Anda di halaman 1dari 12

MATA KULIAH: AKUNTANSI MANAJEMEN BISNIS

RMK:
“COST CONCEPT AND BEHAVIOR”

DOSEN: Dr. I G.A. MADE ASRI DWIJA PUTRI, SE, M.Si., Ak., CMA
NIP. 19670501 199203 2 002

Oleh:

KOMANG TRI UTARIYANI


1981621005

PROGRAM MAGISTER AKUNTASI


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
FEBRUARI 2020
RMK: COST CONCEPT AND BEHAVIOR

KONSEP MANAJEMEN BIAYA DASAR

1. PENUGASAN BIAYA: PENELUSURAN BIAYA, PENELUSURAN DRIER,


DAN ALOKASI
Penugasan biaya merupakan salah satu proses utama dari sistem akuntansi
biaya. Biaya merupakan aset tunai atau non tunai yang dikorbankan untuk barang
atau jasa yang diharapkan membawa manfaat saat ini atau masa depan bagi
organisasi. Dalam perusahaan yang menghasilkan laba, biaya yang dikeluarkan
untuk menghasilkan manfaat di masa depan disebut pendapatan. Biaya
kadaluwarsa disebut pengeluaran. Dalam setiap periode, biaya dikurangkan dari
pendapatan pada laporan laba rugi untuk menentukan laba periode. Banyak biaya
tidak kadaluwarsa dalam periode akuntansi tertentu. Biaya yang belum
kadaluwarsa ini diklasifikasikan sebagai aset dan muncul di neraca. Komputer dan
bangunan pabrik adalah contoh aset yang bertahan lebih dari satu periode
akuntansi. Perhatikan bahwa perbedaan utama antara biaya yang diklasifikasikan
sebagai biaya atau sebagai aset adalah waktu. Perbedaan ini penting dan akan
dirujuk dalam pengembangan konsep biaya lainnya nanti dalam teks.
a. Objek Biaya
Objek biaya merupakan barang apapun, seperti produk, pelanggan,
departemen, proyek, dan sebagainya yang biayanya diukur dan ditetapkan.
Objek biaya juga dapat menjadi aktivitas yang menjadi unit kerja dasar yang
dilakukan dalam suata organisasi. Dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan
telah muncul sebagai objek biaya penting. Aktivitas memainkan peran penting
dalam mentapkan biaya ke objek biaya lain dan merupakan elemen penting
dari sistem manajemen berbasis aktivitas. Contohnya kegiatan menyiapkan
pelanggan, membayar tagihan memelihara peralatan, mempercepat pesanan,
merancang produk, dan memeriksa produk.
b. Akurasi Tugas
Menetapkan biaya secara akurat pada objek biaya sangat penting.
Gagasan tetang keakuratan tidak dievaluasi berdasarkan pengetahuan tentang
beberapa biaya “benar” yang mendasarinya. Sebaliknya, itu adalah konsep
relatif dan berkaitan dengan kewajaran dan logika metode penetapan biaya

1
yang digunakan. Akurasi tugas bertujuan untuk mengukur dan menetapkan
seakurat mungkin biaya sumber daya yang digunakan oleh objek biaya.
Beberapa metode penetapan biaya antara lain: (1) Ketelusuran (Traceability),
(2) Metode Pelacakan (Methods of Tracing), (3) Menetapkan Biaya Tidak
Langsung (Assigning Indirect Costs), dan (4) Penugasan Biaya Dirangkum
(Cost Assignment Summarized). Dari metode tersebut, penelusuran langsung
merupakan metode yang paling tepat karena bergantung pada hubungan sebab
akibat.
2. BIAYA PRODUK
a. Definisi Biaya Produk
Definisi biaya produk dapat berbeda sesuai dengan tujuan manajerial yang
dilayani. Untuk keputusan penetapan harga, keputusan bauran produk, dan
analisis profitabilitas strategis, semua biaya yang dapat dilacak sepanjang
rantai nilai perlu ditetapkan untuk produk tersebut. Untuk keputusan desain
produk strategis dan analisis profitabilitas taktis, biaya untuk produksi,
pemasaran, dan layanan pelanggan (termasuk biaya pasca pembelian
pelanggan) diperlukan. Untuk pelaporan keuangan eksternal, aturan dan
konvensi Dewan Standar Akuntansi Keuangan (FASB) mengamanatkan
bahwa hanya biaya produksi yang digunakan dalam menghitung biaya produk.
Tujuan lain mungkin masih menggunakan definisi biaya produk lainnya.
b. Biaya Produk dan Pelaporan Keuangan Eksternal
Tujuan penting dari sistem manajemen biaya adalah perhitungan biaya
produk untuk pelaporan keuangan eksternal. Biaya produk untuk keperluan
pelaporan keuangan eksternal mengacu pada biaya produksi. Biaya
nonproduksi adalah biaya yang terkait dengan fungsi penelitian dan
pengembangan, penjualan, dan administrasi. Untuk barang berwujud, biaya
produksi dan nonproduksi sering disebut sebagai biaya produksi dan biaya
nonmanufaktur. Biaya produksi selanjutnya dapat diklasifikasikan sebagai
bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead. Hanya tiga elemen
biaya ini yang dapat ditetapkan untuk produk pelaporan keuangan eksternal.

