Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH KANKER PAYUDARA

Disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar Epidemiologi

Oleh :

ARIFATUN NISAA
J 410 080 026

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2009
A. LATAR BELAKANG
Setiap tahun lebih dari 580.000 kasus baru ditemukan di berbagai negara
berkembang dan kurang lebih 372.000 pasien meninggal karena penyakit ini. Sayangnya
sampai saat ini penyebab kanker payudara masih belum diketahui.
Di Belanda sekitar 12 ribu perempuan didiagnose mengidap kanker payudara.
Data WHO menunjukkan bahwa 78% kanker payudara terjadi pada wanita usia 50
tahun ke atas. Hanya 6%-nya terjadi pada mereka yang berusia kurang dari 40 tahun.
Meski demikian, kian hari makin banyak penderita kanker payudara yang berusia 30-an.
Oleh karena itu jika Anda termasuk golongan yang beresiko tinggi, meski baru berusia
30-an, tak ada salahnya untuk lebih bersikap waspada terhadap perubahan yang terjadi
pada payudara.
Menurut WHO 8-9% wanita akan mengalami kanker payudara. Ini menjadikan
kanker payudara sebagai jenis kanker yang paling banyak ditemui pada wanita. Setiap
tahun lebih dari 250,000 kasus baru kanker payudara terdiagnosa di Eropa dan kurang
lebih 175,000 di Amerika Serikat. Masih menurut WHO, tahun 2000 diperkirakan 1,2
juta wanita terdiagnosis kanker payudara dan lebih dari 700,000 meninggal karenanya.
Belum ada data statistik yang akurat di Indonesia, namun data yang terkumpul dari rumah
sakit menunjukkan bahwa kanker payudara menduduki ranking pertama diantara kanker
lainnya pada wanita. Kanker payudara merupakan penyebab utama kematian pada wanita
akibat kanker. Setiap tahunnya, di Amerika Serikat 44,000 pasien meninggal karena
penyakit ini sedangkan di Eropa lebih dari 165,000. Setelah menjalani perawatan, sekitar
50% pasien mengalami kanker payudara stadium akhir dan hanya bertahan hidup 18 – 30
bulan.
Kanker payudara sering ditemukan di seluruh dunia dengan insidens relatif tinggi,
yaitu 20% dari seluruh keganasan (Tjahjadi, 1995). Dari 600.000 kasus kanker payudara
baru yang didiagnosis setiap tahunnya. Sebanyak 350.000 di antaranya ditemukan di
negara maju, sedangkan 250.000 di negara yang sedang berkembang (Moningkey, 2000).
Di Amerika Serikat, keganasan ini paling sering terjadi pada wanita dewasa.
Diperkirakan di AS 175.000 wanita didiagnosis menderita kanker payudara yang
mewakili 32% dari semua kanker yang menyerang wanita. Bahkan, disebutkan dari
150.000 penderita kanker payudara yang berobat ke rumah sakit, 44.000 orang di
antaranya meninggal setiap tahunnya (Oemiati, 1999). American Cancer Society
memperkirakan kanker payudara di Amerika akan mencapai 2 juta dan 460.000 di
antaranya meninggal antara 1990-2000 (Moningkey, 2000).
Kanker payudara merupakan kanker terbanyak kedua sesudah kanker leher rahim di
Indonesia (Tjindarbumi, 1995). Sejak 1988 sampai 1992, keganasan tersering di
Indonesia tidak banyak berubah. Kanker leher rahim dan kanker payudara tetap
menduduki tempat teratas. Selain jumlah kasus yang banyak, lebih dari 70% penderita
kanker payudara ditemukan pada stadium lanjut (Moningkey, 2000). Data
dari Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa
Case Fatality Rate (CFR) akibat kanker payudara menurut golongan penyebab sakit
menunjukkan peningkatan dari tahun 1992-1993, yaitu dari 3,9 menjadi 7,8 (Ambarsari,
1998).

