24:09 PM


BAB 5

Nilai ini cukup dekat dengan taksiran 205 oF sehingga perhitungan selanjutnya tidak diperlukan
lagi.
Koefisien h = 179 Btu/ft2.jam.oF

Selanjutnya diperiksa apakah aliran itu laminar seluruhnya.

Luas permukaan luar setiap tabung ialah:


Ao = 0,1963 (5) = 0,9815 ft2

Laju perpindahan kalor menyeluruh menjadi:


= 179 (0,9815) (270 – 208) = 10.893 Btu/jam.

mT = laju kondensasi total.

Pembebanan kondensat:
dan

b. Untuk kondensor horizontal digunakan pers. (5.5)

Koefisien untuk klorobenzen mungkin lebih besar dari bagian (a) sehingga suhu dinding Tw

sekarang diperkirakan 215 oF.

N=6
•To = 270 – 215 = 55 oF
Do = 0,0625 ft

mf = 0,28 (2,42) = 0,68 lb/ft.jam

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/05%20kalor%20%20perubahan%20fasa.html (6 of 9)5/8/2007 3:24:09 PM


BAB 5

Tw = 175 + 43 = 218 oF

Nilai ini sesuai dengan nilai taksiran 215 oF sehingga tidak diperlukan lagi trial berikutnya.
Koefisien h ialah 270 Btu/ft2.jam. oF.

5.2. Perpindahan kalor ke zat cair yang mendidih

Contohnya pada operasi evaporasi, distilasi, pembangkitan uap, pengolahan minyak bumi,
pengendalian suhu pada reaksi kimia zat cair yang mendidih.

Untuk tabung horizontal yang terbenam didalam zat cair mendidih.

…(5.7)

Dimana:
= koefisien perpindahan panas
= viskositas uap
= penurunan suhu melintas uap
= konduktivitas termal uap
= densitas zat cair, densitas uap
Do = diameter luar tabung pemanasan
= selisih rata-rata antara entalpi zat cair dan entalpi uap panas lanjut.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/05%20kalor%20%20perubahan%20fasa.html (7 of 9)5/8/2007 3:24:09 PM


BAB 5

…(5.8)

= kalor laten penguapan

Cp = kalor spesifik uap pada tekanan tetap


= panjanng gelombang-gelombang yang terkecil yang amplitudonya dapat berkembang pada
antar muka datar yang horizontal.

…(5.9)
= tegangan antarmuka antara zat cair dan uap.

Contoh 13.2 McCabe dkk, 1985:


Freon (CCl3F) didihkan pada tekanan atmosfer dengan tabung tercelup horizontal yang diameter

luarnya 1,25 in. Titik didih normal freon ialah 74,8 oF. Dinding tabung berada pada suhu 300 oF.
Sifat-sifat freon 11 adalah sebagai berikut:

= 91,3 lb/ft3
= 78,3 Btu/lb
= 0,013 cP
= 19 dyne/cm
Cp = 0,145 Btu/lb.oF
kv=BTU/ft.jam.oF

Hitung koefisien perpindahan kalor, ho, dan fluks kalor q/A.

Penyelesaian:

= 0,013 (2,42) = 0,0314 lb/ft.jam


= 300 – 74,8 = 225,2 oF

Suhu film uap rata-rata = (300+74,8)/2 = 187,4 oF

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/05%20kalor%20%20perubahan%20fasa.html (8 of 9)5/8/2007 3:24:09 PM


BAB 5

= 91,3 lb/ft3; BM=137,5 ; Do = 1,25/12 = 0,104 ft

Pada suhu film rata-rata:

Pada titik didih:


Dari persamaan (5.8) :
Dari persamaan (5.9) anggap gc/g = 1 lb/lbf.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/05%20kalor%20%20perubahan%20fasa.html (9 of 9)5/8/2007 3:24:09 PM


BAB VI

BAB VI
PROSES EVAPORASI

6.1. Pendahuluan

Evaporasi adalah salah satu kaedah utama dalam industri kimia untuk memekatkan larutan yang
encer. Pengertian umum dari evaporasi ini adalah menghilangkan air dari larutan dengan
mendidihkan larutan didalam tabung yang sesuai yang disebut evaporator. Evaporasi bertujuan
untuk memekatkan larutan yang terdiri dari zat terlarut yang tidak mudah menguap dan pelarut
yang mudah menguap.

Dalam kebanyakan proses evaporasi, pelarut yang digunakan adalah air. Evaporasi dilaksanakan
dengan menguapkan sebagian dari pelarut sehingga didapatkan larutan zat cair pekat yang
konsentrasinya lebih tinggi. Evaporasi tidak sama dengan pengeringan; dalam evaporasi sisa
penguapan adalah zat cair, kadang-kadang zat cair yang sangat viskos, dan bukan zat padat.
Evaporasi berbeda pula dari distilasi karena disini uapnya biasanya komponen tunggal, dan
walaupun uap itu merupakan campuran, dalam proses evaporasi ini tidak ada usaha untuk
memisahkannya menjadi fraksi-fraksi. Evaporasi berbeda dari kristalisasi dalam hal
penekanannya disini ialah pada pemekatan larutan dan bukan pembuatan zat padat atau kristal.
Dalam situasi-situasi tertentu, misalnya pada penguapan air asin untuk membuat garam, garis
pemisah antara evaporasi dan krista1isasi tidaklah dapat dikatakan tegas. Sebab evaporasi kadang-
kadang menghasilkan lumpur kristal di dalam larutan induk.

Lazimnya, dalam evaporasi, zat cair pekat itulah yang merupakan produk yang berharga dan
uapnya biasanya dikondensasikan dan dibuang. Tetapi, dalam suatu situasi tertentu,
kebalikannyalah yang benar. Air yang mengandung mineral seringkali diuapkan untuk

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (1 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

mendapatkan hasil yang bebas zat padat untuk umpan ketel didih, karena persyaratan khusus
proses, dan untuk konsumsi manusia. Teknik ini biasa disebut disti1asi air (water distillation),
tetapi dari segi teknik proses itu adalah evaporasi. Proses-proses evaporasi skala besar sudah
banyak dikembangkan dan digunakan untuk membuat air minum dari air laut. Di sini hasil yang
dikehendaki adalah air kondensasi. Hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan air dalam umpan
yang dipulihkan, sebagian besar dikembalikan ke laut.

Tabulasi perbedaan evaporasi dengan pengeringan, distilasi dan kristalisasi:


Proses (1≠2) No.Proses Keterangan
Evaporasi ≠ Pengeringan 1. Sisa penguapan adalah zat cair, kadang-kadang zat
cair yangsangat viskos
2. Sisa penguapan adalah zat padat
Evaporasi ≠ Distilasi 1. Uap biasanya komponen tunggal. Jika uap berupa
campuran, tidak ada usaha untuk memisahkan
menjadi fraksi-fraksinya
2. Uap sering berupa campuran dan akan dipisah
menjadi fraksi-fraksinya.
Evaporasi ≠ Kristalisasi 1. Permasalahan disini adalah pemekatan larutan
2. Permasalahan: pembuatan zat padatatau kristal.

Evaporasi ≈Kristalisasi : contohnya pada penguapan air asin untuk membuat garam

Evaporasi ≈ Distilasi : contohnya pada penguapan air yang mengandung mineral untuk umpan
ketel (boiler). Biasa disebut distilasi air, tetapi dari segi proses adalah evaporasi.

Penyelesaian praktis terhadap masalah evaporasi sangat ditentukan oleh karakteristik zat cair
yang akan dikonsentrasikan. Variasi dalam karakteristik cairan itulah (yang menuntut keahlian
dan pengalaman para insinyur dalam merancang dan mengoperasikan evaporator) yang
menyebabkan operasi ini meluas dari perpindahan kalor sederhana menjadi suatu seni tersendiri.
Berikut ini adalah beberapa sifat penting dari zat cair yang divaporasikan.

Konsentrasi

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (2 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

Walaupun cairan encer yang diumpankan ke dalam evaporator mungkin cukup encer sehingga
beberapa sifat fisiknya sama dengan air, tetapi jika konsentrasinya meningkat, larutan itu akan
makin bersifat individual. Densitas dan viskositasnya meningkat bersamaan dengan kandungan
zat padatnya, hingga larutan itu menjadi jenuh, atau jika tidak, menjadi terlalu lamban sehingga
tidak dapat melakukan perpindahan kalor yang memadai. Jika zat cair jenuh didihkan terns, maka
akan terjadi pembentukan kristal; kristal-kristal ini harus dipisahkan karena. Bisa menyebabkan
tabung evaporator tersumbat. Titik didih larutanpun dapat meningkat dengan sangat cepat bila
kandungan zat padatnya bertambah, sehingga suhu didih larutan jenuh mungkin jauh lebih tinggi
dari titik didih air pada tekanan yang sama.

Pembentukan busa

Beberapa bahan tertentu, lebih-Iebih zat-zat organik, membusa pada waktu diuapkan. Busa yang
stabi1 akan ikut ke luar evaporator bersama uap, dan menyebabkan banyaknya bahan yang
terbawa ikut. Dalam hal-hal yang ekstrim, keseluruhan masa zat cair itu mungkin meluap ke
dalam saluran uap keluar dan terbuang.

Kepekaan terhadap suhu

Beberapa bahan kimia berharga, bahan kimia farmasi, dan bahan rnakanan dapat rusak bila
dipanaskan pada suhu sedang selama waktu yang singkat saja. Dalam mengkonsentrasikan bahan-
bahan seperti itu diperlukan teknik khusus untuk mengurangi suhu zat cair dan menurunkan
waktu pemanasan.

Kerak

Beberapa larutan tertentu menyebabkan pembentukan kerak pada permukaan pemanasan. Hal ini
menyebabkan koefisien menyeluruh makin lama makin berkurang sampai akhimya kita terpaksa
menghentikan operasi evaporator untuk membersihkannya. Bi1a kerak itu keras dan tak dapat
larut, pembersihan itu tidak mudah dan memakan biaya.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (3 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

Bahan konstruksi

Bila memungkinkan, evaporator sebaiknya dibuat dari baja. Akan tetapi, banyak larutan yang
merusak bahan-bahan besi, atau menjadi terkontaminasi oleh bahan itu. Karena itu digunakan
juga bahan-bahan konstruksi khusus seperti tembaga, nikel, baja tahan karat, aluminium, grafit
tak-tembus, dan timba1. Oleh karena bahan-bahan ini relatif mahal, maka laju perpindahan kalor
harus tinggi agar dapat menurunkan biaya pokok peralatan.

