Anda di halaman 1dari 52

1

BAB I

PENDAHULUAN

Analisa kuantitatif disebut juga sebagai langkah estimasi komponen suatu

senyawa. Analisa kuantitatif menyangkut tentang penentuan beberapa zat tertentu,

dan zat yang ditentukan sering ditunjuk sebagai zat yang ingin dianalisa. Analisa

kuantitatif berkaitan dengan penetapan berapa banyak suatu zat tertentu yang

terkandung dalam suatu sample.

Tujuan dari praktikum pengenalan analisa kuantitatif adalah untuk

mengenal metode analisa kuantitatif dan menetapkan kadar asam cuka. Sedangkan

manfaat dari praktikum ini adalah dapat mempraktekkan secara langsung dan

mengenal analisa kuantitatif, serta mengenal jenis dan cara kerja bebera pa analis

kuantitatif.
2

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Analisa Kuantitatif

Analisa kuantitatif adalah suatu analisa yang digunakan untuk mengetahui

kadar suatu zat (Svehla, 1985). .Analisa kuantitatif disebut juga sebagai langkah

estimasi komponen suatu senyawa. Analisa kuantitatif menangkut tentang

penentuan beberapa zat tertentu. Zat yang ditentukan sering ditunjuk sebagai zat

yang ingin dianalisa (Khoppar, 1990).

Analisa kuantitatif berkaitan dengan penetapan berapa banyak suatu zat

tertentu yang terkandung dalam suatu sample, zat yang ditetapkan tersebutsering

kali dinyatakan sebagai konstituen, jika zat yang dianalisa tersebut menyusun

lebih dari sekitar 1% dari sample maka analisis ini dianggap konstituen utama zat

itu. Apabila dikatakan konstituen minor, jika suatu zat jumlahnya berkisar 0,01

sampai 1% dari sample terakhir. Dan apabila dikatakan konstituen trace jika

suatu zat yang hadir hingga kurang dari 0.01% (Rosenberg, 1996). Analisi yang

lengkap sebenarnya terdiri lima tahap utama antara lain, pertama pencuplikan

sample, kemudian memilih suatu sample yang presentatif. Langkah kedua

melarutkan sample dengan zat pelarut, kemudian mengkonversi analit menjadi

suatu bentuk yang cocok untuk diukur dan terakhir melakukan pengukuran larutan

tersebut (Ralph, 1994).


3

2.2. Macam-Macam Analisa Kuantitatif

2.2.1. Volumetri

Volumetri adalah suatu analisa kuantitas dari reaksi kimia. Pada analisa

ini, zat yang akan ditentukan kadarnya, direaksikan dengan zat lain yang diketahui

konsentrasinya,sampai mencapai titik ekuivalen. Sehingga konsentrasi zat yang

akan kita cari dapat dihitung. Larutan yang kita ketahui konsentrasinya dengan

pasti disebut larutan standar, ini biasanya kita teteskan dari suatu buret ke dalam

erlenmeyer yang terdapat larutan yang akan kita tentukan kadarnya. Proses

demikian ini juga disebut dengan titrasi. Titik dimana reaksi dapat selesai disebut

titik ekuivalen. Hal ini ditandai dengan adanya perubahan warna pada larutan

yang dititrasi (titrat) sebagai akibat penambahan suatu indikator (biasanya

phenolftalein) (Rosenberg, 1996). Volumetri merupakan suatu metode analisa

kuantitatif yang dilakukan dengan cara mengukur volume larutan yang

konsentrasinya telah diketahui dengan teliti, lalu mereaksikannya telah diketahui

dengan larutan yang akan ditentukan konsentrsainya (Irfan, 2000).

Reaksi-reaksi dalam volumetri :

 Reaksi Netralisasi

HCl + NaOH NaCl + H2O

 Reaksi pengendapan dan atau pembentukan senyawa kompleks :

AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3

 Reaksi reduksi – oksidasi ( redoks )

2FeCl3 + SnCl2 2FeCl2 + SnCl4


4

2.2.2. Spektometri

Penentuan kadar suatu zat berdasarkan hasil analisa zat atau dengan

berdasarkan transmitasi larutan terhadap cahaya pada panjang gelombang tertentu

dengan menggunakan instrument spektometri (Irfan, 2000). Berdasarkan oksidasi

ion permangono spektrometri dalam suasana asam cahaya tidak bergelombang

(Khoppar, 1990).

2.2.3. Gafimetri

Gafimetri adalah suatu teknik pengukuran kadar dalam suatu larutan yang

biasa berupa garam – garam klorida. Analisa ini digunakan untuk menentukan

berat dari suatu yang terdapat dalam persenyawaan dengan cara memisahkan

unsure tersebut dari persenyawaan kemudian ditimbang. Pertama, dengan cara

evolusi, bahan direaksikan sihingga timbul suatu gas. Caranya dengan

memasangkan bahan tersebut atau memeriksakannya dengan suatu pereaksi

sehingga yang dicari adalah banyaknya gas yang terjadi. Kedua, dengan

menggunakan cara pengendapan (Rosenberg, 1996). Analisa gravimetric adalah

proses isolasi dalam pengukuran berat suatu unsure atau senyawa tertentu. Bagian

terbesar dari penentuan secara analisis graviometri meliputi transportasi unsure

kesenyawa murni setabil, yang dapat segera diubah menjadi bentuk yang

ditimbang dengan teliti (Khoppar, 1990).


5

2.2.5. Idiometri

Idiometri ialah salah satu bentuk pengukuran dari suatu oksidator dengan

mempergunakan larutan kalium iodo yang berlebihan dimana I2 yang

dibebabskan dengan titrasi kembali dengan mempergunakan kalium kosulfat. Iodo

termasuk tirasi reduksi dan oksidasi (Rosenberg, 1996). Iodum merupakan reaksi

oksidasi jauh lebih lemah daripada kalium permanganat. Senyawa iodide

merupakan suatu pereaksi dan reaksi yang cukup kuat , lebih kuat dari iodemetrik.

Akan teatpi banyak reaksi oksidasi cukup kuat untuk bereksi dengan ion iodida

secara sempurna (Khoppar, 1990 ).


6

BAB III

MATERI DAN METODE

Praktikum Kimia Dasar mengenai Analisa Kuantitatif dilaksanakan pada

hari Minggu tanggal 01 November 2008 Pukul 07.00-09.00 WIB di Laboratorium

Fisiologi dan Biokimia Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang.

3.1. Materi

Materi yang digunakan adalah Asam Oksalat (H2C2O2.H2O), NaOH 0,1 N,

Fenolftalein (PP). Alat-alat yang digunakan dalam praktikum mengenai analisa

kuantitatif adalah Erlenmeyer 100ml untuk tempat zat yang ditirasi, corong untuk

membantu memasukkan larutan yang sempit mulutnya, labu ukur 250 ml dan

100ml untk tempat melakukan pengenceran dengan volume tertentu, buret untuk

tempat zat yang akan menitrasi pipet tetes untuk mengambil larutan dengan

jumlah sedikit, gelas beker sebagai tempat larutan dan pipet volume 10 ml dan 5

ml untuk mengambil larutan dalam jumlah yang cukup banyak. Bahan yang

digunakan dalam praktikum ini adalah asam oksalat(H2C2O4) sebagai pengencer

ataupun pentitrasi larutan NaOH, sedangkan NaOH sebagai larutan untuk

menitrasi asam cuka yang akan dihitung kadarnya yang dicampur dengan

aquades, fenolftalein(PP) 1% sebagai indikator penunjuk larutan tersebut sebagai

basa.
7

3.2 Metode

3.2.1 Standarisasi NaOH Dengan Larutan Asam Oksalat

Yaitu menimbang dengan tepat 0,63 gram oksalat (H2C2O4.2H2O),

melarutkan asam oksalat yang sudah ditimbang kedalam aquades kemudian

diencerkan menjadi 100ml dengan labu ukur, mengisikan larutan asam oksalat

kedalam buret, mengambil 15 ml NaOH dan memasukkan kedalam Erlenmeyer

100ml, kemudian menambahkan 3 tets indikator PP, larutan dititrasi dengan asam

oksalat standart sampai warna merah indicator hilang. Mencatat voleme asam

oksalat yang diperlukan. Melakukakn titrasi sebanyak 3 kali, menghitung

konsentrasi.

3.2.2. Penetapan kadar asam cuka

Yaitu dengan langkah antara lain, mengisi larutan NaOH yang telah

diketahui konsentrasinya kedalam buret, menganbil 25 ml asam cuka dan

mengencerkannya menjadi 250 ml dengan labu ukur, mengambil 25 ml asam cuka

yang telah diencerkan dan memasukkan kedalam Erlenmeyer, menambahkan 3

tetes indicator PP, menitrasi larutan dengan NaOH sampai timbul warna merah

muda yang tepat. Mengulangi titrasi 3 kali lagi untuk Erlenmeyer yang lain,

mencatat volume NaOH yang diperlukan.


8

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Standarisasi NaOH dengan larutan Asam Oksalat standar

Tabel 1. Hasil Standarisasi NaOH dengan Larutan Asam Oksalat


Volume Asam Oksalat (ml)
Titrasi I 14,7
Titrasi II 14,6
Titrasi III 14,5
Rata-rata 14,6
Sumber: Data Primer Praktikum Kimia Dasar , 2008

Perhitungan Normal Pada percobaan pertama larutan NaOH diberi 3 tetes

PP lalu dihitung dengan larutan asam oksalat kemudian menghitung volum asam

oksalat yang diperlukan untuk menitrasi larutan NaOH menjadi tidak berwarna

NaOH yang diberi indikator PP menjadi berwarna merah. Ini encirikan bahwa

NaOH bersifat basa dan setelah dititrasi larutan NaOH menjadi tidak berwarna

jadi larutan asam reaksinya yaitu :

2NaOH + N2C2O4 . 2H2O Na2C2O4 + 4H2O (Irfan, 2000).

Hal ini sesuai dengan pengertian volumetri yaitu merupakan suatu metode

analisa kuantitatif yang dilakukan dengan cara mengukur volume larutan yang

konsentrasinya telah diketahui dengan teliti, lalu mereaksikannya, telah diketahui

dengan larutan yang akan ditentukan konsentrasinya (Irfan , 2000).


9

4.2. Penetapan Kadar Asam Cuka

Tabel 2. Hasil Penetapan Kadar Asam Cuka


Volume NaOH(ml)
Titrasi I 32,4
Titrasi II 32,3
Titrasi III 30,8
Rata-rata 31,8
Sumber: Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2008

Pada penetapan kadar asam cuka, larutan asam cuka yang telah ditambah

3 tetes fenolftalein tetap berwarna putih. Lalu menjadi berwarna merah muda

setelah ditetesi NaOH sedikit demi sedikit dengan menggunakan buret dengan

rata-rata penambahan sebanyak 28,3 ml (3 kali titrasi). Hal ini disebabkan karena

NaOH bersifat basa, sehingga terjadi reaksi netralisasi (Khopar,1990). Hasil rata-

rata penambahan pada ketiga titrasi diatas tidak sesuai atau tidak ekuivalen

dengan volume larutan standar sehingga kadar asam cuka menjadi tidak sesuai

dengan kadar standar karena kesalahan penimbangan maupun kesalahan

pengamatan praktikan (Rosenberg, 1996).


10

BAB V

KESIMPULAN

Metode analisa kuantitatif adalah metode perhitungan banyaknya atau

besarnya suatu zat atau larutan di dalam larutan standar.

Pada percobaan Standarisasi NaOH, larutan yang dititrasi terjadi perubahan

warna yang menunjukkan bahwa reaksi tersebut telah sempurna. Perubahan warna

pada larutan NaOH yang telah diberi fenolftalein dikarenakan terjadi reaksi

penetralan dengan menggunakan larutan standar Asam oksalat yang dititrasikan,

larutan yang semula berwarna merah karena larutan bersifat basa, menjadi

berubah berwarna putih yang bersifat netral. Pada penetapan kadar asam cuka,

asam cuka yang telah ditetesi dengan indikator fenolftalein bersifat netral,

kemudian setelah dititrasi dengan larutan NaOH berubah warna menjadi merah

muda, menunjukkan bahwa terjadi reaksi yang sempurna saat larutan berubah

warna menjadi merah muda, reaksi tersebut adalah reaksi pengendapan.

Larutan standar adalah larutan yang telah diketahui konsentrasinya secara

teliti yang akan digunakan untuk menitrasi larutan yang akan diuji, sehingga

larutan tersebut terjadi reaksi yang sempurna.


11

DAFTAR PUSTAKA

Khoppar, S..M. 1990.Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press, Jakarta.

Ralph, H. P. 1994. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern. Erlangga,


Jakarta.

Rosenberg, J. L. 1996. Kimia Dasar edisi keenam. Erlangga, Jakarta.

Irfan. 2000. Ilmu Kimia, Erlannga, Jakarta.

Svehla, G. 1985. Kimia Analisis, Terjemahan Setiono. PT. Kalman Media


Pustaka, Jakarta.
12

LAMPIRAN

Lampiran 1

Labu ukur Clam

Fungsi : untuk mengukur volume Fungsi : untuk penyangga buret yang


larutan terletak pada statif

Tabung erlenmeyer pipet tetes

Fungsi : untuk wadah larutan dalam Fungsi : untuk mengambil larutan


jumlah volume tertentu dalam

Corong Gelas ukur

Fungsi : untuk mempermudah Fungsi : sebagai tempat untuk


memasukkan larutan kedalam wadah mengambil larutan
bermulut kecil

Buret Statif

Fungsi : untuk titrasi Fungsi : sebagai penyangga clam dan


buret
13

Lampiran 2

1.Perhitungan Normalitas NaOH:


N1. V1 = N2 . V2
0,1. V1 = N2 . 15
0,1 . 14,6 = N2 . 15
N2 = 0,09

Keterangan: N1 =Normalitas asam oksalat (0,1)


V1 = Volume asam oksalat
N2 = Normalitas NaOH
V2 = Volume NaOH
2.Perhitungan Kadar Asam Cuka:
C=V1 . N . P . B
V2 . 1000

31,8 . 0,09 .10 .60


25 . 1000
1717,2
25000
0,068 . 100
=6,8

Keterangan : C = Kadar asam cuka


V1 = Volume larutan NaOH
N = Normalitas NaOH
P = Faktor pengenceran
V2 = Volume asam cuka
B = Bobot molekul asam cuka (60)
14

BAB I

PENDAHULUAN

Kabohidrat adalah zat gizi yang fungsi utamanya sebagai penghasil

energi,dimana setiap gramnya menghasilkan 4 kalori.Walaupun lemak

menghasilkan energi lebih besar,namun karbohidrat lebih banyak di konsumsi

sehari - hari sebagai bahan makanan pokok,terutama pada negara sedang

berkembang.

Karbohidrat banyak ditemukan pada serealia (beras, gandum, jagung,

kentang dan sebagainya), serta pada biji - bijian yang tersebar luas di alam.

