Anda di halaman 1dari 44

PEMBINAAN ANAK DIDIK PEMASYARAKATAN

BAGIAN I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kehidupan berbangsa dan bernegara mengenal institusi kecil dalam suatu masyarakat
yaitu sebuah keluarga yang merupakan unit terkecil dalam masyarakat di mana anak
tumbuh dewasa secara wajar menuju generasi muda yang potensial untuk pembangunan
nasional. Pada dasarnya anak adalah tunas harapan bangsa yang akan melanjutkan
eksistensi Nusa dan Bangsa Indonesia.

Anak sebagai anggota keluarga mempunyai hak yang perlu dan seharusnya diperhatikan
oleh orang tuanya, perlu mendapat bimbingan dan peran orang tua. Pasal 44 Undang-
Undang No.1 Tahun 1974 tentang perkawinan menyatakan bahwa : ”kedua orang tua
wajib memelihara dan mendidik anak mereka sebaik-baiknya. Kewajiban tersebut
berlaku sampai anak kawin atau dapat berdiri sendiri dan berlaku terus meskipun
perkawinan antar orang tua putus.”

Keberadaan seorang anak ditinjau dari sudut pandangan hukum, menimbulkan


konsekuensi yuridis yang sangat mendalam karena keberadaan anak tersebut
menimbulkan hak dan kewajiban dalam proses pelaksanaan pendidikan keluarga.
Kewajiban orang tua terhadap anak dilandasi oleh falsafah moralitas bahwa anak itu
sebagai amanat Tuhan, bahkan tidak dapat dipisahkan dari hukum perkawinan sebagai
asal mula keluarga dibentuk. Salah satu kewajiban orang tua terhadap anak adalah
memberikan pendidikan yang terbaik dalam rangka membangun generasi yang lebih baik
dimasa mendatang. Pendidikan terbaik yang harus diutamakan orang tua terhadap anak
adalah pendidikan agama dan wawasan moral. Apabila hal tersebut diabaikan, maka anak
akan memilki moral dan karakter yang buruk atau jahat.

Seorang anak yang melakukan tindak pidana tetap harus diproses sesuai hukum yang
berlaku, namun berbeda dengan proses hukum terhadap orang dewasa, proses peradilan
terhadap anak didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi anak.

Masalah kepedulian terhadap perlindungan anak telah menjadi perhatian, bukan saja
dalam lingkungan Nasional bahkan dalam lingkungan global/Internasional. Hal ini
dibuktikan dengan adanya konvensi hak-hak anak (Convention Of The Right Child) pada
Tahun 1989 bahkan pada Tahun 1990 konvensi hak-hak anak tersebut sudah diratifikasi
oleh pemerintah Indonesia melalui keputusan presiden RI No. 36 Tahun 1990 tentang
konvensi hak-hak anak Indonesia. Konvensi hak-hak anak tersebut terpusat pada 4
(empat) masalah penting, yaitu sebagai berikut :[1])

1. penyebaran seluas-luasnya nilai-nilai dan prinsip dasar perlindungan hak-hak


anak yang diakui secara Internasional.
2. Pengkajian terhadap perundang-undangan (legislasi) berdasarkan konvensi anak
1989.
3. Pemberdayaan kapasitas untuk memperluas kerangka Institusional (kelembagaan)
dalam upaya memperkenalkan dan melaksanakan secara nyata hak-hak anak.
4. Mempercepat pemberdayaan masyarakat untuk melaksanakan ketentuan-
ketentuan dalam konvensi anak 1989.

Perlakuan hukum terhadap seorang anak yang melakukan tindak pidana berbeda dengan
perlakuan terhadap orang dewasa, perbedaan tersebut berdasarkan 3 (tiga) kriteria yaitu
segi prosesnya, segi pengaturannya dan segi cara-caranya. Keharusan dibedakan antara
pengadilan anak dengan orang dewasa antara lain sebagai berikut :

1. Anak memiliki ciri dan sifat khusus.


2. Anak berada pada tahap usia memerlukan pembinaan dan perlindungan dalam
rangka menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, dan sosial secara
utuh, serasi atau selaras dan seimbang.
3. Anak memerlukan dukungan secara kelembagaan maupun perangkat hukum
untuk melaksanakan pembinaan.

Anak baik secara rohani, jasmani, maupun sosial belum memiliki kemampuan berdiri
sendiri, maka menjadi kewajiban bagi orangtua untuk menjamin, memelihara, dan
menyamakan kepentingan anak itu. Pemberian jaminan dan pengamanan kepentingan ini
selayaknya dilakukan oleh pihak-pihak yang mengurusnya di bawah pengawasan dan
bimbingan Negara, dan bilamana perlu oleh Negara sendiri.

Untuk lebih memantapkan upaya pembinaan dan pemberian bimbingan bagi anak yang
telah diputuskan oleh hakim, maka anak tersebut sebaiknya ditempatkan di Lembaga
Pemasyarakatan Anak. Hal ini dinyatakan pula dalam Pasal 60 ayat (1) Undang-Undang
No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak (selanjutnya disingkat Undang-Undang
Pengadilan Anak) yang berbunyi bahwa : “Anak didik pemasyarakatan ditempatkan di
lembaga pemasyarakatan anak yang harus terpisah dari orang dewasa.” Dan diatur pula
dalam Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang No.12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan
(selanjutnya disingkat Undang-Undang Pemasyarakatan), yang berbunyi : “Anak pidana
ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan Anak.“

Namun kedua ketentuan di atas belum dapat dilaksanakan secara optimal, hal ini dapat
dilihat dalam kenyataan di lapangan khususnya di Rumah Tahanan (selanjutnya disingkat
RUTAN) Klas I A Bandung, di mana di RUTAN Klas I A Bandung ini masih terdapat
anak pidana sebagai warga binaan pemasyarakatan yang tidak dipisahkan dengan orang
dewasa.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut :


1. Apakah akibat dari pelaksanaan pembinaan anak didik pemasyarakatan di
RUTAN Klas I A Bandung ?
2. Apakah kendala dalam melaksanakan pembinaan Anak Didik Pemasyarakatan di
RUTAN Klas I A Bandung ?

BAGIAN II

TINJAUAN UMUM MENGENAI ANAK DAN

LEMBAGA PEMASYARAKATAN ANAK

A. Pengertian Anak

Pengertian anak dapat dilihat dari beberapa ketentuan sebagai berikut :

a). Anak menurut Undang-Undang Pengadilan Anak

Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak
merumuskan bahwa anak adalah orang dalam perkara anak nakal yang telah mencapai
umur 8 (delapan) tahun, dan belum pernah menikah. Jadi anak dibatasi dengan umur
antara 8 (delapan) tahun sampai berumur 18 (delapan belas) tahun. Sedangkan syarat
kedua si anak belum pernah kawin, maksudnya tidak sedang terikat dalam perkawinan
ataupun pernah kawin dan kemudian cerai. Apabila si anak sedang terikat dalam
perkawinan atau perkawinannya putus karena perceraian, maka si anak dianggap sudah
dewasa, walaupun belum genap 18 (delapan belas) tahun.

b). Anak menurut KUHP

Pasal 45 KUHP merumuskan, anak yang belum dewasa apabila belum berumur 16 (enam
belas) tahun. Oleh karena itu, apabila ia tersangkut dalam perkara pidana hakim boleh
memerintahkan supaya si terdakwa itu dikembalikan kepada orang tuanya, walinya atau
pemeliharanya dengan tidak dikenakan suatu hukuman, atau memerintahkannya supaya
diserahkan kepada pemerintah dengan tidak dikenakannya sesuatu hukuman atau
ketentuan lain Pasal 45, 46, dan 47 KUHP, pasal-pasal ini sudah dihapuskan dengan
lahirnya Undang-Undang No. 3 tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak.

c). Anak menurut Hukum Perdata

Pasal 330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (selanjutnya disingkat KUHPerdata)


menyatakan bahwa orang belum dewasa adalah mereka yang belum mencapai umur
genap 21 (dua puluh satu) tahun dan tidak terlebih dahulu telah kawin atau belum
menikah.

d). Anak menurut Undang-Undang Perkawinan


Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan merumuskan,
seorang pria hanya diijinkan kawin apabila telah mencapai usia 19 (sembilan belas) tahun
dan wanita telah mencapai 16 (enam belas) tahun. Penyimpangan atas hal tersebut hanya
dapat diminta dispensasi kepada Pengadilan Negeri.

Soepomo mengutip pendapat Soerojo Wongjadipoetro mengatakan ciri-ciri seseorang


telah dianggap dewasa dalam masyarakat yaitu:[2])

1. Dapat bekerja sendiri (mandiri);

2. Cakap untuk melakukan apa yang disyaratkan dalam kehidupan bermasyarakat dan
bertanggung jawab;

3. Dapat mengurus harta kekayaan sendiri.

e). Anak menurut Undang-Undang Kesejahteraan Anak

Undang-Undang No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak merumuskan bahwa:


“anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum
pernah kawin “. Kemudian dalam penjelasan undang-undang tersebut diuraikan bahwa:
“Batas usia 21 (dua puluh satu) tahun ditetapkan oleh karena berdasarkan pertimbangan
kepentingan usia kesejahteraan sosial, tahap kematangan sosial, kematangan pribadi, dan
kematangan mental seorang anak dicapai pada usia tersebut”. Batas usia 21 (dua puluh
satu) tahun tersebut tidak mengurangi ketentuan batas dalam peraturan perundang-
undangan lainnya, dan tidak mengurangi kemungkinan anak melakukan perbuatan sejauh
ia mempunyai kemampuan berdasarkan hukum yang berlaku.

Selain dari sudut pandang hukum, pengertian anak dapat dilihat dari :

1. Aspek religius

Anak mempunyai kedudukan yang mulia dalam Al-Quran dan Al-Hadist, oleh karena itu
anak harus diperlakukan secara manusiawi dan diberikan pendidikan, pengajaran,
keterampilan dari akhlak yang baik agar anak tersebut kelak akan bertanggung jawab
untuk memenuhi kebutuhan hidup dimasa depan. Masalah anak dalam pandangan Al-
Quran menjadi tanggung jawab kedua orang tua.[3])

2. Aspek sosiologi

Anak dalam aspek sosiologis, kedudukan anak diposisikan sebagai kelompok sosial yang
berstatus lebih rendah dari masyarakat dilingkungan tempat berinteraksi. Status sosial
yang dimaksud adalah pada kemampuan untuk menterjemahkan ilmu dan teknologi
sebagai ukuran interaksi yang dibentuk dari esensi-esensi kemampuan komunikasi sosial
yang berada dalam skala yang paling rendah. Hal tersebut sebenarnya lebih mengarahkan
pada lingkungan kodrati anak karena keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh anak
sebagai wujud untuk berekspresi sebagaimana orang dewasa. Faktor keterbatasan
kemampuan dikarenakan anak berada pada proses pertumbuhan, proses belajar, dan
proses sosialisasi dari akibat usia yang belum dewasa yang disebabkan daya nalar atau
akal dan kondisi fisik dalam pertumbuhan atau mental spiritual yang berada dibawah
kelompok orang dewasa.[4])

3. Aspek ekonomi

Status anak sering dikelompokan pada golongan yang non produktif. Jika terdapat
kemampuan ekonomi yang persuasif pada kelompok anak, kemampuan tersebut
dikarenakan anak mengalami transformasi finansial yang disebabkan dari terjadinya
interaksi dalam lingkungan keluarga. Pengertian anak dalam bidang ekonomi adalah
elemen yang mendasar untuk menciptakan kesejahteraan anak dalam suatu konsep
normatif, agar status anak tidak menjadi korban (victim) dari ketidakmampuan ekonomi
keluarga, masyarakat, bangsa, dan Negara.

Namun kesejahteraan anak diperoleh dari faktor internal dari anak itu sendiri maupun
faktor eksternal dari keluarga anak itu.[5])

B. Anak Didik Pemasyarakatan

Anak didik pemasyarakatan menurut Pasal 1 ayat 8 Undang-Undang Pemasyarakatan,


terdiri dari :

1). Anak Pidana, yaitu anak yang berdasarkan keputusan pengadilan menjalani pidana di
Lembaga Pemasyarakatan anak paling lama sampai berumur 18 (delapan belas) tahun.

Darwan Prinst mengatakan : hak-hak anak pidana adalah sebagai berikut :[6])

1. Berhak melakukan ibadah sesuai dengan agama atau kepercayaannya.


2. Berhak mendapatkan perawatan baik perawatan rohani maupun jasmani.
3. Berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran.
4. Berhak mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan yang layak.
5. Berhak menyampaikan keluhan.
6. Berhak mendapatkan bahan bacaan dan mengikuti siaran media massa lainnya
yang tidak dilarang.
7. Berhak menerima kunjungan keluarga, penasihat hukum, atau orang tertentu
lainnya.
8. Berhak mendapatkan pengurangan masa pidana (remisi).
9. Berhak mendapatkan kesempatan berasimilasi termasuk cuti mengunjungi
keluarga.
10. Berhak mendapatkan pembebasan bersyarat.
11. Berhak mendapatkan cuti menjelang bebas.
12. Berhak mendapatkan hak-hak lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
2). Anak Negara, yaitu anak yang berdasarkan putusan pengadilan diserahkan kepada
Negara untuk dididik. Untuk itu anak Negara ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan
anak paling lama sampai berumur 18 (delapan belas) tahun.

Hak-hak anak Negara adalah sama dengan hak-hak anak pidana namun anak Negara
tidak berhak mendapatkan upah atau premi atas pekerjaan yang dilakukannya dan juga
tidak berhak mendapatkan pengurangan masa pidana (remisi), karena anak Negara tidak
dipidana.

3). Anak Sipil, yaitu anak yang tidak mampu lagi dididik oleh orang tua, wali, atau orang
tua asuhnya dan karenanya atas penetapan pengadilan ditempatkan di Lembaga
Pemasyarakatan Anak untuk dididik dan dibina sebagaimana mestinya. Pasal 384
KUHPerdata mengatakan dasar permintaan menempatkan si anak menjadi anak sipil
haruslah berdasarkan alasan-alasan yang sungguh-sungguh merasa tidak puas atas
kelakuan si belum dewasa.

Anak sipil tidak berhak mendapatkan upah atau premi atas pekerjaan yang dilakukannya,
karena anak belum boleh bekerja. Demikian juga tidak berhak mendapatkan pengurangan
masa pidana (remisi) karena anak sipil bukan dipidana, selanjutnya juga tidak berhak
mendapatkan pembebasan bersyarat maupun cuti menjelang bebas.

C. Kesejahteraan Anak dan Hak-hak Anak

Kesejahteraan Anak adalah suatu tata kehidupan anak yang dapat menjamin pertumbuhan
dan perkembangannya dengan wajar, baik secara rohani, jasmani, maupun sosial.

Undang-Undang Kesejahteraan Anak menguraikan tentang adanya jaminan atas hak-hak


anak, jaminan atas hak-hak anak tersebut dimaksudkan untuk memberikan perlindungan
hukum dan kesejahteraan bagi anak-anak agar mereka nantinya dapat tumbuh dan
berkembang secara wajar sesuai dengan usianya.

Mengenai perlindungan anak, baik dalam lingkup sosial dan hukum, ada beberapa hak
yang perlu diperhatikan yaitu sebagai berikut:

1. Hak untuk pengayoman

Artinya hak untuk dilindungi dan mendapat rasa aman, kepentingan hak asasinya
terjamin bahkan diusahakan dan dikembangkan, sehingga dapat mencapai pertumbuhan
mental, fisik dan sosial yang maksimal yang melindungi harus mendapat dan merasa
dirinya dapat perlindungan dalam menjalankan kegiatan perlindungan sebagai tugasnya,
bahkan mendapat dukungan dari anggota masyarakat dan pemerintah.

2. Hak untuk berusaha bersama

Yaitu hak untuk melakukan kegiatan perlindungan, kegiatan yang menjadi tanggung
jawab bersama dari pihak-pihak yang dilindungi.
Dalam perlindungan ini haruslah ada pengertian antara pihak yang bersangkutan agar
mencapai hasil yang baik. Pihak yang dilindungi harus diyakinkan bahwa ia juga ikut
serta dalam kegiatan perlindungan anak ini dengan berusaha sendiri sesuai dengan
kemampuannya. Kegiatan perlindungan ini bukan monopoli seseorang atau badan atau
organisasi swasta maupun pemerintah.

