Anda di halaman 1dari 3

LEARNING JOURNAL

Program Pelatihan : Pelatihan Dasar CPNS


Angkatan :4
Mata Pelatihan : Etika Publik
Widyaiswara : Drs. Ali Sadikin M.M.Pd
Nama Peserta : Stefanus Dewanto Priyagung Jati Barata
Nomor Presensi : 32
Lembaga Penyelenggara Pelatihan : Pusdiklat Pegawai Kemendikbud

A. Pokok Pikiran

1. Kode Etik dan Perilaku Pejabat Publik


a. Pelayanan Publik yang profesional selain membutuhkan kompetensi teknis dan kepemimpinan,
namun juga kompetensi etika. Oleh sebab itu harus dipahami etika dan kode etik pejabat publik.
Tanpa mempunyai kompetensi etika, pejabat cenderung menjadi tidak peka, tidak peduli dan
bisa diskriminatif, terutama pada masyarakat kelas bawah yang tidak beruntung. Etika publik
merupakan refleksi kritis yang mengarahkan bagaimana nilai-nilai kejujuran, solidaritas,
keadilan, kesetaraan, dan lain-lain dipraktikkan dalam wujud keprihatinan dan kepedulian
terhadap kesejahteraan masyarakat. Tujuan Kode Etik Profesi untuk mengatur tingkah laku/etika
suatu kelompok khusus dalam masyarakat melalui ketentuan-ketentuan tertulis yang diharapkan
dipegang teguh oleh sekelompok profesional tertentu.
b. Mengubah perilaku pejabat publik sesuai dengan penerapan kode etik Aparatur Sipil Negara
seperti :
a. Berubah dari penguasa menjadi pelayan;
b. Berubah dari ’wewenang’ menjadi ’peranan’;
c. Menyadari bahwa jabatan publik adalah amanah, yang harus dipertanggung jawabkan
bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat.

2. Bentuk-Bentuk Kode Etik dan Implikasinya


Umumnya kode etik biasanya merujuk pada kodifikasi etika publik yang berlaku di dalam profesi
tertentu. Bagi Aparatur Sipil Negara yang merupakan jabatan generik tidak ada rumusan kode etik
yang berlaku bagi semua jenis pekerjaan. Maka kode etik administrasi negara biasanya dirujuk
posisinya berada diantara etika profesi dan etika politik. Seperti tertuang dalam Undang-Undang No.
5 Tahun 2014 sudah secara implisit menghendaki bahwa Aparatur Sipil Negara yang umum disebut
sebagai birokrat bukan sekadar merujuk kepada jenis pekerjaan tetapi merujuk kepada sebuah profesi
pelayan publik.
Kode Etik mencoba merumuskan nilai-nilai etis luhur ke dalam bidang tertentu, dalam hal
ini pada tugas-tugas pelayanan publik.Tentu saja Kode Etik sekadar merupakan pedoman bertindak
yang sifatnya eksplisit. Mengenai pelaksanaannya dalam perilaku nyata, tergantung kepada niat baik
dan sentuhan moral yang ada dalam diri para pegawai atau pejabat sendiri. Namun karena kode etik
dirumuskan untuk menyempurnakan pekerjaan di sektor publik, mencegah hal-hal buruk, dan untuk
kepentingan bersama dalam organisasi publik, setiap pegawai dan pejabat diharapkan menaatinya
dengan kesadaran yang tulus.
Paham idealisme etik mengatakan bahwa pada dasarnya setiap manusia adalah baik dan suka
hal-hal yang baik. Apabila ada orang-orang yang menyimpang dari kebaikan, itu semata-mata karena
dia tidak tahu norma untuk bertindak dengan baik atau tidak tahu cara-cara bertindak yang menuju
ke arah kebaikan. Hal yang diperlukan adalah suatu peringatan dan sentuhan nurani yang terus-
menerus untuk menggugah kesadaran moral dan melestarikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan
dan interaksi antar individu. Dengan demikian, para pegawai dan pejabat perlu terus diingatkan akan
rujukan kode etik PNS yang tersedia. Sosialisasi dari sumber-sumber kode etik itu beserta
penyadaran akan perlunya menaati kode etik harus dilakukan secara berkesinambungan dalam setiap
jenis pelatihan kepegawaian untuk melengkapi aspek kognisi dan aspek profesionalisme dari seorang
pegawai sebagai abdi masyarakat. Berikutnya, rujukan pelaksanaan kode etik yang sifatnya normatif
perlu dibarengi dengan diskusi mengenai berbagai kasus nyata yang dialami oleh seorang pegawai di
dalam lingkungan kerjanya masing-masing.