Karbohidrat menyediakan kebutuhan dasar yang diperlukan oleh tubuh. Tubuh

menggunakan karbohidrat untuk segala aktivitas kita yang kita lakukan.

Tujuan dari praktikum ini adalah agar kita mengetahui sifat umum dan

sifat khusus dari karbohidrat, selain itu praktikum ini juga memberikan manfaat

kepada praktikan agar praktikan dapat mengetahui larutan apa saja yang dapat

larut dalam karbohidrat dan mengetahui perbedaan warna ketika karbohidrat

direaksikan atau dicampur dengan zat lain.


15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Karbohidrat

Karbohidrat merupakan senyawa karbon, hydrogen dan oksigen yang

terdapat di alam. Karbohidrat mempunyai rumus empiris CH2O misalnya, rumus

molekul glukosa ialah C6H12O6 (enam kali CH2O). Dalam tahun 1880-an disadari

bahwa gagasan hidrat dari karbon merupakan gagasan yang salah dan karbohidrat

sebenarnya adalah polihidroksi aldehid dan keton atau turunan mereka

(Fessenden, 1986). Banyak karbohidrat yang merupakan polimer yang tersusun

dari molekul gula yang terangkai menjadi rantai yang panjang serta bercabang-

cabang. Karbohidrat merupakan bahan makanan penting dan sumber tenaga yang

terdapat dalam tumbuhan dan daging hewan. Selain itu, karbohidrat juga menjadi

komponen struktur penting pada makhluk hidup dalam serat (fiber), seperti

selulosa, pektin serta lignin (William, 1994).

Karbohidrat berasal dari kata karbo yang artinya unsure karbon dan hidrat

yang artinya air (H2O) dengan rumus kimia CH2O. Secara eksperimen dapat

dibuktikan bahwa rasio C : H : O = 1 : 2 : 1. Jadi rumus kimia karbohidrat lebih

diyakini kebenarannya sekitar tahun 1880-an. Akan tetapi sampai saat ini belum

dapat dibuktikan secara kimiawi bahwa unsure C dapat mengikat molekul H2O

(Hawab, 2003). Biomolekul karbohidrat adalah suatu makromolekul senyawa

organic dengan BM beberapa ribu sampai 500.000. Akromolekul senyawa organic

tersebut berkerangka rantai hidrokarbon (Hawab, 2003).


16

2.2. Klasifikasi Karbohidrat

Satu makromolekul karbohidrat adalah satu polimer alam yang dibangun

oleh monomer monosakarida, Oleh sebab itu, karbohidrat disebut juga

polisakarida. Berdasarkan BM dan panjang pendeknya rantai hidrokarbon serta

kompleksasi makromolekulnya, karbohidrat dibedakan menjadi 4 macam, yaitu

monosakarida, disakarida, oligosakarida dan polisakarida (Mayes, 1999).

Monosakarida adalah karbohidrat yang mempunyai molekul paling

sederhana di banding dengan molekul karbohidrat yang lain. Berdasarkan atas

radikal fungsi yang terdapat dalam molekulnya, monosakarida dibedakan atas

aldosa dan ketosa. Aldosa yaitu monosakarida yang mempunyai gugus aldehid

dan beberapa gugus hidroksil. Ketosa merupakan monosakarida yang mempunyai

radikal fungsi karbonil,karena dalam banyak hal sifatnya menyerupai sifat keton.

Sifat tersebut adalah ketosa dapat mereduksi dengan pereduksi Benedict dan

Fehling (William, 1994). Monosakarida sering juga disebut gula sederhana

(simple sugars) adalah sakarida yang tidak dapat dihidrolisis menjadi bentuk yang

lebih sederhana lagi. Rumus umum CnH2mOn (n = m atau m = 1). Gula – gula

sederhana dapat dibagi lagi dalam Triosa, tetrosa, pentosa, heksosa, atau

tergantung dari jumlah atom karbon yang mereka miliki; dan dalam aldosa atau

ketosa, tergantung pada apakah gugus yang terdapat aldehida dan keton, bahwa

larutan karbohidrat tidak larut dalam alkohol (Harper, 1979).

Disakarida adalah karohidrat yang menghasilkan 2 molekul monosakarida

yang sama atau berbeda bila dihidrolisis. Rumus umumnya adalah Cn(H2(H2O)n-1.

contohnya, sukrosa, laktosa, dan maltosa (Harper, 1979). Disakarida merupakan


17

seyawa karbohidrat yang tersusun dari dua satuan monosakarida. Umumnya

terdiri dari dua sisi heksosa dan karena itu disakarida sering disebut

heksodisakarida. Pada hidrolisa disakarida yang dipengaruhi oleh enzim

disakarida misalnya sukrosa, maltase dan laktase (William, 1994).

Polisakarida yaitu karbohidrat yang mempunyai susunan yang komplek

dengan berat molekul besar. Dalam proses hidrolisis polisakarida juga akan

dihasilkan molekul-molekul penyusunnya. Sifat polisakarida secara umum adalah

tidak menunjukkan peristiwa mutarolan. Tidak dapat mereduksi karena tidak

menunjukkan terbentuknya orazon dan relative stabil terhadap pengaruh alkali..

Polisakarida yang tidak mengandung N dan penting serta banyak pemakaiannya

adalah amilum, glikogen, selulosa dan annulin (Marthohargono dan Soeharsono,

1997). Polisakarida memenuhi tiga maksud dalam kehidupan, sebagai bahan

bangunan (architektural), bahan makanan (nutritional), dan sebagai zat spesifik.

(Fessenden, 1986).

Oligosakarida menghasilkan dua hingga sepuluh unit monosakarida dapa

hidrolisis, contohnya maltotriosa (bukan suatu triosa murni tetapi suatu trisakarida

yang terdiri atas tiga residu α-glukosa). Polisakarida menghasilkan lebih dari

sepuluh molekul monosakarida pada hidrolisis (suatu polimer alamiah, berstruktur

makromolekul) (Mayes, 1999). Semua monosakarida dan disakarida merupakan

gula pereduksi terhadap fehling. Semua larutan karbohidrat bila direaksikan

dengan pereaksi Molish akan berubah warna menjadi ungu (terjadi cincin).

Karbohidrat berubah warna menjadi warna merah bata dan terjadi endapan apabila
18

ditambah dengan pereaksi Benedict. Karbohidrat apabila ditambah dengan Asam

Pikrat akan berubah warna merah (Harold, 2003).


19

BAB III

MATERI DAN METODE

Praktikum kimia dengan materi karbohidrat dilaksanakan pada hari

Minggu tanggal 02 November 2008, pukul 11.00 – 13.00 WIB di Laboratorium

Fisiologi dan Biokimia Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang.

3.1. Materi

Alat yang digunakan pada percobaan ini antara lain tabung reaksi untuk

meletakkan bahan yang akan dipergunakan dalam percobaan, pipet tetes untuk

mengambil larutan, penjepit untuk menjepit tabung reaksi, bunsen untuk

memanaskan tabung reaksi yang berisi bahan, rak tabung sebagai tempat

meletakkan tabung reaksi, gelas beker untuk tempat suatu larutan. Bahan yang

digunakan yaitu glukosa, laktosa, maltosa, sukrosa, fruktosa, kanji, madu, sirup,

larutan iodine, Natrium karbonat, Etanol 25%, Fehling A, Fehling B, Asam Pikrat,

H2SO4 pekat, HCl pekat, HNO3 pekat, NaOH, pereaksi Benedict, pereaksi Molish,

pereaksi Tollens.

