Anda di halaman 1dari 5

Prinsip-prinsip utama ASEAN adalah sebagai berikut:

 Menghormati kemerdekaan, kedaulatan, kesamaan, integritas wilayah nasional, dan


identitas nasional setiap negara
 Hak untuk setiap negara untuk memimpin kehadiran nasional bebas daripada
campur tangan, subversif atau koersi pihak luar
 Tidak mencampuri urusan dalam negeri sesama negara anggota
 Penyelesaian perbedaan atau perdebatan dengan damai
 Menolak penggunaan kekuatan yang mematikan
 Kerja sama efektif antara anggota

Prinsip-prinsip dasar tersebut meliputi:


 menghormati kemerdekaan, kedaulatan, kesetaraan, integritas wilayah dan identitas
nasional seluruh Negara Anggota ASEAN;
 berbagi komitmen dan tanggung jawab kolektif dalam meningkatkan perdamaian,
keamanan dan kemakmuran regional;
 menolak agresi dan ancaman atau penggunaan kekuatan atau tindakan lain dalam
cara yang tidak sesuai dengan hukum internasional;
 ketergantungan pada penyelesaian damai sengketa;
 tidak campur tangan dalam urusan internal negara anggota ASEAN;
 menghormati hak setiap Negara Anggota untuk menjaga eksistensi nasionalnya
bebas dari campur tangan eksternal, subversi, dan paksaan;
 konsultasi ditingkatkan mengenai hal-hal serius memengaruhi kepentingan bersama
ASEAN;
 kepatuhan terhadap aturan hukum, tata pemerintahan yang baik, prinsip-prinsip
demokrasi dan pemerintahan yang konstitusional;
 menghormati kebebasan dasar, promosi dan perlindungan hak asasi manusia, dan
pemajuan keadilan sosial;
 menjunjung tinggi Piagam PBB dan hukum internasional, termasuk hukum humaniter
internasional, yang disetujui oleh negara anggota ASEAN;
 tidak turut serta dalam kebijakan atau kegiatan, termasuk penggunaan wilayahnya,
dan dikejar oleh Negara Anggota ASEAN atau non-ASEAN Negara atau aktor non-
negara, yang mengancam kedaulatan, integritas wilayah atau stabilitas politik dan
ekonomi ASEAN Negara-negara Anggota;
 menghormati perbedaan budaya, bahasa dan agama dari masyarakat ASEAN,
sementara menekankan nilai-nilai bersama dalam semangat persatuan dalam
keanekaragaman;
 sentralitas ASEAN dalam hubungan politik, ekonomi, sosial dan budaya eksternal
sambil tetap aktif terlibat, berwawasan ke luar, inklusif dan tidak diskriminatif, dan
 kepatuhan terhadap aturan-aturan perdagangan multilateral dan aturan berbasis
ASEAN rezim bagi pelaksanaan efektif dari komitmen ekonomi dan pengurangan
progresif terhadap penghapusan semua hambatan untuk integrasi ekonomi regional,
dalam dorongan ekonomi pasar.
Sekarang, ASEAN beranggotakan semua negara di Asia Tenggara. Berikut ini adalah
negara-negara anggota ASEAN:
 Filipina (negara pendiri ASEAN)
 Indonesia (negara pendiri ASEAN)
 Malaysia (negara pendiri ASEAN)
 Singapura (negara pendiri ASEAN)
 Thailand (negara pendiri ASEAN)
 Brunei Darussalam bergabung pada (7 Januari 1984)
 Vietnam bergabung pada (28 Juli 1995)
 Laos bergabung pada (23 Juli 1997) (Laos dan Myanmar bergabung pada waktu
yang sama)
 Myanmar bergabung pada (23 Juli 1997) (Laos dan Myanmar bergabung pada waktu
yang sama)
 Kamboja bergabung pada (16 Desember 1998)
Perluasan Keanggotaan[sunting | sunting sumber]
Mengingat kepentingan geografis, ekonomis dan politik yang strategis, sejak beberapa tahun
belakangan ini, ASEAN telah mencoba menjajaki perluasan anggota kepada negara-negara
tetangga di sekitar ASEAN. Berikut ini adalah daftar negara-negara perluasan keanggotaan
ASEAN:
 Bangladesh
 Palau
 Papua Nugini
 Republik China (Taiwan)
 Timor Leste

