Anda di halaman 1dari 32

RESUME

PENDIDIKAN INKLUSI
KEBERAGAMAN PESERTA DIDIK DENGAN BERBAGAI
LATAR BELAKANG
Dosen Pengampu : Drs. H. Asep Ahmad Sopandi, M.Pd.

Oleh :

Disha Hikarahmi Ramfineli

(18129007)

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2020
A. Ekonomi
Status ekonomi seseorang tentu mempunyai peranan terhadap perkembangan anak-
anaknya. Keluarga yang mempunyai status ekonomi yang baik, tentu akan memberi
perhatian yang baik pula pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan akan memikirkan masa
depan anak-anaknya. Menurut Sugihartono, dkk (2015:3) menyatakan status sosial ekonomi
orang tua, meliputi tingkat pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, penghasilan orang
tua.Keluarga yang memiliki status sosial ekonomi kurang mampu, akan cenderung untuk
memikirkan bagaimana pemenuhan kebutuhan pokok, sehingga perhatian untuk
meningkatkan pendidikan anak juga kurang.
Kondisi status ekonomi orang tua merupakan salah satu faktor eksternal yang
mempengaruhi belajar. Cara orang tua mendidik anaknya besar pengaruhnya terhadap
prestasi belajar anak. Hal ini dipertegas oleh Sutjipto Wirowidjojo (dalam Slameto, 2015:61)
dengan pernyataannya yang menyatakan bahwa: Keluarga adalah lembaga pendidikan yang
pertama dan utama. Keluarga yang sehat besar artinya untuk pendidikan dalam ukuran kecil,
tetapi bersifat menentukan untuk pendidikan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa,
negara, dan dunia Melihat pernyataan di atas, dapatlah dipahami betapa pentingnya peranan
keluarga di dalam pendidikan anaknya. Cara orang tua mendidik anak-anaknya akan
berpengaruh terhadap belajarnya.
Peranan ekonomi orang tua secara umum dapat dikatakan mempunyai pengaruh yang
positif terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Hal ini disebabkan proses belajar
mengajar siswa membutuhkan alat-alat atau seperangkat pengajaran atau pembelajaran,
dimana alat ini untuk memudahkan siswa dalam mendapatkan informasi, pengelolaan bahan
pelajaran yang diperoleh dari sekolah. Hal ini didukung oleh pendapat Gerungan (2004:196)
menyatakan bahwa keadaan sosio-ekonomi keluarga tentulah berpengaruh terhadap
perkembangan anak- anak, apabila kita perhatikan bahwa dengan adanya perekonomian
yang cukup, lingkungan material yang dihadapi anak dalam keluarga itu lebih luas, ia
mendapat kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan bermacam-macam kecakapan
yang tidak dapat ia kembangkan apabila tidak ada prasarananya. Hal ini didukung oleh
pendapat Djaali (2014:9) menyatakan bahwa pendidikan orang tua, status ekonomi, rumah
kediaman, persentase hubungan orang tua, perkataan, dan bimbingan orang tua
mempengaruhi pencapaian prestasi belajar anak.
Keadaan ekonomi orang tua siswa turut mendukung siswa dalam pengadaan sarana
dan prasarana belajar, yang akan memudahkan dan membantu pihak sekolah untuk
peningkatan proses belajar mengajar di sekolah. Pembelajaran membutuhkan biaya yang
tidak sedikit. Alat- alat belajar mengajar yang dimaksud buku-buku pelajaran, pensil,
penggaris, buku-buku lembar kerja soal ( LKS ), laptop, penghapus, dan lain-lain.
B. Sosial
Perkembangan dunia saat ini memberikan lingkungan sosial terbaik sekaligus terburuk
bagi peserta didik. Kemudahan dalam mengakses informasi dan pengetahuan dapat menjadi
hal yang berbahaya bagi anak, bila dalam memilih informasi dan pengetahuan tidak
mendapatkan bimbingan dari orang dewasa di sekitarnya. Banyak anak yang mengambil
informasi dan pengetahuan yang salah atau tidak tepat bagi usianya, sehingga terjerumus
dalam perilaku, gaya hidup atau ideologi yang tidak bisa diterima oleh masyarakat seperti
gaya hidup free sex, penggunaan narkoba atau terlibat dengan kelompok-kelompok
terorisme dan kriminal. Melalui media, anak dihadapkan pada pilihan gaya hidup yang
kompleks (Sandrock, 2003). Banyak anak yang menghadapi godaan-godaan ini, termasuk
aktifitas sexual pada usia yang semakin muda.
