Anda di halaman 1dari 151

i

SERI KAJIAN SASTRA KLASIK

SERAT KRIDHAMAYA
ii
iii

SERI KAJIAN SASTRA KLASIK

SERAT KRIDHAMAYA
R. NG. RANGGAWARSITA

TERJEMAH DAN KAJIAN DALAM BAHASA INDONESIA OLEH:


BAMBANG KHUSEN AL MARIE

2019
iv
v

KATA PENGANTAR

Serat Kridhamaya adalah karya pujangga besar R. Ng. Ranggawarsita dari


Surakarta yang berisi nasihat-nasihat bagi anak muda. Dalam serat ini
nasihat disampaikan dalam bentuk cerita karena memang dimaksudkan
sebagai pelajaran untuk semua kalangan. Dengan mengambil bentuk cerita
sang pengaran jauh dari kesan menggurui. Pembaca dipersilakan untuk
mengambil pelajaran sendiri dari kisah yang disampaikan.

Isi pokok dari serat ini adalah hal-hal yang perlu dimiliki bagi seseorang
yang hendak memasuki kehidupan bermasyarakat. Maka perlu bagi
seseorang untuk memulai kehidupannya dengan menyadari bahwa
kehidupannya adalah perwujudan dari ibadah kepada Tuhan. Perlu baginya
untuk memahami bagaimana menjadi hamba yang benar. Sifat-sifat apa
saja yang perlu diupayakan agar menjadi watak baginya. Cita-cita apa
yang perlu diraih agar kehidupannya kelak sejahtera. Apa saja yang perlu
diminta ketika beribadah kepada Tuhan.

Selebihnya pengkaji tak ingin panjang kata. Sebagai pengkaji kami hanya
mencoba untuk mengartikan kalimat satu per satu sesuai pengertian yang
kami pahami. Sebagaimana yang sudah-sudah kajian ini kami tujukan
kepada anak muda yang di zaman sekarang kurang menguasai bahasa
Jawa dengan baik. Dengan membaca kajian ini, kami berharap kepada
mereka untuk tetap setidak-tidaknya masih “njawani” . Syukur-syukur
kalau kemudian kajian ini membangkitkan minat untuk mempelajari lebih
jauh kazanah pemikiran orang Jawa yang sungguh penuh “kawicaksanan”.

Akhir kata, kami menyadari kajian kami masih jauh memadai untuk bisa
disebut sebagai karya ilmiah. Maka, kami akan merasa sangat berterima
kasih jika para pembaca berkenan memberi masukan dan saran untuk
perbaikan kelak.

Selamat membaca!
vi

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR v
DAFTAR ISI vii
TRANSLITERASI ARAB-LATIN ix
TRANSLITERASI JAWA-LATIN x
PUPUH KESATU: DHANDHANG GULA 1
Kajian Kridhamaya (1:1-2): Pambuka 2
Kajian Kridhamaya (1:4-6): Mugi Hyang Paring Nugraha 6
Kajian Kridhamaya (1:7-8): Pandhita Yatnajati 11
Kajian Kridhamaya (1:9-10): Cantrik Sang Pandhita 14
Kajian Kridhamaya (1:11-14): Berkah Sang Pandhita 17
Kajian Kridhamaya (1:15-16): Berkah Kang Andayani 23
Kajian Kridhamaya (1:17-24): Cantrik Kang Lelima 27
Kajian Kridhamaya (1:25-29): Samapta Ing Dhawuh 36
Kajian Kridhamaya (1:30-35): Wenang Nampik Lan Milih 41

PUPUH KEDUA: PANGKUR 48


Kajian Kridhamaya (2:1-4): Awit Karsaning Hyang Widhi 49
Kajian Kridhamaya (2:5-7): Catur Swanta 53
Kajian Kridhamaya (2:8-17): Patraping Patang Panembah 56

PUPUH KETIGA: SINOM 66


Kajian Kridhamaya (3:1-8): Nenem Watak Utama 67
Kajian Kridhamaya (3:9-14): Piwulang Trang Trawaca 78

PUPUH KEEMPAT: ASMARADANA 83


Kajian Kridhamaya (4:1-5): Patang Perkara Panggayuh 84
Kajian Kridhamaya (4:6-8): Tegese Artawan 88
Kajian Kridhamaya (4:9-14): Tegese Gunawan 91
Kajian Kridhamaya (4:15-19): Tegese Guna Kawignyan 96
Kajian Kridhamaya (4:20-22): Bogan Yen Tan Ngudia 100
vii

Kajian Kridhamaya (4:23-25): Warsita Sihing Hyang Agung 103

PUPUH KELIMA: POCUNG 105


Kajian Kridhamaya (5:1-7): Mamintaa Wahyu Sastrajendra 106
Kajian Kridhamaya (5:8-13): Patang Kanugrahan 110
Kajian Kridhamaya (5:14-26): Para Siswa Wus Tumanggap 114
Kajian Kridhamaya (5:27-30): Jejering Kawula-Gusti 121

PUPUH KEENAM: MASKUMAMBANG 123


Kajian Kridhamaya (6:1-11): Pamoring Kawula lan Gusti 124

PUPUH KETUJUH: KINANTHI 130


Kajian Kridhamaya (7:1-6): Lir Siniram Tirta Sawindu 131
Kajian Kridhamaya (7:7-14): Titi Warsitaning Yogi 135
Kajian Kridhamaya (7:14-15): Panutup 140
viii

Transliterasi Arab ke Latin

Untuk kata-kata Arab yang ditulis dalam huruf latin dan diindonesiakan,
tulisan ini memakai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Disempurnakan. Untuk kata-kata yang belum diindonesiakan bila ditulis
dalam huruf latin mempergunakan transliterasi sebagai berikut:

‫ = ا‬a, i, u ‫=ر‬r ‫ = غ‬gh


‫=ب‬b ‫=ز‬z ‫=ف‬f
‫=ت‬t ‫= س‬s ‫=ق‬q
‫ = ث‬ts ‫ = ش‬sy ‫=ك‬k
‫=ج‬j ‫ = ص‬sh ‫=ل‬l
‫=ح‬h ‫ = ض‬dl ‫=م‬m
‫ = خ‬kh ‫ = ط‬th ‫=ن‬n
‫=د‬d ‫ = ظ‬dh ‫=ؤ‬w
‫ = ذ‬dz ‫‘=ع‬ ‫=ه‬h
‫=ي‬y
ix

Transliterasi Jawa ke Latin

Transliterasi kata-kata Jawa yang ditulis dalam hurf latin adalah sebagai
berikut.
= Ha = Da = Pa = Ma
= Na = Ta = Dha = Ga
= Ca = Sa = Ja = Ba
= Ra = Wa = Ya = Tha
= Ka = La = Nya = Nga
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 1

PUPUH KESATU

DHANDHANG GULA

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 2

Kajian Kridhamaya (1:1-2): Pambuka


Pupuh 1, bait 1-2, Dhandhang Gula (10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u,
8a, 12i, 7a) Serat Kridhamaya karya R Ng. Ranggawarsita dari Surakarta
Adiningrat.
Raras ingkang sarkara mintasih, mring sanggyaning kang samya
punikas, lawan ingkang myarsakake, menggah suraosipun, serat
Wirid Kridhamaya di.Den agung aksamanta, nulus sabek sadu,
yen wonten cingkranging wanda, myang kithaling tetembungan
sawatawis, lan kalintuning sastra.

Panringa pangapura yekti, jatosipun kasagedan kula, dereng


sapintena kehe, teka gumagah purun, angrerakit basa gitadi.
Dahat dera tan ngrasa, lamun maksih kuthung, walaka niring
weweka, sepen kawruh cubluk tuna ing pambudi, cupet mring
panggraita.

Mboten sande kathah kang ngesemi, awit saking luputing


panindak, datan pakoleh tanduke. Tyas berung kadalarung, kebat
kliwat nora nyukupi, sasar kurangan nalar. Lalabete tan antuk,
ing wuwulang prasarjana, kang wus putus mumpuni saliring
kawrin, marma sanget kuciwa.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Indahnya tembang Dhandhang Gula ini meminta rasa kasih, kepada
segenap yang membaca, dan uang mendengarkan, yakni maknanya,
serat wirid Kridhamaya yang indah. Dan (mohon) besarnya maaf
Anda, tulus dalam keikhlasan, jika ada kurang dalam suku kata, dan
terlupakannya kata-kata beberapa, dan keliru dalam aturan sastra.

Berilah maaf yang sungguh, sejatinya kemampuan saya, belum


seberapa banyaknya, kok bersikap sok gagah hendak, merangkai
bahasa menjadi tembang indah. Sungguh diri tak merasa, kalau
masih bodoh, lugu tanpa kehati-hatian, sepi dari ilmu dangkal tanpa
budi, cupet dalam pemikiran.

Tak urung banyak yang tersenyum, karena dari salah dalam


bertindak, tidak berguna tindakannya. Hati keras melantur, cepat
terlewat namun tak mencukupi, sesat kurang nalar. Semua itu

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 3

karena tak mendapat, dalam pengajaran para sarjana, yang sudah


ahli cakap dalam segala pengetahuan, karena itu sangat
mengecewakan.

Kajian per kata:


Raras (indah) ingkang (yang) sarkara (tembang DhandhangGula)
mintasih (meminta kasih), mring (kepada) sanggyaning (segenap, semua)
kang (yang) samya (sedang) punikas (pembaca) lawan (dan) ingkang
(yang) myarsakake (mendengarkan), menggah (yakni) suraosipun
(bacaannya, maknanya), serat (serat) Wirid (wirid) Kridhamaya
(Kridhamaya) di (yang indah). Indahnya tembang Dhandhang Gula ini
meminta rasa kasih, kepada segenap yang membaca dan yang
mendengarkan, yakni maknanya, serat wirid Kridhamaya yang indah.
Melalui indahnya tembang Dhandhang Gula ini, penggubah serat
Kridhamaya ini meminta belas kasih kepada para pembaca dan pendengar
yang sedang menyimak bacaan dari Serat Kridhamaya ini. Serat yang telah
dicoba untuk dituliskan dengan kalimat yang indah.
Den (yang) agung (besar) aksamanta (maafnya), nulus (tulus) sabek sadu
(suci, ikhlas), yen (jika) wonten (ada) cingkranging (kurang dalam)
wanda (suku kata), myang (dan) kithaling (terlupakan, kealpaan dalam)
tetembungan (kata-kata) sawatawis (beberapa), lan (dan) kalintuning
(keliru dalam) sastra (aturan susastra). Dan (mohon) besarnya maaf Anda,
tulus dalam keikhlasan, jika ada kurang dalam suku kata, dan
terlupakannya kata-kata beberapa, dan keliru dalam aturan sastra.
Penggubah berharap dimaafkan dengan tulus dan ikhlas jika ada yang
kurang, baik suku kata yang tertinggal serta ada kata-kata yang terlupakan
serta adanya kesalahan dalam memberi makna sehingga terasa ganjil
dalam penulisannya. Ataupun jika ada yang tidak sesuai dengan kaidah
sastra yang berlaku.
Paringa (berilah) pangapura (maaf) yekti (sungguh), jatosipun (sejatinya)
kasagedan (kemampuan) kula (saya), dereng (belum) sapintena
(seberapa) kehe (banyaknya), teka (kok) gumagah (bersikap sok gagah)
purun (hendak, mau), angrerakit (merangkai) basa (bahasa) gitadi
(tembang indah). Berilah maaf yang sungguh, sejatinya kemampuan saya,

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 4

belum seberapa banyaknya, kok bersikap sok gagah hendak, merangkai


bahasa menjadi tembang indah.
Berilah maaf yang sungguh-sungguh, karena sebenarnya penggubah
merasa kemampuannya belum seberapa. Namun telah berani lancang
dengan bersikap sok gagah hendak merangkai bahasa menjadi tembang
yang indah.
Dahat (sungguh) dera (diri) tan (tak) ngrasa (merasa), lamun (kalau)
maksih (masih) kuthung (bodoh, kurang pengetahuan), walaka (lugu)
niring (tanpa dari) weweka (kehati-hatian), sepen (sepi) kawruh (ilmu)
cubluk (dangkal) tuna (tanpa) ing pambudi (budi), cupet (cupet) mring
(pada) panggraita (pemikiran). Sungguh diri tak merasa, kalau masih
bodoh, lugu tanpa kehati-hatian, sepi dari ilmu dangkal tanpa budi, cupet
dalam pemikiran.
Sungguh diri ini tak merasa kalau masih bodoh, lugu tanpa kehati-hatian,
sepi dari ilmu, dangkal tanpa budi, cupet dalam pemikiran.
Mboten (tidak) sande (urung) kathah (banyak) kang (yang) ngesemi
(tersenyum, mentertawakan), awit (karena) saking (dari) luputing
(salahnya) panindak (bertindak), datan (tidak) pakoleh (berguna) tanduke
(tindakannya). Tak urung banyak yang tersenyum, karena dari salah
dalam bertindak, tidak berguna tindakannya.
Tak urung banyak yang akan tersenyum atau mentertawakan karena diri
salah dalam bertindak, dan melakukan tindakan tidak berguna.
Tyas (hati) berung (keras) kadalarung (melantur), kebat (cepat) kliwat
(terlewat) nora (tak) nyukupi (mencukupi), sasar (sesat) kurangan
(kurang) nalar (nalar). Hati keras melantur, cepat terlewat namun tak
mencukupi, sesat kurang nalar.
Hati masih keras dan melantur dalam pendapat sendiri. Kelewatan dalam
berpikir, karena tidak cukup kemampuan dan pengetahuan. Sesat serta
kurang nalar.
Lalabete (semua itu karena) tan (tak) antuk (mendapat), ing (dalam)
wuwulang (pengajaran) prasarjana (para sarjana), kang (yang) wus
(sudah) putus (ahli) mumpuni (cakap) saliring (dalam segala) kawrin
(pengetahuan), marma (karena itu) sanget (sangat) kuciwa
(mengecewakan). Semua itu karena tak mendapat, dalam pengajaran para

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 5

sarjana, yang sudah ahli cakap dalam segala pengetahuan, karena itu
sangat mengecewakan.
Semua itu terjadi karena tidak mendapat pengajaran dari para sarjana yang
sudah cakap dalam segala pengetahuan. Karena itu karya ini akan sangat
mengecewakan.
Kalimat di atas adalah pembukaan yang berisi tatakrama seorang penulis
besar. Perlu kiranya setiap penulis menyampaikan bahwa apa yang
ditulisnya hanya sumbangsih kecil bagi pengetahuan. Seperti itulah
tatakramanya.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 6

Kajian Kridhamaya (1:4-6): Mugi Hyang Paring Nugraha


Pupuh 1, bait 4-6, Dhandhang Gula (10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u,
8a, 12i, 7a) Serat Kridhamaya karya R Ng. Ranggawarsita dari Surakarta
Adiningrat.
Pamenipun kula anyingkiri, nyelaki kanisthaning budaya,
sangsaya ginuweng akeh. Nging puntoning tyas ulun, meksa
adreng kumedah nganggit. Mung kinarya panggrenda, mrih
mempaning kalbu, linantih saking lon-lonan. Pamintamba antuka
berkah pamuji, sabdaning pratiyaksa.

Lawan malih kula suwun ugi, jinampuwa dening Hyang Wisesa,


paringa kanugrahaNe, amrih sageda lulus, anggen kula
manawung tulis. Samben selaning karya, mung katimbang
nganggur, neng wisma mengku sungkawa. Labet saking
kacombrengan samukawis, tanana kang tinengga.

Mangka purwaning wasita gati, kang supaya dadya pralampita,


sagung pramardi budine. Kang sengsem ngisep kawruh,
keparenga mulati mirit, tindaking kang mrih arja, myang watek
kang bagus. Supyantuk kanugrahan, dingapura sakehing dosa
nireki, ingkang wus linakonan.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Seandainya saya menghindari, menyangkal kenistaan budaya (yang
saya sandang), semakin dibuwang oleh orang banyak. Namun
akhirnya hati saya memaksa dengan keinginan tak tertahankan
untuk menulis. Hanya sebagai pengasah, agar menajamkan hati,
dilatih dari pelan-pelan. Permintaan hamba semoga mendapat
barokah dan doa, dari perkataan yang jelas.

Dan lagi saya minta juga, selalu diperhatikan oleh Yang Maha
Kuasa, berilah anugrahnya, agar bisa lestari, dalam saya
menggubah tulisan ini. Selingan di sela-sela bekerja, hanya
daripada menganggur, di rumah membawa kesedihan. Karena dari
sebab kekurangan segalanya, tak ada yang ditunggui.

Sebagai pembuka dari pesan penting, yang supaya menjadi


perlambang, segenap para yang melatih budinya. Yang terpesona

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 7

mengambil pelajaran, bersedialah melihat-lihat mencontoh,


perbuatan yang mengharap selamat, dan watak yang bagus.Supaya
mendapat anugrah, diampuni semua dosamu, yang sudah dilakukan.

Kajian per kata:


Setelah dalam tiga bait pada kajian yang lalu penggubah serat Kridhamaya
menyampaikan permohonan maaf karena karya yang ditulisnya tidaklah
seberapa berbobot, maka dalam bait-bait ini sang penggubah menyatakan
alasan menulis serat ini. Apa yang disampaikan ini pun sebentuk tatakrama
yang mesti disampaikan oleh seorang penulis. Dan Kyai Ranggawarsita
menyampaikan dengan cara yang rendah hati. Bahkan terkesan berlebihan
mengingat reputasi beliau sebagai pujangga besar di zamannya.
Pamenipun (seandainya) kula (saya) anyingkiri (menghindari), nyelaki
(menyangkal) kanisthaning (kenistaan) budaya (budaya), sangsaya
(semakin) ginuweng (dibuwang oleh) akeh (orang banyak). Seandainya
saya menghindari, menyangkal kenistaan budaya (yang saya sandang),
semakin dibuwang oleh orang banyak.
Penggubah sadar bahwa masih banyak kelemahan pada dirinya. Namun
seandainya penggubah serat ini menghindari kelemahan itu dengan tidak
menulis karya apapun maka akan semakin dibuang atau dijauhi oleh orang
banyak.
Nging (nanging, tetapi) puntoning (akhirnya) tyas (hati) ulun (saya),
meksa (memaksa) adreng (saya ingin) kumedah (tak tertahankan)
nganggit (menulis). Namun akhirnya hati saya memaksa dengan
keinginan tak tertahankan untuk menulis.
Namun akhirnya sang penggubah serat ini memaksakan diri untuk
menulis. Karena walau belum banyak pengetahuan dan merasa belum ahli
dalam merangkai bahasa tetapi mempunyai sedikit gagasan yang hendak
disampaikan.
Mung (hanya) kinarya (sebagai) panggrenda (pengasah, penajam), mrih
(agar) mempaning (menajamkan) kalbu (hati), linantih (dilatih) saking
(dari pada) lon-lonan (pelan-pelan). Hanya sebagai pengasah, agar
menajamkan hati, dilatih dari pelan-pelan.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 8

Apa yang tertulis ini hanya sebagai sarana untuk menajamkan hati, sebagai
alat untuk latihan secara perlahan-lahan, sedikit demi sedikit. Panggrenda
maksudnya sebagai gerinda untuk menajamkan sesuatu. Dalam hal ini
adalah hati. Jadi karya tulis ini dimaksudkan sebagai sarana latihan agar
hati menjadi tajam.
Pamintamba (permintaan hamba) antuka (moga mendapat) berkah
(barokah) pamuji (dan doa), sabdaning (dari perkataan) prasiyaksa
(pratyaksa =terang jelas). Permintaan hamba semoga mendapat barokah
dan doa, dari perkataan yang jelas.
Harapannya kepada para pembaca agar mendapat barokah dan doa dari
ahli yang jelas perkataannya. Kami agak kesulitan mengartikan kalimat
ini. Tidak ada kata prasiyaksa dalam kamus-kamus lama. Yang ada adalah
pratyaksa, jelas terang, waspada. Dari redaksi kalimat di atas, sepertinya
obyek yang dituju adalah sekelompok orang yang perkataannya jelas dan
terang, atau para pujangga.
Lawan (dan) malih (lagi) kula (saya) suwun (minta) ugi (juga),
jinampuwa (jinampang = diawasi, diperhatikan) dening (oleh) Hyang
(Yang Maha) Wisesa (Kuasa), paringa (berilah) kanugrahaNe
(anugrahnya), amrih (agar) sageda (bisa) lulus (lestari, terus, stabil),
anggen kula (dalam) manawung (menggubah) tulis (tulisan). Dan lagi
saya minta juga, selalu diperhatikan oleh Yang Maha Kuasa, berilah
anugrahnya, agar bisa lestari, dalam saya menggubah tulisan ini.
Dan lagi harapannya agar selalu diperhatikan oleh Tuhan Yang Maha
Kuasa, agar selalu diberi anugrahNya, sehingga bisa lestari dalam menulis.
Jinampu artinya selalu diawasi dan diperhatikan, dijaga dan dijauhkan dari
segala halangan.
Samben (selingan) selaning (disela-sela) karya (bekerja), mung (hanya)
katimbang (daripada) nganggur (menganggur), neng (di) wisma (rumah)
mengku (membawa) sungkawa (kesedihan). Selingan di sela-sela bekerja,
hanya daripada menganggur, di rumah membawa kesedihan.
Bahwa selain sebagai sarana berlatih, karya ini juga sebagai pengisi waktu
senggang di sela-sela kesibukan bekerja. Daripada di rumah hanya
menganggur dan membawa kesedihan, lebih baik mengisinya dengan
membuat karya tulis.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 9

Labet (karena) saking (dari sebab) kacombrengan (compreng,


kekurangan) samukawis (segalanya), tanana (tak ada) kang (yang)
tinengga (ditunggui). Karena dari sebab kekurangan segalanya, tak ada
yang ditunggui.
Karena di rumah merasa serba kurang, karena tak ada yang ditunggui.
Hidup serasa kosong karena tidak ada sesuatu yang membuat sibuk.
Mangka (minangka, sebagai) purwaning (pembuka dari) wasita (pesan)
gati (penting), kang (yang) supaya (supaya) dadya (menjadi) pralampita
(perlambang), sagung (segenap) pramardi (para yang melatih) budine
(budinya). Sebagai pembuka dari pesan penting, yang supaya menjadi
perlambang, segenap para yang melatih budinya.
Yang disebutkan di atas adalah pengantar dari pesan penting yang akan
disampaikan dalam karya ini. Agar para pembaca mendapat ibarat atau
perlambang, bagi yang berkehendak melatih akal budinya.
Kang (yang) sengsem (terpesona) ngisep (menghisap, mengambil)
kawruh (pelajaran), keparenga (bersedialah) mulati (melihat-lihat) mirit
(mencontoh), tindaking (perbuatan) kang (yang) mrih (mengharap) arja
(selamat), myang (dan) watek (watak) kang (yang) bagus (bagus). Yang
terpesona mengambil pelajaran, bersedialah melihat-lihat mencontoh,
perbuatan yang mengharap selamat, dan watak yang bagus.
Yaitu bagi mereka yang mempunyai kegemaran belajar mengambil
pelajaran, bersedia melihat dan mencontoh perbuatan yang mengharap
pada keselamatan dan watak yang bagus. Di sini dipakai ungkapan watak
kang bagus, artinya watak yang menimbulkan perasaan senang bagi yang
melihat. Maksudnya adalah watak yang bukan sekedar baik, tetapi juga
menyenangkan orang lain.
Supyantuk (agar mendapat) kanugrahan (anugrah), dingapura
(diampuni) sakehing (semua) dosa (dosa) nireki (kamu), ingkang (yang)
wus (sudah) linakonan (dilakukan). Supaya mendapat anugrah, diampuni
semua dosamu, yang sudah dilakukan.
Yang terakhir harapannya agar para pembaca yang disebutkan tadi
mendapat ampunan dari semua dosa yang telah dilakukan. Semoga Tuhan
berkenan memberi ampunan, disebabkan karena upaya-upaya kita dalam
mencari keselamatan. Mempelajari sesuatu yang menuju kepada

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 10

keselamatan adalah suatu perbuatan baik, dan semoga kebaikan itu


mendatangkan ampunan bagi kita.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 11

Kajian Kridhamaya (1:7-8): Pandhita Yatnajati


Pupuh 1, bait 7-8, Dhandhang Gula (10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u,
8a, 12i, 7a) Serat Kridhamaya karya R Ng. Ranggawarsita dari Surakarta
Adiningrat.
Kawuwusa kang warneng tulis, nenggih wonten sajuga pandhita,
putus sampurna kawruhe, titis prastawa teguh, wicaksana limpat
ing budi, agal rempit tan wawasa, gentur tapanipun, ginanjar
panjang yuswanya, ajejuluk Sang Pandhita Yatnajati, asramen
pucak arda.

Winastanan Wahmaya kang dhiri, ardi luhur tanana tumimbang,


menggah ageng myang inggile, lan ngongkang samodra gung,
kanan kering pepereng curi, gawat kaliwat-liwat, arang ingkang
wantun, angancik puncaking arda, sajejege tanana liya kang
wani, saking sru gawatira.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Diceritkan dalam tulisan, yakni ada seorang pendeta, ahli sempurna
dalam pengetahuannya, tepat awas teguh, bijaksana mumpuni
dalam budi, baik yang kasar maupun yang halus tak terlihat. Keras
bertapanya, dianugrahi umur panjang, bergelar dengan nama Sang
Pendeta Yatnajati, bertempat di puncak gunung.
Disebut gunung Wahmaya, gunung tinggi tak ada bandingannya,
dalam hal besar dan tingginya. Dan letaknya dekat ditepi samudra
luas, kanan-kiri bertebing batu tajam, gawat sangat-sangat. Jarang
yang berani, merambah puncak dari gunung itu, selama ini tak ada
orang lain yang berani, karena sangat gawatnya.

Kajian per kata:


Kawuwusa (diceritakan) kang (yang) warneng (berbentuk) tulis (tulisan),
nenggih (yakni) wonten (ada) sajuga (seorang) pandhita (pendeta), putus
(ahli) sampurna (sempurna) kawruhe (pengetahuannya), titis (tepat)
prastawa (awas, terang) teguh (teguh, stabil), wicaksana (bijaksana)
limpat (mahir, mumpuni) ing (dalam) budi (budi), agal (kasar) rempit
(rumit) tan (tak) wawasa (terlihat). Diceritkan dalam tulisan, yakni ada

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 12

seorang pendeta, ahli sempurna dalam pengetahuannya, tepat awas teguh,


bijaksana mumpuni dalam budi, baik yang kasar maupun yang halus tak
terlihat.
Dikisahkan dalam tulisan (serat) ini, ada seorang pendeta yang sempurna
dalam pengetahuan, tepat dan terang pandangannya, teguh pendiriannya,
bijaksana perbuatannya. Mumpuni dalam budi, artinya menguasai dalam
sembarang tindak tanduk. Baik yang kasar maupun yang halus, bahkan
yang tidak terlihat mata.
Gentur (keras) tapanipun (bertapanya), ginanjar (diberi) panjang
(panjang) yuswanya (usianya), ajejuluk (bergelar nama) Sang (Sang)
Pandhita (Pendeta) Yatnajati (Yatnajati), asramen (bertempat) pucak
(puncak) arda (gunung). Keras bertapanya, dianugrahi umur panjang,
bergelar dengan nama Sang Pendeta Yatnajati, bertempat di puncak
gunung.
Gentur artinya keras bertapanya. Senantiasa menghabiskan waktu untuk
bertapa, mensucikan diri dan mengendalikan hawa nafsu. Sang pendeta
diberi umur yang panjang. Nama sang pendeta adalah Sang Pendeta
Yatnajati. Bertempat di sebuah puncak gunung.
Winastanan (disebut) Wahmaya (Wahmaya) kang (yang) dhiri (diri), ardi
(gunung) luhur (tinggi) tanana (tak ada) tumimbang (bandingannya),
menggah (dalam hal) ageng (besar) myang (dan) inggile (tingginya).
Disebut gunung Wahmaya, gunung tinggi tak ada bandingannya, dalam
hal besar dan tingginya.
Gunung tempat sang pendeta tadi bernama Gunung Wahmaya. Sebuah
gunung yang tinggi, tak ada bandingannya. Baik dalam besarnya gunung,
maupun dalam hal ketinggiannya.
Lan (dan) ngongkang (dekat dengan, ditepi) samodra (samudra) gung
(luas), kanan (kanan) kering (kiri) pepereng (bertebing) curi (batu tajam),
gawat (gawat) kaliwat-liwat (sangat-sangat). Dan letaknya dekat ditepi
samudra luas, kanan-kiri bertebing batu tajam, gawat sangat-sangat.
Gunung itu letaknya diatas samudera. Ngongkang artinya tepat dibawah
gunung itu terdapat samudera yang luas, seolah gunung itu berada di atas
laut. Di kiri kanan gunung itu terdiri dari batu padas yang tajam. Sangat
berbahaya kalau hendak naik ke puncak gunung itu.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 13

Arang (jarang) ingkang (yang) wantun (berani), angancik (merambah)


puncaking (puncak dari) arda (gunung itu), sajejege (selama ini) tanana
(tak ada) liya (orang lain) kang (yang) wani (berani), saking (karena dari)
sru (sangat) gawatira (gawatnya). Jarang yang berani, merambah puncak
dari gunung itu, selama ini tak ada orang lain yang berani, karena sangat
gawatnya.
Jarang ada yang berani merambah puncak gunung itu. Selama-lamanya tak
ada orang lain yang berani karena sangat berbahaya medan yang harus
dilalui. Boleh dikatakan tempat pertapaan sang pendeta Yatnajati sangat
terasing dari dunia luar.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 14

Kajian Kridhamaya (1:9-10): Cantrik Sang Pandhita


Pupuh 1, bait 9-10, Dhandhang Gula (10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u,
8a, 12i, 7a) Serat Kridhamaya karya R Ng. Ranggawarsita dari Surakarta
Adiningrat.
Tarlen amung ri sang maha yogi, lan pra cantrik manguyu
jajanggga, kulina saha wasesa, ya ta sang maha wiku, darbe
cantrik kang kinasih, sasat putra priyangga, gangsal cacahipun,
juga Wasta pun wiwita, kang kakalih aran puh Rahsaya cantrik,
katiga pun Citaya.

Kapatira Budata wawangi, kang kalima Karsaya parapnya, limeku


kinasih kabeh, wau ta kang cinatur, amarengi sajuga ari, wanci
Hyang Bagaskara, wus meh tunggang gunung, yeku bakda salat
Ngasar, duk samana sang Pandhita Yatnajati, karsa lenggah ing
langgar.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Tak lain hanya sang pendeta agung, dan para cantrik manguyu
janggan, yang terbiasa dan mampu. Alkisah sang Pendeta Agung,
mempunyai siswa yang dikasihi, layaknya putra sendiri, lima
jumlahnya. Seorang bernama Jiwita, yang kedua bernama Rahsaya
siswa, ketiga ialah Citaya.

Keempat Budata namanya, yang kelima Karsaya panggilannya,


kelima itu dikasihi semuanya. Dikisahkan dalam cerita, bersamaan
pada suatu hari, saat matahari hampir melewati gunung, yaitu
setelah waktu shalat ‘Asar, ketika itu sang Pendeta Yatnajati,
berkenan duduk di langgar.

Kajian per kata:


Tarlen (tak lain) amung (hanya) ri sang (Sang) maha yogi (Pendeta
agung), lan (dan) pra (para) cantrik (cantrik) manguyu (manguyu)
jajanggga (janggan), kulina (terbiasa) saha (serta) wasesa (mampu). Tak
lain hanya sang pendeta agung, dan para cantrik manguyu janggan, yang
terbiasa dan mampu.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 15

Cantrik, manguyu dan janggan adalah tingkatan-tingkatan dari para siswa


yang belajar kepada sang pendeta. Mereka mengabdi sekaligus belajar
kepada sang pendeta. Cantrik adalah tingkatan paling rendah, umumnya
lebih banyak bertindak sebagai pelayan dari pendeta. Manguyu sudah lebih
tinggi lagi tingkat ilmunya dan bisa membimbing para cantrik. Janggan
umumnya sudah punya kemampuan yang lumayan, seperti Janggan
Smarasanta, nama dari Semar sewaktu masih menjadi murid dari Bagawan
Manumanasa.
Tingkatan siswa yang lain adalah puthut dan wasi. Puthut biasanya sudah
mempunyai kesaktian yang tinggi, seperti Puthut Supalawa, kera putih
salah seorang siswa dari Bagawan Manumanasa. Sedangkan wasi adalah
pendeta muda, contohnya Wasi Jaladara, nama yang dipakai oleh
Baladewa sewaktu menjadi pendeta muda.
Karena sangat terpencil dan berbahaya jalan menuju ke puncak gunung
Wahmaya itu, hanya sang pendeta dan para murid-muridnya yang terbiasa
dan mampu mencapai puncak gunung. Dari sini kita tahu bahwa
padepokan sang pendeta Yatnajati jauh dari kehidupan, dan para murid
jarang berinteraksi dengan dunia luar.
Ya ta (sungguh, diceritakan, alkisah) sang (sang) maha wiku (pendeta
agung), darbe (mempunyai) cantrik (siswa) kang (yang) kinasih
(dikasihi), sasat (layaknya) putra (putra) priyangga (sendiri), gangsal
(lima) cacahipun (jumlahnya). Alkisah sang Pendeta Agung, mempunyai
siswa yang dikasihi, layaknya putra sendiri, lima jumlahnya.
Dikisahkan bahwa sang pendeta Yatnajati mempunyai siswa yang sangat
dikasihi, layaknya putra sendiri. Mereka berjumlah lima orang.
Juga (seorang) wasta (bernama) pun Jiwita (Jiwita), kang (yang) kakalih
(kedua) aran pun (namanya) Rahsaya (Rahsaya) cantrik (siswa), katiga
(ketiga) pun (ialah) Citaya (Citaya). Seorang bernama Jiwita, yang kedua
bernama Rahsaya siswa, ketiga ialah Citaya.
Yang pertama bernama Jiwita, yang kedua bernama Rahsaya, yang ketig
bernama Citaya.
Kapatira (yang keempat) Budata (Budata) wawangi (namanya), kang
(yang) kalima (kelima) Karsaya (Karsaya) parapnya (panggilannya),
limeku (kelima itu) kinasih (dikasihi) kabeh (semua). Keempat Budata

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 16

namanya, yang kelima Karsaya panggilannya, kelima itu dikasihi


semuanya.
Yang keempat bernama Budata, dan yang kelima bernama Karsaya.
Kelimanya sangat dikasihi oleh sang pendeta.
Wau ta (dikisahkan) kang (yang) cinatur (diceritakan), amarengi
(bersamaan) sajuga (sutu) ari (hari), wanci (saat) Hyang Bagaskara
(matahari), wus (sudah) meh (hampir) tunggang (melewati) gunung
(gunung), yeku (yaitu) bakda (setelah) salat (shalat) Ngasar (‘Asar), duk
(ketika) samana (itu) sang (sang) Pandhita (Pendeta) Yatnajati
(Yatnajati), karsa (berkenan) lenggah (duduk) ing (di) langgar (langgar,
mushola). Dikisahkan dalam cerita, bersamaan pada suatu hari, saat
matahari hampir melewati gunung, yaitu setelah waktu shalat ‘Asar,
ketika itu sang Pendeta Yatnajati, berkenan duduk di langgar.
Pada suatu hari, saat matahari telah melewati gunung, setelah waktu Asar
sang pendeta berkenan untuk keluar memberi pelajaran. Tempatnya adalah
di langgar atau mushala. Pada zaman dahulu para siswa sangat menghargai
guru sehingga sebelum sang guru berkenan keluar mereka telah bersiap
untuk menunggu sang guru. Karena waktu sang guru memberi pelajaran
tidaklah ditentukan oleh jadwal, tetapi murni karena kehendak sang guru
sendiri. Para cantriklah yang harus selalu siap sedia sewaktu-waktu.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 17

Kajian Kridhamaya (1:11-14): Berkah Sang Pandhita


Pupuh 1, bait 11-14, Dhandhang Gula (10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u,
8a, 12i, 7a) Serat Kridhamaya karya R Ng. Ranggawarsita dari Surakarta
Adiningrat.
Den adhepi cantriknya kakalih, pun Jiwita kalawan Rahsaya,
caket tumungkul lungguhe, Sang Wiku manabdarum, marang
cantrik ingkang ngadhepi, “Heh cantrik sireku, apata padha wus
lama, sakarone anggonmu pada ngadhepi, aneng ngarsa manira”.

Pun Jiwita andheku sumaji, mring Sang Dwija makaten aturnya,


“Dhuh Sang Widra saestune, wau saderengipun, sang Pandhita
pinarak munggwing, madyaning pacrabakan, pun cantrik wus
ngantu, maera rawuh andika, anyenyambi anata mangrasikani,
bale kang kagem lenggah”.