3.2. Metode

3.2.1. Uji Kelarutan

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan delapan

tabung reaksi lalu memasukkan berturut – turut glukosa, fruktosa, laktosa,

maltosa, sukrosa dan kanji kemudian mencatat warna dari bentuk fisik karbohidrat
20

tersebut. Kemudian menambahkan 10 tetes aquades ke setiap tabung reaksi

selanjutnya menutup dengan ibu kari dan mengojog dengan baik kemudian

membandingkan kelarutan masing-masing karbohidrat dan mencatat dalam

lembar pengamatan.

3.2.2. Uji Fehling

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan tujuh tabung

reaksi lalu berturut-turut mengisi tabung reaksi dengan 10 tetes larutan laktosa,

sukrosa, glukosa, fruktosa, kanji, madu dan sirup kemudian mengisi masing-

masing tabung reaksi dengan 10 tetes Fehling A dan Fehling B. kemudian

mengojognya lalu menempatkan tabung reaksi tersebut dalam penangas air

mendidih selama 10 menit kemudian mengamati dan mencatat perubahan yang

terjadi pada lembar pengamatan. Uji positif jika membentuk endapan merah bata.

3.2.3. Uji Molish

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memasukkan 10 tetes

glukosa 2% kedalam tabung reaksi lalu menambahkan 2 tetes pereaksi Molish

(10% α-naftol dalam alcohol) dan mengojog beberapa kali kemudian miringkan

tabung reaksi tersebut dan menuangkan 10 tetes H2SO4 pekat melalui dinding

tabung reaksi sampai H2SO4 membentuk suatu lapisan pada bagian bawah lalu

mengamati warna pada bidang batas antara asam dan larutan air. Uji positif jika

membentuk cincin warna ungu (violet) pada bidang batas tersebut kemudian

mengulang pengujian ini terhadap larutan glukosa, fruktosa, maltosa, laktosa,

amilum dan madu.


21

3.2.4. Uji Benedict

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memasukkan 10 tetes

glukosa 2% dalam tabung reaksi lalu menambahkan 10 tetes pereksi Benedict dan

mengojog berulang kali kemudian memanakan beberapa saat maka akan terjadi

perubahan warna lalu mengamati dengan teliti dan mencatat pada lembar

pengamatan. Uji positif jika membentuk endapan warna merah bata lalu

mengulangi pengujian ini terhadap larutan fruktosa, maltosa dan laktosa.

3.2.5. Uji Asam Pikrat

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memasukkan 10 tetes

glukosa ke dalam tabug reaksi lalu menambahkan 5 tetes larutan Asam Pikrat

jenuh dan 5 tetes sodium karbonat kemudian memanaskan beberapa saat dan

mengamati perubahan yang terjadi, reaksi positif jika membentuk warna merah

lalu mengulangi pengujian ini terhadap larutan fruktosa, maltosa, laktosa, kanji,

sirup dan sukrosa.


22

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Uji Kelarutan

Tabel 1. Hasil Uji Kelarutan


Sampel Warna Keterangan
Glukora Jernih Larut
Fruktosa Jernih Larut
Laktosa Jernih Larut
Maltosa Jernih Larut
Kanji Putih Tidak larut
Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2008

Dalam uji kelarutan, larutan karbohidrat yang diuraikan seperti glukosa,

fruktosa, laktosa, sukrosa, dan kanji semua larutan dalam air kecuali kanji yang

warna keruh. Hal ini sesuai dengan pendapat Hawab (2003) bahwa larutan

karbohidrat mudah larut dalam air, dan larutan karbohidrat itu tidak larut dalam

alkohol (Harper, 1979).

4.2. Sifat Mereduksi (Uji Fehling)

Tabel 2. Hasil Uji Fehling


Sampel Reaksi (+ / -) Keterangan
Laktosa + Warna merah bata + endapan
Glukosa + Warna merah bata + endapan
Fruktosa + Warna hijau + endapan
Kanji – Warna tetap biru
Madu + Warna tetap biru
Sirup + Warna merah bata + endapan
Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2008

Pada uji fehling larutan monosakarida seperti glukosa dan fruktosa

membentuk endapan. Pada larutan disakarida yaitu laktosa juga terjadi endapan

merah bata (Harold, 2003), Sedangkan polisakarida tidak terbentuk endapan


23

karena larutan-larutan tersebut bukan gula pereduksi. Hal ini sesuai dengan

pendapat Harold (2003) bahwa semua monosakarida dan disakarida merupakan

gula pereduksi terhadap fehling.

4.3. Uji Benedict

Tabel 3. Hasil Uji Benedict


Sampel Reaksi (+ / -) Keterangan
Glukosa 2% + Putih-Biru muda –Merah bata
Fruktosa + Putih-Hijau muda-Merah bata
Sukrosa - Putih-Biru muda-Hijau keruh
Laktosa + Putih-Hijau muda-Merah bata
Kanji - Putih-Biru muda-Biru muda
Sirup + Putih-Biru muda-Biru muda
Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2008

Dalam uji benedict semua larutan karbohidrat berubah menjadi warna

merah bata dan terjadi endapan (Harold, 2003). Sifat karbohidrat dapat

beroksidasi kecuali polisakarida hal ini sesuai dengan pendapat Fessenden

(1986).
24

4.4. Uji Asam Pikrat

Tabel 4. Hasil Uji Asam Pikrat


Sampel Reaksi (+ / -) Keterangan
Glukosa 2% + Warna merah kehitaman
Fruktosa + Warna merah kehitaman
Sukrosa _ Warna tetap kuning
Laktosa + Warna tetap kuning
Kanji - Warna tetap kuning
Sirup + Warna merah kecoklatan
Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2008

Dalam uji asam pikrat semua monosakarida dan disakarida membentuk

warna merah bata (Harold, 2003). Sifat karbohidrat dapat beroksidasi kecuali

polisakarida hal ini sesuai dengan pendapat Fessenden (1986).


25

BAB V

KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa

karbohidrat atau sakarida adalah segolongan besar senyawa organik yang tersusun

hanya dari atom karbon, hidrogen, dan oksigen.Karbohidrat merupakan bahan

makanan penting dan sumber tenaga yang terdapat dalam tumbuhan dan daging

hewan. Selain itu, karbohidrat juga menjadi komponen struktur penting pada

makhluk hidup dalam bentuk serat (fiber), seperti selulosa, pektin, serta lignin.

Karbohidrat menyediakan kebutuhan dasar yang diperlukan tubuh.Pada uji

kelarutan glukosa, fruktosa, laktosa, dan maltosa suatu larutan sedangkan kanji

bukan merupakan suatu larutan. Pada uji Fehling laktosa, glukosa, fruktosa, dan

sirup 2% terjadi endapan dan warna menjadi merah bata sedangkan kanji tidak

terjadi reaksi apapun. Pada uji Molish glukosa, fruktosa, maltosa, laktosa, amilum

dan sirup terjadi cincin warna ungu. Pada uji Benedict glukosa 2%, fruktosa,

maltosa, laktosa berubah warna menjadi warna merah bata dan terjadi endapan

sedangkan pada kanji tidak terjadi reaksi. Pada uji asam pikrat glukosa 2%,

fruktosa, maltosa, dan laktosa berubah warna menjadi warna merah sedangkan

pada kanji tidak berubah warna.


26

DAFTAR PUSTAKA

Wiliam H. 1994. Study Guide for Introduction to Organic Chemistry.EGC,


Jakarta.

Fessenden, Ralph J, Joan S. Fessenden. 1986. Kimia Organik Edisi Ketiga Jilid 2.
Erlangga, Jakarta.

Harold, Hart. 2003. Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat. Erlangga, Jakarta.