Tayangan sebagian besar stasiun televisi yang berbau kekerasan dan seks yang
dilakukan oleh selebritis, tokoh publik maupun masyarakat lainnya, mengakibatkan pesan-
pesan yang disampaikan media terkait dengan kekerasan dari tokoh-tokoh yang seharusnya
menjadi model bagi tumbuh kembang anak tertanam sangat kuat dalam benak mereka. Klip
musik, iklan, film atau sinetron seringkali menampilkan adegan seks bebas, perselingkuhan,
kekerasan, transgender, pembunuhan dan kriminalitas yang diekspos secara vulgar juga
menjadi faktor yang dapat mendorong anak untuk mencoba-coba atau menirunya.
Dalam belajar sosial (Bandura dalam Sandrock, 2003), fungsi role model sangat
penting. Saat role model yang tampil di media-media elektronik maupun sosial
mempertontonkan perilaku negatif yang bertentangan dengan nilai dan norma masyarakat,
hal itu dapat dianggap sebagai perilaku yang benar secara sosial dan ditiru oleh anak.
Setiap masyarakat meneruskan nilai-nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya,
dan dengan cara seperti itulah peradaban berlangsung (Sandrock, 2003). Dewasa ini, di
mana akses informasi sangat mudah diperoleh oleh anak, pilihan nilai dan norma sosial
menjadi sangat luas, banyak nilai-nilai yang diakses oleh anak, yang mungkin tidak sesuai
dengan budaya dan norma sosial masyarakat Indonesia, sehingga seringkali anak
menghadapi kebingungan dalam memilih dan mengambil nilai-nilai yang bertentangan itu
dan tidak jarang terjadi konflik antara anak dengan orang tua atau masyarakat terkait dengan
perbedaan nilai dan norma ini.
Masalah lingkungan sosial lain yang dihadapi anak adalah adanya pesan ambivalen
dari masyarakat terhadap mereka (Sandrock, 2003). Misalnya, orang dewasa menuntut anak
untuk mandiri, tapi di sisi lain mereka tidak diijinkan untuk membuat keputusan secara
mandiri tentang hidupnya, pilihan sekolah, pilihan teman hidup dan lainnya. Contoh lainnya,
anak tidak boleh mengendarai motor sebelum usia 17 tahun, namun banyak masyarakat yang
sudah mengajari anaknya untuk naik motor sejak usia SMP bahkan SD. anak diharapkan
bersikap naif tentang sex, tetapi akses tentang sex sangat mudah diperoleh dari berbagai
media. anak juga dilarang menggunakan narkoba, namun di sekitar mereka banyak orang
dewasa yang melakukan penyalahgunaan narkoba, minum dan perokok berat.
C. Budaya
Budaya adalah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar untuk diubah, budaya
yang diterapkan di dalam keluarga sangat berpengaruh kepada perkembangan peserta didik.
Beberapa cara untuk orang tua agar dapat memfasilitasi perkembangan anak seperti
membimbing untuk belajar membaca, menulis, dan berperilaku baik dalam berhadapan
dengan orang lain. Hal yang harus di perhatikan dan menjadi sangat mendasar pada
perkembangan seorang anak adalah budaya yang mereka kembangkan di dalam suatu
keluarga dan biasanya anak yang berkembang di banyak budaya dapat memperoleh
pelajaran yang lebih mendasar tentang lingkungan mereka, lingkungan budaya juga
membentuk cara berpikir dan berprilaku.
Dari cara berpikir dan berprilaku sangat mempengaruhi anak dalam memperhatikan
diri sendiri atau hubungan mereka dengan orang lain untuk membentuk identitas mereka.
Perbedaan budaya juga sangat menojol pada karakteristik seorang anak contohnya dua orang
anak yang yang berumur 3 tahun sama-sama tinggal di Indonesia tetapi memiliki budaya
yang berbeda, seorang anak yang tinggal dengan orang tua yang berbicara menggunakan
bahasa Inggris dan yang tidak menggukan bahasa Inggris perbedaannya sangat jelas, anak
yang sudah terbiasa tinggal dengan orang tua yang menggunakan bahasa Inggris sudah pasti
mereka bisa berbahsa inggis tetapi anak yang tinggal dengan orang tua yang berbahasa
Indonesia mereka belum bisa berbahasa inggris.Perkembangan yang telah tumbuh di dalam
diri seseorang akan terus berkembang setiap masyarakat meneruskan nilai-nilai dari satu
generasi ke generasi berikutnya, dan dengan cara seperti itulah peradaban berlangsung
(Sandrock, 2003).
