Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH PERILAKU HEWAN

“RANGSANG PERTANDA DAN RANGSANG PENGGUGAH”

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 4
1. SYAMSUL
2. DIAH PRATIWI NURDIN
3. NURAQIDATUL IZZAH
4. KARMILA MUTTIARA

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
MAKASSAR
2021
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb.
Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya
sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini sebagaimana mestinya. Shalawat dan salam juga tak
lupa pula kami kirimkan kepada baginda nabiullah Muhammad SAW, selaku tokoh reformasi bagi
kita sekalian  yang mengajarkan kepada kebenaran khususnya bagi umat muslim yang telah
menunjukan kepada kita jalan  kebenaran dan kebaikan   terutama yang masih tetap teguh pendirian
sampai hari ini.
Makalah ini dibuat guna memenuhi kewajiban kami selaku mahasiswa, dalam rangka memenuhi 
Tugas Kelompok “Rangsang Pertanda dan Rangsang Penggugah’’. Dalam penyusunan materi ini
kami sadar sepenuhnya atas segala kekurangan dan kesempurnaan sehingga di butuhkan masukan dari
berbagai pihak demi kesempurnaan makalah.
Akhirnya, saya selaku penyusun makalah ini mengucapkan terima kasih atas saran dan
masukannya. Semoga  Allah SWT selalu menyertai dan meridhoi kita bersama dalam upaya ikut
mencerdaskan kehidupan yang berbudi pekerti luhur. Amin Ya Rabbal‘Alamin.
Wassalamu’alaikum wr.wb.

Makassar, 9 April 2021

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
A. Perilaku
B. Rangsangan Penggugah
C. Rangsangan Pertanda
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Semua makhluk hidup, termasuk hewan memiliki ciri-ciri makhluk hidup salah
satunya yaitu iritabilitas/menanggapi rangsang. Dengan adanya kepekaanhewan terhadap
rangsangan baik yang datangnya dari dalam maupun luar, maka hewan tersebut akan
memberikan perilaku/respon yang berbeda-beda sesuai dengan rangsangan yang diberikan.
Suatu perilaku hewan terjadi karena pengaruh genetis (perilaku bawaan lahir atau
“innate behavior”), dan karena akibat proses belajar atau pengalamanyang dapat disebabkan
oleh lingkungan. Pada perkembangan ekologi perilaku terjadi perdebatan antara pendapat
yang menyatakan bahwa perilaku yang terdapat pada suatu organisme karena pengaruh alami
atau karena akibat hasil asuhan atau pemeliharaan. Hal ini merupakan perdebatan yang terus
berlangsung. Dari berbagai hasil kajian, diketahui bahwa terjadinya suatu perilaku disebabkan
oleh keduanya, yaitu genetis atau bawaan dan lingkungan (proses belajar), sehingga terjadi
suatu perkembangan sifat. Semua hewan memiliki perilaku yang berbeda-beda, baik perilaku
bawaannya, yang sudah diajari maupun adaktifnya.VII.VIII.Apabila kita melakukan
eksplorasi terhadap beberapa macam interaksi makhluk hidup, banyak contoh telah
dikemukakan para peniliti pada bidang perilaku hewan. Suatu spesies hewan mampu
berinteraksi dengan lingkungan, hewan tersebut dapat berkomunikasi, bergerak, berinteraksi
secara sosial dan mencari makanan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan perilaku dan pembagian perilaku pada hewan?
2. Apa yang dimaksud dengan rangsangan penggugah?
3. Apa yabg dimaksud rangsangan pertanda?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan perilaku dan pembagian perilaku pada
hewan?
2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan rangsangan penggugah?
3. Untuk mengetahui apa yabg dimaksud rangsangan pertanda?
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. PERILAKU

