Anda di halaman 1dari 30

MANUSIA DAN

PEKERJAAN
Nilai Kerja Bagi Manusia

Kerja adalah bagian sentral di dalam kehidupan manusia.


Dengan pikiran dan tubuhnya, manusia mengorganisir
pekerjaan, membuat benda-benda yang dapat membantu
pekerjaannya tersebut, dan menentukan tujuan akhir dari
kerjanya. Dapat juga dikatakan bahwa kerja merupakan
aktivitas yang hanya unik (dalam artian di atas) manusia
Filsafat Dan Kerja

Refleksi filsafat tentang kerja dapat ditemukan sejak 2400 tahun yang
lalu. kerja dipandang sebagai sesuatu yang rendah. Warga
bangsawan tidak perlu bekerja. Mereka mendapatkan harta dari
status mereka. Bahkan dapat dikatakan bahwa pada masa itu,
manusia yang sesungguhnya tidak perlu bekerja. Ia hanya perlu
berpikir dan menulis di level teoritis. Semua pekerjaan fisik diserahkan
pada budak. Budak tidak dianggap sebagai manusia seutuhnya.
Pada abad ke 17 dan 18, refleksi filsafat tentang kerja mulai berubah
arah. Salah seorang filsuf Inggris yang bernama John Locke pernah
berpendapat, bahwa pekerjaan merupakan sumber untuk
memperoleh hak miliki pribadi.
Kerja dan Organisasi

Menurut Drucker tokoh yang pertama kali merefleksikan konsep


kerja di dalam organisasi adalah Frederick Taylor. Dalam arti ini
kerja bukanlah lagi merupakan fenomena universal manusia saja,
tetapi juga kerja yang melibatkan pekerja-pekerja tangan ataupun
pekerja pengetahuan (knowledge worker). Pekerja tangan adalah
orang yang bekerja dengan ketrampilan praktis. Sementara
pekerja pengetahuan adalah pekerja yang tidak hanya
membutuhkan ketrampilan praktis, tetapi juga pekerja yang
melibatkan konsep abstrak yang memiliki cangkupan luas.
Dimensi Fisiologis Kerja

Bekerja adalah aktivitas yang dilakukan oleh pekerja.


Manusia adalah mahluk yang bekerja. Kerja adalah
tanda dari kemanusiaannya. Kerja memiliki dinamika
dan dimensi yang inheren di dalam dirinya. Dimensi
pertama adalah dimensi fisiologis. Yang perlu
ditekankan disini adalah, bahwa manusia bukanlah
mesin. Cara ia bekerja pun berbeda dengan cara
kerja mesin.
Dimensi Psikologis Kerja

Dalam arti ini kerja bisa berarti berkat sekaligus kutuk. Orang perlu untuk
bekerja. Namun seringkali kerja juga menjadi beban yang sangat
berat. Setiap orang sudah dikondisikan untuk bekerja sejak mereka
menginjak usia 3-4 tahun. Memang mereka belum boleh bekerja
secara resmi di pabrik atau dimanapun. Namun mereka perlu untuk
belajar berjalan, berbicara, dan yang terpenting, belajar untuk menjadi
manusia. Ini semua menurut Drucker menciptakan kebiasaan untuk
bekerja, untuk melakukan sesuatu guna mengembangkan diri. Dari
sudut pandang ini, fenomena pengangguran yang disebabkan oleh
kemiskinan tidak hanya merusak situasi ekonomi seseorang, tetapi juga
harga dirinya.
Dimensi Sosial Kerja

Drucker juga berpendapat bahwa kerja memiliki dimensi sosial.


Kerja menyatukan orang dari berbagai latar belakang untuk
bertemu dan menjalin relasi. Lebih jauh juga dapat dikatakan,
bahwa setiap orang butuh untuk bekerja, karena ia memiliki
kebutuhan untuk menjadi bagian dari suatu kelompok, dan
menjalin relasi yang bermakna dengan orang-orang yang ada di
sana. Aristoteles pernah mengatakan bahwa manusia adalah
mahluk yang berpolis. Artinya manusia adalah mahluk yang
membutuhkan kelompok untuk menegaskan jati dirinya. Bekerja
adalah cara terbaik untuk menjadi bagian dari suatu kelompok.
Dimensi Ekonomis Kerja

Berakar pada fakta, bahwa manusia tidak mampu hidup sendiri. Ia


tidak mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Maka ia memerlukan
orang lain. Dalam kerangka yang lebih besar, manusia yang satu
melakukan perdagangan dengan manusia lainnya untuk memenuhi
kebutuhannya masing-masing, dan membentuk apa yang disebut
sebagai jaringan ekonomi (economic network). Di satu sisi jaringan ini
memperkuat hubungan sosial antar manusia, terutama mereka yang
berasal dari latar belakang yang berbeda, namun saling
membutuhkan satu sama lain. Di sisi lain jaringan ini memiliki potensi
untuk mendorong terjadinya konflik sosial, sebagai akibat dari
perdagangan yang tidak mencerminkan nilai keadilan.
Dimensi Kekuasaan Kerja

organisasi modern adalah suatu bentuk alienasi (keterasingan).


Orang menjadi tidak mengenal dirinya sendiri, orang lain, dan hasil
kerjanya, jika mereka bekerja di perusahaan-perusahaan yang
ditata secara modern. “Masyarakat modern”, demikian Drucker,
“adalah masyarakat pekerja dan akan tetap seperti itu.”Oleh
karena itu relasi-relasi kekuasaan di dalam pekerjaan pun tidak
akan pernah hilang. Otoritas adalah sesuatu yang sangat esensial
di dalam organisasi modern. Dengan lugas dapat dikatakan,
selama ada otoritas, selama itu pula ada relasi-relasi kekuasaan.
Otoritas adalah sesuatu yang inheren di dalam sistem organisasi
modern yang banyak digunakan sekarang ini.
Lingkungan Kerja

Menurut Mardiana (2005) “Lingkungan kerja adalah lingkungan


dimana pekerja melakukan pekerjaannya sehari-hari”.
Lingkungan kerja yang kondusif memberikan rasa aman dan
memungkinkan para pekerja untuk dapat berkerjaoptimal.
Lingkungan Kerja Fisik

Lingkungan kerja fisik adalah segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja
yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang
dibebankan, misalnya penerangan, suhu udara, ruang gerak, keamanan,
kebersihan, musik dan lain-lain (Alex. S. Nitisemito, 2002 : 183).
Lingkungan kerja fisik dapat dibagi dalam dua kategori, yakni :

 Lingkungan yang langsung berhubungan dengan karyawan (Seperti:


pusat kerja, kursi, meja dan sebagainya).
 Lingkungan perantara atau lingkungan umum dapat juga disebut
lingkungan kerja yang mempengaruhi kondisi manusia, misalnya
:temperatur, kelembaban, sirkulasi udara, pencahayaan, kebisingan,
getaran mekanis, bau tidak sedap, warna, dan lain-lain.
Faktor-Faktor Lingkungan Kerja Fisik

 Pewarnaan
 Penerangan
 Udara
 Suara bising
 Ruang gerak
 Keamanan
 Kebersihan
Lingkungan Kerja Non Fisik/Psikis

Menurut Sadarmayanti (2001:31),“Lingkungan kerja non fisik


adalah semua keadaan yang terjadi yang berkaitan
dengan hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan
maupun hubungan sesama rekan kerja, ataupun hubungan
dengan bawahan”.
Faktor-Faktor Lingkungan Kerja Psikis

 Diri Manusia yang mampu berubah


 Kepemimpinan
 Kerjasama melalui kelompok
 Back To Basic Management
 Sinergi
 Disiplin
Unsur Emosi

Pengertian Emosi
Emosi adalah Suatu keadaan yang dicirikan oleh rangsangan
dan perubahan psikologis dalam ekspresi wajah, gerak-gerik,
perasaan positif dan subjektif.
Terdapat 8 emosi utaman pada manusia, yaitu : takut, terkejut,
sedih, senang, jijik, marah, antisipasi, dan penerimaan.
Fungsi Emosi

emosi berkembang seiring waktu untuk membantu manusia


memecahkan masalah. Emosi sangat berguna karena
memotivasi seseorang untuk terlibat dalam tindakan penting.
Selain itu emosi juga sangat berpengaruh terhadap tingkah
laku manusia.
Struktur Sikap

Mengikuti skema triadik, struktur sikap terdiri atas 3 komponen:


 Komponen kognitif,Komponen ini berisi kepercayaan seseorang mengenai apa
yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap. Contoh : Lokalisasi
merupakan stereotip atau sesuatu yang telah terpolakan dalam pikiran bahwa
pelacuran merupakan sesuatu yang negatif atau tidak baik.
 Komponen afektif, Menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap
suatu objek sikap. Contoh : Bila seseorang tidak suka dengan perjudian, maka
ketidaksukaan nya akan berkaitan dengan ketakutan akan akibat dari
perbuatan perjudian, namun ketidaksukaan tersebut juga bisa dalam bentuk
rasa benci
 Komponen konatif, Merupakan struktur sikap yang menunjukkan kecenderungan
berperilaku pada diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapi.
Kaitan ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan banyak memperngaruhi
perilaku. Contoh : Bila seseorang percaya bahwa daging kuda tidak enak, maka
wajar bila ia tidak mau makan daging kuda.
Pembentukan Sikap

Proses pembentukan sikap berlangsung secara bertahap, dimulai


dari proses belajar. Proses belajar ini dapat terjadi karena
pengalaman-pengalaman pribadi seseorang dengan objek
tertentu.
Faktor pembentuk sikap:
 Pengalaman pribadi
 Pengaruh orang lain yang dianggap penting
 Pengaruh kebudayaan
 Media massa
 Lembaga pendidikan atau keagamaan
 Pengaruh faktor emosional
Kebutuhan

Hirarki kebutuhan Maslow


Kebutuhan Menurut Maslow

Kebutuhan yang sudah terpuaskan akan memberikan dampak


kesenangan yang lebih lama. Contoh : 1. Merasa puas karena
mendapatkan sekuritas emosional; 2. memperoleh status sosial yang
memberikan martabat diri; 3. memiliki keahlian dalam suatu bidang;
4. mendapatkan suatu apresiasi dari luar, khususnya dari para
manajer
Kebutuhan yang tidak terpuaskan dapat menyebabkan rasa frustasi,
konflik, dan stres. Frustasi tidak seluruhnya disebabkan oleh situasi
obyektif dan individu, akan tetapi lebih banyak disebabkan oleh
respon rasional dan emosionalnya. Contoh : Seseorang yang
menyogok akan memuaskan kebutuhan sang penerima, yang
berakibat suasana yang semula senang hati menjadi hambar.
Kompensasi

Kompensasi adalah semua pendapatan yang


berbentuk uang, barang langsung atau tidak langsung
yang diterima karyawan sebagai imbalan atas jasa
yang diberikan kepada perusahaan (Malayu S.P.
Hasibuan, 2002:54).
Jenis-jenis Kompensasi

 Kompensasi finansial secara langsung berupa; bayaran pokok (gaji


dan upah), bayaran prestasi, bayaran insentif (bonus, komisi,
pembagian laba/keuntungan dan opsi saham) dan bayaran
tertangguh (program tabungan dan anuitas pembelian saham)
 Kompensasi finansial tidak langsung berupa; program-program
proteksi (asuransi kesehatan, asuransi jiwa, pensiun, asuransi tenaga
kerja), bayaran diluar jam kerja (liburan, hari besar, cuti tahunan dan
cuti hamil) dan fasilitas-fasilitas seperti kendaran,ruang kantor dan
tempat parkir.
 Kompensasi non financial, berupa pekerjaan (tugas-tugas yang
menarik, tantangan, tanggung jawab, pengakuan dan rasa
pencapaian). Lingkungan kerja (kebijakan-kebijakan yang sehat,
supervise yang kompoten, kerabat yang menyenangkan, lingkungan
kerja yang nyaman).
Terminologi Kompensasi

 Upah/gaji. Upah (wages) biasanya berhubungan dengan tarif


gaji perjam (semakin lama kerjanya, semakin besar bayarannya).
Sedangkan gaji (salary) umumnya berlaku untuk tarif mingguan,
bulanan atau tahunan.
 Insentif, (incentive) merupakan tambahan-tambahan gaji diatas
atau diluar gaji atau upah yang diberikan oleh organisasi
berdasarkan produktivitas, penjualan, keuntungan-keuntungan
atau upaya-upaya pemangkasan biaya.
 Tunjangan (Benefit). Contoh : asuransi kesehatan, asuransi jiwa,
liburan-liburan yang ditanggung perusahaan, program pensiun
dll.
 Fasilitas (Facility) adalah kenikmatan/fasilitas seperti mobil
perusahaan, keanggotaan klub, tempat parkir khusus.
Tujuan Pemberian Kompensasi

 Menghargai prestasi karyawan


 Menjamin keadilan gaji karyawan
 Mempertahankan karyawan atau mengurangi
turnover karyawan
 Memperoleh karyawan yang bermutu
 Pengendalian biaya
 Memenuhi peraturan-peraturan.
Manajemen Waktu

manajemen waktu adalah suatu proses yang berhubungan


dengan pencapaian suatu tujuan tertentu maupun sasaran
yang sebelumnya telah ditentukan untuk bisa dicapai dalam
suatu periode tertentu dengan penggunaan sumber daya
secara efisien dan efektif.
Tujuan Manajemen Waktu

 Membantu Proses disiplin diri, Pengaturan Waktu yang baik secara


otomatis anda akan mencegah diri dari penundaan waktu dan
pemborosan waktu yang berarti bahwa anda mendisiplinkan diri anda
untuk penyeleseian suatu tugas dalam pencapain tujuan yang hendak
dicapai.
 Mempercepat segala urusan, Pengaturan waktu yang baik maka dapat
di pastikan bahwa tugas-tugas dan segala urusan yang anda lakukan
akan cepat selesai. Jika anda mengerjakan sesuatu tugas dengan
mendadak , maka justru dapat membuat tugas-tugas atau segala
urusan anda menjadi lebih banyak, menumpuk dan tak terseleseikan
sesuai waktunya.
 Menentukan urutan prioritas, Ketika Anda harus berhadapan dengan
pekerjaan sementara Anda tidak punya banyak waktu, maka satu-
satunya jalan untuk menyelesaikannya adalah dengan menggunakan
manajemen waktu. Karena bila Anda berhasil mengelola manajemen
waktu, maka Anda akan lebih mudah menyelesaikan tumpukan
pekerjaan Anda tanpa harus di dalamnya.
Evaluasi Pengunaan Waktu

Evaluasi adalah proses penilaian. Penilaian ini bisa menjadi netral,


positif atau negative atau merupakan gabungan dari keduanya.
Waktu adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan
atau keadaan berada atau berlangsung. Jadi mengevaluasi waktu
berarti kita akan mengevaluasi hal-hal yang telah dan kelak akan
dilakukan.
Dengan melakukan evaluasi manajemen waktu, maka kita dapat
mengenali bagaimana penggunaan waktu dalam sehari hingga
dapat menemukan hal-hal mana saja yang menurut kita
berlebihan porsi waktunya dan mana yang kekurangan porsinya.
Skala Prioritas

Skala Prioritas adalah tingkat-tingkat yang memiliki kriteria tertentu atas segala
sesuatu yang diutamakan.
Hal yang mempengaruhi Skala Prioritas :
 Tingkat Urgensinya, yang mana yang harus didahulukan
 Kesempatan yang dimiliki
 Pertimbangan Masa deman, agar masa depan gemilang kita perlu
mendapatkan pendidikan maka dari itu pendidikan
beserta pelengkapnya harus di utamakan juga
 Kemampuan diri
 Tingkat pendapatan
 Status Sosial
 Lingkungan
Prinsip Manajemen Waktu

 Pembagian kerja yang berimbang.


 Pemberian kewenangan dan rasa tanggung
 Disiplin
 Kesatuan perintah
 Kesatuan arah