B. TUJUAN
Tujuan pembuatan makalah ini antara lain:
1. Sebagai bahan kajian mengenai penyebab dari kanker payudara
2. Untuk mengetahui gejala timbulnya serta pencegahan kanker payudara
3. Sebagai sarana untuk mengetahui cara pengobatan dari kanker payudara

C. LANDASAN TEORI
Kanker payudara adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara.
Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun
jaringan ikat pada payudara.
Kanker payudara adalah salah satu jenis kanker yang dapat dideteksi dini. Namun,
tingkat kesadaran masyarakat yang rendah menyebabkan tingginya tingkat stadium
pasien kanker payudara di Indonesia. Kanker payudara merupakan masalah yang begitu
dekat dengan kehidupan kita, tapi begitu sulit dibicarakan. Kanker payudara, siapa pun
bisa terkena baik teman, rekan, kerabat ataupun kita sendiri. Namun, kita masih enggan
untuk berbicara kesehatan payudara apalagi melakukan pemeriksaan sendiri.
Gejala permulaan kanker payudara sering tidak disadari atau dirasakan dengan jelas
oleh penderita sehingga banyak penderita yang berobat dalam keadaan lanjut. Hal inilah
yang menyebabkan tingginya angka kematian kanker tersebut. Padahal, pada stadium dini
kematian akibat kanker masih dapat dicegah. Tjindarbumi (1982) mengatakan, bila
penyakit kanker payudara ditemukan dalam stadium dini, angka harapan hidupnya (life
expectancy) tinggi, berkisar antara 85 s.d. 95%. Namun, dikatakannya pula bahwa 70--
90% penderita datang ke rumah sakit setelah penyakit parah, yaitu setelah masuk dalam
stadium lanjut.
Pengobatan kanker pada stadium lanjut sangat sukar dan hasilnya sangat tidak
memuaskan. Pengobatan kuratif untuk kanker umumnya operasi dan atau radiasi.
Pengobatan pada stadium dini untuk kanker payudara menghasilkan kesembuhan 75%
(Ama, 1990). Pengobatan pada penderita kanker memerlukan teknologi canggih,
ketrampilan, dan pengalaman yang luas. Perlu peningkatan upaya pelayanan
kesehatan, khususnya di RS karena jumlah yang sakit terus-menerus meningkat, terlebih
menyangkut golongan umur produktif.
Sebagai tolak ukur keberhasilan pengobatan kanker, termasuk kanker payudara,
biasanya adalah 5 year survival (ketahanan hidup 5 tahun) (Sirait, 1996). Vadya dan
Shukla menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis dan ketahanan
hidup penderita kanker payudara adalah besar tumor, status kelenjar getah bening
regional, skin oedema ‘pembengkakan kulit’, status menopause, perkembangan sel
tumor, residual tumor burden (tumor sisa), jenis patologinya, dan metastase, terapi, serta
reseptor estrogen. Selain itu, ditambahkan pula dengan umur dan besar payudara. Azis
FM dkk. menyatakan bahwa ketahanan hidup penderita kanker dipengaruhi oleh
pengobatan, ukuran tumor, jenis histologi, ada tidaknya invasi ke pembuluh darah,
anemia, dan penyulit seperti hipertensi.
Dalam Vadya dikatakan bahwa untuk ukuran tumor < 2 cm, ketahanan hidup 5
tahun sebesar 73%. Hal ini sangat berbeda untuk ukuran tumor 3-6 cm yang angka
ketahanan hidupnya sangat rendah, yaitu 24%. Selain itu, ukuran tumor yang lebih besar
berhubungan dengan kelenjar limfa. Dalam ukuran kanker yang lebih besar, kelenjar
limfa yang melekat (involved) menjadi lebih banyak.
Tjindarbumi (1982) melaporkan pengobatan kanker payudara dengan simpel
mastektomi tanpa sinar memberikan ketahanan hidup 79% dan mastektomi radikal
memberikan ketahanan hidup 5 tahun 70--95%. Informasi tentang faktor-faktor
ketahanan hidup memberikan manfaat yang besar. Bukan hanya untuk peningkatan
penanganan penderita kanker payudara, tapi juga untuk memberikan informasi yang
cukup kepada masyarakat tentang kanker payudara dan perkembangan serta prognosis
penyakit tersebut di masa mendatang.
Ketahanan Hidup Penderita Kanker
Menurut Aziz, FM, dkk. (1985), ketahanan hidup penderita kanker dipengaruhi oleh
stadium klinik, pengobatan, ukuran tumor, jenis histologi, ada tidaknya metastase ke
pembuluh darah, anemia, dan hipertensi (penyakit penyerta). Sedangkan Rusmiyati
(1987) menyatakan bahwa hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan
ketahanan hidup adalah umur, keadaan umum, fisik, stadium klinik, ciri-ciri histologis
sel-sel tumor, gambaran sitologis dari kanker, gambaran makroskopis dari kanker,
kemampuan ahli yang menangani, sarana pengobatan yang tersedia, dan status ekonomi.
Hack, KD (1994) menyatakan bahwa ketahanan hidup tergantung dari adanya metastase
ke kelenjar getah bening, besar lesi, kedalaman infiltrasi, adanya metastase ke
parametrium, serta adanya metastase ke pembuluh darah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis dan ketahanan hidup penderita kanker
payudara adalah (Vadya and Shukla): ukuran tumor, kelenjar getah bening regional, skin
oedema (pembengkakan pada kulit), status menopause, pertumbuhan tumor, residual
tumor burden (tumor sisa), pengobatan pada tumor awal, faktor-faktor patologi, dan
reseptor estrogen.
Selain itu, faktor-faktor lainnya yang secara tidak langsung mempengaruhi
prognosis adalah ukuran payudara dan jenis kelamin.