Perilaku dari aspek biologis diartikan sebagai suatu kegiatan atau aktivitas organisme
atau makhluk hidup yang dapat diamati secara langsung dan tidak langsung. Menurut
Ensiklopedia Amerika, perilaku diartikan sebagai suatu aksi atau reaksi organisme terhadap
lingkungannya. Oleh karena itu perilaku ini terjadi dari proses adanya stimulus dari organisme
terhadap merespons, maka teori Skinner ini disebut teroi “S-O-R” atau Stimulus Organisme
Respons.
Rangsang atau stimulus adalah istilah yang digunakan oleh psikologi untuk
menjelaskan suatu hal yang merangsang terjadinya respon tertentu. Rangsang merupakan
informasi yang dapat diindera oleh panca indra. Teori Behaviorisme menggunakan istilah
rangsang yang dipasangkan dengan respon dalam menjelaskan proses terbentuknya tingkah
laku . Rangsang adalah suatu hal yang datang dari lingkungan yang dapat menyebabkan respon
tertentu pada tingkah laku. Jika rangsang dan respon dipasangkan atau dikondisikan maka akan
membentuk tingkah laku baru terhadap rangsang yang dikondisikan.
1. Stimulus perilaku
Stimulus yang menimbulkan suatu perilaku dibedakan menjadi:

 Stimulus eksternal, misalnya melihat predator.


 Stimulus internal, misalnya rasa lapar.
 Kombinasi keduanya, misalnya stimulus seksual.

2. Tipe perilaku
Perilaku organisme dibedakan menjadi 2 tipe:

 Perilaku bawaan (innate behaviour): Perilaku yang diturunkan, terbentuk tanpa melalui
interaksi dengan lingkungan.
 Perilaku didapat (learned behaviour): Perilaku yang terbentuk oleh pengalaman dan interaksi
dengan lingkungan.
Pada umumnya kebanyakan perilaku memiliki komponen bawaan maupun didapat
Perilaku bawaan
Beberapa perilaku bawaan yaitu:
1. Taksis
Taksis (taxes) adalah pergerakan organisme yang tergantung pada arah stimulus,
mendekati atau menjauhi stimulus. Pergerakan tersebut menuju sesuatu yang dibutuhkan
untuk “survive”, contoh taxis adalah

a) Phototaxis
Juga disebut sebagai reaksi kejutan. Reaksi yang berupa gerak tidak
diarahkan terhadap tempat sumber rangsang. Sebagai contoh gerak paramecium
dalam air dengan konsentrasi asam organik tertentu yang bermacam-macam.
Gerakkan yang dilakukan tidak mempunyai pola tertentu, suatu gerak “trial and
error”.

b) Topotaxis
Pada topotaxis gerakan-gerakan mempunyai suatu arah tertentu.

c) Klinotaxis
Pada klinotaxis gerakan terjadi karena adanya perbedaan perasaan terhadap
intensitas stimuli. Pada taxis positif maka gerakannya menuju ke tempat asal
rangsang., sedangkan bila taxis negatif gerakannya menuju tempat yang menjauhi
asal rangsang.

d) Tropotaxis
Pada tropotaxis gerakan diarahkan pada adanya keseimbangan intensitas
rangsang. Reseptor-reseptor yang terdapat di kedua sisi tubuh menentukan ke arah
mana gerak terjadi. Bila rangsang berasal dari sebelah kiri tubuh, maka makhluk yang
bersangkutan akan menempatkan tubuhnya dalam posisi sedemikian rupa sehingga
intensitas rangsang menjadi seimbang pada sisi tubuh kanan maupun kiri, dengan
kata lain perkataan posisinya menjadi simetris.
Reaksi tropotaxis dapat positif, negatif atau transversal.yang transversal adalah bila
rangsang berasal dari atas atau bawah.pada tropotaxis rangsang diterima oleh reseptor
yang terdapat pada kedua sisi tubuh dan perbandingan intensitas yang menentukan
gerak dari individu maka bila reseptor pada salah satu sisi rusak/ dimatikan, maka
gerak binatang menjadi berputar.

e) Telotaxis
Pada telotaxis lokasi reseptor juga terdapat pada bagian kanan dan kiri tubuh
yang simetris, tetapi keistimewaan telotaxis terjadi fiksasi yang kuat pada sumber
rangsang. Oleh sebab itu bila salah satu reseptor pada indera dirusak, gerak binatang
tetap pada gerak menuju sumber rangsang.
Dikenal adanya telotaxis yang istimewa yaitu gerak yang menggunakan
cahaya/sumber cahaya sebagai kompas. Gerak ini disebut sebagai “menotaxis”. Pada
peristiwa ini gerak tidak lurus ke atau dari sumber cahaya tetapi membuat susut
tertentu terhadap datangnya rangsang. Sebagai contoh adalah gerak semut atau lebah
terhadap matahari. Semut yang berjalan lurus, pulang menuju sarangnya membuat
sudut tertentu dengan matahari. Dalam perjalanannya semut tersebut masuk ke dalam
kotak dan dibiarkan untuk beberapa waktu. Pada waktu semut dilepas posisi matahari
telah berubah, ternyata semut juga merubah arah perjalannya.
Gambar 2.1

