Anda di halaman 1dari 3

LEARNING JOURNAL

Program Pelatihan : Pelatihan Dasar CPNS


Angkatan :4
Mata Pelatihan : Komitmen Mutu
Widyaiswara : Drs. Nispiansyah M.Pd.
Nama Peserta : Stefanus Dewanto Priyagung Jati Barata
Nomor Presensi : 32
Lembaga Penyelenggara Pelatihan : Pusdiklat Pegawai Kemendikbud

A. Pokok Pikiran
1. Konsep Efektivitas, Efisiensi, Inovasi, dan Mutu
a. Efektivitas menunjukkan tingkat ketercapaian target yang telah direncanakan, baik menyangkut
jumlah maupun mutu hasil kerja.
b. Efisiensi merupakan tingkat ketepatan realisasi penggunaan sumberdaya dan bagaimana
pekerjaan dilaksanakan, sehingga tidak terjadi pemborosan sumberdaya, penyalahgunaan
alokasi, penyimpangan prosedur, dan mekanisme yang ke luar alur.
c. Karakteristik ideal dari tindakan yang efektif dan efisien antara lain: penghematan, ketercapaian
target secara tepat sesuai dengan yang direncanakan, pekerjaan dapat diselesaikan dengan cepat
dan tepat, serta terciptanya kepuasan semua pihak: pimpinan, pelanggan, masyarakat, dan
pegawai itu sendiri.
d. Konsekuensi dari penyelenggaraan kerja yang tidak efektif dan tidak efisien adalah
ketidaktercapaian target kerja, ketidakpuasan banyak pihak, menurunkan kredibilitas instansi
tempat bekerja di mata masyarakat, bahkan akan menimbulkan kerugian secara finansial.
2. Nilai-Nilai Dasar Orientasi Mutu
a. Karakteristik ideal dari tindakan yang berorientasi mutu dalam penyelenggaraan pemerintahan
dan pelayanan publik, antara lain: diarahkan untuk meningkatkan kepuasan masyarakat sebagai
pelanggan, baik menyangkut layanan yang merujuk pada producer view maupun customer view.
b. Proses implementasi manajemen mutu diawali dengan menganalisis masalah yang telah
diidentifikasi, kemudian menyusun rencana mutu, melaksanakan pekerjaan berbasis rencana
mutu, mengawal pelaksanaan, dan mengawasi ketercapaiannya, dan merancang upaya
peningkatannya agar dapat membangun kredibilitas lembaga pemerintah.
c. Senantiasa memperbaiki mutu layanan dari pegawai ASN kepada publik..
d. Tanggung jawab mutu ada pada setiap level organisasi.
3. Pendekatan Inovatif Dalam Penyelenggaraan Pemerintah
a. Produktivitas merupakan rasio antara output dengan input, baik dari sisi proses maupun hasil.
b. Implementasi pendekatan inovatif dalam penyelenggaraan layanan pemerintahan merupakan
sebuah keniscayaan, khususnya dalam rangka meningkatkan kepuasan publik atas layanan
aparatur.
c. Meningkatan produktivitas PNS sebagai aparatur penyelenggara pemerintahan dapat dilakukan
melalui banyak cara, misalnya : peningkatan kompetensi, motivasi, penegakan disiplin, serta
pengawasan secara profesional untuk mengawal kinerja PNS agar tetap berada di jalur yang
tepat, tidak melakukan penyimpangan.
4. Aktualisasi Komitmen Mutu
a. Landasan Komitmen Mutu
1. Pelayanan publik yang bermutu merupakan wujud akuntabilitas dari pemerintah selaku
penyedia layanan publik.
2. Perubahan dalam bidang pelayanan, menuntut adanya perubahan pola pikir dan budaya kerja
aparatur (mind set and culture set), sehingga tuntutan akan adanya pembangunan budaya
mutu sudah mutlak.
3. Posisi pegawai ASN sebagai aparatur memiliki tanggung jawab utama untuk memberikan
pelayanan kepada masyarakat.
4. Faktor-faktor yang bisa menjadi pendorong sekaligus menghambat upaya untuk
meningkatkan kinerja aparatur yang kreatif, inovatif, dan komitmen terhadap mutu, antara
lain: perubahan pola pikir (mindset) aparatur, pergeseran budaya kerja, perbaikan tata kelola
pemerintahan (good corporate governance).
5. Inovasi layanan akan membawa perubahan yang dapat meningkatkan kepercayaan publik
terhadap institusi pemerintah.
6. Inovasi layanan akan berhasil dengan baik apabila dijalankan oleh aparatur yang memiliki
kompetensi sesuai syarat jabatan (knowledge worker) dan memiliki tanggung jawab secara
profesional.
7. Pelayanan publik yang bermutu merupakan wujud akuntabilitas pemerintah selaku penyedia
layanan publik.
8. Mutu dalam pelayanan publik, meskipun penting dan harus dilakukan sebagai suatu
akuntabilitas ternyata tidak terlepas dari motivasi politis pembuat kebijakan dan kinerja
organisasi pemerintah.
9. Inovasi dapat menekan biaya produksi, meningkatkan produktivitas, menambah keuntungan,
memperkuat organisasi dalam meningkatkan daya saing di era ekonomi global,
meningkatkan kemampuan organsasi dalam beradaptasi dengan perubahan lingkungan.
10. Co-production mengubah hubungan di antara pengguna jasa dan penyedia, yang
memungkinkan pengguna untuk mengambil lebih banyak kontrol dan kepemilikan.
b. Berpikir Kreatif
1. Aparatur yang kreatif akan tercermin dari perilakunya yang memiliki dorongan kuat untuk
senantiasa mencari kebaruan, menemukan sesuatu yang berbeda dari yang sudah ada, dan
menciptakan keunikan yang berujung pada lahirnya karya inovatif.
2. Kreativitas dalam pelayanan merupakan aktualisasi hasil berpikir kreatif, untuk memberikan
layanan yang memuaskan bagi masyarakat sebagai customers.
3. Berpikir kreatif menunjukkan kemampuan orang untuk menghasilkan atau menciptakan
sesuatu yang baru dan berbeda.
4. Inovasi bisa berbentuk karya hasil penemuan baru atau mengandung unsur kebaruan
(novelty), misalnya sebagai penyempurnaan atau perbaikan dari karya yang sudah ada,
produk imitasi (tiruan) yang memiliki nilai tambah, serta karya hasil sintesis.
5. Penyelenggaraan kerja yang kreatif, inovatif, dan berkomitmen terhadap mutu, akan sangat
bermanfaat baik bagi aparatur, institusi, maupun masyarakat yang dilayani.
c. Membangun Komitmen Mutu Melalui Inovasi
1. Best practices pada berbagai institusi pemerintahan dilakukan dalam rangka menciptakan
pelayanan yang lebih baik dan pemerintahan yang berintegritas dan transparan. Capaian
inovasi pelayanan publik yang dilakukan di berbagai institusi pemerintah dilakukan sesuai
dengan kebutuhan pelayanan yang harus diperbaiki.
2. Pelayanan publik dilakukan dalam rangka menciptakan nilai tambah bagi masyarakat (value
added dan value for money), serta pelibatan stakeholders secara aktif dan meluas baik dalam
proses maupun pendanaan dan pemeliharaan, sehingga inovasi pelayanan publik menjadi
milik bersama karena adanya rasa memiliki yang kuat terhadap capaian yang dihasilkannya,
baik yang berdampak langsung maupun tidak langsung.
3. Inovasi pelayanan publik tidak bergerak dalam ruang hampa, sehingga perlu didukung oleh
unsur-unsur yang mendukung seperti pegawai yang mempunyai jiwa kreatif dan inovatif
serta faktor pendorong lainnya.
5. Best Practices terkait Komitmen Mutu terutama dalam hal Inovasi
Tiga Terobosan Pelayanan Publik Surabaya
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengembangkan tiga terobosan