D. PERMASALAHAN
Gejala dan Tanda
Gejala awal berupa sebuah benjolan yang biasanya dirasakan berbeda dari jaringan
payudara di sekitarnya, tidak menimbulkan nyeri dan biasanya memiliki pinggiran yang
tidak teratur.
Pada stadium awal, jika didorong oleh jari tangan, benjolan bisa digerakkan dengan
mudah di bawah kulit. Pada stadium lanjut, benjolan biasanya melekat pada dinding dada
atau kulit di sekitarnya. Pada kanker stadium lanjut, bisa terbentuk benjolan yang
membengkak atau borok di kulit payudara. Kadang kulit diatas benjolan mengkerut dan
tampak seperti kulit jeruk.
Gejala lainnya yang mungkin ditemukan adalah benjolan atau massa di ketiak,
perubahan ukuran atau bentuk payudara, keluar cairan yang abnormal dari puting susu
(biasanya berdarah atau berwarna kuning sampai hijau, mungkin juga bernanah),
perubahan pada warna atau tekstur kulit pada payudara, puting susu maupun areola
(daerah berwana coklat tua di sekeliling puting susu), payudara tampak kemerahan, kulit
di sekitar puting susu bersisik, puting susu tertarik ke dalam atau terasa gatal, nyeri
payudara atau pembengkakan salah satu payudara. Pada stadium lanjut bisa timbul nyeri
tulang, penurunan berat badan, pembengkakan lengan atau ulserasi kulit.
Faktor Risiko (Moningkey dan Kodim, 1998)
Penyebab spesifik kanker payudara masih belum diketahui, tetapi terdapat banyak faktor
yang diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap terjadinya kanker payudara.
Faktor reproduksi
Karakteristik reproduktif yang berhubungan dengan risiko terjadinya kanker payudara
adalah nuliparitas, menarche pada umur muda, menopause pada umur lebih tua, dan
kehamilan pertama pada umur tua. Risiko utama kanker payudara adalah
bertambahnya umur. Diperkirakan, periode antara terjadinya haid pertama dengan umur
saat kehamilan pertama merupakan window of initiation perkembangan kanker payudara.
Secara anatomi dan fungsional, payudara akan mengalami atrofi dengan bertambahnya
umur. Kurang dari 25% kanker payudara terjadi pada masa sebelum menopause sehingga
diperkirakan awal terjadinya tumor terjadi jauh sebelum terjadinya perubahan klinis.
Penggunaan hormon
Hormon eksogen berhubungan dengan terjadinya kanker payudara. Laporan dari
Harvard School of Public Health menyatakan bahwa terdapat peningkatan kanker
payudara yang bermakna pada para pengguna terapi estrogen replacement. Suatu
metaanalisis menyatakan bahwa walaupun tidak terdapat risiko kanker payudara pada
pengguna kontrasepsi oral, wanita yang menggunakan obat ini untuk waktu yang lama
mempunyai risiko tinggi untuk mengalami kanker ini sebelum menopause.

