Anda di halaman 1dari 3

LEARNING JOURNAL

Program Pelatihan : Pelatihan Dasar CPNS


Angkatan :4
Mata Pelatihan : Whole of Government
Widyaiswara : Drs. Ali Sadikin M.M.Pd.
Nama Peserta : Stefanus Dewanto Priyagung Jati Barata
Nomor Presensi : 32
Lembaga Penyelenggara Pelatihan : Pusdiklat Pegawai Kemendikbud

A. Pokok Pikiran
1. Konsep WoG (Whole of Government)
Whole of Government (WoG) dapat dipahami sebagai “suatu model pendekatan integratif fungsional
satu atap” yang digunakan untuk mengatasi wicked problems yang sulit dipecahkan dan diatasi
karena berbagai karakteristik atau keadaan yang melekat antara lain: tidak jelas sebabnya, multi
dimensi, menyangkut perubahan perilaku.
WoG menjadi penting karena sangat diperlukan sebuah upaya untuk memahami penting
kebersamaan dari seluruh sektor guna mencapai tujuan bersama. Sikap, perilaku dan nilai yang
berorientasi sektor harus dicairkan dan dibangun dalam fondasi kebangsaan yang lebih mendasar,
yang mendorong adanya semangat persatuan dan kesatuan.
Terdapat beberapa cara pendekatan WoG yang dapat dilakukan, baik dari sisi penataan institusi
formal maupun informal. Cara-cara ini pernah dipraktekkan oleh beberapa negara, termasuk
Indonesia dalam level-level tertentu. Cara-cara tersebut adalah;
1. Penguatan koordinasi antar lembaga
2. Membentuk lembaga koordinasi khusus
3. Membangun gugus tugas
4. Koalisi social
2. Tantangan yang Dihadapi dalam Penerapan WoG
Beberapa tantangan yang akan dihadapi dalam penerapan WoG antara lain:
a. Kapasitas SDM dan institusi
Kapasitas SDM dan institusi-institusi yang terlibat dalam WoG tidaklah sama. Perbedaan
kapasitas ini bisa menjadi kendala serius ketika pendekatan WoG, misalnya mendorong
terjadinya merger atau akuisisi kelembagaan, dimana terjadi penggabungan SDM dengan
kualifikasi yang berbeda.
b. Nilai dan budaya organisasi
Seperti halnya dengan kapasitas dan institusi, nilai dan budaya organisasi pun menjadi
kendala manakala terjadi upaya kolaborasi sampai dengan penyatuan kelembagaan.
c. Kepemimpinan
Kepemimpinan menjadi salah satu kunci penting dalam pelaksanaan WoG, kepemimpinan
yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang mampu mengakomodasi perubahan nilai dan
budaya organisasi serta meramu SDM yang tersedia guna mencapai tujuan yang diharapkan.
3. Praktek WoG dalam Pelayanan Publik
Praktek WoG dalam pelayanan publik dilakukan dengan menyatukan seluruh sektor yang terkait
dengan pelayanan publik. Jenis pelayanan publik yang dikenal dapat didekati oleh pendekatan WoG
di antaranya adalah;
a. Pelayanan yang bersifat administratif;
b. Pelayanan jasa;
c. Pelayanan barang; dan
d. Pelayanan regulative.
Praktek WoG dalam pelayanan publik dilakukan dengan menyatukan seluruh sektor yang terkait
dengan pelayanan publik berdasarkan nilai-nilai dasar;
a. Koordinasi;
b. Integrasi;
c. Sinkronisasi; dan
d. Simplifikasi.
Berdasarkan polanya, pelayanan publik dapat dibedakan dalam 5 (lima) macam pola pelayanan,
antara lain:
a. Pola pelayanan teknis fungsional;
b. Pola pelayanan satu atap;
c. Pola pelayanan satu pintu;
d. Pola pelayanan terpusat; dan
e. Pola pelayanan elektronik.
4. Penerapan Whole of Government di Indonesia
Penerapan WoG di Indonesia dapat dianggap sebagai perekat kebangsaan dan penjamin bersatunya
elemen-elemen negara. Terdapat beberapa aktivitas yang bisa diuapayakan oleh pemerintah untuk
terwujudnya WoG, antara lain:
a. Penguatan koordinasi antar lembaga;
b. Membentuk lembaga koordinasi khusus;
c. Membentuk gugus tugas yang sifatnya tidak permanen; dan
d. Melakukan koalisi sosial dengan kelompok bisnis dan kelompok masyarakat.
5. WoG dalam Lingkup Penyelenggaraan Pemerintahan Negara
Dalam konteks governance yang baik, maka sistem penyelenggaraan pemerintahan negara adalah
keseluruhan penyelenggaraan kekuasaan pemerintahan (executive power) dengan memanfaatkan dan
mendayagunakan kemampuan pemerintah dan segenap aparaturnya dari semua peringkat
pemerintahan beserta seluruh wakil rakyat di wilayah negara Indonesia, serta dengan memanfaatkan
pula segenap dana dan daya yang tersedia secara nasional demi tercapainya tujuan negara dan
terwujudnya cita-cita bangsa sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan UUD 1945.
6. WoG dalam Lingkup Hubungan antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta antar Daerah
Hubungan antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta antar Daerah sangat terkait erat dengan prinsip-
prinsip dan tujuan pemberian Otonomi Daerah, baik kepada Daerah Propinsi maupun kepada Daerah
Kabupaten dan Kota, berdasarkan asas desentralisasi.
7. WoG dalam Pelayanan Publik di Lingkup Administrasi Pemerintahan
Berdasarkan UU No. 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan (UU AP), administrasi
pemerintahan adalah tata laksana dalam pengambilan keputusan dan/atau tindakan oleh Badan
dan/atau Pejabat Pemerintahan sebagai unsur yang melaksanakan fungsi pemerintahan, baik di
lingkungan pemerintahan maupun penyelenggara negara lainnya.
Indonesia adalah salah satu negaraa di dunia yang sedang berjuang mengimplementasikan WoG.
Untuk mencapai good governance dalam tata pemerintahan di Indonesia, maka prinsip-prinsip WoG
menjadi terobosan yang perlu diambil dalam berbagai institusi penting pemerintahan.
Terselenggaranya WoG bertumpu pada prinsip-prinsip pokok seperti partisipasi masyarakat,
tegaknya supremasi hukum, transparansi, kepedulian, orientasi pada konsensus, kesetaraan,
efektifitas dan efisiensi, akuntabilitas dan visi strategis.
8. Best Practices dalam Penerapan WoG
Beberapa negara telah memiliki pengalaman dalam penerapan pendekatan WoG yang berhasil
dengan cukup baik. Inggris, adalah salah satu pionir dalam memperkenalkan joined-up government
yang berhasil memodernisasi prosesproses penyelenggaraan pemerintahan. Salah satu produk WoG
yang dilakukan adalah WGA atau Whole-of Government Accounts. WGA ini merupakan salah satu
bentuk WoG yang dikembangkan oleh HM Treasury yang mengkonsolidasikan lebih dari 5500 akun
instansi di sektor publik guna mendorong transparansi dan akuntabilitas menyeluruh. Dalam hal ini
WGA memberikan kemudahan bagi publik atau pemangku kepentingan tertentu dalam mengakses
laporan-laporan keuangan dan memahami posisi keuangan secara makro.
Australia, melalui Australian Public Service Commission (APSC) mempromosikan WoG
dalam mengintegrasikan pemberian layanan kepada publik. Terdapat 3 (tiga) jenis kegiatan WoG
dalam konteks Australia ini, yaitu:
a. WoG antara kementerian dan lembaga di tingkat pusat;
b. WoG diantara level pemerintahan yang berbeda; dan
c. WoG antar sektor publik, bisnis, non-profit dan masyarakat.
Peningkatan koordinasi dilakukan dengan mengurangi jumlah kelembagaan, membentuk centrelink
sebagai pusat kooordinasi dan memfungsikan Dewan Pemerintahan Australian (Council of
Australian Governments – COAG) sebagai sebuah forum yang memutuskan prioritas-prioritas
ditingkat nasional yang harus menjadi capaian dan target sektor-sektor. Pembentukan gugus tugas
juga menandai upaya pemerintahan Australia dalam menyatukan dan mengefisiensikan kelembagaan
penyelenggaraan pemerintahan, serta koalisi sosial yang digagas PM Howard guna menjembatani
sektor publik dengan sector bisnis, nonprofit dan masyarakat.
Sementara Amerika Serikat mendorong WoG dalam isu-isu keamanan nasional dan
pembentukan portal terpadu melalui www.usa.gov.
Malaysia juga mendorong WoG melalui promosi one day service, one delivery dan no wrong
door. Percepatan pemberian layanan menjadi ciri khas kemajuan pelayanan publik di Malaysia,
namun kebijakan no wrong door merupakan terobosan yang mewajibkan semua dewan kota untuk
menerima dan menyelesaikan setiap keluhan masyarakat, walaupun keluhan tersebut tidak ditujukan
ke instansi atau sector yang benar.

