Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Trauma (Ruptur) ginjal merupakan trauma pada sistem urologi yang paling sering
terjadi.Kejadian penyakit ini sekitar 8-10% dengan trauma tumpul atau trauma
abdominal.Pada banyak kasus, trauma ginjal selalu dibarengi dengan trauma organ
penting ainnya. Pada trauma ginjal akan menimbulkan ruptur berupa perubahan organik
pada jaringannya. Sekitar 85-90% trauma ginjal terjadi akibat trauma tumpul yang
biasanya diakibatkan oleh kecelakaan lalulintas.

Trauma (Ruptur) ginjal adalah kecederaan yang paling sering pada sistem urinari.
Walaupun ginjal mendapat proteksi dari otot lumbar, thoraks, badan vertebra dan
viscera, ginjal mempunyai mobiliti yang besar yang bisa mengakibatkan kerusakan
parenchymal dan kecederaan vaskular dengan mudah.Trauma sering kali disebabkan
kerana jatuh, kecelakaan lalu lintas, luka tusuk, dan luka tembak. Rupture spontan ginjal
adalah jarang. Trauma ginjal bias diklasifikasikan kepada trauma tumpul dan tajam
maupun dengan tahap kecederaan iaitu kecederaan major ataupun minor.

Trauma saluran kemih sering tak terdiagnosa atau terlambat terdiagnosa karena
perhatian penolong sering tersita oleh jejas-jejas ada di tubuh dan anggota gerak saja,
kelambatan ini dapat menimbulkan komplikasi yang berat seperti perdarahan hebat dan
peritonitis, oleh karena itu pada setiap kecelakaan trauma saluran kemih harus dicurigai
sampai dibuktikan tidak ada. Trauma saluran kemih sering tidak hanya mengenai satu
organ saja, sehingga sebaiknya seluruh sistem saluran kemih selalu ditangani sebagai
satu kesatuan.Juga harus diingat bahwa keadaan umum dan tanda-tanda vital harus selalu
diperbaiki/dipertahankan, sebelum melangkah ke pengobatan yang lebih spesifik.

Masing – masing ginjal terletak pada dinding posterior abdomen yang dilindungi oleh
tiga bagian bawah.Ginjal dilindungi oleh tulang – tulang iga dan otot abdomen posterior
yang kuat. Beratnya trauma pada ginjal berbeda –beda, dapat terjadi kontusio, robekan
parenkim atau bahkan ruptur pedikel ginjal. Oleh karena itu cidera ginjal biasanya
diikuti dengan cidera organ – organ lain yang ada disekitarnya.

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI GINJAL

Ginjal merupakan organ ganda yang terletak di daerah abdomen, retroperitoneal


antara vetebralumbal 1 dan 4.pada neonatus kadang-kadang dapat diraba. Ginjal terdiri dari
korteks danmedula.Tiap ginjal terdiri dari 8-12 lobus yang berbentuk piramid.Dasar piramid
terletak dikorteks dan puncaknya yang disebut papilla bermuara di kaliks minor. Pada daerah
korteks terdapat glomerulus, tubulus kontortus proksimal dan distal. .

Panjang dan beratnya bervariasi yaitu ±6 cm dan 24 gram pada bayi lahir cukup
bulan, sampai12 cm atau lebih dari 150 gram. Pada janin permukaan ginjal tidak rata,
berlobus-lobus yangkemudian akan menghilang dengan bertambahnya umur.

2
Tiap ginjal mengandung ± 1 juta nefron (glomerulus dan tubulus yang berhubungan
dengannya ). Pada manusia, pembentukan nefron selesai pada janin 35 minggu. Nefron baru
tidak dibentuk lagi setelah lahir. Perkembangan selanjutnya adalah hipertrofi dan hiperplasia
struktur yangsudah ada disertai maturasi fungsional.

Tiap nefron terdiri dari glomerulus dan kapsula bowman, tubulus proksimal, anse
henle dantubulus distal. Glomerulus bersama denga kapsula bowman juga disebut badan
maplphigi. Meskipun ultrafiltrasi plasma terjadi di glomerulus tetapi peranan tubulus dala
pembentukan urine tidak kalah pentingnya.

