Anda di halaman 1dari 71

i

SERI KAJIAN SASTRA KLASIK

SERAT SALOKATAMA
ii
iii

SERI KAJIAN SASTRA KLASIK

SERAT SALOKATAMA
KGPAA MANGKUNAGARA IV

TERJEMAH DAN KAJIAN DALAM BAHASA INDONESIA OLEH:


BAMBANG KHUSEN AL MARIE

2017
iv
v

KATA PENGANTAR

Sesuai namanya salokatama berisi perumpamaan-perumpamaan yang baik,


yang dapat kita ambil pelajaran darinya. Saloka artinya perumpamaan,
utama artinya sangat baik. Dalam serat ini ada beberapa perumpamaan
yang dikupas oleh Sri Mangkunagara IV sehingga hikmatnya dapat kita
pelajari.

Serat Salokatama terdiri dari 31 bait (pada) dengan tembang Mijil. Diawali
dengan nasihat pentingnya menjaga sikap dan mempertahankan harga diri.
Juga bagaimana sikap yang diambil agar diterima dalam pergaulan. Yang
pertama adalah piwulang untuk bersikap tidak sombong terhadap orang
lain. Sebisa mungking menyenangkan bagi orang lain dalam pergaulan
sehari-hari. Bila punya kelebihan tidak usah pamer dan bila bersalah
segeralah meminta maaf.

Yang kedua berisi nasihat apabila ingin meraih cita-cita atau mempunyai
keinginan yang besar, maka cara memperolehnya jangan dilakukan dengan
tergesa-gesa atau nggege mangsa. Lakukanlah usaha yang gigih dengan
tetep tekun dan tawakal agar diri kita pantas. Kelak bila sudah waktu bagi
kita layak untuk mendapatkan apa yang kita cita-citakan tersebut, maka
menjadi mudah untuk mendapatkannya. Perumpamaan yang dipakai
adalah seperti orang yang ingin memetik buah durian. Bila belum saatnya
matang akan sulit walau dipakai berbagai cara. Namun bila kita tekun
merawat si pohon durian sehingga besar dan waktunya berbuah, maka
durian yang matang akan jatuh sendiri.

Untuk lebih jelas dan agar mendapat limpahan kebijaksanaan dari Sri
Mangkunagara, silakan membaca hingga tuntas kajian Serat Salokatama
ini. Kami Pengkaji hanya menafsirkan berdasar apa yang tertulis dalam
serat ini. Akhirul kalam, semoga bermanfaat.

Mirenglor, 2 Nopember 2017, Bambang Khusen Al Marie.


vi
vii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR v
DAFTAR ISI vii
TRANSLITERASI ARAB-LATIN ix
TRANSLITERASI JAWA-LATIN x
PUPUH MIJIL 1
Kajian Salokatama (1:1): Milalu Milara Raga 2
Kajian Salokatama (2): Gege Mangsa Medhar Kasuran 4
Kajian Salokatama (3): Keh Kang Ngesemi 6
Kajian Salokatama (4): Alane Katongton 8
Kajian Salokatama (5): Nir Piyandelipun 10
Kajian Salokatama (6): Yen Tumitah Ping Kalih 12
Kajian Salokatama (7): Nora Tumitah Ping Kalih 14
Kajian Salokatama (8): Lampus Dhiri; Sinarang Sinirik 16
Kajian Salokatama (9): Luwih Aji Kethek Lutung 18
Kajian Salokatama (10): Pangruwating Dosa 20
Kajian Salokatama (11): Tata Krama Pangapura 1 22
Kajian Salokatama (12): Tata Krama Pangapura 2 24
Kajian Salokatama (13): Tobata Ing Batos 26
Kajian Salokatama (14): Abot Mrih Karahayon 28
Kajian Salokatama (15;16): Wus Jamak Lumuh Kasor 30
Kajian Salokatama (17;18): Nglalu Budi 33
Kajian Salokatama (19): Aywa Kaget ing Driya 36
Kajian Salokatama (20): Tampa Sasmitaning Gusti 38
Kajian Salokatama (21): Durung Wektune, Kaki 40
Kajian Salokatama (22): Lir Duryan Neng Wit 42
Kajian Salokatama (23): Becik Anyarehken Kapti 44
Kajian Salokatama (24): Aywa Kasreng ing Batos 46
Kajian Salokatama (25): Iku Wahyu Eblis! 48
Kajian Salokatama (26): Kang Wantah Lekase 50
Kajian Salokatama (27): Anyangking Tembung Arum 52
viii

Kajian Salokatama (28): Mrih Rahayuning Budi 54


Kajian Salokatama (29): Lestari Tan Sengsareng 56
Kajian Salokatama (30;31): Tan Teka Yen Mung Den Siri 58

PENUTUP 60
ix

Transliterasi Arab ke Latin

Untuk kata-kata Arab yang ditulis dalam huruf latin dan diindonesiakan,
tulisan ini memakai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Disempurnakan. Untuk kata-kata yang belum diindonesiakan bila ditulis
dalam huruf latin mempergunakan transliterasi sebagai berikut:

‫ = ا‬a, i, u ‫=ر‬r ‫ = غ‬gh


‫=ب‬b ‫=ز‬z ‫=ف‬f
‫=ت‬t ‫= س‬s ‫=ق‬q
‫ = ث‬ts ‫ = ش‬sy ‫=ك‬k
‫=ج‬j ‫ = ص‬sh ‫=ل‬l
‫=ح‬h ‫ = ض‬dl ‫=م‬m
‫ = خ‬kh ‫ = ط‬th ‫=ن‬n
‫=د‬d ‫ = ظ‬dh ‫=ؤ‬w
‫ = ذ‬dz ‫‘=ع‬ ‫=ه‬h
‫=ي‬y
x

Transliterasi Jawa ke Latin

Transliterasi kata-kata Jawa yang ditulis dalam hurf latin adalah sebagai
berikut.
= Ha = Da = Pa = Ma
= Na = Ta = Dha = Ga
= Ca = Sa = Ja = Ba
= Ra = Wa = Ya = Tha
= Ka = La = Nya = Nga
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 1

PUPUH

MIJIL
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 2

Kajian Salokatama (1:1): Milalu Milara Raga


Bait ke-1, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Wijiling kang pangripta purwaning,
myat ing rèh salah ton.
Kang milalu milara ragane,
lali wirang kasêrêng ing kapti.
Nir yitnanta dadi,
nistha têmahipun.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Munculnya sang pengarang awalnya,
(karena) melihat adanya salah pandangan.
Yang (merasa) lebih baik menyiksa tubuhnya,
melupakan malu (karena) terdorong keinginan.
Tanpa kehati-hatian menjadi,
hina pada akhirnya.

Kajian per kata:


Wijiling (keluarnya, munculnya) kang (yang, sang) pangripta (pengarang)
purwaning (awalnya), myat (melihat) ing rèh (dalam hal) salah (salah)
ton (pandangan). Munculnya sang pengarang awalnya, (karena) melihat
adanya salah pandangan.
Dalam versi lain kata purwaning (awalnya) berganti murwani
(mengawali). Yang kita pakai sebagai acuan dalam kajian ini adalah versi
Ki Padmasusastra dengan tetap memakai versi lain sebagai pembanding.
Kedua versi di atas tidak terlalu jauh maknanya. Walau demikian kami tak
akan menelusuri versi mana yang benar karena ini bukan kajian filologi.
Kami akan mengambil salah satunya tanpa pertimbangan ilmiah, agar
maksud mendapat pelajaran segera terwujud. Bila ternyata salah akan
kami ralat kemudian.
Asal mula, yang menjadi sebab munculnya sang pengarang dengan
menggubah serat ini adalah karena beliau melihat adanya pandangan yang
salah dalam masyarakat. Suatu praktik atau perbuatan yang lahir dari
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 3

pandangan yang salah itu terasa mengganggu sehingga beliau tergerak


untuk memberi nasihat melalui serat ini.
Kang (yang) milalu (lebih baik) milara (menyiksa) ragane (raganya,
tubuhnya), lali (lupa) wirang (malu) kasêrêng (terdorong) ing kapti
(keinginan). Yang (merasa) lebih baik menyiksa tubuhnya, melupakan
malu (karena) terdorong keinginan.
Yaitu pandangan yang membuat pelakunya merasa lebih baik menyiksa
raganya, melupakan rasa malu karena terdorong keinginan. Menyiksa raga
yang dimaksud adalah mengabaikan keselamatan dirinya, demi
memperturutkan keinginan hatinya. Mengabaikan pertimbangan kebaikan
untuk diri sendiri, bukan sekedar raga fisik tetapi juga harga diri dan
kehormatan. Abai terhadap pertimbangan rasa malu hanya agar
keinginannya tercapai.
Nir (tanpa) yitnanta (kehati-hatian) dadi (menjadi), nistha (hina)
têmahipun (pada akhirnya). Tanpa kehati-hatianmu menjadi, hina pada
akhirnya.
Demi tercapainya maksud hati kemudian berbuat tanpa kehati-hatian. Hal
ini tidak selayaknya dilakukan, hanya akan membuatnya menjadi hina
pada akhirnya.
Bait ini memberi nasihat agar dalam bertindak memenuhi keinginan hati
tetap mawas diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan yang
mempermalukan diri sendiri. Jangan sampai salah pikir sehingga salah
langkah. Karena akan membuat kerugian yang besar pada akhirnya.
Meninggalkan kehati-hatian akan menuai kehinaan.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 4

Kajian Salokatama (2): Gege Mangsa Medhar Kasuran


Bait ke-2, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Labet saking mudhadamèng budi,
digung lumuh kasor.
Gege môngsa mêdhar kasurane,
pamrihira mung ngulab-ulabi.
Mring sanggya kang ngeksi,
dèn alêma punjul.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Terbawa karena masih bodoh dan rendah dalam akal budi,
sombong tak mau kalah.
Tak sabar untuk mempertontonkan kelebihannya,
pamrihnya hanya sekedar pamer.
Kepada semua yang melihat,
agar dipuji kelebihannya.

Kajian per kata:


Labet (terbawa oleh) saking (karena) mudhadamèng (mudha dama ing,
bodoh dan rendah dalam) budi (akal budi), digung (sombong) lumuh (tak
mau) kasor (kalah). Terbawa karena masih bodoh dan rendah dalam akal
budi, sombong tak mau kalah.
Semua itu bisa terjadi, maksudnya adalah sikap yang disebutkan dalam
bait pertama yang lalu, karena terbawa oleh kebodohan dan rendahnya
akal budi. Ada pepatah dalam dunia komputer yang mengatakan garbage
in garbage out, yang masuk sampah keluarnya juga sampah. Dalam
kehidupan manusia sehari-hari pun juga demikian, jika kualitas akal budi
rendah jangan harap dapat melahirkan perbuatan baik.
Dalam hal sifat manusia, kebodohan akan melahirkan sikap sombong, otak
kerdil melahirkan sikap besar kepala, sifat lemah melahirkan sikap tak
mau kalah, sifat pengecut melahirkan sikap kongas kaprawiran (umuk
dalam keberanian), dan lain-lain.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 5

Gege mangsa (tak sabar untuk) mêdhar (mempertontonkan) kasurane


(kelebihannya), pamrihira (pamrihnya) mung (hanya) ngulab-ulabi
(berbasa-basi, sekedar pamer). Tak sabar untuk mempertontonkan
kelebihannya, pamrihnya hanya sekedar pamer.
Gege mangsa adalah istilah untuk sikap tak sabar dalam menunggu proses,
tergesa-gesa mempertontonkan kelebihan padahal belajarnya saja belum
selesai. Dalam cerita tradisional kethoprak sering ditemukan istilah banyu
gege, yakni air pemberian seorang sakti yang dapat membuat seorang bayi
baru lahir yang dimandikan dengan air itu seketika langsung berubah
menjadi seorang pemuda. Yang aneh si pemuda langsung bisa berbicara
dan bersikap sopan santun layaknya orang yang terdidik. Yang demikian
itu hanya terjadi dalam dongeng. Dalam kehidupan nyata jika ada banyu
gege semacam itu hanya akan membuat bayi besar yang bodoh, wong
sekolah saja tidak.
Orang yang ngege mangsa tadi sebenarnya hanyalah untuk pamer,
menutupi kelemahan dirinya, agar dianggap hebat.
Kata ulab-ulabi di sini rasanya agak janggal. Dalam beberapa kamus kata
itu berarti keberuntungan yang sangat besar. Mungkin lebih tepat jika
dipakai kata ulap-ulapi, membuat silau orang yang melihat. Wallahu alam.
Mring (kepada) sanggya (semua) kang (yang) ngeksi (melihat), dèn
(agar) alêma (dipuji) punjul (kelebihannya). Kepada semua yang melihat,
agar dipuji kelebihannya.
Semua hal di atas dolakukan agar mendapatkan pujian dari orang banyak.
Manusia memang sangat mendambakan keagungan dan kebesaran. Tak
aneh kalau hanya sekedar mendapat kekaguman orang lain seseorang rela
berbuat yang tercela, menipu, berbohong, mengklaim karya orang lain,
dsb. Padahal semua itu tidak mendatangkan keuntungan materi atau pun
keuntungan spiritual apapun. Memangnya kita mendapat apa kalau dipuji
orang lain?
Kalau dipikir hanya sesederhana itulah hasil yang ingin diraih dari sikap
pamer, ingin dipuji sebagai orang yang lebih dari orang lain. Apakah itu
hasil yang seimbang dengan sifat baik yang dikorbankan? Tampak jelas
sebagai upaya konyol. Namun hal demikian itu banyak kita temui dalam
kehidupan.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 6

Kajian Salokatama (3): Keh Kang Ngesemi


Bait ke-3, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Tan wruh lamun akèh kang ngèsêmi,
pinrayitnan batos.
Kang wus asih suda ing rêsêpe,
kang durung wruh wus ngrungu pawarti.
Ingkang sêngit dadi,
sukurirèng kalbu.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Tidak mengetahui jika banyak yang mentertawakan,
membuat mereka waspada dalam hatinya.
Yang sudah sayang menjadi berkurang kekagumannya,
yang belum mengetahui menjadi mendengar kabarnya.
Yang tadinya benci menjadi,
bersorak dalam hati.

Kajian per kata:


Tan (tak) wruh (mengetahui) lamun (jika) akèh (banyak) kang (yang)
ngèsêmi (tertawa), pinrayitnan (membuat mereka hati-hati, waspada,
berjaga-jaga) batos (dalam hatinya). Tidak mengetahui jika banyak yang
mentertawakan, membuat mereka waspada dalam hatinya.
Orang yang pamer, sebagaiman disebut dalam bait yang lalu, tidak sadar
bahwa banyak yang mentertawakan. Mereka yang melihat orang pamer
bukannya kagum, tapi malah tersenyum kecut. Dalam hati mereka tertawa
terbahak-bahak. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah mereka
menjadi waspada dan berjaga-jaga terhadapnya. Track record orang pamer
akan dicatat dan menjadi pertimbangan dalam setiap urusan dengan orang
tersebut.
Kang (yang) wus (sudah) asih (sayang, baik hati) suda (berkurang) ing
(pada) rêsêpe (kekagumannya, penghargaannya), kang (yang) durung
(belum) wruh (mengetahui) wus (sudah) ngrungu (mendengar) pawarti
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 7

(kabar). Yang sudah sayang menjadi berkurang kekagumannya, yang


belum mengetahui menjadi mendengar kabarnya.
Orang yang suka pamer dan umuk, sok pintar, sok hebat sesungguhnya
hanya akan menuai kerugian. Ibaratnya orang yang bangkrut karena tidak
akan mendapat keuntungan yang ia harapkan. Orang yang sudah sayang
atau berbaik hati kepadanya selama ini akan berkurang rasa sayangnya.
Orang yang tadinya kagum akan berkurang kekagumannya. Orang yang
tadinya belum mendengar keburukan tentangnya justru dengan sikap
pamer tadi menjadi tahu akan wataknya. Jadi keuntungan apa yang
didapat? Tidak ada sama sekali!
Ingkang (yang) sêngit (benci) dadi (menjadi), sukurirèng (bersyukur,
senang, bersorak di dalam) kalbu (hati). Yang tadinya benci menjadi,
bersorak dalam hati.
Kita harus ingat, bagaimanapun keadaan kita selalu saja ada orang lain
yang senang dan tidak senang dengan kita. Istilahnya zaman sekarang ada
lovers dan haters, pengagum dan pembenci. Dengan sikap pamer yang kita
pertontonkan pengagum kita akan lari menjauh.
Sebaliknya orang yang tadinya benci (haters) akan menjadi bersuka cita,
bersorak dalam hatinya. Oh, orang itu ternyata hanya segitu kualitasnya.
Jadi dalam sikap pamer ini seseorang hanya akan menuai kebangkrutan.
Ibaratnya, kawan hilang, musuh senang.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 8

Kajian Salokatama (4): Alane Katongton


Bait ke-4, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Têmah kengis watêke kang wadi,
alane katongton.
Sasolahe linumuhan bae,
nora ana kang barès sawiji.
Wong jail lan juti,
iku paminipun.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Sehingga terintip wataknya yang tersembunyi,
keburukannya tampak.
Segala perilakunya bermalas-malasan saja,
tidak ada yang jujur satu pun.
Orang usil dan jahat,
itulah perumpamaannya

Kajian per kata:


Têmah (sehingga) kengis (terlihat sedikit, terintip) watêke (wataknya)
kang (yang) wadi (tersembunyi), alane (keburukannya) katongton
(tampak). Sehingga terintip wataknya yang tersembunyi, keburukannya
tampak.
Dalam bait yang lalu sudah diuraikan kerugian yang besar dari sikap
pamer atau umuk, yakni hilangnya teman, senangnya musuh. Dalam bait
ini akan diuraikan kemampuan sebenarnya dari orang yang suka pamer.
Kualitas apa yang dimiliki dari orang yang suka pamer tersebut.
Kerugian lain dari sikap pamer dan umuk adalah watak aslinya akan
terungkap sedikit demi sedikit. Kengis artinya tersibak, seperti tersibaknya
kain penutup tubuh sehingga tampaklah rahasia di dalamnya. Bagi orang
yang punya kehormatan hal ini akan sangat memalukan. Orang yang
pamer akan tersibak sifat buruknya, hal yang seharusnya disembunyikan
dari orang lain.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 9

Adab yang benar berkaitan dengan diri sendiri adalah tidak


mempertontonkan keburukan sifat diri kepada orang lain. Hal ini bukan
kebohongan tetapi merupakan penjagaan martabat diri kita. Kecuali
terhadap guru pembimbing kita dibolehkan untuk mengatakan sifat buruk
kita agar mendapat bimbingan, tetapi tidak kepada setiap orang. Namun
dengan kita banyak bicara atau umuk dan pamer tadi akan terungkaplah
sifat-sifat tidak baik yang kita miliki. Tidak ada kebaikan sedikitpun dalam
hal ini, justru dapat mendatangkan fitnah atau gunjingan orang.
Sasolahe (segala perilakunya) linumuhan (bermalasan, berpura-pura,
tidak sungguh-sungguh) bae (saja), nora (tidak) ana (ada) kang (yang)
barès (jujur) sawiji (satu pun). Segala perilakunya bermalas-malasan saja,
tidak ada yang jujur satu pun.
Namun harap maklum, seperti yang sudah kita singgung dalam bait
pertama, garbage in garbage out, orang yang suka pamer memang
biasanya tidak mempunyai apa-apa selain mulut besar. Segala perilakunya
hanya bermalas-malasan, tidak bersungguh-sungguh, tidak jujur dalam
karya dan perbuatan. Pamer adalah bagian dari usahanya untuk menutupi
kelemahan diri. Celakanya sikap itu justru mengungkap apa yang
tersembunyi.
Wong (orang) jail (bodoh, usil) lan (dan) juti (jahat), iku (itulah)
paminipun (perumpamaannya). Orang usil dan jahat, itulah
perumpamaannya.
Oleh karena itu sikap pamer digolongkan dalam sikap bodoh dan jahat.
Mereka sejenis dan sesamanya. Dalam serat Wedatama disebutkan watak
buruk akan mengumpul bersama watak buruk yang lain, bergabung dalam
satu hati. Jika satu watak buruk bersemayam dalam hati, dia akan
mengundang watak buruk lain untuk datang. Waspadalah!
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 10

Kajian Salokatama (5): Nir Piyandelipun


Bait ke-5, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Nadyan mari gung sinônggarunggi,
tan ana pitados.
Wus mangkono manungsa adate.
Paranbaya dènira balèni,
sapisan dumadi,
nir piyandêlipun.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Walau sembuh tetap besar kecurigaannya,
tak ada yang percaya.
Sudah demikian manusia biasanya.
Walau tidak engkau ulangi,
sekali terjadi,
hilanglah kepercayaannya.

Kajian per kata:


Nadyan (walau) mari (sembuh) gung (besar) sinônggarunggi (tak
dipercaya, dicurigai), tan (tak) ana (ada) pitados (yang percaya). Walau
sembuh tetap besar kecurigaannya, tak ada yang percaya.
Kita akan beralih kepada hukum umum yang berlaku pada masyarakat.
Jika kita sudah mengetahui bahwa watak pamer dan umuk adalah tidak
baik maka janganlah tabiat tersebut menjadi watak kita. Karena kebiasaan
masyarakat kita adalah mengenang track record orang lain dan mengingat-
ingatnya sampai kapanpun. Bahkan apabila kita sudah sembuh dari suatu
sikap tak baik, sudah kita hentikan kebiasaan buruk kita, takkan mudah
bagi kita untuk meraih kepercayaan dari orang-orang.
Wus (sudah) mangkono (demikian) manungsa (manusia) adate
(biasanya). Sudah demikian manusia biasanya.
Begitulah adat kebiasaan manusia, selalu mengingat keburukan orang lain,
dan susah menghapusnya. Kata pepatah; sekali lancung ke ujian, seumur
hidup orang tak percaya. Sebaliknya segala kebaikan akan mudah lenyap
seketika, laksana panas setahun dihapus hujan sehari.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 11

Paranbaya (walau tidak) dènira (engkau) balèni (ulangi), sapisan (sekali)


dumadi (kejadian), nir (hilang) piyandêlipun (kepercayaannya). Walau
tidak engkau ulangi, sekali terjadi, hilanglah kepercayaannya.
Hukum masyarakat memang kejam dan tak berbelas kasih, kita tak dapat
berbuat apa-apa selain menjaga diri dari keterperosokan moral. Falsafah
hidup hanya sekali benar-benar berlaku di dunia ini. Dalam banyak hal
tidak pernah ada yang namanya latihan bersikap, harus sekali jadi. Jika
sampai kita salah langkah maka seumur hidup kita menanggung rugi.
Meraih kembali kepercayaan orang akan sangat sulit. Jika kita sudah
pernah bersikap tak pantas, orang akan menjadi ekstra waspada dan
berhati-hati. Berhatihatilah!
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 12

Kajian Salokatama (6): Yen Tumitah Ping Kalih


Bait ke-6, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Yèn pasthia tumitah ping kalih
sakabèhing uwong,
nora ana kaduwung solahe.
Lan tan ana ingkang wêdi mati,
gampang dènnya budi,
tan ana pamupus.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Kalau pasti terlahir dua kali,
semua orang,
tidak ada yang menyesali perbuatannya.
Dan tak ada yang takut mati,
gampang mereka berupaya,
tak ada sikap pasrah.

