Anda di halaman 1dari 42

PRAKTIKUM GELOMBANG DAN OPTIK

PERCOBAAN V
PEMBIASAN CAHAYA

OLEH
NAMA : SITTI YUNIAR FAHMIANTI FIKI
STAMBUK : A1K1 18 062
JURUSAN : PENDIDIKAN FISIKA
KELAS : TEKNIK ELEKTRONIKA
KELOMPOK : III
ASISTEN : AL ILIYAS TAMSA

LABORATORIUM JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2021
PEMBIASAN CAHAYA

A. TUJUAN

Adapun tujuan pada percobaan Pembiasan Cahaya adalah sebagai


berikut.
1. Untuk mengetahui hubungan antara sinar datang, sinar bias dan garis
normal pada pembiasan dari udara ke kaca atau dari kaca ke udara.
2. Untuk mengetahui sifat cahaya yang mengalami pemantulan sempurna.
3. Untuk mengetahui hukum Brewster melalui eksperimen.
4. Untuk mengetahui sifat pembiasan cahaya pada prisma siku-siku.

B. LANDASAN TEORI

Cahaya merupakan salah satu bidang kajian yang telah lama diteliti
oleh para ilmuwan fisika. Cahaya mempunyai banyak fenomena yang dapat
diteliti dan dikaji oleh para ilmuwan dari masa ke masa. Salah satu fenomena
yang masih diselidiki sampai saat ini adalah fenomena polarisasi cahaya.
Polarisasi cahaya pertama kali ditemukan oleh fisikawan asal Prancis E.
Mallus yang melakukan eksperimen dengan menggunakan bahan dielektrik.
Salah satu ilmuwan yang berhasil menemukan fenomena pada polarisasi
cahaya adalah Brewster. Untuk pertama kali Brewster berhasil menunjukkan
bahwa pantulan cahaya tidak selamanya terpolarisasi secara sempurna dan
pelebaran cahaya terpolarisasi bergantung pada sudut datangnya. Cahaya
menjadi terpolarisasi sempurna pada sudut spesifik dari arah datang yang
ditentukan oleh cahaya pantul yang ditentukan oleh indeks bias kedua sisi
dari batas refleksi. Sudut yang berada pada kondisi tersebut saat ini dikenal
sebagai sudut Brewster. Eksperimen Brewster mengarahkan pada penemuan
dari beberapa teori dasar tentang polarisasi pada cahaya pantul. Dari
eksperimen yang dilakukan oleh Brewster, didapatkan persamaan sebagai
berikut.
n1
tan θ  ......................................................................................(5.1)
n2
(Nugraheny, 2018)
Perubahan arah rambat cahaya ketika berpindah dari satu material ke
material lain disebut pembiasan. Karena fenomena pembiasan ini maka benda
lurus yang dimasukkan ke dalam material dengan indeks bias berbeda tampak
patah pada bidang batas dua material. Misalnya, sebuah pensil dimasukkan
dalam air. Indeks bias air lebih besar daripada udara sehingga cahaya yang
berpindah dari udara ke air atau sebaliknya mengalami pembiasan. Akibatnya
pensil tampak patah pada bidang batas dua medium. Berkas cahaya datang
dari medium dengan indeks bias n1 dengan sudut datang θd dan dibiaskan ke
dalam material dengan indeks bias n2 dan sudut bias θb. Dari uraian
sebelumnya kita dapat simpulkan bahwa syarat terjadinya pembiasan adalah
1. Laju cahaya pada kedua medium berbeda.
2. Arah datang cahaya tidak tegak lurus terhadap bidang pembatas kedua
medium.
Hukum Snellius untuk pembiasan cahaya adalah:
n 1 sin θ d  n 2 sin θ b ..................................................................................(5.2)

Cahaya datang dari medium dengan indeks bias tinggi ke medium dengan
indeks bias rendah. Sudut bias lebih besar dari pada sudut dating. Jika sudut
datang diperbesar terus maka sudut bias makin besar seperti diilustrasikan
pada Gambar 5.1 berikut.