Perkembangan yang sangat menonjol antar lingkungan pendidikan misalnya, anak di
Indonesia berumur 8-14 tahun dengan anak di jepang, anak Indonesia sangat di utamakan
dalam pelajaaran membaca, menulis, menghitung, sedangkan anak di Jepang lebih
diutamakan kreatifitasnya di bandingkan pendidikan formal seperti yang di tekankan
kepada anak Indonesia. anak di jepang sangat bersemangat untuk sekolah sedangkan di
Indonesia anak-anak putus sekolah sangat banyak, dikarnakan budaya di Indonesia sudah
banyak anak putus sekolah dan tidak diberi ganjaran apapun oleh sebab itu budaya untuk
lingkungan pendidikan di Indonesia sangat keterbelakang. Budaya sengat berperan penting
dalam tumbuh kembangan anak oleh sebab itu orang tua harus lebih selektif terhadap
budaya-budaya yang anak di terima oleh anak di kalangan lingkungan social.

Budaya adalah sesuatu yang sudah


menjadi kebiasaan dan sukar
untuk diubah, budaya
yang diterapkan di dalam
keluarga sangat berpengaruh
kepada perkembangan anak.
Perkembangan biasanya terjadi
secara bertahap dan saling
berhubungan, perkembangan
yang dilakukan di lingkungan
sosial berdampak baik dan
buruk terhadap tahap
perkembangan anak. Pada
perkembangan anak gagasan zona
proksimal sangat penting
karena dalam beberapahal dimasa
pembelajaran anak harus
mendapatkan dukungan dari
luar dan dari aspek lain anak
bisa belajar sendiri tanpa ada
dukungan dari luar. Saat ini
perkembangan sangat di
pengaruhi oleh lingkungan
sosial dan ditambah lagi
semakin
majunya teknologi yang dapat
memberikan kemudahan untuk
mengakses informasi apabila
anak-anak tidak diawasi maka
akan berakibat fatal untuk
perkembangan mereka kedepan.
Beberapa cara untuk orang
tua agar dapat memfasilitasi
perkembangan anak seperti
membimbing untuk belajar
membaca, menulis, dan
berperilaku baik dalam
berhadapan
dengan orang lain. Hal yang
harus di perhatikan dan
menjadi sangat mendasar pada
perkembangan seorang anak
adalah budaya yang mereka
kembangkan di dalam suatu
keluarga dan biasanya anak
yang berkambang di banyak
budaya dapat memperoleh
pelajaran yang lebih mendasar
tentang lingkungan mereka,
lingkungan budaya juga
membentuk cara berpikir dan
berprilaku.
Dari cara berpikir dan berprilaku
tuntu sangat mempengaruhi anak
dalam memperhatikan
diri sendiri atau hubungan mereka
dengan orang lain untuk
membentuk identitas mereka
seperti di Negara Eropa barat dan
Amerika Utara, anak cenderung
memperhatikan dirinya
sendiri “aku bisa mewarnai” atau
“aku bisa bernyanyi” sedangkan
di Negara Asian Afrika
lebih memperlihatkan ke
lingkungan sosisal contohnya
seperti “aku anak hebat” atau “aku
adalah pemain gitar” dan lain
sebagainya. Peran orang tua
sangat penting untuk
membentuk keribadian seorang
anak karena anak-anak yang
masih belajar memerlukan
bimbingan dari orang tua agar
tidak berkembang kearah yang
negatif.
Perbedaan budaya juga sangat
menojol pada karakteristik
seorang anak contohnya dua
orang anak yang yang berumur
3 tahun sama-sama tinggal di
Indonesia tetapi memiliki
budaya yang berbeda, seorang
anak yang tinggal dengan
orang tua yang berbicar
menggukan bahasa Inggris dan
yang tidak menggukan bahasa
Inggris perbedaannya
sangat jelas anak yang sudah
terbiasa tinggal dengan orang
tua yang menggunakan
bahasa Inggris sudah pasti mereka
bisa berbahsa inggis tetapi anak
yang tinggal dengan
orang tua yang berbahasa
Indonesia mereka belum bisa
berbahasa inggris.