Penyakit fibrokistik
Pada wanita dengan adenosis, fibroadenoma, dan fibrosis, tidak ada peningkatan risiko
terjadinya kanker payudara. Pada hiperplasis dan papiloma, risiko sedikit meningkat 1,5
sampai 2 kali. Sedangkan pada hiperplasia atipik, risiko meningkat hingga 5 kali.
Obesitas
Terdapat hubungan yang positif antara berat badan dan bentuk tubuh dengan kanker
payudara pada wanita pasca menopause. Variasi terhadap kekerapan kanker ini di negara-
negara Barat dan bukan Barat serta perubahan kekerapan sesudah migrasi menunjukkan
bahwa terdapat pengaruh diet terhadap terjadinya keganasan ini.
Konsumsi lemak
Konsumsi lemak diperkirakan sebagai suatu faktor risiko terjadinya kanker payudara.
Willet dkk., melakukan studi prospektif selama 8 tahun tentang konsumsi lemak dan serat
dalam hubungannya dengan risiko kanker payudara pada wanita umur 34 sampai 59
tahun.
Radiasi
Eksposur dengan radiasi ionisasi selama atau sesudah pubertas meningkatkan terjadinya
risiko kanker payudara. Dari beberapa penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa
risiko kanker radiasi berhubungan secara linier dengan dosis dan umur saat terjadinya
eksposur.
Riwayat keluarga dan faktor genetik
Riwayat keluarga merupakan komponen yang penting dalam riwayat penderita yang
akan dilaksanakan skrining untuk kanker payudara. Terdapat peningkatan risiko
keganasan ini pada wanita yang keluarganya menderita kanker payudara. Pada studi
genetik ditemukan bahwa kanker payudara berhubungan dengan gen tertentu. Apabila
terdapat BRCA 1, yaitu suatu gen suseptibilitas kanker payudara, probabilitas untuk
terjadi kanker payudara sebesar 60% pada umur 50 tahun dan sebesar 85% pada umur 70
tahun.
Dari faktor risiko tersebut di atas, riwayat keluarga serta usia menjadi faktor
terpenting. Riwayat keluarga yang pernah mengalami kanker payudara meningkatkan
resiko berkembangnya penyakit ini. Para peneliti juga menemukan bahwa kerusakan dua
gen yaitu BRCA1 dan BRCA2 dapat meningkatkan risiko wanita terkena kanker sampai
85%. Hal yang menarik, faktor genetik hanya berdampak 5-10% dari terjadinya kanker
payudara dan ini menunjukkan bahwa faktor risiko lainnya memainkan peranan penting.
Pentingnya faktor usia sebagai faktor risiko diperkuat oleh data bahwa 78% kanker
payudara terjadi pada pasien yang berusia lebih dari 50 tahun dan hanya 6% pada pasien
yang kurang dari 40 tahun. Rata-rata usia pada saat ditemukannya kanker adalah 64
tahun.