Sang Awiku angandika malih, maring Rahsaya mangkana


sabdanya, “Lah cantrik paran wartane, mhhonmu padha
nenandur, palawija apa lestari, myang tanduranmu gaga, apa bisa
metu”, rahsaya matur ngrerepa, “Estunipun angsal pangestu
Sang Yogi, sagung taneman kula”.

Subur genjah tan wonten kang gering, kang mekaten tarlen sing
berkahnya, pamuji ndika yektine, lan pangestu Sang Wiku, kang
sumebar nyamati wiji, temah saged widada, thukulnya
ngrembuyung, lulusa datanpa sangsaya, kang minangko dados
rarabuking siti, tegal-tegal sedaya.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


(Sang Pendeta) dihadapi siswanya dua orang,
yakni Jiwita dan Rahsaya,
dekat menunduk posisi duduknya.
Sang Pendeta berkata manis,
kepada siswa yang menghadap.
Wahai siswa(ku) engkau,
apakah semua sudah lama,
kalian berdua dalam engkau,
semua menghadap,
ada di depanku?

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 18

Si Jiwita tertunduk bersiap (menjawab),


kepada sang Guru demikian perkataannya,
Duh Sang Bijak sebenarnya,
tadi sebelum,
Sang Pendeta duduk di tempat,
di tengah padepokan,
hamba sudah menanti,
kedatangan paduka,
sambil menata mempercantik,
balai-balai tempat duduk.

Sang Pendeta berkata lagi,


kepada Rahsaya demikian perkataannya.
Nah, siswaku bagaimana kabarnya,
dalam engkau semua menanam,
palawija apakah terus hidup,
dan tanamanmu gaga,
apa bisa keluar hasilnya?
Rahsaya berkata dengan sangat sopan,
sebenarnya berkat mendapat restu paduka Sang Pendeta,
semua tanaman saya,

subur cepat tumbuh tak ada yang kering.


Yang demikian tak lain dari berkahnya,
doa paduka sebenarnya,
dan restu (paduka) Sang Pendeta,
yang menyebar melingkupi seluruh benih.
Sehingga bisa tumbuh tanpa gangguan,
tumbuhnya rimbun,
terus tanpa gangguan,
(restu itu) yang menjadi pupuk bagi tanah,
tegalan semuanya.

Kajian per kata:


Den (di) adhepi (hadapi) cantriknya (siswanya) kakalih (dua orang), pun
(yakni, adalah) Jiwita (Jiwita) kalawan (dan) Rahsaya (Rahsaya), caket
(dekat) tumungkul (menunduk) lungguhe (posisi duduknya). (Sang

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 19

Pendeta) dihadapi siswanya dua orang, yakni Jiwita dan Rahsaya, dekat
menunduk posisi duduknya.
Kedua siswa, Jiwita dan Rahsaya, duduk menunduk bersiap menerima
perintah sang guru. Amat sangat menghormat mereka dan selalu bersiap
sedia jika sewaktu-waktu dipanggil atau di beri tugas. Demikian
penghormatan seorang siswa di zaman dahulu kepada gurunya.
Sang Wiku (Sang Pendeta) manabdarum (berkata manis), marang
(kepada) cantrik (siwa) ingkang (yang) ngadhepi (menghadap). Sang
Pendeta berkata manis, kepada siswa yang menghadap.
Manabda arum artinya berbicara harum, tidak lazim dalam bahasa
Indonesia kata harum dipakai sebagai sifat dari perkataan. Yang lebih pas
adalah berkata manis. Berkata manis artinya berbicara dengan nada yang
enak terdengar di telinga, nada rendah yang tidak mengagetkan atau
mengusik perasaan yang mendengar.
“Heh (Wahai) cantrik (siswaku) sireku (engkau), apata (apakah) padha
(semua) wus (sudah) lama (lama), sakarone (kalian berdua) anggonmu
(dalam engkau) padha (semua) ngadhepi (menghadap), aneng (ada di)
ngarsa (depan) manira (saya)”. Wahai siswa(ku) engkau, apakah semua
sudah lama, kalian berdua dalam engkau semua menghadap, ada di
depanku?
Kalimat aslinya dalam bahasa Jawa sungguh puitis sehingga pengkaji agak
sulit menerjemahkan perkata. Terjemahan bebasnya kurang lebih; wahai
para siswaku, apakah kaliah sudah lama bersiap di tempat kalian di
depanku ini? Hal ini karena kebiasaan para siswa itu adalah menunggu
sang guru keluar dari langgar untuk memberi mereka wejangan. Sang guru
kadang setelah shalat ashar masih lama berdzikir sehingga tanpa sadar
kalau telah ditunggu oleh para siswanya.
Pun (Si) Jiwita (Jiwita) andheku (tertunduk) sumaji (bersiap), mring
(kepada) Sang (Sang) Dwija (Guru) makaten (demikian) aturnya
(perkataannya), “Dhuh (Duh) Sang (Sang) Widra (bijak?) saestune
(sebenarnya), wau (tadi) saderengipun (sebelum), sang (Sang) Pandhita
(Pendeta) pinarak (duduk) munggwing (di tempat), madyaning (ditengah)
pacrabakan (padepokan), pun cantrik (sang siswa, maksudnya: saya) wus
(sudah) ngantu (menanti), maera (menanti?) rawuh (kedatangan) andika

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 20

(paduka), anyenyambi (sambil) anata (menata) mangrasikani


(mempercantik), bale (balai-balai) kang (yang) kagem (dipakai) lenggah
(duduk)”. Si Jiwita tertunduk bersiap (menjawab), kepada sang Guru
demikian perkataannya, Duh Sang Bijak sebenarnya, tadi sebelum, Sang
Pendeta duduk di tempat, di tengah padepokan, hamba sudah menanti,
kedatangan paduka, sambil menata mempercantik, balai-balai tempat
duduk.
Kata andheku dari kata dheku artinya posisi duduk menunduk karena
sangat hormat kepada yang di hadapannya. Sumaji artinya dalam keadaan
bersiap atau stand by. Kata mangrasikani dari kata rasika yang artinya
indah. Dua orang yang bercumbu disebut mangun raras karasikan artinya
membangun sesuatu yang indah mempesona antara keduanya. Kata
mangrasikani tepatnya diartikan mempercantik atau memperindah, karena
obyeknya berupa pertamanan atau kebun.
Catatan: Kata widra dan maera tidak kami temukan padanan artinya dalam
kamus yang manapun dan tidak pula kami temukan dalam kalimat lain
sejauh ini. Kelak kami akan sempurnakan lagi terjemahan ini jika sudah
mendapat referensi yang valid.
Sang (Sang) Awiku (wiku, pendekta) angandika (berkata) malih (lagi),
maring (kepada) Rahsaya (Rahsaya) mangkana (demikian) sabdanya
(perkataannya). Sang Pendeta berkata lagi, kepada Rahsaya demikian
perkataannya.
Setelah Jiwita melaporkan keadaannya, kemudian gantian Rahsaya yang
ditanya oleh Sang Pendeta tentang apa yang menjadi tugas kewajiban para
siswa di padepokan.
“Lah (Nah) cantrik (siswaku) paran wartane (bagaimana kabarnya),
nggonmu (engkau) padha (semua) nenandur (menanam), palawija
(palawija) apa (apa) lestari (hidup), myang (dan) tanduranmu
(tanamanmu) gaga (gaga), apa (apa) bisa (bisa) metu (keluar buahnya,
berbuah).” Nah, siswaku bagaimana kabarnya, dalam engkau semua
menanam, palawija apakah terus hidup, dan tanamanmu gaga, apa bisa
keluar hasilnya?
Palawija adalah tanaman kering yang ditaman di tanah yang tidak berair.
Gaga adalah tanaman sejenis pada yang bisa hidup di tanah yang tidak

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 21

banyak air, disebut juga pari gaga. Selain belajar kepada Sang Pendeta
memang para santri mengerjakan segala urusan di padepokan, termasuk
bertani sederhana. Jadi selain belajar pengetahuan mereka juga terbiasa
melatih kemampuan life skill yang kelak akan sangat berguna jika sudah
terjun ke masyarakat.
Rahsaya (Rahsaya) matur (berkata) ngrerepa (dengan sangat sopan),
“Estunipun (sebenarnya) angsal (berkat mendapat) pangestu (restu) Sang
(Sang) Yogi (Pendeta), sagung (semua) taneman (tanaman) kula (hamba),
subur (subur) genjah (cepat tumbuh) tan (tak) wonten (ada) kang (yang)
gering (kering). Rahsaya berkata dengan sangat sopan, Sebenarnya
berkat mendapat restu paduka Sang Pendeta, semua tanaman saya, subur
cepat tumbuh tak ada yang kering.
Ngrerepa dari kata rerepa artinya berkata dengan sangat sopan dan hati-
hati. Lazimnya dilakukan oleh orang yang posisinya dibawah dari lawan
bicaranya, atau juga sedang berada dalam posisi yang butuh kepada lawan
bicara. Misalnya pada kasus orang yang mengajukan pinjaman utang.
Karena sangat butuh perkataannya ngrerepa agar lawan bicara mau
meminjaminya. Kata genjah artinya cepat, dalam hal kalimat di atas
artinya cepat tumbuh. Dulu di zaman Presiden Soeharto ada pembagian
bibit kelapa genjah, yakni pohon kelapa yang cepat berbuah.
Kang (yang) mekaten (demikian) tarlen (tak lain) sing (dari) berkahnya
(berkahnya), pamuji (doa) ndika (paduka) yektine (sebenarnya), lan (dan)
pangestu (restu) Sang (sang) Wiku (Pendeta), kang (yang) sumebar
(menyebar) nyamati (melingkupi) wiji (benih). Yang demikian tak lain
dari berkahnya, doa paduka sebenarnya, dan restu (paduka) Sang
Pendeta, yang menyebar melingkupi seluruh benih.
Tumbuh suburnya tanaman itu tak lain karena berkah dari Sang Pendeta,
dari doa dan restu yang diberikan kepada para siswanya. Kemuliaan Sang
Pendeta menyebar sampai kepada biji-biji tanaman yang ditanam di
perkebunan padepokan.
Temah (sehingga) saged (bisa) widada (tumbuh tanpa gangguan),
thukulnya (tumbuhnya) ngrembuyung (rimbun), lulusa (terus) datanpa
(tanpa) sangsaya (menderita, gangguan), kang (yang) minangko (sebagai)
dados (jadi) rarabuking (pupuk bagi) siti (tanah), tegal-tegal (tegalan)
sedaya (semuanya). Sehingga bisa tumbuh tanpa gangguan, tumbuhnya

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 22

rimbun, terus tanpa gangguan, (restu itu) yang menjadi pupuk bagi tanah,
tegalan semuanya.
Sehingga karena kemuliaan Sang Pendeta itu tanaman di gunung bisa
tumbuh rimbun daunnya, terus tumbuh tanpa gangguan, tanpa ada hal-hal
yang menghambat tumbuhnya tanaman itu. Widada artinya tanpa ada
gangguan atau halangan yang menimpa. Kemuliaan Sang Pendeta pula
yang membuat tanah-tanah seolah mendapat pupuk sehingga setiap
tanaman yang tumbuh di atasnya menjadi subur.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 23

Kajian Kridhamaya (1:15-16): Berkah Kang Andayani


Pupuh 1, bait 15-16, Dhandhang Gula (10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u,
8a, 12i, 7a) Serat Kridhamaya karya R Ng. Ranggawarsita dari Surakarta
Adiningrat.
Nggih punika wawatek sang Yogi, dennya tansah ambek
paramarta, mamayu amrih ayune. Sadina-dina manggung,
angecani tyasing sasami, sirik weh seriking lyan, mung anggung
anggunggung. Lumuh sungkan yen nacad, ala becik sanityasa ing
ngelmi, met susukaning liliyan.

Dene ingkang minangka siraming, tetaneman ing tegal sedaya,


punika saking dayane, sih kadarmaning Sang Wiku, dera
manggung dadana mintir, mring janma kang kasrakat. Ri ratri
lumintu, slami datanpa kembat, anenuju sakarep-kareping janma,
tan arsa karya cuwa.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Yaitulah watak Sang Pendeta, karena beliau selalu berwatak baik,
memperbagus segala sesuatu agar semua mencapai kebaikannya.
Sehari-harinya selalu membuat nyaman hati sesama manusia,
menghindari membuat sakit hati bagi orang lain, hanya selalu
membesarkan hati. Enggan dan tak enak hati kalau mencela orang
lain, buruk dan baik selalu dalam pengetahuan, dicari upaya agar
membuat suka orang lain.

Adapun yang sebagai air penyiram, semua tanaman di tegalan


semuanya, yaitu dari daya, kasih pemberian Sang Pendeta, dalam
beliau selalu berderma secara berkesinambungan, kepada orang
yang kekurangan. Siang malam selalu, tanpa putus, menyasar
sekehendak manusia, tak hendak membuat kecewa.

Kajian per kata:


Dalam bait yang lalu, Rahsaya mengatakan bahwa kemuliaan watak Sang
Pendetalah yang membuat tanaman tumbuh subur di gunung Wahmaya.
Juga dikatakan bahwa watak Sang Pendeta yang gemar berdoa kepada
Tuhan dan restunya atas segala yang dikerjakan oleh para siswa laksana

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 24

pupuk yang membuat tanaman tumbuh dengan cepat. Bait ini melanjutkan
uraian tentang watak Sang Pendeta Yatnajati.
Nggih punika (yaitulah) wawatek (watak) sang (Sang) Yogi (Pendeta),
dennya (karena beliau) tansah (selalu) ambek (berwatak) paramarta
(berbudi baik), mamayu (memperbagus, mempercantik) amrih (agar
supaya) ayune (semua mencapai kebaikannya). Yaitulah watak Sang
Pendeta, karena beliau selalu berwatak baik, memperbagus segala
sesuatu agar semua mencapai kebaikannya.
Paramarta artinya berwatak murah hati dalam kaitan dengan kebaikan
orang lain. Maksudnya diupayakan agar semua orang mencapai
kebaikannya masing-masing. Watak paramarta sering digabungkan dengan
watak adil, ambek adil paramarta, dan menjadi persyaratan bagi watak
seorang raja.
Sadina-dina (sehari-harinya) manggung (dari kata anggung = selalu),
angecani (mengenakkan, membuat nyaman) tyasing (hati dari) sasami
(sesama manusia), sirik (menghindari) weh (memberi) seriking (sakit hati
bagi) lyan (orang lain), mung (hanya) anggung (selalu) anggunggung
(membesarkan hati). Sehari-harinya selalu membuat nyaman hati sesama
manusia, menghindari membuat sakit hati bagi orang lain, hanya selalu
membesarkan hati.
Sehari-harinya Sang Pendeta selalu membuat nyaman orang lain yang
bersamanya. Bukan berarti menjilat atau asal orang senang, tetapi segala
hal selalu diupayakan agar caranya tidak membuat orang sakit hati. Beliau
selalu menghindar cara-cara yang membuat orang lain tersinggung,
termasuk ketika sedang mengajar, memberitahu ataupun sedang melarang.
Dia selalu membesarkan hati orang lain, membuat orang lain merasa
dihargai sehingga segan kepada Sang Pendeta.
Lumuh (enggan) sungkan (tak enak hati) yen (kalau) nacad (mencela),
ala (buruk) becik (baik) sanityasa (selalu) ing (dalam) ngelmi (ilmu,
pengetahuan), met (dicari) susukaning (kesukaan) liliyan (orang lain).
Enggan dan tak enak hati kalau mencela orang lain, buruk dan baik selalu
dalam pengetahuan, dicari upaya agar membuat suka orang lain.
Beliau juga enggan dan tak enak hati kalau sampai mencela orang lain.
Kalau ada keburukan pada orang lain selalu dicarikan cara agar yang

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 25

bersangkutan berubah tanpa harus mencelanya. Dalam hal ini beliau


sangat menguasai caranya karena beliau seorang yang banyak ilmu atau
metodenya dalam mengajar orang lain. Selalu beliau cari caranya agar
orang suka ketika sedang diperingatkan atau dinasihati.
Sifat-sifat Sang Pendeta itulah yang laksana pupuk sehingga membuat
tanaman di Gunung Wahmaya tumbuh subur. Namun masih ada watak-
watak lain sang Pendeta Yatnajati yang juga turut membuat tanaman
semakin subur laksana tanaman yang cukup air.
Dene (adapun) ingkang (yang) minangka (sebagai) siraming (air
penyiram), tetaneman (semua tanaman) ing (di) tegal (tegalan) sedaya
(semuanya), punika (yaitu) saking (dari) dayane (daya, tuah), sih (kasih)
kadarmaning (pemberian dari) Sang (Sang) Wiku (Pendeta), dera (dalam
beliau) manggung (selalu) dadana (berderma) mintir (secara
berkesinambungan), mring (kepada) janma (orang) kang (yang) kasrakat
(kekurangan). Adapun yang sebagai air penyiram, semua tanaman di
tegalan semuanya, yaitu dari daya, kasih pemberian Sang Pendeta, dalam
beliau selalu berderma secara berkesinambungan, kepada orang yang
kekurangan.
Adapun yang menjadi air penyiram dari tanaman tersebut adalah daya atau
tuah dari watak suka berderma dari Sang Pendeta Yatnajati. Tanaman
sebagus apapun bijinya dan sesubur apa tanahnya kalau tidak cukup air
akan kering. Sang Pendeta melengkapi wataknya sehingga lengkap sudah
beliau menyebarkan kebaikan bagi manusia dan alam sekitarnya.
Wataknya yang baik dan selalu menghargai manusia disempurnakan
dengan kerelaannya untuk berbagi harta benda.
Dedana mintir artinya beliau suka berderma secara berkesinambungan
tiada putus-putusnya. Kata mintir biasa dipakai untuk menyebut aliran air
yang kecil namun tak pernah kering. Artinya aliran airnya ajeg selalu
mengalir sampai kapanpun. Demikian perumpamaan sifat derma yang
dilakukan oleh Sang Pendeta Yatnajati.
Ri (ari, siang) ratri (malam) lumintu (selalu), slami (selamanya) datanpa
(tanpa) kembat (putus), anenuju (menyasar) sakarep-kareping
(sekehendak) janma (manusia), tan (tak) arsa (hendak) karya (membuat)
cuwa (kecewa). Siang malam selalu, tanpa putus, menyasar sekehendak
manusia, tak hendak membuat kecewa.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 26

Di siang malam Sang Pendeta selalu selama-lamanya tiada putus membuat


suka orang lain yang bergaul dengannya. Kata anenuju maksudnya
nujuprana artinya membuat suka orang lain. Apa yang dikehendaki oleh
orang lain sebisa mungkin selalu beliau wujudkan. Beliau sekali-kali tak
inging membuat orang lain kecewa. Sebuah kebaikan yang sempurna dari
seorang Pendeta Agung Yatnajati.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 27

Kajian Kridhamaya (1:17-24): Cantrik Kang Lelima


Pupuh 1, bait 17-24, Dhandhang Gula (10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u,
8a, 12i, 7a) Serat Kridhamaya karya R Ng. Ranggawarsita dari Surakarta
Adiningrat.
Sang Pandhita manambung sabdanis, mring Jiwita tanapi
Rahsaya, makaten pangandikane, “Ya bangetira meng sun,
nggonmu njunjung kluhuran kami, sapata kang kuwawa, junjung
prawirengsun, kajabane amung sira, ing samangko seje kang
dakwuwus genti, kadangmu kang titiga,

ana ngendi tan angadhepi. Pun Jiwita umatur prasaja, mangkana


cantrik umature, “Nuwun ndika ndangu pun cantrik, kadang kula
titiga, neng tegalan macul, samya andamel gadhanagan,
badhenipun kataneman kacang ruji, kenthang miwah katela.”

Sang Awiku ngandika malih, mring dwi cantrik sabdanya


mangkana, “Sira sun duta age-age, nulatana kadangmu, si Citaya
Budaya tuwin, katelune Karsaya, mengke yen wus pangguh,
tutura lamun sun duta, bocah telu mangko wanci madya ratri,
padha kinen sewaka.”

Matur nuwun sandika cantrik dwi, gya lumengser sira ngarsa


Sang Dwija, sumedya nuruh kadange. Njunjug mring tegilipun,
katon maksih sami ndhangiri, taneman palawija. Samana dupi
wus, perak nulya awawarta, ring kadangtri makaten denira
angling, “Dhuh kadang tri sadaya,

den pirengna wuwusku kariyin, ywa katungkul dhangiri


tanduran.” Wau tau cantrik katrine, dupi miyarsa wuwus, sigra
noleh bareng tumoleh, sareng samya tuminggal, yen kadangnya
sepuh, kakalih angulatana, pun Citaya, Budaya, Karsaya sami,
merak nungsung pawarta.

Pan makaten Citaya derangling, “Lah ta kakang paran wigatinya,


de sira nusul marene,” Jiwita nambung wuwus, “Aywa dadi
kageting ati, nggonku katemu sira, ana parlunipun, manira
ngemban dhawuhnya, Sang Pandhita tekaku kinen animbali,
bocah telu prasamya.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 28

Mengko yen wus wanci tengah wengi, jeneng sira padha


didhawuhana, mrih ngadhepa neng ngersane, mungguh ing
parlunipun, aku tan wruh kurang mangerti. Citaya lan Budaya,
Karsayatrinipun, dupi ngrungu ling mangkana,, saur manuk
mangkana dennya mangsuli, “dhuh Kakang mengko sira,

Umatura ri Sang Maha Yogi, yen wong telu umatur sandika, ri


sang Dwija timbalane, mangke kewala dalu, kula mreg sowan
Sang Yogi. Wau ta Jiwita, Rahsayadwinipun, reh wus trang
wangsulanira, gya pamitan wangsul yun matur Sang Yogi, dennya
samya dinuta.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Sang Pendeta menyambung perkataan manisnya, kepada Jiwita dan
Rahsaya, demikian perkataannya; “Ya sangat (memuji) engkau
kepadaku, dalam engkau mengangkat kemuliaanku, sepatah kata
yang sanggup, menjunjung keperwiraan (kemuliaan)ku, tak hanya
engkau. Sekarang lain yang kubicarakan ganti, tentang saudaramu
yang bertiga,

ada di mana kok tidak menghadap. Si Jiwita berkata apa adanya,


demikian siswa itu melapor, “Maaf, paduka bertanya tentang para
siswa, saudara saya yang tiga, ada di tegalan mencangkul, mereka
sedang membuat tanah persemian, bakal ditanami kacang ruji,
kentang dan ketela.”

Sang Pendeta berkata lagi, kepada dua siswa sabdanya demikian;


“Engkau aku utus segera melihat saudaramu, Si Citaya Budaya
serta, yang ketiga Karsaya, nanti kalau sudah ketemu, katakan kalau
aku utus, anak tiga itu nanti waktu tengah malam, semua disuruh
menghadap.”

Menyatakan kesiapan dua siswa itu, segera lengser mereka dari


depan Sang Guru, hendak mencari saudaranya. Langsung menuju
ke tegalannya, terlihat masih sama-sama mendhangir, tanaman
palawija. Waktu itu ketika sudah, dekat segera mengabarkan, pada
tiga saudara demikian mereka berkata, “Duh saudara bertiga
semuanya,

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 29

dengarkanlah perkataanku dulu, jangan terpaku mendhangiri


tanaman.” Dikisahkan siswa ketiganya, ketika mendengar
perkataan, segera menoleh mereka dengan bersamaan menoleh,
ketika mereka melihat, kalau saudara tua mereka, berdua
mengawasi, si Citaya, Budaya, Karsaya semua, mendekat untuk
menyongsong perintah.

Demikian Citaya berkata, “Lah kakak apa kepentingannya, sampai


engkau menyusul kemari?”Jiwita menyambung perkataan, “Jangan
sampai kaget hati(mu), aku menemuimu, ada keperluannya, aku
mengemban perintah, Sang Pendeta kedatanganku disuruh
memanggil, engkau bertiga semuanya.

Nanti kalau sudah waktu tengh malam, engkau semua


diperintahkan, agar menghadap di dihadapan beliau, adapun dalam
hal keperluannya, aku tak mengetahui dan kurang mengerti. Citaya
dan Budaya, yang ketiga Karsaya, ketika mendengar perkataan
demikian, saling sahut demikian mereka menjawab, “Duh kakak
nanti engkau,

melaporlah pada Sang Maha Pendeta, kalau orang tiga ini


menjawas siap, pada perintah Sang Guru, nanti malam saja, kami
menghadao Sang Pendeta. Diceritakan Jiwita, dan juga Rahsaya
karena sudah jelas jawaban mereka, segera pamitan kembali
hendak melapor kepada Sang Pendeta, dalam hal mereka telah
diutus.

Kajian per kata:


Sang (Sang) Pandhita (Pendeta) manambung (menyambung) sabdanis
(perkataan manisnya), mring (kepada) Jiwita (Jiwita) tanapi (dan)
Rahsaya (Rahsaya), makaten (demikian) pangandikane (perkataannya),
“Ya (iya) bangetira (sangat) meng (kepada) sun (aku), nggonmu (dalam
engkau) njunjung (mengangkat) kluhuran (kemuliaan) kami (kami, aku),
sapata (sepatah kata) kang (yang) kuwawa (sanggup), junjung
(mengangkat) prawirengsun (kemuliaanku), kajabane (tak lain) amung
(hanya) sira (engkau). Sang Pendeta menyambung perkataan manisnya,
kepada Jiwita dan Rahsaya, demikian perkataannya; “Ya sangat (memuji)

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 30

engkau kepadaku, dalam engkau mengangkat kemuliaanku, sepatah kata


yang sanggup, menjunjung keperwiraan (kemuliaan)ku, tak hanya engkau.
Sang Pendeta menanggapi pujian kedua muridnya dengan perkataan
manis. Bahwa apa yang dikatakan muridnya sungguh telah menjunjung
kemuliaannya. Tampak bahwa Sang Pendeta Yatnajati menanggapi
dengan sekadarnya saja pujian itu, seraya mengatakan bahwa itu hanya
ucapan muridnya untuk menjunjung kemuliaannya. Beliau tidak lantas
kegirangan mendapat pujian yang demikian itu.
“Ing (pada saat) samangko (sekarang) seje (lain) kang (yang) dakwuwus
(kubicarakan) genti (ganti), kadangmu (saudaramu) kang (yang) titiga
(bertiga), ana (ada) ngendi (di mana) tan (tidak) angadhepi (menghadap)?
Sekarang lain yang kubicarakan ganti, tentang saudaramu yang bertiga,
ada di mana kok tidak menghadap.
Sang Pendeta tidak larut dalam pujian, beliau segera mengalihkan
pembicaraan ke topik lain. Beliau bertanya tentang siswa lain yang tidak
menghadap sore itu, yakni tiga siswa terkasih yang lain.
Pun (Si) Jiwita (Jiwita) umatur (berkata) prasaja (apa adanya),
mangkana (demikian) cantrik (siswa itu) umature (melapor), “Nuwun
(Maaf, permisi) ndika (paduka) ndangu (bertanya) pun cantrik (tentang
para siswa), kadang (saudara) kula (saya) titiga (yang tiga), neng (ada di)
tegalan (tegalan) macul (mencangkul), samya (mereka sedang) andamel
(membuat) gadhanagan (tanah persemian), badhenipun (bakal)
kataneman (ditanami) kacang ruji (kacang ruji), kenthang (kentang)
miwah (serta) katela (ketela).” Si Jiwita berkata apa adanya, demikian
siswa itu melapor, “Maaf, paduka bertanya tentang para siswa, saudara
saya yang tiga, ada di tegalan mencangkul, mereka sedang membuat
tanah persemian, bakal ditanami kacang ruji, kentang dan ketela.”
Si Jiwita menjawab bahwa ketiganya sedang berada di tegalan untuk
mempersiapkan gadhangan, yakni lahan yang akan ditanami kacang ruji,
kentang dan ketela. Gadhangan adalah tanah yang dicangkul dan diratakan
sebagai media tempat tanaman disebarkan. Sebelum ditanami tanah itu
digemburkan dahulu dengan cangkul agar udara bisa masuk ke dalam
tanah. Supaya benih yang ditanam bisa segera tumbuh dan akar-akarnya
bisa menembus tanah serta kecambahnya bisa muncul ke permukaan.
Gadhangan kadang juga diberi parit-parit kecil (palir) agar air sisa yang

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 31

terbuang dapat mengalir di sela-sela tanaman, tujuannya agar tanah tidak


becek kalau sewaktu-waktu hujan atau ada kelebihan air.
Yang disebut di atas, kacang ruji, kentang dan ketela semua adalah jenis
tanaman palawija yang cocok ditanam di lahan kering seperti pegunungan.
Ada banyak jenis palawija selain yang telah disebut di atas dan setiap jenis
ada namanya sendiri. Contohnya apa yang disebut pala-kapendhem, yakni
tanaman yang buahnya berada di dalam tanah, seperti ketela, umbi,
kentang dan sebagainya. Pala-gumantung, tanaman yang buahnya
bergantung di udara seperti jagung atau pepaya. Pala-kesampir adalah
tanaman yang buahnya tersampir di pohon lain. Umumnya pohonnya
sendiri berupa pohon rambat seperti melon, uwi, bligo dan sebagainya.
Pala-kesimpar, adalah tanaman yang buahnya sering tersandung atau
tertendang oleh kaki, seperti ketimun, blewah, labu dan semangka.
Sang (Sang) Awiku (Pendeta) ngandika (berkata) malih (lagi), mring
(kepada) dwi (dua) cantrik (siswa) sabdanya (sabdanya) mangkana
(demikian), “Sira (engkau) sun (aku) duta (utus, suruh) age-age (segera),
nulatana (melihat) kadangmu (saudaramu), si (Si) Citaya (Citaya)
Budaya (Budaya) tuwin (serta), katelune (yang ketiga) Karsaya
(Karsaya), mengke (nanti) yen (kalau) wus (sudah) pangguh (ketemu),
tutura (katakan) lamun (kalau) sun (aku) duta (utus), bocah (anak) telu
(tiga) mangko (nanti) wanci (waktu) madya (tengah) ratri (malam), padha
(semua) kinen (disuruh) sewaka (menghadap).” Sang Pendeta berkata
lagi, kepada dua siswa sabdanya demikian; “Engkau aku utus segera
melihat saudaramu, Si Citaya Budaya serta, yang ketiga Karsaya, nanti
kalau sudah ketemu, katakan kalau aku utus, anak tiga itu nanti waktu
tengah malam, semua disuruh menghadap.”
Sang Pendeta berkenan untuk memanggil ketiga siswa yang sore itu tidak
hadir. Ketiganya disuruh untuk menghadap nanti waktu tengah malam.
Yang disebut waktu madya-ratri yang artinya tengah malam, bukanlah
jam 12 malam, tetapi waktu setelah sore dan sebelum fajar, antara setelah
Isya’ dan sebelum Subuh. Waktu-waktu ketika aktivitas manusia telah
terhenti karena mereka sedang istirahat. Di waktu-waktu itulah para
pertapa justru terbangun untuk membangun hubungan yang khusyu’
dengan Penguasa Langit.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 32

Matur (berkata, menyatakan) nuwun sandika (kesiapan) cantrik (siswa)


dwi (dua), gya (segera) lumengser (lengser) sira (engkau, maksudnya
mereka) ngarsa (depan) Sang (Sang) Dwija (Guru), sumedya (hendak)
nuruh (mencari) kadange (saudaranya). Menyatakan kesiapan dua siswa
itu, segera lengser mereka dari depan Sang Guru, hendak mencari
saudaranya.
Kata sandika adalah ungkapan kesediaan untuk melaksanakan perintah.
Kalau di zaman sekarang seperti kata “Siap!” bagi para prajurit terhadap
komandannya. Kata nuruh artinya menyirami sehingga yang disirami
basah secara merata. Dalam kalimat ini artinya hendak mencari dengan
menyisir sampai ketemu.
Njunjug (langsung menuju) mring (ke) tegilipun (tegalannya), katon
(terlihat) maksih (masih) sami (sama-sama) ndhangiri (mencangkul),
taneman (tanaman) palawija (palawija). Langsung menuju ke tegalannya,
terlihat masih sama-sama mendhangir, tanaman palawija.
Dhangir adalah mencangkul sela-sela tanaman agar tanaman mendapat
pasokan udara dan dapat tumbuh lebih cepat. Para saudara mereka yang
tiga masih terlihat sibuk mencangkul sela-sela tanaman palawija di
tegalan.
Samana (waktu itu) dupi (ketika) wus (sudah), perak (dekat) nulya
(segara) awawarta (mengabarkan), ring (pada) kadangtri (tiga saudara)
makaten (demikian) denira (mereka) angling (berkata), “Dhuh (Duh)
kadang (saudara) tri (bertiga) sadaya (semuanya), den pirengna
(dengarkanlah) wuwusku (perkataanku) kariyin (dulu), ywa (jangan)
katungkul (terpaku) dhangiri (mendangiri) tanduran (tanaman).” Waktu
itu ketika sudah, dekat segera mengabarkan, pada tiga saudara demikian
mereka berkata, “Duh saudara bertiga semuanya, dengarkanlah
perkataanku dulu, jangan terpaku mendangiri tanaman.”
Kedua siswa mendapati ketiga saudara mereka masih sibuk mendangir
tanaman. Mereka menyuruh ketiganya untuk berhenti dahulu untuk
mendengarkan perintah sang Guru yang hendak disampaikan, agar
ketiganya dapat mendengarkan perintah dengan seksama.
Wau ta (dikisahkan) cantrik (siswa) katrine (ketiganya), dupi (ketika)
miyarsa (mendengar) wuwus (perkataan), sigra (segera) noleh (menoleh)

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 33

bareng (bersamaan) tumoleh (mereka menoleh), sareng (ketika) samya


(mereka sama-sama) tuminggal (melihat), yen (kalau) kadangnya
(saudara mereka) sepuh (yang tua), kakalih (berdua) angulatana
(mengawasi), pun (si) Citaya (Citaya), Budaya (Budaya), Karsaya
(Karsaya) sami (semua), merak (mendekat) nungsung (menyiongsong)
pawarta (berita). Dikisahkan siswa ketiganya, ketika mendengar
perkataan, segera menoleh mereka dengan bersamaan menoleh, ketika
mereka melihat, kalau saudara tua mereka, berdua mengawasi, si Citaya,
Budaya, Karsaya semua, mendekat untuk menyongsong perintah.
Begitu ketiga saudara seperguruan yang sedang mendangir itu mendengar
perkataan yang ditujukan kepada mereka, serentak mereka menoleh.
Mereka melihat kedua saudara tua seperguruan mereka sedang mengawasi.
Ketiganya segera mendekat dengan tergopoh-gopoh, untuk menyongsong
perintah apakah yang hendak disampaikan kepada mereka. Inilah sikap
unggah-ungguh atau adab mulia yang sangat mereka pegang. Ketika ada
saudara tua memanggil mereka segera mendekat dengan segera.
Pan (sungguh) makaten (demikian) Citaya (Citaya) derangling (berkata),
“Lah ta (Lah) kakang (kakak) paran (tujuan, maksudnya apa tujuannya)
wigatinya (kepentingannya), de (dene, adapun, sampai-sampai) sira
(engkau) nusul (menyusul) marene (kemari)?” Demikian Citaya berkata,
“Lah kakak apa kepentingannya, sampai engkau menyusul kemari?”
Maksud kalimat itu sedikit menyayangkan, juga sedikit rasa kaget
mengapa sang kakak sampai berpayah-payah menyusul ke tegalan,
mengapa tidak menunggu mereka pulang nanti. Apakah ada yang begitu
penting sehingga membuat sang kakak sampai harus menyusul ke tegalan.
Jiwita (Jiwita) nambung (menyambung) wuwus (perkataan), “Aywa
(jangan) dadi (sampai) kageting (kagetnya) ati (hati), nggonku (dalam
aku) katemu (menemui) sira (kamu), ana (ada) parlunipun
(keperluannya), manira (aku) ngemban (mengemban) dhawuhnya
(perintah), Sang (Sang) Pandhita (Pendeta) tekaku (kedatanganku) kinen
(disuruh) animbali (memanggil), bocah (anak) telu (tiga) prasamya
(semuanya). Jiwita menyambung perkataan, “Jangan sampai kaget
hati(mu), aku menemuimu, ada keperluannya, aku mengemban perintah,
Sang Pendeta kedatanganku disuruh memanggil, engkau bertiga
semuanya.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 34

Jiwita mengatakan bahwa kedatangannya ke tegalan karena ada keperluan


yang penting, yakni mengemban perintah dari Sang Guru untuk
memanggil mereka bertiga. Perintah Sang Guru yang mereka hormati
dianggap sebagai hal yang sangat mendesak untuk segera dilaksanakan
sehingga mereka langsung mengerjakannya. Tidak ada kata nanti-nanti,
walau ketiga saudara mereka juga bakal pulang ke padepokan nantinya.
Namun karena perintah Guru sangat mereka junjung, tidak terbersit dalam
hati untuk menunda lagi. Ini pun sebuah adab yang mulia.
Mengko (nanti) yen (kalau) wus (sudah) wanci (waktu) tengah (tengah)
wengi (malam), jeneng sira (engkau) padha (semua) didhawuhana
(diperintahkan), mrih (agar) ngadhepa (menghadap) neng (di) ngersane
(hadapannya), mungguh (adapun) ing (dalam) parlunipun
(keperluannya), aku (aku) tan (tak) wruh (mengetahui) kurang (kurang)
mangerti (mengerti). Nanti kalau sudah waktu tengh malam, engkau
semua diperintahkan, agar menghadap di dihadapan beliau, adapun
dalam hal keperluannya, aku tak mengetahui dan kurang mengerti.
Jiwita menyampaikan perintah dari Sang Guru kepada Citaya, Budaya dan
Karsaya. Mereka bertiga disuruh menghadap kepada Sang Guru nanti pada
waktu tengah malam. Adapun keperluannya apa Jiwita tidak
mengetahuinya. Ini pun juga merupakan adab dari seorang siswa kepada
guru, yakni ketika diperintah tidak usah menelisih maksud dari perintah
itu, yang penting segera dilaksanakan.
Citaya (Citaya) lan (dan) Budaya (Budaya), Karsayatrinipun (yang ketiga
Karsaya), dupi (ketika) ngrungu (mendengar) ling (perkataan) mangkana
(demikian), saur manuk (saling saut) mangkana (demikian) dennya
(mereka dalam) mangsuli (menjawab), “Dhuh (Duh) kakang (kakak)
mengko (nanti) sira (engkau), umatura (melaporlah) ri (pada) Sang
(Sang) Maha (Maha) Yogi (Pendeta), yen (kalau) wong (orang) telu (tiga)
umatur (menjawab) sandika (siap), ri (pada) sang (Sang) Dwija (Guru)
timbalane (perintahnya), mangke (nanti) kewala (saja) dalu (malam),
kula (kami) mreg (mendekat) sowan (menghadap) Sang (Sang) Yogi
(Pendeta). Citaya dan Budaya, yang ketiga Karsaya, ketika mendengar
perkataan demikian, saling sahut demikian mereka menjawab, “Duh
kakak nanti engkau, melaporlah pada Sang Maha Pendeta, kalau orang
tiga ini menjawas siap, pada perintah Sang Guru, nanti malam saja, kami
menghadao Sang Pendeta.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 35

Saur manuk artinya saling bersahutan berlomba menjawab, seperti suara


burung yang saling sahut satu dengan yang lain. Ini merupakan tanda
kesiapan atau persetujuan mereka terhadap perintah yang mereka terima.
Mereka menitipkan pesan kepada yang membawa perintah bahwa mereka
bersiap sedia memenuhi perintah itu nanti malam.
Wau ta (diceritakan) Jiwita (Jiwita), Rahsayadwinipun (dan juga
Rahsaya), reh (karena) wus (sudah) trang (jelas) wangsulanira
(jawabannya), gya (segera) pamitan (pamitan) wangsul (kembali) yun
(hendak) matur (melapor) Sang (Sang) Yogi (Pendeta), dennya (dalam
mereka) samya (semua) dinuta (diutus). Diceritakan Jiwita, dan juga
Rahsaya karena sudah jelas jawaban mereka, segera pamitan kembali
hendak melapor kepada Sang Pendeta, dalam hal mereka telah diutus.
Kedua saudara perguruan, Jiwita dan Rahsaya, meninggalkan ketiga
saudara mereka yang meneruskan bertani di tegalan. Telah terang jawaban
ketiganya bahwa nanti malam mereka akan menghadap Sang Guru.
Keduanya lalu kembali ke padepokan untuk melapor hasil mereka diutus
sore itu.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 36

Kajian Kridhamaya (1:25-29): Samapta Ing Dhawuh


Pupuh 1, bait 25-29, Dhandhang Gula (10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u,
8a, 12i, 7a) Serat Kridhamaya karya R Ng. Ranggawarsita dari Surakarta
Adiningrat.
Tan wibawa lampahnyaneng margi, mung pinunggel mrih
gancanging crita. Wus prapta ngabyantarane, Sang Yatnajati
wiku, marikelu denira linggih, anekeri Sang Jati, meh
anguswajengku. Sang Pandhita angandika, Mring Jiwita makaten
sabdanya Yogi;

“Paran wusananira, sakorone anggonmu ngulati, baya bisa


pinanggya sadaya, kadangmu tetelu kabeh.” Pun Jiwita umatur,
“Sangking antuk barkah pamuji, paduka Sang Pandhita, duk wau
amba wus, tiga pisan lagya dhedhangir neng tegil, nulya kawula
undang.”

