Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

Analisis Implementasi Hak Pengejaran Seketika Oleh Indonesia


Disusun untuk memenuhi tugas Hukum Laut Internasional
Mata Kuliah: Hukum Laut Internasional

DOSEN PENGAMPU:
Prof.Dr. Lazarus Tri Setyawanta Rebala, S.H., M.Hum.
Pulung Widhi Hari Hananto, S.H., M.H.
Akhmad Purbo Sudiro, S.H., M.H.

Disusun Oleh:
Naufal Ariq Aisy (11000118130476)

KELAS B
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS NEGERI DIPONEGORO SEMARANG
2020
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berdasarkan UNCLOS 1982, total luas wilayah laut Indonesia adalah 5,9 juta
km2, terdiri atas 3,2 juta km2 perairan teritorial dan 2,7 km2 perairan Zona
Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI), luas perairan ini belum termasuk landas
kontinen (continental shelf). Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara
kepulauan terbesar di dunia (the biggest Archipelago in the World).1 Karena
luasnya wilayah laut di Indonesia menjadikan negara ini memiliki kekayaan
sumber daya alam di wilayah laut yang sangat berlimpah contohnya ikan, oleh
karena hal tersebut banyak kasus pencurian ikan yang dilakukan oleh negara-
negara lain serta pelanggaran-pelanggaran lainnya maka dalam menangani
pelanggaran-pelanggaran tersebut suatu negara dapat menjalankan hak untuk
melakukan pengejaran seketika. Menurut Pasal 111 UNCLOS 1982 negara
pantai memiliki hak pengejaran seketika, dimana hak tersebut dapat diterapkan
untuk menangani kasus-kasus pelanggaran tersebut. Dalam makalah ini akan
dibahas mengenai analisis implementasi hak pengejaran seketika yang dilakukan
oleh Indonesia.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari hak pengejaran seketika?
2. Apa syarat diperbolehkannya hak pengejaran seketika?
3. Bagaimana implementasi hak pengejaran seketika di Indonesia?

1
Ridwan Lasabuda, “Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan dalam Perspektif Negara Kepulauan
Republik Indonesia”. Jurnal Ilmiah Platax. Vol. I-2 Januari 2013
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Hak Pengejaran Seketika


Hak pengejaran seketika adalah hak suatu negara untuk melakukan tindakan
pengejaran seketika kepada kapal asing yang diduga melanggar peraturan
perundang-undangan negara pantai tersebut. Hak ini secara menyeluruh
dijabarkan dalam Pasal 111 Konvensi Hukum Laut 1982 atau United
Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982. Implementasi
dari ketentuan pengejaran seketika (hot pursuit)tersebut sudah
diratifikasiPemerintah Indonesia dalam bentuk Undang-Undang No.17 Tahun
1985 tentang Pengesahan United Nations Convention on the Law of the Sea
(Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut).2
Pengejaran seketika adalah haktiap negara pantai untuk melaksanakan
tindakan pengejaran seketika terhadap kapal asing yang diduga melanggar
peraturan perundang-undangan negara pantai dimulai dari Perairan Pedalaman,
Perairan Kepulauan, Laut Territorial atau Jalur Tambahan, dan juga
berlaku terhadap pelanggaran-pelanggaran di wilayah Zona Ekonomi
Eksklusif (ZEE) dan Landas Kontinen dari negara pantai sampai ke
lautteritorial negara kapal asing atau negara ketiga.3

B. Syarat Pengejaran Seketika


Hot Persuit diatur dalam Pasal 111 Unclos (United Nation Convention on the
Law Of the Sea) yang telah diratifikasi dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun
1985. Hot Persuit merupakan salah satu bentuk penegakan hukum dan
kedaulatan di laut sebagai suatu hal yang diakui eksistensinya oleh negara-

2
Amirrudin dan H. Zainal Arsikin, Pengantar Metode Penulisan Hukum, (Jakarta: PT.Raja Grafindo
Persada, 2004), hlm. 118
3
Ayub Torry Satriyo Kusumo, “Optimalisasi pengelolaan dan pemberdayaan pulau-pulau terluar
dalam rangka mempertahankan keutuhan negara kesatuan republic Indonesia”. Jurnal Dinamika
Hukum 2010.
negara lain, yang artinya hak untuk melakukan pengejaran terhadap kapal-kapal
yang diduga melakukan tindak pidana di wilayah teritorial suatu negara.
Pasal 111 Unclos  menguraikan syarat-syarat pengejaran serta kompensasi atau
ganti kerugian atas penghentian kapal yang ditahan dalam keadaan yang tidak
dibenarkan untuk dilaksanakan pengejaran. Adapun syarat-syarat pengejaran
seketika sebagai berikut:

