Anda di halaman 1dari 20

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN

AKUT LEUKEMIA LYMPOSIT

(ALL)

Telah disetuji pada :


Hari :
Tanggal :

DISUSUN OLEH

THALIA HANA SEPTIARA MULYANA

201820461011091

PEMBIMBING AKADEMIK PEMBIMBING LAHAN


I. KONSEP DASAR TEORI
A. Definisi
Leukemia adalah keganasan organ pembuat darah, sehingga sumsum
tulang didominasi oleh limfoblas yang abnormal. Leukemia limfoblastik akut
adalah keganasan yang sering ditemukan pada masa anak-anak (25-30% dari
seluruh keganasan pada anak), anak laki lebih sering ditemukan dari pada anak
perempuan, dan terbanyak pada anak usia 3-4 tahun. Faktor risiko terjadi leukimia
adalah faktor kelainan kromosom, bahan kimia, radiasi faktor hormonal,infeksi
virus [ CITATION Hid13 \l 1033 ].
Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) adalah suatu keganasan pada sel-sel
prekursor limfoid, yakni sel darah yang nantinya akan berdiferensiasi menjadi
limfosit T dan limfosit B. LLA ini banyak terjadi pada anak-anak yakni 75%,
sedangkan sisanya terjadi pada orang dewasa. Lebih dari 80% dari kasus LLA
adalah terjadinya keganasan pada sel T, dan sisanya adalah keganasan pada sel B.
Insidennya 1 : 60.000 orang/tahun dan  didominasi oleh anak-anak usia < 15
tahun, dengan insiden tertinggi pada usia 3-5 tahun [ CITATION Hid13 \l 1033 ].
B. Etiologi dan Faktor Resiko
Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor
predisposisi yang menyebabkan terjadinya leukemia yaitu [ CITATION Hid13 \l
1033 ]:
1. Genetik
a. Keturunan
1) Adanya Penyimpangan Kromosom
Insidensi leukemia meningkat pada penderita kelainan kongenital,
diantaranya pada sindroma Down, sindroma Bloom, Fanconi’s
Anemia, sindroma Wiskott-Aldrich, sindroma Ellis van Creveld,
sindroma Kleinfelter, D-Trisomy sindrome, sindroma von
Reckinghausen, dan neurofibromatosis. Kelainan-kelainan kongenital
ini dikaitkan erat dengan adanya perubahan informasi gen, misal pada
kromosom 21 atau C-group Trisomy, atau pola kromosom yang tidak
stabil, seperti pada aneuploidy.

2) Saudara kandung
Dilaporkan adanya resiko leukemia akut yang tinggi pada kembar
identik dimana kasus-kasus leukemia akut terjadi pada tahun pertama
kelahiran. Hal ini berlaku juga pada keluarga dengan insidensi
leukemia yang sangat tinggi.
3) Faktor Lingkungan
Beberapa faktor lingkungan di ketahui dapat menyebabkan
kerusakan kromosom dapatan, misal : radiasi, bahan kimia, dan obat-
obatan yang dihubungkan dengan insiden yang meningkat pada
leukemia akut, khususnya ALL.

4) Virus
Dalam banyak percobaan telah didapatkan fakta bahwa RNA virus
menyebabkan leukemia pada hewan termasuk primata. Penelitian pada
manusia menemukan adanya RNA dependent DNA polimerase pada
sel-sel leukemia tapi tidak ditemukan pada sel-sel normal dan enzim
ini berasal dari virus tipe C yang merupakan virus RNA yang
menyebabkan leukemia pada hewan. Salah satu virus yang terbukti
dapat menyebabkan leukemia pada manusia adalah Human T-Cell
Leukemia . Jenis leukemia yang ditimbulkan adalah Acute T- Cell
Leukemia.

2. Bahan Kimia dan Obat-obatan


a. Bahan Kimia
Paparan kromis dari bahan kimia (misal : benzen) dihubungkan dengan
peningkatan insidensi leukemia akut, misal pada tukang sepatu yang sering
terpapar benzen. Selain benzen beberapa bahan lain dihubungkan dengan
resiko tinggi dari AML, antara lain : produk – produk minyak, cat , ethylene
oxide, herbisida, pestisida, dan ladang elektromagnetik

b. Obat-obatan
Obat-obatan anti neoplastik (misal : alkilator dan inhibitor topoisomere II)
dapat mengakibatkan penyimpangan kromosom yang menyebabkan AML. 
Kloramfenikol,  fenilbutazon, dan  methoxypsoralen  dilaporkan menyebabkan
kegagalan sumsum tulang yang lambat laun menjadi AML

c. Radiasi
Hubungan yang erat antara radiasi dan leukemia (ANLL) ditemukan pada
pasien-pasien anxylosing spondilitis yang mendapat terapi radiasi, dan pada
kasus lain seperti peningkatan insidensi leukemia pada penduduk Jepang yang
selamat dari ledakan bom atom. Peningkatan resiko leukemia ditemui juga
pada pasien yang mendapat terapi radiasi misal : pembesaran thymic, para
pekerja yang terekspos radiasi dan para radiologis .

d. Leukemia Sekunder
Leukemia yang terjadi setelah perawatan atas penyakit malignansi lain
disebut Secondary Acute Leukemia ( SAL ) atau treatment related leukemia.
Termasuk diantaranya penyakit Hodgin, limphoma, myeloma, dan kanker
payudara. Hal ini disebabkan karena obat-obatan yang digunakan termasuk
golongan imunosupresif selain menyebabkan dapat menyebabkan kerusakan
DNA .