atau inovasi pelayanan publik yang selama ini dinilai bagus diterapkan
di Pemerintah Kota Surabaya. Tiga inovasi tersebut masuk Top 99
Sistem Inovasi Pelayanan Pelayanan Publik (Sinovik) Kemenpan RB
Republik Indonesia. Risma mengatakan telah memaparkan tiga inovasi
itu dihadapan Tim Panel Independen di Kantor Kemenpan RB. Inovasi
tersebut adalah :
1. Pelayanan Publik 6 in 1 Online
Pelayanan publik ini meliputi pelayanan dalam pengurusan pengurusan akta lahir, kematian,
perkawinan, perceraian, surat pindah datang, dan pindah keluar secara daring. Melalui inovasi
ini, masyarakat bisa menghemat waktu, tenaga, dan biaya dan tidak perlu lagi datang ke kantor
Dispendukcapil.
2. Tahu Panas
Inovasi Tahu Panas merupakan singkatan dari “tak takut kehujanan dan tak takut kepanasan”
yang merupakan kegiatan perbaikan rumah tidak layak huni melalui program rehabilitasi sosial
daerah kumuh. Inovasi ini merupakan program dari Dinas Sosial Surabaya dalam perbaikan
rumah tidak layak huni melalui program rehabilitasi sosial daerah kumuh.
3. Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda
Inovasi Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda berfokus pada pemberdayaan ibu rumah tangga
dari keluarga miskin dan pejuang muda. Tujuan dari Pahlawan Ekonomi ini untuk mengentas
warga miskin supaya secepatnya keluar dari kemiskinannya itu. Pemkot Surabaya berusaha
menghidupkan mesin kedua dalam keluarga untuk mengentas kemiskinan, yaitu para istri atau
ibu-ibu rumah tangga. Sedangkan anak muda yang putus sekolah atau tidak melanjutkan ke
perguruan tinggi, tapi masih punya keinginan untuk akses ekonomi lebih baik. Pemkot Surabaya
memfasilitasinya dengan namanya Pejuang Muda. Para peserta itu diberi pelatihan hingga
pendampingan sampai ke tahap pengemasan, promosi dan pemasaran produk serta tetap
didampingi dari hulu hingga hilir terkait bisnis UKM.
Dengan berbagai terobosan itu, maka dapat mengangkat perekonomian warga Kota Surabaya.
Sumber:
(https://www.idntimes.com/news/indonesia/fitria-madia/3-terobosan-surabaya-ini-jadi-top-99-
sistem-inovasi-pelayanan-publik/3. Diakses pada hari Senin tanggal 31 Agustus 2020 pukul 3.38 PM
WIB)
(https://jatim.antaranews.com/berita/259663/risma-kembangkan-tiga-inovasi-pelayanan-publik-di-
surabaya. Diakses pada Senin tanggal 31 Agustus 2020 pukul 3.40 PM WIB)
B. Penerapan
Setelah mempelajari materi modul ANEKA – Komitmen Mutu, gagasan yang bisa diterapkan terkait 4
indikator komitmen mutu adalah sebagai berikut :
1. Efektif : Hal yang bisa dilakukan adalah melaksanakan dan menjalankan tugas yang
diberikan sesuai sasaran dan tujuan Subbagian Kepegawaian.
2. Efisien : Membangun kerjasama kolegial antar Pegawai yang dilandasi kepercayaan dan
kejujuran untuk mencapai sasaran dan tujuan Subbagian Kepegawaian dengan tanpa pemborosan
sejak memulai setiap pekerjaan.
3. Inovatif : Beradaptasi dengan perubahan, terutama di masa pandemi COVID-19 dimana
hampir semua kegiatan diutamakan dilakukan secara daring dengan tidak mengurangi mutu dan
sasaran.
4. Orientasi Mutu : Membangun mindset dan komitmen terhadap budaya mutu baik secara internal
maupun external dan meningkatkan mutu proses secara berkelanjutan serta memfokuskan kegiatan
pada kepuasan pelanggan baik internal dan eksternal.

Anda mungkin juga menyukai