Anda di halaman 1dari 17

TUGAS ETIKA PROFESI

AUDIT SEKTOR PRIVAT 1

KELAS : 5 APA

NAMA :REGINA HARUM KENANGAH


NIM :061840511451
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2020

1. Apa yang dimaksud dengan etika ?


2. Apakah prinsip-prinsip etika menyertakan sejumlah karakeristik yang
digunakan masyarakat sebagai bentuk perilaku moral yangbaik ?
3. Berdasarkan Kode Etik IESBA ( International Ethics Standards Board of
Accountant ), apakah tujuan dari digunakannya etika dalam profesi akuntan ?
4. Jelaskan masing-masing bagian dari 3 bagian yang dimuat dalam Kode Etik
IESBA !
5. Sebutkan dan jelaskan lima prinsip dasar dari etika yang berlaku untuk
seluruh akuntan !
6. Sebutkan prinsip-prinsip dasar yang harus diterapkan oleh akuntan untuk
mencapai sasaran-sasaran dari profesi akuntan berdasrkan panduan etika
IFAC . jelaskan secara singkat !
7. Informasi klien yang sifatnya rahasia umumnya hanya dapat diungkapkan
dengan izin dari klien. Sebutkan sejumlah pengecualian terhadap regulasi
tersebut
8. Dapatkah akuntan mengklaim bahwa SPT yang sedang dipersiapkannya selalu
dapat diterima oleh otoritas pajak ? mengapa ?
9. Sebutkan dan jelaskan sejumlah kategori dasar dari ancaman-ancaman !
10. Pengamanan dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yang utama.
Sebutkan kategori-kategori yang dimaksud ? berikan contoh dari masing-
masing kategori tersebut !
11. Berikan contoh ancaman dan pengamanan yang sesuai untuk setiap aktivitas
akuntan professional dalam praktik public berikut :
a.Penujukan Profesional
b.Konflik kepentingan
c.Opini kedua
d.Imbalan jasa dan tipe remunerasi lainnya
e.Jasa-jasa pemasaran pofesional
f.Hadiah dan sikap bersahabat
g.Pejaminan asset-aset yang dimiliki klien
h.Objektivitas seluruh jasa
12. Apakah yang dimaksud dengan imbalan jasa kontingensi? Berikan dua contoh
dan jelaskan mengapa para akuntan dalam praktik publik harus atau tidak
harus mengambil imbalan jasa tersebut ?
13. Auditor yang diminta untuk menggantikan auditor lain, atau yang sedang
mempertimbangkan penugasan baru untuk perusahaan yang saat ini sedang
diaudit oleh auditor lain harus mempertimbangkan bentuk-bentuk
pengamanan yang sesuai. Bagaimanakah bentuk-bentuk pengamanan yang
harus digunakan pada situasi-situasi tersebut ?
14. Apakah perbedaan antara European Commision Council Directive atas
independensi dan pandangan Sarbanes-Oxley Act terkait independensi auditor
?
15. Apa perbedaan diantara “independensi dalam pemikiran” dengan “independsi
dalam tampilan ?” sebutkan dua aktivitas yangtidak dapat mempengruhi
independensi dalam fakta namun memiliki kemungkinan untuk
mempengaruhi independensi dalam tampilan
16. Sebutkan beberapa bentuk keterlibatan keuangan denganklien yangdapat
mempengaruhi independensi !
17. Apakah ancaman kepentingan pribadi yang mungkin paling sering kali terjadi
bagi akuntan professional dalam bisnis ?
18. Apakah yang seharusnya dilakukan oleh akuntan yang diperkerjakan jika
mereka merasa diminta untuk melakukan sesuatu yang bertolak belakang
dengan standard-standar akuntansi yang berlaku ?
19. Dapatkah IESBA menertibkan akuntan dari pelanggaran terhadap Kode Etik ?
Apakah sanksi-sanksi yang umumnya diberikan oleh lembaga-lembaga
penegakan disiplin ?
20. Mengapa terdapat kebutuhan untuk sebuah panduan etika bagi para akuntan
professional, jelaskan ? bagaimana seharusnya cara Kode Etik bagi para
akuntan dapat berbeda dengan kelompok pekerjaan lainnya, seperti dokter dan
pengacara ?

Jawab:

1. Menurut H. A. Mustafa, pengertian etika adalah ilmu yang menyelidiki


terhadap suatu perilaku yang baik dan yang buruk dengan memerhatikan
perbuatan manusia sejauh apa yang diketahui oleh akan serta pikiran manusia.