2.1.1 Struktur Ginjal


a. Renal Capsule (Fibrous Capsule)
Tiap ginjal dibungkus dalam suatu membran transparan yang berserat yang
disebut renal capsule. Membran ini melindungi ginjal dari trauma dan infeksi. Renal
capsule tersusun dari serat yang kuat, terutama colagen dan elastin (protein berserat),
yang membantu menyokong massa ginjal dan melindungi jaringan vital dari luka.
Renal capsule menerima suplai darahnya terutama dari arteri interlobar, suatu
pembuluh darah yang merupakan percabangan dari renal arteri utama. Pembuluh
darah ini menjalar melalui cortex ginjal dan berujung pada renal capsule. Membrane
ini biasanya 2-3 milimeter tebalnya.
Pada orang yang normal, renal capsule berwarna merah muda, tembus cahaya,
halus, dan mengkilat. Biasanya membran ini mudah dilepas dari jaringan ginjal.
Ginjal yang terkena penyakit sering membuat ikatan serat dari jaringan utamanya

3
kepada renal capsule, yang membuat capsule melekat lebih kuat. Sulitnya membuka
capsule ini merupakan pertanda bahwa ginjal telah terkena penyakit.

b. Renal Cortex
Renal cortex merupakan lapisan terluar ginjal.Lapisan ini terletak diantara renal
capsule dan Medulla.Bagian atas nephron, yaitu glomerulus dan Henle's loop berada
di lapisan ini.Renal cortex adalah jaringan yang kuat yang melindungi lapisan dalam
ginjal.Pada orang dewasa, renal cortex membentuk zona luar yang halus tersambung
dengan projectil (kolom kortikal) yang menjulur diantara piramid.Dalam lapisan ini
terdapat renal corpusle dan renal tubules kecuali untuk bagian dari Henle's loop yang
turun kedalam renal medulla.Renal cortex juga mengandung pembuluh darah dan
kortikal pembuluh penampung.

c. Renal Medulla (Renal Pyramids)


Renal Medulla berada dibawah Cortex.Bagian ini merupakan area yang berisi 8
sampai 18 bagian berbentuk kerucut yang disebut piramid, yang terbentuk hampir
semuanya dari ikatan saluran berukuran mikroskopis.Ujung dari tiap piramid
mengarah pada bagian pusat dari ginjal.Saluran ini mengangkut urin dari cortical
atau bagian luar ginjal, dimana urin dihasilkan, ke calyces.

4
Calyces merupakan suatu penampung berbentuk cangkir dimana urin terkumpul
sebelum mencapai kandung kemih melalui ureter. Ruang diantara piramid diisi oleh
cotex dan membentuk struktur yang disebut renal columns.

Ujung dari tiap pyramid, yang disebut papilla, menuju pada Calyces di pusat
tengah ginjal. Permukaan papilla memiliki penampilan seperti saringan karena
banyaknya lubang-lubang kecil tempat dimana tetesan urin lewat. Setiap lubang
merupakan ujung dari sebuah saluran yang merupakan bagian dari nephron, yang
dinamakan saluran Bellini; dimana semua saluran pengumpul didalam piramid
mengarah. Serat otot mengarah dari calyx menuju papilla. Pada saat serat otot
pada calyx berkontraksi, urin mengalir melalui saluran Bellini kedalam
calyx(calyces). Urin kemudian mengalir ke kandung kemih melalui renal pelvis
dan ureter.

d. Renal Pelvis
Renal Pelvis berada di tengah tiap ginjal sebagai saluran tempat urin mengalir
dari ginjal ke kandung kemih. Bentuk renal pelvis adalah seperti corong yang
melengkung di satu sisinya.
Renal pelvis hampir seluruhnya dibungkus dalam lekukan dalam pada sisi
cekung ginjal, yaitu sinus. Ujung akhir dari pelvis memiliki bentuk seperti cangkir
yang disebut calyces.

e. Vena Renal dan Arteri Renal

5
Dua dari pembuluh darah penting, vena renal dan arteri renal. Dua pembuluh
ini merupakan percabangan dari aorta abdominal (bagian abdominal dari arteri
utama yang berasal dari jantung) dan masuk kedalam ginjal melalui bagian cekung
ginjal.

2.1.2 Fungsi Ginjal


1. Urinasi dan Penyaringan darah

 Darah mengalir masuk ke ginjal melalui Arteri Renalis. Arteri bercabang-


cabang dan menjadi pembuluh darah yang semakin kecil, disebut arteriole, dan
akhirnya berujung pada pembuluh kapiler di glomerulus pada setiap nephron.