2. Refleks
Refleks adalah respons otomatik, involuntar, dan stereotipe terhadap stimulus
mendadak, kebanyakan bersifat protektif. Contoh refleks yaitu:
 Refleks withdrawal: Reaksi untuk menarik tangan seketika jika menyentuh benda yang
sangat panas.
 Refleks peregangan: Refleks menendang tungkai bawah jika tendo di bawah lutut dipukul
dengan palu refleks.

3. Kinesis

Gambar 2.2
Kinesis adalah pergerakan sel atau organisme sebagai respons terhadap suatu stimulus.
Besar respons tergantung kepada densitas stimulus, namun tak tergantung arahnya. Tipe kinesis
antara lain yaitu:

 Ortokinesis: Kecepatan gerak sel atau organisme tergantung kepada densitas stimulus.
 Klinokinesis: Kecepatan pembalikan arah sel atau organisme tergantung kepada densitas
stimulus.

4. Perilaku stereotipe
Perilaku stereotipe (stereotyped behaviour) adalah respons yang Sama terhadap
stimulus yang sama pada berbagai peristiwa. Pola gerak Terkoordinasi yang dihasilkan pada
perilaku stereotipe dinamakan pola Tindakan terfiksasi (fixed action patterns; FAPs).
Contoh FAPs yaitu:

 Perilaku burung sewaktu membuat sarang


 Respons menyusui pada bayi baru lahir
Perilaku Didapat
1. Habituasi

Habituasi (habituation) adalah perilaku yang dipelajari, merupakan hasil pembelajaran dengan
pajanan berulang terhadap suatu stimulus yang menghasilkan penurunan responsnya,
sehingga organisme akhirnya berhenti memberi respons terhadap stimulus dalam
lingkungan.Contohnya beruang secara alamiah takut terhadap manusia, namun apabila ia
mendapat makanan dari manusia dan sering melakukan kontak, ia tidak lagi takut.

Gambar 2.3 Habituasi: Beruang dan manusia


Contoh lain yaitu anak ayam yang melihat bayangan akan bersembunyi ke dalam sarang
karena mengira ada pemangsa. Setelah beberapa waktu ia akan belajar mengabaikan
bayangan karena ternyata tak berbahaya.

Gambar 2.4 Habituasi: Anak ayam dan bayangannya

2. Imprinting behavior
Imprinting behaviour adalah pembelajaran yang terjadi pada periode singkat yang bersifat
kritis dalam kehidupan subjek, biasa segera setelah lahir. Benda pertama yang dilihat makhluk
baru lahir akan dicap (di-imprint) sebagai “ibu”-nya. Contohnya yaitu anak ayam akan mengikuti
“ibu” kemana saja

Gambar 2.5 Imprint: Anak ayam dan ibunya

3. Insight Behavior
Insight behaviour adalah pembelajaran dengan kemampuan memahami masalah, bebas
dari trial and error. misalnya, pada percobaan dengan simpanse yang terkurung dalam kerangkeng
berjeruji dan di luar kerangkeng, di luar jangkauan lengan Simpanse terdapat buah-buahan. Dalam
jangkuan lengan simpanse terdapat tongkat kayu. Simpanse akan menggunakan tongkat kayu
untuk meraih buah-buahan.
4. Classical Conditioning
Classical conditioning adalah perilaku yang dalam keadaan normal dipicu oleh stimulus
tertentu, menjadi dipicu oleh stimulus pengganti yang semula tak berkaitan dengan perilaku
tersebut. Classical conditioning mula-mula ditemukan oleh Pavlov. Pada percobaan Pavlov,
anjing yang diberi makan setiap kali disertai bunyi bel akan mengeluarkan air liur untuk
makanannya. Setelah beberapa kali perlakuan demikian, maka bunyi bel saja tetap akan akan
menghasilkan pengeluaran air liur walaupun makanan tidak ada.
Di sini pemberian stimulus normal (makanan) yang berulang kali disertai stimulus
abnormal (bunyi bel) dengan respons pengeluaran air liur, lama kelamaan menyebabkan stimulus
abnormal saja (bunyi bel) akhirnya dapat menghasilkan respons (air liur).

