Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

ACARA 2
“ BERANGKAI DAN PINDAH SILANG “

Disusun oleh :

Nama : Widya Ningsih. Ramli


Nim : 2011201007
Kelompok : 4 ( empat )
Asisten : Hamiawati Qoimatu Dini Al Faruqi
Hari, Tanggal : Rabu, 7 April 2021
Program Studi : S1- Bioteknologi
Fakultas : Sains Dan Teknologi

PROGRAM STUDI BIOTEKNOLOGI S-1


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA

YOGYAKARTA

2021
ACARA 2
BERANGKAI DAN PINDAH SILANG

A. TUJUAN
Meniru terjadinya pindah silang dan mengetahui akibat-akibatnya

B. LANDASAN TEORI
Peristiwa berangkai pada tumbuhan pertama kali diketahui oleh G.
H. Collins dan J. H. Kempton pada tanaman jagin di tahun 1911. Penelitian
Collins dan Kempton tersebut menyatakan bahwa gen (wxa) endosperm
berlilin terangkai dengan (c) warna aleuron yang selanjutnya diketahui pula
bahwa pada makhluk lain termasuk manusia juga ada yang mengalami
peristiwa berangkai (Mustami, 2013).
Berangkai (linkage) adalah suatu peristiwa terdapatnya dua atau
lebih gen dalam sebuah kromosom. Berangkai ada 2 macam yaitu berangkai
sempurna dan berangkai tidak sempurna. Berangkai sempurna terjadi apabila
tidak ada pindah silang antara gen-gen pada satu kromosom, sedangkan
berangkai tidak sempurna terjadi bila ada pindah silang (crossing over) antara
gen-gen dalam satu kromosom (Mustami, 2013).
Gen-gen yang terangkai pada satu kromosom biasanya letaknya
tidak berdekatansatu dengan lainnya, 
sehingga gengen itu dapat mengalami perubahan letak yang disebabkan
karena adanya penukaran segmen dari kromatid-kromatid pada sepasang
kromosom homolog. Peristiwa ini sering disebut dengan pindah silang
(crossing over ) (Khikmah et al., 2016).