Anak perlu dihindarkan dari perbuatan pidana yang dapat mempengaruhi perkembangan
fisik mental dan rohaninya tersebut, menyadari kenyataan yang demikian, norma sosial,
moral atau etika dan norma hukumnya memberikan perlindungan demikian khusus
kepada anak, karena apabila dilakukan terhadap orang dewasa tidak dikualifikasikan
sebagai tindak pidana atau pelanggaran hukum tetapi apabila dilakukan terhadap anak itu
menjadi tindak pidana.[7])

Undang-Undang Kesejahteraan Anak mengatur tentang hak-hak anak atas kesejahteraan,


yaitu sebagai berikut :

1. Hak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan

Anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan, dan bimbingan berdasarkan kasih
sayang baik dalam keluarga maupun asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang.

Asuhan adalah berbagai upaya yang dilakukan kepada anak yang tidak mempunyai orang
tua dan terlantar, anak terlantar dan anak yang mengalami masalah kelainan yang bersifat
sementara sebagai pengganti orang tua atau keluarga agar dapat tumbuh dan berkembang
dengan wajar, baik secara rohani, jasmani maupun sosial.

1. Hak atas pelayanan

Anak berhak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan kehidupan


sosialnya sesuai dengan kebudayaan dan kepribadian bangsa untuk menjadi warga
Negara yang baik dan berguna.

1. Hak atas pemeliharaan dan perlindungan

Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan, baik semasa dalam kandungan maupun
sesudah dilahirkan.

1. Hak atas perlindungan lingkungan hidup

Anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan
atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar.

1. Hak mendapat pertolongan pertama

Dalam keadaan yang membahayakan, anaklah yang pertama-tama berhak mendapatkan


pertolongan dan bantuan serta perlindungan.
1. Hak memperoleh asuhan

Anak yang tidak mempunyai orang tua berhak memperoleh asuhan oleh Negara atau
orang atau badan lain. Dengan demikian anak yang tidak mempunyai orang tua dapat
tumbuh dan berkembang secara wajar baik jasmani, rohani, maupun sosial.

1. Hak memperoleh bantuan

Anak yang tidak mampu berhak memperoleh bantuan, agar dalam lingkungan
keluarganya dapat tumbuh dan berkembang dengan wajar. Menurut Peraturan Pemerintah
No. 2 Tahun 1988 tentang usaha kesejahteraan anak bagi yang mempunyai masalah
bahwa bantuan itu bersifat tidak tetap dan diberikan dalam jangka waktu tertentu kepada
anak yang tidak mampu.

1. Hak diberi pelayanan dan asuhan

Anak yang mengalami masalah kelakuan diberi pelayanan dan asuhan yang bertujuan
mendorong guna mengatasi hambatan yang terjadi dalam masa pertumbuhan dan
perkembangannya. Pelayanan dan asuhan itu diberikan kepada anak yang telah
dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran hukum berdasarkan keputusan hakim.

1. Hak memperoleh pelayanan khusus

Anak cacat berhak memperoleh pelayanan khusus untuk mencapai tingkat pertumbuhan
dan perkembangan sejauh batas kemampuan dan kesanggupannya. Menurut Peraturan
Pemerintah No. 2 tahun 1980 berbagai upaya dilaksanakan untuk memulihkan dan
mengembangkan anak cacat agar dapat tumbuh dan berkembang dengan wajar baik
secara rohani, jasmani, maupun sosial.

10. Hak mendapat bantuan dan pelayanan

Anak berhak mendapat bantuan dan pelayanan yang bertujuan mewujudkan


kesejahteraan anak menjadi hak setiap anak, tanpa membedakan jenis kelamin, agama,
pendidikan, dan kedudukan sosial.

D. Arti dan Fungsi Lembaga Pemasyarakatan Anak

Lembaga Pemasyarakatan Anak adalah tempat pendidikan dan pembinaan bagi Anak
Pidana, Anak Negara, dan Anak Sipil. Pasal 60 Undang-Undang Pengadilan Anak
menyatakan bahwa : “Anak didik pemasyarakatan ditempatkan di Lembaga
Pemasyarakatan Anak yang harus terpisah dari orang dewasa”.

Anak pidana yang belum selesai menjalani masa pidananya di Lembaga Pemasyarakatan
Anak dan telah berusia 18 (delapan belas) tahun akan tetapi belum berusia 21 (dua puluh
satu) tahun dipindahkan dari Lembaga Pemasyarakatan Anak ke Lembaga
Pemasyarakatan.
Pemasyarakatan berarti bahwa suatu kegiatan untuk melakukan pembinaan bagi warga
binaan pemasyarakatan berdasarkan sistem kelembagaan dan cara pembinaan yang
merupakan bagian akhir dari sistem pemidanaan dalam tata peradilan pidana (Pasal 1 ayat
1 Undang-Undang Pemasyarakatan).

Sistem Pemasyarakatan berarti suatu tatanan mengenai arah dan batas serta cara
pembinaan warga binaan pemasyarakatan berdasarkan Pancasila yang dilaksanakan
secara terpadu antara pembinaan, binaan (yang dibina) dan masyarakat untuk
meningkatkan kualitas warga binaan pemasyarakatan agar menyadari kesalahan,
memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali
oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan dan dapat hidup
secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggungjawab.

Sistem Pemasyarakatan berfungsi menyiapkan warga binaan pemasyarakatan agar dapat


berintegrasi secara sehat dengan masyarakat, sehingga dapat berperan kembali sebagai
anggota masyarakat yang bebas dan bertanggungjawab.

BAGIAN III

PEMBINAAN ANAK DIDIK PEMASYARAKATAN

DI RUMAH TAHANAN KLAS 1 A BANDUNG

DIHUBUNGKAN DENGAN UNDANG-UNDANG

NO. 4 TAHUN 1979 TENTANG KESEJAHTERAAN ANAK

A. Akibat dari Pelaksanaan Pembinaan Anak Didik Pemasyarakatan di RUTAN


Klas I A Bandung

Sistem pemasyarakatan bertujuan untuk mengembalikan warga binaan pemasyarakatan


sebagai warga yang baik dan untuk melindungi masyarakat terhadap kemungkinan
diulanginya tindak pidana oleh warga binaan serta merupakan penerapan dan bagian yang
tidak terpisahkan dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Sistem
pemasyarakatan menitikberatkan pada usaha perawatan, pembinaan, pendidikan, dan
bimbingan bagi warga binaan dan masyarakat.

RUTAN berdasarkan ketentuan Pasal 19 ayat (1) PP Pelaksanaan KUHAP mempunyai


kewenangan sebagai lembaga untuk menempatkan tahanan yang masih dalam proses
penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, dan
Mahkamah Agung, yang berfungsi juga sebagai tempat untuk pembinaan warga binaan
pemasyarakatan.

RUTAN mempunyai tugas dan wewenang yang sama dengan lembaga pemasyarakatan
yaitu menampung, merawat, dan membina para warga binaan, sehingga fungsi RUTAN
pada saat ini tidak hanya sebagai tempat pembinaan bagi tahanan dari tingkat penyidikan,
penuntutan, maupun pemeriksaan di sidang pengadilan melainkan juga sebagai tempat
pembinaan bagi Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan. Hal ini dapat ditemukan
secara nyata di RUTAN Klas 1 A Bandung, di mana dari hasil penelitian penulis
ditemukan bahwa di RUTAN Klas 1 A Bandung terdapat juga Narapidana atau Anak
Didik Pemasyarakatan yang telah divonis oleh pengadilan, yang bahkan vonisnya ada
yang mencapai bertahun-tahun.

Pihak RUTAN sesuai dengan fungsinya tersebut di atas tidak dapat disalahkan telah
melanggar ketentuan yang terdapat dalam Pasal 60 ayat (1) Undang-Undang Pengadilan
Anak di mana dinyatakan bahwa Anak Didik Pemasyarakatan ditempatkan di lembaga
pemasyarakata anak yang harus terpisah dari orang dewasa, karena mengingat pada
zaman sekarang ini telah banyak dan semakin meningkatnya angka kriminalitas yang
secara otomatis meningkat pula jumlah Narapidana/Anak Didik Pemasyarakatan
sedangkan sarana Lembaga Pemasyarakatan yang sudah ada tidak cukup untuk
menampung sekian banyak Narapidana/Anak Didik Pemasyarakatan, apalagi di Kota
Bandung ini belum terdapat Lembaga Pemasyarakatan Anak.

Pelaksanaan pembinaan pemasyarakatan di RUTAN Klas 1 A Bandung yang didasarkan


atas prinsip-prinsip sistem pemasyarakatan untuk merawat, membina, mendidik dan
membimbing Anak Didik Pemasyarakatan dengan tujuan agar Anak Didik
Pemasyarakatan tersebut menjadi anak yang baik dan berguna tidak dapat dicapai dengan
efektif dan efisien. Hal ini dapat dilihat dari alasan-alasan sebagai berikut :

1. Anak Didik Pemasyarakatan ditempatkan dalam kamar hunian yang terpisah


dengan Narapidana/Tahanan dewasa, tetapi pada rutinitas harian/aktivitas sehari-
hari Anak Didik Pemasyarakatan bersatu dengan Narapidana/Tahanan dewasa,
sehingga hal ini tidak sesuai dengan tujuan pengadilan anak.

1. Dengan disatukannya Anak Didik Pemasyarakatan dengan Narapidana/tahanan


dewasa, menyebabkan hak anak tidak dapat terpenuhi, yaitu mengenai hak anak
atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau
menghambat pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar. Bersatunya Anak
Didik Pemasyarakatan dan Narapidana/Tahanan dewasa dapat menimbulkan efek
psikologis anak terganggu, anak dapat terpengaruhi oleh perilaku-perilaku buruk
dari Narapidana/Tahanan dewasa tersebut mengingat anak berada pada proses
pertumbuhan, proses belajar, dan proses sosialisasi dari akibat usia yang belum
dewasa yang disebabkan daya nalar atau akal dan kondisi fisik dalam
pertumbuhan atau mental spiritual yang berada dibawah kelompok orang dewasa.

1. Anak dapat menjadi sasaran/objek tindak pidana yang dilakukan


Narapidana/tahanan dewasa, yaitu misalnya dapat terjadi tindak pidana
pencabulan, pemerasan, dan sebagainya, sehingga hak anak atas perlindungan
dari tindak pidana tidak dapat tercapai, keadaan yang demikian sangat
bertentangan dengan tujuan kesejahteraan anak yaitu untuk menjamin
pertumbuhan dan perkembangan dengan wajar, baik secara rohani, jasmani
maupun sosial.
1. Sejumlah Anak Didik Pemasyarakatan yang ditempatkan terlalu lama di dalam
RUTAN dapat menjadi lebih rusak perilakunya dibandingkan dengan keadaan-
keadaan pada saat Anak Didik Pemasyarakatan tersebut masuk dalam RUTAN,
hal ini dapat disebabkan karena terpengaruhnya Anak Didik Pemasyarakatan
tersebut oleh kelakuan Narapidana/Tahanan dewasa.

1. Walaupun anak telah dapat menentukan sendiri langkah perbuatannya


berdasarkan pikiran, perasaan, dan kehendaknya tetapi karena satu dan lain hal,
anak tersebut tidak mempunyai kesempatan memperoleh perhatian baik secara
fisik, mental, maupun sosial. Karena keadaan diri yang tidak memadai tersebut,
maka sengaja maupun tidak sengaja anak dapat terpengaruhi dan mudah terseret
dalam arus pergaulan dan lingkungannya yang kurang sehat, dalam hal ini
pergaulan dengan Narapidana/Tahanan dewasa sehingga dapat merugikan
perkembangan pribadinya.

B. Kendala dalam Melaksanakan Pembinaan Anak Didik Pemasyarakatan di


RUTAN Klas 1 A Bandung

Bertitik tolak dari tujuan pelaksanaan pembinaan terhadap Anak Didik Pemasyarakatan
di RUTAN Klas 1 A Bandung yakni mempersiapkan untuk kembali ke masyarakat dan
memberikan bekal untuk hidup bermasyarakat dengan cara diadakan pembinaan (mental,
sosial, dan keterampilan).

Dalam pelaksanaan pembinaan tersebut di atas, ditemukan berbagai kendala yang


dihadapi oleh petugas dalam rangka mengayomi serta memasyarakatkan Anak Didik
Pemasyarakatan sebagai warga binaan, yaitu sebagai berikut :

1. Kurangnya sarana dan prasarana untuk menempatkan warga binaan. RUTAN


Klas 1 A Bandung di bangun dengan kapasitas penghuni 800 (delapan ratus)
orang, namun kenyataan yang ada RUTAN ini dihuni oleh 2475 (dua ribu empat
ratus tujuh puluh lima) orang dengan jumlah kamar sebanyak 49 (empat puluh
sembilan) kamar. Sehingga penempatkan warga binaan khususnya Anak Didik
Pemasyarakatan tidak sesuai dengan kapasitasnya.
2. Fasilitas dana pengayoman serta pemasyarakatan (pembinaan warga binaan
sangat terbatas).

Berbicara soal dana memang sangat riskan namun dalam teknis pelaksanaannya dana
merupakan faktor yang sangat menentukan berhasil atau tidaknya suatu kegiatan, apalagi
menyangkut masalah pengayoman yang meliputi pembinaan dalam bidang keterampilan
karena pembinaan keterampilan ini yang sangat memerlukan dana banyak, sehingga
sering terjadi kekurangan dana misalnya dana yang seharusnya disediakan untuk 1 (satu)
tahun kegiatan pembinaan keterampilan ternyata hanya 3 (tiga) bulan dipergunakan sudah
habis.

1. Kurangnya tenaga ahli


Tujuan pemidanaan adalah mengandung berbagai aspek kehidupan meliputi nilai-nilai
yang bersifat yuridis, sosiologis , ekonomis, religius, serta psikologis untuk itu diperlukan
tenaga-tenaga ahli sesuai dengan bidang di atas. Akan tetapi di RUTAN Klas 1 A
Bandung tenaga ahli yang dimaksud sangat terbatas.

1. Program pembinaan memerlukan waktu dan proses yang lama sehingga banyak
warga binaan/Anak Didik Pemasyarakatan menjadi jenuh dan akhirnya tidak
serius dalam melaksanakan kegiatan pembinaan.
2. Penunjukan petugas jaga dalam rangka melaksanakan kegiatan pembinaan tidak
didasarkan pada kemampuan petugas jaga, sehingga dalam pelaksanaannya
menjadi terhambat karena petugas jaga yang bersangkutan kurang memahami
tentang konsep pembinaan yang harus diterapkan, hal ini disebabkan karena
kurangnya tenaga ahli.

BAGIAN V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Pelaksanaan pembinaan terhadap Anak Didik Pemasyarakatan di RUTAN Klas 1


A Bandung yang didasarkan atas prinsip-prinsip sistem pemasyarakatan untuk
merawat, membina, mendidik dan membimbing Anak Didik Pemasyarakatan
dengan tujuan agar Anak Didik Pemasyarakatan tersebut menjadi anak yang baik
dan berguna tidak dapat dicapai dengan efektif dan efisien, karena dengan
disatukannya Anak Didik Pemasyarakatan dengan Narapidana/tahanan dewasa,
menyebabkan hak anak tidak dapat terpenuhi, yaitu mengenai hak atas
perlindungan terhadap lingkungan hidup. Anak dapat menjadi sasaran/objek
tindak pidana yang dilakukan Narapidana/tahanan dewasa, yaitu misalnya dapat
terjadi tindak pidana pencabulan, pemerasan, dan sebagainya, sehingga hak anak
atas perlindungan dari tindak pidana tidak dapat tercapai, keadaan yang demikian
sangat bertentangan dengan tujuan kesejahteraan anak yaitu untuk menjamin
pertumbuhan dan perkembangan dengan wajar, baik secara rohani, jasmani
maupun sosial.
2. Kendala yang dihadapi oleh RUTAN Klas I A Bandung dalam rangka
mengayomi serta memasyarakatkan Anak Didik Pemasyarakatan sebagai warga
binaan, yaitu kurangnya sarana dan prasarana dalam pelaksanaan pembinaan,
kurangnya tenaga ahli, Sumber Daya Manusia yang kurang berkualitas, dan
Fasilitas dana pengayoman serta pemasyarakatan (pembinaan warga binaan
sangat terbatas), jumlah petugas jaga yang tidak sesuai dengan jumlah warga
binaan.

B. Saran
Saran yang penulis sampaikan adalah sebagai berikut :

1. Sistem pemasyarakatan harus lebih ditekankan pada aspek pembinaan anak didik
pemasyarakatan yang mempunyai ciri-ciri preventif, kuratif, rehabilitatif, dan
edukatif.
2. Perlu adanya pemisahan Anak Didik Pemasyarakatan dan Narapidana/tahanan
dilihat dari segi umur.
3. Mendidik dan melatih para petugas jaga yang akan bertugas dalam rangka
pelaksanaan pembinaan sesuai dengan asas pengayoman.

Referensi

Sumber Buku :

Darwan Prinst, Hukum Anak Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997.

Hari Setia Tunggal, Undang-Undang Pemasyarakatan beserta pengaturan


Pelaksanaannya, Jakarta, 2000.

Maulana Hasan Wadong, Pengantar Advokasi dan Hukum Perlindungan Anak, Grasindo,
Jakarta.

P.A.F. Lamintang, Hukum Penitensier Indonesia, Armico, Bandung, 1984.

Romli Atmasasmita, Problematika Kenakalan Anak-anak Remaja, Armico, Bandung,


1990.

_______________, Strategi Pembinaan Pelanggaran Hukum Dalam Konteks Penegakan


Hukum di Indonesia, Alumni, Bandung, 1984.

Sahardjo, Pohon Beringin Pengayoman, Rumah Pengayoman, Sukamiskin, Bandung,


1964.

Saparinah Padli, Persepsi Sosial mengenai Perilaku Menyimpang, Bulan Bintang,


Jakarta, 1986.

Sofjan Sastrawidjaja, Hukum Pidana Asas Hukum Pidana sampai dengan Alasan
Peniadaan Pidana, Armico, Bandung, 1955.

Sumber Perundang-undangan :

Undang-Undang Nomor 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.

Undang-Undang Nomor 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan.

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak.


Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak.

[1]) Romli Atmasasmita, Problematika Kenakalan Anak-anak Remaja, Armico, Bandung,


1990, hlm. 48.

[2]) Soerojo Wongjadipoetro, Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat, 1987, hlm.
12.

[3]) Hadi Setia Tunggal, Undang-Undang Pemasyarakatan Beserta Pengaturan


Pelaksanaannya, Harfindo, Jakarta, 2000, hlm. 8.

[4]) Maulana Hasan Wadong, Pengantar Advokasi dan Hukum Perlindungan Anak,
Grasindo, Jakarta, hlm. 12.

[5]) Ibid. hlm. 13.

[6]) Darwan Prinst, Hukum Anak Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997,
hlm. 36.

[7]) Ibid. hlm. 100


Victimologi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Pengertian Viktimologi
Secara etimologi, victimologi berasal dari kata “Victim” yang berarti
korban dan “Logos” yang berarti ilmu pengetahuan. Dalam pengertian
terminology, victimologi adalah studi yang mempelajari tentang
korban, penyebab terjadinya korban/timbulnya korban dan akibat-
akibat penimbulan korban yang merupakan masalah manusia sebagai
suatu kenyataan social.
Yang dimaksud dengan korban dan yang menimbulkan korban dapat
berupa individu, kelompok, korporasi, swasta atau pemerintah.
Sedangkan yang dimaksud dengan akibat penimbulan korban adalah
sikap atau tindakan terhadap korban dan atau pihak pelaku serta
mereka yang secara langsung atau tidak terlibat dalam terjadinya
suatu kejahatan. Dan dalam kamus ilmu pengetahuan social
disebutkan bahwa victimologi adalah studi tentang tingkah laku victim
sebagai salah satu penentu kejahatan.
Pendapat Arif Gosita mengenai pengertian victimologi ini sangat luas,
sebab dan kenyataan sosial yang dapat disebut sebagai korban tidak
hanya korban perbuatan pidana (kejahatan) saja tetapi dapat korban
bencana alam, korban kebijakan pemerintah dan lain-lain.
Perumusan ini membawa akibat suatu victimisasi yang harus dipahami
sebagai berikut:
a. Korban akibat perbuatan manusia, korban akibat perbuatan
manusia dapat menimbulkan perbuatan kriminal misalnya: korban
kejahatan perkosaan, korban kejahatan politik. Dan yang bukan
bersifat kriminal (perbuatan perdata) misalnya korban dalam bidang
Administratif, dan lain sebagainya;
b. Korban di luar perbuatan manusia, korban akibat di luar perbuatan
manusia seperti bencana alam dan lain sebagainya.
B. Tujuan dan Manfaat Victimologi
Sebagaimana diketahui bahwa viktimologi juga merupakan sarana
penanggulangan kejahatan/ mengantisipasi perkembangan
kriminalitas dalam masyarakat. sehingga viktimologi sebagai sarana
penanggulangan kejahatan juga masuk kedalam salah satu proses
Kebijakan Publik.
Antisipasi kejahatan yang dimaksud meliputi perkembangan atau
frekuensi kejahatan, kualitas kejahatan, intensitas kejahatandan
kemungkinan munculnya bentuk-bentuk kejahatan baru.
Konsekuensi logis dari meningkatnya kejahatan atau kriminalitas
adalah bertambahnya jumlah korban, sehingga penuangan kebijakan
yang berpihak kepada kepentingan korban dan tanpa
mengenyampingkan pelaku mutlak untuk dilakukan, sehingga studi
tentang viktimologi perlu untuk dikembangkan.
Adanya ungkapan bahwa seseorang lebih mudah membentengi diri
untuk tidak melakukan perbuatan yang melanggar hukum dari pada
menghindari diri dari menjadi korban kejahatan. Dalam merespon arti
pentingnya studi tentang korban telah dikembangkan setiap tiga tahun
sekali symposium internasional tentang victimologi yaitu: Firs
International symposium on victimologi. Tahun 1973 di Yerussalem
adalah simpusium pertama, bahkan PBB telah menyelenggarakan
beberapa kali konggres mengenai “The preventionof of crime and the
treatment of offender” antara lain konggres keenam pada tahun 1980
di caracas.
Selain kajian-kajian ilmiah di forum internasional telah pula dilakukan
beberapa riset tentang korban di berbagai Negara dan pula telah
dibentuk beberapa lembaga-lembaga atau klinik korban sebagai
bentuk kepedulian terhadap korban seperti salah satu contoh di
Malaysia (one shof center).
Arif Gosita merumuskan beberapa manfaat dari studi mengenai korban
antara lain:
1. Dengan viktimologi akan dapat diketahui siapa korban, hal-hal yang
dapat menimbulkan korban, viktimisasi dan proses viktimisasi;
2. Viktimologi memberikan sumbangan pemikiran tentang korban,
akibat tindakan manusia yang telah menimbulkan penderitaan fisik,
mental dan social;
3. melalui studi victimologi akan memberikan pemahaman kepada
setiap individu mengenai hak dan kewajibannya dalam rangka
mengantisipasi berbagai bahaya yang mengancamnya;
4. viktimologi memberikan sumbangan pemikiran mengenai masalah
viktimisasi tidak langsung, dampak social polusi industri, viktimisasi
ekonomi, politik dan penyalahgunaan kewenangan.
5. viktimologi memberikan dasar pemikiran dalam penyelesaian
viktimisasi criminal atau factor victimogen dalam sistem peradilan
pidana.
Dari uraian di atas pada dasarnya ada tiga hal pokok berkenaan
dengan manfaat studi tentang korban yaitu:
1) manfaat yang berkenaan dengan usaha membela hak-hak korban
dan perlindungan hukumnya;
2) manfaat yang berkenaan dengan penjelasan tentang peran korban
dalam suatu tindak pidana, dan
3) manfaat yang berkenaan dengan usaha pencegahan terjadinya
korban.

Peran Korban
Dalam symposium victimologi yang pertama di Yerusalem tahun 1973
NAGEL melaporkan bahwa victimologi dewasa ini merupakan gagasan
atau pemikiran baru dalam kriminologi, karena telah terjadi
pergeseran pemikiran yang tidak lagi melihat kejahatan melalui studi
“Factor Criminoligy” akan tetapi mengarah pada “Criminologi of
Relationship”.

Untuk melihat peran, karateristik pelaku dan korban kejahatan,


CARROL mengajukan rumus yang cukup popular dengan pendekatan
rasional analitis. Menurutnya kejahatan adalah realisasi keputusan
yang diambil dengan turut mempertimbangkan beberapa factor antara
lain SU (Subyektife Utility), p(S)(Probability of Success), G (Gain),
p(F) (Probability of Fail) dan L (Loss).
Sehingga Carrol Menggambarkan dengan Rumus:

SU= (p(S)xG)-(p(F)xL)
Dari rumus diatas dapat dijelaskan bahwa seseorang yang akan
melakukan kejahatan harus mempertimbangkan beberapa hal yang
seanjutnya kan menghasilkan keputusan, apakah ia akan melakukan
tindak pidana ataukah tidak. Inilah yang dimaksud dengan Subyektive
Utility (SU)
Hal-hal yang harus dipertimangkan adalah:
p(S) = seberapa besarϖ kemungkinan keberhasilan rencana
kejahatan
G (Gain) = seberapa besarϖ keuntungan (materi/kepuasan)yang
akan diperoleh;
p(F) = seberapa besarϖ kemungkinan gagalnya rencana kejahatan
dan;
L (Loss) = seberapa besarϖ kerugian yang akan diderita manakala
kejahatan yang dilakukan gagal dan tertangkap.

Jika rumus di atas dianalisis dengan optik korban, akan nampak bahwa
factor p(S) dan p(F) sebagaian besar terletak pada korban artinya
berhasil atau tidaknya rencana kejahatan tergantung pada keadaan
diri ataupun tipologi calon korban.
Dengan meminjam istilah Manheim yang menggambarkan adanya
laten Victim (Mereka yang cenderung menjadi korban dibandingkan
orang lain,misalnya wanita, anak-anakdan manula) maka pelaku akan
merasa optimis akan keberhasilan dari kejahatanya.

Sedangkan factor Gain terlihat pada sikap korban yang senang dengan
gaya hidup mewah dan pamer materi yang lebih menjurus pada
peningkatan daya tarik atau rangsang, sehingga pelaku kejahatan
dengan cara dini sudah dapat memperkirakan besarnya keuntungan
yang akan diperoleh.
C. Sejarah Perkembangan Viktimologi
D. Posisi Victimologi Dalam Hukum Pidana

Pengertian Korban
Korban tidak saja dipahami sebagai obyek dari suatu kejahatan tetapi
juga harus dipahami sebagai subyek yang perlu mendapat
perlindungan secara social dan hukum . pada dasarnya korban adalah
orang baik, individu, kelompok ataupun masyarakat yang telah
menderita kerugian yang secara langsung telah terganggu akibat
pengalamannya sebagai target dari kejahatan subyek lain yang dapat
menderita kerugian akibat kejahatan adalah badan hukum.
Bila hendak membicarakan mengenai korban, maka seyogyanya dilihat
kembali pada budaya dan peradaban Ibrani kuno. Dalam peradaban
tersebut, asal mula pengertian korban merujuk pada pengertian
pengorbanan atau yang dikorbankan, yaitu” mengorbankan seseorang
atau binatang untuk pemujaan atau hirarki kekuasaan”.
Selama beberapa abad, pengertian korban menjadi berubah dan
memiliki makna yang lebih luas. Ketika viktimologi pertama kali
ditemukan yaitu pada tahun 1940-an, para ahli viktimologi seperti
Mendelshon, Von Hentig dan Wolfgang cenderung mengartikan korban
berdasarkan text book dan kamus yaitu ”orang lemah yang membuat
dirinya sendiri menjadi korban”.
Pemahaman seperti itu ditentang habis-habisan oleh kaum feminist
sekitar tahun 1980-an, dan kemudian mengubah pengertian korban
yaitu “setiap orang yang terperangkap dalam suatu hubungan atau
situasi yang asimetris. Asimetris disini yaitu segala sesuatu yang tidak
imbang, bersifat ekploitasi, parasitis (mencari keuntungan untuk pihak
tertentu), merusak, membuat orang menjadi terasing, dan
menimbulkan penderitaan yang panjang”.
Istilah korban pada saat itu merujuk pada pengertian “setiap orang,
kelompok, atau apapun yang mengalami luka-luka, kerugian, atau
penderitaan akibat tindakan yang bertentangan dengan hukum.
Penderitaan tersebut bias berbentuk fisik, psikologi maupun ekonomi”.

Kamus umum bahasa Indonesia menyebutkan kata korban


mempunyai pengertian:”korban adalah orang yang menderita
kecelakaan karena perbuatan (hawa nafsu dan sebagainya)sendiri
atau orang lain”.
Pengertian korban menurut Arif Gosita adalah mereka yang menderita
jasmani dan rohani sebagai tindakan orang lain yang mencari
pemenuhan kepentingan diri sendiri atau orang lain yang bertentangan
dengan kepentingan dan hak asasi yang menderita. Pengertian yang
disampaikan oleh Arif Gosita tersebut sudah diperluas maknanya, tidak
hanya untuk perorangan tetapi berlaku bagi subyek hukum yang lain,
seperti badan hukum, kelompok masyarakat dan korporasi. Timbulnya
korban erat kaitanya dengan kejahatan.
Sahetapy memberikan pengertian korban tidak hanya dibatasi sebagai
korban kejahatan saja, karena dari sebab timabulnya dan akibat yang
ada mempunyai aspek yang luas dilihat dari beberapa segi, hal ini
dapat dilihat pendapatnya mengenai korban yaitu:
“korban adalah orang perorangan atau badan hukum yang menderita
luka-luka, kerusakan atau bentuk-bentuk kerugian lainnya yang
dirasakan, baik secara fisik maupun secara kejiwaan. Kerugian
tersebut tidak hanya dilihat dari sisi hukum saja, tetapi juga dilihat
dari segi ekonomi, politik maupun social budaya. Mereka yang menjadi
korban dalam hal ini dapat dikarenakan kesalahan si korban itu
sendiri, peranan korban secara langsung atau tidak langsung, dan
tanpa adanya peranan dari si korban.

Van Boven merujuk pada Deklarasi Prinsip-prinsip Dasar Keadilan bagi


korban Kejahatan dan penyalahgunaan kekuasaan (Declaration of
basic Principle of justice for victim of crime and abuse of power) yang
mendefinisikan korban adalah:
Orang yang secara individual maupun kelompok telah menderita
kerugian, termasuk cedera fisik maupun mental, penderitaan
emosional, kerugian ekonomi atau perampasan yang nyata terhadap
hak-hak dasarnya, baik kerana tindakan (by act) maupun karena
kelalaian (by omission).

Berdasarkan pada beberapa pengertian tersebut diatas, pengertian


korban bukan hanya untuk manusia saja atau perorangan saja, akan
tetapi dapat berlaku juga bagi badan hukum, badan usaha, kelompok
organisasi maupun Negara. Perluasan pengertian subyek hukum
tersebut karena badan hukum atau kelompok tersebut melaksanakan
hak dan kewajiban yang dilindungi oleh hukum atau dengan kata lain
subyek hukum tersebut dapat merasakan penderitaan atau kerugian
atas kepentingan yang dimiliki akibat perbuatan sendiri atau pihak lain
seperti yang dirasakan oleh manusia.
Rancangan Deklarasi dan Resolusi Konggres PBB ke-7 yang kemudian
menjadi Resolusi MU-PBB 40/34, bahwa yang dimaksud dengan
korban adalah orang-orang, baik secara individual maupun kolektif,
yang menderita kerugian akibat perbuatan (tidak berbuat) yang
melanggar hukum pidana yang berlaku di suatu Negara, termasuk
peraturan-peraturan yang melarang penyalahgunaan kekuasaan.
Perlu dicatat, bahwa pengertian kerugian (Harm) menurut Resolusi
tersebut, meliputi kerugian fisik maupun mental (Physical or mental
injury), penderitaan emosional (emotional suffering), kerugian
ekonomi (economic loss) atau perusakan substansial dari hak-hak
asasi manusia mereka (substantial impairment of theirfundamental
rights). Selanjutnya dikemukakan bahwa seseorang dapat di
pertimbangkan sebagai korban tanpa melihat apakah sipelaku
kejahatan itu sudah diketahui, ditahan, dituntut, atau dipidana dan
tanpa memandang hubungan keluarga antara sipelaku dengan korban.

