Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PENDAHULUAN

MENGUKUR TEKANAN DARAH , NADI, SUHU, RR DAN MENGATUR POSISI PASIEN


UNTUK MEMENUHI PKK KEPERAWATAN DASAR

DOSEN PEMBIMBING :
Ns. Hilmah Noviandry R, S.Kep., M.Kes

DISUSUN OLEH :

MUHAMMAD BINTANG RAMADHAN


33412001096
KELOMPOK C3
KELAS 1C

JURUSAN KESEHATAN PRODI DIII KEPERAWATAN


POLITEKNIK NEGERI MADURA
TAHUN PELAJARAN 2020/2021

i
LEMBAR PENGESAHAN

Nama : Muhammad Bintang Ramadhan


NRP : 33412001096
Judul : Mengukur tekanan darah, nadi, suhu, RR, dan mengatur posisi pasien.

Laporan pendahuluan ini telah dikonsultasikan kepada pembimbing dan


dinyatakan layak untuk diujikan pada tanggal 1 Maret 2021

Bangkalan , 27 Februari 2020


Mahasiswa

Muhammad. Bintang Ramadhan


33412001096

Mengetahui Dosen Pembimbing,

Ns. Hilmah Noviandry R, S.Kep.,M.Kes


3411118401

ii
SURAT PERNYATAAN
Saya menyatakn dengan sesungguhnya bahwa laporan pendahuluan praktikum dengan
tema judul “MENGUKUR TEKANAN DARAH, NADI, SUHU, RR, DAN MENGATUR POSISI
PASIEN” yang dibuat untuk melaksanakan praktik Ilmu Keperawatan Dasar (IKD). Sejauh
yang saya ketahui isi dari laporan yang bertema seperti yang disebutkan diatas adalah hasil
dari karya saya sendiri dan bukan menjiplak atau memplagiat karya laporan oran lain.

Demikian surat pernyataan yang saya buat sebenar-benarnya.

Bangkalan, 27 februari 2021

Penulis

iii
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat
menyelesaikan laporan pendahuluan ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya
kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan laporan pendahuluan ini dengan baik.
Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi
Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu
berupa sehar fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan
pembuatan laporan pendahuluan sebagai tugas dari Praktik kerja klinik Keperawatan Dasar
berupa mengukur tekanan darah , nadi, suhu, rr dan mengatur posisi pasien Penulis tentu
menyadari bahwa laporan pendahuluan ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak
terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik
serta saran dari pembaca untuk laporan pendahuluan ini, supaya laporan ini nantinya dapat
menjadi lebih baik lagi.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya kepada Dosen
Pembimbing kami Ns. Hilmah N.R, S.Kep., M.Kes yang telah membimbing kami dalam
menyusun laporan pendahuluan ini.
Demikian, semoga ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Bangkalan, 27 Februari 2021

iv
DAFTAR ISI

Halaman Sampul..........................................................................................................i

Halaman Pengesahan....................................................................................................ii

Surat Pernyataan...........................................................................................................iii

Kata Pengantar..............................................................................................................iv

Daftar Isi.......................................................................................................................v

BAB 1 PENDAHULUAN

1. Latar Belakang..........................................................................................................1

2. Rumusan Masalah ...................................................................................................3

3. Tujuan.......................................................................................................................3

BAB 2 PEMBAHASAN

1. Mengukur tekanan darah ........................................................................................4

2. Pemeriksaan nadi .....................................................................................................8

3. Mengukur Suhu Tubuh ............................................................................................11

4. Menghitung RR.......................................................................................................16

5. Mengatur Posisi Pasien.............................................................................................19

BAB 3 PENUTUP

1. Kesimpulan...............................................................................................................26

2. Saran.........................................................................................................................26

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................27

v
BAB 1
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Tanda-tanda vital adalah suatu standar nilai yang digunakan untuk mengukur fungsi dasar
tubuh. Pengukuran TTV dilakukan dengan tujuan untuk menggambarkan kondisi kesehatan
seseorang secara umum. Pengukuran tanda-tanda vital juga dapat memberikan petunjuk
mengenai penyakit yang sedang diderita seseorang, serta menggambarkan tingkat efektivitas
perawatan yang dijalani. Nilai TTV normal dapat berbeda, tergantung dari usia, jenis
kelamin, berat badan, hingga kondisi kesehatan seseorang. Ada empat tanda vital yang paling
utama di tubuh, yaitu: Denyut nadi ,Tekanan darah ,Laju pernapasan ,Suhu tubuh
Nilai TTV normal untuk denyut nadi

Pengukuran denyut nadi termasuk salah satu prosedut pemeriksaan TTV normal
Pengukuran denyut nadi dilakukan untuk mengetahui jumlah detak jantung per menit. Selain
itu, pengukuran ini juga dapat mengetahui ritme detak jantung dan kekuatan detak
jantung.Nilai denyut nadi yang normal untuk orang dewasa adalah 60-100 kali per menit.
Namun, denyut dapat lebih rendah atau tinggi dari rentang normal sehabis berolahraga,
sedang sakit, cedera, atau ketika mengalami kondisi psikologis yang tidak stabil.Perempuan
berusia 12 tahun ke atas, umumnya memiliki denyut nadi yang lebih cepat dibandingkan laki-
laki. Selain itu orang yang berprofesi sebagai atlet, seperti pelari, mempunyai nilai denyut
nadi yang cenderung lebih lambat dari normal, yaitu sekitar 40 kali per menit. Kondisi ini
disebabkan oleh latihan kardio yang sering mereka lakukan.
Nilai TTV normal tekanan darah

