Anda di halaman 1dari 7

Pengertian dan Karakteristik ITF

Inflation Targeting Framework (ITF) merupakan kerangka kerja kebijakan moneter yang secara
transparan dan konsisten diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi beberapa tahun ke depan yang
secara eksplisit ditetapkan dan diumumkan.

Empat prinsip pokok rezim kebijakan moneter dengan ITF:

1. Memiliki sasaran utama, yaitu Sasaran Inflasi

Sasaran Inflasi, yang dijadikan sebagai prioritas pencapaian (overriding objective) dan acuan
(nominal anchor) kebijakan moneter.

2. Bersifat antisipatif (preemptive atau forward looking) dengan mengarahkan respon kebijakan
moneter saat ini untuk pencapaian sasaran inflasi ke depan.

3. Mendasarkan pada analisis, prakiraan, dan kaidah kebijakan tertentu dalam menetapkan
pertimbangan respon kebijakan moneter (constrained discretion).

4. Sesuai dengan prinsip-prinsip tata kelola yang sehat (good governance), yaitu berkejelasan
tujuan, konsisten, transparan, dan berakuntabilitas.

Inflation Targeting adalah strategi kebijakan moneter yang meliputi lima komponen
utama:

 Pemberitahuan publik tentang target angka pencapaian jangka menengah untuk inflasi.
 Persetujuan institusioanal untuk kestabilan harga sebagai tujuan utama dari kebijakan
moneter, untuk tujuan lain itu setelahnya.
 Strategi informasi termasuk dalam pemilihan banyak variabel, dan tidak hanya agregat
moneter atau nilai tukar yang digunakan untuk memutuskan pengaturan dari instrumen
kebijakan.
 Meningkatkan transparansi dari strategi kebijakan moneter siap berkomunikasi dengan
masyarakat dan pasar tentang rencana, sasaran dan keputusan dari kegiatan moneter.
 Meningkatkan akuntabilitas dari bank sentral untuk pencapaian sasaran inflasi.
Konsep dasar kebijakan moneter dalam kerangka Inflation Targeting adalah:

1. Sasaran Inflasi

Kerangka Inflation Targeting dimulai dengan penetapan dan diumumkannya sasaran


inflais yang ingin dicapai oleh bank sentral. Penetapan ini tentu saja mempertimbangkan
berbagai faktor, terutama kerugian social. Selain itu, sasaran inflasi tersebut dapat dipergunakan
sebagai pedoman dari pelaksanaan kebijakan moneter bank sentral.

2. Kebijakan moneter forward looking

Dengan sasaran inflasi sebagai pedoman, perumusan kebijakan moneter diarahkan untuk
mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan. Mengingat adanya tenggat waktu dari pengaruh
kebijakan moneter terhadap inflasi maka kebijakan moneter yang dilakukan sekarang merupakan
langkah yang bersifat antisipatif, bukan reaktif atas terjadinya tekanan inflasi dimasa yang akan
datang.

3. Transparansi

Penerapan Inflation Targeting menuntut transparansi bank sentral. Transparansi tersebut


diperlukan agar ekspektasi inflais masyarakat yang terbentuk sesuai dengan yang diinginkan oleh
bank sentral.

4. Akuntabilitas dan Kredibilitas

Mengumumkan target inflasi secara eksplisit terhadap publik merupakan berarti melekat
akuntabilitas, karena bank sentral harus mempertanggungjawabkan target tersebut terhadap
publik. Kredibilitas bank sentral dengan demikian akan sangat tergantung pada komitmennya
dalam mencapai target inflasi yang ditetapkan.

Prinsip-prinsip yang mendasari kerangka kerja Inflation Targeting adalah bahwa sasaran
akhir dari kebijakan moneter hanyalah mencapai dan memelihara laju inflasi yang rendah dan
stabil. dalam konteks ini diasumsikan bahwa:

(i) laju inflasi yang tinggi adalah suatu bentuk biaya yang harus ditanggung oleh 24
perekonomian berupa pertumbuhan ekonomi yang rendah dan menurunnya dari nilai riil
pendapatan nasional, (ii) Kebijakan moneter, melalui pengendalian uang beredar, tidak dapat
mempengaruhi pertumbuhan output riil dalam jangka panjang, tetapi dapat dalam jangka pendek,
(iii) pengendalian inflasi dengan menggunakan kebijakan moneter adalah dalam rangka
stabilisasi dan penurunan laju inflasi dalam jangka panjang bukan dalam jangka pendek. Hal
inilah yang membuat atau menjadi alasan dasar bank-bank sentral merubah kebijakannya
menjadi kebijakan Inflation Targeting.

Kebijakan Inflation targeting tersebut dimaksudkan agar penanganan dalam masalah


inflasi tidak lagi bersifat reaktif sebagaimana pada kebijakan moneter pra penerapan inflation
targeting, hal ini seringkali menimbulkan keterlambatan dalam penanganan inflasi. Pada
kebijakan inflation targeting sekarang ini variable-variabel ekonomi seperti tingkat suku bunga
dan PDB lebih ditekankan bersifat antisipatif sehingga penanganan dapat diambil terlebih dahulu
apabila suatu waktu terjadi gejolak inflasi.

Alasan pemilihan ITF

1. Pemilihan kerangka kerja kebijakan moneter IT didasarkan atas beberapa pertimbangan


sebagai berikut :

 Memenuhi prinsip-prinsip kebijakan moneter yang sehat (sound).


 Sesuai dengan amanat UU No. 23/1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah
diubah dengan UU No. 3/2004.
 Hasil riset menunjukkan semakin sulit pengendalian besaran moneter.
 Pengalaman empiris negara lain menunjukkan bahwa negara yang menerapkan ITF
berhasil menurunkan inflasi tanpa meningkatkan volatilitas output.
 Dapat meningkatkan kredibilitas BI sebagai pengendali inflasi melalui komitmen
pencapaian target.

2. Penerapan ITF bukan berarti bahwa bank sentral hanya menaruh perhatian pada inflasi saja,
dan tidak lagi memperhatikan pertumbuhan ekonomi maupun kebijakan dan perkembangan
ekonomi secara keseluruhan. Juga, ITF bukanlah suatu kaidah yang kaku (rule) tetapi sebagai
kerangka kerja menyeluruh (framework) untuk perumusan dan pelaksanaan kebijakan moneter.
Fokus ke inflasi tidak berarti membawa perekonomian kepada kondisi yang sama sekali tanpa
inflasi (zero inflation).

3. Inflasi rendah dan stabil dalam jangka panjang, justru akan mendukung pertumbuhan ekonomi
yang berkelanjutan (suistanable growth). Penyebabnya, karena tingkat inflasi berkorelasi positif
dengan fluktuasinya. Manakala inflasi tinggi, fluktuasinya juga meningkat, sehingga masyarakat
merasa tidak pasti dengan laju inflasi yang akan terjadi di masa mendatang. Akibatnya, suku
bunga jangka panjang akan meningkat karena tingginya premi risiko akibat inflasi. Perencanaan
usaha menjadi lebih sulit, dan minat investasi pun menurun. Ketidakpastian inflasi ini cenderung
membuat investor lebih memilih investasi asset keuangan jangka pendek ketimbang investasi riil
jangka panjang. Itulah sebabnya, otoritas moneter seringkali berargumentasi bahwa kebijakan
yang anti inflasi sebenarnya adalah justru kebijakan yang pro pertumbuhan.

Kondisi Kekinian Model Inflation Targeting

Pemberlakuan UU Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia telah membawa perubahan
mendasar pada perumusan dan pelaksanaan kebijakan moneter di Indonesia. Seperti telah
disinggung di muka, berdasarkan UU tersebut kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia
diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan. Sejalan dengan itu, sejak tahun 2000
Bank Indonesia mulai menempuh langkah-langkah untuk penerapan kerangka kerja kebijakan
moneter berdasarkan suatu kerangka yang dikenal dalam literatur ekonomi dan praktek di bank-
bank sentral lain dengan sebutan Inflation Targetting Framework (ITF). Hal ini antara lain
tercermin pada penetapan dan pengumuman sasaran inflasi sebagai tujuan utama kebijakan
moneter, penjelasan secara periodik kepada masyrakat mengenai pelaksanaan kebijakan moneter
yang ditempuh, maupun pemberian independensi kepada Bank Indonesia dalam merumuskan
dan melaksanakan kebijakan moneter.

ITF merupakan kerangka kerja merupakan kerangka kerja kebijakan moneter yang relatif baru
digunakan. Kerangka kerja kebijakan moneter ini pertama kali diterapkan oleh Selandia Baru
pada tahun 1990 dan semakin banyak diterapkan oleh bank sentral di negara-negara lain sebagai
langkah mendasar dalam memperkuat efektivitas penerapan kebijakan moneternya. Secara
umum, kerangka kerja ini diyakini dapat membantu bank sentral untuk mencapai dan
memelihara kestabilan harga dengan menentukan sasaran kebijakan moneter secara eksplisit
dengan berdasarkan pada proyeksi dan target inflasi tertentu ke depan.

Penerapan Flexible ITF (Inflation Targeting Framework): Sinergitas Kebijakan Moneter


dengan Sasaran Kestabilan Harga

Inflation Targeting Framework (ITF) merupakan suatu kerangka kebijakan moneter yang
mempunyai ciri-ciri utama, yaitu adanya pernyataan resmi dari bank sentral dan dikuatkan
dengan undang-undang bahwa tujuan akhir kebijakan moneter adalah mencapai dan menjaga
tingkat inflasi yang rendah, serta pengumuman target inflasi kepada publik. Pengumuman
tersebut mengundang arti bahwa bank sentral memberikan komitmen dan jaminan kepada publik
bahwa setiap kebijakan moneternya selalu mengacu pada pencapaian target tersebut dan bank
sentral mempertanggungjawabkan kebijakannya apabila target tersebut tidak tercapai

Prinsip dasar yang melandasi kerangka kerja Inflation Targetting tersebut adalah bahwa sasaran
akhir dari kebijakan moneter diutamakan untuk mencapai dan memelihara laju inflasi yang
rendah dan stabil. Hal ini didasarkan pada dua pertimbangkan pokok yaitu :

Pertama, laju inflasi yang tinggi menimbulkan biaya sosial yang harus ditanggung oleh
masyarakat karena menurunnya daya beli atas pendapatan yang diperolehnya maupun
meningkatnya ketidakpastian yang dapat mempersulit perencanaan usaha dan memperburuk
kegiatan perekonomian.

Kedua, perkembangan teori ekonomi dalam literatur dan temuan empiris di berbagai
negara menunjukkan bahwa kebijakan moneter dalam jangka menengah-panjang hanya
berpengaruh pada inflasi dan bukan pada pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek. .

Selain konsep dasar tersebut, keberhasilan penerapan kerangka kerja Inflation Targeting
mensyaratkan beberapa hal yaitu :

• Pertama, Inflation Targeting sebagai strategi dasar kebijakan moneter,

Substansi utama dari hal ini adalah bahwa pengendalian inflasi sesuai target sebagai overriding
objective kebijakan moneter. Trade-off pertumbuhan ekonomi, stabilitas nilai tukar dan stabilitas
sistem keuangan dipertimbangkan dalam perumusan kebijakan moneter. Namun, apabila terjadi
konflik, maka pencapaian target inflasi yang diutamakan.

• Kedua, Integrasi kebijakan moneter dan makropudensial dalam mencapai kestabilan


makroekonomi secara keseluruhan,

Respon kebijakan suku bunga sebagai stance kebijakan utama perlu didukung oleh kebijakan
nilai tukar dan kebijakan makroprudensial untuk pengelolaan aliran modal asing dan likuiditas
domestik.

• Ketiga, Peran kebijakan nilai tukar dan kebijakan arus modal dalam kerangka kebijakan
moneter untuk mencapai kestabilan harga.

Penguatan kebijakan nilai tukar dilakukan konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi dan
stabilitas makro ekonomi. Solusi ’possible trinity’ yang optimal dicari dengan melihat
keterkaitan kebijakan stabilitas nilai tukar dengan pengelolaan capital flows dan implikasinya
terhadap kecukupan cadangan devisa.

• Keempat, Penguatan kerangka koordinasi kebijakan Bank Indonesia dengan Pemerintah untuk
mengendalikan harga serta menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan.

Penguatan kerangka koordinasi menjadi sangat penting mengingat selain dari sisi permintaan,
sumber tekanan inflasi juga berasal dari sisi penwaran dan komoditi strategis. Selain itu, semakin
terbatasanya kapasitas ekonomi dan kendala implementasi program infrastruktur masyarakat
penerapan strategi kebijakan yang terintegratif diantara otoritas kebijakan.

• Kelima, Penguatan komunikasi kebijakan moneter dan makroprudensial sebagai bagian dari
instrumen kebijakan.

Komunikasi kebijakan moneter bukan lagi ditujukan hanya untuk mencapai transparasi dan
akuntabilitas, namun lebih sebagai sebuah instrumen kebijakan moneter yang sangat berperan.
Dalam komunikasi kebijakan didesain untuk menggerakkan ekspektasi publik dan pelaku pasar,
mengurangi ketidakpastian, meredam ’noise’ dan meningkatkan kepastian arah kedepan
(predictability) sehingga dapat mengurangi volatilitas pasar keuangan dan memberikan
pemahaman kepada publik (public education).