2
3. LAPORAN KEUANGAN EKSTERNAL
Klasifikasi fungsional adalah klasifikasi biaya yang diperlukan untuk
pelaporan eksternal.
a. Laporan Laba Rugi: Perusahaan Manufaktur
Laporan laba rugi berdasarkan klasifikasi fungsional untuk perusahaan
manufaktur mengikuti format standar yang ditentukan dalam pengantar
akuntansi keuangan, dimana pendapatan disebut sebagai pendapatan biaya-
penyerapan atau pendaptan biaya –penuh karena baik biaya produksi maupun
non produksi sepenuhnya dibebankan kepada produk dalam memperoleh
pendapatan operasional. Di bawah pendekatan biaya penyerapan, pengeluaran
dipisahkan sesuai dengan fungsinya dan kemudian dikurangkan dari
pendapatan untuk sampai pada pendapatan operasional. ua kategori fungsional
utama pengeluaran adalah harga pokok penjualan dan biaya operasi.
Selanjutnya pendukung untuk laporan laba rugi yakni harga pokok produksi
dan jadwal harga pokok penjualan.
b. Laporan Laba Rugi: Organisasi Pelayanan
Laporan laba rugi untuk organisasi jasa terlihat sangat mirip dengan
organisasi manufaktur. Namun, harga pokok penjualan dalam organisasi jasa
berbeda dengan manufaktur. Salah satunya organisasi jasa tidak memiliki
inventaris barang karena organisasi jasa memberikan pelayanan. Sehingga
organisasi jasa menambahkan biaya pemenuhan pesanan ke harga pokok
penjualan.

4. SISTEM MANAJEMEN BIAYA BERBASIS FUNGSIONAL DAN


AKTIVITAS
Sistem manajemen biaya dapat secara luas diklasifikasikan sebagai berbasis
fungsional atau berbasis aktivitas. Kedua sistem ini ditemukan dalam praktiknya.
Saat ini, sistem manajemen biaya berbasis fungsional lebih banyak digunakan
daripada sistem berbasis aktivitas. Hal ini dapat berubah seiring meningkatnya
kebutuhan akan informasi biaya yang lebih akurat. Untuk perusahaan yang
beroperasi di lingkungan manufaktur canggih ini, sistem manajemen biaya
berbasis fungsional mungkin tidak berfungsi dengan baik. Informasi biaya yang

