Anda di halaman 1dari 6

NAMA: AHMAD MUKAMMIL

NIM : 1993142024
MANAJEMEN D

BAB 7 ANALISIS BREAK EVENT POINT DAN PENENTUAN HARGA

Break event point (BEP) di Indonesia dikenal dengan titik impas, yaitu salah satu
bentuk dari sekian banyak informasi akuntansi manajemen yang digunakan dalam
menganalisis hubungan antara revenue/sales, cost, volume, dan profit. Analisis break event
point sangat penting peranannya bagi pimpinan perusahaan, Para manajer akan lebih
mengetahui hubungan antara penjualan, produksi, harga jual, biaya, rugi atau laba,
perusahaannya, sehingga memudahkan bagi mereka untuk mengambil kebijaksanaan.

A. Konsep Dasar Analisis Break Event Point


1. Pengertian Break Event Point
Break event point mempunyai banyak definisi menurut para ahli, namun saya hanya
akan mengambil 1 pengertian, yaitu Break event point pada perusahaan adalah keadaan
perusahaan yang operasinya tidak memperoleh laba dan tidak mengalami kerugian atau total
pengeluaran biaya sama nilainya dengan total hasil penjualan sehingga tidak ada laba dan
tidak ada rugi. Salah satu upaya untuk mencapai keuntungan semaksimal mungkin dapat
dilakukan dengan tiga Langkah, antara lain:
a. Menekan biaya produksi ataupun biaya operasional serendah-rendahnya dengan
mempertahankan tingkat harga, kualitas dan kuantitas;
b. Menentukan harga sesuai dengan laba yang dikehendaki;
c. Meningkatkan volume kegiatan semaksimal mungkin.
Langkah-langkah diatas jika terjadi kesalahan faktor maka dampaknya akan sangat
berpengaruh terhadap seluruh kegiatan operasi, karena Langkah-langkah diatas mempunyai
hubungan yang erat.
2. Memahami Analisis Break Event Point
Dalam kapasitasnya, analisis break event adalah suatu Teknik analisis untuk
mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan, dan volume aktivitas.
Dengan kata lain, arti penting dari sebuah analisis break event point antara lain:
a. Untuk menetapkan jumlah minimal yang harus diproduksi agar perusahaan tidak
mengalami kerugian;
b. Untuk penetapan jumlah penjualan yang harus dicapai dalam mendapatkan laba tertentu;
c. Untuk penetapan menurunnya penjualan bisa ditolerir agar perusahaan tidak menderita
kerugian.
3. Memahami landasan Break Event Point
Makna lain dari memahami landasan Break Event Point, di antaranya tentang
Langkah-langkah untuk menentukan break event adalah membagi harga pokok penjualan
(HPP), dan biaya operasi menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Apabila perusahaan hanya
mempunyai biaya variabel masalah break event point adalah perusahaan tersebut tidak akan
muncul. Masalah break event point akan muncul apabila suatu perusahaan mempunyai biaya
variabel dan biaya tetap. Dengan adanya unsur biaya variabel dan unsur biaya tetap, suatu
perusahaan dengan volume produksi tertentu dikatakan menderita kerugian karena penjualan
hanya menutupi biaya tetap. Hal ini memberitahukan bahwa bagian dari hasil penjualan yang
tersedia hanya cukup untuk menutupi biaya, artinya tidak cukup untuk menutupi biaya
variabelnya.
Apabila diketahui nilai volume penjualan atau penghasilan total sama besarnya dengan nilai
biaya total, sehingga perusahaan tidak mencapai laba atau keuntungan dan tidak menderita
kerugian dinamakan break event point.
4. Manfaat Analisis Break Event Point
1. dapat dipakai sebagai alat pemberi informasi kepada manajemen
secara sederhana dan singkat;
2. analisis break even point dapat digunakan sebagai alat pedoman dalam mengambil
keputusan yang menyangkut biaya, pendapatan, dan perencanaan biaya;
3. dapat memberikan gambaran tentang biaya dan hasil produk yang diharapkan secara
menyeluruh dalam aktivitas utama perusahaan untuk masa mendatang;
4. dapat digunakan sebagai landasan untuk mengendalikan kegiatan oprasional yang
sedang berjalan, yaitu sebagai sarana realisasi dengan perhitungan berdasarkan
analisis break even point sebagai alat pengendali atau controlling;
5. dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan harga jual, yaitu
setelah diketahui hasil-hasil perhitungan menurut analisis break even point dan laba
yang ditargetkan.
5. Kelemahan Dalam Analisis Break Event Point
Sekalipun analisis break even banyak digunakan oleh perusahaan, tetapi tidak dapat
dilupakan bahwa analisis ini mempunyai beberapa kelemahan. Kelemahan utama dari analisis
break even point, antara lain asumsi tentang linearity, klasifikasi biaya, dan penggunaannya
terbatas untuk jangka waktu yang pendek.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa analisis break event point antara lain sebagai
berikut:
1. Analisis BEP memerlukan adanya asumsi, terutama mengenai hubungan antara biaya
dengan pendapatan.
2. Analisis BEP bersifat statis, artinya hanya digunakan pada titik tertentu, bukan pada
suatu periode tertentu.
3. Analisis BEP tidak digunakan untuk mengambil keputusan akhir, tetapi digunakan
jika ada penentuan kegiatan lanjutan yang dapat dilakukan.
4. Analisis BEP tidak menyediakan pengujian aliran kas yang baik, artinya jika aliran
kas telah ditentukan melebihi aliran kas yang harus dikeluarkan, proyek dapat
diterima dan hal- hal lainnya dianggap sama.
5. Analisis BEP kurang memperhatikan risiko-risiko yang terjadi selama masa
penjualan, misalnya kenaikan harga bahan baku.

B. Asumsi Break Event Point


1. Asumsi Dasar Analisis Break Even Point
Pada kenyataannya, banyak asumsi yang tidak dapat dipenuhi. Walaupun demikian,
perubahan asumsi ini tidak mengurangi validitas dan kegunaan analisis BEP(Break event
Point) sebagai alat bantu pengambilan keputusan. Oleh karena itu, diperlukan modifikasi
tertentu dalam penggunaannya.
Analisis break event point akan berguna Ketika beberapa asumsi dasar dipenuhi oleh asumsi-
asumsi tersebut, antara lain sebagai berikut:
a. Biaya pada berbagai tingkat kegiatan dapat diperkirakan jumlahnya secara tepat.
b. Biaya yang dapat diperkirakan, dipisahkan dengan yang bersifat variabel dan
merupakan beban tetap(Fixed cost).
c. Tingkat penjualan sama dengan tingkat produksi,artinya yang diproduksi dianggap
terjual habis.
2. Asumsi Keterbatasan Analisis BEP
Karena banyaknya asumsi-asumsi yang dilakukan terkadang terlalu memaksa dan
pertanggung jawabannya sering diambangkan. Oleh karena itu, para manajer menganggap
bahwa asumsi ini harus tetap dilakukan dan merupakan salah satu keterbatasan analisis BEP.
Adapun keterbatasan asumsi-asumsi dalam analisis BEP, antara lain sebagai berikut:
a. Biaya dalam analisis BEP, Dalam analisis BEP, hanya menggunakan dua macam biaya,
yaitu fixed cost dan variable cost. Perlu diawali dengan memisahkan komponen antara biaya
tetap dan biaya variabel. Untuk memisahkan kedua biaya tersebut relative sulit dikarenakan
adanya biaya yang tergolong semivariabel dan tetap. Untuk memisahkan kedua biaya tersebut
dapat dilakukan melalui dua pendekatan berikut:
1. Pendekatan analitis, yaitu harus meneliti setiap jenis dan unsur biaya yang terkandung
satu per satu dari biaya yang ada beserta sifat-sifat biaya tersebut.
2. Pendekatan historis, yaitu harus dilakukan pemisahan biaya tetap dan variabel
berdasarkan angka-angka dan data biaya masa lampau.
b. Biaya Tetap (fixed Cost), Biaya tetap merupakan biaya yang secara keseluruhan tidak
mengalami perubahan, walaupun ada perubahan volume produksi atau penjualan(dalam batas
tertentu).
c. Biaya Variabel (Variabel Cost), Biaya variabel merupakan biaya yang secara total berubah-
rubah sesuai dengan perubahan volume produksi atau penjualan.
d. Harga Jual, Harga jual hanya digunakan untuk satu macam harga jual atau harga barang
yang dijual atau diproduksi.
e. Tidak Ada Perubahan Harga Jual, Harga jual per satuan tidak dapat berubah selama
periode analisis.

3. Tujuan Analisis BEP


Dalam penggunaan analisis BEP, terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai, yaitu:
a. Mendesain spesifikasi produk;
b. Menentukan harga jual per satuan;
c. Menentukan jumlah produksi atau penjualan minimal agar tidak rugi;
d. Memaksimalkan jumlah produksi;
e. Merencanakan laba yang diinginkan.

C. Perubahan Titik BEP dan Dampaknya


Pada prinsipnya dalam break event point terdapat beberapa asumsi yang harus
dipenuhi, apabila asumsi tersebut tidak dapat terpenuhi, BEP akan mengalami perubahan,
perubahannya antara lain:
1. Perubahan Harga Jual Per Unit, Perubahan harga jual per unit akan memengaruhi besarnya
titik break even. Apabila harga jual per unit naik sementara biaya tidak berubah maka akan
menurunkan titik break event.
2. Perubahan Biaya Variabel Per Unit, Terjadinya perubahan pada biaya variabel juga akan
mengubah posisi titik break even, yaitu apabila biaya variabel naik akan menaikkan titik
break even dan apabila turun maka akan menurunkan break even point.
3. Perubahan Biaya Tetap, Demikian pula perubahan biaya tetap akan mengubah posisi BEP
menjadi lebih besar apabila biaya tetap naik dan akan turun apabila biaya tetap turun.
4. Perubahan Komposisi Sales Mix, dalam asumsi BEP dinyatakan bahwa apabila perusahaan
hanya menghasilkan satu macam produk dan menghasilkan lebih dari dua macam produk,
tidak boleh ada perubahan komposisi dalam sales mix-nya. Peran sales mix menunjukkan
perimbangan penjualan antara beberapa macam produk yang dihasilkan. Apabila ada
perubahan sales mix akan menyebabkan perubahan pada BEP secara total.

D. Strategi Penentuan dan Pengelolaan Harga


1. Pengertian dan Tujuan Penetapan Harga
Harga adalah suatu nilai tukar dari produk barang ataupun jasa yang dinyatakan dalam
satuan moneter. Dalam konteks ini, harga merupakan salah satu penentu keberhasilan
perusahaan karena harga menentukan jumlah keuntungan yang akan diperoleh perusahaan
dari penjualan produknya, baik berupa barang maupun jasa. Adapun tujuan dalam penetapan
harga antara lain:
a. Berorientasi pada laba
b. Berorientasi pada Volume
c. berorientasi pada Stabilitas Harga

2. Harga dalam strategi posisi (Price in the positioning strategy)


Biasanya manajer dalam membuat keputusan penetapan harga sangat membutuhkan
koordinasi dengan keputusan untuk seluruh komponen posisi.
Komponen yang dimaksud antara lain:
a. Strategi produk
b. Strategi Pendistribusian
c. Tanggung jawab atas Keputusan penetapan harga

3. Situasi Penetapan Harga (Pricing Situations)


Strategi penetapan harga memerlukan pemantauan yang terus-menerus. Hal itu
dikarenakan perubahan kondisi eksternal, aksi persaingan, dan kesempatan untuk melewati
persaingan berdampingan dengan aksi penetapan harga.
Oleh karena itu beberapa jenis situasi membutuhkan aksi penetapan harga, antara lain:
a. memutuskan cara posisi nilai harga untuk produk baru atau produk sejenis;
b. mengevaluasi kebutuhan atas aturan harga yang dikenakan pada produk yang ditinggalkan,
selanjutnya menjadi daur hidup produk.

4. Peranan harga dalam penetapan harga (Roles of Pricing)


Harga dalam posisinya telah menunjukkan berbagai peranan dalam program
pemasaran. Hal itu merupakan pertanda atau indikator bagi pembeli, sebagai alat dalam
persaingan, mengembangkan tampilan keungan, dan sebagai pengganti untuk fungsi program
pemasaran lainnya.
Berikut ini pertanda atau indikator-indikator tersebut:
a. Pertanda bagi pembeli (signal to the buyer), Harga telah berperan dalam menawarkan cara
yang cepat dan langsung dalam berkomunikasi dengan pembeli.
b. Alat dalam persaingan (Instrument of competition), Harga dapat menawarkan satu cara
untuk menyingkirkan para pesaingnya dengan cepat, atau kemungkinan lain bagi perusahaan
untuk meninggalkan persaingan secara langsung.

5. Strategi Penetapan Harga (Pricing Strategy)


Tahapan utama dalam memilih strategi penetapan harga untuk produk baru atau
mempertahankan produk yang telah ada adalah menentukan penetapan harga objektif untuk
mencapai pengembangan strategi.
Oleh karena itu Model strategi yag diterapkan, antara lain sebagai berikut:
a. Strategi Penetapan Harga Produk Baru, Harga yang ditetapkan atas produk baru harus
dapat memberikan pengaruh yang baik bagi pertumbuhan pasar.
b. Dalam perkembanganya, suatu perusahaan harus selalu meninjau Kembali strategi
penetapan harga produknya yang sudah ada dipasar. Oleh karena itu strategi yang diperlukan
dalam melakukan peninjauan Kembali penetapan harga yang telah dilakukan, seharusnya
perusahaan menggunakan tiga alternatif sebagai berikut:
1. Mempertahankan harga.
2. Menurunkan harga.
3. Menaikkan harga.
c. Strategi Penyesuaian Harga
Perusahaan biasanya menyesuaikan harga dasar sehingga dapat memperhitungkan berbagai
perbedaan pelanggan dan perubahan situasi.