Gambar 2.6 Classical conditioning: Anjing Pavlov

5. Operant Conditioning
Operant conditioning adalah pembelajaran dengan mengasosiasikan tindakan perilaku
tertentu dengan penguatan (reinforcement). Pada classical conditioning, hadiah atau hukuman
(reward or Punishment) dikendalikan oleh pihak lain, sedangkan pada operant Conditioning ada
tidaknya hadiah ditentukan oleh perilaku itu sendiri.
Contohnya, pada percobaan Skinner, tikus yang menginjak pedal bel untuk lampu hijau akan
mendapat makanan (reward), sebaliknya tikus yang mendapat menginjak pedal untuk lampu merah
akan mendapat kejutan listrik (punishment). Setelah mengalami beberapa reward dan punishment,
tikus akan belajar untuk menginjak pedal lampu hijau dan menghindari pedal lampu merah.
Gambar 2.7 Operant conditioning: Percobaan Skinner

B. RANGSANG PENGGUGAH

Penyelidikan mengenai “rangsang penggugah” belum banyak dilakukan.


Diperkirakan bahwa “rangsang penggugah” bersifat menurunkan nilai ambang CEM. Ini
berati bahwa rangsang penggugah memberi peluang untuk bekerjanya faktor-faktor lain yang
mempengaruhi keadaan fisiologi, juga faktor-faktor pembebas bekerja lebih baik oleh karena
posisinya lebih memungkinkan. Mengingat bahwa rangsang penggugah bekerjanya
menurunkan nilai ambang maka diperkirakan bahwa rangsang tidak langsung mempunyai
pengaruh, dengan perkataan lain pengaruhnya dalam jangka panjang. Misalnya perubahan
cuaca, perubahan panjang hari. Sebagaimana diketahui pada beberapa binatang perubahan
semacam itu menimbulkan nafsu untuk mengadakan migrasi.
Dapat terjadi bahwa nilai ambang dapat sedemikian rendahnya sehingga terjadi yang
disebut “Vacum activity”. Terjadi gerakan yang tidak menentu. Kejadian lain yang dapat
terjadi adalah tidak terjadinya reaksi karena adanya rangsang yang berulang-ulang. Sebagai
contoh dapat dikemukakan reaksi anak burung pada waktu kita hadapkan pada benda tiruan,
semula anak-anak burung bereaksi positif seperti halnya bila didatangi induknya. Paruhnya
dibuka sambil mengeluarkan suara yang khas. Gerakan ini pula didukung oleh gerakan
sayapnya yang gemetaran. Tetapi bila rangsangan yang kita berikan terus-menerus ternyata
anak-anak burung tersebut tidak lagi mereaksi rangsangan tersebut.
Bila disebut mengenai nilai ambang yang dapat naik atau turun karena pengaruh
rangsang penggugah maka diperlukan adanya rangsangan minimum yang memungkinkan
terjadinya reaksi misalnya pada perilaku seksual.
Kejadian ini membawa orang pada pemikiran tentang adanya peranan faktor dalam,
yang sementara ini diduga ada 3 macam faktor yaitu sistem hormon. Kerja hormon
