Anda di halaman 1dari 22

PRAKTIKUM EKSPERIMEN FISIKA I

TIMBANGAN ARUS: GAYA YANG BEKERJA


PADA KONDUKTOR PEMBAWA ARUS
ASISTEN: Alfita Syifaul Qolbi

Disusun Oleh:
Nama : Ihzattul Islamiya
NIM : 18640052
Jurusan : Fisika
Kelas :A
Tanggal : 5 Oktober 2020

LABORATORIUM FISIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2020/2021
EF I - 3
TIMBANGAN ARUS: GAYA YANG BEKERJA
PADA KONDUKTOR PEMBAWA ARUS

A. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari percobaan ini adalah:
1. Untuk menentukan arah gaya sebagai fungsi arus dan arah medan magnet.

2. Untuk mengukur gaya F, sebagai fungsi dari arus loop konduktor IL, dengan
induksi magnet B yang konstan dan untuk loop konduktor dengan ukuran yang
bervariasi sehingga induksi magnetik dapat dihitung.

3. Untuk mengukur gaya F, sebagai fungsi arus pada kumparan IM untuk sebuah
loop konduktor. Pada batas yang telah ditentukan, induksi magnetik B, dengan
akurasi yang memadai akan sebanding dengan arus kumparan IM.

B. DASAR TEORI
Sebuah motor listrik dapat bekerja karena adanya gaya yang membuatnya
berputar, gaya ini dikerahkan oleh sebuah medan magnetik pada sebuah konduktor
yang ditransmisikan ke bahan konduktor dan konduktor itu secara keseluruhan
mengalami sebuah gaya yang didistribusikan sepanjang konduktor itu. (Young and
Freedman, 2001)
Percobaan Oersted menunjukan bahwa disekitar kawat berarus timbal medan
magnet . Percobaan Ampere lebih lanjut mengatakan bahwa disekitar kawat berarus
timbul medan magnet, B dan dirumuskan bahwa hubungan kuat arus dan intesnsitas
medan magnet sebagai berikut: (zamrun dan Harun,2019)

∮ B . d l=μ 0 l (1)
Menurut Lorentz, arus I yang melewati medan magnet mengalami gaya magnet:
(Zamrun dan Harun, 2019)
F=Id l × B (2)
Gaya Lorentz adalah gaya yang ditimbulkan oleh muata listrik yang bergerak atau
oleh arus lisrtik yang berada dalam suatu medan magnet (B). Arah gaya ini akan
mengikuti arah maju skrup yang diputar dari vektor arah gerak muatan listrik (V) ke
arah medan magnet (B). (Yasin, 2010)
Pada sebuah medan magnet dengan induksi magnet B, sebuah gaya F (Gaya
Lorentz) bekerja pada pembawa muatan bergerak dengan muatan q dan kecepatan
v: (Nurun Nayiroh, 2020)
B ) (3)
F =q . ( ⃗v . ⃗

Vektor gaya F tegak lurus terhadap bidang yang ditempati oleh v dan B. Pada
percobaan ini v dan B juga berada pada sudut kanan satu sama lain, sehingga
hubungan yang menunjukan nilai vektornya adalah: (Nurun Nayiroh, 2020)
F=q . v . B (4)
Kecepatan dari pembawa muatan (elektron) diukur melalui arus listrik IL di
dalam konduktor. Muatan total elektron pada penampang konduktor dengan
panjang ℓ dapat dirumuskan untuk q adalah: (Nurun Nayiroh, 2020)
q . v=I L . l (5)
Oleh karena itu diperoleh gaya Lorentz: (Nurun Nayiroh,2020)
F=I L . l. B (6)
1. Pengamatan menunjukan bahwa arah dari vektor gaya bergantung pada arah
gerak elektron dan arah medan magnet.

Pada sebuah medan yang lintasannya sejajar terhadap arah rambatnya, gaya akan
bekerja pada loop konduktor. Pada induksi magnet dimana B=0, timbangan sedikit
berubah posisinya ketika arus I pada konduktor dialirkan. Pada IL = 5A perubahan
pada gaya dapat diukur. Penjelasan tentang efek ini adalah bahwa dua konduktor
pembawa arus saling tarikmenarik satu sama lain. Ketika arus mengalir, keping logam
yg fleksibel sedikit berubah posisinya dan dapat mempengaruhi posisi timbangan.

