Anda di halaman 1dari 37

ASUHAN KEPARAWATAN PADA An.

V DENGAN DIARE
DI RUANG MAWAR RSUD dr. GUNAWAN MANGUNKUSUMO
AMBARAWA

KEPERAWATAN ANAK
Pembimbing : Boediarsih, S.Kep., M.Kep

Disusun Oleh:
ANDINI WIDANTI
2008010

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA
2020
LAPORAN PENDAHULUAN
DIARE

A. DEFINISI
Diareadalah pengeluaran feses yang lunak dan cair disertai sensasi ingin
defekasi yang tidak dapat ditunda. (Grace, Pierce A &Borley, Neil R,2006).
Diare adalah gejala kelainan pencernaan, absorbsi dan fungsi sekresi (Wong,
2001).
Diare mengacu pada kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang
terjadi dengan bagian feses tidak terbentuk (Nethina, 2001).
Diare adalah kehilangan banyak cairan dan elektrolit melalui tinja (Behrman, 1999).
Menurut pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa diare adalah gejala
kelainan sistem pencernaan, absorbsi, maupun fungsi sekresi dimana pasien mengalami
kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinja dengan frekuensi buang air besar lebih
dari empat kali pada bayi dan lebih dari tiga kali pada anak dengan konsistensi feses
cair, dapat berwarna hijau bercampur lendir atau darah, atau lendir saja.
Diare dibagi menjadi dua yaitu:
1. DiareAkut
Diare akut dikarakteristikkan oleh perubahan tiba-tiba dengan frekuensi dan
kualitas defekasi.
2. DiareKronis
Diare kronis yaitu diare yang lebih dari dua minggu

B. ETIOLOGI
Terdapat 3 bahan dalam etiologi diare pada anak (Mary E. Muscari, 2005).
1. DiareAkut
Diare akut dapat disebabkan karena adanya bakteri, nonbakteri maupun adanya
infeksi.
a. Bakteri penyebab diare akut antara lain organisme Escherichia coli dan
Salmonella serta Shigella. Diare akibat toksin Clostridium difficile dapat
diberikan terapi antibiotik.
b. Rotavirus merupakan penyebab diare nonbakteri (gastroenteritis) yang paling
sering.
c. Penyebab lain diare akut adalah infeksi lain (misal, infeksi traktus urinarius
dan pernapasan atas), pemberian makan yang berlebihan, antibiotik, toksin
yang teringesti, iriitable bowel syndrome, enterokolitis, dan intoleransi
terhadaplaktosa.
2. Diare kronis biasanya dikaitkan dengan satu atau lebih penyebab berikutini:
a. Sindrom malabsorpsi
b. Defekanatomis
c. Reaksi alergik
d. Intoleransilaktosa
e. Responsinflamasi
f. Imunodefisiensi
g. Gangguanmotilitas
h. Gangguanendokrin
i. Parasit
j. Diare nonspesifikkronis
3. Faktor predisposisi diare antara lain, usia yang masih kecil, malnutrisi, penyakit
kronis, penggunaan antibiotik, air yang terkontaminasi, sanitasi atau higiene buruk,
pengolahan dan penyimpanan makanan yang tidaktepat.

C. PATOFISIOLOGI
Patofisiologi bergantung pada penyebab diare (Mary E. Muscari, 2005)
1. Enterotoksin bakteri menginvasi dan menghancurkan sel-sel epitel usus,
menstimulasi sekresi cairan dan elektrolit dari sel kriptamukosa.
2. Penghancuran sel-sel mukosa vili oleh virus menyebabkan penurunan kapasitas
untuk absorpsi cairan dan elektrolit karena area permukaan usus yang lebihkecil.
3. Patofisiologi diare kronis bergantung pada penyebab utamanya. Lihat unit
pembahasan penyakit seliaka sebagai contoh diare yang disebabkan oleh gangguan
malabsorpsi.
Diare dalam jumlah besar juga dapat disebabkan faktor psikologis, misalnya
ketakutan atau jenis stres tertentu, yang diperantarai melalui stimulasi usus oleh saraf
parasimpatis. Juga terdapat jenis diare yang ditandai oleh pengeluaran feses dalam
jumlah sedikit tetapi sering. Penyebab diare jenis ini antara lain adalah kolitis
ulserabutiv dan penyakit Crohn. Kedua penyakit ini memiliki komponen fisik dan
psikogenik (Elizabeth J. Corwin, 2007).
D. MANIFESTASIKLINIS
1. Diareakut
- Akan hilang dalam waktu 72 jam darionset.
- Onset yang tak terduga dari buang air besar encer, gas-gas dalam perut, rasa
tidak enak, nyeri perut.
- Nyeri pada kuadran kanan bawah disertai kram dan bunyi padaperut.
- Demam.
2. Diarekronik
- Serangan lebih sering selama 2-3 periode yang lebihpanjang.
- Penurunan BB dan nafsumakan.
- Demam indikasi terjadi infeksi.
- Dehidrasi tanda-tandanya hipotensi takikardi, denyutlemah

Klasifikasi tingkat dehidrasi anak dengan diare

Klasifikasi Tanda-tanda atau gejala Pengobatan


Dehidrasi berat Terdapat 2 atau lebihtanda: Beri cairan untuk diare
a. Letargis/tidaksadar dengan dehidrasiberat
b. Matacekung
c. Tidak bisa minum atau malasminum
d. Cubitan perut kembali sangat lambat
(≥ 2detik)
Dehidrasi ringan Terdapat 2 atau lebih tanda: a. Beri anak dengan cairan
atau sedang a. Rewelgelisah dengan makanan untuk
b. Matacekung dehidrasiringan
c. Minum dengan lahap atauhaus b. Setelah rehidrasi,
d. Cubitan kulit kembali denganlambat nasehati ibu untuk
penangan dirumahdan
kapan kembali segera
Tanpa dehidrasi Tidak terdapat cukup tanda untuk a. Beri cairan dan makanan
diklasifikasikan sebagai dehidrasi ringan untuk menangani diare
atau berat dirumah
b. Nasehati ibu kapan
kembalisegera
c. Kunjungan ulang dalam
waktu 5 hari jika tidak
membaik

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Diareakut
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan:
- Tes darah: hitung darah lengkap; anemia atau trombositosis mengarahkan
dengan adanya penyakit kronis. Albumin yang rendah bisa menjadi patokan
untuk tingkat keparahan penyakit namun tidak spesifik.
- Kultur tinja bisa mengidentifikasi organisme penyebab. Bakteri C. Difficile
ditemukan pada 5% orang sehat; oleh karenanya diagnosis ditegakkan
berdasarkan adanya gejala disertai ditemukannya toksin, bukan berdasarkan
ditemukannya organismesaja.
- Foto polos abdomen: bisa menunjukkan gambaran kolitisakut.
2. DiareKronis
Pemeriksaan penunjang yang akan dilakukan harus dipilih berdasarkan prioritas
diagnosis klinis yang paling mungkin:
- Tes darah: secara umum dilakukan hitung darah lengkap, LED, biokimiawi
darah, tes khusus dilakukan untuk mengukur albumin serum, vitamin B12 dan
folat. Fungsi tiroid. Antibodi endomisial untuk penyakitsiliaka.
- Mikroskopik dan kultur tinja (x3): hasil kultur negatif belum menyingkirkan
giardiasis.
- Lemak dan tinja: cara paling sederhana adalah pewarnaan sampel tinja dengan
Sudan black kemudian diperiksa di bawah mikroskop. Pada kasus yang lebih
sulit, kadar lemak tinja harus diukur, walaupun untuk pengukuran ini
dibutuhkan diet yang terstandardisasi.
- Fotopolosabdomen:padafotopolosabdomenbisaterlihatklasifikasipankras,
sebainya diperiksa dengan endoscopic retrograde cholangiopancreatography
(ERCP) dan/atau CT pankreas.
- Endoskopi, aspirasi duodenum, dan biopsi: untuk menyingkirkan penyakit
seliaka dan giardiasis.
- Kolonoskopi dan biopsi: endoskopi saluran pencernaan bagian bawah lebih
menguntungkan dari pada pencitraan radiologi dengan kontras karena, bahkan
ketika mukosa terlihat normal pada biopsi bisa ditemukan kolitis mikroskopik
(misalnya kolistik limfositik, kolitiskolagenosa).
- Hydrogen breath test: untuk hipolaktasia (laktosa) atau pertumbuhan
berlebihan bakteri pada usus halus(laktulosa).
- Pencitraan usus halus: bisa menunjukkan divertikulum jejuni, penyakit Crohn
atau bahkan struktur usus halus.
- Berat tinja 24 jam (diulang saat puasa): walaupun sering ditulis di urutan
terakhir daftar pemeriksaan penunjang pemeriksaan ini tetap merupakan cara
paling tepat untuk membedakan diare osmotik dan diaresekretorik.
- Hormon usus puasa: jika ada dugaan tumor yang mensekresi hormonharus
dilakukan pengukuran kadar hormonpuasa.
Menurut (Rubebsten dkk, 2007) jika merupakan episode akut tunggal dan belum
mereda setelah 5-7 hari, maka harus dilakukan pemeriksaan berikut:
a. Pemeriksaan darah lengkap untuk mencari anemia dan kultur darah untuk
Salminella typhi, S. Paratyphi, dan S. Enteritidid, khususnya bila ada riwayat
perjalanan ke luarnegeri.
b. Pemeriksaan laboratorium tinja untuk mencari kista, telur, dan parasit (ameba,
Giardia) dan kultur (tifoid dan paratifoid, Campylobacter, Clostridium
difficile).
c. Sigmoidoskopi, khususnya pada dugaan kolistis ulseratif atau kangkaer (atau
kolitis ameba). Biopsi dan histologi bisa memiliki nilaidiasnostik.
F. PATHWAY
Pathway diare

Infeksi Makana n Psikolog i

Berkembang di usus Toksik tidak Ansieta s


dapat

Hipersekresi air
& elektrolit Hiperperistaltik
Isi usus
Penyerapan makanan
di usus

Diare

Frekuensi BAB Distensi abdomen

Hilang cairan& Mual muntah


elektrolit

Kerusakan integritas kulit Nafsu makan


Gangguan keseimbangan
Dehidrasi

Ketidakseimbang an nutrisi: kurang dari kebutuhan

Kekurangan Resiko syok (hipovolemi


volume
(Nurarif, Amin &
Kusuma, H., 2013)
G. PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan medis primer diarahkan pada pengontrolan dan menyembuhkan
penyakit yang mendasari (Baughman, 2000).
1. Untuk diare ringan, tingkatkan masukan cairan per oral; mungkin diresepkan
glukosa oral dan larutan elektrolit.
2. Untuk diare sedang, obat-obatan non-spesifik, difenoksilat (Lomotif) dan
loperamid (Imodium) untuk menurunkan motilitas dari sumber-sumber non-
infeksius.
3. Diresepkan antimicrobial jika telah teridentifikasi preparat infeksius atau diare
memburuk.
4. Terapi intravena untuk hidrasi cepat, terutama untuk pasien yang sangat muda atau
lansia.

Penatalaksanaan diare akut pada anak:


1. Rehidrasi sebagai prioritas utama terapi.
Ada 4 hal yang penting diperhatikan agar dapat memberikan rehidrasi
yang cepat dan akurat,yaitu:
a. Jenis cairan yang hendak digunakan.
Pada saat ini cairan Ringer Laktat merupakan cairan pilihan karena tersedia
cukup banyak di pasaran meskipun jumlah kaliumnya rendah bila
dibandingkan dengan kadar kalium tinja. Bila RL tidak tersedia dapat
diberiakn NaCl isotonik (0,9%) yang sebaiknya ditambahkan dengan 1 ampul
Nabik 7,5% 50 ml pada setiap satu liter NaCl isotonik. Pada keadaan diare akut
awal yang ringan dapat diberikan cairan oralit untuk mencegah dehidrasi
dengan segalaakibatnya.
b. Jumlah cairan yang hendak diberikan.
Pada prinsipnya jumlah cairan pengganti yang hendak diberikan harus sesuai
dengan jumlah cairan yang keluar dari badan. Jumlah kehilangan cairan dari
badan dapat dihitung dengan cara/rumus:
I. MENGUKUR BJPLASMA

Kebutuhan cairan dihitung dengan rumus:


BJ Plasma – 1,025
x BB x 4 ml
0,001
II. METODEPIERCE

Berdasarkan keadaan klinis, yakni:


- Diare ringan,kebutuhan cairan = 5% x kgBB
- Diare sedang,kebutuhancairan = 8% x kgBB
- Diare ringan,kebutuhan cairan = 10% x kgBB

III. METODE PERBANDINGAN BB DAN UMUR

Total
BB (kg) Umur PWL NWL CWL
Kehilangan
Cairan

<3 < 1 bln 150 125 25 300

3-10 1 bln-2 thn 125 100 25 250

10-15 2-5 thn 100 80 25 205

15-25 5-10 thn 80 25 25 130

Sumber: Ngastiyah (1997)

Keterangan:
PWL : Previus Water Lose (ml/kgBB) = cairan muntah.
NWL: Normal Water Lose (ml/kgBB) = cairan diuresis, penguapan, pernapasan
CWL: Concomitant Water Lose (ml/KgBB) = cairan diare dan muntah yang terus
menerus.
1) Cairan peroral
Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang diberikan peroral berupa
cairan yang bersifat NaCl dan NaHCO3 dan glukosa. Untuk diare akut dan
kolera pada anak diatas 6 bulan kadar Natrium 90 mEg/l. Pada anak
dibawah umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan-sedang kadar natrium 50-60
mEg/l. Formula lengkap disebut oralit, sedangkan larutan gula garam dan
tajin disebut formula yang tidak lengkap karena banyak mengandung NaCl
dansukrosa.
2) Cairanparentral
Diberikan pada klien yang mengalami dehidrasi berat, dengan
rincian sebagai berikut:
- Untuk anak umur 1 bl -2 tahun berat badan 3-10 kg:
1 jam pertama : 40 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infusset
berukuran 1 ml=15 tts atau 13 tts/kgBB/menit (set infus 1
ml=20 tetes).
7 jam berikutnya : 12 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt
(infusset berukuran 1 ml=15 tts atau 4 tts/kgBB/menit (set
infus 1 ml=20 tetes).
16 jam berikutnya : 125 ml/kgBB/ oralit.
- Untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg :
1 jam pertama : 30 ml/kgBB/jam atau 8 tts/kgBB/mnt (1 ml=15
ttsatau
10 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
- Untuk anak lebih dari 5-10 tahun dengan berat badan 15-25 kg
: 2 jam pertama : 20 ml/kgBB/jam atau 5 tts/kgBB/mnt (1
ml=15 tts atau 7 tts/kgBB/menit (1 ml=20tetes).
7 jam berikut : 10 ml/kgBB/jam atau 2,5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15
tts
atau 3 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
16 jam berikut : 105 ml/kgBB oralit per oral.
- Untuk bayi baru lahir dengan berat badan 2-3 kg :
Kebutuhan cairan: 125 ml + 100 ml + 25 ml =250
ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5% + 1
bagian NaHCO3 1½ %.
Kecepatan : 4 jam pertama : 25 ml/kgBB/jam atau 6
tts/kgBB/menit (1 ml = 15 tts) 8 tts/kg/BB/mt (1mt=20 tts).
- Untuk bayi berat badan lahir rendah
Kebutuhan cairan: 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4
bagian glukosa 10% + 1 bagian NaHCO3 1½ %).
2. Dietetik

Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat badan
kurang dari 7 kg, jenis makanan:
- Susu (ASI, susu formula yang mengandung laktosa rendah dan
lemak takjenuh.
- Makanan setengah padat (bubur atau makanan padat (nasitim).
- Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan
misalnya susu yang tidak mengandung laktosa dan asam lemak yang
berantai sedang atau takjenuh.
Standar Nutrisi parenteral untuk anak diare adalah didasarkan atas
kebutuhan kalori, kebutuhan asam amino, dan kebutuhan mikronutrien.
Kebutuhan kalori
a. BBLR : 150 Kkal/ KgBB
b. BBL C: 120 Kkal/ KgBB/bulan
c. BB 0- 10 Kg : 100Kkal/ KgBB
d. BB 11- 20 Kg : 1000 Kkal + 50 Kkal x (BB-10)
e. BB > 20 Kg : 1500 Kkal + 20 Kkal x ( BB –20)
Kebutuhan Asam amino
a. BBLR 2,5 – 3/ Kg BB
b. Usia 0 -1 tahun : 2,5 g/ KgBB
c. Usia 2 -13 tahun 1,5 -
2g/ kg BB Kebutuhan
Mikronutrien
a. Kalium 1,5 – 2,5 meq/ kgBB
b. Natrium 2,5 – 3,5 meq/ kgBB
Salah satu contoh makanan untuk anak dengan diare adalah
bubur tempe yang bertujuan untuk memberikan diet kepada anak
dengan diare. Adapun sasaran dan kegunaannya adalah untuk
meringankan kerja usus bagi penderita diare dan diberikan kepada anak
usia 6 -12 bulan dan anak usia 1 -5 tahun. Adapun bahan yang
dibutuhkan adalah tepung beras 30 gram, tempe 50 gram, margarine 10
gram dan gula pasir 20 gram, serta air 200 ml. Adapun caranya ada 2
yaitu cara pertama: tempe di blender ditambah 20 cc, campurkan tempe
yang sudah diblender dengan tepung beras, gula pasir, margarine dan air
sebanyak 200 cc, aduk hingga rata, lalu mask diatas api sampai
mengentaldansiap disajikan.Carakedua:tempedirebuslalu
dihaluskan, campur tempe , tepung beras, margarine, gula pasir dengan
sisa rebusan tempe sebanyak 200 cc. Masak diatas api sampai
mengental kemudian disaring dan siap untukdisajikan.
H. ASUHANKEPERAWATAN
A. Pengkajian
Pengkajian keperawatan adalah proses sistematis dari pengumpulan
verifikasi atau komunikasi data tentang klien selama pengkajian perawat
mendapatkan dua tipe data yaitu :
a) Data subjektif : pengumpulan data dari sumber primer/ klien) merupakan
persepsi klien tentang masalah kesehatannya biasanya mencangkup
perasaan ansietas, ketidaknyamanan fisik atau stressmental.
-Pasien mengeluh diare terus menerus
-Pasien mengatakan feses encer/cair
-Pasien mengeluh mulas
b) Data objektif: (pengumpulan data dari sumber sekunder) merupakan
pengamatan atau pengukuran yang dibuat oleh pengumpuldata.
-Pasien terlihat tampak lemas
-Pasien terlihat memegangi area perutnya
Pola kesehatan fungsional
a. Pemeliharaankesehatan
Personal hygiene kurang : kebiasaan memelihara kuku, cuci tangan
sebelum makan, makanan yang dihidangkan tidak tertutup, makanan
basi.
b. Nutrisi dan metabolik
Hipertermi, penuturan berat badan total sampai 50%, dnoteksia,
muntah.
c. EliminasiBAB
Feces encer, frekuensi bervariasi dari > dari 3 sampai 8 kali per hari.
d. Aktifitas
Kelemahan tidak toleran terhadap aktifitas.
e. Sensori
Nyeri ditandai rasa sakit pada abdomen.
Pemeriksaan Fisik
a. Keadaanumum
Tampak lemah dan kesakitan.
b. Tandavital
Berat badan menurun 2% dehidrasi ringan
Berat badan menurun 5% dehidrasi sedang
Berat badan menurun 8% dehidrasi berat
TD menurun karena dehidrasi
RR meningkat karena hipermetabolisme, cepat dan dalam (kusmoul)
Suhu meningkat bila terjadi reaksi inflmasi
Nadi meningkat (nadi perifer melemah)
c. Mata:cekung
d. Mulut: mukosakering
e. Abdomen: turgorjelek
f. Kulit: kering, kapilari refil >2’

B. DiagnosaKeperawatan
1. Diare berhubungan dengan infeksibakteri.
2. Resiko ketidakseimbangan elektrolit berhubungan dengan gastroentritis,
diare.
3. Defisit nutrisi berhubungan dengan menurunnya intake dan menurunnya
absorbsi makanan dancairan.
C. Intervensi Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
No
SDKI SLKI SIKI
1. Diare (D.0020) b.d. Proses OUTCOME MANAJEMEN DIARE (I.03101)
infeksi, Iritasigastrointestinal Eliminasi fekal membaik (L.04033) Observasi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan 1. Identifikasi penyebab diare (mis. Inflamasi
keperawatan selama 3 x 24 jam maka gastrointestinal, iritasi gastrointestinal)
Elimenasi fekal membaik dengan Kriteria 2. Identifikasi riwayat pemberianmakanan
Hasil: 3. Identifikasi gejalainvaginasi
1. Kontrol pengeluaran feses meningkat5 4. Monitor warna, volume, frekwensi, dan
2. Konsistensi feses membaik5 konsistensitinja.
3. Frekuensi defekasi membaik5 5. Monitor tanda dan gejalahipovolemia
4. Peristaltik usus membaik5 6. Monitor iritasi dan ulserasi kulit didaerah
perineal
7. Monitor jumlah pengeluarandiare
8. Monitor keamanan penyiapan makanan
Terapeutik
1. Berikan asupan cairan oral
2. Pasang jalurintravena
3. Berikan cairanintravena
4. Ambil sampel darah untuk pemeriksaan
darah lengkap danelektrolit
5. Ambil sampel feses untuk kultur, jika perlu
Edukasi
1. Anjurkan makanan porsi kecil dan
seringsecarabertahap
2. Anjurkan menghindari makanan, pembentuk
gas, pedas, dan mengandunglactose
3. Anjurkan melanjutkan pemberian ASI
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian obatantimotilitas
2. Kolaborasi pemberian obat antispasmodic/
spasmolitik
3. Kolaborasi pemberian obat pengerasfeses.