“Dupi sampun sami anyelaki, kadya kula dawuhaken timbalan,


dene mangke dalu, badhe sowan ngadhepi. Ya ta sira Sang
Pandhita, duk miyarsa atur, kacaryan jroning wardaya, Sang
Awiku anulya ngandika malih, mangkana sabdanira.

“Lah ta payo wus bubaran cantrik, ingsun arsa angasoken


badan.” “sumangga,” cantrik ature. Laju linggar Sang Wiku, pun
Jiwita Rahsaya tuwin, maksih neng pacrabakan, anata dudunung,
kang badhe kangge lungguhan, ngadhepi Ri Sang Wiku Yatnajati,
aywa nganti kuciwa.

Kuneng gantya amangsuli malih, cantrik tiga kang sami ngandika,


dupyantara wus wancine, timbalan kang tinamtu, cantrik katri
angumpul sami, Citaya myang Budaya, lawan Karsayeku, laju
budhalan asarengan, sru ginelak wonten tri dera lumaris, anyipta
daya-daya.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Tak diceritakan perjalananya selama di jalan, hanya disingkat agar
lancar jalan cerita. Sudah sampai di hadapan, Sang Pendeta
Yatnajati, menunduk hormat mereka duduk, mengelilingi Sang

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 37

Yatnajati, mendekat mencium lutut. Sang Pendeta berkata, kepada


Jiwita demikian sabda Sang Pendeta;

“Bagaimana akhirnya, kalian berdua dalam engkau mencari,


apakah bisa ketemu semua, saudaramu ketiganya semuanya?”
Si Jiwita berkata, “Karena mendapat berkah, paduka Sang Pendeta,
ketika tadi hamba sudah, (betemu) ketiganya sekaligus sedang
mendangir di tegalan, lalu kami panggil.

Ketika sudah semua mendekat, saya perintahkan panggilan seperti


itu, bahwa nanti malam, mereka akan datang menghadap.
Diceritakan Sang Pendeta, ketika mendengar laporan, gembira
dalam hatinya, Sang Pendela lalu berkata lagi, demikian sabdanya;

“Lah ayo bubar dahulu para siswa(ku), aku hendak


mengistirahatkan badan.” “Silakan!” para siswa berkata, segera
meninggalkan tempat Sang Pendeta. Si Jiwita serta Rahsaya, masih
ada di padepokan, menata tempat, yang akan dipakai duduk-duduk,
menghadap pada Sang Pendeta Yatnajati, jangan sampai
mengecewakan.

Demikian ganti yang diceritakan kembali lagi, pada tiga siswa yang
sedang bercakap, ketika beberapa saat sudah waktunya, panggilan
yang ditetapkan, siswa ketiganya berkumpul semua. Citaya dan
Budaya, serta Karsaya itu, segera berangkat bersama-sama, cepat
dipercepat mereka berjalan, angan-angan mereka (agar) segera
sampai.

Kajian per kata:


Tan (tak) wibawa (diceritakan) lampahnya (perjalanannya) neng (ada di)
margi (jalan), mung (hanya) pinunggel (diputus, disingkat) mrih (agar)
gancanging (lancar jalan) crita (cerita). Tak diceritakan perjalananya
selama di jalan, hanya disingkat agar lancar jalan cerita.
Yang dimaksud perjalanan di sini adalah perjalanan pulang Jiwita dan
Rahsaya dari tegal. Tidak diceritakan karena tidak ada peristiwa penting
selama di jalan. Singkat cerita mereka telah sampai kembali di padepokan.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 38

Wus (sudah) prapta ( sampai) ngabyantarane (di hadapan), Sang (Sang)


Yatnajati (Yatnajati) wiku (Pendeta), marikelu (menunduk hormat) denira
(mereka) linggih (duduk), anekeri (mengelilingi) Sang (Sang) Jati
(Yatnajati), meh (mendekat) anguswajengku (mencium lutut). Sudah
sampai di hadapan, Sang Pendeta Yatnajati, menunduk hormat mereka
duduk, mengelilingi Sang Yatnajati, mendekat mencium lutut.
Sudah sampai mereka di hadapan Sang Pendeta Yatnajati. Tunduk dengan
hormat mengelilingi sang Pendeta, mendekat dan mencium lutut.
Demikian tinggi rasa hormat para siswa di hadapan gurunya, layaknya
penghormatan kepada raja. Nguswajengku maksudnya menunduk dan
memcium lutut. Sering juga disebut angestupada atau angabekti.
Sang (Sang) Pandhita (Pendeta) angandika (berkata), mring (kepada)
Jiwita (Jiwita) makaten (demikian) sabdanya (sabda) Yogi (Sang
Pendeta); “Paran wusananira (bagaimana akhirnya), sakorone (kalian
berdua) anggonmu (dalam engkau) ngulati (mencari), baya (apakah) bisa
(bisa) pinanggya (ketemu) sadaya (semua), kadangmu (saudaramu) tetelu
(ketiganya) kabeh (semua).” Sang Pendeta berkata, kepada Jiwita
demikian sabda Sang Pendeta; “Bagaimana akhirnya, kalian berdua
dalam engkau mencari, apakah bisa ketemu semua, saudaramu ketiganya
semuanya?”
Sang Pendeta bertanya kepada Jiwita akhir kesudahan dari tugas yang
diberikan kepadanya, apakah berhasil dilaksanakan dengan baik? Yakni,
apakah bisa bertemu dengan ketiga saudaranya itu dan telah
memanggilnya untuk menghadap nanti malam?
Pun (si) Jiwita (Jiwita) umatur (berkata), “Sangking (karena) antuk
(mendapat) barkah (berkah) pamuji (doa), paduka (paduka) Sang (Sang)
Pandhita (Pendeta), duk (ketika) wau (tadi) amba (hamba) wus (sudah),
tiga (tiga) pisan (sekaligus) lagya (sedang) dhedhangir (mendangir) neng
(di) tegil (tegalan), nulya (lalu) kawula (kami) undang (panggil).” Si
Jiwita berkata, “Karena mendapat berkah, paduka Sang Pendeta, ketika
tadi hamba sudah, (betemu) ketiganya sekaligus sedang mendangir di
tegalan, lalu kami panggil.
Jiwita menyatakan bahwa tugasnya telah berhasil dilaksanakan dengan
baik. Mereka berdua berhasil menemukan ketiga saudaranya di tegalan

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 39

sedang mendangir tanaman, tepat seperti yang mereka katakan


sebelumnya.
“Dupi (ketika) sampun (sudah) sami (semua) anyelaki (mendekat), kadya
(seperti) kula (saya) dhawuhaken (perintahkan) timbalan (panggilan),
dene (bahwa) mangke (nanti) dalu (malam), badhe (akan) sowan (datang)
ngadhepi (menghadap). Ketika sudah semua mendekat, saya perintahkan
panggilan seperti itu, bahwa nanti malam, mereka akan datang
menghadap.
Ketika sudah dekat mereka berdua menyampaikan perintah yang telah
diberikan agar nanti malam datang menghadap kepada Sang Guru. Ketiga
saudara juga telah menyatakan kesanggupannya.
Ya ta (diceritakan) sira (dia) Sang (Sang) Pandhita (Pendeta), duk
(ketika) miyarsa (mendengar) atur (laporan), kacaryan (gembira) jroning
(dalam) wardaya (hatinya), Sang (Sang) Awiku (Pendeta) anulya (lalu)
ngandika (berkata) malih (lagi), mangkana (demikian) sabdanira
(sabdanya); “Lah ta (Lah) payo (ayo) wus (sudah) bubaran (bubar)
cantrik (siswa), ingsun (aku) arsa (hendak) angasoken
(mengistirahatkan) badan (badan).” Diceritakan Sang Pendeta, ketika
mendengar laporan, gembira dalam hatinya, Sang Pendela lalu berkata
lagi, demikian sabdanya; “Lah ayo bubar dahulu para siswa(ku), aku
hendak mengistirahatkan badan.”
Sangat gembira hati Sang Pendeta mendengar kedua muridnya telah
berhasil menemui ketiga saudaranya, dan mereka berlima dapat berkumpul
nanti malam. Sang Pendeta lalu undur diri untuk istirahat.
“Sumangga (Silakan)” cantrik (siswa) ature (berkata), laju (segera)
linggar (meninggalkan tempat) Sang (Sang) Wiku (Pendeta). “Silakan!”
para siswa berkata, segera meninggalkan tempat Sang Pendeta.
Jiwita dan Rahsaya menyilakan Sang Guru untuk beristirahat, sementara
mereka berdua masih tinggal di tempat itu untuk mempersiapkan segala
sesuatu yang diperlukan untuk pertemuan nanti malam.
Pun (Si) Jiwita (Jiwita) Rahsaya (Rahsaya) tuwin (serta), maksih (masih)
neng (ada di) pacrabakan (padepokan), anata (menata) dudunung
(tempat), kang (yang) badhe (akan) kangge (dipakai) lungguhan (duduk-
duduk), ngadhepi (menghadap) ri (pada) Sang (Sang) Wiku (Pendeta)

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 40

Yatnajati (Yatnajati), aywa (jangan) nganti (sampai) kuciwa


(mengecewakan). Si Jiwita serta Rahsaya, masih ada di padepokan,
menata tempat, yang akan dipakai duduk-duduk, menghadap pada Sang
Pendeta Yatnajati, jangan sampai mengecewakan.
Tempat duduk dan segala keperluan yang diperlukan untuk nanti malam
merekalah yang mempersiapkan. Jangan sampai membuat acara yang
sudah dipersiapkan itu berjalan tidak lancar sehingga Sang Guru kecewa.
Kuneng (demikian) gantya (ganti cerita) amangsuli (kembali) malih
(lagi), cantrik (siswa) tiga (tiga) kang (yang) sami (sedang) ngandika
(bercakap), dupyantara (ketika beberapa saat) wus (sudah) wancine
(waktunya), timbalan (panggilan) kang (yang) tinamtu (ditetapkan),
cantrik (siswa) katri (ketiganya) angumpul (mengumpul) sami (semua).
Demikian ganti yang diceritakan kembali lagi, pada tiga siswa yang
sedang bercakap, ketika beberapa saat sudah waktunya, panggilan yang
ditetapkan, siswa ketiganya berkumpul semua.
Ganti yang diceritakan, para siswa bertiga yang sedang di tegalan setelah
mendengar perintah kepada mereka untuk menghadap nanti malam,
mereka segera mempersiapkan diri. Mereka saling bertanya-tanya ada
apakah gerangan yang akan disampaikan oleh Sang Guru sehingga secara
khusus memanggil mereka. Namun mereka tampak tak punya waktu untuk
banyak menebak karena waktu sudah sangat mepet. Segera mereka
membereskan pekerjaannya dan berkumpul.
Citaya (Citaya) myang (dan) Budaya (Budaya), lawan (serta) Karsayeku
(Karsaya itu), laju (segera) budhalan (berangkat) asarengan (bersama-
sama), sru (cepat) ginelak (dipercepat) wonten (ada) tri (tiga) dera
(mereka) lumaris (berjalan), anyipta (angan mereka) daya-daya (segera
sampai). Citaya dan Budaya, serta Karsaya itu, segera berangkat
bersama-sama, cepat dipercepat mereka berjalan, angan-angan mereka
(agar) segera sampai.
Ketiga siswa segera berangkat ke padepokan bersama-sama. Jalan mereka
dipercepat. Yang diangankan hanyalah segera sampai di padepokan dan
menghadap Sang Guru.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 41

Kajian Kridhamaya (1:30-35): Wenang Nampik Lan Milih


Pupuh 1, bait 30-35, Dhandhang Gula (10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u,
8a, 12i, 7a) Serat Kridhamaya karya R Ng. Ranggawarsita dari Surakarta
Adiningrat.
Prapteng ngarsanya Sang Maha Yogi, duk samana tan kawarneng
margi, wus prapta pacrabakane, Citaya gya amuwus, “Kakang
kula aminta Kori.” Wauta pun Jiwita, dupi angrungu wuwus,
wiwara nulya binukka, cantrik katri sakala samya umajeng, laju
lungguh satata.

Jajagongan ngiras angentosi, rawuhipun Sang Maha Pandhita,


datan dangu antarane, dera sami alungguh, pan kasaru rawuh
Sang Yogi, nulya pinarak lenggah. Duksamana sampun, eca Sang
Wiku lenggahnya, tan adangu imbal wacana Sang Yogi, mekaten
sabdanira.

“Heh ta kabeh bocah telu cantrik, marma sira sun timbali samya,
jatine ana gatine, bocah lima sadarum, ing samengko arsa sun
wangsit, dimen padha mangertiya, lan supaya weruh, tindak becik
miwah ala. Awit kabeh manuswa tumitah urip, wajib nampik
miliha.

Ingkang becik wajib denarepi, ingkang ala pantes ginuwanga,


amrih rahayu uripe. Cantrik lilima wau, samya matur asaur peksi,
mekaten aturira, “Dhuh Sang Maha Wiku, sadaya dhawuh
andika, mugi-mugi kula sageda nglampahi, lulus salaminira.”

Sang awiku ngandika malih, mring para cantrik mangkana


wuwusnya, “Lah cantrik tanggapen age, kabeh pituturing sun,
away ana nganti kang cicir. Manira yun wedharna, ngelmuning
ngidhup, kang nuntun mring karaharjan, kang supaya raharja
sajroning urip, lulus tanpa sangsaya.

Cacahana limang kawruh kaki, den anastiti panampanira, ywa


nganti ana kang cewet. Cantrik sareng umatur, “Dhuh Sang
Dwija pupundhensih, amba amituhu jarwa, mung sumedya
nungkul, ajrih lamun anglirwakna, sakathahing warsitaning Sang
Yogi, tan pisan yen nyingkura.”

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 42

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


(Agar mereka segera sampai) di depan Sang Maha Pendeta. Ketika
itu tak diceritakan di jalan, sudah sampai di padepokan, Citaya
segera meminta, “Kakak saya minta dibukakan pintu!” Diceritakan
Jiwita, ketika mendengar perkataan, pintu segera dibuka, siswa
ketiganya semua maju, terus duduk menata diri.

(Mereka) bercakap-cakap sambil menunggu, kedatangan Sang


Maha Pendeta, tidak antara lama, dalam mereka bercakap,
mendadak terputus kedatangan Sang Pendeta, lalu mengambil
tempat duduk. Ketika itu sudah nyaman Sang Pendeta duduknya, tak
lama segera bercakap, demikian sabdanya.

Wahai semua tiga anak siswa(ku), makanya engkau aku panggil


semua, sebenarnya ada keperluannya. Lima anak siswaku semua, di
saat ini hendak aku beri pesan, supaya semua mengerti, dan supaya
mengetahui, tindakan baik dan buruk. Karena semua manusia
diciptakan sebagai makhuk hidup, wajib menolak dan memilih,

yang baik wijib dipakai, yang buruk pantas dibuang, agar selamat
hidupnya. Siswa yang lima tadi, semua menjawab saling sahut,
begini perkataannya, “Duh Sang Maha Pendeta, semua perintah
paduka, semoga saya bisa melakukan, langgeng selamanya.”

Sang Pendeta berkata lagi, kepada para siswa demikian


perkataannya, “Lah siswaku terimalah segera, semua nasihatku,
jangan sampai ada yang tercecer. Aku hendak menjabarkan,
pengetahuan hidup, yang menuntun kepada kesejahteraan, yang
supaya sejahtera dalam hidup, langgeng tanpa penderitaan.

Hitunglah lima pengetahuan anakku, yang teliti penerimaanmu,


jangan sampai ada yang terlewat. Para siswa bersamaan menjawab,
“Duh Sang Guru junjungan kami, hamba mematuhi dengan
sebenarnya, hanya hendak pasrah, takut kalau sampai
mengabaikan, semua pengajaran dari Sang Pendeta, tak sekali-kali
kalau hendak mengabaikan.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 43

Kajian per kata:


Prapteng (sampai) ngarsanya (di depan) Sang (Sang) Maha (Maha) Yogi
(Pendeta). (Agar mereka segera sampai) di depan Sang Maha Pendeta.
Baris pertama bait ini merupakan sambungan dari bait sebelumnya.
Karena sistem penulisan tembang memang tidak mengenal paragraf seperti
dalam penulisan modern, yang harus ganti paragrat setiap memulai topik
baru. Jadi bait atau pada dalam tembang tidaklah sama dengan paragraf
dalam penulisan modern. Kadang ekor paragraf melampaui ke bait
berikutnya.
Duk samana (ketika itu) tan (tak) kawarneng (diceritakan di) margi
(jalan), wus (sudah) prapta (sampai) pacrabakane (di padepokan), Citaya
(Citaya) gya (segera) amuwus (berkata), “Kakang (Kakak) kula (saya)
aminta (minta) kori (pintu dibuka).” Ketika itu tak diceritakan di jalan,
sudah sampai di padepokan, Citaya segera meminta, “Kakak saya minta
dibukakan pintu!”
Tidak diceritakan kisah mereka selama di perjalanan. Singkat cerita
mereka telah sampai di padepokan, dan telah sampai di tempat yang
ditentukan untuk pertemuan dengan Sang Guru. Citaya segera mengetuk
pintu, minta agar dibukakan pintu.
Wauta (diceritakan) pun (si) Jiwita (Jiwita), dupi (ketika) angrungu
(mendengar) wuwus (perkataan), wiwara (pintu) nulya (segera) binukka
(dibuka), cantrik (siswa) katri (ketiganya) sakala (seketika) samya
(semua) umajeng (maju), laju (terus) lungguh (duduk) satata (tertata,
menata diri). Diceritakan Jiwita, ketika mendengar perkataan, pintu
segera dibuka, siswa ketiganya semua maju, terus duduk menata diri.
Jiwita yang bertugas mengurusi pertemuan itu segera membukakan pintu
dan mempersilakan ketiga saudaranya masuk ke ruangan. Satata artinya
posisi duduk yang sesuai dengan tempat yang sesuai, yang nyaman untuk
keberlangsungan acara itu. Jadi setelah masuk ke tempat yang dipakai
acara malam itu para siswa lalu mengambil tempat duduk masing-masing
secara rapi yang sesuai keperluan acara malam itu. Kalau acara malam itu
berupa mendengar wejangan Sang Guru tentu tempat duduk mereka
menghadap dan posisinya berpusat pada tempat duduk Sang Guru yang
akan berbicara.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 44

Jajagongan (bercakap-cakap) ngiras (sambil) angentosi (menunggu),


rawuhipun (kedatangan) Sang (Sang) Maha (Maha) Pandhita (Pendeta),
datan (tidak) dangu (lama) antarane (antara, beberapa saat), dera (dalam
mereka) sami (semua) alungguh (duduk), pan kasaru (mendadak
terputus) rawuh (datang) Sang (Sang) Yogi (Pendeta), nulya (lalu)
pinarak (mengambil tempat) lenggah (duduk). (Mereka) bercakap-cakap
sambil menunggu, kedatangan Sang Maha Pendeta, tidak antara lama,
dalam mereka bercakap, mendadak terputus kedatangan Sang Pendeta,
lalu mengambil tempat duduk.
Pinarak artinya mengambil tempat duduk yang telah disediakan. Kata ini
dipakai untuk orang yang dihormati, seperti orang tua, guru atau tamu.
Duksamana (ketika itu) sampun (sudah), eca (nyaman) Sang (Sang)
Wiku (Pendeta) lenggahnya (duduknya), tan (tak) adangu (lama) imbal
wacana (bercakap) Sang (Sang) Yogi (Pendeta), mekaten (demikian)
sabdanira (sabdanya). Ketika itu sudah nyaman Sang Pendeta duduknya,
tak lama segera bercakap, demikian sabdanya.
Setelah mereka duduk dengan nyaman, dan Sang Pendeta telah pula
mengambil tempat duduk dengan nyaman maka beliau segera memulai
percakapan. Di sini dikatakan imbal wacana, artinya bahwa pertemuan itu
akan berlangsung dengan dialog. Tidak melulu berisi wejangan satu arah,
tetapi akan berlangsung tanya jawab.
“Heh ta (Wahai) kabeh (semua) bocah (anak) telu (tiga) cantrik (siswa),
marma (makanya) sira (engkau) sun (aku) timbali (panggil) samya
(semua), jatine (sebenarnya) ana (ada) gatine (keperluannya). Bocah
(anak) lima (lima) sadarum (semuanya), ing (di) samengko (saat ini) arsa
(hendak) sun (aku) wangsit (beri pesan), dimen (supaya) padha (semua)
mangertiya (mengerti), lan (dan) supaya (supaya) weruh (mengetahui),
tindak (tindakan) becik (baik) miwah (dan) ala (buruk). Wahai semua tiga
anak siswa(ku), makanya engkau aku panggil semua, sebenarnya ada
keperluannya. Lima anak siswaku semua, di saat ini hendak aku beri
pesan, supaya semua mengerti, dan supaya mengetahui, tindakan baik dan
buruk.
Sang Pendeta memulai dengan menerangkan keperluan pertemuan malam
itu kepada tiga siswa yang baru datang bahwa pertemuan ini perlu
diadakan. Sang Pendeta akan memberi pesan penting kepada mereka

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 45

berlima. Kata wangsit mengandung pengertian informasi penting yang bisa


diperoleh dari perkataan, pengajaran, bisikan, dan sebagainya. Wangsit
yang akan diberikan oleh Sang Pendeta kepada para siswa berlima
bertujuan agar mereka mengerti dan mengetahui perilaku baik dan buruk.
Kata pengetahuan dalam bahasa Jawa disebut kawruh dari kata ka-weruh.
Artinya pengetahuan adalah informasi yang derajatnya lebih tinggi dari
pengertian karena yang mengetahui seolah weruh (melihat). Dalam bahasa
agama pengetahuan ini disebut ainul yaqin.
Awit (karena) kabeh (semua) manuswa (manusia) tumitah (diciptakan)
urip (hidup), wajib (wajib) nampik (menolak) miliha (memilih), ingkang
(yang) becik (baik) wajib (wajib) denarepi (dipakai), ingkang (yang) ala
(buruk) pantes (pantas) ginuwanga (dibuang), amrih (agar) rahayu
(selamat) uripe (hidupnya). Karena semua manusia diciptakan sebagai
makhuk hidup, wajib menolak dan memilih, yang baik wijib dipakai, yang
buruk pantas dibuang, agar selamat hidupnya.
Wangsit pertama adalah bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT
sebagai makhluk hidup yang punya pilihan, maka dia wajib menolak dan
memilih. Yakni menolak yang buruk dan memilih yang baik. Semua itu
harus dilakukan untuk keselamatan hidupnya sendiri.
Cantrik (siswa) lilima (lima) wau (tadi), samya (semua) matur
(menjawab, menanggapi) asaur peksi (dengan saling sahut), mekaten
(begini) aturira (perkataannya), “Dhuh (Duh) Sang (Sang) Maha (Maha)
Wiku (Pendeta), sadaya (semua) dhawuh (perintah) andika (paduka),
mugi-mugi (semoga) kula (saya) sageda (bisa) nglampahi (melakukan),
lulus (langgeng) salaminira (selamanya).” Siswa yang lima tadi, semua
menjawab saling sahut, begini perkataannya, “Duh Sang Maha Pendeta,
semua perintah paduka, semoga saya bisa melakukan, langgeng
selamanya.”
Para siswa menanggapi wangsit sang Guru dengan saling sahut
menyatakan harapan agar bisa melakukan pesan itu selamanya dalam sisa
hidupnya. Tanggapan yang saur manuk menunjukkan antusiasme mereka
dalam mematuhi perintah Sang Guru.
Sang (Sang) awiku (Pendeta) ngandika (berkata) malih (lagi), mring
(kepada) para (para) cantrik (siswa) mangkana (demikian) wuwusnya

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 46

(perkataannya), “Lah (Lah) cantrik (siswaku) tanggapen (terimalah) age


(segera), kabeh (semua) pituturing (nasihat) sun (aku), aywa (jangan) ana
(ada) nganti (sampai) kang (yang) cicir (tercecer). Sang Pendeta berkata
lagi, kepada para siswa demikian perkataannya, “Lah siswaku terimalah
segera, semua nasihatku, jangan sampai ada yang tercecer.
Sang Pendeta bersiap memberikan inti dari wangsit yang hendak
disampaikan pada pertemuan malam ini. Beliau berpesan agar semua
wangsit itu diingat, jangan sampai ada yang tercecer.
Manira (Aku) yun (hendak) wedharna (menjabarkan), ngelmuning
(pengetahuan) ngidhup (hidup), kang (yang) nuntun (menuntun) mring
(pada) karaharjan (kesejahteraan), kang (yang) supaya (supaya) raharja
(sejahtera) sajroning (dalam) urip (hidup), lulus (langgeng) tanpa (tanpa)
sangsaya (penderitaan). Aku hendak menjabarkan, pengetahuan hidup,
yang menuntun kepada kesejahteraan, yang supaya sejahtera dalam
hidup, langgeng tanpa penderitaan.
Sang Pendeta hendak mengajarkan pengetahuan yang menuntun kepada
kesejahteraan dalam hidup. Jika dipatuhi akan sejahtera langgeng selama
hidupnya serta terhindar dari kesengsaraan.
Cacahana (hitunglah) limang (lima) kawruh (pengetahuan) kaki
(anakku), den (yang) anastiti (teliti) panampanira (penerimaanmu), ywa
(jangan) nganti (sampai) ana (ada) kang (yang) cewet (terlewat).
Hitunglah lima pengetahuan anakku, yang teliti penerimaanmu, jangan
sampai ada yang terlewat.
Pengetahuan yang hendak disampaikan meliputi lima perkara. Terimalah
jangan sampai ada yang terlewat dalam memahaminya.
Cantrik (siswa) sareng (bersamaan) umatur (menjawab), “Dhuh (Duh)
Sang (Sang) Dwija (Guru) pupundhensih (junjungan kami), amba
(hamba) amituhu (mematuhi) jarwa (dengan sebenarnya), mung (hanya)
sumedya (hendak) nungkul (pasrah), ajrih (takut) lamun (kalau)
anglirwakna (sampai mengabaikan), sakathahing (semua) warsitaning
(pengajaran dari) Sang (Sang) Yogi (Pendeta), tan (tak) pisan (sekali-kali)
yen (kalau) nyingkura (mengabaikan).” Para siswa bersamaan menjawab,
“Duh Sang Guru junjungan kami, hamba mematuhi dengan sebenarnya,

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 47

hanya hendak pasrah, takut kalau sampai mengabaikan, semua


pengajaran dari Sang Pendeta, tak sekali-kali kalau hendak mengabaikan.
Kelima siswa menjawab bersamaan, bahwa kelimanya akan patuh dengan
sebenarnya, hanya pasrah pada kehendak Sang Guru. Mereka telah siap
mendengarkan. Walau sekalipun tak hendak mengabaikan.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 48

PUPUH KEDUA

PANGKUR

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 49

Kajian Kridhamaya (2:1-4): Awit Karsaning Hyang Widhi


Pupuh 2, bait 1-4, Pangkur (8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i), Serat Kridhamaya
karya R. Ng. Ranggawarsita dari Surakarta Adiningrat.
Sang Pandhita malih nabda, marang cantrik lilima kang neng
ngarsi, mangkana sabda Sang Wiku, “Heh cantrik pirengenta,
dene gemi mrih trewaca pananggalmu, saiki ingsun amurwa,
anglairake wawangsit”.

Makaten pamarsitanya, “Lah ta cantrik padha insun tuturi,


wajibe manuswa iku, manembah mring Pangeran, awit kabeh
obah osiking pramakluk, atas karsaning Pangeran, kang kwasa
sung pati urip.

Begya cilakaning janma, kojur-mujur tarlen karsaning Widhi,


titah mung darma lumaku, tan bangkit karya muga. Marmanira
samengko padha den emut, angelingi mulanira, purwanta
nggenira urip.

Dumadi neng ngalam donya, wineruhke lelakon ala becik, lan sira
kinen dudulu, gumlaring ngalam donya. Wit urip puniku wis
ginawe punjul, timbang sarananging gesang, titah liyane sujanmi.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Sang Pendeta bersabda lagi, kepada siswa kelimanya yang ada di
depan, begini sabda Sang Pendeta, “Wahai siswa dengarkanlah,
yang teliti agar terang penerimaanmu, sekarang aku mulai,
menjabarkan wangsit.

Demikian nasihatnya, “Lah para siswa semua aku nasihati,


kewajiban manusia itu, menyembah kepada Tuhan, karena semuya
gerak berpindahnya para makhluk, atas kehendak Tuhan, yang
punya kuasa memberi mati dan hidup.

Untung dan celaka bagi manusia, sial-mujur tak lain dari kehendak
Tuhan Yang Maha Benar, makhluk hanya sekadar menjalani, tak
mampu membuat kehendak. Makanya engkau sekarang semua
ingatlah, mengingat asal-usulmu, awal mula engkau dalam hidup.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 50

Tercipta di dalam alam dunia, diperlihatkan kejadian buruk dan


baik, dan engkau disuruh melihat, terhamparnya alam dunia.
Karena hidupmu itu sudah dibuat lebih, dibanding sarana dalam
hidup, makhluk selain manusia.

Kajian per kata:


Sang (Sang) Pandhita (Pendeta) malih (lagi) nabda (bersabda), marang
(kepada) cantrik (siswa) lilima (kelimanya) kang (yang) neng (ada di)
ngarsi (depan), mangkana (begini) sabda (sabda) Sang (Sang) Wiku
(Pendeta), “Heh (Wahai) cantrik (siswa) pirengenta (dengarkanlah), dene
(yang) gemi (teliti, awas, efektif) mrih (agar) trewaca (terang)
pananggapmu (penerimaamu), saiki (sekarang) ingsun (aku) amurwa
(mulai), anglairake (menjabarkan) wawangsit (wangsit).” Sang Pendeta
bersabda lagi, kepada siswa kelimanya yang ada di depan, begini sabda
Sang Pendeta, “Wahai siswa dengarkanlah, yang teliti agar terang
penerimaanmu, sekarang aku mulai, menjabarkan wangsit.
Setelah meminta kesiapan para siswa Sang Pendeta mulai menjabarkan
wangsit yang dimaksud, yang untuk itu para siswa berlima dikumpulkan.
Makaten (demikian) pamarsitanya (nsihatnya), “Lah ta (Lah) cantrik
(siswa) padha (semua) insun (aku) tuturi (nasihati), wajibe (kewajiban)
manuswa (manusia) iku (itu), manembah (menyembah) mring (kepada)
Pangeran (Tuhan), awit (karena) kabeh (semua) obah osiking (gerak
berpindahnya) pramakluk (para makhluk), atas (atas) karsaning
(kehendak) Pangeran (Tuhan), kang (yang) kwasa (punya kuasa) sung
(memberi) pati (mati) urip (hidup). Demikian nasihatnya, “Lah para
siswa semua aku nasihati, kewajiban manusia itu, menyembah kepada
Tuhan, karena semuya gerak berpindahnya para makhluk, atas kehendak
Tuhan, yang punya kuasa memberi mati dan hidup.
Nasihat yang pertama adalah, ketahuilah dan yakinilahbahwa kewajiban
manusia hanyalah menyembah kepada Tuhan Sang Pencipta. Karena
semua yang ada di dunia ini adalah ada karena kehendak dan kuasanya.
Dia yang kuasa memberi hidup, Dia pula yang kuasa mencabutnya. Dia
menghidupkan dan sekaligus mematikan. Kekuasaan itu muthlak ada
padaNya, tidak terbagi-bagi dengan selainNya.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 51

Begja (untung) cilakaning (celaka bagi) janma (manusia), kojur-mujur


(sial-mujur) tarlen (tak lain) karsaning (kehendak) Widhi (Tuhan Maha
Benar), titah (makhluk) mung (hanya) darma (sekadar) lumaku
(menjalani), tan (tak) bangkit (mampu) karya (membuat) muga
(kehendak). Untung dan celaka bagi manusia, sial-mujur tak lain dari
kehendak Tuhan Yang Maha Benar, makhluk hanya sekadar menjalani,
tak mampu membuat kehendak.
Demikian juga nasib manusia, Dia yang menentukan. Untung atau
celakanya manusia, sial-mujur jalan hidupnya, tak lain adalah kehendak
Tuhan Yang Maha Benar. Dia benar melakukan ini dan itu karena Dia
yang lebih tahu keadaan manusia. Dia membuat nasib manusia begini atau
begitu, semua itu bebas Dia lakukan. Manusia sekadar menjalani saja dari
apa yang telah digariskanNya. Manusia sungguh lemah, tak punya kuasa
sedikitpun atas nasibnya. Dia bahkan tak mampu mewujudkan
kehendaknya bila Tuhan tak mengijinkan.
Marmanira (makanya engkau) samengko (sekarang) padha (semua) den
emut (ingatlah), angelingi (mengingat) mulanira (asal-usulmu), purwanta
(awal mula) nggenira (engkau dalam) urip (hidup). Makanya engkau
sekarang semua ingatlah, mengingat asal-usulmu, awal mula engkau
dalam hidup.
Maka dari itu hendaknya engkau semua mengingat asal-usul
kehidupanmu, awal mula engkau diciptakan, awal mula engkau menjalani
kehidupan ini. Semua itu agar engkau mengetahui kehendakNya atas
dirimu, agar engkau mengetahui bagaimana seharusnya menjalani hidup di
dunia ini.
Dumadi (tercipta) neng (di dalam) ngalam (alam) donya (dunia),
wineruhke (diperlihatkan) lelakon (kejadian) ala (buruk) becik (baik), lan
(dan) sira (engkau) kinen (disuruh) dudulu (melihat), gumlaring
(terhamparnya) ngalam (alam) donya (dunia). Tercipta di dalam alam
dunia, diperlihatkan kejadian buruk dan baik, dan engkau disuruh
melihat, terhamparnya alam dunia.
Engkau diciptakan di dunia ini dengan dibekali indera penglihatan,
pendengaran dan pikiran yang membuatmu mampu melihat tanda-tanda
dari Tuhanmu, membuatmu mampu menangkat isyarat-isyarat
kehendakNya, yang membuatmu mampu mengikuti tuntunanNya.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 52

Dibekali engkau dengan pikiran agar mampu membedakan yang baik dan
yang buruk. Dibekali dengan indera agar mampu melihat hikmat dari
hamparan dunia yang luas ini dan mengolahnya untuk kesejahteraan
hidupnya.
Wit (karena) urip (hidupmu) puniku (itu) wis (sudah) ginawe (dibuat)
punjul (lebih), timbang (dibanding) sarananging (sarana dalam) gesang
(hidup), titah (makhluk) liyane (selain) sujanmi (manusia). Karena
hidupmu itu sudah dibuat lebih, dibanding sarana dalam hidup, makhluk
selain manusia.
Manusia di dalam hidup di dunia juga sudah dibuat lebih derajatnya
dibanding makhluk lain. Diberi sarana kehidupan yang lebih baik daripada
makhluk lain selain manusia. Maka sudah sepantasnya jika diberi
kewajiban yang lebih dari makhluk lain itu, dan kewajibannya itu hanya
agar manusia menyembah Tuhan.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 53

Kajian Kridhamaya (2:5-7): Catur Swanta


Pupuh 2, bait 5-7, Pangkur (8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i), Serat Kridhamaya
karya R. Ng. Ranggawarsita dari Surakarta Adiningrat.
Mulane wajib manuswa, analangsa sumungkem ing Hyang Widhi,
ywa pegat ing siyang dalu, supyantuk nugraha, dingapura
sakabehing dosa nireku. Dene teranging panembah, mangkene
padha dieling,

ana sembah caturswanta, yeku sembah kang konjuk mring Hyang


Widhi. Catur papat tegesipun, swanteku, kaweningan, awit sapa
sumedya nembah Hyang Agung, mrih bisa konjuk Hyang Sukma,
kanggo budi suci.

