Anda di halaman 1dari 7

Achmad Chodjim:

Isra Mikraj Menuntun Peningkatan


Kecerdasan dan Spiritualitas
20/09/2005

Isra mikraj merupakan fase yang cukup menentukan dalam sejarah


kerasulan Nabi Muhammad. Apa makna isra dan mikraj bagi
perjuangan Nabi Muhammad dalam membangun masyarakat yang
beliau idamkan? Berikut perbincangan Novriantoni dan Abd Moqsith
Ghazali dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Achmad Chodjim,
penulis beberapa buku tentang spiritualitas dan mistisisme Islam,
Kamis (8/9) lalu.

Isra mikraj merupakan fase yang cukup menentukan dalam sejarah


kerasulan Nabi Muhammad. Apa makna isra dan mikraj bagi
perjuangan Nabi Muhammad dalam membangun masyarakat yang
beliau idamkan? Berikut perbincangan Novriantoni dan Abd Moqsith
Ghazali dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Achmad Chodjim,
penulis beberapa buku tentang spiritualitas dan mistisisme Islam,
Kamis (8/9) lalu.

ABD. MOQSITH GHAZALI (JIL): Mas Chodjim, bisa


digambarkan suasana psikologis Nabi Muhammad sebelum
isra mikraj?

ACHMAD CHODJIM: Kalau kembali ke Sirah Nabi, sebelum isra mikraj


itu telah terjadi berbagai peristiwa yang sangat menegangkan atau
memberatkan secara psikologis bagi kehidupan Nabi. Sebelum
tahun ke-10 kenabian, Nabi baru saja terbebas dari boikot orang-
orang kafir Quraisy. Dari pelbagai peristiwa itu, Nabi terinspirasi
untuk mencari lahan baru guna mengembangkan nilai-nilai Islam.

JIL: Seperti apa boikot masa itu?

Boikot ekonomi. Dalam bahasa sekarang: embargo ekonomi.


Memang, sejak dulu sektor ekonomi merupakan sarana yang
penting bagi keberlangsungan suatu umat. Nah dari situ kita tahu,
pada masa itu Nabi telah coba mendatangi orang-orang Thaif, tapi
sambutan mereka tidak menguntungkan. Di tengah berbagai
tekanan itulah Allah membuka jalan bagi Nabi supaya
perjuangannya berhasil. Karena itu di dalam Alqur’an dikatakan,
“Maha suci Tuhan yang telah memperjalankan hamba-Nya pada
suatu malam, dari masjidil haram menuju masjidil aqsha yang telah
telah diberkati sekelilingnya.” Itulah ayat yang berkenaan dengan
isra.
Sementara soal mikraj tercantum di dalam surah an-Najm. Dari ayat
13 sudah dijelaskan bahwa Nabi semakin dekat dan bertambah
dekat dengan Tuhan, bahkan jarak kedekatannya ibarat dua busur
panah atau kurang. Ketika Nabi begitu dekat, maka Allah sendiri
yang mengajarinya cara hidup. Hanya saja, tafsiran yang ada
selama ini secara umum menegaskan bahwa yang datang untuk
mengajarkan Nabi itu adalah malaikat Jibril. Kalimat `allamahu
syadîdul quwâ di situ diidentifikasi sebagai Jibril. Padahal artinya
lebih umum, yaitu “Ia dituntun oleh Yang Mahakuat”. Kata “Yang
Mahakuat” itu bisa bermakna Allah sendiri.

Jadi yang mengajari Nabi Muhammad di situ adalah sosok Yang


Makakuat atau Allah. Dan keterangan itu selaras dengan ayat lain di
surah ar-Rahman, yang menerangkan bahwa sosok yang
mengajarkan Alqur’an itu adalah Allah sendiri. Dengan tafsir begini,
yang disebut mikraj dapat diartikan sebagai “posisi yang dicapai
seorang hamba dalam proses mendekatkan dirinya kepada Tuhan,
sehingga tersingkap baginya semua rahasia kehidupan”.

JIL: Apakah tekanan-tekanan psikologis dalam hidup itu


sendiri yang membuat spiritualitas atau kedekatan Nabi
dengan Tuhan begitu tak berjarak?

Tidak harus begitu. Karena begitu seseorang berada dalam himpitan


hidup, dia akan menghadapi dua kemungkinan. Pertama, orang itu
akan bangkit, dan kedua ia malah akan berputus asa. Nah, pada
kasus Nabi yang sedari awal sudah punya visi, telah menyiapkan
diri, serta sudah pula mengamalkan iqra’ (merenungkan hidup, Red)
ketika menerima wahyu pertama kali, himpitan hidup justru
mendorongnya untuk semakin taqarrub atau mendekatkan diri pada
Allah. Kasus ini berbeda dengan orang yang tidak memiliki misi dan
visi dalam hidup. Jadi hidup memang harus dituntun oleh sebuah
misi.

Jadi dalam konteks ini, isra mikraj bukan sekadar rekreasi. Selama
ini, kata isrâ secara harfiah selalu diterjemahkan dengan
“perjalanan di malam hari”. Padahal, kata isrâ’ itu sendiri, kalau
dirujuk ke kata dasar Arabnya bisa bermakna “sebuah pencarian”.
Kata sâriyah yang satu dasar kata dengan isrâ’ berarti pencarian.
Jadi isrâ’ di sini bisa berarti “proses pencarian yang akan
melepaskan diri seseorang dari kegelapan hidup”.

JIL: Tapi mengapa proses pencarian itu harus melewati


Yerussalem? Apa artinya?

Sebenarnya tidak ada petunjuk harfiah dalam Alquran yang


menerangkan bahwa masjidil haram yang dimaksud adalah yang
ada di Mekah, dan masjidil aqsha di situ adalah yang berada di
Yerussalem. Kata masjid ketika ayat itu turun, belum lagi terwujud
secara fisik. Jadi pengertian masjidil haram di situ sebenarnya lebih
bisa dipahami secara makrifat, bukan harfiah. Yang sudah ada
dalam fakta sejarah waktu itu adalah Kakbah, bukan masjidil haram.
Dan secara urutan sejarah, masjid yang pertama dibangun Nabi
adalah Masjid Quba’ setelah beliau hijrah ke Madinah.

JIL: Jadi apa makna masjidil haram dan masjidil aqsha di


situ?

Karena masjidil haram dan masjidil aqsha secara fisikal belum ada,
kita perlu selidiki lebih lanjut apa yang dimaksud dengan
keberangkatan nabi dari masjidil haram ke masjidil aqsha di dalam
ayat itu. Konon, sebelum itu Nabi pernah didatangi Jibril, lalu
dadanya dibelah dan hatinya dibersihkan. Artinya, sebuah
perjalanan untuk keluar dari kegelapan haruslah lebih dahulu
terbebas dari segala macam perilaku haram lewat pensucian diri.
Makanya di redaksi ayat itu disebut masjidil haram.

Lalu kenapa dibawa ke masjidil aqsha? Supaya beliau dapat


memahami berkat Tuhan yang ada di sekelilingnya. Makna masjidil
aqsha di situ secara umum bermakna masjid yang amat jauh. Kita
tahu, secara bahasa, kata masjid itu bisa berarti “setiap lahan dan
setiap jengkal tanah yang bisa digunakan untuk bersujud”. Makanya
ada istilah kullu ardlin masjidun, atau setiap jengkal tanah dapat
dijadikan tempat bersujud.

Ini artinya, di mana saja kita berada, kita harus bisa tetap bersujud
pada Tuhan. Namun supaya orang bisa bersujud sedalam-dalamnya
—sebagai makna simbolik masjidil aqsha—seseorang harus
berangkat dari masjidil haram, atau proses pensucian diri, perilaku,
dan alam pikirannya. Kalau pikiran kita hanya dipenuhi kekeruhan,
sentimen dan kedengkian, kita tidak akan bisa isrâ’.

Nah, selama ini isra’ mikraj itu hanya kita kenang sebagai kisah
yang hanya dialami secara pribadi oleh Nabi Muhammad. Padahal,
sebagaimana dikatakan Alquran: “Laqad kâna lakum fî rasûlilLâh
uswatun hasanah.” Jadi, apa-apa yang dialami Nabi itu adalah
teladan mulia. Jadi makna isrâ' mikraj itu bagian dari teladan, bukan
hanya kisah.

JIL: Apa yang bisa diteladani dari kisah itu, Mas Chodjim?

Pertama-tama, kita harus bisa isra. Artinya, kita harus bisa ber-
takhallî, atau menyingkirkan hal-hal negatif yang ada dalam diri
kita. Tahapan ini dilambangkan lewat proses dibersihkannya hati
Nabi. Lalu dari situ kita berangkat menuju tempat persujudan yang
lebih jauh, karena di situ kita akan naik. Sebab istilah mi`râj berasal
dari kata `araja yang berarti naik atau meninggi. Artinya, kita
dituntut untuk naik peringkat dalam soal kecerdasan dan
spiritualitas.

JIL: Berarti Anda tidak terlalu tertarik dengan polemik


apakah isra mikraj itu terjadi dengan jasad atau jiwa saja,
atau dengan keduanya (jasadan wa rûhan)?

Bagi saya tidak terlalu penting apakah isra mikraj itu berkaitan
dengan jasad, dengan ruh saja, atau dengan keduanya. Yang
penting bagi saya adalah makna apa yang bisa kita terapkan di
dalam hidup ini dari teladan kisah itu. Misalnya dalam kisah itu
digambarkan bahwa setelah mikraj, Nabi sempat bertatap muka
dengan Tuhan di sidratul muntahâ, tempat di mana Jibril sendiri
tidak bisa menempuhnya. Dari situ saya menangkap bahwa hakikat
spiritualitas kemanusiaan itu melampaui spiritualitas malaikat yang
selama kita anggap paling tinggi sekalipun.

Jadi dari spiritualitas itu, kita bisa sampai dan menjejekkan kaki di
alam yang sudah tidak terlampaui lagi oleh makhluk-makhluk Tuhan
lainnya. Dari situ kita bisa bertatap muka dan berdialog langsung
dengan Yang Mahamutlak. Makanya, di dalam Alquran surah an-Nûr
dikatakan bahwa Allah itu al-Haqqul Mubîn. Jadi, Tuhan itu
sebenarnya kebenaran (al-Haq) yang nyata atau al-mubîn. Jadi Dia
tidak sekadar ghaib. Tuhan itu Kebenaran yang Nyata; bukan
semata-mata dalam keyakinan Ia ada, tapi juga dalam bentuk
Eksistensi yang bisa kita tatap, kita pandang.

JIL: Anda menyebut Tuhan sebagai Kebenaran yang Nyata.


Namun, tentu tak gampang mengenali Kebenaran yang
Nyata itu. Bagaimana proses utuk sampai pada Kebenaran
itu kalau berteladan dari kisah isra mikraj?

Kalau kita berteladan dari perjalanan Nabi untuk meraih kebenaran,


pertama-tama kita harus prihatin terhadap segenap keburukan,
keresahan, dan kerusuhan yang ada dalam masyarakat. Kita harus
prihatin, bukan bangga. Kalau di masyarakat banyak kemiskinan,
kriminalitas, dan lain sebagainya, kita harus prihatin. Berangkat dari
kondisi itulah kita bisa membersihkan diri. Makanya, jauh sebelum
isra mikraj, Nabi sudah membiasakan diri ber-tahannuts atau
merenung di Gua Hira’. Perenungan itu bertujuan untuk melakukan
peninjauan ulang atas kenyataan hidup.

Jadi, pertama-tama kita harus melakukan cek dan ricek atas


kenyataan hidup. Dari situlah keprihatinan timbul, upaya untuk
menyantuni orang-orang lemah bersemi. Ayat-ayat Alquran yang
awal-awal banyak sekali yang berbicara soal itu. Jadi kita disuruh
memperhatikan orang-orang lemah, anak yatim yang kurang
mendapat kasih sayang, dan sebagainya. Setelah mampu
memperjuangkan itu, itulah pertanda bahwa hati kita akan semakin
mantap menatap kebenaran. Kalau hanya prihatin, belum
mengamalkan apa yang perlu, kita belum merealisasikan
kebenaran.

JIL: Mas Codjim, apa komentar Anda tentang kisah populer


soal perundingan alot Nabi menyangkut jumlah salat?

Sebenarnya kita tidak boleh telalu terpancing soal detail dialog itu.
Kita seharusnya melihat fungsi salatnya saja. Mungkin yang perlu
ditanya: mengapa perundingan itu begitu alotnya? Kita tahu, tujuan
pokok salat sebagaimana disebutkan Alquran adalah untuk
mencegah kehidupan yang penuh kekejian dan kemungkaran.
Untuk mencapai tujuan itu, perlu upaya tersendiri. Dengan semata-
mata menjalankan salat, orang tidak otomatis terhindar dari
perbuatan keji dan munkar. Tujuan lain salat kalau merujuk Alquran
adalah untuk berzikir kepada Allah; wa aqîmus shalât lidzikrî. Tapi
zikir di situ tidak boleh juga dimaknai sekadar mengingat. Kalau
hanya mengingat kata-kata (lafaz Allah) saja, anak kecil pun bisa
melakukannya. Jadi kata “mengingat” di sini bisa bermakna
“mengingat kebenaran yang sudah dirasakan, ditatap, atau yang
telah dihayati”.

JIL: Artinya, salat itu medium umat Islam untuk mikraj, atau
meningkatkan spiritualitas?

Betul. Makanya ada hadis yang berbunyi ”as-shalâtu mi`râjul


mu’minîn” (salat itu adalah mikrajnya kaum beriman, Red). Jadi,
selain ada mikraj besar atau akbar, ada juga mikraj kecil atau
ashghar, yaitu salat kita sehari-hari. Jadi, kita tidak hanya diminta
menjalankan salat, tapi juga menegakkannya. Di dalam Alquran soal
itu sudah disebutkan panjang lebar. Konsekuensi “menegakkan
salat” itu termasuk menyantuni fakir miskin, anak yatim, menjaga
kemaluan, dan lain sebagainya. Dalam bahasa ringkasnya, semua
itu disebut tanhâ `anil fahsyâ’i wal munkar, mencegah yang keji lagi
munkar.

Jadi isi menghindar dari yang keji dan mungkar itu banyak sekali.
Kesalahan kita selama ini, salat hanya dimaknai mengerjakan salat
itu sendiri lengkap dengan rukun-rukunnya. Kalau hanya
mengerjakan, jangan heran kalau Allah juga pernah menyebut
orang-orang yang salat bisa celaka. Fa wailun lil mushallîn atau
celakalah orang-orang yang mengerjakan salat, kata Allah. Kalau
sekadar mengerjakan salat, pasti tidak ada aspek jelas yang dituju.
Makanya dalam hadis dikatakan: “Orang yang rajin salat tetapi
tidak mampu menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar, akan
menjauhkan dirinya dari Tuhan.”
JIL: Mas Chodjim, setelah Nabi menerima perintah salat
sebagai upaya mencapai ketinggian spiritualitas, ia kembali
turun ke bumi. Apa maknanya?

Itu artinya, ketika kita sudah sampai di sidratul muntahâ, kita sudah
sampai pada posisi yang sangat enak. Posisi itu tidak akan dicapai
segenap makhluk lain kecuali manusia. Namun, sidratul muntahâ itu
bukan tempat di mana manusia bisa menjalankan misi hidup.
Makanya ada proses nuzûl atau turun ke bumi dalam kisah Nabi.
Setelah datang lagi ke bumi, Nabi langsung melaksanakan tindak
sosial, mengupayakan perdamaian, kemudian merancang proses
hijrah (transformasi sosial, Red).

Jadi, hijrah itu adalah buah dari mikraj. Kalau seseorang tidak
pernah mikraj, maka tidak akan ada tahapan hijrah. Jadi kedua hal
itu berurutan. Dan setelah peristiwa mikraj, Nabi terus diminta
hijrah. Setelah hijrah, ia diminta berjihad. Jadi isra, mikraj, hijrah,
dan jihad itu bergandengan. Selama ini kita salah memaknai hijrah,
salah pula memaknai jihad.

JIL: Anda menyebut rangkai peristiwa yang beruntun; tahun-


tahun kesedihan, isra mikraj, hijrah dari satu keadaan ke
keadaan lain, lalu jihad. Tampaknya, fase-fase itu
berlangsung lewat tuntunan spiritual dari Tuhan langsung.
Apa memang seperti itu proses pembangunan masyarakat?

Ya. Suatu masyarakat tidak akan bisa melakukan suatu perjalanan


tanpa rambu atau marka jalan yang hendak dituju. Kalau semua itu
tidak dibeberkan lebih dahulu, tidak akan terjadi kemajuan
transformasi sosial. Jadi itu merupakan suatu struktur yang telah
berurut. Kalau kita mau jadi seorang profesor, kita harus betul-betul
sekolah, berupaya mencapai tahapan-tahapannya. Kalau ingin kaya,
modal finansial saja tidak akan memadai, tapi juga perlu kerja
keras, keahlian, dan punya strategi. Nah, semua itu sebenarnya
baru bisa dibeber setelah manusia itu pernah mikraj. Sebab setelah
mikraj, seseorang akan mengalami ketenangan batin yang luar
biasa. Di saat batin telah tenang itulah kita baru bisa melihat
persoalan dengan jernih.

JIL: Tapi kenyataannya, ada saja orang sukses tanpa


menapaki proses-proses spiritual. Bagaimana menjelaskan
perkecualian itu?

Itu sangat terkait dengan persepsi kita tentang sukses. Apa sih yang
disebut sukses? Kita tidak bisa menilai sukses hanya ketika
seseorang telah mendapat segebok materi. Kalau itu yang jadi
ukuran, tidak akan ada orang kaya yang ingin bunuh diri.
Kenyataannya, banyak orang kaya yang malah putus asa. Kita tahu
bagaimana kondisi Elvis Presley ketika dia berada di puncak
ketenarannya. Dia malah putus asa dan banyak minum obat tidur.
Jadi kalau hanya melihat ukuran materi, kita tidak bisa
menyebutnya sukses. Sebab, orang sukses tentu tak perlu putus
asa. Jadi, spiritualitas bukan hanya selalu perlu, tapi merupakan
bagian pokok dari kehidupan.

JIL: Jadi ringkasnya apa makna isra’ mikraj untuk kita saat
ini?

Di dalam kisah isra mikraj ada satu pesan yang maha tinggi
nilainya, yaitu perjumpaan para nabi lain dengan Nabi Muhammad.
Konon Nabi Muhammad menjadi imam salat mereka. Apa arti kisah
simbolik itu? Sebagai umat Nabi terakhir yang sudah mempelajari
persoalan umat nabi-nabi sebelumnya, kita tentu akan menghadapi
persoalan sebanyak yang pernah dihadapi nabi-nabi sebelumnya.
Karena itu kita diperintahkan untuk beriman bukan hanya pada
seorang Rasul (Nabi Muhamad saja), tapi ‘âmantu bilLâhi wa
malâikatihi wa kutubihi wa rusulihi (beriman kepada Allah, para
malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan para rasul-Nya, Red). Dengan
mengimani semua rasul, kita bisa mengambil hikmah. Salah satu
pesan penting isra' mikraj juga adalah agar kita bisa mengambil
hikmah dari ajaran berbagai rasul sebelum Nabi Muhammad.
Dengan begitu, kita bisa bertindak lebih arif. []