Pindah silang atau crossover merupakan sebuah proses yang


membentuk kromosom baru dari dua kromosom induk dengan
menggabungkan bagian informasi dari masing-masing kromosom. Kromosom
baru dihasilkan dari crossover yang disebut anak kromosom. Pindah silang
adalah suatu peristiwa pertukaran segmen-segmen dari kromatid-kromatid
bukan kakak beradik (non sister chromatids). Pindah silang dibedakan atas
pindah silang tunggal yang terjadi pada satu tempat dan pindah silang ganda
yang terjadi di dua tempat. Peristiwa pindah silang dapat terjadi pada saat
profase I meiosis I dan akan menghasilkan gamet tipe parental (berasal dari
kromatid yang tidak mengalami pindah silang) dan gamet tipe rekombinasi
(berasal dari kromatid yang yang mengalami pindah silang). (Alfandianto et
al., 2017).
Fenomena pautan yang disadari oleh kenyataan bahwa faktor (gen)
adalah bagian dari kromosom, akan merupakan perangkat alat evaluasi kita
terhadap background image hukum pemisahan Mendel dan hukum pilihan
bebas Mendel yang mula-mula (Natsir, 2013 dalam Hardiyanto et al., 2017).
Pautan (linkage) sesungguhnya merupakan keadaan yang normal,faktor-
faktor yang terdapat pada satu kromosom memang terangkai satu sama lain
(melalui ikatan kimia). Dalam hubungan ini pula jelas terlihat bahwa jumah
pautan pada makhluk hidup diploid adalah sebanyak jumlah pasangan
kromosom (Sofiari, 2009 dalam Hardiyanto et al., 2017 ). Ketidak berhasilan
persilangan umumnya disebabkan oleh faktorteknis dan faktor iklim saja.
Keragaman perkarakter yang terbentuk antara lainwarna daun, warna batang,
bentuk daun, warna stolon, gerigi daun, ketebalan daun (Hongrun, 2013
dalam Hardiyanto et al., 2017).
Pindah silang dipengaruhi beberapa faktor antara lain : 1.
Temperatur. Temperatur yang kurang atau lebih dari temperature biasanya
dapat memperbesar kemungkinan terjadinya pindah silang 2. Umur. Semakin
tua suatu individu, maka pindah silang yang terjadi semakin berkurang 3. Zat
kimia tertentu dapat memperbesar kemungkinan terjadinya pindah silang 4.
Penyinaran dengan sinar-X juga dapat memperbesar kemungkinan terjadinya
pindah silang 5. Jarak antara gen-gen yang berangkai. Makin jauh letak satu
gen dengan gen lainnya, maka makin besar kemungkinan terjadi pindah
silang
Pada proses pindah silang terdapat beberapa cara diantaranya
dengan cara menentukan titik poin, biasanya titik poin tersebut adalah
banyaknya gen dalam satu individu (orang tua) dibagi menjadi dua bagian
sama panjang dan saling di tukarkan antara dua orang tua tersebut, sedangkan
pada program kali ini pindah silang yang dilakukan adalah dengan cara
memilih titik (gen) secara acak dari kedua orang tua yang nantinya nilai
tersebut akan di tukarkan dengan batasan 4 buah titik atau gen dari setiap
orang tua, akan tetapi ada kemungkinan ketika selesai melakukan pindah
silang nilai fitness dari dua anak (hasil pindah silang) memiliki nilai fitness
yang lebih buruk dari kedua orang tuanya, maka dari itu jika dalam program
kali ini jika nilai fitness dari kedua anak hasil pindah silang memiliki nilai
fitness yang lebih buruk, maka kedua anak sama dengan kedua orang tua. Hal
ini dilakukan agar tidak terjadi looping yang sia-sia untuk menemukan nilai
yang paling optimal atau dengan kata lain setiap looping yang dilakukan
bernilai lebih baik atau sama dengan sebelumnya hingga program ini
menemukan nilai yang konstan atau tidak berubah setelah melakukan
banyaknya looping sesuasi dengan yang diinginkan (Otong, et al., 2019).
C. METODOLOGI
1. Bahan
Bahan yang di gunakan pada praktikum ini adalah lilin lembek (plastisin)
2. Cara kerja
Siapkan plastisin lalu buatlah bentuk benang (strand). Sediakan 2 strand
dari warna yang sama dan 2 strand dari warna lainnya. Selanjutnya berilah
tanda sentromer dengan menggunakan lilin yang berwarnanya sama
dengan warna sepasang kromatid. Selanjutnya buatlah konfigurasi
terjadinya pindah silang mengikuti ketentuan seperti pada table 1 di
panduan, dan buatlah langsung laporannya berupa gambar-gambar di
dalam buku praktikum. Nps atau nilai (presentase) pindah silang
menggambarkan kemungkinan munculnya gamet tipe cross over
(rekombinan yang dapat di hitung dengan rumus : Nps = jumlah tipe
gamet rekombinan x 100%

Total tipe gamet yang dihasilkan


D. HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 1. Hasil pindah silang

No Macam pindah Gambar kromosom dalam Presentase gamet tipe


silang (PS) gamet crossover
1. PS tunggal (2-3) Gamet pindah silang =50%
Gamet parental = 50%
Gamet rekombinasi =50%