3. Aktualisasi Etika Aparatur Sipil Negara


Dalam setiap aktifitas seorang baik sebagai Aparatur Sipil Negara maupun sebagai anggota
masyarakat selalu melekat di dalamnya nilai-nilai etika. Oleh karena itu, seperti yang telah
digambarkan dalam berbagai kasus terkait Etika Publik Aparatur Sipil Negara seperti Pemanfaatan
Sumberdaua Publik, Presensi Sidik Jari, Penerimaan Tenaga Honorer, Gratifikasi, Konflik
Kepentingan dalam Pengadaan, Terpidana Korupsi Menjabat Kembali, Whistle Blower , Bocornya
Ujian Nasional, Perbuatan Tercela, dan Pelanggaran Hukum lainnya, maka setiap Aparatur Sipil
Negara dalam setiap kegiatan dan aktifitasnya harus selalu berhati-hati dan agar tidak bertentangan
dengan nilai-nilai etika yang harus selalu dijunjung dan ditegakkan.

4. Tokoh Keteladanan dalam Etika Publik


Jaksa Yang Terlalu Jujur dan Sederhana
Baharuddin Lopa, S.H. (lahir di Pambusuang, Balanipa, Polewali Mandar, Indonesia, 27
Agustus 1935 – meninggal di Riyadh, Arab Saudi, 3 Juli 2001 pada usia 65 tahun) adalah Jaksa
Agung Republik Indonesia dari 6 Juni 2001 sampai wafatnya pada 3 Juli 2001. Beliau adalah
mantan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi. Antara tahun 1993-1998, ia duduk sebagai
anggota Komnas HAM.
Di usia 23 tahun Baharuddin Lopa diminta menjadi Jaksa di Kajari Makassar, beliau lalu
menjadi Bupati Majene di usia 25 tahun. Saat menjadi bupati ia berhadapan dengan Andi Sello orang
paling ditakuti di sekitar Sulawesi Barat dan Pare-pare. Andi Selle adalah Komandan Batalyon 710
yang terkenal kayak arena terlibat kasus penyelundupan kopra. Lopa pernah ditawarkan uang untuk
mendukung bisnis Selle. Lopa kemudian mengatakan; “Kebijakan pemerintah itu harus yang terbaik
bagi rakyat, bukan untuk kepentingan penguasa,” ucapnya. Setelah mengucapkan itu, kehidupan
Lopa mulai terusik. Nyawanya sering diancam tuk dibunuh.
Setelah menjadi Bupati, ia kembali menjadi Jaksa di Kejaksaan Tinggi Maluku dan Irian
Barat sebelum menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi di Sulawesi Tenggara, Aceh, Kalimantan Barat,
dan mengepalai Pusdiklat Kejaksaan Agung di Jakarta.
Lopa pernah juga menyeret seorang pengusaha besar, Tony Gozal alias Go Tiong Kien yang
dianggap kebal hukum. Gozal punya hubungan dengan pejabat negara. Bagi Lopa, tak seorang pun
boleh kebal hukum. Gozal diseret ke pengadilan dengan tuduhan telah memanipulasi dana reboisasi
Rp2 miliar.
Setelah kejadian itu, Soeharto tahu betul pergerakan Loppa akan membahayakan
kekuasaanya. Maka dari tahun 1988 hingga 1995, Lopa hanya ditugaskan sebagai Direktur Jenderal
Lembaga Permasyarakatan, sehingga Lopa tidak disibukkan lagi dalam mengusut kasus hukum.
Kasus terbesar yang pernah ditangani Lopa ialah kasus korupsi Soeharto. Saat itu ia menjabat
sebagai Sekretaris Jenderal Komnas HAM. Lopa selalu menanyakan kemajuan proses perkara ini
kepada teman temannya di Kejaksaan Agung. Meski tak bisa menyeret Soeharto yang selalu
mangkir dalam sidang dengan alasan sakit, setidaknya Lopa berhasil menyeret sahabat Soeharto,
Bob Hasan yang dijuluki Si Raja Hutan. Bob adalah seorang pengusaha bisnis kayu dan mantan
Menteri Perindustrian. Lopa berhasil memasukkan Bob ke dalam LP Nusakambangan, meski saat
itu, Soeharto sedang memimpin dan Lopa bisa saja terancam.
Selain itu, Lopa juga pernah menyelidiki para konglomerat Indonesia. Lopa pernah
menyelidiki keterlibatan Arifin Panigoro, Akbar Tandjung, dan Nurdin Halid dalam berbagai kasus
korupsi. Secercah harapan muncul dengan penunjukan Lopa sebagai Jaksa Agung. Sayangnya, Lopa
hanya memanggul amanah tersebut selama sebulan sebelum akhirnya menghadap Yang Maha
Kuasa.
Sumber:
(https://mojok.co/terminal/baharuddin-lopa-jaksa-kelewat-jujur-dan-sederhana/. Diakses pada hari
Sabtu tanggal 29 Agustus 2020 pukul 11.51 WIB)
(https://tirto.id/kejujuran-dan-kesederhanaan-jaksa-agung-baharuddin-lopa-bu9U. Diakses pada
Sabtu tanggal 29 Agustus 2020 pukul 11.48 WIB)
(https://www.kejaksaan.go.id/profil_kejaksaan.php?id=12&ids=10. Diakses pada hari Sabtu tanggal
29 Agustus 12.53 WIB)

