Anda di halaman 1dari 114

i

SERI KAJIAN SASTRA KLASIK :

WULANG LUHUR
KEPADA PARA WANITA

ISI:
SERAT DARMADUHITA
SERAT DARMARINI
SERAT WULANG WANITA

TERJEMAH DAN KOMENTAR OLEH:


BAMBANG KHUSEN AL MARIE

2018
ii
iii

KATA PENGANTAR

Buku ini merupakan kumpulan beberapa serat karya para leluhur yang
memuat nasihat kepada para wanita yang hendak mamangku peran sebagai
seorang istri. Meski merupakan karya klasik yang sudah berusia ratusan
tahun, beberapa nasihat yang terkandung dalam serat-serat ini masih
relevan untuk diterapkan di zaman kini. Oleh karena itu sebagai bahan
pembelajaran dan memperkaya pengetahuan, kami merasa perlu mengkaji
serat-serat tersebut.
Bagian pertama, Serat Darmaduhita berisi nasihat tentang sifat-sifat yang
sebaiknya dipunyai seorang istri. Juga diuraikan tentang sifat-sifat buruk
yang harus dihindari bagi wanita. Tugas dan posisi dalam rumah tangga
dan anjuran untuk merawat kebaikan sampai usia senja.
Bagian kedua, Serat Darmarini berisi nasihat tentang sifat yang harus
dipunyai seorang istri, yang terangkum dalam sembilan macam sifat. Juga
disertai nasihat agar langgeng dalam membina rumah tangga.
Bagian ketiga, Serat Wulang Wanita berisi ajaran bahwa wanita harus
menurut dan patuh kepada suami. Hal itu merupakan bentuk kepatuhan
juga kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Jangan sampai menjadi wanita
yang suka membantah seperti halnya orang yang berwatak hina.
Hendaknya wanita juga bisa memberdayakan suaminya sehinga dalam
rumah tangga suami merasa mendapat support dari istri. Berbaiklah dalam
melayani kebutuhan dasar dalam rumah tangga sebagai istri dan sekaligus
kepala rumah tangga.
Selengkapnya, silakan membaca sendiri kajian ini.

Salam!
Pengkaji
Bambang Khusen Al Marie
iv
v

DAFTAR ISI

Kata Pengantar iii


Daftar isi v
Transliterasi Arab-Latin vi
Transliterasi Jawa-Latin vii
BAGIAN PERTAMA: SERAT DARMADUHITA 1
Kajian Darmaduhita 1: Tiga Sifat Wajib Istri 2
Kajian Darmaduhita 2 : Watak Wanita Candhala 5
Kajian Darmaduhita 3 : Sampai Kakek-Nenek 8
Kajian Darmaduhita 4: Isyarat Jari Yang Lima 11
Kajian Darmaduhita 5 : Menghadapi Poligami 18
Kajian Darmaduhita 6 : Tetirua Panggawe Becik 22
SERAT DARMARINI 26
Kajian Darmarini 1: Sembilan Watak Utama Wanita 27
Kajian Darmarini 2: Rumah Tangga Awet Lebih Baik 36

SERAT WULANG WANITA 43


Pupuh Kesatu: Dhandhanggula 44
Kajian Wulang Wanita 1 : Manut Mring Laki 45
Kajian Wulang Wanita 2 : Sarwa Bisa Wajibing Wanita 52
Kajian Wulang Wanita 3 : Ywa Dadi Trahing Kompra 59
Pupuh Kedua: asmaradana 63
Kajian Wulang Wanita 4 : Den Bisa Mandayeng Laki 64
Kajian Wulang Wanita 5 : Nyugata Bojakrama 69
Pupuh Ketiga: Kinanthi 74
Kajian Wulang Wanita 6: Nganthia Wulanging Ratu 75
Kajian Wulang Wanita 7 : Pilihen Kang Utama 82
Kajian Wulang Wanita 8 : Awas Sasmitaning Dunung 87
Kajian Wulang Wanita 9: Dimen Tulus Apasihaning Widhi 91
Pupuh Keempat: Mijil 94
Kajian Wulang Wanita 10 : Den Waskitha Semune Hyang Widhi 95
Kajian Wulang Wanita 11: Wruha Ala Kalawan Becik 102
vi

Transliterasi Arab ke Latin

Untuk kata-kata Arab yang ditulis dalam huruf latin dan diindonesiakan,
tulisan ini memakai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Disempurnakan. Untuk kata-kata yang belum diindonesiakan bila ditulis
dalam huruf latin mempergunakan transliterasi sebagai berikut:

‫ = ا‬a, i, u ‫=ر‬r ‫ = غ‬gh


‫=ب‬b ‫=ز‬z ‫=ف‬f
‫=ت‬t ‫= س‬s ‫=ق‬q
‫ = ث‬ts ‫ = ش‬sy ‫=ك‬k
‫=ج‬j ‫ = ص‬sh ‫=ل‬l
‫=ح‬h ‫ = ض‬dl ‫=م‬m
‫ = خ‬kh ‫ = ط‬th ‫=ن‬n
‫=د‬d ‫ = ظ‬dh ‫=ؤ‬w
‫ = ذ‬dz ‫‘=ع‬ ‫=ه‬h
‫=ي‬y
vii

Transliterasi Jawa ke Latin

Transliterasi kata-kata Jawa yang ditulis dalam hurf latin adalah sebagai
berikut.
= Ha = Da = Pa = Ma
= Na = Ta = Dha = Ga
= Ca = Sa = Ja = Ba
= Ra = Wa = Ya = Tha
= Ka = La = Nya = Nga
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 1

BAGIAN PERTAMA

SERAT DARMADUHITA
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 2

Kajian Tematik Darmaduhita 1: Tiga Sifat Wajib Istri


Pupuh 1, Kinanthi (metrum: 8u, 8i, 8a, 8i, 8a,8i), bait 1-3, Serat
Darmaduhita.
Dene ta pitutur ingsun, marang putraningsun èstri, dèn eling
ing aranira. Sira pan ingaran putri, kang aputih kang
sanyata, tri têtêlu têgêsnèki.

Bêkti nastiti ing kakung, kaping têlune awêdi, lair batin aja
êsak, nglakoni tuduhing laki. Laki ciptanên bêndara, mapan
wong wadon puniki.

Wajib manut marang kakung, aja pisan amapaki, marang


karêpe wong lanang. Sanadyan atmajèng aji, alaki lan
panakawan, sayêkti wajib ngabêkti.

Kajian per kata

Dene ta (adapun) pitutur (nasihat) ingsun (aku), marang (kepada)


putraningsun (anakku) èstri (perempuan), dèn eling (ingatlah) ing (pada)
aranira (sebutanmu). Adapun nasihatku, kepada anakku yang perempuan,
ingatlah dengan sebutanmu.
Harap engkau ingat wahai anak-anak perempuanku, akan sebutanmu,
yakni engkau disebut putri. Nama itu bukan sekedar nama tetapi
mengandung makna yang tersirat. Kata putri berasal dari suku kata put dan
tri.
Sira (engkau) pan ingaran (disebut) putri (putri), kang (yang) aputih
(artinya putih) kang (yang) sanyata (sebenarnya), tri (tri) têtêlu (tiga)
têgêsnèki (artinya). Engkau disebut putri, yang artinya putih yang
sebenarnya, tri artinya tiga.
Engkau dinamakan putri, artinya put adalah aputih, yakni bermakna suci,
bersih dari noda. Tri berarti tiga, karena seorang perempuan harus
memiliki tiga sifat berikut ini.
Bêkti (berbakti) nastiti (teliti, berhati-hati) ing (pada) kakung (suami),
kaping têlune (yang ketiga) awêdi (takut), lair (lahir) batin (batin) aja
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 3

(jangan) êsak (sakit hati), nglakoni (menjalani) tuduhing (petunjuk) laki


(suami). Berbakti dan teliti berhati-hati pada suami, ketiganya takut, lahir
dan batin jangan sakit hati, menjalani petunjuk suami.
Sifat yang pertama adalah bekti terhadap suami. Arti bekti sudah kita
uraikan dalam kajian serat Darmarini, yakni tak berani serta menghargai,
tidak lancang, tidak berani mendahuluinya. Nastiti artinya sangat berhati-
hati dan teliti dalam segala hal, agar tidak teledor atau cewet (ketinggalan).
Sedangkan arti dari wedi adalah takut dalam pengertian menghormat dan
patuh.
Laki (suami) ciptanên (anggaplah) bêndara (tuan), mapan (karena) wong
(seorang) wadon (wanita) puniki (itu), wajib (harus) manut (menurut)
marang (kepada) kakung (suami). Suami anggaplah tuan, karena seorang
wanita itu, wajib menurut kepada suami.
Suami anggaplah sebagai tuan yang setiap perintahnya wajib engkau
patuhi. Tentu saja dalam hal ini tetap berlaku prinsip paling tinggi, yakni
sepanjang perintah itu tidak berlawanan dengan kewajiban syariat.
Misalnya, seorang suami menyuruh istrinya untuk tidak shalat di masjid,
yang demikian itu boleh karena shalat di masjid bagi perempuan tidak
wajib. Namun jika suami melarang istrinya shalat, itu baru batil dan tak
perlu dipatuhi, karena shalat merupakan kewajiban syariat.
Demikian besar kuasa seorang suami pada istrinya, maka bagi lelakipun
hendaknya dapat menunaikan amanat yang diembannya dengan benar.
Tidak boleh kemudian menyuruh istri sekehendaknya sendiri. Namun hal
itu tidak kita bahas kali ini, karena topik kajian kita adalah tentang wanita.
Aja (jangan) pisan (sekali-kali) amapaki (mencela, meremehkan), marang
(kepada) karêpe (kehendak) wong (seorang) lanang (lelaki). Jangan
sekali-kali mencela, kepada kehendak seorang lelaki (suami).
Setelah mengetahui kedudukan seorang lelaki maka hendaklah istri
mengerti sikap apa yang tidak patut baginya. Jangan sekali-kali
membantah, mencela atau meremehkan kehendak lelaki (suaminya). Hal
itu tidak baik. Seorang istri hendaknya selalu menuruti kemauan suami,
sepanjang itu bukan untuk melakukan suatu kebatilan. Jika seorang istri
diperintah suami untuk melakukan hal yang batil, maka berlaku hukum
yang lain, yakni segala yang batil tidak perlu diikuti. Namun jika perintah
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 4

suami tidak melanggar aturan apapun, baik agama, norma dalam


masyarakat dan undang-undang yang berlaku, maka wajib dipatuhi.
Sanadyan (walaupun) atmajèng (anak dari) aji (seorang raja), alaki
(bersuami) lan (dengan) panakawan (pembantu), sayêkti (benar-benar)
wajib (harus) ngabêkti (berbakti). Walau anak dari raja, bersuami dengan
pembantu, benar-benar wajib baginya berbakti.
Hal tersebut berlaku pada pasangan suami istri yang manapun. Walau
misalnya, seorang istri kedudukan asalnya lebih tinggi dari suaminya,
kalau sudah berumah tangga harus tunduk dan patuh pada suami. Misalnya
andai ada kasus seorang anak perempuan raja yang menikah dengan
pembantu, maka si istri yang anak raja tersebut benar-benar harus berbakti
pada suaminya.
Demikian nasihat leluhur berkaitan dengan kepatuhan seorang istri kepada
suami. Jika ditimbang dengan ajaran agama apa yang telah disampaikan di
atas tidaklah bertentangan dengan syariat, bahkan dalam sebuah Hadits
yang diriwayatkan Abu Hurairah, Nabi sangat menekankan kepatuhan istri
kepada suaminya.

‫ﻟِﺰِوَﺟﻬﺎ‬
َْ ‫ﺠﺪ‬
َ ُ‫ﺗَﺴ‬
ْ ‫ْت اﻟَْْﻤﺮأَةَ أ َْن‬
ُ‫َﺣَﺪ َﻷَﻣﺮ‬
ٍ َ‫ﺠِﺪ ﻷ‬
َ ُ‫َﺣﺪا أ َْن ﻳ َْﺴ‬
ً َ‫ْﺖ ًِآﻣﺮا أ‬
ُ ‫ﻟَْﻮﻛُﻨ‬
“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang,
maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada
suaminya.”
HR. At Tirmidzi, no 1159.

Sekian dahulu kajian bagian pertama.


Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 5

Kajian Tematik Darmaduhita 2 : Watak Wanita Candhala


Pupuh 1, Kinanthi (metrum: 8u, 8i, 8a, 8i, 8a,8i), bait 4-6, Serat
Darmaduhita.
Kalamun wong wadon iku, angrasa mêngku ing laki, ing batine
amarentah, rumasa sênêng mring laki, nora rumasa wanodya,
puniku pan kaking laki.

Iku wong wadon kêpaung, bingung binglêng kênèng pêning. Tan


wurung dadi ranjapan, ing dunya tumêkèng akir, dadi intiping
naraka. Kalabang lan kalajêngking,

ingkang dadi kasuripun,Ssajroning naraka benjing. Iku wong wadon


candhala, kang tan bisa amêrangi, ing nêpsu kalawan hawa,
amarah kang dèn tut wuri.

Kajian per kata:

Kalamun (kalau) wong (seorang) wadon (wanita) iku (itu), angrasa


(mempunyai rasa) mêngku (menguasai) ing (pada) laki (suami), ing
(dalam) batine (hati) amarentah (memerintah), rumasa (merasa) sênêng
(suka) mring (pada) laki (lelaki), nora (tidak) rumasa (merasa) wanodya
(sebagai wanita), puniku (itu) pan (sungguh) kaking (kak, sejatinya) laki
(suami). Kalau ada seorang wanita yang, mempunyai rasa menguasai
pada lelaki, dalam hatinya memerintah, merasa senang pada lelaki, tidak
merasa sebagai wanita, itu sejatinya hak suami.
Bait ini menyoroti perilaku wanita yang suka memerintah, merasa senang
jika bisa menyuruh-nyuruh suaminya, merasa senang jika menguasai
lelakinya, dan tidak menuruti kodrat kewanitaannya. Jika ada wanita
seperti itu, maka sebenarnya maka sebenarnya dia telah mengambil hak
dari suaminya.
Iku (itu) wong (seorang) wadon (wanita) kêpaung (kesasar, sesat),
bingung (bingung) binglêng (stress, depresi) kênèng (terkena) pêning
(pusing kepala). Itu perilaku seorang wanita yang kesasar, kebingungan
stress-depresi terkena pusing kepala.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 6

Perilaku yang tak wajar demikian hanya dilakukan oleh wanita yang
kesasar, sakit kepalanya, tanda-tanda bahwa kehidupannya tidak berjalan
sewajarnya. Bisa jadi yang bersangkutan mengalami trauma atau
mengidap sindrom tertentu, yang berakibat perilakunya tak wajar. Atau
mungkin karena tekanan hidup yang sangat berat. Pendek kata itu bukan
keadaan normal.
Tan (tak) wurung (urung) dadi (menjadi) ranjapan (bancakan, purakan),
ing (di) dunya (dunia) tumêkèng (sampai) akir (akhirat), dadi (menjadi)
intiping (kerak) naraka (neraka). Tak urung menjadi bancakan, di dunia
sampai akhirat, menjadi kerak neraka.
Wanita yang demikian justru tidak bermartabat, akan menjadi bancakan
dan bulan-bulanan dalam kehidupan ini. Akan selalu dipermainkan lelaki,
diambil keuntungan darinya dengan semena-mena. Kelihatannya dia gagah
menguasai tetapi akan selalu dikibuli. Karena lelaki sungguh licik dan
punya banyak kesempatan dibanding wanita untuk berbuat hina. Dan
untuk wanita seperti itu, jodohnya pun lelaki pekok yang tak punya harga
diri. Apa yang akan diperolehnya jika demikian itu.
Sudah begitu keadaannya di dunia, di akhirat pun dia akan rugi karena
tidak ada kebaikan seorang wanita yang dilakukannya, sedangkan amalan
lelaki juga bukan kewajiban baginya. Rugi besarlah dia nanti. Celaka
dunia akhirat.
Frasa intiping neraka, mengungkapkan bahwa si wanita itu akan mendapat
siksa paling pedih di neraka kelak. Seumpama neraka itu kuali besar yang
dipanasi dari bawah, maka bagian bawahnya yang paling panas, sampai
mengkerak-kerak. Di bagian itulah wanita tadi berada.
Kalabang (lipan) lan (dan) kalajêngking (kalajengking), ingkang (yang)
dadi (menjadi) kasuripun (alas tidurnya), sajroning (di dalam) naraka
(neraka) benjing (kelak). Lipan dan kalajengking, yang menjadi alas
tidurnya, di dalam neraka kelak.
Lipan dan kalajengking akan menjadi alas tidurnya. Sudah lengkaplah
deritanya, di akhirat nanti. Bersama hewan buas dan berbisa yang
menjijikkan, dan dibakar sampai berkerak pula.
Iku (itulah) wong (seorang) wadon (wanita) candhala (candhala), kang
(yang) tan (tak) bisa (bisa) amêrangi (memerangi), ing (dalam hal) nêpsu
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 7

(nafsu) kalawan (dan) hawa (hawa), amarah (amarah) kang (yang) dèn
(di) tut wuri (ikuti). Itulah seorang wanita candhala, yang tak bisa
memerangi hawa dan nafsu, hanya amarah yang dituruti.
Di sini dijelaskan bahwa wanita yang berperilaku layaknya lelaki, ingin
menguasai suaminya, suka memerintah dan membantah suami, adalah
wanita yang berwatak candhala. Yakni wanita yang tak bisa memerangi
hawa dan nafsu. Hawa adalah godaan dari luar, nafsu adalah keinginan
dari dalam yang berlebihan. Wanita seperti itu sejatinya wanita yang
lemah, karena hanya selalu mengikuti amarah. Apakah amarah itu? Yakni
nafsu yang selalu cenderung mengajak kepada kerusakan (amarah bil su’).
Demikian kajian kedua serat Darmaduhita dengan tema watak wanita
candhala. Hal-hal di atas kiranya perlu diketahui agar kita semua terhindar
darinya.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 8

Kajian Tematik Darmaduhita 3 : Sampai Kakek-Nenek


Pupuh 1, Kinanthi (metrum: 8u, 8i, 8a, 8i, 8a,8i), bait 7-10, Serat
Darmaduhita.
Iku poma wêkas ingsun, anggonên pitutur iki, dèn wêdi ing
kakungira, aja dumèh sutèng aji. Yèn sira nora bêktia, ing laki tan
wurung dadi,

gêgawa mring rama ibu, kurang pamuruking siwi , iku tarkane


ngakathah. Panêdhaning sun sadêmi, maring Allahutangala, miwah
mring Rasullollahi.

ing sakèhe putraningsun, èstri kanggoa ing laki, kinasihana ing


priya, lan padha bêktiyèng laki, padha lakia sapisan. Dipun kongsi
nini-nini,

maksih angladèni kakung, sartane dipun wêlasi, aoyoda arondhona ,


warêga amomong siwi, lan nini pitutur ingwang, estokêna lair batin.

Kajian per kata:

Iku (itu) poma (ingatlah) wêkas (pesan) ingsun (saya), anggonên


(pakailah) pitutur (nasihat) iki (ini), dèn (harap) wêdi (takut) ing (pada)
kakungira (suamimu), aja (jangan) dumèh (karena, mentang-mentang)
sutèng (anak dari) aji (raja). Itu ingatlah pesanku, pakailah nasihat ini,
harap takut pada suamimu, jangan mentang-mentang anak raja.
Itulah nasihatku, ingat-ingatlah selalu, pakailah nasihat ini. Takutlah
kepada suamimu. Jangan mentang-mentang sebagai anak raja, lalu
menggunakan kekuasaan untuk menguasai suami. Karena dalam rumah
tangga yang baik, suamilah yang menjadi pemimpinnya, artinya yang
mengarahkan, yang berwenang mempertimbangkan dan yang mengambil
keputusan. Jikalau wanita yang mengambil peran itu, akan timpanglah
rumah tangganya.
Yèn (kalau) sira (engkau) nora (tidak) bêktia (berbakti), ing (pada) laki
(suami) tan (tak) wurung (urung) dadi (menjadi), gêgawa (terbawa)
mring (pada) rama (ayah) ibu (ibu), kurang (kurang) pamuruking
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 9

(mendidik) siwi (anak), iku (iku) tarkane (tebakan, anggapan) ngakathah


(orang banyak). Kalau engkau tidak berbakti, pada suami tak urung
menjadi, terbawa nama ayah-ibu, dikira kurang mendidik anak, itu
anggapan orang banyak.
Jika engkau, wahai anak-anak perempuanku, tidak berbakti kepada
suamimu, tak urung nama orang tua akan terbawa-bawa. Orang tuamu
akan dianggap sebagai orang tua yang kurang mendidik anak. Akan dikira
tidak memperhatikan anak-anaknya dahulu ketika masih gadis. Tidak
diajar tatakrama dan diberi pengetahuan rumah tangga. Itulah anggapan
orang banyak. Jika engkau tak berbakti kepada suamimu, orang tuamulah
yang akan kena getahnya.
Panêdhaning (permintaan) sun (aku) sadêmi (sedikit), maring (kepada)
Allahutangala (Allah Ta’ala), miwah (dan) mring (kepada) Rasullollahi
(rasulullah), ing (pada, bagi) sakèhe (semua) putraningsun (anak-
anakku), èstri (sebagai istri) kanggoa (bagi) ing laki (suaminya),
kinasihana (dikasihi) ing (oleh) priya (suami), lan (dan) padha (semua)
bêktiyèng (berbakti pada) laki (suami), padha (semua) lakia (menikahlah)
sapisan (sekali saja). Permintaanku hanya sedikit kepada Allah Ta’ala,
dan syafaat kepada Rasulullah: bagi semua anak-anakku, sebagai istri
bagi suaminya, dikasihi oleh suami, dan semua berbakti pada suami,
semua menikahlah sekali saja.
Permintaanku kepada Allah Ta’ala, dan syafaat kepada Rasulullah.
Semoga semua anak-anakku yang perempuan, sebagai istri dari suaminya,
selalu dikasihi dan semoga semua berbakti kepada suami. Semoga mereka
menikah sekali saja, langgeng sampai kaki-nini.
Itulah doa kepada Allah Ta’ala yang dipanjatkan oleh sang penggubah
serat Darmaduhita ini. Beliau juga mohon syafaat atau pertolongan
Rasulullah, melalui syariat yang dijalankannya agar diberi kemudahan
dalam mencapai itu semua.
Makna syafaat adalah sebentuk pertolongan, tetapi karena Rasulullah
sudah wafat maka beliau tidak dapat menolong kita di dunia ini secara
fisik. Namun syariat yang beliau tinggalkan akan selalu menolong kita
mendapatkan petunjuk dan kemudahan dalam hidup. Dan kelak sesudah
hari kiamat syafaat Rasulullah akan menolong kita di akhirat.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 10

Dipun (diupayakan) kongsi (sampai) nini-nini (nenek-nenek), maksih


(masih) angladèni (melayani) kakung (suami), sartane (serta) dipun (di)
wêlasi (kasihi), aoyoda (mengakar) arondhona (lebat daunnya, kuat),
warêga (puas) amomong (mengasuh) siwi (anak), lan (dan) nini (anakku)
pitutur (nasihat) ingwang (aku), estokêna (laksanakan) lair (lahir) batin
(batin). Sampai nenek-nenek, masih melayani suami, serta dikasihi,
mengakar kuatlah (keluarganya), puas mengasuh anak, dan anakku
nasihatku ini, laksanakan lahir dan batin.
Dalam bait sebelumnya ada harapan agar anak cucu menikah sekali saja,
diupayakan sebuah pernikahan bisa langgeng sampai nini-nini atau nenek-
nenk (bagi perempuan). Kalau sampai nenek-nenek masih bisa melayani
suami artinya ada harapan pernikahannya bahagia sampai tua. Apalagi jika
mereka (para anak perempuan tersebut) mau menerapkan ajaran dalam
serat ini, yakni agar selalu patuh dan berbakti kepada suami.
Jika demikian itu sudah dilakukan, mereka akan selalu dikasihi oleh
suaminya, kekeluargaan mereka berakar kuat, ibarat pohon yang akarnya
kuat daunnya lebat (angoyod arondhon). Sampai tua puas mengasuh anak,
tidak kekurangan kasih sayang suami dan anak-anaknya. Keluarganya
akan menjadi keluarga yang sakinah (penuh ketenangan), mawadah
(penuh kasih sayang) dan insya’ Allah turun rahmah dari Allah SWT.
Inilah nasihat dari sang penggubah serat. Kepada anak cucu perempuan,
dan siapapun yang membaca, laksanakan secara lahir dan batin, agar
tercapai kebahagiaan rumah tangga.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 11

Kajian Tematik Darmaduhita 4: Isyarat Jari Yang Lima


Pupuh 1, Kinanthi (metrum: 8u, 8i, 8a, 8i, 8a,8i), bait 11-20, Serat
Darmaduhita.
Lawan ana kojah ingsun, saking eyangira swargi, pawèstri elinga
sira, lamun ginawan dariji, lêlima puniku ana, dununge sawiji-wiji.

Jêjêmpol ingkang rumuhun, panuduh kang kaping kalih, panunggul


kang kaping tiga, kaping pat dariji manis, dene ta kang kaping lima,
wêkasan aran jêjênthik.

Kawruhana karsanipun, mungguh sêmune Hyang Widhi, wong


wadon wus ginawanan, dalil panggonaning èstri, iku wajib
kinawruhan, karêpe sawiji-wiji.

Mula ginawan sirèku, jêjêmpol marang Hyang Widhi, dèn kayêm pol
manahira, yèn ana karsaning laki, têgêse pol dèn agampang,
sabarang karsaning laki,

Mula ginawan panuduh, aja sira kumawani, nikêlkên tuduhing


priya, ing satuduh anglakoni, panunggul pan ginawanan, iku
sasmita sayêkti.

Mrihên ta karyane unggul,miwah lamun apêparing, iya sira


unggulêna, sanadyan amung sathithik, wajib sira unggulêna, mring
guna kayaning laki.

Marmane sira puniku, ginawan dariji manis, dipun manis netyanira,


yèn ana karsaning laki, apa maning yèn angucap, ing wacana kudu
manis.

Aja dhoso amarêngut, nora mêrakakên ati, ing netya dipun


sumringah, sanadyan rêngu ing batin, yèn ana ngarsaning priya,
buwangên ajana kari.

Marmane ginawan iku, iya dariji jêjênthik, dipun athak aithikan (=


thak thik),yèn ana karsaning laki, karêpe athak ithikan, dèn tarampil
barang kardi.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 12

Kalamun ngladèni kakung, dèn kêbat nanging dèn ririh, aja kêbat
garobyagan, drêg-êdrêgan sarwi cincing, apan iku kêbat nistha,
rada angoso ing batin.

Kajian per kata:

Lawan (dan) ana (ada) kojah (dari kata hujjah, perkataan) ingsun (aku),
saking (dari) eyangira (mbh, kakek-nenek) swargi (almarhum), pawèstri
(para wanita) elinga (ingatlah) sira (engkau), lamun (kalau) ginawan
(diberi) dariji (jari), lêlima (berlima) puniku (itu) ana (ada), dununge
(pengertiannya) sawiji-wiji (satu per satu). Dan ada perkataanku, dari
kakek-nenekmu almarhum, kalau kita diberi jari, ada lima jumlahnya, ada
pengertiannya satu per satu-satu.
Ada satu lagi nasihat, yang akan disampaikan, yang berasal dari kakek-
nenek. Nasihat ini sederhana dan sudah diturunkan antar generasi sejak
lama, yakni tentang perlambang atau isyarat dari 5 jari tangan. Kit
mempunyai lima jari tangan yang masing-masing mempunyai nama
sendiri-sendiri.
Jêjêmpol (jempol) ingkang (yang) rumuhun (pertama), panuduh
(panuduh) kang (yang) kaping kalih (kedua), panunggul (panunggul)
kang (yang) kaping tiga (ketiga), kaping pat (keempat) dariji manis (jari
manis), dene ta (adapun) kang (yang) kaping lima (kelima), wêkasan
(terakhir) aran (disebut) jêjênthik (jenthik). Jempol yang pertama,
panuduh yang kedua, panunggul yang ketiga, keempat jari manis, adapun
yang kelima, terakhir disebut jenthik.
Yang pertama adalah ibu jari, atau jari yang paling besar. Dalam bahasa
Jawa disebut jempol. Lalu berikutnya adalah jari kedua yang disebut
panuduh (bukan panudhuh lho..). Disebut jari panuduh karena sering
dipakai untuk menuduh (menunjukkan). Misalnya ada orang bertanya, di
mana rumah Pak Suta, maka yang ditanya akan menunjukkan letaknya,
“Di sana!” sambil menunjuk memakai jari kedua ini.
Yang ketiga adalah jari panunggul (pan unggul), disebut demikian karena
memang pan unggul (memang unggul), maksudnya jari ini paling unggul
atau tinggi daripada jari yang lain. Yang keempat disebut jari manis,
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 13

karena sering dipakaikan cincin sehingga tampak manis. Yang kelima


disebut jenthik karena paling kecil.
Masing-masing jari tersebut memuat isyarat yang berkaitan dengan peran
dan tugas wanita dalam rumah tangga. Tentu saja ini hanya othak-athik
gathuk, tapi setidaknya dapat dipakai untuk pengingat dan merupakan
kearifan lokal dalam mengajarkan suatu hikmat dengan media yang mudah
dan ramah dengan lingkungan sehari-hari.
Kawruhana (ketahuilah) karsanipun (maksudnya), mungguh (dalam hal)
sêmune (isyarat) Hyang (Tuhan) Widhi (Maha Benar), wong (seorang)
wadon (wanita) wus (sudah) ginawanan (disertai), dalil (alasan)
panggonaning (tempat sebenarnya) èstri (bagi istri), iku (itu) wajib
(wajib) kinawruhan (diketahui), karêpe (maksudny) sawiji-wiji (satu per
satu). Ketahuilah maksudnya, dalam hal isyarat dari Tuhan Maha Benar,
seorang wanita sudah disertai, alasan tempat sebenarnya bagi seorang
istri, itu wajib diketahui, maksudnya satu per satu.
Ketahuilah, bahwa maksud dari isyarat yang disampaikan Tuhan Yang
Maha Benari berkaitan dengan tempat wanita dalam rumah tangga adalah
seperti perlambang dari nama-nama jari tangan kita. Maka ketahuilah satu
per satu sebagai pengingat agar mudah dihapal.
Mula (maka) ginawan (diberikan) sirèku (bagimu), jêjêmpol (jempol)
marang (oleh) Hyang (Tuhan) Widhi (Maha Benar), dèn (agar) kayêm
(ayem) pol (mentok, maksimal) manahira (hatimu), yèn (kalau) ana (ada)
karsaning (kehendak) laki (suami), têgêse (artinya) pol (maksimal) dèn
agampang (dimudahkan), sabarang (semua) karsaning (kehendak) laki
(suami). Maka diberikan bagimu, jempol oleh Tuhan Maha Benar, agar
ayem maksimal hatimu, kalau ada kehendak suami, artinya maksimal
dimudahkan, semua kehendak suami.
Makanya engkau, wahai wanita, diberikan jari jempol agar kayem pol,
artinya rasa ayem (tenang) dalam hati maksimal. Itu hanya dapat dicapai
jika engkau menuruti kehendak suamimu. Gampangkan segala
permintaannya, bila perlu berikan kesukaannya sebelum dia meminta. Jika
demikian suami akan kalegan, puas dan semakin sayang pada istri.
Namun jika suatu butuh sesuatu suami harus berkali-kali memberi perintah
baru engkau turuti, menginginkan sesuatu harus memakai banyak bujukan,
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 14

atau harus memakai proposal bertele-tele, maka bisa jadi suamimu


mendongkol dalam hatinya. Bukan hal yang mustahil kalau kemudian dia
mempunyai wanita idalam lain dalam hatinya. Maka gampangkanlah
segala permintaannya, agar engkau disayang dan hatimu merasa ayempol.
Jempol!!
Mula (makanya) ginawan (diberikan) panuduh (panuduh), aja (jangan)
sira (engkau) kumawani (lancang berani), nikêlkên (melipatgandakan)
tuduhing (petunjuk) priya (suami), ing (dalam) satuduh (petunjuk itu
saja) anglakoni (menjalankannya). Makanya diberikan panuduh, jangan
engkau lancang berani, melipatgandakan petunjuk suami, dalam satu
petunjuk itu saja menjalankannya.
Yang kedua, engkau diberi jari panuduh dengan maksud patuhilah pituduh
suami. Jangan sekali-kali lancang dengan melipat-gandakan petunjuk tadi.
Maksudnya kalau petunjuknya satu ya diselesaikan satu, lalu minta
petunjuk lagi dalam hal lain yang belum mengerti. Jangan sampai
petunjuknya satu, kok yang dikerjakan banyak sekali. Pasti yang selainnya
dilakukan dengan lancang, atau tanpa petunjuk. Jangan seperti itu.
Panunggul (panunggul) pan ginawanan (diberikan serta), iku (itu)
sasmita (isyarat) sayêkti (sebenarnya), prihên ta (upayakan) karyane
(pekerjaannya) unggul (unggul, bermutu), miwah (serta) lamun (kalau)
apêparing (dalam pemberian), iya (juga) sira (engkau) unggulêna
(unggulkanlah, perlihatkanlah), sanadyan (walau) amung (hanya)
sathithik (sedikit), wajib (wajib) sira (bagimu) unggulêna
(mengunggulkannya), mring (pada) guna kayaning (nafkah pemberian)
laki (suami). Panunggul diberikan serta, itu isyarat sebenarnya, upayakan
pekerjaannya unggul, serta kalau dalam pemberian, juga engkau
unggulkan, walau hanya sedikit, wajib bagimu mengunggulkannya,
terhadap nafkah yang diberikan suami.
Di sini ada pelajaran tentang etos kerja dan bersyukur. Dalam pekerjaan
lakukan secara unggul atau utama. Jjika melayani suami layanilah dengan
senang hati. Kalau mencuci bajunya ya yang bersih, jangan mau-mau tidak
mau, lakukan pekerjaan secara sempurna. Kalau masak ya yang enak,
jangan asal-asalan saja. Dan dalam pekerjaan lain, juga lakukan seperti itu.
Kemudian, jika diberi sesuatu perlihatkanlah. Orang Jawa bilang ngetok-
etokke, artinya diterima dengan rasa syukur dan senang hari lalu
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 15

diperlihatkan. Misalnya suamimu memberimu cincin besi, maka terimalah


dengan senang hati dan pakailah seolah itu cincin emas. Pakai untuk
kondangan, atau jagong, sebagai tanda kalau engkau senang diberi sesuatu.
Orang itu kalau sangat senang itu pasti pamer kemana-mana. Misalnya kita
sering juga melihat orang memposting foto lagi di Mekkah atau Madinah.
Mereka tak tahan untuk pamer karena sangking senangnya. Seperti itulah
kira-kira.
Walau sebenarnya engkau mungkin kecewa tapi kalau dihadapan suami
harus diperlihatkan rasa senang itu, syukur-syukur kalau sudah mencapai
tingkat ikhlas sehingga apapun yang diberikan suami akan diterima dengan
rasa senang yang benar-benar. Misalnya dalam kasus cincin besi tadi,
walau hatimu masygul dan jengkel setengah mati, tetap pakailah. Jangan
sampai kok malah bilang, “Wah apa ini cincin besi, berlian dong! Dasar
suami miskin!” Yang seperti itu jangan lakukan. Cincin besi juga bagus
kok, asal yang memakai sambil senyum gembira. Daripada cincin emas
dipakai wanita yang mecucu bin mbesengut. Halah, preett!!
Marmane (makanya) sira (engkau) puniku (itu), ginawan (diberikan)
dariji (jari) manis (manis), dipun (harap di) manis (maniskan) netyanira
(mukanya, wajahnya), yèn (kalau) ana (ada) karsaning (kehendak) laki
(suami), apa (apa) maning (lagi) yèn (kalau) angucap (berucap), ing
(dalam) wacana (percakapan) kudu (harus) manis (manis). Makanya
engkau itu, diberikan jari manis, harap dimaniskan wajahnya, kalau ada
kehendak suami, apa lagi dalam berucap, dalam percakapan harus manis.
Yang keempat, mengapa engkau diberi jari manis adalah agar sikapmu
selalu manis kepada suami. Raut mukanya dan wajahnya yang manis agar
suami tertarik hatinya, suka berdekatan dengan istrinya. Manis dalam
sikap dan bicara, tidak menunjukkan kesan angker dan kecewa. Dengan
sikap seperti itu suami akan sayang dan makin cinta, terkintil-kintil dan
emoh pisah lama-lama. istri yang selalu cerah wajahnya dan manis raut
mukanya tak mungkin ditinggal karambol di gardu atau main bilyar. Pasti
suami betah di rumah.
Aja (jangan) dhoso (kasar) amarêngut (merengut), nora (tidak)
mêrakakên (menarik) ati (hati), ing (dalam) netya (raut muka) dipun (di)
sumringah (yang gembira), sanadyan (walau) rêngu (kecewa) ing (di)
batin (hati), yèn (kalau) ana (ada di) ngarsaning (depan) priya (suami),
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 16

buwangên (buanglah) ajana (jangan ada) kari (yang tertinggal). Jangan


kasar merengut, tidak menarik hati, dengan raut muka yang gembira,
walau kecewa di hati, kalau ada di depan suami, buanglah jangan ada
yang tertinggal.
Akan berbeda dengan suami yang istrinya mecucu sejak bangun tidur
sampai ketiduran lagi. Percaya deh suamimu akan dongkol setengah mati.
Dalam hati sebenarnya ingin menampar wajah angkermu itu. Tapi
mungkin juga dia, daripada dongkol dan kecut, akan memilih mengambil
jatah lembur. Uang lemburnya bukan untuk si angker di rumah. Paling
dihabiskan di kedai kopi sambil cekakakan sama teman-temannya. Itulah
lelaki terbaik yang istrinya angker, kalau si lelaki pekok bin tolol, sudah
bisa ditebak dia lari kemana. Jangan anggap remeh yang seperti ini, wahai
anak-anakku perempuan.
Lebih baik layani suami dengan raut muka gembira (sumringah), walau
mungkin memendam kecewa tapi buanglah kekecewaan itu jauh-jauh.
Dengan demikian engkau akan menerima imbal baik yang sepadan. Seoran
suami yang baik takkan menyiakan istri yang sayang padanya. Jangan
sungkan untuk mengungkap sayang dengan perhatian, wong orang
berumah tangga itu memang untuk saling berkasih sayang kok!
Marmane (makanya) ginawan (diberikan) iku (itu), iya (iya) dariji (jari)
jêjênthik (jenthik), dipun (di) athak aithikan (otak-atik), yèn (kalau) ana
(ada) karsaning (kehendak) laki (suami), karêpe (kahendaknya) athak
ithikan (diotak-atik, direkayasa), dèn (agar) tarampil (terampil) barang
(sembarang) kardi (pekerjaan). Makanya diberikan itu, iya jari manis,
agar diotak-atik, kalau ada kehendak dari suami, kehendaknya agar
diotak-atik, agar trampil sembarang pekerjaan.
Makanya diberikan jari jentik adalah agar seorang istri terampil mengotak-
atik, merekayasa, mereka-reka sesuatu agar manfaatnya maksimal.
Maksud dari otak-atik adalah agar istri dapat merekayasa kehendak suami
agar terlaksana dengan peralatan yang ada. Di maksimalkan fungsinya
agar tujuannya tercapai tanpa harus mengadakan yang belum terjangkau.
Hal ini biasanya berkaitan dengan urusan rumah tangga dan dapur.
Misalnya jika suami ingin makan enak, tetapi tidak mempunyai bahan
yang mewah, bagaimana reka-reka istri agar dapat menyajikan hidangan
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 17

enak yang murah. Bisa dengan membuat menu baru, atau menciptakan
resep bumbu yang maknyusss..
Istri yang terampil mengotak-atik keperluan rumah tangga akan
menyelesaikan banyak masalah. Bisa keluar dari sekian problem yang
diakibatkan persoalan klasik, kantong cekak. Berumah tangga memang
butuh kreatifitas karena keperluan seorang yang berumah tangga banyak
sekali. Apalagi kalau anak-anak sudah mulai tumbuh besar, semakin
banyak persoalan perlu diselesaikan secara kreatif dan terampil.
Kalamun (kalau) ngladèni (melayani) kakung (suami), dèn (harap) kêbat
(cepat) nanging (tetapi) dèn ririh (halus), aja (jangan) kêbat (cepat)
garobyagan (berantakan, kocar-kacir), drêg-êdrêgan (bertindak kasar)
sarwi (dengan) cincing (menarik kain), apan iku (yang seperti itu) kêbat
(cepat) nistha (nista), rada (agak) angoso (mendongkol) ing (dalam) batin
(hati). Kalau melayani suami, harap cekatan tetapi halus, jangan cepat
tapi berantakan, bertindak kasar sambil menarik kain, yang seperti itu
cepat nista, agak mendongkol di dalam hati.
Yang terakhir, ini bagian dari sikap terampil di atas, dalam melayani suami
hendaklah cekatan. Cepat tapi tidak berantakan. Dalam menyiapkan
keperluan tumah tangga kerjanya sistimatis dan tenang. Terpogram
sehingga tidak kebingungan mana yang didahulukan dan diakhirkan.
Jangan sampai cepat tapi malah garobyagan.
Garobyagan adalah sebutan untuk orang yang kerja cepat tapi sering
menunjang-nunjang, kerja tidak sistimatis sehingga berantakan. Apalagi
kalau cepatnya disertai buru-buru, bahkan sampai mengangkat kain segala
(cincing). Wanita yang bekerja dengan cara seperti itu pasti dalam hatinya
mendongkol dan mulutnya selalu ribut mengeluh. Wah saru, tak elok itu!
Cukup sekian anak-anak perempuanku. Ingat-ingatlah dan amalkanlah
filosogi lima jari ini. Semoga kelak engkau berhasil menjadi wanita yang
melakukan sesuatu dengan cara yang utama.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 18

Kajian Tematik Darmaduhita 5 : Menghadapi Poligami


Pupuh 1, Kinanthi (metrum: 8u, 8i, 8a, 8i, 8a,8i), bait 21-26, Serat
Darmaduhita.
Poma-poma wêkas isun, marang putraningsun èstri, iku padha dèn
anggoa, wuruke si bapa iki. Yèn dèn lakoni sadaya, anganggo
pitutur iki,

si bapa ingkang ananggung, yèn dèn anggo kang wêwêling, wus


pasthi amanggih mulya, ing dunya tuwin ing akir. Lan aja manah
nalimpang, dipun tumêmên ing laki.

Dèn bandhunga sanga likur, tyasira aja gumingsir, lair batin aja
êsak, angladèni maring laki, malah sira ngupayakna, wanodya kang
bêcik-bêcik.

parawan kang ayu-ayu, sira caosna ing laki. Mangkono patrape


uga, ngawruhi karsaning laki, pasthi dadi ingkang trêsna, yèn wong
lanang dèn turuti.

Yèn wong wadon ora asung, bojone duwea sêlir, miwah lumuh dèn
wayuha, yaiku wadon panyakit, miwah tan wruh tatakrama, dalil
kadis tan udani.

Pêpadhane asu buntung, cèlèng gotèng pamanèki, nora pantês


pinêdhakan, nora wurung mêmarahi, dèn dohna pitung bêdahat, aja
nêja duwe pikir.

Kajian per kata:

Serat ini memang ditujukan kepada para anak-anak perempuan sang


penggubah serat ini. Maka pesan-pesannya disesuaikan dengan konteks
masa itu, ketika praktik poligami dan perseliran masih menjadi gaya hidup
utama bagi bangsawan kraton. Maka beliau juga memberi nasihat kepada
putri-putrinya, karena sadar akan potensi yang akan menimpa mereka.
Meski bait ini membuat trenyuh, terharu, tetapi merupakan nasihat yang
realistis pada masa itu.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 19

Poma-poma (ingat-ingat) wêkas (pesan) isun (aku), marang (kepada)


putraningsun (anak-anakku) èstri (perempuan), iku (itu) padha (semua)
dèn anggoa (pakailah), wuruke (ajaran) si bapa (si bapak) iki (ini). Ingat-
ingatlah pesanku, kepada anak-anakku perempuan, itu semua pakailah,
ajaran si bapak ini.
Ingat-ingatlah pesanku, kepada semua anak-anakku perempuan. Pakailah
nasihat si bapak ini.
Yèn (kalau) dèn (di) lakoni (jalani) sadaya (semua), anganggo (memakai)
pitutur (nasihat) iki (ini), si bapa (si bapak ini) ingkang (yang)
ananggung (menanggung), yèn (kalau) dèn (di) anggo (pakai) kang
(yang) wêwêling (pesan), wus (sudah) pasthi (pasti) amanggih (menemui)
mulya (kebahagiaan), ing (di) dunya (dunia) tuwin (serta) ing (di) akir
(akhirat). Kalau dijalani, memakai nasihat ini, si bapak ini yang
menanggung, kalau dipakai pesan ini, sudah pasti menemui kebahagiaan,
di dunia serta di akhirat.
Kalau engkau semua menjalani seluruh nasihat itu, memakai ajara ini,
bapak yang akan menanggung, kalau dipakai nasihat ini, sudah pasti akan
menemui kebahagiaan. Baik di dunia ini maupun di akhirat.
Dalam nasihat pada serat ini, dari awal sampai akhir tidak ada opsi untuk
keadaan yang diluar rencana atau keadaan yang tidak sesuai harapan.
Misalnya, jika sang anak perempuan mendapat perlakuan kasar dari
suaminya. Hal tersebut karena memang ini kitab nasihat, tentu yang
diharapkan adalah kebaikan semata. Ini bukan buku pedoman perilaku,
tetapi semata-mata harapan orang tua kepada kebahagiaan anak-anak
perempuan. Walau demikian dalam serat ini terselip nasihat jika sang anak
menjadi istri dari suami yang poligami. Namun harus dicatat bahwa
poligami hal yang lumrah di masa itu, bukan suatu perkara yang
memancing kontroversi seperti sekarang. Jadi sangat mungkin sang anak
kelak juga akan mengalaminya.
Lan (dan) aja (jangan) manah (berhati) nalimpang (menyimpang), dipun
(harap) tumêmên (sungguh-sungguh) ing (pada) laki (suami). Dan jangan
berhati menyimpang, harap bersungguh-sungguh pada suami.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 20

Dan jangan pernah sekalipun menyimpang, harap bersungguh-sungguh


komitmennya pada suami, pada keluarga yang hendak dibangun bersama-
sama ini.
Dèn (di) bandhunga (rangkap) sanga likur (dua puluh sembilan), tyasira
(hatimu) aja (jangan) gumingsir (berubah, bergeser), lair (lahir) batin
(batin) aja (jangan) êsak (sakit hati), angladèni (melayani) maring
(kepada) laki (suami), malah (malah) sira (engkau) ngupayakna
(mencarilah), wanodya (wanita) kang (yang) bêcik-bêcik (baik-baik),
parawan (perawan) kang (yang) ayu-ayu (cantik-cantik), sira (engkau)
caosna (berikan) ing (pada) laki (suami).
Dirangkap dua puluh sembilan pun, hatimu jangan berubah, lahir batin
jangan sakit hati, melayani kepada suami, malah engkau mencarilah,
wanita yang baik-baik, perawan yang cantik-cantik, engkau berikan pada
suami.
Walau engkau nanti dimadu sampai dua puluh sembilan pun, hatimu
jangan berubah. Tentu saja ini kiasan karena poligami sesuai tuntunan
syariat Islam hanya sampai empat istri. Jika sampai seperti itu, lahir batin
jangan sakit hati dan ngambek dalam melayani suami.
Bila perlu tanggaplah dengan keinginan suamimu, layanilah dengan baik.
Jika dia ingin mencari wanita lagi, carikan, pilihkan wanita yang cantik-
cantik dan baik-baik, kemudian engkau berikan dengan tulus pada
suamimu.
Mangkono (demikian) patrape (tindakannya) uga (juga), ngawruhi
(mengetahui) karsaning (kehendak) laki (suami), pasthi (pasti) dadi
(menjadi) ingkang (sebab) trêsna (cinta), yèn (kalau) wong (seorang)
lanang (suami) dèn (di) turuti (turuti). Demikian tindakannya juga,
mengetahui kehendak suami, pasti akan menjadi sebab rasa cinta, kalau
seorang suami dituruti.
Demikian tindakan yang selayaknya dilakukan oleh seorang istri.
Mengetahui kehendak suami dan mengikhlaskannya, pasti akan menjadi
sebab datangnya rasa cinta. Kalau si istri ikhlas suaminya mengambil istri
lagi pasti sang suami akan bertambah sayang padanya. Lain halnya kalau
belum-belum si istri sudah curiga dan menghalangi, si suami akan jengkel
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 21

sekali. Begitulah lelaki, kalau kehendaknya dituruti dia akan semakin


sayang padamu, dan sebaliknya jika dilarang akan semakin menjadi-jadi.
Yèn (kalau) wong (seorang) wadon (wanita) ora (tidak) asung (memberi),
bojone (suaminya) duwea (mempunyai) sêlir (selir), miwah (serta) lumuh
(tak mau) dèn (di) wayuha (madu), yaiku (yaitu) wadon (wanita) panyakit
(penyakit), miwah (serta) tan (tidak) wruh (mengethui) tatakrama
(tatakrama), dalil (dalil) kadis (hadits) tan (tak) udani (mengetahui).
Kalau seorang wanita tidak memberi, suaminya mempunyai selir, serta tak
mau dimadu, yaitulah wanita berpenyakit, serta tak mengetahui
tatakrama, dalil hadits tan memahami.
Praktik poligami memang sudah lazim pada zaman itu, dan didukung
dengan argumen keagamaan dalil Quran dan Hadits. Seorang wanita yang
menentang akan dicap sebagai seorang wanita yang tidak berpendidikan,
tak tahu ilmu agama. Wong Quran-haditsnya sudah jelas membolehkan.
Wanita yang seperti itu tidak akan dihargai dalam masyarakat. Meski
dalam praktiknya poligami di masa itu rawan diselewengkan dari ajaran
Islam. Contohnya, iya praktik perseliran itu sendiri. Apakah adanya istri
selir itu sesuai dengan ajaran Islam? Mana dalil dan haditsnya?
Pêpadhane (ibaratnya) asu (anjing) buntung (buntung), cèlèng (celeng)
gotèng (kerdil) pamanèki (umpamanya), nora (tidak) pantês (pantas )
pinêdhakan (didekati), nora (tak) wurung (urung) mêmarahi (mengajari,
menulari), dèn dohna (jauhkan) pitung (tujuh) bêdahat (bedahat), aja
(jangan) nêja (bermaksud) duwe (mempunyai) pikir (pikiran). Ibaratnya
seperti anjing buntung, atau celeng kerdil umpamanya, tidak pantes
didekati, tak urung akan menulari, jauhkan tujuh bedahat, jangan
beermaksud mempunyai pikiran seperti itu.
Inilah sikap atau cap terhadap perempuan yang menolak poligami di
zaman itu. Seolah diserupakan dengan asu buntung atau celeng gotheng,
hewan yang cacat dan wajib disingkiri. Oleh karena pandangan
masyarakat yang demikian praktik perseliran subur menjamur di zaman
itu. Perseliran menjadi ajang melampiaskan nafsu hedonis bagi kalangan
priayi, strata utama dalam masyarakat yang merasa mempunyai hak atas
klaim sebagai ngawirya, ksatria.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 22

Kajian Tematik Darmaduhita 6 : Tetirua Panggawe Becik


Pupuh 1, Kinanthi (metrum: 8u, 8i, 8a, 8i, 8a,8i), bait 27-32, Serat
Darmaduhita.
Kaya ta mangkono iku, balik kang dipun nastiti, marang wuruke si
bapa, darapon manggih basuki, kaya ta yèn maca layang, tingkah
wanodya puniki.

Pagene tan nêdya tiru, kalakuane pawèstri, kang kinasihan ing


priya, apa pawèstri parunji, miwah ta èstri candhala, apan nora
kêdhah-kêdhih.

Ingkang kinasihan kakung, kabèh pawèstri kang bêcik, kang nastiti


marang priya. Dene èstri kang parunji, candhala pan nora nana,
dèn kasihi maring laki.

Mila ta kêrêp rinêmbug, dadine wong wadon iki, tanpa gawe maca
layang, tan gêlêm niru kang bêcik. Mulane ta putraningwang, poma-
poma dipun eling,

marang ing pitutur ingsu. Muga ta Hyang Maha Suci, nêtêpêna


elingira, marang panggawe kang bêcik, dèn dohna panggawe ala,
siya-siya kang tan bêcik.

Titi tamat layang wuruk, marang putraningsun èstri, Kêmis Pon


ping pitu Ruwah, Kuningan Je kang gumanti, obah guna swarèng
jagad, sancaya astha pan maksih.

Kajian per kata:


Kaya ta (seperti yang) mangkono (demikian) iku (itu), balik (kembali)
kang (yang) dipun (di) nastiti (perhatikan dengan teliti), marang (pada)
wuruke (ajaran) si bapa (si bapak), darapon (supaya) manggih (menemui)
basuki (selamat), kaya (seperti) ta yèn (jikalau) maca (membaca) layang
(serat), tingkah (perilaku) wanodya (wanita) puniki (ini). Seperti yang
demikian itu, kembali diperhatikan dengan teliti, pada ajaran si bapak ini,
supaya menemui selamat, seperti kalau membaca serat, perilaku wanita
ini.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 23

Apa yang sudah disampaikan dalam bait-bait pada kajian terdahulu, harap
diperhatikan dengan teliti, apa yang sudah diajarkan si bapak ini, supaya
kalian menemui selamat. Seperti kalau membaca serat tentang perilaku
wanita ini. Semoga anak-anak perempuanku memperhatikan.
Pagene (mengapa) tan (tak) nêdya (hendak) tiru (meniru), kalakuane
(kelakuan) pawèstri (istri), kang (yang) kinasihan (dikasihi) ing (oleh)
priya (suami), apa (apa) pawèstri (istri) parunji (tak tahu aturan), miwah
ta (serta) èstri (istri) candhala (durhaka), apan nora (tidak) kêdhah-
kêdhih (berteriak-teriak). Mengapa tak hendak meniru, kelakuan istri,
yang dikasihi oleh priya? Apa istri tak tahu aturan serta isri durhaka?
Yang tidak berteriak-teriak.
Mengapa tak hendak meniru kelakuan istri yang dikasihi priya?
Sebagaimana yang telah disebutkan dalam bait-bait yang lalu. Janganlah
bersikap seperti istri yang tak tahu aturan, yang durhaka pada suami,
jangan suka berteriak-teriak pada suami. Alasan apa yang membuat
engkau tak mau melakukan perbuatan baik? Ketahuilah akibat dan
konsekuensi dari perilaku yang demikian itu.
Ingkang (ingkang) kinasihan (dikasihi) kakung (suami), kabèh (semua)
pawèstri (istri) kang (yang) bêcik (baik), kang (yang) nastiti (berhati-hati)
marang (kepada) priya (suami). Dene (adapun) èstri (istri) kang (yang)
parunji (tak tahu aturan) candhala (durhaka) pan (memang) nora (tidak)
nana (ada), dèn kasihi (dikasihi) maring (oleh) laki (suami). Yang
dikasihi oleh suami adalah para istri yang berbuat baik, yang berhati-hati
kepada suami. Adapun istri yang tak tahu aturan, durhaka memang tidak
ada, yang dikasihi oleh suaminya.
Sudah dari dahulu berlaku dalam tatanan masyarakat, bahwa yang dikasihi
oleh suami adalah istri yang baik, yang mengikuti nasihat-nasihat pada bait
yang lalu. Yakni yang berhati-hati dalam melayani suaminya. Adapun
seorang istri yang tak tahu aturan, durhaka, tak ada yang dikasihi oleh
suaminya.
Mila ta (makanya) kêrêp (sering) rinêmbug (dibicarakan), dadine
(kejadiannya) wong wadon (perempuan) iki (ini), tanpa (tanpa) gawe
(melakukan) maca (membaca) layang (serat, kitab), tan (tak) gêlêm (mau)
niru (meniru) kang (yang) bêcik ( baik. Makanya sering dibicarakan,
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 24

kejadiannya perempuan seperti ini. Yakni mereka yang tak membaca


kitab, dan tak mau meniru perbuatan baik.
Maka sering dibicarakan kejadian seorang perempuan yang demikian itu.
Hal itu karena perempuan tidak membaca kitab dan tidak mau meniru
perbuatan baik. Maka setidaknya lakukan salah satu dari kedua hal itu.
Memang benar perempuan tugasnya amat banyak, takkan sempat untuk
membaca kitab dan mengkaji ilmu pengetahuan. Jika tidak dapat
melakukan itu, setidaknya berusahalah untuk meniru perbuatan baik.
Jangan membantah dan melawan kepada suami.
Mulane ta (makanya) putraningwang (anak-anakku), poma-poma (harap
sangat) dipun eling (diingat-ingat), marang ing (pada) pitutur (nasihat)
ingsun (aku). Makanya anak-anakku, harap sangat diingat-ingat, kepada
nasihatku.
Maka dengan sangat aku minta, kepada anak-anak perempuanku agar
selalu mengingat-ingat nasihatku ini. Yang telah kuuraikan dengan
panjang lebar dan jelas. Jangan sampai mengabaikan nasihat baik ini.
Muga ta (semoga) Hyang (Tuhan Yang) Maha (Maha) Suci (Suci),
nêtêpêna (menetapkan) elingira (ingatanmu), marang (kepada) panggawe
(perbuatan) kang (yang) bêcik (baik), dèn dohna (dijauhkan) panggawe
(perbuatan) ala (buruk), siya-siya (yang sia-sia) kang (yang) tan (tak)
bêcik (baik). Semoga Tuhan Yang Maha Suci, menetapkan ingatanmu,
kepada perbuatan baik, dijauhkan dari perbuatan buruk, dan perbuatan
yang sia-sia tak ada kebaikannya.
Semoga Tuhan Yang Maha Suci memberi ketetapan pada hatimu agar
engkau selalu ingat kepada semua perbuatan baik. Dijauhkan dari
perbuatan buruk dan perbuatan yang sia-sia, yakni perbutan yang tidak ada
kebaikan di dalamnya.
Titi (selesai) tamat (lengkap) layang (risalah) wuruk (pelajaran), marang
(kepada) putraningsun (anak-anakku) èstri (perempuan), Kêmis (Kamis)
Pon (Pon) ping pitu (hari ke-7) Ruwah (Ruwah, Sya’ban), Kuningan
(wuku Kuningan) Je kang gumanti (tahun Je), obah guna swarèng
jagad, sancaya (windu) astha (masa astha) pan maksih (masih dalam
waktu). Sudah tamat ajaran piulang dari bapakmu ini, kepada anak-anak
perempuanku. Pada hari Kamis Pon, hari ke-7 bulan Ruwah, wuku
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 25

Kuningan, Tahun Je. Ditandai dengan sengkala : obah guna swareng


jagad (1736 AJ), windu Sancaya, masih dalam mangsa Astha.
Jika mengambil tanggal yang tertera di akhir serat ini, penanda waktu
akhir penulisan serat ini terdapat kekeliruan, seharusnya: Senin Kliwon, 7
Ruwah 1736 AJ (Senin 18 September 1809 M). Namun bisa juga yang
keliru adalah tanggalnya, mengingat agak aneh kalau seseorang sampai
lupa hari. Yang sering terjadi adalah lupa tangga. Wallau a’lam.
Dengan selesainya bait ini, lengkaplah sudah kajian serat Darmaduhita
yang menguraikan tentang darma atau perbuatan baik bagi perempuan
(duhita). Semoga bermanfaat.
Klaten, 29 Juni 2018.
Bambang Khusen al Marie.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 26

BAGIAN KEDUA

SERAT DARMARINI
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 27

Kajian tematik Serat Darmarini 1: Sembilan Watak Utama


Wanita
Pupuh 1, Pucung (metrum: 12u, 6a, 8i, 12a), Bait 1-14, Serat Darmarini.