2. 1.) Prinsip Keindahan


Prinsip ini mendasari segala sesuatu yang mencakup penikmatan rasa senang
terhadap keindahan. Berdasarkan prinsip ini, manusia memperhatikan nilai-
nilai keindahan dan ingin menampakkan sesuatu yang indah dalam
perilakunya. Misalnya dalam berpakaian, penataan ruang, dan sebagainya
sehingga membuatnya lebih bersemangat untuk bekerja.
2) Prinsip Persamaan
Setiap manusia pada hakikatnya memiliki hak dan tanggung jawab yang sama,
sehingga muncul tuntutan terhadap persamaan hak antara laki-laki dan
perempuan, persamaan ras, serta persamaan dalam berbagai bidang lainnya.
Prinsip ini melandasi perilaku yang tidak diskrminatif atas dasar apapun.

3) Prinsip Kebaikan
Prinsip ini mendasari perilaku individu untuk selalu berupaya berbuat
kebaikan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Prinsip ini biasanya
berkenaan dengan nilai-nilai kemanusiaan seperti hormat- menghormati, kasih
sayang, membantu orang lain, dan sebagainya. Manusia pada hakikatnya
selalu ingin berbuat baik, karena dengan berbuat baik dia akan dapat diterima
oleh lingkungannya. Penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan yang
diberikan kepada masyarakat sesungguhnya bertujuan untuk menciptakan
kebaikan bagi masyarakat.

4) Prinsip Keadilan
kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa
yang semestinya mereka peroleh. Oleh karena itu, prinsip ini mendasari
seseorang untuk bertindak adil dan proporsional serta tidak mengambil
sesuatu yang menjadi hak orang lain.

5) Prinsip Kebebasan
sebagai keleluasaan individu untuk bertindak atau tidak bertindak sesuai
dengan pilihannya sendiri. Dalam prinsip kehidupan dan hak asasi manusia,
setiap manusia mempunyai hak untuk melakukan sesuatu sesuai dengan
kehendaknya sendiri sepanjang tidak merugikan atau mengganggu hak-hak
orang lain. Oleh karena itu, setiap kebebasan harus diikuti dengan tanggung
jawab sehingga manusia tidak melakukan tindakan yang semena-mena kepada
orang lain. Untuk itu kebebasan individu disini diartikan sebagai:
1.kemampuan untuk berbuat sesuatu atau menentukan pilihan.
2.kemampuan yang memungkinkan manusia untuk melaksana-kan pilihannya
tersebut.
3.kemampuan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

6) Prinsip Kebenaran
Kebenaran biasanya digunakan dalam logika keilmuan yang muncul dari hasil
pemikiran yang logis/rasional. Kebenaran harus dapat dibuktikan dan
ditunjukkan agar kebenaran itu dapat diyakini oleh individu dan masyarakat.
Tidak setiap kebenaran dapat diterima sebagai suatu kebenaran apabila belum
dapat dibuktikan.
Semua prinsip yang telah diuraikan itu merupakan prasyarat dasar dalam
pengembangan nilai-nilai etika atau kode etik dalam hubungan antarindividu,
individu dengan masyarakat, dengan pemerintah, dan sebagainya. Etika yang
disusun sebagai aturan hukum yang akan mengatur kehidupan manusia,
masyarakat, organisasi, instansi pemerintah, dan pegawai harus benar-benar
dapat menjamin terciptanya keindahan, persamaan, kebaikan, keadilan,
kebebasan, dan kebenaran bagi setiap orang.

3. Tujuan dari kode etik profesi akuntansi ini diantaranya adalah :


•Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
•Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
•Untuk menjunjung tinggi martabat profesi
•Untuk meningkatkan mutu profesi.
•Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi
•Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
•Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
•Menentukan baku standar

4. 1.Bagian A: Prinsip Dasar Etika;


2.Bagian B: Akuntan Profesional di Praktik Publik;
3.Bagian C: Akuntan Profesional di Bisnis.

Bagian A berisi prinsip dasar etika yaitu integritas, objektivitas, kompetensi


dan kehati-hatian profesional, kerahasiaan, dan perilaku profesional. Bagian A
juga memberikan suatu kerangka konseptual dalam mengidentifikasi dan
mengevaluasi ancaman terhadap prinsip dasar etika, serta menerapkan
perlindungan untuk menghilangkan atau mengurangi ancaman sampai pada
tingkat yang dapat diterima.
Bagian B menjelaskan bagaimana penerapan prinsip dasar etika di Bagian A
bagi Akuntan Profesional yang memberikan jasa profesional kepada publik
(praktik publik).
Bagian C menjelaskan bagaimana penerapan prinsip dasar etika di Bagian A
bagi Akuntan Profesional di organisasi tempatnya bekerja (bisnis).