Perkembangan yang telah tumbuh
di dalam diri seseorang akan terus
berkembang setiap
masyarakat meneruskan nilai-
nilai dari satu generasi ke
generasi berikutnya, dan dengan
cara seperti itulah peradaban
berlangsung (Sandrock, 2003)
Dalam masyarakat anak-anak
berhubungan dengan teman
sepergaulan lainnya, terkadang
perilaku dan pergaulan yang
salah dapat membawa anak-anak
ke arah negatif, sikap egois, sikap
ingin dihargai, dan
menunjukkan eksistensi dalam
pergaulannya membuat mereka
lebih mudah terjerumus
kearah yang tidak di inginkan,
semakin bertambahnya usia anak
akan mengalami banyak
masalah dan banyak juga
pelajaran yang dapat di ambil
mereka bisa berkembang dan
mereka dapat menyesuaikan diri
pada lingkungan masyarakat
sekitar.
Perkembangan yang sangat
menonjol antar lingkungan
pendidikan misalnya, anak di
Indonesia berumur 8-14 tahun
dengan anak di jepang anak
Indonesia sangat di utamakan
dalam pelajaaran membaca,
menulis, menghitung, sedangkan
anak di Jepang lebih
diutamakan kreatifitasnya di
bandingkan pendidikan formal
seperti yang di tekankan kepada
anak Indonesia . anak di jepang
sangat bersemangat untuk sekolah
sedangkan di Indonesia
anak-anak putus sekolah sangat
banyak, dikarnakan budaya di
Indonesia sudah banyak
anak putus sekolah dan tidak
diberi ganjaran apapun oleh
sebab itu budaya untuk
lingkungan pendidikan di
Indonesia sangat keterbelakang.
Budaya sengat berperan penting
dalam tumbuh kembanga anak
oleh sebab itu orang tua
harus lebih selektif terhadap
budaya-budaya yang anak di
terima oleh anak di kalangan
lingkungan socia
Budaya adalah sesuatu yang sudah
menjadi kebiasaan dan sukar
untuk diubah, budaya
yang diterapkan di dalam
keluarga sangat berpengaruh
kepada perkembangan anak.
Perkembangan biasanya terjadi
secara bertahap dan saling
berhubungan, perkembangan
yang dilakukan di lingkungan
sosial berdampak baik dan
buruk terhadap tahap
perkembangan anak. Pada
perkembangan anak gagasan zona
proksimal sangat penting
karena dalam beberapahal dimasa
pembelajaran anak harus
mendapatkan dukungan dari
luar dan dari aspek lain anak
bisa belajar sendiri tanpa ada
dukungan dari luar. Saat ini
perkembangan sangat di
pengaruhi oleh lingkungan
sosial dan ditambah lagi
semakin
majunya teknologi yang dapat
memberikan kemudahan untuk
mengakses informasi apabila
anak-anak tidak diawasi maka
akan berakibat fatal untuk
perkembangan mereka kedepan.
Beberapa cara untuk orang
tua agar dapat memfasilitasi
perkembangan anak seperti
membimbing untuk belajar
membaca, menulis, dan
berperilaku baik dalam
berhadapan
dengan orang lain. Hal yang
harus di perhatikan dan
menjadi sangat mendasar pada
perkembangan seorang anak
adalah budaya yang mereka
kembangkan di dalam suatu
keluarga dan biasanya anak
yang berkambang di banyak
budaya dapat memperoleh
pelajaran yang lebih mendasar
tentang lingkungan mereka,
lingkungan budaya juga
membentuk cara berpikir dan
berprilaku.
Dari cara berpikir dan berprilaku
tuntu sangat mempengaruhi anak
dalam memperhatikan
diri sendiri atau hubungan mereka
dengan orang lain untuk
membentuk identitas mereka
seperti di Negara Eropa barat dan
Amerika Utara, anak cenderung
memperhatikan dirinya
sendiri “aku bisa mewarnai” atau
“aku bisa bernyanyi” sedangkan
di Negara Asian Afrika
lebih memperlihatkan ke
lingkungan sosisal contohnya
seperti “aku anak hebat” atau “aku
adalah pemain gitar” dan lain
sebagainya. Peran orang tua
sangat penting untuk
membentuk keribadian seorang
anak karena anak-anak yang
masih belajar memerlukan
bimbingan dari orang tua agar
tidak berkembang kearah yang
negatif.
Perbedaan budaya juga sangat
menojol pada karakteristik
seorang anak contohnya dua
orang anak yang yang berumur
3 tahun sama-sama tinggal di
Indonesia tetapi memiliki
budaya yang berbeda, seorang
anak yang tinggal dengan
orang tua yang berbicar
menggukan bahasa Inggris dan
yang tidak menggukan bahasa
Inggris perbedaannya
sangat jelas anak yang sudah
terbiasa tinggal dengan orang
tua yang menggunakan
bahasa Inggris sudah pasti mereka
bisa berbahsa inggis tetapi anak
yang tinggal dengan
orang tua yang berbahasa
Indonesia mereka belum bisa
berbahasa inggris.