Mangkene menggah terangnya, tumanjane sembah kang catur


warni, mring trape sajuru-juru, kapisan sembah rasa, kapindhone
sembah cipta aranipun, tri sembah jiwa ranira, kaping pat sembah
ing dhiri.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Maka wajib bagi manusia, menyadari kelemahan dan berbakti
kepada Tuhan Yang Maha Benar. Jangan putus di siang malam,
agar mendapat anugrah, diampuni segala dosa-dosamu. Adapun
jelasnya menyembah, begini semua ingatlah,

ada sembah caturswanta, yaitu penyembahan yang dihaturkan


kepada Tuhan Yang Maha Benar. Catur artinya empat, swanta itu
artinya kejernihan, karena siapa yang hendak menyembah Tuhan
Yang Maha Agung, agar bisa sampai ke hadapan Tuhan Yang Maha
Suci, memakai budi yang bersih.

Begini untuk lebih terangnya, pelaksanaan sembah yang empat


macam, pada praktiknya masing-masing; yang pertama sembah
rasa, kedua sembah cipta namanya, ketiga sembah jiwa namanya,
yang keempat sembah diri.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 54

Kajian per kata:


Mulane (maka) wajib (wajib) manuswa (manusia), analangsa (menyadari
kelemahan) sumungkem (berbakti) ing (kepada) Hyang (Tuhan) Widhi
(Maha Benar). Maka wajib bagi manusia, menyadari kelemahan dan
berbakti kepada Tuhan Yang Maha Benar.
Disebabkan kelemahan dan segala yang dimiliki hanyalah pemberian dari
Tuhan seperti diuraikan pada kajian yang lalu, maka wajib bagi manusia
menyadari kelemahannya. Tidak patut kalau ia justru berwatak sombong
memamerkan keunggulannya, sedang setiap yang ada padanya hanyalah
pemberian. Semestinya dia berbakti kepada Tuhan dengan segala
kerendahan hati. Terhadap sesama makhluk pun dia tak berhak bersikap
sombong karena sama-sama ciptaan Tuhan yang fakir. Arti fakir adalah
sangat butuh atau sangat bergantung kepada Tuhan.
Ywa (jangan) pegat (putus) ing (di) siyang (siang) dalu (malam),
supyantuk (agar mendapat) nugraha (anugrah), dingapura (diampuni)
sakabehing (segala) dosanireku (dosa-dosamu). Jangan putus di siang
malam, agar mendapat anugrah, diampuni segala dosa-dosamu.
Bakti kepada Tuhan tadi semestinya dilakukan tiada putus di siang dan
malam. Terus menerus dalam keadaan menyembah kepadaNya. Agar
segela kelemahan dan kekhilafan, salah dan dosa mendapat ampunan. Kita
manusia lemah dan tidak punya kuasa apapun, kalau bukan atas anugrah
dariNya maka kita tak berarti apa-apa.
Dene (adapun) teranging (jelasnya) panembah (menyembah), mangkene
(demikian) padha (semua) dieling (ingatlah), ana (ada) sembah (sembah)
caturswanta (empat swanta), yeku (itulah) sembah (penyembahan) kang
(yang) konjuk (dihaturkan) mring (kepada) Hyang (Tuhan) Widhi (Maha
Benar). Adapun jelasnya menyembah, begini semua ingatlah, ada sembah
caturswanta, yaitu penyembahan yang dihaturkan kepada Tuhan Yang
Maha Benar.
Jelasnya menyembah kepada Tuhan itu harus memenuhi empat perkara,
yang disebut caturswanta. Inilah cara menyembah yang pantas dihaturkan
kepada Tuhan Yang Maha Benar. Lalu apa pengertian dari caturswanta
itu?

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 55

Catur (catur) papat (empat) tegesipun (artinya), swanteku (swanta itu),


kaweningan (kejernihan), awit (karena) sapa (siapa) sumedya (hendak)
nembah (menyembah) Hyang (Tuhan) Agung (Maha Agung), mrih (agar)
bisa (bisa) konjuk (katur, sampai ke hadapan) Hyang (Tuhan) Sukma
(Maha Suci), kanggo (memakai) budi (budi) suci (bersih). Catur artinya
empat, swanta itu artinya kejernihan, karena siapa yang hendak
menyembah Tuhan Yang Maha Agung, agar bisa sampai ke hadapan
Tuhan Yang Maha Suci, memakai budi yang bersih.
Caturswanta dari kata catur yang artinya empat, dan kata swanta yang
artinya kejernihan. Wening artinya bersih. Kata wening biasa dipakai
untuk menyebut air di dalam wadah tertentu. Setelah berapa lama
kotorannya akan mengendap sehingga airnya jernih. Jadi orang yang akan
menyembah kepada Tuhan mesti membersihkan hati sampai bening
terlebih dahulu, agar persembahan yang dilakukan sampai ke hadirat
Tuhan.
Mangkene (begini) menggah (untuk lebih) terangnya (jelasnya),
tumanjane (pelaksanaan) sembah (sembah) kang (yang) catur (empat)
warni (macam), mring (pada) trape (praktiknya) sajuru-juru (masing-
masing), kapisan (yang pertama) sembah rasa (sembah rasa),
kapindhone (kedua) sembah cipta (sembah cipta) aranipun (namanya), tri
(ketiga) sembah jiwa (sembah jiwa) ranira (namanya), kaping pat
(keempat) sembah ing dhiri (sembah diri). Begini untuk lebih terangnya,
pelaksanaan sembah yang empat macam, pada praktiknya masing-
masing; yang pertama sembah rasa, kedua sembah cipta namanya, ketiga
sembah jiwa namanya, yang keempat sembah diri.
Lebih jelasnya, caturswanta atau empat kejernihan tadi dalam praktiknya
membagi sembah menjadi empat macam; yang pertama adalah sembah
rasa, yang kedua sembah cipta, yang ketiga sembah jiwa dan yang
keempat adalah sembah diri. Yang dimaksud diri adalah badan kita ini.
jadi sembah diri juga disebut sembah raga.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 56

Kajian Kridhamaya (2:8-17): Patraping Patang Panembah


Pupuh 2, bait 8-17, Pangkur (8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i), Serat
Kridhamaya karya R. Ng. Ranggawarsita dari Surakarta Adiningrat.
Tegese sembah ing rasa, dina-dina netepna yeming ati. Aywa
dhemen ngumbar napsu, ajegna ayeming tyas, iku wus wajibing
panembah. Marga ayemu nuntun padhanging kalbu, sembah ing
rasa sayekti.

De sembah rahsa kumangka, kanggo minta amrih ungguling jurit,


supaya manggya rahayu, aneng jroning payudan. Aywa nganti
tumekaning lara lampus. Kapindhone sembah cipta, mangkane
patrape kaki,

sadina-dina den bisa, anetepke amrih sengsemingati. Ywa


ngumbar hardaning kayun, dikukuh ing panancang. Awit yen wus
bisa sengsem jroning kalbu, kawawa asung papadhang, neng
jroning pangraseng urip.

Iku wus dadi panembah, pikantuke kanggo manggayuh mamrih,


katekana sedyanipun, sedya kang mrih utama. Katekane sembah
jiwa patrapipun, sadina-dina den bisa, ngesema rarasing ati.

Katamana lara penak, bener luput ala tanapi becik, tanggapen lan
sukeng kalbu. Ngudiya eseming tyas, aywa nganti darbe
pangresula kulup, karana eseming nala, iku bangkit maweh
wening,

neng jroning pangraseng gesang. Weninging tyas dadi sembah


sayekti. Panembah ingkang kadyeku, kinaryanya amiminta,
utamane ing tembe praptaning layu, muga-muga amanggiya,
rahsa sudibya ingkang ngakir.

Kaping pat sembah raga, de tegese sembah raga puniki, wekel kas
sing badanipun, diajek ing panindak, kang saregep tindak kang
jujur, iku wus wajibing panembah, sembah ing raga sejati.

Pikantuke sembah raga, pan kinarya anjangka mring rejeki,


kadonyan sasaminipun, kang kanggo jroning gesang. Kabeh mau

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 57

margane bisa pikantuk, mrih katekaning pajangka, kanthi


nganggo watek kadwi.

Siji temen lan antepan, lamun biso nganggo watek kadyeki,


manawa inggal tinemu, ing samupakatira, katimbalan atase
sakeng darbe kayun. Marmanya padha den taha, ywa nyerang
saliring kapti.

Lah cantrik rehning wus terang, bab panembah konjuk ing Hyang
Widhi, samengko gantya cinatur, sun arsa miterangna, utamaning
watek kang bisa nununtun, widada dumadinira.” Cantrik gangsal
matur “inggih.”

Teremahan dalam bahasa Indonesia:


Artinya sembah rasa, dalam keseharian (upayakan) tetapkan rasa
ayem di hati. Jangan gemar mengumbar nafsu, jagalah ajeg rasa
ayem dalam hati, itu sudah kewajiban penyembahan. Karena rasa
ayemmu akan menuntun kepada terangnya hati, sembah rasa yang
sebenarnya.

Adapun sembah rasa pangkal, dari meminta agar menang dalam


perang, agar menemui selamat, di dalam medan perang, jangan
sampai menemui sakit atau tewas. Yang kedua sembah cipta, begini
praktiknya anakku,

dalam keseharian yang bisa, menetapkan kegembiraan dalam hati.


Jangan mengumbar hasrat yang menggebu dari hati, yang kukuh
dalam pegangan. Karena kalau sudah bisa gembira dalam hati,
mampu memberi terang, pada perasaan kehidupan.

Itu sudah menjadi penyembahan, perolehannya untuk mencapai


agar, tercapai kehendaknya, kehendak memperoleh keutamaan.
Terlaksananya sembah jiwa praktiknya, dalam keseharian yang
bisa, tersenyumlah tulus dari dalam hati.

Sedang mengalami sakit nyaman, benar salah buruk maupun baik,


terimalah dengan suka dalam hati. Upayakan senyuman dari hati,
jangan sampai mempunyai keluhan anakku, karena senyumnya hati,
itu membangkitkan memberi kejernihan,

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 58

dalam perasaan di kehidupan. Jernihnya hati menjadi sembah yang


sebenarnya, penyembahan yang seperti itu, dapat engkau pakai
meminta, utamanya pada waktu nanti datangnya kematian, semoga
menemui rasa unggul pada akhirnya.

Yang keempat sembah raga, adapun artinya sembah raga ini, rajin
kuat badannya, konsisten dalam perilaku, yang guat bertindak jujur,
itu sudah memenuhi kewajiban penyembahan, sembah raga yang
sebenarnya.

Manfaat sembah raga, sungguh dapat dipakai mengupayakan


kepada rezeki, barang dunia sejenisnya, yang bermanfaat dalam
kehidupan. Semua tadi jalannya bisa mendapat, agar tercapai
keinginan dengan memakai watak yang dua,

yang pertama sungguh-sungguh dan mantap. Kalau bisa memakai


watak seperti itu, barangkali segera tercapai, semua kehendaknya,
dikabulkan atasnya dari yang punya kehendak. Makanya semua
harap mempertimbangkan, jangan tergesa-gesa dalam semua
kehendak.

Lah para siswa karena sudah jelas, bab penyembahan untuk


dihaturkan kepada Tuhan Yang Maha Benar, sekarang ganti yang
dibicarakan, aku hendak menerangkan, utamanya watak yang bisa
menuntun, pada keselamatan kehidupanmu. Siswa lima berkata,
“Siap!”

Kajian per kata:


Tegese (artinya) sembah ing rasa (sembah rasa), dina-dina (dalam
keseharian) netepna (tetapkan) yeming (ayem di) ati (hati). Artinya
sembah rasa, dalam keseharian (upayakan) tetapkan rasa ayem di hati.
Rasa ayem adalah nyaman, tidak ada perasaan terganggu atau risau dan
was-was. Dalam keseharian upayakan agar rasa ayem inilah yang
bersemayan di hati. Singkirkan rasa-rasa lain yang negatif. Rasa ayem itu
hanya tercapai jika kita ridha dalam hati terhadap semua ketetapan Tuhan
terhadap diri kita. Jika kita ridha maka rasa nyaman akan hadir dalam hati.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 59

Aywa (jangan) dhemen (gemar) ngumbar (mengumbar) napsu (nafsu),


ajegna (jagalah ajeg) ayeming (ayem dalam) tyas (hati), iku (itu) wus
(sudah) wajibing (kewajiban bagi) panembah (penyembahan). Jangan
gemar mengumbar nafsu, jagalah ajeg rasa ayem dalam hati, itu sudah
kewajiban penyembahan.
Salah satu yang dihindari adalah jangan sampai gemar mengumbar nafsu.
Hati harus diupayakan tetap tenang, jangan sampai berbolak-balik. Karena
watak bawaan dari hati adalah berbolak-balik, maka hati disebut juga
kalbu (qalb), yang artinya berbolak-balik. Berbolak-balik antara satu
keinginan ke keinginan yang lain, antara satu pemikiran ke pemikiran yang
lain, antara satu pertimbangan ke pertimbangan yang lain. Hati yang
berbolak balik akan menimbulkan resah gelisah. Maka jagalah jangan
sampai itu terjadi. Mantapkan hati!
Marga (karena) ayemu (rasa ayemmu) nuntun (menuntun) padhanging
(terangnya) kalbu (hati), sembah ing rasa (sembah rasa) sayekti (yang
sebenarnya). Karena rasa ayemmu akan menuntun kepada terangnya hati,
sembah rasa yang sebenarnya.
Jika rasa ayem itu terus bersemayam dalam hati, maka akan menuntun hati
kepada terang. Hati menjadi jernih sehingga mampu menjalin hubungan
dengan Sang Pencipta, mampu menangkap isyarat dariNya, mampu
menghubungiNya dalam doa dan harapan. Itulah yang disebut sembah rasa
yang sebenarnya.
De (adapun) sembah rahsa (sembah rasa) kumangka (pangkal), kanggo
(untuk) minta (meminta) amrih (agar) ungguling (menang dalam) jurit
(perang), supaya (agar) manggya (menemui) rahayu (selamat), aneng
(ada di) jroning (dalam) payudan (medan perang), aywa (jangan) nganti
(sampai) tumekaning (datang dalam, menemui) lara (sakit) lampus
(tewas). Adapun sembah rasa pangkal, dari meminta agar menang dalam
perang, agar menemui selamat, di dalam medan perang, jangan sampai
menemui sakit atau tewas.
Dengan sembah rasa inilah seseorang dapat meminta kepada Tuhan, dan
Tuhan akan mengabulkan karena dengan sembah rasa makhlukNya telah
menghubungiNya dengan cara yang benar. Sembah rasa dapat dipakai
untuk meminta keselamatan dalam perang, agar selalu menemui selamat,
terhindar dari sakit dan tewas.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 60

Kapindhone (yang kedua) sembah cipta (sembah cipta), mangkane


(begini) patrape (praktiknya) kaki (anakku), sadina-dina (dalam
keseharian) den bisa (yang bisa), anetepke (menetetapkan) amrih (agar)
sengsemingati (kegembiraan dalam hati). Yang kedua sembah cipta,
begini praktiknya anakku, dalam keseharian yang bisa, menetapkan
kegembiraan dalam hati.
Sengsem bisa diartikan gembira yang sangat, atau terpesona. Obyek dari
sengsem dalam hati tentu saja adalah keadaannya sendiri. Artinya dia
bukan sekadar ridha bahkan sangat gembira dengan keadaannya sendiri
sebagai anugrah dari Sang Pencipta.
Ywa (jangan) ngumbar (mengumbar) hardaning (hasrat menggebu dalam)
kayun (hati), dikukuh (yang kukuh) ing (dalam) panancang (tiang,
pegangan). Jangan mengumbar hasrat yang menggebu dari hati, yang
kukuh dalam pegangan.
Dalam sembah rasa kita dilarang mengumbar nafsu, dalam sembah cipta
ini kita dilarang mengumbar hasrat yang menggebu (harda) dalam hati.
Keduanya hampir sama, namun harda lebih mendesak sifatnya. Sifatnya
keinginan yang sangat, yang segera meminta dipenuhi. Boleh jadi harda
ini berupa keinginan yang tidak buruk, namun sifatnya sangat mendesak.
Keinginan seperti ini pun harus dikekang, karena walau sifatnya baik kalau
dilakukan dengan tergesa-gesa akibatnya menjadi tidak baik. Seringkali
meninggalkan pertimbangan akibat baik-buruknya, juga seringkali
melupakan prasyarat-prasyaratnya sehingga pada akhirnya menjadi mogol
di tengah jalan. Artinya mogol adalah perbuatan itu menjadi tidak bisa
dilanjutkan namun tidak juga bisa diurungkan. Akibatnya adalah kerugian.
Agar hati mampu menahan harda tadi, harus kukuh berpegang pada prinsip
kehidupan atau disebut keimanan. Jangan pernah lepaskan pegangan
keimanan ini dalam kehidupan karena dia menjadi uger-uger (tiang
pancang) tempat kita perpegang.
Awit (karena) yen (kalau) wus (sudah) bisa (bisa) sengsem (gembira)
jroning (dalam) kalbu (hati), kawawa (mampu) asung (memberi)
papadhang (terang), neng (pada) jroning (dalam) pangraseng (perasaan)
urip (kehidupan). Karena kalau sudah bisa gembira dalam hati, mampu
memberi terang, pada perasaan kehidupan.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 61

Kalau hati sudah merasa gembira dengan keadaannya tentu mudah untuk
menahan harda, sehingga hati yang gembira mampu memberi terang
kepada kehidupannya. Hati yang terang mampu membedakan baik dan
buruk dan mampu memberi perasaan mudah mewujudkan kebaikan itu
dalam kehidupan.
Iku (itu) wus (sudah) dadi (menjadi) panembah (penyembahan),
pikantuke (perolehannya) kanggo (untuk) manggayuh (mencapai)
mamrih (agar), katekana (tercapai) sedyanipun (kehendaknya), sedya
(kehendak) kang (yang) mrih (memperoleh) utama (keutamaan). Itu
sudah menjadi penyembahan, perolehannya untuk mencapai agar,
tercapai kehendaknya, kehendak memperoleh keutamaan.
Keadaan gembira dalam hari itu sudah merupakan bentuk penyembahan,
yang akan membuat manusia mencapai kehendaknya, yakni kehendak
baiknya untuk memperoleh keutamaan. Hati yang gembira membuatnya
mampu menjauhi dari keinginan yang meluap-luap (harda) juga keinginan
yang mengarah kepada keburukan. Dia selalu menjauhi watak nista, dan
tak puas dengan sekadar watak madya. Yang dilakukannya tentu hal-hal
yang utama saja. Watak utama adalah watak yang lebih dari sekadar baik,
watak yang terpuji atau linuwih.
Katekane (sampainya, terlaksananya) sembah jiwa (sembah jiwa)
patrapipun (praktiknya), sadina-dina (dalam keseharian) den bisa (yang
bisa), ngesema (tersenyumlah) rarasing (tulus dari dalam) ati (hati).
Terlaksananya sembah jiwa praktiknya, dalam keseharian yang bisa,
tersenyumlah tulus dari dalam hati.
Raras artinya rasa senang yang lebih dari sengsem. Kata raras biasa
dipakai untuk orang yang jatuh cinta. Orang yang jatuh cinta itu tanpa
sadar akan tersenyum jika melihat yang dicintainya. Seperti itulah yang
dimaksud dari bait ini. Orang yang mampu tersenyum bukan lagi orang
yang senang hati, gembira yang lebih, namun telah mampu membagi
kegembiraan ke sekitarnya. Rasa senang telah menjadi watak baginya,
baik dalam keadaan terjepit maupun longgar, sempit atau sampat (lapang),
repot atau senggang. Semua keadaan tak lagi mempengaruhi jiwanya yang
selalu memancarkan senyum.
Katamana (sedang mengalami) lara (sakit) penak (nyaman), bener
(benar) luput (salah) ala (buruk) tanapi (maupun) becik (baik), tanggapen

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 62

(terimalah) lan (dengan) sukeng (suka dalam) kalbu (hati). Sedang


mengalami sakit nyaman, benar salah buruk maupun baik, terimalah
dengan suka dalam hati.
Baik sedang mengalami sakit atau nyaman, benar atau salah, buruk atau
baik, orang yang sudah mencapai derajat sembah jiwa mampu menanggapi
semua itu dengan perasaan suka dalam hatinya. Orang yang telah mampu
melakukan sembah jiwa akan mengalami keadaan terpesona kepada Tuhan
sebagai seorang yang terpesona kepada kekasih, namun dalam tingkat
yang lebih tinggi. Seumpama seorang kekasih bertemu dengan pujaan hati
lalu dicubit tangannya, apakah merasa sakit? Tentu tidak, malah hatinya
akan berbunga-bunga penuh rasa cinta. Demikian orang yang terpesona
kepada Tuhan, hatinya senantiasa diliputi cinta tak peduli bagaimana
Tuhan menempatkan dia dalam keadaan apapun.
Ngudiya (upayakan) eseming (senyuman dari) tyas (hati), aywa (jangan)
nganti (sampai) darbe (mempunyai) pangresula (keluhan) kulup
(anakku), karana (karena) eseming (senyumnya) nala (hati), iku (itu)
bangkit (membangkitkan) maweh (memberi) wening (kejernihan), neng
(di) jroning (dalam) pangraseng (perasaan) gesang (hidup). Upayakan
senyuman dari hati, jangan sampai mempunyai keluhan anakku, karena
senyumnya hati, itu membangkitkan memberi kejernihan, dalam perasaan
di kehidupan.
Maka, carilah, upayakan senyuman yang tulus dari hati itu dalam
hidupmu. Mulailah dengan menjalani hidup ini tanpa keluhan. Karena
orang yang mampu tersenyum dari lubuk hati akan mampun
membangkitkan kejernihan dalam perasaan di kehidupannya. Senyuman
dari dalam hati akan menjadi penawar kesusahan, penghilang kesakitan
dan mengusir penderitaan.
Weninging (jernihnya) tyas (hati) dadi (menjadi) sembah (sembah)
sayekti (sebenarnya), panembah (penyembahan) ingkang (yang) kadyeku
(seperti itu), kinaryanya (dapat engkau pakai) amiminta (meminta),
utamane (utamanya) ing (pada) tembe (waktu nanti) praptaning
(datangnya) layu (kematian), muga-muga (semoga) amanggiya
(menemui), rahsa (rasa) sudibya (unggul, keselamatan) ingkang (yang)
ngakir (akhir). Jernihnya hati menjadi sembah yang sebenarnya,
penyembahan yang seperti itu, dapat engkau pakai meminta, utamanya

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 63

pada waktu nanti datangnya kematian, semoga menemui rasa unggul pada
akhirnya.
Jernihnya hati adalah penyembahan yang sesungguhnya. Penyembahan
seperti itulah yang dapat dipakai untuk meminta, utamanya nanti ketika
menjelang ajal datang, akhir yang selamat atau disebut sebagai husnul
khatimah. Jika hati telah terbiasa ridha dengan sembah rasa, gembira
dengan sembah cipta dan tersenyum dengan sembah jiwa, maka mudah
baginya menyongsong kepedihan sakaratul maut dengan senyuman pula.
Husnul khatimah baginya.
Kaping pat (yang keempat) sembah raga (sembah raga), de (adapun)
tegese (artinya) sembah raga (sembah raga) puniki (ini), wekel (rajin) kas
(kuat) sing (yang) badanipun (badannya), diajek (konsisten) ing (dalam)
panindak (perilaku), kang (yang) saregep (giat) tindak (bertindak) kang
(yang) jujur (jujur), iku (itu) wus (sudah) wajibing (kewajiban) panembah
(penyembahan), sembah ing raga (sembah raga) sejati (sebenarnya). Yang
keempat sembah raga, adapun artinya sembah raga ini, rajin kuat
badannya, konsisten dalam perilaku, yang guat bertindak jujur, itu sudah
memenuhi kewajiban penyembahan, sembah raga yang sebenarnya.
Sembah raga adalah sembahnya badan ini. Dicirikan perbuatan yang rajin
dan kuat dalam berkarya, konsisten dalam perilaku, giat dalam bertindak
jujur. Segala sikap dan perilaku fisiknya terpuji dan ajeg, tidak angin-
anginan. Jika mampu melakukan ini maka itu sudah memenuhi kewajiban
penyembahan, yakni sembah raga. Karena inti dari sembah raga adalah
memakai tubuh untuk berbuat yang kebaikan dan bermanfaat.
Pikantuke (manfaat, perolehan) sembah raga (sembah raga), pan
(sungguh) kinarya (dipakai) anjangka (menincar, mengupayakan) mring
(kepada) rejeki (rezeki), kadonyan (barang dunia) sasaminipun
(sejenisnya), kang (yang) kanggo (bermanfaat) jroning (dalam) gesang
(kehidupan). Manfaat sembah raga, sungguh dapat dipakai
mengupayakan kepada rezeki, barang dunia sejenisnya, yang bermanfaat
dalam kehidupan.
Karena sifat dari sembah raga yang demikian, termasuk juga ketika
mencari rezeki dengan jalan yang halal adalah sembah raga. Walau barang
yang dicari kelihatannya seperti barang duniawi, tetapi itu bagian dari
penyembahan, yakni sembah raga. Pada prinsipnya sembah raga adalah

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 64

memakai tubuh untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi


kehidupan.
Kabeh (semua) mau (tadi) margane (jalannya) bisa (bisa) pikantuk
(mendapat), mrih (agar) katekaning (tercapai) panjangka (keinginan),
kanthi (dengan) nganggo (memakai) watek (watak) kadwi (yang dua), siji
(yang pertama) temen (sungguh-sungguh) lan (dan) antepan (mantap).
Semua tadi jalannya bisa mendapat, agar tercapai keinginan dengan
memakai watak yang dua, yang pertama sungguh-sungguh dan mantap.
Semua yang diuraikan tadi adalah jalan mendapat atau tercapainya
keinginan duniawi. Yakni dengan memakai dua watak. Pertama watak
sungguh-sungguh, dan kedua watak mantap. Sungguh-sungguh artinya
memakai tubuh untuk mencapai apa yang menjadi keinginan. Mantap
artinya tidak ragu-ragu, tidak menoleh-noleh, terus lurus ke depan
melaksanakan.
Lamun (kalau) bisa (bisa) nganggo (memakai) watek (watak) kadyeki
(seperti itu), manawa (barangkali) inggal (segera) tinemu (tercapai), ing
(dalam) samupakatira (semua kehendaknya), katimbalan (dipanggil,
dikabulkan) atase (atasnya) sakeng (dari) darbe (yang punya) kayun
(kehendak). Kalau bisa memakai watak seperti itu, barangkali segera
tercapai, semua kehendaknya, dikabulkan atasnya dari yang punya
kehendak.
Kalau bisa memakai watak seperti itu, yakni temen dan mantep tadi,
barangkali akan mudah baginya tercapai semua yang dikehendakinya. Apa
yang diinginakan akan terkabul atas ijin Tuhan Yang Maha Kuasa.
Marmanya (makanya) padha (semua) den taha (harap
memperhitungkang), ywa (jangan) nyerang (tergesa-gesa) saliring (dalam
semua) kapti (kehendak). Makanya semua harap mempertimbangkan,
jangan tergesa-gesa dalam semua kehendak.
Oleh karena semua harap memakai perhitungan dan perkiraan (taha),
jangan sampai tergesa-gesa bertindak (serang). Dalam segala hal terapkan
sembah raga, yakni dengan perilaku badan yang baik. Jika demikian maka
kehendakmu akan tercapai dengan hasil yang memuaskan dan mulia. Di
dunia berhasil dan di akhirat mendapat pahala.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 65

Lah (lah) cantrik (para siswa) rehning (karena) wus (sudah) terang
(jelas), bab (bab) panembah (penyembahan) konjuk (untuk dihaturkan)
ing (pada) Hyang (Tuhan) Widhi (Maha Benar), samengko (sekarang)
gantya (ganti) cinatur (yang dibicarakan), sun (aku) arsa (hendak)
miterangna (menerangkan), utamaning (utamanya) watek (watak) kang
(yang) bisa (bisa) nununtun (menuntun), widada (keselamatan)
dumadinira (kehidupanmu).” Lah para siswa karena sudah jelas, bab
penyembahan untuk dihaturkan kepada Tuhan Yang Maha Benar,
sekarang ganti yang dibicarakan, aku hendak menerangkan, utamanya
watak yang bisa menuntun, pada keselamatan kehidupanmu.
Telah jelas keterangan tentang empat macam penyembahan kepada Tuhan,
Sang Pendeta Yatnajati hendak beralih ke wangsit yang lain. Yakni
tentang watak utama yang akan menuntun manusia kepada keselamatan
hidupnya.
Cantrik (sisawa) gangsal (lima) matur (berkata)“inggih (siap).” Siswa
lima berkata, “siap!”
Kelima siswa menyatakan kesiapannya untuk mendengarkan lebih jauh
wangsit yang akan disampaikan Sang Pendeta Yatnajati. Apa saja wangsit
selanjutnya, mari kita nantikan kajian berikutnya.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 66

PUPUH KETIGA

SINOM

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 67

Kajian Kridhamaya (3:1-8): Nenem Watak Utama


Pupuh 3, bait 1-8, Sinom (8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a), Serat
Kridhamaya karya R. Ng. Ranggawarsita dari Surakarta Adiningrat.
Wajibe janma taruna, tumitah neng donya kaki, sabisa-bisa den
arah, nganggo watek nem prakawis. Mangkene trangireki,
mungguh wawatek nem iku, kang kapisan istiyar, mantep ingkang
kaping kalih, telu temen dene kaping pat tetepa.

kalimane angapura, kenenem narima kaki. Mangkene


katranganira, wijange sawiji-wiji, den titi ing panampi, ywa nganti
ana tumpang suh. Tegese tembung istiyar, ngaurip iku wus wajib,
angupaya apa kang dadi butuhnya.

Kapindho mantep tegesnya, sabisa-bisa ngaurip, ngesthiya


anteping budya, budi kang amrih basuki. Aywa pisan ngendhoni,
yen durung bisa kacakup. Wit kodrating Pangeran, sapa kang
darbe pangesthi, lamun mantep lawas-lawas kaleksanan.

Katri temen tegesira, utamane ing ngaurip, nganggo watek temen


ika, ywa dhemen tumindak juti, palacidra gorohi, murka candhala
laku dur. Awit kodrating Suksma, sakehing tumitah urip, sapa
darbe watek temen tinemenan.

Kapingpate tembung tepa, mangkene tegesireki, sayogyane ing


ngagesang, sabisa-bisa mangudi, ngegungna tepa kaki. Tepa
mring samining ngidhup, ywa dhemen tindak siya. Aja nganggep
lawan edir, nglegutakna asih tresna mring sasama.

Lima tembung ngapura, mangkene tegese kaki, ngaurip neng


ngalam donya, darbeya watek utami, dhemen amemenehi,
ngapura samining makhluk, kang nandhang kaluputan. Ywa sira
males ngalani, marsudiya murih kamot bubudenira.

Kaping nenem tembung narima, tegese mangkene kaki, ngaurip


sayogyanira, darbeya narimang takdir. Ywa nyerang ing pambudi,
tan prayogya temahipun, kabeh tindak sumengka, iku nir
prayitneng batin. Marma samya den ageng panarimanta.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 68

Wateke budi narima, unggul wekasaning wuri, seje budi kang


nyerang, tangeh yen bisa lestari. Marma welingku kaki, den
abanget panganggepmu, aywa sira nyingkura, marang pitutur
kang becik, sayektine bakal ana paedahnya.

Yen sira mituhu jarwa, warsitaku kang kawijil, mbokmanawa


tembe sira, anemu kamulyan kaki, lulus bisa mukti, tanana
sangsayanipun. Mangkeneku wus dadya, pranatan adiling Widhi,
sapa becik bakal antuk kabecikan.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Kewajiban orang muda, tercipta di dunia anakku, sebisa-bisa
diarahkan, memakai watak enam perkara. Begini jelasnya, tentang
watak enam itu, yang pertama ikhtiyar, mantap adalah yang kedua,
ketiga sungguh-sungguh adapun yang keempat adalah bertenggang
rasa.

Kelimanya pemaaf, keenamnya narima. Begini penjelasannya,


secara rinci satu per satu, yang teliti dalam memahami, jangan
sampai ada salah pengertian. Artinya kata istiyar, dalam hidup itu
sudah menjadi kewajiban, mencari apa yang menjadi kebutuhannya.

Yang kedua mantap artinya, sebisa-bisa dalam hidup,


mengupayakan mantapnya budi, watak yang membawa kepada
keselamatan. Jangan sekali-kali kendor, kalau belum bisa mencapai
maksud. Karena ketetapan Tuhan, siapa yang punya keinginan,
kalau mantap lama-lama terlaksana.

Ketiga temen artinya, yang utama dalam kehidupan, memakai watak


sungguh-sungguh tersebut, jangan gemar berbuat jahat, curang
menipu, rakus licik berbuat angkara. Karena ketetapan Tuhan Maha
Suci, semua makhluk hidup, siapapun yang mempunya watak
bersungguh-sungguh akan menjadi kenyataan.

Keempatnya kata tepa, begini artinya, seyogyanya dalam kehidupan,


sebisa-bisa memperbanyak tenggang rasa anakku, tenggang rasa
kepada sesama makhluk hidup. Tepa kepada sesama makhluk hidup,
jangan gemar berbuat menyia-nyiakan. Jangan menganggap orang
lain dengan sombong, biasakan bersikap cinta kasih kepada sesama.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 69

Kelima kata pemaaf, begini artinya anakku, hidup di alam dunia,


milikilah watak utama, gemar memberi, maaf sesama makhluk, yang
menyandang kesalahan. Jangan engkau membalas berbuat buruk,
berusalah agar kamot dalam watakmu.