dihepotesakan secara langsung terhadap mekanisme CEM. Untuk selanjutnya dari CEM ada
aliran impuls ke mekanisme saraf motoris. Impuls tersebut tidak langsung berpengaruh pada
kerja efektor (otot atau kelenjar tubuh) tetapi mendapat suatu penghalang, dan barulah
dilangsungkan keefektor apabila penghalang tersebut disingkirkan. Dalam hal ini IRM
memegang peranan dalam menyingkirkan penghalang setelah diaktivasi oleh rangsang
pertanda (sign stimuli).
Sebagai contoh mengenai kerja hormon dalam perilaku binatang dapat ditunjukkan
kerja dari kelenjar hipophisa yang juga disebut sebagai “the master gland” yang bekerja pada
berbagai kelenjar endokrin yang lain. Kelenjar ini terdapat pada hypotalamus dan di rangsang
secara langsung oleh otak. Kelenjar hipophisa menghasilkan hormon tropic yang
mempengaruhi kerja kelenjar lain. Satu diantara hormon tropic adalah hormon gonadotropic
yang berperan dalam pelepasan hormon kelamin. Hormon kelamin ini menyebabkan
perubahan pada fungsi organ kelamin primer maupun sekunder.
Sebaliknya hormon kelamin dapat berpengaruh pada otak sehingga terjadi rangsangan
perilaku kelamin. Hal ini terjadi pada kucing betina yang dikebiri ovariumnya maka binatang
tersebut akan menunjukkan lagi perilaku kelamin bila disuntik dengan estrogen di daerah
hipothalamus. Kastrasi pada binatang jantan yang mud mencegah pertumbuhan organ kelamin
baik pada yang jantan maupun yang betina. Kastrasi pada binatang yang telah dewasa dapat
menghentikan perilaku kelamin pada vertebrata tertentu termasuk reptilia, amphibia sebagian
besar burung dan mamalia tingkat rendah seperti yang terjadi pada tikus. Pada kucing jantan
dan anjing serta pada primata, perilaku seksual masih berlangsung dalam waktu yang lama,
meskipun sudah mengalami kastrasi. Dalam hubungan ini rupanya cortex cerebri mempunyai
peranan yang dominan.
Telah disinggung bahwa rangsangan indera dalam mempunyai peranan dalam
perilaku binatang. Rangsangan otot pada lambung menyebabkan terjadinya rasa lapar.
Keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya perilaku memburu mangsa. Faktor pengaruh
susunan saraf pusat dapat ditunjukkan pada adanya perilaku pada anjing pemburu. Berbeda
dengan anjing biasa dimana berlaku peristiwa seperti tersebut, dalam keadaan kenyang karena
rangsangan otot berada di bawah nilai ambang yang memungkinkan terjadinya perilaku maka
anjing tersebut tidak akan memburu mangsanya. Tetapi pada anjing pemburu, meskipun dalam
keadaan kenyang, anjing tersebut masih mau memburu mangsanya. Pengaruh susunan saraf
pusat dalam hal ini lebih menentukan. Aktivitas hampa (vacum activity) diduga juga
dipengaruhi oleh susunan saraf pusat.