TTV normal tekanan darah adalah 120/80 mmHg


Mengukur tekanan darah adalah salah satu pengukuran tanda-tanda vital yang sudah familiar.
Hasil pengukuran tekanan darah, akan ditulis dalam dua angka, seperti 120/80 mmHg.Angka
120 menunjukan angka sistolik sedangkan angka 80 merupakan angka diastolik. Sistolik
merupakan angka yang memperlitahkan ukuran tekanan di pembuluh darah (arteri) jantung,
saat jantung berdetak dan memompa darah keluar dari jantung.Sementara itu, diastolik
merupakan angka yang mengukur tekanan di arteri saat jantung berada pada posisi istirahat,

1
di antara detakan.Angka 120/80 mmHg merupakan ukuran tekanan darah normal. Berikut ini
rentang nilai tekanan darah yang menandakan adanya gangguan kesehatan.
• Tekanan darah rendah
Seseorang dikatakan memiliki tekanan darah rendah apabila tensinya teraba pada angka
90/60 mmHg atau kurang. Bagi beberapa orang, tekanan darah tersebut memang tidak
menimbulkan masalah.Namun, jika pada tekanan darah tersebut Anda merasakan gejala lain
seperti pusing, mual, keringat dingin, hingga pingsan, segeralah memeriksakan diri ke dokter.
• Tekanan darah tinggi
Tekanan darah tinggi dibagi ke dalam beberapa tingkat, yaitu pra-hipertensi, tingkat 1, dan
tingkat 2. Pra-hipertensi. Seseorang dikatakan berada pada tingkat pra-hipertensi apabila hasil
pengukuran tekanan darahnya menunjukkan angka sistole sebesar 120-129, sedangkan
diastolenya kurang dari 80. Tingkat 1. Kondisi ini terjadi jika tekanan sistole tercatat pada
angka 130-139 dan diastole pada angka 80-89.
Tingkat 2. Jika tekanan sistole tercatat pada angka 140 atau lebih dan diastole 90 atau lebih,
tekanan darah tinggi masuk pada tingkat 2. 
Nilai TTV normal untuk pernapasan
Mengukur pernapasan perlu dilakukan untuk melihat status kesehatan
Saat mengukur tanda-tanda vital, perawat atau dokter akan mengukur intensitas Anda
bernapas dalam satu menit. Untuk orang dewasa, nilai TTV normal untuk jumlah napas
adalah 12-16 kali per menit.Untuk menghitung jumlah pernapasan dalam satu menit, tenaga
kesehatan akan mengukur intensitas dada Anda terlihat naik atau sedang mengambil napas.
Mengukur pernapasan juga dapat dilakukan dengan memegang bahu, dan menghitung
intensitas bahu terasa naik saat sedang bernapas.Jumlah pernapasan dapat meningkat saat
seseorang sedang mengalami demam atau gangguan kesehatan lainnya.

Suhu tubuh yang normal adalah 36,5 hingga 37,2 derajat celcius
Ukuran suhu tubuh seseorang dapat berbeda, tergantung dari Jenis kelamin, Aktivitas yang
dilakukan Makanan dan minuman yang dikonsumsi, Cuaca, Siklus menstruasi pada wanita
Untuk orang dewasa yang sehat, temperatur tubuh yang normal dapat berkisar antara 36,5
derajat Celcius hingga 37,2 derajat Celcius. Pengukuran temperatur tubuh dapat dilakukan
dengan bermacam cara, seperti:Secara oral atau melalui mulut ,Melalui rektal atau anus
Dengan menjepit termometer di ketiak, Melalui telinga, Dengan menempelkan termometer
pada kulit dahi, Secara internal, melalui pengukuran suhu di organ dalam seperti
kerongkongan, jantung, atau kandung kemih.Seseorang dikatakan demam apabila suhu

2
tubuhnya meningkat sekitar satu derajat dari rentang suhu tubuh yang normal. Sementara itu,
seseorang dikatakan hipotermia apabila suhu tubuhnya kurang dari 35 derajat
Celcius.Mengenali tanda-tanda vital di tubuh dapat membantu Anda cepat menyadari apabila
ada nilai TTV yang tidak normal. Meski tidak selalu menandakan gangguan, namun tidak ada
salahnya untuk segera  saat merasa nilai TTV Anda tidak normal, sebagai langkah
pencegahan.
Pengaturan posisi pasien melibatkan pemeliharaan dengan benar keselarasan tubuh
netral pasien dengan mencegah hiperekstensi dan rotasi lateral yang ekstrim untuk mencegah
komplikasi imobilitas dan cedera. Memposisikan pasien adalah aspek penting dari praktik
dan tanggung jawab seorang perawat.
Dalam pembedahan, pengumpulan spesimen, atau perawatan lain, pemosisian pasien
yang tepat dapat memberikan eksposur yang optimal dari tempat pembedahan / perawatan
dan pemeliharaan martabat pasien dengan mengendalikan eksposur yang tidak perlu.