Yang keenam kata narima, artinya begini anakku, hidup


seyogyanya, mempunyai watak menerima terhadap takdir. Jangan
tergesa-gesa dalam berbudidaya, tak baik pada akhirnya. Semua
perbuatan tergesa-gesa, itu meninggalkan kehati-hatian dalam
batin. Karena itu semua perbesarlah rasa narima-mu.

Watak budi narima, unggul akhirnya di belakang, lain dengan watak


yang tergesa-gesa, mustahil kalau bisa lestari. Karena itu pesanku
anakku, yang sangat anggapanmu, jangan meninggalkan, pada
nasihat yang baik, sesungguhnya akan ada faidahnya.

Kalau engkau mematuhi makna, dari pesan yang kusampaikan,


barangkali kelak engkau, menemui kemuliaan anakku, lestari
berkecukupan, tak ada penderitaan. Yang demikian itu sudah
menjadi, aturan keadilan Tuhan Yang Maha Benar, siapa yang
berbuat baik akan mendapat kebaikan.

Kajian per kata:


Wajibe (kewajiban) janma (orang, manusia) taruna (muda), tumitah
(tercipta) neng (di) donya (dunia) kaki (anakku), sabisa-bisa (sebisa-bisa)
den arah (diarahkan), nganggo (memakai) watek (watak) nem (enam)
prakawis (perkara). Kewajiban orang muda, tercipta di dunia anakku,
sebisa-bisa diarahkan, memakai watak enam perkara.
Sang Pendeta mengatakan bahwa hendaknya sebagai orang muda yang
akan menjalani peran sebagai makhluk yang tercipta di dunia ini memakai
watak enam perkara.
Mangkene (begini) trangireki (jelasnya), mungguh (tentang) wawatek
(watak) nem (enam) iku (itu), kang (yang) kapisan (pertama) istiyar
(ikhtiyar), mantep (mantap) ingkang (yang) kaping kalih (kedua), telu
(ketiga) temen (sungguh-sungguh) dene (adapun) kaping pat (keempat)
tetepa (tepa, mengukur, tenggang). Begini jelasnya, tentang watak enam

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 70

itu, yang pertama ikhtiyar, mantap adalah yang kedua, ketiga sungguh-
sungguh adapun yang keempat adalah bertenggang rasa.
Keenam watak itu perinciannya sebagai berikut; yang pertama ikhtiyar,
yang kedua mantap, yang ketiga sungguh-sungguh, adapun yang keempat
adalah konsisten.
Kalimane (kelimanya) angapura (pemaaf), kenenem (keenamnya)
narima (nrima, ridha) kaki (anakku). Kelimanya pemaaf, keenamnya
narima.
Yang kelima adalah pemaaf, mudah memaafkan sesama manusia. Yang
keenam adalah narima. Untuk watak keenam ini susah dicari kata pas
dalam bahasa Indonesia dari kata narima. Kata narima artinya bisa
menerima segala ketentuan Tuhan padanya. Kata yang paling dekat
pengertiannya adalah ridha. Meski ini juga bukan kata asli dalam bahasa
Indonesia. Kalau diterjemahkan dengan kata rela juga kurang pas, karena
kata rela mengandung pengertian mengikhlaskan sesuatu yang hilang dari
kita. Jadi lebih baik tidak usah diterjemahkan saja.
Mangkene (begini) katranganira (penjelasannya), wijange (secara rinci)
sawiji-wiji (satu persatu), den titi (yang teliti) ing (dalam) panampi
(memahami), ywa (jangan) nganti (sampai) ana (ada) tumpang suh (salah
pengertian). Begini penjelasannya, secara rinci satu per satu, yang teliti
dalam memahami, jangan sampai ada salah pengertian.
Adapun pengertian dari keenam watak tersebut di atas adalah seperti yang
akan diterangkan satu persatu dalam bait berikut ini. Perhatikan baik-baik
jangan sampai ada salah pengertian.
Tegese (artinya) tembung (kata) istiyar (istiyar), ngaurip (dalam hidup)
iku (itu) wus (sudah) wajib (wajib), angupaya (mencari) apa (apa) kang
(yang) dadi (menjadi) butuhnya (kebutuhannya). Artinya kata istiyar,
dalam hidup itu sudah menjadi kewajiban, mencari apa yang menjadi
kebutuhannya.
Yang pertama, istiyar dari kata ikhtiyar dalam bahasa Arab sebenarnya
artinya memilih, yakni memilih hal yang lebih baik bagi dirinya. Dalam
bahasa Jawa artinya menjadi condong kepada berusaha (angupaya) untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Bagaimanapun itu sudah menjadi istilah
dan hendaknya dipahami sesuai maksud dari si penulis. Yakni, istiyar

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 71

artinya berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dengan jalan berusaha.


Entah itu bekerja atau dengan cara yang lain. Yang dimaksud kebutuhan
hidup mencakup banyak hal, baik yang bersifat fisik atau non fisik. Kalau
seseorang berusaha mencari penghasilan dengan cara bekerja, itu
dinamakan istiyar. Kalau seseorang mencari keamanan dengan cara
berpindah tempat, itu juga dinamakan istiyar. Singkatnya segala upaya
yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dinamakan istiyar.
Kapindho (yang kedua) mantep (mantap) tegesnya (artinya), sabisa-bisa
(sebisa-bisa) ngaurip (dalam hidup), ngesthiya (mengupayakan) anteping
(mantapnya) budya (budi), budi (watak) kang (yang) amrih (membawa)
basuki (keselamatan). Yang kedua mantap artinya, sebisa-bisa dalam
hidup, mengupayakan mantapnya budi, watak yang membawa kepada
keselamatan.
Yang kedua, mantap artinya kukuh tidak labil pendiriannya. Kalau sudah
memutuskan maka serta merta tidak ragu-ragu lagi. Tidak takut walau
resiko menghadang. Tidak menoleh-noleh lagi untuk mencari
pertimbangan. Maju terus pantang mundur.
Aywa (jangan) pisan (sekali-kali) ngendhoni (kendor), yen (kalau)
durung (belum) bisa (bisa) kacakup (mencapai maksud). Jangan sekali-
kali kendor, kalau belum bisa mencapai maksud.
Kalau tujuan belum dicapai, maksud hati belum terlaksana jangan sekali-
kali mengendorkan upaya. Inilah arti dari mantap. Pokoknya maju terus
sampai mencapai keberhasilan.
Wit (karena) kodrating (ketetapan) Pangeran (Tuhan), sapa (siapa) kang
(yang) darbe (punya) pangesthi (keinginan), lamun (kalau) mantep
(mantap) lawas-lawas (lama-lama) kaleksanan (terlaksana). Karena
ketetapan Tuhan, siapa yang punya keinginan, kalau mantap lama-lama
terlaksana.
Dengan mantap dalam upaya dan pantang menyerah lama-lama sebuah
keinginan akan terwujud. Karena sudah menjadi ketetapan Tuhan bahwa
siapa yang punya keinginan dan mantap dalam berupaya lama-lama akan
terlaksana.
Katri (ketiga) temen (temen) tegesira (artinya), utamane (utamanya, yang
utama) ing (dalam) ngaurip (kehidupan), nganggo (memakai) watek

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 72

(watak) temen (temen) ika (tersebut), ywa (jangan) dhemen (gemar)


tumindak (berbuat) juti (jahat), palacidra (curang) gorohi (menipu),
murka (rakus) candhala (licik) laku (berbuat) dur (angkara). Ketiga
temen artinya, yang utama dalam kehidupan, memakai watak sungguh-
sungguh tersebut, jangan gemar berbuat jahat, curang menipu, rakus licik
berbuat angkara.
Yang ketiga, temen artinya bersungguh-sungguh memakai cara yang benar
dalam mencapai keinginan. Tidak berbuat jahat, curang, menipun, rakus,
licik dan berlaku angkara. Apa yang diupayakan selalu di jalan lurus, tidak
bengkok atau menikung, menyenggol kiri kanan, merugikan orang lain.
Juga tidak memakai jalan pintas dengan berlaku curang, licik atau
melanggar aturan.
Awit (karena) kodrating (ketetapan) Suksma (Tuhan Maha Suci),
sakehing (semua) tumitah (makhluk) urip (hidup), sapa (siapa) darbe
(mempunyai) watek (watak) temen (sungguh-sungguh) tinemenan (akan
menjadi kenyataan). Karena ketetapan Tuhan Maha Suci, semua makhluk
hidup, siapapun yang mempunya watak bersungguh-sungguh akan
menjadi kenyataan.
Sudah menjadi hukum alam yang ditetapkan Tuhan bahwa siapaun yang
sungguh-sungguh dalam usaha akan menjadi kenyataan apa yang
diusahakannya itu. Man jadda wajada.
Kapingpate (keempatnya) tembung (kata) tepa (tepa), mangkene (begini)
tegesireki (artinya), sayogyane (seyogyanya) ing (dalam) ngagesang
(kehidupan), sabisa-bisa (sebisa-bisa) mangudi (mengupayakan),
ngegungna (memperbanyak) tepa (bertenggang rasa) kaki (anakku), tepa
(tepa) mring (kepada) samining (sesama) ngidhup (makhluk).
Keempatnya kata tepa, begini artinya, seyogyanya dalam kehidupan,
sebisa-bisa memperbanyak tenggang rasa anakku, tenggang rasa kepada
sesama makhluk hidup.
Yang keempat, tepa artinya mengukur diri dengan orang lain. Ini bisa
berwujud tepa slira, artinya tenggang rasa, yakni menerapkan sesuatu
kepada diri sendiri sebelum melakukannya untuk orang lain. Apa yang
terasa tidak nyaman bagi dirinya, juga pasti tidak nyaman bagi orang lain.
Maka dalam berbuat dia selalu mempertimbangkan hal tersebut. Kata tepa
juga bisa berarti tepa-tuladha, artinya dalam berbuat selalu mengukur

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 73

kemampuan orang lain secara umum. Misalnya hendak menyuruh orang


lain berbuat sesuatu, maka terlebih dahulu dia memberi contoh agar
terlihat bahwa apa yang disuruhnya itu mampu dilakukan oleh orang lain
secara umum.
Ywa (jangan) dhemen (gemar) tindak (berbuat) siya (menyia-nyiakan).
Tepa kepada sesama makhluk hidup, jangan gemar berbuat menyia-
nyiakan.
Kalau seseorang sudah mampu menerapkan tepa, maka dia akan
mempunyai pertimbangan kira-kira pantas tidak perbuatannya kepada
orang lain. Dengan demikian dia akan pikir-pikir jika berbuat yang tak
pantas, karena dia sendiripun tak ingin diperlakukan seperti demikian.
Watak tepa dapat hadir dengan cara menghindarkan diri dari menyia-
nyiakan orang lain.
Aja (jangan) nganggep (menganggap orang lain) lawan (dengan) edir
(sombong), nglegutakna (biasakan) asih tresna (cinta kasih) mring
(kepada) sasama (sesama). Jangan menganggap orang lain dengan
sombong, biasakan bersikap cinta kasih kepada sesama.
Watak tepa juga dapat muncul dengan menghindarkan dari bersikap
sombong kepada orang lain dan membiasakan bersikap cinta kasih kepada
sesama. Asahlah watak tepa dengan tiga hal tersebut di atas; tidak menyia-
nyiakan orang lain, tidak bersikap sombong dan membiasakan bersikap
cinta kasih.
Lima (kelima) tembung (kata) ngapura (pemaaf), mangkene (begini)
tegese (artinya) kaki (anakku), ngaurip (hidup) neng (di) ngalam (alam)
donya (dunia), darbeya (milikilah) watek (watak) utami (utama), dhemen
(gemar) amemenehi (memberi), ngapura (maaf) samining (sesama)
makhluk (makhluk), kang (yang) nandhang (menyandang) kaluputan
(kesalahan). Kelima kata pemaaf, begini artinya anakku, hidup di alam
dunia, milikilah watak utama, gemar memberi, maaf sesama makhluk,
yang menyandang kesalahan.
Yang kelima, pemaaf artinya seorang manusia yang hidup di dunia
hendaknya mempunyai watak mudah memberi maaf kepada orang yang
menyandang kesalahan. Jauhilah dari watak dendam, yakni menyimpan

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 74

niat untuk membalas suatu saat nanti. Memaafkan jauh lebih baik, karena
Tuhan saja Maha Pemaaf (ghafur).
Ywa (jangan) sira (engkau) males (membalas) ngalani (berbuat buruk),
marsudiya (berusahalah) murih (agar) kamot (termuat) bubudenira
(dalam watakmu). Jangan engkau membalas berbuat buruk, berusalah
agar kamot dalam watakmu.
Kamot artinya termuat. Makna kamot adalah mampu menampung
kesalahan orang lain. Setiap kesalahan atau ketidaksempurnaan orang lain
bisa engkau maklumi dan tidak menjadi ganjalan dalam hatimu. Seperti
contohnya ketika engkau bicara dengan anak kecil (atau orang bodoh)
yang tak mengerti sopan santun. Ada kalanya dia mengeluarkan kata yang
kurang pantas kepadamu karena kebodohannya. Namun engkau mampu
memaklumi dan memaafkannya.
Jika hatimu belum mampu memberi maaf untuk hal-hal seperti ini maka
berusahalah untuk melatih diri agar hatimu lapang. Lapang artinya mampu
menampung kesalahan orang lain.
Tetap berusahalah membalas kesalahan orang dengan kebaikan, karena
perilaku mencerminkan watak dari si pelaku. Jika suatu saat engkau
diperlakukan buruk kemudian engkau membalas dengan keburukan,
engkau sama saja buruknya dengan mereka.
Kaping nenem (yang keenam) tembung (kata) narima (narima), tegese
(artinya) mangkene (begini) kaki (anakku), ngaurip (hidup) sayogyanira
(seyogyanya), darbeya (mempunyai) narimeng (menerima terhadap)
takdir (takdir). Yang keenam kata narima, artinya begini anakku, hidup
seyogyanya, mempunyai watak menerima terhadap takdir.
Yang keenam, narima artinya dalam hidup seyogyanya mempunyai watak
menerima terhadap takdir Allah. Takdir itu ada dua qadla dan qadar. Qadla
adalah ketetapan Allah terhadap segala sesuatu di dunia ini. Qadar (kadar)
adalah apa yang diberikan kepada kita sudah ditetapkan ukurannya. Secara
sederhana dapat digambarkan sebagai berikut.
Sudah menjadi qadla Allah bahwa setiap orang yang berusaha akan
mendapatkan hasil. Dan Allah telah memberi kita keberhasilan yang sesuai
dengan qadar kemampuan kita. Sama-sama menjadi pedagang mungkin
tetanggamu bisa lebih kaya darimu. Karena keberhasilannya sesuai dengan

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 75

kadar kemampuan usahanya, dan keberhasilanmu sesuai kadar


kemampuan usahamu.
Ywa (jangan) nyerang (tergesa-gesa) ing (dalam) pambudi (berbudidaya),
tan (tak) prayogya (baik) temahipun (akhirnya). Jangan tergesa-gesa
dalam berbudidaya, tak baik pada akhirnya.
Oleh karena semua telah ditetapkan qadarnya oleh Allah, maka janganlah
berupaya, berusaha, berbudidaya, dengan cara tergesa-gesa. Jangan
terpancing pada hasil yang diraih orang lain karena setiap pemberian
Tuhan telah ditetapkan qadarnya.
Kabeh (semua) tindak (perbuatan) sumengka (tergesa-gesa), iku (itu) nir
(meninggalkan, tanpa) prayitneng (kehati-hatian dalam) batin (batin).
Semua perbuatan tergesa-gesa, itu meninggalkan kehati-hatian dalam
batin.
Setiap perbuatan tergesa-gesa yang dimaksudkan agar cepat memperoleh
hasil justru merugikan diri karena setiap yang tergesa-gesa pasti
meninggalkan kehati-hatian. Hasil perbuatan tergesa-gesa banyak
kekurangannya, salah-salah justru kegagalan yang ditemui.
Marma (karena itu) samya (semua) den ageng (perbesarlah) panarimanta
(rasa narima-mu). Karena itu semua perbesarlah rasa narima-mu.
Karena itu perbesarlah rasa narima dalam hidupmu. Terimalah setiap yang
ada pada dirimu dengan rasa ridha dan gembira. Sebaliknya jangan
bersedih atas apa yang tidak ada pada dirimu.
Wateke (watak) budi (budi) narima (narima), unggul (unggul)
wekasaning (akhirnya di) wuri (belakang), seje (beda) budi (watak) kang
(yang) nyerang (tergesa-gesa), tangeh (mustahil) yen (kalau) bisa (bisa)
lestari (lestari). Watak budi narima, unggul akhirnya di belakang, lain
dengan watak yang tergesa-gesa, mustahil kalau bisa lestari.
Apa yang dilakukan dengan sabar dan narima lebih berkesinambungan.
Setiap waktu akan semakin baik dan sempurna. Keberhasilannya langgeng
awet sampai akhir. Lain halnya dengan watak tergesa-gesa, setiap
keberhasilannya mengandung kecacatan yang akan membuatnya segera
rusak, mustahil dapat lestari.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 76

Telah selesai penjelasan enam watak utama yang akan membuat


kehidupanmu sejahtera kelak.
Marma (karena itu) welingku (pesanku) kaki (anakku), den abanget (yang
sangat) panganggepmu (anggapanmu), aywa (jangan) sira (engkau)
nyingkura (membelakangi, meninggalkan), marang (pada) pitutur
(nasihat) kang (yang) becik (baik), sayektine (sesungguhnya) bakal (akan)
ana (ada) paedahnya (faidahnya). Karena itu pesanku anakku, yang
sangat anggapanmu, jangan meninggalkan, pada nasihat yang baik,
sesungguhnya akan ada faidahnya.
Maksud dari bait ini adalah anggaplah pesan ini sebagai hal yang sangat
penting. Jangan sekali-kali membelakangi atau meninggalkan nasihat baik
ini, karena kelak akan sangat berfaidah dalam kehidupanmu.
Yen (kalau) sira (engkau) mituhu (mematuhi) jarwa (makna), warsitaku
(pesanku) kang (yang) kawijil (tersampaikan), mbokmanawa (barangkali)
tembe (kelak) sira (engkau), anemu (menemui) kamulyan (kemuliaan)
kaki (anakku), lulus (lestari) bisa (bisa) mukti (berkecukupan), tanana
(tak ada) sangsayanipun (panderitaannya). Kalau engkau mematuhi
makna, dari pesan yang kusampaikan, barangkali kelak engkau, menemui
kemuliaan anakku, lestari berkecukupan, tak ada penderitaan.
Kalau engkau patuh pada pesan-pesan yang telah kusampaikan tadi,
barangkali kelak engkau akan memperoleh manfaatnya. Yakni hidup
lestari berkecukupan dan mulia, jauh dari penderitaan.
Arti kata mukti adalah berkecukupan dan terhormat dalam masyarakat.
Tidak kurang sandang-bukti (pakaian dan makanan) dan mempunyai nama
yang baik. Dihormati sesama karena perbuatannya baik. Bukan sekadar
kaya harta tetapi diperoleh dengan cara durhaka.
Mangkeneku (yang demikian itu) wus (sudah) dadya (menjadi), pranatan
(aturan) adiling (keadilan) Widhi (Tuhan Maha Benar), sapa (siapa yang)
becik (berbuat baik) bakal (akan) antuk (mendapat) kabecikan (kebaikan).
Yang demikian itu sudah menjadi, aturan keadilan Tuhan Yang Maha
Benar, siapa yang berbuat baik akan mendapat kebaikan.
Tuhan senantiasa adil dan telah menetapkan hukum yang jelas dan pasti
berlaku. Siapa yang selalu berbuat baik pasti akan mendapat kebaikan.
Jangan pernah berpikir bahwa Tuhan mengabaikan hambanya. Sapa temen

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 77

tinemenan, siapa yang bersungguh-sungguh di jalan kebaikan pasti akan


mencapai tujuannya.
Inilah nasihat Pendeta Agung Yatnajati kepada lima siswanya tentang
watak utama yang akan membuat kehidupannya sejahtera.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 78

Kajian Kridhamaya (3:9-14): Piwulang Trang Trawaca


Pupuh 3, bait 9-14, Sinom (8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a), Serat
Kridhamaya karya R. Ng. Ranggawarsita dari Surakarta Adiningrat.
Kadiparan cantrik sira, nggonmu tampa wangsit, apa wus bisa
trewaca. Pun Jiwita amangsuli, dhuh-dhuh Sang Maha Yogi, yen
andika dangu ulun, sadaya warsitanta, sampun cumenthel
mbokbilih, amung kantun kadang kula kang sakawan,

punapa wus saged pana, punapa dereng tan uninga, mbok


kadanguwa priyangga. Wauta sakawan cantrik, nambung umatur
aris, dhumateng Sang Maha Wiku, makaten aturira, dhuh sang
pupundhen dasih, estunipun kula ugi wus trewaca.

Sang Pandhita malih nabda, semu kacaryaning galih, mangkana


pangandikanya, “Heh cantrik lilima sami, sarehing sira wus, bisa
anyakup pitutur, tutur kang kawahya, samangko ingsun aganti,
sumedharnya saha ngalirake piwulang.”

“Utamaning gegayuhan, kang pantes gagayuh dhingin, mung ana


patang praka, anggapen ingkang nastiti, tancepna sanubari,
cancangen kenceng ing kalbu, mrih ywa nganti katriwal,
kanggowa salami-lami.” Pan cantrik sareng umatur sandika.

Ngandika malih Sang Dwija, “Lah saiki sun nurwani,


amedharake warsita, prakara panggayuh becik, padha kepareng
ngarsi.” Cantrik gya mangsah umaju, tumungkul pasang karna,
mangliling wisik Sang Yogi, Sang Pandhita manabda malih
mangkana.

Mangkene katrangira, “Silahnya sawiji-wiji, panggayuh patang


prakara, kang tumrap kanggoning ngaurip, supaya angindhaki,
ngancik lalakon kang bagus, lah padha wiyarsakna, wijanging
panggayuh kaki, lakonana kalayan karsaning tyas.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Bagaimana siswa engkau, dalam menerima pesan, apakah sudah
bisa paham. Si Jiwita menjawab, “Duh Sang Maha Pendeta, kalau

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 79

paduka menanyakan kepada hamba, semya pesan paduka, sudah


melekat barangkali, hanya tinggal saudara hamba yang empat,

apakah sudah bisa paham, apakah belum tak tahu, silakan ditanya
sendiri. Diceritakan empat siswa, menyambung jawaban dengan
halus, kepada Sang Maha Pendeta, begini perkataannya, “Duh
Sang Junjungan kami, sesungguhnya kami juga sudah paham.”

Sang Pendeta bersabda lagi, disertai rasa gembira dalam hati,


begini perkataannya, “Hai siswa lima semuanya, karena engkau
sudah, bisa mencakup nasihat, perkataan yang disampaikan,
sekarang aku ganti, menyampaikan dan menjabarkan ajaran.

Seutama-utama cita-cita, yang pantas diraih dahulu, hanya ada


empat perkata, terimalah yang teliti, tanamkan dalam sanubari,
ikatlah kuat dalam hati, agar jangan sampai tercecer, pakailah
selama-lamanya. Sungguh para siswa semua bersamaan
menyatakan siap.

Berkata lagi Sang Guru, “Lah sekarang aku memulai menjabarkan


nasihat, perkata cita-cita yang baik, silakan semua berkenan
mendekat.” Para siswa segera maju mendekat, tertunduk memasang
telinga, memperhatikan isyarat Sang Pendeta, demikian Sang
Pendeta bersabda lagi.

Begini penjelasannya, “Pemisahannya satu-persatu, cita-cita empat


perkara, yang dipakai dalam kehidupan, supaya menambah,
menapak jenjang kehidupan yang bagus, lah semua dengarkanlah,
jelasnya cita-cita anakku, lakukanlah dengan kehendak dalam hati.”

Kajian per kata:


Kadiparan (bagaimana) cantrik (siswa) sira (engkau), nggonmu (dalam
engkau) tampa (menerima) wangsit (pesan), apa (apa) wus (sudah) bisa
(bisa) trewaca (paham, jelas). Bagaimana siswa engkau, dalam menerima
pesan, apakah sudah bisa paham.
Sang Pendeta menanyakan kepada para siswanya, apakah semua pesan
nasihat tadi telah jelas dan dapat dipahami dengan baik.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 80

Pun Jiwita (si Jiwita) amangsuli (menjawab), “Dhuh-dhuh (duh) Sang


(Sang) Maha (Maha) Yogi (Pendeta), yen (kalau) andika (paduka) dangu
(menanyakan) ulun (hamba), sadaya (semua) warsitanta (pesanmu),
sampun (sudah) cumenthel (melekat) mbokbilih (barangkali), amung
(hanya) kantun (tinggal) kadang (saudara) kula (saya) kang (yang)
sakawan (empat), punapa (apakah) wus (sudah) saged (bisa) pana
(paham), punapa (apakah) dereng (belum) tan (tak) uninga (tahu), mbok
(silakan) kadanguwa (ditanya) priyangga (sendiri). Si Jiwita menjawab,
“Duh Sang Maha Pendeta, kalau paduka menanyakan kepada hamba,
semya pesan paduka, sudah melekat barangkali, hanya tinggal saudara
hamba yang empat, apakah sudah bisa paham, apakah belum tak tahu,
silakan ditanya sendiri.
Jiwita menjawab bahwa semua nasihat telah dipahaminya, tetapi dia ragu
apakah saudara-saudara seperguruannya juga telah memahami dengan
baik. Jiwita menyilakan Sang Pendeta untuk menanyakan sendiri kepada
para saudaranya tersebut.
Wauta (diceritakan) sakawan (empat) cantrik (siswa), nambung
(menyambung) umatur (jawaban) aris (dengan halus), dhumateng
(kepada) Sang (Sang) Maha (Maha) Wiku (Pendeta), makaten (demikian)
aturira (perkataannya), “Dhuh (duh) sang (sang) pupundhen (junjungan)
dasih (hamba), estunipun (sesungguhnya) kula (kami) ugi (juga) wus
(sudah) trewaca (paham). Diceritakan empat siswa, menyambung jawaban
dengan halus, kepada Sang Maha Pendeta, begini perkataannya, “Duh
Sang Junjungan kami, sesungguhnya kami juga sudah paham.”
Para siswa lainnya segera menyambung perkataan Jiwita dan menyatakan
bahwa mereka pun telah paham sepenuhnya apa yang disampaikan Sang
Guru.
Sang (sang) Pandhita (pendeta) malih (lagi) nabda (bersabda), semu
(agak, disertai) kacaryaning (rasa gembira) galih (hati), mangkana
(begini) pangandikanya (perkataannya), “Heh (Hai) cantrik (siswa)
lilima (lima) sami (semuanya), sarehing (karena) sira (engkau) wus
(sudah), bisa (bisa) anyakup (mencakup) pitutur (nasihat), tutur
(perkataan) kang (yang) kawahya (disampaikan), samangko (sekarang)
ingsun (aku) aganti (ganti), sumedharnya (menyampaikan) saha (serta)
nglairake (menjabarkan) piwulang (ajaran).” Sang Pendeta bersabda lagi,

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 81

disertai rasa gembira dalam hati, begini perkataannya, “Hai siswa lima
semuanya, karena engkau sudah, bisa mencakup nasihat, perkataan yang
disampaikan, sekarang aku ganti, menyampaikan dan menjabarkan
ajaran.
Sang Guru merasa gembira hatinya mendengar pengakuan para murid.
Beliau kemudian bermaksud untuk meneruskan ke nasihat selanjutnya.
“Utamaning (seutama-utama) gegayuhan (cita-cita), kang (yang) pantes
(pantas) gagayuh (diraih) dhingin (dahulu), mung (hanya) ana (ada)
patang (empat) prakara (perkara), anggapen (anggaplah, hargailah,
terimalah) ingkang (yang) nastiti (teliti), tancepna (tanamkan) sanubari
(sanubari), cancangen (ikatlah) kenceng (kuat) ing (dalam) kalbu (hati),
mrih (agar) ywa (jangan) nganti (sampai) katriwal (tercecer), kanggowa
(pakailah) salami-lami (selama-lamanya).” Seutama-utama cita-cita,
yang pantas diraih dahulu, hanya ada empat perkata, terimalah yang
teliti, tanamkan dalam sanubari, ikatlah kuat dalam hati, agar jangan
sampai tercecer, pakailah selama-lamanya.
Yakni berlanjut kepada nasihat tentang cita-cita yang pantas untuk
diusahakan dalam kehidupan manusia. Cita-cita tersebut ada empat
macam. Sang Pendeta menekankan agar keempatnya diikat dalam ingatan
baik-baik, jangan sampai terlupakan. Karena sungguh akan sangat
bermanfaat sebagai pegangan kelak ketika sudah memasuki kehidupan
bermasyarakat.
Pan (sungguh) cantrik (siswa) sareng (bersamaa) umatur (menyatakan)
sandika (siap). Sungguh para siswa semua bersamaan menyatakan siap.
Para siswa menyatakan kesanggupan dan kesiapan untuk melaksanakan
perintah Sang Guru.
Ngandika (berkata) malih (lagi) Sang (Sang) Dwija (Guru), “Lah (lah)
saiki (sekarang) sun (aku) murwani (memulai), amedharake
(menjabarkan) warsita (nasihat), prakara (perkata) panggayuh (cita-cita)
becik (baik), padha (semua) kepareng (berkenan) ngarsi (mendekat).”
Berkata lagi Sang Guru, “Lah sekarang aku memulai menjabarkan
nasihat, perkata cita-cita yang baik, silakan semua berkenan mendekat.”
Sang Pendeta menyuruh para siswa untuk mendepat. Tanda bahwa apa
yang disampaikan sangat penting.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 82

Cantrik (siswa) gya (segera) mangsah umaju (maju mendekat),


tumungkul (tertunduk) pasang (memasang) karna (telinga), mangliling
(memperhatikan) wisik (isyarat) Sang (Sang) Yogi (Pendeta), Sang (Sang)
Pandhita (Pendeta) manabda (bersabda) malih (lagi) mangkana
(demikian). Para siswa segera maju mendekat, tertunduk memasang
telinga, memperhatikan isyarat Sang Pendeta, demikian Sang Pendeta
bersabda lagi.
Para siswa antusias maju ke depan, menyambut pesan Sang Guru.
Mangkene (begini) katrangira (penjelasannya), “Silahnya
(pemisahannya) sawiji-wiji (satu persatu), panggayuh (cita-cita) patang
(empat) prakara (perkata), kang (yang) tumrap (untuk) kanggoning (yang
dipakai) ngaurip (kehidupan), supaya (supaya) angindhaki (menambah),
ngancik (menapak) lalakon (jenjang kehidupan) kang (yang) bagus
(bagus), lah (lah) padha (semua) wiyarsakna (dengarkanlah), wijanging
(jelasnya) panggayuh (cita-cita) kaki (anakku), lakonana (lakukanlah)
kalayan (dengan) karsaning (kehendak dalam) tyas (hati). Begini
penjelasannya, “Pemisahannya satu-persatu, cita-cita empat perkara,
yang dipakai dalam kehidupan, supaya menambah, menapak jenjang
kehidupan yang bagus, lah semua dengarkanlah, jelasnya cita-cita
anakku, lakukanlah dengan kehendak dalam hati.”
Sang Pendeta menerangkan empat perkara yang harus menjadi cita-cita
bagi manusia. Empat perkara cita-cita itu yang akan menambah derajat
kehidupan manusia kelak jika dicapai. Apa saja keempat perkara itu?
Nantikan dalam kajian berikutnya.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 83

PUPUH KEEMPAT

ASMARADANA

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 84

Kajian Kridhamaya (4:1-5): Patang Perkara Panggayuh


Pupuh 4, bait 1-5, Asmaradana (8i, 8a, 8e/8o, 8a, 7a, 8u, 8a), Serat
Kridhamaya karya R. Ng. Ranggawarsita dari Surakarta Adiningrat.
Juga kena den ranira, kawiryan den kapindhonya, artawan
kaping telune, kagunan kaping patira, guna kawignyan ranira,
papat iku pedahipun, mangkene kateranganya.

Kawiryan tegese kaki, kagem ratu lan prentah, yeku drajat kapya
yen, marga wong kagem Sang Nata, tanapi pamarentah, gedhe
cilik sor unggul, nanging wis mengku wibawa.

Tegese wibawa kaki, den ajeki ing sasana, lamun wus darbe
papasthen, balanja sapantesira, tinampan saben candra, dene
pahargyan amung, mayar nora ngrekasa.

Marmanya den sami ngudi, mamrih kagema Sang Nata, kanggepa


ing salawese, norane kagem Sang Nata, kagema pamarentah,
kaparenga anggegadhuh, nindakake panguwasa.

Mangkoneku pan keni, kinarya pakuwatira, uripe neng donya


kiye, sanadyan orane bisa, sugih nanging wus mayar, bisa ajeg
panganipun, lumintu sadina-dina.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Satu bisa disebut, kawiryan yang keduanya, artawan yang
ketiganya, kagunan yang keempatnya, guna kawignyan sebutannya,
empat itu faidahnya, seperti berikut penjelasannya.

Kawiryan artinya anakku, dipakai raja dan pemerintah. Yaitu


derajat sama kalau, menjadi jalan dipakai oleh Sang Raja, serta
pemerintah, besar kecil rendah tinggi, tetapi sudah mempunyai
wibawa.

Artinya wibawa anakku, yang ajeg di tempat pertemuan, kalau


sudah mempunyai jabatan pasti, belanja sepantasnya, diterima
setiap bulan, adapun perayaan hanya, mudah tidak kesulitan.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 85

Maka dari itu semua berusahalah, agar dipakai Sang Raja,


dihargai selamanya, kalau tidak dipakai Sang Raja, setidaknya
dipakai Pemerintah, diijinkan mengelola, menjalankan kekuasaan.

Yang demikian itu sungguh bisa, dipakai pegangan, hidup di dunia


ini. Walaupun tidak bisa, kaya tapi sudah mudah, bisa kontinyu
kebutuhan pangannya, terus menerus kesehariannya.

