Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kosmetik saat ini telah menjadi kebutuhan manusia khususnya kaum perempuan yang
tidak bisa dipandangan dengan sebelah mata lagi, semakin terasa bahwa kebutuhan terhadap
kosmetik yang beraneka bentuk dengan ragam warna dan keunikan kemasan serta
keunggulan dalam memberikan fungsi bagi konsumen menuntut industri kosmetik untuk
semakin terpicu mengembangkan teknologi yang tidak saja mencakup peruntukkannya dari
kosmetik itu sendiri namun juga kepraktisannya didalam penggunaannya. Penggunaan
kosmetik harus disesuaikan dengan aturan pakainya, misalnya harus sesuai jenis kulit, warna
kulit, iklim, cuaca, waktu penggunaan, umur, dan jumlah pemakaiannya sehingga tidak
menimbulkan efek yang tidak diinginkan.
Produk pemutih kulit sendiri terbagi menjadi 3 golongan yaitu kosmetik, kosmetisikal
dan kosmetomedik. Golongan pertama disebut kosmetik, jika produk itu mempengaruhi
fisiologi kulit dan dapat dibeli secara bebas, contohnya sabun. Golongan kedua disebut
kosmetisikal, jika produk itu mempengaruhi fisiologi kulit tapi masih boleh dibeli secara
bebas-terbatas tanpa harus memakai resep dokter, contohnya produk yang mengandung
Alpha Hydroxy Acid (AHA), asam glikolat, arbutin dan hidrokuinon. Golongan ketiga
disebut kosmetomedik, produk-produk ini mempengaruhi fisiologi kulit dan hanya boleh
dibeli dengan resep dokter, contohnya hidrokuinon diatas 2% dan asam retinoat (Andriyani,
2011).
Menurut Peraturan Mentri Kesehatan RI No. 445/MENKES/PER/V/1998 tentang bahan,
zat warna, subtrat, zat pengawet dan tabir surya pada kosmetik, dalam kadar yang sedikitpun
merkuri bersifat racun. Mulai dari perubahan warna kulit, bintik-bintik hitam, alergi, iritasi,
serta pada pemakaian dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan permanen otak, ginjal dan
gangguan perkembangan janin. Bahkan paparan jangka pendek dalam dosis tinggi dapat
menyebabkan muntah-muntah, diare dan kerusakan paru-paru serta menyebabkan zat
karsinogenik (BPOM RI, 2007).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan kosmetik?
2. Apakah asam retinoat dan merkuri digunakan sebagai bahan pemutih pada krim pemutih
yang banyak beredar di kota Bandung?
3. Apakah asam retinoat tersebut melebihi kadar yang diperbolehkan berdasarkan
persyaratan yang ditetapkan oleh BPOM?
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kosmetika
2.2.1 Pengertian kosmetika
Kosmetik menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1176/MENKES/PER/VIII/2010 tentang Notifikasi Kosmetik adalah bahan atau sediaan yang
dimaksud untuk digunakan pada bagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir
dan organ genital bagian luar) atau gigi dan mukosa mulut terutama untuk membersihkan,
mewangikan, mengubah penampilan dan atau memperbaiki bau badan atau melindungi atau
memelihara tubuh pada kondisi baik.
Istilah kosmetik berasal dan kata Yunani yakni kosmetikos yang berarti keahlian dalam
menghias. Kosmetik adalah bahan atau campuran bahan untuk digosokkan, diletakkan,
diruangkan, dipercikkan atau disemprotkan, dimasukkan dalam, dipergunakan pada badan
atau bagian badan pada manusia dengan maksud membersihkan, memelihara, menambah
daya tarik atau mengubah rupa dan tidak termasuk golongan obat (Rostamailis, 2005).

2.2.2 Tujuan penggunaan kosmetik


Secara umum baik teori maupun praktek tujuan penggunaan kosmetik adalah untuk
memelihara dan merawat kecantikan kulit dengan kontinu/teratur. Tujuan dan penggunaan
kosmetik dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Melindungi kulit dan pengaruh-pengaruh luar yang merusak
2. Mencegah lapisan terluar kulit dan kekeringan.
3. Mencegah kulit cepat kering dan berkeriput
4. Melekat di atas permukaan kulit untuk mengubah warna atau rona daerah kulit tertentu.
5. Memperbaiki kondisi kulit.
6. Menjaga kulit tetap remaja (kencang).
7. Mengubah rupa/penampilan (Rostamailis, 2005).
2.2.3 Efek kosmetik terhadap kulit
Ada berbagai reaksi negatif yang disebabkan oleh kosmetik yang tidak aman pada kulit
maupun sistem tubuh, antara lain (Tranggono, 2014):
a. Iritasi
Reaksi iritasi langsung timbul pada pemakaian pertama kosmetik karena salah satu atau lebih
bahan yang dikandungnya bersifat iritan.
b. Alergi
Reaksi negatif pada kulit muncul setelah dipakai beberapa kali, kadang-kadang setelah
bertahun-tahun, karena kosmetik itu mengandung bahan yang bersifat alergenik bagi
seseorang yang menggunakannya.
c. Fotosensitisasi
Reaksi negatif muncul setelah kulit yang ditempeli kosmetik terkena sinar matahari karena
salah satu atau lebih dari bahan, zat pewarna atau zat pewangi yang dikandung oleh zat
kosmetik itu bersifat photosensitizer.
d. Jerawat (acne)
Beberapa kosmetik pelembap kulit yang sangat beminyak dan lengket pada kulit, seperti
yang diperuntukkan bagi kulit kering di iklim dingin, dapat menimbulkan jerawat bila
digunakan pada kulit yang berminyak. Terutama di negara-negara tropis seperti di Indonesia
karena kosmetik demikian cenderung menyumbat pori-pori kulit bersama kotoran dan
bakteri.
e. Intoksidasi
Keracunan dapat terjadi secara lokal maupun sistemik melalui penghirupan lewat melalui
hidung atau penyerapan lewat kulit, terutama jika salah satu atau lebih bahan-bahan yang
dikandung kosmetik itu bersifat toksik, misalnya merkuri didalam kosmetik impor pemutih
kulit pearl cream yang sudah dilarang peredarannya di indonesia oleh pemerintah.
f. Penyumbatan fisik
enyumbatan oleh bahan-bahan berminyak dan lengket yang ada dalam kosmetik tertentu,
seperti pelembab atau dasar bedak terhadap pori-pori kulit atau pori-pori kecil pada bagian-
bagian tubuh.
2.2 Pengertian krim
Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kental mengandung tidak kurang dari
60% air, dimaksudkan untuk pemakaian luar. Tipe krim ada dua yaitu krim tipe air minyak
(A/M) dan krim minyak air (M/A). Untuk membuat krim digunakan zat pengemulsi.
Umumnya berupa surfaktan-surfaktan anionik, kationik dan nonionik (Anief, 2000).
Menurut (Ditjen POM, 1995) krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung
satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Istilah ini
secara tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai konsistensi
relatif cair diformulasi sebagai emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air. Sekarang ini
batasan tersebut lebih diarahkan untuk produk yang terdiri dari emulsi minyak dalam air atau
disperse mikrokristal asam-asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air, yang dapat
dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk penggunaan kosmetika dan estetika. Krim dapat
digunakan untuk pemberian obat melalui vaginal.
Krim disebut juga salep yang banyak mengandung air, sehingga memberikan perasaan
sejuk bila dioleskan pada kulit. Sebagai vehikulum dapat dipakai emulsi kental berupa emulsi
M/A atau emulsi A/M. Krim lebih mudah dibersihkan dari kulit dari pada salep yang
menggunakan vaseline sebagai vehikulum (Joenoes, 1990).

2.2.1 Fungsi krim pemutih


Beberapa krim pemutih mengandung pigmen putih untuk menutupi kulit dan para
konsumen merasa kulitnya menjadi lebih putih, namun sebenarnya kulit mereka hanya
terlihat lebih putih saja akibat efek pelapisan pigmen putih pada lapisan terluar kulit dan
tidak ada pengurangan pada kadar pigmen kulit yang sebenarnya. Krim pemutih yang
mengandung bahan yang dapat mengganggu produksi pigmen merupakan krim yang
dianggap paling efektif (Scott e., al, 1985).
Berdasarkan cara penggunaanya produk whitening kulit dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Skin Bleaching
Adalah produk whitening yang mengandung bahan aktif yang kuat, yang berfungsi
memudarkan noda-noda hitam pada kulit. Cara penggunaan produk tersebut adalah dengan
mengoleskan tipis-tipis pada daerah kulit dengan noda hitam, tidak digunakan secara merata
pada kulit dan tidak digunakan pada siang hari.
2. Skin Lightening
Adalah produk perawatan kulit yang digunakan dengan tujuan agar kulit pemakai tampak
lebih putih, cerah dan bercahaya. Produk whitening kategori ini dapat digunakan secara
merata pada seluruh permukaan kulit.

2.3 Pengertian asam retinoat


Asam retinoat atau tretinoin adalah bentuk asam dari vitamin A. Fungsi vitamin A asam
ini adalah berperan pada proses metabolisme umum (Hardjasasmita, 1991).
Menurut Menaldi (2003), asam retinoat merupakan zat peremajaan non peeling karena
merupakan iritan yang menginduksi aktivitas mitosis sehingga terbentuk stratum korneum
yang kompak dan halus, meningkatkan kolagen dan glikosaminoglikan dalam dermis
sehingga kulit menebal dan padat, serta meningkatkan vaskularisasi kulit sehingga
menyebabkan kulit memerah dan segar.
Menurut Ditjen POM (1995), sifat fisika dan kimia asam retinoat adalah sebagai berikut:

Gambar 2.1 Struktur Kimia Asam Retinoat


Rumus Molekul : C2OH28O2
Berat Molekul : 300,44
Pemerian : Serbuk hablur, kuning sampai jingga muda
Kelarutan : Tidak larut dalam air, sukar larut dalam etanol dan dalam kloroform
2.5.2 Kegunaan asam retinoat
Asam retinoat mampu mengatur pembentukan dan penghancuran sel-sel kulit.
Kemampuannya mengatur siklus hidup sel ini juga dimanfaatkan oleh kosmetik anti aging
atau efek-efek penuaan (Badan POM, 2008).
Penggunaan tretinoin yang sebagai obat keras, hanya boleh dengan resep dokter, namun
kenyataannya ditemukan dijual bebas kosmetik yang mengandung tretinoin (Badan POM,
2006).
2.5.3 Efek samping asam retinoat
Asam retinoat atau tretinoin juga mempunyai efek samping bagi kulit yang sensitif,
seperti kulit menjadi gatal, memerah dan terasa panas serta jika pemakaian yang berlebihan
khususnya pada wanita yang sedang hamil dapat menyebabkan cacat pada janin yang
dikandungnya (Badan POM, 2008).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara, produk krim pemutih
yang dilarang penggunaannya dan mengandung asam retinoat, antara lain RDL Hydroquinon
Tretinoin Baby Face Solution 3 dan Maxi-Peel Papaya Whitening Soap.
Asam retinoat di label produk kadang ditulis sebagai tretinoin. Asam retinoat ini dapat
menyebabkan kulit kering, rasa terbakar, dan teratogenik (cacat pada janin). Asam retinoat
adalah bentuk asam dan bentuk aktif dari vitamin A (retinol). Asam retinoat ini sering
dipakai sebagai bentuk sediaan vitamin A topikal, yang dapat diperoleh dengan resep dokter.
Bahan ini sering dipakai pada preparat untuk kulit terutama untuk pengobatan jerawat, dan
sekarang banyak dipakai untuk mengatasi kerusakan kulit akibat paparan sinar matahari
(sundamage) dan untuk pemutih (Andriyani, 2011).
2.5.4 Dosis
Sediaan topikal dalam bentuk krim, salep, dan gel yang mengandung asam retinoat dosis
yang digunakan dalam konsentrasi 0,001-0,4%, umumnya 0,1% (Menaldi, 2003).

Pengertian merkuri
Raksa (air raksa) atau merkuri atau hydrargyrum (bahasa Latin: Hydrargyrum, air perak
atau perak cairan) adalah unsur kimia pada tabel sistem periodik dengan simbol Hg dan
nomor atom 80 serta berat atom 200,59. Unsur logam transisi dengan golongan IIB ini
berwarna keperakan dan berbentuk cair dalam suhu kamar, serta mudah menguap. Merkuri
atau Hg akan memadat pada tekanan 7.640 Atm (Unggul Sudarmo, 2004).
Merkuri banyak digunakan dalam termometer karena memiliki koefisien yang konstan,
yaitu tidak terjadi perubahan volume pada suhu tinggi maupun rendah. Merkuri juga
digunakan sebagai peralatan pompa vakum, barometer, Electric rectifier dan electric
switches, lampu asap merkuri sebagai sumber sinar ultraviolet, dan untuk sterilisasi air.
Merkuri mudah membentuk alloy amalgam dengan logam lainnya, seperti emas (Au), perak
(Ag), platinum (Pt), dan tin (Sn). Garam merkuri yang penting antara lain HgCl2 yang
bersifat sangat toksik. Hg2Cl2 digunakan dalam bidang kesehatan, Hg(ONC)2 digunakan
sebagai bahan detonator yang eksplosif, sedangkan HgS digunakan sebagai pigmen cat
berwarna merah terang dan bahan antiseptik.
2.6.2 Karakteristik dan sifat merkuri
Merkuri adalah unsur kimia sangat beracun (toxic). Unsur ini dapat bercampur dengan
enzim didalam tubuh manusia menyebabkan hilangnya kemampuan enzim untuk bertindak
sebagai katalisator untuk fungsi tubuh yang penting. Logam merkuri ini dapat terserap
kedalam tubuh melalui saluran Merupakan logam yang paling mudah menguap.
Merkuri memiliki sifat sebagai berikut (Sismanto, 2007):
1. Berwujud cair pada temperatur kamar. Zat cair ini tidak sangat mudah menguap (tekanan
gas/uapnya adalah 0,0018 mm Hg pada 25°C).
2. Terjadi pemuaian secara menyeluruh pada temperatur 396°C.
3. Unsur yang sangat beracun bagi hewan dan manusia.
4. Logam yang sangat baik untuk menghantar listrik.
5. Dapat melarutkan berbagai logam untuk membentuk alloy yang disebut juga amalgam.
6. Merupakan upencernaan dan kulit.
Karena sifat beracun dan cukup volatil, maka uap merkuri sangat berbahaya jika terhisap,
meskipun dalam jumlah yang sangat kecil. Merkuri bersifat racun yang kumulatif, dalam arti
sejumlah kecil merkuri yang terserap dalam tubuh dalam jangka waktu lama akan
menimbulkan bahaya. Bahaya penyakit yang ditimbulkan oleh senyawa merkuri diantaranya
adalah kerusakan rambut dan gigi, hilang daya ingat dan terganggunya sistem syaraf. Sifat
penting merkuri lainnya adalah kemampuannya untuk melarutkan logam lain dan membentuk
logam paduan (alloy) yang dikenal sebagai amalgam (Widhiyatna dkk., 2005).
Merkuri berada di lingkungan secara alamiah dan berada dalam beberapa bentuk yang
pada prinsipnya dapat dibagi menjadi 3 bentuk utama yaitu (Inswiasri, 2008):
1. Merkuri metal (elemental merkuri). Merupakan logam berwarna putih, berkilau dan pada
suhu kamar berada dalam bentuk cairan. Pada suhu kamar akan menguap dan membentuk
uap merkuri yang tidak berwarna dan tidak berbau. Makin tinggi suhu, makin banyak yang
menguap .
2. Senyawa merkuri anorganik terjadi ketika merkuri dikombinasikan dengan elemen lain
seperti chlorin (Cl), sulfur atau oksigen. Senyawa ini biasa disebut garam-garam merkuri.
Senyawa merkuri anorganik berbentuk bubuk putih atau kristal.
3. Senyawa merkuri organik terjadi ketika merkuri bertemu dengan karbon atau
organomerkuri. Banyak jenis organomerkuri tetapi yang paling popular adalah metil merkuri
CH3 yang juga digunakan sebagai standar referensi tes kimia.

2.6.3 Kegunaan merkuri


Pemakaian bahan merkuri digunakan dalam berbagai bidang (Lestarisa ,2010) yaitu:
1. Bidang perindustrian
Dalam industri pulp dan kertas banyak digunakan senyawa FMA (Fenil Merkuri Asetat) yang
digunakan untuk mencegah pembentukan kapur pada pulp dan kertas basah selama proses
penyimpanan. Logam natrium tersebut dapat ditangkap oleh merkuri melalui proses
elektrolisa dari larutan garam natrium klorida (NaCl). Merkuri juga digunakan dalam industri
cat untuk mencegah pertumbuhan jamur sekaligus sebagai komponen pewarna. Selain itu,
merkuri juga digunakan dalam industri pembuatan klor alkali yang menghasilkan klorin
(Cl2), dimana perusahaan air minum memanfaatkan klorin untuk penjernihan air dan
pembasmi kuman (proses kronisasi).
2. Bidang pertambangan
Pada bidang pertambangan logam merkuri digunakan untuk membentuk amalgram, yaitu
logam merkuri tersebut digunakan untuk mengikat dan memurnikan emas.
3. Bidang kedokteran
Merkuri digunakan sejak abad 15 diamana merkuri digunakan untuk pengobatan penyakit
kelamin (sifilis). Digunakan untuk obat diuretika, sebagai bahan untuk kosmetik, logam
merkuri digunakan untuk campuran penambal gigi. Kalomel (HgCl) digunakan sebagai
pembersih luka dan kemudian diletahui bahwa bahan tersebut beracun, sehingga tidak
digunakan lagi.
4. Peralatan fisika
Merkuri digunakan dalam termometer, barometer, pengatur tekanan gas dan alat-alat listrik.
5. Bidang pertanian
Merkuri banyak digunakan sebagai fungisida, Contohnya senyawa metil merkuri disiano
diamida (CH3-Hg-NH-CHHNHCN), metil merkuri siano (CH3-Hg-CN), metil merkuri
asetat (CH3-Hg-CH2-COOH) dan senyawa etil merkuri klorida (C2H5-Hg-Cl).
2.6.4 Ambang batas merkuri
Dalam bahan-bahan kosmetik terdapat banyak komposisi yang tercantum didalamnya,
namun banyak pada jenis dikosmetik yang menggunakan bahan logam berbahaya termasuk
merkuri. Merkuri hanya bisa digunakan pada kosmetik dalam kategori sediaan tata rias mata
dan pembersih tata rias mata dengan kandungan Phenylmercuric dalam bentuk garam
(termasuk borates) pada kadar maksimum 0,007% (dihitung sebagai merkuri). Jika dicampur
dengan senyawa merkuri lain yang diizinkan dalam peraturan ini, maka konsentrasi
maksimum merkuri tetap 0,007% yang telah tercantum dalam PERATURAN KEPALA
BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR
HK.03.1.23.08.11.07517 TAHUN 2011 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS BAHAN
KOSMETIKA pada lampiran III poin 44. Pada lampiran V bahan yang dialarang dalam
kosmetik poin 871 yaitu merkuri tidak diperbolehkan untuk digunakan pada kosmetik kecuali
pada lampiran III poin 44 dan 51.
2.6.5 Toksisitas merkuri
Menurut Dr. Retno I. Tranggono, SpKK menyebutkan bahwa krim yang mengandung
merkuri, awalnya memang terasa manjur dan membuat kulit tampak putih dan sehat. Tetapi
lama-kelamaan, kulit dapat menghitam dan menyebabkan jerawat parah. Selain itu,
pemakaian merkuri dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan kanker kulit, kanker
payudara, kanker leher rahim, kanker paru-paru, dan jenis kanker lainnya (Tranggono, 2014).
Dalam kosmetik krim biasa digunakan merkuri anorganik, yaitu ammoniated mercury,
merkuri juga dapat ditemukan pada kosmetik yang lain, misalnya pada produk pembersih
make up mata dan maskara. Ammoniated mercury 1-10% digunakan sebagai bahan pemutih
kulit dalam sediaan krim karena memiliki efek pemucat warna kulit. Daya pemutih pada kulit
sangat kuat. Karena toksisitasnya terhadap organ-organ ginjal, saraf dan otak sangat kuat
maka pemakaiannya dilarang dalam sediaan kosmetik (WHO, 2011).
Merkuri apapun jenisnya sangatlah berbahaya pada manusia karena merkuri akan
terakumulasi pada tubuh dan bersifat neurotoxin. Merkuri yang digunakan pada produk-
produk kosmetik dapat menyebabkan perubahan warna kulit yang akhirnya dapat
menyebabkan bintik-bintik hitam pada kulit, iritasi kulit, hingga alergi, serta pemakaian
dalam dosis tinggi bisa menyebabkan kerusakan otak secara permanen, ginjal dan gangguan
perkembangan janin, bahkan pemakaian dalam jangka pendek dalam kadar tinggi bisa
menimbulkan muntah-muntah, diare, kerusakan paru-paru dan merupakan zat karsinogenik
yang menyebabkan kanker. Penggunaan merkuri dalam waktu lama menimbulkan dampak
gangguan kesehatan hingga kematian pada manusia dalam jumlah yang cukup besar
(Wurdiyanto, 2007).
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengambilan Sampel


Sampel yang di ambil sebanyak 15 sampel berasal dari pasar tradisional, pasar swalayan Borma
dan klinik kecantikan (racikan dokter), semua sampel diberi kode sampel A, B, C, D, E, F, G, H,
I, J, K, L, M, N dan O.

4.2 Hasil Analisis Kualitatif Merkuri dengan Metode Reaksi Warna


Analisis merkuri pada krim pemutih wajah menggunakan 15 sampel. Dari lima belas sampel
yang diuji hasil yang menunjukan negatif terjadi endapan merah orange. Hasil analisis kualitatif
merkuri dapat dilihat pada tabel 4.2

Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan Kualitatif


Merkuri Pada Sampel dengan Reaksi dengan
Metode Reaksi Warna Nama Larutan
Sampel KI 0,5 N
A -
B -
C -
D -
E -
F -
G -
H -
I -
J -
K -
L -
M -
N -
O -
Berdasarkan data hasil analisis kualitatif terhadap hasil destruksi pereaksi KI 0,5 N
keberadaan merkuri pada seluruh sampel tidak terdeteksi adanya merkuri. Pada sampel
pembanding yang positif mengandung merkuri terdapat endapan warna merah orange dengan
larutan berwana merah orange, seperti gambar dibawah ini.
Gambar 4.1 Hasil Reaksi Warna HgCl2
Ditambah dengan Larutan KI 0,5 N

Gambar 4.2 Hasil Kualitatif Merkuri dengan Metode Reaksi Warna

Dalam melakukan uji warna bertujuan untuk mengidentifikasi ada atau tidaknya merkuri
dalam sampel krim pemutih digunakan larutan KI 0,5 N, hasil menunjukan positif jika terjadi
endapan merah orange (Khopkar, 2003).

4.3 Hasil Analisis Kualitatif Asam Retinoat dengan Metode Kromatografi Lapis Tipis
(KLT)
Analisis kualitatif asam retinoat pada sampel krim pemutih wajah secara metode
Kromatografi Lapis Tipis (KLT), terdapat 4 sampel yang positif mengandung asam retinoat
yaitu sampel K, sampel M, sampel N dan sampel O dimana sampel tersebut yang
memberikan nilai Rf yang berdekatan dengan sampel pembanding. Dengan hasil Rf yang
dapat dilihat dari tabel 4.3.

Tabel 4.3 Hasil Pemeriksaan Kualitatif Asam Retinoat

Metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) digunakan untuk memisahkan suatu campuran
senyawa secara cepat dan sederhana, sedangkan metode spektrofotometri UV digunakan
untuk mengukur absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang (Day, 2002).
Pada metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT), lempeng KLT diaktifkan dengan cara
dipanaskan di dalam oven pada suhu 105˚C selama 30 menit untuk melepaskan molekul-
molekul air yang menempati pusat-pusat serapan dari penjerap, sehingga pada proses elusi
lempeng tersebut dapat menyerap dan berikatan dengan sampel (Gritter, 1991).
Tujuan Penjenuhan eluen dalam chamber agar menguap memenuhi chamber sehingga
eluen sebagai fase gerak akan berjalan dengan baik sehingga didapatkan hasil kromatografi
yang akurat (Hanik, 2013).
Pemeriksaan dilakukan dengan cara menotolkan sampel pada plat KLT kemudian di elusi
dengan menggunakan n-heksan - aseton (6:4). Kemudian noda hasil KLT dilihat dibawah
penyinaran lampu UV254. Suatu senyawa yang mengandung asam retinoat akan mudah
diamati dibawah penyinaran lampu UV dan akan berfluorensi memberikan bercak gelap
(BPOM, 2011).
Gambar 4.3
Pengamatan bercak dengan nilai Rf yang diperoleh dengan cara membagi jarak tempuh
zat terlarut dengan jarak yang ditempuh pelarut (Khopkar, 2003).
Jadi dalam hasil sementara uji kualitatif asam retinoat dengan metode KLT bahwa sampel
K, M, N dan O mengandung asam retinoat dan pada sampel A, B, C, D, E, F, G, H, I, J dan L
tidak mengandung asam retinoat. Hal ini dapat dilihat dari hasil kromatografi lapis tipis
dengan adanya bercak gelap pada lempeng KLT.
4.4 Hasil Analisis Kualitatif Asam Retinoat dengan Metode Spektrofotometri UV

Gambar 4.4 Hasil Analisis Kualitatif Asam Retinoat dengan Metode Spektrofotometri UV
pada Sampel I, J, K dan L
Gambar 4.5 Hasil Analisis Kualitatif Asam Retinoat dengan Metode
Spektrofotometri UV untuk sampel M, N dan O

Dari hasil uji metode kualitatif spektrofotometri UV sampel K, M, N, dan O memiliki


panjang gelombang yang sama dengan baku standar asam retinoat yaitu pada panjang
gelombang 352 nm hasil ini sesuai dengan literatur BPOM tahun 2011.

4.5 Hasil Analisis Kuantitatif Asam Retinoat dengan Metode Spektrofotometri UV


Tabel 4.4 Standar Baku Asam Retinoat

Tabel 4.4 Standar Baku Asam Retinoat


Konsentrasi Seri Baku
Absorban
Asam Retinoat (ppm)
12,5 0,131
25 0,272
50 0,497
62,5 0,520
75 0,648
100 0,847
Gambar 4.6 Kurva Kalibrasi Larutan Asam Retinoat dengan Berbagai Macam
Konsentrasi Secara Spektrofotometri UV Pada Panjang Gelombang 352 nm.

Dari hasil perhitungan persamaan regresi kurva kalibrasi diatas diperoleh persamaan garis
y = 0,00791 x + 0,05742 dengan koefisien kolerasi (r) sebesar 0,98816. Penentuan kadar
sampel metode regresi linier yaitu metode parametrik dengan variabel bebas (konsentrasi
sampel) dan variabel terikat (absorban sampel) menggunakan persamaan persamaan garis
regresi kurva larutan baku. Konsentrasi sampel dapat dihitung berdasarkan persamaan kurva
baku tersebut (Rohman, 2007).
Untuk penetapan kadar pada sampel K, M, N dan O yang positif mengandung asam
retinoat, maka keempat sampel tersebut dianalisis menggunakan spektrofotometri UV dengan
serapan panjang gelombang 352 nm. Nilai absorbansi pada hasil sampel uji dapat dilihat pada
tabel dibawah ini.

Tabel 4.5 Hasil Analisis Kuantitatif Asam Retinoat dengan Metode Spektrofotometri UV
Untuk menghitung persentase kadar asam retinoat, dilakukan faktor pengenceran sebesar
10 kali, kemudian hasil tersebut dikalikan 10 dimana sampel tersebut dilarutkan dalam 10
mL pelarut. Maka diperoleh kadar persentase Asam Retinoat seperti yang tercantum pada
tabel dibawah ini.
Tabel 4.6 kadar asam retinoat pada sampel
Rata-rata Kadar
Sampel
konsentrasi (%)
K 207,63 0,69 %
M 18,62 0,06%
N 58,19 0,19%
O 84,3 0,28%

Menurut BPOM RI (2008) melalui Peraturan Mentri Kesehatan RI


No.445/MENKES/PER/V/1998, asam retinoat termasuk bahan yang dilarang penggunaannya
sejak tahun 1998. Asam retinoat juga merupakan obat keras yang hanya boleh dibeli dengan
resep dokter (Badan POM, 2006).
Dari penelitian ini diperoleh bahwa sampel O yaitu sampel krim dokter yang diambil dari
salah satu klinik kecantikan yang terkenal di kota bandung, positif mengandung asam
retinoat yang berada dibawah pengawasan dokter serta masih dalam persyaratan yang
ditentukan BPOM sedangkan pada sampel K, sampel M dan N positif mengandung asam
retinoat yang tidak sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan BPOM, yaitu tentang
larangan penggunaan bahan berbahaya asam retinoat pada kosmetik yang dapat
menyebabkan kulit kering, rasa terbakar, teratogenik (cacat pada janin) dan penyebab kanker
kulit.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Hasil kualitatif sampel tidak mengandung merkuri karena pada sampel tidak menunjukan
adanya endapan merah orange seperti hasil dari pembanding dan hanya sampel K, M, N dan O
yang positif mengandung asam retinoat dengan memberikan bercak gelap dibawah lampu
UV254 dan memiliki panjang gelombang yang sama dengan baku standar asam retinoat yaitu
pada panjang gelombang maksimum 352 nm.
2. Analisis kuantitatif secara spektrofotometri UV, kandungan asam retinoat pada krim pemutih
wajah sampel K 0,69%, sampel M 0,06%, sampel N 0,19% dan sampel O yaitu sampel dari
dokter 0,28 %. Kadar yang diperbolehkan dalam resep dokter 0,001-0,4%. Artinya sampel O
masih memenuhi persyaratan, sedangkan sampel K, M dan N tidak memenuhi persyaratan
BPOM, karena mengandung asam retinoat yang dijual bebas.