2. Risiko Ketidakseimbangan OUTCOME MANAJEMEN CAIRAN (I.03098)


Elektrolit (D.0037) b.d Keseimbangan Elektrolit meningkat Observasi
Gastroenteritis,diare L.03021 1. Monitor status hidrasi (mis, frek nadi,
Tujuan : setelah dilakukan tindakan kekuatan nadi, akral, pengisian kapiler,
keperawatan selama 3 x 24 jam maka kelembapan mukosa, turgor kulit, tekanan
keseimbangan elektrolit membaik dengan darah)
Kriteria Hasil : 2. Monitor berat badanharian
1.Serum kalium meningkat5 3. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium
2.Serum Natrium meningkat5 (mis. Hematokrit, Na, K, Cl, berat jenis urin ,
3.Serum klorida meningkat 5 BUN)
4. Monitor status hemodinamik ( Mis. MAP,
CVP, PCWP jikatersedia)
Terapeutik
1. Catat intake output dan hitung balans cairan
dalam 24jam
2. Berikan asupan cairan sesuaikebutuhan
3. Berikan cairan intravena bilaperlu

3. Resiko defisit nutrisi (D.0032) b.d OUTCOME MANAJEMEN NUTRISI (L.03119)


diare Status nutrisi meningkat Observasi
Tujuan: setelah dilakukan asuhan 1. Identifikasi statusnutrisi
keperawatan 3x24 jam diharapkan defisit 2. Identifikasi alergi dan intoleransimakanan
nutrisi teratasi dengan kriteria hasil: 3. Identifikasi makanan yang disukai
- Porsi makan yang dihabiskan 4. Monitor supanmakanan
meningkat 5 5. Monitor beratbadan
- Berat Badan membaik 5 6. Monitor pemeriksaan hasil laboratorium
- Nafsu makan membaik5 Terapeutik
- Diare menurun5 1. Lakukan oral hygine sebelummakan
2. Berikan makanan tinggikalori
3. Berikan suplemen makanan
Observasi
1. Anjurkan posisi duduk, jikamampu
2. Ajarkan diit yangdiprogramkan
Kolaborasi
1.Kolaborasi pemberian medikasi sebelum
makan
4. Kolaborasi dengan gizi untuk menentukan
jumlah kalori yang dibutuhkan
DAFTAR PUSTAKA

Baughman, Diane C. 2000. Keperawatan Medikal – Bedah : Buku Saku untuk Brunner
dan Suddarth. Jakarta : EGC.

Behrman, Richard E, dkk. 1999. Ilmu Kesehatan dan Anak Nelson, Volume 2. Edisi 15.
Alih Bahasa A. Samik Wahab. Jakarta : EGC.

Corwin, Elizabeth J. 2007. Buku Saku Patofisiologi, Ed. 3; Alih Bahasa, Nike Budhi
Subekti. Jakarta: EGC.

Grace, Pierce A & Borley, Neil R. 2006. At a Glance Ilmu Bedah. Jakarta : Erlangga.

Kee, Joyce L.1996. Farmakologi : Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta: EGC.

Muscari, Mary E. 2005. Panduan Belajar: Keperawatan Pediatrik; AlihBahasa,


Aifrina Hany. Jakarta:EGC.

Nethina, Sandra, M. 2001. Pedoman Praktek Keperawatan. Alih Bahasa oleh


Setiawan, dkk. Jakarta : EGC.

PPNI .2018. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator


Diagnisis. Edisi 1. Jakarta:DPP PPNI

PPNI .2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta:DPP PPNI

PPNI .2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan


Keperawatan, Edisi 1. Jakarta:DPPPPNI

Wong, Donna L. dan Eaton, M. H…(et all). 2001. Wong’s Essentials of Pediatric
Nursing. (Ed. 6). Missouri : Mosby.
LAPORAN KASUS
ASKEP PADA An. M DENGAN DIAGNOSA MEDIS DIARE
DI RUANG MAWAR RSUD dr. GUNAWANMANGUNKUSUMO

A. PENGKAJIAN
Tanggalmasuk : 9 November 2020, pukul 06.00 WIB
Ruang :Mawar
Pengkajian : 9 November 2020, pukul 08.00WIB
No.RegisterMedik 190084
Dx.Medis : DiareAkut

1. Identitas
NamaKlien : An. V Nama OrangTua : Ny.S
Umur :3 Tahun Umur : 42tahun
Suku/bangsa :Jawa/Indonesia Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Agama : Islam Agama :Islam
Pendidikan :- Pekerjaan : KaryawanPabrik
Pekerjaan :- Pendidikan : SMA
Alamat : Lengkong 4/3Wonorejo
2. Alasan datang ke rumahsakit
Ny. S mengatakan anaknya diare >10x/hari disertai dengan muntah, nafsu
makan menurun, setelah memakan jajanan dirumahnya kemudian keluarga
membawa An. V ke IGD RSUD dr. Gunawan Mangunkusumo pada tanggal 9
November 2020, pukul 06.00WIB
3. KeluhanUtama
Ibu pasien mengatakan An. V diare dan badannya lemas
4. Riwayat PenyakitSekarang
Pasien dibawa ke IGD RSUD dr. Gunawan Mangunkusumo pada tanggal 9
November 2020, pukul 06.00 WIB. Ibu pasien mengatakan diare 10x/hari,
muntah, nafsu makan menurun, setelah An. V mengkonsumsi jajanan di rumah,
HR : 119x/mnt, RR : 26 x/mnt, S : 36,7oC, BB : 14 kg
5. Riwayat PenyakitSebelumnya
An. M sebelumnya tidak pernah mendapatkan perawatan di rumah sakit dengan
penyakit yang dideritanya saat ini. An. V baru pertama kali menderita penyakit
seperti saat ini, biasanya sakit batuk dan influenza. Keluarga juga tidak pernah
menderita penyakit seperti An. V.
6. RiwayatKehamilan
a. Prenatal : selama kehamilan ibu rajin memeriksakan kehamilannya di
dokter hampir setiap bulan. Ibu juga sudah pernah mendapatkan
imunisasi TT. Saat hamil ibu tidak pernah mengalami sakit yang serius
serta tidak mempunyai kebiasaan seperti merokok, minum – minuman
keras. Ibu juga tidak mempunyai riwayat penyakit khusus seperti
hipertensi, jantung, DM, hepatitis, serta lainnya.
b. Intranatal : ibu mengatakan anak lahir secara spontan, BBL :2900gr
c. Pascanatal : setelah melahirkan ibu tidak mengalami masalah. Ibu
mengatakan anak disusui selama kurang lebih 1 tahun. Anak
mendapatkan imunisasi dasarlengkap.
7. Riwayat PenyakitKeluarga
Keluarga juga tidak pernah menderita penyakit seperti An. V.
8. Genogram