C. RANGSANGAN PERTANDA
Istilah rangsangan tanda juga dikenal sebagai pelepas , adalah ciri penentu dari
rangsangan yang menghasilkan tanggapan. Rangsangan tanda sering ditemukan saat
mengamati pola tindakan tetap (FAP) yang merupakan perilaku bawaan dengan sedikit variasi
dalam cara tindakan dieksekusi. Beberapa contoh rangsangan tanda dapat dilihat melalui
pengamatan tingkah laku hewan di lingkungan alaminya. Para peneliti telah masuk ke
lingkungan alami ini untuk menilai rangsangan dengan lebih baik dan menentukan fitur utama
dari mereka yang menghasilkan pola tindakan tetap. Para ilmuwan juga mengamati
eksploitasi langsung rangsangan tanda di alam di antara berbagai spesies burung.
Pola aksi tetap dilepaskan karena rangsangan eksternal tertentu.  Rangsangan ini
adalah satu atau sekelompok kecil atribut dari suatu objek, bukan objek secara
keseluruhan.  Atribut ini mungkin termasuk warna, bentuk, bau, dan suara. 
Model berlebihan dari atribut ini disebut rangsangan supernormal .  Stimulus
supernormal menyebabkan respons yang berlebihan.  Rangsangan supernormal lebih efektif
dalam melepaskan respons daripada rangsangan alami. 
Stimulus eksternal yang memunculkan pola tindakan tetap disebut stimulus tanda jika
rangsangan berasal dari lingkungan.  Padahal, pelepas berasal dari spesiesnya sendiri.
Perkembangan penting, terkait dengan nama Konrad Lorenz meskipun mungkin lebih
karena gurunya, Oskar Heinroth, adalah identifikasi pola aksi tetap (FAP). Lorenz
mempopulerkan FAP sebagai respons naluriah yang akan terjadi secara andal dengan adanya
rangsangan yang dapat diidentifikasi yang disebut rangsangan tanda atau "melepaskan
rangsangan". FAPs sekarang dianggap sebagai urutan perilaku naluriah yang relatif invarian
di dalam spesies dan hampir pasti berjalan sampai selesai (Campbell, 1996). Salah satu
contoh dari releaser adalah gerakan paruh dari banyak spesies burung yang dilakukan oleh
anak burung yang baru menetas, yang merangsang ibu untuk memuntahkan makanan untuk
anak-anaknya (Bernstein, 2011). Contoh lain adalah studi klasik oleh Tinbergen pada perilaku
retrieval-telur dan efek dari "stimulus supernormal" pada perilaku angsa abu-abu (Tinbergen,
1951). Salah satu penyelidikan semacam ini adalah studi tentang tarian waggle ("bahasa
tarian") dalam komunikasi lebah oleh Karl von Frisch (Buchmann, 2006). Lorenz kemudian
mengembangkan teori evolusi komunikasi hewan berdasarkan pengamatannya tentang pola
tindakan tetap dan keadaan di mana mereka diekspresikan. 
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Rangsang atau stimulus adalah istilah yang digunakan oleh psikologi untuk menjelaskan
suatu hal yang merangsang terjadinya respon tertentu. Rangsang merupakan informasi
yang dapat diindera oleh panca indra. Teori Behaviorisme menggunakan istilah rangsang
yang dipasangkan dengan respon dalam menjelaskan proses terbentuknya tingkah laku .
Rangsang adalah suatu hal yang datang dari lingkungan yang dapat menyebabkan respon
tertentu pada tingkah laku. Jika rangsang dan respon dipasangkan atau dikondisikan maka
akan membentuk tingkah laku baru terhadap rangsang yang dikondisikan.
2. Penyelidikan mengenai “rangsang penggugah” belum banyak dilakukan. Diperkirakan
bahwa “rangsang penggugah” bersifat menurunkan nilai ambang CEM. Ini berati bahwa
rangsang penggugah memberi peluang untuk bekerjanya faktor-faktor lain yang
mempengaruhi keadaan fisiologi, juga faktor-faktor pembebas bekerja lebih baik oleh
karena posisinya lebih memungkinkan. Mengingat bahwa rangsang penggugah
bekerjanya menurunkan nilai ambang maka diperkirakan bahwa rangsang tidak langsung
mempunyai pengaruh, dengan perkataan lain pengaruhnya dalam jangka panjang.
Misalnya perubahan cuaca, perubahan panjang hari. Sebagaimana diketahui pada
beberapa binatang perubahan semacam itu menimbulkan nafsu untuk mengadakan
migrasi.
3. Istilah rangsangan tanda juga dikenal sebagai pelepas , adalah ciri penentu dari
rangsangan yang menghasilkan tanggapan. Rangsangan tanda sering ditemukan saat
mengamati pola tindakan tetap (FAP) yang merupakan perilaku bawaan dengan sedikit
variasi dalam cara tindakan dieksekusi.
Lorenz mempopulerkan FAP sebagai respons naluriah yang akan terjadi secara andal
dengan adanya rangsangan yang dapat diidentifikasi yang disebut rangsangan tanda atau
"melepaskan rangsangan". FAPs sekarang dianggap sebagai urutan perilaku naluriah yang
relatif invarian di dalam spesies dan hampir pasti berjalan sampai selesai

B. Saran
Meskipun penulis menginginkan kesempurnaan dalam penyusunan makalah ini tetapi
kenyataannya masih banyak kekurangan yang perlu penulis perbaiki. Hal ini dikarenakan
masih minimnya pengetahuan yang penulis miliki. Oleh karena itu kritik dan saran yang
membangun dari para pembaca sangat penulis harapkan untuk perbaikan ke depannya.
DAFTAR PUSTAKA

Gunardi Djoko Winarno Sugeng P. Harianto. 2018. Perilaku Satwa Liar (Ethologi). Bandar Lampung:
CV. Anugrah Utama Raharja
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Rangsang
https://en.wikipedia.org/wiki/Fixed_action_pattern
Jurusan Pendidikan biologi. 2011. Bahan Ajar Perilaku Hewan Bagian 2. Fakultas Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar