Anda di halaman 1dari 41

ETIKA PROFESI

Husnul Warnida, S.Si, M.Si, Apt


STIKES SAMARINDA
2020
JENIS PROFESI
Menurut Franz Magnis Suseno,
profesi harus dibedakan dalam
dua jenis:
Profesi pada umumnya
Profesi luhur (Officium Nobille).
PROFESI UMUM
 Profesi pada umumnya, minimal memiliki dua prinsip
yaitu:
1. Prinsip agar menjalankan profesinya secara
bertanggung jawab; dan
2. Hormat terhadap hak-hak orang lain.
 Pengertian bertanggung jawab ini menyangkut, baik
terhadap pekerjaannya maupun hasilnya, dalam arti
yang bersangkutan harus menjalankan pekerjaannya
dengan sebaik mungkin dengan hasil yang berkualitas.
Selain itu, juga dituntut agar dampak pekerjaan yang
dilakukan tidak sampai merusak lingkungan hidup,
artinya menghormati hak orang lain.
PROFESI LUHUR
 Dalam profesi yang luhur (officium nobile), motivasi
utamanya bukan untuk memperoleh nafkah dari
pekerjaan yang dilakukannya.
 Dua prinsip yang penting dalam profesi luhur, yaitu
1. Mendahulukan kepentingan orang yang dibantu; dan
2. Mengabdi pada tuntutan luhur profesi.
 Untuk melaksanakan profesi yang luhur secara baik,
dituntut moralitas yang tinggi dari pelakunya.
 Tiga ciri moralitas yang tinggi adalah:
1. Berani berbuat dengan bertekad untuk bertindak
sesuai dengan tuntutan profesi;
2. Sadar akan kewajibannya;
3. Memiliki idealisme yang tinggi.
PROFESI UMUM NAFKAH