2. RUMUSAN MASALAH
a). Apa macam macam TTV
b). Apa indikasi dan kontraindikasi dari pemeriksaan TTV
c). Apa macam macam Posisi pada pasien
d). Bagaimana Prosedur kerja dari TTV dan Pemberian posisi pada pasien

3. TUJUAN
a). Melakukan pengukuran tekanan darah
b). Melakukan pengukuran nadi
c). Melakukan pengukuran temperatur/suhu tubuh
d). Melakukan pengukuran pernafasan (respiration rate)

3
BAB 2
PEMBAHASAN

1. MENGUKUR TEKANAN DARAH

A. Definisi Mengukur Tekanan Darah

Pengukuran tekanan jantung untuk melawan tahanan dinding pembuluh darah saat systole
dan diastole. Yang diukur dalam satuan mmHg dengan alat yang disebut tensimeter
( sfigmomanometer atau Aneroid manometer).
Tekanan Darah (TD) normalnya 100-120/60-80 mmHg Tekanan darah memiliki 2
komponen yaitu sistolik dan diastolik. Pada waktu ventrikel berkonstraksi, darah akan
dipompakan ke seluruh tubuh. Keadaaan ini disebut sistolik, dan tekanan aliran darah pada
saat itu disebut tekanan darah sistolik. Pada saat ventrikel sedang rileks, darah dari atrium
masuk ke ventrikel, tekanan aliran darah pada waktu ventrikel sedang rileks disebut tekanan
darah diastolik.
B. Tujuan Mengukur Tekanan Darah

1. Untuk mengetahui nilai tekanan darah

C. Indikasi Mengukur Tekanan Darah

1. Pada saat pertama kali mencatat riwayat kx, sebagai data dasar
2. Pada setiap pemeriksaan antenatal
3. Pada kondisi klinis yang telah ditetapkan, misalnya syok dan perdarahan, gejala –
gejala seperti sakit kepala, penglihatan kabur, proteinuria.
4. Hipertensi akibat kehamilan.
5. Bayi preterm atau bayi sakit
6. Tranfusi darah
7. Selama dan setelah pembedahan.
.

D. Kontra indikasi Mengukur Tekanan Darah

Pada dasarnya pemeriksaan tekanan darah dengan teknik ambulatori ini tidak
memiliki kontraindikasi mutlak. Namun pada beberapa keadaan pemeriksaan ini tidak
disarankan, yaitu pada pasien dengan hipertensi maligna dengan tekanan darah sistol
lebih dari 180 mmHg atau tekanan darah diastol lebih dari 110 mmHg, serta pada

4
kasus hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan darah sistolik di atas 160 mmHg
dan diastolik di bawah 70 mmHg.

Prosedur ini tidak disarankan pada kedua keadaan tersebut karena pengukuran yang
berlangsung selama 24 jam dapat menimbulkan keterlambatan pengobatan pasien.
Pada pasien dengan nadi yang tidak teratur dan aritmia, pemeriksaan tekanan darah
dengan teknik ambulatori ini dapat menghasilkan hasil yang tidak akurat sehingga
tidak rutin dikerjakan.

E. Tahap kerja

a). Persiapan Alat

1. Sphygmomanometerrn atau aneroid tensimeter


2. stetoskop
3. sarung tangan bersih
4. antiseptic
5. buku catatan

b). Persiapan Pasien

1. Lakukan tindakan dengan 5s (senyum salam sapa sopan santun)


2. Lakukan perkenalan diri dan identifikasi pasien
3. Jelaskan maksud dan tujuan tindakan dan buka kalimat terbuka
4. Jelaskan prosedur tindakan
5. Buat infrom consent

c). Persiapan Lingkungan

1. Jaga privasi pasien dengan measang sampiran / sketsel


2. Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman

d). Pelaksanaan Tindakan

1. cuci tangan dan pakai sarung tangan


2. Posisikan px ( duduk, berbaring atau berdiri)
3. Letakkan tensimeter sejajar dengan jantung atau sedikit di bawah jantung
4. Gulung lengan baju ke atas, lalu pasang manset tensimeter pada lengan atas, 2-
3 cm di atas fossa cubiti. Posisikan pipa karet sejajar dengan arteri. Pemasangan
manset tidak boleh terlalu kenceng atau terlalu longgar.

5
Jika manset tidak bisa dipasang pada kedua ekstremitas atas, pengukuran
tekanan darah bisa dilakukan di kaki. Letakkan manset 2-3 cm diatas lutut.
Prosedur pemasangan sama sepeerti pemasangan di tangan, hanya saja
stetoskop diletakkan di atas arteri popliteal.
5. Anjurkan px untk merilekskan lengannya. Raba denyut arteri brakhialis dengan
ketiga jari tengah.

Jika arteri sudah teraba, letakkan stetoskop di atasnya.


