Anda di halaman 1dari 207

REH KAPRAWIRAN

Ajaran Mangkunagara IV
Tentang Keksatriaan

i
ii
Seri Kajian Sastra Klasik

REH KAPRAWIRAN
Ajaran Mangkunagara IV Tentang Keksatriaan

Bagi Aparat Militer & Sipil

Kajian Karya-Karya Sri Mangkunagara IV

Serat Tripama
Serat Wirawiyata
Serat Nayakawara

Oleh:

Bambang Khusen Al Marie

iii
iv
KATA PENGANTAR

Dalam Serat Wedatama Sri Mangkunagara IV mengajarkan bahwa


keperwiraan adalah salah satu dari tiga pegangan orang hidup. Dua yang
lain adalah ilmu dan harta. Kalau sampai seseorang tidak mempunyai
paling tidak satu dari tiga hal itu, niscaya hidupnya menjadi hina. Ibarat
nilai hidupnya tak lebih berharga dari daun jati kering.
Dalam beberapa karya lain ini Mangkunagara IV menguraikan
dengan lebih detail tentang konsep keksatriaan tersebut. Maka kali ini
kami menyatukan kajian tentang beberapa serat yang memuat konsep
keksatriaan menurut Mangkunagara IV. Dimulai dari Serat Tripama yang
berisi anjuran bagi para prajurit untuk meniru tiga teladan imajiner dalam
kisah pewayangan. Kemudian dilanjutkan dalam Serat Wirawiyata yang
berisi anjuran untuk mencontoh dan melestarikan sikap baik yang telah
dirintis para leluhur. Uraian ditutup dengan perlunya bersikap ksatria pula
bagi punggawa negara, meski zaman perang telah berlalu.
Ajaran Mangkunagara IV tentang keksatriaan tidaklah “mokondo”
alias modal kondo doang (hanya bicara doang). Beliau telah melalui
serangkaian pelatihan dan pengalaman tempur dalam kesatuan Legiun
Mangkunagaran. Sebuah pasukan modern binaan Pemerintah Hindia
Belanda. Di sana beliau menjabat sampai komandan puncak dengan
pangkat kolonel.
Marilah kita pelajari pandangan Mangkunagara IV praktisi dan
pelaku sejarah yang telah dengan besar hati berkenan membagi
pengalaman dengan kita melalui karya-karyanya.
Selamat membaca. Salam!

Bambang Khusen Al Marie

v
vi
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR REH KAPRAWIRAN v


DAFTAR ISI vii
TRANSLITERASI ARAB LATIN x
TRANSLITERASI JAWA LATIN xi

BAGIAN PERTAMA: SERAT TRIPAMA 1


Kata Pengantar Serat Tripama 3

PUPUH DHANDHANG GULA 5


Kajian Serat Tripama (1-2): Patih Suwanda 7
Kajian Serat Tripama (3-4): Raksasa Berhati Ksatria 18
Kajian Serat Tripama (5-6): Ksatria Yang Terbuang 26
Kajian Serat Tripama (7): Jangan Membuang Teladan 34

BAGIAN KEDUA: SERAT WIRAWIYATA 37


Kata Pengantar Serat Wirawiyata 39

PUPUH PERTMA: SINOM 41


Kajian Wirawiyata (1:1-3): Pambuka 43
Kajian Wirawiyata (1:4-5): Luwih Becik Laksitarja 48
Kajian Wirawiyata (1:6-7): Sakeh Panggawe Becik Iku Panembah 52
Kajian Wirawiyata (1:8-9): Brekah Saka Wong Tuwa 56
Kajian Wirawiyata (1:10-11): Nuladha Gusti Mangkunagara I 59
Kajian Wirawiyata (1:12-13): Kadya Lenga Wangi 62
Kajian Wirawiyata (1:14-15): Pinarcaya Dening Gupremen 66
Kajian Wirawiyata (1:16-17): Durung Kaya Leluhurira 69
Kajian Wirawiyata (1:18-20): Aja Munggel Kamulyane Leluhur 73
Kajian Wirawiyata (1:21-22): Wandaning Prajurit 78
Kajian Wirawiyata (1:26-24): Bisaa Miturut Sarta Nglakoni 81
Kajian Wirawiyata (1:25-26): Ngupaya Kamulyan Dhiri 85
Kajian Wirawiyata (1:27-29): Aja Abawa Priyangga 88
vii
Kajian Wirawiyata (1:30-31): Wedi Wirang Wani Pati 91
Kajian Wirawiyata (1:32-33): Tapa Tapaning Prajurit 97
Kajian Wirawiyata (1:34-35): Matia Kanthi Utama 101
Kajian Wirawiyata (1:36-37): Kumambanga Ing Wisesa 104
Kajian Wirawiyata (1:38-39): Elinga Watak Prajurit Nistha 107
Kajian Wirawiyata (1:40-42): Kumambanga Ing Wisesa 112

PUPUH KEDUA: PANGKUR 115


Kajian Wirawiyata (2:1-3): Pitung Prakara Watak Calon Senapati 117
Kajian Wirawiyata (2:4-9): Den Gegulang Rujuk Lawan Watake 121
Kajian Wirawiyata (2:10-11): Ngumpulna Samektaning Jurit 128
Kajian Wirawiyata (2:12-14): Wruhna Dununge Sawiji-Wiji 131

BAGIAN KETIGA: SERAT NAYAKAWARA 135


Kata Pengantar Serat Nayakawara 137

PUPUH PERTAMA: PANGKUR 139


Kajian Nayakawara (1:1-2): Pambuka 141
Kajian Nayakawara (1:3-4) Marenana Watak Tan Becik 144
Kajian Nayakawara (1:5-7): Mula Bukane Punggawa Wolulas 147
Kajian Nayakawara (1:8-9): Keh Kang Tanna Labetipun 152
Kajian Nayakawara (1:10-11): Kongsi Nelukake Putra Lan Sentana 155
Kajian Nayakawara (1:12-13): Den Bisa Rumangsa 158
Kajian Nayakawara (1:14-16): Dulunen Bektine Para Prajurit 161
Kajian Nayakawara (1:17-19): Aywa Kaya Uler Angrikit Godhong 165
Kajian Nayakawara (1:20-21): Tobato Mring Hyang Agung 1691

PUPUH KEDUA : DHANDHANGGULA 172


Kajian Nayakawara (2:1-2): Elinga Jaman Sangsara 173
Kajian Nayakawara (2:3-4): Minangka Sudarsaneng Dasih 176
Kajian Nayakawara (2:5-6): Wruha Limang Prekara 180
Kajian Nayakawara (2:7-8): Dadya Cahyaning Praja 184
Kajian Nayakawara (2:9-10): Anglir Wulan Kang Padhang 188
Kajian Nayakawara (2:11-12): Panutup 191

viii
Transliterasi Arab ke Latin

Untuk kata-kata Arab yang ditulis dalam huruf latin dan


diindonesiakan, tulisan ini memakai Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia Disempurnakan. Untuk kata-kata yang belum diindonesiakan
bila ditulis dalam huruf latin mempergunakan transliterasi sebagai berikut:

‫ = ا‬a, i, u ‫=ر‬r ‫ = غ‬gh

‫=ب‬b ‫=ز‬z ‫=ف‬f

‫=ت‬t ‫= س‬s ‫=ق‬q

‫ = ث‬ts ‫ = ش‬sy ‫=ك‬k

‫=ج‬j ‫ = ص‬sh ‫=ل‬l

‫=ح‬h ‫ = ض‬dl ‫=م‬m

‫ = خ‬kh ‫ = ط‬th ‫=ن‬n

‫=د‬d ‫ = ظ‬dh ‫=ؤ‬w

‫ = ذ‬dz ‫‘=ع‬ ‫=ه‬h

‫=ي‬y

ix
Transliterasi Jawa ke Latin

Transliterasi kata-kata Jawa yang ditulis dalam hurf latin adalah


sebagai berikut.
= Ha = Da = Pa = Ma
= Na = Ta = Dha = Ga
= Ca = Sa = Ja = Ba
= Ra = Wa = Ya = Tha
= Ka = La = Nya = Nga

x
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 1

SERAT TRIPAMA

.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 2
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 3

KATA PENGANTAR

Serat Tripama merupakan salah satu karya Sri Mangkunagara IV yang


cukup singkat. Hanya berisi 7 bait dalam metrum Dhandhang Gula.
Namun serat ini cukup populer dan sering terdengar ditembangkan oleh
anak-anak sekolah. Berisi tentang teladan bagi para prajurit agar berwatak
ksatria. Gigih tidak takut dalam membela negara. Serat Tripama sarat
dengan ajaran nasionalisme. Dan tampaknya masih sangat relevan untuk
dibaca di masa kini.

Kata tripama sendiri berasal dari gabungan kata tri yang artinya tiga dan
umpama yang artinya perumpamaan. Disebut tiga perumpamaan karena
dalam serat ini kita diajak untuk meneladani hal-hal baik dari tiga tokoh
dalam dunia pewayangan. Yakni, Patih Suwanda dari Maespati, Adipati
Kumbakarna dari Alengka dan Adipati Basukarna dari Awangga.

Tema tentang nasionalisme ini sudah sering dibahas banyak kalangan,


tetapi kami ingin melihat dari sudut pandang yang berbeda. Bagi kami
setiap tokoh pasti dapat kita gali sisi baiknya untuk kita teladani, namun
juga pasti mempunyai sisi buruk yang tidak perlu kita tiru. Peneladanan
bukanlah kultus sehingga menimbulkan fanatisme, tetapi keteladanan
adalah sikap kritis yang menghormat. Kita ambil contoh yang baik, kita
buang yang buruk.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 4
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 5

PUPUH

DHANDHANGGULA
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 6
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 7

Kajian Serat Tripama (1-2): Patih Suwanda


Pupuh 1, bait 1-2, Dhandhang Gula (10i,10a,8e,7u,9i,7a,6u,8a,12i,7a),
Serat Tripama, karya Sri Mangkunegara IV.

Yogyanira kang para prajurit,


lamun bisa sira atulada,
duk ing nguni caritane.
Andêlira Sang Prabu,
Sasrabau ing Maèspati,
aran Patih Suwônda,
lêlabuhanipun.
Kang ginêlung tri prakara,
guna kaya purun ingkang dèn antêpi,
nuhoni trah utama.

Lire lêlabuhan tri prakawis,


guna bisa saniskarèng karya,
binudi dadya unggule.
Kaya sayêktinipun,
duk bantu prang Manggada nagri,
amboyong putri dhomas,
katur ratunipun.
Purune sampun têtela,
aprang tandhing lan ditya Ngalêngka nagri,
Suwônda mati ngrana.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Baik bagimu, wahai para prajuit,
kalau engkau bisa mengambil teladan,
dari cerita di waktu dahulu.
Andalan Sang Prabu,
Sasrabahu di Maespati,
namanya Patih Suwanda,
atas jasa-jasanya.
Yang disimpulkan dalam tiga perkara,
Guna, kaya, purun, yang dipegang teguh,
mematuhi darah orang utama.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 8

Arti dari jasa-jasa tiga perkara itu,


guna artinya bisa segala bentuk pekerjaan,
dikembangkan menjadi unggul.
Kaya arti sebenarnya,
ketika membantu perang di negara Magada,
kemudian memboyong 800 putri,
dipersembahkan pada rajanya.
Yang disebut purun artinya sudah terbukti,
ketika perang tanding melawan raksasa negeri Alengka,
Suwanda mati di medan perang.

Kajian per kata:


Yogyanira (baik bagimu) kang (wahai) para (para) prajurit (prajurit),
lamun (kalau) bisa (bisa) sira (engkau) atulada (mengambil teladan), duk
(waktu, ketika) ing (di) nguni (dahulu) caritane (ceritanya). Baik bagimu,
wahai para prajuit, kalau engkau bisa mengambil teladan, dari cerita di
waktu dahulu.
Ada dua hal yang perlu dicermati dari gatra ini. Pertama, serat ini diawali
dengan himbauan kepada para prajurit untuk mengambil teladan dari cerita
di masa lalu, dan cerita yang dipilih adalah penggalan dari cerita dalam
dunia pewayangan. Meski disadur dari babon Kakawin Baratayudha karya
Mpu Sedah dan Panuluh, cerita-cerita dalam dunia pewayangan telah
diubah oleh para pujangga sehingga bersetting Jawa. Juga telah
dimasukkan unsur-unsur moral dari ajaran Islam dan disesuaikan dengan
budaya lokal. Oleh karenanya cerita dari pewayangan seringkali dikutip
dalam serat-serat piwulang, seperti pada serat ini.
Yang kedua, cerita dari masa lalu itu diharapkan dapat diambil teladan
untuk dipraktikkan di masa kini. Karena yang dituju serat ini adalah para
prajurit, maka tokoh yang ditunjuk dalam serat ini hendaknya dicontoh
dalam hal watak keperwiraannya saja. Dan, sebaiknya mengabaikan watak
dan perilaku sang tokoh tersebut dalam hal yang lain. Ini penting untuk
ditegaskan agar para prajurit memahami bahwa tidak semua sisi kehidupan
manusia layak untuk ditiru. Kita akan membahas hal ini lebih lanjut sambil
mencermati bait-bait berikutnya nanti.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 9

Andêlira (andalannya) Sang (sang) Prabu (Prabu, raja), Sasrabau


(Sasrabahu) ing (di) Maèspati (Maespati), aran (namanya) Patih (Patih)
Suwônda (Suwanda), lêlabuhanipun (atas jasa-jasanya). Andalan Sang
Prabu Sasrabahu di Maespati, namanya Patih Suwanda, atas jasa-
jasanya.
Tokoh pertama yang diharapkan menjadi teladan adalah Patih Suwanda
dari Maespati. Ada baiknya kita kutip sedikit riwayat Patih Suwanda ini
agar mendapat gambaran yang jelas tentang bagaiman sikap ksatria yang
dia miliki dan kesetiaannya kepada raja.
Patih Suwanda adalah anak dari seorang resi dari pertapaan Ardisekar
bernama Resi Suwandagni, nama kecilnya adalah Bambang Sumantri. Dia
mempunyai saudara kandung yang buruk rupa bernama Sukrasana.
Berbeda dengan Sumantri yang tampan dan tangkas, Sukrasana ini
berwajah buruk mirip raksasa, tapi cebol dan lemah tubuhnya. Namun
seringkali kelemahan dari satu sisi akan mendapat anugrah di sisi yang
lain, demikian juga Sukrasana ini. Meski secara fisik kurang mengesankan,
Sukrasana mempunyai kelebihan yang sukar dicari pada manusia lain,
hatinya sangat tulus dan penuh kasih. Selain itu Sukrasana memiliki
kesaktian yang luar biasa. Kesaktiannya itu konon diperoleh di waktu
kecil. Kalau itu dia dibuang ke hutan akibat buruk rupa. Namun dia tidak
mati di hutan. Malah bersahabat dengan binatang buas dan para jin
penunggu hutan. Salah satu jin itu adalah Canda Birawa, yang masuk ke
dalam tubuh Sukrasana sebagai ajian.
Di padepokan kedua kakak-beradik itu selalu rukun dan ke manapun
tampak selalu berdua. Sukrasana sangat menyayangi sang kakak dan tak
mau ditinggal sekejab pun. Demikian pula Sumantri, penuh kasih kepada
adiknya itu.
Sejak muda Sumantri sudah gandrung akan olah keprajuritan. Cita-citanya
adalah mengabdi kepada raja sebagai prajurit. Berbekal arahan dari
ayahnya, Sumantri berkembang menjadi ksatria yang hebat. Maka setelah
cukup umur dia berniat untuk mendaftar sebagai prajurit di negara
Maespati. Ayahnya berpesan agar dia berangkat sendiri tanpa memberitahu
sang adik, karena adiknya akan ikut serta jika diberitahu. Maka ketika
adiknya sedang tidur, Sumantri berangkat seorang diri.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 10

Di negara Maespati Sumantri menghadap Prabu Harjuna Sasrabahu,


seorang raja yang sakti mandraguna. Pada waktu itu Prabu Harjuna
Sasrabahu hendak melamar putri Prabu Citragada dari negara Magada
untuk diperistri sebagai permaisuri. Karena terkenal akan kecantikannya,
banyak raja-raja lain yang juga melamar. Salah seorang raja itu, Prabu
Darmawisesa dari negeri Widarba, mengepung kerajaan Magada dan
memaksa raja menyerahkan putrinya tersebut.
Prabu Harjuna Sasrabahu kemudian mengetes kemampuan Sumantri. Dia
menyuruh Sumantri untuk mewakilinya melamar putri raja Magada dan
mengalahkan si raja yang mengepung istana tadi. Lamaran Prabu Harjuna
Sasrabahu diterima Dewi Citrawati dengan dua syarat, pertama Sumantri
harus bisa mengalahkan Prabu Darwawisesa yang sedang mengepung
Magada. Kedua, dia mau diperistri Prabu Harjuna Sasrabahu asal dia
dimadu dengan putri dhomas, yakni putri yang jumlahnya 800 orang.
Sumantri menyanggupi syarat itu. Dia kemudian bertempur dengan para
raja yang sedang antri melamar. Mereka semua kalah dan mau
menyerahkan putri dari masing-masing kerajaan, maka dapatlah Sumantri
mengumpulkan 800 putri. Kemudian dia juga berhasil mengalahkah Prabu
Darmawisesa, sehingga kedua syarat berhasil dipenuhinya. Sumantri
pulang menghadap Prabu Harjuna Sasrabahu dengan kemenangan yang
gemilang.
Namun di tengah jalan timbul pamrih Sumantri untuk memiliki Dewi
Citrawati dan putri Dhomas itu. Buat apa aku menyerahkan 801 putri ini
kepada Prabu Harjuna Sasrabahu kalau beliau tidak pantas untuk
memilikinya. Dia harus mengalahkanku dahulu sebelum berhak atas
kemenanganku ini. Begitulah pikiran sesat menghantui Sumantri, dan dia
betul-betul melaksanakan niatnya itu dengan menantang perang tanding
kepada Harjuna Sasrabahu.
Prabu Harjuna Sasrabahu menanggapi tantangan itu dengan senang hati.
Dia tanggap apa yang bergejolak di hati Sumantri. Dia tahu Sumantri
hanya ingin bukti bahwa dia pantas menjadi rajanya, menjadi tempat
Sumantri mengabdi, begitu pikir sang Prabu. Maka terjadilah perang
tanding yang dahsyat antara keduanya, sampai-sampai gegerlah seluruh
dunia. Namun Sumantri bukan tandingan Prabu Harjuna Sasrabahu yang
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 11

memang teramat sakti. Sumantri kalah dan tunduk, dengan ketundukan


yang sungguh-sungguh.
Prabu Harjuna Sasrabahu berkenan memaafkan kelancangan Sumantri dan
menerimanya mengabdi di Maespati. Namun sebagai hukuman atas
sikapnya itu Sumantri harus mampu memindahkan taman Sriwedari yang
elok di gunung Untara ke taman di negeri Maespati. Dengan terpaksa
Sumantri menyanggupi, walau dirinya sungguh tak mengerti dengan cara
apa taman itu akan dipindahkan. Lha wong dimana letak taman itu saja
dirinya tak tahu. Dengan lunglai Sumantri keluar dari istana Maespati,
pergi tanpa arah dan tujuan.
Alkisah di pertapaan Ardisekar, Sukrasana yang kehilangan kakak
menangis tak karuan. Setiap orang yang ditanya kemana Sumantri pergi,
menjawab tidak tahu. Dia mengamuk dan hendak mengobrak-abrik
pertapaan bila tak menemukan Sumantri. Sang ayah, Resi Suwandagni
terpaksa mengatakan ke mana Sumantri pergi. Seketika Sukrasana melesat
ke angkasa, terbang mencari Sumantri ke Maespati.
Bukan hal yang sulit menemukan Sumantri bagi Sukrasana yang
kesaktiannya luar biasa. Dalam sekejap Sukrasana telah menemukan
Sumantri yang berjalan lunglai tak tahu arah. Dia segera turun untuk
menyapa Sumantri, bertanya gerangan apakah yang membuatnya tertunduk
lesu. Sumantri mengatakan bahwa dia mendapat tugas yang berat dari
Prabu Harjuna Sasrabahu, yakni memindahkan taman Sriwedari ke negeri
Maespati, sedangkan letak taman itu pun dia tak tahu.
Sukrasana menanggapi dengan tertawa, “Ah itu mudah!” katanya. Namun
dia punya satu permintaan, kalau dia berhasil membantu Sumantri
memindahkan taman itu, dia boleh ikut Sumantri kemanapun Sumantri
pergi. Karena Sumantri sudah tidak bisa mengelak, dia pun menyanggupi.
Dalam sekejap Sukrasana dengan kesaktian yang dimilikinya berhasil
memindahkan taman itu. Sumantri melapor kepada sang Raja yang
menerimanya dengan sukacita. Sumantri kemudian diterima sebagai
prajurit dan diberi pangkat patih dengan nama Patih Suwanda. Adapun
Sukrasana oleh Sumantri diperkenankan ikut namun jangan sampai
ketahuan oleh siapapun.
Tampaknya suasana akan serba menyenangkan bagi siapapun, terlebih bagi
Sumantri. Dia kini punya jabatan patih, orang nomor dua di kerajaan. Sang
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 12

Raja dan permaisuri pun bergembira, bercengkerama di taman Sriwedari


yang elok tiada tara. Namun datangnya bencana tak dapat diketahui oleh
siapapun, apalagi oleh orang-orang yang mengira bahwa bencana jauh
darinya.
Suatu sore permaisuri Dewi Citrawati dan para madu sedang menikmati
suasana matahari terbenam di taman Sriwedari. Tamannya sendiri sudah
elok, ditambah suasana sunset jelas makin menambah syahdu. Namun
belum lagi suasana elok itu dinikmati, Dewi Citrawati menjerit oleh
datangnya sosok buruk rupa yang tiba-tiba muncul dari balik pepohonan,
Sukrasana. Jeritannya membuat seisi istana geger, mereka berdatangan ke
arah taman Sriwedari dan mendapati raksasa cebol buruk rupa yang
menakutkan. Setelah ditelisik ternyata raksasa itu adalah adik sang Patih
Suwanda sendiri.
Patih Suwanda sangat malu atas kejadian itu. Dia berjanji akan menyuruh
adiknya pulang agar tidak menimbulkan kehebohan. Namun Sukrasana
kukuh tidak mau pergi dari istana. Bukankah Sumantri sudah berjanji akan
mengajaknya ke manapun dia pergi? Sumantri hilang kesabaran dan mulai
memakai kekerasan. Dia mengambil anak panah untuk menakuti
Sukrasana. Dengan menarik gandewa lengkap dengan anak panahnya
Sumantri berharap Sukrasana takut dan pergi. Namun Sukrasana
bergeming! “Engkau sudah berjanji, kakak!”, katanya.
Malang tak dapat dihindari, tanpa sengaja anak panah Sumantri lepas dari
gandewanya, meluncurlah menembus tubuh Sukrasana. Seketika
Sukrasana menemui ajal. Sebelum maut menjemput Sukrasana sempat
berujar bahwa dia akan datang kelak untuk menjemput Sumantri pada
saatnya nanti.
Kita tinggalkan sejenak Sumantri yang sedang dirundung duka. Biarkan
dia move on! Berganti pokok cerita, di sebuah negeri di tengah lautan,
yang dikelilingi samudra raya. Sang raja adalah seorang raksasa anak
seorang resi sakti bernama Wisrawa, beribu seorang putri cantik dewi
Sukesi. Meski kedua orang tuanya bukan raksasa namun anak-anaknya
lahir sebagai raksasa. Dari empat saudara sang raja hanya si bungsu yang
lahir sebagai manusia biasa. Raja itu adalah Raja Dasamuka dari kerajaan
Alengka Diraja.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 13

Sudah lama sang Raja mendamba putri titisan bidadari Widowati. Setiap
mendengar titisan sang dewi lahir ke dunia sang raja selalu setia menanti
hingga dewasa untuk dipersunting. Namun yang terjadi selalu kegagalan
yang ditemui. Sungguhpun demikian rentetan kegagalan itu tak
menyurutkan semangatnya. Dan kali ini dia kembali mendengar sang dewi
telah lahir ke dunia dan menjadi istri dari seorang raja sakti dari Maespati,
Dewi Citrawati. Hasratnya yang telah lama terpendam kembali bangkit.
Raja Alengka Dasamuka bersiap merebut sang dewi dengan perang.
Patih Alengka, Prahasta, mengingatkan sang raja bahwa Prabu Harjuna
Sasrabahu adalah raja sakti yang tiada tanding. Sedangkan menghadapi
Patih Suwanda saja belum tentu Dasamuka mampu. Keinginannya untuk
merebut Citrawati lebih baik diurungkan saja daripada menanggung malu.
Pasti sudah akan kalah perang, kalaupun tak terbunuh sudah pasti kerugian
besar yang akan ditemui. Kasihanilah para balatentara yang akan menjadi
korban.
Namun apa sih yang mampu meredakan nafsu asmara? Beratus nasihat
takkan mempan, beribu petuah takkan pasah. Apalagi hanya nasihat
seorang patih tua yang tuna cinta. Haduh man! Jangan banyak omong
kalau tak tahu gejolak hati anak muda. Sebagai punggawa seharusnya ikut
apa kata raja dan mendukung, bukan mengendorkan semangat!
Patih Prahasta mengelus dada melihat kelakuan kemenakannya itu. Dia
mengasuh anak kakaknya itu sejak kecil dan hapal wataknya. Kalau sudah
begitu jangankan harta benda, nyawa pun dipertaruhkan. Eh, tapi tunggu
dulu! Soal nyawa bukan soal besar baginya. Dia punya Aji Pancasona
pemberian Resi Subali yang akan membuatnya tetap hidup kembali walau
mati berkali-kali. Mungkin itu pula yang membuatnya nekad. Prajurit telah
disiapkan, angkatan perang Alengka telah bergerak menuju Maespati yang
penduduknya tengah bersukacita tenggelam dalam kemasyhuran nama
besar raja mereka.
Berganti yang diceritakan, di istana Maespati raja Prabu Harjuna
Sasrabahu sedang bersuka-suka dengan istri tercinta Dewi Citrawati dan
800 madunya. Entahlah bagaimana menyenangkan hati istri sebanyak itu.
Janganlah dibayangkan bagaimana caranya, dan sesungguhnya kita tidak
tahu karena sang Prabu tak pernah mengupload video saat sedang berkasih
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 14

mesra dengan 801 istrinya itu. Yah, untung beliau tak melakukan itu.
Kalau iya pasti sampeyan semua pada ngiler sampai ngences sebaskom.
Sang Prabu sedang mendengar permintaan istri cantiknya Dewi Citrawati
yang disampaikan dengan manja. Sambil memeluk pinggang dan
menyandarkan kepala di pundak, sang Dewi berbisik lirih,
“Kakanda, hamba dan para selir 800 ini ingin sekali mandi sepuasnya di
telaga yang bening dan airnya mengalir!”
Sang Prabu terkejut dan bertanya, “Duhai Dindaku, di negeri kita tidak ada
telaga dengan air mengalir yang mampu menampung 801 bidadari. Di
manakah Dinda akan berenang?”
“Tidak tahulah Kakanda, pastilah Kakanda sanggup menyediakan
untukku!” rengut sang Dewi merajuk. Prabu Harjuna Sasrabahu
memandang wajah istrinya yang merengut, tampak olehnya kecantikannya
berlipat ganda. Jangankan sedang merengut, orang cantik itu sedang ngiler
pun cantik. Hemm, tangan kiri sang Prabu menggamit pundak sang istri,
tangan kanannya mengelus wajah istrinya yang dibasahi keringat. Satu
tetes keringatnya diusap delapan belas kali. Dan,.....sensor, sensor, tak
sanggup aku menuliskannya. Wis cukup lah!
Singkat cerita, permintaan sang Dewi disanggupi oleh Sang Prabu Harjuna
Sasrabahu. Orang cantik itu boleh minta apa saja. Lagipula apa sih yang
tidak bisa dikerjakan untuk si cantik, 801 lagi. Tidak rugi sang Prabu
menjadi orang sakti. Dengan mengerahkan segenap tandu dan pengiring
rombongan, Sang Prabu dan 801 istrinya berangkat menuju sungai
Gangga. Sang Prabu segera bertiwikrama menjadi sebesar gunung,
kemudian tidur melintang membendung sungai. Jadilah sungai besar itu
menjadi telaga yang mengalirkan air bening, tepat seperti permintaan si
cantik Citrawati. Permaisuri Citrawati dan 800 madunya segera mandi
dengan sepuasnya. Sementara Patih Suwanda menjaga tempat itu bersama
segenap prajurit.
Kita lihat gerakan pasukan Prabu Dasamuka yang memasuki Maespati.
Dari kejauhan kedatangan pasukan itu terlihat oleh Patih Suwanda. Dia
khawatir jika pasukan itu mendekat ke tempat mandi para istri raja, akan
menghancurkan suasana nantinya. Maka Patih Suwanda berniat mencegat
pasukan itu jauh dari tempat mandi sang raja beserta istrinya.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 15

Pertempuran dahsyat akhirnya pecah. Pasukan Alengka yang berisi para


raksasa memporak porandakan negeri Maespati. Apalagi mereka dipimpin
Prabu Dasamuka yang tak bisa mati. Rasa ngeri membayangi pasukan
Maespati beserta para raja taklukan yang hadir, serentak mereka mundur.
Patih Suwanda yang melihat kejadian itu sangat marah. Dia mengirim
panah dengan diselipkan surat kepada para panglima pasukan yang ngacir,
menyuruh mereka agar kembali. Bagi seorang prajurit mati di medan
perang lebih mulia daripada selamat karena takut. Dan Patih Suwanda
memberi contoh dengan menyongsong Prabu Dasamuka. Keduanya telibat
perang tanding yang seru. Apalagi keduanya sama-sama sakti. Setelah
beradu kesaktian beberapa saat, Patih Suwanda berhasil melepaskan
senjatanya tepat mengenai tubuh tambun Prabu Dasamuka, seketika tewas
mendekap tanah. Patih Suwanda berdiri gagah, turun dari kereta untuk
memenggal kepala Dasamuka. Karena sudah merasa menang Patih
Suwanda lengah, lupa kalau Dasamuka tak bisa mati. Ketika hendak
mengayunkan pedang, Dasamuka hidup lagi dan mendahului menggigit
leher Suwanda dengan taringya. Seketika Patih Suwanda tewas di medan
laga. Konon dalam taring yang dipakai untuk menggigit Sumantri itu
bersemayam roh Sukrasana sehingga ketajamannya berlipat-lipat. Itu pula
yang membuat Sumantri tak dapat dihidupkan lagi.
Cerita masih akan panjang. Namun kita harus berhenti di sini karena cerita
selanjutnya tidak relevan dengan kajian kita.
Kang (yang) ginêlung (dirangkai, disimpulkan) tri (tiga) prakara
(perkara), guna (guna) kaya (kaya) purun (purun) ingkang (yang) dèn (di)
antêpi (pegang teguh), nuhoni (mematuhi) trah (darah) utama (utama).
Yang disimpulkan dalam tiga perkara, guna kaya purun yang dipegang
teguh, mematuhi darah orang utama.
Apa yang dilakukan Patih Suwanda tersebut di atas dapat disimpulkan
menjadi tiga perkara, yakni: guna, kaya dan purun. Tiga perkara itulah
yang dipegang teguh oleh Patih Suwanda dalam menjalankan tugas sebagai
prajurit. Dia melakukan itu sebagai panggilan darma bagi orang yang
berdarah utama. Keutamaan selalu mengalir dalam dirinya sehingga setiap
tindakannya selalu terpuji. Apakah arti dari tiga perkara itu?
Lire (arti) lêlabuhan (dari jasa-jasa) tri (tiga) prakawis (perkara itu), guna
(guna) bisa (bisa) saniskarèng (segala bentuk) karya (pekerjaan), binudi
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 16

(dikembangkan) dadya (menjadi) unggule (unggul). Arti dari jasa-jasa


tiga perkara itu, guna artinya bisa segala bentuk pekerjaan, dikembangkan
menjadi unggul.
Arti dari jasa-jasa yang tiga perkara tersebut adalah, yang pertama guna.
Arti dari guna adalah kepandaian. Patih Suwanda adalah prajurit yang
pandai dan dapat melakukan segala pekerjaan. Dia senantiasa menemukan
solusi dari setiap masalah. Ketika dia diperintah menyerang Prabu
Darmawisesa dia berhasil melaksanakan tugas dengan gemilang. Ketika
melamar Dewi Citrawati dia berhasil, malah ditambah bonus 800 putri
dhomas. Dia adalah ahli strategi yang mumpuni. Inilah makna dari guna,
sanggup berpikir untuk menentukan langkah strategis. Sumantri adalah
orang yang bisa mrantasi gawe, sanggup mencari solusi secara mandiri.
Tidak sedikit-sedikit minta petunjuk. Dia sanggup mencari terobosan dan
menentukan langkah yang tepat dari setiap persoalan yang ada. Misalnya
ketika dia mencari 800 orang selir sebagai pandamping Dewi Citrawati.
Dengan lihai dia menaklukkan para raja yang sedang melamar dengan
menyuruh mereka menyerahkan putri-putri mereka. Kemampuan
memecahkan masalah seperti ini takkan dipunyai tanpa seseorang
mempunyai kepandaian atau guna.
Kaya (kaya) sayêktinipun (sebenarnya), duk (ketika) bantu (membantu)
prang (perang) Manggada (di Magada) nagri (negara), amboyong
(memboyong) putri (putri) dhomas (800 orang), katur (dipersembahkan)
ratunipun (pada rajanya). Kaya arti sebenarnya, ketika membantu perang
di negara Magada, kemduian memboyong 800 putri, dipersembahkan
pada rajanya.
Yang kedua adalah kaya. Arti kaya adalah kekayaan. Maksudnya Patih
Suwanda ini berhasil menambah kemasyhuran dan kekayaan kerajaan
Maespati. Dengan keberhasilannya memboyong putri dhomas dari kerajaan
taklukan maka semakin bertambahlah kejayaan Maespati. Sungguh
beruntung sang raja Harjuna Sasrabahu mempunyai Patih sekelas Patih
Suwanda ini.
Purune (yang disebut purun) sampun (sudah) têtela (terbukti), aprang
(ketika perang) tandhing (tanding) lan (melawan) ditya (raksasa)
Ngalêngka (Alengka) nagri (negara), Suwônda (suwanda) mati (mati)
ngrana (di medan perang). Yang disebut purun artinya sudah terbukti,
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 17

ketika perang tanding melawan raksasa negeri Alengka, Suwanda mati di


medan perang.
Yang ketiga adalah purun. Arti purun menurut bahasa adalah bersedia
atau sanggup. Dalam kisah ini nilai-nilai purun dijalani oleh Patih
Suwanda dalam beberapa kasus. Pertama ketika ditugaskan melamar Dewi
Citrawati. Walau sebagai seorang calon prajurit Suwanda harus melawan
para raja dari banyak negara dan mengemban tugas besar. Namun dia tidak
gentar meski dia sendiri belum yakin kalau mampu. Tekadnya yang kuat
adalah perwujudan nilai purun tadi. Yang kedua, kesediaannya untuk
melindungi kerajaan dan raja sebagai tempat mengabdi. Dengan maju
sebagai tameng sang raja ketika Prabu Dasamuka menyerang Maespati,
Patih Suwanda telah melakukan tindakan utama sebagai prajurit. Meski
musuh yang dihadapi terkenal sakti, Patih Suwanda tidak gentar dan tetap
melawan dengan gigih. Baginya lebih baik mati daripada lari ketakutan.
Walau demikian sebagai pribadi besar, Patih Suwanda mempunyai
beberapa sikap kurang baik yang tak layak ditiru. Pertama, adanya
keinginan untuk menguasai Dewi Citrawati dan menantang Prabu Harjuna
Sasrabahu. Sebagai utusan sikap ini tidak elok. Walau sebagian orang
menafsirkan jika sikap ini dilandasi keinginan Sumantri untuk meyakinkan
diri bahwa raja yang dia patuhi adalah raja besar yang pantas baginya
untuk mengabdi, sikapnya tesebut tetap kurang pantas.
Kedua, sikap terhadap adiknya Sukrasana. Ketika sudah membantunya
keluar dari kesulitan Sumantri tetap tak menginjinkan adiknya ikut serta
dengannya. Dia bahkan malu mempunyai adik yang buruk rupa, sampai
tega menakuti dengan anak panah. Sikap yang terakhir ini sangat tidak
pantas.
Demikianlah kajian kita terhadap keteladanan Patih Suwanda. Kajian
tematik ini masih akan berlanjut pada tokoh yang lain, nantikan kajian
pada seri berikutnya.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 18

Kajian Serat Tripama (3-4): Raksasa Berhati Ksatria


Pupuh 1, bait 3-4, Dhandhang Gula (10i,10a,8e,7u,9i,7a,6u,8a,12i,7a),
Serat Tripama, karya Sri Mangkunegara IV

Wontên malih tuladhan prayogi,


satriya gung nagri ing Ngalêngka,
Sang Kumbakarna arane.
Tur iku warna diyu,
suprandene gayuh utami.
Duk wiwit prang Ngalêngka,
dènnya darbe atur,
mring raka,
amrih raharja.
Dasamuka tan keguh ing atur yêkti,
dene mungsuh wanara.

Kumbakarna kinon mangsah jurit,


mring kang raka sira tan lênggana,
nglungguhi kasatriyane.
Ing tekad tan asurud,
amung cipta labuh nagari,
lan nolih yayah rena,
myang lêluhuripun.
Wus mukti anèng Ngalêngka,
mangke arsa rinusak ing bala kapi,
punagi mati ngrana.

Terjemahan dalam bahasa Insonesia


Ada lagi teladan yang baik,
ksatria besar dari negeri Alengka,
Sang Kumbakarna namanya.
Dan lagi dia seorang berwujud raksasa,
walau demikian mengejar keutamaan.
Ketika perang di Alengka dimulai,
dia mempunyai saran,
kepada sang kakak,
agar selamat.
Dasamuka bergeming oleh saran yang benar,
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 19

karena hanya melawan kera.

Kumbakarna diperintah maju perang,


kepada sang kakak dia tak membantah,
menepati kedudukan ksatrianya.
Dalam tekad tak surut,
hanya berniat membela negara,
dan mengingat ayah ibu,
dan para leluhurnya.
Sudah hidup berkecukupan di negeri Alengka,
sekarang hendak dirusak oleh tentara kera,
dia bertekad memilih mati di medan perang.

Kajian per kata


Wontên (ada) malih (lagi) tuladan (teladan) prayogi (yang baik), satriya
(ksatria) gung (besar) nagri (negri) ing (di) Ngalêngka (Alengka), Sang
(sang) Kumbakarna (Kumbakarna) arane (namanya). Ada lagi teladan
yang baik, ksatria besar dari negeri Alengka, Sang Kumbakarna namanya.
Seperti yang telah kami katakan dalam kajian seri yang lalu, pada setiap
manusia dapat kita temukan teladan baik yang patut dicontoh sekaligus
berbagai kelemahan yang selayaknya tidak kita tiru. Kali ini kita akan
mengambil teladan dari hidup seorang yang selama hidupnya berada di
pihak yang salah. Dia adalah Kumbakarna, salah seorang adik dari tokoh
antagonis kita pada kajian yang lalu, Prabu Dasamuka dari negeri Alengka
Diraja.
Prabu Dasamuka atau juga disebut Prabu Rahwana adalah sulung dari
empat bersaudara. Dari empat orang itu hanya satu orang berujud manusia,
sedangkan 3 lainnya lahir sebagai raksasa. Padahal ayah dan ibu mereka.
Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi, adalah manusia biasa. Hal aneh ini terjadi
karena ayah mereka bermain-main dengan serat Sastrajendra Hayuningrat.
Ajaran luhur tingkat paripurna itu telah dicampuri oleh hawa nafsu Resi
Wisrawa ketika menikahi Dewi Sukesi. Resi Wisrawa sejatinya melamar
Dewi Sukesi untuk anaknya, Prabu Danaraja, tetapi yang terjadi malah
Dewi Sukesi diembat sendiri. Polah Resi Wisrawa ini layaknya tingkah
seorang raksasa saja. Maka dia kuwalat dan menurunkan anak-anak
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 20

berwujud raksasa. Baru setelah bertobat dengan taubatan nashuha, anak


keempatnya lahir berupa manusia. Kisah tentang ini akan panjang oleh
karena akan kita kaji dalam kajian tematik berikutnya dalam kajian serat
Sastrajendra Hayuningrat, kelak jika ada waktu.
Tur (dan lagi) iku (dia) warna (berwujud) diyu (raksasa), suprandene
(walau demikian) gayuh (mengejar) utami (keutamaan). Dan lagi dia
seorang berwujud raksasa, walau demikian mengejar keutamaan.
Walau terlahir sebagai Raksasa tidak semua anak Resi Wisrawa
berperilaku buruk. Kumbakarna inilah sosoknya, yang akan kita teladani
sifat keperwiraannya dalam membela negara. Perilaku Kumbakarna
tidaklah buas dan curang, serta suka melanggar aturan. Kumbakarna adalah
ksatria besar yang menetapi darma seorang prajurit.
Duk (ketika) wiwit (mulai) prang (perang) Ngalêngka (alengka), dènnya
(dia) darbe (mempunyai) atur (saran), mring (kepada) raka (sang kakak),
amrih (agar) raharja (selamat). Ketika perang di Alengka dimulai, dia
mempunyai saran, kepada sang kakak, agar selamat.
Ketika terjadi perang besar di Alengka, melawan ksatria Ramawijaya,
Kumbakarna mempunyai saran kepada kakaknya agar semua selamat, sang
kakak tetap berwibawa dan negara tidak porak poranda. Perang apakah
yang terjadi di Alengka dan mengapa terjadi. Kita kutipkan sedikit kisah
ini agar kita mengerti duduk permasalahannya.
Dalam kajian yang telah lalu kita mengenal Dasamuka sebagai raja perusak
yang mempunyai watak sangat buruk, yakni suka merebut bini orang. Jadi
Dasamuka ini adalah pebinor kelas kakap. Track record Dasamuka sebagai
pebinor tidak terjadi di negeri Maespati saja, ketika hendak merebut Dewi
Citrawati. Sebelum kejadian itu dia telah melakukannya pada Dewi Ragu,
putri dari Prabu Banaputra, raja negeri Ayodya. Dewi Ragu telah bersuami
Begawan Rawatmeja, tetapi Dasamuka tetap menginginkan Dewi Ragu
untuk diperistri. Akhirnya Dasamuka membunuh Prabu Banaputra dan
Begawan Rawatmeja. Dewi Ragu berhasil lari dari istana dan berlindung
pada Begawan Dasarata di padepokan Gresina. Dasamuka mengejar dan
meminta Dewi Ragu kepada Begawan Dasarata. Oleh Dasarata Dasamuka
ditipu dengan menyerahkan Dewi Ragu palsu yang berasal dari kembang
di sanggul Dewi Ragu yang dicipta menyerupai Dewi Ragu. Dasamuka
amatlah senang hatinya sehingga menyerahkan Ayodya kepada Dasarata.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 21

Dasarata kemudian menjadi raja di Ayodya sekaligus memperistri Dewi


Ragu yang asli.
Sesampai di Alengka, Dewi Ragu palsu yang berasal dari pujan kembang
tersebut segera mati. Dasamuka amatlah sedih sehingga menyalahkan para
dewa. Dia marah dan kemudian menyerang Suralaya, istana para dewa.
Karena Dasamuka amatlah sakti, Suralaya kocar-kacir. Batara Narada
meredakan amarah Dasamuka dan sebagai penghibur hatinya yang kesal
Dasamuka diberi hadiah seorang bidadari sebagai istri, bernama Dewi Tari.
Dasamuka kembali ke Alengka bersama istrinya. Untuk sementara dia puas
berbini bidadari, walau bukan itu yang dia kehendaki.
Lama berselang penyakit Dasamuka kambuh lagi, kali ini pebinor papan
atas itu hendak menganggu Dewi Citrawati, istri Prabu Harjuna Sasrabahu.
Ceritanya sudah kita kutip dalam kajian Tripama bagian pertama. Namun
itu bukan yang terakhir. Setelah gagal dengan Dewi Citrawati Dasamuka
masih mengganggu istri Ramawijaya, Dewi Sinta. Dan inilah asal muasal
perang Alengka Diraja melawan balatentara kera dibawah komando Prabu
Sugriwa dan ksatria Ramawijaya. Inilah kisah selengkapnya.
Prabu Dasarata dari Ayodya mempunyai empat orang putra lelaki yang
tampan. Salah satu peremaisuri Prabu Dasarata ingin agar anaknya yang
bernama Barata menjadi raja Ayodya. Namun karena Barata bukan anak
sulung keinginan tersebut mustahil tercapai. Oleh karena itu dia kemudian
membuat tipudaya dengan mengasingkan Rama Wijaya, anak tertua yang
sebenarnya berhak atas tahta. Dengan diringi istrinya, Sinta, dan salah satu
adiknya, Laksmana, Rama Wijaya mengasingkan diri di hutan Dandaka.
Di hutan itu mereka bertiga hidup layaknya pertapa. Pada suatu hari
Dasamuka yang telah mendengar kabar bahwa Sinta adalah titisan Dewi
Widowati, wanita pujaannya yang juga gagal diperistri, bermaksud
merebut Sinta dari tangan Rama. Dasamuka terlebih dulu mengirim Kala
Marica dengan menyamar sebagai kijang emas. Si kijang ini berkeliaraan
menggoda Sinta dengan bulu emasnya yang indah. Sinta terpesona dan
meminta Ramawijaya untuk menangkap kijang tersebut. Si kijang lari
masuk jauh ke dalam hutan. Dan Rama mengejar.
Rupanya Kala Marica yang memerankan diri sebagai kijang amatlah gesit
sehingga sukar ditangkap. Merasa dikerjai si kijang, Rama kemudian
mengambil busur dan memanah kijang itu. Kijang emas terkena anak
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 22

panah dan lenyap, berupah menjadi Kala Marica yang kemudian lari
sambil mengaduh kesakitan. Teriakannya didengar sampai di perkemahan
Sinta, yang dijaga oleh Laksamana. Demi mendengar teriakan itu, Sinta
mengira bahwa Ramalah yang mengaduh kesakitan tersebut. Dia
menyuruh Laksamana memberi pertolongan. Semula Laksmana menolak
karena yakin teriakan itu bukan berasal dari kakaknya. Namun Sitna justru
menuduh Laksamana sengaja membiarkan Rama celaka, agar dapat
memperistri dirinya kalau Rama betul-betul tewas. Seketika Laksaman
merasa tersinggung dan mengucapkan sumpah wadat, tidak akan
mempunyai istri sepanjang hidupnya. Dia kemudian pergi dengan hati
masygul untuk mencari Rama. Sebelum pergi dia berpesan agar Sinta tidak
melewati garis melingkar yang dibuatnya di sekeliling kemah. Garis itu
telah diberi rajah sehingga orang jahat takkan bisa masuk ke kemah.
Sepeninggal Laksmana, Sinta sendirian di dalam kemah. Datanglah
seorang pertapa yang kehausan meminta minum. Karena Sinta sudah
dipesan untuk tidak keluar garis, semula dia enggan untuk memberi
minum. Namun pertapa itu menghiba-hiba dengan penuh harap, meminta
ketulusan hati sang putri jelita. Hati Sinta luluh dan mengulurkan tangan
keluar dari garis rajah. Tangan itu disambut dengan cengkeraman si
pertapa yang seketika berubah menjadi Prabu Dasamuka. Sinta ditarik
keluar garis dan dibawa terbang ke Alengka.
Sinta menjerit-njerit memanggil suaminya. Seekor burung raksasa Jatayu
mendengar jeritan itu dan mengejar. Namun Jatayu berhasil dikalahkan
Dasamuka dengan dipatahkan sayapnya sehingga tak bisa terbang.
Beruntung Jatayu sempat meraih cincin Sinta sebagai tanda bukti, serta
sempat mengetahui jatidiri sang penculik.
Amatlah sedih hati Rama ketika mengetahui istrinya telah lenyap dari
kemah. Nasi sudah menjadi bubur, dia sadar sedang diperdaya lawan.
Mulai dari kijang emas, teriakan Kala Marica dan pertapa tua yang
menyamar, adalah tipudaya lawan yang hendak menculik istrinya itu.
Setelah sadar Rama mengajak Laksamana untuk mencari kemanapun Sinta
pergi, tak peduli siang malam, tak tahu arahnya, mereka berdua berusaha
menemukan Sinta kembali.
Pencarian mereka menemukan titik terang ketika mereka bertemu dengan
Jatayu yang sekarat. Burung itu berbulan-bulan menunggu Rama lewat
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 23

untuk mengabarkan berita tentang istrinya. Sebentuk cincin milik Sinta


yang berhasil direbut menjadi bukti bahwa kesaksiannya benar. Jatayu
kemudian menyarankan agar Rama menemui Prabu Sugriwa, raja kera
yang akan memuluskan upayanya menemukan kembali sang istri.
Saat itu Prabu Sugriwa sedang berselisih dengan kakaknya, Prabu Subali
yang sakti. Sugriwa kalah dan tersisih. Rama membantu mengalahkan
Subali dengan senjata panah Guwawijaya yang dia miliki. Pertolongan ini
membuat Sugriwa tunduk dan patuh kepada Rama. Dia bersedia untuk
membantu Rama mencari Sinta. Sugriwa kemudian mengutus
keponakannya yang sakti, Anoman untuk terbang ke Alengka. Di sana
Anoman melihat Sinta di taman Argasoka, duduk dibawah pohon karena
tak mau masuk istana. Dasamuka walau seorang raja angkara ternyata
mempunyai kebaikan dalam hatinya. Dia menunggu Sinta luluh hatinya
untuk diperistri. Dia tidak mau memaksakan kehendak. Yang diinginkan
bukan Sinta sebagai tubuh yang dingin tanpa rasa, melainkan hati Sinta
yang pasrah dalam kehangatan cinta. Cie..romatis juga nih ye, si Dasamuka
ini!
Setelah memastikan Sinta selamat tak kurang suatu apa, dan masih
menyimpan kesetiaan untuk Rama, Anoman kembali. Namun dia terlebih
dahulu membakar kota Alengka sehingga luluh lantak. Kalau saja Rama
menghendaki bisa saja Anoman membawa Sinta terbang dari Alengka.
Namun Rama ingin merebut kembali Sinta dengan tangannya sendiri,
sekaligus membuktikan cintanya kepada sang istri. Dia mampu melakukan
itu dan tidak takut melawan Dasamuka yang kebal dan tidak bisa mati.
Persiapan perang kemudian dilakukan untuk menyerang Alengka. Prabu
Sugriwa menyatakan kesanggupannya untuk mengerahkan seluruh
kekuatan bala kera. Karena Alengka terletak di tengah lautan mereka
kemudian membuat jalan dengan cara mereklamasi laut. Langkah ini
menimbulkan kehebohan karena dianggap mustahil, namun dengan tekad
kuat akhirnya jalan reklamasi itu terwujud. Balatentara kera akhirnya dapat
mendekati kota raja Alengka dan menyerang dengan gigih. Alengka
terdesak dan satu persatu panglima perangnya tewas. Kini tinggal
menyisakan satu orang panglima yang gagah, Kumbakarna. Senapati
Kumbakarna ini sejatinya tidak setuju dengan langkah Dasamuka
mengukuhi Sinta. Sejak awal perang dia menyingkir dan memilih tidur.
Sekarang dia dibangunkan dan melihat Alengka telah porak poranda.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 24

Hatinya teriris, maka dia menyarankan agar Dasamuka mengakhiri perang


ini dengan menyerahkan Sinta kepada Rama. Sebelum semuanya berakhir
tanpa sisa.
Dasamuka (Dasamuka) tan keguh (bergeming) ing (oleh) atur (saran)
yêkti (yang benar), dene (hanya) mungsuh (melawan) wanara (kera).
Dasamuka bergeming oleh saran yang benar, karena hanya melawan kera.
Dasamuka tetap bergeming oleh nasihat adiknya itu. Sarannya tak didengar
sama sekali. Baginya sungguh memalukan harus menyerahkan Sinta hanya
karena tekanan tentara kera. Dia adalah raja besar, sementara Ramawijaya
hanyalah pertapa sebatang kara. Dan pasukannya juga hanya sebangsa kera
yang tingal di hutan, makhluk tak beradab yang juga bukan manusia. Masa
dia harus menyerah! Tidak! Tidak! Tidak!
Kumbakarna (Kumbakarna) kinon (diperintah) mangsah (maju) jurit
(perang), mring (kepada) kang (sang) raka (kakak) sira (engkau, dia) tan
(tak) lênggana (membantah), nglungguhi (menepati) kasatriyane
(kedudukan ksatrianya). Kembakarna diperintah maju perang, kepada
sang kakak dia tak membantah, menepati kedudukan ksatrianya.
Dasamuka kemudian menyuruh Kumbakarna maju perang. Meski dengan
berat hati dia akhirnya maju setelah melihat Alengka porak poranda.
Sebagai prajurit dia harus tunduk perintah atasan, itulah sikap yang utama
bagi seorang prajurit. Seorang ksatria negeri tak boleh lari dari tanggung
jawab dan malah lari mengamankan diri.
Ing (dalam) tekad (tekad) tan (tak) asurud (surut), amung (hanya) cipta
(berniat) labuh (bela) nagari (negara), lan (dan) nolih (mengingat) yayah
(ayah) rena (ibu), myang (dan) lêluhuripun (leluhurnya). Dalam tekad tak
surut, hanya berbiat membela negara, dan mengingat ayah ibu, dan para
leluhurnya.
Kumbakarna sadar tidak ada pilihan moral yang lain selain membela
negara. Dia sama sekali tidak membela sang kakak yang adiguna, namun
tekadnya hanyalah membela negerinya. Dia sudah yakin Alengka akan
jatuh, dan darma seorang prajurit adalah mempertahankan sekuat tenaga
tanah tumpah darahnya.
Wus (sudah) mukti (berkecukupan) anèng (di) Ngalêngka (Alengka),
mangke (sekarang) arsa (hendak) rinusak (dirusak) ing (oleh) bala
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 25

(tentara) kapi (kera), punagi (bertekad) mati (mati) ngrana (di medan
perang). Sudah hidup berkecukupan di negeri Alengka, sekarang hendak
dirusak oleh tentara kera, dia bertekad memilih mati di medan perang.
Kumbakarna merasa sudah mendapatkan banyak kenikmatan sebagai
pejabat negara. Jabatannya telah memuliakan dirinya denga aneka fasilitas
dan kebesaran. Kini semua itu akan dirusak oleh tentara kera. Meski dia
memaklumi bahwa tentara kera di pihak yang benar, tetapi tidak melawan
juga berarti berkianat kepada negaranya sendiri. apalagi bala tentara kera
sangat ngawur dan tak tahu adab. Sesuka hati mereka membuat Alengka
porak poranda. Ini harus dihentikan sampai akhir kemampuannya, sampai
titik darah terakhirnya.
Akhirnya Kumbakarna tewas di tangan kedua kakak beradik Rama-
Laksmana. Tangan dan kakinya putus oleh panah mereka berdua, tubuhnya
melayang diterjanga angin yang keluar dari pusaka Ramawijaya.
Kumbakarna gugur menepati darma seorang prajurit agung.
Kisah ini memberi keteladanan bahwa bagi seorang prajurit mematuhi
perintah atasan adalah kewajiban yang nomer satu. Meskipun perintah itu
tidak disukainya. Prajurit bukanlah pengamat politik yang bisa nyinyir
kepada penguasa tetapi adalah alat negara yang siap dipakai untuk tujuan
kenegaraan. Meski demikian sebagai pejabat Kumbakarna juga menolak
perintah yang tidak patut, hal itu dibuktikan ketika dia memilih tidur dan
tidak maju perang di awal. Hal itu adalah sikap yang patut dipuji karena
tidak melulu membebek kepada atasan saja.
Kita agak susah menemukan kelemahan Kumbakarna ini karena dia adalah
seorang yang jauh dari ambisi. Kelemahannya mungkin hanya tampak jika
diperbandingkan dengan langkah adiknya, Gunawan Wibisana, yang
memilih bergabung dengan Rama Wijaya. Bagi Wibisana membela
kebenaran lebih penting daripada membela negara dan keluarga.
Bagaimanapun kedua ksatria itu tidak bisa dibandingkan, apalagi Wibisana
tidak dalam posisi sebagai panglima perang seperti Kumbakarna.
Kajian kita masih berlanjut dengan meneladani satu tokoh kontroversial
yang hidupnya jauh dari kata bahagia. Sepanjang hidupnya dilalui dengan
peran sebagai korban. Nantikan dalam kajian berikutnya.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 26

Kajian Serat Tripama (5-6): Ksatria Yang Terbuang


Pupuh 1, bait 5-6, Dhandhang Gula (metrum:
10i,10a,8e,7u,9i,7a,6u,8a,12i,7a), Serat Tripama, karya Sri Mangkunegara
IV

Wontên malih kinarya palupi,


Suryaputra Narpati Ngawôngga.
Lan Pandhawa tur kadange,
lèn yayah tunggil ibu.
Suwita mring Sri Kurupati,
anèng nagri Ngastina,
kinarya gul-agul,
manggala golonganing prang.
Bratayuda ingadêgkên senapati,
ngalaga ing Korawa.

Dèn mungsuhkên kadange pribadi,


aprang tandhing lan Sang Dananjaya.
Sri Karna suka manahe,
de gonira pikantuk,
marga dènnya arsa malês sih-
ira Sang Duryudana.
Marmanta kalangkung,
dènnya ngêtog kasudiran.
Aprang rame Karna mati jinêmparing,
sumbaga wirotama.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Ada lagi yang dapat dipakai teladan,
Suryaputra raja dari Awangga.
Dengan Pandawa masih saudaranya,
lain ayah satu ibu.
Mengabdi kepada Sri Kurupati,
di negeri Astina,
sebagai andalan,
manggala balatentara perang.
Dalam Baratayuda diangkat sebagai Senapati,
berperang di pihak Kurawa.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 27

Di hadapkan sebagai musuh dengan saudara sendiri,


berperang tanding dengan Sang Arjuna.
Sri Karna bersuka hatinya,
karena dirinya mendapat,
kesempatan bagi dirinya hendak membalas kasih,
dari Sang Duryudana.
Karena itu dengan sangat,
dirinya mengeluarkan seluruh kemampuan.
Berperang dengan dahsyat,
Karna mati terkena panah,
termasyhur sebagai perwira utama.

Kajian per kata:


Wontên (ada) malih (lagi) kinarya (dipakai) palupi (teladan), Suryaputra
(Suryaputra) Narpati (raja dari) Ngawôngga (Awangga). Ada lagi yang
dapat dipakai teladan, Suryaputra raja dari Awangga.
Ada lagi yang pantas untuk menjadi teladan baik bagi para prajurit. Dialah
Suryaputra raja dari negeri Awangga. Suryaputra juga disebut Karna
Basusena, nama kecilnya adalah Radeya. Secara yuridis Karna adalah anak
dari seorang kusir kerajaan Astina yang bernama Adirata. Namun Karna
hanyalah anak temuan, yang ditemukan oleh Adirata di sungai dalam
keadaan masih bayi. Bayi itu oleh orang tuanya sengaja dibuang untuk
menutup aib.
Lan (dengan) Pandhawa (Pandawa) tur (lagi pula) kadange (saudaranya),
lèn (lain) yayah (ayah) tunggil (satu) ibu (ibu). Dengan Pandawa masih
saudaranya, lain ayah satu ibu.
Sesungguhnya Karna masih bersaudara dengan Pandawa. Dia merupakan
saudara lain ayah satu ibu. Ibunya sebenarnya adalah Dewi Kunthi yang
tak lain merupakan ibu dari Pandawa. Lalu mengapa Karna bisa terpisah
dari keluarganya dan hidup sebagai seorang sudra, anak kusir yang
berkasta rendah? Inilah kisahnya.
Ketika masih gadis Dewi Kunthi yang merupakan putri dari Prabu
Kunthiboja di Mandura adalah gadis yang sangat pintar mengurus
keperluan rumah tangga. Suatu ketika di negeri Mandura kedatangan tamu
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 28

seorang resi yang ahli bertapa, Resi Druwasa. Selama Sang Resi di negeri
Mandura Kunthi ditugaskan untuk melayani Resi Druwasa dalam
perjamuan makan. Resi Druwasa sangat terkesan dengan cara Kunthi
menyiapkan hidangan dan melayaninya. Oleh karena itu Resi Druwasa
memberi Kunthi sebuah hadiah berupa aji Adithyahrehdaya. Fungsi dari aji
itu adalah mampu memanggil seorang dewa untuk memberinya anak
dengan cara manunggal rasa.
Dewi Kunthi merasa penasaran dengan pemberian aji Adithyahrehdaya itu.
Dia tidak begitu yakin kalau mantera itu dapat mendatangkan dewata dan
bermaksud mencobanya. Setelah dipikir-pikir dia memutuskan untuk
mencoba mendatangkan Batara Surya, dewa Matahari. Maka sekonyong-
konyong datanglah dihadapannya Batara Surya dan bermaksud
memberinya seorang anak. Kunthi menolak dan mengatakan bahwa dia
hanya ingin mencoba saja. Batara Surya mengatakan kalau mantera yang
dibaca Kunthi itu bukan sesuatu yang boleh dicoba-coba. Kalau sudah
diucapkan harus dilaksanakan, dan Surya tetap akan memberi Kunthi
seorang anak.
Kunthi menangis sejadi-jadinya, bagaimana aku akan menghadapi orang-
orang kalau sampai aku punya anak nanti, sedangkan aku belum menikah.
Akhirnya Batara Surya mau sedikit mengalah dengan mengatakan bahwa
dia akan mengembalikan keperawanan Kunthi begitu anak yang
dikandungnya lahir. Kunthi kemudian hamil.
Setelah menginjak usia lahir, maka lahirlah seorang anak lelaki tampan
yang sudah dibekali baju perang dan anting dewata. Baju perang itu
membuat pemakainya tak mempan segala senjata perang. Walau sang bayi
sangat tampan dan lucu, Kunthi tetap tak mau mengasuh anak itu. Dia
kemudian membuang bayi itu ke sungai dengan harapan ditemukan oleh
orang lain. Batara Surya menepati janji dengan mengembalikan
keperawanan Kunthi.
Kunthi kemudian menikah dengan Prabu Pandu Dewanata, ayah dari para
Pandawa. Jejak anak sulung Kunthi di luar nikah itu lenyap ditelan bumi.
Kunthi selamat, setidaknya untuk sementara.
Suwita (mengabdi) mring (kepada) Sri (Sri) Kurupati (Kurupati), anèng
(di) nagri (negeri) Ngastina (Astina), kinarya (sebagai) gul-agul
(andalan), manggala (panglima) golonganing (para balatentara) prang
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 29

(ketika perang). Mengabdi kepada Sri Kurupati, di negeri Astina, sebagai


andalan, manggala balatentara perang.
Alkisah, anak Kunthi yang dihanyutkan ke sungai tadi kemudian
ditemukan oleh Adirata, seorang kusir yang bertugas di Astina. Dia begitu
gembira karena menemukan seorang bayi yang tampan. Adirata bergegas
pulang untuk memberitahu istrinya. Pasangan suami-istri itu sangat
bersuka cita karena mereka akhirnya mendapatkan seorang anak, meski
hanya anak temuan. Bayi itu kemudian diberi nama Radeya, artinya anak
dari Rada, istri Adirata. Ketika remaja Radiya sangat menyukai olah
keprajuritan. Namun apa daya dia bukanlah ksatria yang bisa dengan
leluasa berlatih memainkan senjata. Sebagai anak kusir dia tidak boleh
memegang senjata. Oleh karena itu dia belajar sendiri dengan cara
mengintip para ksatria Astina yang sedang latihan keprajuritan. Dari cerita
ini kita bisa tahu bagaimana perasaan hati Radeya, ketika bakat besarnya
tidak mendapat penyaluran yang tepat.
Dasar anak yang berbakat, Radeya tumbuh menjadi pemuda yang mahir
memainkan segala senjata, yang paling menonjol adalah keahliannya
memanah. Pada suatu hari di istana Astina diadakan perlombaan
ketangkasan memainkan senjata. Para murid Resi Drona bergantian
memainkan senjata andalan mereka. Yang keluar sebagai pemenang
panahan adalah Arjuna. Namun tiba-tiba dari luar arena Radiya
membidikkan anak panahnya. Dia kemudian masuk ke gelanggang untuk
menantang Arjuna adu ketangkasan memanah. Resi Krepa yang bertindak
sebagai panitia mengajukan syarat, Radeya boleh bertanding dengan
Arjuna asal bisa menyebutkan silsilah ksatrianya. Mendengar hal itu
Radeya tertunduk membisu, menyadari dirinya hanyalah anak kusir.
Kebanggaannya jatuh seketika.
Tak diduga Duryudana mendekati Radeya dan mengumumkan bahwa
mulai hari ini Radeya diberi kedudukan sebagai penguasa Awangga,
dengan pangkat Adipati. Maka jadilah dia seorang ksatria dengan nama
Adipati Karna Basusena. Sekarang dia bisa bertanding dengan Arjuna.
Konon pertandingan itu berlangsung ketat dan imbang. Sampai akhir acara
tak bisa ditentukan siapa pemenangnya.
Peristiwa itu merupakan titik balik dalam kehidupan Karna, karena sejak
itu dia berkedudukan sejajar dengan ksatria yang lain. Dan semua itu
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 30

terjadi atas kemurahan hati Duryudana, pangeran dari keluarga Kurawa.


Dia merasa berhutang budi dan bertekad akan mengabdikan diri kepada
Duryudana. Bagi Duryudana bergabungnya Karna di pihaknya
membuatnya percaya diri. Karena biasanya Kurawa selalu kalah prestasi
dengan Pandawa. Kali ini mereka bisa menepuk dada karena mendapat
dukungan ksatria yang sebanding dengan Pandawa. Mulai saat itu pula
Karna mengabdi sebagai perwira Astina dan menjadi tulang punggung
pasukan Kurawa.
Bratayuda (Baratayuda) ingadêgkên (diangkat sebagai) senapati
(Senapati), ngalaga (berperang) ing (di) Korawa (Kurawa). Dalam
Baratayuda diangkat sebagai Senapati, berperang di pihak Kurawa.
Ketika pecah perang Baratayuda, Karna diangkat sebagai Mahasenapati
menggantikan Resi Drona yang gugur di hari kelima belas. Karna sendiri
baru ikut serta dalam perang mulai hari kesebelas karena sampai hari
kesepuluh dia dilarang ikut oleh Mahasenapati Bhisma. Hal itu akibat ulah
Karna sendiri yang bermulut lancang kepada sang Bhisma.
Dèn (di) mungsuhkên (hadapkan sebagai musuh) kadange (saudara)
pribadi (sendiri), aprang (berperang) tandhing (tanding) lan (dengan)
Sang (sang) Dananjaya (Arjuna). Di hadapkan sebagai musuh dengan
saudara sendiri, berperang tanding dengan Sang Arjuna.
Ketika menjadi Mahasenapati Karna harus berhadapan dengan saudaranya
sendiri. Dia berhadapan dengan senapati Pandawa sang Arjuna atau
dikenal juga dengan nama Dananjaya. Sebenarnya Arjuna bukan
mahasenapati Pandawa, karena yang menjadi mahasenapati adalah
Dresthadyumna. Namun keduanya berhadapan karena dalam peperangan
senapati akan memilih lawan tanding yang sepadan keahliannya. Karena
Karna ahli dalam memanah maka yang menjadi lawan dalam perang juga
harus ahli memanah, dan orang itu adalah Arjuna. Dalam perang yang lain,
misalnya Duryudana yang ahli bermain gada yang menghadapi juga ahli
bermain gada, yakni Bima. Begitulah aturan perang zaman dahulu, tidak
seperti kelakuan penjahat perang zaman sekarang yang beraninya cuma
mengirim rudal jarak jauh.
Sri (Sri) Karna (Karna) suka (bersuka) manahe (hatinya), de (dene,
karena) gonira (dirinya) pikantuk (mendapat), marga (jalan, kesempatan)
dènnya (bagi dirinya) arsa (hendak) malês (membalas) sih- ira (kasih dari)
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 31

Sang (Sang) Duryudana (Duryudana). Sri Karna bersuka hatinya, karena


dirinya mendapat, kesempatan bagi dirinya hendak membalas kasih, dari
Sang Duryudana.
Karna sangat bersuka cita dapat tampil dalam perang melawan Arjuna.
Inilah kesempatan baginya untuk membayar lunas jasa-jasa dan belas kasih
Duryudana. Hal itu dilakukan karena Karna tidak mau berhutang budi
kepada Duryudana. Atas jasa Duryudana dia menjadi berderajat setara
dengan ksatria lain. Atas jasa Duryudana pula dia menjadi seorang raja
bawahan. Dan itu semua disadarinya tidak gratis. Maka dia harus
membayarnya lunas di dunia ini.
Sebelum pecah perang Baratayuda, Kunthi yang kemudian mengetahui
bahwa Karna adalah anaknya, datang menemui. Kunthi meminta baju
perang yang dipakai Karna atas dasar permintaan seorang ibu. Karna
dengan besar hati memberikannya sambil bercucuran air mata.
“Ibu datang kepadaku setelah bertahun-tahun menelantarkan. Ibu tidak
datang kepadaku sebagai ibuku, tetapi sebagai ibu dari Pandawa yang takut
anak-anaknya kalah dalam perang. Namun walau bagaimanapun anakmu
ini menghadap kepadamu sebagai anak. Bawalah baju perangku ini,
sebagai wujud darma seorang anak!”
Baju perang itu menyatu laksana kulit baginya. Karena menyerahkan baju
perang itu setelah mengoyak dari tubuhnya. Kunthi menerima baju perang
itu dengan perasaan luka. Untuk kedua kalinya dia berbuat aniaya terhadap
anaknya sendiri. Sesungguhnya dia meminta baju perang itu demi para
Pandawa. Dia tahu, Karna yang berbaju perang dewata takkan mempan
oleh senjata apapun. Itu akan sangat merugikan para Pandawa. Di tempat
itu pula Karna berjanji tidak akan membunuh Pandawa dalam perang
Baratayuda. Kecuali dia minta ijin untuk membunuh Arjuna bila ada
kesempatan. Kunthi berlalu dengan hati pedih. Hati Karna lebih pedih lagi.
Marmanta (karena itu) kalangkung (dengan sangat), dènnya (dirinya)
ngêtog (mengeluarkan) kasudiran (seluruh kemampuan). Karena itu
dengan sangat, dirinya mengeluarkan seluruh kemampuan.
Oleh karena itu Karna sangat bersemangat dalam perang. Dia
mengeluarkan seluruh kemampuannya melawan Arjuna. Walau dia tahu
bahwa Arjuna adalah adiknya sendiri dia sudah minta ijin kepada Kunthi
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 32

untuk membunuhnya. Mengapa Karna tega berniat seperti itu, sementara


kepada adik-adiknya yang lain tidak. Hal itu karena dia sudah bosan terus-
menerus dibawah bayang-bayang Arjuna sebagai ahli memanah. Dia ingin
membuktikan bahwa dia juga ahli memanah yang jempolan, tak kalah dari
Arjuna.
Aprang (berperang) rame (dahsyat), Karna (Karna) mati (tewas)
jinêmparing (terkena panah), sumbaga (termasyhur) wirotama (sebagai
perwira utama). Berperang dengan dahsyat, Karna mati terkena panah,
termasyhur sebagai perwira utama.
Keduanya adalah lawan yang sepadan, sehingga pertempuran keduanya
berlangsung amat seru. Tetapi Karna mempunyai kelemahan yang fatal.
Kusir Arjuna adalah Krisna, seorang ahli siasat perang. Dan kusir Karna
adalah Prabu Salya, mertuanya sendiri yang juga merupakan uwak dari
Arjuna. Namun letak fatalnya bukan itu, sejatinya Prabu Salya sangat
mencintai para Pandawa dan agak kurang suka dengan Karna yang sering
bersikap congkak. Dua orang mertua-menantu itu sering berselisih
sehingga konsentrasi Karna selalu buyar. Misalnya ketika Karna sedang
membidik Arjuna, Salya sengaja melewatkan roda kereta di kubangan agar
bidikan Karna meleset. Karna sangat jengkel sehingga marah kepada sang
mertua. Salya tidak terima diperlakukan Karna dengan kasar dan ngambek.
Dia tidak mau mengangkat roda kereta dari kubangan.
Akhirnya Karna turun sendiri mengangkat roda kereta perangnya agar
keluar dari kubangan. Namun di saat itulah panah Arjuna melesat
menembus jantungnya. Karna gugur dalam perang. Walau kalah Karna
mati dengan perasaan lega. Hutangnya pada Duryudana sudah lunas. Dia
pun mati dengan tenang karena selama hidupnya di dunia telah menepati
darma sebagai ksatria yang tidak takut mati, tidak pernah melawan
perintah atasan dan tidak mencari keuntungan bagi dirinya sendiri.
Demikianlah kisah Suryaputra raja muda dari negeri Awangga. Apa yang
dapat kita teladani dari kisahnya adalah keteguhannya sebagai prajurit
yang patuh pada perintah atasan, tidak takut dalam perang, bersikap ksatria
dengan membalas budi baik Duryudana. Di tengah cemooh dia tetap
melangkah dengan percaya diri dan tahu akan tugas kewajibannya. Selain
itu kegigihannya dalam berlatih sehingga menjadi ksatria besar juga patut
diteladani, apalagi dia melakukan itu dalam keterbatasan.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 33

Namun demikian tidak semua sikap Suryaputra ini patut ditiru. Dia
terkenal akan sikap congkaknya jika berbicara. Banyak tokoh yang merasa
sakit hati atas sikapnya itu. Resi Bhisma sampai tidak mengijinkan dia
menjadi anggota pasukannya. Prabu Salya yang notabene mertuanya
sendiri pun kurang suka dengn sikap Karna itu. Itu sebabnya Salya
terkesan enggan ketika diminta menjadi kusir kereta perang Karna. Boleh
jadi sikap Karna yang congkak itu akibat dari perlakuan tak baik yang
kerap diterimanya ketika remaja. Ketika dia banyak diremehkan orang
karena berasal dari keluarga jelata. Misalnya Drupadi pernah menolak
Karna dalam syembara memanah di negeri Pancala dengan mengatakan,
“Aku tak mau menjadi istri anak kusir!”
Begitulah manusia, tak ada yang sempurna, selalu ada kurang dan
lebihnya. Kita ambil yang baik, kita buang yang buruk.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 34

Kajian Serat Tripama (7): Jangan Membuang Teladan


Pupuh 1, bait 7, Dhandhang Gula (10i,10a,8e,7u,9i,7a,6u,8a,12i,7a), Serat
Tripama, karya Sri Mangkunegara IV

Katri môngka sudarsanèng Jawi,


pantês sagung kang para prawira,
amirita sakadare,
ing lêlabuhanipun.
Aywa kongsi buwang palupi,
mênawa tibèng nistha,
ina èsthinipun.
Sanadyan tekading buta,
tan prabeda budi panduming dumadi,
marsudi ing kotaman.

Terjemahan dlam bahasa Indonesia:


Ketiganya sebagai teladan di Tanah Jawa,
pantas semua para prajurit,
mengikuti sekuatnya, pada jasa-jasanya.
Jangan sampai membuang teladan,
kalau terjatuh dalam kenistaan,
hina sesungguhnya.
Walaupun tekad seorang raksasa,
tak ada beda dalam budi sebagai sesama makhluk,
berupaya mencapai keutamaan.

Kajian per kata:


Katri (ketiga) môngka (minangka, sebagai) sudarsanèng (teladan di) Jawi
(Tanah Jawa), pantês (pantas) sagung (semua) kang (yang) para (para)
prawira (perwira), amirita (mengikuti, menuruti) sakadare (sekuatnya),
ing (pada) lêlabuhanipun (jasa-jasanya). Ketiganya sebagai teladan di
Tanah Jawa, pantas semua para prajurit, mengikuti sekuatnya, pada jasa-
jasanya.
Ketiganya, tiga tokoh di atas, sebagai teladan di tanah Jawa. Pantas bagi
semua perwira atau prajurit untuk mengikuti langkah-langkah tersebut
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 35

sekuatnya. Berusaha mencontoh jasa-jasa mereka sesuai dengan kehidupan


masa kini.
Aywa (jangan) kongsi (sampai) buwang (membuang) palupi (teladan),
mênawa (kalau) tibèng (terjatuh) nistha (kenistaan), ina (hina) èsthinipun
(angan-angannya). Jangan sampai membuang teladan, kalau terjatuh
dalam kenistaan, hina sesungguhnya.
Jangan sampai membuang teladan baik, kalau jatuh dalam kenistaan,
sangatlah hina angan-angan orang. Jika dalam hidup kita membuang
teladan baik, kita sulit mendapatkan inspirasi dari para generasi terdahulu.
Salah-salah malah kita terperosok mengikuti angan-angan yang belum
tentu benar. Bisa-bisa kita terperosok dalam kehinaan. Sebagai penerus
kita belum tentu sanggup mencari atau membuat teladan-teladan untuk
anak cucu sebagaimana orang-orang terdahulu. Maka kalau ada teladan
baik lestarikan dan sedapatnya kita terapkan dalam kehidupan.
Sanadyan (walaupun) tekading (tekad seorang) buta (raksasa), tan (tak)
prabeda (ada beda) budi (dalam budi) panduming (sebagai sesama)
dumadi (makhluk), marsudi (berupaya mencapai) ing kotaman
(keutamaan). Walaupun tekad seorang raksasa, tak ada beda dalam budi
sebagai sesama makhluk, berupaya mencapai keutamaan.
Seperti halnya tiga tokoh kita ini, masing-masing mempunyai kelemahan
dalam hidupnya. Sumantri pernah berbuat dosa pada adiknya, Kumbakarna
adalah raksasa yang sekian lama hidup bersama para durjana-angkara dan
Adipati Karna selama hidupnya selalu terbuang dan dinistakan. Namun
ketiganya bangkit dengan penuh perjuangan, menutupi kekurangan pada
diri mereka sendiri, berbuat baik untuk menebus kekurangannya, sehingga
hanya kebaikannya yang dikenang.
Tiga kisah itu memberi pelajaran kepada kita, bahwa dimanapun seseorang
ditakdirkan hidup, selalu ada kesempatan untuk meraih keutamaan. Namun
jelas bahwa keutamaan itu takkan mudah untuk digapai. Kita lihat
bagaimana Sumantri harus bekerja keras untuk meraih kepercayaan
rajanya. Lha wong ingatase baru melamar menjadi prajurit, kok sudah
diberi tugas yang berat untuk memboyong putri dengan mengalahkan
banyak raja. Itu berat! Hanya Sumantri yang kuat.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 36

Demikian juga bagi Kumbakarna, bisa dibayangkan sulitnya hidup


dibawah kuasa sang kakak yang angkara murka dan pengecut seperti
Rahwana. Namun jika kebanyakan raksasa lain memilih tunduk,
Kumbakarna mengambil sikap anti mainstream. Kumbakarna selalu bisa
bersikap tegas dan tidak ikut arus. Satu hal lagi, meski Kumbakarna sering
berselisih dengan sang kakak dia tidak ditendang, karena dia memiliki
kemampuan yang unggul sebagai prajurit.
Adipati Karna jelas sadar bahwa takdir tak berpihak padanya. Dia meraih
setiap hasil dengan perngorbanan yang luar biasa. Untuk sekedar eksis
sebagai ksatria dia harus berpihak pada Kurawa, yang jelas bahwa standar
moralnya jauh dibawahnya. Kurawa adalah sekumpulan ksatria pengecut
dan curang, sampai hati mereka mengkianati gelar kekesatriaannya demi
kepentingan sesaat. Mereka juga menghalalkan segala cara dalam meraih
kekuasaan. Peristiwa Bale Sigala-Gala, permainan dadu, penelanjangan
Drupadi, sampai pembuangan Pandawa, itu semua menjadi bukti kebejatan
moral Kurawa. Jika dibandingkan dengan sikap ksatria Karna, ibarat bumi
dan langit. Dan sedihnya Karna harus hidup bersama mereka. Namun
Karna ternyata mampu menemukan jalan keutamaan walau harus dibayar
dengan nyawanya.
Para pembaca yang budiman, kita tutup kajian tematik tentang keteladanan
prajurit ini dengan mengingat bahwa serat yang kita kaji adalah serat
Tripama. Artinya, tri adalah tiga, karena yang dibahas tiga tokoh. Pama
dari kata umpama, artinya perumpamaan atau mistal atau ibarat. Jadi
penggubah serat ini tidak mengajak kita meneladani seseorang secara
membabi-buta dan fanatik. Namun mengajarkan bahwa dari riwayat hidup
dan perjuangan seseorang, entah itu di alam nyata atau sekedar cerita, ada
ibarat-ibarat yang dapat kita ambil sebagai inspirasi. Itulah pesan dari Sri
Mangkunegara IV dalam kitab ini.
Sekian kajian serat Tripama.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 37

SERAT WIRAWIYATA
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 38
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 39

KATA PENGANTAR

Serat Wirawiyata ditulis oleh Sri Mangkunagara IV pada tahun 1860, tujuh
tahun setelah berkuasa. Sesuai namanya yang berasal dari wira artinya
perwira dan wiyata yang artinya pengajaran, serat ini berisi ajaran kepada
prajurit muda yang baru masuk dinas militer. Juga sebagian merupakan
pedoman bagi komandan muda yang akan menjabat sebagai senapati.
Serat ini menekankan agar para prajurit melestarikan perjuangan yang
telah dirintis oleh para pendahulu mereka, yakni pasukan Pangeran Adipati
Mangkunagara I yang telah berhasil mendirikan negara Mangkunagaran
dengan susah payah. Anjuran agar para prajurit menempuh jalan yang telah
dilalui oleh para leluhur itu, melengkapi kemuliaan mereka dan
melestarikan sifat-sifat baik bagi para prajurit. Semua itu agar negar yang
mereka tempati sekarang, yang telah memberi kesejahteraan dapat terus
bertahan sampai ke anak-cucu nanti. Jangan sampai kemuliaan mereka
berhenti sampai di sini, maka upayakan kemuliaan baru untuk
menyambung yang sudah ada. berbakti kepada negara dan patuh para
perintah atasan serta raja.
Kepada para komandan muda juga diberikan pengarahan bagaimana
mengelola pasukan. Sejak merekrut sampai menempatkan mereka dalam
kesatuan. Setiap orang hendaknya ditempatkan sesuai bakat dan kondisi
fisiknya agar diperoleh pasukan yang tangguh dan cakap bertempur. Juga
anjuran untuk selalu mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk
keberlangsungan pasukan. Logistik, kesehatan, peralatan dan berbagai
keahlian yang diperlukan jangan sampai tidak tersedia. Agar pasukan kuat
dan andal, para komandan hendaknya memperhatikan hal itu.
Serat ini hampir senada dengan serat Nayakawara yang dikhususkan
kepada para punggawa dan abdi dalem kerajaan. Namun serat ini ditulis
lebih dahulu. Kedua serat tersebut berbicara tantang etos kerja para
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 40

pegawai. Serat Wirawiyata ini memuat pesan untuk pegawai militer


sedangkan Serat Nayakawara ditujukan kepada pegawai sipil.
Walau sudah berusia lebih dari 100 tahun, tampaknya masih banyak pesan-
pesan yang relevan dan patut diamalkan untuk para pejabat di zaman
sekarang. Tentu saja dengan sedikit penyesuaian. Sesuai dengan prinsip
kajian sastra klasik, teladani yang baik, abaikan yang tak bermanfaat.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 41

PUPUH PERTAMA

SINOM
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 42
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 43

Kajian Wirawiyata (1:1-3): Pambuka


Pupuh 1, bait 1-3, Sinom (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a), Serat
Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Wuryanta dènnya manitra,
nujwari ing Wrahaspati,
Kaliwon tanggal sapisan,
sasi Saban wuku Wukir,
Ehe sangkalèng warsi,
murtyastha amulang sunu.
Sung pariwara darma,
Jêng Gusti Pangran Dipati,
Arya Mangkunagara ingkang kaping pat.

Hèh sagung pra siswaningwang,


kang sami dadya prajurit,
aja wiyang ing wardaya,
rèhning wus sira lakoni,
balik dipun nastiti,
marang ing kawajibamu.
Owêlên sariranta,
rêksanên luhurmu sami,
yèn kuciwa wèh alun alaning raga.

Awit sira wus prasêtya,


nalika jinunjung linggih,
saguh nut anggêring praja,
myang pakoning narapati,
sinêksèn dèn èstrèni,
mring para wira sawêgung.
Upama sira cidra,
nyirnakkên ajining dhiri,
têmah nistha wèh wiranging yayah rena.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Mulai dia menulis,
bertepatan dengan hari Kamis,
Kliwon tanggal satu,
bulan Sa’ban wuku Wukir,
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 44

tahun Ehe sengkala dalam tahun,


delapan orang pilihan mengajarkan pada anak.
Yang memberi kabar kebaikan,
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati,
Arya Mangkunagara yang keempat.

Wahai segenap siswa-siswaku,


yang menjadi prajurit,
jangan loyo dalam hati,
karena sdah engkau jalani,
sebaliknya ditelateni,
pada yang menjadi kewajibanmu.
Sayangilah dirimu,
jagalah kemuliaanmu semua,
kalau kecewa akan memberi ombak keburukan bagi dirimu.

Karena engkau sudah berjanji,


ketika diangkat pada kedudukanmu,
sanggup patuh pada peraturan negara,
dan perintah raja,
disaksikan dan diharidi,
oleh para perwira semua.
Andai engkau ingkar,
menghilangkan harda diri,
sehingga nista memberi malu pada ayah ibu.