B. Penerapan

Saat ini seluruh instansi pemerintah, sosial, profesi maupun politik sudah memiliki kode etik, namun
penerapannya belum maksimal. Instansi pemerintah dalam hal ini penyelenggara pelayanan publik tidak
mungkin terlepas dari persoalan nilai, etika, norma atau moral, karena berkaitan dengan persoalan
kebaikan dan keburukan. Tugas pelayan publik tidak terlepas dari hal-hal yang baik dan buruk. Dalam
praktek pelayanan publik di Indonesia saat ini, kita menginginkan birokrasi publik yang terdiri dari
manusia yang berkarakter, dilandasi sifat kebaikan, yang akan menghasilkan kebaikan untuk
kepentingan masyarakat.
Tujuan pribadi atau golongan harus dikesampingkan dengan segala cara, karakter ini harus
ditunjukkan, bukan hanya sekedar menghayati nilai kebenaran, kebaikan dan kebebasan yang mendasar.
Hal ini penting karena birokrasi pelayanan publik ini menempatkan kepentingan umum di atas
kepentingan pribadi atau golongan, rela berkorban, dan bekerja keras tanpa pamrih. Semangat kerja
keras akan membuat seorang birokrat sanggup bertahan dari godaan untuk tidak berbuat yang
bertentangan dengan nilai kebenaran, kebaikan, keindahan, kebebasan, persamaan, dan keadilan.
Beberapa pihak sangat perduli dengan nilai etika atau moral dan melakukan pengaduan tentang
pelanggaran moral. Mereka adalah pihak yang berani membongkar rahasia dan menguji tindakan
pelanggaran moral dan etika, namun upaya untuk melakukan hal ini terkadang dianggap sebagai upaya
tidak terpuji, bahkan sering dikutuk perbuatannya dan nasibnya bisa menjadi terancam. Pengalaman ini
cenderung membuat mereka takut dan timbul kebiasaan untuk tidak mau “repot” atau tidak mau
“berurusan” dengan hukum atau pengadilan, yang insentifnya tidak jelas. Diperlukan perlindungan
terhadap para pengadu, kalau perlu insentif khusus dalam rangka meningkatkan moralitas dalam
pelayanan publik.
Sebagai Aparatur Sipil Negara kita dituntut bisa menerapkan nilai-nilai etika pemerintahan yang
menjadi landasan moral bagi Aparatur Sipil Negara penyelenggara pemerintahan. Inilah yang
menjadi policy guidance (pedoman kebijakan) tentang apa yang harus dilakukan oleh administrator
negara dalam membuat dan menjalankan kebijakan.
Fungsi pelayanan harus ditingkatkan penyelenggara pemerintah agar dapat diterima dan
dipercaya oleh masyarakat yang dilayani. Etika politik dan pemerintahan diharapkan diterapkan secara
konsisten dan konsekuen, sehingga pelanggaran etika harus dipahami sebagai tabu yang tak boleh
dilakukan, serta kepercayaan publik terhadap para pejabat publik tetap terjaga.
Dengan mengedepankan etika sebagai standar perilaku tinggi di kalangan penyelenggara negara,
baik bagi para politisi maupun birokrat, diharapkan Indonesia dapat mewujudkan pemerintah dengan
ASN yang yang profesional dan terpercaya.