6. Tutup sekrop balon karet (putar ulir ke atas ), lalu buka pengunci raksa. Manset
dipompa hingga air raksa di gelas manometer naik. Pemompaan dilakukan
hingga raksa menunjukkan angka 20 mmHg diatas nilai systole hasil
pemeriksaan terdahulu. Jika px lupa hasil pemeriksaan terdahulu, pompa manset
hingga air raksa mencapai angka 20 mmHg diatas nilai systole normal ( jika nilai
normal systole 120 mmHg, pemompaan dilakukan hingga 140 mmHg).
7. Buka sekrup balon karet (putar ke bawah) perlahan – lahan (2-3 mmHg/detik)
sambil mendengarkan denyutan arteri brakhialis.
8. Dengarkan bunyi denyutan nadi sambil melihat skala manometer. Denyutan
pertama adalah bunyi Korotkoff I (sistole) dan saat denyutan menghilang sama
sekali adalah bunyi Korotkoff V ( diastole).
Setelah didaptakan systole dan diastole, kempiskan manset lalu lepaskan
manset. Jika perlu mengulag pemeriksaan, kempiskan manset terlebih dahulu,
tunggu selama 1 menit lalu lakukan pengukuran ulangan.
9. Rapikan px dan beritahukan hasil pemeriksaan.
10. Alat – alat dirapikan dan disimpan di temaptnya
11. Lepas sarung tangan dan cuci tangan
12. Catat hasil pengukuran ke lemabr pemeriksaan atau buku catatan.

6
E. Evaluasi

1. Dokumentasi tindakan ( catat tanggal dan waktu pelaksanaan )


2. Dokumentasi hasil tindakan dan respon pasien

7
2. PEMERIKSAAN NADI

A. Definisi Pemeriksaan Nadi

Pengukuran getaran / denyut darah di dalam pembuluh darah arteri akibat kontraksi
ventrikel kiri ke jantung. Denyut ini dapat dirasakan dengan palpasi yaitu dengan
menggunkaan ujung jari tangan di sepanjang jalannya pembuluh darah arteri, terutama pada
tempat2 tonjolan tulag dengan sedikit menekan di atas pembuluh darah arteri.
Frekuensi denyut nadi dihitung dalam 1 menit, normalnya 60-100 x/menit
Takikardi jika > 100 x/menit dan Bradikardi jika < 60 x/menit
Lokasi pemeriksaan denyut nadi diantaranya :
a. Arteri radialis
b. Arteri ulnaris
c. Arteri brachialis
d. Arteri karotis
e. Arteri temporalis superfisial
f. Arteri maksiliaris eksterna
g. Arteri femoralis
h. Arteri dorsalis pedis
i. Arteri tibialis posterior

B. Tujuan Pemeriksaan Nadi

1. Mengetahui denyut nadi ( irama, frekuensi, dan kekuatan pulsasi)


2. Menilai kemampuan fungsi kardiovaskuler
3. Saat pasien akan melakukan pembedahan
4. Saat pasien di rawat inap , sebagai data pengkajian

C. Indikasi Pemeriksaan Nadi

1. Saat pasien akan melakukan pembedahan


2. Saat pasien di rawat inap , sebagai data pengkajian
3. Sewaktu diperlukan pemeriksaan tanda tanda vital
4. Secara rutin dilakukan bersamaan dengan pengukuran suhu, tekanan darah, dan
respirasi

8
D. Kontra Indikasi Pemeriksaan Nadi

Jika pengukuran denyut nadi yang dilakukan oleh pelayan kesehatan dibawah normal.

E. Tahap kerja

A. Persiapan Alat

1. Arloji
2. stetoskop
3. sarung tangan bersih
4. buku catatan

B. Persiapan Pasien

1. Lakukan tindakan dengan 5s (senyum salam sapa sopan santun)


2. Lakukan perkenalan diri dan identifikasi pasien
3. Jelaskan maksud dan tujuan tindakan dan buka kalimat terbuka
4. Jelaskan prosedur tindakan
5. Buat infrom consent

C. Persiapan Lingkungan

1. Jaga privasi pasien dengan measang sampiran / sketsel


2. Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman

D. Pelaksanaan Tindakan

1. cuci tangan dan pakai sarung tangan


2. Posisikan px ( duduk, berbaring atau berdiri)
3. Anjurkan px untuk rileks
4. Tempelkan 3 ujung jari tengah pada bagian dalam pergelangan tangan untuk
mencari denyutan A. radialis. Tekankan ujung ketiga jari tengah supaya bisa
merasakan denyutan A. radialis, tetapi jangan terlalu kenceng karena akan
menyakiti px.

9
5. Hitung frekuensi denyut nadi selama 1 menit penuh atau selama 30 detik lalu
dikalikan dua.
6. Evaluasi ritme nadi.
7. Rapikan px dan beritahukan hasil pemeriksaan.
8. Alat – alat dirapikan dan disimpan di temaptnya
9. Lepas sarung tangan dan cuci tangan
10. Catat hasil pengukuran ke lembar pemeriksaan atau buku catatan.