Perkembangan yang telah tumbuh
di dalam diri seseorang akan terus
berkembang setiap
masyarakat meneruskan nilai-
nilai dari satu generasi ke
generasi berikutnya, dan dengan
cara seperti itulah peradaban
berlangsung (Sandrock, 2003)
Dalam masyarakat anak-anak
berhubungan dengan teman
sepergaulan lainnya, terkadang
perilaku dan pergaulan yang
salah dapat membawa anak-anak
ke arah negatif, sikap egois, sikap
ingin dihargai, dan
menunjukkan eksistensi dalam
pergaulannya membuat mereka
lebih mudah terjerumus
kearah yang tidak di inginkan,
semakin bertambahnya usia anak
akan mengalami banyak
masalah dan banyak juga
pelajaran yang dapat di ambil
mereka bisa berkembang dan
mereka dapat menyesuaikan diri
pada lingkungan masyarakat
sekitar.
Perkembangan yang sangat
menonjol antar lingkungan
pendidikan misalnya, anak di
Indonesia berumur 8-14 tahun
dengan anak di jepang anak
Indonesia sangat di utamakan
dalam pelajaaran membaca,
menulis, menghitung, sedangkan
anak di Jepang lebih
diutamakan kreatifitasnya di
bandingkan pendidikan formal
seperti yang di tekankan kepada
anak Indonesia . anak di jepang
sangat bersemangat untuk sekolah
sedangkan di Indonesia
anak-anak putus sekolah sangat
banyak, dikarnakan budaya di
Indonesia sudah banyak
anak putus sekolah dan tidak
diberi ganjaran apapun oleh
sebab itu budaya untuk
lingkungan pendidikan di
Indonesia sangat keterbelakang.
Budaya sengat berperan penting
dalam tumbuh kembanga anak
oleh sebab itu orang tua
harus lebih selektif terhadap
budaya-budaya yang anak di
terima oleh anak di kalangan
lingkungan socia
D. Daerah
Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan merupakan masalah yang serius bagi
negara maju maupun negara berkembang di dunia. Tumbuh kembang anak yang optimal
berhubungan dengan lingkungan tempat lahir dan tinggal anak (Hidayat, 2010). Anak yang
lahir dan tinggal di daerah yang rawan terjadi bencana baik berupa bencana alam, perang,
atau konflik bersenjata berisiko tinggi mengalami kegagalan pertumbuhan dan
keterlambatan perkembangan (Aprianingsih,2009).
Dampak perang di Afganistan menyebabkan anak secara fisik dapat terjadi
kekurangan gizi, penyakit (malaria, ISPA, cacar), cedera, cacat, dan secara psikologik anak
mengalami trauma, hal ini akan memengaruhi mortalitas dan morbiditas. Penelitian yang
dilakukan oleh Jeharsae dkk (2013:8) pada anak usia 1-5 tahun di daerah konflik Thailand
menunjukkan gangguan pertumbuhan dan keterlambatan perkembangan meliputi
kemampuan gerak kasar, gerak halus, bahasa dan bicara, serta sosialisasi dan kemandirian.
Faktor risiko untuk anak yang mengalami keterlambatan adalah usia anak, jenis kelamin,
jumlah makan per hari, dan penghasilan keluarga.
Kabupaten Poso adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah yang
sampai saat ini dikategorikan daerah konflik. Situasi ini akan sangat berpengaruh pada
proses kehidupan masyarakat khususnya keluarga yang akan merasa ketakutan dan khawatir
akan keselamatan jiwanya. Terfokusnya keluarga khususnya ibu pada keselamatan jiwa
maka perhatian terhadap kebutuhan anak baik kebutuhan fisik maupun psikologis akan
berkurang yang akan memengaruhi terganggunya tumbuh kembang anak.
E. Fisik
Pertumbuhan fisik adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan merupakan
gejala primer dalam pertumbuhan manusia. Pertumbuhan fisik terjadi sejak masa anak-anak
sampai usia lanjut. Pertumbuhan fisik meliputi: perubahan ukuran tubuh, perubahan proporsi
tubuh, munculnya ciri-ciri kelamin yang utama (primer) dan ciri kelamin kedua (sekunder),
sampai penurunan kondisi fisik. Pertumbuhan dan perkembangan fisik yang penting pada
masa anak-anak awal ialah:
1. Perubahan tinggi badan. Tinggi badan anak rata-rata bertambah 3 (tiga) inci tiap tahun.
Pada usia enam tahun tinggi badan anakanak rata-rata 46,6 inci. Kondisi
memungkinkan anak untuk dapat berjalan dan berlari lebih cepat, memanjat,
melompat, meloncat, dan berjalan di atas papan titian.