Gambar 5.1 Sudut Kritis


Pembiasan dengan sudut 90˚ berarti θb = 90˚ atau sin θb = 1. Dengan
menggunakan hukum Snellius maka:
n2
sin  d .....................................................................................(5.3)
n1
Persamaan di atas menyatakan bahwa jika cahaya datang dari material dengan
indeks bias besar ke material dengan indeks bias kecil dengan sudut θd yang
memenuhi sin θd = n2/n1 maka cahaya dibiaskan dengan sudut 90˚. Sudut θd
yang memenuhi kondisi ini disebut sudut kritis dan kita simbolkan dengan θc.
Fenomena ini disebut pemantulan total internal (Abdulla,2017)
Syarat pemantulan internal total adalah bahwa θd melebihi sudut kritis θc.
nt
n i sin θ c  n t sin 90 atau sin  c 
........................................................(5.4)
ni
Karena sinus suatu sudut tidak mungkin lebih besar dari pada satu, hubungan
ini membuktikan bahwa pantulan internal total dapat terjadi hanya jika ni > nt .
Prisma dapat digunakan untuk menguraikan cahaya ke dalam berbagai warna,
sebagaimana tampak pada Gambar 5.2 berikut.

Gambar 5.2 Prisma

Karena indeks bias sebuah medium bervariasi tergantung pada panjang


gelombang, warna-warni cahaya yang berada membias dengan cara yang
berbeda. Dalam hampir semua medium, merah dibiaskan paling dekat dan
biru dibiaskan paling jauh (Schaum, 2006).
Terdapat beberapa sifat cahaya di antaranya pembiasan cahaya
melalui prisma. Prisma adalah zat bening yang dibatasi oleh dua bidang datar.
Apabila seberkas sinar datang pada salah satu bidang prisma yang kemudian
disebut sebagai bidang pembias I, berkas sinar akan dibiaskan mendekati
garis normal. Sampai pada bidang pembias II, berkas sinar tersebut akan
dibiaskan menjauhi garis normal. Pada bidang pembias I, sinar dibiaskan
mendekati garis normal sebab sinar datang dari zat optik yang kurang rapat ke
zat optik lebih rapat yaitu dari udara ke kaca. Sebaliknya pada bidang
pembias II, sinar dibiaskan menjahui garis normal sebab sinar datang dari zat
optik rapat ke zat optik kurang rapat yaitu dari kaca ke udara. Akibatnya,
seberkas sinar yang melewati sebuah prisma akan mengalami pembelokan
arah dari arah semula. Fenomena yang terjadi jika seberkas cahaya melewati
sebuah prisma seperti terjadinya sudut deviasi. Cahaya melintas dari suatu
medium ke medium lain dengan sudut i1 sebelum masuk ke permukaan
medium I lalu akan dibelokkan sebesar r1 ketika masuk ke medium II.
Peristiwa ini disebut pembiasan atau refraksi (Kunlestiowati, 2016)
Hukum II Snellius, jika sinar datang dari medium kurang rapat ke
medium lebih rapat maka akan bibelokkan mendekati garis normal. Jika sinar
datang dari medium lebih rapat ke medium kurang rapat maka sinar akan
dibelokkan menjauhi garis normal. Hal ini berarti sinar datang dari medium
lebih rapat ke medium kurang rapat. Yang artinya, medium I lebih rapat dari
medium II. Maka dapat diketahui hubungan antara indeks bias medium I (n1)
dengan indeks bias medium II (n2) yaitu n1 > n2. Sedangkan hubungan antara
kecepatan cahaya medium I (v1) dengan kecepatan cahaya medium II (v2)
yaitu (v1) < (v2). Sebab semakin rapat sebuah medium maka kecepatan
cahaya yang melewati medium tersebut akan semakin lambat. Jika kecepatan
cahaya yang melewati medium tersebut cepat maka indeks biasnya akan kecil
Jika medium suatu benda lebih rapat maka kecepatan cahaya yang melewati
benda tersebut akan semakin lambat. Jika kecepatan cahaya lambat maka
indeks biasnya akan semakin besar (Syamsinar. 2015).
C. METODE PRAKTIKUM

1. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada percobaan Pembiasan


Cahaya dapat dilihat pada Tabel 5.1 berikut.
Tabel 5.1 Alat dan Bahan Percobaan Pembiasan Cahaya
No Alat dan Bahan Fungsi
1 LASER Sebagai sumber cahaya
2 Balok Kaca ½ Lingkaran Untuk membiaskan cahaya
3 Prisma Siku-Siku Untuk membiaskan cahaya
Untuk menggambar sinar datang, sinar bias
4 Mistar dan sinar pantul pada prisma siku-siku dan
balok kaca ½ lingkaran
Sebagai tempat untuk menggambar hasil
5 Kertas A4
pengamatan
Untuk mengukur sudut bias, sudut pantul
6 Busur Derajat
dan sudut datang

2. Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang dilakukan pada Percobaan Pembiasan


Cahaya adalah sebagai berikut.
a. Menyelidiki Hubungan antara Sinar Datang, Sinar Bias dan Garis
Normal pada Bidang Batas antara Dua Permukaan.
1) Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan.
2) Menggambar garis vertikal dan horizontal pada kertas A4.
3) Meletakkan balok kaca ½ lingkaran diatas kertas A4 yang
memiliki 2 garis yang saling tegak lurus, dengan sisi datarnya
berimpit dengan garis dan menghadap kesumbu cahaya seperti
pada Gambar 5.3 dan usahakan agar pusat lingkaran berimpit
dengan titik O pada kertas.
Gambar 5.3 Rangkaian Pembiasan pada Balok Kaca
1/2 Lingkaran dengan 3 Sinar
4) Mengarahkan cahaya LASER melewati 3 celah sedemikian
sehingga tampak berkas cahaya yang membentuk garis.
5) Mengarahkan berkas cahaya tersebut pada permukaan lengkung
dari balok kaca dan amati serta memberi tanda jalanya sinar
yang masuk dan keluar balok kaca lengkap dengan garis
normalnya.
6) Setelah selesai menggambar sinar-sinar bias untuk masing-
masing sinar datang tersebut dan gambarkan pula garis normal
yang keluar dari balok kaca tersebut.

b. Menyelidiki Sifat Cahaya yang Mengalami Pemantulan Sempurna


pada Balok Kaca ½ Lingkaran
1) Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan.
2) Meletakkan balok kaca setengah lingkaran, dengan sisi datarnya
berimpit dengan garis dan menghadap ke sumbu cahaya.
Usahakan agar pusat lingkaran berimpit dengan titik O pada
kertas.
3) Mengaktifkan LASER dengan satu celah sehingga berkas
sumber cahaya muncul.
4) Memutar kertas bersama balok kaca setengah lingkaran
perlahan-lahan berlawanan arah jarum jam. Usahakan agar sinar
dari sumber selalu menuju ke titik O sehingga tidak terlihat lagi
berkas sinar biasnya, seperti pada Gambar 5.4 berikut.
Gambar 5.4 Rangkaian Pembiasan pada Balok
Kaca 1/2 Lingkaran dengan 1 Sinar
5) Menggambar sinar datang, dan sinar pantul yang telah diberi
tanda sebelumnya.
c. Menyelidiki Hukum Brewsters
1) Mengulangi langkah 1) sampai 3) seperti pada kegiatan 2.
2) Ketika pemutaran kertas bersama balok kaca telah mencapai
keadaan dimana sudut pantul dan sudut bias membentuk sudut
90o, mencatat sudut datangnya sinar tersebut dengan cara
menandai jalanya sinar datang, sinar bias dan sinar pantul
seperti pada Gambar 5.5 berikut.

Gambar 5.5 Rangkaian Percobaan Hukum


Brewsters
3) Mengukur sudut yang dibentuk oleh sinar pantul dan sinar bias
menggunakan busur derajat.
4) Menggambar sinar datang, sinar pantul dan sinar bias yang telah
diberi tanda sebelumnya.
d. Menyelidiki Sifat-Sifat Pembiasan Cahaya pada Prisma Siku-Siku
1) Meletakkan prisma siku-siku di atas kertas A4.
2) Mengaktifkan LASER dengan sinar 3 celah, dengan mengatur
posisi pembiasan pada prisma sehingga menghasilkan bentuk
seperti pada Gambar 5.6 berikut.

Gambar 5.6 Rangkaian Pembiasan pada Prisma


Siku-Siku
3) Menandai jalannya sinar yang masuk dan sinar yang keluar dari
prisma agar dapat menggambar nantinya.
4) Membuat garis yang menyatakan sinar masuk ke prisma dan
sinar keluar dari prisma. Kedua sinar itu berpotongan
membentuk sudut yang disebut sudut deviasi.
5) Mengukur sudut yang dibentuk oleh sinar masuk dan sinar
keluar pada prisma menggunakan busur derajat.
6) Mengulangi langkah 2) di atas dengan sudut datang sinar pada
prisma mulai dari yang kecil sampai dengan sudut datang yang
cukup besar beberapa kali dengan kertas yang baru.
7) Mengukur masing-masing sudut datang dan sudut deviasinya.
D. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Pengamatan

a. Data Pengamatan

Data pengamatan pada percobaan Pembiasan Cahaya adalah


sebagai berikut.
1) Menyelidiki Hubungan antara Sinar Datang, Sinar Bias dan
Garis Normal pada Bidang Batas antara Dua Permukaan.

