Anda di halaman 1dari 10

PENENTUAN STRATEGI TERHADAP

HAK ATAS TANAH ADAT DI INDONESIA


MENGGUNAKAN ANALISIS FISHBONE

Disusun oleh :
Singgih Prabowo, S.Pd / 199102202020121003
Anilah Permana,S.Pd / 199102222020122004
Tanti Rahmawati, S.Pd / 199106122020122005
Diah Lismiadara Intan Permanasari, S.Pd / 199206272020122004
Caecara Sekar Murwidarsih, S.Pd / 199208172020122008

LATSAR CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL


PPSDM REGIONAL BANDUNG
ANGKATAN III
2021
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masyarakat adat telah mengelola dan melindungi wilayah leluhur
mereka menggunakan sistem hukum dan tatanan pemerintahan adat
mereka yg unik. Namun saat ini hak-hak sebagian masyarakat adat atas
wilayah leluhur masih belum diakui, 70% dari daratan diklaim negara atas
kawasan hutan negara Indonesia.
Prinsip kolonial, meyakini wilayah adat/tanah rakyat ditetapkan
menjadi hutan/tanah negara maka rakyat kehilangan hak-nya. Konsep
Hutan negara / tanah negara dilanjutkan oleh pemerintah paska kolonial.
Kebijakan tata guna lahan Indonesia lebih memihak pengusaha dibanding
rakyat, rencana tata ruang lokal ditujukan terus ekspansi perkebunan dan
pertambangan.
Hutan desa adalah skema negara dengan membiarkan rakyat hak
mengelola dalam waktu terbatas tanpa memberikan hak kepemilikan,
masyarakat harus mengajukan permohonan untuk mendapatkan hak
pengelolaan sementara, Wilayah Merangin, Jambi ditetapkan sebagai
Hutan desa.
Sertifikat dapat digunakan sebagai bukti kepemilikan untuk
menjual/membeli / jaminan bank. Pemilik memiliki hak sepenuhnya atas
tanah itu, bebas diperjualbelikan. Tapi banyak yg percaya hak-hak individu
membawa resiko besar
Kepemilikan bersama / komunal, tanah dimiliki komunitas bukan
perorangan dan harus mengelolanya sebagai suatu wilayah. Hak
kolektif/komunal adalah situasi ketika tanah dimiliki dan dikelola secara sah
oleh masyarakat keseluruhan. Wilayah komunal berada dibawah otoritas
masyarakat adat lembaga perwakilan mereka. Wilayah sebagai satu
kesatuan dan tidak dapat dijual/dibagi, hak bersifat permanen. Pembagian
pengelolaanya kawasan pemukiman, ladang keluarga turun temurun dan yg
dilindungi. Masyarakat adat dan otoritas mereka bertanggung jawab atas
perencanaan tata ruang.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penyelesaian masalah hak atas tanah adat dengan analisis
Fishbone?
2. Apa strategi untuk mengatasi permasalahan hak atas tanah adat di
Indonesia?

C. Tujuan
1. Mengetahui penyelesaian masalah hak atas tanah adat dengan analisis
Fishbone
2. Mengetahui strategi yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah
hak atas tanah adat di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Tanah dan Hak Milik Atas Tanah


Tanah adalah lapisan lepas permukaan bumi yang paling
atas.Dimanfaatkan untuk menanam tumbuh-tumbuhan disebut tanah
garapan, tanah pekarangan, tanah pertanian dan tanah perkebunan.
Sedangkan yang digunakan untuk mendirikan bangunan disebut tanah
bangunan. Tanah adalah permukaan bumi, yang dalam penggunaannya
meliputi juga sebahagian tubuh bumi yang ada dibawahnya dan
sebahagian dari ruang yang di atasnya,dengan pembatasan dalam pasal 4,
yaitu:sekedar di perlukan untuk kepentingan yang langsung berhubungan
dengan penggunaan tanah yang bersangkutan, dalam batas-batas menurut
UUPA dan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi.
Hak atas tanah adalah hak yang memberi wewenang kepada
seseorang yang mempunyai hak untuk mempergunakan atau mengambil
manfaat atas tanah tersebut. Hak atas tanah berbeda dengan hak
penggunaan atas tanah.
Apabila melihat ketentuan Pasal 16 jo. Pasal 53 Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1960 (UUPA), maka macam-macam hak atas tanah
dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu :
1. Hak atas tanah yang bersifat tetap, yaitu hak-hak atas tanah yang akan
tetap ada selama UUPA masih berlaku. Macam-macam hak atas tanah
yang masuk dalam kelompok ini yaitu Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak
Guna Bangunan, Hak Pakai, Hak Sewa untuk Bangunan, Hak
Membuka Tanah,dan Hak Memungut Hasil Hutan.
2. Hak atas tanah yang akan ditetapkan dengan undang-undang,
maksudnya adalah hak atas tanah yang akan lahir kemudian, yang
akan ditetapkan dengan undang-undang. Hak atas tanah yang
disebutkan dalam Pasal 16 jo.Pasal 53 UUPA tidak bersifat limitatif,
artinya, di samping hak-hak atas tanah yang disebutkan dalam UUPA,
kelak masih dimungkinkan lahirnya hak atas tanah baru yang diatur
secara khusus dengan undang-undang.
3. Hak atas tanah yang bersifat sementara, yaitu Hak atas tanah yang
sifatnya sementara, dalam waktu singkat diusahakan akan dihapus
sebab mengandung sifat-sifat pemerasan, feodal, dan yang tidak
sesuai dengan jiwa atau asas-asas UUPA. Macam-macam hak atas
tanah yang bersifat sementara ini adalah Hak Gadai (Gadai Tanah),
Hak Usaha Bagi Hasil (Perjanjian Bagi Hasil), Hak Menumpang, dan
Hak Sewa Tanah Pertanian.