1. Macam-macam Korban Kejahatan


Telah disempaikan sebelumnya bahwa pengertian korban telah
diperluas sehingga tidak saja mencakup korban dari kejahatan
konvensional, tetapi juga korban non konvensional dan
penyalahgunaan kekuasaan. Pada Kongres PBB kelima tentang
pencegahan kejahatan dan pembinaan pelanggar hukum (Jenewa,
September 1957) telah dijadikan salah satu topic pembicaraan
mengenai New forms and dimension of crime yang meliputi antara lain
crime as business dan economic and social consequences of crime;
new challenges for research and planning. Dalam Konggres tersebut
telah dibicarakan masalah cost of crime yang dikatakan hit most
severely the weaker members of society, permiting the powerful to
commit crimes with impunity.
Konggres PBB ketujuh telah mengelompokkan macam-macam korban
sebagai berikut:
1. Korban kejahatan konvensional adalah korban yang diakibatkan
oleh tindak pidana biasa atau kejahatan biasa misalnya, pembunuhan,
perkosaan, penganiayaan dan lain-lain;
2. Korban non-konvensional adalah korban kejahatan yang diakibatkan
oleh tindak pidana berat seperti terorisme, pembajakan, perdagangan
narkotika secara tidak sah, kejahatan terorganisir dan kejahatan
computer;
3. Korban kejahatan akibat penyalahgunaan kekuasaan (Ilegal abuses
of power) terhadap hak asasi manusia alat penguasa termasuk
penangkapan serta penahanan yang melanggar hukum dan lain
sebagainya.
Pengelompokan atas macam-macam korban tersebut didasarkan atas
perkembangan masyarakat. Terhadap korban kategori ketiga adanya
korban penyalahgunaan kekuasaan berkaitan dengan pelanggaran hak
asasi manusia.
Kemudian sejak viktimologi diperkenalkan sebagi suatu ilmu
pengetahuan yang mengkaji permasalahan korban serta segala
aspeknya, maka wolfgang melalui penelitiannya menemukan bahwa
ada beberapa macam korban yaitu:
1. Primary victimization, adalah korban individual/perorangan bukan
kelompok;
2. Secondary Victimization, korbannya adalah kelompok, misalnya
badan hukum;
3. Tertiary Victimization, yang menjadi korban adalah masyarakat
luas;
4. Non Victimozation, korbannya tidak dapat segera diketahui
misalnya konsumen yang tertipu dalam menggunakan hasil peroduksi.

Uraian mengenai macam-macam korban diatas maka dapat dipahami


bahwa korban pada prinsipnya adalah merupakan orang yang
mengalami penderitaan karena suatu hal yang dilakukan oleh orang
lain, institusi atau lembaga dan structural. Yang dapat menjadi korban
bukan hanya manusia saja, tetapi dapat pula badan hukum atau
perusahaan, Negara, asosiasi, keamanan, kesejahteraan umum dan
agama. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa siapa saja dapat
menjadi korban, dengan kata lain semua orang berpotensi menjadi
korban dan begitu pula sebaliknya semua orang berpotensi untuk
menimbulkan korban.
Tipologi Korban
Untuk memahami peran korban, harus dipahami pula tipologi korban
yang dapat diidentifikasi dari keadaan dan status korban. Tipologi
yang dimaksud adalah sebagai berikut:
a. Unrelated victims, yaitu korban yang tidak ada hubungannya sama
sekali dengan korban, misalnya pada kasus kecelakaan pesawat.
Dalam hal ini tanggungjawab sepenuhnya terletak pada pelaku.
b. Provocative Victims, yaitu seseorang yang secara aktif mendorong
dirinya menjadi korban, misalnya kasus selingkuh, dimana korban juga
sebagai pelaku.
c. Participating Victims, yaitu seseorang yang tidak berbuat tetapi
dengan sikapnya justru mendorong dirinya menjadi korban.
d. Biologically weak Victims, yaitu mereka yang secara fisik memiliki
kelemahan atau potensi untuk menjadi korban, misalnya orang tua
renta, anak-anak dan orang yang tidak mampu berbuat apa-apa.
e. Socially Weak Victims, Yaitu mereka yang memiliki kedudukan
social yang lemah yang menyebabkan mereka menjadi korban,
misalnya korban perdagangan perempuan, dan sebagainya.
f. Self Victimizing, yaitu mereka yang menjadi korban karena
kejahatan yang dilakukannya sendiri, pengguna obat bius, judi, aborsi
dan prostitusi.

Munculnya perhatian terhadap korban dapat dikatakan sebagai reaksi


perimbangan terhadap perhatian yang selama ini selalu ditujukan
kepada pelaku kejahatan (Offender Oriented), padahal bagaimanapun
pertumbuhan dan perkembangan kejahatan tidak dapat dilepaskan
dari masalah korban, yang secara etiologis korbanadalah pihak yang
mengalami kerugian dan sekaligus korban dapat pula memberikan
daya rangsang secara sadar ataupun tidak terhadap pelaku kejahatan.
Kurangnya perhatian terhadap korban nampak jelas pada peran dan
kedudukan korban dalam sistem peradilan pidana SPP. Padahal harus
dipahami bahwa bergeraknya sistem peradilan pidana karena peranan
korban juga. Melihat hal ini Mardjono Reksodiputro mengemukakan :
“sistem peradilan pidana yang sekarang ini berlaku terlalu difokuskan
pada pelaku (menangkap,Menyidik,mengadili dan menghukum pelau)
dan kurang sekali memperhatikan korban. Yang acapkali terjadi adalah
bahwa terlibatnya korban dalam sistem peradilan pidana hanya
menambah trauma dan meningkatkan ketidakberdayaannya serta
prustasi karena tidak diberikan perlindungan dan upaya hukum yang
cukup.SPP yang sekarang ini memang terlalu Offender Centered,
sehingga mengharuskan kita untuk memperbaiki posisi koban dalam
sistem ini agar apa yang diperolehnya tidak hanya kepuasan simbolik.”

Tahapan Proses Perlidungan Korban


Tahap I (Masa Kejayaan/Keemasan hak korban)/ Golden Ege
Dalam tahap ini victim langsung berhadapan dengan offender (Pelaku)
tetapi belum ada pembagian hukum, antara hukum pidana dan hukum
perdata. (Victim Vs Offender)

Tahap II (Tahap Tanggungjawab Negara/Raja)


Dalam tahapan ini, melanggar hak korban berarti melanggar hak
Negara sehingga konsepnya:
Negara Vs Offender / Raja Vs Offender
Artinya kepentingan korban diwakili oleh Negara/raja, korban berada
diluar sistem.

Tahap III (Tahap memberi hak kepada korban untuk memberikan


masukan kepada Negara sebagai wakilnya)
Melanggar hukum pidana berarti melanggar hak Negara namun korban
memiliki hak untuk memberi masukan kepada Negara demi kelancaran
proses pembuktian,
Victim + Negara Vs Offender

Tahap IV (Tahap pertanggungjawaban merata)


Melanggar hukum pidana berarti melanggar hak korban, Negara
sekaligus hak pelaku/offendernya sendiri.

TEORI PERLINDUNGAN KORBAN


Teori Perlindungan Korban ada dua model yaitu:
1. Services Model (SM)
2. Prosedural Right Model (PRM)

Ad.1. Services Model /SM (Model Pelayanan)


Memiliki cirri-ciri sebagai berikut:
1. Victim tidak terlibat dalam proses peradilan pidana
2. polisi dan jaksa adalah aparat Negara yang melayani kepentingan
masyarakat termasuk didalamnya adalah korban (Penegakan hukum)
3. Negara bertanggungjawab terhadap rakyatnya/masyaraktnya
termnasuk dalam menyantuni korban/rakyat.

Legal Reasoning, Kenapa Korban tidak dilibatkan ?


1. Keterlibatan korban akan mengacaukan sistem pelayanan public,
pelayanan terhadap korban adalah bagian dari pelayanan public kalau
korban ikut akan ada kepentingan individu yang masuk
2. bagian dari tugas polisi secara ekplisit adalah bagian dari layanan
public.
Positif (keuntungan) model ini:
ϖ mengurangi beban korban
rasionalisasi reaksi terhadap kejahatan dapatϖ berkurang

Negatif (Kerugian) Model ini:


Tidak bisa empati terhadapϖ terhadap penderitaan korban
Ada alasan tindakan sewenang-wenang yangϖ mengatasnamakan
kepentingan public.

Ad.2. Procedural right model (PRM)


Ciri-cirinya:
1. Korban memiliki hak hukum dalam setiap tahapan proses peradilan.
(hak bantuan hukum dan sebagainya)
2. korban dapat terlibat langsung dalam proses peradilan
3. kewajiban polisi +jaksa untuk memperhatikan mempertimbangkan
hak-hak korban dan pemenuhannya.

Keuntungan (Positip):
Korban mempunyai kesempatanϖ untuk tampil
Korban diberdayakan/ada pemberdayaan korban / tidak diluarϖ
sistem
Meminimalisasi penyalahgunaan wewenang.ϖ

Kelemahan (Negatif):
Mengacaukan SPPϖ
Memungkinkan korban memperjuangkan secaraϖ emosional karena
diberi kesempatan untuk balas dendam
Keadilan akanϖ bersifat subyektif (individual justice)

Perlindungan Terhadap Korban


perlindungan terhadap korban menurut Barda Nawawi dapat dilihat
dari dua makna yaitu:
1. Perlindungan hukum untuk tidak menjadi korban tindak pidana lagi
(berarti perlindungan hak asasi manusia (HAM) atau kepentingn
hukum seseorang);
2. Perlindungan untuk memperoleh jaminan/santunan hukum atas
penderitaan /kerugian orang yang telah menjadi korban tindak pidana
“(jadi identik dengan penyantunan korban)”. Bentuk santunan itu
dapat berupa pemulihan nama baik (rehabilitasi) pemulihan
keseimbangan batin (antara lain dengan permaafan), pemberian
gantirugi (restitusi, kompensasi, jaminan/ santunan kesejahteraan
sosial) dan sebagainya.
Perlindungan hukum terhadap korban bukan hanya menjadi masalah
nasional Perlindungan hukum diartikan sebagai pengakuan dan
jaminan yang diberikan oleh hukum dalam hubungannya dengan hak-
hak manusia. Perlindungan hukum merupakan “conditio sine quanon”
penegakan hukum. Sedangkan penegakan hukum merupakan wujud
dari fungsi hukum. Menurut Bisman Siregar dalam mengkaji
perlindungan hukum tiada lain perlindungan hukum yang sesuai
dengan keadilan. Mengkaji perlindungan hukum juga harus
bersesuaian dengan KeTuhanan Yang Maha Esa, sila pertama
pancasila, dasar Negara dan atas nama-NYA putusan diucapkan. Juga
sila ke dua, kemanusiaan yang adil dan beradap.
Indonesia sebagai Negara hukum berdasarkan pancasila haruslah
memberikan perlindungan hukum terhadap warga masyarakatnya
yang sesuai dengan pancasila. Oleh karena itu perlindungan hukum
berdasarkan pancasila berarti pengakuan dan perlindungan akan
harkat dan martabat manusia atas dasar nilai keTuhanan,
Kemanusiaan, persatuan/permusyawaratan serta keadilan social. Nilai-
nilai tersebut melahirkan pengakuan dan perlindungan hak asasi
manusia dalam wujudnya sebagai makhluk individu dan makhluk
social dalam wadah Negara kesatuan yang menjunjung tinggi
semangat kekeluargaan demi mencapai kesejahteraan bersama.
Perlindungan hukum selain berfungsi untuk memenuhi hak-hak asasi
pelaku juga memberikan perlindungan hukum terhadap korban secara
adil. Sehingga hak-hak mereka dapat terlindungi dari tindakan
sewenang-wenang para aparat hukum yang kadangkala melecehkan
mereka yang menjadi korban.
Perlindungan hukum dari segi macamnya dapat dibedakan antara pasif
dan aktif. Perlindungan hukum yang pasif berupa tindakan-tindakan
luar (selain proses peradilan) yang memberikan pengakuan dan
jaminan dalam bentuk pengaturan atau kebijaksanaan berkaitan
dengan hak-hak pelaku maupun korban. Sedangkan yang aktif dapat
berupa tindakan yang berkaitan dengan upaya pemenuhan hak-
haknya. Perlindungan hukum aktif ini dapat dibagi lagi menjadi aktif
prefentif dan aktif represif. Aktif preventif berupa hak-hak yang
diberikan oleh pelaku, yang harus diterima oleh korban berkaitan
dengan penerapan aturan hukum ataupun kebijaksanaan pemerintah.
Sedangkan aktif represif berupa tuntutan kepada pemerintah atau
aparat penegak hukum terhadap pengaturan maupun kebijaksanaan
yang telah diterapkan kepada korban yang dipandang merugikan.
Korban sebagai pihak yang dirugikan oleh terjadinya tindak pidana
sangat penting untuk dilindungi . Sehingga sistem peradilan pidana
perlu melakukan langkah-langkah perlindungan yang konkrit terhadap
korban yaitu dengan menjamin atau memberikan hak-hak kepada
korban agar korban dapat membantu dalam pengungkapan
perkaranya.

Hak-hak Korban
Untuk mendapatkan perlindungan yang maksimal, korban kejahatan
memiliki hak yang harus diperhatikan. Adapun hak-hak korban tindak
pidana menurut Arif Gosita adalah:
a. Korban mendapat ganti kerugian atas penderitaannya. Pemberian
ganti kerugian tersebut haruslah disesuaikan dengan kemampuan
memberi kerugian dari pihak pelaku dan taraf keterlibatan pihak
korban dalam terjadinya kejahatan dan delikuensi tersebut;
b. Korban menolak restitusi untuk kepentingan pelaku (tidak mau
diberi restitusi karena tidak memerlukan);
c. Korban mendapat restitusi/kompensasi untuk ahli earisnya, apabila
pihak korban meninggal dunia karena tindak pidana yang dilakukan
oleh pelaku;
d. Korban mendapat pembinaan dan rehabilitasi;
e. Korban mendapatkan hak miliknya kembali;
f. Korban mendapat perlindungan dari ancaman pihak pelaku bila
melaporkan tindak pidana yang menimpa dirinya, dan apabila menjadi
saksi atas tindak pidana tersebut;
g. Korban mendapatkan bantuan hukum;
h. Korban berhak mempergunakan upaya hukum.
PERSPEKTIF VIKTIMOLOGI MENGENAI
KASUS GANTI RUGI TANAH
Oleh : Dr. Ediwarman, SH. M.Hum
(Dosen Kriminologi FH. USU dan Dosen S2 Magister Kenotariatan serta Dosen S2 dan S3 Ilmu
Hukum PPs USU)

A. Pendahuluan.

Pada awalnya orang mengkaji victimologi itu merupakan ilmu yang mempelajari korban kejahatan
saja, namun dalam perkembangannya saat ini telah berkembang lebih luas lagi yaitu mengkaji
permasalahan korban karena penyalahgunaan kekuasaan/wewenang dan HAM.

Menurut Separovic (1985 ; 29) dalam pendekatan victimologi itu ada 3 (tiga) fase perkembangan
dalam mengkaji permasalahan korban dengan berbagai aspeknya, yaitu aspek pertama
victimologi hanya memandang korban kejahatan saja, fase ini disebut sebagai "Penal or special
victimology." Kemudian pada fase kedua victimologi tidak hanya mengkaji masalah kejahatan
saja, tetapi juga meliputi korban kecelakaan, fase ini disebut sebagai "General Victimology." Fase
ketiga victimologi telah berkembang lebih luas lagi yaitu mengkaji permasalahan korban karena
penyalahgunaan kekuasaan/wewenang dan HAM, fase ini disebut New Victimologi.

Korban dalam kasus ganti rugi tanah pada hakikatnya tidak hanya dialami oleh pihak yang
berkepentingan dengan tanah, antara lain individu/masyarakat, badan hukum (pengusaha) dan
instansi pemerintah serta BUMN. Tejadinya korban dalam ganti rugi tanah pada hakikatnya
akibat adanya penyalahgunaan wewenang/kekuasaan dalam menerapkan hukum dan disamping
itu juga peraturan yang ada belum melindungi kepentingan korban secara konkrit. Misalnya :
kasus pembebasan tanah Bandara (Bandar Udara) Kuala Namu Kabupaten Deli Serdang, dalam
Keppres No. 55/1993 pembebasan tanah harus dilakukan secara musyawarah, tetapi
kenyataannya panitia sembilan yang melakukan pembebasan tanah lebih banyak melakukan
dengan cara intimidasi, pemaksaan bahkan menakuti dengan maksud harga tanah lebih murah,
hal ini jelas melanggar peraturan perundang-undangan yang ada.