Kang tinutur marna rèh mring para sunu, wanodya kang samya,
manungku ing palakrami, pan mangkana ingkang winêdharing
kata.

Dipun tuhu anglakonana puniku, kang sangang prakara, wijange


sawiji-wiji, dhingin mantêp lire tan niyat mring liyan.

Kajaba mung ngamungna ingkang amêngku, iku lakinira.


Kapindho têmên winarni, têmên iku nora silip ing sabarang,

dora wuwus-Dene ta kang kaping têlu, dipun anarima, apa


sapanduming laki. Ping pat sabar têgêse ywa sring dêduka,

cêpak nêpsu- Ping lima bêktiyèng kakung, de bêkti mangkana, tan


wani sarta ngajèni, nora lancang ywa wani andhinginana.

barang laku mêngku ngêkul nora ayun, babaganing priya, wêdia


bênduning laki. Kanêmira kang gumati marang priya,

kusung-kusung sêsaji ngopèni kakung, barang kang kinarsan,


tanapi yèn sukêr sakit, mulasara sung usada mrih waluya.

Kang kapitu mituhu sabarang tuduh, manut nora puga. Kawolu


rumêksèng laki, bisa simpên yèn ana wadining garwa,

tyasira sru ngeman ngowêl ywa katêmpuh, sakèhing bêbaya.


Kasanga wiweka pasthi, pradikaning wiweka ingkang santosa.

Ja katungkul sadina-dina kang emut, aywa pêgat-pêgat, ing rina


pantara ratri, sariranta wanita èstu tan daya.

Amung dipun santosa sajroning kalbu, mring godha rêncana,


sapira gone jagani, priyanira sira yêkti nimbangana.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 28

Kudu-kudu wiwekane dipun bakuh, tan kengguh ing coba, iku


awakmu pribadi, kang rumêksa sumingkira rèh tan arja.

Wanudyèku manawa kuwat ing kalbu, yêkti lakinira, dhêmên


wêlas tulus asih, tur pitaya rêsêp rumakêt sutrêsna.

Sun sêsuwun ing Gusti Kang Maha Agung, sinunga kamulyan,


ing awal tumêkèng akir, putra-putri kang mangèsthi marang
garwa.

Kajian per kata:


Serat Darmarini merupakan nasihat kepada anak perempuan yang sedang
mempersiapkan diri memasuki kehidupan pernikahan. Digubah oleh Sri
Susuhunan Paku Buwana IX raja Surakarta Adiningrat. Versi yang
digunakan dalam kajian ini merupakan versi Padmasusastra. R. Ngabei
Padmasusastra merupakan penulis dan penghimpun karya susastra dari
keraton Surakarta. Beliau juga merupakan abdi dalem dan merupakan
murid dari R. Ngabehi Ranggawarsita.
Karena nasihat ini disampaikan secara bersambung, kita terpaksa
memotong tidak pada akhir gatra atau bait, tetapi kita potong sesuai item-
item yang berkaitan. Karena kajian kita kali ini bersifat tematik, maka
yang lebih diutamakan adalah tema pesan yang disampaikan oleh serat ini.
Kang (yang) tinutur (nasihatkan) marna (bermacam-macam) rèh (hal)
mring (kepada) para (para) sunu (anak), wanodya (wanita) kang (yang)
samya (sedang), manungku (berkonsentrasi) ing (dalam) palakrami
(pernikahan), pan mangkana (demikianlah) ingkang (yang) winêdharing
(diungkapkan) kata (dengan kata). Yang dinasihatkan ini bermacam-
macam hal kepada para anak, wanita yang sedang, berkonsentrasi dalam
pernikahan, demikian yang diungkapkan dalam tembang.
Nasihat ini, untuk para anak-anak perempuan, juga untuk para wanita,
yang sedang berkonsentrasi, mempelajari atau sedang mempersiapkan diri
atau sudah menjalani pernikahan. Kata manungku artinya fokus atau
sangat perhatian pada hal-hal tertentu, dalam hal ini tentang pernikahan.
Inilah nasihat yang diungkapkan dalam tembang. Arti dari kata dalam
bahasa Jawa adalah rangkaian perkataan, dalam hal ini adalah tembang.
Ada beberapa kata dalam bahasa Jawa yang mirip dalam arti dan bentuk
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 29

dengan kata-kata dalam bahasa Indonesia. Hal ini wajar karena bahasa
Jawa dan bahasa Indonesia merupakan keturunan dari bahasa Sansekerta.
Dipun (di) tuhu (patuhi) anglakonana (lakukanlah) puniku (itu), kang
(yang) sangang (sembilan) prakara (perkara, hal), wijange
(penjelasannya) sawiji-wiji (satu per satu), dhingin (pertama) mantêp
(mantap) lire (artinya) tan (tak) niyat (berniat) mring (kepada) liyan (yang
lain). Patuhilah dan lakukanlah itu, yang sembilan hal, penjelasannya satu
per satu, yang pertama mantap artinya tidak berniat kepada yang lain.
Bagi para wanita yang ingin sukses dalam berumah tangga, patuhilah dan
lakukanlah sembilan hal ini:
Yang pertama, mantapkan pilihanmu. Arti mantap adalah tidak berniat
untuk menyeleweng dengan yang lain. Jika sudah memilih suami maka
mantapkan dalam pilihan itu. Jangan sampai menoleh ke kiri ke kanan
mencari perbandingan. Fokuskan dengan apa yang sudah dipilih tersebut,
apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangan.
Dalam budaya Jawa posisi memilih sebenarnya berada di pihak wanita.
Kita sering melihat bila ada anak gadis yang menjelang dewasa, akan
banyak lelaki yang datang bertandang atau menanyakan. Maka sebuah
hubungan yang berakhir dalam pernikahan sangat ditentukan oleh siapa
lelaki yang dipilih oleh gadis tersebut, atau keluarganya.
Posisi memilih ini sebenarnya sangat menguntungkan karena si gadis
dapat menentukan sesukanya siapa lelaki yang terbaik untuk dirinya. Oleh
karena itu si lelaki sering disebut sebagai yang terpilih (pinilih), sebuah
ungkapan yang melambangkan kemenangan.
Walau demikian, hati seorang gadis amatlah labil dan rapuh. Seringkali si
gadis terbujuk oleh rayuan lelaki gombal mukiyo sehingga dalam memilih
lupa akan berbagai pertimbangan. Oleh karena itu dalam hukum Islam,
yang juga berlaku dalam budaya Jawa, keputusan memilih diletakkan di
tangan wali dari si gadis. Ini sebenarnya merupakan fungsi kontrol agar si
gadis tidak salah memutuskan. Fungsi wali ini seperti fungsi dewan
keamanan PBB yang mempunyai hak veto jika suatu keputusan dianggap
tidak benar.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 30

Kajaba (kecuali) mung (hanya) ngamungna (tak ada lain) ingkang (yang)
amêngku (memperistri), iku (yaitu) lakinira (suamimu). Kecuali hanya
tak ada lain yang memperistri, yakni suamimu.
Oleh karena itu sesudah si gadis dan walinya memilih maka segala
peluang dengan lelaki lain harus ditutup. Kehidupan si gadis hendaklah
berpusat pada lelaki yang memperistrinya, yakni suaminya tersebut. Tidak
boleh masih memelihara peluang jika suatu keputusan sudah diambil. Oleh
karena itu dalam budaya Jawa tempo dulu ada ritual yang namanya
pingitan, yakni si gadis tidak boleh keluar rumah secara berlebihan jika
sudah menerima lamaran lelaki. Hal tersebut untuk menjauhkan dari
godaan yang mungkin timbul.
Kapindho (kedua) têmên (sungguh) winarni (nasihat, macamnya), têmên
(sungguh) iku (itu) nora (tidak) silip (teledor, abai) ing (dalam) sabarang
(semua), dora (bohong) wuwus (perkataan). Nasihat yang kedua sungguh,
sungguh artinya tidak teledor dalam semua perkataan bohong.
Yang kedua bersungguh-sungguh, artinya tidak teledor atau lalai, dalam
semua perkataan tidak bohong. Yang dimaksud adalah bersungguh-
sungguh meneliti sehingga terhindar dari informasi yang tidak benar atau
perkataan yang menimbulkan salah paham. Hal-hal yang tidak benar
dalam rumah tangga bisa menimbulkan sumber pertengkaran dan saling
curiga. Maka hendaknya wanita menjauhkan diri dari sikap seperti itu.
Dene ta (adapun) kang (yang) kaping têlu (ketiga), dipun (harap)
anarima (menerima, nrimo), apa (apapun) sapanduming (pemberian) laki
(suami). Adapun yang ketiga, harap bersikap menerima, apapun
pemberian suami.
Yang ketiga, sikap menerima (nrima) adalah sikap yang selalu bersyukur
atas seberapapun hasil yang diberikan suami. Jika banyak tidak membuat
lupa diri dengan memborong keperluan yang tidak dibutuhkan, jika sedikit
tidak membuat kecewa dan menyangkal sifat pemurah Tuhan. Apapun
yang diterima manusia hanyalah pemberian (peparing) dari Allah Yang
Maha Pemurah.
Ping pat (yang keempat) sabar (sabar) têgêse (artinya) ywa (jangan) sring
(sering) dêduka (marah-marah), cêpak (dekat) nêpsu (kemarahannya).
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 31

Yang keempat, sabar artinya jangan sering marah-marah, dekat


kemarahannya.
Yang keempat, sabar. Sabar di dalam serat ini diartikan tidak sering
marah, atau gampang marah. Asring (sering) berkaitan dengan jarak
waktu, cepak (dekat) marah berkaitan dengan penyebabnya. Jika seringkali
marah dipastikan yang bersangkutan gampang sekali marah oleh sebab
yang sepele. Yang demikian mesti diperhatikan oleh para wanita. Karena
merekalah yang seringkali bersifat baper, sensitif dan impulsif. Hendaknya
dihindari sikap seperti itu.
Ping lima (yang kelima) bêktiyèng (berbakti pada) kakung (suami), de
bêkti (bakti) mangkana (itu), tan (tak) wani (berani) sarta (serta) ngajèni
(menghargai), nora (tidak) lancang (lancang) ywa (jangan) wani (berani)
andhinginana (mendahuluinya). Barang (semua) laku (perbuatan)
mêngku (mengandung) ngêkul (meremehkan) nora (tidak) ayun
(diperlihatkan), babaganing (tentang) priya (suami), wêdia (takutlah)
bênduning (kemarahan) laki (suami). Yang kelima berbakti pada suami,
adapun bakti itu, tak berani serta menghargai, tidak lancang jangan
berani mendahuluinya. Semua perbuatan yang meremehkan tidak
diperlihatkan, tentang suami, takutlah kemarahan suami.
Yang kelima, berbakti kepada suami. Arti bakti itu, tak berani serta
menghargai, tidak lancang, tidak berani mendahuluinya. Lebih baik
menunggu keputusan suami dalam hal-hal yang penting, tidak
mendahuluinya, jga tidak mengatur, serta memerintah. Yang demikian itu
membuatnya marah, kalaupun tidak marah pasti hatinya tidak suka. Jika
tidak suka maka kasih sayangnya berkurang.
Juga jangan melakukan perbuatan yang mengandung unsur meremehkan
suami, atau perbuatan yang mengecilkannya. Takutlah pada kemarahan
suami karena akibatnya kurang baik. Jika suami seorang yang kuasa maka
dia dapat bertindak yang kurang pantas terhadap istrinya. Jika suami
seorang yang lemah, maka dia bisa nekat kalau sudah marah. Bisa jadi
memukul atau malah lari ke dekapan wanita lain. Atau lari ke perbuatan
bejat lainnya.
Kanêmira (keenamnya) kang (yang) gumati (penuh perhatian) marang
(kepada) priya (suami), kusung-kusung (bersegera) sêsaji (menyajikan)
ngopèni (merawat) kakung (suami), barang (apapun) kang (yang)
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 32

kinarsan (dikehendaki). Keenamnya, yang penuh perhatian terhadap


suami, bersegera menyajikan dan merawat suami, dalam hal apapun yang
dikehendakinya.
Keenamnya adalah bersikap gumati. Arti dari gumati adalah sayang dan
perhatian. Bersegera dalam menyajikan dan melayani suami. Perhatian
dalam merawat dan menyiapkan kebutuhannya.
Tanapi (dan juga) yèn (kalau) sukêr (terkena) sakit (sakit), mulasara
(merawat) sung (memberi) usada (obat) mrih (agar) waluya (sembuh).
Dan juga kalau sedang menderita sakit, merawat dengan memberi obat
agar sembuh.
Dan apabila suami sedang kesusahan atau menderita sakit, maka istri
merawat dengan memberi obat agar segera sembuh. Pendek kata gumati
adalah menyayangi sekaligus memperhatikan.
Kang (yang) kapitu (ketujuh) mituhu (menurut) sabarang (semua) tuduh
(petunjuk), manut (menurut) nora (tidak) pugal (membantah, keras hati).
Yang ketujuh menurut semua petunjuk, menurut tidak membantah.
Yang ketujuh seorang istri hendaknya menurut segala petunjuk dari
suami. Sebisa mungkin dilaksanakan apapun arahan dan keinginan suami.
Tidak usah membantah atau bersikap menentang. Pugal artinya keras
hatinya, tidak mudah dinasihati. Yang seperti itu jangan dilakukan oleh
seorang istri.
Kawolu (kedelapan) rumêksèng (menjaga) laki (suami), bisa (bisa)
simpên (menyimpan) yèn (kalau) ana (ada) wadining (aib atau
kekurangan) garwa (suami). Kedelapan menjaga suami, bisa menyimpang
kalau ada rahasia suami.
Yang kedelapan, menjaga suami. Dalam hal ini adalah martabat suaminya,
jangan sampai rahasia suami justru dibocorkan yang berakibat aib suami
tersebar. Namun hendaklah apa yang kurang baik diketahui orang lain dari
suaminya, seorang istri berusaha menutupi itu semua.
Tyasira (hatimu) sru (sangat) ngeman (sayang) ngowêl (tak rela) ywa
(jangan sampai) katêmpuh (tertimpa), sakèhing (segala) bêbaya (bahaya).
Hatimu sangat sayang, tak rela tertimpa, segala bahaya.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 33

Seorang istri yang menjaga dalam hatinya selalu ada perasaan ngeman dan
owel, sayang dan tidak rela, jika suami atau keluarga tertimpa aib, atau
marabahaya yang tidak dikehendaki. Jika ada perasaan seperti ini dalam
hati seorang istri, niscaya dia akan selalu menjaga sikap dan perilakunya
dalam pergaulan di masyarakat. Inilah makna dari menjaga.
Kasanga (kesembilan) wiweka (berhati-hati) pasthi (pasti), pradikaning
(artinya) wiweka (berhati-hati) ingkang (yang) santosa (sentosa).
Kesembilan berhati-hati pasti, artinya berhati-hati dengan sentosa.
Yang kesembilan berhati-hati pasti, artinya berhati-hati dengan sentosa.
Yang dimaksud adalah menyiapkan diri sebelum segala kerepotan
menemui. Jika diri telah siap maka apapun masalah dan beban yang
dihadapi pasti akan terasa mudah, jauh dari stess dan depresi.
Ja (jangan) katungkul (terlalaikan) sadina-dina (sehari-hari) kang (yang)
emut (ingat), aywa (jangan) pêgat-pêgat (putus-putus), ing (di) rina
(siang) pantara (sampai) ratri (malam). Jangan sampai terlalaikan dalam
sehari-hari yang selalu ingat, jangan putus-putus, di siang sampai malam
hari.
Kewaspadaan seorang wanita dalam hal menguatkan diri tadi jangan
sampai putus-putus di siang sampai malam hari. Selalu dalam keadaan
berhati-hati secara terus menerus.
Sariranta (engkau) wanita (wanita) èstu (sungguh) tan (tak) daya
(berdaya), amung (hanya) dipun (harus di) santosa (kuatkan) sajroning
(didalam) kalbu (hati), mring (dari) godha (godaan) rêncana (dan
tipudaya), sapira (seberapa) gone (dalam) jagani (menjaga), priyanira
(suamimu) sira (engkau) yêkti (seharusnya) nimbangana
(mengimbanginya). Engkau wanita sungguh tak berdaya, hanya harus
dikuatkan di dalam hati, dari godaan dan tipudaya, seberapa dalam
menjaga, suamimu engkau seharusnya mengimbanginya.
Seorang wanita hanyalah makhuk lemah tak berdaya dibanding laki-laki.
Maka cara menguatkannya adalah di dalam hati. Wanita yang kuat hatinya
dalam menghadapi godaan dan tipudaya akan selamat. Juga harus dilihat
komitmen atau perhatian seoran suami kepada istrinya, seberapa besar
penjagaan suamimu kepadamu, maka hendaklah engkau mengimbanginya
juga. Dengan jalan menguatkan hatimu.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 34

Kudu-kudu (seharusnya) wiwekane (kehati-hatian) dipun (di) bakuh


(perkokoh), tan (tak) kengguh (terbujuk) ing (oleh) coba (cobaan).
Seharusnya kehati-hatian diperkokoh, tak terbujuk oleh cobaan.
Kudu-kudu bisa bermakna harus, juga bisa bermakna bersegera atau
melakukan sesuatu dengan prioritas. Dalam hal ini kehati-hatian haruslah
menjadi prioritas bagi seorang wanita yang menempuh kehidupan rumat
tangga.
Iku (itu) awakmu (dirimu) pribadi (sendiri), kang (yang) rumêksa
(menjaga) sumingkira (menghindarlah) rèh (segala yang) tan (tak) arja
(selamat). Itu dirimu sendiri, yang menjaga menghindarlah dari segala
yang tak selamat.
Karena kehati-hatian adalah sikap hati maka dirimu sendirilah yang bisa
mengontrol dan mengarahkan. Jika saja sudah dikenali bahwa sesuatu
akan membinasakan segeralah menyingkir. Jangan sampai terlambat
mengambil keputusan sehingga persoalan menjadi menumpuk. Jika sudah
pasti akan merusak, hendaklah segera menghindar.
Wanudyèku (wanita itu) manawa (kalau) kuwat (kuat) ing (dalam) kalbu
(hati), yêkti (benar-benar) lakinira (suaminya), dhêmên (senang) wêlas
(belas) tulus (tulus) asih (kasih), tur (dan lagi) pitaya (percayaannya)
rêsêp (meresap) rumakêt (intim) sutrêsna (rasa cintanya). Wanita itu
kalau kuat dalam hati, benar-benar suaminya, senang dan tulus belas
kasihnya, dan lagi kepercayaannya meresap dalam hati, intim dalam
cintanya.
Kalau seorang istri kuat hatinya, kukuh imannya, maka benar-benar
suaminya akan senang dan penuh kasih padanya. Akan penuh hati
suaminya dengan rasa sayang dan cinta. Dan lagi suaminya akan sangat
percaya padanya, jauh dari rasa curiga. Akan timbul di harinya perasaan
dekat yang sangat intim, oleh karena rasa cintanya itu.
Sun(aku) sêsuwun (mintakan) ing (pada) Gusti (Tuhan) Kang (Yang)
Maha (Maha) Agung (Agung), sinunga (agar mendapat) kamulyan
(kemuliaan), ing (di) awal (awal) tumêkèng (sampai) akir (akhir), putra-
putri (anak-anak laki-perempuan) kang (yang) mangèsthi (selalu
memikirkan) marang (kepada) garwa (pasangannya). Aku mintakan pada
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 35

Tuhan Yang Maha Agung, gar mendapat kemuliaan, di awal sampai akhir,
anak laki-perempuan yang memikirkan pasangannya.
Terakhir, inilah doa dari penggubah serat ini. Semoga Tuhan Yang Maha
Agung memberi kemuliaan di awal sampai akhir, kepada anak lelaki-
perempuan yang selalu memperhatikan dan memikirkan kepada
pasangannya.
Sekian Pupuh pertama dari serat Darmarini.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 36

Kajian tematik Serat Darmarini 2: Rumah Tangga Awet


Lebih Baik
Pupuh 2, Gambuh (metrum: 7u, 10u, 121, 8u, 8o), Bait 1-10, Serat
Darmarini.

Supadi dadi gambuh, gonira wuruk iku, sumarmanta wara


sinawunging sari. Surasane dèn kacakup, kabèh wajibing wong
wadon.

Witana kang kadulu, kang kapyarsa wanodya puniku, lamun pêgat


dènira apalakrami, ana ping pindho ping têlu, ping pat ping lima
kalakon.

Sangsaya wuwuh-wuwuh, pocapane ala nganggo saru. Li warise


kêsêl gone dadi wali, kajaba yèn pêgatipun, nora tulus karahayon.

Tinakdir ing Hyang Agung, kayapriye kawula yèn lumuh, yêkti kudu
nglakoni lumrahing urip. Wong wadon ana kang mêngku, priya
kang wus dadi jodho.

Aksamanta sadarum, pra sujana sarjana de ulun, kumawawa ngapus


wêwulang mring siwi. Silara ing saru siku, tan wrin lukita kinaot.

Mung adrêng driya kudu, karya tilas têmbe wuri besuk. Ingkang
srêdha manulat pariwaradi, dinulurna ing Hyang Agung, tinut putra
wayah wadon.

Puji-pinuji tulus, sakaronron èstri lawan jalu, antuk brêkah oyod


rondhona salami. Sawarahing rama ibu, ywa tuna sihing Hyang
Manon.

Narambahana sagung, kulawarga kadang myang sadulur,


kacumpuning sandhang pangan sugih singgih. Titi cuh-cuh para
sunu, mituhua ing wiraos.

Dadya pangemut-emut, rikalanira mangriptèng kidung, sampat ari


Sukra wanci jam saptenjing, Jumadilakir Sitangsu, nêmbêlas wimba
katonton.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 37

Maktal môngsa Dhêsthèku, Alip ôngka sèwu wolung atus, lan


sawêlas ingaran srat Darmarini, minôngka wasitanipun, marang
putra wayah wadon.

Kajian per kata:

Supadi (supaya) dadi (menjadi) gambuh (terbiasa, sesuai, cocok), gonira


(dalam engkau) nglakoni (melakukan) wuruk (nasihat) iku (itu),
sumarmanta (maka padamu) wara (disampaikan, diberitakan)
sinawunging (disertai) sari (kembang, tembang). Supaya menjadi
terbiasa, dalam engkau melakukan nasihat itu, maka padamu disampaikan
disertai tembang.
Kata sari dalam bait diatas berarti kembang, namun dalam hal ini yang
dimaksud adalah tembang. Karena tembang juga seringkali disebut sekar,
misalnya sekar pangkur. Pemakaian kata-kata plesetan seperti ini lazim di
dalam karya susastra Jawa. Contoh lain adalah kata mataram yang juga
sering memakai kata matarum (ngeksi ganda). Cara ini disebut wangsalan.
Supaya terbiasa dalam menjalani nasihat tadi, yakni sembilan hal yang
sudah disampaikan dalam kajian pertama, maka beritakan nasihat tadi
dalam bentuk tembang. Yang demikian itu agar indah terdengar di telinga
dan berkesan dalam hati.
Surasane (pengertiannya) dèn kacakup (agar termuat), kabèh (semua)
wajibing (kewajiban) wong (seorang) wadon (peremuan). Agar
pengertiannya dapat termuat, semua tentang kewajiban seorang wanita.
Agar pengertian yang termuat didalamnya dapat diingat dengan mudah.
Jika ditembangkan secara berulang akan selalu ingat, sehingga menjadi
peringatan di setiap saat. Itu semua tentang kewajiban sebagai seorang
wanita, sebagimana telah diuraikan pada kajian pertama.
Orang-orang terdahulu dalam menyampaikan nasihat selalu diungkapkan
dengan kata-kata yang baik, dengan irama yang indah dan bahasa yang
puitis sebagaimana tembang macapat yang dipakai dalam serat Darmarini
ini. Orang-orang dahulu sangat memegang tatakrama dan budi luhur dalam
menyampaikan nasihat, mereka mematuhi ajaran kuno: menyampaikan hal
baik harus dengan cara yang baik.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 38

Witana (awitana, mulailah) kang (yang) kadulu (terlihat), kang (yang)


kapyarsa (terdengar) wanodya (wanita) puniku (itu), lamun (kalau) pêgat
(cerai) dènira (dalam) apalakrami (berumah tangga), ana (ada) ping
pindho (dua kali) ping têlu (tiga kali), ping pat (empat kali), ping lima
(lima kali) kalakon (akan terlaksana). Mulailah dari yang terlihat, dan
yang terdengar wanita itu, kalau bercerai dalam rumah tangganya, ada
yang dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, akan terlaksana.
Mulailah menjalani nasihat di atas dari hal-hal yang dekat saja, yang
sering terlihat dan terdengar, mulai yang sudah di depan mata. Misalnya
pada contoh ini, seorang wanita ada yang bercerai dalam kehidupan rumah
tangganya, kemudian menikah lagi dan bercerai lagi, dan seterusnya. Ada
yang dua kali, tiga kali, empat kali sampai lima kali, yang demikian itu
bisa saja terlaksana. Itu bisa saja terjadi dalam kehidupan. Namun selalu
saja ada akibat yang akan ditanggungnya.
Sangsaya (semakin) wuwuh-wuwuh (bertambah-tambah), pocapane
(pergunjingan) ala (buruk) nganggo (bercampur) saru (keji). Semakin
bertambah-tambah, pergunjingan buruk bercampur keji.
Semakin banyak gagal dalam membina rumah tangga, semakin banyak
gunjingan datang. Orang menduga-duga dengan prasangka-prasangka
yang tidak pantas. Akan sangat menganggu nantinya. Akan mendapat label
sebagai perempuan yang tidak baik.
Li (ahli) warise (warisnya) kêsêl (capek) gone dadi (menjadi) wali (wali),
kajaba (kecuali) yèn (kalau) pêgatipun (bercerainya), nora (tidak) tulus
(langgeng) karahayon (dalam kebaikan). Ahli warisnya capek menjadi
wali, kecuali kalau sebab bercerainya karena tak langgeng dalam
kebaikan.
Para saudara dan ahli waris pun capek, apalagi yang menjadi wali. Oleh
karena itu tidak ada manfaatnya perilaku yang demikian itu. Tidak ada
kebaikan dalam berganti-ganti pasangan hidup, menambah permasalahan
saja. Meski cerai dibolehkan menurut aturan agama tetapi juga ditegaskan
bahwa perbuatan itu dibenci Allah. Apalagi jika sampai bongkar-pasangan
berkali-kali seperti di atas. Kecuali jika memang alasan cerai karena tidak
langgeng dalam kebaikan atau keselamatan bagi pasangan tersebut.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 39

Tinakdir (sudah ketentuan) ing (dari) Hyang (Yang) Agung (Maha


Agung), kayapriye (seperti) kawula (hamba) yèn (kalau) lumuh (tak mau),
yêkti (sungguh) kudu (harus) nglakoni (menjalani) lumrahing (umumnya)
urip (orang hidup). Sudah menjadi ketentuan Yang Maha Agung, seperti
seorang hamba (makhluk) mau tak mau harus menjalani seperti umumnya
orang hidup.
Sudah ketetapan Allah Yang Maha Agung kalau seorang hamba harus
menjalani hidup sesuai sunatullah, sebagaimana umumnya manusia lain.
Hal itu harus dilakukan, suka atau tidak suka, karena itulah jalan termudah
untuk mencapai kebaikan.
Dalam kehidupan berumah tangga ada banyak kebaikan yang didapat oleh
manusia yang menjalaninya. Kalau memakai terminologi agama, ada
banyak pahala dalam mahligai pernikahan. Karena serat ini menguraikan
tentang kewajiban bagi wanita, maka jika dilihat secara seksama pahala
yang didapat bagi wanita dari kehidupan rumah tangga amatlah banyak.
Dalam melayani suami ada pahala, dalam merawat anak ada pahala, dalam
mendidik anak ada pahala, dalam berkasih sayang antar anggota keluarga
ada pahala. Sungguh sangat banyak pahala yang diperoleh dari kehidupan
berumah tangga ini, yang jika diganti dengan amalan ibadah lain akan sulit
dicapai.
Wong (seorang) wadon (perempuan) ana (ada) kang (yang) mêngku
(mengayomi), priya (lelaki) kang (yang) wus (sudah) dadi (menjadi)
jodho (jodohnya). Seorang perempuan ada yang mengayomi, lelaki yang
sudah menjadi jodonya.
Juga sudah menjadi ketetapan Allah bahwa seorang wanita harus ada yang
mengayomi, yakni seorang lelaki yang menjadi jodohnya. Maka sungguh
beruntung bila pasangan suami-istri dapat menjalani kehidupan rumah
tangga dengan harmonis dan langgeng. Bagi keduanya akan terkumpul
banyak kebaikan dan mendapat pahala yang berlipat.
Aksamanta (maafkanlah) sadarum (semuanya), pra (para) sujana (cerdik)
sarjana (cendekia) de (kalau) ulun (saya), kumawawa (lancang) ngapus
(berpura-pura) wêwulang (memberi nasihat) mring (kepada) siwi (anak-
anak). Maafkanlah semuanya, para cerdik cendekia kalau saya, lancang
berpura-pura memberi nasihat kepada anak-anak.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 40

Dalam bait ini sang penggubah serat Darmarini meminta maaf kepada para
cerdik-cendekia, karena telah lancang dengan berpura-pura memberi
nasihat kepada anak-anak. Ini adalah ungkapan tatakrama dari seorang
penulis yang rendah hati. Yang patut dihargai, bahwa Sinuhun PB IX
walau seorang raja dalam menulis tetap bersikap layaknya seorang penulis
tulen, sikap yang biasa diambil oleh para pujangga, yakni rendah hati.
Silara (terhindarlah) ing (dari) saru (aib) siku (marah), tan (tak) wrin
(mengetahui) lukita (perkataan) kinaot (yang baik). Terhindarlah dari aib
dan amarah, karena tak mengetahui perkataan yang baik.
Semoga terhindar dari aib dan marah para cerdik-pandai, karena tak
mengetahui perkataan yang baik. Semoga karya ini dimaafkan dan
dimaklumi karena tidak menampilkan perkataan yang bagus-bagus
sebagaimana umumnya karya-karya orang pintar.
Mung (hanya) adrêng (gejolak) driya (hati) kudu (untuk bersegera), karya
(membuat) tilas (jejak) têmbe (waktu) wuri (belakang) besuk (esok,
kelak). Hanya terdorong gejolak hati untuk segera, membuat jejak waktu
belakang kelak.
Hal ini terpaksa dilakukan karena dorongan hati yang kuat (adreng) untuk
meninggalkan jejak bagi anak keturunan di kelak kemudian hari. Agar
mereka dapat mengambil kebaikan dalam karya ini.
Ingkang (yang) srêdha (mau, sudi, percaya) manulat (meneladani)
pariwaradi (kabar baik, perkataan baik), dinulurna (dikabulkan) ing
(oleh) Hyang (Tuhan) Agung (Maha Agung), tinut (diikuti) putra (anak)
wayah (cucu) wadon (perempuan). Yang mau meneladani perkataan baik
ini, semoga dikabulkan oleh Tuhan Maha Agung, diikuti oleh para anak
cucu perempuan.
Kepada yang mau meneladani perkataan baik ini, semoga dikabulkan oleh
Tuhan Yang Maha Agung, diikuti perkataan ini oleh anak cucu
perempuan semuanya. Kata sreda (sredha) artinya mau, percaya.
Sedangkan kata dulur artinya dituruti, jika yang menuruti Tuhan artinya
dikabulkan.
Puji-pinuji (saling mendoakan) tulus (langgeng), sakaronron (sekalian)
èstri (istri) lawan (dan) jalu (suami), antuk (mendapat) brêkah (barokah)
oyod (mengakar) rondhona (lebat) salami (selamanya). Saling mendoakan
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 41

semoga langgeng, sekalian istri dan suami, mendapat barokah mengakar


lebat pohon keluarganya selamanya.
Saling mendoakan agar langgeng, antara suami-istri, semoga keduanya
mendapat barokah. Seketurunannya mengakar kuat, lebat akarnya, kokoh
pohon keluarganya, selama-lamanya. Memang jika dicermati membangun
keluarga seperti menanam sebuah pohon, semula sulit di awal. Namun jika
sudah tumbuh dengan lahirnya buah hati hati akan semakin kuatlah pohon
keluarga itu, semakin banyak cabang-cabangnya, semakin kokoh akarnya
sehingga menaungi anggota keluarganya selama-lamanya. Dan pohon
keluarga yang kokoh tersebut hanya dapat dibangun oleh mereka yang
kehidupan pernikahannya harmonis. Tak mungkin keluarga yang sering
cekcok akan berhasil, apalagi yang bongkar pasang suami-istri sampai
lima kali seperti contoh di atas, mustahil itu.
Sawarahing (segala ajaran) rama (ayah) ibu (ibu), ywa (jangan) tuna
(kehilangan) sihing (belas kasih) Hyang (Tuhan) Manon (Yang Maha
Melihat). Segala ajaran ayah dan ibu, jangan sampai kehilangan kasih
sayang Tuhan Yang Maha Melihat.
Segala ajaran ayah-ibu akan ditaati, jangan sampai kehilangan kasih
sayang Tuhan. Dengan keluarga yang harmonis dan kuat maka barokah
akan diturunkan kepada keluarga itu. Kasih sayang Tuhan akan melimpah
ruah.
Narambahana (semoga meliputi) sagung (segenap), kulawarga
(keluarga) kadang (sanak) myang (dan) sadulur (saudara), kacumpuning
(kecukupan) sandhang (sandang) pangan (pangan) sugih (kaya) singgih
(mulia). Semoga meliputi segenap, keluarga sanak saudara, kecukupan
sandang pangan kaya mulia
Dengan demikian semoga meliputi segenap keluarga besar. Sanak saudara
pun kecipratan barokahnya, mereka semua berkecukupan sandang-pangan,
kaya harta benda dan mulia dalam derajat dan martabat di mata pergaulan
luas.
Titi (tamat, selesai) cuh-cuh (larangan, ajaran) para (para) sunu (anak),
mituhua (menurutlah) ing (dalam) wiraos (perkataan). Selesai ajaran
untuk para anak, menurutlah nasihat ini.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 42

Sudah selesai ajaran, nasihat dan larangan-larangan yang disampaikan


dalam serat ini. Para anak cucu harap menurutlah pada nasihat baik ini,
agar kehidupan rumah tanggamu selamat, langgeng dan berkembang.
Dadya (menjadi) pangemut-emut (penginat-ingat), rikalanira (waktu
ketika) mangriptèng (menggubah) kidung (tembang), sampat (selesai,
lengkap) ari (hari) Sukra (jumat) wanci (waktu) jam (jam) saptenjing
(tujuh pagi), Jumadilakir (jumadil akhir) Sitangsu (bulannya), nêmbêlas
(enam belas) wimba (ucapan) katonton (terlihat). Menjadi pengingat-
ingat, waktu ketika menggubah tembang ini, selesai hari Jumat waktu jam
tujuh pagi, Jumadil Akhir bulanny, tanggal 16 ucapan ini terlihat.
Sebagai pengingat-ingat, waktu selesainya digubahnya tembang ini: hari
Jumat, jam 7 pagi, bulan Jumadil Akhir tanggal 16.

Maktal (wuku Maktal) môngsa (mangsa) Dhêsthèku (Dhestha), Alip


(tahun Alif) ôngka (angka tahun) sèwu (seribu) wolung atus (delapan
ratus), lan sawêlas (dan sebelas, 1811AJ) ingaran (dinamakan) srat
(Serat) Darmarini (Darmarini), minôngka (sebagai) wasitanipun (wasiat),
marang (kepada) putra (anak) wayah (cucu) wadon (perempuan). Maktal
mangsa Dhestha, Alip angka tahun seribu delapan ratus, dan sebelas
dinamakan serat Darmarini, sebagai wasiat, kepada anak cucu
perempuan.

Wuku Maktal, mangsa Dhestha, tahun Alip berangka tahun 1811, serat ini
dinamakan Serat Darmarini, ditulis sebagai wasiat kepada anak cucu
perempuan.
Selesai kajian serat Darmarini.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 43

BAGIAN KETIGA

SERAT WULANG WANITA


Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 44

PUPUH KESATU

Dhandhanggula
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 45

Kajian tematik Serat Wulang Wanita 1 : Manut Mring Laki


Pupuh 1, Pada 1-5, Dhandhang Gula (10i,10a,8e,7u,9i,7a,6u,8a,12i,7a),
Serat Wulang Wanita:
Murwèng sarkara nata sung wangsit, mring sagunging wanita kang
samya, winêngku marang priyane, kudu manut sakayun, ngayam-
ayam karsaning laki. Lêlèjêma mrih rêna, karanane iku, dadi
jalaraning trêsna- ning wong priya yayah guna lawan dhêsthi.
Pasthine mung elingan,

aywa linglung lênglêng nora eling, lalu lina lêlabaning lara, badan
tumêkèng atine. Titi tan mikir wuruk, angrêrusak budi tan wêning,
sangsaya mring sarira, ras-arasên nurat. Wulanging bapa lan
biyang, yêkti pantês tinurut jêr iku dadi, jalaraning tumitah.

Têtêpana tartamtuning èstri, pan pinêtri wêwadining badan, dadi


tartip iku rane. Tartip têgêse urut, runtut titis wajibing èstri, titis
bênêr têgêsnya. Nêring driya iku, ywa liya mring lakinira, rah-
arahên ywa arda driya dèn manis, ulat wijiling sabda.

Dadi kanggo tinuruting laki , jêr ta sira miturut tur awas, marang
karsaning lakine. nuraga dadi iku, marmaning Hyang asih mring
dasih, sumingkir duka cipta, iku adatipun. Labêt labuhaning kuna,
kang kasusra wanita kanggo ing laki, yogya linaluria.

Myating solah myang karsaning laki, kira-kira mrih rêsêping karsa,


dadi timbang mrih pêrlune. Laki kongasing kalbu, bungah lengah-
lèngèh kang èstri, tinurut kasêmbadan, tan cuwa tyasipun.Lir taru
katiban warsa, ngrêmbaka ron kêmbang pêntile andadi, têntrêm tan
walang-driya.

Kajian per kata:

Murwèng (mengawali) sarkara (Dhandhang Gula) nata (Raja) sung


(memberi) wangsit (pesan), mring (kepada) sagunging (segenap) wanita
(wanita) kang (yang) samya (semua), winêngku (dinikahi) marang (oleh)
priyane (pria), kudu (harus) manut (menurut) sakayun (sekehendak),
ngayam-ayam (mengharap-harap) karsaning (kehendak) laki (lelaki).
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 46

Mengawali pupuh Dhandhang Gula ini, Raja memberi pesan, kepada


segenap wanita yang dinikahi oleh pria, harus menurut sekehendak,
dengan mengharap-harap kehendak lelaki.
Serat Wulang Wanita ini merupakan bagian dari Wira Iswara karya
Pakubuwana IX yang khusus berisi nasihat kepada wanita dalam
menjalankan tugas sebagai istri. Untuk itu beliau pesankan agar; pertama,
para wanita harus menyiapkan diri untuk bersikap menurut kepada
suaminya. Kedua, hendaknya berharap-harap kepada keridhaan suami,
jangan sampai suami kecewa dengannya.
Lêlèjêma (bermuka, berraut muka) mrih (agar) rêna (menyenangkan),
karanane (karena) iku (itu), dadi (menjadi) jalaraning (sebab) trêsna-
ning (rasa cintanya) wong (seorang) priya (lelaki) yayah (laksana) guna
(guna-guna) lawan (dan) dhêsthi (pengasihan). Bermukalah yang
menyenangkan, karena itu, menjadi sebab rasa cintanya seorang pria
laksana guna-guna dan pengasihan.
Ketiga, bersikaplah dengan raut muka yang manis, menyenangkan hati.
Jangan cemberut, mecucu dan bersedih. Karena tiga sikap itulah yang akan
menjadi sebab rasa cintanya seorang lelaki. Sikap itu sangat mujarab
dalam merebut hati suami, laksana guna-guna dan pengasihan.
Pasthine (pastinya) mung (hanya) elingan (selalu ingat), aywa (jangan)
linglung (linglung, bingung) lênglêng (kebingungan) nora (tidak) eling
(ingat), lalu (lebih) lina (lupa) lêlabaning (bercampur) lara (sakit), badan
(badan) tumêkèng (sampai dalam) atine (hatinya). Pastinya hanya selalu
ingat, jangan linglung kebingungan tidak ingat, lebih-lebih sampai lupa
bercampur sakit, di badan sampai ke hati.
Ingat-ingatlah selalu, jangan sampai kebingungan dan tidak mengingat.
Lebih-lebih sampai lupa, bercampur dengan sakit. Di badan sampai ke
hati. jangan mengabaikan nasihat ini dan berbuat menyimpang atau
mengabaikan pengajaran.
Titi (sampai tamat) tan (tan) mikir (memikirkan) wuruk (pengajaran),
angrêrusak (merusak) budi (budi) tan (tak) wêning (jernih), sangsaya
(sengsara) mring (pada) sarira (badan sendiri), ras-arasên (enggan,
malas-malasan) nurat (menulis). Yang sampai akhir tidak memikirkan
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 47

pengajaran, merusak budi menjadi tak jernih, membuat sengsara badan


sendiri, menjadi malas untuk menulis.
Jangan sampai akhir tidak memikirkan nasihat dan pengajaran ini. Akan
merusak budi, menjadikannya tak jernih, menyengsarakan badan sendiri,
membuat malas menulis.
Pengkaji agak kesulitan memahami makna dari kalimat terakhir ini. Yang
kami tangkap maknanya, agar nasihat kepatuhan kepada suami ini jangan
diabaikan. Agar tidak merusak akal budi dan badan sendiri. Wallahu
a’lam.
Wulanging (pengajaran) bapa (ayah) lan (dan) biyang (ibu), yêkti
(sungguh) pantês (pantas) tinurut (dituruti) jêr (karena) iku (itulah) dadi
(menjadiu), jalaraning (sebab) tumitah (terdiptanya). Pengajaran ayah
dan ibu, sungguh pantas dituruti karena itulah yang menjadi, sebab
terciptanya.
Pengajara ayah dan ibu jangan diabaikan. Keduanya pantas untuk memberi
nasihat. Wajib bagi kita untuk menurut, karena keduanya telah menjadi
sebab terciptanya kita ke dunia ini. Merawat dan mengasuh kita.
Membesarkan dan mendidik kita. Apakah itu bukan sebuah alasan untuk
menurut? Kedua orang tua adalah wakil dari kasih sayang Tuhan kepada
kita. Selayaknya kita mengikuti nasihatnya, karena pastilah disampaikan
dengan ikhlas sebagai perwujudan cinta kasih. Dan salah satu nasihatnya
adalah agar para istri patuh kepada suami.
Têtêpana (patuhilah) tartamtuning (apa yang menjadi ketetapan) èstri
(bagi wanita), pan (memang) pinêtri (diupayakan) wêwadining (rahasia
dalam) badan (diri), dadi (menjadi) tartip (tertib) iku (itu) rane
(namanya). Patuhilah apa yang menjadi ketetapan bagi wanita, memang
diupayakan rahasia diri, menjadi tertib itu namanya.
Patuhilah kodrat sebagai wanita, ketetapan Tuhan yang telah
dianugerahkan untuk para istri, yakni melayani. Memang sudah menjadi
ketetapan bagi wanita untuk belajar menjaga rahasia diri. Wewadining
badan, artinya rahasia kodrat dari wanita. Itulah yang dinamakan tertib.
Apa artinya?
Tartip (tertib) têgêse (artinya) urut (urut), runtut (berurutan) titis (tepat)
wajibing (kewajiban) èstri (bagi wanita), titis (titis) bênêr (benar, tepat)
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 48

têgêsnya (artinya). Tertib artinya urut, berurutan tepat kewajiban bagi


wanita, titis artinya tepat.
Tertib artinya urut, segala sesuatu dikerjakan secara berurutan, tidak saling
mendahului. Apa yang menjadi kewajiban dilaksanakan dengan tepat. Titis
artinya tepat pada sasaran. Apa sasaran atau maksud yang diinginkan dari
semua kewajiban wanita tadi?
Nêring (tujuan) driya (hati) iku (itu), ywa (jangan) liya (selain) mring
(kepada) lakinira (suamimu), rah-arahên (perkirakan) ywa (jangan) arda
(bergejolak) driya (hati) dèn (agar) manis (manis), ulat (raut muka)
wijiling (dan keluarnya) sabda (perkataan). Tujuan hati itu, jangan selain
kepada suamimu, perkirakan jangan bergejolak hati agar manis, raut
muka dan keluarnya perkataan.
Tujuan dari hati seorang wanita adalah semata-mata kepada suaminya.
Perkirakan, jangan sampai ada gejolak hati agar engkau tetap bisa bersikap
manis. Dalam raut muka maupun perkataan. Walau wanita kadang sangat
potensial untuk bersikap emosional, tetapi biasakan jangan seperti itu.
Perkirakan sendiri apa-apa yang bisa membuat engkau bersikap tidak baik,
dan hindarilah. Ywa arda artinya jangan sampai hatimu bergejolak
sehingga sikapmu tidak terjaga, baik dalam raut muka maupun perkataan.
Ini penting untuk diperhatikan karena wanita kalau sudah hatinya bergolak
kadang menjadi tidak terkontrol. Muka cemberut, bibir manyun seolah
mengulum batu sekepal, dan alis menyatu alias njenggureng. Tentu
menjadi tidak enak dipandang mata, apalagi oleh suaminya. Jangan sampai
itu terjadi. Upayakan untuk menghindari hal-hal yang bisa membuat hati
galau, sehingga tetap bisa tampil dengan baik. Dalam raut muka, sikap
manis dan perkataan.
Dadi (menjadi) kanggo (untuk) tinuruting (dituruti oleh) laki (suami), jêr
ta (karena) sira (engkau) miturut (menurut) tur (lagipula) awas (awas),
marang (terhadap) karsaning (kehendak) lakine (suaminya). Menjadi
untuk dituruti oleh suami, karena engkau menurut lagi pula awas,
terhadap kehendak suaminya.
Jika bisa bersikap manis tan berkata yang baik, itu menjadi sebab wanita
dituruti oleh lelaki. Jadi wanita yang turut akan dituruti. Wanita yang
patuh pada segala perintah suami, akan dituruti segala keinginan hatinya.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 49

Maka penting bagi wanita agar selalu patuh dan mengawasi semua
kehendak suaminya. Jangan sampai kehendak suami lolos dari
pengamatan. Maksudnya jangan sampai ada kehendak suami yang tidak
diketahui wanita sehingga tidak kesampaian.
Nuraga (bersikap santun, merendahkan diri) dadi (menjadi) iku (seperti
itu), marmaning (menjadikan) Hyang (Tuhan) asih (berbelas kasih)
mring (kepada) dasih (hamba), sumingkir (tersingkir) duka (duka) cipta
(pikiran), iku (itu) adatipun (kebiasaannya). Sikap santun merendahkan
diri menjadi seperti itu, menjadikan Tuhan berbelas kasih kepada
hambanya. Tersingkir duka dari pikiran, itulah kebiasaannya.
Sikap santun dan merendahkan diri yang dilakukan wanita kepada
suaminya itulah, yang aka menjadi penyebab turunnya belas kasih dari
Tuhan, kepadanya. Terhindar dari pikiran yang susah (duka cipta). Itulah
kebiasaan yang sudah berlaku.
Labêt labuhaning (perbuatan baik) kuna (di zaman kuna), kang (yang)
kasusra (sudah dikenal) wanita (wanita) kanggo (untuk) ing laki (para
laki-laki), yogya (seyogyanya) linaluria (lestarikanlah). Perbuatan baik di
zaman kuna, yang sudah kita kenal, wanita adalah untuk lelaki.
Seyogyanya yang demikian lestarikanlah.
Memang demikian adanya, bahwa wanita adalah hadiah dari Tuhan untuk
kaum lelaki. Ini dapat dirunut pada awal mula penciptaan Adan dan Hawa.
Diciptakan Hawa agar Adam menjadi tenteram kepadanya. Namun hal
yang sama bisa dibalik, lelaki ada untuk para wanita. Banyak kejadian
lelaki berebut perempuan yang menjadi idaman. Bahkan saling bertengkar
atau saling bunuh. Ini menjadi bukti sebaliknya, bahwa lelaki ada untuk
wanita pula. Memang kedua insan lain jenis ini adalah pasangan, arti
pasangan adalah ada untuk saling melengkapi. Tanpa salah satunya, takkan
ada kehidupan sempurna. Maka terhadap laki-laki pun juga ada ajaran
kemuliaan agar mereka dapat bersikap yang pantas kepada wanita. Namun
fokus kita kali ini adalah masalah wulang wanita. Maka yang dibahas
adalah tugas, kewajiban dan sikap yang baik bagi wanita. Kita lanjutkan.
Myating (melihat pada) solah (perilaku) myang (dan) karsaning
(kehendak) laki (suami), kira-kira (dikira-kira) mrih (agar) rêsêping
(menyenangkan) karsa (hati), dadi (menjadikan) timbang (seimbang)
mrih (agar sesuai) pêrlune (kewajibannya). Melihat pada perilaku dan
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 50

kehendak suami. Dikira-kira agar menyenangkan hatinya dan menjadikan


seimbang agar sesuai kewajibannya.
Para istri hendaknya selalu melihat apa yang dilakukan oleh suaminya, dan
juga mengawasi apa yang dikehendakinya. Jangan sampai terlambat dalam
melayani. Kira-kiralah apa yang menyenangkan hatinya. Jika suami
senang maka akan dia akan memberikan seimbang sesuai kewajibannya.
Laki (suami) kongasing (menampakkan) kalbu (rasa hati), bungah
(gembira) lengah-lèngèh (selalu tertawa) kang (yang) èstri (istri), tinurut
(dituruti) kasêmbadan (tercukupi), tan (tak) cuwa (kecewa) tyasipun
(hatinya). Suami yang menampakkan rasa hatinya, gembira selalu tertawa
istrinya, dituruti dan dicukupi, tak kecewa hatinya.
Inilah gambaran keluarga yang harmonis. Suami menampakkan rasa suka
hatinya. Istri selalu tertawa gembira. Tidak ada rasa kecewa di hatinya.
Semua berawal dari rasa patuh dan perhatian istri kepad suaminya. Si
suami senang hati dan runtuhlah rasa cintanya kepada istri dan anak-anak.
Sumi dapat bekerja dengan tenang dan konsentrasi, dengan demikian
rezeki mengalir lancar. Segala keinginan istri dituruti dan dicukupi. Tidak
ada lagi kekecewaan di hatinya.
Lir (seperti) taru (daun) katiban (tertimpa) warsa (hujan), ngrêmbaka
(berkembang) ron (daun) kêmbang (bunga) pêntile (bakal buahnya)
andadi (lebat), têntrêm (tenteram) tan (tidak) walang-driya (rasa
khawatir). Seperti daun tertimba hujan, berkembang daun bungan dan
bakal buahnya lebat, tenteram tak ada rasa khawatir.
Perumpamaan keluarga yang harmonis ibarat seperti pohon yang
dedaunannya tertimpa air hujan. Batang pohon dan cabang-cabangnya nya
kuat, daun-daunnya berkembang, bunganya pun mekar, bakal buahnya
lebat. Sebuah gambaran kehidupan yang tenteram, jauh dari rasa khawatir.
Setelah uraian panjang lima bait pertama di atas, marilah kita ambil
kesimpulan dari serat Wulang Wanita di atas:
1. Hendaknya para istri patuh dan selalu berharap keridaan suami
dalam sembarang pekerjaan. Selalu awas dalam melihat kebutuhan
suami, jangan sampai suami tidak terlayani dengan baik.
2. Bersikaplah yang manis dan menyenangkan hati sehingga suami
bertambah kasih sayangnya. Jangan menambah kesedihannya karena
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 51

suami juga sudah mempunyai tanggungan yang berat dalam


menjalankan tugasnya.
3. Sikap yang manis dan tutur kata yang baik akan membuat senang
suami, membuatnya tenang dalam pekerjaannya dan bertambah rasa
cintanya kepada keluarga. Sehingga terciptalah keharmonisan dalam
rumah tangga.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 52

Kajian Tematik Serat Wulang Wanita 2 : Sarwa Bisa


Wajibing Wanita
Pupuh 1, Pada 6-10, Dhandhang Gula (10i,10a,8e,7u,9i,7a,6u,8a,12i,7a),
Serat Wulang Wanita:
Driyanira dèn têntrêm ywa gingsir, sarwa bisa wajibing wanita,
mirantèni busanane, priya myang dhaharipun, ingkang dadi
karêming laki. Pinatut wayahira, sarapane esuk, têngange lan
lingsir surya, têngah wêngi byar esuk sayoga salin. Tan bosên
mamrih lêjar.

Jêr ta iku dudutaning pikir, dadi sumèh sêmune tan giras, têntrêm
krasan nèng wismane. Yêkti sira kang untung, tinunggonan nora
ngêmbani. Lamun sira sêmbada, sariranta iku, bêbrêsih wida myang
sêkar, sawatara dadi panggugahing ati. Lakinta nora kêmba.

Bisikane sang raja ing Dêmis (Prabu Umum), pan wus umum
sakèhing wanita, gung nêpsu cupêt budine. Lalèn dhêmên
ginunggung, nora ketung bayar rong ringgit, janjine ana ujar,
ngrika wontên dhukun, bisa nyarati wanita, jambe suruh saranane
kanggwèng laki, ginugu tan tinimbang.

Mula akèh wanita yèn laki, pitung dina branane wus bebas,
pinunjungkên mring dhukune, tombok darbèking kakung, busanadi
prabot anangkil. Konangan jinêmalan, tur sudasihipun, awak lêsah
ati susah, tan tinulung mring lakine muring-muring, gêring cêkèk
dadakan.

Ngagak-agak sêbute dharindhil, iya talah nora kaya ingwang, têka


dadine mangkene. Parikan pantèk kayu (paju), ulêr siti kang môngsa
sikil (rang), majwèwuh mundur wirang- nging wus watakipun,
wanodya yèn lagi susah, tansah katon bapa biyung dèn aturi, pae
yèn kanggwèng krama.