5. 1. Perilaku Profesional
Setiap anggota harus berperilaku konsisten dengan reputasi profesi yang baik
dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi. Kewajiban untuk
menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan profesi harus dipenuhi
sebagai perwujudan tanggung jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga,
anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan masyarakat umum. Dalam upaya
memasarkan dan mempromosikan diri dan pekerjaan, akuntan profesional
sangat tidak dianjurkan mencemarkan nama baik profesi. Akuntan wajib
mempunyai sikap jujur dan dapat dipercaya.
2. Tanggung Jawab Profesi
Seorang akuntan dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai
profesional, harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan
profesional terhadap semua kegiatan yang dilaksanakannya. Anggota
memiliki tanggung jawab kepada pemakai jasa mereka dan tanggung jawab
untuk bekerja sama dengan sesama anggota demi mengembangkan profesi
akuntansi serta memelihara kepercayaan masyarakat. Semua usaha tersebut
diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.

3. Standar Teknis
Setiap kegiatan harus mengikuti standar teknis dan standar profesional yang
relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati, akuntan
berkewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa, selama
penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan objektivitas. Standar
teknis dan standar professional yang harus ditaati anggota adalah standar yang
dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Internasional Federation of
Accountants, badan pengatur dan pengaturan perundang-undangan yang
relevan.

4. Kepentingan Publik
Anggota akuntan profesional berkewajiban untuk bertindak dalam rangka
pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik serta
menunjukkan sikap profesionalisme. Salah satu ciri dari profesi adalah
penerimaan tanggung jawab kepada publik. Profesi akuntan juga memegang
peranan penting di masyarakat. Arti publik dari profesi akuntan meliputi klien,
pemerintah, pemberi kredit dan pegawai. Investor, dunia bisnis dan pihak-
pihak yang bergantung kepada integritas dan objektivitas akuntan dalam
memelihara berjalannya fungsi bisnis dengan tertib. Oleh karena itu, seorang
akuntan harus selalu bertindak sesuai dengan koridor pelayanan publik untuk
menjaga kepercayaan mereka.

5. Integritas
Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota
harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi
mungkin. Integritas mengharuskan seorang anggota untuk bersikap jujur dan
berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa. Pelayanan
dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi.
Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan
pendapat yang jujur, tetapi tidak menerima kecurangan atau peniadaan
prinsip.
6. 1.Integritas: Seorang akuntan profesional harus bertindak tegas dan jujur
dalam semua hubungan bisnis dan profesionalnya.
2.Objektivitas:Seorang akuntan profesional seharusnya tidak boleh
membiarkan terjadinya bias, konflik kepentingan, atau dibawah penguruh
orang lain sehingga mengesampingkan pertimbangan bisnis dan professional.
3.Kompetensi profesional dan kehati-hatian: Seorang akuntan professional
mempunyai kewajiban untuk memelihara pengetahuan dan keterampilan
profesional secara berkelanjutan pada tingkat yang dipelukan untuk menjamin
seorang klien atau atasan menerima jasa profesional yang kompeten yang
didasarkan atas perkembangan praktik, legislasi, dan teknik terkini. Seorang
akuntan profesional harus bekerja secara tekun serta mengikuti standar-
standar profesional harus bekerja secara tekun serta mengikuti standar-standar
professional dan teknik yang berlaku dalam memberikan jasa profesional.
4.Kerahasiaan : Seorang akuntan profesional harus menghormati kerhasiaan
informasi yang diperolehnya sebagai hasil dari hubungan profesional dan
bisnis serta tidak boleh mengungkapkan informasi apa pun kepada pihak
ketiga tanpa izin yang benar dan spesifik, kecuali terdapat kewajiban hukum
atau terdapat hak profesional untuk mengungkapkannya.
5.Perilaku Profesional : Seorang akuntan profesional harus patuh pada
hukum dan perundang-undangan yang relevan dan harus menghindari
tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi

7. 1.Apabila pengungkapan dijinkan. Jika persetujuan untuk mengungkapkan


diberikan oleh penerima jasa, kepentingan semua pihak termasuk pihak ketida
yang kepentingannnya dapat terpengaruh harus dipertimbangkan.
2.Pengungkapan diharuskan oleh hukum, misal untuk menghasilkan dokumen
atau memberikan bukti dalam proses hukum dan untuk mengungkapkan
adanya pelanggaran hukum kepada publik
3.Ketika ada kewajiban atau hak profesional untuk mengungkapkannya.
Misal: untuik mematuhi standar teknis dan aturan etika, melindungi
kepentingan profesioanl anggota dalam persidangan, mentaati penelaahan
mutuiu atau penelaahan sejawat IA atau bada profesioanl lainnya, menanggapi
permintaan atau investigasi oleh IAI atau badan pengatur.

8. Jasa penyusunan SPT (tax return preparation service) termasuk membantu


klien terkait kewajibannya melaporkan pajak dengan mengisi dokumen dan
melengkapi informasi, diantaranya besarnya pajak tertagih (biasanya pada
formulir-formulir yang terstandarisasi) ang harus diserahkan ke otoritas pajak
yang berwenang.