Peraturan perundang-undangan dibidang pertanahan terutama yang menyangkut ganti rugi tanah
baik untuk kepentingan umum maupun kepentingan swasta, kurang akomodatif melindungi
pemilik tanah dan yang membutuhkan tanah, karena belum menyentuh langsung kepada
persoalan agraria yang sebenarnya, sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 33 ayat 3 UUD
1945 dan peraturan hukum yang ada lebih banyak memperkuat posisi pemerintah dalam
melakukan pembebasan tanah.

Berdasarkan uraian di atas masalah pokok yang perlu diketahui dalam Perspektif viktimologi
mengenai kasus ganti rugi tanah tersebut antara lain ; "Faktor-faktor apakah penyebab timbulnya
korban dalam kasus ganti rugi tanah dan Siapa saja pihak yang menjadi korban dalam kasus
ganti rugi tanah".

B. Faktor Penyebab Timbulnya Korban Dalam Kasus Ganti Rugi Tanah.

Dalam ganti rugi tanah ada beberapa faktor penyebab timbulnya korban antara lain :
1. Penyimpangan Perilaku Hukum.
2. Disintegrasi dari Peraturan Hukum.
3. Faktor Politik, Ekonomi, Sosbud, dan Kamtib.

ad.1. Penyimpangan Perilaku Hukum.

Dalam hal ini ada dua variable yang diperhatikan yaitu "penyimpangan perilaku" dan "hukum".
Penyimpangan perilaku ini Donald Black (1976 ; 9) menyatakan :
" Deviant behavior is a conduct that is subject to social control. In other words, social control
defines what deviant is. And the more social control to which it is subject, the more deviant the
conduct is. In this sense, the seriousness of deviant behavior is defined by the quantity of social
control to which it is subject. The quantity of social control also defines the rate of deviant
behavior. The style of social control even defines the style of deviant behavior. whether it is an
offense to be punished, a debt to be paid, a condition in need of treatment, or a dispute in need of
resolution. In short, deviant behavior is an aspect of social conrol".

Perilaku yang menyimpang adalah suatu tingkah laku yang tunduk kepada kontrol sosial. Dengan
kata lain, kontrol sosial mendefinisikan apa yang dimaksud dengan yang menyimpang. Dan
semakin banyak kontrol sosial ke mana tingkah laku itu harus tunduk, semakin banyak
menyimpang tingkah laku itu. Dalam pengertian ini, keseriusan dari perilaku yang menyimpang
itu dibatasi oleh kuantitas kontrol sosial ke mana tingkah laku itu tunduk. Kuantitas dari kontrol
sosial juga mendefinisikan kadar dari perilaku yang menyimpang itu. Gaya dari kontrol sosial
bahkan mendefinisikan gaya dari perilaku yang menyimpang, apakah itu suatu kejahatan yang
harus dihukum, suatu hutang yang harus dibayar, suatu keadaan yang membutuhkan perlakuan,
atau suatu perselisihan yang memerlukan penyelesaian. Dengan singkat, perilaku yang
menyimpang adalah suatu segi dari kontrol sosial.

Istilah deviant pertama kali dipopulerkan oleh Lemert pada tahun 1948 istilah ini dipakai para ahli
statistik untuk mengacu pada variasi dalam variabel kuantitatif. Para sosiolog tidak tertarik pada
frekuensi statistik, kecuali pada konsekuensi sosial dari seorang yang dipandang sebagai
deviant. Kemudian istilah deviant lalu dipakai untuk setiap tingkah laku yang tidak sesuai dengan
tingkah laku dari apa yang diharapkan, misalnya seorang yang tingginya 1 meter dipandang
sebagai deviant tanpa dihubungkan dengan perilaku jahat istilah ini oleh para sosiolog "......are
lumped indiscriminately together, for example as adverse reactions and used to reify the concept
known as deviance (J.E. Sahetapy 1992 ; 35).

Menurut J.E. Sahetapy dalam teori "deviance" mencakup tingkah laku pembangkangan atau
jahat (aberrant behavior) dan tingkah laku yang tidak patuh non-conforning behavior. jadi
"deviance" atau pembangkangan haruslah diartikan sebagai tingkah laku yang melanggar norma-
norma yang ada, norma-norma mana yang bisa diatur ataupun tidak dalam suatu Undang-
undang. Tetapi pada umumnya "deviance" atau pembangkangan adalah pelanggaran terhadap
hukum pidana dan Undang-undang lainnya (J.E. Sahetapy : 1992 ; 36).

Variable kedua mengenai hukum adalah keseluruhan dari peraturan-peraturan yang tiap-tiap
orang yang bermasyarakat wajib mentaatinya, bagi pelanggar terdapat sanksi, demikian kata
sarjana land (Yan Pramadya Purba : 1997 ; 419).

Penyimpangan perilaku hukum yang menyebabkan timbulnya korban (victim) dalam kasus ganti
rugi tanah terjadi dalam bentuk :
1. Lembaga (institution).
2. Bersama-sama (collective).
3. Individu.

Ad.1. Lembaga (institution)


Penyimpangan perilaku hukum dalam bentuk lembaga ini terdapat dalam :
(a). Lembaga Legislatif.
(b). Lembaga Eksekutif.
(c). Lembaga Yudikatif.

Penyimpangan dalam lembaga legislatif tergambar dalam bentuk perencanaan hukum oleh
pemerintah yang bekerja sama dengan DPR membuat suatu Undang-undang untuk kepentingan
pemerintah yang berkuasa merugikan kepentingan rakyat, sebagaimana dalam bidang hukum
pertanahan itu sendiri, antara lain UUPA. No.5 Tahun 1960 karena undang-undang ini hanya
mengatur hal-hal yang pokok saja dan tidak ada sanksi pidana yang tegas terhadap pelaku yang
melanggar hukum, sedangkan sanksi pidana yang ada dalam Pasal 52 UUPA hanya merupakan
pelanggaran/tindak pidana ringan saja.

Menurut Pasal 18 UUPA No.5 Tahun 1960 menyatakan : "untuk kepentingan umum, termasuk
kepentingan bangsa dan negara serta kepentingan bersama dari rakyat, hak-hak atas tanah
dapat dicabut, dengan memberi ganti kerugian yang layak dan menurut cara yang diatur dengan
undang-undang".
Jika kita perhatikan ketentuan pasal tersebut diatas ada 2 (dua) perintah yang harus dilakukan
oleh lembaga Legislatif yaitu : penyusunan Undang-undang pencabutan hak atas tanah dan
penyusunan Undang-undang ganti rugi tanah yang layak.

Mengenai Undang-undang pencabutan hak atas tanah telah diatur di dalam Undang-undang
No.20 Tahun 1961, namun Undang-undang ini tidak berjalan sebagaimana mestinya, karena
setiap pencabutan hak atas tanah oleh instansi yang membutuhkan tanah harus melalui
presiden, jika setiap pencabutan hak untuk kepentingan umum harus melalui presiden maka hal
ini akan memakan waktu yang cukup lama, sehingga dapat menggangu kelancaran proyek
pembangunan yang jangka waktu penyelesaian sudah ditentukan.

Pada masa orde baru Undang-undang yang dibuat oleh pemerintah bersama DPR lebih banyak
bernuansa politis, sehingga kepentingan pemilik tanah selalu dipihak yang lemah. Akibatnya
ganti rugi yang diberikan tidak sesuai dengan cita-cita hukum yang diatur dalam Pasal 33 (3)
UUD 1945. Contohnya, Keppres No.55 Tahun 1993 satu-satunya peraturan yang mengatur
tentang pengadaan tanah untuk kepentingan umum yang masih berlaku sampai saat ini yang
dibuat pada masa orde baru, selalu istilah kepentingan umum itu disalahgunakan untuk
mendapatkan keuntungan yang besar dari pengadaan tanah.

Penyimpangan perilaku hukum dalam lembaga eksekutif terjadi akibat dalam pelaksanaan
hukum yang menyimpang dari ketentuan Undang-undang misalnya dalam proses pelaksanaan
pembebasan dan pengadaan tanah untuk kepentingan umum maupun swasta. Penyimpangan ini
terjadi oleh panitia yang mencari keuntungan pribadi, sehingga proses musyawarah yang
dilakukannya lebih menitikberatkan kepada intimidasi agar pembayaran ganti rugi dapat ditekan
serendah mungkin untuk mendapat keuntungan yang lebih besar dari pemilik tanah.

Di samping hal tersebut di atas timbulnya korban dalam kasus ganti rugi tanah ini juga tidak
terlepas dari manajemen BPN yang sangat lemah, sehingga timbul surat-surat tanah ganda dan
aspal (asli tapi palsu) dan adanya lembaga yang tidak berwenang mengeluarkan surat-surat
tanah, misalnya camat/lurah mengeluarkan surat keterangan tanah yang akibatnya timbul surat-
surat tanah yang ganda pula dalam satu lokasi.

Penyimpangan perilaku hukum yang dilakukan oleh lembaga yudikatif ini terjadi dalam
penegakan hukum di pengadilan yang disebabkan oleh:

1. Faktor hukum itu sendiri.


Semakin baik suatu peraturan hukum yang ada akan semakin memungkinkan penegakannya.
Sebaliknya semakin tidak baik suatu peraturan hukum akan semakin sukarlah penegakannya.
Sekarang bagaimana peraturan hukum yang baik mengenai ganti rugi tanah ?
Secara umum peraturan yang baik itu adalah peraturan hukum yang berlaku secara juridis,
sosiologis dan filosofis. Peraturan hukum secara juridis menurut Hans Kelsen apabila peraturan
hukum tersebut penentuannya dibuat berdasarkan kaidah-kaidah yang lebih tinggi tingkatannya.
Ini berhubungan dengan teori "Stufenbau" dari Hans Kelsen. Dalam hal ini perlu diperhatikan apa
yang dimaksud dengan efektivitas kaidah hukum yang dibedakan dengan berlakunya kaidah
hukum, oleh karena efektivitas merupakan fakta (Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto :
1978 ; 114).

Stufenbau teori dari Hans Kelsen ini sesuai dengan sumber tertib hukum RI. dan tata urutan
peraturan perundangan RI. sebagaimana tercantum dalam Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966
Jo. Ketetapan MPR No. V/MPR/1973. Setiap peraturan hukum yang berlaku haruslah bersumber
pada peraturan yang lebih tinggi tingkatannya. Ini berarti bahwa setiap peraturan hukum yang
berlaku tidak boleh bertentangan dengan peraturan hukum yang lebih tinggi derajatnya (Ridwan
Syahrani : 1999 ; 205). Tetapi dalam kenyataannya masih ada ketentuan peraturan hukum yang
bertentangan dengan ketentuan peraturan yang lebih tinggi derajatnya, misalnya Undang-undang
No. 20 Tahun 1961 tentang pencabutan hak, pencabutan hak ini harus melalui izin Presiden,
tetapi didalam Keppres No. 55 Tahun 1993 tentang pengadaan tanah untuk kepentingan umum,
ganti rugi tanah dapat dilakukan secara musyawarah tanpa melalui izin Presiden, sehingga
dalam praktek Undang-undang No. 20 Tahun 1961 tersebut sulit untuk diterapkan dan dalam
praktek banyak mengacu kepada ketentuan Keppres No. 55 Tahun 1993. Menurut Penulis baik
Undang-undang No. 20 Tahun 1961 maupun Keppres No. 55 Tahun 1993 ini perlu ditinjau
kembali.

Selanjutnya menurut W.Zevenbergen menyatakan bahwa suatu peraturan hukum mempunyai


kekuatan berlaku juridis jika peraturan hukum tersebut terbentuk menurut cara yang telah
ditetapkan (Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto, 1978 : 114). Misalnya UUPA No.5
Tahun 1960 dibentuk oleh presiden dengan persetujuan DPR (Dewan Perwakilan Rakyat)
sebagaimana yang diatur dalam UUD 1945 Pasal 5 (1) .

Kemudian suatu peraturan hukum berlaku secara sosiologis bilamana peraturan tersebut diakui
atau diterima oleh masyarakat kepada siapa peraturan hukum tersebut ditujukan/diberlakukan,
demikian menurut "Anerkennungstheorie", "The recognition theory. Teori ini bertolak belakang
dengan Machttheorie, Pawer theory yang menyatakan bahwa peraturan hukum mempunyai
kelakukan sosiologis apabila dipaksakan berlakunya oleh penguasa, diterima ataupun tidak oleh
warga masyarakat (Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto, 1978 : 117).Teori yang disebut
pertama di atas lebih sesuai dengan masyarakat Indonesia.

Suatu hukum berlaku secara filosofis apabila peraturan hukum tersebut sesuai dengan cita-cita
hukum (rechts idee) sebagai nilai positif yang tertinggi. Di Indonesia cita-cita hukum positif yang
tertinggi adalah masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Kemudian dikaitkan dengan peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan khusus yang
menyangkut ganti rugi tanah belum diatur di dalam Undang-undang tersendiri, tetapi dalam
peraturan lain belum memberikan perlindungan secara konkrit terhadap pemilik tanah maupun
yang membutuhkan tanah. Hal ini disebabkan tidak adanya sanksi pidana yang tegas dalam
ganti rugi tanah, sehingga perlindungan hukum bagi korban hanya bersifat abstrak, yang
seharusnya peraturan perundang-undangan itu dapat mengacu pada perlindungan yang bersifat
konkrit dengan menerapkan sanksi penal dan nonpenal. Sanksi penal berupa hukuman badan
(penjara), sedangkan nonpenal dapat berupa pembayaran denda atau kompensasi. Sehingga
kasus-kasus ganti rugi tanah yang diproses melalui peradilan secara pidana tidak perlu
dilanjutkan lagi dengan gugatan perdata. Sementara kasus-kasus yang menyangkut kejahatan
dalam ganti rugi tanah untuk penegakan hukumnya masih mengacu kepada pasal-pasal yang
ada dalam KUHPidana.
2. Faktor penegak hukum.
Faktor penegak hukum yang terkait langsung dalam proses penegakan hukum adalah kepolisian,
kejaksaan, kehakiman, pengacara dan notaris yang mempunyai peranan yang sangat penting
bagi keberhasilan penegakan hukum dalam masyarakat. Penegakan hukum dapat dilakukan
apabila para penegak hukum tersebut mempunyai profesionalisme, bermental tangguh dan
mempunyai integritas moral yang tinggi.

Para penegak hukum di dalam masyarakat masih banyak yang tidak mempunyai integritas moral
yang tinggi yaitu : kejujuran, tidak konsisten dalam menegakkan hukum, mentalitas penegak
hukum yang rusak, sehingga tidak dapat menahan diri dari godaan-godaan kebendaan
mengakibatkan keputusan-keputusan hukum mencerminkan keadilan yang responsif yaitu suatu
keadilan yang benar-benar didasari pertimbangan-pertimbangan yang adil sesuai dengan
keinginan pihak-pihak yang berkepentingan akan tanah atau pemilik tanah.

3. Faktor sarana.
Tanpa adanya sarana yang memadai terhadap penegakan hukum maka tidak mungkin
penegakan hukum akan berlangsung dengan lancar. Sarana tersebut antara lain mencakup
tenaga manusia yang berpendidikan dan terampil, peralatan yang memadai, keuangan yang
cukup dan lain-lain. Jika hal ini tidak terpenuhi mustahil penegakan hukum akan mencapai
tujuannya. Misalnya proses pemeriksaan perkara di pengadilan berjalan sangat lamban, apalagi
kalau pemeriksaan suatu perkara sampai tingkat kasasi di Mahkamah Agung. Hal ini disebabkan
karena jumlah hakim di pengadilan yang tidak sebanding dengan jumlah perkara yang harus
diperiksa dan diputuskan serta masih kurangnya sarana atau fasilitas lain untuk menunjang
pelaksanaan peradilan yang baik. Demikian pula pihak kepolisian belum mempunyai peralatan
yang canggih untuk mendeteksi kriminalitas dalam masyarakat. Ketiadaan peralatan modern
mengakibatkan banyak kejahatan dalam masyarakat yang belum terberantas misalnya dalam
pemalsuan surat-surat tanah. Untuk membuktikan secara pasti suatu tanda tangan palsu pihak
kepolisian belum dapat mellakukannya karena tidak mempunyai peralatan yang cukup sehingga
terpaksa dikirim ke Jakarta.