2. Pada dua penampang loop konduktor yang vertikal, elektron bergerak pada arah
yang berlawanan, dan dua gaya bekerja padanya. Sedangkan pada penampang
loop konduktor yang horizontal, dimana panjangnya ℓ yang diindikasikan pada
tiap-tiap kejadian pada loop, sehingga dapat mempengaruhi pengukuran gaya
Lorentz. Salah satu dari loop konduktor mempunyai dua lilitan (n=2), masing-
masing panjangnya 50mm. Gaya Lorentz pada loop konduktor ini secara eksak
ekuivalen dengan loop tunggal yang mempunyai panjang dua kali (ℓ=100mm, n
=1).

Ditemukan secara eksperimental bahwa besar gaya magnet berbanding lurus


dengan arus I pada kawat, dengan panjang kawat lpada medan magnet(dianggap
seragam) dan dengan medan magnet B. Gaya ini juga tergantung pada saat sudut θ
antara arah arus dan medan magnet ketika arus tegak lurus terhadap garis-garis
medan. Gaya paling juat ketika kawat paralel dengan garis-garis medaan, tidak ada
gaya sama sekali pada sudut-sudut yang lain, gaya sebanding dengan sinθ sehingga
didapatkan. (Giancoli, 2001)
F=I L . l. B sinθ (7)

C. METODOLOGI PERCOBAAN
a. Alat dan Bahan Percobaan
Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
1. Timbangan arus 11081.88 1
2.Timbangan LGN 310, pada batang 11081.01 1
3.Pole pieces, rectangular, 1 pasang 11081.02 1
4.Loop kawat, 1 =12,5 mm, n =1 11081.05 1
5.Loop kawat, 1 =25 mm, n =1 11081.06 1
6.Loop kawat, 1 =50 mm, n =2 11081.07 1
7.Loop kawat, 1 =100 mm, n =1 11081.08 1
8.Inti besi, bentuk U, berlapis 06501.00 1
9.Alas untuk inti besi 06508.00 2
10. Kumparan, 900 lilitan 06512.01 2
11. Strip logam, dengan steker 06410.00 2
12. Distributor 06024.00 1
13. Bridge rectifier, 30 V AC/1 A DC 06031.10 1
14. Saklar tombol On/off 06034.01 1
15. Power supply, universal 13500.93 1
16. Ammeter 1/5 A DC 07038.00 2
17. Alas kaki 3 –PASS- 02002.55 2
18. Stand tube 02060.00 1
19. Batang pendukung –PASS-, persegi, 1 =1 m 02028.55 1
20. Klem sudut kanan –PASS- 02040.55 1
21. Kabel penghubung, 1 =100 mm, merah 07359.01 1
22. Kabel penghubung, 1 =250 mm, hitam 07360.05 2
23. Kabel penghubung, 1 =250 mm, biru 07360.04 2
24. Kabel penghubung, 1 =500 mm, merah 07361.01 2
25. Kabel penghubung, 1 =500 mm, biru 07361.04 1
26. Kabel penghubung, 1 =1000 mm, merah 07363.01 1
27. Kabel penghubung, 1 =1000 mm, biru 07363.04 1

b. Langkah Percobaan
Langkah percoban dalam praktikum ini yaitu :
Percobaan 1
1) Dirangkailah alat percobaan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.

2) Dihubungkan kumparan elektromagnet secara seri lalu hubungkan ke tegangan


keluaran pada power supply melalui ammeter, saklar dan bridge rectifier.

3) Pada dua bagian yang pertama dari percobaan ini, aturlah tegangan tetap 12 VAC
dan hubungkan dengan arus IM pada kumparan yang diukur.

4) Dihubungkan loop Konduktor melalui dua strip logam yang fleksibel, pertama
semuanya menuju ke distributor dan kemudian melalui ammeter menuju tegangan
keluaran dari unit power supply. Jarak antara strip logam sebaiknya selebar
mungkin dan melentur lurus, sehingga tidak ada gaya dari medan magnet yang
bekerja.

5) Pertama, tempatkan pole besi pada elektromagnet sedemikian rupa untuk


menghasilkan celah udara sekitar 4 cm.

6) Ditangguhkan loop konduktor dengan l = 25 mm dari timbangan dengan bagian


horisontal tegak lurus dengan garis-garis medan magnet.

7) Dihentikan timbangan dengan tidak ada arus yang mengalir melalui konduktor,
dan arus konduktor diatur sebesar IL = 5 A.

8) Ditentukan besarnya arah dan gaya sebagai fungsi dari arah arus dan amati
dengan magnet diputar pada sumbu horisontal.