6
2. Pengatur Kadar Air Dalam Darah.
Fungsi penting lain ginjal adalah untuk mengatur jumlah kandungan air dalam
darah. Proses ini dipengaruhi oleh antidiuretic hormone (ADH), yang disebut
juga vasopressin, yang diproduksi di hipotalamus (bagian otak yang mengatur
banyak fungsi internal) dan menyimpannya dalam kelenjar pituari yang terletak
didekatnya. Receptor di dalam otak memonitor kandungan air dalam darah.
Ketika kadar garam dan zat-zat yang lain dalam darah menjadi terlalu tinggi,
kelenjar pituari melepaskan ADH kedalam aliran darah.
Darah yang mengandung ADH dari otak mengalir dan masuk kedalam ginjal.
ADH membuat tubulus renal dan pembuluh pengumpul menjadi lebih mudah
ditembus oleh larutan dan air. Hal ini menyebabkan lebih banyak air diserap
kembali dalam aliran darah.Dilain sisi, ketiadaan ADH membuat pembuluh
pengumpul tidak dapat ditembus oleh larutan dan air, sehingga cairan dalam
pembuluh, dimana sebagian larutan telah dibuang, tetap banyak mengandung air;
urin menjadi encer.
3. Pengatur Tekanan Darah
Pengaturan tekanan darah berhubungan erat dengan kemampuan ginjal untuk
mengeluarkan cukup sodium chloride (garam) untuk memelihara jumlah sodium
yang normal, volume cairan extraselular dan volume darah. Penyakit ginjal
merupakan penyebab utama hipertensi tipe kedua. Bahkan gangguan kecil dalam
fungsi ginjal memainka peran besar pada sebagian besar (jika tidak semua) kasus

7
tekanan darah tinggi dan menaikkan cedera pada ginjal. Cedera ini akhirnya dapat
menyebabkan darah tinggi berat, stroke atau bahkan kematian.
Pada orang normal, ketika mengkonsumsi banyak sodium klorida, tubuh
menyesuaikan. Tubuh mengeluarkan lebih banyak sodium klorida tanpa
menaikkan tekanan pembuluh arteri. Namun demikian, banyak pengaruh dari luar
yang mengurangi kemampuan ginjal untuk mengeluarkan sodium.Jika ginjal
tidak cukup mampu untuk mengeluarkan garam dengan asupan garam normal
atau tinggi, mengakibatkan tejadinya peningkatan kronis volume cairan
extraselular dan peningkatan volume darah. Hal ini memicu terjadinya tekanan
darah tinggi. Ketika terjadi peningkatan kadar hormon dan neurotransmitter yang
menyebabkan pembuluh darah menyempit, bahkan kenaikan kecil volume darah
menjadi berbahaya. (Hal ini disebabkan karena kecilnya ruang pembuluh darah
tempat darah dipaksa untuk mengalir). Meski peningkatan tekanan arterial
membuat ginjal mengeluarkan lebih banyak sodium (yang memperbaiki
keseimbangan sodium), tekanan yang lebih tinggi dalam arteri mungkin
terjadi.Hal ini memperlihatkan hubungan antara penyakit ginjal dan tekanan
darah tinggi.
4. Menjaga Keseimbangan Kadar Asam dalam Tubuh
Ginjal juga menyesuaikan keseimbangan kadar asam dalam tubuh untuk
mencegah kelainan darah seperti acidosis atau alkalosis, keduanya melumpuhkan
fungsi sistem saraf pusat. Jika darah terlalu asam, dimana terlalu banyak terdapat
ion hidrogen, ginjal menyerap ion ini kedalam urin melalui proses sekresi tubular.
5. Penghasil Hormon
a) Erythropoietin
Beberapa hormone dihasilkan oleh ginjal.Salah satunya, Erythropoietin,
mempengaruhi produksi sel darah merah dalam sumsum tulang.Ketika ginjal
mendeteksi bahwa jumlah sel darah merah dalam tubuh berkurang, ginjal
memproduksi eritropoitin. Hormon ini berjalan dalam aliran darah ke sumsum
tulang, merangsang produksi dan pelepasan lebih banyak sel darah.
Erythropoietin adalah glikoprotein.Hormon ini bekerja pada sumsum tulang
untuk meningkatkan produksi sel darah merah.Stimuli seperti pendarahan atau
pergi ke tempat ketinggian (dimana oksigen tipis) memicu pelepasan EPO.
Orang yang mengalami gagal ginjal dapat tetap hidup dengan dialisis. Tetapi
dialisis hanya membersihkan darah dari limbah. Tanpa sumber EPO, orang ini
8
akan menderita anemia. Sekarang, berkat teknologi rekombinan DNA,
rekombinan EPO manusia telah tersedia untuk mengobati pasien ini.
b) Calcitriol
Calcitriol adalah 1,25[OH]2 Vitamin D3, bentuk aktif dari vitamin D.
Calcitriol diperoleh dari calciferol (vitamin D3) dari makanan yang dikonsumsi,
yang kemudian disintesa oleh kulit yang terkena sinar ultraviolet dari cahaya
matahari pagi hari. Calciferol dalam darah dirubah menjadi vitamin aktif dalam
dua langkah:
- Calciferol dirubah dalam liver menjadi 25[OH] vitamin D3 kemudian
dibawa ke ginjal (terikat ke serum globulin) dimana selanjutnya dirubah
menjadi calcitriol.
- Langkah terakhir ini dibantu oleh hormon parathyroid (PTH)
Calcitriol bekerja dalam sel usus untuk membantu penyerapan kalsium dalam
makanan.Calcitriol bekerja pula dalam tulang untuk memobilisasi calcium dari
tulang kedalam darah.Calcitriol masuk kedalam sel, jika sel tersebut
mengandung reseptor untuknya (sel usus memiliki reseptor tersebut), hormon ini
kemudian terikat pada reseptor tersebut.Reseptor Calcitriol merupakan faktor
transkripsi zinc-finger (lipatan berbentuk jari dari asam amino dan ion zinc,
yang ditemukan di bagian molekul protein yang terikat pada DNA dan RNA) a
finger-shaped fold of amino acids plus a zinc ion that is found in regions of
protein molecules that bind to DNA and RNA.Kekurangan calcitriol
mengakibatkan terkumpulnya kalsium di tulang menjadi terhambat.