Berdasarkan uraian tersebut di atas bahwa faktor sarana sangat menentukan dalam penegakan
hukum, sebab tanpa sarana yang memadai penegakan hukum tidak akan dapat berjalan dengan
lancar dan penegak hukum tidak akan mungkin menjalankan peranannya dengan baik.

4. Faktor masyarakat.
Faktor masyarakat dapat mempengaruhi penegakan hukum itu sendiri, sebab penegakan hukum
berasal dari masyarakat dan bertujuan untuk mencapai kedamaian dalam masyarakat. Dalam hal
ini yang penting adalah kesadaran hukum masyarakat, semakin tinggi kesadaran hukum
masyarakat, semakin baik pula penegakan hukum. Sebaliknya semakin rendah tingkat
kesadaran hukum masyarakat, maka semakin sulit melaksanakan penegakan hukum yang baik.

Yang dimaksud dengan kesadaran hukum itu antara lain adalah pengetahuan tentang hukum,
penghayatan fungsi hukum, ketaatan terhadap hukum (Ridwan Syahrani, 1999 : 214). Kesadaran
hukum merupakan pandangan hukum dalam masyarakat tentang apa hukum itu. Pandangan itu
berkembang dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu agama, ekonomi, politik dan sebagainya.
Pandangan itu selalu berubah oleh karena hukum itu selalu berubah juga (Ridwan Syahrani,
1999 : 215). Masyarakat yang tidak mengetahui hukum pertanahan khususnya mengenai ganti
rugi sebagaimana yang diatur di dalam UUPA No. 5 Tahun 1960 dan Keppres No. 55 Tahun
1993 dan seperangkat peraturan pelaksanaannya, tidak mempunyai kesadaran hukum yang
memadai, sehingga dengan mudah menimbulkan ketidak-adilan jika tanah milik yang dipakai
untuk kepentingan umum atau swasta hanya diberi dengan ganti rugi Rp. 4.500 setiap meter
persegi sama dengan harga sebungkus rokok kretek filter.

Beberapa putusan atas kasus-kasus hukum mengenai ganti rugi tanah oleh masyarakat
dirasakan tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat, karena putusan-putusan itu hanya
memenuhi syarat-syarat formalnya saja. Oleh karena itu aparat penegak hukum jangan hanya
mengandalkan interpretasi yang formal akan ketentuan hukum melainkan juga harus
mempertimbangkan rasa keadilan masyarakat. Secara naluriah masyarakat mempunyai rasa
keadilan. Rasa keadilan itu adalah sesuai dengan prinsip negara hukum dan asas hukum yang
harus dikembangkan dijabarkan dan disalurkan lewat hukum. Oleh karena itu diperlukan
kesadaran dan pengetahuan hukum, itulah latar belakang gerakan memasyarakatkan hukum.

5. Faktor budaya.
Faktor budaya pada dasarnya mencakup nilai-nilai yang mendasari hukum yang berlaku, nilai-
nilai mana merupakan konsepsi abstrak mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang
dianggap buruk, maka budaya Indonesia merupakan dasar atau mendasari hukum adat yang
berlaku. Hukum adat tersebut merupakan kebiasaan yang berlaku di kalangan rakyat banyak.
Akan tetapi di samping itu berlaku pula hukum tertulis (perundang-undangan) yang dibentuk oleh
pemerintah. Hukum itu harus dapat mencerminkan nilai-nilai yang menjadi dasar dari hukum adat
agar hukum itu dapat berjalan secara efektif.

Di samping itu budaya mempengaruhi perilaku para penegak hukum dalam penegakan hukum itu
sendiri. Misalnya adanya budaya yang kurang baik dalam penegakan hukum di pengadilan
berupa pemberian uang siluman di dalam memutuskan suatu perkara baik pidana maupun
perdata. Budaya ini sudah merupakan suatu penyakit kronis yang sulit untuk diperbaiki.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa semakin banyak persesuaian antara
peraturan perundang-undangan dengan budaya masyarakat maka akan semakin mudah
menegakan hukum itu sendiri, sebaliknya apabila suatu peraturan perundang-undangan tidak
sesuai atau bertentangan dengan budaya masyarakat, maka semakin sulit untuk melaksanakan
atau menegakan peraturan hukum dimaksud.

(2). Bersama-sama (collective).

Penyimpangan perilaku hukum secara bersama-sama (collective) dapat menimbulkan korban


dalam ganti rugi tanah yang tergambar dalam masyarakat :
(a). Pembentukan hukum baru.
(b). Penerapan hukum.
(c). Masyarakat yang dirugikan atau diuntungkan karena dengan adanya aturan
tertentu/kebijakan.
(d). Kesadaran hukum masyarakat yang kurang.

Dalam pembentukan hukum baru mengenai pencabutan hak atas tanah, pembebasan,
pengadaan tanah untuk kepentingan umum dan swasta khususnya dalam Undang-undang No.20
Tahun 1961 dan Keppres No.55 Tahun 1993, mengakibatkan ada masyarakat yang dirugikan
dan diuntungkan. Masyarakat yang dirugikan menjadi korban akibat pembentukan hukum itu,
sedangkan yang diuntungkan di sini adalah pihak-pihak yang membutuhkan tanah. Misalnya
kasus pembebasan tanah Bandara Kuala Namu Kabupaten Deli Serdang dimana pemilik tanah
yang digusur umumnya dibayar ganti rugi yang sangat rendah, sehingga menimbulkan
ketidakpuasan dari masyarakat. Kasus ini sampai sekarang belum ada penyelesiannya

(3). Individu.

Penyimpangan perilaku individu terdapat beberapa faktor antara lain :

(a). Adanya unsur-unsur hukum yang berubah.


(b). Kesungguhan dan kemampuan para penegak hukum yang melakukan fungsinya tidak
berjalan dengan baik.
(c). Kepatuhan hukum yang menyangkut kaidah-kaidah, kewajiban maupun perilaku tertentu
sangat lemah.

Penyimpangan perilaku hukum individu ini berubah karena adanya unsur-unsur hukum baru,
misalnya dahulu berdasarkan PMDN No.15 Tahun 1975 besarnya ganti rugi yang diberikan
kepada pemilik tanah harus diperhatikan lokasi dan faktor-faktor strategis yang dapat
mempengaruhi harga tanah. Jika terdapat perbedaan yang dipergunakan maka harga rata-rata
dari taksiran masing-masing anggota. Kemudian dengan keluarnya Keppres No.55 Tahun 1993
perhitungan ganti rugi tanah didasarkan atas nilai nyata atau Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) bumi
dan bangunan yang terakhir untuk tanah yang bersangkutan.

ad.2. Disintegrasi dari Peraturan Hukum.

Disintegrasi dari peraturan hukum dalam bidang pertanahan khususnya yang menyangkut ganti
rugi tanah terjadi akibat :

(1). Keabsahan Cenderung Goyah.

Kurang absahnya suatu hukum baru di bidang pertanahan mengenai ganti rugi tanah disebabkan
karena penyusunan dan penjabarannya peraturan perundang-undangan yang ada tidak
mencantumkan pasal-pasal pengecualian dan sanksi-sanksi pidana yang efektif agar sumber
peraturan tersebut dalam implementasinya tidak goyah.

Keruwetan yang sering terjadi di sini tidak dapat menyembunyikan kontradiksi-kontradiksi yang
membincangkan hukum pertanahan. Kontradiksi-kontradiksi ini akan merugikan integritas hukum
pertanahan, keserasian hukum dengan asas-asasnya sendiri serta bagi kehormatan terhadap
hukum secara keseluruhan. Ini semua terjadi karena hukum baru diciptakan adalah untuk
memperbaiki kedudukan kelompok-kelompok tertentu dengan cara memberikan hak-hak lebih
besar pada mereka yang berkepentingan dengan pengadaan tanah sedemikian rupa tanpa
membawa akibat-akibat buruk, sedangkan kedudukan sosial bagi mereka yang masih rendah
kenyataannya tidak berubah, contoh :

1. Undang-undang No. 20 Tahun 1961, tentang Pencabutan Hak-hak Atas Tanah dan Benda-
benda Yang Ada Di Atasnya Jo. PP. No. 39 Tahun 1973, tentang Acara Penetapan Ganti
Kerugian Oleh Pengadilan Tinggi Sehubungan dengan Pencabutan Hak-hak Atas Tanah dan
Benda-benda Yang Ada Di Atasnya, serta Inpres No. 9 Tahun 1973 tentang Pelaksanaan
Pembebasan Hak-hak Atas Tanah dan Benda-benda Yang Ada Di Atasnya, ketentuan-ketentuan
peraturan ini tidak berjalan dengan baik, karena setiap pembebasan harus melalui presiden
sedangkan untuk kebutuhan pembangunan diberikan waktu yang sudah ditentukan, sehingga hal
ini dapat memberikan gejolak yang tidak baik dalam masyarakat.

2. PMDN No. 15 Tahun 1975, PMDN No. 2 Tahun 1976, PMDN No.2 Tahun 1985 tidak dapat
diterapkan dalam masyarakat, karena PMDN-PMDN tersebut di atas saling bertentangan dengan
UUPA No.5 Tahun 1960, karena PMDN tersebut yang dibuat oleh Menteri Dalam Negeri yang
sifatnya mengatur secara umum. Apabila ingin menerapkan secara umum harus diatur dalam
suatu Undang-undang tersendiri, bukan dalam bentuk PMDN. Akhirnya berdasarkan Keppres
No.55 Tahun 1993 ketentuan PMDN di atas tidak berlaku lagi.

(2). Efektifitas Hukum yang Lemah.

Efektifitas hukum yang lemah mengakibatkan kurangnya kepatuhan masyarakat terhadap hukum
dan disamping itu banyak masyarakat yang tidak tahu akan hukum.
Lemahnya penegakan hukum dalam ganti rugi tanah antara lain disebabkan belum
dilaksanakannya pembangunan hukum di bidang pertanahan secara komprehensif, karena
intensitas peningkatan produk peraturan perundang-undangan dan peningkatan kapasitas
aparatur penegak hukum serta sarana dan parasarana hukum pada kenyataannya tidak
diimbangi dengan peningkatan integritas moral dan profesionalitas aparat penegak hukum.
Kesadaran dan mutu pelayanan publik di bidang hukum kepada masyarakat. Akibatnya kepastian
keadilan dan jaminan hukum tidak tercipta dan akhirnya melemahkan penegakkan supremasi
hukum.

Efektivitas hukum yang lemah terutama dalam penerapan asas musyawarah, dan penentuan
besar dan bentuknya ganti rugi sehingga tidak adanya asas keseimbangan dan kepatutan dalam
pembebasan dan pengadaan tanah untuk kepentingan umum maupun swasta, karena tidak
diatur dengan tata cara yang jelas dalam undang-undang sehingga tidak lagi efektif untuk
diterapkan.
Misalnya Undang-undang No.20 Tahun 1961, PMDN No.15 Tahun 1975, PMDN No.2 Tahun
1976 dan PMDN No.2 Tahun 1985, yang akhirnya sekarang diterapkan Keppres No.55 Tahun
1993.

Keppres No.55 Tahun 1993 ini lebih banyak bernuansa politik ketimbang perlindungan hukum
bagi korban dalam kasus-kasus pertanahan. Hal ini tercermin dalam substansi Keppres No.55
Tahun 1993 tersebut terutama mengenai istilah kepentingan umum tidak diatur secara jelas
sehingga istilah kepentingan umum tersebut selalu disalahgunakan oleh pihak yang
membutuhkan tanah dan begitu juga mengenai musyawarah yang dikehendaki tidak diatur
secara tegas, sehingga dalam praktik musyawarah yang terjadi lebih banyak bersifat ntimidasi
bahkan ada dengan paksaan.

(3). Bobot Hukum yang Merosot.

Bobot hukum yang merosot erat kaitannya dengan penyimpangan oleh penegak hukum dalam
menerapan hukum di masyarakat. Misalnya penyalahgunaan wewenang/kekuasaan oleh
seorang hakim dalam menangani kasus ganti rugi tanah dimana hakim dalam menerapkan
hukum selalu melindungi kepentingan para pihak yang membutuhkan tanah, sehingga
menimbulkan ketidak percayaan masyarakat kepada lembaga peradilan. Akibatnya bobot hukum
yang diterapkan hakim menjadi merosot seperti kasus pembebasan tanah PT Victor Jaya Raya di
Kelurahan Mangga dan Kelurahan Kuala Bekala. Sebelum perusahaan tersebut melakukan
pembebasan tanah, pertama-tama diberikan izin lokasi seluas ± 264 Ha. pada hal seharusnya
menurut hukum, perusahan terlebih dahulu harus membebaskan tanah-tanah masyarakat
dengan memberikan ganti rugi, tetapi ganti rugi yang diberikan terlalu rendah. Bagi masyarakat
yang tidak bersedia menerima ganti rugi, maka uangnya di konsignyasikan ke pengadilan,
sedangkan masyarakat selaku pemilik tanah tetap tidak mau tahu atas putusan konsignyasi
pengadilan tersebut pada hal ketentuan konsignyasi hanya diberikan jika ada menyangkut hutang
piutang antara kreditur dengan debitur sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1404 KUHPerdata.
Sementara konsinyasi yang dilaksanakan oleh PT Victor Jaya Raya ini secara juridis tidak ada
relevansinya dengan ketentuan Pasal 1404 KUHPerdata, sehingga bobot putusan tersebut tidak
mempunyai arti apa-apa serta tidak memberikan perlindungan hukum terhadap korban selaku
pemilik tanah maupun yang berkepentingan dengan tanah.

ad.3. Faktor Politik, Ekonomi, Sosbud, dan Kamtib.

Faktor ketiga yang menyebabkan timbulnya korban dalam kasus-kasus pertanahan adalah : 1.
Faktor Politik, 2. Faktor Economic, 3. Faktor Sosbud, 4. Faktor Kamtib.

a. Faktor Politik.
Perubahan rezim yang dramatis membawa perubahan strategis politik dari populisme menjadi
otoritarisme, komplik dan kekerasan politik masa orde lama memberikan trauma yang mendalam
bagi penguasa baru. Politik orde baru yang berpokok otoriter ini berakar dari trauma. pada masa
rezim Soekarno menonjolkan mobilisasi (political mobilization) atau mengikut sertakan kekuatan
politik masyarakat pada program agraria, seperti tercermin pada program landreform yang
merupakan amanat UUPA No.5 Tahun 1960, sedangkan otoritarianisme di wujudkan dengan
menghilangkan kekuatan politik masyarakat dan memusatkan kekuatannya pada rezim yang
berkuasa.

Kebijakan pemerintah yang berkuasa dalam menyusun berbagai kebijakan di bidang pertanahan
terlalu mementingkan kepentingan pemerintah dan kurang mengakomodasi kepentingan
masyarakat misalnya ; kebijakan Politik Agraria yang dibangun oleh orde baru itu sebagai
realisasi dari pemerintahan otoritarianisme yaitu :

(1). Menjadikan masalah landreform hanya sebagai teknis belaka dari penguasa (pemerintah)
dan tidak menjadikan tanah itu sebagai sumber kemakmuran rakyat.
UUPA No. 5 Tahun 1960 selama ini yang dianggap sumber dari segala sumber hukum agraria.
Dalam kenyataan saat ini tidak mungkin lagi dipertahankan, karena dari Undang-undang yang
timbul belakangan sering bertentangan dengan UUPA No. 5 Tahun 1960 itu sendiri seperti
Undang-undang No.1 Tahun 1967, tentang Penanaman Modal Asing dan Undang-undang No.5
Tahun 1965 tentang Ketentuan Pokok Kehutanan.