PROFESI LUHUR PENGABDIAN


PROFESI?
1. PROFESI, adalah pekerjaan yang dilakukan
berkaitan dengan keahlian khusus dalam bidang
pekerjaannya.
2. Profesi adalah suatu pekerjaan yang berkaitan
dengan bidang yang didominasi oleh pendidikan
dan keahlian, yang diikuti dengan pengalaman
praktik kerja purna waktu.
3. Dilaksanakan dengan mengandalkan
keahliannya.
PENGERTIAN PROFESI
• Bidang usaha manusia berdasarkan
pengetahuan, dimana keahlian dan pengalaman
pelakunya diperlukan oleh masyarakat.
• Definisi ini meliputi tiga aspek yaitu :
 Ilmu pengetahuan tertentu,
 Aplikasi kemampuan/kecakapan
 Berkaitan dengan kepentingan umum.
(Gilley Dan Eggland (1989)
Profesi merupakan
suatu pekerjaan yang
mengandalkan
ketrampilan atau
keahlian khusus
yang tidak ada pada
pekerjaan-pekerjaan
pada umumnya.
SIFAT PERILAKU PROFESI
Menguasai ilmu secara mendalam dalam
bidangnya.
Mampu mengkonversikan ilmu menjadi
ketrampilan.
Selalu menjunjung tinggi etika dan
integritas profesi.
KARAKTERISTIK PROFESI
CIRI PROFESI
1. Pengetahuan Khusus
2. Kaidah dan Standar Moral Tinggi
3. Mengutamakan Kepentingan Masyarakat
4. Izin Khusus Profesi
SYARAT PROFESI
 Melibatkan kegiatan intelektual
 Menggeluti suatu ilmu khusus
 Memerlukan persiapan profesional
dan bukan sekedar latihan
 Mementingkan layanan di atas
kepentingan pribadi
 Mempunyai organisasi profesional
yang kuat dan terjalin erat
 Menentukan baku standarnya
sendiri (kode etik)
CIRI PROFESIONAL
1. Orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna
waktu.
2. Memerlukan latihan khusus dengan suatu kurun waktu.
3. Hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu
keahlian yang tinggi.
4. Hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu
atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu
sesuai keahliannya.
5. Memiliki pendidikan khusus, yaitu keahlian dan
keterampilan dan memiliki dasar pendidikan dan
pelatihan serta pengalaman dalam kurun waktu untuk
menunjang keahliannya.
CIRI PROFESIONAL
6. Memahami kaidah dan standard moral profesi serta etika
profesi dalam bidang pekerjaannya.
7. Berupaya mengutamakan kepentingan masyarakat,
artinya setiap pelaksana profesi harus meletakkan
kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
8. Ada ijin khusus dari instansi yang berwenang untuk
menjalankan profesinya.
9. Terorganisir dalam suatu induk organisasi sebagai
pengawasnya.
PROFESIONALISME
 Komitmen para profesional terhadap
profesinya.
 Komitmen tersebut ditunjukkan dengan
kebanggaan dirinya sebagai tenaga
profesional, berupa usaha terus-menerus
untuk mengembangkan kemampuan
profesional.
 Profesionalisme merupakan komitmen
para anggota suatu profesi untuk
meningkatkan kemampuannya secara
terus menerus.
 Profesionalisme adalah sebutan yang
mengacu kepada sikap mental dalam
bentuk komitmen dari para anggota suatu
profesi untuk senantiasa mewujudkan dan
meningkatkan kualitas profesionalnya.
Apakah apoteker merupakan
profesi?
CIRI - CIRI PROFESI APOTEKER
1. Memiliki tubuh pengetahuan kefarmasian yang berbatas
jelas.
2. Pendidikan khusus berbasis “keahlian” pada jenjang
pendidikan tinggi farmasi.
3. Memberi pelayanan kepada masyarakat, praktek dalam
bidang profesi Apoteker.
4. Memiliki perhimpunan dalam bidang keprofesian yang
bersifat otonom → Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).
5. Memberlakukan kode etik Apoteker.
6. Memiliki motivasi altruistic dalam memberikan pelayanan
kefarmasian.
7. Proses pembelajaran seumur hidup.
8. Mendapat jasa profesi.
QUESTION?
Organisasi Profesi