1. Pengejaran harus dimulai pada waktu kapal asing sedang berada di


perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial atau zona
tambahan negara yang mengejar, jika kapal asing tersebut berada di dalam
zona tambahan, pengejaran hanya dapat dilakukan jika terdapat pelanggaran
terhadap hak-hak di zona tambahan;
2. Hak pengejaran seketika dilaksanakan secara mutatis mutandis terhadap
pelanggaran pada ZEE atau pada landas kontinen dan hak pengejaran
seketika berhenti setelah kapal yang dikejar memasuki laut teritorial dari
negaranya sendiri atau negara ketiga;
3. Pengejaran seketika hanya dapat dilakukan oleh kapal-kapal perang atau
pesawat militer atau pesawat lainnya milik pemerintah yang diberi
kewenangan;
4. Pengejaran hanya dapat dimulai setelah diberikannya tanda visual atau tanda
signal (untuk perintah berhenti) pada jarak yang dapat dilihat atau didengar
oleh kapal asing.

Ketentuan Hak Pengejaran Seketika dalam UndangUndang Republik Indonesia


Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perikanan. Pengaturan Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Perikanan Indonesia memiliki beberapa regulasi
sebagai dasar hukum yang menjadi landasan pencegahan dan pemberantasan
tindak pidana perikanan di Indonesia. Berikut regulasi yang berkaitan dengan
hal tersebut adalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1983
tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 jo. UndangUndang Nomor 45 Tahun 2009
tentang Perikanan, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun
tentang Kelautan, Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik
Indonesia Nomor 2/PERMEN KP/2015 tentang Larangan Penggunaan Alat
Penangkapan Ikan Pukat Hela (trawls) dan Pukat Tarik (seine nets) di Wilayah
Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia, serta Peraturan Presiden
Nomor 115 Tahun 2015 tentang Satuan Tugas Pemberantasan Penangkapan
Ikan Secara Ilegal (Illegal Fishing).

Pengaturan Hak Pengejaran Seketika dalam Undang-Undang Republik


Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perikanan Hak pengejaran seketika
terhadap pelaku tindak pidana perikanan di Perairan Indonesia, akan
menyangkut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1983
Tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Hal tersebut dikarenakan undang-
undang tersebut mengatur mengenai hak untuk mengeksplorasi dan
mengeksploitasi sumber daya alam hayati dan nonhayati, dan ikan termasuk
sumber daya alam hayati. Selanjutnya, hal ini juga akan berkaitan dengan
UndangUndang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perikanan
itu sendiri, akan tetapi dalam undangundang tersebut belum mengatur
mengenai hak pengejaran seketika terhadap pelaku tindak pidana perikanan.