Hawab, M. 2003. Pengantar Biokimia. Bayu Media Publishing, Bogor.

Marthohargono dan Soeharsono. 1997. Dasar-dasar Biokimia Jilid I. Universitas


Gadjah Mada Press, Yogyakarta.

Mayes, Peter A. 1999. Biokimia Harper. EGC, Jakarta.

Harper. H. A, 1979. Biokimia, Jakarta.


27

LAMPIRAN

Lampiran 1.

Alat-alat yang digunakan :

1. Pipet tetes

Fungsi = untuk mengambil larutan dalam jumlah kecil.

2. Tabung reaksi

Fungsi = sebagai wadah larutan dan mengukur volume.

3. Rak tabung

Fungsi = untuk meletakkan atau meniriskan tabung reaksi.

4. Pemanas air
28

5. Penjepit

Fungsi = untuk menjepit tabung reaksi.

6. Gelas beker 250 ml

Fungsi = sebagai wadah larutan dan mengukur volume.


29

Lampiran 2.

Menjawab pertanyaan pada buku praktikum kimia dasar

Pertanyaan Uji Fehling

1. Mengapa ada dua karbohidrat yang gagal terhadap uji Fehling?

Jawab : Karena kedua larutan itu (fruktosa dan kanji) bukan merupakan

monosakarida. Padahal larutan Fehling merupakan pereaksi peroksidasi

yang digunakan untuk uji monosakarida.

2. Apakah madu menghasilkan uji Fehling yang positif?

Jawab : Ya, karena madu warnanya berubah jadi merah bata.

3. Tuliskan nama struktur karbohidrat yang menyebabkan uji ini positif!

Jawab :
O
||
CHO
H – C – Na
|
|
H – C – OH
OH – C – H
|
|
OH – C – H + Cu2+ + NaOH + H2O → OH – C – H + Cu2O ↓ + H+
|
|
H – C – OH
H – C – OH
|
|
H – C – OH
H – C – OH
|
|
CH2O
CH2OH
(Glukosa)

4. Apakah sirup yang saudara uji positif terhadap uji Fehling?

Jawab : Ya, karena terbentuk endapan warna merah bata.


30

Pertanyaan Uji Benedict

1. Tuliskan reaksi untuk pengujian larutan maltosa dan laktosa!

Jawab :

Maltosa =

Laktosa =

2. Apakah penyusun pereaksi Benedict?

Jawab : Cu2+ dan H2O

3. Kesimpulan apa yang dapat saudara ambil dari percobaan di atas?

Jawab : Larutan Benedict mengandung unsur Cu (tembaga), hal ini dapat

diidentifikasi dengan adanya endapan berwarna merah bata pada larutan

yang diujikan. Endapan itu merupakan zat sisa dari sebuah reaksi.

Endapan akan terbentuk apabila kedua senyawa yang direaksikan memiliki

keterkaitan antar molekul lewat gugus fungsionalnya.

4. Apakah yang terjadi baik glokosa yang banyak dan yang sedikit pereaksi

Benedict dipanaskan?

Jawab : Tetap akan terbentuk endapan berwarna merah bata, hanya saja

tingkat kepekatan pereaksi yang lebih banyak itu lebih tinggi dan laju

reaksi berlangsung dengan cepat.


31

Pertanyaan Uji Asam Pikrat :

1. Tuliskan masing-masing reaksi untuk pengujian di atas!

Jawab :

a. CHO COOH
| |
H – C – OH H – C – OH
| |
OH – C – H + OH – C – H +
| |
H – C – OH H – C – OH
| |
H – C – OH H – C – OH
| |
CH2O CH2OH

(Glukosa) (Asam Pikrat) (Asam Glukorat) (Asam Pikronat)

b. CH2OH COOH
| |
C=O C = OH
| |
OH – C – H + OH – C – H +
| |
H – C – OH H – C – OH
| |
H – C – OH H – C – OH
| |
CH2OH CH2OH

(Fruktosa) (Asam Pikrat) (Asam Fruktonat) (Asam Pikronat)

2. Kesimpulan apa yang dapat saudara ambil dari percobaan ini?

Jawab : Karbohidrat apabila ditambahkan asam pikrat akan berubah warna

menjadi merah.
32

BAB I

PENDAHULUAN

Kehidupan manusia tidak lepas dari mengkonsumsi makanan sebagai

suplai energi, baik yang berasal dari karbohidrat sebagai sumber utama maupun

protein dan lemak. Protein adalah senyawa organic yang molekulnya sangat besar

dan susunannya sangat kompleks serta merupakan polimer dari alfa asam-asam

amino. Jadi sebenarnya, protein bukanlah merupakan zat tunggal, serta

molekulnya sederhana, tapi masih terdiri dari asam-asam amino.

Lemak adalah lipid sederhana, yaitu ester antara gliserol dan asam lemak, dimana

ketiga radikal hidroksil dari gliserol semuanya diesterkan. Pada umumnya, istilah

lemak meliputi lemak-lemak dan minyak-minyak, dan perbedaan antara keduanya

terletak pada sifat fisiknya : lemak adalah solid (padat) pada temperatur kamar

(200C), sedang minyak pada temperatur tersebut berbentuk cair .

Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui beberapa sifat umum

maupun sifat khusus dari protein dan lemak. Praktikum ini juga bermanfaat agar

praktikan mengetahui pada larutan apa saja protein dapat larut dan tidak dapat

larut, selain itu praktikan juga dapat mengetahui unsur-unsur penyusun protein

serta mengetahui perbedaan warna yang terbentuk saat ditambahkan dengan

larutan atau zat lain.


33

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Protein

2.1.1. Pengertian Protein

Protein adalah polimer dari asam – asam alfa amino yang mempunyai

berat molekul berkisar 5000 sampai beberapa juta asam amino yang mengandung

unsur – unsur yaitu C, H, O dan N dan terkadang juga mengandung unsur lain

seperti S, Fe, P dan Mg (Aloysius, 1989). Menurut asalnya protein dibagi menjadi

dua golongan yaitu protein yang berasal dari hewan disebut dengan protein

hewani. Protein hewani tergolong protein kelas satu. Selanjutnya protein yang

berasal dari tumbuhan yang disebut dengan protein nabati. Protein nabati

tergolong protein kelas dua (Sukarjo, 1985).

Ikatan-ikatan yang terdapat dalam molekul protein adalah Ikatan

Peptida (Amida Asam). Ikatan yang terdapat dalam rantai peptida itu sendiri yaitu

ikatan antara asam amino yang satu dengan asam amino yang lain, ikatan Cystein

Ikatan atom di dalam molekul disebabkan karena persekutuan electron-

elektronnya yang dimiliki bersama oleh kedua atom S (Aloysius, 1989). Ada 2

radikal sulfidri (C-SH) yang berdekatan, Ikatan Garam Ikatan anatara ion-ion

yang berlawanan di dalam suatu molekul, disebabkan oleh gaya-gaya

elektrostatik. Ikatan ini terjadi bila ada radikal karboksil bebas berdekatan dengan

radikal amino bebas, Ikatan EsterIkatan yang terjadi apabila ada asam amino yang
34

mempunyai radikal karboksil bebas. Ikatan ester ini terjadi dalam 1 rantai peptida

tetapi dapat merupakan penghubung 2 rantai peptide. Ikatan Hidrogen Ikatan yang

banyak terdapat dalam molekul protein, terutama yang menghubungkan antara

–C=O dan H-N- (Purba, 1994).