9. 1.Kepentingan diri (self-interest)


Kepentingan Diri adalah wujud sifat yang lebih mengutamakan kepentingan
pribadi atau keluarga dibandingkan dengan kepentingan publik yang lebih
luas. Contoh langsung Ancaman Kepentingan Diri untuk akuntan publik,
antara lain:
Kepentingan keuangan dalam perusaahan klien, atau kepentingan keuangan
bersama pada suatu perusaah klien.
Kekhawatiran berlebiahan bila kehilangan suatu klien.
Contoh langsung Ancaman Kepentingan Diri untuk akuntan bisnis, antara
lain:
1.Perjanjian kompensasi insentif.
2.Penggunaan harta perusahaan yang tidak tepat.
3.Tekanan komersial dari pihak di luar perusahaan

2.Review diri (Self-review)


Ancaman yang disebabkan oleh ketidaktepatan akuntan dalam mengevaluasi
hasil pertimbangan.
Contoh Ancaman Review Diri untuk akuntan publik antara lain:Temuan
kesalahan material saat dilakukan evaluasi ulang.
Pelaporan operasi sistem keuangan setelah terlibat dalam perancangan dan
implementasi sistem tersebut.
Contoh Ancaman Review Diri untuk akuntan bisnis, yaitu keputusan bisnis
atau data yang sedang ditinjau oleh akuntan frofesional yang sama yang
membuat keputusan bisnis atau penyiapan data tersebut.

3.Advokasi (Advocacy)
Ancaman Advokasi dapat timbul bila akuntan profesional endukung suatu
posisi atau pendapat sampai titik dimana objektivitas dapat dikompromikan.
Contoh langsung ancaman untuk akuntan publik antara lain :
Mempromosikan saham perusahaan publik dari klien, dimana perusahaan
tersebut merupakan klien audit.Bertindak sebagai pengacara (penasihat
hukum) untuk klien penjaminan dalam suatu litigasi atau perkara perselisihan
dengan pihak ketiga.

4. Kekerabatan (Familiarity)
Ancaman kekerabatan timbul dari kedekatan hubungan sehingga akuntan
profesional menjadi terlalu bersimpati terhadap kepentingan orang lain yang
mempunyai hubungan dekat dengan akuntan tersebut. Contoh langsung
Ancaman Kekerabatan untuk akuntan publik, antara lain:Anggota tim
mempunyai hubungan keluarga dekat dengan seorang direktur atau pejabat
perusahaan klien.
5. Intimidasi (Intimidation)
Ancaman Intimidasi dapat timbul jika akuntan profesional dihalang untuk
bertindak objektif, baik secara nyata maupun dipersepsikan. Contoh Ancaman
Intimidasi untuk Akuntan Publik, antara lain:Diancam dipecat atau diganti
dalam hubungannya dengan penugasan klien.
Diancam dengan tuntutan hukum.Ditekan secara tidak wajar untuk
mengurangi ruang lingkup pekerjaan dengan maksud untuk mengurangi
fee.Anggota tim mempunyai hubungan keluarga dekat dengan seorang
karyawan klien yang memiliki jabatan yang berpengaruh langsung dan
segnifikan terhadap pokok dari penugasan.
Contoh langsung Ancaman Kekerabatan untuk akuntan bisnis, antara lain:
Hubungan yang lama dengan rekan bisnis yang mempunyai pengaruh pada
keputusan bisnis.Penerimaan hadiah atau perlakuan khusus, kecuali nilainya
tidak segnifikan.

10. Untuk menhadapai ancaman yang akan terjadi, terdapat hal yang dapat
akuntan publik lakukan untuk pengamanan yaitu ada dua kategori pokok
pengamanan terhadap Ancaman Independensi, yaitu:
a)Pengamanan melalui profesi, legislasi, atau regulasi dapat dibentuk melalui
sebagai berikut:
oPersyaratan pendidikan, pelatihan, dan pengalaman kerja.
oPersyaratan pengembangan profesi berkelanjutan.
oProsedur pemantauan dan pendisiplinan profesi atau peraturan.
oReview eksternal oleh pihak ketiga yang berwenang atas laporan,
pemberitahuan, komunikasi, dan informasi yang dihasilkan oleh akuntan
profesional.

b)Pengamanan lingkungan kerja


Hal tersebut bisa sangat bervariasi dan luas, bergantung pada keadaan di
tempat kerja. Beberapa contoh pengamanan akuntan publik antara lain:
1.Pengamanan di kantor firma dalam arti luas:
•Dukungan kepemimpinan (pemimpin yang taat pada perinsip dan
mengedepankan kepentingan umum).
•Mempublikasikan berbagai kebijakan dan prosedur untuk mendorong
komunikasi antar staf dengan staf senior tentang isu-isu yang berkaitan
dengan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip etika

2.Pengamanan perikatan khusus di lingkungan kerja: yang dilakukan atau


memberi nasihat yang diperlukan.
•Konsultasi dengan pihak ketiga yang independen, seperti komite direktur
independen, badan pengatur, atau akuntan profesional lain.
•Rotasi staf senior dari tim penugasan.