E. Evaluasi

1. Dokumentasi tindakan ( catat tanggal dan waktu pelaksanaan )


2. Dokumentasi hasil tindakan dan respon pasien

10
3. MENGUKUR SUHU TUBUH

A. Definisi Mengukur suhu tubuh


Pengukuran suhu tubuh manusia. Suhu tubuh adalah perbedaan antara panas yang
dihasilkan tubuh dengan jumlah panas yang dilepaskan ke lingkungan. Lokasi
pemeriksaan suhu tubuh : mulut (oral) tidak boleh dilakukan pada anak/bayi, anus
(rectal) tidak boleh dilakukan pada klien dengan diare, ketiak (aksila), telinga
(timpani/aural/otic) dan dahi (arteri temporalis).  Hipotermia (41,1° C)

Baru lahir 36,8⁰


1 tahun 36,8⁰
5-8 tahun 37,0⁰
10 tahun 3 37,0⁰
Remaja 37,0⁰
Dewasa 37,0⁰
Lansia (>70 thn) 36,0⁰

B. Tujuan Mengukur Suhu Tubuh

1. Mengetahui suhu tubuh manusia.


2. untuk keperluan diagnosa keperawatan

C. Indikasi Mengukur Suhu Tubuh

1. Pada saat pertama kali mencatat riwayat kx, sebagai data dasar
2. Pada setiap pemeriksaan antenatal
3. Pada kondisi klinis yang telah ditetapkan, misalnya syok dan perdarahan, gejala –
gejala seperti sakit kepala, penglihatan kabur, proteinuria.
4. Hipertensi akibat kehamilan.
5. Bayi preterm atau bayi sakit
6. Tranfusi darah
7. Selama dan setelah pembedahan.
8. Luka Bakar
9. Luka Terbuka
10. Infeksi
.

D. Kontra indikasi Mengukur Suhu Tubuh

1. Bayi
2. Anak Kecil
3. Klien Dengan Bedah oral

11
4. Nyeri atau trauma pada mulut
5. Klien tidak sadar
6. Pernapasan Mulut

E. Tahap kerja

a). Persiapan Alat

1. Thermometer sesuai kebutuhan (aksila, rectal, oral, atau timpani)


2. Pelumas
3. Wadah yang berisi cairan desinfektan, air sabun dan air bersih
4. Tissue
5. Piala ginjal
6. Sarung tangan bersih
7. Baki
8. Alas baki
9. Buku untuk mencatat

b). Persiapan Pasien

1. Lakukan tindakan dengan 5s (senyum salam sapa sopan santun)


2. Lakukan perkenalan diri dan identifikasi pasien
3. Jelaskan maksud dan tujuan tindakan dan buka kalimat terbuka
4. Jelaskan prosedur tindakan
5. Buat infrom consent

c). Persiapan Lingkungan

1. Jaga privasi pasien dengan measang sampiran / sketsel


2. Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman

d). Pelaksanaan Tindakan

Termometer Aksila.
1. Cuci tangan dan pakai sarung tangan
2. Buka dua kancing baju pasien pada bagian atas, atau jika pasien memakai kaos
gulung lengan kaos hingga bahu.
3. Berikan tisu pada px, minta px untuk membersihkan ketiak dengan tisu. Jika px
tidak sadar atau tidak memungkinkan menekuk tangannya, perawat membantu
px membersihkan ketiak
4. Jika menggunakan termometer raksa, periksa terlebih dahulu apakah raksa
sudah menunjukkan angka di bawah 35°C; turunkan raksa hingga di bawah
35°C sebelum mengukur suhu tubuh. Jika menggunakan thermometer digital,
periksa terlebih dahulu baterainya.
5. Letakkan bagian logam thermometer tepat di tengah ketiak. Perhatikan jangan
sampai berdesakan dengan baju pasien.

12
6. Setelah thermometer terpasang dengan tepat, minta pasien untuk mengempit
thermometer. Thermometer tetap di ketiak selama ± 5 menit ( thermometer
raksa) atau hingga alarm thermometer berbunyi ( thermometer digital ).
7. Ambil thermometer dari ketiak px lalu baca hasil pengukuran suhunya. Masukkan
ke dalam cairan desinfektan selama 15 menit, lalu cuci dengan air sabun, dan
bilas dengan air bersih. Jika menggunakan thermometer digital, bersihkan ujung
thermometer dengan kapas alcohol. Segera keringkan setelah termometer
dibersihkan.
8. Turunkan air raksa hingga di bawah 35°C lalu kembalikan pada tempatnya.
9. Rapikan pasien dan beritahukan hasilnya pada pasien
10.Kembalikan alat yang digunakan pada tempatnya
11.Lepas sarung tangan dan cuci tangan
12.Dokumentasikan dalam lembar pemeriksaan atau buku catatan px.

Termometer Rektal :

1. Cuci tangan
2. Buka tutup jelly, oleskan sedikit pada ujung thermometer rectal
3. Buka celana pasien atau singkapkan baju pasien ke atas lalu bersihkan
permukaan luar rectum pasien.
4. Gunakan tangan tidak dominan untuk mengangkat pantat bagian atas pasien
hingga perawat bisa melihat rectum pasien.