B. Pengertian Masyarakat Adat


Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi
menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu, dan yang
terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Kontinuitas merupakan kesatuan
masyarakat yang memiliki keempat ciri yaitu: 1) Interaksi antar warga-
warganya, 2). Adat istiadat, 3) Kontinuitas waktu, 4) Rasa identitas kuat
yang mengikat semua warga.
Hukum adat memandang masyarakat sebagai suatu jenis hidup
bersama dimana manusia memandang sesamanya manusia sebagai tujuan
bersama. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan karena
setiap anggota kelompok merasa dirinya terikat satu dengan yang lainnya.
Beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan masyarakat
memiliki arti ikut serta atau berpartisipasi, sedangkan dalam bahasa Inggris
disebut society. Bisa dikatakan bahwa masyarakat adalah sekumpulan
manusia yang berinteraksi dalam suatu hubungan sosial. Mereka
mempunyai kesamaan budaya, wilayah, dan identitas, mempunyai
kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang diikat oleh
kesamaan.
“Adah” atau “adat” artinya kebiasaan yaitu perilaku masyarakat yang
selalu senantiasa terjadi di dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dengan begitu yang dimaksud hukum adat adalah hukum kebiasaan.
Menurut Maria SW Sumardjono, beberapa ciri pokok masyarakat hukum
adat adalah mereka merupakan suatu kelompok manusia, mempunyai
kekayaan tersendiri terlepas dari kekayaan perorangan, mempunyai batas
wilayah tertentu dan mempunyai kewenangan tertentu.
Konsep masyarakat hukum adat untuk pertama kali diperkenalkan
oleh Cornelius van Vollenhoven. Ter Haar sebagai murid dari Cornelius van
Vollenhoven mengeksplor lebih mendalam tentang masyarakat hukum
adat. Ter Haar memberikan pengertian sebagai berikut, masyarakat hukum
adat adalah kelompok masyarakat yang teratur, menetap di suatu daerah
tertentu, mempunyai kekuasaan sendiri, dan mempunyai kekayaan sendiri
baik berupa benda yang terlihat maupun yang tidak terlihat, dimana para
anggota kesatuan masing-masing mengalami kehidupan dalam masyarakat
sebagai hal yang wajar menurut kodrat alam dan tidak seorang pun
diantara para anggota itu mempunyai pikiran atau kecenderungan untuk
membubarkan ikatan yang telah tumbuh itu atau meninggalkannya dalam
arti melepaskan diri dari ikatan itu untuk selama-lamanya.
Masyarakat adat didefinisikan sebagai Kelompok masyarakat yang
memiliki asal usul leluhur (secara turun temurun) di wilayah geografis
tertentu, serta memiliki sistim nilai, ideologi, ekonomi, politik, budaya, sosial
dan wilayah sendiri. Pertarungan di dalam masyarakat adat mencakup isu-
isu: identitas diri, pandangan hidup, hak-hak atas tanah, hutan atau
sumberdaya alam (SDA), klaim atas wilayah/wilayah tradisional, dsb.
Unifikasi konseptual tentang empat faktor dominan itu “rawan” sifatnya;
yang memudahkan eksistensi dan peran serta tuntutan masyarakat adat
menjadi termarginalisasi. Tiga isu yang berbenturan berdampak pada
lemahnya posisi masyarakat adat seperti “superioritas versus inferioritas”,
“power versus powerless groups”, dan “modern versus tradisional”. Oposisi
kembar (binary opposition) yang dikembangkan oleh kelompok dominan
(pemerintah kolonial, pemerintah Orde Baru, pemilik modal dan kelompok
kepentingan lainnya) terus mendesak masyarakat adat menuju posisi tidak
menguntungkan.
C. Permasalahan Hak Atas Tanah Adat di Indonesia
Di negara-negara yang seluruh kekuasaan atas tanah dan segala apa
yang ada di bawah dan di atasnya dimiliki oleh negara secara mutlak,
konflik pertanahan tidak akan pernah terjadi, kecuali konflik terhadap hak
atas tanah di luar hak milik atas tanah. Di Indonesia, di mana negara dan
rakyat memiliki hak yang sama terhadap tanah, konflik pertanahan sering
kali terjadi. Bahkan konflik pertanahan di Indonesia pernah menjadi pemicu
perlawanan terhadap penjajah.
Dalam sejarah perjuangan rakyat Indonesia, ada beberapa kasus
peperangan yang dipicu oleh konflik pertanahan, salah satunya adalah
perang Dipenogoro (1825-1830 M). Peperangan ini di awali oleh
pencaplokan tanah milik Pangeran Dipenogoro oleh VOC (kamar dagang)
Belanda untuk dijadikan perkebunan. Sampai sekarang konflik-konflik
pertanahan masih sering terjadi di seluruh wilayah Indonesia dengan
beragam aspek pemicunya, diantaranya dapat diklasifikasikan dalam
tipologi sengketa tanah sebagai berikut;
Kasus-kasus yang berkerkenaan dengan penggarapan rakyat atas
tanah-tanah perkebunan, kehutanan dan lain-lain.
 Kasus-kasus yang berkerkenaan dengan pelanggaran peraturan
landreform.
 Kasus-kasus yang berkerkenaan dengan ekses-ekses penyediaan
tanah untuk pembangunan.
 Sengketa perdata berkenaan dengan masalah tanah.
 Sengketa berkenaan dengan tanah ulayat (Maria S.W. Sumardjono,
Nurhasan Ismail dan Isharyanti, 2008: 2)
 Untuk menghindari konflik atas tanah, setiap warga negara hendaknya
mengerti hak-hak atas tanah.
D. Analisis Fishbone dan Strategi yang Dihasilkan
Dalam menentukan solusi atas permasalahan hak Atas tanah di
Indonesia, analisis yang digunakan adalah analisis Fishbone. Analisis ini
berfungsi sebagai pengidentifikasikan penyebab-penyebab yang mungkin
timbul dari suatu spesifik masalah dan kemudian memisahkan akar
penyebabnya, memungkinkan juga untuk mengidentifikasi         solusi yang
dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut (bisa lebih dari satu
masalah)
Berikut matriks analisis Fishbone:

MATERIAL METHODE

Adanya konflik lahan Belum ada UU mengenai


hak komunal kolektif
Kebijakan tata guna lahan lebih
memihak perusahaan dibanding
Wilayah adat yang masyarakat
tidak bersertifikat
program sertifikasi tanah
perorangan

teknologi pertanian masih munculnya konflik antara masyarakat adat,


sangat sederhana pemerintah dan perusahaan

penggunaan alat-alat Kurangnya pemahaman


berat untuk masyarakat adat akan hak-hak Tidak adanya
yang seharusnya mereka
mengeksploitasi hutan perjuangkan pengakuan hak-hak
atas tanah adat dari
masyarakat kehilangan
hak-hak atas wilayahnya Pemerintah

MACHINE MAN
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Setelah melakukan analisis SWOT pada permasalahan hak atas tanah
adat, maka diperoleh strategi rekomendasi terkait permasalahan tersebut
sebagai berikut;
1. Masyarakat bersatu memperjuangkan hak-hak penuh atas wilayahnya
2. Memanfaatkan kelestarian wilayah adat, untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat.
3. Penolakan masyarakat adat atas ekspansi perkebunan dan pertambangan
di wilayahnya secara besar-besaran.
4. Pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan masyarakat adat.
5. Menciptakan Undang-undang mengenai hak komunal kolektif.
6. Memberikan penyuluhan / sosialisasi atas hak-hak masyarakat adat.
7. Menciptakan Undang-undang mengenai hak komunal kolektif.
8. Memberikan penyuluhan / sosialisasi atas hak-hak masyarakat adat.
DAFTAR PUSTAKA

Haba, John. Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 12 No. 2 Tahun 2010.

https://www.pa-cilegon.go.id/artikel/253-problematika-hak-milik-atas-tanah
[diakses pada 11 April 2021]

http://e-journal.uajy.ac.id/8875/3/2MIH02207.pdf Masyarakat Hukum Adat


[diakses pada 11 April 2021]

LifeMosaic. 2015, 7 Agustus. Hak Atas Tanah. [video]. Youtube.


https://www.youtube.com/watch?v=qCDSxF-Ky7A

Anda mungkin juga menyukai