Anda di halaman 1dari 8

Berkala Fisika ISSN : 1410 - 9662

Vol. 6, No. 3, Juli 2003, hal. 55 - 62

RANCANG BANGUN PENGUAT DAYA RF

Sapto Nugroho1, Dwi P. Sasongko2, Isnaen Gunadi1


1. Lab. Elektronika dan Instrumentasi , Jurusan Fisika, UNDIP Semarang
2. Lab. Fisika Atom & Nuklir, Jurusan Fisika, UNDIP Semarang

Abstract
The RF power amplifier has been designed and realized to operate at the frequency of
100 MHz with 1000 mW of power output at 12 V supply voltage in this research. Based on this
design, it will be used to design of the RF power amplifier with large output power at desired
frequency operation. The RF power amplifier consist of three stages amplification, with first
amplifier is operated in class A, second and third amplifier are operated in fixture mode class C.
Class A amplifier is designed with using the procedure that presented by Purdie, while fixture
mode class C amplifier is designed by using of large signal transistor impedance. Realizing of the
RF power amplifier can be able to used for amplifying signal of 100 MHz. The measurement of the
RF power amplifier at 12 V supply voltage; maximal output power of 1148,15 mW; second
harmonic distortion of 0,07 %; bandwidth 8 MHz and signal power are larger then noise that
generated by the amplifier.

PENDAHULUAN RF yang digunakan, sehingga pemancar


Sistem komunikasi radio berdaya kuat akan dapat diperoleh
digunakan untuk membawa pesan atau apabila penguat daya RF yang
informasi dari suatu titik ke titik lain. digunakan mampu menghasilkan daya
Informasi yang dibawa dalam bentuk keluaran yang besar. Pemancar yang
sinyal listrik dapat berupa pembicaraan, umum dipasarkan adalah pemancar
musik, gambar, data ilmiah, data bisnis, dengan daya keluaran kecil. Pemancar
dan sebagainya. Oleh karena itu, pada berdaya besar, selain sulit diperoleh
dasarnya sistem komunikasi radio terdiri harganya juga sangat mahal. Selain itu,
dari tiga elemen utama, yaitu informasi penggunaan pemancar komersial
yang akan dibawa, pengirim terbatas pada daya keluaran dan
(transmitter), dan penerima (receiver). frekuensi kerja yang telah
Transmitter dibangun dari dispesifikasikan. Pemancar dengan
beberapa komponen, yaitu osilator, spesifikasi daya keluaran 1000 mW
modulator, penguat daya RF (Radio pada frekuensi kerja 100 MHz tidak
Frequency), saluran transmisi, dan akan dapat menghasilkan daya keluaran
antena. Osilator digunakan sebagai 1000 mW apabila dikerjakan pada
penghasil gelombang sinus frekuensi frekuensi 200 MHz.
tinggi yang digunakan sebagai frekuensi
pembawa ( f c ). Modulator digunakan DASAR TEORI
untuk memodulasi informasi yang akan Komponen-Komponen Pasif
dibawa dengan frekuensi pembawa. Rangkaian Penguat
Penguat daya RF digunakan untuk Rangkaian penguat dapat terdiri
menguatkan daya keluaran osilator dari satu komponen aktif dan beberapa
sampai suatu nilai yang dikehendaki. komponen pasif. Komponen aktif dapat
Keluaran penguat daya RF diumpankan berupa transistor atau IC, sedangkan
ke antena melalui saluran transmisi. komponen pasif dari suatu rangkaian
Daya keluaran dari suatu penguat terdiri dari resistor, kapasitor,
pemancar ditentukan oleh penguat daya dan induktor.