Sumber :
Modul Pelatihan Dasar Calon PNS Agenda 3 Kedudukan dan Peran ASN dalam NKRI (Whole of
Government)

B. Penerapan
Dari gambaran di atas, maka dapat diketahui bahwa ada banyak hal yang perlu menjadi tolok ukura
dalam bekerja sebagai ASN, baik itu terkait dengan kedudukannya maupun nilai-nilai dasar yang
terkandung. Nilai-nilai dasar tersebut haruslah terpatri dalam diri setiap ASN agar bisa menjadi abdi
negara yang baik. Dalam hal ini, program aktualisasi yang digelar selama masa habituasi itu juga
haruslah mengandung dan bisa diukur berdasarkan nilai-nilai dasar tersebut sehingga diharapkan
nantinya akan menjadi suatu kebiasaan yang baik bagi setiap ASN.
Adapun gagasan dan hal yang bisa dilakukan kita sebagai ASN dalam mewujudkan WoG di
lingkungan kerja terutama di Subbagian Kepegawaian adalah melaksanakan 3 fungsi utama ASN secara
sungguh-sungguh yaitu :
1. Melaksanakan kebijakan publik yang dibuat oleh Pejabat Pembina Kepegawaian sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan;
2. Memberikan pelayanan publik yang profesional dan berkualitas; dan
3. Mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.