3
lebih akurat dan tepat waktu diperlukan bagi organisasi-organisasi ini untuk
membangun keunggulan kompetitif jangka panjang yang berkelanjutan.
a. Sistem Manajemen Biaya Berbasis Fungsional: Tinjauan Singkat
Sistem manajemen biaya terdiri dari dua subsitem yakni sistem akuntansi
biaya dan sistem kontrol operasional.
b. Sistem Manajemen Biaya Berbasis Aktivitas: Tinjauan Singkat
Sistem manajemen biaya berbasis aktivitas telah berkembang sebagai
respons terhadap perubahan signifikan dalam lingkungan bisnis kompetitif
yang dihadapi oleh perusahaan jasa dan manufaktur. Tujuan keseluruhan dari
sistem manajemen biaya berbasis aktivitas adalah untuk meningkatkan
kualitas, konten, relevansi, dan waktu informasi biaya. Secara umum, lebih
banyak tujuan manajerial dapat dipenuhi dengan sistem berbasis aktivitas
daripada dengan sistem berbasis fungsional. Sistem akuntansi biaya berbasis
aktivitas menekankan pada penelusuran alokasi. Sistem akuntansi biaya yang
menggunakan penggerak aktivitas berbasis unit dan non-unit untuk
menetapkan biaya pada objek biaya disebut sistem berbasis biaya aktivitas
(ABC). Biaya produk dalam sistem berbasis aktivitas cenderung fleksibel.
Sistem manajemen biaya berbasis aktivitas mampu menghasilkan informasi
biaya untuk berbagai tujuan manajerial, termasuk tujuan pelaporan keuangan.
Manajemen berbasis aktivitas (ABM) berfokus pada manajemen kegiatan
dengan tujuan meningkatkan nilai yang diterima oleh pelanggan dan laba yang
diterima oleh perusahaan dalam memberikan nilai ini
c. Pilihan Sistem Manajemen Biaya
Dalam memutuskan apakah perusahaan akan menerapkan sistem
manajemen biaya berbasis aktivitas atau fungsional, manajer harus menilai
trade-off antara biaya pengukuran dan biaya kesalahan. Biaya pengukuran
adalah biaya yang terkait dengan pengukuran yang diperlukan oleh sistem
manajemen biaya. Biaya kesalahan adalah biaya yang terkait dengan
pengambilan keputusan yang buruk berdasarkan biaya produk yang tidak
akurat atau, lebih umum, informasi biaya buruk. Sistem manajemen biaya
yang lebih kompleks menghasilkan biaya kesalahan yang lebih rendah tetapi
memiliki biaya pengukuran yang lebih tinggi. Secara optimal, sistem

4
manajemen biaya akan meminimalkan jumlah pengukuran dan biaya
kesalahan. Untuk beberapa organisasi, sistem biaya optimal mungkin bukan
sistem ABM meskipun itu adalah sistem yang lebih akurat. Bergantung pada
trade-off, sistem manajemen biaya yang optimal mungkin sangat sederhana,
yakni sistem berbasis fungsional.

5. PENDORONG KEGIATAN DAN PERILAKU BIAYA


a. Biaya Tetap
Biaya tetap adalah biaya yang secara keseluruhan konstan dalam
rentang yang relevan seiring dengan tingkat pendorong yang beragam. Jumlah
biaya tetap (F).
b. Biaya Variabel
Biaya variabel didefinisikan sebagai biaya yang secara umlah
bervariasi berbanding langsung terhadap perubahan pendorong kegiatan.
Yv = VX
Dimana Yv = Jumlah biaya variabel
V = Biaya variabel per unit
X = Jumlah unit penorong kegiatan
c. Biaya Campuran
Biaya campuran adalah biaya yang memiliki komponen biaya tetap dan
variabel. Persamaan linier untuk biaya gabungan:
Y = Biaya tetap + Jumlah biaya variabel
Y = F +VX
Dimana Y = Jumlah Biaya
Perilaku biaya merupakan cara dimana perubahan biaya dalam
kaitannya dengan perubahan output kegiatan. Horizon waktu penting dalam
menentukan perilaku biaya karena biaya dapat berubah dari tetap menjadi
variabel tergantung pada apakah keputusan mencakup jangka pendek atau
jangka panjang. Biaya variabel adalah biaya yang perubahan pada jumlah
seiring dengan perubahan kegiatan penggunaan (berbanding langsung). Biaya
tetap adalah biaya yang tidak berubah dalam jumlah seiring dengan perubahan
keluaran. Model penggunaan sumber daya menambahkan pemahaman

5
mengenai perilaku biaya. Sumber daya diperoleh sebelum penggunaan
dikategorikan sebagai beban tetap terikat dan bebas. Seumber daya diperoleh
saat digunakan dan dibutuhkan merupakan beban variabel. Beberapa biaya
terutama biaya tetap bebas cenderung untuk mengikuti fungsi biaya anak-
tangga. Sumber daya ini diperoleh dalam jumlah bulat. Jika lebar dari anak
tangga cukup besar, maka biaya dianggap tetap, jika tidak biaya tersebut
diestimasi dengan fungsi biaya variabel.

6. SISTEM MANAJEMEN BIAYA TRADISIONAL DAN KONTEMPORER


Biaya tradisional mengasumsikan bahwa semua biaya diklasifikasikan
sebagai tetap atau variabel berkaitan dengan unit atau volume produk yang
diproduksi, sedangkan biaya kontemporer penggunaan pendorong kegiatan
berdasarkan unit dan non-unit meningkatkan keakuratan pembebanan biaya, mutu,
dan relevansi informasi biaya secara keseluruhan yang biasa disebut sistem biaya
berdasarkan kegiatan. Berikut merupakan tabel yang membandingkan
karakteristik sistem manajemen biaya tradisional dan kontemporer:

Tradisional Kontemporer
1. Pendorong berdasarkan unit. 1. Pendorong berdasarkan unit & non-
unit
2. Intensif-alokasi 2. Insentif-penelusuran
3. Perhitungan HPP yang sempit dan 3. perhitungan HPP yang luas dan
kaku fleksibel
4. Focus pada pengelolaan biaya 4. fokus pada pengelolaan kegiatan
5. Informasi biaya yang singkat 5. informasi kegiatan yang rinci
6. Memaksimalkan kinerja unit individu 6. memaksimalkan kinerja sistem
7. Menggunakan ukuran kinerja 7. menggunakan ukuran kinerja
keuangan keuangan
dan non-keuangan

7. METODE UNTUK MEMISAHKAN BIAYA GABUNGAN KE DALAM


KOMPONEN TETAP DAN VARIABEL

6
Ada tiga metode pemisahan biaya gabungan yaitu: metode tinggi-rendah,
metode scatterplot, dan metode least square. Berikut merupakan pernyataan biaya
sebagai persamaan garis lurus:
Y = F + VX
Dimana: Y = Jumlah biaya kegiatan (variabel terikat)
F = Komponen biaya tetap (parameter intersep)
V = Biaya variabel per unit kegiatan (parameter kemiringinan)
X = Ukuran ouput kegiatan (variable bebas)
a. Metode Tinggi-Rendah
Pilih dua titik yang akan digunakan untuk menghitung parameter F dan
V. secara spesifik, menggunakan titik tinggi dan rendah. Misalkan (X 1, Y1)
adalah titik terendah, dan (X2, Y2) titik tertinggi. Persamaan untuk menentukan
kemiringan dan perpotongan:
V = perubahan pada biaya / perubahan pada kegiatan
= (Y2 - Y1) / (X2 – X1)
F = Jumlah biaya gabungan – biaya variabel
= Y2 – VX2
Atau F = Y1 – VX1
b. Metode Scatterplot
Metode ini membantu memberikan pengertian yang mendalam
mengenai hubungan antara biaya dan keluaran kegiatan. Penentuan titik dapat
diubah-ubah tidak penting mana yang dianggap (X1, Y1) dan (X2, Y2). Dengan
persamaan yang sama dengan metode tinggi-rendah keunggulan dari metode
ini adalah memberikan peluang bagi analis biaya untuk memeriksa data secara
visual karena menggunakan penilaian mereka sendiri.
c. Metode Least Square
Kedekatan tiap titik pada garis dapat diukur oleh jarak vertikal dari titik
tersebut ke garis. Jarak vertikal adalah perbedaan antara biaya sebenarnya dan
biaya yang diperkirakan oleh garis tersebut. Deviasi adalah Biaya sebenarnya
– prediksi biaya yang dtujukan oleh En :
En = Yn – F + VXn

7
Jarak vertikal mengukur kedekatan satu titik ke garis, tetapi yang
dibutuhkan adalah ukuran kedekatan semua titik ke garis. Satu kemungkinan
adalah dengan menambahkan ukuran tunggal untuk memperoleh ukuran
keseluruhan. Namun, karena ukuran tunggal dapat memiliki tanda positif atau
negatif. Untuk mengoreksi masalah ni, pertama-tama kita dapat
mengkuadratkan tiap ukuran kedekatan secara keseluruhan sehingga
menghilangkan angka negatif.
Karena ukuran kedekatan adalah penjumlahan deviasi kuadrat dari titik
ke garis, semakin kecil ukurannya, semakin baik garis cocok dengan titik-titik
tersebut. Misalkan, garis metode scatterplot memiliki ukuran kedekatan
1.156.751. perhitungan yang sama dengan metode tinggi-rendah 2.429.313.
maka garis scatterplot cocok dan lebih baik untuk digunakan.
Metode least square (kuadrat terkecil) mengidentifikasi garis paling
cocok, dengan formula:
V = [sXY – sXsY/n] / [sx2 – (sX)2/n]
F= sY/n – v(sX/n)
Untuk menghitung V dan F diperlukan n, sX, sY, sXY, dan sX2.
n = jumlah titik data pada set data
s = jumlah masing-masing (∑)

8. KEANDALAN FORMULA BIAYA s


a. Uji Hipotesis Parameter
Kecocokan yang baik mengukur derajat keterkaitan antara biaya dan
keluaran kegiatan. Rentang kepercayaan memberikan suatu rentang nilai untuk
biaya sebeenarnya dengan derajat kepercayaan yang ditentukan sebelumnya.
b. Ukuran Kecocokan yang Baik
Suatu presentase yang cukup berarti dari variabilitas total dalam biaya
diterangkan oleh variabel keluaran kegiatan kita. Persentase variabilitas dalam
variabel yang tergantung diterangkan oleh suatu variabel bebas disebut
keofisien penentuan. Perhitungan manual koefisien penentu (R2) dihitung
dengan formula:
R2 = V[SXY - SXSY/n] / [SY2 – (SY)2/n]

8
Dimana V= kemiringan dihitung dengan menggunakan metode least square
Ukuran alternatif kecocokan yang bagus adalah koefisien korelasi (r),
yang akar pangkat dua dari koefisien penentuan. Koefisien korelasi dapat
mempunyai rentang dari -1 dan +1. Korelasi positif yaitu kedua variabel
bergerk bersama dalam arah yang sama dan ada korelasi positif. Koorelasi
positif sempurna akan menghasilkan nilai korelasi 1,00. Sebaliknya korelasi
negatif variabel bergerak dengan cara yang dapat diprediksi pada arah
berlawan. Korelasi negatif sempurna sebesar -1,00. Nilai korelasi dekat
dengan nol menunjukkan tidak ada korelasi.
r = √ R2
c. Rentang Kepercayaan
Persamaan biaya dapat pula menyebabkan suatu perbedaan antara
biaya sebenarnya dan biaya yang diprediksi. Penyebaran (dispersi) yang
disebabkan oleh kedua efek ini dapat diukur, dan hasil pengukuran dapat
digunakan untuk membantu membangun suatu rentang kepercayaan di sekitar
biaya yang diprediksi. Ukuran penyebaran dapat didekati dengan kesalahan
standar Se.
Yf ± tSe
Dimana Yf = biaya yang dirediksi untuk tingkat kegiatan tertentu.

9. REGRESI BERGANDA
Pada kasus dua variabel penjelas (penggerak-kegiatan). Persamaan linear
sebagai berikut:
Y = F + V1X1 + V2X2
Dimana X1 = jumlah perpindahan
X2 = jumlah jarak
Bila digunakan lease square untuk membuat cocok dengan suatu
persamaan melibatkan dua atau lebih variabel yang bersifat menjelaskan disebut
metode regresi berganda.

10. PENILAIAN MANAJERIAL

9
Penilaian manajerial sejauh ini merupakan metode yang digunakan secara
luas dalam praktik. Banyak yang menggunakan pengalaman mereka mengenai
hubungan biaya untuk menentukan biaya tetap dan variabel. Manajemen mungkin
memilih mengidentifikasi biaya gabungan dan membagi biaya ini ke dalam
komponen biaya tetap dan variabel.
Akhirnya manajemen mungkin menggunakan pengalaman dan penilaian
untuk menyaring hasil estimasi statistik. Keunggulan menggunakan penilaian
manjerial untuk memisahkan biaya tetap dan variabel adalah kesederhanaan. Pada
situasi dimana manajer memiliki pengetahuan dasar mengenai perusahaan dan
pola biayanya, metode ini dapat memberikan hasil yang baik.

10
DAFTAR RUJUKAN

Hansen, Don R dan Maryanne M Mowen. 2009. Cost Management: Acoounting &
Control. Mason: South Western.

11