(2). Menghapuskan semua legitimasi organisasi petani di dalam program landreform dengan cara
mencabut peraturan lama dan menggantinya dengan peraturan baru, dua peraturan itu adalah :
a. Undang-undang No.7 Tahun 1970 berisi penghapusan pengadilan landreform yang
merupakan badan tertinggi pengambilan keputusan mengenai peruntukan tanah-tanah objektif
landreform. Jadi pengadilan ini merupakan representasi dari negara dan organisasi-organisasi
massa petani dalam menentukan tanah-tanah objek landreform.

b. Keputusan Presiden RI. No.55 Tahun 1980 berisi dan tata kerja penyelenggaraan landreform.
Panitia landreform yang merupakan partisipasi organisasi petani dihapuskan dan diganti dengan
panitia baru yang didominasi oleh birokrasi seperti organisasi Himpunan Kerukunan Tani
Indonesia (HKTI) suatu organisasi boneka pemerintah. Jadi panitia Landreform diambil oleh
birokrasi orde baru, mulai tingkat menteri hingga lurah/kepala desa, hasilnya landreform berada
dalam kontrol birokrasi (Mochtar Mas'oed : 1997 : 121).

c. Kebijakan pertanahan lebih cenderung bercorak kapitalis sementara dasar acuan kebijakan
pertanahan yang ada masih diakui adalah UUPA No. 5 Tahun 1960 yang bercorak neo-populasi,
maka terjadilah inkonsistensi kebijakan. Di satu pihak pemerintah secara juridis mengacu pada
UUPA No. 5 Tahun 1960, sementara substansi dari kebijakan yang diambil pemerintah berbeda
bahkan bertentangan dengan jiwa dan semangat UUPA No. 5 Tahun 1960 itu sendiri, karena jiwa
UUPA No. 5 Tahun 1960 secara tegas memihak kepentingan rakyat, sementara jiwa dan
semangat kebijakan pertanahan saat ini bersifat kapitalis.

b. Faktor Ekonomi.

Kemajuan di bidang ekonomi yang meningkat turut juga meningkatnya harga tanah, sehingga
terjadi perebutan terhadap tanah yang akibatnya timbullah konflik kepentingan di dalam
perolehan tanah. Misal ; penyediaan lahan kawasan industri. Meningkatnya kebutuhan industri
terhadap tanah berakibat meningkatnya harga tanah, sehingga pemilik tanah dalam satu sisi
menginginkan harga tanah lebih tinggi sedangkan pada sisi yang lain pihak yang membutuhkan
tanah menginginkan harga tanah lebih murah. Oleh karena adanya dua kepentingan yang
berbeda maka berbagai cara dilakukan oleh pihak yang membutuhkan untuk mendapatkan
tanah, yang pada akhirnya menimbulkan korban.
Untuk merespon kebutuhan tanah kepentingan penanaman modal, upaya pertama yang
dilakukan adalah mengatur tata cara penyediaan tanah sebagaimana yang diatur dalam
Permendagri No.12 Tahun 1984 tentang Tata Cara Penyediaan Tanah dan Pemberian Izin
Bangunan Serta Izin Undang-undang Gangguan Bagi Perusahaan-perusahaan yang
Mengadakan Penanaman Modal. Menurut Undang-undang No.1 Tahun 1967 dan Undang-
undang No.6 Tahun 1968. Permendagri ini jelas memberikan berbagai kemudahan bagi
perusahaan-perusahaan baik PMA maupun PMDN untuk mendapatkan tanah.

Kemudian sejalan dengan perkembangan ekonomi sebagai dampak dari deregulasi ekonomi
yang telah mampu mendorong penanaman modal baik dalam negeri maupun penanaman modal
asing, relokasi industri, permintaan terhadap tanah untuk kepentingan industri semakin besar.
Pada saat yang bersamaan fenomena ini menimbulkan berbagai kasus sengketa tanah yang
melibatkan masyarakat dan perusahaan-perusahaan swasta, sedangkan institusi untuk
mengatasi persoalan tersebut sangat terbatas daya jangkaunya.

Misalnya antara departemen yang mempunyai kaitan masalah pertanahan dalam hal ini sulit
dilakukan koordinasi dalam upaya mengurangi tumpang tindih persoalan.

Untuk merangsang investasi, terutama untuk menarik relokasi industri dari negara industri maju
lainnya, pemerintah mengeluarkan Keppres No.53 Tahun 1989, tentang Kawasan Industri yang
bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan industri, memberikan kemudahan bagi kegiatan
industri. Pembangunan kawasan industri ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas industri yang
lengkap baik menyangkut imfrastruktur maupun fasilitas industri lainya. Seperti Kawasan Industri
Medan (KIM) yang dilengkapi berbagai fasilitas yang dilakukan oleh pihak swasta.

Sebagai akibat pengalokasian tanah untuk kepentingan swasta pada saat bersamaan pemerintah
pun memerlukan pengadaan tanah terutama untuk memfasilitas kebutuhan swasta yang
menyangkut pembangunan imfrastruktur seperti jalan raya. Hal ini telah mendorong terjadinya
kasus tanah antara masyarakat dengan pemerintah. Fenomena ini kemudian memunculkan
pandangan tentang peraturan sebagai penyebab, karena ketidakmampuan peraturan tersebut
dalam mengakomodasikan perlindungan hukum terhadap kepentingan masyarakat. Banyak
korban karena tanahnya digusur. Perdebatan ini menyangkut aspek yuridis dan materiel dari
peraturan tersebut yang dianggap cacat hukum. Akhirnya pemerintah mengeluarkan Keppres
No.55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum yang secara
bersamaan mencabut PMDN No. 15 Tahun 1975, PMDN No.2 Tahun 1976 dan PMDN No.2
Tahun 1985.

c. Faktor Sosbud.

Faktor sosial budaya memerlukan penataan kembali (restrukturisasi) sesuai dengan nilai-nilai
dan asas-asas kehidupan nasional yang kini disebar luaskan melalui pemasyarakatan Pancasila,
sehingga setiap nilai dan unsur pemecah dapat dieleminir, baik yang berbentuk issue kelompok
suku, agama, ras, dan adat istiadat maupun unsur feodal dan neofeodalisme. Kelompok-
kelompok batas dibina sebagai sarana sosial menuju kesatuan bangsa (M. Solly Lubis : 1988 ;
54).

Berdasarkan pendapat M. Solly Lubis di atas faktor sosial budaya juga dapat menimbulkan salah
satu penyebab terjadinya korban dalam kasus-kasus pertanahan, karena nilai-nilai sosial dalam
konsep pendekatan ini bisa saja mapan, bisa juga untuk sementara labil dengan berbagai
pengaruh lingkungan sosial itu sendiri. Pertumbuhan kepadatan penduduk yang meningkat
secara tajam, kesempatan kerja yang terbatas serta pola penguasaan dan pemilikan tanah
tersebut tidak adil dalam kaitan dengan stratifikasi masyarakat.
Dalam kenyataannya rakyat petani yang telah bertahun-tahun menguasai tanah dan kekayaan
alam secara produktif, tidak memperoleh jaminan kepastian hukum. Suatu fakta yang sulit
dipertanggung jawabkan adalah tidak berfungsinya UUPA No. 5 Tahun 1960 sebagai induk
Undang-undang yang berasas pro-petani, dalam menguatkan hak masyarakat atas tanah.
Kebijakan pemerintah justru memberi kemudahan bagi pemilik modal besar untuk memperoleh
tapak tanah bagi industri mereka, walaupun harus beroperasi pada tanah-tanah dan kekayaan
alam yang produktif telah dikuasai, digarap dan dikelola rakyat.

Pembebasan tanah secara massal, sering pemilik tanah antara satu dengan pemilik yang lain
mudah dipecah belah oleh pihak yang berkepentingan dengan tanah tersebut, sehingga antara
pemilik tanah yang satu dengan pemilik tanah yang lainnya pada lokasi yang sama menerima
ganti rugi tanah yang berbeda nilainya permeter. Misalnya : kasus pembebasan tanah PT Victor
Jaya Raya di Kelurahan Mangga dan Kelurahan Kuala Bekala masyarakat dalam menerima ganti
rugi ada yang menerima Rp.4.500/M2 dan ada Rp.7.500/M2 dan ada juga Rp.10.000/M2, pada
hal lokasinya sama. Hal ini disebabkan pendidikan masyarakat yang rendah sehingga
mempunyai sifat yang labil dan masyarakatnya mudah terpengaruh akibat kondisi sosialnya yang
mendorong masyarakat itu menerima ganti rugi.

Pendekatan sosial budaya ini sangat penting untuk menghindarkan timbulnya korban dalam
kasus-kasus pertanahan, umumnya disebabkan pendekatan sosial budaya yang tidak
dilaksanakan dengan baik, bahkan dalam masyarakat untuk mendapatkan kesepakatan
mengenai besar dan bentuk ganti rugi tanah lebih banyak mengarah kepada sifat intimidasi dan
paksaan dengan maksud untuk mendapatkan tanah dengan untung yang banyak sehingga sifat
kekeluargaan sudah tidak ada lagi bagi pihak yang berkepentingan dengan tanah akibat
hilangnya budaya malu.

Terlepas dari faktor budaya malu ini dalam konteks kriminologi dapat mengakibatkan bumerang
tersendiri dalam permasalahan kejahatan pertanahan khususnya dalam ganti rugi tanah.

Dalam kaitan dengan budaya Frank pernah berbicara tentang "The doctrine of individual
responsibility" yang dapat dialihkan menjadi "The doctrine of cultural responsebility". Jika
pemikiran ini dirujuk pada budaya orang Indonesia yang katanya adalah kekeluargaan, maka
sangat menarik untuk memperhatikan analisis Frank bahwa "Until the culture makes the
conservation of human values the dominant theme, the individual cannot, or will not, find his
fulfilment." (JE. Sahetapy : 1992 ; 76).
Budaya membuat perlindungan akan nilai-nilai manusia thema yang dominan, perorangan tidak
bisa atau tidak akan memperoleh penyelesaiannya. Nilai-nilai sosial dan aspek budaya akan
selalu dinamis dalam mencari faktor penyebab timbulnya korban dalam kasus ganti rugi tanah.

d. Faktor Kamtib.

Pembebasan dan pengadaan tanah untuk kepentingan umum maupun swasta jika dikaitkan
dengan masalah Kamtib merupakan faktor yang penting, karena pembebasan dan pengadaan
tanah tidak akan sukses dengan baik jika keamanan dan ketertiban dalam masyarakat terganggu
atau diganggu oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Perusahaan asing tidak akan mau menanamkan modalnya jika Kamtib tidak terjamin atau tidak
ada yang bertanggung jawab terhadap modal-modal yang ditanamkan di Indonesia.

Salah satu faktor Kamtib yang sangat mempengaruhi pembebasan tanah misalnya kasus yang
terjadi di Desa Ramunia Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang masyarakat menjadi
korban, karena ganti rugi yang diberikan tidak sesuai dengan kesepakatan semula.
Masyarakatnya dipaksa menerima uang dalam bentuk bantuan komando (karena yang
menempati tanah tersebut terdiri dari para pensiunan ABRI) dan kemudian harus keluar dari
areal kebun small holder tersebut. Sisa tanah yang belum diganti rugi tidak dapat diambil
kembali, karena faktor Kamtib tidak dapat menjadi pelindung masyarakat yang menjadi korban
dalam kasus pembebasan pertanahan tersebut. Perusahaan asing tidak akan mau menanam
modalnya jika faktor Kamtib di dalam negeri tidak terjamin. Demikian pula pihak yang
membutuhkan tanah jika tanah yang sudah diganti rugi tidak dapat menikmatinya karena situasi
ketertiban dan keamanan itu sendiri.

C. Pihak-Pihak yang Menjadi Korban dalam Kasus Ganti Rugi Tanah.

Pihak-pihak yang menjadi korban tidak selalu perorangan, tetapi dapat juga terjadi pada suatu
kelompok, badan hukum (pengusaha), instasi pemerintah dan BUMN.

Menurut Arif Gosita (1993 ; 101) korban itu timbul sebagai interaksi akibat adanya interrelasi
antara fenomena-fenomena yang ada dan saling mempengaruhi dan dapat dimengerti pihak
korban merupakan salah satu yang menderita akibat dalam pembebasan tanah baik untuk
kepentingan umum maupun kepentingan swasta yang dilakukan tanpa adanya musyawarah atau
kesepakatan antara pihak yang memerlukan tanah dengan pihak pemilik tanah.

Berdasarkan hal tersebut di atas ada 2 (dua) pihak yang menjadi korban dalam kasus-kasus
pertanahan antara lain :
1. Pemilik tanah.
2. Pihak yang berkepentingan dengan pengadaan tanah.

1. Pemilik tanah.

Pemilik tanah terdiri atas perorangan dan masyarakat adat. Pada umumnya pemilik tanah
perorangan maupun masyarakat hukum adat menjadi korban akibat dari pihak-pihak yang
membutuhkan tanah atau pihak yang berkepentingan dengan tanah, tidak berpedoman kepada
ketentuan peraturan hukum yang ada, sehingga proses ganti rugi yang dilaksanakan
menyimpang dari ketentuan hukum.

Dalam ketentuan hukum sebagaimana yang diatur dalam Surat Edaran Badan Pertanahan
Nasional No.508.2-5568-D.III tanggal 6 Desember 1990 dan Surat Keputusan Menteri
Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.22 Tahun 1993 tanggal 4 Desember 1993
menyatakan : Pembebasan hak atas tanah untuk kepentingan swasta dapat dilakukan secara
musyawarah langsung dengan masyarakat dengan mengikutsertakan BPN dan anggota-anggota
lainnya seperti : Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Tata Kota dan Kepala Dinas Pertanian Tanaman
Pangan/Perkebunan Daerah Tk.II serta camat setempat sebagai anggota. Tetapi kenyataan di
lapangan ketentuan tersebut di atas tidak pernah diikutkan dan mereka baru diikutsertakan
setelah timbulnya masalah atau keributan. Pembebasan tanah tersebut hanya dilaksanakan oleh
perusahaan sendiri dengan panitianya, sehingga proses pelaksanaan ganti rugi tanah yang
dilakukan oleh panitia ini, musyawarah yang dilakukan dengan iktikad yang kurang baik dengan
cara penekanan dan intimidasi (Ediwarman : 1999 ; 45). Misalnya : Kasus pembebasan tanah
Bandara Kuala Namu atas tanah kebun small holder seluas ± 351 Ha. dan surat-surat (sertifikat
tanah) diterbitkan atas nama Puskopad. Pada hakikatnya kebun tersebut bukan milik dari 250
keluarga yang kesemuanya terdiri atas pensiunan ABRI, yang dibayar ganti rugi permeter Rp.
8.448, sawit per-batang Rp.8.100 dan kayu jati Rp.15.000 oleh PT Angkasa Pura kepada
Puskopad.

Pembayaran ganti rugi berikut dengan tanaman yang ada di atasnya telah dibayar langsung oleh
PT Angkasa Pura kepada Puskopad, namun Puskopad hanya memberikan ganti rugi kepada
yang mengusahai kebun small holder bukan ganti rugi tanah tetapi ganti rugi tanaman. Menurut
Puskopad tanah tersebut merupakan miliknya yang pembayarannya sesuai dengan tabel di atas,
karena pihak Puskopad selaku penerima ganti rugi. Jauh sebelumnya telah ada pernyataan para
pensiunan ABRI selaku pihak pemilik tanaman telah menerima uang ganti rugi, akan tetapi
setelah menerima uang ganti rugi para pensiunan tidak mengakui tanah tersebut milik Puskopad
dan ganti rugi yang diterima bukan ganti rugi tanah, tetapi bentuk bantuan komando, sehingga
akibatnya para pensiunan ABRI menuntut lagi kepada PT Angkasa Pura maupun Puskopad agar
sisa ganti rugi tanah dapat dibayar lagi kepada mereka .

Berdasarkan uraian di atas kerugian yang dirasakan oleh pemilik tanah bagi korban kasus ganti
rugi adalah :

1. Dalam bentuk material yaitu : harga tanah dibayar terlalu rendah dan tidak sesuai dengan
ketentuan hukum yang ada.
2. Dalam bentuk immateril yaitu :
a. Tidak diperhitungkan kerugian kepindahan ke tempat lain,
b. Kehilangan mata pencarian di tempat yang lama,
c. Kehilangan kenikmatan disebabkan perbuatan orang lain,
d. Kehilangan keserasian di tempat semula,
e. Putusnya hubungan yang terbina selama ini di tempat semula,
f. Tidak adanya sanksi hukum pidana yang tegas terhadap pelanggaran hukum dalam ganti rugi
tanah,
g. Tidak adanya jaminan hukum terhadap pihak yang telah menjadi korban akibat perbuatan
pelanggaran hukum.

2. Pihak yang Berkepentingan dengan Pengadaan Tanah.

Pihak yang berkepentingan dengan pengadaan tanah ini dapat berupa :


a. Badan Hukum (pengusaha) .
b. Instansi Pemerintah dan BUMN.

ad.a. Badan Hukum (pengusaha).

Berdasarkan hasil penelitian badan hukum (pengusaha) menjadi korban dalam pembebasan dan
pengadaan tanah mempunyai karateristik yang berbeda-beda misalnya :

1. Korban PT Taman Malibu Indah.


Badan Hukum (pengusaha) menjadi korban akibat tidak adanya perlindungan hukum dari instansi
pemerintah (dalam hal ini Badan Pertanahan Nasional) selaku instansi yang mengeluarkan hak-
hak atas tanah.

PT. Taman Malibu Indah pada mulanya telah melakukan transaksi jual beli hak atas tanah untuk
kepentingan pembangunan perumahan. Setelah jual beli dilaksanakan kemudian dilanjutkan
dengan pembangunan perumahan. Ahli waris Sultan Deli menyatakan tanah yang dibeli oleh
perusahaan tersebut adalah milik sultan sesuai dengan grant sultan yang dimiliki. Perusahaan
tidak mau memperpanjang masalah, maka dicari jalan penyelesaiannya dengan pendekatan
kekeluargaan dan musyawarah yang akhirnya diperoleh kesepakatan, dimana pengusaha
dibebankan untuk membayar ganti rugi tanah kepada pemilik grant sultan. Setelah ganti rugi
dibayar, muncul lagi tuntutan dari pihak keluarga Sultan yang lain menyatakan tanah yang
dibayar ganti rugi itu adalah tanah mereka. Tetapi tuntutan tersebut tidak ditanggapi oleh
perusahaan, maka keluarga Sultan membawa persoalan ini ke Pengadilan TUN Medan hingga
sampai proses perkaranya ke MARI. dan di MARI. memutus dengan pembatalan sertifikat yang
dikuasai oleh perusahaan. Perusahaan menjadi korban akibat adanya penerapan hukum yang
tidak menjamin pengusaha sebagai pembeli yang beriktikad baik yang telah menempuh prosedur
kepemilikan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

2. Korban PT Victor Jaya Raya.


Perusahaan ini menjadi korban akibat besarnya ganti rugi melebihi harga dasar yang ditentukan
dalam Surat Keputusan Walikota/Bupati Kepala Daerah setempat.

PT Victor Jaya Raya menjadi korban, karena adanya permainan calo di dalam perusahaan yang
bekerja sama dengan panitia. Menurut perusahaan besarnya ganti rugi yang dikeluarkan sebesar
Rp. 40.000/M2, sedangkan yang diterima pemilik tanah bervariasi dari Rp.4.200/M2 s/d
Rp.10.000/M2.
Selain itu perusahaan juga menanggung kerugian yang cukup besar akibat rusaknya sarana dan
prasarana perusahaan dari amukan masa yang berpangkal dari kecilnya ganti rugi yang mereka
terima
.
3. Korban PT Sinar Deli Indah.

Korbannya perusahaan PT Sinar Deli Indah, karena adanya 2 (dua) buah surat tanah dalam satu
lokasi yang sama.

Pihak pengusaha dalam pembebasan tanah telah memberikan uang ganti rugi berdasarkan
musyawarah yang telah disepakati antara pemilik tanah dengan pengusaha yang disaksikan oleh
camat setempat.

Setelah seluruh uang ganti rugi dibayarkan oleh perusahaan kepada pemegang hak atas tanah,
selanjutnya pengusaha mengajukan permohonan hak atas tanah kepada BPN, sehingga terbitlah
sertifikat hak atas tanah atas lokasi yang dimohonkan tersebut. Setelah pembangunan
perumahan selesai 40 (empat puluh) unit rumah timbul masalah yaitu adanya pihak ketiga yang
menyatakan bahwa di atas tanah yang telah di bangun rumah tersebut adalah kepunyaan
mereka dengan memperlihatkan sertifikat yang dikeluarkan tahun 1961. Penyelesaiannya secara
musyarawah dengan kesepakatan perusahaan membayar kembali uang ganti rugi tanah kepada
mereka yang memiliki sertifikat yang diterbitkan tahun 1961 tersebut.

Berdasarkan hal tersebut di atas tergambar adanya suatu kelalaian aparatur pemerintah, yang
memberikan informasi atau keterangan yang salah atas tanah sehingga terjadi transaksi atas
tanah milik orang lain, akibatnya perusahaan terpaksa membayar ganti rugi dua kali atas lokasi
yang sama, hal ini disebabkan adanya surat keterangan tanah yang dikeluarkan oleh lurah,
camat dan BPN sehingga perusahaan menjadi korban atas kecerobohan mereka.

Kerugian yang diderita oleh badan hukum (pengusaha) adalah: 1). Dalam bentuk material yaitu :
harga tanah dibayar terlalu tinggi, karena adanya KKN dengan oknum perantara (calo) dalam
pembebasan tanah. 2). Kerugian dalam bentuk immateril yaitu : a). Tidak adanya kepastian
hukum terhadap hak yang dimiliki oleh korban, b). Masih lemahnya sistem manajemen BPN yang
menerbitkan hak-hak atas tanah yang dimohonkan sehingga adanya dua sertifikat atas lokasi
yang sama, c). Kurang tegasnya penerapan hukum oleh lembaga yudikatif, d). Adanya
permainan calo di dalam proses ganti rugi tanah, e). Tidak adanya sanksi hukum yang tegas
untuk melindungi badan hukum (pengusaha) selaku pihak yang menjadi korban.

b. Instansi Pemerintah dan BUMN.

Instansi Pemerintah dan BUMN yang menjadi korban dalam kasus pertanahan di Kota Medan
dan Kapubaten Deli Serdang antara lain :

1. Pemda Kota Medan.


2. Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

ad.1. Korban Pemda Kota Medan.


Korban Pemda Kota Medan terjadi dalam kasus pembebasan tanah untuk kepentingan umum
dalam pelebaran Jalan Lingkar Selatan Kota Medan. Dalam kasus ini adanya permainan dari
panitia IX (sembilan) mengenai pembayaran harga tanah terhadap pemiliknya. Pembayaran nilai
tanah yang dibayar dalam pelebaran jalan Rp.8.000/M2 sedangkan alokasi yang disediakan oleh
pemerintah Rp.44.000/M2.

Dalam pandangan kriminologi panitia pembebasan tanah ini telah melakukan perbuatan
penyalahgunaan wewenang/kekuasaan secara juridis dapat dituntut melakukan perbuatan tindak
pidana korupsi. Para panitia pembebasan tanah tidak mempunyai integritas yang baik dalam
melaksanakan tugasnya, tetapi lebih mengutamakan kepentingan pribadi.

ad.2. Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Ada beberapa karakteristik yang berbeda mengenai korban dalam kasus pembebasan tanah
untuk kepentingan BUMN di Medan dan Kabupaten Deli Serdang antara lain :
a. Korban PT Angkasa Pura Medan.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini telah melakukan pembebasan tanah untuk proyek
pembangunan Bandara Kuala Namu. Dalam pembebasan tersebut Badan Usaha Milik Negara ini
telah menjadi korban akibat adanya permainan panitia di dalam pembebasan tanah. Setelah
dilakukan penelitian PT Angkasa Pura secara langsung tidak merasa dirugikan atau korban,
namun pada hakikatnya secara tidak langsung mengalami banyak korban di dalam hal
pembayaran ganti rugi yang telah dikeluarkan oleh BUMN kepada panitia pembebasan tanah.
Kerugian ini antara lain dalam memberikan ganti rugi tanah harga tanah yang dibayar oleh pihak
yang berkepentingan berbeda dengan harga yang ditentukan oleh pemilik tanah dan kemudian
ganti rugi tanaman yang dibayar antara tanaman yang produktif dengan tanaman yang tidak
produktif disamakan pembayaran ganti ruginya. Bahwa kesemua tersebut di atas dipengaruhi
oleh beberapa faktor antara lain :
(1). Integritas panitia pembebasan tanah yang tidak baik.
(2). Legal culture yang rusak.
(3). Tidak adanya asas keseimbangan dan kepatutan.
(4). Perilaku panitia pembebasan tanah yang kurang baik..

b. Korban Kasus PTPN II di Kabupaten Deli Serdang.

Kasus yang dialami oleh Perusahaan Perkebunan Negara (PTPN.II) selaku pihak yang menjadi
korban terjadi akibat tidak adanya kepastian hukum yang bagi pemegang hak atas tanah dan hal
ini adalah sebagai pengaruh pembebasan tanah dalam era reformasi.

Tidak adanya kepastian hukum sebagai pengaruh perubahan pada era reformasi mengakibatkan
adanya tindakan masyarakat yang bertentangan dengan hukum, hal ini terjadi dalam kasus
pengambilan lahan PTPN. II di Bandar Klipah dan Kelurahan Marindal Kabupaten Deli Serdang.
Perusahaan menjadi korban karena lahan perkebunan diambil oleh masyarakat dengan dalih
dahulu tanah PTPN. II adalah tanah hak ulayat (masyarakat adat melayu). Pada hal secara
juridis tanah hak ulayat tersebut tidak ada lagi di Kabupaten Deli serdang, sebab tanah hak
ulayat mempunyai ciri-ciri antara lain : faktor teritorial, faktor geneologis dan faktor campuran
(Mahadi : 1991 ; 61).

Dalam faktor teritorial itu terdapat ciri adanya persekutuan hukum yang berbentuk daerah,
federasi desa-desa. Di dalam bentuk desa, ada batas-batas tertentu, dalam batas-batas ini ada
desa inti dusun-dusun dan tidak berdiri sendiri, artinya Kepala Desa dan pejabat-pejabat desa
lainnya semuanya tinggal di Desa induk.
Persekutuan hukum dalam bentuk daerah banyak persamaan dengan gambaran seperti di atas,
tetapi dusun-dusun telah berkembang sedemikian rupa, sehingga mempunyai penguasa dusun
sendiri. Dusun itu bersama-sama dengan desa induk merasa tergabung dalam satu daerah,
mempunyai batas-batas tertentu, mempunyai kepala dan fungsionaris sendiri serta hak ulayat
atas hutan-hutan tua.

Kemudian dalam federasi desa-desa ada sejumlah desa masing-masing berdiri sendiri, desa itu
mengadakan ikatan untuk mengurus kepentingan bersama.

Jika dianalisis, secara juridis pengambil alihan tanah ulayat di atas tidak ada dasar hukumnya
bagi masyarakat dan individu untuk mengambil tanah PTPN. II tersebut. PTPN. II menjadi korban
dalam kasus pertanahan, karena adanya sekelompok masyarakat dan individu yang menyatakan
tanah ulayat mereka diambil oleh PTPN. II pada zaman orde baru. Pada hal tidak ada bukti dan
dasar hukumnya, kasus PTPN.II ini belum mendapat perlindungan hukum secara konkrit dari
pemerintah.

D. Penutup.

Berdasarkan uraian di atas perspektif viktimologi mengenai kasus ganti rugi tanah yang terjadi
ada beberapa faktor penyebab timbulnya korban antara lain faktor penyimpangan prilaku hukum,
disintegrasi dari peraturan hukum, faktor politik, ekonomi sosbud dan kamtib. Sedangkan pihak
yang menjadi korban dalam kasus ganti rugi tanah terdiri dari pemilik tanah dan pihak yang
berkepentingan dengan pengadaan tanah, misalnya badan hukum (pengusaha) dan instansi
pemerintah dan BUMN.

Untuk menghindari timbulnya korban dalam kasus ganti rugi tanah, maka upaya yang harus
dilakukan dalam proses pelaksanaannya perlu adanya azas iktikad baik dan transparansi bagi
pihak-pihak yang berkepentingan dengan tanah.

Sedangkan untuk mengatasi kelemahan dan kekurangan beberapa peraturan yang ada
mengenai ganti rugi tanah dapat dibuat suatu undang-undang khusus seperti misalnya "tindak
pidana korupsi, tindak pidana seversi dan tindak pidana ekonomi, mengingat ganti rugi tanah
menyangkut hajat hidup orang banyak. Undang-undang khusus mengenai ganti rugi yang
diharapkan itu perlu mengembangkan suatu konsep hukum yang victimologi dimana dalam
komponen substansinya mencantumkan suatu sanksi penal dan non-penal yang dapat dijatuhkan
secara kumulatif dalam rangka penegakkan hukum yang berkeadilan responsif.

Kemudian dengan berlakunya undang-undang otonomi daerah No. 22/1999, maka undang-
undang ganti rugi tanah yang berlaku secara nasional di Indonesia nantinya pada masing-masing
daerah otonomi diberikan pula wewenang untuk membuat konsep peraturan daerah mengenai
ganti rugi tanah yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerahnya masing-masing di
Indonesia.

Daftar Pustaka

A. Buku.

Black, Donald, The Behavior Of Law, Academic Prees, New York, San Fransisco, London, 1976.

Ediwarman, Victimologi, Kaitannya Dengan Pelaksanaan Ganti Rugi Tanah, CV. Mandar Maju,
1999.
Gosita, Arif, Relevansi Victimologi, Indhill-Co, Jakarta, 1987.

------, Masalah Perlindungan Anak, CV. Akademika Pressindo, Jakarta, 1989.

------, Masalah Korban Kejahatan Kumpulan Karangan, Akademika Prssindo, Jakarta, 1993.

------, Victimologi dan KUHAP Yang Mengatur Ganti Rugi Pihak Korban, Akademika Pressindo,
Jakarta, 1995.

Kusnadi, Mohammad,
Harmaily Ibrahim, Hukum Tata Negara Indonesia, Fakultas Hukum. UI, Jakarta Cet. II, 1983.

Lubis, M, Solly, Sistem Nasional, USU Pres, Medan, 1988.

------, Serba Serbi Politik dan Hukum, CV. Mandar Maju, Bandung, 1989.

------, Dimensi-Dimensi manajemen Pembangunan, CV. Mandar Maju, Bandung, 1996.

------, Politik dan Hukum di Era Reformasi, CV. Mandar Maju, Bandung, 2000.

Mas'oed, Mochtar, Tanah dan Pembangunan, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1997.

Mahadi, Uraian Singkat Tentang Hukum Adat, Alumni bandung, 1991,

Purbacaraka, Purnadi, Soerjono soekanto, Perihal Kaedah-kaedah Hukum, Alumni Bandung,


Cetakan-I, 1978.

Sahetapy, J.E, Kausa Kejahatan Dan Beberapa Analisa Kriminologik, Alumi Bandung, 1981.

------, Victimologi Sebuah Bunga Rampai, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1987.

------, Kriminologi Suatu Pengantar, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1992.

------, Teori Kriminologi, Suatu Pengantar, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung 1992.

------, Bunga Rampai Viktimisasi, PT. Erisco, Bandung, 1995.

Separovic, Paul, Zvonirmeir, Victimology Studies of Victim, Zegrig, 1985.

Syahrani, Riduan, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999.

B. Peraturan Perundang-undangan.

Undang-Undang Dasar 1945,

Undang-undang Pokok Agraria No.5 Tahun 1960, tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria.

Undang-undang .No.20 Tahun 1961, tentang Pencabutan Hak Atas Tanah dan Benda-benda
yang Ada di atasnya.
Peraturan Pemerintah No.39 Tahun 1973, tentang Acara Penetapan Ganti Kerugian Oleh
Pengadilan Tinggi sehubungan dengan Pencabutan Hak-hak Atas Tanah dan Benda-benda yang
Ada di atasnya.

Instruksi Presiden Republik Indonesia No.9 Tahun 1973, tentang Pelaksanaan Pencabutan Hak
Atas Tanah dan Benda-benda yang Ada di atasnya.

Peraturan Menteri dalam Negeri No.5 Tahun 1974, tentang Ketentuan-ketentuan Mengenai
Penyediaan dan Pemberian Tanah Untuk Keperluan Swasta.

Peraturan Menteri dalam Negeri No.15 Tahun 1975, tentang Ketentuan-ketentuan Mengenai Tata
Cara Pembebasan Tanah.

Peraturan Menteri dalam Negeri No.2 Tahun 1976, tentang Penggunaan Acara Pembebasan
Tanah Untuk Kepentingan Pemerintah bagi Pembebasan Tanah oleh Pihak Swasta.

Peraturan Menteri dalam Negeri No.2 Tahun 1985, tentang Tata Cara Pengadaan Tanah untuk
Keperluan Proyek Pembangunan di Wilayah Kecamatan.

Surat Edaran Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 580.2-5568-D.III Tgl. 06-12-1990, tentang
Tim Pengawas dan Pengendalian Tanah untuk Keperluan Swasta.

Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN No.1 tahun 1994 tanggal 14-6-1994, tentang
Ketentuan Pel1
aksanaan Keputusan Presiden No.55 tahun 1993, tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan
Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.