2. Perubahan berat badan. Berat badan anak rata-rata bertambah tiga sampai lima pon.
Pada usia enam tahun berat badan laki-laki 49 pon dan berat badan anak perempuan
48,5 pon. Kondisi ini memungkinkan anak dapat mengangkat, melempar, dan
menangkap benda.
3. erbandingan tubuh. Anak usia dua sampai enam tahun cenderung berbentuk kerucut,
dengan perut rata (tidak buncit), dada yang lebih bidang dan rata, bahu lebih luas dan
persegi, lengan dan kaki lebih panjang dan lebih lurus, tangan dan kaki tumbuh lebih
besar.
4. Postur tubuh. Perbedaan postur anak terlihat sejak masa anak-anak, ada yang yang
gemuk (endomorfik), kuat berotot (mesomorfik), dan ada yang kurus (ektomorfik).
5. Tulang dan otot. Otot anak berusia enam tahun menjadi lebih besar, lebih berat, dan
lebih kuat, sehingga anak tampak lebih kurus meskpun berat badannya bertambah.
Pertambahan berat tulang dan otot ini memungkinkan untuk dapat belajar menarik
garis, menulis, menggambar, dan melukis dengan jari.
6. Lemak. Anak yang gemuk (endomorfik) memiliki jaringan lemak yang lebih banyak,
anak kuat berotot (mesomorfik) memiliki jaringan otot yang lebih banyak, dan anak
kurus (ektomorfik) memiliki jaringan otot yang lebih kecil dan jaringan lemak yang
lebih sedikit.
7. Pertumbuhan gigi. Anak-anak usia enam tahun mulai mengalami pergantian gigi susu.
Adapun pertumbuhan dan perkembangan fisik pada anak perempuan adalah sebagai
berikut :
1. Pertumbuhan tulang-tulang (badan menjadi tinggi, anggota-anggota badan menjadi
panjang).
2. Pertumbuhan payudara.
3. Pembesaran pinggul
4. Tumbuh bulu yang halus berwarna gelap di kemaluan.
5. Mencapai pertumbuhan ketinggian badan yang maksimum setiap tahunnya.
6. Bulu kemaluan menjadi keriting.
7. Menstruasi atau haid.
8. Tumbuh bulu-bulu ketiak (Hurlock,1980).
Adapun pertumbuhan dan perkembangan fisik pada anak laki-laki adalah sebagai
berikut :
1. Pertumbuhan tulang-tulang.
2. Testis (buah pelir) membesar.
3. Tumbuh bulu kemaluan yang halus, lurus dan berwarna gelap.
4. Awal perubahan suara.
5. Ejakulasi (keluarnya air mani)
6. Bulu kemaluan menjadi keriting.
7. Pertumbuhan tinggi badan mencapai tingkat maksimum setiap tahunnya.
8. Tumbuh rambut-rambut halus di wajah (kumis, jenggot).
9. Tumbuh bulu ketiak.
10. Akhir perubahan suara.
11. Rambut-rambut di wajah bertambah tebal dan gelap.
12. Tumbuh bulu di dada (Hurlock,1980).
Perkembangan gonad menyebabkan ciri-ciri seks primer bertambah besar dan
fungsinya menjadi matang, dan ciri-ciri seks skunder (rambut kemaluan, kulit, pinggul,
payudara, kelenjar lemak, otot, dan suara) mulai berkembang (Hurlock, 1980: 190).
Perkembangan fisik pada anak dan remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain
adalah: keluarga, gizi, gangguan emosional, jenis kelamin, status sosial ekonomi, kesehatan,
dan pengaruh bentuk tubuh.
Perkembangan peserta didik akan mempengaruhi proses belajar peserta didik. Peserta
didik melakukan aktifitas fisik sebagai pengalaman belajar. Kondisi panca indra, normalitas
anggota tubuh, ataupun gizi dan keadaan kesehatan secara menyeluruh mempengaruhi
proses belajar peserta didik. Penglihatan dan pendengaran sangat diperlukan dalam beljar.
Gangguan pada fungsi panca indra menyebabkan perhatian individu tidak optimal dalam
belajar. Pendidik perlu menyadari bahwa perkembangan fisik yang dialami peserta didik
dalam proses perkembangannya mempengaruhi proses belajar peserta didik. Oleh karena itu,
pendidik perlu memberi informasi kepada peserta didik tentang hal ini sehingga mereka
dapat memahami secara benar dan siap secara mental menghadapinya.
F. Mental
Menurut WHO, kesehatan mental adalah kondisi sejahtera yang disadari individu yang
di dalamnya terdapat kemampuan untuk mengelola stress dalam hidup secara wajar, bekerja
secara produktif, serta mampu berperan serta di dalam komunitas pergaulannya (dalam
Dewi, K. S., 2012). Kesehatan jiwa anak merupakan aspek penting untuk menentukan
kualitas bangsa. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang mendukung merupakan sumber
daya manusia yang dapat menjadi aset bangsa tidak ternilai (Indarjo, S., 2009).
Kesehatan jiwa atau mental health atau mental hygiene (dalam undang-undang nomor
23 tahun 1992 pasal 24,25,26 dan 27) merupakan kondisi mental (jiwa) yang sejahtera yang
memberikan dampak kepada kehidupan yang harmonis dan produktif. Ciri- ciri individu
yang sehat jiwa secara umum, yaitu :
1. memiliki kesadaran yang penuh tentang kemampuan yang dimiliki mental atau jiwa,
2. kemampuan menghadapi dan mengelola stress/tekanan kehidupan secara wajar,
3. mampu beraktivitas atau bekerja dengan produktif untuk mencukupi kebutuhan
hidupnya,
4. memiliki kemampuan berperan serta kepada lingkungan,
5. kemampuan menerima diri apa adanya,
6. memiliki kemampuan memelihara rasa nyaman kepada orang lain (dalam Indarjo, S.,
2009).
Jadi, bagi setiap peserta didik pada setiap tahapan perkembangan membutuhkan
kesehatan mental yang baik melalui ciri-ciri jiwa yang sehat di atas, khususnya remaja yang
seringkali mengalami hambatan dalam mencapai kesehatan mental dalam tahapan
perkembangan mereka.
G. Emosi
Emosi merupakan gejala perasaan disertai dengan perubahan atau perilaku fisik
(Sunarto, 2006: 26). Perasaan menunjukkan suasana batin yang lebih tenang dan tertutup
karena tidak banyak melibatkan aspek fisik, sedangkan emosi menggambarkan suasana batin
yang dinamis dan terbuka karena melibatkan ekspresi fisik. Misalnya, marah ditunjukkan
dengan teriakan suara keras, atau tingkah laku yang lain. Begitu pula sebaliknya seseorang
yang gembira akan melonjak-lonjak sambil tertawa lebar.
Mengelola emosi (managing emotions) yaitu menangani emosi sendiri agar berdampak
positif bagi pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan
sebelum tercapainya satu tujuan, serta mampu menetralisir tekanan emosi. Setiap anak
mempunyai cara tersendiri dalam mengelola emosinya. Pengelolaan emosi tidak sama antara
anak satu dengan anak yang lain karena tidak semua anak dan mungkin orang dewasa bisa
dan mahir dalam mengelola emosinya dengan baik.
Orang yang memiliki kecerdasan emosional adalah orang yang mampu menguasai,
mengelola dan mengarahkan emosinya dengan baik. Usia tidak menjadi tolak ukur
seseorang memiliki kecerdasan emosional karena pada kenyataannya, masih banyak orang
dewasa yang belum bisa untuk mengelola emosi dengan baik. Banyak kasus yang terjadi,
orang dewasa meluapkan emosinya secara berlebihan di depan umum tanpa peduli seberapa
tua umurnya.
Anak sekolah dasar berada pada usia masa anak-anak awal sampai pertengahan hingga
akhir. Mereka masih dalam proses mengembangkan dan belajar untuk mengelola emosi.
Usia anak yang masih kecil bukan menjadi tolak ukur bahwa anak belum memiliki
kecerdasan emosional, hanya saja anak perlu perhatian dan bimbingan dari orang
sekelilingnya yang memahami benar bagaimana seharusnya mengelola emosi dengan tepat.
Emosi bukan hanya tentang kemarahan tapi juga perasaan yang umum dirasakan saat
mengalami atau melakukan sesuatu. Pola Emosi pada anak meliputi rasa takut, malu,
khawatir, cemas, marah, cemburu, duka cita, keingintahuan dan kegembiraan. Pada anak
sekolah dasar, emosi yang sering dirasakan adalah rasa takut, khawatir, marah, cemburu,
merasa bersalah dan sedih, ingin tahu, gembira, cinta dan kasih sayang (Sunarto,2006:28).