2. PS ganda (2-3, 2- Gamet pindah silang =50%


3) Gamet parental = 50%
Gamet rekombinasi =50%

3. PS ganda (2-3, 2- Gamet pindah silang =75%


4) Gamet parental = 25%
Gamet rekombinasi =75%

4. PS ganda (2-3, 1- Gamet pindah silang =100%


4) Gamet parental = 0%
Gamet rekombinasi =100%

5. PS ganda (1-3, 2- Gamet pindah silang =100%


4, 2-3) Gamet parental = 50%
Gamet rekombinasi =50%

Pindah silang terjadi pada proses pembelahan meiosis tahap 1. Pada


fase profase 1, kromosom-kromosom homolog membentuk
pasanganpasangan yang dinamakan bivalen. Proses berpasangan kromosom
homolog disebut sinapsis. Kemudian setiap anggota bivalen membelah
memanjang sehingga terbentuk 4 kromatid. Keempat kromatid pada satu
bivalen dinamakan tetrad. Selama sinapsis inilah dapat terjadi pindah silang
(crossing over). Pindah silang merupakan peristiwa penukaran segmen dari
kromatid dalam sebuah tetrad dan pindah silang terjadi antara kromatid-
kromatid yang tidak berpasangan. Proses terakhir ini meliputi pemecahan dan
penggabungan kembali hanya dua dari keempat benang pada titik mana saja
pada kromosom tersebut. Adanya pindah silang dapat memperbesar variasi
genetik keturunan yakni bila 2 gen atau lebih berada dalam satu kromosom,
maka pindah silang dapat menghasilkan gamet yang memiliki gen yang pada
awalnya tidak ada, karena terjadi pindah silang maka menghasilkan gamet
yang memiliki kromosom dari tipe rekombinan (Effendi, 2020).
Pada praktikum ini langkah pertama yang dilakukan adalah
membuat empat strand kromosom dari lilin lembek dengan dua strand
berwarna merah dan dua strand lainnya berwarna biru. Keadaan ini
menyerupai keadaan tetrad kromatid pada kromosom homolog. Kemudian
membuat tanda dengan lilin lembek yang berbentuk bulatan sebagai lokasi
sentromer dan gen-gen pada tiap strand dengan warna yang berbeda. Dibuat
konfigurasi terjadinya pindah silang dengan ketentuan : pindah silang tunggal
(2-3), pindah silang ganda (2-3 ; 2-3), pindah silang ganda (2-3 ; 2-4), pindah
silang ganda (2-3 ; 1-4), pindah silang ganda (1-3 ; 2-4 ; 2-3). Lalu
menghitung persen tipe rekombinan yang terjadi dari tiap ketentuan tersebut
dengan rumus nilai pindah silang.
Yang pertama yaitu pindah silang tunggal (2-3). Pindah silang ini
dilakukan dengan menyilangkan secara tunggal kromosom nomor 2 dan
nomor 3 dengan Nomor kromosom diurutkan dari atas ke bawah (nomor 1, 2,
3, 4). Pada percobaan pertama ini, kromatid 1 dan kromatid 2 merupakan
sister kromatid serta kromatid 3 dan kromatid 4 juga merupakan sister
kromatid. Pindah silang tunggal terjadi pada kromatid 2 dan kromarid 3 yang
mana keduanya bukanlah sepasang kromatid (sister kromatid). Hasil dari
pindah silang tunggal ini menghasilkan 4 macam gamet. Dua macam gamet
memiliki gen-gen yang sama dengan gen-gen yang dimiliki induk atau
parental, sehingga dinamakan gamet tipe parental. Dua gamet lainnya
merupakan gamet-gamet baru yang terjadi akibat adanya pindah silang atau
disebut dengan tipe rekombinan. Berdasarkan pindah silang tunggal (2-3)
diketahui presentase dari gamet yang didapat yang sama dengan ciri gamet
parental sebesar 50% dan gamet rekombinan 50%.
Pada uji kedua yaitu dilakukan pindah silang ganda (2-3, 2-3) yang
artinya pindah silang antara kromosom 2 dan kromosom 3, kemudian
dipindahsilangkan lagi antara kromosom2 dan kromosom 3. Pindah silang
ganda merupakan pindah silang yang terjadi pada lebih dari satu tempat. Jika
pindah silang ganda (double crossing over) berlangsung diantara dua buah
gen yang terangkai, maka terjadi pindah silang ganda ini tidak akan tampak
pada fenotip, sebab gamet-gamet yang dibentuk hanya dari tipe parental saja
atau dari tipe rekombinasi atau tipe parental dan tipe rekombinasi akibat
pindah silang tunggal. Akan tetapi, jika diantara gen A dan gen B masih ada
gen ketiga, misalnya gen C , maka terjadinya pindah silang gandaantara gen
A dan gen B akan tampak. Pindah silang ganda yang terjadi pada kromosom
(2-3, 2-3) membentuk hasil kromosom dengan 4 macam gamet yaitu kromatid
1, kromatid 2, kromatid 3, dan kromatid 4. Dengan demikian hasil yang
diperolah adalah 50% dari tipe parental dan 50% dari tipe rekombinan.
Selanjutnya yang ketiga adalah pindah silang ganda pada
kromosom (2-3, 2-4) yang mana dipindah silang pertama pada kromosom 2
dan kromosom 3 kemudian dipindah silang lagi pada kromosom 2 dan
kromosom 4. Sehingga menghasilkan 4 gamet. Gamet yang terbentuk antara
lain kromatid 1 ,kromatid 2,kromatid 3 dan kromatid4. Dari 4 macam gamet
yang terbentuk 3 gamet memiliki tipe rekpmbinan dan satu gamet memiliki
tipe parental. Pada kromatid 1 masih memiliki gamet dengan tipe parental ,hal
ini dikarenakan kromatid 1 tidak mengalami pindah silang .Sedangkan pada
kromatid lainnya,yaitu kromatid 2 ,kromatid 3 dan kromatid 4 yang
mengalami pindah silang,hasilnya memiliki gamet dengan tipe
rekpombinan.Sehingga dapat diketahui hasil dari pindah silang ganda pada
kromosom (2-3 , 2-4).Memiliki 25 % gamet dengan tipe parental dan 75%
gamet dengan tipe rekombinan.
Pada kegiatan ke 4 dilakukan pindah silang pada kromosom ( 2-3,1-
4). Kali ini dilakukan uji silang yang melibatkan seluruh kromatid ,yaitu pada
pindah silang pertama antara kromatid 2 dan kromatid 3, selanjutnya pindah
silang terjadi pada kromatid 1 dengan kromatid 4. Pada pindah silang ini ,
dihasilkan gamet pada kromatid1,kromatid 2, kroatid 3 dan kromatid 4,
dengan demikian hasi pindah silang ganda (2-3,1-4) membentuk 4 gamet baru
dengan tipe rekombinan sehingga diketahui bahwa hasilnya memiliki
presentase tipe rekombinan 100% sedangkan tipe parentalnya 0%. Semakin
banyak kroomosom yang dipindahsilangkan maka semakin tinggi pula
presentase gamet tipe rekombinannya.
Kegiatan pindah silang ke 5, dilakukan pindah silang ganda pada
kromosom (1-3, 2-4, 2-3) . Pindah silang ini terjadi pada 3 tempat.Pindah
silang pertama dilakukan pada kromosom 1 dan kromosom 3,kemudian pada
kromosom 2 dan kromosom 4 dan yang terakhir pindah silang pada
kromosom 2 dan kromosom 3. Gamet yang dihasilkan pada pindah silang ini
adalah gamet pada kromatid 1, kromatid 2, kromatid 3 dan kromatid 4. Gamet
ini terdiri atas gamet dengan tipe rekombinan 50% dan tipe parental nya 50
%, dengan semua gamet merupkan hasil dari pindah silang (100% gamet tipe
pindah silang).
E. KESIMPULAN

