Anda di halaman 1dari 3

LEARNING JOURNAL

Program Pelatihan : Pelatihan Dasar CPNS


Angkatan :4
Mata Pelatihan : Akuntabilitas
Widyaiswara : Sunarto, S.Sos., M.Si.
Nama Peserta : Stefanus Dewanto Priyagung Jati Barata
Nomor Presensi : 32
Lembaga Penyelenggara Pelatihan : Pusdiklat Pegawai Kemendikbud

A. Pokok Pikiran
1. Pengertian Akuntabilitas
Akuntabilitas merupakan kewajiban pertanggungjawaban yang mesti dicapai dan merujuk terhadap
kewajiban setiap orang, kelompok, atau institusi untuk memenuhi amanah dan tanggung jawab.
Amanah PNS yaitu menjamin terwujudnya nilai-nilai publik seperti:
a. Bisa mengambil pilihan tepat dan benar saat terjadi konflik kepentingan;
b. Mempunyai pemahaman dan kesadaran untuk mencegah dan menghindari keterlibatan PNS
dalam politik praktis;
c. Adil dan sama dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan public kepada seluruh
warga;
d. Bersikap dan berperilaku konsisten dan dapat diandalkan dalam penyelenggaraan pemerintahan.
2. Aspek-Aspek Akuntabilitas
a. Akuntabilitas adalah sebuah hubungan (Accountability is a relationship);
b. Akuntabilitas berorientasi pada hasil (Accountability is results oriented);
c. Akuntabilitas membutuhkan adanya laporan (Accountability require reporting);
d. Akuntabilitas memerlukan konsekuensi (Accountability is meaningless without consequences);
e. Akuntabilitas memperbaiki kinerja (Accountability improves performance).
3. Jenis Akuntabilitas
Ada dua macam Akuntabilitas Publik, yaitu: akuntabilitas vertikal (vertical accountability), dan
akuntabilitas horizontal (horizontal accountability). Akuntabilitas vertikal merupakan
pertanggungjawaban atas pengelolaan dana kepada otoritas yang lebih tinggi. Akuntabilitas
horizontal merupakan pertanggungjawaban kepada masyarakat luas.
4. Tingkatan Akuntabilitas
Akuntabilitas mempunyai tingkatan sesuai dengan gambar 1 dibawah ini, yaitu:
a. Akuntabilitas Personal (Personal Accountability);
b. Akuntabilitas Individu;
c. Akuntabilitas Kelompok;
d. Akuntabilitas Organisasi;
e. Akuntabilitas Stakeholder.
5. Nilai-Nilai Dasar Akuntabilitas
Nilai-nilai dasar akuntabilitas bias dilihat dalam beberapa
point antara lain:
• Kepemimpinan: Pimpinan memberi contoh pada yang
lainnya. Adanya komitmen yang tinggi dalam
melakukan pekerjaan; Gambar 1 Tingkat Akuntabilitas
• Transparansi: Keterbukaan informasi dapat mendorong terciptanya akuntabilitas;
• Integritas: Mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku;
• Tanggungjawab: Kewajiban bagi setiap orang dan lembaga, bahwa ada konsekuensi dari
setiap tindakan yang telah dilakukan, yang disebabkan adanya tuntutan untuk bertanggung
jawab terhadap keputusan yang telah dibuat;
• Keadilan: Merupakan landasan utama dari akuntabilitas yang harus dipelihara dan
dipromosikan karena ketidakadilan bisa menghancurkan kepercayaan dan kredibilitas
organisasi yang mengakibatkan kinerja tidak maksimal;
• Kepercayaan: Rasa keadilan akan membawa pada sebuah kepercayaan;
• Keseimbangan: Diperlukan adanya keseimbangan antara kapasitas sumber daya dan keahlian
yang yang dimiliki dengan harapan yang ingin dicapai;
• Kejelasan: Fokus utamanya adalah mengetahui kewenangan, peran dan tanggungjawab, misi
organisasi, kinerja yang diharapkan organisasi, dan sistem pelaporan kinerja;
• Konsistensi: Menjamin stabilitas untuk mencapai lingkungan yang akuntabel.
6. Kasus Terkait Akuntabilitas
Akuntabilitas Rendah, Ahok: Banyak SKPD Masih "Main"
Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengakui bahwa kinerja sejumlah satuan kerja
perangkat daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum akuntabel. Hal ini
menanggapi data Perkembangan Nilai Akuntabilitas Kinerja Pemerintah Provinsi 2015 yang dirilis
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB). Pemprov
DKI sendiri berada di peringkat 18 dengan nilai 58,57 atau setara dengan predikat CC.
"Sudah kebiasaan enggak melayani ya, kan kebiasaan proyeknya nunjuk langsung, otaknya
sudah proyeknya selama ini," kata Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (20/1/2016).
Selain itu, meski di tataran pejabat permainan dan penyelewengan sudah minim, hal itu
masih ditemukan pada petugas-petugas lapangan. Contohnya di Dinas Kebersihan DKI dengan data
mengenai petugas kebersihan banyak yang fiktif. "Ya ada beberapa dinas lumayan sudah. Misalnya,
(Dinas) Kebersihan relatif oke, tapi bawahnya masih main, yang fiktif banyak. Saat saya minta
pindah ke kelurahan ngakunya 20-30 orang, tahunya cuma empat orang. Begitu saya minta absen
lurah ketahuan enggak ada orang," jelas Ahok.
Penggelembungan jumlah personel juga terjadi pada petugas penanganan prasarana dan
sarana umum (PPSU). Hal ini akan menguras dana APBD, sementara banyak kewajiban yang
terbengkalai. "Mana mungkin bilang ada 12 ribu orang, artinya 6 ribu sampai 7 ribu orang hilang