Kajian per kata:


Juga (satu) kena (bisa) den ranira (disebut), kawiryan (kawiryan) den
kapindhonya (yang keduanya), artawan (artawan) kaping telune (yang
ketiganya), kagunan (kagunan) kaping patira (yang keempatnya), guna
kawignyan (guna kawignyan) ranira (sebutannya), papat (empat) iku (itu)
pedahipun (faidahnya), mangkene (seperti ini) kateranganya
(penjelasannya). Satu bisa disebut, kawiryan yang keduanya, artawan
yang ketiganya, kagunan yang keempatnya, guna kawgnyan sebutannya,
empat itu faidahnya, seperti berikut penjelasannya.
Ada empat cita-cita yang mesti didahulukan agar hidup menjadi sejahtera,
yakni: kawiryan, artawan, kagunan dan guna-kawignyan. Masing-masing
dari empat hal itu penjelasannya adalah sebagai berikut ini.
Kawiryan (kawiryan) tegese (artinya) kaki (anakku), kagem (dipakai) ratu
(raja) lan (dan) prentah (pemerintah). Kawiryan artinya anakku, dipakai
raja dan pemerintah.
Kawiryan artinya keluhuran derajat, atau kalau di zaman sekarang pejabat
negara. Di sini kawiryan diartikan sebagai orang yang dipakai oleh raja
atau pemerintah, artinya mempunyai jabatan. Pada zaman serat ini ditulis
situasi saat itu di zaman kolonial menjelang akhir. Para pejabat
mempunyai dua tuan, yakni raja dan Pemerintah kolonial Belanda. Maka
loyalitas juga ditujukan kepada keduanya. Oleh karena itu kawiryan
diartikan sebagai orang yang menduduki jabatan dalam sistem
pemerintahan ganda tersebut. Bait berikut menguraikan lebih lanjut.
Yeku (yaitu) drajat (derajat) kapya (sama) yen (kalau), marga (jalan)
wong (orang) kagem (dipakai) Sang (Sang) Nata (Raja), tanapi (serta)
pamarentah (pemerintah), gedhe (besar) cilik (kecil) sor (rendah) unggul
(tinggi), nanging (tetapi) wis (sudah) mengku (mempunyai) wibawa

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 86

(wibawa). Yaitu derajat sama kalau, menjadi jalan dipakai oleh Sang
Raja, serta pemerintah, besar kecil rendah tinggi, tetapi sudah mempunyai
wibawa.
Kedua jalur itu sama, baik dipakai sebagai punggawa oleh Sang Raja
demikian pula oleh pemerintah Belanda. Asalkan sudah menjadi pejabat
atau kalau zaman dahulu disebut abdi dalem, maka mereka walau kecil
atau besar, pejabat tinggi atau rendah, semua sudah mempunyai wibawa.
Tegese (artinya) wibawa (wibawa) kaki (anakku), den ajeki (yang ajeg)
ing (di) sasana (tempat pertemuan), lamun (kalau) wus (sudah) darbe
(mempunyai) papasthen (jabatan yang pasti), balanja (belanja)
sapantesira (sepantasnya), tinampan (diterima) saben (setiap) candra
(bulan), dene (adapun) pahargyan (perayaan) amung (hanya), mayar
(mudah) nora (tidak) ngrekasa (kesulitan). Artinya wibawa anakku, yang
ajeg di tempat pertemuan, kalau sudah mempunyai jabatan pasti, belanja
sepantasnya, diterima setiap bulan, adapun perayaan hanya, mudah tidak
kesulitan.
Wibawa artinya mempunyai kedudukan sehingga bisa menghadap raja.
Kalau sudah demikian kedudukannya maka harus sering-sering
menghadap dan selalu siap sedia menerima perintah. Kalau sudah
kelihatan prestasinya dan dekat dengan raja maka sudah pasti akan
mendapat belanja sepantasnya. Kebutuhan setiap bulan tercukupi. Kalau
hendak mengikuti perayaan pun mudah, tidak kesulitan. Perayaan adalah
simbol kecukupan seseorang di zaman itu. Setiap pejabat atau priyayi
berlomba mengadakan perayaan dengan mengadakan aneka tontonan
rakyat. Itu simbol kehormatan di zaman itu.
Marmanya (maka dari itu) den sami (semua) ngudi (berusahalah,
mencarilah), mamrih (agar) kagema (dipakai) Sang (Sang) Nata (Raja),
kanggepa (dhargai) ing (pada waktu) salawese (selamanya), norane
(kalau tidak) kagem (dipakai) Sang (Sang) Nata (Raja), kagema
(dipakailah) pamarentah (Pemerintah Belanda), kaparenga (diijinkan)
anggegadhuh (mengelola), nindakake (menjalankan) panguwasa
(kekuasaan). Maka dari itu semua berusahalah, agar dipakai Sang Raja,
dihargai selamanya, kalau tidak dipakai Sang Raja, setidaknya dipakai
Pemerintah, diijinkan mengelola, menjalankan kekuasaan.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 87

Maka semua (siswa-siswa) hendaknya berusaha agar kelak dapat dipakai


oleh Sang Raja selama-lamanya. Kalaupun tidak dipakai Sang Raja,
setidaknya dapat kedudukan di Pemerintahan. Diberi wewenang untuk
mengelola kekuasaan dan memerintah bawahan. Dipatuhi bawahan dan
dihormati orang banyak.
Mangkoneku (yang demikian itu) pan (sungguh) keni (bisa), kinarya
(dipakai) pakuwatira (pegangan, penguat), uripe (hidup) neng (di) donya
(dunia) kiye (ini). Yang demikian itu sungguh bisa, dipakai pegangan,
hidup di dunia ini.
Kedudukan yang demikian itu bisa menjadi pegangan hidup di dunia ini.
Menjadi pejabat negara itu terhormat di masyarakat dan tercukupi
kebutuhannya. Tidak perlu khawatir lagi tenteng kebutuhan hidup di dunia
ini karena sudah ditanggung negara.
Sanadyan (walaupun) orane (tidak pun) bisa (bisa), sugih (kaya) nanging
(tapi) wus (sudah) mayar (mudah), bisa (bisa) ajeg (kontinyu)
panganipun (pangannya), lumintu (terus-menerus) sadina-dina
(kesehariannya). Walaupun tidak bisa, kaya tapi sudah mudah, bisa
kontinyu kebutuhan pangannya, terus menerus kesehariannya.
Walaupun mungkin penghasilan yang diterima tidak bisa membuatnya
menjadi orang kaya, tetapi setidaknya kehidupannya mudah. Kebutuhan
sandang pangan tercukupi, bisa kontinyu selamanya. Lestari terus-menerus
kesehariannya. Itulah yang dinamakan kawiryan.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 88

Kajian Kridhamaya (4:6-8): Tegese Artawan


Pupuh 4, bait 6-8, Asmaradana (8i, 8a, 8e/8o, 8a, 7a, 8u, 8a), Serat
Kridhamaya karya R. Ng. Ranggawarsita dari Surakarta Adiningrat.
Dene artawan kang dwi, mangkene mungguh terangnya, yogane
ngaurip darbe, panggayuh mring kasaguhan, mrih bisa rawat
bandha. Ngungkuli sasaminipun, dadi aran urip mulya.

Amarga jaman samangkin, sapa kang wus sugih bandha, muktine


meh lir sang Katong. Barang kang sinedya teka, ingkang cinipta
ana, linulutan sameng idhup, labed dayaning sang arta.

Marma welingku dieling, ywa lumuh nggayuh arta. Udinen mrih


bisane, awit lamun nora bisa, kalakon rawat bandha, uripmu nista
kalangkung, sinatru sapadha-padha.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Adapun yang kedua, begini penjelasannya, seyogyanya orang hidup
mempunyai, cita-cita kepada kesanggupan, agar bisa merawat
harta. Melebihi sesamanya, jadi disebut hidup mulia.

Karena di zaman sekarang, siapa yang sudah kaya harta, hidupnya


berkecukupan hampir seperti Sang Raja. Semua yang dikehendaki
datang, yang diangankan ada, didekati sesama orang, karena
kekuatan harta.

Karena itu pesanku diingat, jangan malas menggapai harta.


Berusahalah agar bisa (melakukannya) karena kalau tidak bisa,
melakukan merawat harta, hidupmu sangat nista, dimusuhi sesama.

Kajian per kata:


Dene (adapun) artawan (artawan) kang (yang) dwi (kedua), mangkene
(begini) mungguh terangnya (penjelasannya), yogane (seyogyanya)
ngaurip (orang hidup) darbe (mempunyai), panggayuh (cita-cita) mring
(kepada) kasaguhan (kesanggupan), mrih (agar) bisa (bisa) rawat
(merawat) bandha (harta). Adapun yang kedua, begini penjelasannya,

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 89

seyogyanya orang hidup mempunyai, cita-cita kepada kesanggupan, agar


bisa merawat harta.
Cita-cita yang kedua adalah artawan (hartawan), yakni kemampuan untuk
merawat harta. Yang dimaksud adalah orang yang berkemampuan
mencari, menjaga dan mengembangkan harta benda. Atau istilah yang
sederhana adalah orang kaya harta.
Ngungkuli (melebihi) sasaminipun (sesamanya), dadi (jadi) aran
(disebut) urip (hidup) mulya (mulia). Melebihi sesamanya, jadi disebut
hidup mulia.
Kata lain dari artawan adalah orang yang berkelebihan dalam harta dari
sesama manusia. Ini adalah pencapaian yang layak untuk dicita-citakan
bila ingin hidup sejahtera di dunia ini.
Amarga (karena) jaman (zaman) samangkin (sekarang), sapa (siapa)
kang (yang) wus (sudah) sugih (kaya) bandha (harta), muktine
(berkecukupan) meh (hampir) lir (seperti) sang (Sang) Katong (Raja).
Karena di zaman sekarang, siapa yang sudah kaya harta, hidupnya
berkecukupan hampir seperti Sang Raja.
Mukti artinya hidupnya juga berkecukupan dan dihormati dalam
masyarakat. Kedudukan seorang kaya di masyarakat hampir seperti raja,
dihormati dan dipatuhi oleh orang banyak.
Barang (semua) kang (yang) sinedya (dikehendaki) teka (datang),
ingkang (yang) cinipta (diangankan) ana (ada), linulutan (didekati)
sameng (sesama) idhup (hidup, orang), labed (karena) dayaning
(kekuatan) sang (sang) arta (harta). Semua yang dikehendaki datang, yang
diangankan ada, didekati sesama orang, karena kekuatan harta.
Semua yang dikehendaki akan datang sendiri. Orang-orang selalu
mengawasi kehendakmu dan bersegera melayanimu karena mengharap
hartamu. Apa yang menjadi keinginanmu pasti ada karena mampu kau
beli. Didekati oleh sesama orang yang ingin limpahan rezeki darimu.
Semua itu karena kekuatan harta yang engkau punya. Linulutan artinya
semua orang menjadi ramah dan bersikap baik, ingin selalu dekat
dengannya.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 90

Marma (karena itu) welingku (pesanku) dieling (diingat), ywa (jangan)


lumuh (malas) nggayuh (menggapai) arta (harta). Karena itu pesanku
diingat, jangan malas menggapai harta.
Oleh karena itu, pesan Sang Pendeta, jangan malas dalam mencari harta
dunia. Harta adalah kepemilikan yang berharga dan layak untuk
diupayakan. Tentu dengan cara yang halal dan baik. Tanpa harus
merampas atau mengambil secara batil harta dari orang lain.
Udinen (berusahalah) mrih (agar) bisane (bisa), awit (karena) lamun
(kalau) nora (tidak) bisa (bisa), kalakon (melakukan) rawat (merawat)
bandha (harta), uripmu (hidupmu) nista (nista) kalangkung (sangat),
sinatru (dimusuhi) sapadha-padha (sesama). Berusahalah agar bisa
(melakukannya) karena kalau tidak bisa, melakukan merawat harta,
hidupmu sangat nista, dimusuhi sesama.
Berusahalah agar mempunyai kemampuan dalam mengelola harta, bisa
merawat dan menjaga harta dengan baik dan memanfaatkan di jalan yang
benar. Kalau sampai seseorang kekurangan dalam harta itu, maka akan
sangat nista hidupnya. Dijauhi atau malah dimusuhi oleh sesama manusia.
Dengan adanya harta apapun menjadi mudah. Oleh karena itu hendaknya
diperhatikan.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 91

Kajian Kridhamaya (4:9-14): Tegese Gunawan


Pupuh 4, bait 9-14, Asmaradana (8i, 8a, 8e/8o, 8a, 7a, 8u, 8a), Serat
Kridhamaya karya R. Ng. Ranggawarsita dari Surakarta Adiningrat.
Katelune dipun nastiti, tegese tembung gunawan, mungguh
terangnya mangkene, ngaurip sabisa-bisa, mangudi mrih
sampurna, tegese sampurna putus, mumpuni saliring guna.

Kasusastran miwah ngilmi, ywa nganti dhagel tan yogya, nora


nana paedahe. Seje lan kang wus sampurna, ngelmu tanapi sastra,
uripe nora pakewuh, anggone anggupaya boga.

Wit manungswa kang wus ngenting, sakridhaning kasusastran,


kawruh gaibe apadene, iku dadi pangungsenya, janma kang
tuneng sastra, lan janma sepen kawruh, tekane kanthi weh ruba.

Marmanya weh ruba awit, arep minta pitulungan, apa sing dadi
butuhe. Kang supaya tinuduhan, barang kang durung wikan,
kang wus dadi wajibipun, ingulat tan mrih pinanggya.

Kamangka sira wus bangkit, maweh tuduh kang sanyata, yekti


gedhe tarimane. Kajaba gedhe trimanya, aweh bungah mring sira,
mangka liruning pitutur, ruru basa kuwasanya.

Awit bakuning wong Jawi, duk kuna prapteng samangkya, kudu


weruh ngelmu gaibe, gaib kodrat tegesira, marma den bangetsira,
mangudi mrih lebdeng kawruh, kanggo pikuwating gesang.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Ketiganya yang teliti, artinya kata gunawan, adapun penjelasannya
begini, hidup sebisa-bisa, berusaha agar sempurna, artinya
sempurna tuntas, berkemampuan dalam segala ilmu.

Dalam kasusteraan serta ilmu pengetahuan, jangan sampai


tanggung tak baik, tidak ada faidahnya. Beda dengan yang sudah
sempurna, dalam ilmu serta sastra, hidupnya tidak repot, dalam dia
mencari makan.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 92

Karena manusia yang sudah menghabiskan, semua olah


kasusasteraan, pengetahuan gaibnya apalagi, itu menjadi tempat
mengungsi, manusia yang tuna dalam sastra, dan manusia tanpa
pengetahuan, datangnya dengan memberi pemberian.

Mengapa mereka memberi pemberian karena, akan meminta


pertolongan, apa yang menjadi kebutuhannya. Yang supaya diberi
petunjuk, semua hal yang belum mengetahui, yang sudah menjadi
kewajibannya, dilihat dengan teliti agar ketemu.

Padahal engkau sudah mumpuni, untuk memberi petunjuk yang


benar, maka sungguh besar rasa terima kasihnya. Selain besar rasa
terima kasihnya, memberi pemberian kepadamu, sebagai pengganti
nasihat, pengetahuan yang dicari mereka yang engkau kuasai.

Karena sudah menjadi pedoman baku bagi orang Jawa, sejak ketika
zaman kuna sampai sekarang, harus mengetahui ilmu gaibnya,
artinya gaib adalah ketetapan Tuhan. Karena itu yang sangat
engkau, berusaha agar mumpuni dalam pengetahuan, sebagai
penguat dalam hidup.

Kajian per kata:


Katelune (ketiganya) dipun nastiti (yang teliti), tegese (artinya) tembung
(kata) gunawan (gunawan), mungguh (adapun) terangnya
(penjelasannya) mangkene (begini), ngaurip (hidup) sabisa-bisa (sebisa-
bisa), mangudi (berusaha) mrih (agar) sampurna (sempurna), tegese
(artinya) sampurna (sempurna) putus (tuntas), mumpuni (berkemampuan)
saliring (dalam segala) guna (ilmu, kepandaian). Ketiganya yang teliti,
artinya kata gunawan, adapun penjelasannya begini, hidup sebisa-bisa,
berusaha agar sempurna, artinya sempurna tuntas, berkemampuan dalam
segala ilmu.
Yang ketiga adalah gunawan. Perhatikan pengertiannya dengan teliti. Arti
dari gunawan adalah mumpuni dalam pengetahuan. Maksudnya dalam
kehidupan ini hendaknya engkau berusaha untuk mencari pengetahuan
dengan kadar yang sempurna atau tuntas dalam belajar.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 93

Kasusastran (kasusateraan) miwah (serta) ngilmi (ilmu pengetahuan), ywa


(jangan) nganti (sampai) dhagel (tanggung) tan (tak) yogya (sepantasnya,
baik), nora (tidak) nana (ada) paedahe (faidahnya). Dalam kasusteraan
serta ilmu pengetahuan, jangan sampai tanggung tak baik, tidak ada
faidahnya.
Dalam segala ilmu yang bisa dipelajari (seperti dalam kasusasteraan atauy
ilmu pengetahuan lainnya), hendaknya dilakukan dengan sungguh-
sungguh sehingga sempurna pengetahuannya. Jangan sampai belajarnya
tanggung (dhagel atau mogol), karena yang demikian itu tak baik. Tidak
ada manfaatnya dari ilmu pengetahuan yang tanggung. Hanya akan
menjadikan pemiliknya berpikiran picik dan sok tahu.
Seje (beda) lan (dengan) kang (yang) wus (sudah) sampurna (sempurna),
ngelmu (dalam ilmu) tanapi (serta) sastra (sastra), uripe (hidupnya) nora
(tidak) pakewuh (repot), anggone (dalam dia) anggupaya (mencari) boga
(makan). Beda dengan yang sudah sempurna, dalam ilmu serta sastra,
hidupnya tidak repot, dalam dia mencari makan.
Beda dengan yang sudah sempurna pengetahuannya, baik dalam sastra
maupun dalam segala ilmu pengetahuan lain. Hidupnya tidak akan repot
dalam mencari makan. Ilmunya dapat dipakai dengan benar dan
menyelesaikan masalah.
Wit (karena) manungswa (manusia) kang (yang) wus (sudah) ngeting
(menghabiskan), sakridhaning (semua olah) kasusastran (kasusteraan),
kawruh (pengetahuan) gaibe (ghaib) apadene (apalagi), iku (itu) dadi
(menjadi) pangungsenya (tempat mengungsi), janma (manusia) kang
(yang) tuneng (tuna dalam) sastra (sastra), lan (dan) janma (manusia)
sepen (sepi, tanpa) kawruh (pengetahuan), tekane (datangnya) kanthi
(dengan) weh (memberi) ruba (pemberian). Karena manusia yang sudah
menghabiskan, semua olah kasusasteraan, pengetahuan gaibnya apalagi,
itu menjadi tempat mengungsi, manusia yang tuna dalam sastra, dan
manusia tanpa pengetahuan, datangnya dengan memberi pemberian.
Karena manusia yang sudah sempurna dalam pengetahuan akan menjadi
tempat mengungsi manusia lain yang tak berpengetahuan. Menjadi tempat
bertanya dan mencari solusi. Mereka datang dengan memberi pemberian.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 94

Marmanya (karenanya) weh (memberi) ruba (pemberian) awit (karena),


arep (akan) minta (minta) pitulungan (pertolongan), apa (apa) sing
(yang) dadi (menjadi) butuhe (kebutuhannya). Mengapa mereka memberi
pemberian karena, akan meminta pertolongan, apa yang menjadi
kebutuhannya.
Mereka memberi pemberian karena akan meminta pertolongan dari apa
yang menjadi kebutuhan mereka. Mereka butuh sehingga berani
membayar untuk keperluannya itu. Mereka butuh solusi sehingga tak
sayang kehilangan sesuatu agar solusi yang mereka butuhan terpenuhi.
Kang (yang) supaya (supaya) tinuduhan (diberi petunjuk), barang (semua
hal) kang (yang) durung (belum) wikan (mengetahui), kang (yang) wus
(sudah) dadi (menjadi) wajibipun (kewajibannya), ingulatan (dilihat
dengan teliti) mrih (agar) pinanggya (ketemu). Yang supaya diberi
petunjuk, semua hal yang belum mengetahui, yang sudah menjadi
kewajibannya, dilihat dengan teliti agar ketemu.
Agar mereka mendapat petunjuk dari ilmu yang engkau kuasai dalam
semua pengetahuan yang belum mereka tahu, yang menjadi kewajiban
mereka. Mereka sangat memerlukan sehingga dengan tekun akan
mendengarkan petunjuk darimu. Mereka akan menurut yang engkau
katakan demi mencari solusi dari permasalahan mereka.
Kamangka (padahal) sira (engkau) wus (sudah) bangkit (mumpuni),
maweh (memberi) tuduh (petunjuk) kang (yang) sanyata (benar), yekti
(sungguh) gedhe (besar) tarimane (rasa terima kasihnya). Padahal engkau
sudah mumpuni, untuk memberi petunjuk yang benar, maka sungguh besar
rasa terima kasihnya.
Mereka datang kepadamu meminta petunjuk, padahal engkau sudah
mumpuni untuk memberi petunjuk padanya. Jadi engkau sangat
membantunya. Maka sungguh besar rasa terima kasihnya kepadamu.
Kajaba (selain) gedhe (besar) trimanya (terima kasihnya), aweh
(memberi) bungah (bebungah, pemberian) mring (kepada) sira (kamu),
mangka (sebagai) liruning (pengganti) pitutur (nasihat), ruru (mencari)
basa (pengetahuan) kuwasanya (yang engkau kuasai). Selain besar rasa
terima kasihnya, memberi pemberian kepadamu, sebagai pengganti
nasihat, pengetahuan yang dicari mereka yang engkau kuasai.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 95

Selain rasa terima kasih yang besar mereka juga akan memberi engkau
bebungah, yakni pemberian yang dimaksudkan agar engkau senang karena
dia juga senang. Bebungah adalah pemberian yang dimaksudkan untuk
membagi kegembiraan. Kaena dia merasa senang telah engkau selesaikan
masalahnya, maka dia juga memberimu sesuatu agar engkau juga merasa
senang. Itulah begungah. Maka mereka takkan sayang untuk itu karena
problemnya benar-benar telah tuntas.
Awit (karena) bakuning (pedoman baku bagi) wong (orang) Jawi (Jawa),
duk (ketika) kuna (kuna) prapteng (sampai) samangkya (sekarang), kudu
(harus) weruh (mengetahui) ngelmu (ilmu) gaibe (gaibnya), gaib (gaib)
kodrat (ketetapan Tuhan) tegesira (artinya). Karena sudah menjadi
pedoman baku bagi orang Jawa, sejak ketika zaman kuna sampai
sekarang, harus mengetahui ilmu gaibnya, artinya gaib adalah ketetapan
Tuhan.
Sudah menjadi pedoman baku bagi orang Jawa segala sesuatu harus
dipahami di balik seuatu itu, atau ilmu gaibnya. Yakni isyarat dan maksud
dari ketetapan Tuhan yang terjadi padanya. Dan pengetahuan tentang ini
hanya dimiliki oleh orang yang sempurna pengetahuannya. Kepadanyalah
mereka bertanya.
Marma (karena itu) den bangetsira (yang sangat engkau), mangudi
(berusaha) mrih (agar) lebdeng (lebda ing, mumpuni dalam) kawruh
(pengetahuan), kanggo (sebagai) pikuwating (penguat dalam) gesang
(hidup). Karena itu yang sangat engkau, berusaha agar mumpuni dalam
pengetahuan, sebagai penguat dalam hidup.
Karena itu hendaknya engkau berusaha keras agar mempunyai
pengetahuan yang mumpuni, yang sanggup memberi solusi permasalahan
orang banyak. Pengetahuan itu akan menjadi penguat dalam hidupmu,
menopan kehidupanmu sehingga sejahteralah kamu.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 96

Kajian Kridhamaya (4:15-19): Tegese Guna Kawignyan


Pupuh 4, bait 15-19, Asmaradana (8i, 8a, 8e/8o, 8a, 7a, 8u, 8a), Serat
Kridhamaya karya R. Ng. Ranggawarsita dari Surakarta Adiningrat.
Genepe kaping pat kaki, diyatna lan den prastawa, tembung guna
kawignyane. Pan mangkene tegesira, sabisa-bisa janma,
andarbenana panggayuh, mumpuni saliring karya.

Kang dadi praboting ngaurip, kalumrahe ing akathah, udinen awit


amrih wignyane. Wit manungswa kang wis lebda, mumpuni liring
karya, akeh wong kang minta tulung, kinen garap pakaryannya.

Apa sing kang den senengi, ing mangka sira wus bisa, nuruti apa
karepe, sayekti dahat sukanya, agung pangalemira, mring sira
dene wus besus, bisa anuju sakarsa.

Apa maneh yen wus dadi, barang ingkang sira garap, pasthi ana
lilirune, dhuwit ing sapantesira, tinimbang keh ing karya, wus
jemak mangkono iku, mangkana tinimbanganira.

Kang mangkana iku kaki, manawa uga wus kena, kanggo pikuwat
uripe, sanadyan nora sugiha, nging uripe tan nistha, wit pangane
wus kacakup, nora nganti kakurangan.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Genapnya yang keempat anakku, bersungguh-sungguhlah dan yang
awas, makna kata ketrampilan. Begini artinya, sebisa-bisa manusia,
mempunyai cita-cita, mumpuni dalam segala pekerjaan.

Dalam hal yang menjadi sarana (kebutuhan) hidup, sebabaimana


kelaziman orang banyak, berusahalah agar terampil. Karena
manusia yang sudah pintar, mumpuni dalam segala pekerjaan,
banyak orang yang akan minta tolong, menyuruh mengerjakan
pekerjaannya.

Apa yang sing disukai, padahal engkau sudah bisa, menuruti apa
sekehendaknya, sungguh sangat sukanya, besar pujiannya, kepada
engkau yang sudah bisa rapi, bisa menyenangkan sekehendaknya.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 97

Apa lagi kalau sudah selesai, barang yang engkau kerjakan, pasti
ada penggantinya, berupa uang dalam kadar sepantasnya,
setimbang banyaknya pekerjaannya. Sudah lazim yang demikian itu,
demikian perbandingannya.

Yang demikian itu anakku, barangkali juga sudah bisa, dipakai


sebagai penguat hidupnya. Walaupun tidak bisa menjadi kaya, tapi
hidupnya tidak nista, karena kebutuhan makannya sudah tercukupi,
tidak sampai kekurangan.

Kajian per kata:


Genepe (genapnya) kaping pat (keempat) kaki (anakku), diyatna
(bersungguh-sungguhlah) lan (dan) den prastawa (yang awas), tembung
(kata) guna kawignyane (ketrampilan). Genapnya yang keempat anakku,
bersungguh-sungguhlah dan yang awas, makna kata ketrampilan.
Guna-kawignyan artinya menurut bahasa adalah pintar dalam segala
pengetahuan. Namun dalam bait ini merujuk kepada penjelasan di bait
selanjutnya adalah kemampuan dalam melaksanakan berbagai pekerjaan
yang memakai fisik. Maka kata yang pas untuk menerjemahkan guna-
kawignyan ini adalah terampil. Kata terampil artinya profesional dalam
pekerjaan
Pan (sungguh) mangkene (begini) tegesira (artinya), sabisa-bisa (sebisa-
bisa) janma (manusia), andarbenana (mempunyai) panggayuh (cita-cita),
mumpuni (mumpuni) saliring (segala) karya (pekerjaan). Begini artinya,
sebisa-bisa manusia, mempunyai cita-cita, mumpuni dalam segala
pekerjaan.
Arti dari cita-cita guna-kawignyan adalah dalam kehidupan sebisa-bisa
manusia dalam hidupnya mempunyai kemampuan yang mumpuni
(profesional) dalam segala pekerjaan yang ditekuninya.
Kang (yang) dadi (menjadi) praboting (sarana, perabotan) ngaurip
(kehidupan), kalumrahe (lazimnya) ing (pada) akathah (orang banyak),
udinen (berusahalah) awit (mula) amrih (agar) wignyane (terampil).
Dalam hal yang menjadi sarana (kebutuhan) hidup, sebabaimana
kelaziman orang banyak, berusahalah agar terampil.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 98

Dalam bidang-bidang yang menjadi sarana kehidupan orang banyak,


sebagaimana lazimnya kehidupan, berusahalah agar mempunyai
ketrampilan. Seumpama pertukangan, bengkel, jasa pelayanan,
transportasi, dan lain-lain.
Wit (karena) manungswa (manusia) kang (yang) wis (sudah) lebda
(pintar), mumpuni (mumpuni) liring (dalam segala) karya (pekerjaan),
akeh (banyak) wong (orang) kang (yang) minta (minta) tulung (tolong),
kinen (menyuruh) garap (mengerjakan) pakaryannya (pekerjaannya).
Karena manusia yang sudah pintar, mumpuni dalam segala pekerjaan,
banyak orang yang akan minta tolong, menyuruh mengerjakan
pekerjaannya.
Bagi orang yang terampil dalam bidang tertentu, yang ketrampilannya
banyak dibutuhkan orang akan banyak orang yang minta tolong kepadanya
untuk mengerjakan pekerjaan baginya.
Apa (apa) ingkang (yang) den senengi (disukai), ing (dalam) mangka
(padahal) sira (engkau) wus (sudah) bisa (bisa), nuruti (menuruti) apa
(apa) karepe (kehendaknya), sayekti (sungguh) dahat (sangat) sukanya
(sukanya), agung (besar) pangalemira (pujiannya), mring (kepada) sira
(engkau) dene (yang) wus (sudah) besus (rapi), bisa (bisa) anuju
(menyenangkan) sakarsa (sekehendaknya). Apa yang sing disukai,
padahal engkau sudah bisa, menuruti apa sekehendaknya, sungguh sangat
sukanya, besar pujiannya, kepada engkau yang sudah bisa rapi, bisa
menyenangkan sekehendaknya.
Dalam hal-hal yang mereka sukai, bila engkau bisa mengerjakan maka
akan sangat sukanya mereka kepada hasil pekerjaanmu yang rapi. Apa
yang mereka kehendaki bisa engkau lakukan secara tepat. Nuju sakarsa
artinya bisa pas dengan apa yang dikehendaki orang lain. Jadi apa yang
mereka minta untuk dilakukan bisa engkau wujudkan. Ini hanya bisa
engkau penuhi jika engkau profesional dan sangat menguasai bidang
pekerjaan itu.
Apa (apa) maneh (lagi) yen (kalau) wus (sudah) dadi (jadi, selesai),
barang (barang) ingkang (yang) sira (engkau) garap (kerjakan), pasthi
(pasti) ana (ada) lilirune (penggantinya), dhuwit (uang) ing (dalam kadar)
sapantesira (sepantasnya), tinimbang (setimbang) keh (banyak) ing
(dalam) karya (pekerjaan). Apa lagi kalau sudah selesai, barang yang

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 99

engkau kerjakan, pasti ada penggantinya, berupa uang dalam kadar


sepantasnya, setimbang banyaknya pekerjaannya.
Kalau pekerjaanmu sudah selesai dan yang menyuruh merasa puas pasti
akan ada pengganti untuk apa yang telah engkau kerjakan. Bisa berupa
uang yang banyaknya setimbang dengan hasil pekerjaannya. Kalau yang
menyuruh merasa senang dan puas dengan pekerjaanmu bisa jadi engkau
akan diberi honor yang lebih.
Wus (sudah) jemak (jamak, lazim) mangkono (demikian) iku (itu),
mangkana (demikian) tinimbanganira (perbandingannya). Sudah lazim
yang demikian itu, demikian perbandingannya.
Praktik yang demikian sudah lazim dalam masyarakat. Demikian
perbandingan antara hasil pekerjaan dan uang penggantinya.
Kang (yang) mangkana (demikian) iku (itu) kaki (anakku), manawa
(barangkali) uga (juga) wus (sudah) kena (bisa), kanggo (dipakai)
pikuwat (penguat) uripe (hidupnya). Yang demikian itu anakku,
barangkali juga sudah bisa, dipakai sebagai penguat hidupnya.
Dengan mempunyai ketrampilan seperti itu, diharapkan sudah cukup untuk
menopang kehidupannya. Bisa mendatangkan penghasilan yang halal dan
baik baginya. Terhindar dari tindak nista, meminta-minta dan jauh dari
tindak durjana.
Sanadyan (walaupun) nora (tidak) sugiha (kaya), nging (tapi) uripe
(hidupnya) tan (tak) nistha (nista), wit (karena) pangane (makannya) wus
(sudah) kacakup (tercukupi), nora (tidak) nganti (sampai) kakurangan
(kekurangan). Walaupun tidak bisa menjadi kaya, tapi hidupnya tidak
nista, karena kebutuhan makannya sudah tercukupi, tidak sampai
kekurangan.
Walau dengan ketrampilan seperti itu tidak bisa mendatangkan kekayaan
yang banyak, tetapi hidupnya sudah tidak nista lagi. Karena kebutuhan
hidupnya, untuk makan dan pakaian serta kebutuhan lain bisa tercukupi,
tidak kekurangan.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 100

Kajian Kridhamaya (4:20-22): Bogan Yen Tan Ngudia


Pupuh 4, bait 20-22, Asmaradana (8i, 8a, 8e/8o, 8a, 7a, 8u, 8a), Serat
Kridhamaya karya R. Ng. Ranggawarsita dari Surakarta Adiningrat.
Bogan yen sira tan ngudi, lawan nora manggayuha, mrih cukup
salah sijine, sokur-sokur lamun bisa, papat kacukup pisan, orane
siji wus lowung, ugere bisa katekan.

Yen tan kacukupa kaki, salah siji mbokmanawa, uripmu tiba


nisthane, wit tuna pambudidaya, akale tanpa guna, tanapi
piyandelipun, uripe temah sangsara.

Dadine banjur netepi, ana paribasan ika, aji godhong jati amoh,
upamane bangsa ganda, ambune arum jamban, tanana kang dadi
wanuh, labet samar yen kakenan.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Rugi sendiri kalau engkau tak berusaha, dan tidak menggapai agar
cukup salah satunya. Syukur-syukur kalau bisa, empat itu tercakup
sekaligus, kalau tidak satu sudah lumayan, asalkan bisa tercapai.

Kalau tidak tercapai anakku, salah satunya barangkali, hidupmu


jatuh dalam nista, karena tanpa kemampuan berupaya, akalnya
tanpa guna, dan juga andalan, hidupnya akhirnya sengsara.

Jadinya seperti cocok dengan, peribahasa itu, aji godhong jati


amoh. Seumpama sebangsa bau-bauan, baunya seperti bau harum
jamban, tak ada yang mengenal karena khawatir kalau terkena.

Kajian per kata:


Bogan (rugi sendiri) yen (kalau) sira (engkau) tan (tak) ngudi (berusaha),
lawan (dan) nora (tidak) manggayuha (menggapai), mrih (agar) cukup
(cukup) salah (salah) sijine (satunya). Rugi sendiri kalau engkau tak
berusaha, dan tidak menggapai agar cukup salah satunya.
Rugi hidupmu kalau selama hidup engkau tak berusaha untuk menggapai
salah satu dari keempat cita-cita yang telah kita bahas dalam kajian
sebelumnya. Yakni: kedudukan atau kawiryan, gunawan atau kepandaian

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 101

dalam ilmu pengetahuan, artawan atau kekayaan dalam harta dan guna-
kawignya atau ketrampilan profesional. Rugi karena akan sulit untuk
memenuhi kebutuhan dasar, yakni mencukupi kebutuhan sandang dan
pangan.
Sokur-sokur (syukur-syukur) lamun (kalau) bisa (bisa), papat (empat)
kacukup (tercakup) pisan (sekaligus), orane (kalau tidak) siji (satu) wus
(sudah) lowung (lumayan), ugere (asalkan) bisa (bisa) katekan (tercapai).
Syukur-syukur kalau bisa, empat itu tercakup sekaligus, kalau tidak satu
sudah lumayan, asalkan bisa tercapai.
Usahakan untuk mencapai keempatnya. Syukur-syukur kalau nanti
keempatnya bisa tercakup sekaligus. Kalaupun tidak salah satupun sudah
lumayan, asalkan benar-benar tercapai.
Yen (kalau) tan (tak) kacukupa (tercapai) kaki (anakku), salah (salah) siji
(satu) mbokmanawa (barangkali), uripmu (hidupmu) tiba (jatuh) nisthane
(nista), wit (karena) tuna (tanpa) pambudidaya (kemampuan berupaya),
akale (akalnya) tanpa (tanpa) guna (guna), tanapi (dan juga)
piyandelipun (andalan hidupnya), uripe (hidupnya) temah (akhirnya)
sangsara (sengsara). Kalau tidak tercapai anakku, salah satunya
barangkali, hidupmu jatuh dalam nista, karena tanpa kemampuan
berupaya, akalnya tanpa guna, dan juga andalan, hidupnya akhirnya
sengsara.
Kalau tidak tercapai salah satu dari cita-cita tersebut, barangkali sangat
mungkin hidupmu jatuh dalam lembah nista. Karena tanpa andalan dalam
berupaya. Kemampuan untuk menopang kehidupan tidak ada sehingga
hidup akan sengsara.
Dadine (jadinya) banjur (lalu) netepi (cocok dengan), ana (ada)
paribasan (peribahasa) ika (itu), aji godhong jati amoh (aji godhong jati
amoh artinya; masih lebih berharga daun jati sobek). Jadinya seperti cocok
dengan, peribahasa itu, aji godong jati amoh.
Peribahasa aji godong jati amoh atau aji godong jati aking (kering)
maksudnya menjadi manusia yang tidak berharga, ibarat masih lebih
berharga daun jati yang kering. Karena daun jati yang kering atau sobek
masih bisa dipakai untuk membungkus nasi. Namun kalau manusia yang

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 102

tuna dari empat hal itu mau dikaryakan untuk apa? Malah akan menjadi
beban bagi manusia lain, merepotkan saja.
Upamane (seumpama) bangsa (sebangsa) ganda (bau-bauan), ambune
(baunya) arum (harum) jamban (jamban), tanana (tak ada) kang (yang)
dadi (jadi) wanuh (mengenal), labet (karena) samar (khawatir) yen
(kalau) kakenan (terkena). Seumpama sebangsa bau-bauan, baunya
seperti bau harum jamban, tak ada yang mengenal karena khawatir kalau
terkena.
Seumpama bau maka baunya seperti harum jamban, maksudnya sangat
bau pesing. Takkan ada orang yang mendekat karena khawatir akan
terkena imbasnya. Khawatir kalau malah direpotkan, khawatir kalau justru
mendapat limpahan masalah darinya.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 103

Kajian Kridhamaya (4:23-25): Warsita Sihing Hyang


Agung
Pupuh 4, bait 23-25, Asmaradana (8i, 8a, 8e/8o, 8a, 7a, 8u, 8a), Serat
Kridhamaya karya R. Ng. Ranggawarsita dari Surakarta Adiningrat.
Lha ta cantrik rehning uwis, titi terange warsiteng wang, kira
tanana kang cewet, saiki manira arsa, paring pitutur sira,
nerangke sihing Hyang Ngagung, kang tumrap marang manuswa.

Rahsaya matur umaris, “Dhuh Sang Dwija pepundhen kula, kang


tuhu wicaksanane, sayekti prakadang kula, agung mangayam-
ayam, ganjaraning Sang Wiku, pamarsita kang utama”.

Sang Pandhita nabda malih, mekaten dhawuh Sang Dwija, “Heh


cantrik lilima kabeh, sira padha angrungokna, saliring warsiteng
wang, samengko wiwit sun catur, pocung samya kaestokno.”