Kajian per kata:

Driyanira (hatimu) dèn têntrêm (yang tenang, tenteram) ywa (jangan)


gingsir (berubah), sarwa (serba) bisa (bisa) wajibing (kewajiban) wanita
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 53

(wanita), mirantèni (menghias, menyiapkan) busanane (pakaiannya),


priya (suami) myang (dan) dhaharipun (makanannya), ingkang (yang)
dadi (menjdi) karêming (kegemaran) laki (suami). Hatimu yang tenang
jangan berubah, serba bisa dalam menjalankan kewajiban wanita,
menyiapkan pakaian suami dan makanannya, yang menjadi
kegemarannya.
Seorang istri harus tenang, tidak boleh hatinya galau atau moody. Dalam
melayani suami tidak boleh angot-angotan, terpengaruh suasana hati.
Kewajiban istri dalam menata rumah tangga, menyiapkan pakaian dan
makanan untuk suami tetap dikerjakan dengan stabil. Walau suasana hati
yang bagaimanapun kewajiban itu tetep melekat padanya. Mengurus
rumah tangga dan keperluan makanan suami. Bahkan, pelaksanaan
kewajiban ini haruslah dimanfaatkan sebagai sarana agar suami semakin
cinta kepadanya. Pilihlah pakaian yang suaminya suka, adakan makanan
yang menjadi kegemarannya.
Tidak boleh seorang istri kalau hatinya tidak berkenan kemudian
ngambek, tidak mau masak. Kalau diingatkan malah bilang, “Ya Masaka
dhewe kana!” Atau kalau marah kemudian tidak mau mencuci baju suami,
“Mbuh! Klamben karepmu, ra karepmu!” Lha, yang demikian itu tidak
boleh.
Pinatut (diatur sepantasnya) wayahira (kapan waktunya), sarapane
(makan sarapan) esuk (di waktu pagi), têngange (saat siang) lan (dan)
lingsir (menjelang condong) surya (matahari), têngah (tengah) wêngi
(malam) byar (fajar) esuk (pagi) sayoga (seyogyanya) salin (berganti).
Tan (tak) bosên (bosan) mamrih (agar) lêjar (longgar hati). Diatur
kepantasannya, kapan waktunya yang baik, sarapan di waktu pagi, makan
siang dan menjelang matahari condong, di tengah malam dan fajar
menjelang. Seyogyanya setiap waktu diganti-ganti agar tidak bosan, dan
selalu merasa senang hatinya.
Dalam menyiapkan makan untuk suami, perkirakan kapan waktunya yang
tepat. Harus selalu awas dalam mulat kahanan, melihat keadaan. Harus
tanggap kapan suami butuh minum, butuh makan, baik di waktu pagi,
siang dan malam. Telitilah (titi) melihat gelagat, dari perilaku suami.
Jangan sampai suami terlanjur meminta, baru kausediakan. Hendaknya
terlebih dahulu tanggap. Juga jangan banyak bertanya, karena kebanyakan
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 54

para suami tidak suka ditanya macam-macam. Semisal ingin makan apa?
Kapan akan makan? Yang demikian itu istri harus bisa memperkirakan
waktunya dan apa kegemaran suami. Maka harus tanggap dan titen,
menghapalkan kebiasaan suami. Bagaimana gelagat kalau suami sudah
ingin makan, agar segera disiapkan untuknya. Juga harus titen, apa saja
kesukaan suami. Ingat jangan banyak bertanya. Ada pepatah; malu
bertanya sesat di jalan, banyak bertanya bikin jengkel.
Jêr ta (karena) iku (itu) dudutaning (menjadi terpikatnya) pikir (pikiran),
dadi (menjadi) sumèh (penuh senyum) sêmune (roman mukanya) tan
(tidak) giras (sensitif), têntrêm (tentetram) krasan (kerasan) nèng (di)
wismane (rumahnya). Karena itu menjadi terpikatnya pikiran, menjadi
penuh senyum roman mukanya tidak sensitif, tenteram dan kerasan di
rumahnya.
Suami yang suka hatinya atas pelayanan istri yang tanggap, responsif dan
sesuai selerannya, akan terpikat hatinya, penuh senyum dan berseri roman
mukanya, tidak sensitif dan sebentar-sebentar pergi. Dudut ati artinya
menjadi senang hatinya, ndudut pikir artinya pikirannya sesuai, cocok
dengan apa yang dipikirkan. Sumeh artinya penuh senyum, tanda hatinya
berkenan. Giras adalah gampang pergi dari rumah, atau gampang
menghindar dari istri. Selalu merasa tenteram dan kerasan di rumahnya.
Gambaran di atas adalah gambaran seorang suami yang kalegan (merasa
lega) hatinya, atas pelayanan istrinya.
Yêkti (sungguh ) sira (engkau) kang (yang) untung (beruntung),
tinunggonan (selalu ditunggui) nora (tidak) ngêmbani (membuat
berkurang, kecewa). Sungguh engkau yang akan beruntung, selalu
ditunggui dan tidak membuat surut.
Kemba artinya semangatnya surut, atau kasih sayang suami surut. Karena
sudah merasa kalegan hatinya maka suami selalu dalam keadaan cinta
kasih. Jika ini terjadi yang beruntung adalah istri. Karena akan selalu
ditunggui di rumah, tidak ditinggal pergi-pergi. Suami diajak ngopi-ngopi
oleh temannya pun ogah, pilih dirumah bercengkerama dengan istrinya.
Hayo pora penak istri yang suaminya demikian.
Lamun (kalau) sira (engkau) sêmbada (bisa mencukupi), sariranta
(dirimu) iku (itu), bêbrêsih (rajin membersihkan diri) wida (dengan
parfum) myang (dan) sêkar (bunga), sawatara (beberapa, bisa) dadi
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 55

(menjadi) panggugahing (pembangkit gairah) ati (hati). Lakinta


(suamimu) nora (tidak) kêmba (surut gairahnya). Kalau engkau bisa
mencukupi, dirimu itu, dalam membersihkan diri, dengan wewangian dan
bunga, bisa membangkitkan gairah hati. Suamimu tidak surut gairahnya
kepadamu.
Kalau seorang istri mampu membersihkan diri, mempercantik penampilan
dalam mendampingi suami. Dengan memakai aroma wewangian dan
bunga, maka itu akan membangkitkan gairah suaminya. Sang suami tidak
akan surut gairah kepadanya. Akan nempeeeel terus kayak prangko....
Bisikane (bisik-bisik) sang (sang) raja (Raja) ing (di) Dêmis (Prabu
Umum), pan (memang) wus (sudah) umum (umum) sakèhing (banyak)
wanita (wanita), gung (besar) nêpsu (keinginannya) cupêt (pendek)
budine (akal budinya). Bisik-bisik dari sang Raja di Demis, memang
sudah umum kalau banyak wanita, besar keinginannya tapi pendek akal
budinya.
Raja Demis adalah raja dalam cerita Menak. Kita belum bisa menjelaskan
lebih lanjut mengapa Raja Demis disebut di sini. Semoga kelak kita juga
sempat mengkaji karya-karya menak sehingga menjadi jelas. Raja Demis
ini mengatakan, kalau sudah umum bagi wanita kalau mereka banyak
keinginan, tetapi pendek akal budinya.
Lalèn (mudah lupa) dhêmên (senang) ginunggung (dipuji), nora (tak)
ketung (terhitung) bayar(bayar) rong (dua) ringgit (ringgit), janjine
(asalkan) ana (ada) ujar (perkataan), ngrika (di sana) wontên (ada)
dhukun (dhukun), bisa (bisa) nyarati (memberi sarat) wanita (wanita),
jambe (jambe) suruh (suruh) saranane (sarananya) kanggwèng (untuk
dipakai) laki (suami), ginugu (dipatuhi) tan (tak) tinimbang (ditimbang-
timbang). Mudah lupa senang dipuji, tidak terhitung membayar dua
ringgih, asalhan ada perkataan, di sana ada dhukun, bisa memberi sarat
kepada wanita, jambe suruh sarananya untuk dipakai kepada suami.
Dipatuhi tanpa ditimbang-timbang lagi.
Mudah lupa, artinya segera lupa akan perasaanya atau pengetahuannya
yang lalu. Juga senang sekali kalau dipuji. Tidak terasa kalau sudah
membayar dua ringgih, asalkan mendengar bahwa di sana ada dhukun
pintar yang bisa memberi sarat kepadanya. Sarat itu untuk ditujukan
kepada suaminya agar sayang kepadanya. Jika sudah demikian, bilangan
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 56

dua ringgih yang untuk ukuran zaman itu sangat banyak pun direlakan
untuk membayarnya. Tanpa pertimbangan mereka asal percaya saja. Itulah
yang dimaksud cupet budine, karena akal tidak dipakai untuk menelisik,
menganalisa ataupun bersikap kritis terhadap kabar berita.
Mula (karena itu) akèh (banyak) wanita (wanita) yèn (kalau) laki
(suaminya), pitung (tujuh) dina (hari) branane (hartanya) wus (sudah)
bebas (hilang), pinunjungkên (diberikan) mring (kepada) dhukune
(dhukunnya). Karena itu banyak wanita kalau suaminya, tujuh hari
hartanya sudah lepas, diberikan kepada dhukunnya.
Oleh karenanya uang belanja pemberian suami pun baru tujuh hari sudah
melayang ke tangan dhukun. Dipakai untuk menebus sarat-sarat yang
katanya agar suaminya sayang kepadanya. Praktik demikian memang
banyak ditemukan pada zaman dahulu. Guna-guna pengasihan, susuk atau
ajian-ajian rapal dan sebagainya sering dipakai para wanita untuk
menaklukkan laki-laki.
Tombok (tombok, menalangi) darbèking (kepunyaan) kakung (lelaki),
busanadi (busana yang bagus) prabot (perabot) anangkil (menghadap
raja). Tombok dengan kepunyaan suami, pakaian bagus kelengkapan
untuk menghadap raja.
Malah kalau uang belanja sudah habis, apa saja dipakai untuk tombok.
Diserahkan ke dhukun. Termasuk pakaian bagus-bagus kelengkapan dinas
yang biasa dipakai menghadap raja. Pokoknya kalau sudah kecanduan
guna-guna, sikap para wanita akan kalap. Seolah tak punya akal budi lagi.
Coba nek ngono kuwi bojone kon ngantor koloran thok po piye?
Konangan (kalau sampai dipergoki suaminya) jinêmalan (dipukul
kepalanya), tur (dan juga) sudasihipun (menjadi berkurang kasih-
sayangnya). Awak (badan) lêsah (lesu, layu) ati (hati) susah (sudah), tan
(tak) tinulung (ditolong) mring (oleh) lakine (suaminya) muring-muring
(marah-marah), gêring (sakit-sakitan) cêkèk (batuk) dadakan (mendadak).
Kalau sampai dipergoki suami dipukul kepalanya, dan juga menjadi
berkurang kasih sayangnya. Badan menjadi lesu, hati susah, tak ditolong
malah marah-marah, sakit batuk mendadak.
Kalau sampai tepergok oleh suaminya, dipukul kepalanya. Dan suaminya
bukannya tambah sayang malah berkurang cintanya, berganti rasa jengkel,
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 57

kemropok. Namun , si istri justru histerik, badan menjadi lesu, hari susah
seolah dia korban. Kalau tak segera ditolong suaminya menjadi marah-
marah, lalu ngambek. Tiba-tiba sakit batuk mendadak. Sakit batuk-batuk
adalah sakit yang tampak menyiksa. Bernapas susah, seolah sakit parah.
Begitulah wanita. Kalau sudah kepergok justru memainkan strategi
playing victim.
Ngagak-agak (tak bisa tidur) sêbute (keluh kesahnya) dharindhil
(nyerocos), iya talah (Ya allah) nora (tidak) kaya (seperti) ingwang (diri
ini), têka (mengapa) dadine (jadi) mangkene (seperti ini). Tak bisa tidur
keluh kesahnya nyerocos tan henti, “Ya Allah, jadi orang kok tak seperti
saya ini, mengapa nasibku menjadi begini?”
Playing victim semakin menjadi. Setelah mendadak sakit kemudian selalu
mengeluh, tak henti-henti merintih seolah menjadi orang paling malang di
dunia. Meratapi nasib, mengapa menjadi begini?
Parikan (seperti peribahasa) pantèk kayu ( pantek kayu, paju), ulêr siti
kang môngsa sikil (ulat tanah yang menyerang kaki, rang), majwèwuh
(maju repot) mundur (mundur) wirang (malu)- nging (tapi) wus (sudah)
watakipun (wataknya). Peribahasanya, pantek kayu, uler siti kang mangsa
sikil, maju repot mundur malu. Tapi memang sudah menjadi watak wanita
seperti itu.
Perilaku wanita yang demikian itu ibarat pepatah; pantek kayu, uler siti
kang mangsa sikil, maju ewuh mundur wirang, maju repot mundur malu.
Ini adalah tebakan dalam sastra Jawa yang disebut wangsalan. Pantek kayu
disebut paju, diambil maju. Uler siti kang mangsa sikil adalah rang,
diambil wirang. Artinya maju ewuh mundur wirang, maju repot mundur
malu. Itulah gambaran keadaan wanita yang terpergok berbuat salah.
Wanodya (wanita) yèn (kalau) lagi (lagi) susah (susah), tansah (selalu)
katon (terlihat) bapa (ayah) biyung (ibu) dèn (di) aturi (minta datang),
pae (beda) yèn (walau) kanggwèng (sudah) krama (berumah tangga).
Wanita kalau lagi susah, selalu terlihat ayah dan ibunya diminta datang,
beda kalau sudah berumah tangga.
Ini juga merupakan senjata bagi wanita yang terpergok berbuat salah.
Kemudian memanggil kedua orang tuanya, meminta pertolongan dan
berkeluh kesah. Namun beda dengan orang yang sudah berumah tangga.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 58

Semestinya bisa mandiri, menyelesaikan urusannya sendiri. peran orang


tua hanyalah sebagai penasihat saja, tak berwenang untuk ikut campur
dalam keputusan. Maka hendaknya seseorang yang telah berumah tangga
mendewasakan diri.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 59

Kajian Tematik Serat Wulang Wanita 3 : Ywa Dadi Trahing


Kompra
Pupuh 1, Pada 11-13, Dhandhang Gula (10i,10a,8e,7u,9i,7a,6u,8a,12i,7a),
Serat Wulang Wanita:
Lali lamun jalaraning urip, pijêr mikir sukane don kars .Ingundang
kèh sêmayane, nanging kalamun padu, jaranthalan prapta pribadi.
Dhuh adhuh wong wanita, sun puji tyasipun, mituruta sakèh wulang,
lêrêpêna driyanta supaya dadi, tuladan marang putra.

Jêr ta lumrah wong iku sêsiwi, yèn alaa nênulari putra, dadi tan ana
ajine, tininggal bapa biyung, ngayang-ayang tanna ngajèni, sama-
samèng tumitah. Uripe ngalincut, cinacat turuning sudra , midêr-
midêr mring lyan praja samya uning, yèn iku trahing kompra.

Angalompra tangèh wruhing bêcik, goroh umuk tur sugih carita,


yaiku dadi gêlare, mrih kandêl mring lyanipun, pakantuka gone
ngapusi. Sire lir pokrul jendral, bisane calathu, iku wong durjana
sabda, dipun eling sakèhing manungsa sami, ywa kongsi nandhang
brônta.

Kajian per kata:

Lali (lupa) lamun (kalau) jalaraning (sebab dari) urip (hidup), pijêr
(sering) mikir (mikir) sukane (kesenangan) don (tujuan) karsa
(kehendaknya). Lupa kalau sebab dari kehidupan, sering mikir
kesenangan yang dituju hanya sesuai kehendaknya.
Jangan lupa akan asal-usul kehidupan. Semua itu diawali dari bimbingan
orang tua. Mereka mengarahkan, memberi petunjuk dan mencukupi
kebutuhan kita. Setelah kita bisa mandiri, mengurus keperluan sendiri,
janganlah kemudian terlena memikirkan kesenangan kita sendiri. Tetap
perhatikanlah mereka, jangan dipakai tombok kalau pas butuh saja.
Ingundang (diundang) kèh (banyak) sêmayane (berkilah), nanging
(tetapi) kalamun (kalau) padu (bertengkar), jaranthalan (menabarak-
nabrak) prapta (datang) pribadi (sendiri). Kalau diundang banyak
berkilah, kalau bertengkar menabrak-nabrak datang sendiri.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 60

Jika mereka mengundangmu, cepat-cepatlah datang. Jangan sampai


banyak berkilah dengan berbagai alasan. Namun kalau sedang bertengkar
dengan suami, tak diundang pun menabrak-nabrak datang sendiri.
Dhuh (duh) adhuh (aduh) wong (kaum, orang) wanita (wanita), sun (aku)
puji (doakan) tyasipun (hatinya), mituruta (menurut) sakèh (segala)
wulang (nasihat), lêrêpêna (tenangkan) driyanta (hatimu) supaya
(supaya) dadi (menjadi), tuladan (teladan) marang (kepada) putra (anak-
anak). Duh, aduh, para wanita, aku doakan hatinya, menurut segala
nasihat. Tenangkan hatimu supaya menjadi teladan kepada anak-anak.
Duh, aduh para wanita jangan seperti itu! Aku doakan (-penulis serat ini)
agar hatimu senantiasa menurut segala nasihat. Tenangkan hati supaya
kehidanmu tak penuh drama. Yang berhati-hati dalam hidup, yakni dengan
sikap sareh dan tidak tergesa-gesa seperti yang telah diuraikan di atas.
Supaya kehidupanmu dapat menjadi teladan bagi anak-anakmu kelak.
Jêr ta (karena memang) lumrah (lazim) wong (seseorang) iku (itu) sêsiwi
(mempunyai anak), yèn (kalau) alaa (bertingkah buruk) nênulari (menular
ke) putra (anak), dadi (jadi) tan (tak) ana (ada) ajine (nilainya). Karena
memang lazimnya seseorang itu mempunyai anak, kalau bertingkah buruk
menular ke anaknya, menjadi tak ada nilainya.
Karena memang sudah menjadi kelaziman kalau seseorang itu mempunyai
anak, kalau dia bertingkah buruk, pasti menular ke anak. Kalau si orang
tua buruk anak ikut terkena keburukannya. Ada paribasan, kacang ora
ninggal lanjaran. Anak takkan bersikap jauh dari orang tuanya. Maka
perlu bagi orang tua untuk selalu bersikap baik agar anaknya kelak baik
pula. Seseorang yang buruk kelakuannya akan meninggalkan banyak
masalah kepada anak keturunannya.
Tininggal (ditinggal) bapa (ayah) biyung (ibu), ngayang-ayang (ke sana
kemari) tanna (tak ada) ngajèni (menghargai), sama-samèng (oleh
sesama) tumitah (manusia, makhluk). Ketika ditinggal ayah dan ibunya,
ke sana ke mari tak ada yang menghargai,oleh sesama manusia.
Kelak jika si anak ditinggal ayah dan ibunya, akan kesana kemari tak ada
dihargai oleh sesama manusia. Istilah Jawanya sudah diciri, yakni sudah
dikenali keburukannya dan dihindari. Terlebih orang Jawa sangat
mempercayai paribasan kacang ora ninggal lanjaran tadi.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 61

Uripe (hidupnya) ngalincut (merasa malu), cinacat (dicela sebagai)


turuning (keturunan orang) sudra (rendahan), midêr-midêr (berpindah-
pindah) mring (ke) lyan (lain) praja (negeri) samya (semua) uning (tahu),
yèn (kalau) iku (itu) trahing (keturunan dari) kompra (orang hina).
Hidupnya merasa malu, dicela sebagai keturunan orang rendahan,
berpindah-pindah ke lain negeri semua sudah mengetahui, kalau itu
keturunan orang hina.
Hidupnya akan penuh rasa malu, dicela sebagai keturunan orang rendahan,
maksudnya berbudi rendah. Walau berpindah-pindah pun, sampai ke lain
negeri semua orang sudah mengetahuinya. Apalagi oran Jawa suka
menyebar informasi dengan cara gethok tular melalui sarana lisan. Ada
paribasan; sadawa-dawane lurung isih dawa gurung, sepanjang-
panjangnya jalan masih lebih panjang tenggorokan orang Jawa.
Dan lagi, orang Jawa sangat kepoan, serta suka membicarakan keburukan
orang lain. Mungkin dengan dalih peduli kepada teman atau kenalan agar
tidak terkena keburukan orang yang dibicarakan. Kebiasaan ini sangat
efektif membunuh karakter seseorang. Itulah sebabnya anak-anak orang
yang kelakuannya buruk akan memikul beban yang berat.
Angalompra (menghinakan diri) tangèh (mustahil) wruhing (mengetahui)
bêcik (kebaikan), goroh (bohong) umuk (umuk) tur (dan juga) sugih
(banyak) carita (cerita), yaiku (yaitulah) dadi (menjadi) gêlare
(penampilannya), mrih (agar) kandêl (percaya diri) mring (kepada)
lyanipun (orang lain), pakantuka (agar berhasil) gone (dalam dia)
ngapusi (menipu). Menghinakan diri mustahil mengetahui kebaikan,
bohong umuk dan juga banyak cerita, yaitulah yang menjadi
penampilannya, agar percaya diri kepada orang kain, aga berhasil dalam
menipu.
Orang yang menghinakan diri mustahil mengetahui kebaikan. Yaitu orang-
orang yang suka bohong dan umuk dan juga banyak cerita. Orang seperti
itu memang penampilannya demikian. Agar percaya diri dalam
menjalankan tipudaya untuk menaklukkan korbannya.
Sire (inginnya) lir (seperti) pokrul jendral (kepala pengadilan), bisane
(bisanya) calathu (berbicara), iku (itu) wong (orang) durjana ( durjana)
sabda (perkataannya), dipun (harap di) eling (ingat) sakèhing (semua)
manungsa (manusia) sami (sama), ywa (jangan) kongsi (sampai)
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 62

nandhang (menderita) brônta (asmara). Inginnya seperti pokrul jenderal,


isanya berbicara, itu orang durjana dalam perkataannya. Harap diingat
segenap manusia, jangan sampai menderita asmara.
Keinginan hatinya bisa seperti kepala pengadilan, yang setiap
perkataannya dituruti orang. Orang yang bersikap seperti itu, tanpa
wewenang yang dia punyai adalah orang yang durjana dalam
perkataannya. Harap diingat bagi semua manusia, jangan sampai
menderita asmara. Yakni terlena dalam bersuka-suka, tenggelam dalam
bercinta sehingga lalai urusan yang lain. Bait berikutnya akan
menguraikan masalah ini.
Pokrul jendral menurut kamus Bausastra Jawa, Poerwadarminta, artinya
pengareping bebadan ing pengadilan luhur, kepala badan di pengadilan
tinggi. Perumpamaan itu diambil di sini sebagai kiasan bagi orang yang
inginnya mendapat hasil hanya dari berbicara saja.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 63

PUPUH KEDUA

ASMARADANA
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 64

Kajian Tematik Serat Wulang Wanita 4 : Den Bisa


Mandayeng Laki
Pupuh 2, Pada 1-5, Asmaradana (metrum: 8i, 8a, 8e, 8a, 7a, 8a, 8a), Serat
Wulang Wanita:
Ywa lalu mandayèng laki, lali pijêr don asmara, kalimput mung suka
bae. Yogya sira mêmujia, sakadaring wanita , titise dadi tan cubluk,
sudibya ngungkuli bapa.

Pan mangkono wong aurip, jangkane kudu jinangkah, kang ririh


amrih ywa cèwèt, katêkan sakarsanira, lumintu tan rêkasa, pae
karsa kang kasusu, suh sirna tanpa karana.

Sumaraha mring Hyang Widhi, kang asung urip mring sira, dèn
rapêt ngadu pasêmon, sêmuning Gusti kawula. Dèn jumbuh ywa
bêncorah, ngarah lêstarining kusuk, pasêmone pinrih jomblah.

Jomblah wanuh ingkang wrêdhi, mangkene upamanira,pawèstri iku


wajibe, dèn wêruh budining priya. Dimèn tuk sih tan kêndhat,
bokmanawa wuwuh-wuwuh, wahanèng tyas marang sira.

Rruwiyaning para putri, ing kuna wus cinarita, ing Ngarab myang
Jawa kene. Kang utama piniliha, sakadaring sarira, linaras lan
jamanipun, mrih tumrah tinoning kathah.

Kajian per kata:

Ywa (jangan) lalu (lupa) mandayèng (merekayasa, menempatkan) laki


(suami), lali (lupa) pijêr (terlena sering) don asmara (bermesraan),
kalimput (tertutup) mung (hanya) suka (bersuka-suka) bae (saja). Jangan
lupa menempatkan suami, agar jangan terlena bermesraan saja, tertutup
kesenangan bersuka-suka saja.
Mandaya artinya menempatkan, membuat sesuatu lebih bagus. Dalam hal
suami artinya wanita harus bisa mengarahkan atau mempengaruhi agar
suami tidak tenggelam dalam bercinta dan bermesraan saja, serta terlena
dalam bersuka-suka. Ingatkan suami bila kadarnya sudah melampaui
batas. Tentu saja dengan cara yang baik, agar suami berkenan menuruti
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 65

saran dan arahan itu. Akan lebih baik bila istri tidak hanya bicara saja,
tetapi mampu megambil tindakan yang bijak agar suami tidak tenggelam
dalam bersuka-suka.
Yogya (sebaiknya) sira (engkau) mêmujia (berdoalah), sakadaring
(sekadar menjadi) wanita (wanita), titise (keturunannya) dadi (menjadi
orang) tan (tidak) cubluk (bodoh), sudibya (perwira) ngungkuli
(melebihi) bapa (ayah, orang tua). Sebaiknya engkau berdoalah, sekadar
kemampuan wanita, agar keturunannya menjadi orang yang tidak bodoh,
perwira melebihi ayahnya.
Selalu berdoalah, sekadar kemampuan sebagai wanita, agar anak
keturunannya terhindar menjadi orang yang bodoh. Kalau bisa menjadi
seorang perwira melebihi orang tuanya. Sudibya artinya lebih dari
sesamanya, terpilih dari sesama manusia. Anak yang sudibya ini menjadi
dambaan setiap orang tua. Bahkan gelar dari putra mahkota raja-raja
Surakarta dan Yogyakarta pun terselip kata sudibya.
Pan (memang) mangkono (demikian) wong (orang) aurip (berkehidupan),
jangkane (rencana masa depan) kudu (harus) jinangkah (dilaksanakan).
Kang (yang) ririh (pelan, berati-hati) amrih (agar) ywa (tidak) cèwèt
(tercecer), katêkan (tercapai) sakarsanira (sekehendakmu), lumintu
(lestari) tan (tak) rêkasa (kesulitan), pae (beda) karsa (kehendak) kang
(yang) kasusu (tergesa-gesa), suh (rusak) sirna (hilang, lenyap) tanpa
(tanpa) karana (sebab). Memang demikian orang berkehidupan, rencan
masa depan harus dilaksanakan. Yang berhati-hati agar tidak tercecer,
agar tercapai sekehendakmu, lestari tak menemui kesulitan. Beda dengan
kehendak yang dilakukan tergesa-gesa, rusak lenyap tanpa sebab.
Memang hidup itu perlu direncanakan. Harus ada gambaran tentang masa
depan yang ingin dituju, dan juga harus ada upaya menjalaninya. Namun
semua itu hendaklah dilakukan dengan pelan dan berhati-hati, agar setiap
upaya keberhasilan tidak tercecer dilakukan. Kelak bila tercapai semua
rencana itu, dapat terlaksana dengan cara yang baik dan tanpa
menimbulkan kesulitan. Beda dengan bila dilakukan dengan tergesa-gesa,
malah bisa merusak rencana, hilang lenyap tanpa sebab. Yang dituju tidak
ketemu, yang dijangkau tak tercapai.
Sumaraha (pasrahlah) mring (kepada) Hyang (Tuhan) Widhi (Yang
Maha Benar), kang (yang) asung (memberi) urip (hidup) mring (kepada)
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 66

sira (kamu). Dèn rapêt (rapatlah) ngadu (melihat, memperhatikan)


pasêmon (isyarat), sêmuning (isyarat) Gusti (Gusti) kawula (hamba).
Pasrahkanlah kepada Tuhan Yang Maha Benar, yang memberi hidup
kepadamu. Rapatlah dalam memperhatikan isyarat, isyarat antara Tuhan
dan hamba.
Juga jangan lupa pasrahkanlah setiap hasil kepada Tuhan Yang Maha
Benar. Dialah yang menentukan apapun yang terbaik untuk kita. Dia juga
yang memberi kita hidup, dan memberi kita petunjuk dalam menjalaninya.
Namun hendaklah kita selalu memperhatikan setiap isyarat yang
disampaikan melalui tanda-tanda kehidupan. Agar kita dapat menangkap
tanda-tanda petunjuk itu. Karena kita bukan makhluk yang dapat berbicara
timbal-balik dengan tuhan, maka yang dapat kita lakukan hanyalah
menangkap isyarat-isyarat tersebut.
Dèn (agar) jumbuh (sesuai) ywa (jangan) bêncorah (berselisih), ngarah
(mengarah) lêstarining (lestari dalam) kusuk (kusyu’), pasêmone (isyarat)
pinrih (diupayakan agar) jomblah (jomblah). Agar sesuai jangan
berselisih, mengarah lestari dalam sikap kusyu’, isyarat diupayakan agar
jomblah.
Agar sesuai, jangan berselisih dalam mengarah lestarinya sikap kusyu’
dalam sikap pasrah tadi. Supaya semua isyarat diterima maka haruslah
jomblah. Apakah jomblah itu?
Jomblah (jomblah) wanuh (mengenal) ingkang (yang) wrêdhi
(maknanya), mangkene (demikian) upamanira (perumpamaannya),
pawèstri (wanita) iku (itu) wajibe (kewajibannya), dèn (agar) wêruh
(mengetahui) budining (kebaikan) priya (suami). Jomblah yakni mengenal
yang menjadi maknanya, demikian perumpamaannya, seorang wanita itu
kewajibannya, agar mengetahui kebaikan suami.
Jomblah adalah mengenal (wanuh), seperti seorang istri mengenal
kebaikan dari suaminya. Dalam hal jomblah dengan Tuhan, maka
seseorang hamba mesti mengenal sifat-sifat kebaikan Tuhan. Apa yang
diridhai dan apa yang dilarang oleh Tuhan hendaknya dilaksanakan. Tanpa
semua itu pegenalan tak mungkin terjadi.
Dimèn (agar) tuk (mendapat) sih (kasih) tan (tak) kêndhat (putus),
bokmanawa (barangkali) wuwuh-wuwuh (bertambah-tambah), wahanèng
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 67

(saranya dalam) tyas (hati) marang (kepada) sira (engkau). Agar


mendapat kasih yang tak putus, barangkali akan bertambah-tambah, sarana
dalam hati kepadamu.
Masih melanjutkan perumpamaan di atas, seorang istri yang mengenal
kebaikan suami pastilah sikapnya akan menyesuaikan dengan
pengetahuannya tadi. Maka sang suami pun akan penuh kasih kepadanya
tiada putus-putusnya. Malah bangkali kasihnya akan bertambah-tambah.
Demikian pula dengan Tuhan. Kalau kita mengenal sifat-sifatNya dan
semua petunjukNya tentu sikap kita akan berbeda. Seorang yang mengenal
bahwa Tuhan adalah Pemberi Rizki, takkan menggerutu manakala satu
dua hari tak mendapat hasil sesuai harapannya. Dia tetap meyakini bahwa
Tuhanlah yang Maha Bijaksana dalam mengatur rezeki seseorang. Dia
tidak lantas mengomel bahwa Tuhan tidak lagi berpihak padanya, tetapi
dia tetap akan bersikap baik dan tidak mengurangi peribadatan karenanya.
Itu semua karen dia telah mengenal Tuhannya, serta yakin bahwa Dialah
sebaik-baik pengatur rezeki.
Rruwiyaning (cerita tentang) para (para) putri (putri), ing (di) kuna
(zaman kuna) wus (sudah) cinarita (diceritakan), ing (di) Ngarab (tanah
Arab) myang (dan) Jawa (tanah Jawa) kene (sini). Cerita tentang para
putri, di zaman kuna sudah diceritakan, di tanah Arab dan tanah Jawa.
Carilah inspirasi dari cerita tentang para putri dari zaman kuna. Yang
sudah diceritakan di tanah Arab dan tanah Jawa. Ada cerita tentang
keutamaan istri Fir’aun dalam al Qur’an. Ada cerita tentang Siti Zulaikha
di zaman Nabi Yusuf. Ada cerita tentang putri Nabi, Siti Fatimah. Dari
Jawa ada cerita Ratu Sima, Dewi Kilisuci, Ratu Kalinyamat, Sri Huning
dan sebagainya. Carilah teladan baik dari mereka.
Kang (yang) utama (utama) piniliha (pilihlah), sakadaring (sekadar
kemampuan dalam) sarira (diri), linaras (disesuaikan) lan (dengan)
jamanipun (zamannya), mrih (agar) tumrah (keturunan) tinoning (terlihat
oleh) kathah (orang banyak). Yang utama pilihlah, sekadar kemampuan
dalam diri, disesuaikan dengan zamannya, agar anak keturunan pantas
dilihat orang banyak.
Dari mereka teladanilah yang utama. sekadarnya dilakukan sesuai
kemampuan diri kita. Sesuaikan dengan perkembangan zamannya. Apa
yang bisa diteladani maka teladanilah, yang kurang sesuai karena
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 68

perbedaan budaya dan situasi maka tak perlu dipaksakan. Semua itu
lakukanlah agar kelak anak cucu keturunanmu pantas dilihat oleh orang
banyak.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 69

Kajian Tematik Serat Wulang Wanita 5 : Nyugata


Bojakrama
Pupuh 2, Pada 6-11, Asmaradana (metrum: 8i, 8a, 8e, 8a, 7a, 8a, 8a), Serat
Wulang Wanita:
Pathining we jalanidhi (uyah), ron lêmpuyang misih mudha (lirih),
wus sayah kang ngripta mangke, aririh dera mangarah, runtute
kang wiyata. Tarlèn mung dadya pangemut, tyasing wanita mrih
arja.