2.1.2. Jenis-jenis ikatan pada molekul protein

Ikatan peptida Ikatan yang terdapat pada rantai peptida, yaitu ikatan

antara asam amino satu dengan yang lain (Klanertelter, 1991). Ikatan sistin Ikatan

atom-atom didalam molekul disebabkan persatuan elektron yang dimiliki bersama

oleh dua atom S. Ikatan sistin terjadi apabila ada dua asam amino dalam rantai

peptida berdekatan.protein dengan ikatan sistin jika dibakar akan timbul bau tidak

enak (Klanertelter, 1991).

Ikatan garamterjadi secara heteropolar atau elektrovalen yaitu

ikatan antar ion-ion yang bermuatan berlawanan dengan suatu molekul.

Disebabkan oleh gaya Elektrostatika. Ikatan ini terjadi antara radikal karbonil

bebas berdekatan dengan radikal amino bebas (Klanertelter, 1991). Ikatan

esterikatan antara asam amino radikal karbosil bebas dengan asam amino yang

memiliki radikal hidroksil bebas (Klanertelter, 1991). Ikatan hidrogenikatan yang

terdapat pada molekul protein, merupakan ikatan penghubung antara -C = C

dengan H-N- (Klanertelter, 1991).


35

2.1.3. Klasifikasi Protein

Protein dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok: Berdasarkan bentuk

molekulnya protein dapat dibedakan menjadi: Protein globular, cirinya yaitu

bentuk padat, kristal, larut dalam larutan garam, asam, basa, dan alcohol. Contoh:

albumin. Protein fibrosa, cirinya yaitu bentuk memanjang dan amorphouse, sukar

ditentukan dengan pasti, tidak arut dalam larutan garam, asam, basa, dan alcohol.

Contoh: karotin dari rambut (Damin, 1998). Berdasarkan komponen penyusunnya

protein dibedakan menjadi: Protein sederhana, yaitu protein yang molekulnya

sederhana dan hanya tersusun dari satu asam amino. Protein majemuk, yaitu

protein yang tersusun dari protein sederhana dan zat lain selain protein (Damin,

1998).

Berdasarkan kelarutannya, protein dibagi menjadi albimin, globulin,

glutein, protamin, prolamin, albuminoid, dan histon. Berdasarkan tingkat

degradasinya protein dibagi menjadi, Native protein adalah protein yang belum

mengalami perubahan. Derivate protein adalah hasil hidrolisis dari protein, yang

dibagi menjadi 2, yaitu Derivat protein primer. Disini hanya sedikit mengalami

perubahan molekuler. Contoh: protean, metaprotein dan koagulum protein.

Derivat protein sekunder. Protein ini lebih banyak mengalami perubahan

molekuler. Contoh: protease, pepton, peptida dan asam amino (Damin, 1998).

Berdasarkan fungsinya protein dibagi menjadi: protein struktur, misalnya myosin,

protein penyimpan misalnya feritin, protein enzim misalnya pepsin protein


36

hormon misalnya inulin vasopresin, protein antibody, protein racun dan protein

dengan fungsi khusus misalnya hemoglobin dan rodopsin (Damin , 1998 ).

2.1.4. Fungsi Protein

Protein dalam makanan diperlukan untuk menyediakan asam amino yang

akan digunakan untuk memproduksi senyawa nitrogen yang lain, untuk mengganti

protein dalam jaringan yang akan mengalami proses penguraian dan untuk

mengganti nitrogen yang telah dikeluarkan oleh tubuh dalam bentuk urea. Ada

beberapa asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh, tetapi tidak dapat diproduksi

oleh tubuh dalam jumlah yang memadai. Asam amino tersebut disebut asam

amino esensial. Kebutuhan akan asam amino esensial bagi anak-anak relative

lebih besar daripada orang dewasa (Poedjiati, 1994). Protein mempunyai fungsi

sepesifik antara lain untuk membangun dan memperbaiki jaringan, pengaturan

metabolisme hormon dan biokatalisator enzim, pengatur PH dengan sistem buffer,

sebagai pertahanan tubuh, dan juga sebagai sumber energi dan pengangkut lipida

(Keenan, 1994).
37

2.2. Lemak

2.2.1. Pengertian Lemak

Lemak merupakan ester antara gliserol dan asam lemak dimana radikal

hidroksil dari gliserol semuanya diesterkan (trigliserida) Lemak mempunyai

struktur umum (Bronk, 1994). Lipid adalah senyawa organic yang terdapat dalam

alam serta tidak larut dalam air tapi larut dalam pelarut organic non polar seperti

hidrokarbon atau dietil eter. Kelas lipid dihubungkan satu sama lain berdasrkan

kemiripan sifat fisisnya namun hubungan kimia fungsional dan structural maupun

fungsi biologis mereka berdekatan. (Fessenden, 1984).

2.2.2. Klasifikasi Lemak

Asam lemak yang menjadi penyusun adalah yang rantainya lurus

mempunyai jumlah atom c genap dan radikal karboksilnya terletak diujung rantai

klasifikasi lemak didasarkan atas ada tidaknya ikatan rangkap dalam molekulnya

dibedakan menjadi Asam Lemak Jenuh adalah struktur kimia dari asam – asam

lemak, tidak mempunyai ikatan rangkap dengan rumus cnh2n+1 Asam lemak Jenuh

berderajat tinggi yang banyak merupakan penyusun lemak adalah asam palmitat

dan asam stearat hampir semua lemak alam mempunyai komponen penyusun

lemak ini. Asam Lemak Tidak Jenuh struktur kimia dari asam – asam ini

mempunyai sebuah atau lebih ikatan rangkap dua dalam molekulnya

(Damin,1998). Gliserol sebagai penyusun lemak yang kedua biasa disebut gliserin

atau dropanotrid 1,2 ,5 . Zat cair yang kental dan berwarna, rasanya mais dan

higroskopis dapat tercampur dengan air dalam segala perbandingan tetapi tidak
38

larut dalam eter dalam keadaan murni bila didinginkan dapat membentuk kristal

yang melebar kembali pada temperature 17 derajat celcius ( Damin,1998 ).

Berdasarkan bentuknya dibagi menjadi Lemak padat adalah lemak yang

pada temperatur biasa atau kamar dalam bentuk padat. Lemak cair ( minyak )

adalah lemak yang pada temperatur biasa atau pada suhu kamar merupakan zat

cair (Carles Keenan, 1992). Berdasarkan sumbernya dibagi menjadi Lemak

hewani adalah lemak yang diperoleh dari hewan terutama hewan tingkat tinggi

contoh :lemak sapi, lemak domba. Lemak nabati adalah lemak yang dperoleh dari

tumbuhan contoh : minyak kelapa, minyak jagung ( Carles Keenan, 1992 ).

Berdasarkan Asam Lemak Penyusunnya dibagi menjadi Lemak berasam

satu adalah lemak yang ketiga asam lemak penyusunnya sama (Damin, 1998).

Lemak berasam dua adalah lemak yang kedua asam lemak penyusunnya sama.

Lemak berasam tiga adalah lemak yang ketiga asam lemak penyusunnya sama

( Carles Keenan, 1992 ).

2.2.3. Fungsi Lemak

Lemak memiliki funsi yaitu untuk penghangat tubuh, untuk melindungi

organ – organ vital makhluk hidup, sebagai cadangan makanan, menjaga daya

tahan tubuh, sebagai sumber energi ( Keenan, 1994 ).Lemak tubuh pada umumnya

di simpan sebagai bentuk: 50% di jaringan bawah kulit, 45% di sekeliling organ

dalam rongga perut, dan 5% di jaringan intramuscular (Rival, 1995).

BAB III
39

MATERI DAN METODE

Praktikum kimia dasar tentang protein dan lemak dilaksanakan pada hari

Sabtu, tanggal 15 November 2008 pukul 07.00 – 09.00 WIB di Laboratorium

Fisiologi dan Biokimia Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang.

3.1. Materi

Materi yang digunakan dalam praktikum protein ialah tabung reaksi pipet

tetes dan penjepit. Sedangkan bahan yang diperlukan antara lain telur, susu, F eCl3,

CuSO4 0,5 %, HgCl2, PbCOOH, HNO3 pekat, NaOH 10 %. Sedangkan materi

yang diperlukan dalam praktikum lemak adalah tabung reaksi dan Bahan yang

diperlukan minyak jagung, minyak kelapa, asam stearat, lemak (gajeh) kertas

saring dan eter.

3.2. Metode

3.2.1. Protein

3.2.1.1. Uji Biuret

Mencampurkan 10 tetes albumin telur dengan 10 tetes NaOH 10 % dalam

tabung reaksi kemudian menambahkan dengan tepat 20 tetes larutan CuSO4 0,5 %

dan diaduk sempurna reaksi positif jika terbentuk warna merah muda atau ungu

mengulangi langkah kerja terhadap 5 tetes gelatin.

3.2.1.2. Presipirasi dengan Larutan Garam Logam Berat


40

Menyediakan empat tabung reaksi yang bersih dan isilah masing – masing

dengan larutan putih telur encer. Pada tabung pertama tambahkan larutan FeCl3

tabung kedua tambahkan CuSO4 Tabung Ketiga tambahkan larutan HgCl2 tabung

keempat tambahkan larutan PbCOOH kemudian mengamati dan bandingkan

warna endapan yang terbentuk catatlah pada lembar pengamatan mengulangi

langkah diatas menggunakan larutan putih telur.

3.2.1.3. Percobaan Hehler

Melarutkan protein encer kemudian masukkan ke dalam tabung reaksi dan

tambahkan beberapa tetes asam nitrat pekat. Mengamati warna dan lapisan yang

terbentuk pembentukan lapisan berwarna putih menunjukkan bahwa protein telah

terdenaturasi karena pengaruh asam nitrat pekat.

3.2.1.4. Uji Xantho Protein

Uji ini khusus untuk protein yang mengandung asam amino dengan

radikal fenil (misal asam amino alanin, tirosin dll). Menyediakan dua buah tabung

reaksi tabung pertama diisi larutan susu encer dan larutan putih telur encer pada

tabung reaksi yang lain Kemudian menambahkan masing – masing dengan asam

nitrat pekat kemudian tempatkan kedua tabung reaksi tersebut pada penangas air

amati warna yang timbul kemudian amati juga warnanya jika ditambahkan 5 tetes

ammonia.

3.2.1. Sifat – sifat Lemak


41

3.2.1.1. Sifat Fisik Kekentalan dan Bau

Mengamati sifat fisik kekentalan dan bau lemak dari asam lemak berikut

ini minyak jagung, minyak kelapa, asam stearat, lemak (gajeh).

BAB IV
42

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Protein

4.1.1. Uji Biuret

Tabel 1. Hasil Pengamatan UjiBiuret


Reaksi
Sampel Keterangan
(+/-)
Putih Telur + Terbentuk lapisan warna ungu
Gelatin + Terbentuk lapisan warnaungu
Asam Glutamat - Putih menjadi biru
Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2008

Protein encer ditambah larutan NaOH 10% dan CuSO4 0,5% kemudian

diaduk akan mengalami perubahan warna menjadi ungu hal ini sesuai dengan

pendapa Carles Keenan (1992 ). Dalam percobaan ini, protein yang digunakan

adalah albumin telur. Perubahan warna menjadi ungu ini karena molekul protein

kecil dan sedikit mengandung ikatan peptide. Ikatan protein dengan perlakuan

yang sama mengalami perubahan warna menjadi ungu, hal ini menunjukkan

bahwa molekul protein tersebut besar. Uji biuret dilakukan untuk menunjukkan

besar kecilnya molekul protein atau banyak sedikitnya ikatan peptide yang ada

dalam molekul protein ( Damin,1998 ).

4.1.2. Presipitasi dengan Larutan Garam Logam Berat (Putih Telur)


43

Tabel 2. Hasil Prespitasi dengan Larutan Garam Logam Berat (Putih Telur)
Reaksi
Reagen Keterangan
(+/-)
FeCl3 + Terdapat endapan berwarna kuning
CuSO4 + Terdapat endapan berwarna biru
HgCl2 - ada endapan warna putih kecoklatan
PbCOOH + Terdapat endapan berwarna putih
Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2008

Prespirasi dengan larutan aram logam berat dari putih telur dan protein

susu terdapat perbedaan warna, dalam susu terdapat kandungan lemak sedangkan

pada putih telur tidak terdapat kandungann lemak sehingga warnanya berubah.

Hal ini sesuai dengan pendapat (Poedjiati, 1994). Larutan garam logam berat yang

digunakan adalah FeCl3, CuSO4 0,5 % dan HgCl2, sedangkan bahan yang

digunakan adalah putih telur. Putih telur yang ditetesi FeCl3 mengalami reaksi

sehingga terbentuk endapan kuning. Putih telur yang ditetesi larutan CuSO4 0,5 %

mengalami reaksi yaitu terdapat endapan berwarna biru muda. Putih telur yang

ditetesi HgCl2 mengalami reaksi dan terbantuk endapan berwarna putih

kecoklatan, dan putih telur yang ditetesi PbCOOH juga mengalami reaksi dengan

terbentuk endapan putih. Hal ini sesuai dengan pendapat Damin, (1998).

4.1.3. Presipitasi dengan Larutan Garam Logam Berat (Protein Susu)

Tabel 3. Hasil Presipitasi Dengan Larutan Garam Logam Berat (Protein Susu)
Reaksi
Reagen Keterangan
(+/-)
FeCl3 + Terdapat endapan berwarna putih
CuSO4 + Terdapat endapan berwarna putih
HgCl2 - Tidak terdapat endapan
PbCOOH - Terdapat endapan berwarna putih
Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2008
44

Prespirasi dengan larutan aram logam berat dari putih telur dan protein

susu terdapat perbedaan warna. Di dalam susu terdapat kandungan lemak

sedangkan pada putih telur tidak terdapat kandungann lemak sehingga warnanya

berubah (Sukarjo, 1985). Larutan garam logam berat yang digunakan adalah

FeCl3, CuSO4 0,5 % dan HgCl2, sedangkan bahan yang digunakan adalah protein

susu. Protein susu yang ditetesi FeCl3 mengalami reaksi sehingga terbentuk

endapan berwarna putih . Protein susu yang ditetesi larutan CuSO4 0,5 %

mengalami reaksi yaitu terdapat endapan berwarna biru muda. Protein susu yang

ditetesi HgCl2 mengalami reaksi dan terbantuk endapan berwarna putih atau

bening. Protein susu yang ditetesi PbCOOH mengalami reaksi dengan

terbentuknya endapan berwarna putih kekuningan, sehingga prespirasi dengan

larutan aram logam berat dari putih telur dan protein susu terdapat perbedaan

warna. Di dalam susu terdapat kandungan lemak sedangkan pada putih telur tidak

terdapat kandungann lemak sehingga warnanya berubah (Damin, 1998).

4.1.4. Percobaan Hehler

Tabel 4. Hasil Pengamatan Percobaan Hehler


Reaksi
Sampel Keterangan
(+/-)
Putih Telur + Endapan berwarna putih
Susu + Endapan berwarna putih
Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2008

Pada percobaan hehler, putih telur dan susu diberi asam nitrat pekat

digunakan untuk memecah protein sehingga dapat diketahui bahwa terdapat

lapisan berwarna putih (Klanertelter, 1991). Susu yang ditambahkan beberapa


45

tetes asam nitrat pekat mengalami reaksi positif yaitu terbentuk endapan berwarna

putih kekuning ( Damin, 1998 ).

4.1.5. Uji Xantho Protein

Tabel 5. Hasil Pengamatan Uji Xantho Protein


Keterangan
Reagen
Sebelum ditambah NH3 Setelah ditambah NH3
Terdapat lapisan berwarna
Putih telur berwarna kuning
orange
Susu berwarna kuning Larutan berwarna orange
Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2008

Uji xantho protein, sebelum diberi asam nitrat pekat putih telur dan susu

berwarna putih dan kuning, setelah diberi asam nitrat pekat berwarna putih tetapi

terdapat endapan orange dan berwarna orange. Hal ini disebabkan asam nitrat

termasuk dalam oksidator kuat (Darmin, 1998). Pada percobaan ini, digunakan

sampel berupa susu encer dan putih telur karena mudah pekat terhadap

terbentuknya suatu endapan yang berwarna putih kekuningan.Hal ini sesuai

dengan pendapat Damin, (1998).

4.2. Lemak

4.2.1. Sifat – sifat Fisik Lemak

4.2.1.1. Sifat Fisik, Kekentalan, dan Bau

Tabel 1. Hasil Sifat Fisik, Kekentalan, dan Bau


Sampel Kekentalan Bau Sifat Fisik

Lemak (Gajeh) Kental Amis Padat

Asam stearat Encer - Cair


Sumber : Data Primer Praktikum Kimia Dasar, 2008
46

Tujuan dari percobaan ini untuk mengetahui sifat –sifat fisik pada lemak

seperti halnya kekentalan dan bau Minyak berwujud agak kental dan berbau.

Lemak yang direaksikan adalah asam stearat dan lemak atau gajih. Bau tengik

yang ditimbulkan oleh lemak disebabkan lemak tersebut sudah lama tersimpan

dan bercampur dengan zat – zat lain sehingga terjadi proses kimia lemak juga

tidak dapat larut dalam air namun larut dalam eter(Fessenden, 1984). Lemak

(gajih), kekentalannya tinggi, berbau amis, dan sifat fisiknya padat (kenyal),

sedangkan asam stearat berupa kristal, tidak berbau, cair, berwarna dan rasanya

manis. Hal ini sesuai dengan pendapat (Damin, 1998).


47

BAB V

KESIMPULAN

Dari percobaan protein yang bertujuan untuk mengetahui sifat umum dan

sifat khusus dari protein maka dapat disimpulkan bahwa putih telur mengandung

protein globulin dan susu mengandung protein albumin yang termasuk dalam

klasifikasi protein sederhana dilihat dari uji biuret. Pada prespirasi dengan larutan

aram logam berat pada putih telur dan protein susu, protein jika ditambahkan

dengan alkoloid reagensia akan terdapat endapan. Percobaan hehler, baik dari

putih telur maupun susu terdapat lapisan berwarna putih. Dan uji xantho protein,

putih telur dan susu terdapat endapan berwarna orange atau kuning yang berarti

reaksi tersebut positif. Selain itu pada uji xantho protein dapat diketahui bahwa

ada gugus fenil pada susu dan putih telur.


48

DAFTAR PUSTAKA

Bronk. 1994. Biochemistry.Frentice – Hall, New York.

Fessenden. 1984. Kimia Organik. Erlangga, Jakarta.

Keenan, Charles W. 1992. Ilmu Kimia untuk Universitas Edisi ke- 6 Erlangga,
Jakarta.

Poedjiati, Anna. 1994. Dasar – dasar Biokimia. Universitas Indonesia, Jakarta.

Sumardjo, Damin. 1998. Kimia Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas


Diponegoro.

Keenan, Klenerfelter. 1991. Kimia untuk Universitas Edisi ke- 6. Erlangga,


Jakarta.

Rival, Haririzul.1995.Asas Pemeriksaan Kimia.UI Press, Jakarta.

Purba, Michael.1992.Ilmu Kimia.Erlangga, Jakarta.

Aloysius, H. P.. 1989. Kimia Dasar. Erlangga, Jakarta.

Sukarjo. 1985. Kimia Organik. Bina Aksara, Jakarta.

Sastrawidjaya, T. 1995. Kimia Dasar II. Depdikbud, Jakarta.


49

LAMPIRAN

7.1 Uji Biuret

Pertanyaan

1) Tulislah struktur kimia yang memberi hasil terhadap uji biuret!

Jawaban:

Protein C C OH + CuSo4 + NaOH

Protein C COONA + CuSO4 + Protein CH COONA

NH2

7.2 Presipitasi dengan Larutan Logam Berat

Pertanyaan :

1. Bersifat sebagai apakah protein dan logam-logam berat dalam reaksi ini?

2. Apakah warna masing-masing endapan yang terbentuk, dan tulis mmasing-

masing reaksi?

3. Sebutkan garam-garam logam berat lainnya yang saudara ketahui!

Jawaban :

1. Protein bersifat amfoter dan pada logam – logam berat sebagai buffer karena

mengalami denaturasi.
50

2. Warna pada FeCl3 merah bata

Protein + NH3 + FeCl3 HCl + protein (COOFe, NH3)

Warna pada CuSO4 biru

Protein + NH3 + CuSO4 H2SO4 + protein ( COOCu, NH3)

Warna pada HCl putih

Proten + NH3 + HgCl2 HCl + Protein (COOHg, NH3)

2. MgCl2, NaCl, KCl, CaCl2

7.3 Precobaan Hehler

Pertanyaan :

1. Apa yang dimaksud dengan denaturasi?

2. Sebutkan berapa factor yang dapat menyebabkan denaturasi protein?

3. Sebutkan dan beri penjelasan jenis-jenis ikatan dalam molekul protein

yang dipengaruhi!

Jawaban :

1. denaturasi adalah kerusakan struktur protein sehingga protein tersebut

kehilangan fungsinya.

2. Faktor yang mempengaruhi denaturasi adalah suhu tinggi, keasaman,

pelarut organic, dan zat – zat lain.


51

3.

a. Ikatan peptide yaitu antara asam amino yang satu dengan yang

lain, jenis ikatan ini digunakan dalam uji biuret

b. Ikatan cystine yaitu ikatan atom – atom di dalam molekul

disebabkan karena persekutuan electron yang dimiliki bersama

oleh 2 atom S.

c. Ikatan garam adalah ikatan ion yang bermuatan berlawanan di

dalam suatu molekul disebabkan oleh gaya elektrostaiska.

d. Ikatan ester terjadi karena asam amino yang mempunyai radikal

karboksil bebas berdekatan dengan asam amino yang sama.

e. Ikatan hydrogen merupakan ikatan terbanyak dalam molekul

protein asam terutama yang menghubungkan C, H, O, dan N.

7.4 Uji Xantho Protein

Pertanyaan :

1. Reaksi ini khusus protein yang mengandung asam amino apa?

2. Tuliskan reaksi kimianya!

3. Apa yang terjadi jika kulit kita kena asam nitrat? Mengapa demikian?

Jawaban :

1. Mengandung asam amino dengan radikal fenil

2. O
52

NH2 C C OH + HNO3 NH2 C COOH + H2O

NH2

COOH + NH2

NH2

3. Asam nitrat pekat tingkat keasamannya sangat kuat sehingga apabila

terkena kulit akan mengelupas dan menyebabkan gangguan pernapasan.

Beri Nilai