Pindah silang mengakibatkan terbentuknya gamet tipe parental dan


tipe rekombinan. Pindah silang dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu
pindah silang tunggal dan pindah silang ganda. Pindah silang tunggal terjadi
pada satu tempat , misalnya pindah silang tunggal 2-3, menghasilkan gamet
tipe pindah silang sebesar 50%. Pinda silang ganda terjadi pada lebih dari 1
tempat. Pindah silang ganda 2-3,2-3 menghasilkan gamet tipe pindah silang
sebesar 50%, pindah silang ganda 2-3,2-4 menghasilkan gamet tipe pindah
silang sebesar 75%, pindah silang ganda 2-3,1-4 menghasilkan gamet tipe
pindah silang sebesar 100%,pindah silang ganda 1-3,2-4,2-3 menghasilkan
gamet tipe pindah silang sebesar 100%.
F. DAFTAR PUSTAKA

Alfandianto, Alex, Yohanes Nugroho, Widya Setiafindari. 2017.


Penjaadwalan
Produksi Menggunakan Pendekatan Algoritma Genetika Di PT
Pertanian (Persero) Cabang D.I. Yogyakarta. Jurnal Disprotek. 8 (2):
1-7.
Effendi, Yunus. 2020. Buku Ajar Genetika Dasar. Jawa Tengah,
Rumah Cinta
Hardiyanto, Yoga, Dian Oktaviani, Isnaeni Nur Khasanah. 2017. Laporan
Praktikum Pautan Dan Pindah Silang. Jurusan Biologi, Fakultas
Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri
Semarang.
Khikmah, Fajar Faozathul, Andi Prasetyo, Nia Widiastuti. 2016. Berangkai
Dan Pindah Silang. Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika Dan
Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta.
Mustami, M.K. 2013. Genetika. Universitas Islam Negeri Alauddin,
Makassar.
Otong, Muhammad, Arif Nurrohman. 2019. Rekonfigurasi Jaringan
Distribusinmenggunakan Algoritma Genetika Di Interkoneksi
Penyulang Pakupatan Dan Palima Pada Beban Prioritas Untuk
Mengurangi Rugi Daya Dan Jatuh Tegangan. Jurnal Ilmiah Setrum.
8
(2): 158-165.

Anda mungkin juga menyukai