55
Sapto N, Dwi P. Sasongko, Isnain G., Rancang Bangun…

Perilaku Komponen Pasif pada


Frekuensi Radio
Wedlock dan Roberge [1] telah
menyatakan bahwa suatu resistor dapat
mulai bersifat seperti kapasitor atau
induktor pada daerah RF. Perilaku
tersebut disebabkan oleh adanya
kapasitansi stray atau induktansi stray. Gambar 2.2. Rangkaian penguat daya mode
Karena kedua hal tersebut pada [4 ]
campuran kelas C (Krauss et al ).
umumnya tidak diinginkan dan
membatasi unjuk kerja komponen- Krauss et al [4 ] telah menyatakan
komponen pada frekuensi tinggi, maka bahwa perencanaan penguat daya mode
mereka dinamakan juga sebagai campuran kelas C pada umumnya
parasitic effects. dilakukan dengan menggunakan
impedansi sinyal kuat transistor.
Penguat Kelas A Impedansi sinyal kuat merupakan
Purdie [2 ] telah mendefinisikan parameter transistor yang dapat diukur
penguat kelas A sebagai suatu penguat dan atau diperkirakan. Impedansi sinyal
yang mempunyai kemampuan terbesar kuat yang terukur hanya berlaku pada
dalam mereproduksi masukan dengan tingkat frekuensi dan tingkat daya
distorsi yang terkecil, dengan atau tanpa dimana mereka diukur. Karena harga-
rangkaian umpan balik negatif. Namun harga tersebut merupakan hasil dari
demikian, efisiensi penguat kelas A beberapa pengubah tidak linier dalam
adalah paling kecil dibandingkan dengan rangkaian, maka harga-harga tersebut
penguat daya kelas lainnya. Rangkaian diperkirakan akan sangat berubah
penguat kelas A dengan umpan balik menurut frekuensi, penggerak, daya
emitor diperlihatkan pada gambar 2.1. keluaran, dan tegangan sumber.
Meskipun demikian, impedansi sinyal
+VCC
kuat dapat dianggap sebagai suatu
R1 RL
C4 R5
pendekatan yang bermanfaat dalam
VC
C3
melakukan perencanaan tahap pertama.
VB

C1
Impedansi keluaran sinyal kuat
VE
R2 R3a Z C dari transistor daya HF dan VHF
bipolar umumnya diperkirakan dengan
R3b C2 menganggap sebagai hasil kombinasi
paralel antara kapasitansi keluaran
Gambar 2.1. Rangkaian penguat kelas A kolektor Cob dan resistansi beban
[3]
dengan umpan balik emitor (Purdie ). kolektor RL . Menurut Hejhall [5 ] ,
resistansi beban kolektor ditentukan
dengan persamaan
Penguat Mode Campuran Kelas C 2
Penguat daya mode campuran VCC
RL =
kelas C mempunyai efisiensi yang lebih 2 Pout
besar dan rangkaian yang lebih
sederhana dibandingkan dengan penguat dengan VCC adalah tegangan catu yang
daya kelas A. Rangkaian penguat daya diberikan, dan Pout adalah daya keluaran
mode campuran kelas C ditunjukkan yang diinginkan.
pada gambar 2.2.

56
Berkala Fisika ISSN : 1410 - 9662
Vol. 6, No. 3, Juli 2003, hal. 55 - 62

Krauss et al [4 ] telah menyatakan


bahwa impedansi masukan sinyal kuat XL
XC2
dari transistor bipolar (BJT) khasnya R1 XC1 R2
merupakan tahanan beberapa ohm yang
seri dengan reaktansi induktif beberapa Gambar 2.4. Jaringan penyesuai impedansi
ohm, dan perolehan daya transistor [6 ]
tiga reaktansi (Becciolini ).
bipolar khasnya berkisar dari 5 sampai
14 dB. PERANCANGAN
Perancangan Penguat Daya RF
Induktor Tersadap Sebagai Penguat daya RF dirancang
untuk dioperasikan pada frekuensi ( f c )
Rangkaian Transformasi Impedansi
Rangkaian induktor tersadap,
yang ditunjukkan pada gambar 2.3, 100 MHz, dengan daya keluaran (Pout )
sering digunakan dalam rangkaian- 1000 mW pada tegangan catu (VCC ) 12
rangkaian penguat. Digunakan satu
induktor, dengan kedudukan sadapan V. Frekuensi kerja ditetapkan karena
(titik b) yang dipilih untuk mengubah berhubungan dengan transistor dan nilai
komponen yang akan digunakan, yaitu
R2 menjadi Rt . Kalau induktor induktor dan kapasitor. Tegangan catu
dililitkan pada inti ferit sehingga ditetapkan untuk menentukan resistansi
koefisien kopling k mendekati satu, beban kolektor (RL ) yang dibutuhkan
maka kumparan akan berlaku sebagai
untuk menghasilkan daya keluaran yang
transformator ideal. Dengan kumparan
diharapkan.
yang berintikan udara, koefisien kopling
k amat kecil (k ≈ 0,1) , sehingga
Penguat daya RF dirancang
untuk menghasilkan keluaran sebesar
pendekatan transformator ideal tidak 1000 mW dengan sinyal masukan 7,94
berlaku (Krauss et al [4 ] ). mW (daya keluaran osilator pada sistem
50Ω ). Penguat daya RF akan dibuat
dari tiga tingkatan penguat, yaitu
penguat I, penguat II, dan penguat III.
Penguat I akan dioperasikan pada kelas
A, sedangkan penguat II dan penguat III
akan dioperasikan pada mode campuran
kelas C. Perolehan daya transistor
bipolar untuk penguat daya mode
Gambar 2.3. Induktor tersadap sebagai campuran kelas C khasnya adalah 5-14
rangkaian transformasi impedansi (Krauss et dB (Krauss et al, 1990). Diagram blok
[4 ] akhir dari penguat daya RF yang
al ).
dirancang ditunjukkan pada gambar 3.1.
Jaringan Penyesuai Impedansi
(Impedance Matching Network) masukan
Penguat I
Kelas A
20 mW
Penguat II
M.C.Kelas C
Jaringan
Penyesuai
Suatu bentuk jaringan penyesuai 2SC2053 2SC2053 Impedansi