Keterangan :
: perempuan
: laki-laki
: pasien
: tinggalserumah
Ket: An. V tinggal dengan kedua orang tuanya serta diasuh oleh kedua
orang tuanya sendiri, pasien adalah anak pertama dirumah itu.
9. RiwayatPerkembangan
Kemampuan untuk :
 Mengangkatkepala : 3 bulan
 Telungkup : 5bulan
 Duduk : 8bulan
 Berdiri : 10bulan
 Bebicara : 1tahun
 Berjalan : 1tahun
10. Riwayat pertumbuhan danperkembangan
 Personal Sosial
Tidak adagangguan.
 Motorik Halus
Tidak adaganguan
 Bahasa
Bahasa jelas dan mudah dimengerti.
 MotorikKasar
Perkembangan sesuai dengan usia dan normal.
11. Pengkajian PolaFungsional
a. Pola ManajemenKesehatan
Ny.S mengatakan jika ada salah satu anggota keluarga yang sakit maka akan
segera dibawa ke pusat pelayanan kesehatan terdekat.
b. Pola KebutuhanNutrisi
Sebelum sakit orang tua mengatakan nafsu makan anak selama ini bagus,
minimal 3x sehari makan dengan nasi lauk sayur terutama saat makanan
tersebut disukai anak serta ditambahkan lagi cemilan – cemilan jajanan.
Selama di rumah sakit nafsu makan menurun, makan hanya ½ porsi yang di
sediakan oleh gizi.
Berat Badan Sekarang : 13 kg
PanjangBadan : 100cm
c. PolaEliminasi
Keluarga mengatakan selama sakit pasien BAB 5x/hari intensitas cair,
minum 3 gelas kecil/hari, muntah 10x/hari, sebelum sakit pasien BAB 2-
3x/hari, tidak muntah.
d. Pola AktivitasLatihan
Sebelum sakit pertumbuhan anak seperti layaknya anak seusianya, dan anak
termasuk anak yang aktif walaupun keadaan sakit.
e. Pola Isitirahat –Tidur
Klien biasanya tidur malam hari dari pukul 21.00-05.30 WIB dan klien
tidak sering terbangun saattidur.
f. Pola kognitifpersepsi
Keluarga mengatakan sudah memahami tentang penyakit yang dialami
anaknya, Keluarga percaya tim medis dapat menentukan tindakan dalam hal
pengobatan pasien dengan harapan An. V cepat sembuh.
g. Pola hubunganperan
Selama di rumah hubungan anak dengan teman dan keluarga baik. Anak
selalu berkomunikasi dengan baik terhadap orang tua dan keluarga. Selama
di rumah sakit anak bisa bergaul dengan orang – orang baru, anak terlihat
aktif dan mudah bersosialisasi.
h. Polaseksualitas
An. V belum di sirkumsisi, tidak ada kelainan pada alat kelaminnya
i. Pola toleransi stress
Bila anak mengalami masalah dengan kesehatannya anak langsung mengadu
ke orang tuanya. Saat pusing dan sakit anak menceritakannya kepada orang
tua untuk dapat diobatkan. Anak juga tidak suka berada di rumah sakit.
j. Polakeyakinan
Keluarga adalah keluarga Islam yang taat beragama. Harapannya anaknya
diberi kesembuhan agar nantinya dapat menjadi anak yang soleh taat
beragama dan rajin beribadah.
12. PemeriksaanFisik
a. Keadaan umum: pasienlemas
b. Kesadaran : lemahcomposmentis
c. Tanda-tanda Vital : HR : 119x/mnt, RR : 26 x/mnt, S : 36,7oC,
d. Kepala : mesochepal, bersih, rambut kering, tidak ada
benjolan, pasien mengatakan tidak sakit saat kepala di raba untuk
mengetahuimassa.
e. Wajah : simetris, tidak ada kelainan, tidak adaluka.
f. Hidung : simetris, tidak ada pergerakan cuping hidung, tidakada
secret, pasien mengatakan tidak pilek.
g. Mata : tidak anemis, tidakikterik
h. Telinga : bersih, tidak luka, tidak ada peradangan, pasien
mengatakan mendengar jelas ucapanperawat.
i. Mulut : bersih tidak ada sariawan, bibir tidak ada sianosis,
mukosa bibir kering, gigi lengkap, tidak ada yang berlobang, lidah
berwarna putih pada pangkal lidah, pasien mengatakan tidak sakitgigi.
j. Leher : tidak terdapatbenjolan.
k. Dada :
Pulmo
I : simetris, bersih tidak ada luka, pengembangan dada simetris, tidak
ada retraksidada
Pa : traktil fremitus kanan dan kiri sama
Pe : terdengar suara resonan di semua lapang paru
A : terdengar vesikuler, tidak terdapat bunyi tambahan seperti
wheezing, maupunronkhi.
Cardiac
I : ictus cordisterlihat
Pa : ictus cordis teraba di ic IV-V sinistra
Pe : tidak ada pembesaran jantung
A : bunyi jantung 1 lup, bunyi jantung 2 dup, tidak ada suara tambahan
seperti gallop maupun mur-mur
l. Abdomen
I : bersih, terlihat luka operasi tahun lalu, bentuk cembung, tampak
membuncit.
A : peristaltic usus (+) 7x/mnt
Pe : terdapat bunyisupel.
Pa : tidak teraba masa, tidak ada distensi abdomen, pasien
mengatakan tidak nyeri saat di tekanperutnya
m. Ekstremitas
 Atas : akral hangat tidak ada sianosis tidak ada kekakuan,
kekuatan otot5/5.
 Bawah : akral hangat tidak ada sianosis tidak ada kekakuan sendi,
kekuatan otot5/5.
 Kulit : turgor kulitbaik.
n. Genital:
Pada alat kelamin An.M tidak ada kelainan penis

13. PemeriksaanDiagnostik
Darah Lengkap (Tanggal 9-11-2020)

PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI NORMAL


HEMATOLOGI
Darah lengkap
hemoglobin 12.8 g/dl 13,2- 17,3
Leokosit 11.6 ribu 3,8-10,6
Eritosit 4.81 juta 4,5-5,8
Hematoksit 34,7L % 40-52
Trombosit 329 Ribu 150-400
MCV 72,3L Fl 82-98
MCH 26,1L Pg 27-32
MCHC 33,8 g/dl 32-37
RDW 16,3 % 10-16
MPV 4.95 Mikro m3 7-11
Limfosit 3.76 L 10^3/mikro 4.0-10.0
Manosit 1.05 10^3/mikro 0-0.8
Eosinofil 0,003 10^3/mikro 0,05-0,7
Basofil 0.108 10^3/mikro 0-0,2
Neutrofil 8.04 10^3/mikro 1,8-75
Linfosit % 34 % 25-40
Manosit % 9.57 H % 2-8
Eosonofil % 0.023 L % 2-4
Basofil % 0,94 % 0-1
Neutrofil % 55.1 % 50-70
PCT 0,163 % 0,2-0,5
KIMIA KLINIK
Natrium 132 mmol/L 135-145
Kalium 3.2 mmol/L 3.5-5.5
Chlorida 95 mmol/L 98-105

14. Program Terapi Medis


 Inf. Kaen 3B 12tpm
 Inj. Ondansetron 1/3 Ampl /12 jamIV
 Paracetamol syrup 3x1 1/2cth
 Zinc Child syrup1x10mg
 L-blo 2x1/2sac

B. ANALISADATA
NO DATA FOKUS ETIOLOGI PROBLEM
1. DS: Infeksi bakteri Diare
- Ibu pasien mengatakan anaknya BAB
cair > 10x/hari konsistensiencer
DO:
- Pasien tampaklemas
- BAB > 10x/hari konsistensiencer
2. DS : Gastroentritis, Resiko
- Ibu pasien mengatakan anaknya diare ketidakseimbangan
sampai lemes karena sering BAB elektrolit
cair
DO :
- Pasienlemas
- Muntah>10x/hari
- BAB 10x/hari konsistensiencer
- Mukosa bibirkering
- Laboratelektrolit:
Natrium:132
Kalium :2.9
Chlorida: 95

3. DS : Nafsu makan Defisit nutrisi


- Ibu pasien mengatakan menurun
anaknyatidak ada nafsumakan
DO :
- Makan bubur ½porsi
- Tidak mau makannasi
- Muntah9-10x/hari
- BB : 13kg

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Diare berhubungan dengan infeksibakteri.
2. Resiko ketidakseimbangan elektrolit berhubungan dengan gastroentritis,diare.
3. Defisit nutrisi berhubungan dengan menurunnya intake dan menurunnya absorbsi
makanan dancairan.

D. RENCANA KEPERAWATAN
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
No
SLKI SIKI
1. OUTCOME MANAJEMEN DIARE (I.03101)
Eliminasi fekal membaik (L.04033) Observasi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan 1. Identifikasi penyebab diare (mis.
keperawatan selama 3 x 24 jam maka Inflamasi gastrointestinal, iritasi
Elimenasi fekal membaik dengan gastrointestinal)
Kriteria Hasil: 2. Identifikasi riwayat pemberian
5. Kontrol pengeluaran feses makanan
meningkat5 3. Identifikasi gejalainvaginasi
6. Konsistensi feses membaik5 4. Monitor warna, volume, frekwensi,
7. Frekuensi defekasi membaik5 dan konsistensitinja.
8. Peristaltik usus membaik5 5. Monitor tanda dan gejalahipovolemia
6. Monitor iritasi dan ulserasi kulit
didaerahperineal
7. Monitor jumlah pengeluarandiare
8. Monitor keamanan penyiapan
makanan
Terapeutik
6. Berikan asupan cairan oral
7. Pasang jalurintravena
8. Berikan cairanintravena
9. Ambil sampel darah untuk
pemeriksaan darah lengkap dan
elektrolit
10. Ambil sampel feses untuk kultur, jika
perlu
Edukasi
1. Anjurkan makanan porsi kecil dan
sering secarabertahap
2. Anjurkan menghindari makanan,
pembentuk gas, pedas, dan
mengandunglactose
3. Anjurkan melanjutkan pemberian ASI
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian obat
antimotilitas
2. Kolaborasi pemberian obat
antispasmodic/spasmolitik
3. Kolaborasi pemberian obat pengeras
feses.