Dengan tangan dominan, masukkan thermometer rektal ke dalam rectum


sepanjang 5 – 7,5 cm untuk dewasa dan 1,5 – 2 cm untuk bayi. Minta pasien
untuk menarik napas panjang saat thermometer dimasukkan dan anjurkan untuk
tidak mengedan.
5. Diamkan thermometer selama 3 – 5 menit, lalu ambil thermometer dari rectum
pasien.
6. Baca hasil pengukuran suhu
7. Bersihkan ujung thermometer yang masuk ke dalam rectum dengan tissue, lalu
rendam dalam cairan desinfektan selama 15 menit. Setelah direndam, cuci
dengan air sabun dan bilas dengan air bersih lalu keringkan.
8. Turunkan air raksa hingga di bawah 35°C lalu kembalikan pada tempatnya.
9. Rapikan pasien dan beritahukan hasilnya pada pasien.
10. Kembalikan alat yang digunakan pada tempatnya
11. Lepas sarung tangan dan cuci tangan

13
12. Dokumentasikan dalam lembar pemeriksaan atau buku catatan pasien.

Termometer Oral

1. Cuci tangan dan pakai sarung tangan


2. Minta pasien untuk mengangkat lidah ke atas. Letakkan ujung logam
thermometer oral tepat di bawah lidah ( di salah satu frenulum)

3. Minta px untuk mengatupkan bibir dan menahan thermometer dengan bibir


selama 3 – 5 menit, dan tidak berbicara selama thermometer masih di mulut.
4. Setelah 3-5 menit, ambil thermometer lalu lihat hasilnya. Baca thermometer
dengan cara meletakkan thermometer sejajar dengan mata.
5. Bersihkan ujung thermometer yang masuk ke dalam mulut denagn tissue, lalu
rendam dalam cairan desinfektan selam 15 menit. Setelah direndam, cuci
dengan air sabun dan bilas denagn air bersih lalu keringka.
6. Turunkan air raksa hingga dibawah 35°C lalu kembalikan pada tempatnya.
7. Rapikan px dan beritahukan hasilnya pada pasien
8. Kembalikan alat yang digunakan pada tempatnya
9. Lepas sarung tangan dan cuci tangan
10. Dokumentasikan dalam lembar pemeriksaan atau buku caatan px.

PENGUKURAN TEMPERATUR AURAL


1. Cuci tangan dan persiapkan alat-alat di dekat klien
2. Pakai sarung tangan
3. Siapkan thermometer tympani, jika klien menggunakan alat bantu dengar,
keluarkan dengan hati-hati dan tunggu hingga 1-2 menit
4. Bersihkan telinga dengan kapas
5. Buka bagian luar telinga, dengan perlahan-lahan masukkan thermometer
sampai liang telinga
6. Tekan tombol untuk mengaktifkan thermometer
7. Pertahankan posisi thermometer selama pengukuran sampai muncul suara
atau timbul tanda cahaya pada thermometer
14
8. Ambil thermometer dan baca hasilnya
9. Rapikan klien
10. Cuci tangan
11. Dokumentasikan hasil pemeriksaan

E. Evaluasi

1. Dokumentasi tindakan ( catat tanggal dan waktu pelaksanaan )


2. Dokumentasi hasil tindakan dan respon pasien

15
4. MENGHITUNG RR

A. Definisi Menghitung RR

Suatu kegiatan yang dilakukan nuntuk mengetahui fungsi sistem pernapasan yang
terdiri dari mempertahankan perukaran oksigen dan karbondioksida dalam paru dan
pengaturan keseimbangan asam basa
Dewasa (>18 tahun) 60-100 12-20 100-140
Remaja (12-18 tahun) 60-100 12-16 90-110
Anak-anak (5-12 tahun) 70-120 18-30 80-110
Pra sekolah (4-5 tahun) 80-140 22-34 80-100
Bawah 3 tahun/Toddler (1-3 tahun) 90-150 24-40 80-100
Bayi (1 bulan – 1 tahun) 100-160 30-60 70-95
Baru lahir/infant (0-1 bulan) 120-160 40-60 50-70

B. Tujuan Menghitung RR

1. Untuk mengetahui frekuensi,


irama, dan kedalaman
pernapasan.
2. Menilai kemampuan fungsi
pernapasan
1. Untuk mengetahui frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan.
2. Menilai kemampuan fungsi pernapasan

C. Indikasi Menghitung RR

1. Maternal
a. Masuk RS dengan keluhan pernafasan, misalnya asma, nyeri dada,
tuberkolosis dll. Nyeri dada, sesak nafas, sianosis, kecelakaan lalu lintas atau
gannguan serius lainnya, seperti perdarahan hebat atau pre eklamsi
b. Selama dan setelah pembedahan

16
c. Adanya tanda2 perubahan pola nafas yang berkaitan dengan kesedihan
psikologis
2. Bayi
a. Pada saat lahir, sebagai bagian dari skor APGAR
b. Adanya tanda2 sianosis, retraksi strernum, pernafasan cuping hidung, bunyi
nafas sing, misalnya mendengkur atau pernafasan yang berat / sulit, saat bayi
menggunakan energy yang besar untuk bernafas.

