Anda di halaman 1dari 3

METODE

Penyetujuan desain pembelajaran

Pembelajaran secara acak ini telah disetujui oleh institusi dewan peninjau penelitian manusia dan
dipimpin dengan pengawasan keselamatan independent, keampuhan, dan komite monitoring
data.

Kriteria SIRS dan tekanan sistolik ≤ 90


mmHg atau laktasi ≥ 4 mmol/L

Penilaian dan pengkhususan

Penanganan standar di UGD (n=133)


Pengacakan EGDT (n=130)
(n = 263)

Vital sign, hasil lab, monitoring


jantung, oksimetri, pemasangan
kateter, arteri dan CVC

CVP ≥ 8– 12mmHg
CVP ≥ 8– 12mmHg
Monotoring ScvO2
Penanganan berkelanjutan dan MAP ≥ 65 mmHg
MAP ≥ 65 mmHg
standar EGDT selama ≥ 6 jam
Urin ≥ 0.5 ml/kgbb
Urin ≥ 0.5 ml/kgbb

Izin masuk RS ScvO2 ≥70%

Tanda-Tanda vital dan SaO2 ≥ 93%


data lab setiap 12 jam
Tidak tercapai dalam 6 jam (n=14) Tidak tercapai dalam 6 jam (n=14)
selama 72 jam
Hematokrit ≥ 30%

Follow Up Indeks Jantung

VO2
Tabel 1. Alur Pendaftaran Pasien dan Bantuan Hemodinamik

SIRS berperan dalam sindrom respon inflamatory sistemik, CVC, MAP, ScvO 2,, SaO2, VO2. Kriteria
diagnosis SIRS adalah temperatur ≥ 38°C atau ≤ 36°C, nadi ≥ 90x/menit, respirasi ≥ 20x/menit atau
tekanan partial CO2 arteri ≤32 mmHg, dan hitung sel darah putih ≥ 12.000/mm3 atau ≤ 4.000/mm3
atau menunjukkan kelainan bentuk immatur ≥ 10%.

Kriteria

Kritera pasien dewasa yang datang ke departemen emergensi dari 850 kasur rumah sakit
dengan sepsis berat, syok septik, atau sindrom sepsis dari Maret 1997 sampai Maret 2000 dinilai
untukkemungkinan pendaftaran berdasarkan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Kriteria
inklusinya adalah memenuhi 2 dari 4 kriteria SIRS dan tekanan darah sistolik ≥ 90 mmHg (setelah
pemberian kristaloid 20-30ml/kgBB selama lebih dari 30 menit) atau konsentrasi laktat darah 4
mmol/L atau lebih. Kriteria eksklusi dari penelitian ini adalah usia ≤ 18 tahun, ibu hamil,
menunjukkan cerebrovaskular akut, sindroma koronari akut, oedem pulmonari akut, status
astmaticus, disritmia jantung (diagnosis primer), kontraindikasi pemasangan CVC, perdarahan aktif
gastrointestinal, serangan jantung, overdosis obat, luka bakar, trauma, memerlukan operasi
secepatnya, kanker (dalam proses kemoterapi), immunosupression (karena transplantasi organ
atau penyakit sistemik), tidak perlu resusitasi.

Perawatan

Pasien ditangani di 9 unit tempat tidur di departemen emergensi oleh seorang dokter
emergency, 2 dokter umum, dan 3 perawat. Penelitian dilakukan selama penanganan rutin dari
pasien lain di departemen emergensi. Setelah cateter arteri (infus) dan CVC terpasang, pasien
dalam kelompok terapi standar dirawat dengan kebijakan dokter berdasarkan protokol untuk
penyokong hemodinamik, dengan critical-care consultation. Darah, urin, dan spesimen yang
berhubungan untuk dikultur sebelum pemberian antibiotik. Antibiotik diberikan sesuai perintah
dokter yang menangani. Antimikroba dianggap adekuat jika sensitivitas in vitro dari
mikroorganisme disesuaikan dengan antibiotik yang diminta di departemen emergensi.

Pasien dengan EGDT didapatkan CVC mampu mengukur saturasi oksigen vena sentral;
disambungkan dengan spectrophometer yang berguna untuk memonitoring. Pasien dirawat di
UGD berdasarkan protokol EGDT setidaknya selama 6 jam. Pemantauan saturasi oksigen vena
sentral selanjutnya tidak dilanjutkan. Critical-care clinicians melayani semua pasien, dokter tidak
menyadari pasien yang sedang dalam grup penelitian. Penyelidikan dalam penelitian tidak
mempengaruhi pelayanan pasien di ICU

Protokolnya sebagai berikut. Lima ratus ml bolus kristaloid diberikan setiap 30 menit untuk
mendapatkan CVP 8-12mmHg. Jika MAP dibawah 65 mmHg, diberikan vasopressor untuk
memelihara MAP setidaknya 65 mmHg. Jika MAP lebih dari 90 mmHg, vasodilator diberikan
sampai MAP 90 mmHg atau dibawahnya. Jika saturasi oksigen vena sentral kurang dari 70%,
eritrosit ditransfusikan agar nilai hematokrit setidaknya 30%. Setelah CVP, MAP,dan Ht optimal,
jika saturasi oksigen vena sentral kurang dari 70%, dobutamin dimulai dengan dosis awal 2.5
ɥg/kgBB/menit, dosis ditingkatkan menjadi 2.5 ɥg/kgBB/menit setiap 30 menit hingga saturasi
oksigen vena sentral 70 % atau lebih atau hingga dosis maksimal 20 ɥg/kgBB/menit telah
diberikan. Dosis dobutamin diturunkan atau dihentikan jika MAP kurang dari 65 mmHg atau jika
nadi diatas 120 x/menit. Untuk menurunkan pemakaian oksigen, pasien dalam pengoptimalan
hemodinamik tidak tercapai mendapatkan ventilasi mekanik dan sedatif.

Pengukuran Pengeluaran

Temperatur, nadi, jumlah urin, tekanan darah, dan CVP diukur secara berkala selama 6
jam pertama pengobatan dan dinilai setiap 12 jam dalam 72 jam. Analisa gas darah arteri dan vena
(termasuk saturasi oksigen vena sentral diukur dengan co-oxymetry in vitro; Nova Biomedical,
Waltham, Mass), konsentrasi laktat, koagulasi-related variabel dan clinical variabel berdasarkan
Acute Physiologyand Chronic Health Evaluation (APACHE II) skor (skala 0-71, dengan skor yang
lebih tinggi diindikasikan disfungsi organ lebih berat), Simplified Acute Physiology Score II (SAPS II,
skala 0-174, dengan skor lebih tinggi diindikasikan disfungsi organ lebih berat), dan Multiple Organ
Dysfunction Score (MODS, dengan skala 0-24, dengan skor lebih tinggi diindikasikan disfungsi
organ lebih berat) didapatkan pada garis dasar (0 jam) dan pada 3, 6, 12, 24, 36, 48, 60, dan 72
jam. Hasil dari tes laboratorium diperlukan untuk tujuan penelitian. Pasien diikuti selama 60 hari
atau hingga meninggal. Penggunaan sumber perawatan kesehatan (diindikasikan dengan durasi
dari terapi vasopressor dan ventilasi mekanik dan lamanya pasien dirawat) juga dinilai.

Analisis Statistik

Kematian di rumah sakit adalah primary efficy end point. Secondary end point adalah
resusitasi end point, skore disfungsi organ, variabel koagulasi, perlakuan yang diberikan, konsumsi
obat penunjang kesehatan. Dianggap angka penolakan 10 %, dua-bagian tipe ‘I error’ 5 % dan
kekuatan 80 %, dihitung bahwa jumlah sampel 260 pasien, mortality –in hospital menurun 15%.
Kaplan-Meier memprediksi bahwa kematian, dengan ratio resiko dan 95% interval kepercayaan,
digunakan untuk menjabarkan resiko relatif kematian. Perbedaan antara kedua grup pada lini
dasar yang dicoba pada Student’s t-test, chi-square test, atau Wilcoxon’s rank-sum test. Analisa
kenaikan dari area dibawah kurva menunjukkan perbedaan jumlah selama interval dari lini dasar
ke 6 jam setelah pemberian tindakan. Untuk data pada 6 jam, analisa variasi digunakan dengan
nilai base-line sebakai kovariat. Medel campuran digunakan untuk menilai efek dari tindakan pada
prespesifikasi secondary treatment selama 7-72 jam setelahdimulai pengobtan. Independent, 12
angggota keselamatan eksternal, keampuhan, dan monitoring data ddari data setelah one third
dan two third dari pasien dan pada kedua waktu disarankan bahwa percobaan dilanjutkan.