Organisasi yang beranggotakan para praktisi yang


menetapkan diri mereka sebagai profesi dan
bergabung bersama untuk melaksanakan fungsi-
fungsi sosial yang tidak dapat mereka laksanakan
dalam kapasitas mereka sebagai individu.
Organisasi Profesi
Pada dasarnya organisasi profesi memiliki lima
fungsi pokok dalam kerangka peningkatan
profesionalisme sebuah profesi, yaitu:
1. Mengatur keanggotaan organisasi
2. Membantu anggota untuk dapat terus
memperbaharui pengetahuan sesuai
perkembangan teknologi
3. Menentukan standarisasi pelaksanaan
sertifikasi profesi bagi anggotanya
4. Membuat kebijakan etika profesi yang harus
diikuti oleh semua anggota
5. Memberi sanksi bagi anggota yang melanggar
etika profesi
IKATAN APOTEKER INDONESIA
 Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI) adalah
Organisasi Profesi Kefarmasian di Indonesia yang
ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan
RI No. 41846/KMB/121 tertanggal 16 September 1965.
 Nama Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia ditetapkan
dalam Kongres VII Ikatan Apoteker Indonesia di Jakarta
pada tanggal 26 Februari 1965 dan merupakan
kelanjutan dari Ikatan Apoteker Indonesia yang didirikan
pada tanggal 18 Juni 1955.
 Pada tahun 1955, beberapa apoteker di Jakarta mulai
merasakan perlunya suatu organisasi apoteker yang
dapat memperhatikan dan memperjuangkan
kepentingan-kepentingan farmasi pada umumnya dan
kepentingan-kepentingan apoteker pada khususnya.
 Pada 20 April 1955 dibentuklah suatu Panitia Persiapan
untuk mempersiapkan dan melaksanakan pembentukan
perhimpunan apoteker nasional.
IKATAN APOTEKER INDONESIA
 MUKTAMAR I
Para apoteker Indonesia melaksanakan Muktamar I pada tanggal 17-18
Juni 1955 di Gedung Metropole, Jakarta.
Hasil dari Kongres I antara lain:
- Pengesahan nama organisasi "Ikatan Apoteker Indonesia" yang
disingkat IKA. - Pengesahan lambang IKA. - Pengesahan Anggaran
Dasar IKA. Sebagai ketua terpilih Drs. E. Looho.
 Muktamar II IKA berlangsung di Gedung PB IDI, Jl. Sam Ratulangi
Jakarta tahun 1956 dilakukan pengesahan Anggaran Rumah Tangga
yang tidak sempat disahkan dalam Muktamar I.
 Muktamar III IKA dilaksanakan di Gedung Perhimpunan Ilmu
Pengetahuan Alam, Jl. Surapati No. 1, Bandung, pada tahun 1957.
 Muktamar IV IKA diselenggarakan di Salatiga Jawa Tengah tahun 1958.
 Muktamar V IKA dan Lustrum I IKA dilaksanakakan di Cipayung pada
tanggal 19- 22 Agustus 1960.
 Muktamar ke VI IKA dilaksanakan di Murnayati - Lawang (Jawa Timur)
pada 31 Agustus - 4 September 1961.
IKATAN APOTEKER INDONESIA
MUKTAMAR VII pada tahun 1963 di Jawa Barat.
 Muktamar VII ini mempunyai arti khusus karena tidak lagi
menggunakan sebutan Muktamar IKA melainkan Kongres Nasional
Sarjana Farmasi.
 Pada Kongres ini diputuskan beberapa hal penting antara lain :
- Mengubah nama, bentuk dan sifat organisasi para apoteker dari
Ikatan Apoteker Indonesia (IKA) menjadi Ikatan Sarjana Farmasi
Indonesia (ISFI).
- Keanggotaan ISFI terdiri atas Sarjana Farmasi - Apoteker dan
Sarjana Farmasi Non Apoteker.
- Membentuk Korps Sarjana Farmasi menurut bidangnya masing-
masing : Korps Sarjana Farmasi Produksi, Korps Sarjana Farmasi
Distribusi, Korps Sarjana Farmasi Rumah Sakit, Korps Sarjana
Farmasi ABRI (TNI, red) dan lain-lain.
 Muktamar ke VII ini juga telah memilih Drs. Purnomo Singgih
sebagai Ketua Umum ISFI.
IKATAN APOTEKER INDONESIA
 Pada Kongres XVIII Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia di
Jakarta pada tanggal 07-09 Desember 2009, nama
organisasi Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)
berubah menjadi Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).
IKATAN APOTEKER INDONESIA
 Misi Ikatan Apoteker Indonesia adalah:
 (1) menyiapkan Apoteker yang berbudi
luhur, profesional, memiliki
kesejawatan yang tinggi dan inovatif
serta berorientasi ke masa depan;
 (2) membina, menjaga dan
meningkatkan profesionalisme
Apoteker sehingga mampu
menjalankan praktek kefarmasian
secara bertanggung jawab, dan;
 (3) melindungi anggota dalam
menjalankan profesinya.
INDONESIAN YOUNG
PHARMACIST GROUP (IYPG)
 INDONESIAN YPG adalah wadah bagi apoteker muda
Indonesia yang berusia di bawah 35 tahun untuk saling
menjalin komunikasi dan sarana pengembangan
kompetensi kefarmasian.
 INDONESIAN YPG terinspirasi oleh perhimpunan
serupa di tingkat Internasional dengan nama FIP-
Young Pharmacists Group dan di tingkat Asia dengan
nama ASIAN YPG.
 Pembentukan INDONESIAN YPG terinisiasi oleh
pertemuan antara apoteker muda dan Ketua dan
Sekjen IAI pada Mei 2011. Pertemuan tersebut
menyepakati bahwa INDONESIAN-YPG perlu dibentuk
sebagai wadah komunikasi, pengembangan
kompetensi, sarana pembentukan leadership.
INDONESIAN YOUNG
PHARMACIST GROUP (IYPG)
 Kongres Perdana INDONESIAN YPG
pada 4 – 5 Februari 2012 bertempat di
Sekretariat PP IAI di Jl. Wijaya Kusuma
No.17 Jakarta
 Pengajuan INDONESIAN YPG sebagai
bagian dari IAI dibahas pada Kongres
IAI tahun 2013.
 INDONESIAN YPG turut serta
berpartisipasi pembentukan ASIAN YPG
yang akan diajukan sebagai bagian dari
Federation of Asian Pharmacists
Association (FAPA).
KEGIATAN Indonesian YPG
QUESTION?
Pengertian ETIKA PROFESI