Kasmaran ngungune guling, angripta kadi supêna, sêdya


andugèkkên manèh, pitutur mring pra wanita. Yogyane barêsiha, jro
wisma myang badanipun, mrih rahabing kadang mitra.

ingkang sêdya amartuwi. Pirangbara lamun bisa, nyugata amrih


sukane, kadang mitra ingkang samya, tuwi krasan rêrasan, saking
bisa tindak-tanduk, ingaranan bojakrama.

Boja suguh ranirèki, krama têmbung kang mrih lêjar, tyasing tamu
mrih jênake, tan age mulih dumadya. Pratandhane yèn sira, sinihan
sêsaminipun, janma yogya linuria.

Karanane wong antuk sih, ing manungsa iku tôndha, Hyang Manon
kang ngosikake. Dèn agung sukuring Suksma, muga ta lêstaria,
sihing Hyang turun-tumurun, tumêkèng dina kiyamat.

Mufangati lair batin, wong sinihan samèng titah, tumruntun prapta


drajate, sasêdyane pan tinêkan, mangkana adatira. Manungsa kang
arsa luhung, sumingkir marang kanisthan.

Kajian per kata:

Pathining (sari pati) we (air) jalanidhi (laut), (saripati air laut yakni;
garam atau uyah), ron (daun) lêmpuyang (lempuyang) misih (masih)
mudha (muda), (daun lempuyang masih muda yakni; lirih), wus (sudah)
sayah (capai) kang (yang) ngripta (mengarang) mangke (sekarang), aririh
(pelan-pelan) dera (dalam melakukan) mangarah (memperkirakan),
runtute (runtutnya, konsistennya) kang (yang) wiyata (pelajaran), tarlèn
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 70

(tak lain) mung (hanya) dadya (agar menjadi) pangemut (peringatan),


tyasing (hati) wanita (wanita) mrih (agar) arja (sejahtera, tenang, baik).
Sudah capai yang mengarang sekarang, pelan-pelan dalam
memperkirakan runtutnya pelajaran. Tak lain hanya agar menjadi
peringatan, hati wanita agar penuh kebaikan.
Wangsalan pathining we jaladri, saripati air laut, yakni uyah, diambil
sayah (capai). Ron lempuyang misih mudha, daun lempuyang yang masih
muda adalah lirih, diambil ririh (pelan-pelan). Arti dari wangsalan ini
adalah pengarang serat ini sudah capai, maka pelan-pelan saja dalam
mengarahkan diri agar mampu tetap menulis. Agar yang ditulis konsisten,
yakni semata-mata memberi pelajaran kepada wanita, agar tidak melantur
kemana-mana, diluar konteks yang dibicarakan. Semua itu tak lain sebagai
pelajaran agar hati para wanita selalu dalam keadaan tenang dan penuh
kebaikan (arja).
Kasmaran (terpedaya) ngungune (keinginan) guling (tidur), angripta
(mengarang) kadi (seperti) supêna (bermimpi), sêdya (bermaksud)
andugèkkên (melanjutkan) manèh (lagi), pitutur (nasihat) mring (kepada)
pra (para) wanita (wanita). Terpedaya keinginan tidur, mengarang seperti
bermimpi saja, bermaksud melanjutkan lagi, nasihat kepda para wanita.
Sudah capai dan terpedaya keinginan untuk tidur. Mengarang jadi seperti
bermimpi saja. Padahal maksud hati masih ingin melanjutkan memberi
nasihat kepada para wanita. Maka dengan pelan-pelan, karena mengantuk
dan badan capai, nasihat ini dilanjutkan.
Yogyane (sebaiknya) barêsiha (bersih-bersihlah), jro (dalam) wisma
(rumah) myang (dan) badanipun (badannya), mrih (agar) rahabing
(menjadi senang) kadang (saudara) mitra (teman), ingkang (yang) sêdya
(hendak) amartuwi (bertamu). Sebaiknya bersih-bersihlah, dalam rumah
dan badannya, agar menjadi senang saudara dan teman, yang hendak
bertamu.
Sebaiknya, sebagai wanita bersih-bersihlah dalam rumah dan juga
lingkungan sekitar, serta bersihkanlah badan. Tidah usah berhias
berlebihan seperti kalau mau kondangan, tetapi hendaklah yang bersih.
Agar saudara dan teman yang berkunjung merasa senang ketika bertamu
atau anjangsana, menengok atau mengabarkan. Kalau rumah bersih dan
yang punya rumah siap menerima tamu, mereka tentu merasa nyaman.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 71

Pirangbara (lebih baik) lamun (kalau) bisa (bisa), nyugata (menjamu)


amrih (agar) sukane (suka hatinya), kadang (saudara) mitra (dan teman)
ingkang (yang) samya (sedang), tuwi (bertandang) krasan (kerasan)
rêrasan (bercakap-cakap), saking (dari) bisa (bisa) tindak-tanduk
(berperilaku), ingaranan (inilah yang disebut) bojakrama (boja krama).
Lebih baik kalau bisa, menjamu agar suka hatinya, saudara dan teman
yang sedang bertandang kerasan bercakap-cakap, dari tindak-tanduk
perilaku. Inilah yang disebut bojakrama.
Akan lebih baik lagi, kalau bisa menyediakan jamuan. Agar yang
berkunjung suka hatinya. Sanak saudara dan teman yang menengok
menjadi kerasan dalam bercakap-cakap. Rerasan adalah bercakap-cakap
tentang hal yang bersifat pribadi, timbul dari rasa hati masing-masing.
Kalau istilahnya sekarang mungkin curhat. Curhat ini bagi sebagian orang
mungkin sangat berguna untuk mengurangi beban hidup. Dan tuan rumah
yang baik akan menyambut dengan suasana nyaman. Sambil ngemil
kacang goreng bisa bicara dari hati ke hati dalam suasana yang hangat.
Nah tindak tanduk yang menyenangkan dari tuan rumah disertai jamuan
itu disebut bojakrama. Apa itu bojakrama?
Boja (boja) suguh (jamuan) ranirèki (namanya itu), krama (krama)
têmbung (perkataan) kang (yang) mrih (membuat) lêjar (suka), tyasing
(hati dari) tamu (tamu) mrih (agar) jênake (nyaman), tan (tak) age
(segera) mulih (pulang) dumadya (jadinya). Yang disebut boja adalah
jamuan darimu, yang disebut krama adalah perkataan yang membuat suka
hati, hati dari tamu agar merasa nyaman, tak ingin segera pulang jadinya.
Bojakrama dari kata boja dan krama. Yang disebut boja adalah hidangan
yang disuguhkan kepada tamu. Arti krama adalah perkataan baik,
memenuhi kaidah unggah-ungguh yang benar. Krama adalah perkataan
yang membuat lejar. Arti lejar adalah hilangnya duka menjadi suka.
Orang yang lejar hatinya sudah tidak menyimpan kedukaan lagi. Bila sang
tamu sudah lejar hatinya maka kemudian dia akan merasa jenak. Arti
jenak adalah kerasan, nyaman, tanpa merasa risih atau ingin segera
pulang. Maka kalau Anda ketamuan dan tamunya kok “ora mulih-mulih”,
itu tanda tamunya jenak.
Pratandhane (itu pertanda) yèn (kalau) sira (engkau), sinihan (dikasihi)
sêsaminipun (sesamanya), janma (manusia) yogya (sebaiknya) linuria
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 72

(lestarikanlah). Itu pertanda kalau engkau, dikasihi sesama manusia,


sebaiknya lestarikan yang demikian.
Si tamu yang jenak tadi menjadi tanda bahwa engkau disukai, dikasihi
oleh sesama manusia. yang demikian ini sebaiknya dilestarikan. Jangan
malah kalau ada tamu tak pulang-pulang Anda malah jengkel. Mengapa
demikian?
Karanane (karenanya) wong (orang) antuk (mendapat) sih (kasih sayang),
ing (dari) manungsa (manusia) iku (itu) tôndha (pertanda), Hyang
(Tuhan) Manon (Yang Maha Melihat) kang (yang) ngosikake
(menggerakkan). Karena orang mendapat kasih sayang, dari orang lain
itu pertanda, Tuhan Yang Maha Tahu Yang menggerakkan.
Karena orang yang mendapat kasih sayang dari sesama manusia, itu
menjadi tanda bahwa Tuhan Yang Maha Melihat telah menggerakkan hati
orang lain itu untuk mengasihi orang itu. Jika orang yang datang ke
rumahmu merasa kerasan, maka itu tanda bahwa rumahmu penuh berkah.
Maka hilangkan kejengkelanmu itu. Sambutlah tamu yang datang dengan
hangat.
Dèn agung (perbanyaklah) sukuring (rasa syukur) Suksma (kepada
Tuhan), muga (semoga) ta lêstaria (lestarilah), sihing (kasih sayang)
Hyang (Tuhan) turun-tumurun (turun-temurun), tumêkèng (sampai pada)
dina (hari) kiyamat (kiamat). Perbanyaklah rasa syukur kepada Tuhan,
semoga lestarilah, kasih sayang Tuhan turun temurun, sampai pada hari
kiamat.
Maka perbanyaklah rasa syukurmu kepada Tuhan. Semoga lestari,
langgeng, sempulur, lumintu, tumruntun kasih sayang Tuhan kepadamu
dan anak keturunanmu sampai pada hari kiamat. Menjadi tangan Tuhan
yang terjulur sebagai penyampai kasih bukanlah sebuah kerepotan, tetapi
tanda bahwa derajatmu ditinggikan.
Mufangati (memberi manfaat) lair (lahir) batin (batin), wong (orang)
sinihan (dikasihi) samèng (sesama) titah (makhluk), tumruntun (bertubi-
tubi) prapta (sampai) drajate (derajatnya), sasêdyane (sekehendaknya)
pan (akan) tinêkan (tercapai), mangkana (demikian) adatira
(kebiasaannya). Memberi manfaat lahir dan batin, orang yang dikasihi
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 73

oleh sesama makhluk, berurutan sampai kepada derajatnya,


sekehendaknya akan tercapai, demikian kebiasaannya.
Apa yang terjadi padamu akan memberi manfaat lahir dan batin. Orang
yang dikasihi olehsesama makhluk, akan mendapat kebaikan secara
berurutan sampai kehendaknya tercapai. Itulah yang menjadi hukum alam.
Adat di sini artinya kebiasaan yang sering terjadi dalam kehidupan. Bahasa
lain dari hukum alam.
Manungsa (manusia) kang (yang) arsa (menghendaki) luhung
(keluhuran), sumingkir (menghindar) marang (dari) kanisthan
(kenistaan). Manusia yang menghendaki keluhuran, akan menghindar dari
kenistaan.
Manusia yang menghendaki keluhuran derajatnya, pasti akan menghindari
perbuatan nista. Ingatlah bahwa keluhuran budi itu diturunkan antar
generasi, melalui pengajaran, teladan dan watak yang tertanam dalam
sanubari. Upayakan kebaikan diri, agar kelak anak keturunanmu mendapat
kebaikan juga. Kacang ora ninggal lanjaran.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 74

PUPUH KETIGA

KINANTHI
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 75

Kajian Tematik Serat Wulang Wanita 6: Nganthia


Wulanging Ratu
Pupuh 3, Pada 1-11, Kinanthi (metrum: 8u, 8i, 8e, 8a, 8i, 8a, 8i), Serat
Wulang Wanita:
Nganthia wulanging ratu, kang wus mashur nguni-uni, budwèslam
samya têtilar. Nalar kang amrih nulari, mring budi dadine jêmbar,
brêkahi mring anak rabi.

Pirabara lamun sarju, liyaning ahli kapengin, miturut wiyata arja.


Ujêr iku mufangati, mring badan lan ahlinira, rêsêp antuk kojah
bêcik.

Cobanên kalamun ngrungu, ujaring kang dadi wiji, wijining


utamèng karsa, yêkti têntrêm tyas kang gingsir. Lan sire dhewe
sulaya, janma lèn yêkti tan sudi,

darbe mitra kang kadyèku. Tan wande andarawasi, nulari sakèhing


nalar, milar milalu mêdèni, wis aja sinruwe padha, wong ingkang
pangawak dhêmit.

Dhêmên wadul lir wong nglindur, dora ragane mrih bêcik,


cilakaning lyan sinêdya, kadya setan nunggang ilir. Sabên nglilir
angupaya, luputing tôngga pinikir.

Kêri gatêl lambenipun, kalamun nora ngrasani, mring kônca mitra


kêkadang. Iku têtela yèn dadi, awak uwong ati setan, tan kêna dipun
tambani.

Pantês ngalap opah iku, sabên sasi sing pulisi, cukup digo tuku
madat, lan pacitan sawatawis. Yèn wus sêgêr nuli lunga, golèk
warta mrih bilai-

ning wong kang nora tartamtu, mung tamtu antuk pawarti. Tinata
dènira dora, supadya kandêling wingking, wuwuh blônja wuwuh
madat, awak kuru gêlis mati.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 76

Patine akèh kang sukur,saksat kelangan kalilip, nora gêdhe nanging


lara, marang mata brêbês mili. Mulane para sujanma, aja kadi
dhuwur iki.

Pikirên utamanipun, solah muna lawan muni, ron roda kinarya


ajang (takir), gong alit munggêl irami (ganjur), pikirên dhingin
supaya, tan kabanjur tindak nisthip.

Buring carma aranipun (èlês), ibu Sang Duryudanaji (Gêndari),


lêstarining barang karsa, angèl lamun tan ngawruhi, sasmitaning
môngsakala, lalu luluh tan pakolih.

Kajian per kata:

Nganthia (bawalah) wulanging (nasihat) ratu (raja), kang (yang) wus


(sudah) mashur (msyhur) nguni-uni (sejak dulu), budwèslam (budi Islam)
samya (yang) têtilar (ditinggalkan untuk kita). Bawalah nasihat raja, yang
sudah masyhur sejak dulu, budi Islam yang ditingalkan untuk kita.
Kata nganthia artinya bawalah, maksudnya pakailah dalam kehidupan
sehari-hari. Kata nganthia dipilih karena pupuh ini memakai tembang
Kinanthi. Nasihat dari para raja-raja yang sudah masyhur di tanah Jawa,
termasuk dari dinasti Mataram, sudah banyak yang dicatat dalam berbagai
serat, antara lain Wulang Reh, Cipta Waskitha, karya PB IV. Wedatama,
Darmawasita, Salokatama, karya MN IV, dan banyak lagi. Juga termasuk
serat Wulang Wanita ini. Semua nasihat yang telah ditinggalkan untuk kita
itu diajarkan berlandaskan budi Islam. Budi di sini artinya, cara berpikir,
cara bersikap dan cara bertindak. Sifat dari budi Islam tadi adalah
memakai nalar yang benar dan hati yang tulus serta tingkah laku yang
utama.
Nalar (nalar) kang (yang) amrih (agar) nulari (menulari), mring (pada)
budi (budi) dadine (sehingga) jêmbar (luas), brêkahi (memberi berkah)
mring (kepada) anak (anak) rabi (istri). Nalar yang menulari, pada budi
sehingga menjadi luas, memberi berkah kepada anak istri.
Nalar yang benar berlandaskan pada akal pikiran. Bukan berdasar klenik
dan kepercayaan buta. Nalar yang benar akan menular pada budi pekerti
yang baik, yang melahirkan tindakan yang penuh berkah kepada anak istri.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 77

Pirabara (lebih baik) lamun (kalau) sarju (setuju), liyaning (lainnya) ahli
(ahli waris, anggota keluarga) kapengin (ingin), miturut (menurut) wiyata
(pelajaran) arja (baik). Lebih baik kalau setuju, lainnya dari anggota
keluarga yang ingin, menurut pelajaran baik.
Lebih baik lagi, bila anggota keluarga lain setuju, mereka pun bisa
menuruti pelajaran baik ini. Sehingga nasihat-nasihat tadi tidak saja
bermanfaat untuk anak istri, juga kepada orang sekitar, anggota keluarga
besar dan masyarakat luas.
Ujêr (karena) iku (itu) mufangati (memberi manfaat), mring (kepada)
badan (diri) lan (dan) ahlinira (anggota keluargamu), rêsêp
(menyenangkan) antuk (mendapat) kojah (perkataan) bêcik (baik).
Karena itu memberi manfaat, kepada diri dan anggota keluarga,
menyenangkan dan mendapat perkataan baik.
Karena semua nasihat tadi memberi manfaat, kepada diri sendiri dan
keluarga. Jika diamalkan akan menyenangkan orang sekitar dan mendapat
perkataan baik. Resep artinya sedang dipandang. Orang yang memakai
nasihat tadi akan membuat yang melihat merasa senang. Selanjutnya akan
mendapat perkataan baik, atau pujian dari orang yang melihat. Tentu ini
bukan tujuan utama dari mengamalkan nasihat, namun jika orang sekitar
merasa senang dan memuji, itu pertanda bahwa kebaikan ini akan menular
ke lingkungan juga. Mereka pasti, walau sedikit, akan tertarik untuk ikut
mengamalkan.
Cobanên (cobalah) kalamun (kalau) ngrungu (mendengarkan), ujaring
(perkataan) kang (yang) dadi (menjadi) wiji (benih), wijining (benih dari)
utamèng (keutamaan dalam) karsa (kehendak), yêkti (sungguh) têntrêm
(tenteram) tyas (hati) kang (yang) gingsir (menyingkir). Cobalah kalau
mendengarkan, perkataan yang menjadi benih, benih dari keutamaan
dalam kehendak. Sungguh tenteram hati yang menyingkir.
Cobalah kalau mendengarkan, perkataan yang menjadi benih keutamaan,
yakni perkataan yang baik. Pasti hati akan tenteram. Perkataan baik adalah
biji dari keutamaan. Artinya kalau seseorang bisa berkata-kata yang baik,
perbuatan baik pun lebih mudah dilakukan. Sungguh akan tenteram pula
hati yang menyingkir dari kenistaan. Kata gingsir (menyingkir)
dimaksudkan sebagai menyingkir dari kenistaan, sebagaimana disebut
dalam bait ke-10.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 78

Lan (dan) sire (kehendak) dhewe (sendiri) sulaya (berselisih), janma


(manusia) lèn (lain) yêkti (sungguh) tan (tak) sudi (mau), darbe
(mempunyai) mitra (teman) kang (yang) kadyèku (seperti itu). Dan orang
yang sekehendak sendiri untuk berselisih, manusia lain sungguh tak mau,
mempunyai teman seperti itu.
Lain lagi, dengan orang yang menghendaki perselisihan. Pasti orang lain
takkan senang. Entah itu teman atau tetangga atau bahkan sekedar yang
melihat, pasti merasa tidak senang. Selanjutnya akan menghindar, antipati
dan memusuhi.
Tan (tak) wande (urung) andarawasi (membahayakan), nulari (menulari)
sakèhing (semua) nalar (pikiran), milar (melesat) milalu (sangat, lebih)
mêdèni (menakutkan). Tak urung membahayakan, menulari semua nalar,
melesar jauh menakutkan.
Karena orang yang demikian memang membahayakan bagi lingkungan
pergaulan. Orang yang sudah niat untuk selisih akan waton sulaya, asal
beda. Kalau melihat kebaikan orang tidak akan memuji atau meniru, malah
mencari kelemahannya. Wataknya yang asal beda tadi akan membawa
serta watak buruk lanjutan, menjadikan hatinya sarang keburukan.
Wis (sudah) aja (jangan) sinruwe (disapa) padha (sama), wong (orang)
ingkang (yang) pangawak (berbadan) dhêmit (dedemit). Sudah janganlah
disapa oleh sesama, orang yang berwatak dedemit.
Sinaruwe, sinruwe artinya disapa atau diingatkan kalau salah. Namun
terhadap orang yang sudah demikian jahatnya, diberi peringatan atau tidak
pun sama saja. Maka lebih baik dibiarkan saja orang yang berwatak
dedemit itu.
Dhêmên (suka) wadul (mengadu) lir (seperti) wong (orang) nglindur
(mengigau), dora (bohong) ragane (dirinya) mrih (agar) bêcik (terlihat
baik), cilakaning (celaka bagi) lyan (orang lain) sinêdya (yang
diharapkan), kadya (seperti) setan (syetan) nunggang (naik) ilir (kipas).
Suka mengadu-adu seperti orang mengigau, bohong dirinya agar terlihat
baik, celaka bagi orang lain yang diharapkan, seperti syetan naik kipas.
Orang tersebut akan suka sekali mengadu-adu orang lain, laksana orang
mengigau. Artinya perkataannya tidak berlandaskan nalar tadi. Mereka
tega berbohong demi mengangkat citra dirinya sendiri agar terlihat baik.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 79

Juga tega merekayasa agar orang lain celaka. Perbuatannya seperti


perbuatan syetan.
Sabên (setiap) nglilir (bangun) angupaya (mencari-cari), luputing
(kesalahan) tôngga (tetangga) pinikir (yang dipikirkan). Setiap bangun
tidur mencari-cari, kesalahan tetangga yang dipikirkan.
Setiap bangun tidur langsung mencari-cari kesalahan tetangga. Pikirannya
langsung tertuju kepada kelemahan orang lain.
Kêri (geli) gatêl (gatal) lambenipun (bibirnya), kalamun (kalau) nora
(tidak) ngrasani (menggunjing), mring (kepada) kônca (teman) mitra
(kawan) kêkadang (sepersaudaraan). Geli dan gatal bibirnya, kalau tidak
menggunjing, kepada teman kawan sepersaudaraan.
Geli dan gatal bibirnya kalau tidak menggunjing teman, tetangga, kawan,
kenalan, saudara bahkan orang lewat di jalan pun digunjing.
Iku (itu) têtela (jelas, nyata) yèn (kalau) dadi (menjadi), awak (tubuh)
uwong (manusia) ati (hati) setan (syetan), tan (tak) kêna (bisa) dipun (di)
tambani (sembuhkan). Itu nyata-nyata kalau menjadi-jadi keburukannya,
seperti tubuh manusia berhati syetan, tak bisa disembuhkan.
Sudah jelas nyata keburukannya. Ibaratnya, bertubuh manusia berhati
syetan. Penyakit hati yang demikian sudah tak mungkin disembuhkan.
Pantês (pantas) ngalap (meminta) opah (upah) iku (itu), sabên (setiap)
sasi (bulan) sing (dari) pulisi (polisi), cukup (cukup) digo (dipakai) tuku
(membeli) madat (ganja), lan (dan) pacitan (makanan ringan) sawatawis
(seberapa). Pantas meminta upah, setiap bulan dari polisi, cukup dipakai
untuk madat dan membeli makanan beberapa ringan.
Pantas saja kalau perbuatannya juga bukan perbuatan utama. meminta
upah dari polisi penjaga setiap bulan, untuk madat dan membeli makanan
ringan. Lalu mabuk ganja sampai teler.
Yèn (kalau) wus (sudah) sêgêr (segar) nuli (segera) lunga (pergi), golèk
(mencari) warta (berita) mrih (agar) bilai (celaka)-ning (bagi) wong
(orang) kang (yang) nora (tidak) tartamtu (tentu). Mung (hanya) tamtu
(pasti) antuk (mendapat) pawarti (berita). Kalau sudah segar segera pergi,
mencari berita agar celaka bagi orang yang tidak tentu. Hanya pasti
mendapat berita.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 80

Kalau sudah tercapai keinginannya, sudah segar tubuhnya dari ketagihan,


segera mencari berita agar dapat mencelakai orang lain. Mencari korban
dari orang yang tidak pasti, pokoknya mendapat keuntungan bagi dirinya.
Tinata (ditata) dènira (dalam dia) dora (berbohong), supadya (supaya)
kandêling (tebal di) wingking (belakang), wuwuh (bertambah) blônja
(belanja) wuwuh (bertambah) madat (madat). Awak (badan) kuru (kurus)
gêlis (cepat) mati (mati). Ditata dalam berbohong, supaya tebal di
belakang, bertambah belanja untuk madat. Badan menjadi kurus cepat
mati.
Ditata dalam berbohong, agar tebal dompetnya. Kandel ing wingkin
maksudnya biar persediaan untuk keperluannya tercukupi. Bertambah
persediaan untuk belanja, untuk makan dan madat. Tak aneh kalau badan
menjadi kurus dan cepat mati.
Patine (matinya) akèh (banyak) kang (yang) sukur (mensyukuri), saksat
(ibarat) kelangan (kehilangan) kalilip (kelilip), nora (tidak) gêdhe (besar)
nanging (tetapi) lara (sakit), marang (pada) mata (mata) brêbês (air mata
keluar) mili (mengalir). Matinya banyak yang mengucap syukur, ibarat
kehilangan kelilip. Kelilip tidak besar tapi sakit pada mata air mata keluar
mengalir.
Kalaupun mati banyak orang yang mensyukuri. Orang itu ibarat telah
menjadi kelilip bagi masyarakatnya. Bukan orang jahat sekali, tetapi
sungguh membuat kehidupan dalam masyarakat tidak nyaman. Ibarat
orang yang kena debu matanya, walau hanya kecil dan sepele tak urung
membuat mata mengalirkan air mata. Itulah perumpamaan orang yang
suka membuat onar dalam masyarakat.
Mulane (makanya) para (para) sujanma (manusia utama, orang baik), aja
(jangan) kadi (seperti) dhuwur ( di atas) iki (ini). Makanya para manusia,
jangan seperti perilaku di atas.
Makanya para manusia utama, para orang-orang baik, mereka yang
menghendaki kebaikan untuk dirinya, jangan sampai berperilaku seperti
orang di atas.
Pikirên (pikirkan) utamanipun (utamanya), solah (perilaku) muna lawan
muni (cara bebicara), ron (daun) roda (roda) kinarya (sipakai) ajang (alas
makan), (takir), gong (gong) alit (kecil) munggêl (memutus) irami
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 81

(irama), (ganjur), pikirên (pikirkan) dhingin (dahulu) supaya (supaya),


tan (tidak) kabanjur (telanjur) tindak (berbuat) nisthip (salah). Pikirkan
keutamannya, perilaku dan cara bicara. Pikirkan dahulu supaya tidak
telanjur berbuat salah.
Di bait ini ada dua wangsalan. Ron roda kinarya ajang, daun roda dipakai
alas makan, yakni takir, diambil pikir. Gong alit munggel irama, ganjur,
diambil telanjur. Pikirkan keutamaan perilaku dan cara bebicara, dalam
kehidupan sehari-hari. Pikirkan dahulu sebelum telanjur berbuat salah.
Kalau sudah telanjur akan sangat sulit memperbaikinya. Kepercayaan
orang bisa hilang sehingga membuat mereka selalu curiga. Maka jagalah
jangan sampai tejerumus kepada perbuatan yang tidak baik.
Buring (terbangnya) carma (lulang, kulit) aranipun (namanya), (èlês), ibu
(ibu) Sang (sang) Duryudanaji (Raja Duryudana), (Gêndari), lêstarining
(lestarinya) barang (semua) karsa (kehendak), angèl (sulit) lamun (kalau)
tan (tak) ngawruhi (mengetahui), sasmitaning (isyarat) môngsakala
(waktu), lalu (lupa) luluh (luluh, hancur) tan (tanpa) pakolih (hasil).
Lestarinya semua kehendak, sulit kalau tidak mengetahui isyarat
datangnya waktu, lupa, luluh tanpa hasil.
Di bait ini juga ada dua wangsalan, tetapi mengulang kata yang sama.
Buring carma aranipun, eles, diambil lestari. Ibu sang Duryudanaji,
Gendari, diambil lestari. Maknanya; lestarinya semua kehendak akan sulit
jika tidak mengetahui datangnya waktu yang tepat (mangsakala). Segala
sesuatu pasti ada moment untuknya. Jika kita mengenali moment yang
tepat itu, maka kehendak kita akan berhasi dengan mudah. Namun jika
moment-nya tidak tepat maka bisa jadi jerih payah kita berlalu tanpa hasil.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 82

Kajian Tematik Serat Wulang Wanita 7 : Pilihen Kang


Utama
Pupuh 3, Pada 12-16, Kinanthi (metrum: 8u, 8i, 8e, 8a, 8i, 8a, 8i), Serat
Wulang Wanita:
Pilihên wong urip iku, utama kalawan nisthip, bêgja kalawan cilaka,
andhap luhur iku sami, wus ginêlar anèng wulang, ywa lalu gone
nglaluri .