Kajian per kata:


Wuryanta (mulai) dènnya (dia) manitra (menulis), nujwari (bertepatan
hari) ing (pada) Wrahaspati (Kamis), Kaliwon (Kliwon) tanggal (tanggal)
sapisan (pertama), sasi (bulan) Saban (Sya’ban) wuku (wuku) Wukir
(wukir), Ehe (tahun Ehe) sangkalèng (sengkala dalam) warsi (tahun),
murtyastha amulang sunu (delapan orang pilihan mengajarkan kepada
anak = 1788). Mulai dia menulis, bertepatan dengan hari Kamis, Kliwon
tanggal satu, bulan Sa’ban wuku Wukir, tahun Ehe sengkala dalam tahun,
delapan orang pilihan mengajarkan pada anak.
Mulai ditulisnya serat Wirawiyata ini pada Kêmis Kliwon, 1 Saban 1788
AJ, bertepatan dengan Kamis, 23 Februari 1860 AD. Candra sengkala yang
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 45

dipakai: murtyastha (88) amulang (7) sunu (1), artinya delapan orang
pilihan mengajarkan kepada anak, bermakna tahun 1788 AJ. Kata dalam
kurung menunjukkan angka yang ditunjukkan oleh kata-kata itu. Kata
murtyastha dari kata murti artinya orang pilihan, yang dimaksud adalah
brahmana (pendeta), dan kata astha artinya delapan.
Sung (yang memberi) pariwara (kabar) darma (kebaikan), Jêng (Kanjeng)
Gusti (gusti) Pangran (Pangeran) Dipati (Adipati), Arya (Arya)
Mangkunagara (Mangkunagara) ingkang (yang) kaping pat (keempat).
Yang memberi kabar kebaikan, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati, Arya
Mangkunagara yang keempat.
Yang memberi kabar kebaikan maksudnya yang menulis serat ini, adalah
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati, Arya Mangkunagara IV. Penguasa praja
Mangkunagaran yang berkuasa tahun 1853-1881 AD.
Hèh (hai) sagung (segenap) pra (pra) siswaningwang (siswa-siswaku),
kang (yang) sami (sama-sama) dadya (menjadi) prajurit (prajurit), aja
(jangan) wiyang (loyo, kurang semangat) ing (dalam) wardaya (hati),
rèhning (karena) wus (sudah) sira (engkau) lakoni (jalani), balik
(sebaliknya) dipun (di) nastiti (telateni), marang (pada) ing (di)
kawajibamu (kewajibanmu). Wahai segenap siswa-siswaku, yang menjadi
prajurit, jangan loyo dalam hati, karena sdah engkau jalani, sebaliknya
ditelateni, pada yang menjadi kewajibanmu.
Wiyang artinya loyo, kurang bersemangat, ogah-ogahan. Jika menjadi
prajurit janganlah seperti itu. Yang semangat dong! Yang telaten, artinya
dilakukan dengan sabar tanpa berkurang semangatnya. Telaten bisa
diartikan tetap menjaga ritme kerja dengan stabil. Tidak naik-turun
semangatnya. Karena prajurit mempunyai kewajiban yang sudah
ditetapkan baginya. Dan semua kewajiban itu memerlukan semangat yang
tinggi.
Dalam bait ini Sri Mangkunagara IV menyapa para prajurit dengan sebutan
siswaningwang, (siswaku). Hal itu karena memang Sri MN IV pernah
menjadi instruktur dan prajurir senior di kesatuan Legiun Mangkunagaran.
Beliau mengikuti pendidikan keprajuritan sejak muda sampai menjadi
perwira. Beberapa tugas penting pernah beliau emban, antara lain ikut
perang Jawa melawan pasukan Dipanegara. Maka sah saja kalau beliau
memanggil para prajurit muda dengan sebutan siswa-siswaku.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 46

Owêlên (sayangilah) sariranta (dirimu), rêksanên (jagalah) luhurmu


(kemuliaanmu) sami (semua), yèn (kalau) kuciwa (kecewa) wèh
(memberi) alun (ombak) alaning (keburukan) raga (diri). Sayangilah
dirimu, jagalah kemuliaanmu semua, kalau kecewa akan memberi ombak
keburukan bagi dirimu.
Menjadi prajurit harus patuh dan tunduk kepada atasan dengan sepenuh
hati. Darma seorang prajurit adalah memegang teguh nilai-nilai
keperwiraan. Jangan sampai menjalankan tugas sebagai prajurit dengan
rasa yang berat karena akan menimbulkan hal-hal yang tidak baik baik
bagi diri sendiri. Maka sayangilah dirimu dengan tetap memegang teguh
sumpah seorang perwira. Kalau memendam kekecewaan atau berat hati,
hal itu akan merusak diri sendiri, mendatangkan keburukan yang bertubi-
tubi laksana ombak keburukan yang bergulung-gulung menerpa diri. Weh
alun alaning raga.
Awit (karena) sira (engkau) wus (sudah) prasêtya (berjanji), nalika
(ketika) jinunjung (diangkat) linggih (pada kedudukan), saguh (sanggup)
nut (patuh) anggêring (peraturan) praja (negara), myang (dan) pakoning
(perintah) narapati (raja), sinêksèn (disaksikan) dèn (di) èstrèni (dihadiri),
mring (oleh) para (para) wira (perwira) sawêgung (semua). Karena
engkau sudah berjanji, ketika diangkat pada kedudukanmu, sanggup patuh
pada peraturan negara, dan perintah raja, disaksikan dan diharidi, oleh
para perwira semua.
Karena engkau sudah bersumpah untuk patuh pada aturan dan perintah raja
dengan disaksikan dan dihadiri oleh segenap para perwira semua. Pada saat
lulus seleksi kemudian mengikuti pelatihan dan kemudian ditempatkan
dalam kesatuan, engkau sudah ditanting, sudah diberikan waktu untuk
berpikir akan tugas dan tanggung jawab dan engkau telah berjanji untuk
memenuhinya. Sumpahmu sebagai prajurit kemudian diambil dihadapan
semua perwira dan pembesar negara. Jadi patuhilah sumpah itu dengan
sepenuh hati.
Upama (andai) sira (engkau) cidra (ingkar), nyirnakkên (menghilangkan)
ajining (harga) dhiri (diri), têmah (sehingga) nistha (nista) wèh (memberi)
wiranging (malu pada) yayah (ayah) rena (ibu). Andai engkau ingkar,
menghilangkan harga diri, sehingga nista memberi malu pada ayah ibu.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 47

Jika engkau ingkar dari sumpah dan janjimu itu, maka habislah harga
dirimu. Keperwiraanmu hilang dan bagi seorang prajurit itu adalah
kehilangan terbesar. Lebih baik kehilangan nyawa daripada mengingkari
keperwiraanmu. Karena jika demikian engkau tidak saja menghinakan
dirimu sendiri, tetapi juga ayah-ibumu. Juga membuat malu saudara-
saudaramu, teman-teman dan orang-orang terdekatmu. Rentetan keburukan
akan menimpamu dan keluargamu jika engkau sampai mengingkari
sumpah prajurit. Seperti yang disinggung dalam gatra sebelumnya, akan
tertimpa keburukan yang datang seperti ombak, bergulung-gulung.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 48

Kajian Wirawiyata (1:4-5): Luwih Becik Laksitarja


Pupuh 1, bait 4-5, Sinom (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a), Serat
Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Ywa sira duwe pangira,
lamun wong dadi prajurit,
karyane abot priyôngga,
wruhanta sagung pakarti,
kabèh dunya puniki,
tan ana prabedanipun.
Kang dagang nèng lautan,
miwah ingkang among tani,
sumawana kang suwita ing narendra.

Myang kang tapa jroning guwa,


kang manusup ing asêpi,
lakone padha kewala.
Awit iku dadi margi,
mrih katêkaning kapti,
sapangkate pandumipun.
Nanging sarananira,
mantêp têmên lan tabêri,
samêktane ingaranan laksitarja.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia;


Jangan engkau mempunyai anggapan,
kalau menjadi prajurit,
pekerjaannya paling berat,
ketahuilah semua pekerjaan,
yang ada di dunia ini,
tak ada perbedaannya.
Yang dagang di lautan,
serta yang menjadi petani,
dan juga yang mengabdi pada raja.

Dan yang bertapa di dalam gua,


yang menyusup ke tempat sepi,
pengalamannya sama saja.
Karena itu menjadi jalan,
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 49

agar tercapainya keinginan,


sesuai pangkat yang diperoleh.
Namun sarananya,
mantap dan sungguh-sungguh serta rajin,
kesiapannya disebut laku yang baik.

Kajian per kata:


Ywa (jangan) sira (engkau) duwe (punya) pangira (anggapan), lamun
(kalau) wong (orang) dadi (menjadi) prajurit (prajurit), karyane
(pekerjaannya) abot (berat) priyôngga (sendiri), wruhanta (ketahuilah)
sagung (semua) pakarti (pekerjaan), kabèh (semua) dunya (dunia) puniki
(ini), tan (tak) ana (ada) prabedanipun (perbedaannya). Jangan engkau
mempunyai anggapan, kalau menjadi prajurit, pekerjaannya paling berat,
ketahuilah semua pekerjaan, yang ada di dunia ini, tak ada perbedaannya.
Jangan mempunyai anggapan kalau menjadi prajurit itu pekerjaan yang
paling berat. Apalagi kalau kemudian meremehkan pekerjaan lain. Atau
kemudian besikap sombong dan berhak mengklaim sebagai yang paling
berjasa untuk negara. Semua pekerjaan di dunia ini sama, masing-masing
pekerjaan itu berat. Tidak ada satu pekerjaan lebih enak atau lebih berat
dibanding pekerjaan lain. Tinggal engkau saja yang menjalani bagaimana.
Jika dijalani dengan semangat dan senang hati tentu akan ringan.
Sebaliknya jika dilakukan dengan berat hati dan memendam kecewa tentu
pekerjaan apapun akan terasa berat.
Kang (yang) dagang (dagang) nèng (di) lautan (lautan), miwah (serta)
ingkang (yang) among tani (menjadi petani), sumawana (dan juga) kang
(yang) suwita (mengabdi) ing (pada) narendra (raja). Yang dagang di
lautan, serta yang menjadi petani, dan juga yang mengabdi pada raja.
Orang yang berdagang dengan pergi berlayar menyeberangi lautan pun
juga berat. Sewaktu-waktu kapalnya bisa karam. Nyawa pun menjadi
taruhan. Belum kalau kemudian bertemu perompak, harta nyawa hilang
percuma. Juga kalau perniagaannya merugi karena berbagai sebab. Semua
ada resiko yang berat juga.
Bahkan menjadi petani yang kelihatan adem-ayem pun juga berat. Pagi-
pagi bersaing bangun pagi dengan ayam berkokok. Menyiapkan tanaman,
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 50

membajak, menyemai, merawat dan memelihara sampai panen. Sudah


begitu hasilnya tak seberapa. Itu juga kadang tanaman diserang hama.
Sedih dan lemah tak berdaya.
Yang mengabdi kepada raja pun sulit. Siang malam harus bersiap sedia
menerima perintah. Meninggalkan keluarga demi tugas. Kadang sampai
tak sempat istirahat karena banyaknya pekerjaan. Kalau tak berkenan yang
dilayani bisa marah dan memberi hukuman. Kalau raja terancam harus
menjadi tameng pelindung. Itu semua berat juga.
Myang (dan) kang (yang) tapa (bertapa) jroning (di dalam) guwa (gua),
kang (yang) manusup (menyusup) ing (dalam) asêpi (tempat sepi), lakone
(pengalamannya) padha (sama) kewala (saja). Dan yang bertapa di dalam
gua, yang menyusup ke tempat sepi, pengalamannya sama saja.
Juga yang bertapa di tengah hutan di dalam gua-gua, menyusup ke alam
sepi. Mereka pun mempunyai rasa berat yang sama. Rasa jenuh karena
sendirian, rasa lapar dan dahaga, ada banyak hewan liar yang siap
menerkam. Semua itu juga berat.
Awit (karena) iku (itu) dadi (menjadi) margi (jalan), mrih (agar)
katêkaning (tercapainya) kapti (keinginan), sapangkate (sesuai pangkat)
pandumipun (yang diperoleh). Karena itu menjadi jalan, agar tercapainya
keinginan, sesuai pangkat yang diperoleh.
Karena semua pekerjaan itu menjadi jalan kemuliaan bagi masing-masing
orang, maka upaya menempuhnya pun berat. Pedagang yang jujur adalah
orang mulia, maka jalan hidup menjadi pedagang yang jujur juga berat.
Petani yang tekun dan sabar adalah orang mulia, maka menjadi petani yang
demikian pun berat. Menjadi abdi raja yang patuh dan setia itu juga
pekerjaan mulia, maka menjalaninya juga berat. Sesuatu yang mulia
pastilah akan panjang jalannya, berat cobaannya dan sulit dicapainya. Itu
berlaku untuk semua pekerjaan baik yang ada di dunia ini.
Nanging (namun) sarananira (sarananya), mantêp (mantap) têmên
(sungguh-sungguh) lan (dan) tabêri (rajin), samêktane (kesiapannya)
ingaranan (disebut) laksitarja (laku yang baik). Namun sarananya,
mantap dan sungguh-sungguh serta rajin, kesiapannya disebut laku yang
baik.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 51

Maka sesudah yang demikian kau ketahui, mantaplah dan rajinlah engkau
dalam menjalani pekerjaanmu. Persiapkan dirimu dengan sungguh-
sungguh. Inilah yang disebut laku yang baik atau laksitarja.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 52

Kajian Wirawiyata (1:6-7): Sakeh Panggawe Becik Iku


Panembah
Pupuh 1, bait 6-7, Sinom (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a), Serat
Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Lawan sira sumurupa,
kang kalêbu pangabêkti,
nora sêmbahyang kewala.
Kang dadi parênging Widhi,
sakèh panggawe bêcik,
kang mantêp suci ing kalbu,
uga dadi panêmbah.
Yèn katrima iku sami,
sinung rahmat samurwate badanira.

Lamun tan mawa sarana,


paran katêkaning kapti,
lir bêdhag tanpa wisaya.
Sayêktinira Hyang Widhi,
tan karsa mitulungi,
marang wong kang datan laku.
Nir ngamal myang panêmbah,
kumudu dipun turuti,
ngêndi ana Gusti rinèh ing kawula.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Dan engkau ketahuilah,
yang termasuk ibadah,
bukan sembahyang saja.
Yang menjadi kehendak Tuhan,
semua perbuatan baik,
yang mantap suci dalam hati,
juga menjadi ibadah.
Kalau diridhai itu sama-sama,
mengandung rahmat sepantasnya bagi dirimu.

Kalau tak memakai sarana,


tempat tercapainya kehendak,
seperti berburu tanpa alat.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 53

Sebenarnya Tuhan Yang Maha Benar,


tak mau menolong,
kepada orang yang tidak mengamalkan.
Tanpa beramal dan ibadah,
mengharuskan dituruti,
mana ada Tuhan diatur oleh hambanya.

Kajian per kata:


Lawan (dan) sira (engkau) sumurupa (ketahuilah), kang (yang) kalêbu
(termasuk) pangabêkti (ibadah, penyembahan), nora (bukan) sêmbahyang
(sembahyang) kewala (saja). Dan engkau ketahuilah, yang termasuk
ibadah, bukan sembahyang saja.
Bukan saja seluruh pekerjaan itu berat, tetapi juga bisa membuat mulia
pelakunya. Suatu pekerjaan yang dilakukan dengan baik akan menjadi
sarana bagi pelakunya untuk berbakti kepada Tuhan, juga bisa menjadi
sarana pengabdian. Jadi yang disebut pengabdian bukan saja ada dalam
sembahyang. Seseorang yang menjalani kehidupan dengan baik berarti dia
telah beribadah kepada Tuhan.
Kang (yang) dadi (menjadi) parênging (kehendak) Widhi (Tuhan), sakèh
(semua) panggawe (perbuatan) bêcik (baik), kang (yang) mantêp (mantap)
suci (suci) ing (dalam) kalbu (hati), uga (juga) dadi (jadi) panêmbah
(ibadah). Yang menjadi kehendak Tuhan, semua perbuatan baik, yang
mantap suci dalam hati, juga menjadi ibadah.
Semua pekerjaan yang dikehendaki Tuhan, artinya diridhai, maka semua
itu menjadi perbuatan baik. Dan setiap perbuatan baik akan menjadi
ibadah. Pelakunya mendapat pahala. Karena apa? Karena lawan dari
perbuatan baik pasti perbuatan jahat, dan jika seseorang terhindar dari yang
jahat maka dia telah melakukan kebaikan. Pantas baginya mendapat
pahala. Misalnya bekerja apapun yang halal itu ibadah, sebab jika tidak
bekerja dia akan menjadi peminta-minta, yang jelas merupakan perbuatan
hina. Dengan bekerja dia terhindar dari kehinaan, maka baginya adalah
pahala di akhirat, selain rezeki yang diperolehnya.
Oleh sebab itu dalam pekerjaan apapun lakukan dengan hati yang mantap.
Agar selain karirnya bagus, rezeki lancar, kebutuhan terpenuhi, juga masih
mendapat bonus berupa pahala di akhirat. Pekerjaannya bernilai ibadah.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 54

Yèn (kalau) katrima (diridhai) iku (itu) sami (sama-sama), sinung


(mengandung) rahmat (rahmat) samurwate (sepantasnya) badanira (bagi
dirimu). Kalau diridhai itu sama-sama, mengandung rahmat sepantasnya
bagi dirimu.
Kalau apa yang dilakukan itu diterima Tuhan, diridhai maka akan turunlah
rahmat Allah kepadanya, sesuai dengan usaha yang dia lakukan. Dalam
hasil kerja yang diterima terdapat barakah dan rahmat Allah. Apa yang
dihasilkan akan memberi manfaat maksimal kepadanya. Barakah artinya
berdaya guna maksimal. Rezeki yang barokah itu walau sedikit tapi
mampu mencukupi semua kebutuhan. Sebaliknya jika pekerjaannya
menjadi sumber dosa baginya maka hasilnya tak barokah. Walau kelihatan
banyak tapi tidak karuan kemanfaatannya.
Lamun (kalau) tan (tak) mawa (memakai) sarana (sarana), paran (tempat)
katêkaning (tercapainya) kapti (kehendak), lir (seperti) bêdhag (berburu)
tanpa (tanpa) wisaya (alat). Kalau tak memakai sarana, tempat
tercapainya kehendak, seperti berburu tanpa alat.
Semua pekerjaan tadi adalah sarana mencapai kehendak. Apapun itu bila
dikerjakan dengan sungguh-sungguh akan menjadi jalan bagi dirinya
dalam mendekat kepada Tuhan. Tidak soal pekerjaan yang dia tekuni,
asalkan itu pekerjaan halal maka akan menjadi sarana menuju kebaikan.
Karena kebaikan bukanlah sesuatu di ruang kosong, seseorng disebut baik
dilihat dari apa yang dikerjakan dalam hidupnya. Bila tidak ada pekerjaan
maka akan sulitlah dia berbuat baik. Ibaratnya seorang pemburu, apabila
dia berburu tanpa memakai alat maka sulitlah mendapat hewan buruan.
Alat itu bisa bermacam bentuk; ada panah, jerat, perangkap, getah yang
lengket, jaring, dan sebagainya. Semua alat itu menjadi sarana bagi
tertangkapnya hewan buruan. Seperti itulah perumpamaannya.
Sayêktinira (sebenarnya) Hyang (Tuhan) Widhi (Yang Maha Benar), tan
(tak) karsa (mau) mitulungi (menolong), marang (kepada) wong (orang)
kang (yang) datan (tidak) laku (mengamalkan). Sebenarnya Tuhan Yang
Maha Benar, tak mau menolong, kepada orang yang tidak mengamalkan.
Karena sesungguhnya Tuhan tidak akan memberi pertolongan kepada
orang yang tidak melakukan amalan apapun. Dia tidak akan mendahului
memberi sebelum ada kesungguhan dalam perbuatan manusia. Oleh sebab
itu yang paling penting adalah melakukan sesuatu dengan sungguh-
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 55

sungguh. Apapun itu akan menjadi sarana datangnya pertolongan Tuhan


baginya. Akan menjadi sarana baginya untuk mendapat ridha Tuhan. Akan
menjadi sarana baginya untuk mendapat pahala.
Nir (tanpa) ngamal (beramal) myang (dan) panêmbah (ibadah), kumudu
(mengharuskan) dipun (di) turuti (turuti), ngêndi (mana) ana (ada) Gusti
(Tuhan) rinèh (diatur) ing (oleh) kawula (hambanya). Tanpa beramal dan
ibadah, mengharuskan dituruti, mana ada Tuhan diatur oleh hambanya.
Tanpa melakukan amal perbuatan dan ibadah, kemudian mengharuskan
keinginannya dikabulkan itu tak mungkin terjadi. Mana ada Tuhan kok
diatur oleh makhluknya. Sedangkan bagi yang telah melakukan amal
perbuatan pun dia masih harus membersihkan niat agar perbuatannya
diterima. Tentu tak masuk akal jika seseorang tak pernah melakukan
kebaikan mengharap pahala.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 56

Kajian Wirawiyata (1:8-9): Brekah Saka Wong Tuwa


Pupuh 1, bait 8-9, Sinom (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a), Serat
Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Kang mangkono andupara,
lamun jinurung ing kapti,
malah nandhang duka cipta,
kasiku angrèh Hyang Widhi.
Marmanta sira sami,
aja kasusu panggayuh,
manawa durung ngrasa,
duwe ngamal kang nglabêti,
bêcik sira angona lakuning praja.

Dene sira iku agya,


antuk kawiryawan mangkin,
yêktine katut prabawa,
saking lêluhurmu sami.
Nguni wus potang sakit,
dadya ing kapenakipun,
tumiba marang sira.
Marma dèn sukur ing Widhi,
tarimanên brêkahe wong tuwanira.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Yang demikian itu mustahil,
kalau dituruti dalam keinginannya,
malah mengalami kesedihan,
dihukum karena memerintah Tuhan.
Oleh karena itu engkau semua,
jangan tergesa-gesa mencapai (keinginan),
kalau belum merasa,
mempunyai amal yang merupakan jasa,
lebih baik engkau memakai tata aturan negara.

Adapun bika sekarang engkau segera,


mendapat pangkat keperwiraan,
sesungguhnya hanya terbawa wibawa,
dari leluhurmu semua.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 57

Ketika dahulu sudah mempunyai piutang bersakit-sakit,


sehinnga ketika mendapat kesenangan,
jatuh kepadamu.
Karenanya bersyukurlah kepada Tuhan Yang Maha Benar,
mendapat berkah dari orang tuamu.

Kajian per kata:


Kang (yang) mangkono (demikian itu) andupara (mustahil), lamun
(kalau) jinurung (dituruti) ing (dalamn) kapti (keinginan), malah (malah)
nandhang (mengalami) duka cipta (kesedihan), kasiku (dihukum) angrèh
(memerintah) Hyang (Tuhan) Widhi (Yang Maha Benar). Yang demikian
itu mustahil, kalau dituruti dalam keinginannya, malah mengalami
kesedihan, dihukum karena memerintah Tuhan.
Orang yang mendapat anugrah tanpa berusaha itu mustahil. Kalaupun ada
yang bermaksud demikian itu maka justru mendatangkan kesedihan
baginya. Dia akan dihukumi sebagi memerintah kepada Tuhan. Dia akan
dikenal sebagai tak tahu tatakrama kepada Tuhan. Dia tak menghargai
Tuhan sebagai sesembahan. Dia telah meremehkan Tuhan dengan
menjadikannya pemuas hawa nafsunya.
Marmanta (oleh karena) sira (engkau) sami (semua), aja (jangan) kasusu
(tergesa-gesa) panggayuh (mencapai), manawa (kalau) durung (belum)
ngrasa (merasa), duwe (mempunyai) ngamal (amal) kang (yang) nglabêti
(merupakan jasa), bêcik (lebih baik) sira (engkau) angona (memakai)
lakuning (tata aturan) praja (negara). Oleh karena itu engkau semua,
jangan tergesa-gesa mencapai (keinginan), kalau belum merasa,
mempunyai amal yang merupakan jasa, lebih baik engkau memakai tata
aturan negara.
Oleh karena itu, dalam perbuatan sehari-hari berlakulah demikian.
Misalnya, engkau sekarang sebagai prajurit, jika belum mempunyai amal
dan jasa jangan sampai tergesa-gesa ingin mendapat anugrah dari raja.
Lebih baik memakai aturan yang berlaku sesuai aturan negara dengan
sungguh-sungguh. Kelak bila baktimu diterima anugrah akan menyertai ke
manapun engkau ditempatkan.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 58

Dene (adapun) sira (engkau) iku (itu) agya (segera), antuk (mendapat)
kawiryawan (pangkat keperwiraan) mangkin (sekarang), yêktine
(sesungguhnya) katut (terbawa) prabawa (wibawa), saking (dari)
lêluhurmu (leluhurmu) sami (semua). Adapun bika sekarang engkau
segera, mendapat pangkat keperwiraan, sesungguhnya hanya terbawa
wibawa, dari leluhurmu semua.
Kalaupun sekarang engkau seolah segera mendapat pangkat keperwiraan
yang tinggi, tanpa berjuang lebih dahulu maka sesungguhnya engkau
hanya terbawa oleh apa yang dilakukan oleh para leluhurmu. Engkau
hanya menuai hasil yang telah dirintis para pendahulu kita. Engkau
menempati tempat yang mereka sediakan dengan susah payah. Ibarat
seperti nglungguhi klasa gumelar, tinggal duduk di tikar yang
dibentangkan orang lain.
Nguni (ketika dahulu) wus (sudah) potang (mempunyai piutang) sakit
(bersakit-sakit, menderita), dadya (sehingga) ing (dalam) kapenakipun
(mendapat senang), tumiba (jatuh) marang (kepada) sira (kamu). Ketika
dahulu sudah mempunyai piutang bersakit-sakit, sehinnga ketika mendapat
kesenangan, jatuh kepadamu.
Para leluhur itu ketika dahulu sudah mempunyai piutang bersakit-sakit,
sehingga ketika tiba saat untuk menikmatinya maka anak cucunya yang
menemukan. Giliran mendapat kenikmatan jatuh kepadamu, kalian semua.
Perumpamaan seperti seorang tua yang menanam pohon jati. Pohon itu
baru akan menghasilkan kayu untuk bahan bangunan setelah berumur
puluhan tahun bahkan ratusan tahun. Maka setiap orang yang bersusah
payah menanam pohon jati yang akan mendapat hasil adalah anak
cucunya.
Marma (karena itu) dèn (di) sukur (syukur) ing (pada) Widhi (Tuhan
Yang Maha Benar), tarimanên (terimalah) brêkahe (berkah dari) wong
(orang) tuwanira (tuamu). Karenanya bersyukurlah kepada Tuhan Yang
Maha Benar, mendapat berkah dari orang tuamu.
Segala apapun yang kau terima adalah hasil jerih payah dari para
leluhurmu. Mereka yang telah berjuang hingga bediri sebuah negara yang
dapat menjadi tempat berlindung bagimu. Syukurilah kepada Tuhan karena
mendapat berkah dan anugrah dari perbuatan orang tuanmu.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 59

Kajian Wirawiyata (1:10-11): Nuladha Gusti Mangkunagara I


Pupuh 1, bait 10-11, Sinom (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a),
Serat Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Jêr janma kang wus minulya,
lir wadhahe lênga wangi,
upamane winantonan,
gandane saya mênuhi,
nadyan ngisenan warih,
tabêting we maksih arum.
Kang môngka sudarsana,
Jêng Gusti Pangran Dipati,
Arya Mangkunagara ingkang kapisan.

Duk bêbadhe murwèng yuda,


nèng alas limalas warsi,
sèwu lara sèwu papa,
ngupaya mulyaning dhiri.
Antuk pitulung Widhi,
katutugan karsanipun,
mukti sawadyanira,
tumêrah dalah samangkin,
buyut canggah kasrambah milu wibawa.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Karena manusia yang sudah mulia,
seperti botol minyak wangi,
umpama diganti isinya,
wanginya semakin semerbak.
Walau hanya diisi air,
sisa-sisa wanginya masih membekas pada air itu.
Yang sebagai contoh,
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati,
Arya Mangkunagara yang pertama.

Ketika akan memulai perang,


di hutan lema belas tahun,
seribu sakit seribu derita,
mencari kemuliaan diri.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 60

Mendapat pertolongan Tuhan Yang Maha Benar,


tercapai kehendaknya,
kecukupan bersama balatentaranya,
berkembang sampai sekarang,
buyut canggah tercakup ikut hidup mulia.

Kajian per kata:


Jêr (karena) janma (manusia) kang (yang) wus (sudah) minulya (mulia),
lir (seperti) wadhahe (botol) lênga (minyak) wangi (wangi), upamane
(seumpama) winantonan (digantikan), gandane (baunya) saya (semakin)
mênuhi (memenuhi, semerbak). Karena manusia yang sudah mulia,
seperti botol minyak wangi, umpama diganti isinya semakin semerbak.
Manusia yang mulia itu ibarat botol minyak wangi. Kalau sebuah botol
minyak wangi yang sudah kosong diisi minyak wangi lagi, maka wanginya
akan menjadi-jadi karena bekas wangi dari minyak terdahulu masih
menempel di botol.
Nadyan (walau) ngisenan (diisi) warih (air), tabêting (sisa-sianya) we
(air) maksih (masih) arum (wangi). Walau hanya diisi air, sisa-sisa
wanginya masih membekas pada air itu.
Bahkan andai diisi dengan air pun akan terasa sisa-sisa wanginya. Sisa
wanginya akan larut dalam air, dan airnya menyisakan bau wangi.
Kang (yang) môngka (sebagai) sudarsana (contoh), Jêng (Kanjeng) Gusti
(Gusti) Pangran (Pangeran) Dipati (Adipati), Arya (Arya) Mangkunagara
(Mangkunagara) ingkang (yang) kapisan (pertama). Yang sebagai contoh,
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati, Arya Mangkunagara yang pertama.
Sebagai contoh apa yang dilakukan oleh KGPAA Mangkunagara I. Beliau
ibarat botol minyak wangi tadi. Namanya masih harum wangi terasa
sampai beberapa generasi keturunannya. Dan itu akibat dari perjuangannya
dalam hidupnya dahulu, yang telah berusaha keras selalu menapak jalan
keutamaan.
Duk (ketika) bêbadhe (akan) murwèng (memulai) yuda (perang), nèng
(di) alas (hutan) limalas (lima belas) warsi (tahun), sèwu (seribu) lara
(sakit) sèwu (seribu) papa (derita), ngupaya (mencari) mulyaning
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 61

(kemuliaan) dhiri (diri). Ketika akan memulai perang, di hutan lima belas
tahun, seribu sakit seribu derita, mencari kemuliaan diri.
Ketika akan memulai perang, beliau rela menyusup ke hutan-hutan. Hidup
susah dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Semua itu demi
memperjuangkan cita-citanya membentuk kerajaan sendiri. Ibarat
mengalami seribu sakit, seribu derita dalam upaya mencari kemuliaan diri.
Antuk (mendapat) pitulung (pertolongan) Widhi (Tuhan), katutugan
(tercapai) karsanipun (kehendaknya), mukti (kecukupan) sawadyanira
(bersama balatentaranya), tumêrah (berkembang) dalah (bersama-sama)
samangkin (sampai sekarang), buyut (buyut) canggah (canggah)
kasrambah (tercakup) milu (ikut) wibawa (mulia, punya posisi, punya
pengaruh). Mendapat pertolongan Tuhan Yang Maha Benar, tercapai
kehendaknya, kecukupan bersama balatentaranya, berkembang sampai
sekarang, buyut canggah tercakup ikut hidup mulia.
Setelah perjuangan yang panjang, beliau mendapat pertolongan Tuhan.
Apa yang dicita-citakan tercapai. Beliau dapat hidup mulia berkecukupan
bersama seluruh punggawa dan balatentaranya. Namanya harum dan
disegani oleh kawan dan lawan. Negaranya berkembang sampai sekarang.
Memberi kepada anak-cucu, buyut-canggah dengan kehidupan yang mulia.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 62

Kajian Wirawiyata (1:12-13): Kadya Lenga Wangi Arume Tansah


Gumanti
Pupuh 1, bait 12-13, Sinom (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a),
Serat Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Iku ta kayêktènira,
pralambanging lênga wangi.
Upamane duk samana,
tan antuk pitulung Widhi,
praptane zaman iki,
tan ana caritanipun.
Marma dèn èngêt sira,
aja ngaku angêngkoki,
mung ngrasaa lamun anêmpil wibawa.

Mangkana gya winantonan,


marang kang jumênêng malih,
Jêng Gusti Pangran Dipatya,
Mangkunagara ping kalih,
pinèt sraya mring Enggris,
amukul nagri Matarum,
sabêdhahe kang praja,
ginanjar sèwu kang bumi,
dadi têtêp lênggah limang èwu karya.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Itulah kenyataannya,
dari perumpamaan minyak wangi tadi.
Seumpama ketika waktu itu,
tak mendapat pertolongan Tuhan,
sampai zaman ini,
tak ada ceritanya.
Maka ingatlah engkau,
jangan mengaku melakukan sendiri,
hanya selalu merasalah kalau ikut menikmati kemuliaan.

Demikian pula ketika segera berganti,


kepada yang berdiri lagi sebagai,
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati,
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 63

Mangkunagara II.
Disuruh oleh Inggris,
menyerang negeri Mataram,
setelah takluk negeri itu,
diberi hadiah seribu tanah,
menjadi tetap tanah lungguhnya lima ribu karya.

Kajian per kata:


Iku ta (itulah) kayêktènira (kenyataannya, sebenarnya), pralambanging
(perumpamaan dari) lênga (minyak) wangi (wangi). Itulah kenyataannya,
dari perumpamaan minyak wangi tadi.
Dalam kehidupan nyata riwayat kehidupan KGPAA Mangkunagara I
adalah wujud nyata dari perumpamaan minyak wangi tadi.
Upamane (seumpama) duk (ketika) samana (waktu itu), tan (tak) antuk
(mendapat) pitulung (pertolongan) Widhi (Tuhan), praptane (sampai)
zaman (zaman) iki (ini), tan (tak) ana (ada) caritanipun (ceritanya).
Seumpama ketika waktu itu, tak mendapat pertolongan Tuhan, sampai
zaman ini, tak ada ceritanya.
Kalau saja Mangkunagara I tidak berupaya keras meraih kemuliaan, dan
atas pertolongan Tuhan kemudian beliau berhasil, maka sampai zaman ini
takkan ada cerita tentang beliau. Namun karena beliau sudah berupaya
dengan sungguh-sungguh dan membuahkan hasil, namanya tetap dikenang
sampai sekarang. Beliau seperti minyak wangi pertama dalam wadah botol.
Ketika minyak itu habis dan botol diisi air pun aromanya tetap wangi.
Marma (maka dari itu) dèn èngêt (ingatlah) sira (engkau), aja (jangan)
ngaku (mengaku) angêngkoki (melakukan sendiri), mung (hanya)
ngrasaa (merasalah) lamun (kalau) anêmpil (ikut menikmati) wibawa
(kemuliaan). Maka ingatlah engkau, jangan mengaku melakukan sendiri,
hanya selalu merasalah kalau ikut menikmati kemuliaan.
Engkau ini ibaratnya hanya air pengisi botol itu. Wangimu bukan dari
baumu sendiri. Sadarilah itu. Jangan sekali-kali mengaku melakukan
kemuliaan sendiri. Itu klaim terlalu berat. Yang kau lakukan tak seberapa.
Kalau engkau sekarang kelihatan berhasil itu karena sudah ada yang
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 64

membuka jalan terlebih dahulu. Engkau hanya ikut menikmati dari apa
yang sudah orang-orang terdahulu kerjakan.
Mangkana (demikian pula) gya (segera) winantonan (berganti), marang
(kepada) kang (yang) jumênêng (berdiri) malih (lagi), Jêng (Kanjeng)
Gusti (Gusti) Pangran (Pangeran) Dipatya (adipati), Mangkunagara
(Mangkunagara) ping kalih (kedua). Demikian pula ketika segera
berganti, kepada yang berdiri lagi sebagai, Kanjeng Gusti Pangeran
Adipati, Mangkunagara II.
Demikian pula ketika pimpinan berganti kepada yang berdiri sebagai raja
selanjutnya, yakni KGPA Mangkunagara II. Ini bukan air yang mengisi
botol minyak wangi lama, tetapi minyak wangi yang mengisi botol lama,
sehingga wanginya semakin semerbak. Hal itu karena sang pengganti
sama-sama berupaya keras seperti pendahulunya. Sebagai contoh beliau
tetap bisa mempertahankan keperwiraan pendahulunya dengan membuat
kekuatan militer Mangkunagaran tetap diperhitungkan. Pada masanya
dibentuk Legiun Mangkunagaran, atas perintah Gubenur Jenderal Daendles
pada tanggal 29 Juli 1808. Terdiri dari pasukan infanteri dan kavaleri atau
yang dikenal sebagai dragonders, Legiun Mangkunagara dikepalai oleh Sri
Mangkunagara II dengan pangkat kolonel. Dibentuknya Legiun
Mangkunagaran oleh Belanda dimaksudkan sebagai cadangan militer bagi
Pemerintah Hindia-Belanda. Selain itu juga dipakai sebagai kekuatan
penekan bila Surakarta atau Yogyakarta melakukan manuver militer. Bagi
Mangkunagaran dibentuknya legiun ini memberi keuntungan untuk
mengamankan keberadaan negeri mereka. Dalam perjalanan sejarah
Legiun Mangkunagaran terbukti mampu melaksanakan tugas yang
dibebankan kepadanya oleh pemerintah Kolonial.
Pinèt (diambil) sraya (suruh) mring (oleh) Enggris (Inggris), amukul
(menyerang) nagri (negeri) Matarum (Mataram), sabêdhahe (setelah
takluk) kang (yang) praja (negeri), ginanjar (diberi hadiah) sèwu (seribu)
kang (yang) bumi (tanah), dadi (menjadi) têtêp (tetap) lênggah (tanah
lungguh) limang (lima) èwu (ribu) karya (karya). Disuruh oleh Inggris,
menyerang negeri Mataram, setelah takluk negeri itu, diberi hadiah seribu
tanah, menjadi tetap tanah lungguhnya lima ribu karya.
Setelah perjanjian Giyanti yang membagi negara Mataram menjadi
Surakarta dan Yogyakarta, Pangeran Mangkunagara I masih melanjutkan
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 65

perlawanan. Namun akhirnya pada tahun 1757 beliau mengadakan


perjanjian damai dengan Surakarta dan Belanda, atau dikenal dengan
perjanjian Salatiga. Mangkunagara I bersedia menjadi otonom dari
Surakarta dengan tanah lungguh 4000 karya.
Ketika Hindia-Belanda dikuasai Ingrris dan Gubernur Jenderalnya, Raflles,
berseteru dengan Yogyakarta, Legiun Mangkunagaran mendapat tugas
membantu Belanda menekan Yogyakarta. Raja Hamengkubuwana II
kemudian menanda tangani perjanjian baru dengan pemerintah Inggris.
Sebagai balas jasa Inggris memberi tambahan lungguh kepada penguasa
Mangkunagaran saat itu, Adipati Mangkunagara II, dengan tanah 1000
karya.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 66

Kajian Wirawiyata (1:14-15): Pinarcaya Dening Gupremen


Pupuh 1, bait 12-13, Sinom (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a),
Serat Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Rambah malih sinaraya,
marang Guprêmèn Walandi,
mukul prang Dipanagara.
Sarampunge ing ajurit,
ginanjar bumi malih,
Sukawati limang atus,
lan blônja sabên wulan,
môngka ingoning prajurit,
patang èwu patang atus wolung dasa.

Prapta panjênênganira,
Jêng Gusti Pangran Dipati,
Mangkunagara ping tiga,
ing drajad pinrih lêstari,
mangun arjaning budi.
Mring guprêmèn tyas sumungku,
ginanjar kang bandera,
lan mariyêm kalih rakit,
iku môngka tandhaning sih pinarcaya.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Ditambah lagi diminta,
oleh Pemerintah Belanda,
untuk menyerang Pangeran Dipanegara.
Setelah selesai dalam peperangan,
diberi hadiah tanah lagi,
dari bumi Sukowati lima ratus,
dan belanja setiap bulan,
sebagai jatah makan prajurit,
empat ribu empat ratus delapan puluh.

Sampai saat beliau,


Kanjeng Gusti Pangeran Adipati,
Mangkunagara III,
dalam derajat diupayakan lestari,
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 67

membangun kesejahteraan budi.


Kepada Pemerintah hati selalu patuh,
diberi hadiah bendera,
dan meriamdua set,
itu sebagai tanda bahwa dipercaya.

Kajian per kata:


Rambah (ditambah) malih (lagi) sinaraya (diminta tolong, disuruh),
marang (oleh) Guprêmèn (Pemerintah) Walandi (Belanda), mukul
(menyerang) prang (perang) Dipanagara (Dipangara). Ditambah lagi
diminta, oleh Pemerintah Belanda, untuk menyerang Pangeran
Dipanegara.
Setelah keberhasilan menekan Yogyakarta pada zaman Sultan Hamengku
Buwana II, Legiun Mangkunagaran diminta oleh Belanda untuk ikut
memerangi pemberontakan Pangeran Dipanegara.
Legiun Mangkunagaran terbukti menjadi andalan Pemerintah Hindia-
Belanda dalam memadamkan berbagai pemberontakan. Pernah juga
dikirim ke luar Jawa untuk melawan pemberontakan di Aceh. Posisi ini
membuat Mangkunagaran menjadi kekuatan penyeimbang antara kraton
Yogyakarta dan Surakarta.
Sarampunge (setelah selesai) ing (dalam) ajurit (peperangan), ginanjar
(diberi hadiah) bumi (tanah) malih (lagi), Sukawati (Sukowati) limang
atus (lima ratus), lan (dan) blônja (belanja) sabên (setiap) wulan (bulan),
môngka (sebagai) ingoning (jatah makan) prajurit (prajurit), patang
(empat) èwu (ribu) patang (empat) atus (ratus) wolung (delapan) dasa
(puluh). Setelah selesai dalam peperangan, diberi hadiah tanah lagi, dari
bumi Sukowati lima ratus, dan belanja setiap bulan, sebagai jatah makan
prajurit, empat ribu empat ratus delapan puluh.
Setelah selesai perang, Mangkunagaran diberi kompensasi tanah lungguh
seluas 500 karya, yang diambilkan dari bumi Sukowati. Selain itu juga
diberi uang bulanan untuk logistik prajurit Legiun Mangkunagaran
sejumlah 4480 satuan mata uang. Dalam serat ini tidak disebutkan dalam
satuan mata uang apa uang itu diberikan.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 68

Kekuasaan kraton Surakarta makin terdesak karena ternyata Sunan


Pakubuwana VI memihak Dipanagara sehingga diasingkan. Sementara itu
posisi Mangkunagaran makin menguat. Hubungannya dengan Pemerintah
kolonial Hindia-Belanda juga semakin erat. Orientasi politik
Mangkunagaran yang cenderung mendekat kepada Belanda adalah untuk
mempertahankan keberadaan mereka. Dengan status kadipaten di bawah
Surakarta posisi Mangkunagaran sewaktu-waktu bisa goyah. Maka mereka
mengamankan diri dengan bersedia menjadi cadangan pasukan Pemerintah
Hindia Belanda.
Prapta (sampai) panjênênganira, (kepada beliau) Jêng (Kanjeng) Gusti
(Gusti) Pangran (Pangeran) Dipati (Adipati), Mangkunagara
(Mangkunagara) ping tiga (ketiga), ing (dalam) drajad (derajat) pinrih
(diupayakan) lêstari (lestari), mangun (membangun) arjaning
(kesejahteraan) budi (budi). Sampai saat beliau, Kanjeng Gusti Pangeran
Adipati, Mangkunagara III, dalam derajat diupayakan lestari, membangun
kesejahteraan budi.
Sampai pada pemerintahan KGPA Mangkunagara III posisi itu tetap
lestari. Mangkunagaran aman dari intrik politik dan mampu membangun
wilayah mereka. Mereka juga semakin mendapat otonomi untuk mengelola
wilayah mereka sendiri.
Mring (kepada) guprêmèn (Pemerintah) tyas (hati) sumungku (selalu
patuh), ginanjar (diberi hadiah) kang (yang) bandera (bendera), lan (dan)
mariyêm (meriam) kalih (dua) rakit (set), iku (itu) môngka (sebagai)
tandhaning (tanda-tanda) sih (kasih) pinarcaya (dipercaya). Kepada
Pemerintah hati selalu patuh, diberi hadiah bendera, dan meriamdua set,
itu sebagai tanda bahwa dipercaya.
Semua itu terjadi karena mereka selalu patuh kepada Pemerintah Hindia-
Belanda. Mangkunagaran kemudian diberi hadiah bendera, sebagai
lambang pasukan yang mandiri dan dua rakit meriam. Semua itu
menunjukkan kalau mereka dipercaya oleh Pemerintah Hindia-Belanda.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 69

Kajian Wirawiyata (1:16-17): Durung Kaya Leluhurira


Pupuh 1, bait 16-17, Sinom (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a),
Serat Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Kapriye yèn sira ngrasa,
antuka lawan pribadi,
dadi mungkir jênêngira.
Kacirèn lair myang batin,
ginaguywèng sêsami,
lupute gonira ngaku,
langguk piangkuhira.
Kasiku marang Hyang Widhi,
dadi tuna duwe turun kang mangkana.

Lamun yêkti saking sira,


pribadi tandhane êndi.
Apa wus munjuli sira,
marang samaning dumadi,
saking ing kramaniti.
Lawan apa wus misuwur,
ing guna prawiranta,
kang kanggo marang nagari.
Baya durung lir lakone luhurira.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Bagaimana kalau engkau merasa,
mendapat dengan upaya sendiri,
menjadi ingkar sebutan bagimu.
Ditndai sebagai cacat lahir dan batin,
ditertawakan oleh sesama,
kesalahannya engkau mengaku-aku,
angkuh sombong kelakuannya.
Dihukum oleh Tuhan Yang Maha Benar,
menjadi rugi mempunyai keturunan seperti itu.

Kalau sungguh darimu,


sendiri tandanya mana?
Apa sudah mempunyai kelebihan engkau,
dari sesama makhluk,
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 70

dalam hal tatakrama.


Dan apa sudah terkenal engkau,
dalam ilmu keperwiraan,
yang berguna pada negara.
Lah ternyata belum seperti pengalaman leluhurmu.

Kajian per kata:


Kapriye (bagaimana) yèn (kalau) sira (engkau) ngrasa (merasa), antuka
(mendapat) lawan (dengan upaya) pribadi (sendiri), dadi (menjadi)
mungkir (ingkar) jênêngira (sebutan bagimu). Bagaimana kalau engkau
merasa, mendapat dengan upaya sendiri, menjadi ingkar sebutan bagimu.
Setelah pemaparan tersebut di atas, tentang perjuagan KGPA
Mangkunagara I sampai KGPA Mangkunagara III, terbukti bahwa
perjuangan merekalah yang membuat negeri ini tegak berdiri. Negeri ini
tetap kokoh karena pendirinya dan penggantinya sama-sama melakukan
bakti yang besar untuk negara. Maka wajarlah kalau engkau, para prajurit
dan punggawa yang hidup di zaman kini menemui kemuliaan. Tetap
sadarlah bahwa pencapaianmu adalah karena berkah para pendahulu.
Bagaimana mungkin engkau mengaku apa yang telah kau dapatkan sebagai
upayamu sendiri. Jika demikian engkau pantas disebut ingkar.
Kacirèn (ditandai cacat) lair (lahir) myang (dan) batin (batin),
ginaguywèng (ditertawakan oleh) sêsami (sesama), lupute (kesalahannya)
gonira (engkau) ngaku (mengaku-aku), langguk (angkuh) piangkuhira
(kesombongannya). Ditndai sebagai cacat lahir dan batin, ditertawakan
oleh sesama, kesalahannya engkau mengaku-aku, angkuh sombong
kelakuannya.
Kaciren artinya diciri, yakni dikenali oleh orang banyak sebagi orang yang
cacat moral. Orang seperti itu akan ditandai sebagai cacat lahir dan
batinnya. Ditertawakan oleh sesama, artinya diremehkan kepribadiannya.
Karena ulahnya mengaku-aku tersebut, tampak angkuh sombong
kelakuannya. Setelah ingkar terhadap jasa dan rintisan leluhur sifat
sombong dan angkuh pun menjadi cacat baginya.
Kasiku (dihukum) marang (oleh) Hyang (Tuhan) Widhi (Maha Benar),
dadi (menjadi) tuna (rugi) duwe (mempunyai) turun (keturunan) kang
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 71

(yang) mangkana (deperti itu). Dihukum oleh Tuhan Yang Maha Benar,
menjadi rugi mempunyai keturunan seperti itu.
Jangan mengaku-aku begitu. Nanti mendapat hukuman Tuhan. Diciri oleh
banyak orang sebagai tidak memuliakan leluhur. Nyata-nyata rugi leluhur
yang mempunyai keturunan seperti itu. Tidak bisa mikul dhuwur mendhem
jero terhadap para leluhurnya.
Lamun (kalau) yêkti (sungguh) saking (dari) sira (engkau), pribadi
(sendiri) tandhane (tandanya) êndi (mana). Kalau sungguh darimu, sendiri
tandanya mana?
Kalau engkau memang mampu meraih kemuliaan atas dirimu sendiri,
tandanya mana? Jasa apa yang telah engkau lakukan? Hal besar apa yang
telah engkau perbuat?
Apa (apa) wus (sudah) munjuli (mempunyai kelebihan) sira (engkau),
marang (dari) samaning (sesamanya) dumadi (makhluk), saking (dari)
ing (pada) kramaniti (tatakrama). Apa sudah mempunyai kelebihan
engkau, dari sesama makhluk, dalam hal tatakrama.
Apa engkau sudah mempunyai kelebihan dari sesama makhluk dalam hal
tatakrama. Apakah punya kelebihan dalam olah susastra, pengetahuan seni
dan budaya. Sebagaimana keahlian yang dikuasai oleh para pendahulu. Sri
Mangkunagara I misalnya, adalah ahli seni yang menciptakan berbagai
tarian bedaya. Seperti bedhaya Anglirmendhung, bedaya Diradameta dan
bedhaya Sukpratama.
Lawan (dan) apa (apa) wus (sudah) misuwur (terkenal), ing (dalam) guna
(ilmu) prawiranta (keperwiraan), kang (yang) kanggo (berguna) marang
(pada) nagari (negara). Dan apa sudah terkenal engkau, dalam ilmu
keperwiraan, yang berguna pada negara.
Apakah engkau sudah terkenal dalam hal keperwiraan? Pandai mengatur
siasat perang? Mampu menaklukkan musuh? Apakah engkau sudah berjasa
pada negara? Apakah sudah menjadi pahlawan yang menyumbang hal-hal
berguna kepada negara? Apakah sudah menjadi penolong masyarakat?
Belum kan? Para pendiri negara ini telah berjuang puluhan tahun ketika
perang suksesi, ketika kemudian terjadi palihan nagari dan ketika
kemudian mendapat kekuasaan wilayah sendiri sebagai kadipaten
Mangkunagaran. Mereka telah menjalani kehidupan sebagai prajurit yang
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 72

gagah berani di medan perang. Sedangkan kamu, apa yang sudah kamu
lakukan untuk negara?
Baya (lah ternyata) durung (belum) lir (seperti) lakone (pengalaman)
luhurira (leluhurmu). Lah ternyata belum seperti pengalaman leluhurmu.
Ternyata apa yang kau lakukan belum seperti yang dilakukan oleh para
leluhur. Apa yang engkau kerjakan belum menyamai karya-karya mereka.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 73

Kajian Wirawiyata (1:18-20): Aja Munggel Kamulyane Leluhur


Pupuh 1, bait 18-20, Sinom (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a),
Serat Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Pirabara sira bisa,
nguruni darajad malih,
dadi jangêt kinatigan,
majade santosèng wuri,
tumurun marang siwi,
sukur bisa praptèng putu,
milu tômpa kawiryan.
Yogyane angkahên kaki,
ra-orane aja punggêl saking sira.

Lamun drajad kalakona,


punggêle saking sirèki,
dadi sira nganiaya,
marang darahmu pribadi.
Tan kandêl ingkang wuri,
dhapur kaputungan laku.
Salagi têmbe bisa,
antuk kang darajad malih,
sêsambungan yêkti bêcik kang widada.

Upama nora punggêla,


jêr nora ngupaya malih.
Yèn wus punggêl nadyan sira,
sêmèdi ing sabên ratri,
antuke durung mêsthi,
tiwas angêngècèr laku.
Marma dèn èngêt sira,
sajrone lumakwèng kardi,
pangrêksamu ing drajad aywa pêpeka.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia.


Lebih baik engkau bisa,
menyumbang derajat lagi,
menjadi tiga ikatan yang kuat,
nama baiknya sentosa di belakang hari,
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 74

menurun pada anak-anak,


syukur bisa sampai cucu,
ikut menerima keperwiraan.
Sebaiknya rencanakan, anakku,
setidak-tidaknya hal itu tidak terputus pada dirimu.

Kalau derajat sampai terjadi,


terputusnya dari dirimu,
jadilah engkau berbuat aniaya,
kepada keturunanmu sendiri.
Tak sentosa yang belakangan,
wujud dari terputusnya jalan.
Selagi kelak bisa,
mendapat derajat lagi,
kesinambungan sungguh lebih baik yang selamat sejahtera.

Seumpama tidak putus,


dengan demikian tidak mengupayakan lagi.
Kalau sudah terlanjur putus walau engkau,
bertapa setiap malam,
belum tentu mendapatkannya,
hanya malah berceceran upayanya.
Oleh karena itu ingatlah engkau,
dalam melakukan pekerjaan,
penjagaanmu dalam derajat jangan sembarangan.

Kajian per kata:


Pirabara (lebih baik) sira (engkau) bisa (bisa), nguruni (menyumbang)
darajad (derajat) malih (lagi), dadi (menjadi) jangêt kinatigan (rangkap
tiga), majade (nama baiknya) santosèng (sentosa) wuri (di belakang hari),
tumurun (menurun) marang (pada) siwi (anak-anak), sukur (syukur) bisa
(bisa) praptèng (sampai) putu (cucu), milu (ikut) tômpa (menerima)
kawiryan (kemuliaan). Lebih baik engkau bisa, menyumbang derajat lagi,
menjadi tiga ikatan yang kuat, nama baiknya sentosa di belakang hari,
menurun pada anak-anak, syukur bisa sampai cucu, ikut menerima
keperwiraan.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 75

Janget kinatigan atau janget kinatelon adalah ungkapan untuk


menunjukkan kesentosaan karena adanya tiga orang yang saling bahu
membahu. Dalam hal ini kalau seseorang dapat napak-tilas keperwiraan
orang tuanya, kemudian berlanjut kepada cucunya, maka akan semakin
kuat dan berpengaruh nama baik keluarga itu. Anak-anak keturunan yang
datang belakangan tidak hanya mengandalkan nama besar keluarga
mereka, tetapi justru menambah nama baik itu dengan perbuatan yang
mulia. Jika demikian akan semakin mudah bagi keturunan selanjutnya
kelak untuk meraih kemuliaan.
Kawiryan adalah derajat tinggi dalam masyarakat yang dicapai karena
perbuatan baik, yakni perbuatan prawira atau watak ksatria. Seorang yang
berwatak ksatria adalah orang yang dapat diandalkan untuk mengatasi
masalah, cakap dan tidak takut resiko. Bila sudah berkeyakinan maka dia
akan membela keyakinan itu, tidak peduli jika harus mengorbankan
kepentingannya sendiri, bahkan nyawanya sendiri sekalipun.
Yogyane (sebaiknya) angkahên (rencanakan, cita-citakan) kaki (anakku),
ra-orane (setidak-tidaknya) aja (jangan) punggêl (putus) saking (pada)
sira (dirimu). Sebaiknya rencanakan, anakku, setidak-tidaknya hal itu
tidak terputus pada dirimu.
Cita-citakan hal itu untuk kau lakukan. Upayakan dalam perbuatan.
Lestarikan apa yang telah dirintis oleh para leluhur. Jangan berpuas diri
dengan warisan mereka, tetapi sumbangkan juga kemampuanmu untuk
semakin mengharumkan nama baik leluhur. Jangan sampai kemuliaan itu
putus hanya sampai pada dirimu. Namun upayakan agar juga mengalir
kepada anak-cucumu kelak.
Lamun (kalau) drajad (derajat) kalakona (sampai terjadi), punggêle
(putusnya) saking (dari) sirèki (dirimu), dadi (jadi) sira (engkau) nganiaya
(berbuat aniaya), marang (kepada) darahmu (darah) pribadi (sendiri).
Kalau derajat sampai terjadi, terputusnya dari dirimu, jadilah engkau
berbuat aniaya, kepada keturunanmu sendiri.
Kalau sampai derajat leluhurmu terputus kemuliaannya oleh sebab dirimu,
maka engkau telah berbuat aniaya kepada keturunanmu sendiri. Engkau
telah mendapat warisan kemuliaan yang bisa membuatmu hidup enak dan
mulia, tetapi engkau tidak melanjutkan kemuliaan itu. Bahkan engkau
memutus mata rantai kemuliaan itu dengan perbuatan tercela. Maka
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 76

engkau telah berbuat aniaya kepada keturunanmu. Mereka tidak bisa ikut
menikmati kemuliaan leluhurnya oleh sebab dirimu.
Tan (tak) kandêl (sentosa) ingkang (yang) wuri (belakangan), dhapur
(wujud) kaputungan (terputus) laku (jalan). Tak sentosa yang belakangan,
wujud dari terputusnya jalan.
Anak-anak keturunanmu yang datang belakangan tidak dapat
mengandalkan nama baik leluhurnya, karena kemuliaan telah terputus pada
dirimu. Mereka adalah perwujudan dari orang-orang yang terputus jalan
kemuliaannya. Naman baik keluarga sudah tidak sentosa lagi untuk
menopang keturunan selanjutnya.
Salagi (selagi) têmbe (kelak) bisa (bisa), antuk (mendapat) kang (yang)
darajad (derajat) malih (lagi), sêsambungan (kesinambungan) yêkti
(sungguh) bêcik (baik) kang (yang) widada (selamat sejahtera). Selagi
kelak bisa, mendapat derajat lagi, kesinambungan sungguh lebih baik
yang selamat sejahtera.
Selagi kelak bisa diraih kemuliaan itu maka upayakan derajat yang tinggi
untuk kesejahteraan keluarga sampai anak-keturunanmu. Dengan cara
mempertahankan hal-hal baik yang telah dilakukan oleh para leluhur. Agar
kemulian itu mengalir berkesinambungan antar generasi. Itu lebih
menjamin keberhasilannya kelak bagi anak cucu, daripada mereka harus
berjuang lagi dari nol. Maka sungguh-sungguh upayakanlah!
Upama (seumpama) nora (tidak) punggêla (putus), jêr (dengan demikian)
nora (tidak) ngupaya (mengupayakan) malih (lagi). Seumpama tidak
putus, dengan demikian tidak mengupayakan lagi.
Kalau kemuliaan itu tak putus maka tinggal melanjutkan. Anak cucu tidak
lagi memulai dari nol berjuang meraih derajat kemuliaan. Tinggal
melanjutkan saja. Tentu akan lebih mudah bagi mereka untuk meraih
keberhasilan.
Yèn (kalau) wus (sudah) punggêl (putus) nadyan (walau) sira (engkau),
sêmèdi (bertapa) ing (di) sabên (tiap) ratri (malam), antuke
(mendapatkannya) durung (belum) mêsthi (pasti), tiwas (hanya malah)
angêngècèr (berceceran) laku (upayanya). Kalau sudah terlanjur putus
walau engkau, bertapa setiap malam, belum tentu mendapatkannya, hanya
malah berceceran upayanya.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 77

Sebab kalau merintis dari awal belum tentu akan berhasil. Walau sungguh
berupaya keras dengan bertapa setiap malam. Walau dengan berperang
setiap hari. Belum tentu berhasil. Semua itu karena atas pertolongan Tuhan
Yang Maha Kuasa. Semua atas seizinNya. Bagaimana akan dipastikan
berhasil kalau Tuhan tidak meridhai? Maka jalan yang lebih mudah
bagimu adalah melanjutkan keberhasilan itu dengan selalu menjaga
perilaku baik agar pencapaian itu lestari.
Marma (oleh karena itu) dèn èngêt (ingatlah) sira (engkau), sajrone
(dalam) lumakwèng (melakukan) kardi (pekerjaan), pangrêksamu
(penjagaanmu) ing (dalam) drajad (derjat) aywa (jangan) pêpeka
(sembrono, sembarangan). Oleh karena itu ingatlah engkau, dalam
melakukan pekerjaan, penjagaanmu dalam derajat jangan sembarangan.
Oleh karena dalam melakukan setiap pekerjaan selalu ingatlah bahwa
keberhasilanmu dalam melakukannya akan menjaga kemuliaan yang telah
dirintis leluhur. Syukur kalau dapat melakukan karya yang lebih baik
sehingga kemuliaan itu semakin bertambah. Jangan sekali-kali berbuat
sembarangan sehingga kemuliaan itu meredup. Lakukan dengan standar
moral seperti yang telah dilakukan para pendahulu kita.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 78

Kajian Wirawiyata (1:21-22): Wandaning Prajurit


Pupuh 1, bait 21-22, Sinom (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a),
Serat Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Dene jêjêre wandanta,
ing mêngko dadi prajurit,
maju baris lawan jaga,
tiyori lèsan sêpèksi,
iku dudu pakarti,
ajar-ajar jênêngipun,
wus dadi wajibira.
Prajurit dipun gêladhi,
pêpadhane santri ingajar sêmbahyang.

Sinung ukum sawatara,


yèn nglirwakkên marang wajib,
iku wus lakuning praja,
jêjêge kalawan ngadil.
Sanadyan liyan janmi,
duk nèng yayah remanipun,
yèn luput rinêngonan,
utawa dèn jêmalani,
dadi iku winêruhkên tatakrama.

Terjemahan dalam bahasa Indoseia:


Adapun sebagai gambaran bagimu,
pada saat nanti menjadi prajurit,
maju baris dan berjaga,
teori dengan sasaransebersar burung,
itu bukan pekerjaan yang sebenarnya,
baru belajar namanya.
Sudah menjadi kewajibanmu,
prajurit dilatih,
sama seperti santri diajarkan shalat.

Semua latihan tadi ada beberapa hukuman,


kalau sampai melalaikan kewajiban,
itu sudah menjadi tatacara negara,
aturan itu berdiri dengan adil.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 79

Walaupun kepada orang lain,


atau kepada saudara seayah ibu,
kalau salah dimarahi,
atau dipukul,
jadi dengan cara itu ditunjukkan tatakrama prajurit.

Kajian per kata:


Dene (adapun) jêjêre (sebagai) wandanta (gambaran bagimu), ing (pada
saat) mêngko (nanti) dadi (menjadi) prajurit (prajurit), maju (maju) baris
(baris) lawan (dan) jaga (berjaga), tiyori (teori) lèsan (sasaran) sêpèksi
(sebesar burung), iku (itu) dudu (bukan) pakarti (pekerjaan), ajar-ajar
(untuk belajar) jênêngipun (namanya). Adapun sebagai gambaran bagimu,
pada saat nanti menjadi prajurit, maju baris dan berjaga, teori dengan
sasaransebersar burung, itu bukan pekerjaan yang sebenarnya, baru
belajar namanya.
Itulah prinsip moral yang harus engkau pegang sebagai calon prajurit.
Sekarang ketahuilah sebagai gambaran bagimu. Pada saat nanti engkau
menjadi prajurit akan dilatih maju berbaris dan berjaga, diberi teori dengan
sasaran sebesar burung. Itu bukan pekerjaanmu nanti, tetapi hanya sebagai
sarana belajar.
Lesan sepeksi artinya sasaran sebesar burung. Mungkin ini adalah latihan
memanah atau menembak. Karena Sri Mangkunagara adalah komandan
Legiun Mangkunagaran, kesatuan militer yang telah modern, maka
pelajaran baris berbaris dan pendidikan militernya telah mengikuti standar
dari tentara Belanda. Akan ada banyak latihan yang ketat dan disiplin
nantinya.
Wus (sudah) dadi (menjadi) wajibira (kewajibanmu), prajurit (prajurit)
dipun (di) gêladhi (latih), pêpadhane (sama seperti) santri (santri) ingajar
(diajarkan) sêmbahyang (shalat). Sudah menjadi kewajibanmu, prajurit
dilatih, sama seperti santri diajarkan shalat.
Ini merujuk kepada pelatihan yang disiplin tadi. Seperti seorang santri
yang harus detail menguasai tatacara sembahyang, sejak thaharah sampai
berdoa, dengan banyak aturan dan dasar-dasar ilmu dari Al Qur’an, Hadits
dan pendapat para ulama, demikian pula bagi seorang prajurit. Mereka
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 80

harus menguasai teori kemiliteran, strategi perang dan kemampuan tempur


dengan berbagai senjata. Juga harus menguasai baris berbaris, untuk
berlatih kompak dan disiplin pada posisi masing-masing. Latihan yang
berat yang mengadung tantangan juga diberikan untuk menambah
kekuatan mental dan daya juang.
Sinung (ada, mengandung) ukum (hukuman) sawatara (beberapa), yèn
(kalau) nglirwakkên (melalaikan) marang (pada) wajib (kewajiban), iku
(itu) wus (sudah) lakuning (tatacara dalam) praja (negara), jêjêge (berdiri)
kalawan (dengan) ngadil (adil). Semua latihan tadi ada beberapa
hukuman, kalau sampai melalaikan kewajiban, itu sudah menjadi tatacara
negara, aturan itu berdiri dengan adil.
Dari serangkain latihan yang diberikan akan ada hukuman bagi mereka
yang melalaikan kewajiban, melanggar disiplin dan bagi yang tidak patuh.
Demikianlah tatacara kemiliteran yang berlaku sesuai aturan negara.
Dalam hal ini aturan militer ditegakkan dengan adil.
Sanadyan (walaupun) liyan (lain) janmi (orang), duk (ketika) nèng (di)
yayah (ayah) renanipun (ibunya), yèn (kalau) luput (salah) rinêngonan
(dimarahi), utawa (atau) dèn (di) jêmpalani (dipukul), dadi (jadi) iku (itu)
winêruhkên (ditunjukkan) tatakrama (tatakrama). Walaupun kepada
orang lain, atau kepada saudara seayah ibu, kalau salah dimarahi, atau
dipukul, jadi dengan cara itu ditunjukkan tatakrama prajurit.
Aturan itu tegak dengan disiplin tinggi, tidak mengenal orang lain atau
saudara seayah-ibu, atau bagi anggota kerajaan. Kalau salah pasti dimarahi
atau dipukul demi tegaknya disiplin. Dengan cara itu prajurit ditunjukkan
atau dilatih untuk mematuhi tatakrama. Bagi prajurit tatakrama berdasar
pada senioritas dalam kepangkatan dan jabatan. Prajurit yang baik adalah
yang patuh pada perintah atasan dan tidak menolak penugasan. Serta
memegang teguh pada darma seorang ksatria, sikap ini disebut prawira
atau perwira.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 81

Kajian Wirawiyata (1:26-24): Bisaa Miturut Sarta Nglakoni


Pupuh 1, bait 23-24, Sinom (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a),
Serat Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Mangkono uga yèn bisa,
piturut sarta nglakoni,
tamtu dèn opahi uga,
wit gawe lêganing ati,
akèh tuwin sathithik,
minurwat lan karyanipun,
tan beda patrapira.
Prajurit jinunjung linggih,
myang ingundur iku adil jênêngira.

Yèn tan bisa samêktanya,


nora jumênêng prajurit,
gawe tuna marang praja,
wèh lingsêming narapati.
Amung sira pribadi,
kang dhuwurkên ing piangkuh,
mung lagi bisa aba,
anggêpmu butuhkên nagri.
Ywa kabanjur duwe cipta kang mangkana.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Demikian juga kalau bisa,
menurut serta menjalani,
tentu diberi imbalan juga.
Karena bisa membuat lega dalam hati,
banyak serta sedikit,
sepantasnya sesuai dengan pekerjaannya,
tak beda penerapannya.
Prajurit yang diangkat pada kedudukan,
dan dilengserkan itulah yang disebut keadilan.

Kalau tidak bisa menyiapkan diri,


tidak berdiri sebagai prajurit namanya,
membuat kerugian kepada negara,
dan memberi rasa malu kepada raja.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 82

Hanya engkau sendiri,


yang meninggikan kesombongan,
hanya bisa meminta,
anggapanmu sudah dibutuhkan oleh negara.
Jangan terlanjur punya pikiran yang demikian.

Kajian per kata:


Mangkono (demikian) uga (juga) yèn (kalau) bisa (bisa), piturut
(menurut) sarta (serta) nglakoni (menjalani), tamtu (tentu) dèn (di) opahi
(beri imbalan) uga (juga). Demikian juga kalau bisa, menurut serta
menjalani, tentu diberi imbalan juga.
Kalau tidak lalai akan dihukum, sebaliknya kalau mampu menjalankan
tugas dengan baik pasti akan diberi imbalan. Jadi ada reward and
punishment. Sehingga prajurit semangat dalam berlatih. Bagi mereka yang
mampu bersikap baik, menurut pada perintah atasan dan disiplin, tentu
semakin banyak imbalan yang diterima.
Wit (karena) gawe (membuat) lêganing (lega dalam) ati (hati), akèh
(banyak) tuwin (serta) sathithik(sedikit), minurwat (sepantasnya sesuai)
lan (dengan) karyanipun (pekerjaannya), tan (tak) beda (beda) patrapira
(penerapannya). Karena bisa membuat lega dalam hati, banyak serta
sedikit, sepantasnya sesuai dengan pekerjaannya, tak beda penerapannya.
Prajurit yang disiplin dan patuh, mampu melaksanakan tugas, tentu
membuat senang atasan. Komandan merasa puas dengan pekerjaannya.
Sudah pasti akan diberi imbalan yang pantas dengan karyanya. Semua itu
diterapkan dengan adil, tidak pilih kasih dan tidak berdasar rasa suka.
Semua didasari oleh penilaian prestasi si prajurit sendiri.
Prajurit (prajurit) jinunjung (diangkat) linggih (kedudukan), myang (dan)
ingundur (dilengserkan) iku (itu) adil (adil) jênêngira (namanya). Prajurit
yang diangkat pada kedudukan, dan dilengserkan itulah yang disebut
keadilan.
Maka berdasar prestasi dan kualitas pekerjaannya seorang prajurit diangkat
untuk jabatan yang lebih tinggi, atau dilengserkan dari jabatannya. Semua
itu bisa terjadi tergangung kepada hasil pekerjaan masing-masing. Inilah
yang disebut keadilan bagi seorang perwira. Kalau bagus prestasinya akan
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 83

cepat naik pangkat. Kalau pekerjaannya jelek dicopot dari jabatannya


karena dinilai tidak mampu. Orang yang lebih cakaplah yang akan
menggantikannya. Inilah keadilan.
Yèn (kalau) tan (tak) bisa (bisa) samêktanya (menyipkannya), nora (tidak)
jumênêng (berdiri sebagai) prajurit (prajurit), gawe (membuat) tuna
(kerugian) marang (kepada) praja (negara), wèh (memberi) lingsêming
(rasa malu) narapati (raja). Kalau tidak bisa menyiapkan diri, tidak berdiri
sebagai prajurit namanya, membuat kerugian kepada negara, dan
memberi rasa malu kepada raja.
Seorang prajurit yang tidak berprestasi, yang tak sanggup bekerja dengan
baik, bukanlah prajurit sejati. Orang seperti itu hanya membuat kerugian
kepada negara. Serta memberi rasa malu kepada raja. Jadi sebaiknya
memang dicopot atau dipindah ke profesi lain yang lebih cocok baginya.
Kalau tidak, negara akan kacau balau. Raja pun malu.
Amung (hanya) sira (engkau) pribadi (sendiri), kang (yang) dhuwurkên
(meninggikan) ing (dalam) piangkuh (kesombongan), mung (hanya) lagi
(baru) bisa (bisa) aba (meminta), anggêpmu (anggapanmu) butuhkên
(dibutuhkan) nagri (negara). Hanya engkau sendiri, yang meninggikan
kesombongan, hanya bisa meminta, anggapanmu sudah dibutuhkan oleh
negara.
Engkau jangan berlaku sombong dan seolah merasa menjadi orang penting.
Engkau baru bisa meminta ini dan itu. Bekerja pun belum benar.
Mengatasi masalah belum mampu. Jangan beranggapan kalau dirimu orang
yang dibutuhkan negara. Ketahuilah bahwa nengara tidak akan ambruk
hanya karena orang sepertimu tak ada. Lebih baik jika engkau
memperbaiki diri agar mampu berjasa kepada negara dengan berbuat
sebagai prajurit yang baik.
Ywa (jangan) kabanjur (terlanjur) duwe (punya) cipta (pikiran) kang
(yang) mangkana (demikian). Jangan terlanjur punya pikiran yang
demikian.
Jangan terlanjur punya pikiran yang malas dansombong dan seolah merasa
dirimu penting. Engkau bukan siapa-siapa tanpa kehadiran negara. Engkau
hanya berasal dari rakyat yang telah menemukan negara ini makmur.
Jangan berpikiran kalau kemakmuran ini untuk dirimu. Ini warisan leluhur
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 84

yang harus dilestarikan. Kelak kepada anak cucumu negara ini juga akan
diwariskan. Engkau wajib menjaga kemakmuran negara ini agar lestari
sampai kelak.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 85

Kajian Wirawiyata (1:25-26): Ngupaya Kamulyan Dhiri


Pupuh 1, bait 25-26, Sinom (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a),
Serat Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Wruhanta lêlakonira,
sajatine wus angêmping,
mring praja miwah narendra.
Awit durung potang kardi,
sira wus dèn paringi,
sandhang pangan nora kantu.
Sinuba kinurmatan,
punjul sêsamaning abdi,
môngsakala linilan lungguh satata.

Apa kang sira upaya,


kamulyan anèng nagari,
ingajenan mring sêsama,
nyawabi mring anak rabi.
Nadyan para maharsi,
ingkang tapa nèng asamun,
mong tani lan nangkoda,
rinewangan andêrpati,
nora liyan kamulyan kang dèn upaya.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Ketahuilah perjalanan hidupmu,
sesungguhnya sudah meminta,
kepada negara dan raja.
Karena belum mempunyai piutang pekerjaan,
engkau sudah diberi,
sandang pangan tiada putus.
Dipersilakan dengan hormat,
lebih dari sesama hamba,
kadangkala diinjinkan duduk dalam satu forum.

Apa yang engkau cari,


kemuliaan didalam negara,
dihargai oleh sesama,
memberi pengaruh kepada anak-istri.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 86

Walau para maha resi,


yang bertapa di tempat sepi,
para petani dan nakoda,
menempuh dengan nekad,
tak lain kemuliaan yang mereka cari.

Kajian per kata:


Wruhanta (ketahuilah) lêlakonira (perjalanan hidudpmu), sajatine
(sesungguhnya) wus (sudah) angêmping (meminta), mring (kepada) praja
(negara) miwah (dan) narendra (raja). Ketahuilah perjalanan hidupmu,
sesungguhnya sudah meminta, kepada negara dan raja.
Ketahuilah bahwa engkau sesungguhnya sudah meminta kemuliaan kepada
raja. Dengan menjadi abdi engkau sudah ikut mengenyam kemuliaan sejak
awal. Engkau tidak harus melalui perjalanan yang sulit, tahu-tahu tinggal
mendaftar sebagai abdi. Tidak harus bersusah payah, hanya tinggal ikut
seleksi. Kemudian ikut pelatihan dan diwisuda. Sudah diberi kedudukan
dan pangkat.
Awit (karena) durung (belum) potang (mempunyai piutang) kardi
(pekerjaan), sira (engkau) wus (sudah) dèn (di) paringi (beri), sandhang
(sandang) pangan (pangan) nora (tidak) kantu (putus). Karena belum
mempunyai piutang pekerjaan, engkau sudah diberi, sandang pangan
tiada putus.
Dalam tahap awal ini engkau belum punya jasa kepada negara. Engkau
belum punya saham atau piutang jasa apapun. Namun engkau telah
dicukupi segala kebutuhanmu, sandang dan pangan tiada putus-putusnya.
Nora kantu artinya ketika engkau butuh semua yang kau butuhkan sudah
tersedia. Tidak pernah ketika engkau butuh yang kau butuhkan belum ada.
Padahal engkau belum melakukan hal besar untuk negara. Artinya engkau
sudah meminta duluan dari negara. Harap engkau sadari hal itu.
Sinuba (dipersilakan) kinurmatan (dengan hormat), punjul (lebih)
sêsamaning (dari sesama) abdi (abdi, hamba), môngsakala (kadang kala)
linilan (dijinkan) lungguh (duduk) satata (bersama). Dipersilakan dengan
hormat, lebih dari sesama hamba, kadangkala diinjinkan duduk dalam
satu forum.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 87

Walau belum berjasa, engkau telah dipersilakan dengan hormat. Sinuba


artinya dihargai dengan sangat,dianggap sebagai orang pilihan, lebih dari
sesama hamba yang lain. Ada kalanya dijinkan untuk duduk bersama raja
dalam satu forum. Artinya dianggap sebagai orang istimewa oleh raja.
Padahal belum melakukan apapun untuk negara. Bukankah ini namanya
ngutang duluan?
Apa (apa) kang (yang) sira (engkau) upaya (cari), kamulyan (kemuliaan)
anèng (di dalam) nagari (negara), ingajenan (dihargai) mring (oleh)
sêsama (sesama), nyawabi (berimbas) mring (pada) anak (anak) rabi
(istri). Apa yang engkau cari, kemuliaan didalam negara, dihargai oleh
sesama, memberi pengaruh kepada anak-istri.
Apa yang engkau cari ini, yang berupa kemuliaan kedudukan dan
penghargaan yang kau terima, juga berimbas kepada anak istrimu. Bahkan
juga mengangkat derajat orang tuamu. Mereka juga mendapat tambahan
kemuliaan sebab karena apa yang telah engkau capai selama ini.
Nadyan (walau) para (para) maharsi (maha resi), ingkang (yang) tapa
(bertapa) nèng (di) asamun (tempat sepi), mong tani (para petani) lan
(dan) nangkoda (nakoda), rinewangan (ditemani) andêrpati (nekad), nora
(tidak) liyan (lain) kamulyan (kemuliaan) kang (yang) dèn (di) upaya
(cari). Walau para maha resi, yang bertapa di tempat sepi, para petani dan
nakoda, menempuh dengan nekad, tak lain kemuliaan yang mereka cari.
Sesungguhnya kemuliaan inilah yang dicari oleh semua manusia. Para
maha resi yang tekun bertapa di tempat sepi, dengan menjauhi kenikmatan
dunia, menyiksa diri dengan sarana yang minim, semua itu untuk meraih
kemuliaan. Para petani yang bersusah payah bercocok tanam, dengan
tenaga dan pengorbanan, menempuh jalan sulit dan tak pasti, juga hanya
demi kemuliaan hidup. Para nahkoda yang berlayar, menempuh ganasnya
ombak, hidup sepi di tengah laut jauh dari keluarga, mereka juga hanya
mencari kemuliaan. Sungguh engkau sekarang telah mendapatkan itu
semua. Dan itu kau terima sebagai pemberian dari negara dan raja.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 88

Kajian Wirawiyata (1:27-29): Aja Abawa Priyangga


Pupuh 1, bait 27-29, Sinom (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a),
Serat Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Upamane raganira, nora dadia prajurit,
iya misih mangan sêga,
apa dene nginum warih,
saking wêtuning bumi,
uga kagunganing ratu.
Lan sira ingayoman,
rinêksa kalawan adil,
lamun datan rumasa sira duraka.

Marma dèn sumurup sira,


mring sih kamulèning Gusti,
benjang yèn tinuduh sira,
lumawat ngadoni jurit,
yèku karyanta yêkti,
pangudangirèng gustimu.
Kono aja pêpeka,
dèn madhêp marang sawiji,
nanging cipta sêdyakna malês mring praja.

Praptèng papan cumadhanga,


ing parentah senapati,
aja abawa priyôngga.
Dumèh sira bôndha wani,
lumangkah mrih ngulabi.
Kang mangkono saksat mungsuh,
gawe guguping rowang,
wèh gidhuhing senapati,
yèn kasora dadi sira antuk dosa.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Seumpama dirimu,
tidak menjadi prajurit,
juga masih makan nasi,
dan juga minum air,
dari hasil yang keluar dari tanah,
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 89

juga milik raja.


Dan engkau dilindungi,
dijaga dengan adil,
kalau tidak merasa engkau durhaka.

Oleh karena itu ketahuilah dirimu,


kepada kasih dan kedekatan Raja.
Kelak kalau ditunjuk,
berangkat bertempur dalam perang,
yaitulah karyamu yang sesungguhnya,
menurut kehendak rajamu.
Di situ jangan sembrono,
yang mantap menghadap kepada satu tujuan,
tetapi niatkan membalas kepada negara.

Sesampai di medan perang bersiaplah,


pada perintah Senapati,
jangan bergerak sendiri.
Mentang-mentang engkau bermodal berani,
melangkah agar terlihat hebat.
Yang demikian itu ibarat membantu musuh,
membuat gugup teman sendiri,
memberi kerepotan pada Senapati,
kalaupun nanti kalah engkau mendapat kesalahan.

Kajian per kata:


Upamane (seumpama) raganira (dirimu), nora (tidak) dadia (menjadi)
prajurit (prajurit), iya (juga) misih (masih) mangan (makan) sêga (nasi),
apa dene (dan juga) nginum (minum) warih (air), saking (dari) wêtuning
(hasil yang keluar) bumi (tanah), uga (juga) kagunganing (milik dari)
ratu (raja). Seumpama dirimu, tidak menjadi prajurit, juga masih makan
nasi, dan juga minum air, dari hasil yang keluar dari tanah, juga milik
raja.
Bahkan jika engkau tidak menjadi prajurit engkau pun mendapat berkah
dari negara. Nasi yang engkau makan dan air yang engkau minum juga
berasal dari tanah milik raja. Di atas tanah milik raja kau lakukan aktivitas
sesukamu, tentu dengan beberapa kewajiban yang harus dipatuhi. Namun
yang engkau dapatkan jauh lebih banyak dari kewajiban itu. Artinya
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 90

engkau pun mendapat banyak kebaikan dari negara. Coba bayangkan jika
negara ini tak ada, bagaimana engkau akan menjalani kehidupan. Atau
kalau negara ini terus dilanda peperangan, bagaimana engkau bisa hidup
tenang. Makmurnya negerimu atas karena jasa para pendiri negara yang
telah bersusah payah di zaman dahulu.
Lan (dan) sira (engkau) ingayoman (dilindungi), rinêksa (dijaga) kalawan
(dengan) adil (adil), lamun (kalau) datan (tidak) rumasa (merasa) sira
(engkau) duraka (durhaka). Dan engkau dilindungi, dijaga dengan adil,
kalau tidak merasa engkau durhaka.
Dan engkau di dalam negara ini dilindungi, dijaga dengan prinsip keadilan.
Engkau menerima dan engkau juga selayaknya menghaturkan bakti.
Sadarilah bahwa engkau telah banyak mendapat kebaikan dari negara. Juga
sadarilah bahwa engkau wajib membalas kebaikan itu. Apapun bentuknya
akan ditentukan oleh pemimpinmu, yakni sang Raja. Sadarilah ini. Kalau
engkau tak merasa begitu, engkau durhaka.
Marma (oleh karena itu) dèn sumurup (ketahuilah) sira (dirimu), mring
(kepada) sih (kasih) kamulèning (keakraban, kedekatan) Gusti (Raja).
Oleh karena itu ketahuilah dirimu, kepada kasih dan kedekatan Raja.
Sadarilah bahwa Raja telah memberikan kasih sayang kepadamu, sebagai
abdi yang tunduk kepada perintahnya. Engkau dekat dengan Raja, dia
memperhatikanmu. Maka sepantasnya hidupmu juga kau abdikan kepada
negara.
Benjang (kelak) yèn (kalau) tinuduh (ditunjuk) sira (engkau), lumawat
(berangkat) ngadoni (bertempur) jurit (perang), yèku (yaitu) karyanta
(karyamu) yêkti (sesungguhnya), pangudangirèng (menurut kehendak)
gustimu (rajamu). Kelak kalau ditunjuk, berangkat bertempur dalam
perang, yaitulah karyamu yang sesungguhnya, menurut kehendak rajamu.
Jika kelak engkau ditunjuk berangkat ke medan perang, itulah karyamu
yang sebenarnya sebagai prajurit. Yakni sebagai prajurit engkau memang
harus menurut kepada kehendak Raja sebagai komandan perang tertinggi.
Di situlah pekerjaanmu yang sebenarnya, yang dengan itu engkau diberi
kedudukan dan dihormati oleh semua orang.
Kono (di situ) aja (jangan) pêpeka (sembarangan, sembrono), dèn madhêp
(yang mantap menghadap) marang (kepada) sawiji (satu tujuan), nanging
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 91

(tetapi) cipta (pikiran) sêdyakna (niatkan) malês (membalas) mring


(kepada) praja (negara). Di situ jangan sembrono, yang mantap
menghadap kepada satu tujuan, tetapi niatkan membalas kepada negara.
Di tempat itu, lakukan sungguh-sungguh. Jangan sembrono. Hati yang
mantap kepada satu tujuan. Namun ingatlah, bahwa di situ engkau hanya
membalas kepada negara atas segala kebaikan yang engkau terima.
Baktimu sebagai prajurit adalah menjaga keselamatan negara dan Raja.
Praptèng (sesampai) papan (di tempat) cumadhanga (bersiaplah), ing
(pada) parentah (perintah) senapati (Senapati), aja (jangan) abawa
(bergerak) priyôngga (sendiri). Sesampai di medan perang bersiaplah,
pada perintah Senapati, jangan bergerak sendiri.
Inilah disiplin prajurit, tidak boleh bertindak sendiri, harus selalu
menunggu perintah dari Senapati. Prajurit harus tunduk kepada perintah
atasan, agar pasukan mudah digerakkan, agar strategi mudah diterapkan,
agar koordinasi mudah dilakukan. Kalau setiap orang tidak patuh pada
komando, pasukan takkan kompak. Kekuatannya pasukan menjadi hilang
dan musuh mudah mengalahkan.
Dumèh (mentang-mentang) sira (engkau) bôndha (bermodal) wani
(berani), lumangkah (melangkah) mrih (agar) ngulabi (terlihat hebat).
Mentang-mentang engkau bermodal berani, melangkah agar terlihat
hebat.
Jangan karena engkau pemberani kemudian bertindak sendiri, melangkah
di luar komando agar kelihatan hebat. Agar mendapat pujian sebagai
prajurit yang tidak takut mati. Yang demikian itu jangan dilakukan.
Kang (yang) mangkono (demikian) saksat (ibarat) mungsuh (musuh),
gawe (membuat) guguping (gugup) rowang (teman sendiri), wèh
(memberi) gidhuhing (kerepotan) senapati (senapati), yèn (kalau) kasora
(kalah) dadi (jadi) sira (engkau) antuk (mendapat) dosa (kesalahan). Yang
demikian itu ibarat membantu musuh, membuat gugup teman sendiri,
memberi kerepotan pada Senapati, kalaupun nanti kalah engkau mendapat
kesalahan.
Perilaku yang demikian itu jangan dilakukan di medan perang. bukannya
keberanianmu berguna, malah seakan membantu pihak musuh. Karena
temanmu menjadi gugup akibat mengkhawatirkan keselamatanmu yang
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 92

gegabah itu. Perhatian mereka menjadi hanya tertuju padamu. Membuat


temanmu tidak bisa fokus pada posisi masing-masing. Senapati yang
bertugas memberi komando pun menjadi kerepotan karena strateginya
rusak karena kesembronoanmu. Kalau nanti kalah perang, engkau yang
mendapat kesalahan.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 93

Kajian Wirawiyata (1:30-31): Wedi Wirang Wani Pati


Pupuh 1, bait 30-31, Sinom (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a),
Serat Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Lungguhe para prawira,
yèn ana madyaning jurit,
nora wênang duwe karsa.
Ragane pama jêmparing,
kang musthi senapati,
ing sakarsa kang pinanduk.
Linêpas ywa sarônta,
angsahira dèn mranani,
marang mungsuh aja keguh ing bêbaya.

Dèn kadi Sang Partasuta,


Bimanyu kala tinuding,
mangrurah kang gêlar cakra,
dening Sang Yudhisthiraji.
Sukaning tyas tan sipi,
dupi rinoban ing mungsuh,
kèsthi trahing satriya,
wêdi wirang wani pati.
Yèka môngka tamsiling para prawira.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Kedudukan para perwira,
kalau di medan perang,
tidak berwenang mempunyai kehendak sendiri.
Badannya seumpama anak panah,
yang memegang Senapati,
dalam kehendak yang melepasnya.
Kalau sudah dilepas jangan lambat,
cara menerjang musuh yang memuaskan,
kepada musuh jangan bergeser karena takut.

Jadilah seperti Sang anak Parta,


Abimanyu ketika ditunjuk,
membedah gelar cakrabyuha,
oleh Sang Raja Yudhistira.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 94

Suka dalam hatinya tak terkira,


ketika dikepung oleh musuh,
terlihat darah ksatrianya,
takut malu berani mati.
Itulah sebagai perumpamaan para perwira.

Kajian per kata:


Lungguhe (kedudukan) para (para) prawira (perwira), yèn (kalau) ana
(berada) madyaning (di medan) jurit (perang), nora (tidak) wênang
(berwenang) duwe (mempunyai) karsa (kehendak). Kedudukan para
perwira, kalau di medan perang, tidak berwenang mempunyai kehendak
sendiri.
Di medan perang seorang perwira adalah bawahan komandan perang yang
harus selalu patuh kepada perintah. Dia tidak berwenang mempunyai
kehendak sendiri. Dia hanya bergerak setelah digerakkan dengan perintah
dan tugas yang diberikan. Tidak boleh dia mengambil inisiatif sendiri, juga
tidak boleh ingkar dari perintah.
Ragane (badannya) pama (seumpama) jêmparing (anak panah), kang
(yang) musthi (memegang) senapati (Senapati), ing (dalam) sakarsa
(kehendak) kang (yang) pinanduk (melepasnya). Badannya seumpama
anak panah, yang memegang Senapati, dalam kehendak yang melepasnya.
Badannya seumpama anak panah. Yang berwenang melepas adalah
Senapati, yang boleh melepaskan kapan serta sekehendaknya. Senapatilah
yang mengambil keputusan kapan anak panah harus dilepas, kapan harus
ditahan.
Linêpas (kalau dilepas) ywa (jangan) sarônta (sabar, lambat), angsahira
(cara menerjang musuh) dèn mranani (yang memuaskan), marang
(kepada) mungsuh (musuh) aja (jangan) keguh (bergeser) ing (oleh)
bêbaya (bahaya). Kalau sudah dilepas jangan lambat, cara menerjang
musuh yang memuaskan, kepada musuh jangan bergeser karena takut.
Namun kalau sudah dilepas jangan berlambat-lambat, segeralah melesat
menuju sasaran. Terjanglah musuh dengan cara yang mengesankan
senapatimu, sehingga dia puas akan sepak terjangmu. Jangan gentar akan
kekuatan lawan, jangan berbelok karena resiko yang menghadang.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 95

Seumpama anak panah, engkau harus mantap menatap musuh dan


menerjangnya.
Dèn kadi (jadilah seperti) Sang (Sang) Partasuta (anak Parta), Bimanyu
(Abimanyu) kala (ketika) tinuding (ditunjuk), mangrurah (merusak,
membedah) kang (yang) gêlar (gelar) cakra (cakrabyuha), dening (oleh)
Sang (Sang) Yudhisthiraji (Raja Yudhistira). Jadilah seperti Sang anak
Parta, Abimanyu ketika ditunjuk, membedah gelar cakrabyuha, oleh Sang
Raja Yudhistira.
Berlakulah seperti anak dari Parta (Arjuna, Janaka), yakni Abimanyu
ketika ditunjuk membedah gelar cakrabyuha. Sang senapati Raja Yudistira
telah memberi ijin Abimanyu untuk menerjang gelar cakrabyuha yang
terkenal sulit ditembus.
Gelar atau formasi militer cakrabyuha adalah formasi prajurit yang
bersusun melingkar (cakra) dan berlapis-lapis. Setiap musuh yang berhasil
menembus satu lapis segera ditutup agar terjebak ke dalam lapisan sebelah
dalam. Kalau musuh yang masuk tangguh dan menembus lapisan dalam
maka segera ditutup lagi sehingga masuk lebih ke dalam lagi. Begitu
seterusnya sehingga makin lama makin terjebak ke dalam dan sulit keluar.
Ada siasat khusus untuk menembus lapisan cakra itu, begitu pula cara
untuk keluar darinya.
Cakrabyuha disusun oleh Mahasenapati Dang Hyang Drona, guru dari
Pandawa dan Kurawa. Drona hanya pernah mengajarkan cara melawan
formasi cakrabyuha kepada Arjuna. Namun Kurawa bertindak cerdik
dengan memancing Arjuna menjauhi medan perang utama. Yang tertinggal
adalah putra Arjuna yang bernama Abimanyu. Abimanyu baru
memperoleh pelajaran separuh dari ayahnya. Dia baru sanggup menerobos
masuk, tapi cara untuk keluar dia belum menguasai.
Sukaning (suka dalam) tyas (hati) tan (tak) sipi (terkira), dupi (ketika)
rinoban (dikepung) ing (oleh) mungsuh (musuh), kèsthi (terlihat) trahing
(darah) satriya (ksatria), wêdi (takut) wirang (malu) wani (berani) pati
(mati). Suka dalam hatinya tak terkira, ketika dikepung oleh musuh,
terlihat darah ksatrianya, takut malu berani mati.
Karena pasukan Pandawa telah terdesak, dengan terpaksa Yudhistira
mengijinkan Abimanyu untuk menerjang formasi cakrabyuha. Abimanyu
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 96

melakukan dengan senang hati. Formasi berhasil ditembus. Namun barisan


Kurawa kembali memulihkan formasi dengan cepat. Abimanyu terjebak di
dalam tanpa bisa keluar.
Karena sudah dikepung dan terjebak di dalam Abimanyu menunjukkan
keberanian yang luar bisa dalam bertahan. Ribuan musuh melepaskan
senjata menuju ke arahnya, tanpa dia mendapat bantuan dari rekan-
rekannya yang jauh berada di luar formasi. Tidak ada lagi pasukan
Pandawa yang berhasil menembus formasi setelahnya. Jarak Abimanyu
semakin jauh ke dalam lingkaran yang berlapis-lapis. Pasukan Pandawa
hanya menyaksikan dari kejauhan ketika Abimanyu tewas dengan luka
arang kranjang di sekujur tubuhnya.
Abimanyu gugur sebagai ksatria yang pemberani. Walau gugur Abimanyu
menunjukkan kebanggan yang luar biasa. Suka hatinya menemui ajal di
tangan musuh. Itu bukan cara menyambut kematian yang aib. Itulah cara
mati yang hebat. Dia sudah menunjukkan teladan sejati seorang prajurit
yang memegang prinsip: wedi wirang wani mati, takut menanggung malu
berani mati. Daripada malu dengan lari dari perang, lebih baik mati di
tangan musuh dengan gagah.
Yèka (itulah) môngka (sebagai) tamsiling (perumpamaan) para (para)
prawira (perwira). Itulah sebagai perumpamaan para perwira.
Itulah perumpamaan bagi seorang perwira. Teladan dari Abimanyu
hendaknya engkau ikuti, bahwa prajurit harus wedi wirang wani mati.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 97

Kajian Wirawiyata (1:32-33): Tapa Tapaning Prajurit


Pupuh 1, bait 32-33, Sinom (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a),
Serat Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Kono sêdhênge mêdharna,
ing kasuran guna sêkti,
nyirnakna paningalira,
ing tekad ywa walangati.
Wruhanta senapati,
wakiling gusti satuhu,
gusti wakiling suksma,
kang kinon angudanèni,
mring kawula kang sumêdya mrih utama.

Padha ingaran utama,


ing pakaryan mangun jurit,
iku kang luhur priyangga.
Wus kasêbut kanang sruti,
yèn tapaning prajurit,
ngasorkên tapaning wiku.
Wit sumungkuning puja,
nèng pucuking gunung Wêsi,
sang pandhita nèng pucuking kang aldaka.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Di situ tempatnya mengeluarkan,
kekuatan kepandaian dan kesaktian,
menghilangkan penglihatanmu,
dalam tekad jangan ada kekhawatiran.
Ketahuilah senapati,
wakil dari Raja yang sebenarnya,
dan raja adalah wakil dari Tuhan,
yang disuruh mengabulkan,
pada hamba yang hendak meraih keutamaan.

Sama-sama disebut mulia,


dalam pekerjaan melakukan perang,
itu yang paling mulia.
Sudah disebutkan dalam berbagai kitab,
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 98

kalau bertapanya seorang prajurit,


mengalahkan bertapanya seorang pendeta.
Mulai dari tunduknya dengan penuh pujian,
pertapa di puncak Gunung Besi,
sampai para pendeta di puncak gunung.

Kajian per kata:


Kono (di situ) sêdhênge (saatnya) mêdharna (mengeluarkan), ing (dalam)
kasuran (kekuatan) guna (kepandaian) sêkti (kesaktian), nyirnakna
(menghilangkan) paningalira (penglihatanmu), ing (dalam) tekad (tekad)
ywa (jangan) walangati (khawatir). Di situ tempatnya mengeluarkan,
kekuatan kepandaian dan kesaktian, menghilangkan penglihatanmu, dalam
tekad jangan ada kekhawatiran.
Bagi seorang prajurit medan perang adalah tempat mengeluarkan kekuatan,
kepandaian dan kesaktian. Hilangkan pandangan pribadi, semua
hendaknya dilakukan sebagai kewajiban seorang prajurit. Seorang prajurit
hidup untuk negara, mati karena negara. Buanglah rasa takut atau khawatir
dari dalam hati. Mantapkan tekadmu.
Wruhanta (ketahuilah) senapati (senapati), wakiling (wakil dari) gusti
(Raja) satuhu (sebenarnya), gusti (Raja) wakiling (wakil dari) suksma
(Tuhan), kang (yang) kinon (disuruh) angudanèni (mengabulkan), mring
(pada) kawula (hamba) kang (yang) sumêdya (hendak) mrih (meraih)
utama (keutamaan). Ketahuilah senapati, wakil dari Raja yang
sebenarnya, dan raja adalah wakil dari Tuhan, yang disuruh
mengabulkan, pada hamba yang hendak meraih keutamaan.
Inilah alasan dari mengapa engkau harus patuh pada senapatimu, kepada
komandanmu. Patuhmu kepadanya adalah patuhnya seorang hamba kepada
Raja. Dan patuhmu kepada Raja adalah patuh kepada Tuhan. Senapati
adalah wakil Raja di medan perang. Dan Raja adalah wakil Tuhan di dunia
ini, yang diberi tugas oleh Tuhan untuk mengabulkan, memberi
kemudahan, atau memfasilitasi kepada orang yang hendak meraih
keutamaan.
Konsep Raja sebagai wakil Tuhan adalah konsep Raja di kerajaan
Mataram. Mereka memakai gelar khalifatullah, yang artinya wakil Tuhan
di bumi. Kekhalifahan Mataram dengan demikian tidak sama dengan
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 99

konsep khilafah pada zaman Nabi, dimana khalifah Abu Bakar adalah
khalifah dari Nabi dalam memimpin umat Islam. Harap jangan dikelirukan
dua konsep khilafah ini.
Padha (sama-sama) ingaran (disebut) utama (utama), ing (dalam)
pakaryan (pekerjaan) mangun (melakukan) jurit (perang), iku (itu) kang
(yang) luhur (mulia) priyangga (sendiri). Sama-sama disebut mulia,
dalam pekerjaan melakukan perang, itu yang paling mulia.
Sama-sama disebut mulia, dari berbagai pekerjaan yang dilakukan
manusia, yang paling utama adalah pekerjaan seorang prajurit. Seorang
prajurit yang rela berperang membela negara adalah seorang yang paling
utama dari segala manusia utama yang lain. Bahkan bila dia gugur pun
raganya masih mengeluarkan keutamaan. Walau tubuh hancur tak bersisa,
tubuh prajurit adalah tubuh yang mulia. Walau dia mati di medan perang
dengan tubuh koyak tak karuan, kematiannya adalah kematian yang utama.
Seperti yang terjadi pada tubuh Abimanyu dalam wiracerita dalam bait
yang lalu.
Wus (sudah) kasêbut (disebutkan) kanang (dalam bentuk) sruti (kitab),
yèn (kalau) tapaning (bertapanya) prajurit (prajurit), ngasorkên
(mengalahkan) tapaning (bertapanya) wiku (pendeta, ulama). Sudah
disebutkan dalam berbagai kitab, kalau bertapanya seorang prajurit,
mengalahkan bertapanya seorang pendeta.
Kami belum memahami dengan jelas kitab yang dimaksud. Namun sudah
jelas bahwa bagi seorang prajurit berperang adalah kebaikan yang besar.
Dalam dunia Islam sudah lama kita kenal semboyan; darah seorang
syuhada lebih berat dari tinta ulama.
Wit (mulai) sumungkuning (tunduknya dengan penuh) puja (pujian), nèng
(di) pucuking (puncak) gunung (Gunung) Wêsi (Besi), sang (sang)
pandhita (pendeta) nèng (di) pucuking (puncak) kang (yang) aldaka
(gunung). Mulai dari tunduknya dengan penuh pujian, pertapa di puncak
Gunung Besi, sampai para pendeta di puncak gunung.
Ini mengandung pengertian bahwa bagi seorang prajurit berperang untuk
membela negara merupakan sebuah jalan menuju kemuliaan, lebih utama
dari bakti yang dilakukan pertapa yang bertapa di puncak gunung, atau
bakti para ulama (dan atau pendeta) yang mengajarkan kitab-kitab di
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 100

puncak gunung. Penyebutan puncak aldaka merujuk kepada kebiasaan


para pendeta atau ulama zaman dahulu yang membuat padepokan di
puncak gunung. Contohnya, trah Resi Wyasa di Wukir Rahtawu atau trah
Sunan Giri di Giri Kedaton (kedaton di gunung).
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 101

Kajian Wirawiyata (1:34-35): Matia Kanthi Utama


Pupuh 1, bait 32-33, Sinom (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a),
Serat Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Ing tekadipun santosa,
aja angrasani pati,
apan tan winênang sira.
Gumantung karsaning Widhi,
yèn wis tibaning pasthi,
nora pilih marganipun.
Ala mati nèng wisma,
bêcik mati kang utami,
tur sumbaga dadi ngamale trahira.

Wus ana kayêktènira,


Sang Partasuta ing nguni,
palastra anèng palagyan.
Lawan lêgawaning pati,
wit dènnya anglabuhi,
Pandhawa manggiha unggul.
Puwarantuk nugraha,
sira wau Partasiwi,
turunipun angratoni tanah Jawa.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Dalam tekad yang sentosa,
jangan merasa akan mati,
karena tak berwenang engkau.
Bergantung kehendak Tuhan,
kalau sudah tiba kepastian,
tidak pilih-pilih caranya.
Buruk mati di rumah,
lebih baik mati dengan cara utama,
dan juga menjadi terkenal menjadi kebaikan bagi keturunanmu.

Sudah ada kenyataannya,


Sang Anak Arjuna di zaman dahulu,
gugur di dalam medan perang.
Dengan cara yang lega menyambut kematian,
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 102

karena dalam dia membela,


Pandawa menemui kemenangan.
Akhirnya mendapat anugrah,
anak Parta tadi,
keturunannya merajai Tanah Jawa.

Kajian per kata:


Ing (dalam) tekadipun (tekadnya) santosa (sentosa), aja (jangan)
angrasani (merasa akan) pati (mati), apan (memang) tan (tak) winênang
(berwenang) sira (engkau). Dalam tekad yang sentosa, jangan merasa
akan mati, karena tak berwenang engkau.
Dalam tekad yang sentosa, mantapkan hati dalam menempuh medan
perang. Jangan ada perasaan takut mati, karena memang engkau tidak
berwenang menentukan kapan seseorang akan mati. Ketakutanmu akan
kematian belum tentu terwujud, maka jangan menjadi kekhawatiran.
Gumantung (bergantung) karsaning (kehendak) Widhi (Tuhan), yèn
(kalau) wis (sudah) tibaning (tiba dalam) pasthi (kepastian), nora (tidak)
pilih (pilih-pilih) marganipun (caranya). Bergantung kehendak Tuhan,
kalau sudah tiba kepastian, tidak pilih-pilih caranya.
Sebab hidup mati manusia bergantung kepada kehendak Tuhan. Kalau
sudah tiba waktu baginya menjemput kepastian akan waktunya, takkan
pilih-pilih cara seseorang menemui ajal. Bisa jadi penyebabnya sepele dan
tak masuk akal. Boleh jadi malah tanpa sebab, tahu-tahu mati. Karena
sesungguhnya kehidupan seseorang hanya pinjaman Tuhan, maka sewaktu-
waktu sang Pemilik Hidup dapat mengambilnya kembali. Kata orang Jawa:
nyawa mung gadhuhan, nyawa hanya pinjaman.
Ala (buruk) mati (mati) nèng (di) wisma (rumah), bêcik (lebih baik) mati
(mati) kang (yang) utami (utama), tur (dan juga) sumbaga (terkenal) dadi
(menjadi) ngamale (kebaikan) trahira (keturunanmu). Buruk mati di
rumah, lebih baik mati dengan cara utama, dan juga menjadi terkenal
menjadi kebaikan bagi keturunanmu.
Apalagi mati di rumah itu buruk, lebih baik mati di medan perang. Itulah
cara mati yang utama, seutamanya cara orang menemui kematian.
Orangnya menjadi terkenal sebagai orang yang mulia. Anal kebaikannya
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 103

akan berimbas kepada anak cucunya. Jangan dikatakan bahwa seseorang


yang menemui ajal dalam peperangan akan sia-sia hidupnya. Tidak karena
balasan dari Tuhan akan diterima oleh anak keturunannya.
Wus (sudah) ana (ada) kayêktènira (kenyataannya), Sang (Sang)
Partasuta (anak Parta) ing (di) nguni (zaman dahulu), palastra (gugur)
anèng (di dalam) palagyan (medang perang). Sudah ada kenyataannya,
Sang Anak Arjuna di zaman dahulu, gugur di dalam medan perang.
Seperti yang sudah dialami dalam kehidupan nyata oleh Sang Anak Parta
di zaman dahulu. Dia gugur dalam medan perang sebagai prajurit utama.
Setelah bertempur dengan gagah berani tanpa kenal takut, dia mati dengan
cara yang mulia.
Lawan (dengan) lêgawaning (cara yang lega) pati (mati), wit (karena)
dènnya (dalam dia) anglabuhi (membela), Pandhawa (Pandawa)
manggiha (agar menemui) unggul (kemenangan). Dengan cara yang lega
menyambut kematian, karena dalam dia membela, Pandawa menemui
kemenangan.
Dia mati dengan hati yang lega, karena terjadi di saat dia sedang membela
Pandawa agar negaranya mencapai kemenangan. Dia adalah seorang
pahlawan. Seorang yang amal kebaikannya akan dituai oleh seluruh
bangsa.
Puwarantuk (akhirnya mendapat) nugraha (anugrah), sira (engkau) wau
(tadi) Partasiwi (anak Parta), turunipun (keturunannya) angratoni
(merajai) tanah (Tanah) Jawa (Jawa). Akhirnya mendapat anugrah, anak
Parta tadi, keturunannya merajai Tanah Jawa.
Akhirnya dia mendapat anugrah yang amat besar di dunia ini. Anak
keturunannya menajdi raja-raja di tanah Jawa. Adapun bagi dirinya sendiri,
anugrah kehidupan yang lebih baik menanti di alam selanjutnya. Sungguh
suatu kehidupan yang baik buahnya, baik di sini mauun di sana, ing kene
kana.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 104

Kajian Wirawiyata (1:36-37): Kumambanga Ing Wisesa


Pupuh 1, bait 36-37, Sinom (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a),
Serat Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Lamun durung takdirira,
nadyan ana hru sakêthi,
yèn tan was-was ing wardaya,
sayêkti nora ngênani.
Amung sajroning jurit,
aja sira darbe kayun,
ing lair amanuta,
ing sakarsa senapati.
Batinira kumambanga ing wisesa.

Ri sêdhêng nèng bayantaka,


kalamun ana kang wèri,
nungkul wus buwang warastra,
nora wênang dèn patèni.
Binandhang iku wajib,
yèn ngantia nêmu lampus,
têtêp anganiaya,
gawe nisthaning prajurit.
Nêmu dosa têmah apês ing ayuda.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Kalau belum sampai takdirmu,
walau ada panah seratus ribu,
kalau tidak was-was dalam hati,
sungguh takkan mengenai.
Hanya dalam perang,
jangan engkau mempunyai keinginan,
secara lahir menurutlah,
pada sekehendak senapati.
Dalam batin mengapunglah dalam kuasa Tuhan.

Ketika sedang berlangsung saling membunuh di medan perang,


kalau ada musuh yang,
menyerah dengah membuang senjata,
tidak boleh dibunuh.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 105

Diikat dengan tali itu harus,


kalau sampai menemui kematian,
tetap dianggap menganiaya,
membuat nista bagi prajurit.
Menemui dosa sehingga sial dalam perang.

Kajian per kata:


Lamun (kalau) durung (belum) takdirira (takdirmu), nadyan (walau) ana
(ada) hru (panah) sakêthi (seratus ribu), yèn (kalau) tan (tidak) was-was
(was-was) ing (dalam) wardaya (hati), sayêkti (sungguh) nora (tidak)
ngênani (mengenai). Kalau belum sampai takdirmu, walau ada panah
seratus ribu, kalau tidak was-was dalam hati, sungguh takkan mengenai.
Kalau belum sampai takdirmu untuk mati, walau ada seratus ribu anak
panah datang, dan hatimu tidak menyimpan rasa was-was, selalu teguh
pendirian, tidak menyimpan rasa takut, maka takkan ada anak panah itu
yang mengenaimu. Jika Tuhan belum berkenan memanggilmu maka akan
ada seratus ribu cara untuk lolos juga.
Amung (hanya) sajroning (dalam) jurit (perang), aja (jangan) sira
(engkau) darbe (mempunyai) kayun (keinginan), ing (secara) lair (lahir)
amanuta (menurutlah), ing (pada) sakarsa (sekehendak) senapati
(senapati). Hanya dalam perang, jangan engkau mempunyai keinginan,
secara lahir menurutlah, pda sekehendak senapati.
Walau demikian ketika di tengah perang tetaplah jangan mempunyai
keinginan. Secara lahir tetaplah mengikuti segala perintah dari senapatimu.
Patuh terhadap semua kehendaknya. Pasrahkan cara untuk menang
kepadanya. Yang demikian itu untu memudahkan baginya mengatur
serangan. Dia sudah pasti akan mempertimbangkan kemaslahatan untuk
pasukannya. Jika dia memintamu untuk melakukan hal yang berbahaya,
tetap ingatlah bahwa hidupmu di tangan Tuhan. Jangan sekali-kali takut.
Batinira (dalam batin) kumambanga (mengapunglah) ing (dalam) wisesa
(kuasa Tuhan). Dalam batin mengapunglah dalam kuasa Tuhan.
Batinmu harus tetap pasrah, mengapung dalam kekuasaan Tuhan. Arti
mengapung adalah menurut sekehendak kekuasaan Yang Dituruti.
Seumpama gabus yang mengapung di air, dia takkan mampu melawan
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 106

kemanapun arus air membawanya. Demikianlah perumpamaan kepasrahan


seorang hamba kepada Tuhannya.
Ri (ketika) sêdhêng (tengah) nèng (di) bayantaka (saling bunuh medan
perang), kalamun (kalau) ana (ada) kang (yang) wèri (musuh), nungkul
(menyerah) wus (sudah) buwang (membuang) warastra (senjata), nora
(tidak) wênang (boleh) dèn (di) patèni (bunuh). Ketika sedang
berlangsung saling membunuh di medan perang, kalau ada musuh yang,
menyerah dengah membuang senjata, tidak boleh dibunuh.
Ketika di tengah peperangan, dalam suasana saling bunuh, ketika
pilihannya hanya dibunuh atau membunuh, jangan kehilangan sikap welas
asih. Karena seorang ksatria pantang membunuh musuh yang lemah, yang
tak sepadan darinya. Maka ketika ada musuh yang menyerah dan
memasrahkan hidupnya jangan lantas berbuat semena-mena. Jadilah
perlindungan bagi orang yang lemah. Ketika musuhmu sudah menjatuhkan
senjata, artinya dia sudah menyerahkan hidupnya kepadamu. Engkau tak
boleh berlaku semena-mena kepada orang tak berdaya.
Binandhang (diikat dengan tali) iku (itu) wajib (harus), yèn (kalau)
ngantia (sampai) nêmu (menemui) lampus (kematian), têtêp (tetap)
anganiaya (menganiaya), gawe (membuat) nisthaning (nista bagi seorang)
prajurit (prajurit). Diikat dengan tali itu harus, kalau sampai menemui
kematian, tetap dianggap menganiaya, membuat nista bagi prajurit.
Wajib bagimu untuk mengamankannya. Dengan cara yang sepantasnya.
Boleh diikat untuk memastikan dia tidak lari atau melakukan tipudaya.
Namun tidak boleh diperlakukan dengan buruk. Kalau sampai terjadi suatu
celaka padanya maka engkau dianggap telah berbuat aniaya. Itu tindakan
yang nista bagi seorang prajurit.
Nêmu (menui) dosa (dosa) têmah (sehingga) apês (sial) ing (dalam) ayuda
(perang). Menemui dosa sehingga sial dalam perang.
Jika engkau berbuat seperti itu maka engkau akan menemui kesialan dalam
perang. Maka hindarilah memperlakukan tawanan dengan buruk. Sikap
yang paling baik adalah menjaga agar tawanan dalam keadaan selamat
sampai senapati memutuskan langkah yang akan diambil selanjutnya.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 107

Kajian Wirawiyata (1:38-39): Elinga Watak Prajurit Nistha


Pupuh 1, bait 38-39, Sinom (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a),
Serat Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Mangkono priyangganira,
yèn kasêlut ing ajurit,
aja gugup dèn prayitna,
ing tekad dipun pratitis.
Awit wong murwèng jurit,
ana pêpangkatanipun,
nistha madya utama.
Yèn kobêr dipun èngêti,
kanisthane wong kasêbut nèng ranangga.

Ing papan nora kuciwa,


gêgaman samêkta sami,
atandhing padha kèhira,
tanpa kiwul ing ajurit,
tangèh ana pêpati,
myang tan ana nandhang tatu,
mundur tanpa larapan.
Mung labêt kêkêsing ati,
kang mangkono antuk dosa tri prakara.

Dhihin marang ing narendra,


dènira cidra ing janji.
Kapindho ngasorkên praja,
kang mulyakkên marang dhiri.
Katri marang Hyang Widhi,
ngukuhi gadhuhanipun.
Kokum pantês linunas,
padhane sato wanadri,
yèn janmaa pasthi ana tekadira.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Demikian engkau sendiri,
kalau dikepung dalam perang,
jangan gugup yang waspada,
dalam tekad harap tepat.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 108

Karena orang yang memulai dala peperangan,


ada derajat-derajatnya,
nista tengah-tengah dan utama.
Kalau sempat cobalah diingat-ingat,
kenistaan orang yang disebut dalam perang.

Dalam tempat yang tidak mengecewakan,


senjata siap semua,
dibanding musuh sama banyaknya,
tanpa bertempur dalam perang,
mustahil ada korban jiwa,
dan tak ada yang mengalami luka,
mundur tanpa aturan,
hanya karena rasa miris dalam hati,
yang demikian mendapat dosa tiga perkara.

Pertama kepada Raja,


karena dia ingkar dalam janji.
Kedua mempermalukan negara,
yang telah memuliakan pada dirinya.
Ketiga kepada Tuhan Yang Maha Benar,
mengukuhi pinjamannya.
Dihukumi pantas dimusnahkan,
sama seperti hewan liar di hutan,
kalau manusia pasti ada tekadnya.

Kajian per kata:


Mangkono (demikian) priyangganira (engkau sendiri), yèn (kalau)
kasêlut (dikepung) ing (dalam) ajurit (perang), aja (jangan) gugup
(gugup) dèn (yang) prayitna (waspada), ing (dalam) tekad (tekad) dipun
(harap) pratitis (tepat). Demikian engkau sendiri, kalau dikepung dalam
perang, jangan gugup yang waspada, dalam tekad harap tepat.
Demikian juga bagi dirimu sendiri, kalau terkepung dalam perang jangan
gugup, tapi waspadalah. Dalam tekad jangan sampai keliru, niatnya yang
tepat. Yakni pasrah sambil terus berupaya. Yang gigih dalam bertempur
membela negara. Tetaplah memakai watak utama dalam perang.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 109

Awit (karena) wong (orang) murwèng (memulai dalam) jurit (peperangan),


ana (ada) pêpangkatanipun (derajat-derajatnya), nistha (nista) madya
(tengah-tengah) utama (utama). Karena orang yang memulai dala
peperangan, ada derajat-derajatnya, nista tengah-tengah dan utama.
Karena dalam peperangan, orang yang maju ke medan perang ada banyak
watak dan perilakunya, ada derajat-derajat keperwiraannya. Ada yang
berwatak nista, ada yang berwatak madya, yakni seperti watak kebanyakan
orang. Dan ada yang berwatak utama, seperti watak dari para senapati
hebat seperti Abimanyu.
Yèn (kalau) kobêr (sempat) dipun (cobalah) èngêti (dingat-ingat),
kanisthane (kenistaan) wong (orang) kasêbut (yang disebut) nèng (dalam)
ranangga (perang). Kalau sempat cobalah diingat-ingat, kenistaan orang
yang disebut dalam perang.
Maka ingat-ingat kalau sempat, apa yang disebut dengan watak nista itu.
Agar engkau dapat menghindarinya. Bagaimanakah contoh dari watak
nista itu? Bait berikut ini akan menguraikan salah satu contohnya.
Ing (dalam) papan (tempat) nora (tidak) kuciwa (kecewa), gêgaman
(senjata) samêkta (siap) sami (semua), atandhing (dibandingkan) padha
(sama) kèhira (jumlahnya), tanpa (tanpa) kiwul (bertempur) ing (dalam)
ajurit (perang), tangèh (mustahil) ana (ada) pêpati (korban), myang (dan)
tan (tak) ana (ada) nandhang (yang mengalami) tatu (luka), mundur
(mundur) tanpa (tanpa) larapan (aturan), mung (hanya) labêt (karena)
kêkêsing (miris dalam) ati (hati), kang (yang) mangkono (demikian)
antuk (mendapat) dosa (dosa) tri (tiga) prakara (perkara). Dalam tempat
yang tidak mengecewakan, senjata siap semua, dibanding musuh sama
banyaknya, tanpa bertempur dalam perang, mustahil ada korban jiwa, dan
tak ada yang mengalami luka, mundur tanpa aturan, hanya karena rasa
miris dalam hati, yang demikian mendapat dosa tiga perkara.
Yakni ketika engkau mendapat tempat yang baik, posisi yang strategis,
dengan senjata yang siap dan setara dibanding musuh dalam kekuatan dan
senjata. Namun tanpa bertempur dalam perang dan tidak ada korban jiwa
dan tidak ada yang terluka, tetapi engkau mundur tanpa aturan. Yang
demikian itu engkau mendapat dosa tiga perkara.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 110

Jika dalam posisi setimbang engkau tidak berani melawan musuh, dan
malah mundur tanpa teratur hanya karena engkau merasa takut dalam hati,
miris melihat musuh yang belum tentu menang, malah lari dari medan
perang, sungguh engkau telah berbuat nista. Engkau durhaka kepada tiga
orang. Siapa saja mereka itu?
Dhihin (pertama) marang (kepada) ing (pada) narendra (raja), dènira
(karena dia) cidra (ingkar) ing (dalam) janji (janji). Pertama kepada Raja,
karena dia ingkar dalam janji.
Seorang prajurit telah janji setia dan mengabdi kepada raja, sanggup
melaksanakan segala perintah dan mau mempertaruhkan nyawa untuk
rajanya. Dengan lari dari medan perang maka dia telah mengingkari
sumpah janjinya.
Kapindho (kedua) ngasorkên (mempermalukan) praja (negara), kang
(yang) mulyakkên (telah memuliakan) marang (pada) dhiri (dirinya).
Kedua mempermalukan negara, yang telah memuliakan pada dirinya.
Sebagai prajurit yang semua kebutuhannya telah dicukupi oleh negara,
diberi kedudukan, dihormati oleh sesama hamba, sungguh tak elok jika tak
mau maju perang. Sungguh tak pantas jika mundur karena takut. Itu berarti
dia hanya memikirkan dirinya sendiri, di atas kepentingan negara. Sikap
yang demikian itu mempermalukan negara. Tampak bahwa dalam negara
itu hanya berisi orang-orang pengecut.
Katri (ketiga) marang (kepada) Hyang (Tuhan) Widhi (Yang Maha
Benar), ngukuhi (mengukuhi) gadhuhanipun (barang pinjaman). Ketiga
kepada Tuhan Yang Maha Benar, mengukuhi pinjamannya.
Yang ketiga, lari dari perang atau menghindar dari resiko peperangan
dengan tanpa berupaya adalah merupakan dosa kepada Tuhan. Karena
orang yang lari mencari keselamatan dirinya sendiri berarti dia mencoba
untuk mengukuhi barang pinjaman yang ada padanya, yakni kehidupannya
atau nyawanya. Tuhan meminjamkan nyawa agar kita memakainya untuk
melakukan kebaikan. Apapun resikonya jika telah dipakai dalam kebaikan
maka kita telah menunaikan amanat. Mencoba mencari selamat karena
lebih sayang kepada nyawanya berarti ingkar akan kewajiban, seolah tak
rela kalau barang pinjamannya itu diambil pemiliknya.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 111

Kokum (nanti dihukum) pantês (pantas) linunas (dimusnahkan), padhane


(sama seperti) sato (hewan) wanadri (hutan), yèn (kalau) janmaa
(manusia) pasthi (pasti) ana (ada) tekadira (tekadnya). Dihukumi pantas
dimusnahkan, sama seperti hewan liar di hutan, kalau manusia pasti ada
tekadnya.
Orang yang demikian itu dihukumi sebagai pantas dimusnahkan seperti
hewan liar yang hidup di hutan. Karena watak manusianya sudah hilang.
Kalau masih ada sifat manusia pasti ada tekad untuk melawan, tekad untuk
bertahan, tekad untuk merasa malu kalau melarikan diri. Orang yang
demikian pasti sebangsa hewan liar wataknya.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 112

Kajian Wirawiyata (1:40-42): Tatag Tur Simpen Wiweka


Pupuh 1, bait 40-42, Sinom (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a),
Serat Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Madyane para prawira,
yèn kasêsêr ing ajurit,
nadyan kèh kêdhike padha,
kasor papane kasupit,
mundur amrih pakolih.
Ing pangolah nora gugup,
sarana winaweka,
kaangkah dènnya mangungkih,
yèn sinêrang rikat rinukêt marwasa.

Utamanirèng prawira,
sanadyan karoban tandhing,
tatag tur simpên wiweka,
wêngkoning papan tiniling,
linanglangan kang wèri.
Endi kang suda ing purun,
pinaran pinarwasa,
winisesa amrih titih,
èstu jaya sahaya samya raharja.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Watak dari para perwira madya,
kalau terdesak di dalam perang,
walau banyak sedikitnya sama,
kalah tempatnya terjepit,
mundur agar beroleh selamat.
Dalam melihat situasi tidak gugup,
dengan sarana berhati-hati,
rencananya dengan mengalah,
kalau diserang dengan cepat menyergap menaklukkan lawan.

Utamanya watak perwira,


walaupun terdesak dalam perang,
tetap tenang dan juga menyimpan kehati-hatian,
batas-batas dari musuh dilihat seksama,
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 113

dilihat sekeliling musuhnya.


Mana yang berkurang dalam kehendak musuh,
didekati dan ditaklukkan,
dikuasai agar menang,
sungguh sampai menang bawahan semua sejahtera.

Kajian per kata:


Madyane (watak madya) para (para) prawira (perwira), yèn (kalau)
kasêsêr (terdesak) ing (dalam) ajurit (perang), nadyan (walau) kèh
(banyak) kêdhike (sedikitnya) padha (sama), kasor (kalah) papane
(tempatnya) kasupit (terjepit), mundur (mundur) amrih (agar) pakolih
(beroleh selamat). Watak dari para perwira madya, kalau terdesak di
dalam perang, walau banyak sedikitnya sama, kalah tempatnya terjepit,
mundur agar beroleh selamat.
Watak tengah-tengah adalah watak para perwira yang penuh perhitungan.
Tidak takut tetapi selalu berhati-hati. Mau mundur kalau terdesak, dengan
harapan dapat mempersiapkan diri. Agar bahaya besar dapat dihindari.
Kelihatan seperti takut, tetapi sebenarnya hanya menghindar agar tidak
jatuh korban yang banyak.
Ing (dalam) pangolah (melihat situasi) nora (tidak) gugup (gugup),
sarana (dengan sarana) winaweka (berhati-hati), kaangkah (rencana)
dènnya (dalam dia) mangungkih (mengalah), yèn (kalau) sinêrang
(diserang) rikat (dengan cepat) rinukêt (menyergap) marwasa
(menaklukkan lawan). Dalam melihat situasi tidak gugup, dengan sarana
berhati-hati, rencananya dengan mengalah, kalau diserang dengan cepat
menyergap menaklukkan lawan.
Dalam melihat situasi tidak gugup, selalu berhati-hati agar selamat. Tidak
mengumbar keberanian, tetapi juga tidak takut. Menerapkan strategi agar
sedikit mungkin jatuh korban. Berani mengalah dengan tetap menjaga
moral prajurit. Tidak tampak gagah memang, tetapi sewaktu-waktu dapat
menyerang bila ada kesempatan. Sikapnya selalu penuh perhitungan.
Utamanirèng (utamanya watak dari) prawira (perwira), sanadyan
(walaupun) karoban (terdesak) tandhing (dalam perang), tatag (hati
tenang) tur (dan juga) simpên (menyimpan) wiweka (kehati-hatian),
wêngkoning (batas-batas dari) papan (tempat) tiniling (dilihat seksama),
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 114

linanglangan (dilihat sekeliling) kang (yang) wèri (musuh). Utamanya


watak perwira, walaupun terdesak dalam perang, tetap tenang dan juga
menyimpan kehati-hatian, batas-batas dari musuh dilihat seksama, dilihat
sekeliling musuhnya.
Watak perwira utama, walau terdesak tidak lantas lari ketakutan. Hatinya
teguh bergeming, tidak ada kekhawatiran. Sambil terus melawan mencoba
melihat sekeliling dengan seksama. Sambil mengukur kekuatan musuh,
mencoba menguasai medan untuk menerapkan strategi. Walau terdesak
tetap menjaga harapan untuk menang, maka selalu mencari cara jalan
keluar agar memenangkan pertempuran.
Endi (mana) kang (yang) suda (berkurang) ing (dalam) purun (kehendak,
kemauan), pinaran (didekati) pinarwasa (ditaklukkan), winisesa
(dikuasai) amrih (agar) titih (menang), èstu (sungguh) jaya (jaya) sahaya
(bawahan, pembantu) samya (semua) raharja (sejahtera). Mana yang
berkurang dalam kehendak musuh, didekati dan ditaklukkan, dikuasai agar
menang, sungguh sampai menang bawahan semua sejahtera.
Sambil terus bertempur terus mengawasi, bagian mana dari musuh yang
kelihatan lemah diserang dan ditaklukkan. Dikuasai sedikit demi sedikit
agar menang, sampai satu persatu bagian ditaklukkan dan diraih
kemenangan. Sungguh kalau sudah memang semua bawahan mendapat
kesejahteraan. Itulah tiga watak prajurit dalam perang.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 115

PUPUH KEDUA

PANGKUR
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 116
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 117

Kajian Wirawiyata (2:1-3): Pitung Prakara Watak Calon Senapati


Pupuh 2, bait 1-3, Pangkur (metrum: 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i), Serat
Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Kapungkur patraping bala,
ginantyakkên lungguhing senapati,
ingkang sinrahan wadyagung,
dening jêng narèswara,
kinèn matah saprayoganirèng wadu,
kinarya rumêksèng praja.
Dènira ngupaya janmi,

ywa tinggal pitung prakara,


mrih utama adêgirèng prajurit.
Kang dhihin nalurinipun,
tan kêna trahing sudra,
kapindhone bumi kalairanipun,
kang maksih tunggal sapraja,
katri tanpa cacad dhiri.

Papat otot balungira,


ingkang tigas lima tanpa panyakit,
ênêm sawang-sawungipun,
pitu kang datan darwa,
pakarêman kang mlarati raganipun,
marma milih kang mangkana,
watêke wantalèng kardi.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Sudah selesai pelajaran tentang disiplin bagi balatentara,
sekarang ganti dengan disiplin bagi senapati,
yang diserahi segenap prajurit,
oleh Kanjeng Sang Raja,
disuruh memerintah bagaimana baiknya prajurit,
untuk menjaga keadaan negara.
Dalam mencari personil,

jangan meninggalkan tujuh perkara,


agar utama berdiri mereka di depan prajurit.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 118

Yang pertama nalurinya,


tak boleh keturunan sudra,
keduanya tanah kelahirannya,
yang masih satu negara,
ketiga tanpa cacat diri.

Keempat otot-tulangnya,
yang segar kelima tanpa penyakit,
keenam enak dipandang,
ketujuh yang tidak mempunyai,
watak yang merusak badannya,
maka pilihlah yang demikian itu,
wataknya lugas dalam bekerja.

Kajian per kata:


Kapungkur (sudah selesai) patraping (pelajaran tentang disiplin) bala
(bagi balatentara), ginantyakkên (digantikan) lungguhing (yang duduk
sebagai) senapati (senapati), ingkang (yang) sinrahan (diserahi)
wadyagung (segenap prajurit), dening (oleh) jêng (Kanjeng) narèswara
(Raja), kinèn (disuruh) matah (memerintah) saprayoganirèng (bagaimana
baiknya) wadu (prajurit), kinarya (untuk) rumêksèng (menjaga keadaan)
praja (negara). Sudah selesai pelajaran tentang disiplin bagi balatentara,
sekarang ganti dengan disiplin bagi senapati, yang diserahi segenap
prajurit, oleh Kanjeng Sang Raja, disuruh memerintah bagaimana baiknya
prajurit, untuk menjaga keadaan negara.
Pelajaran untuk para prajurit sudah selesai. Sekarang kita masuk kepada
pelajaran bagi para senapati sebagai komandan yang diserahi untuk
memerintah prajurit. Bagaimana perlakuan terhadap mereka agar dapat
dibentuk pasukan yang dapat diandalkan untuk menjaga negara.
Bagaimana sebaiknya para senapati harus bertindak agar dapat memberi
perintah kepada para prajurit dengan baik.
Dènira (dalam dia) ngupaya (mencari) janmi (personil), ywa (jangan)
tinggal (meninggalkan) pitung (tujuh) prakara (perkara), mrih (agar)
utama (utama) adêgirèng (berdiri mereka) prajurit (di depan prajurit).
Dalam dia mencari personil, jangan meninggalkan tujuh perkara, agar
utama berdiri mereka di depan prajurit.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 119

Untuk membentuk pasukan yang utama, yang dapat diandalkan, yang


tuntas dalam menjalankan tugas, dimulai sejak merekrut personil prajurit.
Ada tujuh perkara atau kriteria dalam menyeleksi prajurit yang baik. Tujuh
perkara itu sebagai berikut ini.
Kang (yang) dhihin (pertama) nalurinipun (nalurinya), tan (tak) kêna
(boleh) trahing (keturunan) sudra (orang rendah), kapindhone (keduanya)
bumi (tanah) kalairanipun (kelahirannya), kang (yang) maksih (masih)
tunggal (satu) sapraja (negara), katri (ketiga) tanpa (tanpa) cacad (cacat)
dhiri (diri). Yang pertama nalurinya, tak boleh keturunan sudra, keduanya
tanah kelahirannya, yang masih satu negara, ketiga tanpa cacat diri.
Tujuh kriteria untuk merekrut senapati itu adalah: Yang pertama, tidak
boleh keturunan sudra, yakni orang biasa yang tidak pernah menjadi
prajurit. Hal ini berkaitan dengan pendidikan kewiraan yang tidak dia
dapatkan kalau dia keturunan sudra. Di zaman dahulu tidak ada sekolah,
jadi yang mendidik anak hanyalah orang tuanya. Selain itu dikhawatirkan
sifat orang tuanya menurun kepadanya, karena tidak biasa berperang
mungkin saja kurang cakap dalam olah keprajuritan.
Yang kedua, tanah kelahirannya masih satu negara dengan tempat dia
mengabdi. Tidak boleh misalnya mengangkat prajurit dari kalangan lain
bangsa. Dikhawatirkan loyalitasnya masih kepada negara asalnya. Yang
ketiga tidak boleh cacat diri. Yang dimaksud adalah cacat fisik yang
menganggu tugasnya sebagai prajurit. Seorang prajurit harus cakap dan
berwibawa, gagah menggentarkan musuh.
Papat (keempat) otot (otot) balungira (tulangnya), ingkang (yang) tigas
(segar) lima (kelima) tanpa (tanpa) panyakit (penyakit), ênêm (keenam)
sawang-sawungipun (enak dipandang), pitu (ketujuh) kang (yang) datan
(tidak) darwa (punya), pakarêman (kegemaran) kang (yang) mlarati
(memiskinkan) raganipun (badannya), marma (oleh karena itu) milih
(pilihlah) kang (yang) mangkana (demikian), watêke (wataknya)
wantalèng (wantah, lugas) kardi (dalam bekerja). Keempat otot-tulangnya,
yang segar kelima tanpa penyakit, keenam enak dipandang, ketujuh yang
tidak mempunyai, watak yang merusak badannya, maka pilihlah yang
demikian itu, wataknya lugas dalam bekerja.
Yang keempat otot-tulangnya masih segar. Tigas artinya baru, segar seperti
belum dipakai, maksudnya sangat sigap, tangkas, cekatan. Kelima tidak
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 120

mempunyai penyakit yang parah yang membuat pekerjaannya tidak


sempurna. Keenam penampilannya bagus, gagah, tegap dan tinggi. Kalau
secara fisik tidak menarik jika menjadi prajurit tentu kurang meyakinkan,
misalnya terlalu pendek, dsb. Ketujuh tidak mempunyai kebiasaan yang
bisa merusak badannya, semisal minum tuak, mabuk atau gemar berjudi.
Pilihlah orang yang memenuhi tujuh kriteria itu agar dapat menjadi prajurit
yang cakap. Lugas dalam bekerja. Tidak neko-neko.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 121

Kajian Wirawiyata (2:4-9): Den Gegulang Rujuk Lawan Watake


Pupuh 2, bait 4-9, Pangkur (metrum: 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i), Serat
Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Sawusing pamilihira,
pamintane mring wong sawiji-wiji,
pinantês cêkêlanipun,
rujuke lan sarira.
Pangulahe warastra ywa kongsi rikuh,
rikate dènnya marwasa,
myang panangkis amrih titih.

Wong kang sêdhêng dêdêgira,


aparigêl tuwin kang andhap alit,
akas cukat tandangipun,
iku sinung sanjata.
Watak nora kewran sabarang pakewuh,
mudhun jurang munggah arga,
aluwês tur miyatani.

Wong kang lêncir dêdêgira,


kurang tandang aropèk ingkang dhiri,
iku cinêkêlan lawung.
Jangkah dhêpane dawa,
watak corok lêlantaran silih panduk,
mlumpad jagang pasang ôndha,
angunggahi balowarti.

Wong sadhepah dêdêgira,


kang pawakan otot balung kawijil,
mariyêm cêkêlanipun.
Amolahakên rosa,
nadyan kêmbêl kêbladhêr kuwawa junjung,
manawa bobrok kang kuda,
watêke kêlar gêntèni.

Wong gung luhur kang sêmbada,


iku pantês karya wadya turanggi.
Agampang panitihipun,
klar nêmbadani kuda,
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 122

nangkis rosa mêdhang mring pratala gadug.


Yèn têmpuk padha turôngga,
silih rok amigunani.

Dene wong kang môndraguna,


kinaryaa margôngsa juru margi,
myang rêrakit kuwu-kuwu.
Kalamun anèng têba,
lawan bètèng karêtêg sêsaminipun,
kang tan kewran ing pangreka,
mêmènèk lan bisa nglangi.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Setelah selesai seleksi,
diminta kepada setiap prajurit satu per satu,
yang pantas memegang senjata,
disesuaikan dengan postur tubuhnya.
Pelatihan senjata yang akan mereka pakai jangan sampai
merepotkan mereka,
agar cepat dia menyergap lawan,
dan mudah dalam menangkis agar unggul.

Orang yan sedang posturnya,


mahir serta pendek kecil,
gesit cekatan gerakannya,
itu diberi senjata.
Wataknya tidak kesulitan dalam segala kerepotan,
turun jurang naik gunung,
luwes dan juga andal.

Orang yang tinggi kurus posturnya,


kurang gerakan lemah badannya,
itu diminta memegang tombak.
Langkah dan bentang tangannya panjang,
wataknya dapat menyodok dengaran lebih mengenai,
melompati parit memasang tangga,
menaiki benteng.
Orang yang tinggi besar dada bidang posturnya,
yang tubuhnya terlihat berotot tulang,
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 123

pegangnya meriam.
Menggerakkan kuat,
walau terperosok terjeblos lumpur sanggup mengangkat,
kalau kuda penarik payah,
kuat menggantikan.

Orang yang besar,


tinggi yang kuat,
itu pantas untuk pasukan berkuda.
Memudahkan dia naik,
kuat mengendalikan gerakan kuda,
menangkis kuat menyabetkan pedang sampai ke tanah.
Kalau tertempur sesama prajurit berkuda,
saling terjang sangat berguna.

Adapun orang yang punya keahlian,


pakailah sebagai tukang kayu pembuka jalan,
dan merakit pos-pos peristirahatan,
kalau di luar kota.
Dan benteng jembatan semacamnya,
yang tak kesulitan dalam merekayasa,
bisa memanjat dan bisa berenang.

Kajian per kata:


Sawusing (setelah) pamilihira (seleksi selesai), pamintane (diminta)
mring (kepada) wong (orng) sawiji-wiji (satu per satu), pinantês (yang
pantas) cêkêlanipun (memegang senjata), rujuke (merujuk, sesuai) lan
(dengan) sarira (postur tubuh). Setelah selesai seleksi, diminta kepada
setiap prajurit satu per satu, yang pantas memegang senjata, disesuaikan
dengan postur tubuhnya.
Setelah terkumpul orang-orang pilihan yang mampu menjai prajurit,
selanjutnya kepada mereka diminta untuk memegang senjata sesuai dengan
postur tubuh mereka. Penempatan mreka dalam pasukan disesuaikan
dengan sifat-sifat fisik mereka. Tentu juga selain postur tubuh
dipertimbangkan pula kemampuan intelektual, bakat dan minat para
prajurit.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 124

Pangulahe (pelatihan) warastra (senjata) ywa (jangan) kongsi (sampai)


rikuh (merepotkan), rikate (agar cepat) dènnya (dia) marwasa (menyergap
lawan), myang (dan) panangkis (mudah dalam menangkis) amrih (agar)
titih (unggul). Pelatihan senjata yang akan mereka pakai jangan sampai
merepotkan mereka, agar cepat dia menyergap lawan, dan mudah dalam
menangkis agar unggul.
Ada postur tertentu yang lebih cocok jika memakai senjata tertentu. Ada
tugas tertentu yang lebih cocok jika memakai orang yang tinggi, yang
pendek, yang kurus yang kekar dan sebagainya. Kepada mereka dilatih
sesuai dengan kondisi tubuh dan bakat kemampuannya.
Wong (orang) kang (yang) sêdhêng (sedang) dêdêgira (posturnya),
aparigêl (mahir) tuwin (serta) kang (yang) andhap (pendek) alit (kecil),
akas (gesit) cukat (cekatan) tandangipun (gerakannya), iku (itu) sinung
(diberi) sanjata (senjata). Orang yan sedang posturnya, mahir serta
pendek kecil, gesit cekatan gerakannya, itu diberi senjata.
Yang postur pendek tapi gesit, lincah, terampil gerakannya diberi senjata.
Pistol atau senapan. Karena motoriknya bagus dan cekatan dia akan
berhasil kalau memegang senapan yang memerlukan gerak cepat dan
akurat.
Watak (wataknya) nora (tidak) kewran (kesulitan) sabarang (dalam
segala) pakewuh (kerepotan), mudhun (turun) jurang (jurang) munggah
(naik) arga (gunung), aluwês (luwes) tur (dan juga) miyatani (andal).
Wataknya tidak kesulitan dalam segala kerepotan, turun jurang naik
gunung, luwes dan juga andal.
Karena kelebihan dari fisiknya yang cekatan dan terampil, tidak akan
kesulitan dalam segala keadaan. Turun jurang, naik gunung, dapat
dilakukan dengan luwes dan dapat diandalkan.
Wong (orang) kang (yang) lêncir (tinggi kurus) dêdêgira (posturnya),
kurang (kurang) tandang (gerakan) aropèk (lemah) ingkang (yang) dhiri
(diri), iku (itu) cinêkêlan (diminta memegang) lawung (tumbak). Orang
yang tinggi kurus posturnya, kurang gerakan lemah badannya, itu diminta
memegang tombak.
Orang yang tingginya di atas rata-rata dan besar biasanya lamban dalam
gerakan, lemah dalam merespon serangan, tidak cekatan dan gesit. Senjata
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 125

yang cocok baginya adalah tombak. Dengan memegang tombak orang


yang berpostur tinggi lebih panjang jangkauannya. Ini menguntungkan
baginya.
Jangkah (langkah) dhêpane (bentang tangannya) dawa (panjang), watak
(wataknya) corok (dapat menyodok) lêlantaran (dengan sarana) silih
panduk (lebih mengenai), mlumpad (melompat) jagang (parit) pasang
(memasang) ôndha (tangga), angunggahi (menaiki) balowarti (benteng).
Langkah dan bentang tangannya panjang, wataknya dapat menyodok
dengaran lebih mengenai, melompati parit memasang tangga, menaiki
benteng.
Dengan postur tubuh yang tinggi langkah kaki dan rentang tanggannya
juga panjang. Kalau menyodok dengan tumbak akan lebih sampai
mengenai sasaran. Juga cocok jika bertugas di tempat yang
memerlukannya, seperti melompati parit, memasang tangga untuk menaiki
benteng dan sebagainya.
Wong (orang) sadhepah (tinggi besar dada bidang) dêdêgira (posturnya),
kang (yang) pawakan (tubuhnya) otot (berotot) balung (tulang) kawijil
(terlihat), mariyêm (meriam) cêkêlanipun (pegangannya). Orang yang
tinggi besar dada bidang posturnya, yang tubuhnya terlihat berotot tulang,
pegangnya meriam.
Sadhepah adalah postur tinggi dan berotot, dada bidang tubuh kekar lebar,
orang seperti itu pasti kuat. Cocok kalau memegang meriam, artileri yang
sudah mulai dipakai oleh pasukan Mangkunagaran.
Amolahakên (menggerakkan) rosa (kuat), nadyan (walau) kêmbêl
(terperosok) kêbladhêr (terjeblos lumpur) kuwawa (sanggup) junjung
(mengangkat), manawa (kalau) bobrok (rusak) kang (yang) kuda (kuda),
watêke (sifatnya) kêlar (kuat) gêntèni (menggantikan). Menggerakkan
kuat, walau terperosok terjeblos lumpur sanggup mengangkat, kalau kuda
penarik payah kuat menggantikan.
Orang yang tinggi besar mampu dengan mudah menggerakkan meriam
yang berat, kalau roda meriam terperosok dalam tanah yang lengket
(kembel), atau terjeblos lumpur (kebladher) mampu mengangkat. Kalau
kuda penarik meriam lempoh pun sanggup untuk menarinya.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 126

Wong (orang) gung (besar) luhur (tinggi) kang (yang) sêmbada (kuat),
iku (itu) pantês (pantas) karya (untuk) wadya (pasukan) turanggi
(berkuda). Orang yang besar, tinggi yang kuat, itu pantas untuk pasukan
berkuda.
Orang yang tinggi besar dan kuat sangat cocok ditempatkan di pasukan
kavaleri atau dragonder, pasukan berkuda gerak cepat.
Agampang (memudahkan) panitihipun (dia naik), klar (kuat) nêmbadani
(mengendalikan gerakan) kuda (kuda), nangkis (menangkis serangan) rosa
(kuat) mêdhang (menyabetkan pedang) mring (ke) pratala (tanah) gadug
(sampai ke dasar). Memudahkan dia naik, kuat mengendalikan gerakan
kuda, menangkis kuat menyabetkan pedang sampai ke tanah.
Posturnya memudahkan dia naik, kuat mengendalikan gerakan kuda yang
tak beraturan. Mampu menangkis serangan lawan, tidak terpental karena
tubuhnya besar. Juga mampu menyabetkan pedang sampai ke tanah, untuk
memancung lawan yang terjatuh.
Yèn (kalau) têmpuk (bertempur) padha (sesama) turôngga (berkuda), silih
(saling) rok (terjang) amigunani (sangat berguna). Kalau tertempur
sesama prajurit berkuda, saling terjang sangat berguna.
Kalau melakukan duel dengan sesama prajurit berkuda, orang berpostur
tinggi sangat berguna. Lebih unggul karena jangkauan tangannya lebih
panjang. Dengan senjata pedang pun menjangkau, dengan tombak juga
lebih dulu mengenai lawan.
Dene (adapun) wong (orang) kang (yang) môndraguna (keahlian),
kinaryaa (pakailah) margôngsa (sebagai tukang kayu) juru margi
(pembuka jalan), myang (dan) rêrakit (merakit) kuwu-kuwu (pos-pos
peristirahatan), kalamun (kalau) anèng (ada di) têba (luar kota). Adapun
orang yang punya keahlian, pakailah sebagai tukang kayu pembuka jalan,
dan merakit pos-pos peristirahatan, kalau di luar kota.
Orang yang punya keahlian ditempatkan dalam pasukan zeni, bertugas
sebagai pembuka jalan, merakit fasilitas tempur seperti pos-pos, tempat
peristirahatan. Jika kebetulan pasukan sedang melawat ke luar daerah akan
sangat berguna.
Lawan (dan) bètèng (benteng) karêtêg (jembatan) sêsaminipun
(semacamnya), kang (yang) tan (tak) kewran (kesulitan) ing (dalam)
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 127

pangreka (merekayasa), mêmènèk (bisa memanjat pohon) lan (dan) bisa


(bisa) nglangi (berenang). Dan benteng jembatan semacamnya, yang tak
kesulitan dalam merekayasa, bisa memanjat dan bisa berenang.
Dan juga mempersiapkan benteng darurat, jembatan darurat, bangunan
logistik seperti lumbung, dapur umum, serta sarana mobilisasi pasukan
seperi gerobak, kereta dan lain-lain. Agar tangguh pasukan zeni juga
dibekali dengan kemampuan jelajah medan, seperti memanjat pohon,
menyeberangi rawa, berenang dan sebagainya.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 128

Kajian Wirawiyata (2:10-11): Ngumpulna Samektaning Jurit


Pupuh 2, bait 10-11, Pangkur (metrum: 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i), Serat
Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Yogyane malih ngumpulna,
para tukang kang kanggo mring prajurit,
gêrji lawan tukang puntu.
Karya busana wastra,
tukang nyamak mênjait pakaryanipun,
parabot kang bôngsa carma,
tukang tapêl lawan nyingi.

Sayang lan tukang marakas,


mirantèni bêkakasing prajurit,
pandhe miwah tukang kayu,
mranggi lawan kêmasan.
Ingkang karya gêgamaning aprang pupuh,
sadaya dipun samêkta,
rèhning rumêksèng prajurit.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Lebih baik lagi kumpulkan,
para tukang yang digunakan para prajurit,
seperti tukang jahit dan tukang tali,
membuat pakaian dan kain.
Tukang samak menjahit pekerjaannya,
membuat perabot sebangsa kulit,
tukang pelana dan tukang logam.

Tukang tembaga dan tukang gosok intan,


melengkapi perkakas dari prajurit,
panda besi serta tukang kayu,
pembuat rangka senjata dan tukang emas.
Yang membuat senjata perang besar,
semua disiapkan,
karena berkaitan denan penjagaan prajurit.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 129

Kajian per kata:


Yogyane (lebih baik) malih (lagi) ngumpulna (kumpulkan), para (para)
tukang (tukang) kang (yang) kanggo (digunakan) mring (oleh) prajurit
(prajurit), gêrji (tukang jahit) lawan (dan) tukang (tukang) puntu (tali),
karya (membuat) busana (pakaian) wastra (kain). Lebih baik lagi
kumpulkan, para tukang yang digunakan para prajurit, seperti tukang jahit
dan tukang tali, membuat pakaian dan kain.
Lebih baik dalam pasukanmu ada orang yang mampu membuat atau
menyediakan keperluan prajurit, seperti tukang jahit dan tukang tali.
Tukang jahit untuk membetulkan pakaian prajurit yang rusak, sobek,
bedhah. Juga untuk menjahit kain yang diperlukan selama perang. Tukang
tali untuk membuat keperluan perang, seperti tali kekang, tali kereta, tali
untuk tali temali perabotan, dan lain-lain.
Tukang (tukang) nyamak (samak) mênjait (menjahit) pakaryanipun
(pekerjaannya), parabot (perabot) kang (yang) bôngsa (sebangsa) carma
(kulit), tukang (tukang) tapêl (pelana) lawan (dan) nyingi (logam). Tukang
samak menjahit pekerjaannya, membuat perabot sebangsa kulit, tukang
pelana dan tukang logam.
Tukang samak untuk membuat perabot dari kulit, seperti tempat anak
panah, tali senjata, tali kuda, pelana, dan sebagainya. Tukang logam untuk
membuat peralatan perang, senjata, mata panah, pedang, tapal kuda dan
berbagai perabot lain yang diperlukan.
Sayang (tukang tembaga) lan (dan) tukang (tukang) marakas (penggosok
intan), mirantèni (melengkapi) bêkakasing (perkakas dari) prajurit
(prajurit), pandhe (pandai besi) miwah (serta) tukang kayu (tukang kayu),
mranggi (pembuar rangka senjata) lawan (dan) kêmasan (tukang emas).
Tukang tembaga dan tukang gosok intan, melengkapi perkakas dari
prajurit, panda besi serta tukang kayu, pembuat rangka senjata dan tukang
emas.
Semua tenaga trampil di atas diperlukan dalam perang. Jangan sampai
ketika dibutuhkan mereka harus dicari-cari. Syukur kalau di antara prajurit
ada yang mampu melakukan itu. Kalau tidak perlu direkrut dari luar,
terutama untuk pekerjaan profesional.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 130

Ingkang (yang) karya (membuat) gêgamaning (senjata) aprang (perang)


pupuh (besar), sadaya (semua) dipun samêkta (disiapkan), rèhning
(karena) rumêksèng (berkatian dengan penjagaan) prajurit (prajurit). Yang
membuat senjata perang besar, semua disiapkan, karena berkaitan denan
penjagaan prajurit.
Mereka harus siap sedia, standby di medan perang. Kalau sewaktu-waktu
dibutuhkan sudah siap. Dengan demikian pasukan selalu bertempur dengan
alat yang baik, senjata yang sempurna, sarana yang lengkap dan
pendukung logistik yang cukup. Tugas mereka memang berkaitan dengan
penjagaan agar performa tempur prajurit tidak menurun.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 131

Kajian Wirawiyata (2:12-14): Wruhna Dununge Sawiji-Wiji


Pupuh 2, bait 12-14, Pangkur (metrum: 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i), Serat
Wirawiyata, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Liya kang wus kanggwèng wadya,
sêpi andhungan tikêl kalih,
gêgaman saprantinipun,
tuwin busana wastra.
Obat mimis kang cukup dèn anggo nglurug,
awit rumêksa ing praja,
tan wruh sangkaning bilai.

Ri wusing pamintanira,
lan piranti kang kanggo nèng prajurit,
mangkana pangrêksanipun,
dipun titi ing bala.
Sandhang pangan ing saari aywa kantu,
sukêr sakit kinawruhan,
dèn bisa ngenaki kapti.

Ywa pêgat pamulangira,


saniskara wajibirèng prajurit,
wêruhna sadurungipun,
nistha madya utama.
Myang pêpacak pacuwan kang wus tinamtu,
kang kanggo nèng pra prawira,
dununge sawiji-wiji.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Selain yang sudah diperuntukkan bagi pasukan,
jangan kurang cadangan lipat dua,
senjata lengkap dengan pirantinya,
serta pakaian dan kain.
Obat dan peluru yang cukup untuk menyerang musuh,
karena menjaga negara itu,
tak tahu datangnya celaka.

Sekarang setelah cukup permintaanmu,


dan piranti yang dipakai para prajurit,
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 132

demikian perawatannya,
diteliti oleh pasukan.
Sandang pangan dalam sehari jangan terlambat,
yang sakit segera diketahui,
yang bisa menyenangkan hati.

Jangan putus pengajaranmu,


segala sesuatu yang wajib bagi prajurit,
tunjukkan sebelumnya,
yang nista, madya dan utama.
Dan hal-hal yang baik serta hal-hal yang mengecewakan yang sudah
pasti,
bagi para perwira,
tunjukkan letaknya satu-persatu.

Kajian per kata:


Liya (selain) kang (yang) wus (sudah) kanggwèng (diperuntukkan) wadya
(pasukan), aja (jangan) sêpi (sepi) andhungan (cadangan) tikêl (lipat)
kalih (dua), gêgaman (senjata) saprantinipun (lengkap dengan
pirantinya), tuwin (serta) busana (pakaian) wastra (dan kain). Selain yang
sudah diperuntukkan bagi pasukan, jangan kurang cadangan lipat dua,
senjata lengkap dengan pirantinya, serta pakaian dan kain.
Selain yang telah disebut tadi, perlu juga dipersiapkan cadangan lipat dua
yang berupa senjata lengkap dengan pirantinya, serta pakaian dan kain.
Jangan sampai pasukan kekurangan senjata dan pakaian. Kalau berperang
seringkali senjata direbut musuh atau rusak. Pakaian juga sobek, basah
kotor atau dijarah. Pasukan yang tangguh harus mampu memulihkan
keadaan dengan cepat. Maka perlu cadangan yang cukup.
Obat (obat) mimis (peluru) kang (yang) cukup (cukup) dèn anggo
(dipakai) nglurug (menyerang musuh), awit (karena) rumêksa (menjaga)
ing (dalam) praja (negara), tan (tak) wruh (tahu) sangkaning (datangnya)
bilai (celaka). Obat dan peluru yang cukup untuk menyerang musuh,
karena menjaga negara itu, tak tahu datangnya celaka.
Obat-obatan dan peluru juga harus cukup. Setiap perang pasti ada yang
terluka. Setiap perang perlu persediaan peluru yang banyak. Apalagi kalau
menyerang ke pihak lawan, pasti dibutuhkan logistik yang besar. Sebab
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 133

menjaga negara tak boleh kompromi, dan datangnya celaka tak dapat
diduga-duga.
Ri (Sekarang) wusing (setelah) pamintanira (cukup permintaanmu), lan
(dan) piranti (piranti) kang (yang) kanggo (dipakai) nèng (dalam, oleh)
prajurit (prajurit), mangkana (demikian) pangrêksanipun
(perawatannya), dipun titi (diteliti) ing (oleh) bala (pasukan). Sekarang
setelah cukup permintaanmu, dan piranti yang dipakai para prajurit,
demikian perawatannya, diteliti oleh pasukan.
Sekarang setelah semua itu cukup, pikirkan juga piranti dan keahlian yang
diperlukan untuk mendukung sebuah pasukan. Perawatan piranti tersebut
juga diperlukan agar awet dan tidak rusak menjadi rongsokan. Perlu orang
yang mampu menjaga dan merawat, memperbaiki dan mengganti
komponen yang rusak. Di sini dibutuhkan beberapa keahlian di luar
keahlian tempur.
Sandhang (sandang) pangan (pangan) ing (dalam) saari (sehari) aywa
(jangan) kantu (terlambat), sukêr-sakit (yang sakit) kinawruhan
(diketahui), dèn bisa (yang bisa) ngenaki (menyenangkan) kapti (hati).
Sandang pangan dalam sehari jangan terlambat, yang sakit segera
diketahui, yang bisa menyenangkan hati.
Sandang pangan jangan sampai terlambat dalam sehari pun. Arti kantu
adalah ketika dibutuhkan barangnya belum ada, sehingga menimbulkan
masalah. Yang demikian jangan sampai terjadi. Prajurit yang sakit harus
segera dilaporkan agar bisa dirawat. Sediakan berbagai unit-unit
pendukung agar para prajurit bertempur dengan hati yang nyaman.
Ywa (jangan) pêgat (putus) pamulangira (pengajaranmu), saniskara
(segala sesuatu) wajibirèng (yang wajib bagi) prajurit (prajurit), wêruhna
(tunjukkan) sadurungipun (sebelumnya), nistha (nista) madya (madya)
utama (utama). Jangan putus pengajaranmu, segala sesuatu yang wajib
bagi prajurit, tunjukkan sebelumnya, yang nista, madya dan utama.
Jangan putus pengajaranmu kepada para prajurit. Sebagai senapati engkau
harus bisa memompa semangat mereka terus-menerus. Agar mereka
mampu bertindak dengan disiplin prajurit yang penuh sifat ksatria. Mampu
bertindak dengan cara utama, mampu menjauhi sikap nista.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 134

Myang (dan) pêpacak (hal-hal baik) pacuwan (hal-hal yang


mengecewakan) kang (yang) wus (sudah) tinamtu (pasti), kang (yang)
kanggo (bagi) nèng (dalam) pra (para) prawira (perwira), dununge
(letaknya) sawiji-wiji (satu per satu). Dan hal-hal yang baik serta hal-hal
yang mengecewakan yang sudah pasti, bagi para perwira, tunjukkan
letaknya satu-persatu.
Dan semua sikap yang baik-baik tunjukkanlah, juga semua sikap yang
membuat kecewa. Yang bagi prajurit semua itu sudah pasti. Tunjukkanlah
letak kebaikan dan kehinaan satu per satu agar mereka paham dan patuh.

****
Sampai di sini selesailah kajian serat Wirawiyata karya Sri Mangkunagara
IV. Pengkaji berharap upaya kecil ini bermanfaat bagi mereka yang
membutuhkan.

Mireng, 14 Agustus 2018.

Bambang Khusen Al Marie


Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 135

SERAT NAYAKAWARA
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 136
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 137

Kata Pengantar

Serat Nayakawara berisi pesan dan nasihat kepada para punggawa agar
mereka bekerja sungguh-sungguh dalam mengabdi kepada raja. Tujuan
dari nasihat ini adalah agar para punggawa mempunyai sikap yang baik
dalam memerintah para bawahan dan melindungi rakyat. Jika sikap mereka
baik maka negara akan maju, berkembang mencapai kemakmuran. Negara
akan lestari tegak berdiri, dapat diwariskan kemakmurannya kepada anak
cucu.
Dalam serat ini juga disinggung bahwa para punggawa zaman kini tinggal
mewarisi hal-hal baik dari para pendahulu mereka yang telah bersusah
payah dalam mendirikan negara. Maka hendaknya mereka menyadari itu
dan meningkatkan semangat pengabdian mereka. Agar negara yang sudah
susah payah dirintis ini dapat berlanjut mencapai kemakmuran.
Kepada para punggawa juga diingatkan bagaimana awal mula mereka
ingin mendaftar sebagai punggawa. Bagaimana mereka mempunyai cita-
cita yang tinggi dahulu, kemudian dengan bersusah payah berhasil
mencapai keinginan. Kepada mereka diharap tetap menjaga semangat itu
dan tetap tidak berhenti berupaya keras agar negara mencapai
kemakmuran.
Seperti kebiasaan Sri Mangkunagara IV, dalam karya-karya beliau selalu
terselip perumpamaan-perumpamaan. Dalam serat ini pun juga ada
perumpamaan agar para punggawa jangan bertidak seperti ulat yang
menggerogoti negara. Juga ada perumpamaan tentang bulan yang tertutup
awan. Untuk lebih jelasnya, silakan membaca sendiri karya klasik dari Sri
Mangkunagara ini.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 138
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 139

PUPUH PERTAMA

PANGKUR
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 140
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 141

Kajian Nayakawara (1:1-2): Pambuka


Pupuh 1, bait 1-2, Pangkur (metrum: 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i), Serat
Nayakawara, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Wuryanta dera manitra,
dina Isnèn wayah jam wolu enjing,
Madilawal ping sapuluh,
nuju môngsa kalima,
ing Prangbakat taun Dal sangkalanipun,
atmaja Hyang Girinata,
mulang mring punggawa mantri.

Mangkunagara kaping pat,


kang puwara nguni datan marsudi,
mring gunêm rèh kang rahayu,
masalahing suwita.
Mung ngugêmi ujar kuna kang tan jujur,
kabanjur praptaning mangkya,
piangkuhe angrikuhi.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Mulai dia menulis,
pada hari Senin waktu jam 8 pagi,
bulan Jumadil Awwal hari ke-10,
bertepatan dengan masa ke-5,
di wuku Prangbakat, tahun Dal.Dengan candra sengkala:
putra Hyang Girinata
mengajar kepada punggawa mantri, penanda tahun 1791 AJ).

Mangkunagara IV,
Kepada yang terakhir tidak mempelajari,
pada perkataan kebaikan,
permasalahan pengabdian.
Hanya memegang perkataan orang dahulu yang tiak jujur,
berlarut-larut sampai sekarang,
keangkuhannya merepotkan.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 142

Kajian per kata:

Wuryanta (mulai) dera (dia) manitra (menulis), dina (hari) Isnèn (Senin)
wayah (waktu) jam (jam) wolu (delapan) enjing (pagi), Madilawal
(Jumadilawal) ping sapuluh (hari ke sepuluh), nuju (bertepatan) môngsa
(mangsa) kalima (kelima), ing (di) Prangbakat (wuku Prangbakat) taun
(tahun) Dal (Dal). Mulai dia menulis, pada hari Senin waktu jam 8 pagi,
bulan Jumadil Awwal hari ke-10, bertepatan dengan masa ke-5, di wuku
Prangbakat, tahun Dal.
Mulai ditulis serat ini di hari Senin, tanggal 10 Jumadilawal. Bertepatan
dengan masa ke-lima dalam sistem pranata mangsa. Pada wuku
Prangbakat, tahun Dal. Di Jawa ada beberapa sistem penanggalan yang
cukup banyak dipakai sebagai penanda waktu. Yang dituliskan ini hanya
sedikit diantaranya.
Sangkalanipun (sengkala tahun), atmaja Hyang Girinata, mulang mring
punggawa mantri (putra Hyang Girinata mengajar kepada punggawa
mantri). Dengan candra sengkala: putra Hyang Girinata mengajar
kepada punggawa mantri, penanda tahun 1791 AJ).
Dalam kalender Jawa sengkala tahun tersebut menunjukkan angka tahun
1791 AJ. Dalam kalender Masehi bertepatan dengan tanggal 3 November
1862 AD. Jika dilihat dari masa pemerintahan Sri Mangkunagara IV tahun
1853-1881, maka serat ini ditulis ketika di awal pemerintahan. Pemilihan
kalimat yang dipakai dalam candra sengkala: atmaja Hyang Girinata
mulang mring punggawa, mengisyaratkan bahwa serat ini berisi petuah
kepada para punggawa dan mantri dalam mengabdi kepada raja. Mengabdi
kepada raja adalah berarti mengabdi kepada negara, karena di zaman itu
raja adalah pemegang hukum sekaligus pemilik negara.
Mangkunagara (Mangkunagara) kaping pat (yang keempat), kang (yang)
puwara (terakhir) nguni (dahulu) datan (tidak) marsudi (mempelajari),
mring (kepada) gunêm (perkataan) rèh (hal) kang (yang) rahayu
(kebaikan), masalahing (permasalahan) suwita (pengabdian).
Mangkunagara IV, yang terakhir tidak mempelajari, kepada perkataan
kebaikan, permasalahan pengabdian.
Ditulis oleh Mangkunagara IV, kepada yang terakhir tidak mempelajari
segala hal dalam kebaikan, tantang masalah orang mengabdi. Isi serat ini
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 143

ditujukan kepada para punggawa yang tidak mempelajari segala hal


berkaitan dengan kebaikan berkaitan dengan masalah pengabdian kepada
raja.
Mung (hanya) ngugêmi (memegang) ujar (perkataan) kuna (dahulu) kang
(yang) tan (tak) jujur (jujur), kabanjur (berlarut-larut) praptaning
(sampai) mangkya (sekarang), piangkuhe (keangkuhannya) angrikuhi
(merepotkan). Hanya memegang perkataan orang dahulu yang tiak jujur,
berlarut-larut sampai sekarang, keangkuhannya merepotkan.
Kepada mereka yang hanya memegang perkataan orang dahulu, yang
dalam melaksanakannya sering tidak jujur karena keangkuhannya
merepotkan. Angrikuhi artinya merepotkan, mengganggu, menghalangi.
Maksudnya adalah dalam melaksanakan ajaran orang terdahulu sering
berlaku tidak jujur akibat diganggu oleh rasa angkuh dalam hati. Rasa
angkuh itu kemudian menimbulkan beberapa tindakan tidak terpuji, seperti
akan diuraikan dalam bait berikutnya.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 144

Kajian Nayakawara (1:3-4) Marenana Watak Tan Becik


Pupuh 1, bait 2-4, Pangkur (metrum: 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i), Serat
Nayakawara, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Mring kônca sakancuhira,
barang karya tan gagah sami wigih,
keguh labêt tanpa kawruh.
Kewran nalaring nala,
yun tinilar kogêl bokmanawa mêsgul,
mogol magêl yèn dèn dêlna,
daluya anandho kardi.

Karya pitunaning praja,


ngrêregoni parentah kang wus dadi.
Yèn sinêrêg asring rêngu,
tampane sinrêngênan,
lêlembatan nguring-uring kancanipun.
Kang mangkono marènana,
rungunên pitutur mami.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Kepada teman-temannya,
semua pekerjaan tak gagah semua terlihat segan,
karena terdorong keadaan tanpa pengetahuan.
Kerepotan dalam pikiran dan perasaan,
hendak ditinggal kecewa barangkali menjadi masygul,
setengah-stengah kalau diandalkan,
abai menumpuk pekerjaan.

Membuat kerugian pada negara,


mengganggu aturan yang sudah baku.
Kalau diarahkan sering marah,
dianggapnya sedang dimarahi,
kemudian melampiaskan kemarahannya kepada temannya.
Yang demikian itu hentikanlah,
dengarkan nasihatku.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 145

Kajian per kata:

Mring (kepada) kônca (teman) sakancuhira (temannya), barang (semua)


karya (pekerjaan) tan (tak) gagah (gagah) sami (semua) wigih (segan,
ogah-ogahan), keguh (tergiur) labêt (karena) tanpa (tanpa) kawruh
(pengetahuan). Kepada teman-temannya, semua pekerjaan tak gagah
semua terlihat segan, karena terdorong keadaan tanpa pengetahuan.
Kepada teman-temannya dalam semua pekerjaan tak gagah. Maksudnya
adalah ketika bersama teman-temannya dia terlihat enggan melakukan
pekerjaan. Hanya menyuruh saja tanpa mau mengerjakan. Semua itu
karena dia angkuh, merasa lebih baik daripada teman-temannya. Kamu
saja yang mengerjakan, kira-kira begitu. Namun sebenarnya dia bertingkah
seperti itu karena tidak mampu melakukan pekerjaan tadi, tetapi dia
enggan belajar. Karena merasa angkuh, merasa malu kalau bertanya,
karena dia selalu sudah bersikap sok tahu dalam segala hal. Orang
demikian sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari.
Kewran (kerepotan) nalaring (pikiran dalam) nala (hati), yun (hendak)
tinilar (ditinggal) kogêl (kecewa) bokmanawa (barangkali) mêsgul
(masygul), mogol magêl (setengah setengah) yèn (kalau) dèn (di) dêlna
(andalkan), daluya (abai) anandho (menumpuk) kardi (pekerjaan).
Kerepotan dalam pikiran dan perasaan, hendak ditinggal kecewa
barangkali menjadi masygul, setengah-stengah kalau diandalkan, abai
menumpuk pekerjaan.
Sesungguhnya pikiran dan hatinya sedang kerepotan. Nalarnya repot
karena tak tahu harus mengerjakan apa. Hatinya pun was-was takut
ketahuan kalau tak tahu. Namun karena sudah sering menampilkan diri di
depan, kalau tidak diajak akan masygul. Repotnya, kalaupun diajak
pekerjaannya hanya setengah-setengah, istilah akan mindho gaweni, hasil
pekerjaannya harus diulang oleh orang lain karena tak beres. Benar-benar
tak dapat diandalkan, hanya akan menumpuk pekerjaan saja.
Karya (membuat) pitunaning (kerugian pada) praja (negara), ngrêregoni
(mengganggu) parentah (perintah , aturan) kang (sudah) wus (sudah) dadi
(baku). Membuat kerugian pada negara, mengganggu aturan yang sudah
baku.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 146

Watak dari punggawa negara yang seperti ini akan membuat kerja tidak
produktif. Negara rugi kalau cara bekerjanya seperti ini. Merusak budaya
kerja yang sudah mapan. Merusak aturan yang berlaku. Membikin jengkel
teman kerjanya. Dan akhirnya menurunkan etos kerja secara keseluruhan.
Kalau berkaitan dengan pelayanan publik, bisa menurunkan kualitas
pelayanan.
Yèn (kalau) sinêrêg (diusut, diarahkan) asring (sering) rêngu (marah),
tampane (anggapannya) sinrêngênan (dimarahi), lêlembatan
(mengalihkan) nguring-uring (dengan melampiaskan kemarahan)
kancanipun (kepada temannya). Kalau diarahkan sering marah,
dianggapnya sedang dimarahi, kemudian melampiaskan kemarahannya
kepada temannya.
Sungguhpun demikian, kalau diingatkan, diarahkan, orang yang seperti itu
seringkali malah marah-marah. Dianggapnya dia sedang dimarahi,
dianggapnyadia sedang diragukan kemampuannya. Kemudian tersinggung
dan marah, membawa-bawa serta orang lain. Kemarahannya dilampiaskan
kepada teman-temannya.
Kang (yang) mangkono (demikian itu) marènana (hentikanlah),
rungunên (dengarkan) pitutur (nasihat) mami (aku). Yang demikian itu
hentikanlah, dengarkan nasihatku.
Sikap, perilaku, watak, kebiasaan yang demikian itu tak baik. Bagi dirinya,
orang lain dam bagi negara. Hentikanlah! Bukalah hatimu! Dengarkan
nasihatku!
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 147

Kajian Nayakawara (1:5-7): Mula Bukane Punggawa


Wolulas
Pupuh 1, bait 5-7, Pangkur (metrum: 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i), Serat
Nayakawara, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Wruhanta purwane ana,
kang punggawa wolulas dalah mangkin,
iku ing nalikanipun,
Jêng Gusti kang kapisan,
miyos saking prajarsa ambangun tuwuh.
Wite gumanti kang rama,
ingangkah sangkaning jurit.

Samana ngumpulkên wadya,


pinilihan antuk wolulas iji,
iku kinarya gul-agul.
Jinênêngkên punggawa,
lan jinanji ing têmbe kalamun antuk,
pitulungira Hyang Suksma,
kadugèn ingkang kinapti,

linilan milu sarasa.


Arja papa tumutur datan kari,
winangênan turun pitu,
lamun tan dosèng praja.
Sarta ingkang bêcik kalakuanipun,
myang tan nandhang cala ina,
pêsthi kalilan gêntèni.

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:


Ketahuilah asal mulanya ada,
yang disebut punggawa delapan belas yang ada sampai sekarang.
Itu waktu ketika,
Kanjeng Gusti pertama,
keluar dari negara hendak membangun negara.
Mulai menggantikan ayahandanya,
dengan harapan dapat menjadi awal memulihkan keperwiraan.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 148

Ketika itu mengumpulkan pasukan,


dipilih mendapatkan delapanbelas orang,
itu akhirnya yang dipakai sebagai pemuka.
Dinamakan punggawa,
dan dijanjikan pada waktunya nanti kalau mendapat
pertolongan Tuhan Maha Suci,
tercapai apa yang dikehendaki,

diijinkan ikut menikmati.


Baik sejahtera maupun sengsara dikatajan takkan ketinggalan,
dijanjikan sampai keturunan ke tujuh,
kalau tak berdosa kepada negara.
Serta yang baik kelakuannya,
dan tidak menyandang cacat kehinaan,
pasti diijinkan menggantikan.

Kajian per kata:

Wruhanta (ketahuilah) purwane (mulanya) ana (ada), kang (yang)


punggawa (punggawa) wolulas (delapanbelas) dalah (dan) mangkin
(sekarang). Ketahuilah asal mulanya ada, yang disebut punggawa delapan
belas yang ada sampai sekarang.
Ketahuilah asal mulanya adanya punggawa yang delapan belas orang itu.
Yang sampai sekarang masih lestari kedudukannya. Peristiwa apa yang
menjadi sebab adanya punggawa yang jumlahnya ada delapan belas itu?
Iku (itu) ing (waktu) nalikanipun (ketika), jêng (Kanjeng) gusti (Gusti)
kang (yang) kapisan (pertama), miyos (keluar) saking (dari) prajarsa
(negara hendak) ambangun (membangun) tuwuh (tumbuh). Itu waktu
ketika, Kanjeng Gusti pertama, keluar dari negara hendak membangun
negara.
Peristiwa itu terjadi ketika Kanjeng Gusti Pangeran Mangkunagara yang
pertama keluar memisahkan diri dari negara Surakarta. Beliau hendak
membangun negeri sendiri yang terpisah dari Surakarta. Seperti yang
tercatat dalam Babad Panambangan, alasan beliau keluar dari Surakarta
adalah karena merasa diabaikan begitu saja sejak sang ayahanda Pangeran
Adipati Mangkunagara dibuang ke Tanah Kap (cape town).
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 149

Wite (mulai) gumanti (menggantikan) kang rama (ayahandanya),


ingangkah (dengan harapan) sangkaning (menjadi awal) jurit
(keperwiraan). Mulai menggantikan ayahandanya, dengan harapan dapat
menjadi awal memulihkan keperwiraan.
Pada zaman ketika kekuasaan dipegang oleh para ksatria, kehilangan
kedudukan hanya dapat dipulihkan dengan menunjukkan ketangguhan
sebagai prajurit. Orang yang mempunyai banyak pasukan akan dianggap
kuat dan cakap, sehingga tawaran untuk menjadi pemimpin pun datang.
Kanjeng Gusti yang pertama telah kehilangan kedudukan adipati karena
ayahandanya dibuang ke tanah Kap, maka dia pun tak dapat mewarisi
kedudukan ayahandanya. Dia hanya dianggap pegawai keraton dengan
kedudukan yang rendah. Babad Panambangan mencatata Gusti
Mangkunagara pertama atau dikenal dengan nama RM Said hanya menjadi
gandhek anom di keraton. Kedudukan yang amat rendah dibanding sang
ayah yang telah memegang kedudukan adipati. Maka untuk memulihkan
kedudukan sesuai kedudukan ayahandanya tersebut, tak dapat dilakukan
dengan cara lain selain membentuk pasukan sendiri.
Samana (ketika itu) ngumpulkên (mengumpulkan) wadya (pasukan),
pinilihan (dipilih) antuk (mendapatkan) wolulas (delapan belas) iji (biji,
maksudnya orang), iku (itulah) kinarya (yang dipakai sebagai) gul-agul
(pembesar, pemuka, andalan). Ketika itu mengumpulkan pasukan, dipilih
mendapatkan delapanbelas orang, itu akhirnya yang dipakai sebagai
pemuka.
RM Said keluar dari negara dengan membawa serta prajurit pilihan, yang
telah beliau tunjuk dari kerabat dan bawahan, serta kenalan beliau. Mereka
telah menyatakan kesetiaan dan kepatuhan kepada RM Said.
Kedelapanbelas orang ini kemudian dibawa ke Panambangan dan bertemu
dengan Ki Wiradiwangsa, orang dari dusun yang kemudian menjadi
pembantu setianya. Kelak Ki Wiradiwangsa menjadi patih dan berganti
nama menjadi Ngabei Kudanawarsa. Salah seorang pilar penting dari
Mangkunagaran.
Jinênêngkên (dinamakan) punggawa (punggawa), lan (dan) jinanji
(dijanjikan) ing (pada) têmbe (waktunya nanti) kalamun (kalau) antuk
(mendapat), pitulungira (pertolongan) Hyang (Tuhan) Suksma (Maha
Suci), kadugèn (tercapai) ingkang (yang) kinapti (dikehendaki), linilan
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 150

(dijinkan) milu (ikut) sarasa (menikmati). Dinamakan punggawa, dan


dijanjikan pada waktunya nanti kalau mendapat pertolongan Tuhan Maha
Suci, tercapai apa yang dikehendaki, diijinkan ikut menikmati.
Mereka yang delapanbelas orang itu disebut punggawa, artinya yang
dibawa dari Surakarta. Kepada mereka dijanjikan bila nanti mendapat
pertolongan Tuhan, tercapai apa yang dikehendaki, mereka diijinkan untuk
ikut menikmati kedudukan beliau. Artinya bila perjuangan mereka nanti
berhasil, kepada mereka juga akan diberikan kedudukan yang sepadan
dengan kesetiaan mereka.

Arja (sejahtera) papa (sengsara) tumutur (dikatakan) datan (takkan) kari


(ketinggalan), winangênan (dijanjikan) turun (keturunan) pitu (tujuh),
lamun (kalau) tan (tak) dosèng (berdosa pada) praja (negara. Baik
sejahtera maupun sengsara dikatajan takkan ketinggalan, dijanjikan
sampai keturunan ke tujuh, kalau tak berdosa kepada negara.

Kepada para punggawa pertama yang berjumlah delapanbelas itu


dikatakan, baik nanti akan mengalami sejahtera atau sengsara mereka
takkan ditinggalkan. Dijanjikan sampai keturunan ke tujuh mereka tetap
ikut merasakan kemuliaan negara yang akan mereka dirikan. Asalkan
mereka tidak mempunyai dosa kepada negara. Misalnya turut berbuat
makar atau melakukan pelanggaran yang tak terampuni.
Sarta (serta) ingkang (yang) bêcik (baik) kalakuanipun (kelakuannya),
myang (dan) tan (tidak) nandhang (menyandang) cala ina (kehinaan),
pêsthi (dipastikan) kalilan (diijinkan) gêntèni (menggantikan). Serta yang
baik kelakuannya, dan tidak menyandang cacat kehinaan, pasti diijinkan
menggantikan.
Dari anak keturunan para punggawa itu mereka akan menggantikan
kedudukan punggawa yang delapan belas itu, asalkan tidak berdosa kepada
negara dan berkelakuan baik, serta tidak menyandang cacat atau kehinaan,
pasti mereka diprioritaskan untuk menggantikan kedudukan punggawa
yang delapan belas itu. Masing-masing punggawa itu kemudian setelah
berhasil mendidirikan negara Mangkunagaran menempati posisi masing-
masing. Kepada anak keturunan merekalah kedudukan mereka akan
diwariskan. Asalkan memenuhi syarat-syarat di atas. Adapun nama-nama
kedelapan belas punggawa itu menurut Baba Panambangan, adalah:
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 151

Jayautama, Jayaprameya, Jayawicanten, Jayawiguna, Jayasutirta,


Jayanimpuna, Jayaprabata, Jayasantika, Jayapuspita, Jayasudarga,
Jayasudarma, Jayadipura, Jayaleyangan, Jayajagalautan, Jayatilarsa,
Jayawinata, Jayapangrawit, Jayaprawira. Semua nama mereka berawalan
jaya yang artinya menang, karena merupakan doa agar mereka selalu
mendapat kemenangan.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 152

Kajian Nayakawara (1:8-9): Keh Kang Tanna Labetipun


Pupuh 1, bait 8-9, Pangkur (metrum: 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i), Serat
Nayakawara, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Mêngko luwih satus warsa,
kang taliti kwèh samya nora dadi,
awit tanna labêtipun.
Nanging mau punggawa,
ginanêpan saking liya turunipun,
para abdi kang kêtrima,
ginanjar kinèn gêntèni.

Iku mungguh kukumira,


pra punggawa lamun tèk ingkang waris,
wajib kinukup kang lungguh,
tan malih sinlundhingan.
Jaman mêngko bumi tan kinarya ngugung,
lan tan klêbu nganiaya,
mung wuruk karsaning Gusti.

Terjemah dalam bahasa Indonesia:

Sekarang lebih dari seratus tahun,


yang setelah diteliti banyak yang sama-sama tidak jadi,
karena tak ada jasa-jasanya.
Namun para punggawa tadi,
digenapkan dari selain keturunannya,
dari para abdi yang dianggap cakap,
untuk menggantikan.

Itulah sebenarnya hukumnya,


para punggawa yang telah habis warisannya,
harus diambil kembali kedudukannya,
tak lagi digantikan oleh mereka.
Zaman sekarang tanah tak dipakai untuk memanjakan,
dan tak termasuk menyia-nyiakan,
hanya menurut ajaran dan kehendak Gusti.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 153

Kajian per kata:

Mêngko (sekarang) luwih (lebih) satus (seratus) warsa (tahun), kang


(yang) taliti (setelah diteliti) kwèh (banyak) samya (yang sama-sama) nora
(tidak) dadi (jadi), awit (karena) tanna (tak ada) labêtipun (jasa-jasanya).
Sekarang lebih dari seratus tahun, yang setelah diteliti banyak yang sama-
sama tidak jadi, karena tak ada jasa-jasanya.
Sekarang sudah lebih dari seratus tahun dari peristiwa ini. Setelah diteliti,
dilihat seksama, ternyata banyak yang tidak jadi. Artinya tidak sesuai
dengan harapan. Leluhur mereka adalah para prajurit pemberani yang telah
ikut berjuang dengan Pangeran Mangkunagara pertama. Namun sekarang
para keturunannya banyak yang tidak mirip atau sekualitas dengan leluhur
mereka itu. Banyak yang bekerja asal-asalan, seperti yang telah
disampaikan di awal serat ini.
Nanging (namun) mau punggawa (para punggawa tadi), ginanêpan
(digenapkan) saking (dari) liya (selain) turunipun (keturunannya), para
(para) abdi (abdi, bawahan) kang (yang) kêtrima (diterima, dianggap
cakap), ginanjar (diberi anugrah) kinèn (untuk tugas) gêntèni
(menggantikan). Namun para punggawa tadi, digenapkan dari selain
keturunannya, dari para abdi yang dianggap cakap, untuk menggantikan.
Banyak dari keturunan para punggawa yang tidak mampu, maka
kedudukannya digantikan oleh orang lain. Mereka diambil dari para abdi
yang dianggap mampu untuk menggantikan. Oleh karena mengelola
negara butuh kecakapan maka bila keturunan itu tidak mempunyai orang
yang cakap terpaksalah digantikan oleh orang dari keturunan lain. Mereka
diambil dari abdi lain yang dianggap mampu menggantikan.
Iku (itulah) mungguh (sebenarnya) kukumira (hukumnya), pra (para)
punggawa (punggawa) lamun (kalau) tèk (habis) ingkang (yang) waris
(menjadi warisannya), wajib (harus) kinukup (diambil kembali) kang
(yang) lungguh (menjadi kedudukannya), tan (tak) malih (lagi)
sinlundhingan (digantikan oleh mereka). Itulah sebenarnya hukumnya,
para punggawa yang telah habis warisannya, harus diambil kembali
kedudukannya, tak lagi digantikan oleh mereka.
Itulah tatacara yang sebenarnya. Seseorang yang berkedudukan sebagai
pejabat wajib menyiapkan pengganti bagi dirinya kelak. Mereka harus
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 154

menyiapkan dari anak keturunannya sendiri, mendidiknya dan


mengikutsertakan dalam program magang. Agar mereka kelak mampu
menggantikan kedudukan ayahnya. Kalau dalam keluarga itu tidak ada
penerus yang mampu, atau tidak mempunyai keturunan maka warisan
kedudukan itu harus diambil oleh raja dan diserahkan kepada orang lain
yang mampu. Tak boleh kemudian digantikan oleh orang sembarangan
yang asal-asalan saja. Itulah aturan yang sebenarnya.
Jaman (zaman) mêngko (sekarang) bumi (tanah) tan (tak) kinarya
(dipakai) ngugung (memanjakan), lan (dan) tan (tak) klêbu (termasuk)
nganiaya (menyia-nyiakan), mung (hanya) wuruk (ajaran) karsaning
(kehendak) Gusti (Gusti). Zaman sekarang tanah tak dipakai untuk
memanjakan, dan tak termasuk menyia-nyiakan, hanya menurut ajaran
dan kehendak Gusti.
Karena di zaman sekarang tanah dan hasil yang menyertainya tidak dipakai
untuk memanjakan seseorang. Dan tidak termasuk aniaya atau menyia-
nyiakan bila raja mengambil tanah itu kembali. Itu hanya sekedar
menjalankan ajaran dan kehendak dari Gusti Mangkunagara pertama, yang
telah mendirikan negara ini.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 155

Kajian Nayakawara (1:10-11): Kongsi Nelukake Putra Lan


Sentana
Pupuh 1, bait 2-, Pangkur (metrum: 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i), Serat
Nayakawara, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Suprandene gustinira,
misih karsa ganêpi kadi nguni.
Nanging ingkang dudu turun,
inganggêpkên nèng praja.
Lan ing batin iku kinarya têtulung,
mring abdi ingkang sinihan,
supaya milua mukti.

Kongsi nêlukake putra,


myang santana tadhah kalawan panci,
misih pilaur sirèku,
myang lumuh akaryaa.
Saking abdi ingkang bêcik karyanipun,
lan ngowahi adat lama,
misih anggalih utami.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Walau demikian majikanmu,


masih ingin menggenapkan seperti dahulu.
Namun yang bukan keturunan,
dianggap juga oleh negara.
Dan di dalam hati itu untuk menolong,
kepada abdi yang dikasihi,
agar juga ikut mengenyam kemuliaan.

Sampai mengalahkan anak sendiri,


dan kerabat dalam hal jatah dan makanan.
Masih mending engkau itu,
dan malah enggan bekerja.
Dari abdi yang baik pekerjaannya,
dan merubah kebiasaan lama,
masih memikirkan keutamaan.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 156

Kajian per kata:

Suprandene (walau demikian) gustinira (majikanmu), misih (masih)


karsa (ingin) ganêpi (menggenapkan) kadi (seperti) nguni (dahulu).
Walau demikian majikanmu, masih ingin menggenapkan seperti dahulu.
Walau demikian majikanmu, rajamu, masih hendak menggenapkan seperti
sedia kala. Seperti kebiasaan yang sudah berlaku sejak dahulu. Tanpa
mengurangi atau mendzalimi keturunan para punggawa itu.
Nanging (tetapi) ingkang (yang) dudu (bukan) turun (keturunan),
inganggêpkên (dianggap juga, diakui) nèng (di dalam, oleh) praja
(negera). Namun yang bukan keturunan, dianggap juga oleh negara.
Namun yang bukan keturunan dari delapan belas punggawa itu juga diakui
juga oleh negara. Hal itu karena untuk membentuk pemerintahan yang kuat
dan cakap. Adanya para abdi baru ini untuk mengisi kekosongan yang
tidak dapat diambil oleh para keturunan punggawa tersebut. Boleh jadi
para abdi yang datang belakangan ini seolah mendapat durian runtuh.
Mereka mulai mengabdi ketika negara sudah terbentuk. mereka tidak ikut
berjuang dengan darah dan nyawa.
Lan (dan) ing (di dalam) batin (batin) iku (itu) kinarya (sebagai, untuk)
têtulung (menolong), mring (kepda) abdi (abdi) ingkang (yang) sinihan
(dikasihi), supaya (agar) milua (juga ikut) mukti (mengenyam kemuliaan).
Dan di dalam hati itu untuk menolong, kepada abdi yang dikasihi, agar
juga ikut mengenyam kemuliaan.
Walau demikian dalam batin raja berketetapan bahwa anugrah untuk para
abdi yang datang belakangan ini dianggap sebagai menolong kepada abdi
yang dikasihi, agar mereka juga dapat mengenyam kemuliaan, hidup
sejahtera tanpa kekurangan.
Kongsi (sampai) nêlukake (mengalahkan) putra (anak), myang (dan)
santana (kerabat) tadhah (jatah) kalawan (dan) panci (makanan). Sampai
mengalahkan anak sendiri, dan kerabat dalam hal jatah dan makanan.
Adanya keinginan untuk mensejahterakan para abdi dan para keturunan
punggawa tadi sampai mengalahkan kepentingan para putra dan kerabat
raja. Sampai mengorbankan jatah dan bagian penghasilan mereka. Semua
itu dilakukan untuk menghargai jasa para pendahulu mereka yang telah
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 157

ikut berjuang. Juga kepada para abdi baru yang telah menunjukkan
kecakapan mengelola negara.
Misih (masih) pilaur (mending) sirèku (engkau itu), myang (dan) lumuh
(enggan) akaryaa (bekerja). Masih mending engkau itu, dan malah enggan
bekerja.
Maka masih mending nasibmu itu, dan engkau enggan melakukan kerja.
Hanya menuntut kedudukan seperti para orang tuamu, seolah mereka
mewariskan sesuatu kepadamu. Padahal yang dituntut darimu adalah karya
untuk negara.
Saking (dari) abdi (abdi) ingkang (yang) bêcik (baik) karyanipun
(pekerjaannya), lan (dan) ngowahi (merubah) adat (kebiasaan) lama
(lama), misih (masih) anggalih (memikirkan) utami (keutamaan). Dari
abdi yang baik pekerjaannya, dan merubah kebiasaan lama, masih
memikirkan keutamaan.

Adapun dari abdi yang baik pekerjaannya dan merubah kebiasaan buruk
lintas generasi tadi, maka masih dianggap utama jika melakukan demikian
itu.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 158

Kajian Nayakawara (1:12-13): Den Bisa Rumangsa


Pupuh 1, bait 2-, Pangkur (metrum: 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i), Serat
Nayakawara, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Marma sira dèn rumasa,
para abdi sapa kadya sirèki,
wus prasasat mangan nganggur,
kèhe lêlungguhira.
Bumi desa nora kurang wolung êjung,
kongsi praptane sadasa,
pamêtune angalabi.

Mring anak rabi wandawa,


kawiryane kinurmatan sêsami,
lungguh lampit nganggo payung.
Lan sabên kalamôngsa,
linilanan lungguh jajar lan gustimu,
ingajak boga drawina,
pisukamu dèn turuti.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia


Maka dari itu engkau yang bisa menyadari,
para abdi siapa yang seperti engkau ini,
sudah ibarat makan dengan menganggur,
banyak jatah kedudukanmu.
Tanah desa tidak kurang delapan jung,
sampai sepuluh jung.
Hasil buminya bermanfaat,

kepada anak istri dan saudara.


Keperwiraannya dihormati sesama,
duduk tikar memakai payung.
Dan setiap saat tertentu,
diijinkan duduk berjajar dengan rajamu,
diajak makan bersuka ria,
kesukaanmu di turuti.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 159

Kajian per kata:

Marma (maka dari itu) sira (engkau) dèn (yang bisa) rumasa (menyadari),
para (para) abdi (abdi) sapa (siapa) kadya (seperti) sirèki (engkau ini),
wus (sudah) prasasat (ibarat) mangan (makan) nganggur (dengan
menganggur), kèhe (banyak) lêlungguhira (jatah kedudukanmu). Maka
dari itu engkau yang bisa menyadari, para abdi siapa yang seperti engkau
ini, sudah ibarat makan dengan menganggur, banyak jatah kedudukanmu.

Maka dari itu hendaknya engkau menyadari, bahwa para abdi yang seperti
engkau ini ibarat makan nganggur atau makan gaji buta. Dari banyaknya
tanah lungguh (apange, bengkok) yang engkau punyai. Sedangkan engkau
tidak melakukan karya yang berarti.

Bumi (tanah) desa (desa) nora (tidak) kurang (kurang) wolung (delapan)
êjung (jung), kongsi (sampai) praptane (sampai) sadasa (sepuluh). Tanah
desa tidak kurang delapan jung, sampai sepuluh jung.

Tanah desa tidak kurang dari delapan jung, sampai ada yang mendapat
sepuluh jung sebagai gaji dari kedudukanmu yang turun temurun itu. Juga
bagi para abdi yang diangkat belakangan, yang seolah tinggal duduk di
tikar yang digelar, nglungguhi klasa gumelar.
Jung adalah satuan ukuran luas tanah. Satu jung luasnya 28.386 meter
persegi. Satu jung terdiri dari 4 bau, artinya tanah seluas itu memerlukan 4
orang untuk mengerjakannya. Pada zaman itu ukuran tanah yang terpenting
adalah bau atau karya atau cacah. Yakni jumlah orang yang
mengerjakannya. Para punggawa itu diberi apanage berupa tanah dan
penggarapnya sebagai gaji mereka menjadi pejabat. Tentu saja ada
sebagian hasil itu yang disetor kepada negara dan sebagian hasilnya untuk
para penggarap itu. Sedangkan punggawanya sendiri tinggal menerima
bagiannya tanpa mengurus produksinya karena sudah diurus oleh orang
lain, yakni penguasa desa setempat. Itulah sistem penggajian zaman
dahulu. Dengan sistem ini bukankah si punggawa sudah bisa hidup enak?

Pamêtune (hasil buminya) angalabi (bermanfaat), mring (kepada) anak


(anak) rabi (istri) wandawa (saudara). Kawiryane (keperwiraannya)
kinurmatan (dihormati) sêsami (sesama), lungguh (duduk) lampit (tikar)
nganggo (memakai) payung (payung). Hasil buminya bermanfaat, kepada
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 160

anak istri dan saudara, keperwiraannya dihormati sesama, duduk tikar


memakai payung.

Hasil bumi dari tanah-tanah itu bermanfaat kepada anak, istri dan saudara.
Kedudukan sebagai perwira dihormati oleh sesama, berhak duduk di tikar
dan memakai payung kebesaran, tanda kebesaran seorang pejabat.

Lan (dan) sabên (setiap) kalamôngsa (saat tertentu), linilanan (dinjinkan)


lungguh (duduk) jajar (berjajar) lan (dengan) gustimu (rajamu), ingajak
(diajak) boga (makan) drawina (bersuka ria), pisukamu (kesukaanmu) dèn
(di) turuti (turuti). Dan setiap saat tertentu, diijinkan duduk berjajar
dengan rajamu, diajak makan bersuka ria, kesukaanmu di turuti.

Dan diijinkan di saat tertentu untuk duduk bersama dengan rajamu. Diajak
untuk makan dan bersuka ria. Segala keinginanmu dituruti. Apakah semua
itu bukan sebuah kemuliaan? Maka apakah yang engkau dapatkan tidakkah
cukup bagimu?
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 161

Kajian Nayakawara (1:14-16): Dulunen Bektine Para


Prajurit
Pupuh 1, bait 14-16, Pangkur (metrum: 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i), Serat
Nayakawara, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Lamun sira tan narima,
lah dulunên kancanira prajurit,
iku pira panganipun,
tikêle lawan sira.
suprandene ing pakaryan wêkêl wungkul,
tan ana ingkang ngêrsula,
sêsêg sukane tan sipi.

Kang mangkono iku tôndha,


yèn janmadi wêruh wajibing urip,
gugu wulang nut ing kukum.
Têtêp nora kamalan,
arêp mangan gêlêm nyambut karyanipun.
Kang utang êsah sanyata,
kang kalal ing lair batin.

Mufangat tumraping ôngga,


pamulihe iya ing jagad kabir,
rumêksa ing prajanipun,
ngluhurkên gustinira.
Anuhoni prajurit andêling kewuh,
misuwure saking mônca,
nagarane ingkang bathi.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Kalau engkau tak menerima,


nah lihatlah temanmu para prajurit,
itu berapa makanannya?
Kelipatannya dengan kamu.
Walau demikian dalam pekerjaan bersungguh-sungguh dan fokus,
tak ada yang menggerutu,
penuh rasa sukanya tak menyeleweng.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 162

Yang demikian itu tanda,


kalau manusia baik mengetahui kewajiban orang hidup,
patuh pada pengajaran menurut pada hukum.
Tetap bekerja tidak banyak omong,
ingin makan mau bekerja.
Yang hutang sudah sah nyata-nyata,
yang halal dalam lahir dan batin.

Bermanfaat bagi dirinya,


hasil yang setimpal di alam besar,
menjaga negerinya,
memiliakan rajanya.
Mematuhi tugas yang diandalkan dalam kerepotan,
terkenal dari mancanegara,
negaranya yang untung negaranya.

Kajian per kata:

Lamun (kalau) sira (engkau) tan (tak) narima (menerima), lah (nah)
dulunên (lihatlah) kancanira (temanmu) prajurit (para prajurit), iku (itu)
pira (berapa) panganipun (makanannya), tikêle (kelipatannya) lawan
(dengan) sira (kamu). Kalau engkau tak menerima, nah lihatlah temanmu
para prajurit, itu berapa makanannya? Kelipatannya dengan kamu.
Kalau engkau tidak menerima, coba lihatlah temanmu sesama abdi negara,
yakni para prajurit. Seberapa kali lipat hasil yang engkau dapatkan
dibanding mereka? Dan seberapa pula susah payah mereka dalam berbakti
pada negara. Mengorbankan nyawa dan waktu bersama keluarga demi
kejayaan negeri.
Suprandene (walau demikian) ing (dalam) pakaryan (pekerjaan) wêkêl
(bersungguh-sungguh) wungkul (fokus), tan (tak) ana (ada) ingkang
(yang) ngêrsula (menggerutu), sêsêg (rapat, penuh) sukane (rasa sukanya)
tan (tak) sipi (menyeleweng). Walau demikian dalam pekerjaan
bersungguh-sungguh dan fokus, tak ada yang menggerutu, penuh rasa
sukanya tak menyeleweng.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 163

Walau demikian dalam melaksanakan pekerjaan mereka bersungguh-


sungguh. Tidak ada yang menggerutu. Dalam dadanya penuh rasa suka.
Tak ada keinginan untuk menyeleweng.
Kang (yang) mangkono (demikian) iku (itu) tôndha (tanda), yèn (kalau)
janmadi (manusia baik) wêruh (mengetahui) wajibing (kewajiban) urip
(orang hidup), gugu (patuh pada) wulang (pengajaran) nut (menurut) ing
(pada) kukum (hukum). Yang demikian itu tanda, kalau manusia baik
mengetahui kewajiban orang hidup, patuh pada pengajaran menurut pada
hukum.
Yang ditunjukkan para prajurit itu tanda bahwa kalau manusia baik itu
mengetahui kewajiban dalam hidup. Patuh pada nasihat atau pengajaran
dan menurut pada hukum. Itulah watak para prajurit atau watak awirya.
Seharusnya para punggawa lebih mempunyai watak seperti ini karena dari
segi kawiryan mereka pangkatnya lebih tinggi.
Têtêp (tetap bekerja) nora (tidak) kamalan (banyak omong), arêp (ingin)
mangan (makan) gêlêm (mau) nyambut karyanipun (bekerja). Tetap
bekerja tidak banyak omong, ingin makan mau bekerja.
Watak awirya ini membuat seseorang tidak banyak omong. Kemalan
artinya banyak keluhan atau celaan. Kata kemalan biasa kita dengar dalam
bentuk kata majemuk: kemalan cangkem. Artinya mulutnya banyak omong
yang tidak berdasar. Seorang awirya tidak mempunyai watak kemalan
seperti itu. Prinsip hidupnya adalah: kalau mau makan ya mau kerja.
Kang (yang) utang (hutang) êsah (sudah sah) sanyata (nyata-nyata), kang
(yang) kalal (halal) ing (dalam) lair (lahir) batin (batin). Yang hutang
sudah sah nyata-nyata, yang halal dalam lahir dan batin.
Dengan demikian hidup seorang awirya tidak mempunyai hutang kepada
siapapun. Dia selalu membayar lunas, esah pada tiap butir nasi yang
dimakan. Semua yang masuk ke tubuhnya dan keluarganya adalah halal
setiap saat. Itu karena dia terbiasa memberi lebih dari yang diterimanya.
Memberi karya lebih dari upah yang dibayarkan kepadanya. Lahir batin
hidupnya halal, tidak bercampur denan keraguan. Hidupnya penuh
ketenangan.
Mufangat (bermanfaat) tumraping (bagi) ôngga (dirinya), pamulihe (hasil
yang setimpal) iya (juga) ing (di) jagad (jagad) kabir (besar), rumêksa
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 164

(menjaga) ing (dalam) prajanipun (negerinya), ngluhurkên (memuliakan)


gustinira (rajanya). Bermanfaat bagi dirinya, hasil yang setimpal di alam
besar, menjaga negerinya, memiliakan rajanya.
Sikap seperti itu bermanfaat kepada dirinya, hasil yang sepadan akan
diterima di jagad besar, yakni alam keabadian nanti. Sikapnya yang baik
itu juga turut menjaga negerinya, memuliakan rajanya.
Anuhoni (mematuhi) prajurit (tugas prajurit) andêling (yang diandalkan)
kewuh (dalam kerepotan), misuwure (terkenal) saking (dari) mônca
(mancanegara), nagarane (negaranya) ingkang (yang) bathi (untung).
Mematuhi tugas yang diandalkan dalam kerepotan, terkenal dari
mancanegara yang untung negaranya.
Mematuhi tugas prajurit yang dapat diandalkan dalam kerepotan. Orang
seperti itu akan dikenal di mancanegara sebagai orang yang cakap.
Negerinya pun mendapat untung.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 165

Kajian Nayakawara (1:17-19): Aywa Kaya Uler Angrikit


Godhong
Pupuh 1, bait 17-19, Pangkur (metrum: 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i), Serat
Nayakawara, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Balik ta para punggawa,
kayaparan yèn sira tan nimbangi,
amrih utamaning laku.
Ngluhurkên gustinira,
pangowêle mring praja utamanipun,
tuwin jiwanta priyôngga.
Apa luhur kang prajurit.

Kalamun sira kasora,


wus têtela mamak datanpa budi,
dharusul saparti wêdhus.
Têtêp mung dadi ama,
padha lawan ulêr ngalêkêr tumanduk,
mara marani cukulan,
kang lagi rone andadi.

Agahan dènnya mêmôngsa,


tèking godhong rumambat mring pang alit,
pundhêsing êpang mandhuwur.
Ngarikit wit kang mudha,
tugêling wit si ulêr têmahan katut,
nèng kisma datanpa tônja,
garêmêt cinucuk paksi.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Berkebalikan dengan para punggawa,


bagaimana kalau engkau tak mengimbangi,
agar utama dalam perbuatan.
Memuliakan rajamu,
ada rasa sayang kepada negara utamanya,
dan pada jiwamu sendiri.
Apakah lebih mulia jiwa para prajurit?
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 166

Kalaupun engkau kalah,


sudah jelas buta tanpa akal budi,
cuek seperti kambing.
Tetep hanya menjadi hama,
sama dengan ulat meringkuk kerjanya.
Kalau datang hanya mencari pupus,
yang sedang tumbuh rimbun.

Segera dianya memakan,


sampai di daun merambat ke ranting kecil,
habis papak cabangnya lalu ke atas.
Mengerogoti pohon yang masih muda,
patah pohon si ulat akhirnya ikut,
jatuh ke tanah tanpa guna,
melata dipatuk burung.

Kajian per kata:

Balik ta (sebaliknya) para (para) punggawa (punggawa), kayaparan


(bagaimana) yèn (kalau) sira (engkau) tan (tak) nimbangi (mengimbangi),
amrih (agar) utamaning (utama dalam) laku (perbuatan). Berkebalikan
dengan para punggawa, bagaimana kalau engkau tak mengimbangi, agar
utama dalam perbuatan.
Sebaliknya para punggawa, bagaimana kalau engkau tak mengimbangi
watak para prajurit itu? Bagaimana engkau tidak mengupayakan agar dapat
berlaku utama seperti para prajurit itu?
Ngluhurkên (memuliakan) gustinira (rajamu), pangowêle (ada rasa
sayang) mring (kepada) praja (negara) utamanipun (utamanya), tuwin
(dan) jiwanta (pada jiwamu) priyôngga (sendiri). Memuliakan rajamu, ada
rasa sayang kepada negara utamanya, dan pada jiwamu sendiri.
Mau mengambil sikap memuliakan rajamu. Ada rasa sayang kepada
negaramu, yang utama. Juga rasa sayang terhadap dirimu sendiri. Kalau
engkau bekerja dengan sungguh-sungguh negaramu akan maju. Imbasnya
dirimu sendiri pun dikenal sebagai punggawa yang baik. Kalau engkau
bekerja dengan asal-asalan, tak berdedikasi, dirimu pun akan dikenal
sebagai pejabat yang buruk. Negerimu rugi engkau pun rugi. Oleh karena
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 167

itu menjadi punggawa yang baik, kalaupun tak kau maksudkan untuk
negaramu, setidaknya sebagai perbuatan yang sayang kepada diri sendiri.
Apa (apa) luhur (lebih mulia) kang (yang) prajurit (prajurit). Apakah
lebih mulia jiwa para prajurit?
Apakah para prajurit itu lebih mulia dari dirimu? Sedangkan engkau adalah
atasan mereka. Mereka telah bekerja keras penuh pengabdian, sedangkan
engkau hanya banyak tuntutan.
Kalamun (kalaupun) sira (engkau) kasora (kalah), wus (sudah) têtela
(jelas) mamak (buta) datanpa (tanpa) budi (akal budi), dharusul (cuek)
saparti (seperti) wêdhus (kambing). Kalaupun engkau kalah, sudah jelas
buta tanpa akal budi, cuek seperti kambing.
Kalau engkau sungguh kalah dari mereka, sudah jelas bahwa engkau
punggawa yang tanpa akal budi. Cuek seperti kambing. Watak dari
kambing adalah tidak mengindahkan tatakrama, menerobos larangan
sesukanya. Berwatak ngeyel terhadap nasihat. Apakah engkau berwatak
seperti itu?
Têtêp (tetap) mung (hanya) dadi (menjadi) ama (hama), padha (sama)
lawan (dengan) ulêr (ulat) ngalêkêr (meringkuk) tumanduk (kerjanya).
Tetep hanya menjadi hama, sama dengan ulat meringkuk kerjanya.
Tetap saja engkau ini menjadi hama atau penyakit bagi negara.
Menggerogoti pelan-pelan sehingga si empunya mati perlahan. Ibarat
perbuatan seekor ulat yang menumpang hidup di pohon. Kerjanya hanya
meringkuk seharian.
Mara (kalau datang) marani (hanya mencari) cukulan (pupus, pucuk
semi), kang (yang) lagi (sedang) rone (daunnya) andadi (rimbun). Kalau
datang hanya mencari pupus, yang sedang tumbuh rimbun.
Kalau bangun yang dikerjakanya hanya mencari makan. Menggerogoti
pucuk yang bersemi. Yang daun-daunnya sedang rimbun. Tak peduli kalau
perbuatannya itu merusak si pohon yang dia tempati.
Agahan (segera) dènnya (dianya) mêmôngsa (memakan), tèking (sampai
di) godhong (daun) rumambat (merambat) mring (ke) pang (ranting) alit
(kecil), pundhêsing (habis) êpang (cabang) mandhuwur (ke atas). Segera
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 168

dianya memakan, sampai di daun merambat ke ranting kecil, habis papak


cabangnya lalu ke atas.
Sangat rakus dia makan, bersegera pindah dari satu daun ke daun yang
lain. Jika pucuk sudah habis segera pindah ke daun. Jika daun habis segera
pindah ke ranting kecil. Jika ranting telah papak segera menggerogoti kulit,
cabang-cabangnya sampai ke atas.
Ngarikit (mengerogoti) wit (pohon) kang (yang) mudha (muda), tugêling
(patah) wit (pohon) si ulêr (si ulat) têmahan (akhirnya) katut (ikut), nèng
(ke) kisma (tanah) datanpa (tanpa) tônja (guna), garêmêt (melata)
cinucuk (dipatuk) paksi (burung). Mengerogoti pohon yang masih muda,
patah pohon si ulat akhirnya ikut, jatuh ke tanah tanpa guna, melata
dipatuk burung.
Setelah cabang-cabangnya habis menggerogoti pohon yang muda sampai
putus. Setelah putus si ulat ikut jatuh ke tanah. Tanpa guna hidupnya
melata di tanah. Nasibnya hanya akan dipatuk burung. Habislah semua.
Pohon yang ditempati dan juga dirinya sendiri.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 169

Kajian Nayakawara (1:20-21): Tobato Mring Hyang Agung


Pupuh 1, bait 20-21, Pangkur (metrum: 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i),
Serat Nayakawara, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Yèku ta pralambangira,
lamun sira datan bisa marèni,
prasasat prajanirèku,
kanggonan kang mêmala.
Nora wurung sinung usada kang ampuh,
hèh eling-eling punggawa,
aja angajab bilai.

Mupung durung kêlampahan,


kacilakan kang bakal sira panggih,
bêcik tobata Hyang Agung.
Mntaa pangapura,
trusing batin ngakua kaluputamu,
tur lulus gonmu suwita,
ngupayaa kawruh manis.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Itulah perumpamaannya,
kalau engkau tidak bisa menghentikan,
ibarat negaramu,
ketempatan suatu penyakit.
Tak urung terkena obat yang ampuh,
wahai ingat-ingatlah para punggawa,
jangan mengharap celaka.

Mumpung belum terjadi,


kecelakaan yang akan engkau temui,
lebih baik bertobatlah kepada Tuhan Yang Maha Agung.
Mintalah ampunan,
sampai ke batin mengakui kesalahamu,
dan juga ikhlas dalam engkau mengabdi,
carilah pengetahuan yang manis.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 170

Kajian per kata:

Yèku ta (itulah) pralambangira (perumpamaannya), lamun (kalau) sira


(engkau) datan (tidak) bisa (bisa) marèni (menghentikan), prasasat
(ibarat) prajanirèku (negaramu), kanggonan (ketempatan) kang (yang)
mêmala (penyakit). Itulah perumpamaannya, kalau engkau tidak bisa
menghentikan, ibarat negaramu, ketempatan suatu penyakit.

Itulah perumpamaan punggawa yang tak berdedikasi untuk negara.


Punggawa yang tidak ada pengabdian dan jasa bagi raja, tak punya rasa
sayang kepada bawahan dan rakyat. Tinggal menunggu waktu kapan
negaranya hancur berkeping, dan diapun hancur bersama. Apakah seperti
itu yang kau inginkan?

Nora (tak) wurung (urung) sinung (terkena) usada (obat) kang (yang)
ampuh (ampuh), hèh (wahai) eling-eling (ingat-ingatlah) punggawa
(punggawa), aja (jangan) angajab (mengharap) bilai (celaka). Tak urung
terkena obat yang ampuh, wahai ingat-ingatlah para punggawa, jangan
mengharap celaka.

Jika engkau begitu engkau akan dianggap hama bagi negaramu. Dan
engkau akan terkena obat yang mematikan. Tidak semua punggawa negara
berwatak sepertimu. Ada banyak yang masih ingin negeri ini berdiri.
Mereka akan menyingkirkanmu laksana obat memusnahkan hama. Oleh
karena itu ingatlah, segeralah berhenti berbuat seperti itu. Jangan
mengharap celaka untuk dirimu sendiri.

Mupung (mumpung) durung (belum) kêlampahan (terjadi), kacilakan


(kecelakaan) kang (yang) bakal (akan) sira (engkau) panggih (temui),
bêcik (baik) tobata (bertaubatlah) Hyang (Tuhan) Agung (Maha Agung).
Mumpung belum terjadi, kecelakaan yang akan engkau temui, lebih baik
bertobatlah kepada Tuhan Yang Maha Agung.

Sekarang mumpung celakamu belum terjadi, sebelum pembersihan hama


dilakukan, lebih baik kau perbaiki dirimu. Taubatlah kepada Tuhan Yang
Maha Besar. Lakukan pengabdian sebagai makhluk Tuhan dan abdi raja.

Mintaa (mintalah) pangapura (ampunan), trusing (sampai) batin (ke


batin) ngakua (mengakui) kaluputamu (kesalahanmu), tur (dan juga)
lulus (lestari, langgeng) gonmu (dalam engkau) suwita (mengabdi),
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 171

ngupayaa (mencari) kawruh (pengetahuan) manis (manis). Mintalah


ampunan, sampai ke batin mengakui kesalahamu, dan juga ikhlas dalam
engkau mengabdi, carilah pengetahuan yang manis.

Mintalah pengampunan dari Tuhan atas kesalahanmu menjadi manusia


yang tak sungguh-sungguh menjalani tugas. Sesungguhnya setiap
pengabaian terhadap kebaikan adalah dosa di mata sang Pencipta, maka
bertaubatlah. Adapun kepada raja dan masyarakat, segera perbaiki
watakmu. Lakukan pengabdian yang tulus, agar engkau lestari dalam
mengabdi kepada raja dan berkhidmat terhadap kepentingan orang banyak.
Carilah pengetahuan yang manis, yang mengusir kebodohanmu.
Kalimat ngupayaa kawruh manis, mengisyaratkan akan masuk ke pupuh
Dhandhanggula pada bait berikutnya.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 172

Pupuh Kedua

Dhandhanggula
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 173

Kajian Nayakawara (2:1-2): Elinga Jaman Sangsara


Pupuh 2, bait 1-2, Dhandhanggula (metrum: 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a,
6u, 8a, 12i, 7a), Serat Nayakawara, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Dhuh èngêta duk lagya prihatin,
darbe cipta gayuh kawiryawan,
sapira ta sangsarane.
Acêgah mangan turu,
dera minta sihirèng Widhi,
tan jênak anèng wisma,
kulinèng asamun.
Saking sruning bratanira,
katarima sasêdyanta dèn turuti,
sira dadi punggawa.

Dèn narima sukura ing Widhi,


luwarana punagining driya.
Aja batalkên niyate,
kang marang rèh rahayu,
têtumanên dimèn lêstari,
tumêrah ing kawiryan.
Wuryanta ing dangu,
kang wus sinêbut punggawa,
yèka mantri kang wicaksana bèrbudi,
kondhang mangulah praja.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Duhai, ingatlah ketika sedang prihatin,


mempunyai cita-cita mencapai keperwiraan,
seberapa sengsaranya.
Mencegah makan dan tidur,
dalam engkau memohon kasih dari Tuhan,
tak betah di rumah,
terbiasa menyepi.
Karena kerasnya bertapamu,
diterima semua kehendakmu dikabulkan,
engkau menjadi punggawa.

Harap menerima dengan syukur pada Tuhan,


Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 174

lepaskan apa janji hatimu


Jangan membatalkan niatnya,
yang menuju pada segala kebaikan,
biasakan agar lestari,
berkembang dalam sikap keperwiraan.
Mulai sampai lama-lama,
yang sudah disebut punggawa,
yaitu mantri yang bijaksana dan berbudi,
terkenal dalam mengelola negara.

Kajian per kata:

Dhuh (duhai) èngêta (ingatlah) duk (ketika) lagya (sedang) prihatin


(prihatin), darbe (mempunyai) cipta (cita-cita) gayuh (mencapai)
kawiryawan (keperwiraan), sapira ta (seberapa) sangsarane
(sengsaranya). Duhai, ingatlah ketika sedang prihatin, mempunyai cita-
cita mencapai keperwiraan, seberapa sengsaranya.
Wahai para punggawa, ingatlah ketika sedang prihatin. Ketika engkau
mempunyai cita-cita untuk mencapai keperwiraan. Seberapa susahnya.
Seberapa sengsaranya engkau menjalani hidup. Penuh pengorbanan. Penuh
kerja keras.
Acêgah (mencegah) mangan (makan) turu (tidur), dera (dalam engkau)
minta (mohon) sihirèng (kasih dari) Widhi (Tuhan), tan (tak) jênak
(betah) anèng (di) wisma (rumah), kulinèng (terbiasa) asamun (menyepi).
Mencegah makan dan tidur, dalam engkau memohon kasih dari Tuhan, tak
betah di rumah, terbiasa menyepi.
Dengan mencegah makan, mencegah tidur. Hanya memusatkan pikiran,
memohon kepada kasih dari Tuhan. Tak enak di rumah, terbiasa menyepi
untuk tirakat, bertapa mencari petunjuk dari Tuhan.
Saking (karena) sruning (kerasnya) bratanira (bertapamu), katarima
(diterima) sasêdyanta (semua kehendaklmu) dèn (di) turuti (dikabulkan),
sira (engkau) dadi (menjadi) punggawa (punggawa). Karena kerasnya
bertapamu, diterima semua kehendakmu dikabulkan, engkau menjadi
punggawa.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 175

Karena kerasnya bertapamu, diterima oleh Tuhan. Dikabulkan apa yang


engkau kehendaki. Engkau bisa menjadi punggawa.
Dèn (harap) narima (menerima) sukura (dengan syulur) ing (pada) Widhi
(Tuhan), luwarana (lepaskan) punagining (permintaan) driya (hati).
Harap menerima dengan syukur pada Tuhan, lepaskan apa janji hatimu.
Maka hendaknya engkau menerima dengan bersyukur kepada Tuhan.
Lepaskan apa yang menjadi janji hatimu. Tentu engkau dulu punya tekad
kalau kelak menjadi punggawa akan melakukan kebaikan. Atau melakukan
langkah-langkah tertentu yang menurutmu baik. Inilah saatnya untuk
melakukan.
Aja (jangan) batalkên (membatalkan) niyate (niatnya), kang (yang)
marang (menuju pada) rèh (segala) rahayu (kebaikan), têtumanên
(dibiasakan) dimèn (agar) lêstari (lestari), tumêrah (berkembang) ing
(dalam) kawiryan (sikap keperwiraan). Jangan membatalkan niatnya,
yang menuju pada segala kebaikan, biasakan agar lestari, berkembang
dalam sikap keperwiraan.
Jangan sekarang malah loyo tanpa semangat. Membatalkan kebaikan yang
sudah dirintis sejak muda, yang mengarah kepada keutamaan. Jangan
begitu. Justru sekarang karena sudah tercapai keinginanmu, seharusnya
semakin bersemangat melakukan kebaikan. Membiasakan diri agar
kecanduan berbuat baik. Agar lestari kedudukanmu sebagai punggawa.
Agar lestari pengabdianmu kepada raja, kepada negaramu. Semua itu juga
akan berbalik kebaikan untuk dirimu sendiri.
Wuryanta (mulai sampai) ing (pada) dangu (lama), kang (yang) wus
(sudah) sinêbut (disebut) punggawa (punggawa), yèka (yaitu) mantri
(mantri) kang (yang) wicaksana (bijaksana) bèrbudi (dan berbudi),
kondhang (terkenal) mangulah (dalam mengelola) praja (negara). Mulai
sampai lama-lama, yang sudah disebut punggawa, yaitu mantri yang
bijaksana dan berbudi, terkenal dalam mengelola negara.
Mulai sekarang dan nanti lama-lama, engkau yang sudah disebut
punggawa akan dikenal sebagai punggawa yang cakap, bijaksana, pandai
mengelola negara. Bukankah itu adalah kebaikan yang banyak. Manakah
yang lebih baik bagimu, ketimbang menjadi punggawa bodoh yang serba
kerepotan dalam karya.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 176

Kajian Nayakawara (2:3-4): Minangka Sudarsaneng Dasih


Pupuh 2, bait 3-4, Dhandhanggula (metrum: 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a,
6u, 8a, 12i, 7a), Serat Nayakawara, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Ingkang môngka sudarsanèng dasih,
kang sinihan ing jêng sri narendra,
ginêmpilan kamulyane.
Ing pangkat sama sinung,
kawibawan angrèh wadyalit,
ingkang sumiwèng praja,
myang kang anèng dhusun.
Winênangkên darbènana,
pamêtune ing bumi desa kang dadi,
bawah lêlungguhira.

Binubuhan rumêksa wadyalit,


ingkang ana jroning bawahira,
pinriha tata têntrême.
Wit sira kang ananggung,
aja ana kang laku juti,
dèn padha angèstokna,
wiradating ratu.
Wêruhna mring upa jiwa,
adarbea rajakaya karang kitri,
mrih jênak dènnya wisma.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Yang sebagai teladan bagi rakyat,


yang dikasihi oleh Kanjeng Sri Narendra,
diberi sedikit dari kemuliaannya.
Dalam pangkat sama-sama mempunyai,
kewibawan memerintah rakyat kecil,
yang menghadap ke kotaraja,
dan yang ada di desa-desa.
Diberi wewenang memiliki,
hasilnya dari tanah di desa yang menjadi,
wilayah kedudukanmu.

Diserahi tugas tambahn menjaga rakyat kecil,


Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 177

yang ada dalam kekuasaanmu,


upayakanlah agar teratur dan tenteram.
Karena engkau yang menanggung,
jangan ada yang berbuat jahat,
harap semua melaksanakan,
kehendak dari raja.
Ketahuilah pada cara mencari penghasilan,
milikilah hewan ternak dan tanaman produktif,
agar tenang engkau dalam berumah tangga.

Kajian per kata:

Ingkang (yang) môngka (sebagai) sudarsanèng (teladan bagi) dasih


(kawula, rakyat), kang (yang) sinihan (dikasihi) ing (oleh) jêng (Kanjeng)
sri (Sri) narendra (Narendra), ginêmpilan (dicuilkan, diberikan sedikit)
kamulyane (kemuliaannya). Yang sebagai teladan bagi rakyat, yang
dikasihi oleh Kanjeng Sri Narendra, diberi sedikit dari kemuliaannya.
Punggawa yang demikian itu, yang cakap, bijaksana dan pandai mengelola
negara, adalah teladan bagi para abdi dan rakyat. Dikasihi oleh raja karena
mampu menjadi pembantu yang baik. Pasti akan diberikan sedikit dari
kemuliaan raja kepadanya.
Ginempilan dari kata gempil, artinya cuil sedikit. Maknanya kemuliaan
raja akan dicuilkan sedikit untuk dibagi kepadanya. Raja adalah simbol
kemuliaan, jika rajanya mulia maka para punggawanya pun akan
kecipratan kemuliaan itu. Akan dicintai oleh para kawula dan bawahannya.
Sebaliknya jika raja dzalim, maka para punggawa pun terkena imbasnya,
yakni dibenci rakyat.
Ing (dalam) pangkat (pangkat) sama (sama-sama) sinung (menmpunyai),
kawibawan (kewibawaan) angrèh (memerintah) wadyalit (rakyat kecil),
ingkang (yang) sumiwèng (menghadap) praja (negara), myang (dan) kang
(yang) anèng (ada di) dhusun (desa). Dalam pangkat sama-sama
mempunyai, kewibawan memerintah rakyat kecil, yang menghadap ke
kotaraja, dan yang ada di desa-desa.
Dalam pangkat sama-sama memiliki kewibawaan dari raja. Sama-sama
dihormati oleh rakyat. Dalam memerintah rakyat kecil yang menghadap
raja di kotaraja maupun yang ada di desa-desa. Punggawa adalah wakil raja
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 178

di desa-desa, jadi penghormatan rakyat pun tergantung pula kewibawaan


raja. Sebaliknya punggawa yang bersikap baik akan semakin menambah
kewibawaan raja. Itulah maka keduanya tak terpisahkan, sama-sama
menjaga kewibawaan negara secara keseluruhan.
Winênangkên (diberi wewenang) darbènana (memiliki), pamêtune
(hasilnya) ing (di) bumi (tanah) desa (desa) kang (yang) dadi (jadi),
bawah (wilayah) lêlungguhira (kedudukanmu). Diberi wewenang
memiliki, hasilnya dari tanah di desa yang menjadi, wilayah
kedudukanmu.
Kepada para punggawa diberi wewenang memiliki hasil dari tanah di desa
yang menjadi wilayah kedudukannya. Seorang punggawa pun ibarat raja
kecil di wilayahnya. Inilah maksud dari ginempilan kamulyan, dicuilkan
kemuliaan raja, yang telah disinggung pada bait yang lalu.
Binubuhan (diserahi tugas tambahan) rumêksa (menjaga) wadyalit (rakyat
kecil), ingkang (yang) ana (ada) jroning (dalam) bawahira
(kekuasaanmu), pinriha (upayakanlah) tata (teratur) têntrême (dan
tenteram). Diserahi tugas tambahn menjaga rakyat kecil, yang ada dalam
kekuasaanmu, upayakanlah agar teratur dan tenteram.
Selain itu juga ditambahkan tugas menjaga rakyat kecil yang berada di
bawah kekuasaannya. Menjaga ketenteraman agar mereka dapat bekerja
dengan tenang. Kehidupan teratur dan tertib. Berkarya menjadi leluasa.
Kalau wilayahnya rusuh hasil bumi pun tak keluar dengan maksimal.
Apalagi kalau sampai banyak pencuri dan perampok. Maka tugas
punggawa untuk menjaga ketenteraman masing-masing wilayah.
Wit (karena) sira (engkau) kang (yang) ananggung (menanggung), aja
(jangan) ana (ada) kang (yang) laku (berbuat) juti (jahat), dèn (harap)
padha (semua) angèstokna (melaksanakan), wiradating (kehendak) ratu
(raja). Karena engkau yang menanggung, jangan ada yang berbuat jahat,
harap semua melaksanakan, kehendak dari raja.
Karena engkau sebagai punggawa wajib menanggung, jangan sampai ada
perbuatan jahat di wlayahmu. Laksanakan kehendak raja, mewujudkan
ketenteraman untuk seluruh negara.
Wêruhna (ketahuilah) mring (pada) upa jiwa (mencari penghasilan),
adarbea (milikilah) rajakaya (hewan ternak) karang kitri (pohon yang
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 179

produktif, mrih (agar) jênak (tenang) dènnya (dalam engkau) wisma


(berumah tangga). Ketahuilah pada cara mencari penghasilan, milikilah
hewan ternak dan tanaman produktif, agar tenang engkau dalam berumah
tangga.
Juga ketahuilah cara mencari penghasilan. Milikilah hewan ternak dan
tanaman produktif. Dengan kedua hal itu rakyat hidup makmur sejahtera.
Kebutuhan mereka tercukupi. Sandang pangan tiada kekurangan.
Kehidupan rumah tangga mereka menjadi tenang. Tidak saling tengkar
memperebutkan jatah.
Kepada para punggawa pun boleh memiliki ternak dan tanaman produktif
ini. Agar mereka dapat hidup lebih makmur. Agar mereka tidak ngomel-
ngomel mengeluhkan penghasilan sebagai punggawa negara. Kalau bisa
melakukan ini, memberdayakan tanah-tanah garapan agar lebih produktif
maka itu lebih baik.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 180

Kajian Nayakawara (2:5-6): Wruha Limang Prekara


Pupuh 2, bait 5-6, Dhandhanggula ( metrum: 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a,
6u, 8a, 12i, 7a), Serat Nayakawara, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Yèku wajibing punggawa mantri,
pamardine mring wadya ing desa,
dènnya bantoni prajane, ngrewangi ratunipun.
De pangrèh mring wadyagêng alit,
ingkang sumiwèng praja,
wruhêna ing khukum,
wicara lan tata krama,
myang kagunan kalakuan ingkang bêcik,
dadya piandêlira.

Wardining kang wasita jinarwi,


wruh ing khukum iku watêkira,
adoh marang kanisthane.
Pamicara puniku,
wèh rêsêpe ingkang miyarsi.
Tata krama punika,
ngadohkên panyêndhu.
Kagunan iku kinarya,
ngupaboga dene kalakuan bêcik,
wèh rahayuning raga.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Yaitu kewajiban punggawa dan mantri,


memberdayakan kepada bawahan di desa,
dalam dia membantu negaranya,
menjadi pembantu dari rajanya.
Adapun dalam memerintah pada bawahan yang besar dan kecil,
yang menghadap ke kotaraja,
ketahuilah dalam hukum,
tata bicara dan tata krama,
dan kepandaian kelakuan yang baik,
jadikan andalanmu.

Makna dari pesan itu diartikan,


mengetahui hukum wataknya,
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 181

jauh dari kenistaan.


Menguasai tata bicara itu,
memberi rasa senang kepada yang mendengar.
Mengerti tatakrama itu,
menjauhkan celaan.
Kepandaian itu sebagai,
sarana mencari penghasilan adapun kelakuan baik,
memberi keselamatan diri.

Kajian per kata:

Yèku (yaitu) wajibing (kewajiban) punggawa (punggawa) mantri (mantri),


pamardine (memberdayakan) mring (kepada) wadya (bawahan) ing (di)
desa (desa), dènnya (dalam dia) bantoni (membantu) prajane (negaranya),
ngrewangi (menjadi pembantu dari) ratunipun (rajanya). Yaitu kewajiban
punggawa dan mantri, memberdayakan kepada bawahan di desa, dalam
dia membantu negaranya, menjadi pembantu dari rajanya.
Itulah kewajiban seorang punggawa dan mantri. Memberdayakan
masyarakat di desa. Para bawahan dan rakyat agar dapat mengelola tanah
mereka secara produktif. Punggawa adalah pembantu raja dalam
mengelola negara. Harus mampu menjadi wakil raja dalam memerintah
rakyat, agar tercapai kemakmuran.
Konsep zaman dahulu seorang pemimpin bukanlah pelayan masyarakat.
Pemimpin adalah wakil tuhan di bumi yang berusaha mewujudkan perintah
Tuhan, melindungi, mengayomi dan memberikan kemakmuran. Raja
mempunyai kehendak sebagai terjemahan kehendak Tuhan, agar
dilaksanakan oleh seluruh rakyat. Para punggawa adalah penyambung titah
raja agar sampai kepada rakyat. Konsep ini tentu beda dengan konsep
kepemimpinan demokrasi modern yang menempatkan pejabar sebagai
pelayan rakyat. Dalam konsep lama punggawa wajib menjadi teladan,
mampu berbuat baik dan mewujudkan kemakmuran. Syarat menjadi
punggawa dengan demikian amatlah berat. Mereka harus mempunyai
kemampuan dan rasa welas asih kepada rakyat, sebagaimana watak
seorang raja. Beda dengan syarat menjadi punggawa di zaman sekarang.
Cukup punya duit untuk mengatrol elektabilitas, beres sudah.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 182

De (adapun) pangrèh (memerintah) mring (pada) wadyagêng (bala yang


besar) alit (dan kecil), ingkang (yang) sumiwèng (menghadap) praja (ke
kotaraja), wruhêna (ketahuilah) ing (dalam) khukum (hukum), wicara
(tata bicara) lan (dan) tata krama (tatakrama), myang (dan) kagunan
(kepandaian, keahlian) kalakuan (perilaku) ingkang (yang) bêcik (baik),
dadya (menjadi) piandêlira (andalanmu). Adapun dalam memerintah pada
bawahan yang besar dan kecil, yang menghadap ke kotaraja, ketahuilah
dalam hukum, tata bicara dan tata krama, dan kepandaian kelakuan yang
baik, jadikan andalanmu.
Adapun dalam mengelola negara seorang punggawa wajib mempunyai 5
sifat. Yakni: mengetahui hukum, menguasai tata bicara, menguasai
tatakrama, menguasai keahlian tertentu dan berkelakuan baik. Mengapa
lima sifat itu perlu dikuasai oleh seorang punggawa? Marilah kita pelajari
satu per satu dalam uraian di bawah ini.
Wardining (makna dari) kang (yang) wasita (pesan, wasiat) jinarwi
(diartikan), wruh (mengetahui) ing (dalam) khukum (hukum) iku (itu)
watêkira (wataknya), adoh (jauh) marang (dari) kanisthane (kenistaan).
Makna dari pesan itu diartikan, mengetahui hukum wataknya, jauh dari
kenistaan.
Makna dari pesan di atas tentang 5 sifat seorang punggawa adalah: yang
pertama, mengetahui hukum. Orang yang mengetahui hukum akan jauh
dari kenistaan. Hukum di sini adalah segala aturan main tang perlu dipatuhi
oleh manusia. Bisa hukum agama, negara atau hukum penciptaan. Orang
yang mengetahui itu semua akan tahu mana yang tidak boleh dan mana
yang boleh dikerjakan. Dia akan tahu konsekuensi dari tiap perbuatannya.
Pamicara (menguasai tata bicara) puniku (itu), wèh (memberi) rêsêpe
(rasa senang) ingkang (yang) miyarsi (mendengar). Menguasai tata bicara
itu, memberi rasa senang kepada yang mendengar.
Menguasai tata bicara akan membuat seseorang mampu menyampaikan
maksud dengan baik. Mampu memilih kata-kata yang menyenangkan
orang lain. Mampu berkomikasi dengan luwes. Lawan bicara pun akan
senang mendengarnya. Istilahnya, perkataannya bisa ndudut ati, menarik
hati sehingga lawan bicara pun bersikap baik. Kemampuan seperti ini perlu
dimiliki seorang punggawa. Oleh karena seorang punggawa kadang harus
melakukan sesuatu hal yang tidak populer di mata rakyat, namun harus
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 183

dilakukan untuk kepentingan negara. Nah kalau mampu


mengkomunikasikan dengan baik tentu lebih mudah bagi orang banyak
untuk menerima.
Tata krama (tata krama) punika (itu), ngadohkên (menjauhkan)
panyêndhu (celaan). Mengerti tatakrama itu, menjauhkan celaan.
Seorang yang menguasai tata krama akan mampu bersikap sopan santun
dalam pergaulan. Mampu menjaga harkat dan martabat dirinya. Mampu
membawa diri di tengah masyarakat. Orang seperti ini akan terlihat
berwibawa dan disegani. Jauh dari celaan.
Kagunan (kepandaian) iku (itu) kinarya (sebagai), ngupaboga (mencari
makan, mencari penghasilan) dene (adapun) kalakuan (kelakuan) bêcik
(baik), wèh (memberi) rahayuning (keselamatan) raga (diri). Kepandaian
itu sebagai, sarana mencari penghasilan adapun kelakuan baik, memberi
keselamatan diri.
Adapun tentang keahlian, hal itu berguna untuk sarana mencari
penghasilan. Seorang yang mempunyai kepandaian tertentu akan
dibutuhkan orang, dan akan mendapat penghasilan dari keahliannya itu.
Jika dia seorang pejabat karir maka pasti akan mendapat promosi sesuai
keahliannya itu. Jika dia seorang kebanyakan maka dia dapat bekerja
secara bebas. Para punggawa hendaknya juga dapat memberdayakan
rakyatnya agar mempunyai keahlian tertentu. Akan lebih baik kalau
mampu mengadakan pelatihan atau kursus-kursus kepada masyarakat.
Dengan demikian kesejahteraan masyarakat meningkat.
Yang terakhir, hendak setiap orang berkelakuan baik. Mengenai hal ini
tidak perlu lagi diuraikan manfaatnya. Sudah jelas orang yang berkelakuan
baik adalah orang-orang pilihan. Orang-orang itu akan selamat di dunia
dan akhirat.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 184

Kajian Nayakawara (2:7-8): Dadya Cahyaning Praja


Pupuh 2, bait 7-8, Dhandhanggula ( metrum: 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a,
6u, 8a, 12i, 7a), Serat Nayakawara, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Rambah malih tumanjaning pamrih,
karya gayuh sihirèng narendra,
adol bêcik mring prajane,
mrih alêm kancanipun,
dadya srana marang utami.
Upama kalakona,
ujar kang puniku,
adoh jalaraning ala,
ratu mulya punggawa mantri prayogi,
urip cahyaning praja.

Anglir wulan sadangune kandhih,


dening ima sinrang ing maruta,
sumêblak padhang lawêne.
Ujwalanira campuh,
lan usara têmah martani,
mring sakèh tarulata.
Ingkang mêntas alum,
ing siyang kataman surya,
sami nglilir sêgêre ambabar sari,
surasane kang praja.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Mengulang lagi manfaat dalam pamrih,


sebagai sarana bagimu memperoleh kasih raja,
menjual kebaikan bagi negara,
dan agar dipuji teman,
menjadi sarana menuju yang utama.
Andai terjadi,
perkataan yang seperti itu,
jauh dari menjadi sebab keburukan,
raja mulia punggawa dan mantri lebih baik,
hidup menjadi cahaya bagi negara.

Seperti bulan selama tertutup,


Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 185

oleh mendung yang diterjang oleh angin,


terang benderang cahayanya.
Sinarnya bercampur,
dengan embun sehingga menyejukkan,
pada semua pepohonan.
Yang baru saja layu,
di siang terkena panas matahari,
semua bangun segar kembali mengeluarkan bunga,
itulah isyarat keadaan negara.

Kajian per kata:

Rambah (mengulang) malih (lagi) tumanjaning (manfaatnya dalam)


pamrih (pamrih), karya (sebagai sarana) gayuh (mencapai, memperoleh)
sihirèng (kasihmu oleh) narendra (raja), adol (menjual) bêcik (kebaikan)
mring (pada) prajane (negaranya), mrih (agar) alêm (dipuji) kancanipun
(temannya), dadya (menjadi) srana (sarana, jalan) marang (menuju)
utami (yang utama). Mengulang lagi manfaat dalam pamrih, sebagai
sarana bagimu memperoleh kasih raja, menjual kebaikan bagi negara, dan
agar dipuji teman, menjadi sarana menuju yang utama.
Mengulang lagi kepada manfaat dari berbuat baik. Ada pendapat bahwa
seorang berbuat baik hanya untuk memoperoleh kasih dari raja. Mereka
seolah menjual kebaikan terhadap negaranya, atau agar mendapat pujian
dan menjadi sarana agar mendapat keutamaan dari negara. Artinya bahwa
kebaikan itu tidak dilakukan dengan ikhlas, hanya dalam sisi lahirahnya
saja. Kebaikan yang ditunjukkan mempunyai pamrih terhadap keuntungan
pribadi. Lalu bagaimana sikap kita terhadap hal ini?
Upama (andai) kalakona (terjadi), ujar (perkataan) kang (yang) puniku
(seperti itu), adoh (jauh) jalaraning (menjadi sebab) ala (keburukan), ratu
(raja) mulya (mulia) punggawa (punggawa) mantri (mantri) prayogi (lebih
baik), urip (hidup) cahyaning (sebagai dahaya) praja (negara). Andai
terjadi, perkataan yang seperti itu, jauh dari menjadi sebab keburukan,
raja mulia punggawa dan mantri lebih baik, hidup menjadi cahaya bagi
negara.
Andai apa yang disebut dalam perkataan itu benar, bahwa seseorang
berbuat baik hanya demi mendapat kasih raja dan pujian teman, maka yang
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 186

demikian itu tak jadi soal. Dalam urusan hati orang tidak bisa melihat isi
hati orang lain. Entah apakah motif seseorang dalam berbuat baik, menjadi
punggawa yang tekun dan penuh pengabdian itu baik untuk negara. Jika
dia melakukan untuk suatu pamrih itu juga tidak apa. Jika dia melakukan
sebagai bakti kepada raja dan sebagai rasa syukur kepada Tuhan itu lebih
baik lagi. Yang melakukan dengan motif duniawi untuk kepentingan
sendiri pun mendapatkan apa yang diinginkan. Yang melakukan dengan
ikhlas pun akan mendapat anugrah yang berlipat ganda. Kedua hal itu
tidaklah menjadi persoalan. Yang jadi soal adalah punggawa yang tidak
melakukan kebaikan apapun, dengan motif yang manapun sudah pasti
buruk.
Oleh karena itu menjadi punggawa, mantri atau raja hendaklah tetap
berbuat baik, bisa menjadi cahaya bagi negara.
Anglir (seperti) wulan (bulan) sadangune (selama) kandhih (tertutup),
dening (oleh) ima (mendung) sinrang (diterjang) ing (oleh) maruta
(angin), sumêblak (terang) padhang (benderang) lawêne (cahayanya).
Seperti bulan selama tertutup, oleh mendung yang diterjang oleh angin,
terang benderang cahayanya.
Kebaikan punggawa, entah apapun motifnya, perumpamaannya seperti
bulan yang tertutup mendung, hilanglah cahayanya. Karena diterjang angin
mendung menyingkir, menjadi terang benderanglah cahayanya.
Ujwalanira(sinarnya) campuh (bercampur), lan (dengan) usara (embun)
têmah (sehingga) martani (menyejukkan), mring (pada) sakèh (semua)
tarulata (pepohonan). Sinarnya bercampur dengan embun sehingga
menyejukkan, pada semua pepohonan.
Cahaya bulan yang terang bercampur dengan embun malam, sehingga
menimbulkan kesejukan, pada semua pepohonan. Hawa pun menjadi
dingin, baik untuk manusia. Menenteramkan suasana, tenang, hening dan
terang. Suasana sinar rembulan yang sejuk ini membuat tenteram hati
manusia. Anak-anak berkumpul untuk bermain dalam suasana sukaria.
Para orang tua bercengkerama menikmati indahnya pemandangan malam.
Ingkang (yang) mêntas (baru saja) alum (layu), ing (di) siyang (siang)
kataman (terkena) surya (matahari), sami (semua) nglilir (bangun) sêgêre
(segar kembali) ambabar (mengeluarkan) sari (bunga), surasane
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 187

(isyaratnya) kang (yang) praja (negara). Yang baru saja layu, di siang
terkena panas matahari, semua bangun segar kembali mengeluarkan
bunga, itulah isyarat keadaan negara.
Tanaman yang di siang hari layu oleh terik sinar matahari terkena tetesan
embun menjadi segar kembali. Yang layu menjadi bangun dan
mengeluarkan bunga. Aromanya tertiup angin semilir semerbak kemana-
mana. Inilah isyarat atau perumpamaan suasana negara yang para
punggawa mantrinya berbuat baik. Bagaimana makna perumpamaan
tersebut? Penjelasannya secara gamblang akan disampaikan dalam bait
berikutnya.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 188

Kajian Nayakawara (2:9-10): Anglir Wulan Kang Padhang


Pupuh 2, bait 9-10, Dhandhanggula ( metrum: 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a,
6u, 8a, 12i, 7a), Serat Nayakawara, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Kang minôngka wulan sri bupati,
ima iku pêpêtênging praja,
kang ulah silip sakabèh.
Dene marutanipun,
patih lawan punggawa mantri,
ingkang murinèng praja,
ngowêl ratunipun.
Padhanging wulan upama,
tyas narendra ujwala prentah kang mijil,
tumrap ing wong sapraja.

Kang usara ibarate adil,


taru wadya kang sumiwèng praja,
lata wong ing desa kabèh.
Sari sanepanipun,
enggarira wadyagêng alit,
jujur jênjêming driya,
cukup uripipun.
Mangkana ta sulangira,
lamun praja kèh dursila angribêdi,
tamtu ratu sungkawa.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Yang sebagai bulan adalah raja,
awan itu ibarat bagi kejahatan dalam negara,
dari polah orang yang menyeleweng semuanya.
Adapun anginnya,
patih dan punggawa mantri,
yang marah atas kejahatan itu,
karena sayang pada raja.
Terangnya sinar bulan seumpama,
hati raja yang bersinar memberi perintah yang keluar,
bagi orang senegara.

Yang disebut embun ibaratnya keadilan,


Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 189

pohon adalah para balatentara yang ada di negara,


daun adalah rakyat di desa semuanya.
Bunga kiasan untuk,
senangnya hati bawahan dan rakyat,
jujur tenangnya hati,
kecukupan hidupnya.
Demikain penjelasannya,
kalau negara banyak kejahatan merepotkan,
tentu raja bersedih.

Kajian per kata:


Kang (yang) minôngka (sebagai) wulan (bulan) sri bupati (raja), ima
(awan, mendung) iku (itu) pêpêtênging (bencana, kejahatan) praja
(negara), kang (yang) ulah (berulah) silip (menyeleweng) sakabèh
(semuanya). Yang sebagai bulan adalah raja, awan itu ibarat bagi
kejahatan dalam negara, dari polah orang yang menyeleweng semuanya.
Kita kupas perumpamaan tentang bulan ini. Yang sebagai bulan adalah
raja, awan yang menutup bulan adalah segala kejahatan yang ada di negara
itu. Adanya banyak kejahatan membuat bulan tertutup sinarnya. Cahaya
bulan tidak sampai ke bumi, tidak menyinari tanaman dan segala makhluk
lainnya. Gelap gulita tak ada cahaya. Ini ibarat sang raja sedang bersedih
sehingga tampak murung tak bersinar wajahnya.
Dene (adapun) marutanipun (anginnya), patih (patih) lawan (dan)
punggawa (punggawa) mantri (mantri), ingkang (yang) murinèng
(marah atas semua itu) praja (negara), ngowêl (sayang) ratunipun (pada
rajanya). Adapun anginnya, patih dan punggawa mantri, yang marah atas
kejahatan itu, karena sayang pada raja.
Adapun angin yang mengusir awan itu adalah perumpamaan dari patih dan
segenap punggawa mantri. Mereka merindukan keramahan sang raja,
mereka sayang kepada rajanya. Maka mereka marah atas maraknya
kejahatan sehingga membuat sang raja sedih. Segera mereka bertindak
mengusir kejahatan, seperti angin mengusir awan.
Padhanging (terangnya sinar) wulan (bulan) upama (seumpama), tyas
(hati) narendra (raja) ujwala (bersinar) prentah (perintah) kang (yang)
mijil (keluar), tumrap (bagi) ing (pada) wong (orang) sapraja (senegara).
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 190

Terangnya sinar bulan seumpama, hati raja yang bersinar memberi


perintah yang keluar, bagi orang senegara.
Terangnya bulan itu seumpama hati sang raja yang telah bersinar gembira.
Kemudian memberi perintah untuk kebaikan warganya. Dan karena awan
yang menutup sudah hilang maka sinarnya sampai ke bumi, diterima
pepohonan dan makhluk lainnya yang ada di muka bumi.
Kang (yang) usara (embun) ibarate (ibarat) adil (keadilan), taru (pohon)
wadya (bala tentara) kang (yang) sumiwèng (menghadap) praja (negara),
lata (daun) wong (orang) ing (di) desa (desa) kabèh (semua). Yang disebut
embun ibaratnya keadilan, pohon adalah para balatentara yang ada di
negara, daun adalah rakyat di desa semuanya.
Yang disebut embun seumpama keadilan, pohonnya adalah para
balatentara yang menghadap raja, sedangkan dedaunannya adalah rakyat
kecil di pedesaan. Jika awan yang menutupi sudah hilang sinar rembulan
sampai ke muka bumi. Sama halnya, jika para punggawa bertindak tegas
memberantas kejahatan segala perintah raja dapat dilaksanakan tanpa
halangan yang berakibat munculnya kemakmuran bagi seluruh rakyat,
tercipta keadilan dan terwujud kesejahteraan.
Sari (bunga) sanepanipun (kiasan untuk), enggarira (senang hati)
wadyagêng (bawahan) alit (dan rakyat), jujur (jujur) jênjêming
(tenangnya) driya (hati), cukup (kecukupan) uripipun (hidupnya). Bunga
kiasan untuk, senangnya hati bawahan dan rakyat, jujur tenangnya hati,
kecukupan hidupnya.
Perumpamaan dari bunga adalah senang hatinya bawahan, balatentara dan
rakyat kecil. Kehidupan mereka jujur dan tenang hatinya, berkecukupan
sandang dan pangan. Inilah bunga dari sebuah negara. Kalau rakyat
sejahtera dan tenteram serta berkecukupan negara itu tampak indah
dipandang mata.
Mangkana ta (demikian) sulangira (penjelasannya), lamun (kalau) praja
(negara) kèh (banyak) dursila (kejahatan) angribêdi (merepotkan), tamtu
(tentu) ratu (raja) sungkawa (bersedih). Demikain penjelasannya, kalau
negara banyak kejahatan merepotkan, tentu raja bersedih.
Sebaliknya, kalau negara banyak kejahatan maka ibarat bulan tertutup
mendung, sinarnya tak terlihat. Ini ibarat raja yang sedang bersedih.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 191

Kajian Nayakawara (2:11-12): Panutup


Pupuh 2, bait 11-12, Dhandhanggula ( metrum: 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a,
6u, 8a, 12i, 7a), Serat Nayakawara, karya KGPAA Mangkunagara IV.
Wajib patih lan punggawa mantri,
kang birata mêmala durcara,
kabèh praja sêsukêre.
Supaya sang aprabu,
lêjaring tyas angudanèni,
mring solah bawanira,
ing wadya sawêgung,
kang bêcik lawan kang ala.
Awit ratu môngka wakiling Hyang Widhi,
nanggung umat sapraja.

Lamun ratu wus prastawèng galih,


èstu karya parentah utama,
sumrambah mring praja kabèh.
Sapangkat-pangkatipun,
dènnya murih mulyaning dasih.
Yèn sampun kalampahan,
kadya kang winuwus,
nêtêpi nagara arja,
kontabing lyan kèh ngayubagya mêmuji.
Yeku cahyaning praja.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Kewajiban patih dan punggawa mantri,
yang menghilangkan penyakit dan kejahatan,
semua masalah negara
Agar sang raja,
longgar hatinya mengabulkan,
pada semua polah tingkahmu,
pada bawahan semuanya,
yang baik dan yang buruk.
Karena raja sebagai wakil dari Tuhan Yang Maha Benar,
menanggung umat senegara.

Kalau raja sudah tenang dalam hati,


Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 192

sungguh membuat perintah utama,


mengalir kepada negara semuanya.
Apapun pangkatnya,
dalam dia mengupayakan kemuliaan rakyat.
Kalau sudah tercapai,
seperti yang sudah dikatakan,
menurut negara makmur,
terkenal bagi orang lain bnyak yang kut senang dan memuji.
Ya itulah cahaya bagi negara.

Kajian per kata:


Wajib (kewajiban) patih (patih) lan (dan) punggawa (punggawa) mantri
(mantri), kang (yang) birata (menghilangkan) mêmala (penyakit) durcara
(kejahatan), kabèh (semua) praja (negara) sêsukêre (penghalang,
masalah). Kewajiban patih dan punggawa mantri, yang menghilangkan
penyakit dan kejahatan, semua masalah negara.
Setelah kita paham perumpamaan tadi, menjadi jelaslah bahwa mengusir
kejahatan adalah tugas para punggawa dan mantri dengan dipimpin patih
sebagai pelaksana pemerintahan. Bekerja keras menghilangkan segala
penghalang, penyebab kesialan dari negara, yakni segala tindak kejahatan.
Baik kejahatan kerah hitam atau kerah putih, pencuri atau koruptor, dan
aneka bentuk laku durjana yang lain.
Supaya (agar) sang (sang) aprabu (raja), lêjaring (longgar) tyas (hati)
angudanèni (mengabulkan), mring (pada) solah (polah) bawanira
(tingkahmu), ing (pada) wadya (bawahan) sawêgung (semuanya), kang
(yang) bêcik (baik) lawan (dan) kang (yang) ala (buruk). Agar sang raja,
longgar hatinya mengabulkan, pda semua polah tingkahmu, pada
bawahan semuanya, yang baik dan yang buruk.
Agar sang raja longgar hatinya sehingga dapat mengabulkan segala
keinginanmu, merestui segala tingkah-polahmu dan juga kepada semua
bawahan, yang buruk atau yang baik. Asalkan engkau sebagai punggawa
bertindak sungguh-sungguh dalam mengabdikan diri kepada negara dab
berbakti kepada raja.
Awit (karena) ratu (raja) môngka (sebagai) wakiling (wakil) Hyang
(Tuhan) Widhi (Maha Benar), nanggung (menanggung) umat (umat)
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 193

sapraja (senegara). Karena raja sebagai wakil dari Tuhan Yang Maha
Benar, menanggung umat senegara.
Karena raja adalah wakil Tuhan di muka bumi, maka dialah yang akan
menanggung semua akibat dari jalannya pemerintahannya. Kepadanya
akan dimintai tanggung jawab,
Lamun (kalau) ratu (raja) wus (sudah) prastawèng (tenang dalam) galih
(hati), èstu (sungguh) karya (membuat) parentah (perintah) utama
(utama), sumrambah (mengalir) mring (kepada) praja (negara) kabèh
(semuanya). Kalau raja sudah tenang dalam hati, sungguh membuat
perintah utama, mengalir kepada negara semuanya.
Kalau raja sudah terjamin keamanannya dalam bekerja, tanpa diganggu
oleh aneka kejahatan dia dapat fokus memikirkan warga. Negara menjadi
sejahtera, rakyatpun sentosa. Segala kemuliaan raja akan mengalir kepada
para punggawanya, juga kepada para bawahan dan rakyat kebanyakan.
Sapangkat-pangkatipun (apaun pangkatnya), dènnya (dalam dia) murih
(mengupayakan) mulyaning (kemuliaan bagi) dasih (rakyat). Apapun
pangkatnya, dalam dia mengupayakan kemuliaan rakyat.
Semua orang dari segala pangkat dan kedudukan, selalu mengupayakan
kemuliaan bagi rakyat. Segenap warga negara satu kehendak untuk
mewujudkan kesejahteraan.
Yèn (kalau) sampun (sudah) kalampahan (tercapai), kadya (seperti) kang
(yang) winuwus (sudah dikatakan), nêtêpi (menurut) nagara (negara) arja
(makmur), kontabing (terkenal bagi) lyan (orang lain) kèh (banyak)
ngayubagya (ikut senang) mêmuji (dan memuji). Kalau sudah tercapai,
seperti yang sudah dikatakan, menurut negara makmur, terkenal bagi
orang lain bnyak yang kut senang dan memuji.
Kalau keadaan demikian sudah tercapai, yakni seluruh warga negara satu
kehendak untuk mencapai kesejahteraan, maka berlakulah ketetapan
Tuhan, negara akan makmur sejahtera. Masing-masing dapat bekerja
sesuai bidangnya. Maka kemajuan menjadi niscaya tercapai. Negeri aman
makmur sentosa. Dihormati negara lain. Dipuji dan dicontoh oleh negara
tetangga.
Yeku (yaitulah) cahyaning (cahaya bagi) praja (negara). Ya itulah
cahayanya negara.
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 194

Negeri itu laksana cahaya yang bersinar terang diantara bangsa-bangsa


dunia.
Cukup sekian kajian serat Nayakawara.

Mireng, 1 Agustus 2018.

Bambang Khusen al Marie


Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 195

Tentang Penulis
Serat Tripama, Wirawiyata &
Nayakawara

Kanjeng Gusti Pangeran Arya


Mangkunagara IV lahir dengan nama
RM Sudira. Ayahnya adalah
Pangeran Arya Adiwijaya I putera
dari putera Raden Mas Tumenggung
Kusumadiningrat. Sudira merupakan
anak ke-7, dan merupakan anak laki-
laki ke-3. Ibu Sudira adalah RA Sekeli, putri dari Mangkunagara II.
Sudira lahir pada tanggal 8 Sapar 1738, bertepatan dengan 3 Maret
1811. Sejak kelahirannya Sudira diambil oleh kakeknya, Mangkunagara II,
yang saat itu masih berkuasa. Dan pengasuhannya diberikan kepada istri
selir Mbok Ajeng Dayaningsih. Setelah berumur 10 tahun kemudian
diserahkan kepada kakak sepupunya Pangeran Riya, untuk dididik dalam
sastra, dasar pengetahuan agama, kesenian, kebudayaan dan ilmu
pengetahuan lainnya. Setelah berumur 13 tahun kemudian dikhitan.
Pada usia 15 tahun Sudira masuk ke dinas ketentaraan. Ditempatkan
di kesatuan Infanteri Kumpeni 5, Legiun Magkunagaran. Ditempatkan
untuk berjaga di Klaten pada waktu perang Jawa. Tak lama ditempatkan
Sudira mohon pamit karena ayahandanya Pangeran Arya Adiwijaya
meninggal dunia, 2 April 1826. Setelah kembali ke kesatuan Sudira ikut
berperang di beberapa tempat antara lain, Tanjungtirta, Pleret dan
Ngrajakusuma. Pasukan kumpeni dibawah komando Kolonel Kokis. Dari
Ngrajakusuma kemudian terus merangsek sampai ke kota Yogyakarta, lalu
berpindah-pindah beberapa kali, dari benteng Taman sampai di benteng
Gombang Klaten. Sudira telah banyak ikut pertempuran dan cukup
berpengalaman dalam perang.
Pada usia 18 tahun Sudira diangkat sebagai Kapten Infanteri, masih di
kesatuan Kumpeni 5. Posisi ini didapat setelah kapten lama yang tak lain
Kajian Sastra Klasik Reh Kaprawiran 196

sang kakak sendiri RM Subekti diangkat menggantikan sang ayah


Pangeran Adiwijaya yang meninggal. Setelah mendapat pangkat Kapten
Infanteri Raden Mas Kapten Sudira ditugaskan memimpin benteng
Gombang (sebelah selatan Pedan, Klaten) dengan pasukan; 50 pasukan
senapan dengan satu opsir, 50 pasukan tombak dengan satu opsir, satu
meriam dan 12 kanonir. Serta diberi kekuasaan mengelola tanah sampai di
Masaran (masuk wilayah Wonogiri). Setelah perang Diponagara usai
pasukan ditarik kembali ke Surakarta. Raden Mas Kapitan Sudira
mendapat penghargaan dengan piagam tertanggal 18 Januari 1833.
Setelah RM Sudira berusia 22 tahun menikah dengan putri dari Pangeran
Surya Mataram pada tanggal 24 Desember 1831. Setelah menikah
kemudian berganti nama Raden Mas Arya Gandakusuma.
Sepeninggal Mangkunagara II, yang menggantikan adalah Pangeran Riya
yang bergelar Mangkunagara III. Pada tahun 1837 RM Sudira mendapat
promosi jabatan sebagai patih di Pura Mangkunagaran, menggantikan Kyai
Patih Ngabei Wignyawijaya yang meninggal dunia. Saat itu masih
merangkap pula sebagai Kapten di kesatuan Kumpeni 5. Kemudian pada 4
April 1840 diangkat sebagai Mayor Infanteri dan diberi tugas memegang
administrasi Legiun Mangkunagaran.
Pada 17 Mei 1950 diangkat menjadi pangeran dengan nama Kangjeng
Pangeran Arya Gandakusuma. Pada 24 Maret 1953 diangkat sebagai
Pengageng Pura dengan nama Kangjêng Gusti Pangeran Adipati Arya
Prabu Prangwadana. Pangkat di Legiun naik menjadi Letnan Kolonèl.
Setelah itu, di tahun yang sama atas ijin Gubernur Jenderal, menikah
dengan putri dari almarhum Pangeran Adipati Mangkunagara III yang
bernama BRA Dhunuk.
Tanggal 16 Agustus 1857 ditetapkan secara penuh sebagai Adipati dengan
gelar Kangjêng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara IV. Pangkat
di Legiun pun dinaikkan menjadi Kolonel.
Mangkunegara IV wafat pada tahun 1881 dan dimakamkan di Astana
Girilayu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Beliau mendapat
penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana dari Pemerintah Republik
Indonesia yang diberikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada
tanggal 3 November 2010.