ASEAN didirikan oleh lima negara pemrakarsa,


yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand di Bangkokmelalui
Deklarasi Bangkok. Menteri luar negeri penanda tangan Deklarasi Bangkok kala itu
ialah Adam Malik (Indonesia),Narsisco Ramos (Filipina), Tun Abdul Razak (Malaysia), S.
Rajaratnam (Singapura), dan Thanat Khoman (Thailand).
Isi Deklarasi Bangkok adalah sebagai berikut:
 Mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan perkembangan
kebudayaan di kawasan Asia Tenggara
 Meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional
 Meningkatkan kerja sama dan saling membantu untuk kepentingan bersama dalam
bidang ekonomi, sosial, teknik, ilmu pengetahuan, dan administrasi
 Memelihara kerja sama yang erat di tengah - tengah organisasi regional dan
internasional yang ada
 Meningkatkan kerja sama untuk memajukan pendidikan, latihan, dan penelitian di
kawasan Asia Tenggara
Brunei Darussalam menjadi anggota pertama ASEAN di luar lima negara
pemrakarsa. Brunei Darussalam bergabung menjadi anggota ASEAN pada tanggal 7
Januari 1984 (tepat seminggu setelah memperingati hari kemerdekaannya). Sebelas tahun
kemudian, ASEAN kembali menerima anggota baru, yaitu Vietnam yang menjadi anggota
yang ketujuh pada tanggal 28 Juli 1995. Dua tahun kemudian, Laos dan Myanmar menyusul
masuk menjadi anggota ASEAN, yaitu pada tanggal 23 Juli 1997.
Walaupun Kamboja berencana untuk bergabung menjadi anggota ASEAN bersama dengan
Myanmar dan Laos, rencana tersebut terpaksa ditunda karena adanya masalah politik dalam
negeri Kamboja. Meskipun begitu, satu tahun kemudian Kamboja akhirnya bergabung
menjadi anggota ASEAN yaitu pada tanggal 16 Desember 1998. Setelah kesemua negara
di Asia Tenggara bergabung dalam wadah ASEAN, sebuah negara kecil di
tenggara Indonesia yang tak lain dan tak bukan juga pecahan dari Indonesia yaitu Timor
Leste memutuskan untuk ikut bergabung menjadi anggota Perhimpunan Bangsa Asia
Tenggara, meskipun keanggotaannya belum dipenuhi.
Kerja sama ini tidak hanya mencakup bidang ekonomi saja tetapi juga ilmu pengetahuan dan
teknologi, kebudayaan dan informasi, pembangunan serta keamanan dan kerja sama
transnasional lainnya.
ASEAN+3 sudah melakukan beberapa pertemuan di antaranya kerja sama keamanan
energi ASEAN+3 muncul sebagai akibat semakin meningkatnya kebutuhan energi baik di
tingkat regional maupun tingkat dunia. Pertemuan pertama berlangsung pada tangga 9 Juni
2004 di Manila, Filipina dan mensahkan program kegiatan Energy Security Forum, Natural
Gas Forum, Oil Market Forum, Oil Stockpliling Forum dan Renewable Energy Forum dan
masih banyak lagi pertemuan yang dilakukan ASEAN+3 . [7]
Ada beberapa faktor mengapa ASEAN melakukan kerja sama dengan tiga negara patner, di
antaranya:
 Jepang
Peran Jepang sangat diharapkan dalam mengambil peran ekonomi yang lebih tegas. Di sisi
lain, Jepang sendiri terlihat pasif dalam peran kekuatan politik dan militer karena masih ada
rival yang kuat yaitu RRT. Jepang masih menganggap bahwa kedaulatan suatu negara
sebagai faktor yang paling penting.
Kepentingan Jepang di kawasan seperti yang kita lihat sekarang yaitu: stabilitas kawasan
di Asia Tenggara dan keamanan maritim/the sea lines of communication. Para elit
pemerintah Jepang tampaknya bersikap waspada dan proaktif terhadap setiap
perkembangan pada tataran regional terutama bangkitnya RRT sebagai raksasa ekonomi
dunia.
Jepang merasa harus memberikan perhatian yang lebih besar pada kestabilan regional.
Lagipula Jepang sendiri secara psikologis tentunya masih merasa sebagai bangsa yang
besar di Asia Pasifik. Dalam mengimplementasikan peranan politik di kawasan ASEAN akan
timbul perbedaan pandangan dengan AS. Instrumen yang paling efektif untuk menghadapi
AS adalah ekonomi. Sikap lebih gentle bangsa Jepang sangat diperlukan untuk menghadapi
AS. Jepangsendiri telah merencanakan peningkatan yang signifikan terhadap kekuatan
militernya. Dan secara langsung maupun tidak langsung, ini akan berimbas pada negara-
negara anggota ASEAN dalam bentuk peningkatan perlombaan senjata di kawasan.
 RRT
Kontur dimensi multipolar yang kian kompleks mengharuskan tiap negara anggota ASEAN
untuk adaptif terhadap dinamika geopolitik dan geostrategi kawasan. Seperti pada
peningkatan kemampuan militer RRT yang oleh Amerika Serikat pun dipandang sebagai
sebuah ancaman. International Role RRT telah terbuka lebar dengan diundangnya modal
dan teknologi dari Barat dan Jepang.
RRT tampaknya akan terus mempertahankan kepentingan dan strategic influence mereka di
kawasan ASEAN baik secara politik maupun militer. Ada keprihatinan mengenai tindakan
RRT beberapa tahun yang lalu di Kepulauan Spratly. Pengembangan lembaga-lembaga
keamanan yang lebih kuat di kawasan sangat diperlukan. Di bidang ekonomi dan industri,
langkah RRT yang mendorong warganya bermigrasi dari daerah pedesaan ke kota-kota
untuk menciptakan 270 juta pekerjaan dalam 10 tahun ke depan patut diapresiasi.
Kepentingan utama RRT terhadap negara-negara Asia terfokus pada pembangunan
ekonomi yang cepat, dan bagi RRT, untuk diakui sebagai kekuatan Asia yang besar juga
sangat penting. Dalam sebuah novel terbitan tahun 1997 yang menggambarkan terjadinya
perang berskala global antara Amerika Serikat melawan RRT, diceritakan bahwa pemicunya
adalah serangan RRT ke Laut Cina Selatan dan invasi militer RRT ke Vietnam. Walaupun
novel tersebut adalah fiksi belaka, namun tetap ada korelasinya dengan kondisi yang terjadi
saat ini, dan ada kemiripan dengan apa yang diungkapkan oleh pakar politik AS Samuel
Huntington dalam bukunya The Clash of Civilization. [8]
 Korea Selatan
Begitu juga dengan negeri baru yang maju yang bernama Korea Selatan, tidak dapat
dipungkiri bahwa perekonomian di negara tersebut sangat maju dan dilihat dari kemitraan
ASEAN dengan Korea Selatan berjalan dengan lancar seperti yang dikatakan oleh Presiden
Korea Selatan , Lee Myung Bak pada tahun 2009 bahwa perdagangan ASEAN-Korsel telah
tumbuh 11 kali lipat dalam dua dekade terakhir menjadi senilai US$ 90,2 miliar tahun lalu,
kata Lee. Angka tersebut bahkan diperkirakan akan meningkat menjadi US$ 150 miliar pada
2015.Dan berencana untuk meningkatakannya lebih baik lagi dan selain itu melakukan
pertukaran budaya dan sebagainya . [9] -->

India menjadi mitra wicara penuh ASEAN pada KTT ke-5 ASEAN


diBangkok, Thailand tanggal 14-15 Desember 1995 setelah sebelumnya menjadi Mitra
wicara sektoral sejak 1992. Pada KTT ke-1 ASEAN-India di Phnom Penh, Kamboja tanggal
5 November 2002 para Pemimpin ASEAN dan India menegaskan komitmen untuk
meningkatkan kerja sama dalam bidang perdagangan dan investasi, pengembangan sumber
daya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi, teknologi informasi dan people to people
contacts. Komitmen ASEAN dan India tersebut dikukuhkan melalui penandatanganan
ASEAN-India Partnership for Peace, Progress and Shared Prosperity and Plan of Action
pada KTT ke-3 ASEAN-India di Vientiane, Laos tanggal 30 November 2004.[10]
Hubungan kerja sama Indonesia-India di bidang ekonomi dan perdagangan mulai timbul
seiring dengan adanya upaya-upaya ke arah kerja sama antara ASEAN dan Asosiasi Kerja
Sama Regional Asia Selatan (SAARC) untuk menuju kerja sama yang lebih luas di
kawasan Asia. Secara lebih konkret lagi, hubungan dan kerja sama yang lebih dekat telah
terwujud dalam hubungan kemitraan antara ASEAN dan India melalui format pertemuan
tingkat tinggi ASEAN+1 (India), di mana pertemuan keduanya diadakan di Bali pada bulan
Oktober 2003 lalu.[11]