 Etika profesi menurut Keiser merupakan suatu


sikap hidup berupa keadilan untuk dapat
memberikan pelayanan yang professional
terhadap masyarakat dengan penuh ketertiban
serta keahlian.
 Kode etik profesi adalah suatu sistem norma, nilai
serta aturan profesional tertulis yang dengan
secara tegas menyatakan apa yang benar serta
baik, dan juga apa yang tidak benar serta tidak
baik bagi professional.
TUJUAN KODE ETIK
• Menjamin agar tugas keprofesian terwujud
dengan baik;
• Kepentingan semua pihak terlindungi;
• Menjamin hak penerima jasa untuk
mendapat layanan yang baik sesuai
imbalan yang diberikan baik secara
finansial/moral/kultural/formal
Fungsi kode etik profesi
• Memberikan pedoman bagi setiap anggota
profesi tentang prinsip profesionalitas yang
digariskan.
• Merupakan sarana kontrol sosial bagi
masyarakat atas profesi yang bersangkutan.
• Mencegah campur tangan pihak di luar
organisasi profesi tentang hubungan etika dalam
keanggotaan profesi.
PRINSIP KODE ETIK PROFESI
1. Pengakuan dan pemahaman ketentuan atau
prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya;
2. Ikatan komitmen dan pernyataan kesadaran
untuk mematuhinya dalam menjalankan tugas
dan perilaku keprofesian;
3. Kesiapan dan kerelaan adanya kemungkinan
adanya konsekuensi dan sanksi bila terjadi
kelalaian
SIFAT KODE ETIK PROFESI
 Singkat;
 Sederhana;
 Jelas dan Konsisten;
 Masuk Akal;
 Dapat Diterima;
 Praktis dan Dapat Dilaksanakan;
 Komprehensif dan Lengkap, dan
 Positif dalam Formulasinya.
PENYEBAB PELANGGARAN
KODE ETIK DI INDONESIA
 Pengaruh sifat kekeluargaan
 Pengaruh jabatan
 Pengaruh masih lemahnya penegakan hukum di
Indonesia
 Tidak berjalannya kontrol dan pengawasan dari
masyarakat
 Belum terbentuknya kultur dan kesadaran dari para
pengemban profesi untuk menjaga martabat luhur
profesinya
 Tidak adanya kesadaran etis dan moralitas di antara
para pengemban profesi untuk menjaga martabat luhur
profesinya.
UPAYA PENCEGAHAN
PELANGGARAN KODE ETIK
 Penundukan pada undang-undang
Setiap undang-undang mencantumkan dengan tegas
sanksi yang diancamkan kepada pelanggarnya.
Dalam kode etik profesi dicantumkan ketentuan:
“Pelanggar kode etik dapat dikenai sanksi sesuai
dengan ketentuan undang- undang yang berlaku
 Legalisasi kode etik profesi
SANKSI PELANGGARAN KODE
ETIK
Sanksi moral / sanksi sosial.
Sanksi dikeluarkan dari organisasi
Sanksi hukum
TERIMAKASIH
PERTANYAAN?