C. Klasifikasi
Klasifikasi dari LLA yang digunakan oleh dunia adalah klasifikasi morfologik
menurut FAB (French-American-British) yang berdasarkan atas karakteristik dari
sel blas (ukuran sel, rasio sitoplasma-inti, ukuran dari inti sel, dan warna sel)
[ CITATION Hid13 \l 1033 ] :
1. LLA-L1
Pada tipe ini, sel blas berukuran kecil dengan sitoplasma yang sempit,
nukleolus tidak jelas terlihat, dan kromatin homogen. L1 merupakan jenis
leukemia limfoblastik akut yang sering terjadi pada anak-anak, sekitar 70%
kasus dengan 74% nya terjadi pada anak-anak usia di bawah 15 tahun.
2. LLA-L2
L2 terdiri dari sel blas berukuran lebih besar, ukuran inti tidak beraturan,
kromatin lebih kasar dengan satu atau lebih anak inti, dan membran nukleolus
yang irregular serta sitoplasma yang berbeda warna. Sekitar 27% kasus LLA,
didapati morfologik tipe L2 dan lebih sering terjadi pada pasien usia di atas 15
tahun.
3. LLA-L3
L3 terdiri dari sel blas berukuran besar, ukurannya homogen, ukuran inti bulat
atau oval dengan kromatin berbercak, anak inti banyak ditemukan, sitoplasma
yang sangat basofilik disertai dengan vakuolisasi. Pada tipe ini, terjadi mitosis
yang cepat sebagai pertanda dari adanya tahapan aktifitas dari makrofag.
D. Patofisiologi
Komponen sel darah terdiri atas eritrosit atau sel darah merah (RBC) dan
leukosit atau sel darah putih (WBC) serta trombosit atau platelet. Seluruh sel
darah normal diperoleh dari sel batang tunggal yang terdapat pada seluruh
sumsum tulang. Sel batang dapat dibagi ke dalam lymphpoid dan sel batang darah
(myeloid), dimana pada kebalikannya menjadi cikal bakal sel yang terbagi
sepanjang jalur tunggal khusus. Proses ini dikenal sebagai hematopoiesis dan
terjadi di dalam sumsum tulang tengkorak, tulang belakang., panggul, tulang
dada, dan pada proximal epifisis pada tulang-tulang yang panjang.
ALL meningkat dari sel batang lymphoid tungal dengan kematangan
lemah dan pengumpulan sel-sel penyebab kerusakan di dalam sumsum tulang.
Biasanya dijumpai tingkat pengembangan lymphoid yang berbeda dalam sumsum
tulang mulai dari yang sangat mentah hingga  hampir menjadi sel normal. Derajat
kementahannya merupakan petunjuk untuk menentukan/meramalkan
kelanjutannya. Pada pemeriksaan darah tepi ditemukan sel muda limfoblas dan
biasanya ada leukositosis, kadang-kadang leukopenia (25%). Jumlah leukosit
neutrofil seringkali rendah, demikian pula kadar hemoglobin dan trombosit. Hasil
pemeriksaan sumsum tulang biasanya menunjukkan sel-sel blas yang dominan.
Pematangan limfosit B dimulai dari sel stem pluripoten, kemudian sel stem
limfoid, pre pre-B, early B, sel B intermedia, sel B matang, sel plasmasitoid dan
sel plasma. Limfosit T juga berasal dari sel stem pluripoten, berkembang menjadi
sel stem limfoid, sel timosit imatur, cimmom thymosit, timosit matur, dan
menjadi sel limfosit T helper dan limfosit T supresor.
Peningkatan prosuksi leukosit juga melibatkan tempat-tempat
ekstramedular sehingga anak-anak menderita pembesaran kelenjar limfe dan
hepatosplenomegali. Sakit tulang juga sering dijumpai. Juga timbul serangan pada
susunan saraf pusat, yaitu sakit kepala, muntah-muntah, “seizures” dan gangguan
penglihatan.
Sel kanker menghasilkan leukosit yang imatur / abnormal dalam jumlah
yang berlebihan. Leukosit imatur ini menyusup ke berbagai organ, termasuk
sumsum tulang dan menggantikan unsur-unsur sel yang normal. Limfosit imatur
berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer sehingga mengganggu
perkembangan sel normal. Hal ini menyebabkan haemopoesis normal terhambat,
akibatnya terjadi penurunan jumlah leucosit, sel darah merah dan trombosit.
Infiltrasi sel kanker ke berbagai organ menyebabkan pembersaran hati, limpa,
limfodenopati, sakit kepala, muntah, dan nyeri tulang serta persendian. Penurunan
jumlah eritrosit menimbulkan anemia, penurunan jumlah trombosit