Gambar 5.7 Hubungan antara Sinar Datang, Sinar Bias


dan Garis Normal pada Bidang Batas antara
Dua Permukaan.
2) Menyelidiki Sifat Cahaya yang Mengalami Pemantulan
Sempurna pada Balok Kaca ½ Lingkaran

Gambar 5.8 Pemantulan Sempurna pada Balok Kaca


1/2 Lingkaran

3) Menyelidiki Hukum Brewsters

Gambar 5.9 Menentukan Hukum Brewsters


4) Menyelidiki Sifat-Sifat Pembiasan Cahaya pada Prisma Siku-
Siku

Gambar 5.10 Pembiasan Cahaya pada Prisma


Siku-Siku
b. Analisis Data
Analisis data yang diperoleh dari percobaan Pembiasan Cahaya
adalah sebagai berikut.
1) Menentukan Sudut Brewster
Diketahui : n 1  1,0003
θ1 = sudut datang
θ 2 = sudut bias
Ditanyakan: θB.....?
Penyelesaian:
n1 sin θ1  n2 sin θ 2
1,0003 sin 60  n2 sin 30
1,0003  0,867  n2  0,5
0,8672601
n2 
0,5
n2  1,734
Maka,
n2
tan θ B 
n1
n2
θ B  tan 1
n1
1,734
θ B  tan 1
1,0003
θ B  tan 1 1,73
θ B  60
2) Menentukan Sudut Deviasi Prisma Siku-Siku Secara Teori

a) Untuk 1  sudut datang  20

Diketahui : β = 45°

Ditanyakan: δm........?

Penyelesaian:
1 1
n  
sin  sin 45

   
sin  m   n sin  1
 2 
   45  1
sin  m  sin 20
 2  sin 45
   45 
sin  m   0,483
 2 

 m  45
 sin 1 sin 0,483
2
 m  45  28,92  2
m  57,84  45
m  12, 84

b) Untuk 1  sudut datang  40

Diketahui : β= 45°
Ditanyakan : δm…...?

Penyelesaian:
1 1
n  
sin β sin 45

δ  β
sin  m   n sin α1
 2 
 δ  45  1
sin  m  sin 40
 2  sin 45
 δ  45 
sin  m   0,9
 2 

δm  45
 sin 1 sin 0,9
2
δm  45  65,37  2
δm  130 ,74  45
δm  85,74
3) Menentukan Sudut Deviasi Prisma Siku- Siku Secara Praktek

a) Untuk Y  sudut datang  20 0

Diketahui :  3  sudut bias  50 0

  45 0
Ditanyakan: δ….?

Penyelesaian:
  Y  3  
 20  50  45
 70  45 0
 25 0

b) Untuk Y  sudut datang  40 0

Diketahui :  3  sudut bias  29 0

  45 0
Ditanyakan: δ….?

Penyelesaian:
  Y  3  
 40  29  45
 69  45 0
 24 0
2. Pembahasan

Cahaya merupakan salah satu bidang kajian yang telah lama diteliti
oleh para ilmuwan fisika. Cahaya mempunyai banyak fenomena yang dapat
diteliti dan dikaji oleh para ilmuwan dari masa ke masa. Salah satu fenomena
yang diamati adalah pembiasac cahaya. Perubahan arah rambat cahaya ketika
berpindah dari satu material ke material lain disebut pembiasan. Karena
fenomena pembiasan ini maka benda lurus yang dimasukkan ke dalam
material dengan indeks bias berbeda tampak patah pada bidang tas dua
material. Misalnya, sebuah pensil dimasukkan dalam air (Abdulla, 2017).
Percobaan pertama yang dilakukan adalah menyelidiki hubungan
antara sinar datang, sinar bias, dan garis normal pada bidang batas antar dua
permukaan yaitu udara dan balok kaca ½ lingkaran. Dapat dilihat pada
Gambar 5.7, dimana terlihat bahwa setelah melewati balok kaca, cahaya
tersebut terkumpul di satu titik atau dapat dikatakan dibiaskan mendekati
garis normal, karena cahaya tersebut dibiaskan dari udara ke kaca. Hal ini
sesuai dengan hukum Snellius, yakni jika cahaya merambat dari medium
yang kurang rapat ke medium yang lebih rapat, maka akan dibiaskan
mendekati garis normal begitu pula sebaliknya. Selanjutnya untuk
mengetahui sifat cahaya yang mengalami pemantulan sempurna
menggunakan balok kaca ½ lingkaran dengan cara menggeser posisi cahaya
yang dihasilkan LASER sebagai sumber cahaya yang dilewatkan melalui
balok kaca ½ lingkaran sehingga diperoleh sinar yang tidak dibiaskan, tetapi
dipantulkan seluruhnya oleh permukaan balok kaca setengah lingkaran. Dapat
dilihat pada Gambar 5.8, dimana diperoleh pemantulan total ini pada sudut
membentuk 45˚
Percobaan selanjutnya adalah tentang sudut Brewster. Hukum
Brewster adalah hukum yang terjadi ketika sinar pantul dan sinar bias
membentuk sudut 90˚. Data pengamatan dapat dilihat pada Gambar 5.9,
dimana terlihat bahwa sudut yang terbentuk dari tembakan sinar LASER
sebagai sumber cahaya adalah 90˚. Dengan demikian percobaan hukum
Brewster berhasil karena sesuai dengan hukum Brewster.
Pengamatan terakhir dari percobaan ini adalah untuk mengetahui sifat
pembiasan pada prisma siku-siku. Sudut yang digunakan pada pengamatan ini
adalah dengan sudut datang 20˚ dan 40˚. Secara teori, diperoleh sudut deviasi
prisma siku-siku sebesar 12,84˚ untuk sudut datang 20˚. Sedangkan untuk
sudut datang 40˚ diperoleh secara teori sebesar 84,74˚. Sedangkan untuk
sudut datang 20˚ secara praktek, diperoleh sudut deviasi sebesar 25˚, untuk
sudut datang 40˚ diperoleh 24˚. Dari hasil pengamatan dan penentuan sudut
deviasi (δ) secara teori dan secara praktek, terdapat perbedaan nilai yang
sangat jauh. Perbedaan nilai ini dapat disebabkan oleh satu darn lain hal,
diantaranya kurangnya ketelitian saat menentukan sudut datang pada prisma
siku-siku.
E. PENUTUP

1. Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh pada percobaan Pembiasan Cahaya


adalah sebagai berikut.
a. Hubungan antara sinar datang, sinar bias dan garis normal pada
bisang batas antara dua permukaan yaitu berbanding lurus karena
jika cahaya merambat dari medium kurang rapat ke medium lebih
rapat maka cahaya akan dibiaskan mendekati garis normal.
b. Sifat cahaya yang mengalami pemantulan pemantulan sempurna jika
sudut sinar datang diperbesar maka sudut bias akan semakin besar
dan akan sejajar dengan batas medium sehingga sinar datang tidak
lagi dibiaskan melainkan akan dipantulkan.
c. Hukum Brewster menyatakan bahwa ketika cahaya memasuki sudut
datang pada permukaan objek transparan dengan indeks bias n maka
akan membentuk sudut 90˚.
d. Sifat pembiasan cahaya pada prisma siku-siku yaitu mendakati garis
normal dan menjauhi garis normal.
2. Saran
a. Untuk labolatorium, sebaiknya praktikum dilakukan secara offline
agar praktikan lebih mudah mengamati percobaan yang dilakukan.
b. Untuk asisten, agar di pertahankan atau ditingkatkan lagi dalam
membimbing. Dan diharapkan kedepannya saat praktikan konsul
penjelasan mengenai perubahan atau kesalahan dalam pembuatan
laporan dijelaskan lebih spesifik lagi.
c. Untuk praktikan, sebaiknya masuk dalam link zoom tepat waktu dan
tetap semangat.
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Mikrajuddin. 2017. Fisika Dasar II. Bandung: ITB.

Kunlestiowati H, Yuningsih Nani, Martono Wiwip. 2016. Penentuan Sudut


Deviasi Minimum Prisma Melalui Peristiwa Pembiasan Cahaya
Berbantuan Komputer. Jurnal Sigma-Mu. 8(1).
Nugraheny, I. Nurfauzi, W. Dkk. 2018. Polarisasi Cahaya dan Penentuan Nilai
Indeks Bias dengan Metode Sudut Brewster. Jurnal Fisika dan
Aplikasinya. Vol 14.

Schaum. 2006. Fisika Universitas. Jakarta: Erlangga

Syamsinar. 2015. Pemahaman Konsep Siswa Kelas X SMA Negeri 9 Palu pada
Materi Pembiasan Cahaya. Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako (JPFT).1(1).
ISSN: 2338 3240
LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai