Anda di halaman 1dari 3

LEARNING JOURNAL

Program Pelatihan : Pelatihan Dasar CPNS


Angkatan :4
Mata Pelatihan : Anti Korupsi
Widyaiswara : Ir. Mazia Centia Murni M.M.Pd.
Nama Peserta : Stefanus Dewanto Priyagung Jati Barata
Nomor Presensi : 32
Lembaga Penyelenggara Pelatihan : Pusdiklat Pegawai Kemendikbud

A. Pokok Pikiran
1. Sadar Anti Korupsi
a. Dampak korupsi tidak hanya sekedar menimbulkan kerugian keuangan negara namun dapat
menimbulkan kerusakan kehidupan yang tidak hanya bersifat jangka pendek tetapi dapat pula
bersifat jangka panjang.
b. Membahas fenomena dampak korupsi sampai pada kerusakan kehidupan dan dikaitkan dengan
tanggungjawab manusia sebagai yang diberi amanah untuk mengelolanya dapat menjadi sarana
untuk memicu kesadaran diri para PNS untuk anti korupsi.
c. Kesadaran diri anti korupsi yang dibangun melalui pendekatan spiritual, dengan selalu ingat
akan tujuan keberadaannya sebagai manusia di muka bumi, dan selalu ingat bahwa seluruh ruang
dan waktu kehidupannya harus dipertanggungjawabkan, dapat menjadi benteng kuat untuk anti
korupsi.
d. Tanggung jawab spiritual yang baik pasti akan menghasilkan niat yang baik dan mendorong
untuk memiliki visi dan misi yang baik, hingga selalu memiliki semangat untuk melakukan
proses atau usaha terbaik dan mendapatkan hasil terbaik, agar dapat dipertanggungjawabkan
juga secara publik.
2. Semakin Jauh dari Korupsi
a. Kata kunci untuk menjauhkan diri dari korupsi adalah internalisasi integritas pada diri sendiri
dan hidup atau bekerja dalam lingkungan yang menjalankan sistem integritas dengan baik.
b. Penyelarasan nilai anti korupsi dengan nilai-nilai organisasi merupakan kontribusi untuk dapat
mengetahui “apakah nilai-nilai organisasi yang akan menjadi tempat ASN bekerja, telah selaras
dan menampung secara maksimal nilai-nilai dasar anti korupsi?”. Keselarasan tersebut akan
mengurangi dilema etik dan menjadi payung bagi kontribusi ASN dalam membangun sistem
integritas.
c. Penanaman nilai integritas dapat dilakukan dengan pendekatan beragam cara, diantaranya
melalui : 1) Kesediaan, 2) Identifikasi dan 3) Internalisasi. Tingkat permanensi penanaman
ataupun perubahan sikap dan perilaku melalui pendekatan internalisasi akan lebih permanen
dibandingkan dengan identifikasi dan kesediaan.
d. Nilai, keyakinan, kebiasaan, dan konsep diri manusia terdapat pada area bawah sadar. Untuk
melakukan penanaman atau perubahan nilai, keyakinan, kebiasaan dan konsep diri, perlu
dilakukan dengan pendekatan atau teknik khusus yang cocok untuk bawah sadar.
e. Teknik-teknik khusus untuk bawah sadar dapat dilakukan apabila kemampuan Anchoring,
Utilisasi, Rileksasi, Amplifiying, Modality, Asosiasi dan Sugesti dikuasai dengan baik,
kemampuan tersebut disingkat menjadi AURA MAS.
f. Tunas Integritas adalah individu yang terpilih untuk memastikan lebih banyak lagi personil
organisasi yang memiliki integritas tinggi serta berkiprah nyata dalam membangun sistem
integritas di organisasinya.
g. Beragam jenis dan bentuk sistem integritas untuk menjaga suatu organisasi mencapai tujuannya
secara berintegritas, diantaranya : 1) Kebijakan perekrutan dan promosi, 2) Pengukuran Kinerja,
3) Sistem dan Kebijakan Pengembangan SDM, 4) Pengadaan Barang dan Jasa, 5) Kode Etik dan
Pedoman Perilaku, 6) Laporan Harta Kekayaan Penyelengara Negara, 7) Program Pengendalian
Gratifikasi, 8) dan lain-lain.
h. Menanamkan integritas dan membangun sistem integritas merupakan suatu kerja yang simultan
sampai terbentuk budaya integritas di organisasi.
i. Dalam upaya sistem mampu memastikan organisasi mencapai tujuannya dan menjaga individu
dalam organisasi, maka kematangan pelaksanaan programnya dilaksanakan secara optimal lewat
tahapan :1) Not Performance (belum ada kinerja), 2) Adhoc, (sementara, reaktif , mendadak) 3)
Planned (terencana dan teroganisasi dengan baik) 4) Institutionalized (menyatu dengan sistem
organisasi 5) Evaluated (telah dapat dievaluasi) 6) Optimized (dapat di optimalkan).
3. Tokoh Keteladanan dalam Anti Korupsi
Hoegeng Pahlawan Anti Korupsi
Mantan Presiden Abdurrahman Wahid pernah bercanda, "Di negeri ini ada tiga polisi yang tidak bisa
disuap yakni patung polisi, polisi, tidur dan Hoegeng. " Kalimat tersebut diutarakan Gus Dur
lantaran Jenderal Hoegeng memang merupakan ikon polisi jujur dan antisuap. Sepak terjangnya
sebagai seorang polisi yang amanah memang patut ditiru, bukan untuk kalangan polisi dan ASN
saja, melainkan masyarakat umum pun dapat belajar dari kisah kehidupan Jenderal Hoegeng.
Jenderal Hoegeng lahir di Pekalongan, 14 Oktober 1921. Ayahnya, Sukarjo Hatmodjo,
pernah menjadi kepala kejaksaan di Pekalongan. Nama pemberian ayahnya untuk Hoegeng adalah
Iman Santoso. Saat kecil, Hoegeng sering dipanggil Bugel (gemuk), lama kelamaan menjadi
Bugeng dan akhirnya berubah jadi Hugeng.
Ia mengenyam pendidikan
di HIS dan MULO Pekalogan,
kemudian AMS A Yogyakarta.
Setelah itu, Hoegeng melanjutkan
pendidikan di Recht Hoge School
(Sekolah Tinggi Hukum) di
Batavia dan kemudian masuk
Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian
(PTIK). Setelah lulus dari PTIK
tahun 1952, ia ditempatkan di Jawa
Timur dan menjadi Kepala
Reskrim di Sumatera Utara.
Hoegeng disambut secara unik, rumah pribadi dan mobil telah disediakan oleh beberapa
cukong perjudian. Ia menolak dan lebih memilih tinggal di hotel sebelum dapat rumah dinas. Masih
ngotot, rumah dinas itu kemudian juga dipenuhi perabot oleh tukang suap itu. Kesal, ia
mengultimatum agar agar barang-barang itu diambil kembali oleh pemberi dan karena tidak dipenuhi
akhirnya perabot itu dikeluarkan secara paksa oleh Hoegeng dari rumahnya dan ditaruh di pinggir
jalan. Maka gemparlah kota Medan karena ada seorang kepala polisi yang tidak mempan disogok.
Setelah bertugas di Medan, Hoegeng ditugaskan di Jakarta. Untuk sementara ia dan istri
menginap di garasi rumah mertuanya di Menteng. Kemudian ia ditugaskan sebagai kepala Djawatan
Imigrasi. Sehari sebelum diangkat, ia menutup usaha kembang istrinya di jalan Cikini karena
khawatir orang-orang yang berurusan dengan imigrasi sengaja memborong bunga untuk
mendapatkan fasilitas tertentu.
Ketika menjabat sebagai Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet, Hoegeng seharusnya
mendapat mobil dinas dan mobil keluarga. Ia menolak satu mobil, yaitu mobil keluarga dengan
alasan tidak punya garasi mobil lagi, namun karena sudah ketentuan, mobil tersebut akhirnya
diterima. Akan tetapi, mobil tersebut disimpan di rumah sekretarisnya dan hanya akan dipakai ketika
perlu saja.
Selain itu, Hoegeng juga pernah menerima hadiah mobil dari perusahaan Dasaad Musin
Concern yang memegang lisensi beberapa mobil merek Eropa dan Jepang. Namun, oleh Hoegeng
surat pemberitahuan hadiah tersebut tak ditanggapi dan malah diberikan kepada seorang teman.
Selain mobil, Hoegeng juga pernah menolak hadiah dua motor. Oleh Hoegeng, kedua motor tersebut
langsung dikembalilan pada hari kedatangan. Ia memang tak pernah mau menerima hadiah-hadiah
yang tidak jelas juntrungannya.