9) Tanpa medan magnet, amati posisi timbangan baik dengan dan tanpa arus yang
mengalir melalui loop konduktor.

10) Dan dibuatlah grafik hubungan antara panjang konduktor l dan gaya Lorentz F.

Percobaan 2
1. Ditempatkan pole besi pada elektromagnet dengan rangkaian parallel dan dengan
sebuah gap udara 1 cm.

2. Digantungkan loop konduktor yang mempunyai panjang l =12,5 mm pada


timbangan. Bagian horizontal dari konduktor tegak lurus terhadap garis medan
dan dengan mengabaikan timbangan berada di antara medan yang seragam. Arus
konduktor dinaikkan dengan step 0,5 A.
3. Ditentukan massa awal dari loop konduktor dengan mematikan medan magnet.
Ketika medan magnet dinyalakan, ukurlah massanya dan hitung gaya Lorentz
dari perbedaan antara dua pembacaan.

4. Dibuat grafik hubungan antara arus konduktor IL dan gaya Lorentz F dengan
berbagai variasi loop konduktor.

Percobaan 3
1) Dibuat pengukuran seperti pada tiga loop konduktor lainnya dengan langkah –
langkah sebagaimana pada langkah poin 10-12 di atas. Bedanya dengan
menggunakan loop konduktor 50 mm, n=2. Arus pada konduktor 5A dan arus
pada kumparan divariasikan dengan menambah tegangan. Tentukan Gaya
Lorentz F dari masing-masing keadaan dari pembacaan.
2) Dibuat grafik hubungan antara arus kumparan I M dan gaya Lorentz F dengan
berbagai variasi loop konduktor

c. Gambar Percobaan

Gambar 1. Rangkaian percobaan timbangan arus: gaya yang bekerja pada konduktor
pembawa arus

D. ANALISIS DAN PEMBAHASAN


a. Tabel Data Hasil Percobaan
1. Percobaan 1
Gaya Lorentz sebagai fungsi panjang loop konduktor, dengan I L =5 A dan
I M  0,87 A
Loop
No. m 0 (kg) m 1 (kg) ∆ m (kg) F eks (N) F teori (N)
Konduktor
1. 0,0125 0,00801 0,01058 0,00257 0,025186 0,0115
2. 0,025 0,00782 0,01001 0,00219 0,021462 0,021625
3. 0,05 0,01105 0,01607 0,00502 0,049196 0,042
4. 0,1 0,01894 0,02745 0,00851 0,083398 0,082

2. Percobaan 2

Loop konduktor dengan l  0.0125m, I M  0.87 A

No. I L (A) m 0 (kg) m1 (kg) ∆ m (kg) F eks (N) F teori (N)

1. 1 0,00801 0,00947 0,00146 0,014308 0,0023

2. 2 0,00801 0,00914 0,00113 0,011074 0,0046

3. 3 0,00801 0,00997 0,00196 0,019208 0,0069

4. 4 0,00801 0,01059 0,00258 0,025284 0,0092

5. 5 0,00801 0,01058 0,00257 0,025186 0,0115

Loop konduktor dengan l  0.025m, I M  0.87 A


No. I L (A) m 0 (kg) m 1 (kg) ∆ m (kg) F eks (N) F teori (N)
1. 1 0,00782 0,00853 0,00071 0,006958 0,004325
2. 2 0,00782 0,00903 0,00121 0,011858 0,00865
3. 3 0,00782 0,00964 0,00182 0,017836 0,012975
4. 4 0,00782 0,00971 0,00189 0,018522 0,0173
5. 5 0,00782 0,01001 0,00219 0,021462 0,021625

Loop konduktor dengan l  0.1m, I M  0.87 A

No. I L (A) m 0 (kg) m 1 (kg) ∆ m (kg) F eks (N) F teori (N)


1. 1 0,01894 0,02107 0,00213 0,020874 0,0164
2. 2 0,01894 0,02245 0,00351 0,034398 0,0328
3. 3 0,01894 0,02425 0,00531 0,052038 0,0492
4. 4 0,01894 0,02552 0,00658 0,064484 0,0656
5. 5 0,01894 0,02745 0,00851 0,083398 0,082

Loop konduktor dengan l  0.05m, I M  0.87 A

No. I L (A) m 0 (kg) m 1 (kg) ∆ m (kg) F eks (N) F teori (N)

1. 1 0,01105 0,0111 5E-05 0,00049 0,0084

2. 2 0,01105 0,012 0,00095 0,00931 0,0168

3. 3 0,01105 0,01364 0,00259 0,025382 0,0252

4. 4 0,01105 0,01496 0,00391 0,038318 0,0336

5. 5 0,01105 0,01607 0,00502 0,049196 0,042

3. Percobaan 3
Gaya Lorentz sebagai fungsi I M dengan loop konduktor, dengan l  0.05m dan
IL  5A

No. I M (mA) m 0 (kg) m 1 (kg) ∆ m (kg) F eks (N) F teori (N)


1. 50
2. 200
3. 0,25 0,01894 0,01902 8E-05 0,000784 0,0021
4. 0,35 0,01894 0,02032 0,00138 0,013524 0,00294
5. 0,45 0,01894 0,02266 0,00372 0,036456 0,00378
6. 0,55 0,01894 0,0231 0,00416 0,040768 0,00462
7. 0,65 0,01894 0,02566 0,00672 0,065856 0,00546
8. 0,87 0,01894 0,02745 0,00851 0,083398 0,007308

b. Grafik
1. Grafik Percobaan 1
Hubungan Antara Gaya (F) dan Arus (IL) dengan Variasi
Loop Konduktor (l)
0.09
0.08
0.07
0.06
0.05 IL=5A
F -Eks

0.04
0.03
0.02
0.01
0
0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1 0.12
Loop Konduktor

2. Grafik Percobaan 2

Hubungan Antara Gaya (F) dan Panjang Loop (l)


0.09
0.08
0.07
0.06
I = 12,5 mm
0.05
I = 25 mm
F-Eks

0.04 I = 100 mm
0.03 I = 50 mm
0.02
0.01
0
0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5
Panjang Loop (l)

3. Grafik Percobaan 3
Hubungan Antara Gaya F dan Arus IM
0.09
0.08
0.07
0.06
F eksperimen

0.05
0.04
0.03
0.02
0.01
0
0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1

IM (A)

c. Perhitungan

Gaya Lorentz sebagai fungsi Im dengan loop konduktor IL = 5A dan IM = 870.10-3A

1) Percobaan 1

Menggunakan Rumus:

∆ m=m1 −m 0

Feks = ∆ m. g

Fteo = B . IL . l

1. ∆ m=10,58.10−3 −8,01.10−3=0,00257 kg
Feks = 0,00257 . 9,8=0,025186 N
Fteo = 0,184 . 5 . 0,0125 = 0,0115 N

2. ∆ m=10,01.10−3 −7,82.10−3=0,0021 kg
Feks = 0,00219 . 9,8=0,021462 N
Fteo = 0,173 . 5 . 0,025 = 0,021625 N

3. ∆ m=16,07.10−3 −10,05.10−3=0,00502kg
Feks = 0,00502 . 9,8=0,049196 N
Fteo = 0,168 . 5 . 0,05 = 0,042 N

4. ∆ m=27,45.10−3−18,94.10−3=0,00851kg
Feks = 0,00851 . 9,8=0,083398 N
Fteo = 0,164 . 5 . 0,1 = 0,082 N

2) Percobaan 2
Menggunakan Rumus
∆ m=m1 −m 0
Feks = ∆ m. g
Fteo = B . IL . l
 Loop konduktor dengan I = 12,5.10-3m, IM = 870.10-3A

1. ∆ m=9,47.10−3−8,01. 10−3=1,46. 10−3 kg


Feks = 1,46.10−3 .9,8=0,014308 N
Fteo = 0,184 . 1 . 0,0125 = 0,0023 N

2. ∆ m=9,14.10−3−8,01. 10−3=1,13. 10−3 kg


Feks = 1,13.10−3 .9,8=0,011074 N
Fteo = 0,184 . 2 . 0,0125 = 0,0046 N

3. ∆ m=9,97.10−3−8,01. 10−3=1,96. 10−3 kg


Feks = 1,96.10−3 .9,8=0,019208 N
Fteo = 0,184 . 3 . 0,0125 = 0,0069 N

4. ∆ m=10,59.10−3 −8,01.10−3=2,58. 10−3kg


Feks = 2,58. 10−3 .9,8=0,025284 N
Fteo = 0,184 . 4 . 0,0125 = 0,0092 N

5. ∆ m=10,58.10−3 −8,01.10−3=2,57. 10−3kg


Feks = 2,57. 10−3 .9,8=0,025186 N
Fteo = 0,184 . 5 . 0,0125 = 0,0115 N
 Loop konduktor dengan I = 25.10-3m, IM = 870.10-3A

1. ∆ m=8,53.10−3−7,82.10−3=0,71. 10−3 kg
Feks = 0,71. 10−3 . 9,8=0,006958 N
Fteo = 0,173 . 1 . 0,025 = 0,004325 N

2. ∆ m=9,03.10−3−7,82. 10−3=1,21. 10−3kg


Feks = 1,21.10−3 .9,8=0,011858N
Fteo = 0,173 . 2 . 0,025 = 0,008655 N

3. ∆ m=9,64.10−3−7,82. 10−3=1,82. 10−3kg


Feks = 1,82.10−3 .9,8=0,017836 N
Fteo = 0,173 . 3 . 0,025 = 0,012975 N

4. ∆ m=9,71.10−3−7,82. 10−3=1,89. 10−3kg


Feks = 1,89.10−3 .9,8=0,018522 N
Fteo = 0,173 . 4 . 0,025 = 0,0173 N

5. ∆ m=10,01.10−3 −7,82.10−3=2,19. 10−3kg


Feks = 2,19. 10−3 .9,8=0,021462 N
Fteo = 0,173 . 5 . 0,025 = 0,021625 N

 Loop konduktor dengan I = 100.10-3m, IM = 870.10-3A

1. ∆ m=21,07.10−3−18,94.10−3=2,13. 10−3kg
Feks = 2,13. 10−3 .9,8=0,020874 N
Fteo = 0,164 . 1 . 0,1 = 0,0164 N

2. ∆ m=22,45.10−3−18,94.10−3=3,51. 10−3kg
Feks = 3,51. 10−3 .9,8=0,034398 N
Fteo = 0,164 . 2 . 0,1 = 0,0328 N
3. ∆ m=24,25.10−3−18,94.10−3=5,31. 10−3kg
Feks = 5,31.10−3 .9,8=0,052038N
Fteo = 0,164 . 3 . 0,1 = 0,0492 N

4. ∆ m=25,52.10−3−18,94.10−3=6,58. 10−3kg
Feks = 6,58. 10−3 . 9,8=0,064484 N
Fteo = 0,164 . 4 . 0,1 = 0,0656 N

5. ∆ m=27,45.10−3−18,94.10−3=8,51. 10−3kg
Feks = 8,51. 10−3 . 9,8=0,083398 N
Fteo = 0,164 . 5 . 0,1 = 0,082 N

 Loop konduktor dengan I = 50.10-3m, IM = 870.10-3A

1. ∆ m=11,1.10−3−11,05. 10−3=0,05.10−3kg
Feks = 0,05. 10−3 . 9,8=0,00049 N
Fteo = 0,168 . 1 . 0,05 = 0,0084 N

2. ∆ m=12.10−3−11,05. 10−3=0,95.10−3kg
Feks = 0,95. 10−3 . 9,8=0,00931N
Fteo = 0,168 . 2 . 0,05 = 0,0168 N

3. ∆ m=13,64.10−3 −11,05. 10−3=2,59. 10−3 kg


Feks = 2,59. 10−3 .9,8=0,025382N
Fteo = 0,168 . 3 . 0,05 = 0,0252 N

4. ∆ m=14,96.10−3 −11,05. 10−3=3,91. 10−3 kg


Feks = 3,91. 10−3 .9,8=0,038318 N
Fteo = 0,168 . 4 . 0,05 = 0,0336 N

5. ∆ m=16,07.10−3 −11,05. 10−3=5,02. 10−3 kg


Feks = 5,02.10−3 .9,8=0,049196 N
Fteo = 0,168 . 1 . 0,05 = 0,042 N
3) Percobaan 3
Gaya Lorentz sebagai fungsi Im dengan loop konduktor I = 50.10 -3m, n = 2 dan IL
= 5A
Menggunakan Rumus
∆ m=m1 −m 0
Feks = ∆ m. g
Fteo = B . IM . l

1. ∆ m=0 kg
Feks = 0N
Fteo = 0 N

2. ∆ m=0kg
Feks = 0N
Fteo = 0 N

3. ∆ m=19,02.10−3 −18,94.10−3=0,08. 10−3kg


Feks = 0,08. 10−3 . 9,8=0,000784 N
Fteo = 0,168 . 0,25 . 0,05 = 0,0021 N

4. ∆ m=20,32.10−3−11,05. 10−3=1,38. 10−3 kg


Feks = 1,38.10−3 .9,8=0,013524 N
Fteo = 0,168 . 0,35 . 0,05 = 0,00294 N

5. ∆ m=22,66.10−3−11,05. 10−3=3,72. 10−3 kg


Feks = 3,72. 10−3 .9,8=0,036456 N
Fteo = 0,168 . 0,45 . 0,05 = 0,00378N

6. ∆ m=23,1.10−3−11,05. 10−3=4,16.10−3kg
Feks = 4,16. 10−3 . 9,8=0,040768N
Fteo = 0,168 . 0,55 . 0,05 = 0,00462 N
7. ∆ m=25,66.10−3−11,05. 10−3=6,72.10−3 kg
Feks = 6,72. 10−3 . 9,8=0,065865 N
Fteo = 0,168 . 0,65 . 0,05 = 0 , , 00546 N

8. ∆ m=27,45.10−3−11,05. 10−3=8,51.10−3kg
Feks = 8,51. 10−3 . 9,8=0,083398 N
Fteo = 0,168 . 0,87 . 0,05 = 0,007308N

d. Pembahasan
Percobaan yang telah dilakukan dalam praktikum yang berjudul “Timbangan
Arus: Gaya yang Bekerja pada Konduktor Pembawa Arus” ini menggunakan dua
prinsip kerja yaitu yang pertama power supply sebagai sumber arus kemudian sumber
arus tersebut akan mengalir ke distributor dan diteruskan ke dalam loop kawat, ketika
arusnya masuk ke dalam loop kawat dapat ditentukan nilai massanya (m) dan dapat
dibaca oleh ammeter. Prinsip kerja yang kedua power supply mengalirkan arusnya ke
dalam bridge lalu ke rectifer dan diteruskan ke dalam saklar, ketika saklar di on-kan
maka arus tersebut akan mengalir ke loop kawat lalu dapat dihitung berapa massanya
(m) yang dibaca ammeter.
Percobaan pada judul kali ini memiliki tiga jenis percobaan, adapun yang pertama
adalah percobaan gaya Lorentz sebagai fungsi panjang loop konduktor dengan I L =
5A dan IM = 870.10-3A. Kemudian setelah dilakukan pengambilan data dari
percobaan, dilakukan perhitungan yang menghasilkan bahwa jika nilai dari Feks,
semakin besar. Hal ini terjadi juga pada percobaan kedua dan ketiga, yaitu loop
konduktor dengan l = 0,0125 IM = 870.10-3A; loop konduktor dengan l = 0,025 IM =
870.10-3A; loop konduktor dengan l = 0,1 IM = 870.10-3A; dan loop konduktor dengan
l = 0,0125 IM = 870.10-3A, serta percobaan ketiga gaya Lorentz sebagai fungsi IM
dengan loop konduktor I = 0,005m , n = 2 dan IL = 5A. Lalu jika dilihat pada nilai
Fteori, maka nilai tersebut semakin besar. Hal ini terjadi karena nilai dari F teori
dipengaruhi oleh besarnya nilai medan magnet (B), arus (I), serta panjang loop (l).
Data yang telah didapatkan kemudian dapat dibuat grafik dari data-data tersebut.
Pada grafik pertama dengan sumbu x adalah panjang loop konduktor (l) dan sumbu y
adalah Feks didapatkan grafik yang cenderung naik sehingga dapat disimpulkan bahwa
semakin besar panjang loop konduktornya maka semakin besar pula gayanya.
Kemudian pada grafik kedua dengan sumbu x adalah panjang konduktor (l) dan
sumbu y adalah Feks, dengan variasi panjang loop konduktor berbeda-beda dan dengan
arus (I) 1-5 Ampere menunjukkan grafik yang cenderung naik pada tiap variasi
panjang loop, kemudian dapat disimpulkan bahwa semakin besar nilai panjang loop
konduktornya (l) maka semakin besar pula nilai gayanya (F). Pada grafik ketiga
dengan sumbu x adalah IM dan sumbu y adalah Feks, didapatkan grafik yang cenderung
naik juga maka dapat disimpulkan bahwa semakin besar nilai arus (I) maka semakin
besar pula nilai gayanya (F).
Data yang telah didapatkan dari percobaan/praktikum yang telah dilakukan jika
dibandingkan antara Feks dengan Fteori maka memiliki nilai yang berbeda, hal ini dapat
terjadi karena kesalahan saat mengambil data (human error) dan bisa juga karena
kondisi di laboratorium saat pengambilan data (faktor lingkungan), atau karena pada
keduanya memiliki rumus yang berbeda yaitu pada Feks = ∆ m. g sedangkan pada Fteo
= B . I . l . Jika dilihat dari data yang didapat nilai F eks sudah benar, karena nilai
tersebut dipengaruhi oleh besarnya massa dan begitupun pada nilai F teo sudah benar
pula, karena nilai tersebut dipengaruhi oleh besarnya nilai medan magnet (B), arus (I),
panjang loop/kawat (l), serta arah antara kawat arus dengan induksi magnetik (θ).
Aplikasi dari gaya Lorentz pada kehidupan sehari-hari dapat dilihat pada Video
Recorder. Pada video recorder, sinyal disimpan di dalam pita magnetik. Video
recorder sangat tergantung pada magnetisme dan listrik. Ia menggunakan dorongan
magnetik dari kawat yang membawa arus dalam motor listrik untuk memutar drum
pada kecepatan tinggi dan menggerakkan pita yang melaluinya dengan lembut. Untuk
merekam suatu program, arus yang mengalir melalui kumparan kawat di dalam drum
digunakan untuk menciptakan pola magnetik pada pipa. Jika pita tersebut diputar
ulang, alat perekam menggunakan pola magnetik ini untuk menghasilkan arus yang
dapat diubah ke dalam gambar.

E. PENUTUP
a. Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan ini dan mengamatinya dapat disimpulkan bahwa
arus (I) mempengaruhi massa (m) yang terbaca oleh timbangan arus, massa (m) yang
dibaca oleh timbangan arus itu digunakan untuk menghitung nilai gaya lorentznya (F).
Semakin besar nilai panjang loop konduktor (l) maka semakin besar pula nilai
gaya lorentz (F) dan semakin besar nilai arus (I) maka semakin besar pula nilai gaya
lorentznya (F)

b. Saran
Saran saya untuk praktikum selanjutnya semoga praktikum segera
kembali seperti biasanya di laboratorium dan tidak hanya melihat video saja
dari rumah.

F. DAFTAR PUSTAKA

Giancoli, Douglas C. 2001. Fisika. Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga
M. Yasin, Kholifudin. 2010. Panduan praktikum fisika dasar. Kebumen: SMAN 2
Kebumen
Nayiroh, Nurun. 2020. Buku Petunjuk Praktikum Eksperimen Fisika I Semester
Ganjil T.A. 2020/2021. Malang: UIN Malang Press.
Young, Hugh D., dan Roger A. Freedman. 2002. Fisika Universitas
(Terjemahan) Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Zamrun,Muhammad., Al Rasyid., Muhammad Harun. 2019. Buku Penuntun
Eksperimen 1. Kendari: UHO Press
G. LAMPIRAN
Link Jurnal:
https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/JPFI/article/view/3036/3072

Analisa Jurnal:
1. Judul Jurnal: Sensor Ultrasonik Sebagai Alat Pengukur Kecepatan Aliran Udara
Dalam Pipa
2. Penulis: K.G. Suastika, M. Nawir, P. Yunus
3. Tahun: 2013
4. Volume dan halaman Jurnal: (9): 163 – 172
5. Reviewer: Ihzattul Islamiya
6. Tanggal: 4 November 2020
7. Abstraksi:
Era perkembangan teknologi saat ini telah banyak ditemukan alat-alat inovasi
terbaru terutama pada penggunaan gelombang ultrasonik. Gelombang ultrasonik
merupakan gelombang bunyi yang frekuensinya di atas 20.000 Hz dan biasanya
digunakan dalam bidang kelautan (SONAR), kedokteran (USG) maupun dalam
bidang industri. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian tentang pengukuran
kecepatan aliran udara dalam pipa menggunakan sensor ultrasonik dan gelombang
ultrasonik yang digunakan pada penelitian ini adalah gelombang ultrasonik yang
memiliki frekuensi kerja sebesar 300 kHz. Prinsip pengukuran yang digunakan
dalam penelitian ini menggunakan metode waktu tempuh gelombang ultrasonik
(time of flight) dengan memanfaatkan perubahan karakteristik gelombang ultrasonik
ketika melewati kondisi aliran udara yang berbeda yaitu upstream dan downstream.
Selain itu, sebagai pembanding (tingkat akurasi) dalam penelitian ini digunakan alat
pengukur kecepatan aliran udara standar yaitu anemometer. Dari hasil penelitian
didapat bahwa tingkat akurasi sebesar 99% dan dengan korelasi sebesar 0,99
(korelasi sangat tinggi). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa
sensor ultrasonik valid dan dapat digunakan sebagai perangkat pengukur kecepatan
aliran udara dalam pipa.
8. Tujuan:
untuk mengkaji bagaimana prinsip kerja pengukuran kecepatan aliran udara dalam
pipa menggunakan sensor ultrasonik dan juga menganalisis seberapa besar nilai
akurasi maupun korelasi pengukuran kecepatan aliran udara menggunakan sensor
ultrasonik jika dibandingkan dengan pengukuran kecepatan menggunakan
anemometer.
9. Alat, Bahan dan Metodologi:

Gambar 1 merupakan skema perancangan perangkat penelitian dan Gambar 2


menggambarkan susunan perangkat penelitian. Pertama-tama sinyal listrik disuplai
oleh generator sinyal (power supply) ke sensor ultrasonik (transmitter). Sensor
ultrasonik merubah sinyal listrik menjadi sinyal gelombang ultrasonik dimana
gelombang ini ditembakkan ke dalam pipa yang sudah dialiri aliran udara yang
akan diukur kecepatannya (bagian utama). Bagian utama pada susunan alat ini
adalah bagian yang dibuat atau dimodifikasi oleh peneliti sebagai tempat
pemasangan sensor ultrasonik (Gambar 3). Setelah sinyal ditembakkan oleh
transmitter, sinyal tersebut akan ditangkap kembali oleh sensor ultrasonik
(receiver) dan merubah kembali sinyal tersebut ke dalam sinyal listrik. Sinyal yang
ditangkap oleh receiver ini masuk ke dalam osiloskop digital dan terekam besar
waktu tempuh gelombang (time of flight) dari transmitter ke receiver. Osiloskop
digital yang sudah terkoneksi dengan komputer tersebut menampilkan besar waktu
tempuh gelombang (time of flight ) yang sudah terukur.

10. Hasil:
Maksimum presipitasi yang terjadi setelah diberi perlakuan medan magnet
sebesar 0,05 Tesla adalah 28,57% sedangkan untuk perlakuan dengan medan
magnet 0,1 tesla terjadi pengendapan sebesar 57,69%. Ikatan antara ion dan
molekul air yang terbentuk (hydration shell) mengalami pelemahan setelah diberi
perlakuan medan magnet. Pelemahan ikatan ini akan memudahkan ion – ion
pembentuk CaCO3 berikatan. Pelemahan ikatan antara molekul air dan ion
dikarenakan terjadinya pergereseran ion dari lintasannya yang diakibatkan oleh
adanya gaya Lorentz. Gaya Lorentz terjadi ketika ion (Ca2+ atau CO32- ) bergerak
melewati sebuah medan magnet. Arah gaya Lorentz mengikuti kaidah tangan

kanan dengan besar F  q (v  B ) . Efek gaya Lorentz terhadap pergeseran ion


telah dipelajari oleh Kozic pada tahun 2003. Hasil simulasi menunjukkan terjadi
persegesar ion sebesar 0,2 – 10 nm dan pergeseran partikel 0,2 nm – 2 µm.
Dengan pergeseran tersebut, hydration shell akan terganggu sehingga ion Ca2+
dan CO32- akan terlepas dari ikatannya dengan molekul air dan dapat berikatan
membentuk CaCO3.

Semakin besar penggunaan medan magnet untuk mengolahan maka semakin


besar gaya Lorentz yang dihasilkan. Semakin besar gaya Lorentz yang dihasilkan
maka ikatan antar molekul air dengan ion Ca2+ dan CO32- mudah terlepas.
Terlepasnya ion-ion tersebut akan memudahkan untuk saling berikatan dan
membentuk kapur.

11. Kesimpulan
Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa pengolahan air kapur dengan
besar medan magnet yang berbeda menghasilkan presipitasi CaCO3 berbeda juga.
Prosentase pengurangan maksimum sebesar 28,57% untuk medan magnet 0,05
tesla dengan waktu pengolahan 120 menit sedangkan untuk besar medan magnet
0,1 tesla menghasilkan pengendapan maksimum adalah sebesar 57,69%.
12. Kelebihan
Dalam jurnal tersebut metodologi yang dibuatkan diagram alirnya dan hasil
penelitian disampaikan sangat jelas dan detail oleh penulis sehingga pembaca
mudah memahami isi dari jurnal tersebut.
13. Kekurangan
Dalam jurnal ini penyampaian tujuan di awal penulisan kurang disampaikan
dengan spesifik dan juga simpulan yang disampaikan terlalu singkat.

Anda mungkin juga menyukai