elemen diskrit yang sering digunakan


150 mW
diperlihatkan pada gambar 2.4. Jaringan
penyesuai terdiri dari tiga buah Beban 1000 mW
Jaringan Penguat III
Penyesuai M.C.Kelas C
reaktansi, yaitu sebuah induktor dan dua 50 Ohm
keluaran Impedansi 2SC1970
buah kapasitor. Jaringan penyesuai
Gambar 3.1. Diagram blok akhir dari
digunakan untuk membawa R2 ke R1 penguat daya RF yang dirancang.
atau R1 ke R2 .

57
Sapto N, Dwi P. Sasongko, Isnain G., Rancang Bangun…

Rangkaian lengkap penguat direalisasikan, langkah-langkah yang


daya RF hasil rancangan diperlihatkan dilakukan adalah:
pada gambar 3.2. 1. Menentukan diameter kawat email.
2. Menentukan diameter induktor.
Perancangan Power Supply 3. Menentukan induktansi untuk setiap
Power supply digunakan untuk jumlah lilitan pada beberapa variasi
memberikan tegangan dan arus searah parameter.
yang dibutuhkan oleh rangkaian 4. Memilih jumlah lilitan, diameter
penguat. Perancangan power supply lilitan, dan diameter kawat email
dimulai dengan menentukan daya dengan induktansi yang diharapkan.
masukan searah, dan arus searah Untuk mengurangi perbedaan
minimal yang dibutuhkan oleh nilai induktansi yang dipilih dengan
rangkaian penguat. induktansi yang diinginkan, maka
Efisiensi penguat daya kelas A diameter kawat email dan radius
maksimal adalah 50 %, sedangkan induktor yang digunakan bervariasi.
efisiensi penguat mode campuran kelas Diameter kawat email yang dipilih
C maksimal adalah 70 % (Krauss et al, adalah: 0,5 mm; 0,85 mm; dan 1 mm.
1990). Oleh karena itu, daya masukan Diameter induktor yang dipilih adalah 5
searah minimal yang dibutuhkan oleh mm dan 10 mm.
rangkaian penguat dihitung sebagai
berikut: Pembuatan jalur PCB
1. Daya searah minimal penguat I PCB yang digunakan adalah
adalah 2 x 20 mW. PCB satu lapis (single layer) dengan
2. Daya searah minimal penguat II ukuran 71 x 196 mm. Beberapa
adalah 1,43 x 150 mW. pertimbangan yang diperhatikan dalam
3. Daya searah minimal penguat III pembuatan jalur PCB adalah:
adalah 1,43 x 1000 mW. 1. Jarak antar komponen tidak terlalu
Total daya masukan searah minimal dekat, agar komponen yang
( Pi − min ) yang dibutuhkan adalah; digunakan tidak saling
Pi −min = (2× 20) + (1,43×150) + (1,43×1000)
mempengaruhi.
2. Susunan tingkatan penguat dibuat
= 1680mW berurutan, agar mudah membedakan
atau 1,68 W. Pada tegangan catu 12 V, antar tingkat penguat dan untuk
arus minimal (I dc − min ) yang harus dapat memudahkan pengecekan apabila
terjadi kerusakan.
diberikan oleh catu daya adalah 0,14 A. 3. Induktor-induktor yang berdekatan
tidak dipasang sejajar, untuk
REALISASI meminimalkan kopling magnetik
Pembuatan Induktor yang ditimbulkan antar induktor.
Induktor yang dibuat adalah 4. Jalur penghubung antar komponen
induktor satu lapis dengan inti udara. tidak terlalu panjang, untuk
Persamaan yang digunakan adalah meminimalkan kehadiran resistansi,
0,39r 2 n 2 kapasitansi, dan induktansi liar.
L= Pola jalur PCB hasil rancangan
9r + 10 p ditunjukkan pada gambar 4.1.
Karena nilai induktansi merupakan
fungsi dari beberapa parameter (n, r, dan
p), maka untuk memperoleh induktansi
yang diinginkan dan mudah

58
Berkala Fisika ISSN : 1410 - 9662
Vol. 6, No. 3, Juli 2003, hal. 55 - 62

Power Multitester
Supply Digital

9 s/d 13,5 V

D IL U B A N G I
12 V

Penguat Spectrum
Osilator Daya RF Analyzer
Gambar 4.1. Pola jalur PCB hasil
rancangan.
Gambar 5.1. Skema pengujian yang
Pemasangan Komponen pada PCB dilakukan
Pemasangan komponen pada
PCB dimulai dengan komponen- Daya Keluaran Penguat Daya RF
komponen yang berukuran kecil, terhadap Tegangan Catu
kemudian diikuti dengan komponen- Penguat daya RF dirancang
komponen yang berukuran besar. pada tegangan catu 12 V, sehingga
Penghantar yang terdapat pada setiap penalaan rangkaian resonansi dan
komponen dipotong sependek mungkin, jaringan penyesuai impedansi dilakukan
untuk meminimalkan adanya resistansi, pada tegangan catu 12 V. Sinyal
kapasitansi, dan induktansi liar yang masukan penguat daya RF diambil dari
dapat ditimbulkan. Transistor pada keluaran osilator pada frekuensi dasar
penguat II dan penguat III diberi 100 MHz. Variasi tegangan catu dimulai
pendingin untuk menyerap panas yang dari 12 V kemudian diturunkan tiap 0,5
ditimbulkannya. V sampai tegangan catu 9 V. Kemudian
dari 12 V dinaikkan tiap 0,5 V sampai
Realisasi Power Supply tegangan catu 13,5 V. Penalaan
Power supply harus mampu rangkaian hanya dilakukan pada
mengeluarkan daya minimal 1,68 W. tegangan catu 12 V dan tidak dilakukan
Untuk memenuhi hal itu, catu daya DC pada setiap variasi tegangan catu. Hal
yang direalisasikan ditunjukkan pada ini dimaksudkan agar resistansi beban
gambar 4.2. yang dilihat dari kaki kolektor tiap
2N3055
tingkatan penguat adalah tetap. Grafik
220 V 17 V
+V daya keluaran maksimal terhadap
D4 D1
LM7815 1K
tegangan catu diberikan pada gambar
AC

D3 D2
C1 1K C2 5.2.
0
4700 µ F , 50 V 1000µF ,50V
1400
D a y a k e lu a r a n (m W )

Gambar 4.2. Rangkaian power supply hasil 1200


1000
rancangan.
800
600
400
PENGUJIAN 200
0
Skema pengujian yang 9 9,5 10 10,5 11 11,5 12 12,5 13 13,5
dilakukan ditunjukkan pada gambar 5.1. Tegangan catu (V)

Gambar 5.2. Grafik daya keluaran maksimal


penguat daya RF terhadap tegangan catu.

Daya keluaran sebesar 1000


mW atau resistansi beban kolektor 72Ω

59
Sapto N, Dwi P. Sasongko, Isnain G., Rancang Bangun…

dapat diperoleh dengan cara melakukan 1200


penalaan kapasitor variabel pada

D aya K eluaran (m W )
1000
jaringan penyesuai impedansi keluaran 800
penguat III. 600
Distorsi harmonik penguat daya 400
RF digunakan untuk menyatakan 200
perbandingan daya frekuensi harmonisa 0
terhadap daya frekuensi dasar. Frekuensi 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103
Frekuensi (MHz)
harmonisa akan selalu muncul pada
keluaran suatu penguat karena tidak ada Gambar 5.4. Grafik daya keluaran penguat
penguat yang murni linier. Selain itu, daya RF terhadap frekuensi masukan
munculnya frekuensi harmonisa juga
disebabkan oleh adanya frekuensi Grafik daya keluaran penguat
harmonisa dari sinyal yang diinginkan daya RF terhadap frekuensi masukan
pada bagian masukan penguat daya RF. digunakan untuk menunjukkan bahwa
Harmonisa-harmonisa yang muncul rangkaian resonansi pada penguat daya
pada keluaran penguat daya RF tidak RF dapat bekerja sebagaimana mestinya.
dapat dihilangkan, akan tetapi dapat Penguat daya RF dirancang untuk
ditekan sekecil mungkin dengan dioperasikan pada frekuensi 100 MHz,
menggunakan rangkaian filter peredam dan dari data yang diperoleh diketahui
harmonik. Filter peredam harmonik ini bahwa penguat daya RF beresonansi
dapat berupa jaringan penyesuai pada frekuensi 99 sampai 100 MHz,
impedansi. sedangkan untuk frekuensi-frekuensi
Grafik distorsi harmonik kedua diatas dan dibawahnya, daya keluaran
terhadap tegangan catu diberikan pada menurun cukup tajam. Pada frekuensi
gambar 5.3. resonansi, impedansi rangkaian
resonansi yang dilihat adalah nyata
0,4 murni (nilai impedansi minimal)
0,3 sehingga daya yang dilewatkan adalah
D H 2 (% )

daya maksimal yang dihasilkan. Untuk


0,2
frekuensi diatas dan dibawahnya,
0,1 impedansi rangkaian resonansi yang
0 dilihat mempunyai komponen-
9 9,5 10 10,5 11 11,5 12 12,5 13 13,5 komponen reaktif sehingga akan terjadi
Tegangan catu (V) penurunan daya keluaran.
Gambar 5.3. Grafik distorsi harmonik kedua
penguat daya RF terhadap tegangan catu. Kesimpulan
Berdasarkan pengujian yang
Daya Keluaran Penguat Daya RF dilakukan pada penguat daya RF,
terhadap Frekuensi Masukan penulis mengambil kesimpulan sebagai
Grafik daya keluaran penguat berikut:
daya RF terhadap frekuensi masukan 1. Penguat daya RF yang dirancang
pada tegangan catu 12 V diberikan pada dapat digunakan untuk menguatkan
gambar 5.4. sinyal 100 MHz, karena dengan
daya masukan 0,40 mW penguat
daya RF mampu menghasilkan daya
keluaran 1000 mW.
2. Pada tegangan catu 12 V, daya
keluaran maksimal 1148,15 mW,
distorsi harmonik kedua 0,07%,

60
Berkala Fisika ISSN : 1410 - 9662
Vol. 6, No. 3, Juli 2003, hal. 55 - 62

lebar pita 8 MHz, dan tingkat sinyal Measurement, Prentice-Hall,


jauh lebih besar dari tingkat derau. Englewood Cliffs, N. J., 1969.
3. Distorsi harmonik kedua yang 2. Purdie, I., Small Signal Amplifier,
dihasilkan akan semakin kecil www.electronics-tutorials.com,
dengan bertambahnya tegangan 2002.
catu. Nilai terkecil distorsi harmonik 3. Purdie, I., Emitter Degeneration,
kedua adalah 0,05 % pada tegangan www.electronics-tutorials.com,
catu 13,5 V; sedangkan nilai 2002.
terbesar distorsi harmonik kedua 4. Krauss, H. L., Bostian, C. W., Raab,
adalah 0,39 % pada tegangan catu 9 F. H., Teknik Radio Benda Padat,
V. UI-Press, Jakarta, 1990.
4. Derau yang dihasilkan oleh penguat 5. Hejhall, R., Motorola
daya RF tidak dapat diamati, dan hal Semiconduktor Application Note:
ini menunjukkan bahwa derau yang Systemizing RF Power Amplifier
dihasilkan adalah sangat kecil Design, Motorola, Inc., 1993.
dibandingkan dengan sinyal yang 6. Becciolini, B., Motorola
diinginkan (100 MHz). Semiconduktor Application Note:
Impedance Matching Networks
Daftar Pustaka Applied to RF Power Transistors,
1. Wedlock, B. D., dan Roberge, J. K., Motorola, Inc., 1993.
Elektronic Components and

61
Sapto N, Dwi P. Sasongko, Isnain G., Rancang Bangun…

10 nF 10 nF 10 nF
+ VCC
L4
22
10 nF 10 nF
10 nF 10 nF

L1 L2 L3
10K
Q1 Q2 60 pF Q3 60 pF
L2 , 3 L3,0
IN OUT
20 pF 10 nF
60 pF 60 pF 60 pF
150
3K3
RFC 2 RFC 3

220 10 nF

Penguat I Penguat II Penguat III

Gambar 3.2. Rangkaian lengkap penguat daya RF hasil rancangan.

Keterangan:
Q1 =2SC2053 L1 = 0,159 µH L2,3 = 0,058µH RFC2 = 0,672 µH
Q2 =2SC2053 L2 = 0,068 µH L3, 0 = 0,139µH RFC3 = 0,672 µH
Q3 =2SC1970 L3 = 0,066 µH

62
56