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Lah siswaku karena sudah, selesai penjelasan dariku, kira-kira tak
ada yang tertinggal, sekarang aku hendak, memberi nasihat
padamu, menjelaskan kasih Tuhan Maha Besar, yang ditujukan bagi
manusia.

Rahsaya berkata pelan, “Duh Sang Guru junjungan hamba, yang


sungguh bijaksana, sungguh para saudara hamba, besar
mengharap-harap, pemberian Sang Pendeta, berupa nasihat yang
utama.”

Sang Pendeta bersabda lagi, begini perintah Sang Guru, “He siswa
berlima semua, engkau semua dengarkanlah, semua nasihat dariku,
ikatlah semuda dan patuhilah.

Kajian per kata:


Lha ta (lah!) cantrik (siswa) rehning (karena) uwis (sudah), titi (selesai)
terange (penjelasan) warsiteng (pesan dari) wang (aku), kira (kira-kira)
tanana (tak ada) kang (yang) cewet (tertinggal), saiki (sekarang) manira
(aku) arsa (hendak), paring (memberi) pitutur (nasihat) sira (kamu),

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 104

nerangke (menjelaskan) sihing (kasih) Hyang (Tuhan) Ngagung (Maha


Besar), kang (yang) tumrap (ditujukan) marang (bagi) manuswa
(manusia). Lah siswaku karena sudah, selesai penjelasan dariku, kira-kira
tak ada yang tertinggal, sekarang aku hendak, memberi nasihat padamu,
menjelaskan kasih Tuhan Maha Besar, yang ditujukan bagi manusia.
Sang Pendeta merasa bahwa nasihatnya tentang empat perkara yang harus
menjadi cita-cita manusia kepada para siswanya telah dipahami
sepenuhnya. Sekarang nasihat akan berlanjut tentang kasih Tuhan kepada
para manusia.
Rahsaya (Rahsaya) matur (berkata) umaris (pelan), “Dhuh (duh) Sang
(Sang) Dwija (Guru) pepundhen (junjungan) kula (hamba), kang (yang)
tuhu (sungguh) wicaksanane (bijaksana), sayekti (sungguh) prakadang
(para saudara) kula (hamba), agung (besar) mangayam-ayam
(mengharap-harap), ganjaraning (pemberian) Sang (Sang) Wiku
(Pendeta), pamarsita (nasihat) kang (yang) utama (utama).” Rahsaya
berkata pelan, “Duh Sang Guru junjungan hamba, yang sungguh
bijaksana, sungguh para saudara hamba, besar mengharap-harap,
pemberian Sang Pendeta, berupa nasihat yang utama.”
Rahsaya menyambut dengan bersemangat, katanya para siswa sangat
mengharap-harap nasihat berharga dari Sang Pendeta yang bijaksana.
Malam telah larut tetapi mereka tetap ingin mendengarkan petuah-petuah
selanjutnya.
Sang (Sang) Pandhita (Pendeta) nabda (bersabda) malih (lagi), mekaten
(begini) dhawuh (perintah) Sang (sang) Dwija (guru), “Heh (Hai) cantrik
(siswa) lilima (berlima) kabeh (semua), sira (engkau) padha (semua)
angrungokna (dengarkanlah), saliring (semua) warsiteng (nasihat dari)
wang (aku), samengko (sekarang) wiwit (mulai) sun (aku) catur
(bicarakan), pocung (ikat) samya (semua) kaestokno (dan patuhilah).”
Sang Pendeta bersabda lagi, begini perintah Sang Guru, “He siswa
berlima semua, engkau semua dengarkanlah, semua nasihat dariku,
ikatlah semua dan patuhilah.
Sang Pendeta melanjutkan nasihatnya. Namun sebelumnya beliau
mengingatkan agar para siswa mengikat nasihat ini dalam ingatan dan
mematuhinya dalam perbuatan. Kata pocung samya kaestokna, juga
merupakan isyarat akan masuk ke pupuh Pocung pada bait berikutnya.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 105

PUPUH KELIMA

POCUNG

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 106

Kajian Kridhamaya (5:1-7): Mamintaa Wahyu Sastrajendra


Pupuh 5, bait 1-7, Pocung (12u, 6a, 8i, 12a), Serat Kridhamaya karya R.
Ng. Ranggawarsita dari Surakarta Adiningrat.
Kaya kang wus dakwejangake mring sireku, salah sajuganya,
away nganti tuna kaki. Dene yen wus kacakup salah sajuga,

sira laju rina wengi den sujut, manembah Hyang Suksma.


Sajroning sujut sireka, nunuwuna wahyu nugrahaning Suksma.

Kang sinebut sastra jendra yu linuhung, awit sastra jendra,


mengku rahmat kang linuwih, kang kawawa sung papadhang
donyakerat.

Yektinipun kalamun sira wus antuk, nugrahaning Suksma,


ingaran sastra jendra di, jroning ngurip tanana sangsayanira.

Marmanipun tanana sangsayeng ngidhup, awit kodrating Hyang,


sapa manuswa kang bangkit, gayuh marang sastra jendra
ayuningrat.

Bakal antuk kanugrahaning Hyang Agung, ana catur warna,


wijange mangkene cantrik, kang kapisan kaparingan kanugrahan.

Kadwinipun kayuwanan kang tumurun, dene katelunya, kabrayan


ingkang wus mesthi, kaping pat genepe iku kayuswan.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Seperti yang sudah aku tuturkan kepadamu semua, salah satunya,
jangan sampai diabaikan anakku. Adapun kalau sudah terlaksana
salah satunya,

engkau lalu di siang malam bersujudlah, menyembah Tuhan Yang


Maha Suci. Dalam sujud engkau, memintalah wahyu anugrah dari
Tuhan Yang Maha Suci,

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 107

yang disebut sastrajendra hayu linuhung, karena sastrajendra,


mengandung rahmat yang unggul, yang sanggup memberi cahaya
terang dunia-akhirat.

Sesungguhnya kalau engkau sudah mendapat, anugrah dari Tuhan


Maha Suci, yang disebut sastrajendra adi, dalam hidup tak ada
sengsara bagimu.
Sebabnya tak ada sengsara dalam hidup, karena kuasa Tuhan, bagi
siapapun manusia yang bangkit berusaha, menggapai pada
sastrajendra ayuningrat,

akan mendapat anugrah dari Tuhan Maha Agung, ada empat


macam. Jelasnya begini siswaku, yang pertama diberi kanuragan,

keduanya kayuwanan yang diturunkan, adapun ketiganya, kabrayan


yang sudah pasti, yang keempat genapnya itu adalah kayuswan.

Kajian per kata:


Kaya (seperti) kang (yang) wus (sudah) dakwejangake (aku tuturkan)
mring (kepada) sireku (kamu), salah (salah) sajuganya (satunya), aywa
(jangan) nganti (sampai) tuna (diabaikan) kaki (anakku). Seperti yang
sudah aku tuturkan kepadamu semua, salah satunya, jangan sampai
diabaikan anakku.
Sang Pendeta berpesan agar semua nasihat yang disampaikan tadi salah
satu darinya jangan sampai diabaikan. Laksanakan semua nasihat tadi
dengan setahap demi setahap. Satu per satu. Semua nasihat tadi penting
dilaksanakan untuk mencapai kebaikan secara lahir dalam kehidupan,
yakni hidup sejahtera berkecukupan dan terhormat. Dalam basa Jawa
disebut mukti-wibawa.
Dene (adapun) yen (kalau) wus (sudah) kacakup (terlaksana) salah (salah)
sajuga (satunya), sira (engkau) laju (lalu) rina (siang) wengi (malam) den
sujut (bersujudlah), manembah (menyembah, berdoa) Hyang (Tuhan)
Suksma (Maha Suci). Adapun kalau sudah terlaksana salah satunya,
engkau lalu di siang malam bersujudlah, menyembah Tuhan Yang Maha
Suci.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 108

Setelah dilaksanakan satu dari nasihat tadi, lanjutkan dengan menyembah


Tuhan di siang dan malam. Sambil memperbaiki diri secara lahir, lakukan
juga perbaikan secara batin dengan mendekatkan diri kepadaNya.
Sajroning (dalam) sujut (sujud) sireka (engkau), nunuwuna (memintalah)
wahyu (wahyu) nugrahaning (anugrah dari) Suksma (Tuhan Maha Suci),
kang (yang) sinebut (disebut) sastra jendra yu linuhung (sastrajendra
hayu linuhung), awit (karena) sastrajendra (sastrajendra), mengku
(mengandung) rahmat (rahmat) kang (yang) linuwih (lebih), kang (yang)
kawawa (sanggup) sung (memberi) papadhang (cahaya terang)
donyakerat (dunia-akhirat). Dalam sujud engkau, memintalah wahyu
anugrah dari Tuhan Yang Maha Suci, yang disebut sastrajendra hayu
linuhung, karena sastrajendra, mengandung rahmat yang unggul, yang
sanggup memberi cahaya terang dunia-akhirat.
Sastrajendra hayu linuhung atau disebut sastrajendra ayuningrat adalah
wahyu yang membuat terang pada kehidupan. Siapapun yang
mendapatkannya maka dirinya akan terbebas dari kegelapan duniawi.
hidupnya terang jelas, tanpa mengalami keragu-raguan, kebimbangan,
galau dan bingung.
Yektinipun (sesungguhnya) kalamun (kalau) sira (engkau) wus (sudah)
antuk (mendapat), nugrahaning (anugrah dari) Suksma (Tuhan Maha
Suci), ingaran (yang disebut) sastrajendra (sastrajendra) di (adi, baik),
jroning (dalam) ngurip (hidup) tanana (tak ada) sangsayanira
(sengsaramu). Sesungguhnya kalau engkau sudah mendapat, anugrah dari
Tuhan Maha Suci, yang disebut sastrajendra adi, dalam hidup tak ada
sengsara bagimu.
Sesungguhnya kalau engkau telah mendapatkan sastrajendra adi, maka
hidupmu akan terbebas dari kesengsaraan. Sastrajendra adi artinya wahyu
sastrajendra yang baik. Arti adi sama dengan hayu (ayu), yakni membuat
indah kehidupanmu.
Marmanipun (makanya, sebabnya) tanana (tak ada) sangsayeng
(sengsara dalam) ngidhup (hidup), awit (karena) kodrating (kodrat, kuasa)
Hyang (Tuhan), sapa (siapa) manuswa (manusia) kang (yang) bangkit
(bangkit berusaha), gayuh (menggapai) marang (kepada) sastra jendra
ayuningrat (sastrajendra ayuningrat), bakal (akan) antuk (mendapat)
kanugrahaning (anugrah) Hyang (Tuhan) Agung (Maha Besar), ana

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 109

(ada) catur (empat) warna (macam). Sebabnya tak ada sengsara dalam
hidup, karena kuasa Tuhan, bagi siapapun manusia yang bangkit
berusaha, menggapai pada sastrajendra ayuningrat, akan mendapat
anugrah dari Tuhan Maha Agung, ada empat macam.
Kodrat dari kata qudrat adalah salah satu sifat Allah, artinya bahwa Dia
berkuasa mewujudkan sesuatu atau meniadakan sesuatu sesuai
kehendakNya. Maka cara agar mendapat wahyu yang diinginkan hanya
dengan meminta kepadaNya. Dan sudah menjadi kehendakNya bagi
manusia yang berusaha menggapai wahyu akan mendapat anugrahNya
tersebut. Dalam hal wahyu sastrajendra, siapapun yang berhasil
mendapatkannya akan mendapat anugrah berupa empat macam.
Wijange (jelasnya) mangkene (begini) cantrik (siswa), kang (yang)
kapisan (pertama) kaparingan (diberi) kanuragan (kanuragan),
kadwinipun (keduanya) kayuwanan (kayuwanan) kang (yang) tumurun
(tumurun), dene (adapun) katelunya (ketiganya), kabrayan (kabrayan)
ingkang (yang) wus (sudah) mesthi (pasti), kaping (yang ke) pat (empat)
genepe (genapnya) iku (itu) kayuswan (kayuswan). Jelasnya begini
siswaku, yang pertama diberi kanuragan, keduanya kayuwanan yang
diturunkan, adapun ketiganya, kabrayan yang sudah pasti, yang keempat
genapnya itu adalah kayuswan.
Empat macam anugrah yang akan didapat seseorang yang memperolah
wahyu sastrajendra, yakni kanuragan, kayuwanan, kabrayan dan
kayuswan. Masing-masing dari keempat macam itu kami biarkan dalam
bahasa aslinya karena merupakan istilah yang akan diperdalam pada bait
berikutnya. Bagaimana pengertian dari keempat istilah tersebut, nantikan
dalam kajian selanjutnya.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 110

Kajian Kridhamaya (5:8-13): Patang Kanugrahan


Pupuh 5, bait 1-7, Pocung (12u, 6a, 8i, 12a), Serat Kridhamaya karya R.
Ng. Ranggawarsita dari Surakarta Adiningrat.
Tegese catur bab mangkene kulup, tembung kanuragan, iku
pinaringan gaib, luwih teguh lan nganggo meguru sira.

Dene tembung kayuwanan tegesipun, pinaringan kodrat, dening


Hyang Kang Maha Luwih, keslametan lulus sajroning ngagesang.

Kang katelu tembung kebrayan kulup, mangkene tegesnya,


jinampu dening Hyang Widhi, pinarengke lulus mengku
kluwarga.

Tegese bisa tumerah tumuruntun, uripe tan cuwa, bisa mencarake


wiji, tutug nggone amengkuoni anak rayat.

Kaping catur tegese kayuswan iku, antuk kamurahan,


palimirmaning Hyang Widhi, uripira pinaringan urip dawa.

Bisa tutug anggonmu ngemong anak putu, janma kang


mangkana, iku kena den arani, urip mulya siniyan dening Hyang
Suksma.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Artinya empat perkara begini anakku, kata kanuragan, itu diberi
kekuatan gaib, lebih kuat tanpa berguru engkau.

Adapun kata kayuwanan artinya, diberi kuasa, oleh Tuhan Yang


Maha Tinggi, keselamatan langgeng dalam kehidupan,

Yang ketiga kata kabrayan anakku, begini artinya, diawasi oleh


Tuhan Yang Maha Benar, diijinkan langgeng membina keluarga.

Artinya bisa berkembang berturun-turun, hidupnya tak kecewa, bisa


menyebarkan keturunan, puas dalam dia mengasuh anak istri.

Keempat artinya kayuswan itu, mendapat kemurahan, kasih sayang


Tuhan Maha Benar, hidupmu diberikan hidup yang panjang umur.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 111

Bisa tuntas dalam engkau mengasuh anak-cucu. Orang yang


demikian, itu bisa disebut, hidup mulia dikasihi oleh Tuhan Yang
Maha Suci.

Kajian per kata:


Tegese (artinya) catur (empat) bab (bab, perkara) mangkene (begini)
kulup (anakku), tembung (kata) kanuragan (kanuragan), iku (itu)
pinaringan (diberi kekuatan) gaib (gaib), luwih (lebih) teguh (kuat) tan
(dengan) nganggo (memakai) meguru (berguru) sira (engkau). Artinya
empat perkara begini anakku, kata kanuragan, itu diberi kekuatan gaib,
lebih kuat tanpa berguru engkau.
Arti dari empat anugrah yang akan didapat seseorang jika mendapat
wahyu sastrajendra adalah sebagai berikut; yang pertama kanuragan
artinya engkau akan diberi kekuatan gaib yang berupa kesentosaan, kuat,
sakti, tanpa berguru. Kemampuan fisik berupa kanuragan adalah hasil
berlatih dan bertapa. Dengan engkau mendapat wahyu sastrajendra
kemampuan kanuraganmu berlipat ganda.
Dene (adapun) tembung (kata) kayuwanan (kayuwanan) tegesipun
(artinya), pinaringan (diberi) kodrat (kuasa), dening (oleh) Hyang
(Tuhan) Kang (Yang) Maha (Maha) Luwih (Tinggi), keslametan
(keselamatan) lulus (langgeng) sajroning (dalam) ngagesang (kehidupan).
Adapun kata kayuwanan artinya, diberi kuasa, oleh Tuhan Yang Maha
Tinggi, keselamatan langgeng dalam kehidupan.
Meski kuat tapi keselamatan seseorang tidak terjamin. Banyak orang kuat
dikalahkan orang lemah. Namun dengan adanya wahyu sastrajendra
engkau diberi pula keselamatan. Engkau selamat langgeng dalam
kehidupanmu. Selamat artinya terhindar dari hal-hal yang mencelakakan.
Kang (yang) katelu (ketiga) tembung (kata) kebrayan (kabrayan) kulup
(anakku), mangkene (begini) tegesnya (artinya), jinampu (diawasi)
dening (oleh) Hyang (Tuhan) Widhi (Maha Benar), pinarengke
(diijinkan) lulus (langgeng) mengku (membina) kluwarga (keluarga).
Yang ketiga kata kabrayan anakku, begini artinya, diawasi oleh Tuhan
Yang Maha Benar, diijinkan langgeng membina keluarga.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 112

Tidak ada gunanya seseorang hebat dan kuat jika keluarga saja tak punya.
Rumah tangga berantakan, pernikahan gagal, anak-anak nakal, dan
sebagainya. Jika engkau mendapat wahyu sastrajendra, maka yang
demikian itu akan terhindar. Keluargamu sejahtera, harmonis, sakinah,
mawadan sehingga mendatangkan rahmah.
Tegese (artinya) bisa (bisa) tumerah (berkembang) tumuruntun
(berturun-turun), uripe (hidupnya) tan (tak) cuwa (kecewa), bisa (bisa)
mencarake (menyebarkan) wiji (keturunan), tutug (puas) nggone (dalam
dia) amengkoni (mengasuh) anak (anak) rayat (istri). Artinya bisa
berkembang berturun-turun, hidupnya tak kecewa, bisa menyebarkan
keturunan, puas dalam dia mengasuh anak istri.
Keturunannya banyak dan berkembang, hidupnya tak mengecewakan.
Anak-cucu menjadi orang yang patut diteladani. Bisa menyebarkan anak
keturunan ke berbagai tempat dengan baik. Dapat mengasuh, mendidik
dan membina keluarga sampai tuntas.
Kaping catur (keempat) tegese (artinya) kayuswan (kayuswan) iku (itu),
antuk (mendapat) kamurahan (kemurahan), palimirmaning (kasih
sayang) Hyang (Tuhan) Widhi (Maha Benar), uripira (hidupmu)
pinaringan (diberikan) urip (hidup) dawa (panjang umur). Keempat
artinya kayuswan itu, mendapat kemurahan, kasih sayang Tuhan Maha
Benar, hidupmu diberikan hidup yang panjang umur.
Anugrah keempat adalah panjang umur. Orang yang panjang umur
sungguh telah diberi kasih sayang Tuhan yang amat banyak. Apalagi jika
dia mampu menggunakan umurnya dengan baik. Untuk beramal shaleh,
membantu sesama yang membutuhkan, mendidik anak-cucu menjadi
orang yang baik.
Bisa (bisa) tutug (tuntas) anggonmu (dalam) ngemong (mengasuh) anak
(anak) putu (cucu). Bisa tuntas dalam engkau mengasuh anak-cucu.
Dengan umur yang panjang itu engkau bisa tuntas dalam mengasuh anak
cucu. Bisa mengalami berbagai peran. Sebagai orang tua, sebagai kakeh,
pengasuh, pelindung, pembina, pengawas, penasihat bagi anak-cucu
keturunannya.
Janma (orang) kang (yang) mangkana (demikian), iku (itu) kena (bisa)
den (di) arani (sebut), urip (hidup) mulya (mulia) sinihan (dikasihi)

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 113

dening (oleh) Hyang (Tuhan) Suksma (Maha Suci). Orang yang


demikian, itu bisa disebut, hidup mulia dikasihi oleh Tuhan Yang Maha
Suci.
Kehidupan dengan umur panjang dan dapat menyaksikan anak-keturunan
tumbuh berkembang menjadi orang baik adalah kehidupan yang langka.
Hal itu takkan terjadi jika tidak mendapat anugrah dari Tuhan Yang Maha
Suci. Jika seseorang mempu menggapai yang demikian itu sungguh sudah
bisa dikatakan jika hidupnya mulia dan dikasihi Tuhan.
Itulah empat hal yang akan dianugrahkan kepada orang yang bisa
menggapai wahyu sastrajendra ayuningrat.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 114

Kajian Kridhamaya (5:14-26): Para Siswa Wus Tumanggap


Pupuh 5, bait 1-7, Pocung (12u, 6a, 8i, 12a), Serat Kridhamaya karya R.
Ng. Ranggawarsita dari Surakarta Adiningrat.
Heh ta puthut dadi kawruhananmu, sarehning samangkya, wus
titi terang baresih, pituturku mring sira kang wus kawahya.

De pikirmu apa carem apa durung, yen durung matura, mumpung


ana ngarsa kami, lamun durung pan ingsun maksih kaduga,

weh pitutur mrih bisa carem pikirmu, ywa sumelang sira, uger aku
misih urip, nora kewran yen sira mung minta wulang.

Nulya matur Budaya sarwi tumungkul, makaten aturnya, mring


Sang Wiku Yatnajati, mugi-mugia andadosna uningan.

Manah ulun tanapi kadang sadarum, samangke wus padhang,


datan wonten kang ngalingi, dupi sampun nampi warsita andika.

Ingkang kantun raosing tyas lir ginrujug, kang tirta nirmala,


panggesangnya wong sabumi, adhem asrep sumyah rasanira.

Pindhanipun kadyangganing wit kang alum, duk mangsa katiga,


ngaretek ronya barindhil, dupi sampun kataman dresing sang
warsa.

Uwitipun seger waluya tan alum, wus rumaos gesang, wit pantuk
dayaning warih, kadya tangi garegah saking kantaka.

Nambung wuwus ri Sang Yatnajati Wiku, tujuninmg kang sabda,


dhawuh mring Karsaya cantrik, pan makaten dhawuhnya Sang
Maha Dwija.

“Heh puthut paran panampi nireku, warsita manira, bab


gancaraning Hyang Widhi, sakirane apa pawa wus trewaca”.

Dene yen wus bisa cumanthel sadarum, dahat sukaning wang, de


padha mengku lulungit, pan Karsaya mangsuli matur makaten.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 115

Dhuh-dhuh adhuh Sang Dwija jijimat ulun, saliring warsita,


andika kang ulun tampi, kados-kados tan wonten ingkang
katriwal.

Mbok bilih wus kinodrat dening Hyang Ngagung, kula lan pra
kadang, jer wus pinasthi nanggapi, warsitanta sadaya ingkang
kawahya.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Hai siswaku jadi ketahuilah kamu, karena sekarang, sudah selesai
jelas habis, nasihatku kepadamu yang sudah dijabarkan.

Adapun pikiranmu apa sudah masuk apa belum, kalau belum


katakan, mumpung ada di depanku, kalau belum sungguh aku masih
sanggup,

memberi nasihat agar bisa masuk ke pikiranmu. Jangan khawatir


engkau asal aku masih hidup, tidak kerepotan kalau engkau hanya
minta pengajaran.

Lalu berkata Budaya dengan menunduk, begini perkataannya,


kepada Sang Pendeta Yatnajati, “Semoga menjadi periksa,

hati hamba serta saudara semua, sekarang sudah terang, tidak ada
yang menutupi, ketika sudah menerima nasihat paduka.”

“Yang tertinggal rasa di hati seperti disiram, air penyembuh,


penghidupan orang sedunia, dingin sejuk gembira rasanya.”

“Seumpama seperti keadaan pohon yang layu, ketika musim


kemarau, rontok daunnya gundul, ketika sudah terkena derasnya
sang hujan,

pohonnya segar sembuh tak layu.” “Sudah merasa hidup, karena


mendapat kekuatan air, seperti bangun bangkit dari pingsan.”

Menyambung perkataan Sang Pendeta Yatnajati, yang dituju dari


sabdanya, kepada siswa Karsaya, begini perintah Sang Maha Guru.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 116

“Hai siswaku bagaimana penerimaanmu, nsihatku, perkata


penggambaran (kasih) Tuhan Yang Maha Benar, sekiranya apa
sudah jelas?”

Kalau sudah bisa melekat semua, sangat suka dalam (hati)ku,


karena semua menguasai (ilmu) yang lembut.
Karsaya menjawab perkataannya begini,

“Duh aduh Sang Guru azimat hamba, semua nasihat paduka yang
hamba terima, sepertinya tak ada yang tercecer.”

“Barangkali sudah dikuasakan oleh Tuhan Maha Agung, hamba


dan para saudara menanggapi (dengan baik), nasihat paduka semua
yang dijabarkan.”

Kajian per kata:


Heh ta (hai) puthut (siswa) dadi (jadi) kawruhananmu (ketahuilah
kamu), sarehning (karena) samangkya (sekarang), wus (sudah) titi
(selesai) terang (jelas) baresih (bersih, habis), pituturku (nasihatku) mring
(kepada) sira (kamu) kang (yang) wus (sudah) kawahya (dijabarkan). Hai
siswaku jadi ketahuilah kamu, karena sekarang, sudah selesai jelas habis,
nasihatku kepadamu yang sudah dijabarkan.
Sudah disampaikan oleh Sang Pendeta Yatnajati tentang berbagai nasihat
untuk bekal kehidupan para siswa kelak. Sudah mendekati selesai segala
nasihat itu. Sang Pendeta ingin tahu apakah semua nasihat itu telah dicerap
dengan baik oleh kelima siswa.
De (adapun) pikirmu (pikiramu) apa (apa) carem (campur, masuk dalam
pikiran) apa (apa) durung (belum), yen (kalau) durung (belum) matura
(katakan), mumpung (mumpung) ana (ada) ngarsa (depan) kami (aku),
lamun (kalau) durung (belum) pan (sungguh) ingsun (aku) maksih
(masih) kaduga (sanggup), weh (memberi) pitutur (nasihat) mrih (agar)
bisa (bisa) carem (masuk) pikirmu (pikiranmu). Adapun pikiranmu apa
sudah masuk apa belum, kalau belum katakan, mumpung ada di depanku,
kalau belum sungguh aku masih sanggup, memberi nasihat agar bisa
masuk ke pikiranmu.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 117

Sang Pendeta bertanya apakah semua nasihat sudah masuk ke dalam


pikiran para siswa. Kalau belum mumpung masih di depan, mumpung
masih sempat, Sang Pendeta hendak kembali mengulang nasihat itu agar
benar-benar bisa masuk ke dalam pikiran.
Ywa (jangan) sumelang (khawatir) sira (engkau), uger (asal) aku (aku)
misih (masih) urip (hidup), nora (tidak) kewran (kerepotan) yen (kalau)
sira (engkau) mung (hanya) minta (minta) wulang (pengajaran). Jangan
khawatir engkau asal aku masih hidup, tidak kerepotan kalau engkau
hanya minta pengajaran.
Sang pendeta menyatakan kesanggupan untuk kembali mengajarkan
kepada para siswa dan merasa tidak kerepotan kalau hanya mengajarkan
kembali semua nasihat tadi.
Nulya (lalu) matur (berkata) Budaya (Budaya) sarwi (dengan) tumungkul
(menunduk), makaten (begini) aturnya (perkataannya), mring (kepada)
Sang (sang) Wiku (Pendeta) Yatnajati (Yatnajati), “Mugi-mugia
(semoga) andadosna (menjadi) uningan (tahu, periksa), manah (hati)
ulun (hamba) tanapi (serta) kadang (saudara) sadarum (semua),
samangke (sekarang) wus (sudah) padhang (terang), datan (tidak) wonten
(ada) kang (yang) ngalingi (menutupi), dupi (ketika) sampun (sudah)
nampi (menerima) warsita (nasihat) andika (paduka). Lalu berkata
Budaya dengan menunduk, begini perkataannya, kepada Sang Pendeta
Yatnajati, “Semoga menjadi periksa, hati hamba serta saudara semua,
sekarang sudah terang, tidak ada yang menutupi, ketika sudah menerima
nasihat paduka.”
Menanggapi hal itu Budaya mengatakan bahwa semua siswa telah paham
dan mengerti nasihat yang telah dijabarkan Sang Pendeta. Hati mereka kini
terbuka, tak ada tabir kegelapan yang menutupi. Pandangan mereka terang
benderang.
“Ingkang (yang) kantun (tinggal) raosing (rasa di) tyas (hati) lir (seperti)
ginrujug (disiram), kang (yang) tirta (tirta) nirmala (penyembuh),
panggesangnya (penghidupan) wong (orang) sabumi (sedunia), adhem
(dingin) asrep (sejuk) sumyah (gembira) rasanira (rasanya).” “Yang
tertinggal rasa di hati seperti disiram, air penyembuh, penghidupan orang
sedunia, dingin sejuk gembira rasanya.”

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 118

Perasaan mereka sejuk, seperti disiram air dingin penyembuh yang


memberi kehidupan kepada seluruh makhluk di dunia.
“Pindhanipun (seumpama) kadyangganing (seperti keadaan) wit (pohon)
kang (yang) alum (layu), duk (ketika) mangsa (musim) katiga (kemarau),
ngaretek (rontok) ronya (daunya) barindhil (gundul), dupi (ketika)
sampun (sudah) kataman (terkena) dresing (derasnya) sang (sang) warsa
(hujan), uwitipun (pohonnya) seger (segar) waluya (sembuh) tan (tak)
alum (layu).” “Seumpama seperti keadaan pohon yang layu, ketika musim
kemarau, rontok daunnya gundul, ketika sudah terkena derasnya sang
hujan, pohonnya segar sembuh tak layu.”
Nasihat Sang Pendeta ibarat air yang menyiram tanaman di musik
kemarau, dikala tanaman sedang layu hampir mati. Nasihat itu seperti air
hujan yang deras, yang dengan seketika membuat pohon-pohon sembuh
dari kelayuan, kemudian bangkit tumbuh lagi.
“Wus (sudah) rumaos (merasa) gesang (hidup), wit (karena) pantuk
(mendapat) dayaning (kekuatan) warih (air), kadya (seperti) tangi
(bangun) garegah (bangkit) saking (dari) kantaka (pingsan).” “Sudah
merasa hidup, karena mendapat kekuatan air, seperti bangun bangkit dari
pingsan.”
Sudah terasa segar kembali pohon-pohon itu oleh kekuatan air kehidupan,
laksana bangun dari pingsan. Perumpamaan atau saloka yang digambarkan
oleh Budaya mengumpamakan para siswa sebagai pohon layu di tengah
musim kemarau, begitu mendapat siraman nasihat dari Sang Pendeta
langsung bangun seketika menjadi segar kembali.
Nambung (menyambung) wuwus (perkataan) ri Sang (Sang) Yatnajati
(Yatnajati) Wiku (Pendeta), tujuning (yang dituju) kang sabda
(perkataannya), dhawuh (perintah) mring (kepada) Karsaya (Karsaya)
cantrik (siswa), pan makaten (demikian) dhawuhnya (perintah) Sang
(Sang) Maha (Maha) Dwija (Guru). Menyambung perkataan Sang
Pendeta Yatnajati, yang dituju dari sabdanya, kepada siswa Karsaya,
begini perintah Sang Maha Guru.
Sang Pendeta menyambung perkataan Budaya. Kali ini ditujukan kepada
Karsaya, siswa yang lain.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 119

“Heh (Hai) puthut (siswa) paran (bagaimana) panampi (penerimaan)


nireku (kamu), warsita (nasihat) manira (aku), bab (perkata)
gancaraning (penjelasan tentang) Hyang (Tuhan) Widhi (Maha Benar),
sakirane (sekiranya) apapawa (apa) wus (sudah) trewaca (jelas)?” “Hai
siswaku bagaimana penerimaanmu, nasihatku, perkata penggambaran
(kasih) Tuhan Yang Maha Benar, sekiranya apa sudah jelas?”
Kepada Karsaya Sang Pendeta menanyakan apakah penjelasan terakhir
tentang sifat kasih Tuhan Yang Maha Benar sudah dipahami dengan baik.
Dene (kalau) yen (sudah) wus (sudah) bisa (bisa) cumanthel (melekat)
sadarum (semua), dahat (sangat) sukaning (suka dalam) wang (aku), de
(karena) padha (semua) mengku (menguasai) lulungit (ilmu yang
lembut).” Kalau sudah bisa melekat semua, sangat suka dalam (hati)ku,
karena semua menguasai (ilmu) yang lembut.
Kalau mereka semua sudah dapat memahami Sang Pendeta merasa sangat
suka dalam hatinya, karena para siswa telah dapat mencerna penjelasan
yang rumit dan lembut yang memerlukan ketelitian.
Pan Karsaya (Karsaya) mangsuli (menjawab) matur (berkata) makaten
(begini), “Dhuh-dhuh (Duh) adhuh (aduh) Sang (Sang) Dwija (guru)
jijimat (azimat) ulun (hamba), saliring (semua) warsita (nasihat), andika
(paduka) kang (yang) ulun (hamba) tampi (terima), kados-kados
(sepertinya) tan (tak) wonten (ada) ingkang (yang) katriwal (tercecer).”
Karsaya menjawab perkataannya begini, “Duh aduh Sang Guru azimat
hamba, semua nasihat paduka yang hamba terima, sepertinya tak ada
yang tercecer.”
Karsaya menyatakan bahwa tak satupun nasihat yang disampaikan oleh
Sang Guru tidak mereka pahami. Semua sudah diikat dalam ingatan dan
dipahami maknanya.
Mbok bilih (barangkali) wus (sudah) kinodrat (dikuasakan) dening (oleh)
Hyang (Tuhan) Ngagung (Maha Agung), kula (hamba) lan (dan) pra
(para) kadang (saudara), jer wus (sudah) pinasthi (dipastikan) nanggapi
(menerima), warsitanta (nasihat paduka) sadaya (semua) ingkang (yang)
kawahya (dijabarkan).” “Barangkali sudah dikuasakan oleh Tuhan Maha
Agung, hamba dan para saudara menerima (dengan baik), nasihat paduka
semua yang dijabarkan.”

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 120

Karsaya menyatakan bahwa nasihat yang lembut dan memerlukan


pemahaman lebih tersebut dapat mereka terima karena kehendak Tuhan
yang memberikan mereka kekuatan untuk memahami nasihat tersebut.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 121

Kajian Kridhamaya (5:27-30): Jejering Kawula-Gusti


Pupuh 5, bait 27-30, Pocung (12u, 6a, 8i, 12a), Serat Kridhamaya karya R.
Ng. Ranggawarsita dari Surakarta Adiningrat.
Yata Sang Wiku dupi myarsa tur, wimbuh sukaning tyas, makaten
ngandikan malih, mring pra cantrik makaten andikanira,

saiki wus lega rayaning tyasingsun, mung kari sajuga, pituturku


mring sireki, miterangke jejering Gusti Kawula.

Siji iku tanggapen ywa kongsi kisruh, lah mara rungokna,


dakterangne ing samangkin”, cantrik gangsal umatur nuwun
sandika.

Sang Awiku malih ngandika arum, “Samengko sun murwa,


nerangke Kawula Gusti, piyarsakna amrih timbuling wasana.”

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Diceritakan Sang Pendeta ketika mendengar perkataan (para
siswa), bertambah suka dalam hati, demikian berkata lagi, kepada
para siswa begini sabdanya,

“Sekarang sudah lega rasa dalam hatiku, hanya tinggal satu,


nasihatku padamu, (yang) menerangkan posisi Tuhan dan hamba.”

“Yang satu itu terimalah jangan sampai kacau, lah dengarkanlah,


aku jelaskan sekarang,” siswa lima menyatakan siap sedia.

Sang Pendeta lagi-lagi berkata manis, “Sekarang aku mulai,


menjelaskan posisi hamba-Tuhan, dengarkanlah agar muncul di
kemudian.”

Kajian per kata:


Yata (diceritakan) Sang (Sang) Wiku (Pendeta) dupi (ketika) myarsa
(mendengar) tur (perkataan), wimbuh (bertambah) sukaning (suka dalam)
tyas (hati), makaten (demikian) ngandikan (berkata) malih (lagi), mring
(kepada) pra (para) cantrik (siswa) makaten (begini) andikanira

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 122

(sabdanya), “Saiki (sekarang) wus (sudah) lega (lega) rasaning (rasa


dalam) tyasingsun (hatiku), mung (hanya) kari (tinggal) sajuga (satu),
pituturku (nasihatku) mring (pada) sireki (kamu), miterangke
(menerangkan) jejering (posisi) Gusti (Tuhan) kawula (hamba).
Diceritakan Sang Pendeta ketika mendengar perkataan (para siswa),
bertambah suka dalam hati, demikian berkata lagi, kepada para siswa
begini sabdanya, “Sekarang sudah lega rasa dalam hatiku, hanya tinggal
satu, nasihatku padamu, (yang) menerangkan posisi Tuhan dan hamba.”
Sang Pendeta sangat bertambah-tambah suka hatinya ketika mendengar
murid-murid menyatakan telah memahami semua nasihat yang
disampaikan. Sekarang tinggal satu lagi nasihat yang masih tersisa dan
yang satu ini teramat penting.
“Siji (satu) iku (itu) tanggapen (terimalah) ywa (jangan) kongsi (sampai)
kisruh (kacau), lah (lah) mara rungokna (dengarkanlah), dakterangne
(aku jelaskan) ing (pada) samangkin (sekarang)”, cantrik (siswa) gangsal
(lima) umatur (menyatakan) nuwun sandika (siap sedia). “Yang satu itu
terimalah jangan sampai kacau, lah dengarkanlah, aku jelaskan
sekarang,” siswa lima menyatakan siap sedia.
Sang Pendeta menyuruh agar para siswa benar-benar memperhatikan
nasihat yang satu ini. Jangan sampai kacau atau salah dalam menerima.
Sang (Sang) Awiku (Pendeta) malih (lagi) ngandika (berkata) arum
(manis), “Samengko (sekarang) sun (aku) murwa (mulai), nerangke
(menjelaskan) Kawula (hamba) Gusti (Tuhan), piyarsakna (dengarkanlah)
amrih (agar) timbuling (munculnya) wasana (kemudian).” Sang Pendeta
lagi-lagi berkata manis, “Sekarang aku mulai, menjelaskan posisi hamba-
Tuhan, dengarkanlah agar muncul di kemudian.”
Sang Pendeta memulai menerangkan tentang posisi hamba-Tuhan dan
relasi antara keduanya.
Timbuling wasana, muncul di kemudian yang dimaksud adalah munculnya
pemahaman dalam pikiranmu. Namun kata itu juga mengandung
pengertian muncul ke permukaan atau kumambang. Ini adalah isyarat akan
masuk pupuh Maskumambang dalam bait berikutnya.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 123

PUPUH KEENAM

MASKUMAMBANG

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 124

Kajian Kridhamaya (6:1-11): Pamoring Kawula lan Gusti


Pupuh 6, bait 1-11, Maskumambang (12i, 6a, 8i, 8a), Serat Kridhamaya
karya R. Ng. Ranggawarsita dari Surakarta Adiningrat.
Kang kasebut Kawula iku ta kaki, panca driya gesang, raraketan
lawan dhiri, cinancang sarining wanta.

Wahananane napas sira kang sajati, de sarining tirta, wahanane


yeku getih, kang nyrambahi angganira.

Kang katelu ingaranan sarining agni, dene wahanane, rasa karasa


sejati, dupi talinya wus wudhar.

Pancadriya gesang pisah lawan dhiri, laju bali marang, asale


purwa kang nguni, manjing alam langgeng laya.

Nora owah tetep ing salami-lami, tan kena cinandra, dunung


panggonanireki, ananging uga karuhun.

Kang mangkono wus tetep Kawula-yekti, kena ingaranan, mawor


roroning ngatunggal, lan menenging pancadriya.

Satelenging meneng pan jumeneng ening, eling dumeling tan lali,


mobah rasaning Hyang Suksma.

Myarsa ganda wuninga tanpa piranti, sugeng salawasnya


langgeng suci nora gingsir, ngebeki rat angganira.

Anguripi sakehing titah donyeki, bisa nukseng malembat, cilik tan


kena tinitik, cedhak tur nora singgolan.

Anira dhingini sagung dumadi, kawawa manuksma, nora sesek


ing ngarempit, datan logro ing ngajembar.

Yen wujud dalem buta tan kena jinimpit, adoh tanpantara, cedhak
rumaket neng dhiri, yeku Pangeran sanyata.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 125

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Yang disebut kawula itu anakku, lima indera kehidupan, dekat
dengan diri. Diikat pada sari-sari angin,

sarananya nafasmu yang sejati. Adapun sari dari air, sarananya


yaitu darah, yang merambah seluruh badanmu.

Yang ketiga disebut sari dari api, adapun sarananya, rasa terasa
sejati. Ketika taliya sudah lepas,

pancaindera hidup berpisah dengan diri, lalu terus kembali kepada,


asalnya mula-mula dahulu, masuk ke alam kelanggengan (baka).

Tidak berubah tetap pada waktu selamanya, tak bisa digambarkan,


tempat tinggalnya, adanya juga dahulu.

Yang demikian sudah pasti hamba sungguh bisa disebut bercampur


dua menjadi satu. Dan diamnya pancaindera,

di dalam diam sungguh berdiam diri hening. Ingat terngiang tak


lupa, bergerak seolah sifatnya seperti sifat Tuhan Yang Maha Suci.

Mendengar mencium melihat tanpa sarana. Hidup selamanya


langgeng suci tidak berubah, memenuhi seluruh tubuhmu.

Menghidupi semua makhluk dunia ini, bisa bersifat lembut, kecil tak
bisa dikenali, dekat dan juga tak bersenggolan.

Adanya mendahului segenap yang ada, sanggup menyesuaikan


tempat, tidak sesak di tempat sempit, tidak longgar di papan luas.

Kalau berwujud lembut tak bisa dijumput, jauh tanpa antara, dekat
melekat dalam diri, yaitu Tuhan sejati.

Kajian per kata:


Kang (yang) kasebut (disebut) Kawula (kawula, hamba) iku (itu) ta kaki
(anakku), panca (lima) driya (indera) gesang (kehidupan), raraketan

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 126

(dekat) lawan (dengan) dhiri (diri). Yang disebut kawula itu anakku, lima
indera kehidupan, dekat dengan diri.
Yang disebut dengan kawula itu adalah lima panca indera kehidupan.
Letaknya dekat dengan dirimu. Melekat pada tubuhmu.
Cinancang (diikat) sarining (sari-sari) wanta (angin), wahananane
(sarananya) napas (nafas) sira (kamu) kang (yang) sajati (sejati). Diikat
pada sari-sari angin, sarananya nafasmu yang sejati.
Menyatu karena diikat dengan sari-sari angin, sarana pengikatnya adalah
nafasmu yang sejati.
De (adapun) sarining (sari dari) tirta (air), wahanane (sarananya) yeku
(yaitu) getih (darah), kang (yang) nyrambahi (merambah) angganira
(badanmu). Adapun sari dari air, sarananya yaitu darah, yang merambah
seluruh badanmu.
Adapun sari-sari dari air, sarana pengikatnya yaitu darah, yang mengalir
merambah ke seluruh badanmu.
Kang (yang) katelu (ketiga) ingaranan (disebut) sarining (sari dari) agni
(api), dene (adapun) wahanane (sarananya), rasa (rasa) karasa (terasa)
sejati (sejati). Yang ketiga disebut sari dari api, adapun sarananya, rasa
terasa sejati.
Yang ketiga disebut sari-sari dari api, adapun sarana pengikatnya adalah
rasa yang terasa sejati.
Dupi (ketika) talinya (talinya) wus (sudah) wudhar (lepas), pancadriya
(panca indera) gesang (hidup) pisah (berpisah) lawan (dengan) dhiri
(diri), laju (terus) bali (kembali) marang (kepada), asale (asalnya) purwa
(mula-mula) kang nguni (dahulu), manjing (masuk) alam (ke alam)
langgeng (baka) laya (kematian). Ketika taliya sudah lepas, pancaindera
hidup berpisah dengan diri, lalu terus kembali kepada, asalnya mula-mula
dahulu, masuk ke alam kelanggengan (baka).
Ketika tali pengikat itu lepas, panca indera kehidupan berpisah dengan
diri, lalu terus kembali kepada tempat asalnya mula-mula. Yakni alam
kelanggengan atau alam keabadian.
Nora (tidak) owah (berubah) tetep (tetap) ing (pada) salami-lami
(selamanya), tan (tak) kena (bisa) cinandra (digambarkan), dunung

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 127

(tempat) panggonanireki (tinggalnya), ananing (adanya) uga (juga)


karuhun (dahulu). Tidak berubah tetap pada waktu selamanya, tak bisa
digambarkan, tempat tinggalnya, adanya juga dahulu.
Setelah kembali keadaannya tetap tidak berubah selama-lamanya.
Keadaannya tak bisa digambarkan, tempatnya tidak bisa disebutkan,
adanya juga dahulu. Ini merujuk kepada ruh yang ditiupkan Tuhan ke
dalam diri manusia ketika manusia belum dilahirkan. Bahwa ruh tersebut
asalnya dari Tuhan dan mempunyai sifat-sifat ketuhanan, yakni bukan
bersifat materi sebagaimana jasad manusia. Keberadaan ruh dalam diri
manusia diikat dengan tiga tali tersebut, angin yang manifestasinya nafas,
sir yang manifestasinya dan api yang manifestasinya adalah rasa.
Kang (yang) mangkono (demikian) wus (sudah) tetep (tetap, pasti)
Kawula (hamba) yekti (sungguh), kena (bisa) ingaranan (disebut), mawor
(bercampur) roroning (dua dalam) ngatunggal (satu). Yang demikian
sudah pasti hamba sungguh bisa disebut bercampur dua menjadi satu.
Keadaan yang digambarkan dalam bait-bait ini adalah keadaan relasi
antara hamba dan Tuhan yang dalam filosofi Jawa disebut Pamoring
Kawula Gusti. Sering pula disebut secara salah kaprah dengan
manunggaling kawula-Gusti. Padahal dalam beberapa literatur Jawa yang
sudah banyak kita kaji istilah yang sering dipakai adalah Pamoring
Kawula Gusti. Istilah ini juga disebut dalam Serat Wulangreh dan Serat
Wedatama. Juga diuraikan dalam Suluk Residriya, Serat Wedharaga, dan
lain-lain. Kita lanjutkan.
Lan (dan) menenging (diamnya) pancadriya (panca indera), satelenging
(di dalam) meneng (diam) pan (sungguh) jumeneng (berdiam diri) ening
(hening). Dan diamnya pancaindera, di dalam diam sungguh berdiam diri
hening.
Keadaan demikian membuat manusia menjadi tempat diamnya sifat-sifat
ketuhanan. Dia ada di dalam pusat kesadaran manusia (telenging), berdiam
dalam keheningan.
Eling (ingat) dumeling (terngiang) tan (tak) lali (lupa), mobah (begerak)
rasaning (serasa) Hyang (Tuhan) Suksma (Yang Maha Suci). Ingat
terngiang tak lupa, bergerak seolah sifatnya seperti sifat Tuhan Yang
Maha Suci.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 128

Dalam hening itulah kesadaran manusia tercapai. Jika seseorang berhasil


mencapai kesadaran terdalam melalui samadi (kontemplasi) maka akan
terasa kehadiran Tuhan Yang Maha Suci. Maka samadi atau kontemplasi
juga sering disebut berzikir artinya mengingat. Yakni mengingat diri pra-
penciptaan, diri yang diikat dalam tubuh manusia. Sehingga sifat-sifat
kebaikan yang merupakan sifat Tuhan akan menjelma atau
termanifestasikan dalam diri manusia, mewujud dalam tindakan sehari-
hari yang berupa perilaku yang baik, akhlakul karimah.
Myarsa (mendengar) ganda (mencium) wuninga (melihat) tanpa (tanpa)
piranti (piranti, sarana). Mendengar mencium melihat tanpa sarana.
Orang yang sudah mencapai tahap demikian maka dia bukan lagi dirinya
sendiri, tetapi sudah menjadi manifestasi dari Tuhannya. Dia bertindak
atas nama dan untuk Tuhan. Ketika dia mendengar, mencium, melihat
maka dia bisa melakukan tanpa piranti karena sesungguhnya dia sudah
lebur dalam keagungan Tuhan. Dirinya sendiri telah fana’, yang ada hanya
Dia yang Maha Suci.
Sugeng (hidup) salawasnya (selamanya) langgeng (langgeng) suci (suci)
nora (tidak) gingsir (berubah), ngebeki (memenuhi) rat (seluruh)
angganira (tubuhmu). Hidup selamanya langgeng suci tidak berubah,
memenuhi seluruh tubuhmu.
Hidupnya akan selalu dipenuhi sifat-sifat ketuhanan yang memenuhi
seluruh badannya. Kalau dalam filosofi Jawa Pamoring Kawula Gusti,
sifat Tuhan digambarkan mendominasi dalam diri manusia. Sering
diumpamakan dengan pohon cendana, yakni pohon yang wanginya
memenuhi seluruh batang pohon dari akar sampai daun-daunnya.
Anguripi (menghidupi) sakehing (semua) titah (makhluk) donyeki (dunia
ini), bisa (bisa) nukseng (bersifat) malembat (lembut), cilik (kecil) tan
(tak) kena (bisa) tinitik (dikenali), cedhak (dekat) tur (dan juga) nora
(tidak) singgolan (bersenggolan). Menghidupi semua makhluk dunia ini,
bisa bersifat lembut, kecil tak bisa dikenali, dekat dan juga tak
bersenggolan.
Orang yang sudah mencapai tahap tersebut akan menjadi penyebar rahmat
bagi manusia lain. Seumpama pohon cendana tadi yang selalu
menyebarkan bau harum sehingga membuat orang suka dan mendekat,

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 129

maka demikian pula orang yang telah mencapai keadaan pamoring kawula
Gusti, akan senantiasa menyebarkan kebaikan sehingga orang sekitarnya
merasa nyaman.
Ananira (adanya) dhingini (mendahului) sagung (segenap) dumadi (yang
ada), kawawa (sanggup) manuksma (menyesuaikan tempat), nora (tidak)
sesek (sesak) ing (di) ngarempit (tempat sempit), datan (tidak) logro
(longgar) ing (di) ngajembar (luas). Adanya mendahului segenap yang
ada, sanggup menyesuaikan tempat, tidak sesak di tempat sempit, tidak
longgar di papan luas.
Dia bisa mengolah keadaan apapun sesuai kondisi di sekitarnya. Serba
enak dan tidak kerepotan. Di tempat sempit tidak sesak, di tempat luas
tidak longgar.
Yen (kalau) wujud (berwujud) lembuta (lembut) tan (tak) kena (bisa)
jinimpit (dijumput), adoh (jauh) tanpantara (tanpa antara), cedhak (dekat)
rumaket (melekat) neng (dalam) dhiri (diri), yeku (yaitu) Pangeran
(Tuhan) sanyata (sejati). Kalau berwujud lembut tak bisa dijumput, jauh
tanpa antara, dekat melekat dalam diri, yaitu Tuhan sejati.
Kalau berwujud lembut tak bisa dijumput, kalau jauh tak terasa ada jarak
antara, kalau dekat tak menyenggol. Dia dekat dalam diri. Itulah sifat-sifat
Tuhan yang sejati.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 130

PUPUH KETUJUH

KINANTHI

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 131

Kajian Kridhamaya (7:1-6): Lir Siniram Tirta Sawindu


Pupuh 7, bait 1-6, Maskumambang (12i, 6a, 8i, 8a), Serat Kridhamaya
karya R. Ng. Ranggawarsita dari Surakarta Adiningrat.
“Kapriye kanthine puthut, nggonira padha nanggapi, warsita kang
limang ebab, baya wus samya nyakupi?” Yata wau pun Jiwata,
mangsuli umatur ris.

“Dhuh-dhuh sang Maha Wiku, mugi andadosna uning, pun dasih


lawan pra kadang, dupi anampeni wangsit, andika ingkang
pungkasan, raosing tyas ulun kadi.

siniram tirta sawindhu. Adhem asrep anyrambahi, marang


saranduning angga. Sanadyan pra kadang ugi, pan makaten
ciptanira, cocog sami tan nalisir.

Ingkang mekaten puniku, wau tetela yen antuk sih,


kanugrahaning Pangeran, tinurunan wahyu gaib, kinodrat dening
Hyang Sukma. Kula lan pra kadang sami,

wus tinakdir ing Hyang Agung, kalamun saged nampeni, warsita


ndika Sang Dwija. Mboten langkung mugi-mugi, angsala barkah
andika, lulus ing salami-lami.

Sageda awet lestantun, nggen kula ndherek Sang Yogi, neng


donya prapteng delahan, tan sumedya angoncati. Makaten
ubayeng driya driya, kadang-kadang kula sami.”

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Bagaimana denganmu siswa(ku), dalam engkau semua menerima,
nasihat yang lima perkara, apakah sudah semua mencakup (nasihat
itu). Diceritakan Si Jiwita, menjawab dengan berkata pelan,

“Duh aduh Sang Maha Pendeta, semoga menjadikan periksa,


hamba dan para saudara, ketika menerima nasihat, paduka yang
terakhir, rasa dalam hati hamba seperti,

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 132

disiram air sewindu. Dingin sejuk memenuhi, pada sekujur badan.


Walaupun para saudara juga, demikian pendapatnya, cocok sama
tak berselisih.

Yang demikian itu, terbukti kalau mendapat kasih anugrah dari


Tuhan, diturunkan wahyu gaib, diberi kuasa oleh Tuhan Maha Suci.
Hamba dan para saudara semua,

sudah ditakdirkan oleh Tuhan Yang Agung, kalaupun bisa


menerima, nasihat paduka Sang Guru. Tak lebih semoga, mendapat
berkah paduka, langgeng selama-lamanya,

bisa awet lestari, dalam hamba ikut Sang Pendeta, di dunia sampai
di akhirat, tak hendak meninggalkan. Demikian janji hati, saudara-
saudara dan hamba semuanya.”

Kajian per kata:


“Kapriye (bagaimana) kanthine (dengan) puthut (siswa), nggonira (dalam
engkau) padha (semua) nanggapi (menerima), warsita (nasihat) kang
(yang) limang (lima) ebab (perkara), baya (apa) wus (sudah) samya
(semua) nyakupi (mencakup)?” Bagaimana denganmu siswa(ku), dalam
engkau semua menerima, nasihat yang lima perkara, apakah sudah semua
mencakup (nasihat itu).
Sang Pendeta menanyakan kepada para siswa, bagaimana keadaan para
siswa setelah menerima nasihat yang lima perkara. Apakah bisa
memahami dengan baik semua nasihat yang telah disampaikan tadi?
Apakah kelimanya bisa tercakup tanpa ada yang tertinggal?
Yata wau (diceritakan) pun (Si) Jiwita (Jiwita), mangsuli (menjawab)
umatur (berkata) ris (pelan), “Dhuh-dhuh (duh-aduh) sang (Sang) Maha
(Maha) Wiku (Pendeta), mugi (semoga) andadosna (menjadikan) uning
(periksa), pun dasih (hamba) lawan (dan) pra (para) kadang (saudara),
dupi (ketika) anampeni (menerima) wangsit (nasihat), andika (paduka)
ingkang (yang) pungkasan (terakhir), raosing (rasa dalam) tyas (hati)
ulun (hamba) kadi (seperti), siniram (disiram) tirta (air) sawindhu
(sewindu).” Diceritakan Si Jiwita, menjawab dengan berkata pelan, “Duh
aduh Sang Maha Pendeta, semoga menjadikan periksa, hamba dan para

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 133

saudara, ketika menerima nasihat, paduka yang terakhir, rasa dalam hati
hamba seperti, disiram air sewindu.
Si Jiwita menyatakan bahwa dia telah menerima dengan baik semua
nasihat yang disampaikan. Mereka kini merasa sangat tenang dan bahagia,
seperti keadaan orang yang mandi dengan air yang didinginkan selama
sewindu. Artinya merasa sangat sejuk dan nyaman dalam hati.
Adhem (dingin) asrep (sejuk) anyrambahi (memenuhi), marang (pada)
saranduning (sekujur) angga (badan). Dingin sejuk memenuhi, pada
sekujur badan.
Kesejukan itu memenuhi seluruh tubuh, merata ke sekujur badan. Rasanya
ces, sangat dingin. Dingin yang menyejukkan.
Sanadyan (walaupun) pra (para) kadang (saudara) ugi (juga), pan
makaten (demikian) ciptanira (pendapatnya), cocog (cocok) sami (sama)
tan (tak) nalisir (berselisih). Walaupun para saudara juga, demikian
pendapatnya, cocok sama tak berselisih.
Demikian pula para saudara-saudara seperguruan Jiwita yang lain,
perasaannya sama dengannya. Tidak ada yang berselisih, semua telah
memahami dan merasa bahwa nasihat itulah yang mereka butuhkan
sebagai pedoman hidup kelak.
Ingkang (yang) mekaten (demikian) puniku (itu), wau (tadi) tetela
(terbukti, ternyata) yen (kalau) antuk (mendapat) sih (kasih),
kanugrahaning (anugrah dari) Pangeran (Tuhan), tinurunan
(diturunkan) wahyu (wahyu) gaib (gaib), kinodrat (diberi kuasa) dening
(oleh) Hyang (Tuhan) Sukma (Maha Suci). Yang demikian itu, terbukti
kalau mendapat kasih anugrah dari Tuhan, diturunkan wahyu gaib, diberi
kuasa oleh Tuhan Maha Suci.
Mereka semua merasa bersyukur karena ternyata mendapat anugrah dari
Tuhan Yang Maha Kuasa, yakni mendapat nasihat dari Sang Pendeta dan
mereka mampu memahaminya dengan baik.
Kula (hamba) lan (dan) pra (para) kadang (saudara) sami (semua), wus
(sudah) tinakdir (tidakdirkan) ing (oleh) Hyang (Tuhan) Agung (Maha
Agung), kalamun (kalau) saged (bisa) nampeni (menerima), warsita
(nasihat) ndika (paduka) Sang (Sang) Dwija (Guru). Hamba dan para

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 134

saudara semua, sudah ditakdirkan oleh Tuhan Yang Agung, kalaupun bisa
menerima, nasihat paduka Sang Guru.
Mereka semua merasa bahwa itu takdir Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika
bukan mereka takkan mampu untuk memahami nasihat itu dengan baik.
Mboten (tak) langkung (lebih) mugi-mugi (semoga), angsala (mendapat)
barkah (berkah) andika (paduka), lulus (langgeng) ing (pada) salami-
lami (selamanya), sageda (bisa) awet (awet) lestantun (lestari), nggen
(dalam) kula (hamba) ndherek (ikut) Sang (Sang) Yogi (Pendeta), neng
(di) donya (dunia) prapteng (sampai) delahan (akhirat), tan (tak)
sumedya (hendak) angoncati (meninggalkan). Tak lebih semoga,
mendapat berkah paduka, langgeng selama-lamanya, bisa awet lestari,
dalam hamba ikut Sang Pendeta, di dunia sampai di akhirat, tak hendak
meninggalkan.
Jiwita menyampaikan harapan agar selalu mendapat berkah dari Sang
Guru, dapat terus mengabdi selama-lamanya. Sampai akhir kehidupan
dunia tetaplah menjadi pengikut Sang Pendeta.
Makaten (demikian) ubayeng (janji) driya driya (hati), kadang-kadang
(saudara-saudara) kula (hamba) sami (semua).” Demikian janji hati,
saudara-saudara dan hamba semuanya.”
Demikian pernyatan para siswa yang diwakili oleh Jiwita.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 135

Kajian Kridhamaya (7:7-14): Titi Warsitaning Yogi


Pupuh 7, bait 7-14, Maskumambang (12i, 6a, 8i, 8a), Serat Kridhamaya
karya R. Ng. Ranggawarsita dari Surakarta Adiningrat.
Yata wau Sang Wiku , duk myarsa turira cantrik, sumedhot
jroning wardaya, wasana ngandika aris, “Lah cantrik lima sadaya,
aturmu kang wus kawiji,

banget panarimaning sun, de sira padha darbeni, tyas setya kaya


mangkana. Yekti bakal taktimbangi, asih tresna marang sira,
timbange setyanireki.

Kajaba ta iku puthut, rehning wus antara lami, nggonmu ngadhep


neng ngraseng wang, lahya yo bubaran sami, wis padha sira
ngasoa sun arsa nungku samad.

Pra cantrik bubaran sampun, sosowangan samya mulih, wau ta


Risang Pandhita, gya mangsa muja semadi, miminta sihing
Bathara ywa ana sangsayeng dhiri.

Kandhane prasarjana nung, kabeh manungswa yen mamrih,


rahayun gesangira, ngantepna mulyaning budi, nindakna alusing
tingkah puntoning tyas ywa gumingsir.

Rasakna sajroning kalbu, den prastawa bab kang titi, angger-


anggering Pangeran, ngadat wataking dumadi, beraten budi kang
nistha, ijolan kang utami.

Kipatna den kongsi jauh, rong bedahat mrih ywa bali, galo keh
tuladhanira, warnane janma kang nyingkir, sinau mulyaning
budaya, tangeh lamun bisa becik.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Diceritakan Sang Pendeta, ketika mendengar perkataan siswa,
terharu dalam hati, akhirnya berkata pelan, “Lah para siswa lima
semua, perkataanmu yang sudah keluar,

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 136

sangat berterima kasih aku, karena engkau semua mempunyai, hati


setia seperti demikian. Sungguh akan kuimbangi, kasih-cinta
kepadamu, setimbang kesetiaanmu.

Selain itu siswa(ku), karena sudah beberapa lama, dalam engkau


menghadap di depanku, lah sekarang ayo bubar semua, sudah
semua engkau beristirahat aku hendak bersamadi.”

Para siswa bubar sudah, masing-masingsemua pulang, diceritakan


Sang Pendeta, segera bangkit puka samadi, meminta kasih Tuhan
jangan sampai terkena sengsara diri.

Kata para sarjana besar, semua manusia kalau ingin, selamat


hidupnya, peganglah yang mantap kemuliaan budi, lakukan
halusnya perilaku tujuan hati jangan bergeser.

Rasakan di dalam hati, yang awas dalam perkata yang teliti,


peraturan Tuhan, tentang watak dari manusia. Singkirkan watak
yang nista, tukar dengan yang utama.

Buanglah sampai jauh, dua bedahat agar jangan kembali. Lihatlah


banyak teladannya, macam-macam manusia yang menyingkir dari,
belajar memuliakan budi, mustahil kalau bisa baik.

Kajian per kata:


Yata wau (diceritakan) Sang (Sang) Wiku (Pendeta), duk (ketika) myarsa
(mendengar) turira (perkataan) cantrik (siswa), sumedhot (terharu)
jroning (dalam) wardaya (hati), wasana (akhirnya) ngandika (berkata)
aris (pelan), “Lah (lah) cantrik (siswa) lima (lima) sadaya (semua),
aturmu (perkataanmu) kang (yang) wus (sudah) kawiji (keluar), banget
(sanget) panarimaning (terima kasih) sun (ku), de (karena) sira (engkau)
padha (semua) darbeni (mempunyai), tyas (hati) setya (setia) kaya
(seperti) mangkana (demikian). Diceritakan Sang Pendeta, ketika
mendengar perkataan siswa, terharu dalam hati, akhirnya berkata pelan,
“Lah para siswa lima semua, perkataanmu yang sudah keluar, sangat
berterima kasih aku, karena engkau semua mempunyai, hati setia seperti
demikian.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 137

Sang Pendeta ketika mendengar pernyataan kesetiaan para siswanya


sangat terharu dalam hati. Beliau menyambut dengan rasa terima kasih
yang dalam. Tekad beliau akan selalu mengasihi para murid-murid yang
telah menunjukkan kesetiaan selama mengabdi sebagai siswa di
padepokan gunung Wahmaya.
Yekti (sungguh) bakal (akan) taktimbangi (kuimbangi), asih (kasih)
tresna (cinta) marang (kepada) sira (kamu), timbange (setimbang)
setyanireki (kesetiaanmu). Sungguh akan kuimbangi, kasih-cinta
kepadamu, setimbang kesetiaanmu.
Hidup beliau akan dihabiskan untuk terus membimbing para siswa dengan
cinta kasih, sebanding dengan kesetiaan para siswanya.
Kajaba ta (selain) iku (itu) puthut (siswa), rehning (karena) wus (sudah)
antara (beberapa) lami (lama), nggonmu (dalam engkau) ngadhep
(menghadap) neng (di) ngraseng (depan) wang (aku), lahya (lah) yo (ayo)
bubaran (bubar) sami (semua), wis (sudah) padha (semua) sira (engkau)
ngasoa (beristirahat) sun (aku) arsa (hendak) nungku samadi
(bersamadi).” Selain itu siswa(ku), karena sudah beberapa lama, dalam
engkau menghadap di depanku, lah sekarang ayo bubar semua, sudah
semua engkau beristirahat aku hendak bersamadi.”
Telah puas Sang Pendeta mengajarkan berbagai pelajaran berharga. Para
siswa telah menerima pelajaran dan nasihat itu dengan baik. Telah ada
kesanggupan para siswa untuk mengingat dan mengamalkannya selama
sisa hidup mereka. Telah pula Sang Pendeta mendengar pernyataan
kesetiaan para siswa untuk selalu mengikuti ajaran Sang Guru. Kini tiba
saatnya untuk istirahat. Esok kembali seluruh penghuni padepokan
melakukan tugas masing-masing. Sang Pendeta pun akan melaksanakan
kebiaasaannya di penghujung malam, yakni bersamadi memuja Tuhan.
Pra (para) cantrik (siswa) bubaran (bubar) sampun (sudah), sosowangan
(masing-masing) samya (semua) mulih (pulang), wau ta (diceritakan)
Risang (Sang) Pandhita (Pendeta), gya (segera) mangsa (bangkit) muja
(puja) semadi (samadi), miminta (meminta) sihing (kasih) Bathara
(Tuhan) ywa (jangan) ana (ada) sangsayeng (sengsara) dhiri (diri). Para
siswa bubar sudah, masing-masingsemua pulang, diceritakan Sang
Pendeta, segera bangkit puka samadi, meminta kasih Tuhan jangan
sampai terkena sengsara diri.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 138

Para siswa sudah bubar dan kembali ke pondok masing-masing. Sang


Pendeta pun menuju langgar pamujan untuk berkhalwat dengan Tuhannya,
meminta belas kasih untuk keselamatan seluruh penghuni padepokan agar
dijauhkan dari kesengsaraan.
Kandhane (kata) prasarjana (para sarjana besar) nung (besar), kabeh
(semua) manungswa (manusia) yen (kalau) mamrih (ingin), rahayun
(selamat) gesangira (hidupnya), ngantepna (peganglah mantap)
mulyaning (kemuliaan) budi (budi, watak), nindakna (lakukan) alusing
(halus, lembut) tingkah (perilaku) puntoning (akhir tujuan dari) tyas
(hati) ywa (jangan) gumingsir (bergeser). Kata para sarjana besar, semua
manusia kalau ingin, selamat hidupnya, peganglah yang mantap
kemuliaan budi, lakukan halusnya perilaku tujuan hati jangan bergeser.
Sudah menjadi pesan para sarjana besar, bahwa semua manusia kalau
ingin selamat hidupnya hendaknya memegang teguh upaya untuk
memuliakan budi. Melakukan perbuatan yang halus dan menetapkan
tujuan dengan pasti, tidak boleh bergeser oleh godaan dan ujian hidup.
Rasakna (rasakan) sajroning (di dalam) kalbu (hati), den prastawa (yang
awas) bab (perkara) kang (yang) titi (teliti), angger-anggering (peraturan)
Pangeran (tuhan), ngadat (adat kebiasaan) wataking (watak dari) dumadi
(makhluk, manusia). Rasakan di dalam hati, yang awas dalam perkata
yang teliti, peraturan Tuhan, tentang watak dari manusia.
Rasakan setiap dalam hati, yang awas dalam perkara-perkara yang rumit
dan membutuhkan ketelitian. Telah jelas peraturan Tuhan atau hukum
alam yang berlaku dalam watak manusia. Siapa yang bersungguh-sungguh
akan mendapatkan hasil. Maka dari itu jangan kendor dalam berupaya.
Beraten (singkirkan) budi (watak) kang (yang) nistha (nista), ijolan
(tukar dengan) kang (yang) utami (utama). Singkirkan watak yang nista,
tukar dengan yang utama.
Singkirkan segala watak yang buruk, nista, rendah, munkar, dan gantilah
dengan watak baik, mulia dan utama.
Kipatna (buanglah) den kongsi (sampai) jauh (jauh), rong (dua) bedahat
(bedahat) mrih (agar) ywa (jangan) bali (kembali). Buanglah sampai jauh,
dua bedahat agar jangan kembali.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 139

Buanglah jauh-jauh dengan perasaan jijik sejauh dua bedahat agar watak
buruk itu tak kembali lagi. Di gatra ini ada kata bedahat yang
menunjukkan satuan jarak. Kami belum tahu berapa jauh ukuran bedahat
itu.
Galo (lihat) keh (banyak) tuladhanira (teladannya), warnane (macam)
janma (manusia) kang (yang) nyingkir (menyingkir), sinau (belajar)
mulyaning (mulia dalam) budaya (budi), tangeh (mustahil) lamun (kalau)
bisa (bisa) becik (baik). Lihatlah banyak teladannya, macam-macam
manusia yang menyingkir dari, belajar memuliakan budi, mustahil kalau
bisa baik.
Lihatlah! Banyak teladan tentang watak manusia yang menyingkir dari
tindakan memuliakan diri. Dan mustahil bagi manusia itu bisa berubah
menjadi baik. Usaha terus menerus lah yang membuat kita berhasil
menyingkirkan watak buruk dan meraih watak utama. Karena itu jangan
kasih kendor! Selalu berusahalah menjadi orang berbudi mulia.

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 140

Kajian Kridhamaya (7:14-15): Panutup


Pupuh 7, bait 14-15, Maskumambang (12i, 6a, 8i, 8a), Serat Kridhamaya
karya R. Ng. Ranggawarsita dari Surakarta Adiningrat.
Pangiketing pustakeku, nuju ari isnen Legi, ping telulikur
tanggalnya, ing wulan jumadilakir, taun Dal mangsa kasapta,
windu sangara kang wajib.

Angka sewu wolungatus seket gangsal angleresi, wanci jam sedasa


enjing, nenggih sengkalaning warsi, tata wingnya ngesthi tunggal,
punika minangka pepeling.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Penulisan serat ini, kalau hari Senin Legi, tanggal dua puluh tiga, di
bulan Jumadilakir, tahun Dal mangsa ketujuh, windu Sangara yang
wajib.

Angka seribu delapan ratus lima puluh lima bertepatan, waktu jam
sepuluh pagi, yakni ditandai dengan sengkalan tahun, tata wignya
ngesthi tunggal (1855), ini sebagai pengingat.

Kajian per kata:


Pangiketing (Penulisan) pustakeku (serat ini), nuju (kala) ari (hari) isnen
(Senin) Legi (Legi), ping telulikur (keduapuluh tiga) tanggalnya
(tanggalnya), ing (di) wulan (bulan) jumadilakir (Jumadilakir), taun
(tahun) Dal (Dal) mangsa (mangsa) kasapta (ketujuh), windu (windu)
sangara (sangara) kang (yang) wajib (wajib). Penulisan serat ini, kalau
hari Senin Legi, tanggal dua puluh tiga, di bulan Jumadilakir, tahun Dal
mangsa ketujuh, windu Sangara yang wajib.
Penulisan serat ini selesai pada hari Senin Legi, tanggal 23 Jumadilakir,
tahun Dal, mangsa ketujuh, windu Sangara.
Angka (angka) sewu (seribu) wolungatus (delapan ratus) seket (lima
puluh) gangsal (lima) angleresi (bertepatan), wanci (waktu) jam (jam)
sedasa (sepuluh) enjing (pagi), nenggih (yakni) sengkalaning (sengkalan
dalam) warsi (tahun), tata (tata) wingnya (pengetahuan) ngesthi
(mengingat) tunggal (yang Satu), punika (ini) minangka (sebagai)

bambangkhusenalmarie.wordpress.com
Kajian Sastra Klasik Serat Kridhamaya, hal 141

pepeling (pengingat). Angka seribu delapan ratus lima puluh lima


bertepatan, waktu jam sepuluh pagi, yakni ditandai dengan sengkalan
tahun, tata wignya ngesthi tunggal (1855), ini sebagai pengingat.
Bertepatan dengan tahun 1855 AJ, pada waktu jam 10 pagi. Sebagai
penanda sang penulis memberi sengkalan tahun: tata wignya ngesthi
tunggal yang artinya: menata pengetahuan untuk mengingat yang Tunggal.
Kalimat itu juga mengandung angka tahun 1855 AJ.

Sekedar catatan untuk perhatian:


Jadi penulisan serat ini: 23 Jumadilakir 1855 AJ, jika dikonversi ke tahun
Masehi bertepatan dengan: 19 Januari 1925 AD. Maka dipastikan serat ini
bukan ditulis oleh Raden Ngabehi Ranggawarsita karena pada tahun
tersebut beliau telah meninggal. Ada kemungkinan bahwa angka tahun itu
merupakan tahun diterbitkannya Serat Kridhamaya ini dalam bentuk buku
cetak. Karena ada versi cetak dari serat ini, yakni terbitan Drukkerij
“CENTRAAL”, Solo, 1925. Dengan demikian dua bait penutup
merupakan tambahan dari penyalin serat aslinya. Wallahu a’lam. Pengkaji
belum meneliti secara khusus masalah ini. Namun yang umum diketahui
bahwa serat Kridhamaya merupakan karya R. Ng. Ranggawarsita.
Wassalam.

Mireng, 23 Juni 2019 AD.

Pengkaji
Bambang Khusen Al Marie

bambangkhusenalmarie.wordpress.com