E. PENYELESAIAN MASALAH
Diagnosis dan Skrining
Sejumlah studi memperlihatkan bahwa deteksi kanker payudara dan serta terapi dini
dapat meningkatkan harapan hidup dan memberikan pilihan terapi lebih banyak pada
pasien. Diperkirakan 95% wanita yang terdiagnosis pada tahap awal kanker payudara
dapat bertahan hidup lebih dari lima tahun setelah diagnosis sehingga banyak dokter yang
merekomendasikan agar para wanita menjalani ‘sadari’ (periksa payudara sendiri saat
menstruasi) di rumah secara rutin dan menyarankan dilakukannya pemeriksaan rutin
tahunan untuk mendeteksi benjolan pada payudara. Pada umumnya, kanker payudara
dideteksi oleh penderita sendiri dan biasanya berupa benjolan yang keras dan kecil. Pada
banyak kasus benjolan ini tidak sakit, tapi beberapa wanita mengalami kanker yang
menimbulkan rasa sakit.
Selain tes fisik, mamografi tahunan atau dua kali setahun dan USG khusus payudara
disarankan untuk mendeteksi adanya kelainan pada wanita berusia lanjut dan wanita
berisiko tinggi kanker payudara, sebelum terjadi kanker. Jika benjolan bisa teraba atau
kelainan terdeteksi saat mamografi, biopsi perlu dilakukan untuk mendapatkan contoh
jaringan guna dilakukan tes di bawah mikroskop dan meneliti kemungkinan adanya
tumor.
Jika terdiagnosis kanker, maka perlu dilakukan serangkaian tes seperti status
reseptor hormon pada jaringan yang terkena. Jenis tes yang baru menyertakan juga tes
gen HER2 (human epidermal growth factor receptor-2) untuk tumor. Gen ini
berhubungan dengan pertumbuhan sel kanker yang agresif. Pasien dikatakan HER2-
positif jika pada tumor ditemukan HER2 dalam jumlah besar. Kanker dengan HER2-
positif dikenal sebagai bentuk agresif dari kanker payudara dan memiliki perkiraan
perjalanan penyakit yang lebih buruk daripada pasien dengan HER2-negatif.
Diperkirakan satu dari empat sampai lima pasien dengan kanker payudara tahap akhir
memiliki HER2-positif.
Ada beberapa pengobatan kanker payudara yang penerapannya banyak tergantung
pada stadium klinik penyakit (Tjindarbumi, 1994), yaitu:
1. Mastektomi
Mastektomi adalah operasi pengangkatan payudara. Ada 4 jenis mastektomi (Hirshaut &
Pressman, 1992):
Modified Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara, jaringan
payudara di tulang dada, tulang selangka dan tulang iga, serta benjolan di sekitar ketiak.
a. Total (Simple) Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara saja,
tetapi bukan kelenjar di ketiak.
b. Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan sebagian dari payudara.
Biasanya disebut lumpectomy, yaitu pengangkatan hanya pada jaringan yang
mengandung sel kanker, bukan seluruh payudara. Operasi ini selalu diikuti dengan
pemberian radioterapi. Biasanya lumpectomy direkomendasikan pada pasien yang
besar tumornya kurang dari 2 cm dan letaknya di pinggir payudara.
2. Penyinaran/radiasi
Yang dimaksud radiasi adalah proses penyinaran pada daerah yang terkena kanker
dengan menggunakan sinar X dan sinar gamma yang bertujuan membunuh sel kanker
yang masih tersisa di payudara setelah operasi (Denton, 1996). Efek pengobatan ini tubuh
menjadi lemah, nafsu makan berkurang, warna kulit di sekitar payudara menjadi
hitam, serta Hb dan leukosit cenderung menurun sebagai akibat dari radiasi.
3. Kemoterapi
Kemoterapi adalah proses pemberian obat-obatan anti kanker dalam bentuk pil cair atau
kapsul atau melalui infus yang bertujuan membunuh sel kanker. Tidak hanya sel kanker
pada payudara, tapi juga di seluruh tubuh (Denton, 1996). Efek dari kemoterapi adalah
pasien mengalami mual dan muntah serta rambut rontok karena pengaruh obat-obatan
yang diberikan pada saat kemoterapi.

Strategi Pencegahan
Meskipun penyebab kanker secara pasti belum diketahui, setiap orang dapat
melakukan upaya pencegahan dengan cara hidup sehat dan menghindari beberapa jenis
kanker :
1. Mengurangi makanan berlemak yang berlebihan.
2. Lebih banyak makan makanan berserat.
3. Lebih banyak makan makanan yang banyak mengandung vitamin A dan C dan sayur
sayuran berwarna.
4. Lebih banyak makan makanan berwarna yang alami seperti sayur hijau dan buah.
5. Mengurangi makan makanan yang telah diawetkan (misalnya diasinkan, dibakar,
diasap atau dengan bahan pengawet) atau disimpan terlalu lama.
6. Menghindari minuman alkohol.
7. Hindari diri dari penyakit akibat hubungan seksual, dengan tidak berganti-ganti
pasangan.
8. Hindari kebiasaan merokok. Bagi perokok berhentilah merokok.
9. Upayakan kehidupan seimbang dan hindari stres.
10. Periksakan kesehatan secara berkala dan teratur. Dengan pemeriksaan payudara
sendiri secara berkala ataupun dengan mammografi.

F. KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Ada beberapa hal yang dapat meningkatkan resiko kanker payudara, antara lain
usia, riwayat kesehatan, faktor keturunan, faktor hormonal seperti menstruasi pertama
terlalu cepat dan menopause dini. Selain itu upaya menunda kehamilan atau kehamilan
pertama terjadi di atas usia 30 tahun juga bisa meningkatkan resiko. Gaya hidup yang
tidak sehat, misalnya sering mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak jahat, atau
kurang berolahraga, juga dapat memperbesar resiko terserang kanker payudara.
Kanker payudara bisa terjadi pada usia kapan saja. Tapi kemungkinan seseorang
menderita kanker payudara pada usia 25 tahun misalnya, sangat kecil. Semakin lanjut
usianya, semakin besar kemungkinan orang bisa terkena kanker payudara. Jumlah
penderita penyakit tersebut paling tinggi antara usia 50 hingga 59 tahun, disusul 60
hingga 69 tahun.
Saran
Untuk lebih memahami semua tentang kanker payudara, disarankan para pembaca
mencari referensi lain yang berkaitan dengan materi pada makalah ini. Selain itu,
diharapkan para pembaca setelah membaca makalah ini mampu mengubah gaya hidup
untuk mencegah dan meminimalisir adanya kanker payudara.
DAFTAR PUSTAKA

Ama, Faisol, 1990. Masalah Kanker Payudara dan pemecahannya. Majalah Kesehatan
Masyarakat Indonesia. Tahun XIX. Nomor 1 Maret. Jakarta.
Ambarsari, Endang, 1998. Faktor-faktor Risiko Kanker Payudara di RSU Persahabatan,
Jakarta pada Juni sampai September 1997. Skripsi. FKM UI. Depok.
Manuaba, Tjakra Wibawa, 1996. Karsinoma Mamma: Evaluasi Penatalaksanaan Dalam
Kurun Waktu Empat Tahun Sesuai dengan Protokol Peraboi. Majalah Ilmiah
Universitas Udayana. Lembaga Penelitian Universitas Udayana. Denpasar.
Moningkey, Shirley Ivonne, 2000. Epidemiologi Kanker Payudara. Medika; Januari
2000. Jakarta.
Palupy, Rini Widyastuty, 2000 Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Praktik
Pendeteksian Dini Kanker Payudara pada Karyawati Administrasi Universitas
Indonesia tahun 1999, FKM UI.
Tjahjadi, Gunawan, 1995, Patologyi Tumor Ganas Payudara, Kursus Singkat Deteksi
Dini dan Pencegahan Kanker. 6-8 November. FKUI-POI. Jakarta
Tjahjadi ,Gunawan,dkk, 1986 Patologyi Tumor Ganas Payudara. Bagian Patologi
Anatomi. FKUI. Jakarta.
Tjindarbumi, 1982 Penemuan Dini Kanker Payudara dan Penanggulangannya dalam:
Diagnosis Dini Keganasan sertaPenanggulangannya. FKUI. Jakarta.
Tjindarbumi, l982 Penanganan kanker Dini dan Lanjut. Bagian Patologi Anatomik.
FKUI. Jakarta.
Tjindarbumi, 1995. Diagnosis dan Pencegahan Kanker Payudara, Kursus Singkat
Deteksi Dini dan Pencegahan Kanker. 6-8 November. FKC.II-POI. Jakarta.
Tjindarbumi, 2000. Deteksi Dini Kanker Payudara dan Penaggulangannya, Dalam:
Deteksi Dini Kanker. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta
Vaidya, M.P, and Shukla, H.S. A textbook of Breast Cancer. Vikas Publishing House
PVT LTD.