dong. Taman suruh saya pindah ke kelurahan, ketahuan lagi bohong," imbuh Ahok.
Kebiasaan "permainan" yang terjadi di birokrasi ini sudah berlangsung sejak lama. Ahok
mengatakan hal ini karena kerjasama dengan pihak swasta, dalam hal penanganan sampah, yang
membuat penyelewengan tumbuh subur. "Memang sudah kebiasaan main dengan swasta, kalau dulu
kan kebersihan bayar ke swasta. Itu yang terjadi di kita. Lalu ada juga yang main penunjukan
langsung, eselon III paling parah, eselon II mungkin dapet setoran. Ini pelan-pelan harus diberantas,"
jelas mantan Bupati Belitung Timur ini.
(https://megapolitan.okezone.com/read/2016/01/20/338/1292881/akuntabilitas-rendah-ahok-banyak-
skpd-masih-main diakses pada tanggal 26 Agustus 2020 pukul 2:36 PM)
B. Penerapan
PNS yang merupakan abdi negara tentu tidak lupa bahwa segala fasilitas yang dia peroleh umumnya
bersumber dari negara dan rakyat, baik gaji maupun fasilitas, maka berdasarkan materi Akuntabilitas
yang disampaikan pada hari Rabu tanggal 26 Agustus 2020, ada beberapa gagasan pribadi yang bisa
diterapkan untuk mengembangkan peran dan perilaku di tempat kerja.
1. Perilaku PNS terhadap penggunaan sumber daya Negara antara lain :
a. PNS bertanggung jawab untuk pengeluaran yang resmi;
b. PNS menggunakan sumber daya yang didanai publik secara teliti dan efisien. Hal ini termasuk
fasilitas kantor dan peralatan, kendaraan, dll;
c. PNS hanya menggunakan pengeluaran yang berhubungan dengan pekerjaan;
d. PNS tidak menggunakan waktu kantor atau sumber daya untuk pekerjaan partai politik atau
keuntungan pribadi atau keuangan;
e. PNS mematuhi kebijakan dan pedoman dalam penggunaan sumber daya tersebut secara
bertanggung jawab;
f. PNS berhati-hati untuk memastikan bahwa setiap perjalanan dinas yang dilakukan untuk tujuan
resmi dan benar-benar diperlukan;
g. PNS menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung jawab, efektif dan
efisien.
2. Perilaku berkaitan dengan penyimpanan dan penggunaan data serta informasi pemerintah
antara lain:
a. PNS bertindak dan mengambil keputusan secara transparan;
b. PNS menjamin penyimpanan informasi yang bersifat rahasia;
c. PNS mematuhi perencanaan yang telah ditetapkan;
d. PNS diperbolehkan berbagi informasi untuk mendorong efisiensi dan kreativitas;
e. PNS menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara;
f. PNS memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada pihak lain yang
memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan;
g. PNS tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status, kekuasaan, dan jabatannya
untuk mendapat atau mencari keuntungan atau manfaat bagi diri sendiri atau untuk orang lain.
3. Perilaku PNS berkaitan dengan konflik kepentingan :
a. PNS harus dapat memastikan kepentingan pribadi atau keuangan tidak bertentangan dengan
kemampuan mereka untuk melakukan tugas-tugas resmi mereka dengan tidak memihak;
b. Ketika konflik kepentingan yang timbul antara kinerja tugas publik dan kepentingan pribadi atau
personal, maka PNS dapat memilih untuk kepentingan umum;
c. PNS memahami bahwa konflik kepentingan sebenarnya dianggap ada atau berpotensi ada di
masa depan. Situasi yang dapat menimbulkan konflik kepentingan meliputi :
1) Hubungan dengan orang-orang yang berurusan dengan lembaga-lembaga yang melampaui
tingkat hubungan kerja profesional;
2) Menggunakan keuangan organisasi dengan bunga secara pribadi atau yang berurusan dengan
kerabat seperti:
- Memiliki saham atau kepentingan lain yang dimiliki oleh PNS di suatu perusahaan atau
bisnis secara langsung, atau sebagai anggota dari perusahaan lain atau kemitraan, atau
melalui kepercayaan;
- Memiliki pekerjaan di luar, termasuk pekerjaan sukarela, janji atau direktur, baik dibayar
atau sukarela;
- Menerima hadiah atau manfaat.
d. Jika konflik muncul, PNS dapat melaporkan kepada pimpinan secara tertulis untuk mendapatkan
bimbingan mengenai cara terbaik delam mengelola situasi secara tepat;
e. PNS dapat menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan tugasnya;
Dari perilaku di atas, maka PNS dapat mengambil keputusan yang akuntabel apabila konflik kepentingan
terjadi. Pengambilan keputusan secara akuntabel dan beretika berarti dapat membuat keputusan dan
tindakan yang tepat dan akurat. Sebuah keputusan yang akuntabel dan beretika sangat penting dalam
menjaga kepercayaan dan keyakinan terhadap masyarakat dalam pekerjaan pemerintahan. Dalam
praktiknya, penempatan kepentingan umum berarti bahwa:
a. Memastikan tindakan dan keputusan yang berimbang dan tidak bias;
b. Bertindak adil dan mematuhi prinsip-prinsip due process;
c. Akuntabel dan transparan.
d. Melakukan pekerjaan secara penuh, efektif dan efisien;
e. Berperilaku sesuai dengan standar sektor publik, kode sektor publik etika sesuai dengan
organisasinya;
f. Mendeklarasikan secara terbuka bila terjadi adanya potensi konflik kepentingan.