D. Kontra indikasi Menghitung RR

1) Usia 2) Jenis kelamin 3) Suhu Tubuh 4) Posisi tubu 5) Aktivitas

E. Tahap kerja

a). Persiapan Alat

1. Arloji
2. Jam tangan
3. sarung tangan bersih
4. buku catatan

b). Persiapan Pasien

1. Lakukan tindakan dengan 5s (senyum salam sapa sopan santun)


2. Lakukan perkenalan diri dan identifikasi pasien
3. Jelaskan maksud dan tujuan tindakan dan buka kalimat terbuka
4. Jelaskan prosedur tindakan
5. Buat infrom consent

c). Persiapan Lingkungan

1. Jaga privasi pasien dengan measang sampiran / sketsel


2. Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman

d). Pelaksanaan Tindakan

1. lakukan prosedur ini setelah menghitung frekuensi nadi pasien, dengan tangan perawat
tetap memegang arteri radialis. Alternatif lainnya, lakukan prosedur ini saat px tidur,
sebelum melakukan pengukuran TTV lainnya. Jika px tampak menahan nafas, tepuk
perlahan bahu atau kakinya untuk merangsang pernafasan kembali normal.
2. Observasi pergerakan dinding dada, atau rasakan gerakan dinding dada px. Observasi juga
adanya kesulitan bernafas atau penggunaan otot bantu pernafasan.

17
3. Hitung frekuensi pernafasan px ( satu kali respirasi adalah satu inspirasi dan satu
ekspirasi) selama satu menit penuh jika pernafasan tampak ireguler atau sangat lembut.
Jika pernafasan tampak teratur, bisa dihitung selama 30 detik lalu dikalikan 2.
4. Catat ritme, kedalaman dan pola pernafasan ke dalam lembar pencatatan.
5. Rapikan px dan beritahukan hasil pemeriksaan.
6. Alat – alat dirapikan dan disimpan di temaptnya
7. Lepas sarung tangan dan cuci tangan
8. Catat hasil pengukuran ke lembar pemeriksaan atau buku catatan.

E. Evaluasi

1. Dokumentasi tindakan ( catat tanggal dan waktu pelaksanaan )


2. Dokumentasi hasil tindakan dan respon pasien

18
5. MENGATUR POSISI PASIEN

A. Jenis-jenis posisi Pasien

1. Posisi Fowler / Semi fowler

 Pengertian
Posisi fowler adalah posisi setengah duduk atau duduk,
dimana bagian kepalatempat tidur lebih tinggi atau
dinaikkan. Posisi ini dilakukan untuk mempertahankan
kenyamanan dan memfasilitasi fungsi pernapasan
pasien.

 Tujuan

1. Mengurangi komplikasi akibat immobilisasi.

2. Meningkatkan rasa nyaman

3. Meningkatkan dorongan pada diafragma sehingga


meningkatnya ekspansi dada dan ventilasi paru

19
4. Mengurangi kemungkinan tekanan pada tubuh
akibat posisi yang menetap.

 Indikasi

1. Pada pasien yang mengalami gangguan pernapasan

2. Pada pasien yang mengalami imobilisasi

 Alat dan bahan :

1. Tempat tidur khusus

2. Selimut

3. Bantal

 Cara kerja :

1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.

2. Dudukkan pasien

3. Berikan sandaran atau bantal pada tempat tidur pasien


atau aturr tempat tidur.

4. Untuk posisi semifowler (30-45˚) dan untuk fowler


(90˚).

5. Anjurkan pasien untuk tetam berbaring setengah


duduk.
 . Posisi semi fowler

 Pengertian
Semi fowler adalah sikap dalam posisi setengah duduk
15-60 derajat.

20
 Tujuan

1. Mobilisasi

2. Memerikan perasaan lega pada klien sesak nafas

3. Memudahkan perawatan misalnya memberikan


makan

 Cara / prosedur

1. Mengangkat kepala dari tempat tidur ke permukaan


yang tepat ( 45-90 derajat)

2. Gunakan bantal untuk menyokong lengan dan


kepala klien jika tubuh bagian atas klien lumpuh

3. Letakan bantal di bawah kepala klien sesuai dengan


keinginan klien, menaikan lutut dari tempat tidur
yang rendah menghindari adanya teknan di bawah
jarak poplital ( di bawah lutut )
3. Posisi Sim

 Definisi :
Posisi sim adalah posisi miring ke kanan atau ke kiri,
posisi ini dilakukan untuk memberi kenyamanan dan
memberikan obat melalui anus (supositoria).

 Tujuan :

1. Mengurangi penekanan pada tulang secrum dan


trochanter mayor otot pinggang

2. Meningkatkan drainage dari mulut pasien dan

21
mencegah aspirasi

3. Memasukkan obat supositoria

4. Mencegah decubitus

 Indikasi :

1. Untuk pasien yang akan di huknah

2. Untuk pasien yang akan diberikan obat melalui anus

 Alat dan bahan :

1. Tempat tidur khusus

2. Selimut

 Cara kerja :

1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan

2. Pasien dalam keadaan berbaring, kemudian miringkan


ke kiri dengan posisi badan setengan telungkup dan
kaki kiri lurus lutut. Paha kanan ditekuk diarahkan ke
dada.

3. Tangan kiri diatas kepala atau dibelakang punggung


dan tangan kanan diatas tempat tidur.

4. Bila pasien miring ke kanan dengan posisi badan


setengan telungkup dan kaki kanan lurus, lutut dan
paha kiri ditekuk diarahakan ke dada.