Pada tahun 1968, Hoegeng diangkat menjadi Kapolri. Ketika menjadi Kapolri, pemilik
rumah yang disewa Hoegeng tidak mau dibayar. Ia akhirnya harus membayarnya lewat wesel.
Hoegeng memang sangat menghindari politik balas budi meski dalam bentuk yang paling sederhana.
Dalam jabatan tersebut terjadi beberapa kasus yang menarik perhatian publik seperti Sum Kuning,
tewasnya mahasiswa ITB Rene Coenrad dan penyelundupan Robby Tjahyadi. Keuletan
menuntaskan kasus besar itu menyebabkan Hoegeng suatu saat berhadapan dengan lingkaran dekat
Presiden. Hoegeng tetap konsisten, akibatnya ia diberhentikan oleh Presiden Soeharto walaupun
masa jabatannya sebetulnya belum berakhir dengan alasan regenerasi. Presiden Soeharto sempat
menawari Hoegeng menjadi Duta Besar, tetapi ia menolaknya. Jenderal Hoegeng pun meninggal
dunia pada 14 Juli 2004 silam karena stroke yang dideritanya.
Hoegeng berpesan mengenai cara memberantas korupsi yang menurutnya efektif.
"Kalau mau menghilangkan korupsi di negara ini, sebenarnya gampang. Ibaratnya, kalau kita harus
dimulai dari atas ke bawah. Membersihkan korupsi juga demikian. Harus dimulai dengan cara
membersihkan korupsi di tingkat atas atau pejabatnya lebih dulu, lalu ke turun badan atau level
pejabat eselonnya dan akhirnya ke kaki hingga telapak atau ke pengawal bawah," kata Hoegeng
kepada anaknya Didit Hoegeng.
Sumber:
(http://lipi.go.id/berita/single/-soeprapto-dan-hoegeng:-pahlawan-antikorupsi/3317. Diakses pada
hari Selasa tanggal 1 September 2020 pukul 4.40 PM WIB)
(https://www.liputan6.com/news/read/3189836/kisah-3-tokoh-indonesia-teladan-antikorupsi.
Diakses pada hari Selasa tanggal 1 September 2020 pukul 4.44 PM WIB)
(https://www.kompas.com/tren/read/2020/06/21/142300165/diusulkan-jadi-pahlawan-nasional-ini-
profil-jenderal-hoegeng-dr-kariadi-dan?page=all. Diakses pada hari Selasa tanggal 1 September 4.50
PM WIB)
B. Penerapan
Melawan korupsi sangat membutuhkan perjuangan khususnya bagi para PNS karena melalui diklatsar PNS
akan dibekali dengan materi Anti Korupsi, melawan krouspsi tentunya memerlukan sebuah terobosan dan
kemauan karena itu untuk melawan korupsi harus dimulai, dimulai dari hal-hal kecil, dan dimulai dari diri
sendiri.
Melawan anti korupsi tentunya harus dimulai dari pola pikir karena pola pikir/mindset kita lah yang
kadang membuat kita terjerat untuk melakukan korupsi, oleh karena itu kita wajib menanamkan dalam
mindset kita bahwa korupsi merupakan sebuah kejahatan dan dosa besar yang dilarang dalam agama
manapun.
Melalui pola pikir maka melahirkan tindakan, tindakan akan melahirkan kebiasaan, kebiasaan akan
melahirkan karakter dan karakter pada akhirnya akan menentukan nasib kita masing-masing. Dengan
menjadi PNS yang anti korupsi maka akan menjadi awal untuk menciptakan birokrasi yang bersih dan
layanan publik yang baik, PNS sebagai aparartur tentunya merupakan ujung tombak untuk memberikan
layanan yang terbaik kepada masyarakat .
Untuk menjadi PNS yang anti korupsi maka kita wajib menerapkan sikap perilaku anti korupsi. Ada
tiga aspek dalam sembilan nilai antikorupsi yang bisa diterapkan di lingkungan kerja, pertama adalah inti
yang meliputi jujur, disiplin, dan tanggungg jawab. Kedua adalah sikap yang meliputi adil, berani, dan
peduli. Ketiga adalah etos kerja yang meliputi kerja keras, mandiri, dan sederhana.