mempermudah terjadinya perdarahan (echimosis, perdarahan gusi, epistaksis dll.).
Adanya sel kanker juga mempengaruhi sistem retikuloendotelial yang dapat
menyebabkan gangguan sistem pertahanan tubuh, sehingga mudah mengalami
infeksi. Adanya sel kaker juga mengganggu metabolisme sehingga sel kekurangan
makanan [ CITATION Hid13 \l 1033 ].
E. Manifestasi Klinis
1. Anemia: mudah lelah, letargi, pusing, sesak, nyeri dada
2. Anoreksia, kehilangan berat badan, malaise
3. Nyeri tulang dan sendi (karena infiltrasi sumsum tulang oleh sel leukemia),
biasanya terjadi pada anak
4. Demam, banyak berkeringat pada malam hari(hipermetabolisme)
5. Infeksi mulut, saluran napas, selulitis, atau sepsis. Penyebab tersering adalah
gramnegatif usus
6. Stafilokokus, streptokokus, serta jamur 
7. Perdarahan kulit, gusi, otak, saluran cerna, hematuria
8. Hepatomegali, splenomegali, limfadenopati
9. Massa di mediastinum (T-ALL)
10. Leukemia SSP (Leukemia cerebral); nyeri kepala, tekanan intrakranial naik,
muntah,kelumpuhan saraf otak (VI dan VII), kelainan neurologik fokal, dan
perubahan status mental.
[ CITATION Hid13 \l 1033 ]
F. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang mengenai leukemia adalah [ CITATION Hid13 \l 1033 ] :
1. Hitung darah lengkap menunjukkan normositik, anemia normositik.
2. Hemoglobin : dapat kurang dari 10 g/100 ml
3. Retikulosit : jumlah biasanya rendah
4. Jumlah trombosit : mungkin sangat rendah (<50.000/mm)
5. SDP : mungkin lebih dari 50.000/cm dengan peningkatan SDP yang imatur
(mungkin menyimpang ke kiri). Mungkin ada sel blast leukemia.
6. PT/PTT : memanjang
7. LDH : mungkin meningkat
8. Asam urat serum/urine : mungkin meningkat
9. Muramidase serum (lisozim) : penigkatabn pada leukimia monositik akut dan
mielomonositik.
10. Copper serum : meningkat
11. Zinc serum : meningkat/ menurun
12. Biopsi Sumsum Tulang : SDM abnormal biasanya lebih dari 50 % atau lebih
dari SDP pada sumsum tulang. Sering 60% - 90% dari blast, dengan prekusor
eritroid, sel matur, dan megakariositis menurun.
13. Foto dada dan biopsi nodus limfe : dapat mengindikasikan derajat keterlibatan
G. Penatalaksanaan
1. Leukemia Limfoblastik Akut [ CITATION Hid13 \l 1033 ]:
Tujuan pengobatan adalah mencapai kesembuhan total dengan
menghancurkan sel-sel leukemik sehingga sel normal bisa tumbuh kembali di
dalam sumsum tulang. Penderita yang menjalani kemoterapi perlu dirawat di
rumah sakit selama beberapa hari atau beberapa minggu, tergantung kepada
respon yang ditunjukkan oleh sumsum tulang.
Sebelum sumsum tulang kembali berfungsi normal, penderita mungkin
memerlukan: transfusi sel darah merah untuk mengatasi anemia, transfusi
trombosit untuk mengatasi perdarahan, antibiotik untuk mengatasi infeksi.
Beberapa kombinasi dari obat kemoterapi sering digunakan dan dosisnya
diulang selama beberapa hari atau beberapa minggu. Suatu kombinasi terdiri
dari prednison per-oral (ditelan) dan dosis mingguan dari vinkristin dengan
antrasiklin atau asparaginase intravena. Untuk mengatasi sel leukemik di otak,
biasanya diberikan suntikan metotreksat langsung ke dalam cairan spinal dan
terapi penyinaran ke otak. Beberapa minggu atau beberapa bulan setelah
pengobatan awal yang intensif untuk menghancurkan sel leukemik, diberikan
pengobatan tambahan (kemoterapi konsolidasi) untuk menghancurkan sisa-
sisa sel leukemik. Pengobatan bisa berlangsung selama 2-3 tahun. Sel-sel
leukemik bisa kembali muncul, seringkali di sumsum tulang, otak atau buah
zakar. Pemunculan kembali sel leukemik di sumsum tulang merupakan
masalah yang sangat serius. Penderita harus kembali menjalani kemoterapi.
Pencangkokan sumsum tulang menjanjikan kesempatan untuk sembuh pada
penderita ini. Jika sel leukemik kembali muncul di otak, maka obat
kemoterapi disuntikkan ke dalam cairan spinal sebanyak 1-2 kali/minggu.
Pemunculan kembali sel leukemik di buah zakar, biasanya diatasi dengan
kemoterapi dan terapi penyinaran.