5. Tangan kanan diatas kepala atau dibelakang


punggung dan tangan kiri diatas tempat tidur.
4. Posisi Trendelenburg

 Definisi :
Pada posisi ini pasien berbaring di tempat tidur dengan
bagian kepala lebih rendah daripada bagian kaki. Posisi

22
ini dilakukan untuk melancarkan peredaran darah ke
otak.

 Alat dan bahan :

1. Tempat tidur khusus

2. Selimut

 Indikasi :
1. Pasien dengan pembedahan pada daerah perut
2. Pasien shock

3. Pasien hipotensi.

 Alat dan bahan :

1. Tempat tidur khusus

2. Selimut

 Cara kerja :

1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan

2. Pasien dalam keadaan berbaring, kemudian miringkan


ke kiri dengan posisi badan setengan telungkup dan
kaki kiri lurus lutut. Paha kanan ditekuk diarahkan ke
dada.

3. Tangan kiri diatas kepala atau dibelakang punggung


dan tangan kanan diatas tempat tidur.

4. Bila pasien miring ke kanan dengan posisi badan


setengan telungkup dan kaki kanan lurus, lutut dan
paha kiri ditekuk diarahakan ke dada.

23
5. Tangan kanan diatas kepala atau dibelakang
punggung dan tangan kiri diatas tempat tidur

5. Posisi dorsal recumbent

 Definisi :
Pada posisi ini pasien berbaring terlentang dengan
kedua lutut flexi (ditarik atau direnggangkan) diatas
tempat tidur. Posisi ini dilakukan untuk merawat dan
memeriksa genetalia serta pada proses persalinan.

 Tujuan :
Meningkatkan kenyamanan pasien, terutama dengan
ketegangan punggung belakang.

 Indikasi :

1. Pasien yang akan melakukan perawatan dan


pemeriksaan genetalia

2. Untuk persalinan

 Alat dan bahan :

1. Tempat tidur

2. Selimut

 Cara kerja :

1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan

2. Pasien dalam keadaan berbaring terlentang, letakkan


bantal diantara kepala dan ujung tempat tidur pasien

24
dan berikan bantal dibawah lipatan lutut

3. Berikan balok penopang pada bagian kaki tempat


tidur atau atur tempat tidur khusus dengan
meninggikan bagian kaki pasien.
6. Posisi Litotomi

 Definisi :
Posisi berbaring telentang dengan mengangkat kedua
kaki dan menariknya ke atas bagian perut. Posisi ini
dilakukan untuk memeriksa genitalia pada proses
persalinan, dan memasang alat kontrasepsi.
 Indikasi :
1. Untuk ibu hamil
2. Untuk persalinan
3. Untuk wanita yang ingin memasang alat kontrasepsi

 Alat dan bahan :


1. Tempat tidur khusus
2. Selimut

 Cara kerja:
1. Pasien dalam keadaan berbaring telentang, kemudian
angkat kedua paha dan tarik ke arah perut
2. Tungkai bawah membentuk sudut 90 derajat terhadap
paha
3. Letakkan bagian lutut/kaki pada tempat tidur khusus
untuk posisi lithotomic
4. Pasang selimut

25
BAB 3
PENUTUP

A.. KESIMPULAN
Setelah memahami tentang tanda-tanda vital. Dan kesimpulannya adalahkesehatan
pada tubuh kita itu sangat penting. Terutama bagi tanda-tanda vitalseperti denyut nadi,
tekanan darah, pernapasan, suhu badan, dan berat badan.Bagaimana prosedur pelaksanaan
yang berperan penting kepada masyarakatatau pun pasien dan bertujuan untuk menambah
pengetahuan. Seperti padatekanan darah, seiring dengan bertambahnya umur seseorang maka
tekanandarah akan meningkat. Dan emosi ataupun rasa nyeri yang di alami olehseseorang itu
juga berpengaruh terhadap meningkatnya tekanan darah.Dengan demikian Suhu tubuh dapat
menunjukkan keadaan metabolisme dalamtubuh, denyut nadi dapat menunjukkan perubahan
pada sistem kardiovaskular, frekuensi pernapasan dapat menunjukkan fungsi pernapasan, dan
tekanan darah dapat menilaikemampuansistem kardiovaskuler, yang dapat dikaitkan dengan
denyut nadi.

Dan juga sama halnya dengan mengatur posisi pada pasien merupakan tindakan yang
penting karena juga dapat mempengaruhi keberhasilan proses asuhan keperawatan terhadap
pasien

B. SARAN

26
Dari penjelasan di atas kita harus lebih teliti untuk mengkaji suatu tanda tanda vital.
Karena kalau kita tidak teliti dalam mengkaji tanda tanda vital lmaka kita tidak bisa
memberikan evaluasi respon klien terhadap intravena yang diberikan karena pemeriksaan
tandatanda vital merupakan bagian dari proses pemeriksaan pasien

DAFTAR PUSTAKA

University of Rochester Medical Centre.


https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?
ContentTypeID=85&ContentID=P00866
Diakses pada 28 Februari 2021
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/articles/10881-vital-signs
Diakses pada 28 Februari 2021
SOP TTV Mata kuliah Keperawatan Dasar

27

Anda mungkin juga menyukai