3.Pengamanan di dalam sistem dan prosedur lain:


•Klien memiliki karyawan yang kompeten.
•Klien memiliki tata kelola korperasi yang dapat memberikan pengawasan
dan komunikasi yang memadai terkait dengan jasa-jasa firma.

4.Pengamanan ancaman di tempat kerja untuk akuntan bisnis, antara lain:


•Penerapan struktur pengawasan korporasi (corporate oversight or oversight
structure).
•Pedoman kode etik perilaku organisasi
•Komunikasi tepat waktu tentang berbagai kebijakan dan prosedur termasuk
perubahannya ke seluruh karyawan disertai pelatihan dan pendidikan yang
memadai tentang kebijakan prosedur yang ada.

11. A. Penunjukkan professional


Termasuk ke dalam self-review threat. Contohnya sebelum menerima
keterlibatan klien tertentu, auditor harus menentukan apakah penerimaan akan
menimbulkan ancaman kepatuhan terhadap prinsip prinsip dasar. Ketika
mengevaluasi apakah akan menerima klien, auditor harus mempertimbangkan
bahwa ancaman potensial terhadap integritas atau perilaku professional.
Perlindungan yang sesuai adalah safeguards within the work environment.

B. Konflik Kepentingan
Termasuk ke dalam familiarity threat. Contohnya seorang auditor pada saat
mengaudit laporan keuangan menemukan suatu kejanggalan pada laporan
keuangan namun karena audit memiliki hubungan keluarga dengan si pihak
perusahaan maka auditor menutupi kejanggalan laporan keuangan tersebut.
Perlindungan yang sesuai adalah safeguards created by the profession,
legislation, or regulation.

C. Opini Kedua
Termasuk ke dalam intimidation threat. Contohnya ketika akuntan diminta
untuk memberikan opini dalam pengaplikasian akuntansi, audit, dan
pelaporan dari kegiatan yang ada. Karena bisa jadi fakta dan bukti yang
diberikan kepada mereka tidak sama dengan fakta dan bukti yang diberikan ke
akuntan pertama. Perlindungan yang sesuai adalah safeguards created by the
profession, legislation, or regulation.

D. Imbalan jasa dan tipe remunerasi ainnya


Termasuk kedalam advocacy threat. Contohnya ketika melakukan negosiasi
tentang jasa yang mereka berikan, memberikan jasa murah tidaklah melanggar
etika, namun bila harganya terlalu murah bisa jadi auditor tidak mengikuti
peraturan yang ada. Perlindungan yang tepat adalah safeguards created by the
profession, legislation, or regulation.

E. Jasa-jasa pemasaran professional


Termasuk ke dalam self-interest threat. Contohnya adalah ketika akuntan
melakukan promosi atau beriklan akan jasa yang di tawarkannya, bisa jadi
karena adanya self-interest, produk dan jasa yang ditawarkan menjadi tidak
konsisten dengan prinsip yang ada. Perlindungan yang tepat adalah safeguards
within the work environment.
F. Hadiah dan sikap bersahabat
Termasuk ke dalam familiarity threat contohnya akuntan memiliki hubungan
yang dekat dengan klien, klien pasti suatu saat akan menawarkan untuk
memberikan hadiah dan sejenisnya. Jika akuntan menerimanya ini dapat
berakibat akuntan menjadi tidak objektif akan decision makingnya.
Perlindungan yang tepat adalah safeguards created by the profession,
legislation, or regulation.

G. Penjaminan asset-aset yang dimiliki klien


Termasuk kedalam intimidation threat. Contohnya seorang auditor tidak boleh
berasumsi bahwa ia dapat menjaga uang atau asset dalam bentuk lain milik
klien, kecuali diperbolehkan oleh hukum. Perlindungan yang tepat adalahs
afeguards created by the profession, legislation, or regulation.

H. Objektivitas – seluruh jasa


Termasuk kedalam familiarity threat. Contohnya ketika menawarkan jasa ,
seorang auditor harus waspada akan ancaman yang ada terhadap kepatuhan
mereka akan prinsip yang ada. Hal hal seperti hubungan yang terlalu dekat
dengan klien dapat meruntuhkan objektivitas mereka. Perlindungan yang tepat
adalah safeguards within the work environment.

12. Imbalan Kontinjensi adalah suatu kewajiban pihak pengakuisisi untuk


mengalihkan aset atau kepentingan ekuitas tambahan kepada pemilik
sebelumnya dari pihak yang diakuisisi sebagai bagian dari pertukaran
pengendalian atas pihak yang diakuisisi jika peristiwa masa depan tertentu
terjadi atau kondisi tertentu terpenuhi. Namun demikian, imbalan kontinjensi
dapat juga memberikan hak kepada pihak pengakuisisi untuk memperoleh
kembali imbalan yang dialihkan sebelumnya jika kondisi tertentu terpenuhi.
Contoh:
1.biaya garansi
2.jaminan,dll

13. CEPA 2012 memberikan saran agar pencegahan yang diterapkan harus dapat
mengeliminasi berbagai ancaman atau menguranginya sampai pada tingkat
yang dapat diterima. Pencegahan-pencegahan tersebut adalah:
A.Melakukan kontak dengan kantor akuntan sebelumnya, serta bertanya
adakah alasan professional atau alasan lainnya sehingga penugasannya tidak
disetujui atau dilanjutkan.
B.Meminta kepada kantor akuntan sebelumnya untuk memberikan informasi
yang diketahuinya tentang fakta atau lingkungan dari perusahaan/organisasi
yang diperiksa.
C.Memperoleh informasi dari sumber-sumber yang lain.
14. The Sarbanes–Oxley Act of 2002 mewajibkan Securities and Exchange
Commission (SEC) untuk mendirikan Public Company Accounting Oversight
Board (PCAOB), yaitu dewan yang bertugas mengawasi dan menginvestigasi
pelaksanaan audit dan auditor perusahaan-perusahaan publik, dan sanksi, baik
untuk perusahaan maupun personil, atas pelanggaran hukum, regulasi, dan
aturan.
European Union Eighth Council Directive 84/253/EEC, yang berisi kondisi-
kondisi untuk persetujuan auditor-auditor yang terkualifikasi dan EU
Directive 2006/43/EC yang membutuhkan penerapan serangkaian standar
pengauditan internasional, memperbarui persyaratan pendidikan, definisi etika
profesional, dan implementasi teknis dari kerja sama antar pihak yang
berkompeten dari negara-negara anggota Uni Eropa dan otoritas dari negara
ketiga.

15. Independensi dalam pemikiran.Independensi dalam pemikiran merupakan


sikap mental yang memungkinkan pernyataanpemikiran yang tidak
dipengaruhi oleh hal-hal yang dapat mengganggu pertimbanganprofesional,
yang memungkinkan seorang individu untuk memiliki integritas dan
bertindaksecara objektif, serta menerapkan skeptisisme profesional.
Independensi dalam penampilan.Independensi dalam penampilan merupakan
sikap yang menghindari tindakan atau situasiyang dapat menyebabkan pihak
ketiga (pihak yang rasional dan memiliki pengetahuanmengenai semua
informasi yang relevan, termasuk pencegahan yang diterapkan)meragukan
integritas, objektivitas, atau skeptisisme profesional dari anggota
timassurance, KAP, atau Jaringan KAP
Contoh:
1. Pemberian jasa lainnya selain jasa audit
2.lama nya penugasan audit

16. Kenyataannya auditor seringkali menemukan kesulitan untuk


mempertahankan independensinya dalam melaksanakan kewajibannya.
Dimana menurut Ruchjat Kosasih (2000), ada empat jenis risiko yang dapat
merusak independensi akuntan publik, yaitu:
a.Self inrestest risk, yang terjadi apabila akuntan pubik menerima manfaat
dari keterlibatan keuangan klien.

b.Self review risk, yang terjadi apabila akuntan publik melaksanakan


penugasan pemberia jasa keyakinan yang menyangkut keputusan yang dibuat
untuk kepentingan klien atau melaksanakan jasa lain yang mengarah pada
produk atau pertimbangan yang mempengaruhi informasi yang pokok bahasan
dalam penugasan pemberian jasa keyakinan.

c.Advocacy risk, yang terjadi apabila tindakan akntan publik menjadi terlalu
erat kaitannya dengan kepentingan klien.
d.Client influence risk, yang terjadi apabila akuntan publik mempunyai
hubungan erat yang kontinyu dengan klien, termasuk hbungan pribadi yang
dapat mengakibatkan intimidasi oleh atau keramahtamahan yang berlebihan
dengan klien.

Menurut Sockley (1991)independensi auditor dipengaruhi oleh faktor-faktor


sebagai berikut :
a.Pemberian jasa konsultasi pada klien, Memberikan jasa konsultasi pada
klien yang diaudit dapat meningkatkan resiko rusaknya independensi auditor
yang lebih besar

b.Persaingan antar kantor akuntan public, Persaingan yang tajam dapat


mengakibatkan solidaritas professional yang rendah, hal ini di sebab kan
karena kantor akuntan publik khawatir akan mencari kantor akuntan publik
lainya yang dapat mengeluarkan opini sesuai dengan yang diingikan klien

c.Ukuran kantor akuntan public, Penggolongan ukuran besar kecilnya kantor


akuntan publik sesuai dengan AICPA dikatakan besar jika kantor akuntan
publik tersebut telah melaksanakan audit pada perusahaan go-public.
Dikatakan kecil jika kantor akuntan publik ter sebut belum melakukan audit
pada perusahaan go-public.

d.Lama hubungan audit (Tenure of Audit), Tenure of audit adalah lamanya


waktu auditor tersebut melakukan pemeriksaan terhadap suatu unit unit usaha
perusahaan atau instansi. Lamanya penugasan audit terhadap klien yaitu lima
tahun atau kurang dari lima tahun. Dimaksudkan untuk mencegah timbulnya
pendekatan antara auditor dengan klien yang dapat merusak indepensi
akuntansi dan dapat terjadinya skandal akuntansi.

Menurut Supriyono (1988) faktor faktor yang mempengaruhi independensi


auditor :
a.Ikatan kepentingan keuangan dan hubungan usaha dengan klien
b.Persaingan antar akuntan public
c.Pemberian jasa lain selain jasa audit
d.Lama penugasan audit
e.Besar kantor akuntan
f.Besarnya fee audit responden yang dipilih meliputi direktur keuangan
perusahaan yang telah go publik, patner kantor akuntan publik, pejabat kredit
bank dan lembaga keuangan non bank dan bapepam.

17. Kepentingan diri (self-interest)


Kepentingan Diri adalah wujud sifat yang lebih mengutamakan kepentingan
pribadi atau keluarga dibandingkan dengan kepentingan publik yang lebih
luas. Contoh langsung Ancaman Kepentingan Diri untuk akuntan publik,
antara lain:
Kepentingan keuangan dalam perusaahan klien, atau kepentingan keuangan
bersama pada suatu perusaah klien.
Kekhawatiran berlebiahan bila kehilangan suatu klien.
Contoh langsung Ancaman Kepentingan Diri untuk akuntan bisnis, antara
lain:
-Perjanjian kompensasi insentif.
-Penggunaan harta perusahaan yang tidak tepat.
-Tekanan komersial dari pihak di luar perusahaan

18. Akuntan harus memiliki etika perilaku professional yaitu mematuhi undang-
undang dan regulasi yang relevan, serta menghindari tindakan-tindakan yang
dapat mendiskreditkan profesi akuntan.

19. Sanksi pelanggaran kode atas kode etik :


1.Mendapat peringatan, Pada tahap ini, si pelaku akan mendapatkan
peringatan halus, misal jika seseorang menyebutkan suatu instansi terkait
(namun belum parah tingkatannya) bisa saja ia akan menerima email yang
berisi peringatan, jika tidak diklarifikasi kemungkinan untuk berlanjut ke
tingkat selanjutnya, seperti peringatan keras ataupun lainnya

2.Pemblokiran, Mengupdate status yang berisi SARA, mengupload data yang


mengandung unsur pornografi baik berupa image maupun .gif, seorang
programmer yang mendistribusikan malware. Hal tersebut adalah contoh
pelanggaran dalam kasus yang sangat berbeda-beda, kemungkinan untuk
kasus tersebut adalah pemblokiran akun di mana si pelaku melakukan aksinya.
Misal, sebuah akun pribadi sosial yang dengan sengaja membentuk grup yang
melecehkan agama, dan ada pihak lain yang merasa tersinggung karenanya,
ada kemungkinan akun tersebut akan dideactivated oleh server. Atau dalam
web/blog yang terdapat konten porno yang mengakibatkan pemblokiran
web/blog tersebut

3, Hukum Pidana/Perdata, “Setiap penyelenggara negara, Orang, Badan


Usaha, atau masyarakat yang dirugikan karena penggunaan Nama Domain
secara tanpa hak oleh Orang lain, berhak mengajukan gugatan pembatalan
Nama Domain dimaksud” (Pasal 23 ayat 3), “Setiap Orang dengan sengaja
dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan tindakan apa pun yang
berakibat terganggunya Sistem Elektronik dan/atau mengakibatkan Sistem
Elektronik menjadi tidak bekerja sebagaimana mestinya” (Pasal 33), “Gugatan
perdata dilakukan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan”
(Pasal 39) Adalah sebagian dari UUD RI No.11 tahun 2008 tentang informasi
dan transaksi elektronik (UU ITE) yang terdiri dari 54 pasal.
20. Terdapat kebutuhan untuk sebuah panduan etika bagi para akuntan
professional karena Prinsip ini meminta komitmen untuk berperilaku
terhormat, bahkan dengan pengorbanan keuntungan pribadi. Alasan utama
mempunyai pedoman etika dalam akuntansi adalah untuk membantu para
akuntan dalam proses pembuatan keputusan, mengetahui apa yang benar, dan
tidak hanya apa yang legal.

Cara kode etik bagi para akuntan dapat berbeda dengan kelompok pekerjaan
lainnya, seperti dokter dan pengacara.
1.Perilaku Profesional
Setiap anggota harus berperilaku konsisten dengan reputasi profesi yang baik
dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi. Kewajiban untuk
menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan profesi harus dipenuhi
sebagai perwujudan tanggung jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga,
anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan masyarakat umum. Dalam upaya
memasarkan dan mempromosikan diri dan pekerjaan, akuntan profesional
sangat tidak dianjurkan mencemarkan nama baik profesi. Akuntan wajib
mempunyai sikap jujur dan dapat dipercaya.

2.Tanggung Jawab Profesi


Seorang akuntan dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai
profesional, harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan
profesional terhadap semua kegiatan yang dilaksanakannya. Anggota
memiliki tanggung jawab kepada pemakai jasa mereka dan tanggung jawab
untuk bekerja sama dengan sesama anggota demi mengembangkan profesi
akuntansi serta memelihara kepercayaan masyarakat. Semua usaha tersebut
diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.

3.Standar Teknis
Setiap kegiatan harus mengikuti standar teknis dan standar profesional yang
relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati, akuntan
berkewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa, selama
penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan objektivitas. Standar
teknis dan standar professional yang harus ditaati anggota adalah standar yang
dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Internasional Federation of
Accountants, badan pengatur dan pengaturan perundang-undangan yang
relevan.

4.Kepentingan Publik
Anggota akuntan profesional berkewajiban untuk bertindak dalam rangka
pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik serta
menunjukkan sikap profesionalisme. Salah satu ciri dari profesi adalah
penerimaan tanggung jawab kepada publik. Profesi akuntan juga memegang
peranan penting di masyarakat. Arti publik dari profesi akuntan meliputi klien,
pemerintah, pemberi kredit dan pegawai. Investor, dunia bisnis dan pihak-
pihak yang bergantung kepada integritas dan objektivitas akuntan dalam
memelihara berjalannya fungsi bisnis dengan tertib. Oleh karena itu, seorang
akuntan harus selalu bertindak sesuai dengan koridor pelayanan publik untuk
menjaga kepercayaan mereka.
Integritas
Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota
harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi
mungkin. Integritas mengharuskan seorang anggota untuk bersikap jujur dan
berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa. Pelayanan
dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi.
Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan
pendapat yang jujur, tetapi tidak menerima kecurangan atau peniadaan
prinsip.
5.Kerahasiaan
Mengingat akuntan adalah profesi yang berhubungan langsung dengan data
keuangan, maka sudah sepatutnya harus mampu memegang prinsip
kerahasiaan. Prinsip kerahasiaan mengharuskan setiap akuntan untuk tidak
melakukan hal berikut ini.
1.Mengungkapkan informasi rahasia yang diperolehnya dari hubungan
profesional dan hubungan bisnis pada pihak di luar kantor akuntan atau
organisasi tempat akuntan bekerja tanpa diberikan kewenangan yang memadai
dan spesifik, terkecuali jika mempunyai hak dan kewajiban secara hukum atau
profesional untuk mengungkapkan kerahasiaan tersebut.
2.Menggunakan informasi rahasia untuk keuntungan pribadi atau pihak
ketiga. Informasi yang diperoleh baik melalui hubungan profesional maupun
hubungan bisnis.

6.Objektivitas
Setiap anggota harus menjaga objektivitasnya dan bebas dari benturan
kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya. Objektivitas adalah
suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan anggota.
Prinsip objektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak,
jujur secara intelektual, tidak berprasangka serta bebas dari benturan
kepentingan atau di bawah pengaruh pihak lain.

Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional


Kompetensi adalah salah satu penjamin mutu dan kualitas layanan dari
seorang profesional di bidang jasa. Prinsip kompetensi dan kehati-hatian
professional mengharuskan setiap anggota akuntan untuk:
1.Memelihara pengetahuan dan keahlian profesional yang dibutuhkan untuk
menjamin pemberi kerja (klien menerima layanan yang profesional dan
kompeten.)
2.Bertindak tekun dan cermat sesuai teknis dan profesional yang berlaku
ketika memberikan jasa profesional.
Etika profesi dalam bidang akuntansi sangat perlu diperhatikan oleh setiap
akuntan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini dilakukan
untuk memenuhi tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang akuntan yang
profesional. Dengan memahami etika profesi dengan baik, maka akuntan
seharusnya dapat bekerja dengan maksimal, salah satunya dengan membuat
laporan keuangan yang terperinci.
Kode etik pada prinsipnya merupakan sistem dari prinsip-prinsip moral yang
diberlakukan dalam suatu kelompok profesi yang ditetapkan secara bersama.
Kode etik suatu profesi merupakan ketentuan perilaku yang harus dipatuhi
oleh setiap mereka yang menjalankan tugas profesi tersebut, seperti dokter,
pengacara, polisi, akuntan, penilai, dan profesi lainnya

Anda mungkin juga menyukai