Oleh sebeb itu, guru diharapkan dapat memperhatikan dan memahami emosi para anak
mereka. Dengan begitu dapat membantu guru mempercepat proses pembelajaran yang lebih
bermakna dan permanen. Guru harus memperhatikan dan memahami emosi anak dengan
cara membangun ikatan emosional, menciptakan kesenangan dalam belajar, menjalin
hubungan dan menyingkirkan segala ancaman dari suasana belajar. Dengan memahami
perbedaan setiap anak, diharapkan agar tidak ada penyimpangan seperti kekerasan antara
guru pada anak atau antara anak satu dengan anak yang lainnya, serta dapat memberikan
sumbangan positif bagi prestasi belajar mereka di sekolah.
H. Perilaku
Cara keluarga mendidik dan menerapkan pola asuh terhadap anak akan mempengaruhi
perilaku belajar anak. Perilaku belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku karena
perubahan tingkah laku seseorang dalam proses belajar disebabkan oleh pengalamannya
yang berulang-ulang dalam situasi itu, dan perubahan tingkah laku tersebut tidak bisa
dijelaskan atas dasar kecenderungan respons pembawaan, kematangan atau keadaan sesaat
seseorang (misalnya kelelahan, atau pengaruh obat) (Sobur, 2003: 221).
Belajar pada dasarnya adalah suatu proses aktivitas mental individu dalam berinteraksi
dengan lingkunganya sehingga menghasilkan perubahan tingkah laku yang bersifat positif
baik perubahan dalam aspek pengetahuan, sikap maupun psikomotorik (Sanjaya, 2009: 229).
Perilaku belajar merupakan perubahan dalam tingkah laku, perubahan itu bisa mengarah
pada perilaku baik dalam proses belajar, akan tetapi ada juga kemungkinan mengarah pada
tingkah laku lebih buruk dalam proses belajar, ini berarti berhasil dan gagalnya pencapaian
tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami peserta didik, baik
ketika berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri (Syah, 2013:
87).
Adapun ciri-ciri perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar adalah
sebagai berikut :
1. Perubahan intensional dalam arti bukan pengalaman atau praktik yang dilakukan
dengan segaja dan disadari, atau dengan kata lain bukan kebetulan.
2. Perubahan positif dan aktif dalam arti baik, bermanfaat, serta sesuai dengan harapan.
Adapun perubahan aktif artinya tidak terjadi dengan sendirinya seperti karena proses
kematangan, tetapi karena usaha peserta didik sendiri.
3. Perubahan efektif dan fungsional dalam arti perubahan tersebut membawa pengaruh,
makna, dan manfaat tertentu bagi peserta didik (Syah, 2013: 114).
DAFTAR RUJUKAN

Aprianingsih.2009. Indikator perbaikan kesehatan lingkungan anak. Jakarta: EGC


Dewi, K. S. 2012. Buku ajar kesehatan mental.
Djaali.2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta. PT Bumi Aksara
Gerungan.2004. Psikologi Sosial. Bandung. PT Refika Aditama
Hidayat. 2010. Optimalisasi Penggunaan KPSP Pada Keluarga Sebagai Upaya Pencegahan
Gangguan Perkembangan Anak. Prosiding Dalam Seminar Sains.
Hurlock, Elizabeth B, Developmental Psychology. 1980. Terj. Istiwidayanti dan Soedjarwo,
Psikologi Perkembangan Sepanjang Rentang Kehidupan, Jakarta: Erlangga,
Indarjo, S. 2009. Kesehatan jiwa remaja. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 5(1).
Jeharse R, Sangthong R, Wichaidit W, Chongsuvivatwong V.2013. Growth and development of
children aged 1-5 years in low-intensity armed conflict areas in Southern Thailand: a
community-based survey. Conflict and Health. 7 (1): 8.
Sanjaya, Wina. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran. Cet. II. Jakarta: Kencana,
Santrock, J.W. 2003. Life- Span Development. Perkembangan Masa Hidup. Edisi Kelima. Jilid
2. Alih Bahasa: Damanik, J., dan Chusairi, A. Jakarta: Erlangga.
Slameto. 2015. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta
Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum Lintas Sejarah. Jawa Barat : CV Pustaka Setia,
Sugihartono, dkk. 2015. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press
Sunarto., Hartono, A. 2006. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : PT. Rineka Cipta
Syah, Muhibbin. 2013. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Cet. 18. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya,.

Anda mungkin juga menyukai