Jaman katon jroning turu (ngimpi), marga we kang munggèng tritis


(talang), dèn kaèpi sakèh wulang, tinimbang mrih babar budi,
budiman baboning gêsang, sarana parêk mring Gusti.

Gusti iku kèh liripun, gusti lair gusti batin, laire sri naranata, ing
batin kang maha suci. Karone kudu sinêmbah, mrih utamèng dunya
ngakir.

Mapan pae patrapipun, sêmbah lair sêmbah batin, laire sarana


tangan, batine dumunwèng ati , tinata dipun têtela, laraping don
pinrih titi.

Tartip têtêp titis têguh, ginodha gunging pangèksi, tan rinungu tan
rinasa, mung ngrasa nikmating ati. Ati runtut wus tinata, tataning
tindak utami.

Kajian per kata:

Pilihên (pilihlah) wong (orang) urip (hidup) iku (itu), utama (utama)
kalawan (dan) nisthip (nista, salah), bêgja (untung) kalawan (dan) cilaka
(celaka), andhap (rendah) luhur (mulia) iku (itu) sami (sama). Wus
(sudah) ginêlar (dipaparkan) anèng (dalam) wulang (nasihat), ywa
(jangan) lalu (lupa) gone (dalam) nglaluri (melestarikan). Pilihlah orang
hidup itu, utama dan nista, untung dan celaka, rendah dan tinggi, itu
sama. Sudah dipaparkan dalam nasihat-nasihat, jangan lupa dalam
melestarikan.
Dalam hidup ini pilih-pilihlah, jangan asal semua diikuti, jangan asal
semua dikerjakan, jangan ikut-ikutan orang lain. Pilihlah antara utama dan
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 83

hina, untung dan celaka, perbuatan rendah dan perbuatan mulia. Tiga hal
itu semua sama. Apa maknanya?
Makna sama di sini adalah sudah sama-sama dipaparkan dalam nasihat-
nasihat para leluhur. Jangan lupa dalam melestarikannya. Ada baiknya kita
jelaskan secara singkat ketiga hal teresebut:
Perbuatan utama adalah perbuatan yang dilakukan dengan cara yang baik,
tidak melanggar hukum positif dan hukum moral. Perbuatan utama lebih
dari sekedar perbuatan baik, tetapi lebih baik dari yang baik. Sebaliknya
yang disebut perbuatan nisthip adalah perbuatan yang dilakukan dengan
merugikan orang lain atau diri sendiri. Maka pilihlah yang utama.
Yang disebut begja adalah perbuatan yang akan membawa keberuntungan
di akhirat nanti. Perbuatan cilaka adalah perbuatan yang membuat celaka
pada kehidupan yang akan datang. Maka pilihlah perbuatan begja
(beruntung).
Perbuatan andhap adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang tak
berbudi. Sebaliknya, perbuatan luhur adalah perbuatan yang dilakukan
orang-orang mulia. Bedanya, antara keduanya terdapat pertimbangan
keutamaan atau tidak. Contohnya, orang tak berbudi mencari rejeki asal-
asalan, dengan cara curang atau jahat pun dilakukan, semisal mencuri atau
korupsi. Lain halnya dengan orang mulia, dalam mencari rezeki sangat
mempertimbangkan banyak aspek, apakah pantas, apakah merugikan
orang lain, apakah halal, apakah mulia atau hina. Jadi pertimbangannya
bukan sekedar untung rugi, halal atau haram saja, tetapi juga cara-caranya
pantas. Maka pilihlah perbuatan yang luhur.
Jaman (zaman) katon (terlihat) jroning (dalam) turu (tidur), (ngimpi),
marga (jalan) we (air) kang (yang) munggèng (bagi) tritis (teritisan),
(talang), dèn (di) kaèpi (mimpi) sakèh (semua) wulang (nasihat),
tinimbang (ditimbang) mrih (agar) babar (memunculkan) budi (budi),
budiman (orang baik) baboning (induk dari) gêsang (hidup), sarana
(sarana) parêk (mendekat) mring (kepada) Gusti (sesembahan). Diimpikan
semua nasihat, ditimbang agar memunculkan budi, budi yang pintar
adalah induk dari kehidupan, sarana untuk mendekat kepada sesembahan.

Dalam bait ini ada dua wangsalan. Pertama, jaman katon jroning turu,
artinya mimpi diambil kata kaepi artinya diimpikan. Kedua, marga we
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 84

kang munggeng tritis, artinya talang, diambil lang menjadi wulang.


Maknanya segala ajaran (piwulang) dipikirkan bahkan dalam tidur.

Segala nasihat hendaknya diimpikan, selalu dipikirkan bahkan dalam tidur.


ditimbang-timbang agar memunculkan akal budi. Arti mbabar adalah
memunculkan potensinya, dalam hal manusia yakni akal budinya.
Budiman artinya budi yang telah terasah, cerdas, mampu berpikir. Itulah
induk dari kehidupan. Sarana untuk mendekat kepada sesembahan (gusti).
Gusti (sesembahan) iku (itu) kèh (banyak) liripun (artinya), gusti
(sesembahan) lair (lahir) gusti (sesembahan) batin (batin). Laire (yang
lahir) sri naranata (sang raja), ing (di) batin (batin) kang (Yang) maha
(Maha) suci (Suci). Karone (keduanya) kudu (harus) sinêmbah
(disembah), mrih (agar) utamèng (utama di) dunya (dunia) ngakir (akhir).
Sesembahan itu banyak artinya, sesembahan lahir dan barin. Yang lahir
adalah sang rajam yang di batin adalah Yang Maha Suci. Keduanya
harus disembah agar utama di dunia dan akhirat.

Yang dimaksud sesembahan itu banyak maknanya. Sesembahan lahir dan


sesembahan batin. Sesembahan lahir adalah raja, kepadanya kita
menyembah yang artinya menghormat dengan sangat, menunjukkan bakti
dan kepatuhan. Ajaran ini berkaitan dengan konsep masa itu yang
menempatkan raja sebagai khalifatullah atau wakil Allah di bumi. Semua
raja-raja di Mataram dan sempalannya memakai gelar khalifatullah
sehingga kepadanya dihaturkan penghormatan yang lebih. Sedangkan
sesembahan batin adalah Tuhan, muara segala sembah termasuk sembah
yang lahir tadi. Kedua sesembahan tadi harus disembah agar hidup ini
mencapai keutamaan di dunia dan akhirat.
Catatan:

Ini adalah konsep khalifatullah yang berlaku pada masa itu. Raja adalah
wakil dari Hyang Agung, Tuhan Yang Maha Besar, maka kepadanya juga
dihaturkan sembah. Tentu sembah di sini bukan berarti ibadah, melainkan
sebentuk penghormatan yang besar. Ujud atau tatacara lahiriah dari
sembah kepada raja ini adalah menyatukan kedua tangan di depan muka
dan gestur tubuh sedikit membungkuk.
Sembah kepada Tuhan adalah disebut ibadah, arti ibadah adalah
penghambaan, yakni menegaskan kehambaan kita kepadanya. Ujud dari
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 85

ibadah ini adalah sembahyang atau shalat. Jadi sembah yang dihaturkan
kepada raja adalah dalam kapasitas sebagai wakil Tuhan. Sekarang ada
pertanyaan apakah para raja-raja itu adalah manusia-manusia luhur yang
layak mendapat perlakuan seperti itu? Itu soal lain. Yang jelas pendiri
kerajaan Mataram mempunyai cita-cita bahwa para raja adalah wakil
Tuhan yang menjalankan pemerintahan sesuai syar’at Islam. Jadi raja
adalah pemerintah sekaligus pengadil dan pembuat hukum. Yang tidak
kalah penting, serat ini ditulis hampir seratus tahun yang lalu. Ketika itu
sistem yang berlaku di manapun adalah sistem kerajaan. Kecuali di
beberapa negara yang menerapkan sistem republik seperti yang kita pakai
sekarang.
Mapan (memang) pae (beda) patrapipun (patrapipun), sêmbah (sembah)
lair (lahir) sêmbah (sembah) batin (batin). Laire (lahirnya) sarana
(memakai) tangan (tangan), batine (batinnya) dumunwèng (ada di) ati
(hati), tinata (ditata) dipun (di) têtela (jelas sekali), laraping
(penjelasannya) don (tempat) pinrih (agar) titi (teliti). Memang beda
penerapannya, sembah lahir dan sembah batin. Lahirya memakai tangan,
batinnya memakai hati. Ditata agar jelas sekali, penjelasannya di tempat
agar teliti.

Kedua sembah tadi, penerapannya berbeda. Sembah lahir dan sembah


batin. Yang untuk raja adalah sembah lahir, dengan tatacara yang sebut di
atas yakni dengan tangan. Adapun sembah kepada Tuhan adalah dengan
hati, meski dalam shalat kita juga memakai anggota badan. Namun yang
utama adalah sembah dalam hati. Keduanya mesti ditata agar jelas sekali
(tetela). Agar jelas teliti maknanya, maka dicari kejelasannya pada
tempatnya masing-masing. Uraian tentang sembah kepada Tuhan ini dapat
dibaca lebih lanjut pada Kajian Serat Wedatama, yang juga sudah dikaji di
situs ini. Selanjutnya, setelah kita melakukan kedua sembah, lahir dan
batin, maka akan tercipta keadaan yang tenang, seperti diuraikan dalam
bait berikut ini.
Tartip (tertib) têtêp (tetap) titis (tepat) têguh (kuat), ginodha (digoda)
gunging (segala) pangèksi (yang terlihat), tan (tak) rinungu (didengar)
tan (tak) rinasa (dirasa), mung (hanya) ngrasa (merasakan) nikmating
(nikmat dalam) ati (hati). Tertib tetap tepat dan kuat, digoda segala yang
terlihat, tak didengar tak dirasa, hanya merasakan nikmat dalam hati.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 86

Bagi orang yang sudah mampu melaksanakan uraian di atas, yang ditemui
adalah harmoni dalam hidupnya. Tertib, urut dan runtut hidupnya. Tidak
melenceng, tidak naik turun, tidak belok kiri-kanan. Tetep artinya tidak
berubah-ubah, baik kepribadian, pendirian dan tujuan hidupnya. Titis
artinya mampu bersikap dan betindak tepat, karena sudah tertib hidupnya
dan sudah tetap keyakinannya. Teguh artinya kuat menahan godaan. Dari
segala godaan yang terlihat, tak didengar dan dirasa. Yang dirasakan
hanya nikmat dalam menjalani kehidupan. Semua karena hidupnya sudah
jelas, tidak ada keraguan lagi. Tujuannya jelas, cara menjalaninya juga
jelas dan keberhasilannya kelak juga jelas. Jadi mau galau apa lagi?
Ati (hati) runtut (runtut) wus (sudah) tinata (ditata), tataning (ditata
dalam) tindak (perbuatan) utami (utama). Hati yang runtut ditata, ditata
dalam perbuatan utama.

Semua itu akan bermuara pada ketenangan hati. Hati yang sudah ditata,
runtut, tertib, tenang, akan melahirkan perbuatan yang utama.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 87

Kajian Tematik Serat Wulang Wanita 8 : Awas


Sasmitaning Dunung
Pupuh 3, Pada 17-20, Kinanthi (metrum: 8u, 8i, 8e, 8a, 8i, 8a, 8i), Serat
Wulang Wanita:
Rinambah liring pitutur, marang samoaning èstri, dèn alus
jatmikèng tingkah, lire sabdanira manis, supadya dadya nang-
onang, sêngsêming driya mimbuhi.

dèn awas sasmitèng dunung, dununge karsaning laki, dhuh babo


babo wanodya, yèn tan wruh karsaning laki,rudah ing cipta tur
dadya, kuwur ngawur kowar-kawir.

kawêran ing gênging napsu, kêsusu tan antuk kasil, kêsliyo tyas
têmah ngrêdha, kêna karêncanèng eblis, lah ta mulane wanita, dèn
samya amêrak ati.

titikane duk ing dangu, wanita ingkang utami, tuladan ing kuna-
kuna, caritaning umat singgih supadya antuk utama, utamèng
sagung dumadi.

Kajian per kata:

Rinambah (diulang-ulang) liring (makna dari) pitutur (nasihat), marang


(kepada) samoaning (semua para) èstri (wanita, istri), dèn alus (haluskan)
jatmikèng (lemah lembut dalam) tingkah (dalam perilaku). Diulang-ulang
nasihat, kepada para istri, yang halus dan lemah lembut dalam perilaku.
Diulang-ulang agar paham, nasihat kepada para istri ini. Hendaklah
berperilaku yang halus dan lemah lembut. Alus jatmika, menggambarkan
perilaku lahiriah atau gerakan tubuh. Para wanita jangan bersikap norak
dan ugal-ugalan, bertingkahlah yang halus dan lemah lembut.
Lire (maknanya) sabdanira (perkataanmu) manis (manis), supadya
(supaya) dadya (menjadi) nang-onang (mempesona), sêngsêming (rasa
suka) driya (dalam hati) mimbuhi (bertambah). Maknanya perkataanmu
yang manis, supaya menjadi pesona, agar rasa suka dalam hati
bertambah-tambah.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 88

Yang dituju dengan sikap lemah lembut ini tentu para suami. Kalau para
istri bersikap halus lemah lembaut dan bicaranya manis, diharapkan suami
akan terpesona sehingga rasa suka dalam hatinya bertambah-tambah. Bait
berikutnya menguatkan pengertian ini.
Dèn (yang, harap) awas (awas, teliti) sasmitèng (isyarat dalam) dunung
(letak), dununge (letaknya) karsaning (kehendak) laki (suami). Yang
teliti dalam mengawasi isyarat dalam letak, letak dari kehendak suami.

Awas dan tanggap terhadap isyarat. Para istri harus awas terhadap gelagat
dan kebiasaan suami. Jika suami sudah gelisah di malam hari, mungkin itu
tanda ingin dipijit. Jika batuk-batuk di pagi hari, itu mungkin ingin minum
kopi panas. Kebiasaan yang demikian harus dihapalkan dan dikenali oleh
para istri dengan seksama.
Dhuh (duh) babo babo (aduh) wanodya (para wanita), yèn (kalau) tan
(tak) wruh (mengetahui) karsaning (kehendak) laki (suami), rudah
(susah) ing (dalam) cipta (pikiran) tur (dan lagi) dadya (menjadi), kuwur
(kabur) ngawur (ngawur) kowar-kawir (tak jelas). Duh, aduh, para
wanita, kalau tidak mengetahui kehendak suami, susah dalam pikirandan
lagi menjadi, kabur, ngawur dan tak jelas.
Duh para wanita, kalau sampai tidak mengetahu apa yang menjadi
kehendak suami, akan susah dalam pikiran. Tak mengerti apa maunya,
bisanya menduga-duga saja. Serba salah tafsir, dan salah dalam melayani.
Dimasakkan jangan terong suami kelihatan lahap makannya. Dikiranya
suka, padahal dilahap biar cepat habis dan diganti sayur yang lain. Esok
harinya, dimasakkan jangan terong lagi. Kalau hanya satu kali dua kali
mungkin suami masih sabar. Coba kalau seminggu berturut-turut, panci
bisa peyok, piring bisa berkeping-keping. Karena itu kenali gelagatnya,
apakah suami suka jangan terong atau tidak.
Kawêran (terbebani) ing (oleh) gênging (besarnya) napsu (nafsu), kêsusu
(tergesa-gesa) tan (tak) antuk (mendapat) kasil (hasil). Akibatnya
perbuatanmu terbebani oleh besarnya nafsu, tegesa-gesa tak mendapat
hasil.
Karena serba tidak tahu apa yang dikehendaki suami, apa yang menjadi
kesenangan suami, akhirnya hanya menuruti pikirannya sendiri. berbuat
memakai pertimbangan sendiri. Kadang karena terburu nafsu melayani
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 89

suami membuat perilakunya tak terkontrol. Tergesa-gesa dalam bertindak,


akibatnya tak mendapatkan hasil apapun. Suami tak bertambah sayang,
malah semakin jengkel.
Apakah seorang suami akan menjawab jika ditanya, “Ingin makan apa
pa?” Tentu tidak. Namun kadang seorang istri memaksakan bertanya
karena tegesa-gesa ingin segera melayani kesukaan suami. Dia tidak sabar
mempelajari kebiasaan dan kesukaan suami. Akibatnya yang ditanya
malah jengkel dan tidak menjawab. Mengapa? Karena pada dasarnya para
suami enggan mengurusi hal-hal yang detail seperti itu. Dan pertanyaan itu
terkesan reseh dan bawel. Mbok iya inisiatif membuat masakan yang enak.
Toh nanti kalau dihidangkan dengan senyum manis dan tutur kata yang
lembut masakan seasin air laut pun akan dihabiskan oleh suami. Ngono
wae kok ndadak ribut!
Kêsliyo (keseleo) tyas (hati) têmah (hingga) ngrêdha (muncul), kêna
(terkena) karêncanèng (godaan oleh) eblis (iblis). Keseleo hati hingga
muncul, godaan oleh iblis.
Kalau hati sudah tegesa-gesa, perilaku menjadi tidak fokus. Maksud baik
pun bisa menjadi buruk. Seolah hati keseleo, terpeleset, ditangkap oleh
iblis yang menusuk dengan godaannya. Jika demikian yang terjadi
selanjutnya adalah pertengkaran suami istri.
Lah ta (nah) mulane (makanya) wanita (para wanita), dèn (harap) samya
(semua) amêrak (bersikap menarik) ati (hati). Nah makanya para wanita,
harap semua bersikap yang menarik hati.
Sebenarnya melayani suami kuncinya adalah dalam perilaku yang halus,
sikap yang lemah lembut dan tutur kata yang manis. Itulah bumbu
pelayanan kepada suami yang akan membuat suami klepek-klepek
sehingga terkintil-kintil. Kalaupun hanya masalah masakan tak enak, itu
bisa dicoba lagi di lain kali, tapi sikap yang manis akan membuat terkesan
dan sulit dilupakan.
Titikane (ciri-ciri) duk (ketika) ing (di waktu) dangu (lama), wanita
(wanita) ingkang (yang) utami (utama), tuladan (teladan) ing (di) kuna-
kuna (zaman kuna), caritaning (cerita dari) umat (umat) singgih (mulia)
supadya (supaya) antuk (mendapat) utama (keutamaan), utamèng (utama
dalam) sagung (segala) dumadi (kehidupan). Kenali ciri-cirinya di waktu
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 90

yang lama, wanita yang utama, teladan di zaman kuna. Cerita dari umat
mulia supaya mendapat keutamaan, utama dalam segala kehidupan.
Kenalikah ciri-ciri dari waktu yang lama, maksudnya sejak zaman dahulu.
Tentang para wanita utama, teladan di zaman kuna. Perhatikan cerita dari
umat mulia, dari peradaban yang masyhur di masa lalu. Supaya mendapat
keutamaan, utama dalam segala kehidupan. Teladanilah hal-hal baik dari
masa lalu. Kita toh tak dapat menggali kebaikan sendiri secara lengkap.
Meneladani adalah cara termudah dalam mencapai keutamaan.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 91

Kajian Tematik Serat Wulang Wanita 9: Dimen Tulus


Apasihaning Widhi
Pupuh 3, Pada 21-24, Kinanthi (metrum: 8u, 8i, 8e, 8a, 8i, 8a, 8i), Serat
Wulang Wanita:
Dhuh babo babo wong ayu, kang apasihaning Widhi. Dimèn tulus
ayunira, amrih pasihan lêstari, tan pêgat sinung darajat, apan sira
wruh ing wangsit.

Sêsiku kang mrih kalismu, poma-poma dèn kaèsthi, supaya antuk


sihira, ing lakinta awal akir. Dadi awak tanpa ceda, nèng dunya
wimbuh kamuktin.

Gampang wong suwitèng kakung, mung miturut ing sakapti, nastiti


sawuwusira , aywa wani nyênyampahi. Nadyan karyaa lelewa, dèn
bisa manuju kapti.

Kancana kang mungweng bau (gêlang), ayam kang kêkuncung Gusti


(mêrak), gêgulangên sabên dina, mrak ati muna lan muni, tur dadi
sukaning driya, lumunturing sih kawijil.

Kajian per kata:


Dhuh (Duh) babo babo (aduh, aduh, wong(orang) ayu (cantik), kang
(yang) apasihaning (dikasihi oleh) Widhi (Tuhan). Duh, aduh-aduh,
orang yang cantik, yang dikasihi oleh Tuhan.

Ini adalah seruan untuk para wanita semuanya, yang cantik-cantik, yang
sudah bersusah payah tampil dengan pesona mereka. Pujian ini untuk
membesarkan hati para wanita semua, bukan saja yang cantik molek
wajahnya. Namun untuk semuanya, bahwa mereka semua sudah cantik-
cantik dan dikasihi oleh Tuhan.

Dimèn (dagar) tulus (lestari) ayunira (kecantikanmu), amrih (agar)


pasihan (kasih sayang) lêstari (lestari), tan (tak) pêgat (putus) sinung
(mempunyai) darajat (derajat), apan (dan juga) sira (engkau) wruh
(mengetahui) ing (dalam) wangsit (isyarat). Agar lestari kecantikanmu,
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 92

agar kasih sayang dari Tuhan lestari, tak putus mendapat derajat yang
tinggi, dan juga engkau sebaiknya tahu membaca isyarat.
Sêsiku (hukuman) kang (yang) mrih (supaya) kalismu (terhindarmu),
poma-poma (ingat-ingat) dèn (agar) kaèsthi (selalu dipikirkan), supaya
(agar) antuk (mendapat) sihira (kasih sayang bagimu), ing (dari) lakinta
(suamimu) awal (awal) akir (akhir). Hukuman yang supaya engkau
terhindar darinya, ingat-ingatlah agar selalau kaupikirkan, supaya
mendapat kasih sayang, dari suamimu dari awal sampai akhir.
Hukuman-hukuman hendaklah engkau hindarkan. Ingat-ingatlah apa yang
membuat engkau terhindar darinya. Yakni agar suamimu timbul kasih
sayangnya kepadamu, sejak awal sampai akhir berumah tangga.
Hukuman yang dimaksud dalam bait ini adalah hukuman dari Tuhan,
disebabkan karena perbuatan yang tidak baik sebagaimana disinggung
dalam bait-bait pada bahasan sebelumnya.
Dadi (menjadi) awak (diri) tanpa (tanpa) ceda (cela), nèng (di) dunya
(dunai) wimbuh (bertambah) kamuktin (kenikmatannya). Agar menjadi
diri yang tanpa cela, di dunia bertambah kenikmatannya.
Agar engkau menjadi diri yang tanpa cela. Didunia hidup bahagia,
bertambah-tambah kenikmatannya. Dan di akhirat pun selamat karena
bakti kepada suami juga merupakan perintah Tuhan. Dikasihi suami juga
berarti dikasihi Tuhan. Istri yang suaminya lestari kasih sayangnya, juga
akan lestari dikasihi tuhan.
Gampang (mudah) wong (orang) suwitèng (mengabdi pada) kakung
(suami), mung (hanya) miturut (menurut) ing (pada) sakapti
(sekehendak), nastiti (berhati-hati) sawuwusira (apapun perkataanmu),
aywa (jangan) wani (berani) nyênyampahi (mencela). Mudah mengabdi
kepada suami, hanya menurut pada apa sekehendaknya, berhati-hati
apapun perkataanmu, jangan berani mencela kepadanya.
Tidak sulit. Memang mudah mengabdi kepada suami. Hanya melakukan
tiga hal; menurut apapun yang menjadi perintahnya, berhati-hati dalam
segala perkataan dan jangan sekali-kali mencela kepadanya. Yang terakhir
ini harus engkau perhatikan sungguh-sungguh.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 93

Nadyan (walau) karyaa (hanya untuk) lelewa (bermanja-manja), dèn


(yang) bisa (bisa) manuju (menyenangkan) kapti (hati). Walau hanya
untuk bemanja-manja, yang bisa menyenangkan hati.
Walau sedang bercanda, bersenda gurau dan bermanja-manja, jangan
sampai melakukan tiga hal di atas. Hendaknya setiap perilaku dan tutur
kata dilakukan agar menyenangkan hati suamimu.
Kancana (emas) kang (yang) mungweng (dibapakai di bahu) bau
(gêlang), ayam (ayam) kang (yang) kêkuncung (punya kuncung) Gusti
(seperti mahkota raja), (mêrak), gêgulangên (pelajarilah) sabên (setiap)
dina (hari), mrak (menarik) ati (hati) muna lan muni (tutur kata), tur
(dan lagi) dadi (menjadi) sukaning (suka dalam) driya (hati),
lumunturing (turunnya) sih (kasih) kawijil (terungkap). Pelajarilah setiap
hari, menarik hati dan tutur kata, yang menjadi suka hatinya, agar
turunnya kasih sayang terungkap.
Dalam bait ini ada wangsalan. Kancana kang mungweng bau, emas yang
dipakai di bahu, adalah gelang, diambil gegulang. Ayam kang kekuncung
gusti, ayam yang bermahkota raja, merak, diambil mrak. Kancana
mungweng bau, ayam kang kekuncung gusti, artinya; pelajarilah setiap
hari cara menarik hati.
Jika para istri bisa bersikap yang baik dan menarik hati suaminya, maka
para suami menjadi bertambah rasa suka dari dalam hatinya. Turunnya
kasih sayang pun terungkap dalam perilaku sehari-hari kepada istrinya.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 94

PUPUH KEEMPAT

MIJIL
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 95

Kajian Tematik Serat Wulang Wanita 10 : Den Waskitha


Semune Hyang Widhi
Pupuh 4, Pada 1-8, Kinanthi (metrum: 8u, 8i, 8e, 8a, 8i, 8a, 8i), Serat
Wulang Wanita:
Darunanirèng Hyang Maha Suci, nganakkên punang wong, jalu
èstri pan padha pêrlune. Wujud priya lantaraning wiji, èstri kang
madhahi, kumpul dadi wujud.

Yèn wus wujud obah aran urip. Wajibe têtakon, sajarahe ingkang
nganakake. Kang asarèh pitakone titi, patitising wiwit,
pungkasaning mantuk.

Supayantuk marga ingkang sidik, dadi mulih mring gon, gone lawas
tan uwas wus wèntèh. Wus tan was-was wanuhe wus lami, mêmitran
wit eling, winulang mring guru.

Guru iku lantarane yun wrin, wajibing tumuwoh, wohing kamal


(asêm) dununge sang rajèng (kitha), dèn waskitha sêmune Hyang
Widhi, mandhiri sajati, jatine mung iku.

Kang sinêbut pinuja-pinuji, yêkti mung Hyang Manon, nabi wali


oliya myang rajèng. Apan pantês pinuji mring janmi, sabab iku
sami, kêkasih Hyang Agung.

Yèn manungsa liya sri bupati, Ngabdul araning wong, apan jêmak
lan manungsa kabèh. Mung pinurih aywa srik ing galih, lumintu
mrih puji, ing manungsa iku.

Kudu-kudu tinarimèng ati, manawa kapêrgok, nabi Allah kang


mindha druwise. Jabat akèh tuladhane nguni, malekat pi-api, namur
anjêjaluk.

Mung carita dudu zaman mangkin, samêngko tan kanggo, mung


pinirit jumbuhing mangsane. Dadi nora kaelangan lari, nglêluri
utami, mamrih sugih kang wruh.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 96

Kajian per kata:

Darunanirèng (maksud dari) Hyang (Tuhan ) Maha (Yang Maha) Suci


(Suci), nganakkên (mengadakan, menciptakan) punang (bentuk) wong
(manusia), jalu (laki-laki) èstri (perempuan) pan (memang) padha (sama)
pêrlune (pentingnya). Maksud dari Tuhan Yang Maha Suci, menciptakan
bentuk manusia, sebagai lelaki dan perempuan memang sama pentingnya.
Tuhan memang berkehendak menciptakan manusia dalam bentuk laki-laki
dan perempuan. Keduanya sama pentingnya dam saling melengkapi.
Saling membutuhkan. Saling menguatkan. Mengenai masalah ini sudah
banyak dibahas dalam kajian-kajian kita pada kitab-kitab yang lain,
misalnya pada serat Warayagnya dan serat Darmawasita. Silakan
membuka kajian kita pada kedua serat tersebut.
Wujud (wujud) priya (laki-laki) lantaraning (menjadi sebab dari) wiji
(benih manusia), èstri (wanita, istri) kang (yang) madhahi (menjadi
wadah), kumpul (berkumpul) dadi (menjadi) wujud (wujud). Yang
berwujud laki-laki menjadi sebab dari benih manusia, wanita menjadi
wadah, berkumpul menjadi wujud.
Dalam proses penciptaan manusia sebenarnya tidak tepat jika dikatakan
benih berada dalam diri laki-laki. Karena sperma yang dianggap sebagai
benih hanya membawa separuh kromoson manusia, sedangkan separuh
lagi berada dalam diri wanita. Ini berarti keduanya membawa separuh dari
benih itu. Namun, benar bahwa lelaki diberi kuasa seperti penanam benih,
layaknya seorang petani. Dalam Al Qur’an pun disebutkan kalau wanita
ibarat sawah ladang tempat benih ditanam. Fisolofi wanita sebagai wadah
dan lelaki sebagai pengisinya ini dipakai dalam banyak hal. Maka dalam
budaya Jawa ada istilah bapa akasa ibu pertiwi, bapak itu layaknya langit
dan ibu itu seperti bumi. Bapak mencurahkan hujan, ibu menerima dan
memunculkan kesuburan.
Yèn (kalau) wus (sudah) wujud (berwujud) obah (bergerak) aran (disebut)
urip (hidup). Kalau yang berkumpul tadi sudah berwujud dan bergerak
disebut hidup.
Inilah awal kejadian manusia, dari dua elemen yang disatukan dalam
rahim ibu. Kemudian hidup dan bergerak, lahir ke dunia ini sebagai
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 97

manusia. Jika sudah menjadi manusia segera saja memikul tanggung


jawab dan kewajiban. Maka perlu baginya menjalankan kewajiban itu.
Wajibe (kewajibannya) têtakon (bertanya-tanya), sajarahe (sejarahnya)
ingkang (yang) nganakake (menciptakan). Kewajibannya bertanya-tanya,
sejarahnya yang menciptakan.
Setelah berwujud manusia wajib baginya bertanya-tanya, ini artinya wajib
mencari tahu tentang dirinya, wajib mencari pengetahuan. Yakni
pengetahuan tentang sejarahnya, bagaimana awal mula dia dilahirkan
sampai hadir ke dunia ini. Pengetahuan ini wajib sifatnya bagi semua
manusia yang masih berpikir. Tahu-tahu ada di dunia ini kok tidak
tergerak pikirannya untuk mencari tahu dari mana dia datang, pasti yang
demikian itu orang yang bodoh dan tidak peduli dengan kehidupannya.
Kang (yang) asarèh (pelan-pelan) pitakone (bertanyanya dengan) titi
(teliti), patitising (tepat dari) wiwit (awal), pungkasaning (sampai akhir)
mantuk (pulang). Yang pelan-pelan bertanyanya dengan teliti, tepat dari
awal, sampai akhir kelak pulang kembali.
Dalam bertanya tentang awal kejadian, mesti pelan-pelan, artinya mencari
pengetahuan butuh proses yang panjang. Menjadi manusia memang harus
menjadi makluk yang sabar sejak lahir. Ketika lahir manusia belum bisa
melakukan apa-apa, semua tergantung kepada pengasuhnya. Demikian
pula untuk mencapai pengetahuan tentang asal-usul, tentu butuh proses
yang panjang dan melelahkan. Yang tidak sabar akan menyerah dan
membiarkan dirinya tenggelam dalam kebodohan, tanpa mengetahu tujuan
akhir dari kehidupan ini. Yang demikian tidak boleh terjadi. Kita manusia
harus tetap belajar agar tahu kemana tujuan akhir dari kehidupan ini.
Supayantuk (agar mendapat) marga (jalan) ingkang (yang) sidik (benar),
dadi (menjadi) mulih (kembali) mring (kepada) gon (tempat), gone
(tempatnya) lawas (lama) tan (tak) uwas (risau) wus (sudah) wèntèh
(nyata, terbukti). Supaya mendapat jalan yang benar, menjadi sarana
kembali kepada tempat, tempat lama yang tak risau sudah nyata.
Jika kita mau belajar maka akan mendapat pencerahan ke jalan yang
benar. Jalan yang akan menuntun ke tempat yang benar. Tempat kita
dahulu berasal, yakni tempat lama kita, yang kita pernah di sana. Tanpa
ada keraguan lagi, tempat yang sudah nyata-nyata kita ketahui.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 98

Wus (sudah) tan (tak) was-was (was-was) wanuhe (pengenalannya) wus


(sudah) lami (lama), mêmitran (berteman) wit (mulai) eling (ingat),
winulang (diajar) mring (oleh) guru (guru). Sudah tidak ada was-was
dalam mengenali tempat lama itu, dari berteman mulai ingat, seperti yang
diajarkan oleh guru.
Jika kita mengetahui tempat itu dengan yakin, kita takkan merasa was-was
lagi. Kita dapat mengenali tempat yang sudah kita kenal dahulu (wanuh).
Seperti apa yang telah diajarkan oleh para guru.
Guru (guru) iku (itu) lantarane (menjadi jalan) yun (hendak ) wrin
(mengetahui), wajibing (wajib bagi) tumuwoh (setiap yang hidup). Guru
itu menjadi jalan mengetahui, wajib bagi setiap yang hidup.
Guru-guru itulah yang menjadi petunjuk bagi yang hendak mengetahui
jalan menuju tempat akhir kehidupan. Wajib bagi setiap orang yang hidup
untuk mengetahui jalan itu.
Wohing kamal (asêm) dununge (tempatnya) sang (sang) rajèng (raja di),
(kitha), dèn (harap) waskitha (tanggap) sêmune (isyarat) Hyang (Tuhan)
Widhi (Yang Maha Benar), mandhiri (mandiri) sajati ( sejati), jatine
(sejatinya) mung (hanya) iku (itu). Harap tanggap isyarat Tuhan Yang
Maha Benar, mandiri sejati, sejatinya hanya itu.
Dalam bait ini ada wangsalan; wohing kamal, kamal adalah pohon asem,
diambil semune. Dununge sang rajeng, tempat tinggal raja di kitha (kota),
diambil waskitha. Artinya; den waskitha semune Hyang Widhi, harap
tanggap isyarat dari Tuhan Yang Maha Benar.
Tanggap terhadap isyarat terhadap Tuhan artinya mampu membaca
isyarat-isyarat yang disampaikan Tuhan kepada makhluknya. Yang
mampu melakukan itu hanyalah orang-orang yang waskitha, yang sudah
tajam penglihatan batinnya.
Kang (yang) sinêbut (disebut) pinuja-pinuji (dipuja-puji), yêkti (sungguh)
mung (hanya) Hyang (tuhan) Manon (Yang Maha Melihat), nabi (Nabi)
wali (wali) oliya (auliya) myang (dan) rajèng (raja). Yang disebut dan
dipuja-puji, sungguh hanya Tuhan Yang Maha Melihat, adalah Nabi, Wali
dan Auliya dan Raja.
Yang sudah tajam penglihatan batinnya dan tanggap membaca isyarat dari
Tuhan hanyalah para Nabi, Wali dan Auliya serta para Raja. Mereka
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 99

adalah orang-orang pilihan sesuai derajat masing-masing. Mereka telah


mencapai tahap akhir dalam pencarian pengetahuan tentang asal mula dan
akhir dari kehidupan.
Apan (memang) pantês (pantas) pinuji (dipuji) mring (oleh) janmi
(manusia), sabab (sebab) iku (itu) sami (sama-sama), kêkasih (kekasih)
Hyang (Tuhan) Agung (Maha Besar). Mereka memang panas dipuji oleh
sesama manusia, sebab mereka itu sama-sama kekasih Tuhan ang Maha
Besar.
Memang pantas mereka dipuji oleh sesama manusia, karena mereka itu
sama-sama kekasih Allah. Nabi adalah utusan Allah untuk memberi
petunjuk kepada manusia. Wali dan Auliya adalah orang-orang yang dekat
dengan Allah karena ketaatan dan ibadahnya yang kuat. Para Raja adalah
orang yang terpilih untuk memimpin orang-orang agar tidak tercerai berai.
Dapat bersatu sebagai masyarakat. Nabi, Wali dan Raja, mereka semua
adalah kekasih-kekasih Allah yang dekat kepadaNya. Mereka mempunyai
kewajiban yang lain dari manusia umumnya. Mereka juga diberi kelebihan
oleh sebab peribadatannya dan kedekatannya kepada Tuhan.
Yèn (kalau) manungsa (manusia) liya (selain) sri bupati (sang raja),
Ngabdul (Abdul) araning (namanya) wong (orang), apan (memang)
jêmak (jamak, lazim) lan (dan) manungsa (manusia) kabèh (kabeh).
Kalau manusia selain sang Raja, misalnya manusia bernama Abdul,
memang sudah lazim dan manusia semuanya.
Kalau bagi manusia selain sang Raja, misalnya manusia bernama Abdul,
dan juga kepada manusia-manusia lain, hanya diberi kewajiban yang lazim
sebagai manusia umumnya.
Mung (hanya) pinurih (agar) aywa (jangan) srik (sakit) ing (dalam) galih
(hati), lumintu (lestari) mrih (agar) puji (memuji), ing (pada) manungsa
(manusia) iku (itu). Hanya agar jangan menyimpan sakit dalam hatinya,
lestari agar memuji kepada manusia-manusia pilihan itu.
Kewajiban manusia lazimnya hanyalah agar tidak menyimpan rasa sakit
hati dalam hatinya, dan senantiasa memuji kepada manusia-manusia
pilihan itu tadi. Karena mereka adalah penyampai kabar dari Tuhan, guru
bagi manusia dan pemimpin yang mengatur. Melalui bimbingan para
manusia pilihan tadi masyarakat aman dan makmur. Lahir sampai ke
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 100

batinnya. Dapat menjadi manusia yang utuh, juga manusia yang berbudi
dan berpengetahuan.
Kudu-kudu (bersegera) tinarimèng (menerima dalam) ati (hati), manawa
(kalau) kapêrgok (kepergok), nabi (Nabi) Allah (Allah) kang (yang)
mindha (menyamar) druwise (seperti pengemis). Bersegera menerima
dalam hati, kalau bertemu, Nabiyullah yang menyamar seperti pengemis.
Druwise sangat mungkin berasal dari kata darwis, yakni kaum sufi yang
hidup dengan sarana duniawi yang pas-pasan, sekedar untuk hidup saja.
Mereka memang meniru kemiskinan Muhammad, Nabi kita yang memilih
hidup dengan sarana yang sederhana. Nabi tidak hidup bermewah meski
beliau mampu melakukannya. Bahkan kalau dibanding dengan sarana
kehidupan dengan zaman ditulis serat ini, seratus tahun lalu, apa yang
dipakai dalam kehidupan Nabi sehari-hari sangatlah kurang. Apalagi kalau
dibanding dengan sarana di zaman sekarang. Mungkin hanya pengemis
saja yang masih hidup dengan sarana duniawi seperti yang Nabi pakai.
Dengan pakaian hanya tiga lembar dan itu juga bukan pakaian mewah ala
raja. Makanan pun kadang hanya tiga biji kurma sehari. Dengan tidur
hanya beralas anyaman pelepah kurma, yang sampai meninggalkan bekas
di tubuh. Rumah hanya sederhana sekali, hanya satu ruang yang diberi
sekat-sekat. Nah kepada Nabi yang begitu sederhana itulah, kita harus
menerima dengan segera segala ajarannya. Disebabkan karena apa yang
beliau bawa adalah kebenaran yang akan menyelamatkan hidup kita kelak.
Jabat akèh (banyak) tuladhane (teladan) nguni (zaman dahulu), malekat
(malaikat) pi-api (berpura-pura), namur (menyamar) anjêjaluk (meminta-
minta). Sudah banyak teladan di zaman dahulu, malaikat berpura-pura,
menyamar sebagai peminta-minta.
Memang kehidupan para orang yang dekat dengan Tuhan lebih banyak
yang hidup sederhana. Di zaman dahulu para malaikat pun juga berpura-
pura menyamar sebagai peminta-minta. Untuk memberi pelajaran kepada
manusia. Banyak juga para pemuka agama yang hidup sederhana, dengan
sarana duniwi yang sangat minimal. Mereka lebih suka laku prihatin agar
tidak dininabobokan oleh dunia yang sifatnya memabukkan.
Mung (hanya) carita (cerita) dudu (bukan) zaman (zaman) mangkin
(sekarang), samêngko (sekarang) tan (tak) kanggo (dipakai), mung
(hanya) pinirit (dicontoh) jumbuhing (sesuai dengan) mangsane
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 101

(masanya). Hanya cerita bukan zaman sekarang, sekarang tak dipakai


yang demikian itu, hanya sebagai contoh yang harus disesuaikan dengan
zamannya.
Namun perilaku seperti di atas, untuk ukuran zaman sekarang sangat
kelewatan sederhana. Takkan ada yang kuat mencontohnya. Memang
zamannya sudah berbeda. Walau demikian tetaplah harus kita ketahui
sebagai contoh yang pelaksanaannya disesuaikan dengan perkembangan
zaman. Intinya harus tetap tanggap dan cermat dalam mengenali isyarat
dari Tuhan di dalam kehidupan kita.
Dadi (jadi) nora (ora) kaelangan (kehilangan) lari (jejak), nglêluri
(melestarikan) utami (keutamaan), mamrih (mengharap) sugih (kaya)
kang (yang) wruh (kawruh, pengetahuan). Jadi tidak kehilangan jejak,
melestarikan keutamaan, mengharap kaya akan pengetahuan.
Teladan dari para manusia pilihan tadi, walau sudah tidak mungkin
diterapkan secara persis di masa kini, tetaplah harus diketahui agar kita
tidak kehilangan jejak-jejak keutamaan mereka. Dengan mengetahui
sejarah kehidupan para orang besar di masa lau, para Nabi, Auliya dan
Raja-Raja, kita dapat melestarikan keutamaan mereka dan mencontohnya
sesuai kekuatan masing-masing. Yang intinya agar kita dapat mencapai
kekayaan pengetahuan seperti mereka.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 102

Kajian Tematik Serat Wulang Wanita 11: Wruha Ala


Kalawan Becik
Pupuh 4, Pada 9-15, Kinanthi (metrum: 8u, 8i, 8e, 8a, 8i, 8a, 8i), Serat
Wulang Wanita:
Wruha ing ala kalawan bêcik, saking wulang ing wong, ingkang
wasis waskitha budine. Pan ingêtrap nèng dluwang lan mangsi,
sinimpên mring ahli, kitab aranipun.

Kitab saking Kuran asalnèki, Kuran sing Hyang Manon. Ya ta


môngsa Allah nulis dhewe, pasthi nyambat manungsa kêkasih,
tinrap nèng jro ngati-, ning manungsa iku.

Jêr ta ana kang muni jro dalil, rapale mangkono, kalbu mukmin ya
betolahine, ing têgêse ati ingkang mukmin, ingakên sayêkti,
unggyaning Hyang Agung.

Basa mukmin manungsa wus napi, liyane Hyang Manon. dadi kayun
pidarèni rane, wong kang manuh manggone kêkalih, dunya dèn
dunungi, ing akerat jumbuh.

Wus pinunggêl pitutur mring èstri, sêdhênge sêmono, pan kasêlan


lagi mikir ponès. Rêbo Kliwon ping têlu kang sasi, ing Rabingulakir,
Galungan kang wuku.

Kang môngsastha Kunthara warsa Lip. Sangkala rinaos, kawilêting


kawi wangsalane, yitmèng praja cipta kang kawijil, kangjêng sri
bupati, karsa amanawung.

Drênging driya tansah amêmuji, kalipahing Manon Yun mangèsthi


sang prabu ing mangke, wulang tumrap marang para èstri, mrih ayu
pinanggih, wit wêkasanipun.

Kajian per kata:

Wruha (ketahuilah) ing (dalam) ala (buruk) kalawan (dan) bêcik (baik),
saking (dari) wulang (ajaran) ing (pada) wong (orang), ingkang (yang)
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 103

wasis (pintar) waskitha (tajam) budine (budinya). Ketahuilah dalam buruk


dan baik, dari ajaran orang-orang pintar yang tajam budinya.
Selalu belajarlah untuk mengetahui buruk dan baik, dari ajaran orang-
orang pintar yang tajam budinya. Mengetahui buruk dan baik menjadi
batas dari komitmen seseorang yang hendak melangkah ke jalan yang
benar. Jika baik dan buruk saja tidak tahu maka bagaimana mungkin dia
akan berpihak kepada kebaikan. Mengetahu baik dan buruk juga menjadi
pertanda kedewasaan seseorang. Lalu apa dasar dari sesuatu bisa dikatakan
baik atau buruk itu?
Pan (yang) ingêtrap (dituangkan) nèng (pada) dluwang (kertas) lan (dan)
mangsi (tinta), sinimpên (disimpan) mring (oleh) ahli (ahlinya), kitab
(kitab) aranipun (namanya). Yang dituangkap dalam kertas dan tinta,
disimpan oleh ahlinya, kitab namanya.
Baik buruk bukan dari pemikiran para oran pintar yang tajam
penglihatannya tadi, melainkan dari sesuatu yang kemudian dituangkan
dalam kertas dan tinta, disebut kitab. Walau para orang pintar tadi sudah
menguasai berbagai pengetahuan, tetapi mereka pun juga belajar dari yang
lainnya, yakni ajaran yang tertuang dalam kitab.
Kitab (kitab) saking (dari) Kuran (Al Qur’an) asalnèki (asalnya itu),
Kuran (Qur’an) sing (dari) Hyang (Tuhan) Manon (Maha Melihat). Kitab
itu dari Al Qur’an asalnya. Qur’an yang dari Tuhan Uang Maha Melihat.
Kitab tadi dari al Qur’an asalnya, yakni Al Qur’an dari Yang Maha
Melihat. Kalau dilihat redaksi kalimat ini, yang dimaksud kitab adalah
mushaf Al Qur’an, dan yang dimaksud Al Qur’an adalah yang datang dari
Tuhan Yang Maha Melihat. Yakni yang turun ke dalam hati Nabi
Muhammad SAW. Itulah Al Qur’an yang kemudian dituangkan dalam
mushaf dengan peralatan kertas dan tinta.
Ya ta (ya iyalah) môngsa (masa) Allah (Allah) nulis (menulis) dhewe
(sendiri), pasthi (pasti) nyambat (menyruh) manungsa (manusia) kêkasih
(kekasih), tinrap (diterapkan) nèng (di) jro (dalam) ngati- (hati), ning
(nya) manungsa (manusia) iku (itu). Ya iyalah masa Allah menulis
sendiri, pasti menyuruh manusia kekasihnya, diterapkan ke dalam harinya
manusia itu.
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 104

Tentu saja walau Al Qur’an datang dari Allah tetapi diundangkan kepada
manusia melalui manusia juga, yakni manusia agung yang menjadi
kekasihnya. Diterapkan atau dimasukkan ke dalam hati manusia agung itu.
Baru kemudian disampaikan kepada ummat seluruhnya. Hal itu karena
antara manusia awam dan Tuhan ada jarak wujud yang jauh. Hanya ada
sedikit manusia-manusia pilihan yang dapat berkomunikasi dua arah. Dan
dari manusia pilihan yang sedikit itulah diangkat seorang rasul (utusan)
untuk menyampaikan pesan dari Tuhan.
Jêr ta (karena memang) ana (ada) kang (yang) muni (mengatakan) jro
(di dalam) dalil (dalil), rapale (lafalnya) mangkono (demikian), kalbu
mukmin ya betolahine (qalbun mukmin baitullah), ing (pada) têgêse
(artinya) ati (hati) ingkang (yang) mukmin (mukmin), ingakên (diakui)
sayêkti (sungguh), unggyaning (tempatnya) Hyang (Tuhan) Agung (Yang
Maha Besar). Karena ada yang mengatakan dalam dalil, lafalnya
demikian; qalbun mukmin baitullah, yang artinya pada hati orang
mukmin, diakui dengan sungguh-sungguh, sebagai tempat Tuhan Yang
Maha Agung.
Karena hanya manusia pilihan yang mampu menangkap pesan keagungan
Tuhan. Dikatakan dalam sebuah hadits qudsi, qalbun mukmin baitullah,
yang artinya hati orang mukmin adalah rumah Tuhan. Hanya hati orang
mukmin yang sanggup disinggahi oleh Tuhan. Hati selain orang mukmin
takkan sanggup menerima kehadiran Tuhan Yang Agung. Mengapa
demikian?
Basa (yang disebut) mukmin (muknin) manungsa (mnusia) wus (sudah)
napi (kosong), liyane (dari selain) Hyang (Tuhan) Manon (Maha
Melihat). Yang disebut mukmin adalah manusia yang sudah kosong, dari
selain Tuhan Yang Maha Melihat.
Hal itu karena Tuhan adalah Raja dari segala raja, maka Dia tidak
berkenan hadir di dalam satu kota jika di kota itu masih ada raja yang lain.
Jika di dalam hati seseorang masih ada yang selain Dia, maka Dia tak
berkenan hadir. Hanya hati orang mukmin saja yang telah kosong dari
selain Dia, maka ke dalamnya Dia berkenan hadir.
Dadi (menjadi) kayun (kehendak) pidarèni (dua dunia) rane (namanya),
wong (orang) kang (yang) manuh (mengenal) manggone (tempatnya)
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 105

kêkalih (keduanya). Dan menjadi hayun pidareni, yakni orang yang


mengenal tempatnya dua dunia.
Hayun pidareni disebut dalam serat sastra gending dengan redaksi: Iya
kayun pidareni, murading lapal, uriping desa kalih. Desa lair desa batin
wus kawangwang. Artinya; Kayun pidareni maknanya lafal yakni
kehidupannya di dua desa. Desa lahir dan desa batin sudah dikuasai. Yang
dimaksud desa lahir adalah alam dunia, sedangkan desa batin adalah alam
akhirat. Pesan moralnya; jangan hanya hidup di satu alam saja, alam dunia,
tetapi juga hiduplah di alam batin, alam yang lebih langgeng
kehidupannya, kekal tiada akhir.
Dunya (dunia) dèn (di) dunungi (tempati), ing (di) akerat (akhrat)
jumbuh (sesuai). Dunia ditempat, di akhirat pun sesuai.
Maknanya kehidupan dunianya tidak ditinggalkan, kehidupan akhiratnya
pun sesuai dengan kehidupan dunianya. Jika kehidupan dunianya sejahtera
demikian pula kehidupan akhiratnya. Inilah artinya hidup dalam dua dunia.
Wus (sudah) pinunggêl (diakhiri) pitutur (nasihat) mring (kepada) èstri
(wanita), sêdhênge (bersamaan) sêmono (waktu itu), pan (akan) kasêlan
(diselingi) lagi (lagi) mikir (memikirkan) ponès (vonis). Sudah diakhiri
nasihat kepada wanita, bersamaan waktu itu, akan diselingi oleh
memikirkan vonis (pengadilan).
Sudah diakhir sampai sekian nasihat kepada wanita. Karena bersamaan
waktu itu dengan kegiatan lain di pengadilan, sedang memikirkan vonis
dari perkara yang masuk. Mungkin sang pengarang serat ini melakukan
sambil lalu dengan pekerjaan yang lain. Dan tampaknya pengarang ingin
mengakhiri karena hendak menangani perkara yang lainnya.
Rêbo (Rabu) Kliwon (Kliwon) ping têlu (hari ketiga) kang sasi
(bulannya), ing (pada) Rabingulakir (Rabiul Akhir), Galungan
(Galungan) kang wuku (wukunya). Rabu Kliwon, hari ketiga bulan Rabiul
Akhir, Galungan wukunya.
Bertepatan dengan hari Rabu Kliwon, hari ke-3 bulan Rabiul Akhir, Wuku
Galungan.
Kang môngsastha (masa Astha) Kunthara (Kuntara, windu) warsa
(tahun) Lip (alip), sangkala (sengkalaan) rinaos (dirrasakan), kawilêting
(terbelit oleh) kawi (kawi) wangsalane (wangsalannya), yitmèng praja
Kajian Sastra Klasik Kajian Tematik Wulang Wanita 106

cipta kang kawijil, kangjêng (Kanjeng) sri bupati (sang Raja), karsa
(berkenan) amanawung (mengarang). Yang masanya masa Asta, Kuntara
tahun alip, ditandai sengkala, dibelit bahasa kawi wangsalannya, yitmeng
praja cipta kang kawijil, Kanjeng Raja berkenan mengarang .
Raja berkenan mengarang serat ini pada saat masa Astha, Windu Kuntara,
tahun Alip, ditandai dengan sengkala; yitmeng praja cipta kawijil, yang
menandakan angka tahun 1811 AJ. Jadi secara lengkap tahun penulisan
serat Wulang Wanita ini adalah:
Rêbo Kliwon, 3 Rabiul Akhir 1811 AJ, bertepatan dengan Rabu, 22
Pebruari 1882 AD.
Drênging (dorongan) driya (hati) tansah (selalu) amêmuji (mendoakan),
kalipahing (khalifah) Manon (Tuhan), yun (hendak) mangèsthi
(berkeinginan) sang (sang) prabu (raja) ing (di) mangke (sekarang),
wulang (nasihat) tumrap (untuk) marang (kepada) para (para) èstri
(wanita), mrih (agar) ayu (selamat) pinanggih (yang ditemui), wit (awal)
wêkasanipun (sampai akhirnya). Dorongan hati selalu mendoakan,
khalifah Tuhan, hendak berkeinginan sang raja sekarang, memberi
nasihat untuk kepada para wanita, agar selamat yang ditemui, dari awal
sampai akhirnya.
Dorongan hati selalu mendoakan dari khalifah Allah di tanah Jawa
Susuhunan Pakubuwana IX, dan sekarang berkeinginan mengajarkan
nasihat kepada para wanita agar selamat kehidupannya, dari awal sampai
akhir berumah tangga.
Tamat. Telah selesai penerjemahan dan kajian serat Wulang Wanita, karya
Sri Susuhunan Pakubuwana IX dari Surakarta Adiningrat.

Mireng, 05 Juli 2018.


Bambang Khusen Al Marie.