2. Pengobatan Leukeumia Limfoblastik Kronik [ CITATION Hid13 \l 1033 ]


Berkembang dengan lambat, sehingga banyak penderita yang tidak
memerlukan pengobatan selama bertahun-tahun sampai jumlah limfosit sangat
banyak, kelenjar getah bening membesar atau terjadi penurunan jumlah
eritrosit atau trombosit. Anemia diatasi dengan transfusi darah dan suntikan
eritropoietin (obat yang merangsang pembentukan sel-sel darah merah). Jika
jumlah trombosit sangat menurun, diberikan transfusi trombosit. Infeksi
diatasi dengan antibiotik.
Terapi penyinaran digunakan untuk memperkecil ukuran kelenjar getah
bening, hati atau limpa. Obat antikanker saja atau ditambah kortikosteroid
diberikan jika jumlah limfositnya sangat banyak. Prednison dan kortikosteroid
lainnya bisa menyebabkan perbaikan pada penderita leukemia yang sudah
menyebar. Tetapi respon ini biasanya berlangsung singkat dan setelah
pemakaian jangka panjang, kortikosteroid menyebabkan beberapa efek
samping. Leukemia sel B diobati dengan alkylating agent, yang membunuh
sel kanker dengan mempengaruhi DNAnya. Leukemia sel berambut diobati
dengan interferon alfa dan pentostatin.
Penatalaksanaan lain :
1. Pelaksanaan Kemoterapi
a. Melalui mulut
b. Dengan suntikan langsung ke pembuluh darah balik (atau intravena)
c. Melalui kateter (tabung kecil yang fleksibel)
d. Dengan suntikan langsung ke cairan cerebrospinal
e. Pengobatan umumnya terjadi secara bertahap, meskipun tidak semua
fase yang digunakan untuk semua orang.
2. Tahap 1 (terapi induksi)
Tujuan dari tahap pertama pengobatan auntuk membunuh sebagian
besar sel-sel leukemia di dalam darah dan sumsum tulang. Terapi induksi
kemoterapi biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit yang panjang
karena obat menghancurkan banyak sel darah normal dalam proses
membunuh sel leukemia. Pada tahap ini dengan memberikan kemoterapi
kombinasi yaitu daunorubisin, vincristin, prednison dan asparaginase.
3. Tahap 2 (terapi konsolidasi/ intensifikasi)
Setelah mencapai remisi komplit, segera dilakukan terapi
intensifikasi yang bertujuan untuk mengeliminasi sel leukemia residual
untuk mencegah relaps dan juga timbulnya sel yang resisten terhadap obat.
Terapi ini dilakukan setelah 6 bulan kemudian.
4. Tahap 3 ( profilaksis SSP)
Profilaksis SSP diberikan untuk mencegah kekambuhan pada SSP.
Perawatan yang digunakan dalam tahap ini sering diberikan pada dosis
yang lebih rendah. Pada tahap ini menggunakan obat kemoterapi yang
berbeda, kadang-kadang dikombinasikan dengan terapi radiasi, untuk
mencegah leukemia memasuki otak dan sistem saraf pusat.
5. Tahap 4 (pemeliharaan jangka panjang)
Pada tahap ini dimaksudkan untuk mempertahankan masa remisi.
Tahap ini biasanya memerlukan waktu 2-3 tahun. Angka harapan hidup
yang membaik dengan pengobatan sangat dramatis. Tidak hanya 95%
anak dapat mencapai remisi penuh, tetapi 60% menjadi sembuh. Sekitar
80% orang dewasa mencapai remisi lengkap dan sepertiganya mengalami
harapan hidup jangka panjang, yang dicapai dengan kemoterapi agresif
yang diarahkan pada sumsum tulang dan SSP.
6. Terapi Biologi
Orang dengan jenis penyakit leukemia tertentu menjalani terapi
biologi untuk meningkatkan daya tahan alami tubuh terhadap kanker.
Terapi ini diberikan melalui suntikan di dalam pembuluh darah balik. Bagi
pasien dengan leukemia limfositik kronis, jenis terapi biologi yang
digunakan adalah antibodi monoklonal yang akan mengikatkan diri pada
sel-sel leukemia. Terapi ini memungkinkan sistem kekebalan untuk
membunuh sel-sel leukemia di dalam darah dan sumsum tulang. Bagi
penderita dengan leukemia myeloid kronis, terapi biologi yang digunakan
adalah bahan alami bernama interferon untuk memperlambat pertumbuhan
sel-sel leukemia.
7. Terapi Radiasi
Terapi Radiasi (juga disebut sebagai radioterapi) menggunakan
sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel leukemia. Bagi sebagian
besar pasien, sebuah mesin yang besar akan mengarahkan radiasi pada
limpa, otak, atau bagian lain dalam tubuh tempat menumpuknya sel-sel
leukemia ini. Beberapa pasien mendapatkan radiasi yang diarahkan ke
seluruh tubuh. (radiasi seluruh tubuh biasanya diberikan sebelum
transplantasi sumsum tulang.
8. Transplantasi Sel Induk (Stem Cell)
Beberapa pasien leukemia menjalani transplantasi sel induk (stem
cell). Transplantasi sel induk memungkinkan pasien diobati dengan dosis
obat yang tinggi, radiasi, atau keduanya. Dosis tinggi ini akan
menghancurkan sel-sel leukemia sekaligus sel-sel darah normal dalam
sumsum tulang. Kemudian, pasien akan mendapatkan sel-sel induk (stem
cell) yang sehat melalui tabung fleksibel yang dipasang di pembuluh darah
balik besar di daerah dada atau leher. Sel-sel darah yang baru akan tumbuh
dari sel-sel induk (stem cell) hasil transplantasi ini. Setelah transplantasi
sel induk (stem cell), pasien biasanya harus menginap di rumah sakit
selama beberapa minggu. Tim kesehatan akan melindungi pasien dari
infeksi sampai sel-sel induk (stem cell) hasil transplantasi mulai
menghasilkan sel-sel darah putih dalam jumlah yang memadai.
9. Transfusi darah, biasanya diberikan bila kadar Hb kurang dari 6 g%. Pada
trombositopenia yang berat dan perdarahan masif, dapat diberikan
transfusi trombosit dan bila terdapat tanda-tanda DIC dapat diberikan
heparin.
10. Kortikosteroid
11. Sitostatika.
12. Infeksi sekunder dihindarkan (bila mungkin penderita diisolasi dalam
kamar yang suci hama).
13. Imunoterapi, merupakan cara pengobatan yang terbaru. Setelah tercapai
remisi dan jumlah sel leukemia cukup rendah (105 - 106), imunoterapi
mulai diberikan. Pengobatan yang aspesifik dilakukan dengan pemberian
imunisasi BCG atau dengan Corynae bacterium dan dimaksudkan agar
terbentuk antibodi yang dapat memperkuat daya tahan tubuh. Pengobatan
spesifik dikerjakan dengan penyuntikan sel leukemia yang telah diradiasi.
Dengan cara ini diharapkan akan terbentuk antibodi yang spesifik terhadap
sel leukemia, sehingga semua sel patologis akan dihancurkan sehingga
diharapkan penderita leukemia dapat sembuh sempurna.
Cara pengobatan :
a. Induksi
Dimaksudkan untuk mencapai remisi, yaitu dengan pemberian berbagai
obat tersebut di atas, baik secara sistemik maupun intratekal sampai sel
blast dalam sumsum tulang kurang dari 5%.
b. Konsolidasi
Yaitu agar sel yang tersisa tidak cepat memperbanyak diri lagi.
c. Rumat (maintenance)
Untuk mempertahankan masa remisi, sedapat-dapatnya suatu masa remisi
yang lama. Biasanya dilakukan dengan pemberian sitostatika separuh
dosis biasa.
d. Reinduksi
Dimaksudkan untuk mencegah relaps. Reinduksi biasanya dilakukan
setiap 3-6 bulan dengan pemberian obat-obat seperti pada induksi selama
10-14 hari.
e. Mencegah terjadinya leukemia susunan saraf pusat.
Untuk hal ini diberikan MTX intratekal pada waktu induksi untuk
mencegah leukemia meningeal dan radiasi kranial sebanyak 2.4002.500
rad. untuk mencegah leukemia meningeal dan leukemia serebral. Radiasi
ini tidak diulang pada reinduksi.
f. Pengobatan imunologik
Diharapkan semua sel leukemia dalam tubuh akan hilang sama sekali dan
dengan demikian diharapkan penderita dapat sembuh sempurna.
[ CITATION Hid13 \l 1033 ]

H. Komplikasi
1. Perdarahan
Akibat defisiensi trombosit (trombositopenia). Angka trombosit yang rendah
ditandai  dengan :
a. Memar (ekimosis)
b. Petchekie (bintik perdarahan kemerahan atau keabuan sebesar ujung
jarum dipermukaan kulit)
c. Perdarahan berat jika angka trombosit < 20.000 mm 3 darah. Demam dan
infeksi dapat memperberat perdarahan
2. Infeksi
Akibat kekurangan granulosit matur dan normal. Meningkat sesuai derajat
netropenia dan disfungsi imun.
3. Pembentukan batu ginjal dan kolik ginjal.
Akibat penghancuran sel besar-besaran saat kemoterapi meningkatkan kadar
asam urat sehingga perlu asupan cairan yang tinggi.
4. Anemia
5. Masalah gastrointestinal.
a. Mual
b. Muntah
c. Anoreksia
d. Diare
e. Lesi mukosa mulut
Terjadi akibat infiltrasi lekosit abnormal ke organ abdominal, selain akibat
kemoterapi.
[ CITATION Hid13 \l 1033 ]
I. Pathway
II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Keluhan Utama
Keluhan utama yang dikatakan klien berupa adanya tanda-tanda anemia.
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada penyakit leukemia ini klien biasanya lemah, lelah, wajah terlihat pucat, sakit
kepala, anoreksia, muntah, sesak, nafas cepat. Pengkajian ringkas dengan PQRST
dapat lebih memudahkan perawat dalam melengkapi pengkajian.
a. Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi faktor
penyebab nyeri, apakahnyeri berkurang apabila beristirahat?
b. Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan
klien, apakah rasa nyeri seperti tertusuk-tusuk?
c. Region: di mana rasa yang dirasakan?
d. Severity of Pain: seberapa skala nyeri klien yang dirasakan?
e. Time: berapa lama rasa nyeri berlangsung, kapan, bertambah buruk pada
malam hari atau siang hari, apakah gejala timbul mendadak, perlahan-lahan
atau seketika itu juga, apakah timbul gejala secara terus-menerus atau hilang
timbul (intermitten), apa yang sedang dilakukan klien saat gejala timbul, lama
timbulnya (durasi), kapan gejala tersebut pertama kali timbul (onset).
C. Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian yang mendukung adalah dengan mengkaji apakah sebelumnya klien
pernah menderita LLA. Adanya gangguan hematologis, adanya faktor herediter
misal kembar monozigot.
D. Riwayat Penyakit Alergi
Pasien tidak memiliki alergi terhadap makanan, minuman, dan obat-obatan.
E. Riwayat Imunisasi
1. BCG
Imunisasi BCG diberikan pada umur sebelum 2 bulan. Pada dasarnya, untuk
mencapai cakupan yang lebih luas, pedoman Depkes perihal imunisasi BCG
pada umur antara 0-12 bulan, tetap disetujui [ CITATION IDA00 \l 1033 ].
2. Hepatitis B
Imunisasi hepatitis B diberikan sedini mungkin setelah lahir, mengingat
paling tidak 3,9% ibu hamil merupakan pengidap hepatitis dengan risiko
transmisi maternal kurang lebih sebesar 45% [ CITATION IDA00 \l 1033 ].
Pemberian imunisasi hepatitis B harus berdasarkan status HBsAg ibu pada
saat melahirkan. Jadwal pemberian berdasarkan status HBsAg ibu adalah
sebagai berikut [ CITATION IDA00 \l 1033 ]:
a. Bayi lahir dari ibu dengan status HbsAg yang tidak diketahui. Diberikan
vaksin rekombinan (HB Vax-II 5 µg atau Engerix B 10 µg) atau vaksin
plasma derived 10 mg, secara intramuskular, dalam waktu 12 jam setelah
lahir. Dosis kedua diberikan umur 1-2 bulan dan dosis ketiga umur 6
bulan. Apabila pada pemeriksaan selanjutnya diketahui ibu HbsAg-nya
positif, segera berikan 0,5 ml HBIG (sebelum 1 minggu).
b. Bayi lahir dari ibu HBsAg positif. Dalam waktu 12 jam setelah lahir,
secara bersamaan, diberikan 0,5 ml HBIG dan vaksin rekombinan (HB
Vax-II 5 mg atau Engerix B 10 mg), intramuskular di sisi tubuh yang
berlainan. Dosis kedua diberikan 1-2 bulan sesudahnya dan dosis ketiga
diberikan pada usia 6 bulan.
c. Bayi lahir dari ibu dengan HBsAg negatif. Diberikan vaksin rekombinan
(HB Vax-II dengan dosis minimal 2,5 µg (0,25 ml) atau Engerix B 10 µg
(0,5ml), vaksin plasma derived dengan dosis 10 µg (0,5 ml) secara intra-
muskular, pada saat lahir sampai usia 2 bulan. Dosis kedua diberikan 1-2
bulan kemudian dan dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah imunisasi
pertama.
3. DPT
Imunisasi DPT dasar diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan dengan interval 4-6
minggu, DPT 1 diberikan pada umur 2-4 bulan, DPT 2 pada umur 3-5 bulan
dan DPT 3 pada umur 4-6 bulan. Ulangan selanjutnya (DPT 4) diberikan satu
tahun setelah DPT 3 yaitu pada umur 18-24 bulan dan DPT 5 pada saat masuk
sekolah umur 5-7 tahun [ CITATION IDA00 \l 1033 ].
4. Tetanus
Upaya Departemen Kesehatan melaksanakan Program Eliminasi Tetanus
Neonatorum (ETN) melalui imunisasi DPT, DT, atau TT dilaksanakan
berdasarkan perkiraan lama waktu perlindungan sebagai berikut [ CITATION
IDA00 \l 1033 ]:
a. Imunisasi DPT pada bayi 3 kali (3 dosis) akan memberikan imunitas
1-3 tahun. Dari 3 dosis toksoid tetanus pada bayi tersebut setara
dengan 2 dosis toksoid pada anak yang lebih besar atau dewasa.
b. Ulangan DPT pada umur 18-24 bulan (DPT4) akan memperpanjang
imunitas 5 tahun yaitu sampai dengan umur 6-7 tahun, pada umur
dewasa dihitung setara 3 dosis toksoid.
c. Dosis toksoid tetanus kelima (DPT/ DT 5) bila diberikan pada usia
masuk sekolah, akan memperpanjang imunitas 10 tahun lagi yaitu
pada sampai umur 17-18 tahun; pada umur dewasa dihitung setara 4
dosis toksoid.
d. Dosis toksoid tetanus tambahan yang diberikan pada tahun berikutnya
di sekolah (DT 6 atau dT) akan memperpanjang imunitas 20 tahun
lagi; pada umur dewasa dihitung setara 5 dosis toksoid.
e. Jadi Program Imunisasi merekomendasikan TT 5x untuk memberikan
perlindungan seumur hidup dan pada wanita usia subur (WUS) untuk
memberikan perlindungan terhadap bayi yang dilahirkan dari tetanus
neonatorum.

5. Polio
Untuk imunisasi dasar (polio 2, 3, 4), vaksin diberikan 2 tetes per-oral,
dengan interval tidak kurang dari 4 minggu [ CITATION IDA00 \l 1033 ].
6. Campak
Vaksin campak dianjurkan diberikan dalam satu dosis 0,5 ml secara sub-kutan
dalam, pada umur 9 bulan [ CITATION IDA00 \l 1033 ].
7. MMR
a. Vaksin MMR diberikan pada umur 15-18 bulan dengan dosis satu kali
0,5 ml, secara subkutan.
b. Vaksin MMR yang beredar di pasaran ialah MMR II [MSD] dan
Trimovax [Pasteur Merieux]
c. MMR diberikan minimal 1 bulan sebelum atau setelah penyuntikan
imunisasi lain.
d. Apabila seorang anak telah mendapat imunisasi MMR pada umur 12-18
bulan, imunisasi campak 2 pada umur 5-6 tahun tidak perlu diberikan.
e. Ulangan diberikan pada umur 10-12 tahun atau 12-18 tahun.
[ CITATION IDA00 \l 1033 ]
8. Hib (H.influenzae tipe b)
Vaksin conjungate H.influenzae tipe b ialah Act HIB [Pasteur Merieux]
diberikan pada umur 2, 4, dan 6 bulan. Bila dipergunakan vaksin PRP-outer
membrane protein complex (PRP-OMPC) yaitu Pedvax Hib, [MSD]
diberikan pada umur 2 dan 4 bulan, dosis ketiga (6 bulan) tidak diperlukan.
Ulangan vaksin Hib diberikan pada umur 18 bulan. Apabila anak datang pada
umur 1-5 tahun, Hib hanya diberikan 1 kali. Satu dosis vaksin Hib berisi 0,5
ml, diberikan secara intramuscular [ CITATION IDA00 \l 1033 ].
9. Demam tifoid
Di Indonesia tersedia 2 jenis vaksin yaitu vaksin suntikan (polisakarida) dan
oral. Vaksin capsular Vi polysaccharide yaitu Typhim Vi [Pasteur Merieux]
diberikan pada umur > 2 tahun, langan dilakukan setiap 3 tahun. Tifoid oral
Ty21a yaitu Vivotif [Berna] diberikan pada umur > 6 tahun, dikemas dalam 3
dosis dengan interval selang sehari (hari 1,3, dan 5). Imunisasi ulangan
dilakukan setiap 3-5 tahun [ CITATION IDA00 \l 1033 ].
10. Hepatitis A
Vaksin hepatitis A diberikan pada daerah yang kurang terpajan (under
exposure), pada umur >2 tahun [ CITATION IDA00 \l 1033 ].
11. Varisela
Direkomendasikan pada umur 10-12 tahun yang belum terpajan, dengan dosis
0,5 ml, subkutan, satu kali. Apabila diberikan pada umur >13 tahun maka
imunisasi diberikan 2 kali dengan jarak 4-8 minggu [ CITATION IDA00 \l 1033 ].

F. Riwayat Tumbuh Kembang


a. Prenatal
Ibu hamil anak pertama. Pemeriksaan kehamilan dilakukan pada dokter
spesialis obgyn di RSUD
b. Natal
Anak lahir dengan cara op. Caesar dengan BB : 3.300gr PB : 45 cm
c. Post Natal
 Pertumbuhan
BB : 25 kg
TB : 130 cm
Waktu tumbuh gigi : 6 bulan, tanggal gigi umur 4 tahun.
 Perkembangan
Menurut [ CITATION San11 \l 1033 ] perkembangan anak terbagi
dalam beberapa periode berdasarkan rentang usia, berupa :
1. Periode Prakelahiran merupakan masa awal pembuahan hingga
kelahiran yang terjadi selama sembilan bulan. Pada masa ini
sebuah sel tunggal tumbuh menjadi organisme lengkap dengan
sebuah otak dan kemampuan berperilaku.
2. Masa Bayi merupakan periode perkembangan yang terjadi sejak
lahir hingga berusia 18 sampai 24 bulan. Pada masa ini bayi
memiliki ketergantungan ekstrim terhadap orang dewasa. Banyak
aktivitas-aktivitas baru dimulai seperti kemampuan bicara,
berpikir dengan symbol, meniru, belajar dari orang lain, mengatur
indera-indera dan tindakan fisik.
3. Masa Kanak - Kanak Awal merupakan periode perkembangan
yang terjadi sejak akhir masa bayi hingga usia 5 sampai 6 tahun.
Pada masa ini anak kecil belajar mandiri dan merawat diri sendiri,
mengembangkan keterampilan kesiapan sekolah, dan
menghabiskan waktu untuk bermain dengan tema sebaya.
4. Masa Kanak – Kanak Tengah dan Akhir merupakan periode
perkembangan yang terjadi sejak usia 6 tahun hingga usia 11
tahun. Pada masa ini anak telah menguasai keterampilan dasar
seperti membaca, menulis, aritmatik, dan kontrol diri meningkat.
5. Masa Remaja merupakan periode perkembangan yang terjadi
sejak usia 10 sampai 12 tahun dan berakhir pada usia 18 sampai
22 tahun. Pada masa ini terjadi perubahan fisik yang cepat,
pertamabahan tinggi dan berat badan yang drastis, perubahan
dalam kontur tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual. Ciri
utama pada periode ini merupakan pencarian identitas diri dan
kebebasan sehingga banyak waktu yang dihabiskan diluar rumah
serta pikiran menjadi lebih abstrak, idealis, dan logis.
 Riwayat Perkembangan Psikososial
Berperan dalam kegiatan kelompok
 Riwayat Perkembangan Psikoseksual
Senang berkelompok dengan teman sebaya terlebih yang berjenis
kelamin sama.
G. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum       :  klien lemah
Pemeriksaan Fisik :
1. Kaji adanya tanda-tanda anemia : Pucat, Kelemahan, Sesak, dan Nafas cepat.
2. Kaji adanya tanda-tanda leucopenia : Demam dan Infeksi.
3. Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia : Ptechiae, Purpura, dan Perdarahan
membran mukosa.
4. Kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medulola : Limfadenopati,
Hepatomegali, dan Splenomegali.
5. Kaji adanya pembesaran testis.
6. Kaji adanya : Hematuria, Hipertensi, Gagal ginjal, Inflamasi disekitar rectal,
dan Nyeri.
H. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri Akut berhubungan dengan agen cedera biologis.
2. Hipertermi berhubungan dengan penyakit.
3. Perubahan membrane mukosa oral berhubungan dengan penyakit autoimun.
4. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
5. Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurang pemahaman tentang proses
penyakit.
6. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penyakit.
7. Resiko kekurangan volume cairan dengan faktor resiko kehilangan volume
cairan aktif.
8. Resiko ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh dengan faktor
resiko nafsu makan menurun.
9. Resiko pendarahan dengan faktor resiko trombositopenia.
10. Resiko Infeksi dengan faktor resiko leucopenia.
I. Intervensi Keperawatan
1. Nyeri Akut berhubungan dengan agen cedera biologis.
NOC : Kontrol nyeri
a. Intensitas nyeri 4
b. Skala nyeri 4
c. Frekuensi nyeri 4
d. Tanda-tanda vital 4
e. Ekspresi wajah meringis 4
Keterangan outcomes:
1 = Deviasi berat dari kisaran normal
2 = Deviasi cukup berat dari kisaran normal
3 = Deviasi sedang dari kisaran normal
4 = Deviasi ringan dari kisaran normal
5 = Tidak ada deviasi dari kisaran normal