C. Analisis implementasi hak pengejaran seketika di Indonesia


Contoh kasus:
Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan kembali menangkap kapal ikan
asing ilegal yang beroperasi di Wilayah Pengelolaan Perikanan di Selat Malaka.
Penangkapan kapal ilegal dengan nama KM PKFB 1870 tersebut dilakukan oleh
Kapal Pengawas Perikanan Hiu 08.
"Kapal Pengawas Perikanan KKP berhasil menangkap kapal ikan asing ilegal
pada tanggal 22 Februari 2020 Pukul 02.40 WIB di WPP-NRI 571 Selat
Malaka," ujar Plt Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan
Perikanan, Nilanto Perbowo dalam keterangannya, Sabtu (22/2/2020).
Nilanto menceritakan KM PKFB 1870 pertama kali terdeteksi melakukan
kegiatan penangkapan ikan secara ilegal di WPP-NRI pada koordinat 04º13,610'
Lintang Utara dan 99º28,062' Bujur Timur. Sempat terjadi aksi pengejaran
seketika (hot pursuit) dalam proses pelumpuhan kapal perikanan tersebut.
"Aparat kami melakukan pengejaran dalam proses penangkapan KM PKFB
1870 tersebut, berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan, kapal tersebut secara
meyakinkan telah melanggar Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang
Perikanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 tahun
2009," jelasnya.
Meskipun merupakan kapal berbendera Malaysia, KM PKFB 1870 ternyata
diawaki oleh lima orang awak kapal yang seluruhnya merupakan Warga Negara
Indonesia. Saat ini kapal tersebut telah di ad hoc ke Stasiun PSDKP Belawan
untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Nilanto menambahkan bahwa KKP memang sedang meningkatkan pengawasan
di wilayah perbatasan Indonesia termasuk salah satunya Selat Malaka.
"Sesuai arahan Menteri Kelautan dan Perikanan, kami meningkatkan
pengawasan untuk memberantas kapal asing pencuri ikan agar nelayan
Indonesia lebih nyaman dan aman untuk melaut," tegasnya.
Sementara itu, secara terpisah, Direktur Pemantauan dan Operasi Armada, Pung
Nugroho Saksono menjelaskan Indonesia telah melaksanakan kewajibannya
terkait dengan penangkapan kapal asing ilegal berbendera Malaysia tersebut.
"Memang benar kapal ditangkap di overlapping claimed area kedua negara,
namun deteksi awal menunjukkan kapal tersebut melakukan penangkapan di
wilayah ZEE Indonesia sehingga dilakukan pengejaran oleh Kapal Pengawas
Perikanan," terangnya.
Ipung juga menjelaskan KM PKFB 1870 diawaki oleh WNI dan tanpa memiliki
dokumen izin kerja, artinya hal tersebut tidak sesuai dengan Common Best
Practices (CBP) dari Memorandum of Understanding (MoU) on Common
Guideline yang sudah disepakati antara Indonesia dan Malaysia. Selain itu, kapal
tersebut juga mengoperasikan alat tangkap trawl.
"Semua mekanisme sudah dilaksanakan, dan kami pada keputusan untuk tidak
memberikan Request to Leave tapi memproses sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku", Pangkas Ipung.
Analisis:
Pada kasus tersebut Indonesia melalui kementrian KKP telah melakukan atau
melaksanakan hak pengejaran seketika dimana kapal pecuri ikan berbendera
malaysia tersebut terbukti telah mencuri ikan di wilayah ZEE Indonesia,
sehingga apa yang dilakukan oleh aparat untuk melakukan pengejaran sudah
sangat tepat. Terlebih kapal pencuri ikan tersebut membawa alat tangkap trawl
yang melanggar Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia
Nomor 2/PERMEN KP/2015 tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan
Ikan Pukat Hela (trawls) dan Pukat Tarik (seine nets) di Wilayah Pengelolaan
Perikanan Negara Republik Indonesia, serta Peraturan Presiden Nomor 115
Tahun 2015 tentang Satuan Tugas Pemberantasan Penangkapan Ikan Secara
Ilegal (Illegal Fishing). Masalah pencurian ikan yang terjadi di Laut Indonesia
adalah kejahatan luar biasa dan terorganisir (extraordinary and organized crime),
karena tindakan-tindakan pencurian ikan dilakukan dengan alat yang canggih
untuk menangkap ikan tanpa peduli akan terumbu karang yang menjadi habitat
hidup ikan. Tindakan ini tentunya menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi
Indonesia, karena Indonesia harus menanggung kerugian ekosistem lautnya.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pengejaran seketika adalah hak tiap negara pantai untuk melaksanakan


tindakan pengejaran seketika terhadap kapal asing yang diduga melanggar
peraturan perundang-undangan negara pantai dimulai dari Perairan
Pedalaman, Perairan Kepulauan, Laut Territorial atau Jalur Tambahan,
dan juga berlaku terhadap pelanggaran-pelanggaran di wilayah Zona
Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan Landas Kontinen dari negara pantai
sampai ke lautteritorial negara kapal asing atau negara ketiga. Ketentuan Hak
Pengejaran Seketika dalam UndangUndang Republik Indonesia Nomor 45
Tahun 2009 Tentang Perikanan. Pengaturan Pencegahan dan Pemberantasan
Tindak Pidana Perikanan Indonesia memiliki beberapa regulasi sebagai dasar
hukum yang menjadi landasan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana
perikanan di Indonesia. Berikut regulasi yang berkaitan dengan hal tersebut
adalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1983 tentang
Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 31 Tahun 2004 jo. UndangUndang Nomor 45 Tahun 2009 tentang
Perikanan, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun tentang
Kelautan, Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia
Nomor 2/PERMEN KP/2015 tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan
Ikan Pukat Hela (trawls) dan Pukat Tarik (seine nets) di Wilayah Pengelolaan
Perikanan Negara Republik Indonesia, serta Peraturan Presiden Nomor 115
Tahun 2015 tentang Satuan Tugas Pemberantasan Penangkapan Ikan Secara
Ilegal (Illegal Fishing).
DAFTAR PUSTAKA

References
Amirrudin, & H, Z. A. (2004). Pengantar Metode Penulisan Hukum. Jakarta: PT.Raja
Grafindo Persada.
Ayub Torry Satriyo Kusumo. (2010). Optimalisasi pengelolaan dan pemberdayaan
pulau-pulau terluar dalam rangka mempertahankan keutuhan negara kesatuan
republic Indonesia . Jurnal Dinamika Hukum.
Ridwan, L. (2013). Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan dalam Perspektif Negara
Kepulauan Republik Indonesia . Jurnal Ilmiah Platax Vol. I-2 , 1-2.

Anda mungkin juga menyukai