2.2 RUPTUR GINJAL

2.2.1 Definisi

Trauma ginjal adalah kecederaan yang paling sering pada sistem urinari.Walaupun
ginjal mendapat proteksi dari otot lumbar, thoraks, badan vertebra dan viscera, ginjal
mempunyai mobiliti yang besar yang bisa mengakibatkan kerusakan parenchymal dan
kecederaan vaskular dengan mudah.Trauma sering kali disebabkan kerana jatuh,
kecelakaan lalu lintas, luka tusuk, dan luka tembak.

9
Trauma ginjal adalah cedera pada ginjal yang disebabkan oleh berbagai macam
rudapaksa baik tumpul maupun tajam.

2.2.2 Epidemiologi

Laju mortalitas dan morbiditas trauma (ruptur) ginjal bervariasi tergantung dari
beratnya trauma yang terjadi, derajat trauma yang mengenai organ lainnya dan rencana
pengobatan yang digunakan. Oleh karena itu, pilihan penanganan harus
mempertimbangkan angka mortalitas dan morbiditas. Secara keseluruhan, dengan
tekhnik penanganan modern, laju pemeliharaan ginjal mencapai 85-90%.

2.2.3 Insidensi

Frekuensi terjadinya trauma ginjal tergantung pada populasi pasienya.Jumlah trauma


(ruptur) ginjal kira-kira 3% dari keseluruhan jenis trauma dan 10% dari pasien tersebut
masuk dalam trauma abdominal. Pada anak-anak, umumnya lebih mudah terjadi rupture
ginjal, terkaitdengan ukuran ginjal anak yang relatif besar, lebih bersifat mobile dan
perirenal fat yang minim.

Trauma (ruptur) ginjal merupakan trauma urologi yang paling sering terjadi, terjadi 8-
10% dari pasien dengan disertai trauma pada abdomen. Dari penelitian Baverstock
(2001) dan Sagalowsky (1983) trauma tumpul merupakan penyebab terbanyak dengan
jumlah sebesar 80% dari trauma ginjal. Di antara pasien dengan hematuria, tercatat
trauma ginjal sebesar 25%; dimana kurang dari 1% pasien dengan mikrohematuria yang
memiliki trauma ginjal.

2.2.4 Etiologi

Cedera ginjal dapat terjadi secara (1) langsung akibat benturan yang mengenai daerah
pinggang atau (2) tidak langsung yaitu merupakan cedera deselerasi akibat pergerakan
ginjal secara tiba-tiba di dalam rongga retroperitonium. Goncangan ginjal di dalam
rongga retroperitonium menyebabkan regangan pedikel ginjal sehingga menimbulkan
robekan tunika intima arteri renalis. Robekan ini akan memacu terbentuknya bekuan-
bekuan darah yang selanjutnya dapat menimbulkan trombosis arteri renalis beserta
cabang-cabangnya. Cedera ginjal dipermudah jika sebelumnya sudah ada kelainan pada
ginjal, antara lain hidronefrosis

10
Ada 3 penyebab utama dari trauma ginjal , yaitu

1. Trauma tajam seperti tembakan dan tikaman pada abdomen bagian atas atau
pinggang merupakan 10 – 20 % penyebab trauma pada ginjal.
2. Trauma iatrogenik pada ginjal dapat disebabkan oleh tindakan operasi atau radiologi
intervensi, dimana di dalamnya termasuk retrograde pyelography, percutaneous
nephrostomy, dan percutaneous lithotripsy. Dengan semakin meningkatnya
popularitas dari teknik teknik di atas, insidens trauma iatrogenik semakin
meningkat , tetapi kemudian menurun setelah diperkenalkan ESWL. Biopsi ginjal
juga dapat menyebabkan trauma ginjal .
3. Trauma tumpul merupakan penyebab utama dari trauma ginjal. Trauma tumpul
ginjal dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Trauma langsung biasanya
disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, olah raga, kerja atau perkelahian. Trauma
ginjal biasanya menyertai trauma berat yang juga mengenai organ organ lain.
Trauma tidak langsung misalnya jatuh dari ketinggian yang menyebabkan
pergerakan ginjal secara tiba tiba di dalam rongga peritoneum. Kejadian ini dapat
menyebabkan avulsi pedikel ginjal atau robekan tunika intima arteri renalis yang
menimbulkan trombosis.

11
Trauma ginjal deselerasi Trauma ginjal tumpul

Ada beberapa faktor yang turut menyebebkan terjadinya trauma ginjal.Ginjal yang relatif
mobile dapat bergerak mengenai costae atau corpus vertebrae, baik karena trauma
langsung ataupun tidak langsung akibat deselerasi.Kedua, trauma yang demikian dapat
menyebabkan peningkatan tekanan subcortical dan intracaliceal yang cepat sehingga
mengakibatkan terjadinya ruptur.Yang ketiga adalah keadaan patologis dari ginjal itu
sendiri.Sebagai tambahan, jika base line dari tekanan intrapelvis meningkat maka
kenaikan sedikit saja dari tekanan tersebut sudah dapat menyebabkan terjadinya trauma
ginjal.Hal ini menjelaskan mengapa pada pasien yang yang memiliki kelainan pada
ginjalnya mudah terjadi trauma ginjal.

2.2.5 Patofisiologi

Trauma tumpul merupakan penyebab utama dari trauma ginjal. Dengan lajunya
pembangunan, penambahan ruas jalan dan jumlah kendaraan, kejadian trauma akibat
kecelakaan lalu lintas juga semakin meningkat. Trauma tumpul ginjal dapat bersifat
langsung maupun tidak langsung. Trauma langsung biasanya disebabkan oleh
kecelakaan lalu lintas, olah raga, kerja atau perkelahian. Trauma ginjal biasanya
menyertai trauma berat yang juga mengenai organ organ lain. Trauma tidak langsung
misalnya jatuh dari ketinggian yang menyebabkan pergerakan ginjal secara tiba tiba di
dalam rongga peritoneum.

Ruptur ginjal adalah robek atau koyaknya jaringan ginjal secara paksa.
Goncangan ginjal di dalam rongga retroperitoneum menyebabkan regangan pedikel
ginjal sehingga menimbulkan robekan tunika intima arteri renalis. Robekan ini akan
memicu terbentuknya bekuan-bekuan darah yang selanjutnya dapat menimbulkan
trombosis arteri renalis beserta cabang-cabangnya.
Cedera ginjal dapat dipermudah jika sebelumnya sudah ada kelainan pada ginjal,
antara lain hidronefrosis, kista ginjal, atau tumor ginjal.
Menurut derajat berat ringannya kerusakan pada ginjal, trauma ginjal dibedakan
menjadi: (1) cedera minor, (2) cedera major, (3) cedera pedikel atau pembuluh darah
ginjal.

12
Terdapat dua penggolongan derajat pada ruptur ginjal yaitu sebagai berikut.
Tabel 1. Kalsifikasi trauma/cedera ginjal
Klasifikasi pencitraan Federle Klasifikasi AAST (American Associate
of Surgery)
Kategor Tingkat cedera Derajat Tingkat cedera
i
I MINOR 1 Kontusio dan/atau
Kontusi hematoma subkapsular
Laserasi korteks 2 Laserasi korteks < 1 cm,
(tidak meluas ke calyx) tidak sampai kaliks
II MAJOR 3 Laserasi korteks > 1 cm,

Laserasi korteks tidak sampai kaliks


4 Laserasi korteks hingga
(meluas ke calyx)
corticomedullary junction
Ruptur ginjal
atau hingga collecting
III CATHATROPHIC
system
Trauma sampai ke pedikulus
5 Cedera arteri atau vena
ginjal
renalis disertai perdarahan
IV SHATTERED KIDNEY
Avulsi pedikel ginjal
Perlukaan sampai di pelviureteric
Ginjal terbelah (shattered
junction
kidney)

Namun klasifikasi yang paling sering digunakan dalam pencitraan adalah


klasifikasi Federle. Sistem Federle mengkategorikan cedera ginjal menjadi empat
kelompok (minor, mayor, catastrophic, dan pelviureteric junction injuries).

13
Gambar 1. Klasifikasi cedera ginjal (menurut AAST)(18)

2.2.6 Tanda dan Gejala

GAMBARAN KLINIS
Gambaran klinis yang ditunjukkan oleh pasien trauma ginjal sangat bervariasi
tergantung pada derajat trauma dan ada atau tidaknya trauma pada organ lain yang
menyertainya. Pada trauma derajat ringan mungkin hanya didapatkan nyeri di daerah
pinggang, terlihat jejas berupa ekimosis, dan terdapat hematuria makroskopik ataupun
mikroskopik.
Derajat cedera pada ginjal tidak selalu berbanding lurus dengan parah tidaknya
hematuria yang terjadi; hematuria makroskopik dapat terjadi pada trauma ginjal yang
ringan dan hanya hematuria ringan pada trauma mayor.
Pada trauma mayor atau rupture pedikel sering kali pasien datang dalam keadaan
syok berat dan terdapat hematoma di daerah pinggang yang makin lama makin
membesar. Dalam keadaan ini mungkin pasien tidak sempat menjalani pemeriksaan IVP
karena usaha untuk memperbaiki hemodinamik seringkali tidak membuahkan hasil
akibat perdarahan yang keluar dari ginjal cukup banyak. Untuk itu harus segera
dilakukan eksplorasi laparatomi untuk menghentikan perdarahan.

14
Patut dicurigai adanya cedera pada ginjal jika terdapat:
a. Trauma di daerah pinggang, punggung, dada sebelah bawah, dan perut bagian
atas dengan disertai nyeri atau didapatkan adanya jejas pada daerah itu
b. Hematuria
c. Fraktur costa bawah (T8-12) atau fraktur prosessus spinosus vertebra
d. Trauma tembus pada daerah abdomen atau pinggang
e. Cedera deselarasi yang berat akibat jatuh dari ketinggian atau kecelakaan lalu
lintas
f. Distensi abdomen
g. Takikardi
h. Hipotensi

2.2.7 Pemeriksaan Diagnostik

GAMBARAN RADIOLOGI
Adapun indikasi untuk dilakukan pemeriksaan radiologi adalah apabila ditemukan
tanda-tanda sebagai berikut:
 Luka tembus dengan hematuria
 Trauma tumpul dengan hematuria dan hipotensi
 Hematuria mikroskopik dengan peritoneal lavage (+)
 Trauma tumpul yang berhubungan dengan perlukaan ginjal (kontusio/hematoma di
daerah pinggang, fraktur costa bagian bawah, dan fraktur vertebra thoracolumbal)
A. Foto Konvensional
Pemeriksaan Intra Venous Urography (IVU) mungkin akan berguna pada
kasus ruptur ginjal.
Gambaran yang terlihat adalah pembengkakan pada ginjal, kontras yang
ekstravasasi keluar, tampakan massa perdarahan juga bisa terlihat, serta tampak
kelainan ekskresi jika dibandingkan dengan ginjal sebelah.
Apabila terdapat dugaan jumlah produksi urin yang sedikit, IVU dapat
menemukan letak kelainan dan mengestimasi jumlah kehilangan cairan tersebut.
Namun, walaupun IVU sangat mudah dan banyak digunakan, harus diingat bahwa
IVU memberikan ekspose radiasi yang cukup tinggi sehingga harus
dipertimbangkan jika ingin dilakukan pada anak-anak. IVU juga harus
diperhatikan pemakaiannya pada orang-orang dengan gangguan fungsi ginjal,

15
neuropati, dan alergi yang mungkin akan sangat berbahaya jika menerima ekspose
radiasi.(12)

Gambar 4. Gambar radiografi ruptur ginjal spontan. (a) psoas line kiri terlihat normal
(panah hitam), psoas line kanan tidak terlihat (panah merah). (b,c) IVU diambil pada
menit ke-15 dan 45, terlihat ekstravasasi meluas di peripelvis dan perirenal

B. Ultrasonografi (USG)
Tingkat keparahan pada trauma ginjal sangat beraneka ragam, oleh karena
itu terdapat kemungkinan terdeteksi dengan USG. Ada keadaan dimana ruptur
ginjal disebabkan oleh trauma langsung, sehingga akan didapatkan darah dan/atau
urin yang mengalami ekstravasasi ke perinephric space. Cairan-cairan tersebutlah
yang akan diidentifikasi oleh ultrasound. Jika terdapat urin maupun hematoma
yang banyak dapat dilakukan drainase secara percutaneus.
Penggunaan USG Doppler berwarna juga dapat sangat berguna untuk
mendiagnosis ruptur ginjal. Pada pemeriksaan USG Doppler, akan terlihat seperti
semburan (jet effect) pada bagian sisi ginjal yang ruptur ketika ada sedikit
kompresi oleh urinoma.

16
Gambar 5. Penampakan ruptur ginjal spontan. (a,b) terlihat defek berdiameter 4.5 mm
pada pelvis renali. (c) penampakan USG Doppler berwarna, terlihat aliran warna pada
ginjal yang berhubungan dengan kompresi oleh urinoma

C. CT-Scan
Sejauh ini CT-Scan adalah modalitas yang paling baik untuk melihat
gambaran ruptur ginjal karena informasi yang diberikan berkaitan dengan
morfologi dan fungsional ginjal bisa didapatkan dalam satu kali pemeriksaan saja.
Pada pasien dengan trauma abdomen, pemeriksaan CT-scan lebih baik
digunakan untuk mengidentifikasi jenis dan luas perlukaan dan juga lebih
bermanfaat untuk melihat organ retroperitoneum, khususnya ginjal.
Gambaran yang mungkin didapatkan pada ruptur ginjal adalah memar atau
kontusi ginjal, umunya muncul sebagai gambaran zona focal yang kurang
penyangatannya karena ekskresi tubular yang terganggu sementara. Jika terdapat
Hematoma intrarenal akan muncul sebagai area yang termarginasi sangat tipis
tanpa penyangatan. Untuk Hematoma subscapular biasanya memperlihatkan
bentuk lentikular sesuai dengan displacement yang terjadi pada korteks renalis.
Jika terdapat perdarahan minor, sisa pendarahan ekstrarenal akan tertahan pada
perirenal space dan meluas ke kompartemen-kompartemen retroperitoneal yang
saling berdekatan. Laserasi ginjal akan terlihat sebagai sebuah garis atau bentuk
irisan (wedge-shape) yang hipodens. “Shattered kidney” adalah laserasi
mengelilingi ginjal menghasilkan multiple fragmen.

17
Gambar 6. Tampak ruptur renal bilateral pada pemeriksaan CT-scan potongan axial

Gambar 7. Tampak hematoma mengelilingi ginjal kiri dan ekstravasasi material


kontras mengindikasikan ruptur renal

Gambar 8. Kontusio renalis dengan hematoma subcapsular

18
Gambar 9. Hematoma perinephric dan laserasi korteks renal <1 cm tanpa ekstravasasi
urin

Gambar 10. Laserasi korteks renal >1 cm, tanpa disertasi ruptur pada collecting system
atau ekstravasasi urin

Gambar 11. Laserasi corticomedullary juction, cellecting system renal dan infark
segmental, oleh karena trombosis ataupun laserasi pembuluh darah renalis

19
Gambar 12. Shattered kidney, avulsi ureteropelvic junction, dan laserasi atau trombosis
arteri dan vena renalis

D. MRI
Sebenarnya CT-scan adalah modalitas utama untuk menilai kasus hematuria
pada trauma abdomen akut. Walaupun hasil penelitian pada binatang
membuktikan bahwa MRI mempunyai keakuratan yang sama bahkan lebih
dibandingkan CT-scan, peralatan MRI ini kurang tersedia dimana-mana, serta
membutuhkan waktu yang lebih lama. Seperti halnya CT-scan, pada MRI juga
dapat terlihat ekstravasasi kontras, bahkan mampu membedakan hematoma
perirenal dan intrarenal.

Gambar 13. Gambar Hematoma Perinephric seorang dengan trauma tendangan pada
punggung. (A,B) Penekanan pada coronal fat (C) Tampak soft tissue di bagian
subscapular ginjal kiri.

20
2.2.8 Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan adalah urinalisis.Pada
pemeriksaan ini diperhatikan kekeruhan, warna, pH urin, protein, glukosa dan sel-sel.
Hematuria makroskopik atau mikroskopik seringkali ditemukan pada pemeriksaan ini.
Jika hematuria tidak ada, maka dapat disarankan pemeriksaan mikroskopik. Meskipun
secara umum terdapat derajat hematuria yang dihubungkan dengan trauma traktus
urinarius, tetapi telah dilaporkan juga kalau pada trauma (ruptur) ginjal dapat juga tidak
disertai hematuria. Akan tetapi harus diingat kalau kepercayaan dari pemeriksaan
urinalisis sebagai modalitas untuk mendiagnosis trauma ginjal masih didapatkan
kesulitan.

Pemeriksaan lab pada perdarahan
Untuk skrinning test ada 5 :
 AT (hitung trombosit) : untuk mengetahui defect kuantitas
 BT (bleeding time) : untuk mengecek kuantitas dan kualitas trombosit. Apakah ada
gangguan agregasi dan adhesi
 CT (clotting time) : waktu yang dibutuhkan untuk membentuk sumbat yang
sempurna.
 PPT (plasma protrombin time) : untuk melihat defect jalur koagulasi ekstrinsik dan
memonitor antikoagulan oral warfarin.
 APTT (activated partial tromboplastin time) : untuk  cek jalur intrinsic dan
memonitor antikoagular heparin.
 TAT (tes agregasi trombisit) : dengan menggunakan sampel plasma trombosit.
Trombosit dipapar dengan aggregator untuk memicu agregasi. Kemudian disinari
dengan spektofotometer. Jika makin banyak agregasi, sinar yang dihantarkan akan
makin banyak. Sehingga bisa menilai kemampuan agregasi.
 Fibrinogen : tes utk cek proses fibrinolisis. Jika fibrinolisis teraktivasi, FDP akan
meningkat.

2.2.9 Penatalaksanaan
1. Non-Operatif dan Konservatif
Tindakan konservatif ditujukan pada trauma minor. Pada keadaan ini dilakukan
observasi tanda-tanda vital (tensi, nadi, suhu tubuh), kemungkinan adanya

21
penambahan massa di pinggang, adanya pembesaran lingkaran perut, penurunan
kadar hemoglobin darah, dan perubahan warna urin pada pemeriksaan urine serial.
2. Operatif
Penanganan operatif pada ruptur ginjal ditujukan pada trauma ginjal mayor
dengan tujuan untuk segera menghentikan perdarahan. Selanjutnya, mungkin
dilakukan debridement, reparasi ginjal (berupa renorafi atau penyambungan
vaskuler) atau tidak jarang harus dilakukan nefrektomi parsial bahkan nefrektomi
total karena kerusakan ginjal yang sangat berat

2.2.10 Prognosis

Dengan follow-up yang dilakukan secara hati-hati, kebanyakan kasus ruptur ginjal
memiliki prognosis yang baik, dengan proses penyembuhan yang berlangsung secara
spontan dan mengembalikan fungsi ginjal. Pengawasan terhadap excretory urography
dan tekanan darah juga dapat menjamin deteksi dan manajemen yang tepat akan kejadian
hidronefrosis dan hipertensi.

2.2.11 Komplikasi

Komplikasi tercepat terjadi dalam 4 minggu setelah trauma dan termasuk ekstravasasi
urin dan bentuk urinoma, yang disertai perdarahan, infeksi urinoma dan abses perinefrik,
sepsis, fistula arteriovenous, pseudoanerysma dan hipertensi.

Komplikasi yang lama termasuk hironefrosis, hipertensi, bentuk kalkulus, dan


pyelonefritis kronik.Pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Husman dan Moris
didapatkan bahwa komplikasi lebih banyak ditemukan pada pasien yang devaskularisasi
dibandingkan dengan pasien yang vaskularisasi.

Komplikasi infeksi pada sistem urinari dan abses perinefrik umumnya didapatkan
pada pasien yang belum dilakukan pembedahan.

22
BAB III

KESIMPULAN

Trauma ginjal adalah cedera pada ginjal yang disebabkan oleh berbagai macam
trauma baik tumpul maupun tajam sehingga hal tersebut akan mudah terjadinya rupture pada
ginjal.

Cedera ginjal dapat terjadi secara langsung akibat benturan yang mengenai daerah
pinggang atau tidak langsung yaitu merupakan cedera deselerasi akibat pergerakan ginjal
secara tiba-tiba di dalam rongga retroperitonium. Goncangan ginjal di dalam rongga
retroperitonium menyebabkan regangan pedikel ginjal sehingga menimbulkan robekan tunika
intima arteri renalis.

23
DAFTAR PUSTAKA

Dorland, W. A. Newman.Kamus Kedokteran Dorland 29thEdition. Jakarta:EGC; 2000.

Gayton.Arthur dll. 2008. Buku ajar fisiologi kedokteran.Edisi 11. Jakarta: Penerbit buku
kedokteran EGC

Price, Sylva A. 2005. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit Edisis ke-6.
Jakarta:EGC

Purnomo, Basuki.B. 2003. Dasar-dasar urologi. Edisi 2.Jakarta : Penerbit Sagungseto.

R. Sjamsuhidajat, Wim de Jong. Buku ajar Ilmu bedah. Jakarta: EGC; 2013.

Sudoyo, Aru dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 4 Jilid 1. Jakarta Pusat
Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

http://www.experianzadoctor.blogspot.com/2010/04/trauma-ginjal.htmldiakses tanggal 15 April


2014.

http://www.scribd.com/doc/187778708/Makalah-Anatomi-Fisiologi-Ginjal, diakses tanggal 15


April 2014.

24