Kajian per kata:


Yèn (kalau) pasthia (pasti) tumitah (terlahir) ping (kali) kalih (dua),
sakabèhing (semua) uwong (orang), nora (tidak) ana (ada) kaduwung
(menyesali) solahe (perbutannya). Kalau pasti terlahir dua kali, semua
orang, tidak ada yang menyesali perbuatannya.
Karena hidup ini “sekali jadi” takkan ada kesempatan berulang sampai dua
kali. Dalam hal ini kita tak mempunyai upaya selain berhati-hati dalam
melangkah ke depan. Berbeda jika hidup bisa diulang lagi, takkan ada
yang namanya penyesalan karena toh kalau salah bisa diulang lagi. Tapi
yang terjadi tidak demikian, sekali saja kesempatan itu datang, dan harus
digunakan sebaik-baiknya. Kalaupun ada kesempatan lagi yang ada hanya
keterlambatan. Misalnya kita sudah diberi kesempatan sekolah di SMA
dahulu, jika kita merasa gagal dan ingin sekolah lagi yang ada hanya kejar
paket C. Itu takkan sama nilainya.
Lan (dan) tan (tak) ana (ada) ingkang (yang) wêdi (takut) mati (mati),
gampang (gampang) dènnya (mereka) budi (berupaya), tan (tak) ana
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 13

(ada) pamupus (sikap pasrah). Dan tak ada yang takut mati, gampang
mereka berupaya, tak ada sikap pasrah.
Karena hidup hanya sekali itulah kita menjadi takut mati. Takkan ada
kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri di masa lalu. Mungkin kita
banyak salah dan dosa yang harus dipertanggungjawabkan. Kita hanya
punya masa depan yang semakin menipis kemungkinan untuk
memperbaikinya. Jika hidup boleh berulang takkan ada takut mati, toh
besok bisa diulang lagi. Takkan ada kekhawatiran dalam berusaha, toh
besok bisa diulang lagi. Takkan ada penyesalam toh besok bisa diperbaiki.
Takkan ada sikap pasrah, wong besok masih ada waktu untuk bangkit.
Namun yang terjadi tidak demikian.
Namun di balik itu semua sesungguhnya ada hikmah yang besar. Dengan
sekali waktu perjalanan hidup ini orang diharapkan dapat berhati-hati,
cermat, waspada dan eling terhadap sangkan paraning dumadi. Gunakan
kesempatan dengan cermat dan sebaik-baiknya, agar tidak merugi kelak di
kemudian hari.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 14

Kajian Salokatama (7): Nora Tumitah Ping Kalih


Bait ke-7, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Balik nora tinitahkên malih,
paran wêkasing don.
Mung karantan kaduwung atine,
gêgêtune sansaya ngranuhi.
Yèn nganyuta pati,
mimbuhi dosagung.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Tapi karena tidak dilahirkan lagi,
tempat arah tujuan akhirnya.
Hanya pedih dan menyesal hatinya,
sesalnya semakin menjadi.
Kalau bunuh diri,
hanya menambah dosa besar.

Kajian per kata:


Balik (tapi karena) nora (tidak) tinitahkên (diciptakan, dilahirkan) malih
(lagi), paran (arah tujuan) wêkasing (akhirnya) don (tempat). Tapi karena
tidak dilahirkan lagi, tempat arah tujuan akhirnya.
Karena hidup tidak berulang, tak ada konsep tumimbal lahir, maka jangan
sampai ada penyesalan. Sejak awal harus sudah tahu ke mana tujuan kita
melangkah. Oleh karena itu kita perlu belajar, berguru kepada orang yang
mengerti tentang itu. Perlu menjalani ajaran agama agar tempat kembali
kita tidak salah. Karena ternyata ada dua tempat kembali, surga dan
neraka. Keduanya tak sama bahkan sangat berkebalikan. Surga tempat
orang yang mampu mempergunakan hidupnya dengan baik. Neraka tempat
orang menyesali hidupnya selama di dunia.
Mung (hanya) karantan (pedih) kaduwung (menyesal) atine (hatinya),
gêgêtune (sesalnya) sansaya (semakin) ngranuhi (menjadi). Hanya pedih
dan menyesal hatinya, sesalnya semakin menjadi.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 15

Namun ketika di dunia ini penyesalan sudah bisa datang lebih awal, tak
perlu menunggu sampai mati. Kita sudah sangat menyesal ketika sadar
bahwa waktu untuk memperbaiki diri kian sempit. Bagi seorang pendosa
atau yang berwatak buruk penyesalannya akan lebih berat, kesedihannya
akan menjadi-jadi. Karanta adalah kesedihan akan nasibnya, keduwung
adalah penyesalan karena pilihan hidup yang salah. Getun adalah sesalnya
akan nasibnya kini. Itu semua terjadi karena salah langkah dalam memilih
jalan.
Yèn (kalau) nganyuta pati (bunuh diri), mimbuhi (hanya menambah)
dosagung (dosa besar). Kalau bunuh diri, hanya menambah dosa besar.
Penyesalan yang hebat dapat menimbulkan patahnya harapan. Kadang
begitu putus asa seakan-akan lebih baik mengakhiri hidup. Jangan lakukan
hal tersebut. Kekejiannya amatlah besar, bahkan lebih keji dari membunuh
orang lain. Dalam bait berikutnya akan diuraikan keburukan dan kerugian
orang yang bunuh diri. Lanjutkan ke kajian bait berikutnya.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 16

Kajian Salokatama (8): Lampus Dhiri; Sinarang Sinirik


Bait ke-8, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Wit jisime wong anglampus dhiri,
tan kêna dèn uwor,
lan makame para lêluhure.
Myang sawiyah makamaning janmi,
sinarang sinirik,
kang apik tan ayun.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Karena mayat orang bunuh diri,
tak boleh dikubur bersama,
dengan kuburan para leluhur.
Dan disia-siakan di pemakaman umum,
ditolak dan dihindari,
sebaiknya tak di depan.

Kajian per kata:


Wit (awit, karena) jisime (mayat) wong (orang) anglampus (bunuh) dhiri
(diri), tan (tak) kêna (boleh) dèn (di) uwor (campur, dikubur bersama),
lan (dengan) makame (kuburan) para (para) lêluhure (leluhur). Karena
mayat orang bunuh diri, tak boleh dikubur bersama, dengan kuburan para
leluhur.
Seberat apapun kesedihan, penyesalan dan penderitaan jangan sampai
kehilangan harapan akan hari esok. Lebih-lebih karena menganggap tidak
ada kesempatan lagi di dunia ini kemudian memutuskan untuk mengakhiri
hidup. Kami sebut memutuskan karena biasanya orang akan bunuh diri
selalu dipikirkan masak-masak terlebih dahulu, amatlah jarang bunuh diri
dilakukan spontan. Maka di sini yang menjadi kunci penyebab adalah
pandangan bahwa tiada harapan akan hari esok untuk memperbaiki diri.
Walau hidup hanya sekali takkan pernah terulang lagi namun selalu ada
kesempatan bagi seseorang untuk memperbaiki diri. Tentu hasil yang
diraih takkan sempurna, dan jalannya juga makin sulit dan terjal, namun
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 17

jangan sekali-kali patah semangat. Ingatlah hukuman orang yang bunuh


diri, di dunia maupun akhirat nanti.
Di dunia ini kutukan sudah datang sesaat setelah kematiannya. Mayat
orang bunuh diri akan disia-siakan. Dilarang dikubur di pekuburan para
leluhur yang mulia karena akan menodai keluhuran mereka. Saat
perawatan jenazah pun orang-orang akan setengah hati melakukannya.
Mau ikut mensholatkan kok hati kurang sreg, karena yang mati jelas
menunjukkan tanda bukan orang yang beriman. Semua menjadi serba
canggung, tetangga, anak cucu sanak saudara menjadi serba susah dan
kikuk.
Myang (dan) sawiyah (disia-siakan) makamaning (di pemakaman) janmi
(orang), sinarang (ditolak) sinirik (dihindari), kang (yang) apik (bagus)
tan (tak) ayun (didepan). Dan disia-siakan di pemakaman umum, ditolak
dan dihindari, sebaiknya tak di depan.
Di pemakaman umun pun demikian, disia-siakan, ditolak, dhindari.
Kalaupun jadi dikuburkan juga pasti ditempatkan terpisah dari golongan
lain. Mungkin ditempatkan di pojok yang tersembunyi. Hal itu karena
semata-mata orang sudah tak yakin dengan kepercayaan si mayat. Kalau di
sebut muslim jelas dia bukan seorang muslim yang baik, tak ada syukur-
syukurnya atas kehidupan yang dikaruniakan kepadanya. Pantasnya orang
bunuh diri itu orang tak beragaman, karena sudah pasti tak mengenal
Tuhan. Karena tak satupun ajaran agama di muka bumi yang mentolerir
bunuh diri.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 18

Kajian Salokatama (9): Luwih Aji Kethek Lutung


Bait ke-9, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Krana wong kang amatèni janmi,
wus dosa lwih asor.
Mangka ana wong kolu ngragane,
têtêp lamun druhaka ngungkuli.
Patinira aji,
khewan kêthèk lutung

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Karena orang yang membunuh orang lain,
sudah amat nista dosanya.
Padahal ada yang tega terhadap diri sendiri,
pasti kalau durhakannya melebihi.
Kematiannya masih lebih berharga,
matinya hewan seperti kera dan lutung.

Kajian per kata:


Krana (karena) wong (orang) kang (yang) amatèni (membunuh) janmi
(orang lain), wus (sudah) dosa (dosa) lwih (yang lebih) asor (nista).
Karena orang yang membunuh orang lain, sudah amat nista dosanya.
Bait ini masih melanjutkan uraian tentang keburukan bunuh diri.
Keterangan yang banyak ini semata-mata sebagai peringatan agar kita
mengerti akibatnya dan dapat menghindarinya. Karena kesusahan dan
kesedihan bisa menimpa siapa saja.
Setelah kita tahu akibat di dunia dari bunuh diri yakni dikucilkan
mayatnya, maka kita perlu mengerti akibatnya di alam akhirat nanti. Tak
ada yang tahu pasti tentang alam akhirat, namun kita beruntung
mempunyai agama yang mengabarkan kejadian di sana.
Marilah kita bandingkan dahulu dengan orang yang membunuh orang lain.
Menghilangkan kehidupan orang lain adalah perbuatan yang keji dan nista.
Termasuk salah satu dosa besar yang ancaman siksanya amat pedih.
Membunuh adalah kesalahan yang membuat kesempatan kita meminta
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 19

maaf hilang. Hanya karunia Allahlah kita dapat diampuni, tentu saja
setelah kita menanggung siksanya.
Mangka (padahal) ana (ada) wong (orang) kolu (tega) ngragane (pada
diri sendiri), têtêp (tetap, pasti) lamun (kalau) druhaka (kedurhakaannya)
ngungkuli (melebihi). Padahal ada yang tega terhadap diri sendiri, pasti
kalau durhakannya melebihi.
Padahal bunuh diri adalah menghilangkan kehidupannya sendiri. Jika
membunuh orang lain saja dosa besar, apalagi membunuh diri sendiri.
Kekejiannya lebih besar lagi. Tak masuk akal jika seseorang mampu
melakukan yang demikian itu.
Patinira (kematiannya) aji (lebih berharga), khewan (hewan) kêthèk
(kera) lutung (lutung). Kematiannya masih lebih berharga matinya hewan
seperti kera dan lutung.
Kematian orang bunuh diri sangatlah tidak berharga. Lebih berharga
matinya hewan serupa monyet atau lutung. Bagaimana dengan orang yang
bunuh diri dengan meledakkan diri di tengah kerumunan orang? Jika
terjadi dalam peperangan yang tak terhindarkan, head to head, seseorang
dengan berani menyongsong musuh dan akhirnya tewas, itu bukanlah
bunuh diri namanya. Namun bila tanpa sebab dan tak ada ancaman
terhadapnya tiba-tiba seseorang meledakkan dirinya dengan rompi bom di
tengah kerumunan, tanyakan padanya ajaran agama manakah yang ia
ikuti? Adakah agama yang mengajarkan cara seperti itu?
Agama mengajarkan agar kita tabah dalam menghadapi penderitaan yang
menimpa dengan penuh kesabaran. Bahkan jika derita itu sedemikian
besarnya tetaplah terlarang untuk minta kematian. Jika seseorang merasa
muak atau tidak puas dengan keadaan sekitar yang dirasa tidak pantas,
maka sebenarnyalah kesempatan baginya untuk memperbaiki itu semua
dengan tangannya. Ibarat seorang petani yang menemukan lahan penuh
semak belukar, maka itulah kesempatan baginya untuk membuka lahan
pertanian baru. Rasulullah ketika pertama kali berdakwah yang dihadapi
adalah orang kafir semua. Namun beliau mampu mengubah dengan
perlahan dan penuh kesabaran. Apakah jika dilakukan dengan membunuh
mereka menjadi simpati kepada ajaran si pembunuh? Jelas tidak! Malah
akan membangkitkan sikap antipati kepadanya.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 20

Kajian Salokatama (10): Pangruwating Dosa


Bait ke-10, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Pangruwate dosa sawatawis,
rèhne wus kalakon,
tan lyan amung minta aksamane,
mring kang samya sinakkên ing galih.
Praptaa pribadi,
marang wismanipun.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Cara membuang dosa sekiranya kita lakukan,
karena sudah terjadi,
tak lain hanya minta maafnya,
kepada semua yang kita sakiti hatinya.
Datanglah secara pribadi,
ke rumahnya.