NIC : Manajemen nyeri


1. Lakukan pengkajian ulang nyeri.
2. Observasi reaksi non verbal pasien.
3. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi.
4. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri.
5. Tingkatkan istirahat.
6. Ajarkan teknik non farmakologi.
7. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri.
8. Evaluasi keefektifan control nyeri.
2. Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurang pemahaman tentang proses
penyakit.
NOC : Kowlwdge : disease process dan Kowledge : health Behavior
a. Paham tentang penyakit 4
b. Paham tentang kondisi penyakit 4
c. Paham tentang prognosis peyakit 4
d. Paham tentang program pengobatan penyakit 4
Keterangan outcomes:
1 = Berat
2 = Cukup berat
3 = Sedang
4 = Ringan
5 = Tidak ada

NIC : Teaching: disease Process

1. Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses


penyakit yang spesifik
2. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan
dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.
3. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan
cara yang tepat
4. Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
5. Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat
6. Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat
7. Hindari harapan yang kosong
8. Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien dengan cara
yang tepat
9. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk
mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses
pengontrolan penyakit
10. Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
11. Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion
dengan cara yang tepat atau diindikasikan
12. Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat
13. Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada
pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat

3. Resiko ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh dengan faktor


resiko nafsu makan menurun.
NOC : Nutritional Status: food and Fluid Intake
a. Adanya peningkatan berat badan 4
b. Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan 4
c. Identifikasi kebutuhan nutrisi 4
d. Tanda-tanda malnutrisi 4
e. Penurunan berat badan 4
Keterangan outcomes:
1 = Deviasi berat dari kisaran normal
2 = Deviasi cukup berat dari kisaran normal
3 = Deviasi sedang dari kisaran normal
4 = Deviasi ringan dari kisaran normal
5 = Tidak ada deviasi dari kisaran normal

NIC : Nutrition Management

1. Kaji adanya alergi makanan


2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi
yang dibutuhkan pasien.
3. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
5. Berikan substansi gula.
6. Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah
konstipasi
7. Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)
8. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
9. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
10. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
11. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., & Wagner, C. M. (2016). Nursing
Interventions Classification (NIC), edisi ke-6. Singapore: Elsevier.

Herdman, H. T., & Kamitsuru, S. (2015). Nanda International Inc. diagnosis keperawatan:
definisi dan klasifikasi 2015-2017. Jakarta: EGC.

Hidayati, P. (2013). Asuhan Keperawatan Pada An. A dengan Leukimia Limfoblastik Akut di
Ruang Melati II Rumah Sakit Dr. Moewardi. Karya Tulis Ilmiah.

IDAI, S. I. (2000). Jadwal Imunisasi Rekomendasi IDAI. Sari Pediatri, Vol.2.

Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2016). Nursing Outcomes
Classification (NOC), 5th edition. Singapore: Elsevier.

Santrock, J. W. (2011). Masa Perkembangan Anak. Jakarta: Salemba Humanika.