Banyak karakteristik lain zat cair juga perlu mendapat perhatian dari perancang evaporator,
antara lain kalor spesifik, kalor konsentrasi, titik beku, pembebasan gas pada waktu mendidih,
sifat racun, bahaya ledak, radioaktivitas, dan persyaratan operasi steril (suci hama. Oleh karena
adanya variasi dalam sifat-sifat zat cair maka dikembangkan berbagai jenis rancangan
evaporator. Evaporator mana yang dipilih untuk suatu masalah tertentu bergantung terutarma
pada karakteristik zat cair itu.

6.2. Jenis-Jenis Evaporator

Kebanyakan evaporator dipanaskan menggunakan uap yang dikondensasikan di atas tabung-


tabung logarm. Bahan yang dievaporasikan biasanya mengalir di dalam tabung. Uap yang
digunakan biasanya adalah uap bertekanan rendah, dibawah 3 atm abs; zat cair yang mendidih
biasanya berada da1am vakum sedang, yaitu sampai kira- kira 0,05 atm abs. Berkurangnya suhu
didih zat cair menyebabkan beda suhu antara uap dan zat cair yang mendidih itu meningkat,
dengan demikian laju perpindahan kalor di da1am evaporator itu meningkat pula.

Bila kita menggunakan satu evaporator saja, uap dari zat cair yang mendidih dikondensasikan dan
dibuang. Metoda ini disebut sebagai evaporasi efek-tunggal (single-effect evaporation).
Walaupun sederhana, namun proses ini tidak efektif dalam penggunaan uap. Untuk menguapkan l
lb air dari larutan, diperlukan 1 sampai 1,3 lb uap. Jika uap dari satu evaporator dimasukkan ke
dalam rongga uap (steam chest) evaporator kedua, dan uap dari evaporator kedua dimasukkan ke
dalam kondenser, maka operasi ini akan menjadi efek dua ka1i atau efek-dua (double effect).

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (4 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

Ka1or uap yang semula digunakan lagi da1am efek yang kedua, dan evaporasi yang didapatkan
oleh satu satuan masa uap yang diumpankan ke da1am efek pertama, menjadi harmpir lipat dua.
Efek ini dapat ditambah lagi dengan cara yang sama. Metoda yang umum digunakan untuk
meningkatkan evaporasi per lb uap dengan menggunakan sederatan evaporator antara penyediaan
uap dan kondenser itu disebut sebagai evaporasi efek-berganda (multiple effect evaporation).

Jenis-jenis utama evaporator tabung dengan pemasukan uap yang lazim dipakai adalah:

1. Evaporator tabung horizontal


2. Evaporator.vertikal tabung panjang
a. Aliran ke atas (film-panjat)
b. Aliran ke bawah (film-jatuh)
c. Sirkulasi paksa .
3. Evaporator film aduk

6.2.1 Evaporator Tabung-Horizontal

Evaporator tabung-horizontal sebagaimana yang ditunjukkan pada Gambar 6.1 adalah merupakan
evaporator jenis klasik yang telah lama digunakan. Larutan yang akan dievaporasikan berada di
luar tabung horizontal dan uap mengalir di dalam tabung horizontal. Tabung horizontal diliputi
dan dikelilingi oleh sirkulasi yang alami dari cairan yang mendidih sehingga meminimumkan
pengadukan cairan. Sebagai hasilnya maka pada evaporator jenis ini dijumpai koefisien
perpindahan panas keseluruhan yang lebih rendah berbanding pada evaporator jenis lain, ini
bermanfaat khususnya untuk mengevaporasikan larutan yang viskos. Koefisien keseluruhan yang
berada antara 200-400 Btu/jam.ft2.0F (1100-2300 W/m2K) akan didapatkan, yang tergantung
pada perbedaan suhu keseluruhan, suhu didih, dan sifat larutan yang dievaporasikan. Evaporator
tabung horizontal biasanya digunakan untuk kapasitas yang kecil dan untuk mengevaporasikan
larutan yang encer dan larutan ini tidak berbusa dan tidak meninggalkan deposit padatan pada
tabung evaporator .

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (5 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (6 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

Gambar 6.1. Evaporator Tabung Horizontal

6.2.2. Evaporator Satu Lintas Dan Evaporator Sirkulasi

Evaporator dapat dioperasikan sebagai unit satu lintas atau sebagai unit sirkulasi. Evaporator satu
1intas dan evaporator sirku1asi ditunjukkan pada Gambar 6.2 dan Gambar 6.3 secara berturutan.
Evaporator ini merupakan pengembangan dari evaporator tabung-panjang. Pada kedua evaporator
ini larutan mendidih di dalam tabung vertika1 dan media pemanas di luar tabung vertikal. Media
pemanas yang digunakan biasanya uap yang terkondensasi. Pada evaporator satu lintas, cairan
umpan dilewatkan melalui tabung hanya satu kali lewat saja, uapnya lepas dan keluar dari unit itu
sebagai cairan pekat. Seluruh evaporasi dilaksanakan dalam satu lintas (lawatan) saja.

Pendidihan atau pemanasan cairan di dalam tabung akan menyebabkan aliran naik ke atas
melewati tabung, dan cairan yang tidak menguap mengalir ke bawah dan keluar melalui anulus
yang terletak di bahagian dasar evaporator. Pada instalasi yang besar, terdapat beberapa lubang
keluaran cairan atau produk dan tidak hanya satu seperti ditunjukkan pada Gambar 6.2.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (7 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (8 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

Gambar 6.2. Evaporator satu lintas

Rasio evaporasi terhadap umpan dalam unit satu lintas itu adalah terbatas, sehingga evaporator
jenis ini sesuai untuk operasi efek berganda, di mana pemekatan tota1 terbagi-bagi dalam
beberapa efek. Evaporator film aduk (agitated film evaporator) selalu dioperasikan dalam satu
lintas saja; tetapi evaporator film jatuh (falling-film evaporator) dan evaporator film panjat
(climbing film-evaporator) dapat pula dioperasikan dengan cara ini. Suhu zat cair dapat dijaga
rendah dengan mengoperasikan unit ini dalam vakum tinggi. Dengan sekali lewatan cepat
melalui tabung-tabung evaporator, cairan pekat itu hanya sebentar saja berada dalam suhu
didihnya, dan dapat didinginkan dengan cepat begitu keluar dari evaporator.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (9 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (10 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

Gambar 6.3. Evaporator sirkulasi

Pada evaporator sirkulasi (circulation evaporator) terdapat suatu kolam zat cair di dalam alat itu.
Umpan masuk akan bercampur dengan zat cair di dalam kolam, dan campuran itu lalu dialirkan
melalui tabung-tabung evaporator. Zat cair yang tidak menguap dikeluarkan dari tabung dan
kembali ke kolam, sehingga hanya sebagian saja dari keseluruhan evaporasi yang berlangsung
dalam satu lewatan. Evaporasi sirkulasi paksa semuanya dioperasikan dengan cara ini, evaporator
film panjat biasanya adalah unit sirkulasi.

Cairan pekat dari evaporator sirkulasi dikeluarkan dari kolam. Semua cairan dalam kolam, oleh
karena itu, harus selalu berada dalam konsentrasi maksimum. Oleh karena zat cair yang masuk
tabung itu mengandung beberapa bagian cairan pekat di dalam setiap bagian umpan, maka
konsentrasi, serta densitas, viskositas, dan titik didihnya selalu mendekati maksimum. Akibatnya,
koefisien perpindahan kalornya akan cenderung rendah.

Evaporator sirkulasi tidak terlalu cocok untuk memekatkan zat cair yang peka terhadap panas.
Dengan menggunakan vakum yang cukup baik, suhu zat cair lindak dapat dijaga pada tingkat
yang tidak merusak, tetapi zat cair itu akan berulang kali berada dalam kontak dengan tabung
panas. Sebagian dari zat cair itu dengan demikian, akan terpanaskan hingga suhu yang kelewat
tinggi. Walaupun waktu menetap (residence time) zat cair itu dalam zone pemanasan barangkali
singkat saja, sebagian dari zat cair itu mungkin tertahan di dalam evaporator selama beberapa
waktu. Pemanasan yang terlalu lama atas sebagian kecil sajapun dari bahan peka-panas seperti
makanan akan dapat menyebabkan keseluruhan produk itu rusak.

Evaporator sirkulasi, di lain pihak, dapat beroperasi dengan jangkau konsentrasi yang cukup luas
antara umpan dan cairan pekat dalam satu unit saja, dan cocok pula untuk evaporasi efek tunggal.
Alal ini dapat dioperasikan dengan sirkulasi alamiah, dimana aliran berlangsung melalui tabung

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (11 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

dengan disebabkan oleh perbedaan densitas, dapat pula dengan sirkulasi paksa, di mana aliran
dilaksanakan dengan pompa.

Pada evapoator satu lintas dan juga evaporator sirkulasi, tabung-tabung didalamnya dipasang
secara rolling dan welding dan tidak secara packing seperti pada evaporator tabung horizontal.
Kedua evaporator satu lintas dan evaporator sirku1asi juga mempunyai kelebihan operasional
berbanding dengan evaporator tabung horizontal. Pada kedua jenis ini, sirkulasi alami yang
dihasilkannya mempunyai kecepatan 1 hingga 3 ft/detik sehingga koefisien perpindallan panas
pada evaporator ini lebih tinggi dibandingkan evaporator tabung horizontal yaitu pada rentang
200- 500 Btu/jam.ft2.oF (1100-2800 W/m2K) tergantung kepada baik sifat larutan, perbedaan
suhu keseluruhan, maupun titik didih larutan. Evaporator ini dapat digunakan untuk larutan yang
membentuk deposit padatan, karena padatan yang terbentuk di dalam tabung dapat dihilangkan
dengan pembersihan mekanis.

Evaporator ini juga dapat menangani cairan yang viskos, akan tetapi untuk evaporator jenis
sirkulasi, maka aliran sirkulasi yang terjadi akan bergerak dengan lambat, dan koefisien
perpindahan panasnya menjadi kecil. Sehingga kedua-dua evaporator vertikal ini adalah sangat
berguna untuk kebanyakan proses evaporasi, akan tetapi tidak sesuai untuk digunakan untuk
mengevaporasikan larutan yang sangat viskos, larutan yang mudah membentuk busa atau untuk
menguapkan larutan dalam masa yang singkat.

6.2.3. Evaporator Sirkulasi Paksa

Evaporator sirkulasi paksa mempunyai bentuk seperti yang ditunjukkan pada Gambar 6.4 dan
Gambar 6.5. Gambar 6.4 merupakan evaporator sirkulasi paksa dengan elemen pemanas tersusun
vertikal dan berada di dalam tabung.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (12 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (13 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

Gambar 6.4. Evaporator Sirkulasi Paksa dengan Pemanas Vertikal di dalam Tabung

Gambar 6.5 merupakan evaporator sirkulasi paksa dengan elemen pemanas tersusun horizontal
dan terletak terpisah dengan tabung. Pada evaporator sirkulasi paksa, caitan yang akan
dievaporasikan dipompakan melewati penukar panas (heat exchanger) dimana media pemanas
mengelilingi pipa-pipa yang membawa cairan yang akan dievaporasikan. Gabungan penurunan
tekanan dan head hidrostatik di dalam alat ini adalah cukup besar untuk mencegah larutan
mendidih di dalam pipa penukar panas, sehingga uap yang dihasilkan akan tersembur keluar,
pada saat cairan memasuki ruang kosong di dalam tabung.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (14 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

Gambar 6.5. Evaporator Sirkulasi Paksa dengan Elemen Pemanas Terpisah Horizontal

Karena kecepatan semburan ada1ah tinggi, di dalam ruang kosong diletakkan sekat yang berguna
untuk memisahkan uap dari larutan yang masih ada. Desain sekat yang tepat diperlukan untuk
mencegah penggabungan gelembung-gelembung kecil cairan dan juga untuk mencegah
perubahan arah dari aliran cairan.

Evaporator sirkulasi paksa yang moderen biasanya ditengkapi dengan pemanas yang terletak di
luar tabung sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 6.5, dari pada evaporator dengan permukaan
perpindahan panas yang terletak di da1am badan tabung sebagaimana ditunjukkan pada Gambar

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (15 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

6.4. Penggunaan pemanas di luar tabung akan menjadikan evaporator ini lebih sering digunakan
karena pembersihan pipa-pipa pemanas dan penggantian pipa-pipa yang mengalami korosi lebih
mudah dilakukan. Evaporator sirkulasi paksa dengan elemen pemanas terpisah juga merupakan
evaporator yang berbentuk lebih kompak sehingga dapat dipasang pada ruang dengan tinggi atap
yang rendah. Dalam mengevaporasikan cairan umpan, adalah merupakan hal yang penting untuk
mencegah pendidihan di dalam pipa-pipa elemen pemanas, untuk mengurangi terbentuknya
endapan-endapan padatan di dalam pemanas.

Pada evaporator dengan pemanasan di luar , pendidihan dapat dengan mudah dicegah dengan
cara meletakkan pemanas pada posisi yang lebih rendah dibandingkan letak ruang pelepasan. Hal
ini tidak dapat dilakukan dengan mudah jika permukaan penukar panas berada di dalam badan
evaporator.

Pada evaporator sirkulasi paksa, koefisien perpindahan panas akan bergantung kepada kecepatan
sirkulasi, titik didih, dan sifat-sifat sistem. Pada tingkat sirkulasi yang rendah, pendidihan akan
terjadi disepanjang pipa-pipa pemanas. Pendidihan ini akan meningkatkan kejatuhan larutan dan
menjadikan koefisien pendidihan menjadi dua ka1i lebih besar berbanding dengan tanpa
pendidihan. Fraksi dari cairan yang menguap ketika melewati pipa akan menjadi kecil, sehingga
kecepatan sirkulasi keseluruhan yang melalui pipa adalah beberapa kali lebih besar dari
kecepatan umpan.

6.2.4. Evaporator Vertikal Tabung Panjang

Contoh evaporator vertikal tabung panjang dengan alian zat cair ke atas terlihat pada Gambar 6.6.
Tabung-tabungnya biasanya mempunyai panjang 12 hingga 20 ft dengan diameter 1 sampai 2
inci. Bagian-bagian utama evaporator jenis ini ialah : ( 1) sebuah penukar panas jenis tabung
dengan uap dalam selongsong, dan zat cair yang akan dipekatkan di dalam pipa/tabung, (2)
sebuah separator (pemisah) atau ruang uap (vapour space) untuk memisahkan zat cair yang
terbawa ikut dari uap, dan (3) bila a1at ini dioperasikan sebagai unit sirkulasi, sebuah kaki
pemulang (return leg) untuk mengembalikan zat cair dari separator ke bagian bawah penukar
panas.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (16 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

Alat itu mempunyai lubang masuk masing-masing untuk zat cair umpan dan untuk uap, lubang
keluar masing-masing untuk uap, cairan pekat, kondensat uap, dan gas takmampu kondensasi
yang terkandung dalam uap. Zat cair dan uap mengalir ke atas di dalam tabung sebagai akibat
dari peristiwa didih zat cair yang terpisah kembali ke dasar tabung dengan gravitasi.

Umpan encer, biasanya pada suhu disekitar suhu kamar, masuk ke dalam sjstem dan bercampur
dengan zat cair yang kembali dari separator. Umpan jtu mengalir ke atas di dalam tabung sebagai
zat cair pada jarak tertentu, yang tidak panjang, sambil menerima kalor dari uap. Di dalam zat
cair itu terbentuk gelembung-gelembung sehingga meningkatkan kecepatan liniernya dan
meningkatkan laju perpindahan panas. Di dekat puncak tabung, gelembung itu bertambah besar
dengan cepat. Pada zone ini gelembung uap berganti-ganti dengan potongan zat cair dalam
tabung naik dengan cepat melalui tabung dan keluar dengan kecepatan tinggi dari ujung atas
tabung.

Dari tabung itu, campuran zat cair selanjutnya masuk ke dalam separator. Diameter separator itu
lebih besar dari diameter penukar panas, sehingga kecepatan linier uap menjadi jauh berkurang.
Untuk membantu pemisahan tetes-tetes zat cair, uap itu dibuat menumbuk seperangkat sekat, lalu
mengalir melewati sekat itu sebelum keluar dari separator. Evaporator seperti Gambar 2.6 hanya
dapat bekerja sebagai unit sirkulasi saja.

Fraksi yang diuapkan pada evaporator ini biasanya lebih besar dibandingkan pada operasi
sirkulasi paksa. Jika diperlukan, penukar panas dari evaporator ini dapat diletakkan di luar badan
evaporator, agar pembersihan lebih mudah djlakukan.
Walaupun evaporator ini tidak dapat digunakan untuk zat cair yang viskos, akan tetapi evaporator
vertikal tabung panjang sangat efektif untuk memekatkan cairan yang mempunyai kecenderungan
untuk berbusa. Busa itu akan pecah bila campuran zat cair dan uap berkecepatan tinggi
menumbuk sekat di bagian kepala uap. Selain itu evaporator ini juga sangat berguna untuk
digunakan menangani material yang sensitif terhadap panas karena evaporator ini dapat
dioperasikan tanpa proses resirkulasi. Tingkat evaporasi tiap-tiap lewatan (pass) pada jenis ini
juga jauh lebih tinggi dibandingkan jenis-jenis evaporator sirkulasi lainnya dan evaporasi masih
dapat ditingkatkan dengan menambah panjang tabung-tabung pemanas atau dengan

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (17 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

mendinginkannya.

Masalah yang mungkin timbul dalam mengoperasikan evaporator ini adalah pada saat
mendistribusikan zat cair ke dalam tabung-tabung atau tube. Pendistribusian harus dilakukan
dengan hati-hati untuk menjaga level cairan, misalnya dengan menyemprotkan cairan ke dinding
tabung. Koefisien perpindahan panas evaporator ini dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan Nusselt.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (18 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

Gambar 6.6. Evaporator Vertikal Tabung Panjang

6.2.5. Evaporator Film Jatuh

Masalah pemekatan bahan-bahan yang sangat peka terhadap panas, seperti air jeruk, dan yang
mengharuskan waktu kontak yang singkat sekali dengan permukaan panas dapat diatasi dengan

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (19 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

evaporator film jatuh. Pada evaporator film-jatuh satu lintas, zat cair masuk dari atas, lalu
mengalir ke bawah di dalam tabung panas itu dalam bentuk film, kemudian keluar dari bawah.
Tabung-tabungnya biasanya agak besar, berdiameter 2 hingga 10 inci. Uap yang keluar dari zat
cair itu biasanya terbawa turun bersama zat cair, dan keluar dari bagian bawah unit itu.
Evaporator ini bentuknya menyerupai sebuah penukar panas jenis tabung, yang panjang, vertikal,
dan dilengkapi dengan separator zat cair uap di bawah, dan distributor/penyebar zat cair di atas.

Masalah utama dengan evaporator film-jatuh ialah dalam mendistribusikan zat cair itu secara
seragam menjadi film di bagian dalam tabung. Hal ini dilakukan dengan menggunakan
seperangkat plat logam berlubang-lubang (perforasi) yang ditempatkan lebih tinggi di atas plat
tabung yang dipasang dengan teliti agar benar-benar horisontal. Tabung-tabung itu diberi sisip
pada ujungnya yang memungkinkan zat cair mengalir dengan teratur ke setiap tabung itu. Atau,
dapat pula dipasang distributor 'kalajengking' dengan lengan-lengan radial untuk menyemprotkan
umpan dengan laju stedi ke dalam permukaan dalam setiap tabung. Cara lain ialah dengan
menggunakan nosel penyemprot di dalam setiap tabung.

Bila sirkulasi dapat dilakukan tanpa menimbulkan kerusakan pada zat cair, distribusi zat cair pada
lubang itu dapat dipercepat dengan melakukan daur ulang zat cair itu ke puncak tabung. Hal ini
memungkinkan volume aliran yang lebih besar melalui tabung dibandingkan dengan pada operasi
sekali lintas. Untuk mendapatkan perpindahan kalor yang baik, angka Reynolds fi1m-jatuh harus
lebih besar dari 2000 pada setiap titik di dalam tabung. Selama berlangsung evaporasi, kuantitas
zat cair berkurang secara kontinu selama ia mengalir dari puncak tabung ke dasarnya, sehingga
jum1ah pemekatan yang dapat dilaksanakan da1am satu lewatan terbatas seka1i. Evaporator film-
jatuh tanpa sirku1asi dengan waktu tinggal yang sangat singkat dapat menangani produk-produk
yang peka yang tidak dapat ditangani dengan cara lain. Alat ini juga sesuai sekali untuk
memekatkan zat cair viskos.

6.2.6. Evaporator Film Turbulen

Akhir-akhir ini banyak dikembangkan evaporator modern yang bertujuan untuk menangani bahan
yang viskos, peka, dan korosif. Evaporator film-turbulen sebagaimana ditunjukkan pada Gambar
6.7 merupakan evaporator yang banyak digunakan untuk tujuan tersebut karena dapat menangani

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (20 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

baik bahan yang viskos, berlumpur bahkan kering.

Pada evaporator ini, tahanan pokok terhadap perpindahan panas menyeluruh dari uap kepada zat
cair yang mendidih di dalam evaporator terletak pada sisi-sisi zat cair. Oleh karena itu, setiap cara
yang dapat mengurangi tahanan itu akan memberikan perbaikan yang berarti terhadap koefisien
perpindahan panas menyeluruh. Dalam evaporator tabung panjang, lebih-lebih yang
menggunakan sirkulasi paksa, kecepatan zat cair di dalam tabung itu tinggi. Zat cair itu sangat
turbulen, dan laju perpindahan kalorya besar. Cara lain untuk meningkatkan keturbulenan ada1ah
dengan pengadukan mekanik terhadap film zat cair itu, seperti dalam evaporator pada Gambar
6.7. Evaporator itu merupakan modifikasi daripada evaporator film jatuh yang mempunyai
tabung tunggal bermantel, di mana di dalam tabung itu terdapat sebuah pengaduk. Umpan masuk
dari puncak bagian bermantel dan disebarkan menjadi film tipis yang sangat turbulen dengan
bantuan daun-daun vertika1 agitator (pengaduk) itu. Konsentrat keluar dari bawah bagian
bermantel, uap naik dari zone penguapan masuk ke dalam bagian tak bermantel yang diametemya
agak lebih besar dari tabung evaporasi.

Di dalam separator, zat cair yang terbawa ikut dilemparkan ke arah luar oleh daun-daun agitator,
sehingga menumbuk plat-plat vertikal yang stasioner. Tetesan-tetesan itu bergabung (koalesensi)
pada plat ini dan kembali ke bagian evaporasi. Uap bebas zat cair itu lalu keluar melalui lubang
ke luar pada bagian atas unit itu.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (21 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

Gambar 6.7. Evaporator film Turbulen

Keunggulan utama dari evaporator film aduk ialah kemampuannya menghasilkan laju
perpindahan kalor yang tinggi pada zat cair viskos. Produk evaporasi bisa mencapai viskositas
sampai setinggi 1000 P pada suhu evaporasi. Sebagaimana juga pada evaporator jenis lain,
koefisien menye1uruh turun dengan cepat bila viskositas naik, tetapi dalarn rancang ini
penurunan itu cukup 1ambat.

Dengan bahan-bahan yang sangat viskos, koefisien itu nyata lebih besar dari yang didapatkan

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (22 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

pada evaporator sirkulasi paksa, dan jauh lebih besar daripada unit sirkulasi alamiah. Evaporator
fi1m aduk sangat efektif dengan produk viskos yang peka panas, seperti gelatin, lateks karet,
antibiotika dan sari buah. Kelemahannya ialah biayanya yang tinggi, adanya bagian-bagian dalam
yang bergerak, yang mungkin memerlukan perawatan dan pemeliharaan dan kapasitas setiap
unitnya kecil, jauh di bawah kapsitas evaporator bertabung banyak.

6.3. Kapasitas Evaporator

Untuk evaporator jenis tabung dengan pemanasan uap, maka performa evaporator diukur
berdasarkan atas kapasitas evaporator tersebut. Kapasitas didefinisikan sebagai banyaknya pon
air yang diuapkan perjam.

Jika zat cair dievaporasikan, kesan kedalaman cairan dan percepatan perlu untuk diketahui,
demikian juga halnya dengan kesan dari konsentrasi zat cair sewaktu berada pada titik didihnya.
Untuk larutan ideal, kesan konsentrasi dapat diestimasi dengan menggunakan hukum Raoult dan
Dalton sebagai berikut:

dimana a dan b merupakan simbol untuk menyatakan solute (zat terlarut) dan solvent (pelarut)
secara berturutan. Jika zat terlarut bersifat non volatil dan untuk operasi evaporasi, maka laju
perpindahan panas q melalui permukaan pemanasan suatu evaporator, menurut definisi dari
koefisien perpindahan kalor menyeluruh, yaitu hasil kali dari tiga faktor: luas permukaan
perpindahan panas, A; koefisien perpindahan panas menyeluruh, U; dan penurunan suhu
menyeluruh ∆T; atau:

Jika umpan masuk evaporator itu berada pada suhu didih sesuai dengan tekanan absolut ruang
uapnya, semua kalor yang berpindah melalui permukaan pemanas dapat digunakan untuk
evaporasi, dan kapasitasnya menjadi q. Jika umpannya dingin, kalor yang diperlukan untuk
memanaskannya sampai suhu didih mungkin cukup tinggi, sehingga kapasitasnya untuk suatu
nilai q tertentu akan berkurang sesuai dengan itu, karena kalor yang digunakan untuk

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (23 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

memanaskan umpan tidak dapat digunakan untuk evaporasi. Sebaliknya, jika umpan itu berada
pada suhu di atas titik didih pada ruang uap, sebagian dari umpan akan menguap secara spontan
melalui penyeimbangan adiabatik dengan tekanan ruang-uap, dan kapasitas evaporator akan lebih
besar dari yang ditunjukkan q. Proses ini disebut evaporasi kilatan (f1ash evaporation).

Penurunan suhu nyata melintas permukaan pemanasan bergantung pada larutan yang diuapkan,
pada perbedaan tekanan antara rongga uap-pemanas dan ruang uap hasil evaporasi di atas zat cair
mendidih itu, serta pada kedalaman zat cair itu di atas permukaan pemanasan. Pada beberapa
evaporator, kecepatan zat cair di dalam tabung juga dipengaruhi oteh penurunan suhu karena
adanya rugi gesekan di dalam tabung yang meningkatkan tekanan efektif zat cair itu. Bila zat cair
itu mempunyai karakteristik seperti air murni, titik didihnya dapat dibaca dari tabel uap, jika
tekanannya diketahui, sebagaimana jika kita membaca suhu uap yang kondensasi. Namun, dalam
evaporator nyata titik didih larutan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu kenaikan titik didih dan
tinggi tekan zat cair .

Tekanan uap kebanyakan larutan dalam air lebih kecil dari tekanan uap air pada suhu yang sama.
Akibatnya untuk suatu tekanan tertentu, titik didih larutan lebih tinggi dari titik didih air mumi.
Kenaikan titik didih di atas titik didih air ini dikenal sebagai kenaikan titik didih larutan. Nilainya
kecil untuk larutan encer dan larutan koloida organik, tetapi bisa sampai setinggi 150oF pada
larutan pekat garam anorganik. Kenaikan titik didih ini harus dikurangkan dari penurunan suhu
yang diramalkan dari tabel uap.

Untuk larutan pekat, kenaikan titik didih itu dapat dicari dengan mudah dengan menggunakan
aturan empirik yang dikenal sebagai kaedah Duhring yang menyatakan bahwa titik didih suatu
larutan tertentu merupakan fungsi linier dari titik didih air mumi pada tekanan yang sama. Jadi,
jika titik didih larutan digambarkan terhadap titik didih air pada tekanan yang sama, akan didapat
suatu garis lurus.

Untuk konsentrasi yang berlainan, kita dapatkan pula garis-garis yang berbeda. Jika jangkau
tekanan terlalu besar, kaedah ini tidak eksak, tetapi dalam jangkau yang sedang, garis-garis itu
sangat mendekati lurus, walaupun tidak selalu harus sejajar.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (24 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

Jika kedalaman zat cair di dalam evaporator itu cukup besar, titik didih yang berkaitan dengan
tekanan di dalam ruang uap ialah titik didih lapisan permukaan zat cair itu saja. Suatu tetesan zat
cair yang berada pada jarak Z ft di bawah permukaan berada pada tekanan ruang uap di tambah
tinggi-tekan Z ft zat cair, dan karena itu titik didihnya lebih tinggi. Disamping itu, bila kecepatan
zat cair itu besar, rugi gesekan di dalam tabung akan meningkatkan lagi tekanan rata-rata zat cair
itu. Dalam evaporator nyata, oleh karena itu, titik didih zat cair di dalam tabung lebih tinggi dari
titik didih yang ditunjukkan oleh tekanan ruang uap. Kenaikan titik didih ini akan menyebabkan
kekurangan penurunan suhu rata-rata antara uap dan zat cair dan mengurangi kapasitas. Besarnya
pengurangan tidak dapat ditaksir secara kuantitatif, tetapi efek kualitatif daripada tinggi-tekan zat
cair itu dapat diabaikan, lebih-lebih bila tinggi permukaan dan kecepatan zat cair itu tinggi.

Fluks kalor dan kapasitas evaporator dipengaruhj oleh perubahan beda suhu maupun perubahan
koefisien perpindahan kalor. Penurunan suhu itu ditentukan oleh sifat-sifat uap dan zat cair yang
mendidih, dan kecuali karena pengaruh tinggi tekan hidrostatik, bukanlah merupakan fungsi
konstruksi evaporator. Tetapi, koefisien menyeluruh sangat dipengaruhi oleh rancang evaporator
dan metode operasinya. Tahanan menyeluruh terhadap uap dan zat cair mendidih ialah jumlah
dari lima macam tahanan tersendiri: tahanan film uap; dua buah tahanan kerak, yaitu di dalam
tabung dan di luar tabung; tahanan dinding tabung; dan tahanan dari zat cair yang mendidih.
Koefisien menyeluruh ialah kebalikan dari tahanan menyeluruh itu.

Pada kebanyakan evaporator, faktor penggotoran uap kondensasi dan tahanan dinding tabung
biasanya sangat kecil, dan biasanya diabaikan dalam perhitungan evaporator. Tetapi, dalam
evaporator film aduk, dinding tabung biasanya agak tebal, sehingga tahanannya mungkin
merupakan bagian yang cukup penting dari keseluruhan tahanan.

Koefisien film uap selalu tinggi, juga jika kondensasi itu kondensasi film. Untuk mendapatkan
kondensasi tetes, dan dengan demikian koefisien yang lebih tinggi lagi, kepada arus uap itu
biasanya ditambahkan promotor. Oleh karena adanya gas yang tak-mamppu kondensassi dapat
menyebabkan turunnya koefisien film uap, maka harus ada ventilasi untuk membuang gas-gas
tak-mampu kondensasi itu dari rongga uap pemanas dan mencegah udara masuk bila tekanan uap
lebih rendah dari tekanan atmorfir .

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (25 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

Koefisien sebelah zat cair sangat bergantung pada kecepatan zat cair itu di atas permukaan
panas. Pada kebanyakan evaporator, dan lebih-lebih pada yang menangani zat cair viskos,
tahanan pada sisi zat cairlah yang menentukan laju perpindahan kalor menyeluruh ke zat cair
yang mendidih itu. Dalam evaporator sirkulasi alamiah, koefisien sisi zat cair untuk larutan encer
dalam air adalah antara 200 dan 600 Btu/ft2.jam.0F.

6.4. Ekonomi Evaporator

Ekonomi ada1ah banyaknya pon yang diuapkan per pon uap yang diumpankan ke da1am unit itu.
Pada evaporator efek tunggal, ekonominya hampir selalu kurang dari satu, tetapi pada alat efek
berganda, ekonominya mungkin jauh lebih besar. Konsumsi uap, dalam pon per jam, juga tidak
kalah pentingnya. Nilai konsumsi uap merupakan hasil bagi antara kapasitas dengan ekonomi
evaporator.

Faktor utama yang mempengaruhi sistim ekonomi evaporator ialah banyaknya efek. Melalui
suatu perancangan yang baik, entalpi penguapan uap=pemanas ke efek pertama dapat digunakan
satu kali atau beberapa kali, bergantung pada jumlah efeknya. Ekonomi evaporator juga
dipengaruhi oleh suhu umpan. Jika suhu umpan lebih rendah dari titik didih di dalam efek
pertama, beban pemanasan itu akan menggunakan sebagian dari entalpi penguapan uap pemanas,
dan hanya sebagian yang tersisa untuk evaporasi. Jika suhu umpan lebih tinggi dari titik didih,
kilat yang terjadi akan menyebabkan evaporasi lebih tinggi dari yang bisa dibangkitkan oleh
entalpi penguapan uap itu. Secara kuantitatif, ekonomi evaporator adalah semata-mata masalah
neraca entalpi.

6.4.1. Neraca Entalpi Evaporator Efek Tunggal

Pada evaporator efek tunggal, ka1or laten kondensasi uap pemanas berpindah melalui permukaan
pemanasan dan menguapkan air dari 1arutan yang mendidih. Ada dua neraca entalpi yang
diperlukan, satu untuk uap-pemanas, dan satu lagi untuk sisi-cairan atau uap larutan.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (26 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

Gambar 6.8. Neraca bahan dan neraca enta1pi pada evaporator .

ms =laju aliran uap pemanas dan laju aliran kondensat


mf =laju aliran cairan encer, atau umpan
m =1aju a1iran cairan pekat
mf –m =laju aliran uap cairan ke da1am kondensor, andaikan tidak ada zat padat yang
mengendap dari cairan itu.

Ts =suhu kondensassi uap pemanas


T =suhu zat cair yang mendidih di da1am evaporator
Tf =dan suhu umpan.

Dimisalkan selanjutnya bahwa tidak ada kebocoran atau zat cair yang terbawa ikut bersama uap,
dan bahwa aliran gas yang tak mampu kondensasi dapat diabaikan, dan bahwa rugi ka1or

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (27 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

evaporator itu tidak perlu diperhitungkan. Uap pemanas yang masuk kedalam rongga uap
pemanas itu bisa panas lanjut, dan kondensatnya biasanya keluar dari rongga itu agak dingin
lanjut di bawa hingga didihnya. Namun, keduanya, baik panas lanjut uap maupun dingin lanjut
kondensat itu kecil, dan dapat diabaikan dalam penyusunan neraca entalpi. Kesalahan kecil yang
mungkin diakibatkannya akan dikompensasikan oleh kesalahan karena mengabaikan rugi kalor
dari rongga uap-pemanas. Dengan pengandaian ini, selisih antara entalpi uap pemanas dan
kondensat hanyalah λ , yaitu kalor laten kondensasi uap. Neraca entalpi sisi uap ialah:
s

…(6.1)

dimana:
qs = laju perpindahan kalor melalui permukaan pemanasan dari uap pemanas.
Hv = enta1pi spesifik uap pemanas
Hc = entalpi spesifik uap kondensat

Λ = kalor laten kondensasi uap pemanas


s

ms = laju aliran uap pemanas

Neraca entalpi untuk sisi cairan ialah:

…(6.2)
dimana:
q = laju perpindahan kalor dari permukaan pemanasan ke zat cair .
Hv = entalpi spesifik uap cairan
Hf = entalpi spesifik cairan encer
H = entalpi spesifik cairan pekat.

Jika tidak ada rugi kalor, kalor yang berpindah dari uap pemanas ke tabung harus sama dengan
kalor yang berpindah dari tabung pemanas ke cairan, dan qs = q.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (28 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


BAB VI

Jadi dengan menggabungkan persamaan 6.1 dan 6.2: Jika kalor pengenceran zat cair yang akan
dipekatkan itu cukup besar sehingga tidak dapat diabaikan, entalpi tidak linier dengan konsentrasi
pada suhu tetap. Sumber yang terbaik untuk mendapatkan nilai Hf dan H untuk digunakan pada
persamaan 6.2 ialah diagram entalpi-konsentrasi, dimana entalpi dalam Btu per pon atau joule per
gram larutan, digambarkan grafiknya terhadap konsentrasi, dalam fraksi massa atau persen bobot
zat terlarut. Isoterm-isoterm pada gambar itu menunjukkan entalpi sebagai fungsi konsentrasi
pada suhu tetap.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (29 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM


EVAPORATOR EFEK BERGANDA

BAB VII
EVAPORATOR EFEK GANDA

Beberapa ciri evaporator efek ganda:

■ Terdiri dari dua atau lebih evaporator yang dihubungkan satu sama lain.
■ Uap dari satu efek berfungsi sebagai medium pemanas bagi efek berikutnya.
■ Efek I : efek tempat mengumpankan uap mentah. Tekanan ruang uap cairannya paling tinggi.
■ Efek terakhir: tekanan ruang uap cairan minimum.
■ Tekanan antara uap dan unit kondenser, terbagi pada dua efek atau lebih.
■ Masing-masing efek bekerja sebagai evaporator efek tunggal.
■ Masing-masing mempunyai beda suhu melintas permukaan yang berkaitan dengan penurunan
tekanan pada efek itu.
■ Kondisi steadi, akumulasi=0.

■ Pada suhu, konsentrasi, tekanan uap, tekanan kondenser, tinggi cairan yang ditentukan/dijaga:
konsentrasi cairan dapat diubah hanya dengan mengubah laju alir umpan:
Ø produk terlalu encer : laju alir umpan dikurangi.
Ø produk terlalu kental: laju umpan ditambah.
■ Jika umpan pada titik didihnya:
Ø Seluruh kalor muncul sebagai kalor laten dalam uap yang keluar dari efek pertama.
Ø Suhu kondensat yang meninggalkan efek kedua hampir sama dengan suhu uap dari
zat cair mendidih di dalam efek pertama.
Ø Kondisi steady: seluruh kalor yang digunakan untuk membuat uap pada efek yang
pertama harus diserahkan lagi ketika uap ini kondensasi pada efek ke-2.

Cara pengumpanan:
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (1 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM
EVAPORATOR EFEK BERGANDA

1. Umpan maju
■ Konsentrasi zat cair meningkat dari efek pertama hingga efek terakhir.
■ Memerlukan satu pompa untuk umpankan ke efek satu dan satu pompa lagi untuk
mengeluarkan zat cair dari efek terakhir.
2. Umpan mundur

§ Zat cair diumpankan ke efek terakhir, berurutan hingga efek pertama.


§ Memerlukan satu pompa disetiap efek, karena aliran berlangsung dari tekanan
rendah ke tekanan tinggi.
3. Umpan campuran

§ Zat cair masuk dalam suatu efek pertama, mengalir ke ujung deret lalu
dipompakan lagi ke efek pertama untuk pemekatan akhir.
§ Sebagian dari pompa-pompa yang digunakan pada umpan mundur tidak
diperlukan lagi.
4. Umpan paralel

§ Contohnya dalam evaporator kristalisasi, dimana dihasilkan lumpur kristal dan


cairan induk.
§ Umpan dimasukkan secara paralel ke setiap efek.
§ Tidak terdapat perpindahan zat cair dari efek satu ke efek lain.

Perbandingan penguapan larutan NaOH pada efek tunggal dan ganda.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (2 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM


EVAPORATOR EFEK BERGANDA

■ Keadaan awal dan akhir untuk masing-masing cara evaporasi adalah sama.
■ Masing-masing menggunakan uap larutan jenuh.

■ Penguap tunggal:
Hanya dijumpai sekali kenaikan titik didih sebesar 54 – 48 = 6 oC.
Untuk pemanasan digunakan selisih temperatur sebesar 72 oC.

■ Penguap efek dua


Terdapat dua kali kerugian karena kenaikan titik didih dengan jumlah 9+6 = 15 oC
Selisih temperatur untuk pemanasan berkurang menjadi 62 oC.

■ Penguap efek tiga


Kerugian karena kenaikan titik didih naik lagi menjadi 6 + 8 + 9 = 23 oC.
Jumlah selisih temperatur yang berguna berkurang lagi menjadi 55 oC.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (3 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM


EVAPORATOR EFEK BERGANDA

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (4 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM


EVAPORATOR EFEK BERGANDA

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (5 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM


EVAPORATOR EFEK BERGANDA

7.1. Kapasitas dan ekonomi evaporator efek ganda

■ Kapasitas total evaporator efek ganda biasanya tidak lebih besar dari efek tunggal yang luas
permukaannya sama dengan salah satu efek itu.
■ Kalor yang berpindah di dalam ketiga efek (untuk efek 3).

■ Kapasitas total sebanding dengan laju perpindahan kalor total qT dan diperoleh dari:

■ Andaikan luas permukaan tiap efek adalah A ft2, koefisien menyeluruh U juga sama pada
setiap efek, persamaan diatas dapat dituliskan kembali:
penurunan suhu total antara uap pemanas dalam efek pertama dan uap cairan dalam
efek terakhir.

■ Ekonomi evaporator efek berganda bergantung pada masalah neraca kalor dan bukan pada laju
perpindahan kalor.
■ Kapasitas evaporator efek berganda berkurang karena kenaikan titik didih.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (6 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM


EVAPORATOR EFEK BERGANDA

Contoh 16-3 Mc-Cabe dkk, 1985


Sebuah evaporator efek ganda tiga sirkulasi paksa akan diumpankan dengan 60.000 lb/jam larutan
NaOH 10% pada suhu 180 oF. Cairan pekat yang dikehendaki adalah NaOH 50 %. Evaporator
tersebut menggunakan uap jenuh pada 50 lbf/in2 abs, dan suhu kondensasi uap dari efek ke-3 adalah
100 oF. Urutan pengumpanan adalah II,III,I. Radiasi dan pendinginan lanjut kondensat dapat
diabaikan. Koefisien menyeluruh setelah dikoreksi dengan kenaikan titik didih diberikan pada tabel
berikut:
EFEK KOEFISIEN MENYELURUH
BTU/ft2.jam oF W/m2. oC
I 700 3970
II 1000 5680
III 800 4540

Ditanya:
a. Permukaan pemanasan yang dibutuhkan dalam setiap efek, andaikan A1=A2=A3.
b. Konsumsi uap
c. Ekonomi uap

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (7 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM


EVAPORATOR EFEK BERGANDA

Penyelesaian:
Mf = 60.000 lb/jam

Laju evaporasi total dapat dihitung dari neraca massa menyeluruh, andaikan tidak ada zat padat yang
hilang pada waktu melalui evaporator.

Neraca bahan (lb/jam)


Padat Air Total
Umpan 6000 54000 60000
Cairan Pekat 6000 6000 12000
Air diuapkan 48000 48000

Untuk dapat mengestimasi konsentrasi dan BPE, dianggap evaporasi pada masing-masing efek adalah
sama yaitu: 48000/3 = 16000 lb/jam

Konsentrasi larutan pada masing - masing efek:

Cf = 10 % NaOH = 0,1 fraksi massa

C1 = 50% NaOH = 0,5

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (8 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM


EVAPORATOR EFEK BERGANDA

Uap pada 50 lbf/in2, Ts=281 oF dan ls=924 BTU/lb (lamp 8 Mc Cabe dkk, 1985)

Kondensat pada efek ke III berada pada suhu 100 oF. Tekanan kondensat = 0,95 lbf/in2.

Dari Gambar 16-4 McCabe dkk, 1985:


Efek I C1= 0,5
Titik didih air = 281 oF
Titik didih larutan = 357 oF
BPE1 = 357 – 281 = 76 oF
Efek III C3= 0,214
Titik didih air = 100 oF
Titik didih larutan = 113 oF
BPE1 = 113 - 100 = 13 oF
Efek II C2= 0,136
Titik didih air (=suhu umpan masuk)
= 180 oF
Titik didih larutan = 187 oF
BPE1 = 187 – 180 = 7 oF

Penurunan suhu total:

Penurunan suhu bersih:


181 – (76+7+13) = 85 oF

85 oF ini harus dijabarkan untuk ketiga efek.

Penurunan suhu uap pemanas:

Suhu larutan di dalam efek I sama dengan suhu uap cairan panas lanjut keluar.
T (suhu didih) T’ (suhu kondensasi)
EFEK I 33 76

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (9 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM


EVAPORATOR EFEK BERGANDA

EFEK II 23 7
EFEK III 29 13

T1 = 281 – 33 = 248 oF
T1’ = 248 – 76 = 172 oF
T2 = 172 – 23 = 149 oF
T2’ = 149 – 7 = 142 oF
T3 = 142 – 29 = 113 oF
T3’ = 113 – 13 = 100 oF

Selanjutnya ditabulasikan data entalpi, suhu dan flow rate sebagai berikut:
Arus Suhu (oF) Suhu Jenuh (oF) Konsentrasi Entalpi Flow Rate
(BTU/lb) (lb/jam)
Uap pemanas 281 281 1174 ms
Umpan ke I 113 0,214 67 12000+X
Uap hasil dari I 248 172 1171 X
Kondensat dari I 281 249 ms
Zat cair dari I 248 0,5 250 12000
Umpan ke II 180 0,10 135 60000
Uap hasil dari II 149 142 1126 Y
Zat cair dari II 149 0,136 102 60000-Y
Kondensat dari II 172 140 X
Uap hasil dari III 113 100 1111 48000-X-Y
Kondensat dari III 142 110 Y

Neraca Entalpi
X = laju evaporasi yang sebenarnya di efek I
Y = laju evaporasi yang sebenarnya di efek II

Neraca entalpi ada efek II


Uap hasil dari I + Umpan ke II = Uap hasil dari II + Zat cair dari II + Kondensat dari II
(1171.X) + (60000)(135) = (1126.Y) + 102 (60000 – Y) + (140.X)
X – 0,993 Y = -1920 …(1)

Neraca entalpi ada efek III


Zat cair dari II + Zat cair dari II = Uap hasil dari III + Umpan ke I + Kondensat dari II

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (10 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM


EVAPORATOR EFEK BERGANDA

(1126.Y) + 102 (60000 – Y) = 1111(48000 – X - Y) +(12000 + X)67 + (110.Y)


X + 1,940 Y = 46000 …(2)

(1) dan (2) :


X + 1,940 Y = 46000
X – 0,993 Y = -1920
2,933 Y = 47920
Y = 16340 lb/jam
X = 46000 – (1,940)(16340)
= 14300 lb/jam

Laju penguapan pada efek III:


48000 – X – Y = 48000 – 14300 – 16340 = 17360 lb/jam

Bebas panas:
= (14300)(1171) – (12000+14300)(67) + (12000)(250) = 17.983.000 BTU/jam

q2=(14300)(1171) – (14300)(140) = 14.743.000 BTU/jam


q3=(16340)(1126) – (16340)(110) = 16.601.000 BTU/jam

Sehingga luas permukaan:

Luas rata-rata =

Luas permukaan tidak sama. Sehingga dilakukan perhitungan kembali terhadap konsentrasi,
penurunan suhu, eltalpi, laju evaporasi, beban kalor dan luas permukaan perpindahan kalor, sehingga
didapat luas permukaan yang nilainya cukup berdekatan satu sama lain.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (11 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM


EVAPORATOR EFEK BERGANDA

Pembetulan suhu, entalpi dan laju aliran.


Arus Suhu (oF) Suhu Jenuh (oF) Konsentrasi Entalpi Flow Rate
(BTU/lb) (lb/jam)
Uap pemanas 281 281 1174 ms
Umpan ke I 113 0,228 68 12000+X
Uap hasil dari I 245 170 1170 X
Kondensat dari I 281 249 ms
Zat cair dari I 246 0,5 249 12000
Umpan ke II 180 0,10 135 60000
Uap hasil dari II 149 142 1126 Y
Zat cair dari II 149 0,137 101 60000-Y
Kondensat dari II 170 138 X
Uap hasil dari III 114 100 1111 48000-X-Y
Kondensat dari III 142 110 Y

Hasil:
a. Luas permukaan tiap efek = 719 ft2
b. Konsumsi uap, ms =
c. Ekonomi =

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (12 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM


EVAPORATOR EFEK BERGANDA
Contoh 10.3 Foust, 1960.
Sebuah evaporator efek ganda tiga digunakan untuk memekatkan larutan NaOH 5% menjadi 50 %.
Digunakan umpan maju dengan umpan masuk pada suhu 60 oF. Uap tersedia pada tekanan 125 psia
dan ejektor pada 1 psia. Luas permukaan pemanasan pada ketiga efek adalah sama dan cukup besar
untuk menghasilkan 20000 lb/jam produk pekat. Koefisien menyeluruh setelah dikoreksi dengan
kenaikan titik didih diberikan pada tabel berikut:
EFEK BTU/ft2.jam oF
I 800
II 500
III 300

Ditanya:
d. Permukaan pemanasan yang dibutuhkan dalam setiap efek, andaikan A1=A2=A3.
e. Konsumsi uap
f. Ekonomi uap

Penyelesaian:
Produk pekat 20000 lb/jam

Laju evaporasi total dapat dihitung dari neraca massa menyeluruh, andaikan tidak ada zat padat yang
hilang pada waktu melalui evaporator.

Neraca bahan (lb/jam)


Padat Air Total
Umpan 10000 190000 200000
Cairan Pekat 10000 10000 20000
Air diuapkan 180000 180000

Untuk dapat mengestimasi konsentrasi dan BPE, dianggap evaporasi pada masing-masing efek adalah
sama yaitu: 180000/3 = 60000 lb/jam

Konsentrasi larutan pada masing - masing efek:

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (13 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM


EVAPORATOR EFEK BERGANDA

Cf = 5% NaOH = 0,05 fraksi massa


C3 = 50% NaOH = 0,5

Uap pada 125 psia, Ts=344,2 oF dan ls=875 BTU/lb (lamp 8 Mc Cabe dkk, 1985)
Hvap = 1191,02 BTU/lb
Hliq = 315,55 BTU/lb

Kondensat keluar dari ejektor pada 1 psia, Ts = 101,5 oF

Dari Gambar 16-4 McCabe dkk, 1985:


Efek I C1= 0,071
Titik didih air = 344,2 oF (lamp.8)
Titik didih larutan = 347 oF (Gbr. 16-4)
BPE1 = 347 – 344,2 = 2,8 oF
Efek III C3= 0,5
Titik didih air (suhu keluar ejektor)
= 101,5 oF
Titik didih larutan = 172 oF
BPE1 = 172 – 101,5 = 70,5 oF
Efek II C2= 0,125
Tidak adaketerangan yang jelas.
Titik didih air = 200 oF (Trial)
Titik didih larutan = 210 oF
BPE1 = 210 – 200 = 10 oF

Penurunan suhu total:

Penurunan suhu bersih:


242,7 – (2,8+70,5+10) = 159,4 oF

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (14 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM


EVAPORATOR EFEK BERGANDA

159,4 oF ini harus dijabarkan untuk ketiga efek.

Penurunan suhu uap pemanas:

Suhu larutan di dalam efek I sama dengan suhu uap cairan panas lanjut keluar.
T (suhu didih) T’ (suhu kondensasi)
EFEK I 30,28 2,8
EFEK II 48,45 10
EFEK III 80,74 70,5

T1 = 344,2-30,28 = 313,92 oF

T1’ = 313,92 – 2,8 = 311,12 oF

T2 = 311,12 – 48,45 = 262,63 oF

T2’ = 262,63 – 10 = 252,63 oF

T3 = 252,63 – 80,74 = 171,89 oF

T3’ = 171,89 – 70,5 = 101,5 oF

Selanjutnya ditabulasikan data entalpi, suhu dan flow rate sebagai berikut:
Arus Suhu (oF) Suhu Konsentrasi Entalpi Flow Rate
Jenuh (oF) (BTU/lb) (lb/jam)
Uap pemanas 344,2 1191,02 ms
Umpan ke I 60 0,05 28,06 200000
Uap hasil dari I 313,92 1182,8 X
Kondensat dari I 344,2 315,55 ms
Zat cair dari I 313,92 0,071 283,98 200000-X
Uap hasil dari II 262,63 1164,86 Y
Zat cair dari II 262,63 0,125 231,32 200000-X-Y
Kondensat dari II 311,12 281,08 X
Uap hasil dari III 171 1105,85 180000-X-Y
Kondensat dari III 252,63 221,15 Y
Zat cair dari III 171,89 0,5 139,79 20000

Neraca Entalpi
X = laju evaporasi yang sebenarnya di efek I

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (15 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM


EVAPORATOR EFEK BERGANDA

Y = laju evaporasi yang sebenarnya di efek II

Neraca entalpi ada efek I


(ms)(1192,02) + (200000)(28,06) = (X)(1182,8) + (ms)(315,55) + (200000 – X)(283,98)
(1191,02 – 315,55) ms = 51.184.000 + 898,82 X …(1)

Efek II
(X)(1182,8) + (200.000 – X)(283,98) = (Y)(1164,86) + (200.000 – X – Y)(231,32)
+ (X)(281,08)
(849,06)(X) + 10.532.000 = 933,54 (Y) …(2)

Efek III
(Y)(1164,86) + (200.000 – X – Y)(231,32) = (180.000 – X – Y )(1105, 85)
+ (20000)(139,79) + (Y)(221,15)
(1818,24)(Y) = 155.584.800 – 874,53 (X) …(3)

(2) dan (3)


X + 12.404,3 = 1,0995 Y
- X + 177.906,7 = 2,0751 Y +
190.311 = 3,1786
Y = 59872,58 lb/jam
X = 53425,6 lb/jam

Laju penguapan pada efek III:


180000 – X – Y = 66701,82 lb/jam
Kebutuhan steam, ms = 113.315,13 lb/jam

Luas permukaan:

Luas permukaan tidak sama. Sehingga dilakukan perhitungan kembali terhadap konsentrasi,
penurunan suhu, eltalpi, laju evaporasi, beban kalor dan luas permukaan perpindahan kalor, sehingga

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (16 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM


EVAPORATOR EFEK BERGANDA

didapat luas permukaan yang nilainya cukup berdekatan satu sama lain.

TRIAL II

T1 = 344,2 - 48,38 = 295,82 oF

T1’ = 295,82 – 2,8 = 292,22 oF

T2 = 292,22 – 37,6 = 254,62 oF

T2’ = 254,62 – 10 = 244,62 oF

T3 = 244,62 – 73,5 = 171,92 oF

T3’ = 171,92 – 70,5 = 101,5 oF

Luas permukaan rata-rata = 2580 ft2

Konsumsi uap, ms = 111.074,08 lb/jam

Ekonomi =

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (17 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM


EVAPORATOR EFEK BERGANDA

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (18 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM


Bab 8

BAB VIII
KRISTALISASI

Kristalisasi atau penghabluran ialah peristiwa pembentukan partikel-partikel zat padat di dalam
suatu fase homogen.

Kristalisasi dapat terjadi sebagai:


a. Pembentukan partikel padat di dalam uap, seperti dalam pembentukan salju
b. Pembekuan (solidification) di dalam lelehan cair sebagaimana dalam pembuatan kristal
tunggal yang besar, atau
c. Kristalisasi dari larutan cair.

Pembahasan kita hanya akan dibatasi pada situasi yang terakhir ini aja yaitu kristalisasi dari
larutan cair. Konsep dan prinsip yang diuraikan disini berlaku baik untuk kristalisasi zat terlarut
(solute) di dalam larutan jenuh maupun kristalisasi sebagian dari pelarut (solvent) itu sendiri,
sebagaimana dalam hal pembekuan kristal es dari air laut atau larutan garam encer lainnya.

Kristalisasi dari larutan sangat penting dalam industri karena banyaknya ragam bahan yang
dpasarkan dalam bentuk kristal. Penggunaannya sangat luas karena dua hal:
1. Kristal yang terbentuk dari larutan yang tak murni selalu murni.
2. Kristalisasi merupakan metode yang praktis untuk mendapatkan bahan-bahan kimia murni
dalam kondisi yang memenuhi syarat untuk pengemasan dan penyimpanan.

Dalam kristalisasi dari larutan sebagaimana dilaksanakan dalam industri, campuran dua fase
cairan induk (mother liquor) dan kristal dari segala ukuran, yang mengisi kristalisator

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/08%20Kristalisasi.html (1 of 11)5/8/2007 3:24:13 PM


Bab 8

(crystallizer) dan dikeluarkan sebagai hasil, disebut magma.

Tujuan kristalisasi yang utama adalah mendapatkan perolehan yang memuaskan serta kemurnian
yang tinggi, untuk itu hal-hal yang menjadi pertimbangan:

1. Jika kristal itu akan diproses lebih lanjut, maka ukuran yang wajar dan cukup seragam
diperlukan untuk kemudahan filtrasi (penyaringan), pencucian, pelaksanaan reaksi dengan
bahan kimia lain, pengangkutan, serta penyimpanan kristal.
2. Jika kristal itu akan dipasarkan sebagai hasil akhir, untuk dapat diterima langganan,
masing-masing kristal itu harus kuat, tidak menggumpal, besarnya seragam, dan tidak
melekat dalam kemasan.

Untuk mencapai tujuan ini, maka distribusi ukuran kristal (crystal size distribution, CSD) harus
dikendalikan dengan ketat, dan itulah yang menjadi tujuan utama dalam perancangan dan operasi
kristalisator.

Geometri Kristal

Kristal adalah suatu benda mati yang sangat terorganisasi. Kristal dicirikan oleh kenyataan bahwa
partikel-partikel pembentuknya (yang bisa berupa atom, molekul atau ion) tersusun dalam suatu
susunan tiga dimensi yan beraturan yang disebut kisi (lattice). Akibat dari susunan pertikel
seperti itu, bila kristal dibiarkan terbentuk tanpa gangguan dari kristal lain atau benda luar, kristal
itu akan berupa polihedron yang mempunyai sudut-sudut tajam dan sisi yang rata, yang disebut
muka (face). Walaupun ukuran relatif muka dan sudut berbagai kristal dari bahan yang sama
mungkin sangat berbeda-beda, namun sudut-sudut yang dibentuk oleh muka-muka yang
sebanding pada semua kristal dari bahan yang sama selalu sama dan merupakan karakteristik
(ciri) dari bahan itu.

Sistem Kristalografi

Oleh karena semua kristal dari setiap bahan tertentu mempunyai sudut antarmuka yang sama

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/08%20Kristalisasi.html (2 of 11)5/8/2007 3:24:13 PM


Bab 8

walaupun terdapat perbedaan besar dalam tingkat perkembangan masing-masing muka, bentuk
kristal diklasifikasikan atas dasar sudut-sudut ini. Ada tujuh kristal, yaitu kubus, heksagonal,
trigonal, tetragonal, ortorombik, monoklin, dan triklin. Satu bahan tertentu dapat terkristalisasi di
dalam dua kelas yang berbeda atau lebih, bergantung pada kondisi kristalisasi. Kalsium karbonat
misalnya, paling umum terdapat di alam dalam bentuk heksagonal (sebagai kalsit) tetapi juga
terdapat dalam bentuk ortorombik (aragonit).

Kristal Invarian

Pada keadaan ideal, kristal yang tumbuh setiap memelihara keserupaan geometriknya selama
pertumbuhan. Kristal demikian disebut kristal invarian. Pada Gambar 28-1 Mc Cabe et al., 1985,
terlihat penampang kristal invarian selama pertumbuhannya. Setiap poligon di dalam gambar
tersebut menunjukkan sosok (outline) kristal pada beberapa waktu yang berbeda. Oleh karena
kristal tersebut invarian, semua poligon itu mempunyai keserupaan geometrik dan garis putus-
putus yang menghubungkan sudut-sudut poligon itu dengan pusat kristal itu merupakan garis
lurus. Titik pusat harus dianggap sebagai lokasi inti asal tempat kristal itu tumbuh. Laju
pertumbuhan setiap muka diukur dengan kecepatan translasi muka itu dalam berpindah menjauhi
pusat pada arah tegak lurus terhadap muka itu. Kecuali jika kristal itu berbentuk polihedron
beraturan, laju perpindahan berbagai muka kristal invarian itu tidaklah sama.

8.1. Prinsip Kristalisasi

Kristalisasi dapat dianalisis dari sudut pandangan kemurnian, perolehan, kebutuhan energi, laju
nukleasi dan laju pertumbuhan.

Kemurnian hasil

Kristal yang baik, terbentuk dengan baik, biasanya hampir murni, tetapi masih mengandung
cairan induk bila dikeluarkan dari magma akhir, dan jika panen itu mengandung agregat kristal,
massa zat padat itu mungkinmengandunng cairan induk bersama kristal. Bila cairan induk yang
terkandung yang kemurniannya rendah itu dikeringkan, terjadi kontaminasi, dan derajat
kontaminasi ini bergantung pada banyak dan derajat ketakmurnian cairan induk yang terkandung

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/08%20Kristalisasi.html (3 of 11)5/8/2007 3:24:13 PM


Bab 8

bersama kristal.

Dalam prakteknya, sebagian besar cairan induk yang terkandung itu dipisahkan dari kristal
dengan cara filtrasi dan sentrifugasi, sedang sisanya dikeluarkan dengan mencucinya dengan
pelarut segar. Efektivitas langkah pemurnian bergantung pada ukuran dan keseragaman kristal.

Keseimbangan dan Perolehan

Keseimbangan di dalam proses kristalisasi dapat dicapai bila larutan itu jenuh, dan hubungan
keseimbangan untuk kristal induk adalah kurva kelarutan. Data kelarutan sebagai fungsi suhu
diberikan pada gambar berikut. Kebanyakan bahan mengikuti kurva yang serupa dengan kurva 1;
artinya kelarutannya meningkat hampir secepat peningkatan suhu. Beberapa bahan mengikuti
kurva seperti kurva 2, dimana kelarutan berubah sedikit saja dengan suhu; adapula yang
mengikuti kurva kelarutan terbalik (inverted solubility curve) pada kurva 3, yang berarti bahwa
kelarutannya berkurang bila suhu dinaikkan.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/08%20Kristalisasi.html (4 of 11)5/8/2007 3:24:13 PM


Bab 8

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/08%20Kristalisasi.html (5 of 11)5/8/2007 3:24:13 PM


Bab 8

Banyak bahan anorganik yang penting-penting mengkristalisasi dengan air kristal. Pada beberapa
sistem, terbentuk beberapa macam hidrat, bergantung pada konsentrasi dan suhu, dan
keseimbangan dalam sistem itu bisa rumit. Diagram fase untuk sistem magnesium sulfat-air
terlihat pada gambar 28-3 ( Mc Cabe, 1985) di atas.

Konsentrasi magnesium sulfat bebas air (anhydrous) dalam fraksi massa digambarkan
digambarkan grafiknya terhadap suhu dalam derajat Fahrenheit. Keseluruhan luas di bawah dan
sebelah kiri garis penuh menunjukkan larutan tak jenuh magnesium sulfat di dalam air. Garis
putus-putus eag-f-hij menunjukkan solidifikasi (pembekuan) larutan cair membentuk berbagai
fase zat padat. Luas pae menunjukkan campuran es dan larutan jenuh. Setiap larutan yang
mengandung kurang dari 16,5 persen MgSO4 akan mengendapkan es bila suhunya mencapai
garis pa. Garis patah-patah abcdq ialah kurva kelarutan. Setiap larutan yang mengandung lebih
dari 16,5% akan mengendapkan, pada waktu pendinginan, zat padat bila suhu mencapai garis ini.
Zat padat yang terbentuk pada titik a disebut etetik (eutectic). Zat padat itu terdiri dari campuran
mekanik yang akrab antara es dan MgSO4.12H2O.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/08%20Kristalisasi.html (6 of 11)5/8/2007 3:24:13 PM


Bab 8

Antara titik a dan b kristalnya adalah MsSO4.12H2O; antara b dan c fase zat padat adalah
MgSO4.7H2O (garam epsom); antara c dan d kristalnya adalah MgSO4.6H2O; dan di atas titik d
kristal itu adalah MgSO4.H2O. Di dalam daerah cihb, sistem keseimbangan terdiri dari campuran
larutan jenuh dan kristal MgSo4.7H2O. Dalam daerah dljc, campuran itu terdiri dari larutan jenuh
dan kristal MgSO4.6H2O. Dalam daerah qdk, campuran itu adalah larutan jenuh dan MgSO4.
H2O.

Perolehan

Pada kebanyakan proses kristalisasi, kristal dan cairan induk berada pada waktu yang cukup lama
sehingga mencapai keseimbangan, dan cairan induk itu jenuh pada suhu akhir proses itu.
Perolehan dari proses itu dapat dihitung dari konsentrasi awal dan kelarutan pada suhu akhir. Jika
selama proses itu terjadi penguapan yang cukup besar, kuantitasnya harus diketahui atau dapat
diperkirakan.

Bila laju pertumbuhan kristal itu lambat, diperlukan waktu yang agak panjang untuk mencapai
keseimbangan. Hal ini sangat besar bila larutan itu viskos atau dimana kristal itu mengumpul di
dasar kristalisator sehingga hanya sedikit saja permukaan kristal yang terkena larutan lewat
jenuh. Dalam situasi demikian, cairan induk akhir mungkin sangat lewat jenuh dan perolehan
yang didapatkan akan lebih kecil dari menurut hasil perhitungan dari kurva kelarutan.

Jika kristal itu bebas air, perhitungan perolehan itu sederhana, karena fase padat itu tidak
mengandung pelarut. Bila panen itu mengandung air kristal, air yang terdapat bersama kristal itu
harus diperhitungkan, karena air ini tidak terkandung di dalam larutan . Data kelarutan itu
biasanya diberikan sebagai bagian massa bahan bebas air perseratus bagian dari massa pelarut
total atau dalam persen massa zat terlarut bebas air.

Data ini tidak memperhitungkan air kristalisasi. Kunci dalam perhitungan perolehan zat terlarut

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/08%20Kristalisasi.html (7 of 11)5/8/2007 3:24:13 PM


Bab 8

bebas air ialah menyatakan semua massa dan konsentrasi sebagai garam hidrasi dan air bebas.
Oleh karena kuantitas yang terakhir ini yang tetap berada dalam fase cair selama berlangsungnya
kristalisasi, konsentrasi atau kuantitas yang didasarkan atas air bebas dapat dikurangkan untuk
memberikan hasil yang benar.

Contoh 28-1. Mc Cabe, dkk, 1985.


Suatu larutan yang terdiri dari 30 persen MgSO4 dan 70 persen H2O didinginkan sampai 60 oF.
Selama pendinginan, 5 persen dari total air yang terdapat di dalam sistem itu menguap. Berapa
kilogram kristal yang didapat per kilogram campuran semula?

Penyelesaian:
Dari gambar diagram fasa terlihat bahwa kristal itu adalah MgSO4.7H2O dan bahwa konsentrasi

cairan induk pada suhu 60 oF adalah 24,5 persen MgSO4 bebas air dan 75,5 persen H2O.

Misalkan larutan awal 1000 kg.


Air total = 70 % x 1000 = 700 kg
Penguapan = 5 % x 700 = 35 kg

BM MgSO4 = 120,4
BM 7H2O = 126,1
BM MgSO4.7H2O = 246,5

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/08%20Kristalisasi.html (8 of 11)5/8/2007 3:24:13 PM


Bab 8

MgSO4.7H2O (cairan induk+kristal):

Air bebas = 1000 – 35 – 614 = 351 kg

Dalam 100 kg cairan induk:


MgSO4.7H2O dan H2O mempunyai perbandingan
24,5% MgSO4 dan 75,5 % H2O.

MgSO4.7H2O =

Air bebas = 100 – 50,16 = 49,84 kg

Dalam 1000 kg larutan awal, MgSO4.7H2O pada cairan induk:

Panen akhir adalah 614 – 353 = 261 kg kristal per 1000 kg larutan awal.

Contoh 12-11.1 Geankoplis, 1987


Larutan garam 10.000 kg dengan 30 % berat Na2CO3 didinginkan hingga suhu 293 K. Kristal
garam yang terbentuk Na2CO3.10H2O. Hitung kristal hasil Na2CO3.10H2O jika data kelarutan

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/08%20Kristalisasi.html (9 of 11)5/8/2007 3:24:13 PM


Bab 8

adalah 21,5 kg Na2CO3/100 kg air total, pada:


a. Asumsi tidak ada air yang menguap.
b. Asumsi bahwa 3 % dari total larutan hilang karena penguapan air.

Penyelesaian:

BM Na2CO3 = 106
BM 10H2O= 180,2
BM Na2CO3.10H2O = 286,2

W = kg air yang menguap


S = kg cairan induk
C = kg kristal Na2CO3.10H2O.

a) W = 0

Neraca massa air


…(1)

fraksi berat air dalam kristal.

Neraca massa Na2CO3


…(2)

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/08%20Kristalisasi.html (10 of 11)5/8/2007 3:24:13 PM


Bab 8

Dari (1) dan (2):


C = 6370 kg Na2CO3.10H2O
S = 3630 kg larutan induk

b) W = 0,3 (10000) = 300 kg H2O

Neraca massa air

…(3)

Neraca massa Na2CO3


…(4)

Dari (3) dan (4):


C = 6630 kg Na2CO3.10H2O
S = 3070 kg larutan induk

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/08%20Kristalisasi.html (11 of 11)5/8/2007 3:24:13 PM