Kajian per kata:


Pangruwate (cara membuang) dosa (dosa, kesalahan) sawatawis
(sekiranya, yang bukan dosa besar ), rèhne (karena) wus (sudah) kalakon
(terjadi), tan (tak) lyan (lain) amung (hanya) minta (minta) aksamane
(maafnya), mring (kepada) kang (yang) samya (semua) sinrikkên (sakiti)
ing galih (hatinya). Cara membuang dosa sekiranya kita lakukan, karena
sudah terjadi, tak lain hanya minta maafnya, kepada semua yang kita
sakiti hatinya.
Setelah pada bait sebelumnya diuraikan tentang dosa yang kita tak dapat
meminta maaf kepada korban yang kita sakiti, dalam bait ini kita akan
membahas dosa atau kesalahan lain yang pernah kita lakukan.
Setiap orang pasti punya salah dan dosa kepada orang lain, baik kesalahan
yang besar maupun kesalahan yang kecil. Disebut salah apabila yang kita
lakukan sudah jelas-jelas melanggar aturan agama atau aturan kesepakatan
masyarakat setempat. Jika kita terlanjur berbuat dosa atau salah bagaimana
cara kita menghilangkan kesalahan dan membuang dosa itu?
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 21

Dalam hal kesalahan besar yang sudah ada hukum pasti penebusan
kesalahan baru dapat dilakukan setelah kita menjalani hukuman. Begitulah
ketentuan yang berlaku di seluruh dunia. Takkan ada penghapusan dosa
tanpa didahului pelaksanaan hukuman. Yang seperti itu omong-kosong
sajalah.
Dalam dosa kecil yang luput dari hukuman, bisa karena masalahnya terlalu
sepele atau bisa karena orang yang disakiti tidak menuntut, dsb, itulah
yang dimaksud dalam bait ini. Maka satu-satunya cara adalah dengan
meminta maaf kepada yang kita sakiti.
Praptaa (datanglah) pribadi (scara pribadi), marang (ke) wismanipun
(rumahnya). Datanglah secara pribadi, ke rumahnya.
Lakukan permintaan maaf dengan sungguh-sungguh. Sebagai tanda
penyesalan dan niat iktikad baik untuk memperbaiki hubungan, haruslah
datang secara pribadi ke rumahnya. Hendaklah permintaan maaf dilakukan
dengan tatacara yang berlaku sesuai adat kepatutan dan etika kesopanan
yang berlaku setempat. Khususnya bagi orang Jawa tata caranya akan
diuraikan dalam bait berikutnya. Nantikan kajian selanjutnya.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 22

Kajian Salokatama (11): Tata Krama Pangapura 1


Bait ke-10, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Yèn kêprênah tuwa pangkat inggil,
ngabêktiya gupuh,
linairna ing kaluputane.
Lamun prênah nom pangkate inggil,
mêngku mawa taklim,
krama nut ing têmbung.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Kalau dalam posisi lebih tua dan pangkatnya lebih tinggi,
berbaktilah dengan segera,
nyatakan segala kesalahanmu.
Jika posisinya lebih muda tapi pangkatnya lebih tinggi,
perlakuannya dengan salam taklim,
dengan tata krama menurut bahasanya (unggah-ungguhnya).

Kajian per kata:


Berikut ini adab tatacara memint maaf apabila kita melakukan kesalahan
pada orang lain sesuai adat kesopanan yang berlaku pada masyarakat Jawa
tempo dulu.
Lèn (kalau) kêprênah (posisinya) tuwa (lebih tua) pangkat (pangkatnya)
inggil (lebih tinggi), ngabêktia (berbaktilah) gupuh (segera), linairna
(nyatakan) ing kaluputane (segala kesalahanmu). Kalau dalam posisi
lebih tua dan pangkatnya lebih tinggi, berbaktilah dengan segera,
nyatakan segala kesalahanmu.
Jika orang yang kita sakiti usianya lebih tua dan kedudukannya lebih
tinggi, harap segera berbakti dengan gupuh. Arti gupuh adalah bersegera
atau cepat-cepat, sebagai tanda penghargaan yang sangat. Menerima tamu
dengan gupuh artinya cepat-cepat menyambut sang tamu dengan gestru
buru-buru. Ini artinya orang itu sangat kita hargai. Dalam meminta maaf
juga hendaklah dilakukan dengan gupuh agar yang bersangkutan mengerti
bahwa kita bersungguh-sungguh. Sedangkan berbakti tersebut karena
kasusnya kepada yang lebih tua sekaligus pangkatnya lebih tinggi maka
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 23

dilakukan dengan ngabekti atau sungkem, yakni gestur merendahkan


tubuh kita di hadapannya dengan sangat.
Sesudah yang bersangkutan menerima dengan baik berarti pertanda bahwa
kita akan dimaafkan, namun kesalahan kita harus tetap kita sebutkan pada
kesempatan tersebut. Inilah tata krama orang yang beradab bila suatu kali
bebuat salah.
Lamun (jika) prênah (posisinya) nom (lebih muda) pangkate
(pangkatnya) inggil (lebih tinggi), mêngku (caranya, perlakuannya) mawa
(dengan) taklim (salam taklim), krama (dengan tata cara) nut (menurut)
ing têmbung (bahasanya). Jika posisinya lebih muda tapi pangkatnya
lebih tinggi, perlakuannya dengan salam taklim, dengan tata krama
menurut bahasanya (unggah-ungguhnya).
Bila posisi orang tersebut lebih muda tetapi pangkatnya lebih tinggi, cara
perlakuannya adalah dengan salam taklim, kemudian meminta maaf
dengan bahasa yang halus, bahasa krama, sesuai unggah-ungguh yang
berlaku. Dalam hal ini tidak harus dengan ngabekti karena cara itu
ditujukan untuk orang yang lebih tua.
Demikian tatacara meminta maaf kepada yang berpangkat lebih tinggi,
baik yang tua atau muda. Adapun bila terjadi dalam masyarakat luas
dimana tidak ada sistem pangkat maka tatacara disesuaikan dengan harkat
dan martabat yang bersangkutan dalam masyarakat. Tidak perlu dilakukan
dengan cara yang leluwihan (berlebihan) namun juga tidak boleh
menggampangkan. Yang proporsional saja dalam sikap dan perbuatan.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 24

Kajian Salokatama (12): Tata Krama Pangapura 2


Bait ke-12, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Yèn kêprênah anom mênang inggil
dèn rahab pangrêngkoh
kabèh prihên lilihe rêngune
lamun ana rikuhe ing ati
kamotna ing tulis
lawan têmbung alus

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Kalau posisinya lebih muda dan kita lebih tinggi (pangkatnya),
harap diperlakukan dengan ramah.
Upayakan denga semua cara agar reda sakit hatinya.
Jika merasa canggung dalam hati,
nyatakan secara tertulis,
dengan perkataan yang halus.

Kajian per kata:


Bait ini akan menguraikan adab dan tatacara memint maaf kepada yang
pangkatnya lebih rendah.
Yèn (kalau) kêprênah (posisinya) anom (lebih muda) mênang (kita lebih)
inggil (tinggi pangkatnya), dèn (harap) rahab (diperlakukan)
pangrêngkoh (dengan ramah, bersahabat). Kalau posisinya lebih muda
dan kita lebih tinggi (pangkatnya), harap diperlakukan dengan ramah.
Jika orang yang kita sakiti lebih muda dan kita menang dalam hal pangkat
dan derajat, maka hendaklah diperlakukan dengan ramah dan bersahabat.
Rumaket dan sumadulur. Artinya serasa sudah kenal akrab dan serasa
terhadap saudara sendiri.
Kabèh (semua) prihên (upayakan) lilihe (reda) rêngune (sakit hatinya).
Upayakan dengan semua cara agar reda sakit hatinya.
Upayakan dengan segala cara agar sakit hatinya reda. Bila perlu diberi
hadiah atau pemberian sebagai ungkapan penyesalan, misalnya, maka
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 25

yang demikian itu lebih baik. Karena umumnya orang Jawa suka diberi
hadiah dari orang yang pangkatnya lebih tinggi.
Lamun Ijika) ana (ada) rikuhe (rasa canggung) ing ati (di hati), kamotna
(nyatakan) ing tulis (secara tertulis), lawan (dengan) têmbung (perkataan)
alus (yang halus). Jika merasa canggung dalam hati, nyatakan secara
tertulis, dengan perkataan yang halus.

Namun ada kalanya, karena lebih tua menjadi canggung dalam hati jika
hendak melakukan itu semua. Bila hati tidak sampai melakukan itu karena
rasa canggung dan kikuk, maka hendaknya dituliskan dengan surat,
dengan memakai kata dan bahasa yang halus sebagaimana berlaku dalam
adat istiadat setempat. Itulah yang akan dilakukan oleh orang yang
beradab.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 26

Kajian Salokatama (13): Tobata Ing Batos


Bait ke-13, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Lan nyuwuna apuraning Widhi,
tobata ing batos.
Rumasaa ing driya salahe
mêmulènên lêluhure sami
kang sira alani
nulak alanipun

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Dan mintalah ampunan dari Tuhan Yang Maha Benar,
tobatlah dalam hati.
Sadarilah dalam hati salahnya,
luhurkanlah nama para leluhur,
yang engkau nodai,
untuk menolak akibat buruknya.

Kajian per kata:


Setiap kita melakukan dosa hakekatnya kita melakukan kesalahan terhadap
Yang Maha Kuasa. Karena pastilah kita melanggar perintah dan
laranganNya. Namun hak manusia mestilah didahulukan karena Tuhan
tidak akan memaafkan kita sebelum kita dimaafkan orang yang kita salahi
Maka setelah selesai meminta maaf kepada korban hendaklah juga
meminta maaf kepada Tuhan.
Lan (dan) nyuwuna (mintalah) apuraning (ampunan) Widhi (Tuhan Yang
Maha Benar), tobata (tobatlah) ing (dalam) batos (hati). Dan mintalah
ampunan dari Tuhan Yang Maha Benar, tobatlah dalam hati.
Minta maaf kepada Yang Maha Benar, Yang tidak pernah berbuat salah.
Kepadanya segala urusan kembali termasuk dalam hal pertobatan. Sesudah
bibir kita melantunan kalimat taubat, maka hati kita pun harus
menyesuaikan dengan pertobatan pula. Tobat lahir dan tobat batin.
Rumangsawa (sadarilah) ing (dalam) driya (hati) salahe (salahnya),
mêmulènên (luhurkanlah nama) lêluhure sami (para lelhur), kang (yang)
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 27

sira (engkau) alani (nodai), nulak (untuk menolak) alanipun (akibat


buruknya). Sadarilah dalam hati salahnya, luhurkanlah nama para
leluhur, yang engkau nodai, untuk menolak akibat buruknya.

Sadarilah segala kesalahan dalam hati dengan penyesalan yang dalam


sehingga takkan pernah mengulang lagi. Luhurkanlah nama para orang
tua, kakek-nenek sampai moyang-moyang kita. Bagaimanapun kita
membawa nama baik mereka semua. Setiap kesalahan akan menjadi noda
bagi perjuangan mereka. Hendaklah hal seperti ini juga menjadi
pertimbangan agar tidak mengulang lagi berbuat salah. Ingatan akan
kebaikan para leluhur tadi semoga dapat menjadi kekuatan kita dalam
menolak khilaf dan dosa. Dengan bertobat dan mengenang kebaikan
leluhur, lengkap sudah rangkaian pertobatan yang mesti dijalani. Adapun
mengenai ampunan sepenuhnya adalah wewenang Allah Yang Maha
Kuasa.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 28

Kajian Salokatama (14): Abot Mrih Karahayon


Bait ke-14, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Mula abot wong amêksa kapti,
mrih rèh karahayon.
Wis mangkono lumrah prabawane.
Seje lamun pinrih laku juti,
dhangan sukèng kapti
iku timbangipun

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Memang berat memaksa keinginan,
agar menuju hal keselamatan.
Demikian itu sudah lumrah pengaruhnya.
Berbeda jika menghendaki perbuatan jahat,
terasa ringan dan senang di dalam hati,
itulah perbandingannya.

Kajian per kata:


Mula (memang) abot (berat) wong (orang) amêksa (memaksa) kapti
(keinginan), mrih rèh (agar menuju hal) karahayon (kebaikan,
keselamatan). Memang berat memaksa keinginan, agar menuju hal
keselamatan.
Upaya pertobatan yang diuraikan dalam tiga bait terdahulu adalah usaha
untuk menuju jalan keselamatan. Memang akan terasa berat bagi kita
untuk melakukan hal-hal yang baik, terutama jika kita belum terbiasa
melakukannya. Bukan saja tubuh fisik yang memerlukan latihan agar
trampil, hati manusia pun memerlukan latihan agar menjadi spontan dalam
tindakan.
Jika gerak tubuh yang terlatih dan terbiasa akan membentuk gerak refleks,
maka tindakan kebaikan yang dilatih berulang-ulang akan membentuk
akhlak. Orang yang ahklaknya baik adalah orang yang sudah mampu
melakukan kebaikan secara spontan, bukan orang yang masih pikir-pikir
dahulu dalam menentukan pilihan, mau ambil jalan baik atau buruk.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 29

Wis (sudah) mangkono (demikian itu) lumrah (biasa) prabawane


(pengaruhnya). Demikian itu sudah lumrah pengaruhnya.
Lebih mudah dalam mengerjakan perbuatan buruk adalah memang sudah
sifat manusia sejak awal. Hal itu karena manusia pada awal kehidupannya
tidak mengerti apapun tentang benar dan salah. Masih bersifat bodoh
sehingga cenderung kepada tindakan yang mengarah pada keburukan.
Seje (beda) lamun (jika) pinrih (menghendaki) laku (perbuatan) juti
(jahat), dhangan (ringan) sukèng (senang) kapti (dalam hati), iku (itu)
timbangipun (perbandingannya). Berbeda jika menghendaki perbuatan
jahat, terasa ringan dan senang di dalam hati, itulah perbandingannya.
Oleh karena sifatnya yang demikian itu jika sengaja menghendaki pada
perbuatan jahat, akan terasa ringan dan senang hati. Sebaliknya apabila
berbiat kepada kebaikan akan banyak cara yang mesti dipelajari, jalan
panjang yang mesti dilalui. Harus mengerti hukum dan cara, metode dan
waktunya, adab dan tatacaranya. Ini membuat setiap perbuatan baik
menjadi lebih sulit. Demikian itulah perbandingannya.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 30

Kajian Salokatama (15;16): Wus Jamak Lumuh Kasor


Bait ke-15;16, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat
Salokatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Lan wus jamak manungsa dunyèki,
sapa rêna kasor.
Nadyan ana asor sayêktine,
saking pangkat gêdhe lawan cilik.
sugih lawan mêskin
andhap miwah luhur

Kayêktène pangkat agêng alit,


kang luhur kang asor,
sugih mêskin kabèh sêsamane.
Yèn ginulung sarta dèn condhongi,
adoh kang saksêrik,
cêdhak sukanipun.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Dan sudah biasa manusia di dunia ini,
siapa yang suka drendahkan,
walau sebenarnya berasa di bawah.
Dari pangkat besar dan kecil,
kaya dan miskin
dan orang hina serta mulia.

Kenyataannya pangkat besar maupun kecil,


yang mulia atau hina,
kaya miskin semua sesama manusia.
Kalau didekati serta didukung,
jauh dari yang namanya sakit hati,
dekat dengan senang hatinya.

Kajian per kata:


Lan (dan) wus (sudah) jamak (lumrah, biasa) manungsa (manusia)
dunyèki (di dunia ini), sapa (siapa) rêna (yang suka) kasor (kalah,
direndahkan), nadyan (walau) ana (berada) asor (di bawah) sayêktine
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 31

(sebenarnya). Dan sudah biasa manusia di dunia ini, siapa yang suka
drendahkan, walau sebenarnya berasa di bawah.
Dalam bait ini kita diajak untuk menyadari tentang hukum universal
psikologi manusia yang sudah tidak diragukan lagi kebenarannya, yakni
tak satupun manusia yang suka bila kalah dari orang lain. Ini adalah
kenyataan yang hakiki, namun dalam praktiknya kita melihat fenomena
kalah-mengalahkan, fenomena kuasa-dikuasai, fenomena, kuat dan lemah.
Itu semua tidak membuat hukum psikologi ini kehilangan makna. Mereka
bisa saja dikuasai, direndahkan, di suruh-suruh, namun dalam hati mereka
tersimpan sikap melawan.
Saking (dari) pangkat (pangkat) gêdhe (besar) lawan (dan) cilik (kecil),
sugih (kaya) lawan (dan) mêskin (miskin), andhap (rendah, hina) miwah
(serta) luhur (mulia). Dari pangkat besar dan kecil, kaya dan miskin dan
orang hina serta mulia.
Hal ini berlaku untuk semua golongan, yang berpangkat tinggi takkan mau
kalah dengan pejabat lain yang pangkatnya lebih tinggi. Yang berpangkat
rendah pun dalam hati terpaksa menjalani. Yang kaya masih was-was jika
ada yang lebih kaya, yang miskin selalu memikirkan kekayaan. Sekalipun
orang hina pun enggan kalah, terlebih-lebih orang mulia. Ini harus
dipahami agar kita dapat bertenggang rasa dengan sesama, jauh dari
perilaku menyakiti orang lain.
Kayêktène (kenyataanya) pangkat (pangkat) agêng (besar) alit (kecil),
kang (yang) luhur (mulia) kang (yang) asor (hina), sugih (kaya) mêskin
(miskin) kabèh (semua) sêsamane (sesama manusia). Kenyataannya
pangkat besar maupun kecil, yang mulia atau hina, kaya miskin semua
sesama manusia.
Sesungguhnya seluruh manusia mempunyai karakeristik dan tunduk pada
hukum-hukum watak dan perilaku yang sama. Baik yang berpangkat
besar, kecil, yang berpangkat tinggi atau rendah, orang kaya atau miskin,
itu semua sama sebagaiman manusia. Dari mereka ada watak universal
yang sama-sama mereka punyai.
Yèn (kalau) ginulung (didekati) sarta (serta) dèn (di) condhongi (dukung,
disetujui), adoh (jauh) kang (yang) saksêrik (kebencian), cêdhak (dekat)
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 32

sukanipun (senangnya). Kalau didekati serta didukung, jauh dari yang


namanya sakit hati, dekat dengan senang hatinya.
Yakni apabila didekati dan didukung, maka menjauhlah rasa benci dari
hati mereka dan timbulah rasa suka di hatinya. Pergaulan antara dua orang
manusia akan mendekatkan hati mereka, membuat mereka saling
mengenal dan memahami, menimbulkan saling pengertian diantara
mereka. Jika rasa benci hilang, terbit rasa suka, munculah tenggang rasa,
kepercayaan pun didapat.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 33

Kajian Salokatama (17;18): Nglalu Budi


Bait ke-17;18, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat
Salokatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Dunungipun wong kang nglalu budi,
ana bêcik awon.
Bêcikira kang tinuturake,
alanira wus kocap ing nguni.
Tan lyan jalaraning,
cupêt ing panggayuh.

Mring kawiryan myang sabarang kapti,


tita tan antuk don.
Wit tan majad kang kinarêpake,
tanpa srana lumuh anoragi .
Tan arsa mintasih,
tamtu tan jinurung.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Sifat sebenarnya orang yang hilang akal budi,
(dalam hal) kebaikan dan keburukan (orang lain).
Kebaikanmu yang diberitakan,
tetapi keburukanmu sudah menyebar di waktu dahulu.
Tak lain sebabnya,
karena pendek dalam upayannya.

Kepada keluhuran dan sembarang keinginan,


jelas tak mendapat tempat.
Sebab tak seimbang,
yang diharapkan,
tanpa sarana dan enggan bersikap sopan.
(Jika) tak berkehendak minta tolong,
tentu tidak didukung.

Kajian per kata:


Dunungipun (Letaknya, sifatnya, yang sebenarnya) wong (orang) kang
(yang) nglalu (hilang) budi (akal), ana (ada) bêcik (kebaikan) awon
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 34

(keburukan). Sifat sebenarnya orang yang hilang akal budi, (dalam hal)
kebaikan dan keburukan (orang lain).
Kata dunung berarti letak, namun artinya bisa beervariasi tergantung
konteks, seperti pada kata: didunungke, artinya diberitahu letak
kesalahannya. Dunungipun di sini berarti sifat sebenarnya dari seseorang,
dalam hal ini orang yang nglalu budi, orang yang hilang akal budinya.
Bahwa sifat mereka yang sebenarnya berkaitan dengan kebaikan dan
keburukan seseorang adalah sebagai berikut.
Bêcikira (kebaikanmu) kang (yang) tinuturake (diberitakan), alanira
(keburukanmu) wus (sudah) kocap (menyebar) ing (di waktu) nguni
(dulu). Kebaikanmu yang diberitakan, tetapi keburukanmu sudah
menyebar di waktu dahulu.
Jika ada kebaikanmu yang diberitakan, sesungguhnya keburukanmu sudah
lebih dulu disebarkan. Orang yang hilang akal tadi lebih suka
membeberkan keburukan orang lain dibanding kebaikannya.
Tan (tak) lyan (lain) jalaraning (sebabnya), cupêt (pendek) ing (dalam)
panggayuh (upaya). Tak lain sebabnya, karena pendek dalam upayannya.
Sebab mengapa mereka melakukan hal itu tak lain karena daya upayanya
pendek. Terbakar sifat panasten terhadap keberhasilan orang lain. Rasa iri
hati dan dengki membuatnya tega melakukan itu.
Mring (kepada) kawiryan (keluhuran) myang (dan) sabarang (sembarang)
kapti (keinginan), tita (jelas) tan (tak) antuk (mendapat) don (tempat).
Kepada keluhuran dan sembarang keinginan, jelas tak mendapat tempat.
Pendeknya daya upaya dalam banyak hal, terhadap keluhuran dan
sembarang keinginan lain, misalnya kepandaian, kedudukan, kekayaan,
kekuatan, dan lain-lainnya, membuatnya tidak layak untuk mendapat
keberhasilan. Dalam hal-hal tersebut sudah terlihat jelas bahwa dia tidak
mendapat tempat, artinya tidak berhasil.
Wit (awit, karena) tan (tidak) majad (seimbang, sebanding, proper) kang
(yang) kinarêpake (diharapkan), tanpa (tanpa) srana (sarana) lumuh
(enggan) anoragi (bersikap sopan). Sebab tak seimbang, yang diharapkan,
tanpa sarana dan enggan bersikap sopan.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 35

Oleh karena apa yang diinginkan tidak sebanding dengan upaya yang
dilakukan. Keinginannya panjang, upayanya pendek, sarana pendukung
pun tak ada. Sudah begitu dia pun enggan untuk bersikap sopan dalam
pergaulan, tak mau mencari dukungan agar harapannya terwujud dengan
jalan bersikap baik dengam sesama.
Tan (tidak) arsa (berkehendak) mintasih (minta tolong), tamtu (tentu) tan
(tidak) jinurung (didukung). (Jika) tak berkehendak minta tolong, tentu
tidak didukung.
Tidak punya kehendak untuk minta tolong pada orang lain dengan sikap
yang sopan tadi, ogah mencari dukungan atau bantuan, maka sudah jelas
dia tak didukung.
Bait ini menguraikan keadaan seseorang yang hilang akal. Keinginannya
banyak tetapi upayanya pendek. Dalam keadaan seperti itu seharusnya dia
mencari dukungan dengan banyak bergaul disertai sopan santun agar orang
berkenan memberi bantuan. Tanpa upaya tambahan dengan mencari
simpati maka orang-orang sekitarnya juga takkan membantu.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 36

Kajian Salokatama (19): Aywa Kaget ing Driya


Bait ke-19, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Lamun majad kang sinêdyèng kapti,
môngka tan kalakon,
aja age kagèt ing driyane.
Salah tômpa panglaluning ati,
nguring-uring dhiri,
nutuh ngamun-amun.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Jika seimbang yang dikehendaki hati,
padahal tetap tak tercapai,
jangan buru-buru terkejut dalam hati.
Salah terima lalu hilang harapan berkecil hati,
menyesali diri sendiri,
memaki menghujat-hujat.

Kajian per kata:


Lamun (jika) majad (seimbang) kang (yang) sinêdyèng (dikehendaki)
kapti (hati), môngka (padahal) tan (tak) kalakon (tercapai), aja (jangan)
age (buru-buru) kagèt (terkejut) ing (dalam) driyane (hati). Jika seimbang
yang dikehendaki hati, padahal tetap tak tercapai, jangan buru-buru
terkejut dalam hati.
Namun ada kalanya ketika kita menginginkan sesuatu dan sudah berusaha
dengan upaya yang pantas masih saja cita-cita yang kita tuju tak tercapai.
Jika mengalami hal yang demikian jangan buru-buru terkejut atau syok
dalam hati.
Memang hak orang yang berusaha adalah berhasil. Akan terasa sakit
apabila sudah melakukan banyak hal yang sepadan dengan keinginan
namun yang diinginkan tak terlaksana. Hal yang wajar apabila timbul
kekecewaan, tapi bersabarlah. Dinginkan hati dahulu agar dapat menerima
kenyataan.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 37

Salah (salan) tômpa (terima) panglaluning (hilang harapan, berkecil) ati


(hati), nguring-uring (mengumpat, menyesali) dhiri (diri sendiri), nutuh
(memaki) ngamun-amun (menghujat-hujat). Salah terima lalu hilang
harapan berkecil hati, menyesali diri sendiri, memaki menghujat-hujat.
Jangan dahulu salah terima dengan keadaan yang ada, kemudian hilang
harapan. Jangan sampai berkecil hati atau menjadi menyesali diri. Apalagi
jika sampai memaki-maki ataupun menghujat-hujat orang lain, mencari
kambing hitam, menuduh orang lain tak adil, menuduh orang lain
menjegalnya, atau bisa-bisa menghujat Tuhan yang memberi nasib buruk.
Yang demikian itu jangan dilakukan. Bersikaplah yang tenang dan
renungkanlah. Akan lebih baik jika bisa mengambil pelajaran dari setiap
peristiwa yang tak dikehendaki, agar esok tak gagal lagi.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 38

Kajian Salokatama (20): Tampa Sasmitaning Gusti


Bait ke-20, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Tampanana sasmitaning Widhi
tanjihna ing batos.
Umat kabèh iki kêkasihe,
yêkti nora bineda sadêmi,
dene duwe kapti,
têka tan jinurung.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Terimalah isyarat dari Tuhan,
perjelaslah dalam batin (melalui perenungan).
Umat seluruhnya ini diksihinya,
sungguh tidak dibedakan sedikitpun,
ketika punya keinginan,
kok tidak dikabulkan.

Kajian per kata:


Jika dalam bait yang lalu ada anjuran untuk bersikap tenang, tidak kaget,
tidak memaki dan menghujat, maka pada bait ini ada anjuran yang lebih
elok dalam menyikapi kegagalan.
Tampanana (terimalah) sasmitaning (isyarat) Widhi (dari Tuhan),
tanjihna (perjelaslah) ing (dalam) batos (batin). Terimalah isyarat dari
Tuhan, perjelaslah dalam batin (melalui perenungan).
Dari setiap kegagalan yang kita alami terimalah isyarat dari Tuhan Yang
Maha Benar, yang tidak pernah salah dalam mengatur urusan setiap
makhluk. Perjelaslah di dalam batin melalui perenungan, muhasabah
dalam keheningan malam. Jernihkan hati agar suara-suara kebenaran yang
samar-samar terdengar jelas.
Umat (umat) kabèh (seluruhnya) iki (ini) kêkasihe (dikasihiNya), yêkti
(sungguh) nora (tidak) bineda (dibedakan) sadêmi (sedikit pun), dene
(bila) duwe (punya) kapti (keinginan), têka (kok) tan (tidak) jinurung
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 39

(dikabulkan). Umat seluruhnya ini diksihinya, sungguh tidak dibedakan


sedikitpun, ketika punya keinginan, kok tidak dikabulkan.
Umat manusia seluruhnya adalah kekasihNya. Semua akan mendapat
limpahan kasih dari sang Maha Pengasih. Takkan dibeda-bedakan antara
satu dengan yang lain di dunia ini. Hukum penciptaan yang berlaku sama
untuk setiap orang, baik orang berpangkat atau hina, kaya atau miskin,
orang baik atau jahat. Jadi mustahil jika punya keinginan dan sudah
berusaha kok tidak berhasil! Itu tidak mungkin! Jika kita mengalami hal
seperti itu pasti ada hikmah yang tersembunyi. Pasti ada maksud lain
dariNya. Carilah hikmah itu dengan sikap husnudzan terhadap Sang
Pencipta.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 40

Kajian Salokatama (21): Durung Wektune, Kaki


Bait ke-21, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Bokmanawa kang sira karêpi,
ginawe lêlakon,
durung waktu iku ing têgêse.
Ngadatira kang sinêdyèng kapti
yèn wus kêmba lali
kono sok jinurung.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Barangkali yang engkau kehendaki,
dibuat rencana kejadian,
belum saatnya maksudnya.
Kebiasaannya yang dikehendaki hati,
apabila sudah reda dan lupa,
di situ kadang malah dikabulkan.

Kajian per kata:


Bokmanawa (barangkali) kang (yang) sira (engkau) karêpi (kehendaki),
ginawe (dibuat rencana) lêlakon (kejadian), durung (belum) waktu (saat)
iku (itu) ing têgêse (maksudnya). Barangkali yang engkau kehendaki,
dibuat rencana kejadian, belum saatnya maksudnya.
Salah satu hikmah dari belum tercapainya keinginan padahal sudah
berusaha secara maksimal adalah barangkali waktunya belum saatnya.
Allah lebih tahu manakah yang lebih baik untuk hidup kita. Mungkin Sang
Pencipta melihat kita belum siap untuk menerima anugrah itu. Dia
membuat skenario lain agar kita semakin matang ketika keinginan kita
benar-benar terkabul kelak.
Ngadatira (kebiasaannya) kang (yang) sinêdyèng (dikehendaki) kapti
(hati), yèn (apabila) wus (sudah) kêmba (reda) lali (dan lupa), kono (di
situ) sok (kadang) jinurung (malah dikabulkan). Kebiasaannya yang
dikehendaki hati, apabila sudah reda dan lupa, di situ kadang malah
dikabulkan.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 41

Atau bisa juga karena kita terlalu berambisi sehingga tercapainya


keinginan kita ditunda olehNya. Sesungguhnya dunia ini takkan pernah
diberikan kepada yang meminta, jadi sabarlah jika mempunyai keinginan.
Jangan terlalu bernafsu untuk mendapatkan sesuatu, lakukan dengan
sekadarnya saja, sakmadya.
Jika hati sudah reda dan ambisi sudah hilang biasanya kadang apa yang
dahulu diinginkan malah terkabul. Ada kalimat bijak dari Ali bin Abi
Thalib:
Dunia ini ibarat bayanganmu, seberapa kencang engkau
mengejarnya ia akan tetap didepanmu, namun jika engkau lari
darinya ia akan balik mengejarmu.
Oleh karena itu sabarlah dalam berkeinginan, lakukan usaha semampunya,
upayakan dengan sungguh-sungguh, dan bertawakallah.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 42

Kajian Salokatama (22): Lir Duryan Neng Wit


Bait ke-22, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Ngibarate lir duryan nèng nguwit
nanging maksih ênom
yèn pinènèk angèl pangundhuhe
dupi kêna tan enak binukti
tiwas andêrpati
wêkasan tan urup.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Ibarat duat durian di pohon,
tapi yang masih muda,
kalau dipanjat sulit mengunduhnya.
Ketika dapat dipetik tak enak dimakan,
terlanjur nekad diperik,
akhirnya tak sesuai harapan.

Kajian per kata:


Ngibarate (ibarat) lir (seperti) duryan (durian) nèng (di) nguwit (pohon),
nanging (tetapi) maksih (masih) ênom (muda), yèn (kalau) pinènèk
(dipanjat) angèl (sulit) pangundhuhe (memetiknya). Ibarat duat durian di
pohon, tapi yang masih muda, kalau dipanjat sulit mengunduhnya.
Sesuai dengan judul serat ini salokatama, perumpamaan yang utama, sang
penggubah membuat perumpamaan berkaitan dengan belum tercapainya
keinginan yang sudah diupayakan dengan sungguh-sungguh. Beliau
membuat saloka dari peristiwa matangnya buah durian.
Buah durian apabila tumbuh di pohon dan masih muda sangat sulit dipetik.
Lokasi tumbuhnya pun sulit dijangkau, karena pohon durian biasanya
sangat besar dan tinggi. Sangat sulit apabila memanjatnya.
Dupi (ketika) kêna (dapat dipetik) tan (tak) enak (enak) binukti
(dimakan), tiwas (terlanjur) andêrpati (nekad dipetik), wêkasan
(akhirnya) tan (tak) urup (sumbut, kurup, sesuai harapan). Ketika dapat
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 43

dipetik tak enak dimakan, terlanjur nekad diperik, akhirnya tak sesuai
harapan.
Setelah bersusah payah dengan gigih mencari cara untuk mengambil buah
durian, maka dapatlah juga akhirnya buah itu dipetik. Namun ketika
dibuka buahnya ternyata tidak enak sama sekali, akhirnya hanya terbuang.
Segala susah payah dan usaha keras akhirnya sia-sia. Hasil yang
didapatkan tak sebanding dengan kenekadannya ketika memetik.
Itulah perumpamaan suatu keinginan yang tercapai sebelum saatnya yang
tepat. Keinginan yang sangat untuk memakan buah durian diwujudkan
dengan berbagai cara, dengan usaha yang gigih, akhirnya tercapai. Namun
karena belum saatnya maka yang didapat bukanlah nikmatnya buah
durian, tetapi kesia-siaan belaka.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 44

Kajian Salokatama (23): Becik Anyarehken Kapti


Bait ke-23, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
pakolèhe anyarèhkên kapti
andina tan towong
anunggoni nèng ngisor uwite
praptèng môngsa jêr runtuh pribadi
gampang dènnya ngambil
tur enak lan tuwuk.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Manfaat meredakan keinginan,
ibarat setiap hari tak lowong,
menunggui di bawah pohon (durian).
Ketika tiba masa panen akan runtuh dengan sendirinya,
gampang mengambilnya,
malah enak dan mengenyangkan.

Kajian per kata:


Perumpamaan tentang buah durian masih berlanjut pada bait ini. Memang
dalam kehidupan kita perlu mengambil ibarat dari peristiwa alam atau
pengalaman makhluk lain. Orang-orang yang mampu melakukan ini
hanyalah para ahli hikmah, dan sekarang sedang belajar menjadi orang
seperti itu.
Di dalam bait terdahulu ada anjuran agar dalam berkeinginan menjauhi
sikap adreng, menggebu-gebu, ambisius dan tak sabar. Semua itu demi
menjauhkan dari kekecewaan hati manakala tidak berhasil mendapatkan
keinginannya. Berusaha dengan semestinya tanpa berlebihan, sakmadya
dan tawakal adalah lebih baik dan bermanfaat.
Pakolèhe (manfaat) anyarèhkên (meredakan) kapti (keinginan), andina
(setiap hari) tan (tak) towong (lowong), anunggoni (menunggui) nèng
(neng) ngisor (di bawah) uwite (pohonnya). Manfaat meredakan
keinginan, ibarat setiap hari tak lowong, menunggui di bawah pohon
(durian).
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 45

Salah satu manfaat meredakan keinginan adalah diibaratkan dengan orang


yang menunggui buah durian di bawah pohonnya. Dia tidak melakukan
tindakan yang berlebihan dengan membuang tenaga untuk memanjatnya.
Yang dia lakukan adalah memantapkan keinginan, berusaha sakmadya,
sepantasnya dan bertawakal. Jika sikap ini yang diambil ibaratnya dia
sudah berada setiap hari di bawah pohon durian itu, sambil tetap merawat
pohon duriannya, memberi pengairan, membersihkan lingkungannya.
Itulah upayanya yang sakmadya tadi.
Praptèng (ketika tiba) môngsa (masa panen) jêr (akan) runtuh (runtuh)
pribadi (sendiri), gampang (gampang) dènnya (kita) ngambil
(mengambil), tur (malah) enak (enak) lan (dan) tuwuk (mengenyangkan).
Ketika tiba masa panen akan runtuh dengan sendirinya, gampang
mengambilnya, malah enak dan mengenyangkan.
Ketika tiba saatnya buah durian itu matang dan siap dimakan, buah itu
akan jatuh dengan sendirinya. Konon buah durian yang jatuh dari pohon
adalah yang paling enak rasanya. Sampai ada pepatah: mendapat durian
runtuh, kiasan untuk orang yang mendapatkan keberuntungan yang sangat
besar.
Jika sudah begitu buah durian dapat diambil tanpa susah payah, tanpa
upaya ekstra yang menguras tenaga. Sudah begitu buahnya enak dan
membuat kenyang lagi. Inilah hikmah orang yang bersabar sambil
bertawakal, menyerahkan segala urusan kepada Sang Khaliq dengan
tawakal. Manis yang didapat, jauh dari kekecewaan.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 46

Kajian Salokatama (24): Aywa Kasreng ing Batos


Bait ke-24, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Nora beda wong gayuh kamukten,
yèn kasrêng ing batos.
Sinangkanan nglalu pratingkahe,
nguring-uring kang dinolan kardi,
sinêngguh tan mikir,
marang raganipun.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Tidak berbeda dengan orang yang menggapai kedudukan,
kalau terlalu ambisi dalam hatinya.
Diawali dengan nekad tingkah polahnya,
memarah-marahi yang diminta kerja (padanya),
dikira tidak memikirkan,
terhadap dirinya.

Kajian per kata:


Nora (tidak) beda (beda) wong (orang) gayuh (menggapai) kamukten
(kedudukan), yèn (kalau) kasrêng (terlalu ambisi) ing (dalam) batos
(hatinya). Tidak berbeda dengan orang yang menggapai kedudukan, kalau
terlalu ambisi dalam hatinya.
Setelah kita memahami dengan belajar dari kejadian buah durian tadi,
saatnya kita praktikan ilmu hikmah tadi dalam kehidupan sehari-hari.
Seumpama kejadian buah durian, dalam hal menginginkan kedudukan dan
kemuliaan dunia pun demikian itu sikap yang harus diambil. Tidak perlu
terburu-buru di dalam hati, sabar dan tawakal, menyerahkan keberhasilan
kepada Tuhan.
Berusaha dengan sakmadya artinya sepantasnya orang berusaha, tidak
lantas mengurangi upaya dan hanya menunggu saja, tetapi melakukan
upaya yang terukur dan sebanding dengan cita-cita yang diinginkan. Yang
terpenting adalah sikap hati kita, jangan sampai kasreng, terburu-buru, tak
sabar memetik hasil.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 47

Sinangkanan (diawali) nglalu (nekad) pratingkahe (tingkah polahnya),


nguring-uring (memarah-marahi) kang (yang) dinolan (dimintai) kardi
(kerja), sinêngguh (dikira) tan (tidak) mikir (memikirkan), marang
(terhadap) raganipun (dirinya). Diawali dengan nekad tingkah polahnya,
memarah-marahi yang diminta kerja (padanya), dikira tidak memikirkan
terhadap dirinya.
Apalagi jika keinginan yang buru-buru tadi diwujudkan dalam tindakan,
itu lebih konyol lagi. Polahnya menjadi tidak terukur, serba grusa-grusu,
marah-marah, mengumpat-umpat, mendamprat siapa saja yang membantu,
dikira bantuannya tidak maksimal.
Ketidaksabarannya itu justru semakin menjauhkan dari keberhasilan dan
melipatgandakan kekecewaan apabila yang diinginkan tak terwujud.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 48

Kajian Salokatama (25): Iku Wahyu Eblis!


Bait ke-25, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Ngêmpakakên rusuhe ing batin,
kêmate linakon,
èstu kêna kang kinarêpake.
Kang mangkono iku wahyu eblis,
ngadat tan lêstari,
gêng bêncananipun.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Melaksanakan niat rusuh dalam batin,
guna-guna dilakukan,
hingga benar-benar terwujud yang diharapkan.
Yang demikian itu bisikan iblis,
biasanya tidak langgeng,
amat besar bencananya.

Kajian per kata:


Ngêmpakakên (melaksanakan) rusuhe (niat rusuh) ing (dalam) batin
(batin), kêmate (guna-guna) linakon (dilakukan), èstu (benar) kêna
(terwujud) kang (yang) kinarêpake (diharapkan). Melaksanakan niat
rusuh dalam batin, guna-guna dilakukan, hingga benar-benar terwujud
yang diharapkan.
Karena terlalu ambisi, keinginan hati menggebu-gebu, setelah segala cara
mentok maka timbulah niat yang rusuh dalam hati untuk memakai jalan
pintas yang menggiurkan, klenik dan perdukunan. Dan jika benar-benar
nekad dilaksanakan yakni dengan cara memakai guna-guna, azimat,
cekelan dan syarat-sarana dari mbah dukun, lengkaplah sudah ia terpuruk
dalam jebakan syetan. Semua itu dia tempuh karena ambisinya yang
kelewatan. Semua cara hina itu akan dilakukan sampai keinginannya
benar-benar terwujud.
Kang (yang) mangkono (demikian) iku (itu) wahyu (bisikan) eblis (iblis),
ngadat (biasanya) tan (tak) lêstari (langgeng), gêng (besar)
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 49

bêncananipun (bencananya). Yang demikian itu bisikan iblis, biasanya


tidak langgeng, amat besar bencananya.
Yang demikian itu adalah bisikan iblis, rayuan syaitan, dorongan watak
angkara. Jika dituruti akan semakin besar, takkan bisa berhenti dan
semakin tenggelam dalam dekapan iblis. Watak angkara bersifat: angkara
gung anggung gumunung, angkara yang besar akan semakin menggunung.
Jika pun berhasil dicapai apa yang diinginkan dengan cara itu biasanya
tidak akan langgeng. Akan banyak halangan yang merintangi. Akan ada
banyak bencana yang menyertainya. Siapapun yang menjadikan iblis
sebagai teman hakekatnya sudah berteman dengan bencana.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 50

Kajian Salokatama (26): Kang Wantah Lekase


Bait ke-26, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Kadya duryan kang ênèm ing nguni,
padhaning lêlakon.
Seje lawan kang wantah lêkase,
panêdhane saking jro sêmadi,
kalanira wêngi
ing lair sinamun.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Seperti durian yang masih muda di atas,
perumpamaan kejadiannya.
Beda dengan yang lugu kelakuannya,
penerimaannya dari dalam perenungan,
dikala malam hari,
secara lahir disamarkan.

Kajian per kata:


Kadya (seperti) duryan (durian) kang (yang) ênèm (muda) ing nguni (di
atas), padhaning (perumpamaan) lêlakon (kejadiannya). Seperti durian
yang masih muda di atas, perumpamaan kejadiannya.
Kita sudah mengetahui tentang buruknya sikap tergesa-gesa, nggege
mangsa, tidak sabar menunggu hasil, ingin cepat-cepat terlaksana dalam
keinginan. Yang demikian itu seyogyanya tidak dilakukan. Jika
bekehendak mencapai sesuatu usahalah sekadarnya, jangan kurang jangan
lebih, sesudah itu bertawakalah menunggu ketetapan Allah bagimu.
Jika tidak sabar dan nggege mangsa, perumpamaannya seperti buah durian
yang belum masak tadi. Dimakan tidak enak dan tidak membuat kenyang,
malah bikin dongkol yang mencicipinya. Sekarang marilah kita
bandingkan mana yang lebih baik antara sikap tergesa-gesa dengan sikap
yang apa adanya atau sikap yang wantah (lugu, turut).
Seje (beda) lawan (dengan) kang (yang) wantah (lugu, apa adanya) lêkase
(kelakuannya), panêdhane (penerimaannya) saking (dari) jro (dalam)
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 51

sêmadi (perenungan), kalanira (dikala) wêngi (malam), ing lair (secara


lahir) sinamun (disamarkan). Beda dengan yang lugu kelakuannya,
penerimaannya dari dalam perenungan, dikala malam hari, secara lahir
disamarkan.
Berbeda dengan orang yang berusaha dengan kekuatan sendiri, yang
berusaha dengan wantah, atau tidak pakai pertolongan dunia klenik, akan
sangat pasrah dalam menerima hasil. Penerimaannya terhadap ketetapan
Allah berasal dari batin yang sudah jernih oleh karena terbiasa merenung.
Di kala malam hari banyak bermuhasabah, merenungi perbuatan, dan
berusaha sekuat daya upaya untuk meningkatkan kekuatan spiritual
dengan jalan mujahadah di malam hari. Berzikir dan mengesakan Allah,
memahami isyarat dan petunjukNya di alam nyata. Namum tetap
menjalankan aktivitas sebagaimana biasa di siang hari dengan upaya lahir
yang sesuai cita-cita.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 52

Kajian Salokatama (27): Anyangking Tembung Arum


Bait ke-27, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Kang minangka isarat saari,
tan mèngèng sapakon,
mring kang wajib marentah awake.
Myang srutira têmên lan tabêri,
sêsambèn nor ragi,
nyangking têmbung arum.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Yang sebagai tanda seharihari,
tak menolak perintah apapun,
dari yang berwenang memerintah dirinya.
Dan setiti, bersungguh-sungguh dan rajin,
sambil disertai sopan dan santun,
membawakan perkataan manis.

Kajian per kata:


Bait ini menguraikan tentang sikap orang yang lugu atau wantah, yakni
orang yang dalam mencapai keinginan berbuat yang sakmadya, tidak
ambisius. Dalam bait yang lalu telah disinggung sedikit tentang sikap
mereka yang suka merenung dan meningkatkan kemampuan spiritual di
kala malam hari. Bait ini merupakan menguraikan ciri-ciri yang lain dari
watak orang tersebut. Perhatikan bahwa orang yang berwatak seperti ini
mempunyai bakat untuk sukses dengan kekuatan sendiri, tidak perlu pakai
klenik dan dukun segala.
Kang (yang) minangka (sebagai) isarat (isyarat, tanda) saari (sehari-hari),
tan (tak) mèngèng (menoleh, menolak) sapakon (perintah apapun), mring
(kepada) kang (yang) wajib (berwenang) marentah (memerintah) awake
(dirinya). Yang sebagai tanda seharihari, tak menolak perintah apapun,
dari yang berwenang memerintah dirinya.
Yang sebagai isyarat sehari-hari (tanda-tanda untuk mengenali orang
tersebut), adalah tidak menolak perintah apapun dari yang berwenang
memerintah dirinya. Kang wajib artinya yang berwajib, yang berwenang,
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 53

yang berarti atasan orang tersebut. Ini berarti orang tersebut mempunyai
sikap patuh, tidak membantah atau mengelak dari perintah yang jatuh
padanya.
Myang (dan) srutira (telaten, setiti) têmên (bersungguh-sungguh) lan
(dan) tabêri (rajin), sêsambèn (sambil disertai) norragi (sopan),
nyangking (membawakan) têmbung (perkataan) arum (manis, enak
didengar). Dan setiti, bersungguh-sungguh dan rajin, sambil disertai
sopan dan santun, membawakan perkataan manis.
Sruti artinya setiti, pintar merawat sesuatu agar berguna, cermat dalam
memperlakukan suatu barang seolah itu barang milik sendiri. Temen
artinya bersungguh-sungguhm tidak slengekan atau bercandaan saja.
Taberi adalah rajin, tidak pernah absen dalam melakukan sesuatu
pekerjaan.
Selain sifat-sifat di atas juga sambil disertai sikap yang sopan (anuraga),
sikap yang baik dalam bertingkah laku. Serta membawakan perkataan
manis. Tembung arum adalah kiasan untuk perkataan yang menyenangkan
hati orang yang mendengarnya. Namun jangan dikelirukan dengan kata-
kata penjilat. Yang dimaksud tembung arum adalah mampu berkata
dengan perkataan yang baik sehingga yang mendengar senang. Meski
mungkin yang dikatakan secara prinsip berbeda pendapat tapi jika
dibawakan dengan kata-kata yang baik yang mendengar akan senang,
tidak tersinggung atau marah.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 54

Kajian Salokatama (28): Mrih Rahayuning Budi


Bait ke-28, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Adhêdhasar rahayuning budi
anampik kang asor.
Tansah karêm marang sêsamane
luwangira yèn bisa nglakoni.
Barang kang kinapti
ing samajadipun.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Berdasarkan keselamatan budi,
menolak (perbuatan) yang hina.
Selalu suka kepada sesamanya,
ringanlah jika bisa menjalani.
Sembarang yang diinginkan,
dalam kadar yang sepantasnya.

Kajian per kata:


Adhêdhasar (berdasarkan) rahayuning (keselamatan) budi (budi),
anampik (menolak) kang (yang) asor (hina). Berdasarkan keselamatan
budi, menolak (perbuatan) yang hina.
Atas dasar keselamatan budi tolaklah perbuatan yang hina. Perbuatan hina
akan meruntuhkan moral, mencemarkan nama baik, membuat ketagihan
dan semakin lama semakin massif kadarnya. Jika sudah kecanduan berbuat
hina susah untuk berhenti.
Tansah (selalu) karêm (suka) marang (kepada) sêsamane (sesamanya),
luwangira (sempatkan, ringankan) yèn (kalau) bisa (bisa) nglakoni
(menjalani). Selalu suka kepada sesamanya, ringanlah jika bisa menjalani.
Dalam versi lain kata karem berganti asih, artinya kurang lebih sama
yakni suka. Sebenarnya kata karem tidak lazim dipakai untuk obyek
manusia, tetapi kita tak begitu paham dengan konteks zaman itu. Mungkin
saja dahulu kata itu tidak menimbulkan kejanggalan seperti pada zaman
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 55

ini. Untuk kajian ini kita akan memakai kata asih saja yang artinya
mengasihi, ini sepertinya lebih cocok dengan keseluruhan bait.
Selalu mengasihi sesamanya, tetangga, kawan, kolega, dan lingkungan
sekitar. Luwang padanan katanya sampat, dhangan, artinya ringan,
sempat. Maksudnya ringankan dalam bergaul dengan sesama, jika bisa
bantulah mereka yang membutuhkan, jangan memberatkan atau
mempersulit orang lain. Syukur-syukur jika bisa membantu, maka
ringankan tanganmu untuk mereka.
Barang (sembarang) kang (yang) kinapti (diinginkan), ing (dalam)
samajadipun (sepantasnya). Sembarang yang diinginkan, dalam kadar
yang sepantasnya.
Yang terakhir, semua yang diinginkan ukurlah dengan kemampuan. Yang
sepantasnya saja dalam merencanakan hari esok. Memang nasib orang
tidak tahu, tetapi berkeinginan terlalu muluk juga tidak baik.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 56

Kajian Salokatama (29): Lestari Tan Sengsareng


Bait ke-29, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat Salokatama
karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Nora luput kang sarta basuki
iku wahyu yêktos.
Pirabara tumurun bakale,
ra-orane awake pribadi.
Lakune lêstari,
tan sangsarèng kalbu.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Tidak salah dalam berbuat yang (mengarah) pada keselamatan,
itulah bisikan Ilahi yang sebenarnya.
Seumpama tidak terlaksana nantinya,
setidak-tidaknya (akan berguna) untuk diri pribadi.
Perjalanannya langgeng dalam keselamatan,
tak sengsara dalam hati.

Kajian per kata:


Nora (tidak) luput (salah) kang (yang) sarta (dan, serta) basuki (selamat),
iku (itu) wahyu (bisikan Ilahi) yêktos (sebenarnya). Tidak salah dalam
berbuat yang (mengarah) pada keselamatan, itulah bisikan Ilahi yang
sebenarnya.
Tidak ada salahnya, tak ada ruginya, dalam bersikap dan berbuat baik
dalam kehidupan. Hal-hal itu akan mengarah pada keselamatan. Itulah
bisikan Ilahi yang sebenarnya. Orang dapat berbuat baik tanpa motif
duniawi apapun, karena berbuat baik adalah fitrah manusia. otomatis
manusia akan senang melakukan perbuatan baik, kecuali yang
mengingkari kecenderungan itu dan lebih memilih ikut hawa nafsu.
Pirabara (seumpama tidak) tumurun (terlaksana) bakale (nantinya), ra-
orane (setidak-tidaknya) awake (diri) pribadi (pribadi). Seumpama tidak
terlaksana nantinya, setidak-tidaknya (akan berguna) untuk diri pribadi.
Seumpama tidak terlaksana nantinya apa-apa yang menjadi keinginan hati
tadi, yang sudah diupayakan dengan bersikap baik, ringan tangan, sopan
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 57

santun dan berkata manis, jika itu semua tak membuat apa yang diinginkan
tercapai, tidaklah mengapa. Setidak-tidaknya apa yang sudah dilakukan
akan bermanfaat untuk diri sendiri.
Bersikap dan berbuat baik tidak akan pernah rugi, jika itu tak mampu
mendatangkan capaian duniawi seperti yang diinginkan, setidaknya akan
membuat mulia harkat yang bersangkutan. Nothing to loose, tak akan ada
yang hilang.
Lakune (perjalanannya) lêstari (langgeng dalam keselamatan), tan (tak)
sangsarèng (sengsara dalam) kalbu (hati). Perjalanannya langgeng dalam
keselamatan, tak sengsara dalam hati.
Yang sudah jelas, segala sikap dan perbuatan yang baik tadi akan
membuat perjalanan hidup langgeng dalam keselamatan, tidak akan
menemui kesengsaraan batin. Lestari adalah langgeng, berkesinambungan
dalam hal-hal yang baik. Itulah buah dari sikap dan perilaku yang baik.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 58

Kajian Salokatama (30;31): Tan Teka Yen Mung Den Siri


Bait ke-30;31, Pupuh Mijil (metrum: 10i,6o,10e,10i,6i,6u), serat
Salokatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV.
Lir angganing duryan kang matêng wit,
jumbuhing lêlakon,
barang sêja ana jalarane.
Ora têka yèn amung dèn siri,
wit Kang Maha Sukci,
tan adarbe suku.

Itih panawunging ruwiyadi,


ri Soma katongton,
kaping sapta Sapar wimbaning lèk,
tabuh astha Dal sangkalèng warsi
swara trusing ardi,
risang maha prabu.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Seperti isi dalam buah durian yang matang di pohon,
kecocokan dalam kejadiannya.
Hal-hal yang dituju ada penyebabnya,
tidak terwujud dengan sendirinya.
Karena Yang Maha Suci,
takkan mendahului mengabulkan.

Kajian per kata:


Lir (seperti) angganing (tubuh, isi dalam) duryan (durian) kang (yang)
matêng wit (matang di pohon), jumbuhing (kecocokan) lêlakon
(kejadiannya). Seperti isi dalam buah durian yang matang di pohon,
kecocokan dalam kejadiannya.
Seperti isi dalam tubuh durian matang pohon tadi, yang diperlukan
kesabaran dalam mendapatkannya, demikian juga keinginan kita harus
diperjungkan dengan upaya dan kesabaran. Perumpamaan waktu
menunggu durian sampai matang adalah kiasan bagi orang yang sabar
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 59

menunggu proses. Tidak tergesa-gesa tetapi bersiap sedia jikalau sewaktu-


waktu yang diinginkan terwujud tidak canggung dalam menjalaninya.
Misalnya seseorang ingin menjadi lurah maka harus belajar dahulu tata
pemerintahan desa, menyiapkan program kerja, menjaring pendukung,
bergaul dengan masyarakat agar programnya mendapat tanggapan,
menabung untuk persiapan biaya operasional pencalonan, dll.
Sekarang bandingkan dengan orang yang tidak punya persiapan sama
sekali, maju lurah hanya karena dikompori preman petualang, tidak punya
gambaran program kerja hanya punya logan dan jargon-jargon, tidak
punya ilmu pemerintahan, hanya bermodal dukun ampuh (katanya), modal
pencalonan puh hutang ke Bank Plecit Rakyat, dll.
Dari dua calon tersebut seandainya terpilih mana yang mendatangkan
kebaikan bagi dirinya dan masyarakat banyak? Anda sudah tahu!
Barang (hal-hal yang) sêja (dituju, diinginkan) ana (ada) jalarane
(penyebabnya), ora (tidak) têka (datang, maksudnya terwujud) yèn (kalau)
amung (hanya) dèn siri (dibatin). Hal-hal yang dituju ada penyebabnya,
tidak terwujud dengan sendirinya.
Semua pencapaian, prestasi, anugrah apapun yang kita terima pastilah ada
usaha yang mendahuluinya. Betapapun kecilnya usaha dan upaya yang
dikerahkan, namun tanpa didahului hal tersebut sesuatu capaian apapun
takkan pernah terjadi.
Wit (karena) Kang Maha Sukci (Yang Maha Suci), tan (tak) adarbe
(mempunyai) suku (kaki). Karena Yang Maha Suci, takkan mendahului
mengabulkan.
Karena Yang Maha Suci takkan mendahului mengabulkan sebelum ada
usaha dari manusia itu sendiri.
Kalimat tan adarbe suku secara tekstual berarti tidak punya kaki, namun
kita tahu bahwa kalimat itu adalah sanepan atau kiasan. Yang dimaksud
adalah Tuhan tidak akan mendekat sebelum ada gerakan dari makhluk
dengan apa yang disebut berusaha dan berdaya upaya.
Kajian Sastra Klasik Serat Salokatama 60

Penutup
Itih (selesai, tamt) panawunging (penggubahan) ruwiyadi (riwayat,
cerita), ri (hari) Soma (Senin) katongton (terlihat), kaping (yang ke) sapta
(7) Sapar (Sapar) wimbaning lèk (bulannya), tabuh (jam) astha (8) Dal
(tahun Dal) sangkalèng warsi (candra sengkala:) swara trusing ardi,
risang maha prabu (1799 AJ atau 1870M)

Telah selesai penggubahan riwayat ini, pada hari Senin, hari ke-7 bulan
Sapar, jam 8, tahun Dal, 1799 AJ atau Senin 9 Mei 1870M.

TAMMAT

Mirenglor, Sabtu, 4 Nopember 2017

Bambang Khusen Al Marie