2. OUTCOME MANAJEMEN CAIRAN (I.03098)


Keseimbangan Elektrolit meningkat Observasi
L.03021 1. Monitor status hidrasi (mis, frek nadi,
Tujuan : setelah dilakukan tindakan kekuatan nadi, akral, pengisian
keperawatanselama3x24jammaka kapiler, kelembapan mukosa,turgor
keseimbangan elektrolit membaik kulit, tekanan darah)
dengan Kriteria Hasil : 2. Monitor berat badanharian
4.Serum kalium meningkat5 3. Monitor hasil pemeriksaan
5.Serum Natrium meningkat5 laboratorium (mis. Hematokrit, Na, K,
6.Serum klorida meningkat 5 Cl, berat jenis urin ,BUN)
4. Monitor status hemodinamik ( Mis.
MAP, CVP, PCWP jikatersedia)
Terapeutik
1. Catat intake output dan hitung balans
cairan dalam 24jam
2. Berikan asupan cairan sesuai
kebutuhan
3. Berikan cairan intravena bilaperlu

3. OUTCOME MANAJEMEN NUTRISI (L.03119)


Status nutrisi meningkat (L.03030) Observasi
Tujuan: setelah dilakukan asuhan 1. Identifikasi statusnutrisi
keperawatan 3x24 jam diharapkan 2. Identifikasi alergi dan intoleransi
defisit nutrisi teratasi dengan kriteria makanan
hasil: 3. Identifikasi makanan yangdisukai
- Porsi makan yang dihabiskan 4. Monitor supanmakanan
meningkat 5 5. Monitor beratbadan
- Berat Badan membaik5 6. Monitor pemeriksaan hasillaboratorium
- Nafsu makan membaik5 Terapeutik
- Diare menurun5 1. Lakukan oral hygine sebelummakan
2. Berikan makanan tinggi kalori
3. Berikan suplemen makanan
Observasi
1. Anjurkan posisi duduk, jikamampu
2. Ajarkan diit yangdiprogramkan
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian medikasi sebelum
makan
2. Kolaborasi dengan gizi untuk
menentukan jumlah kalori yang
dibutuhkan

E. IMPLEMENTASI
Tanggal No. Implementasi Respon TTD
/Jam DP
Senin, I 1. Melakukan identifikasi penyebab Ds: Andin
9–11- diare padapasien - Ibu mengatakan anaknya
2020 2. Melakukan pengambilan sample diare > 10x/hari dengan
08.00 darah untuk pemeriksaanlaborat konsistensiencer
WIB II 3. Melakukan monitor dan status - Ibu mengatakan anaknya
dehidrasi padapasien lemes
4. Melakukan penimbangan berat Do:
badanpasien - HR : 119x/mnt, RR : 26
III 5. Mengkaji status nutrisipasien x/mnt, S : 36,7 oC
- Pasien tampaklemas
- BAB cair > 10x konsistensi
encer
- Pasien berat badannya 13
kg
- Tampak sample darah
sudah diambil untuk
pemeriksaan darah rutindan
elektrolit
08.00 II, III Berikan terapi sesuai advice dokter Ds. – Andin
Do. Inj. Ondansentron ½
amp melalui IV dan POzink
1 x 10mg dan L-bio ½
sachet
11.30 III Memberikan intake nutrisi sesuai Ds: Ibu pasien mengatakan Andin
program menghabiskan ½ porsi
makan
Do:
- Pasien tampak
menghabiskan ½ porsi
makan
- Pasien masih tmpaklemas
12.00 I, II, Melakukan monitor keadaan umum Ds: - Andin
III danTTV Do:
KU. Lemah composmentis
HR : 109x/mnt, RR : 25
x/mnt, S : 36,7 oC

16.00 I, II Melakukan monitor hasil peeriksaan Ds. – Andin


laborat Do.
Laboratelektrolit:
Natrium:132
Kalium :2.9
Chlorida: 95
16.15 I Menganjurkan pasien makan makanan Ds: Ibu pasien mengatakan Andin
dengan porsi sedikit namun sering anaknya minumnya sudah
mau namun makan masih
susah dan sering muntah
Do: Pasien tampakmuntah
2x, makan hanya ½ porsi
makan.
17.00 II, III Menganjurkan kepada orang tua pasien Ds: - Andin
untuk memberikan minum yang banyak Do: Pasien tampak minum
banyak dengan susu LLM
(rendah laktusa)
18.00 I, II Melakukan monitor keadaan umum Ds: Pasien mengatakan mau Andin
danTTV bersedia dilakukan TTV
Do:
KU. Lemah composmentis
S : 36’5C
N : 101x/min
RR: 26 x/min
19.30 II Memberikan terapi sesuai advice doter Ds: - Andin
Do: Inj. Ondansentron ½
amp melalui IV dan L-bio ½
sachet
Selasa, I 1. Melakukan identifikasi penyebab Ds: Andin
10–11- diare padapasien - Ibu mengatakan anaknya
2020 II 2. Melakukan monitor dan status diare > 5x/hari dengan
08.00 dehidrasi padapasien konsistensi encer ampas(+)
WIB 3. Melakukan penimbangan berat - Ibu mengatakan anaknya
badanpasien sudah mulaiaktif
III 4. Mengkaji status nutrisipasien Do:
- HR:99x/mnt,RR:26
x/mnt, S : 36,4 oC
- Pasien tampaklemas
- BAB cair > 5x konsistensi
encer ampas (+)
- Pasien berat badannya14
kg
08.00 II Berikan terapi sesuai advice dokter Ds. – Andin
Do. Inj. Ondansentron ½
amp melalui IV dan PO zink
1 x 10mg dan L-bio ½ sachet
11.30 II Memberikan intake nutrisi sesuai Ds: Ibu pasien mengatakan Andin
program menghabiskan ½ porsi
makan
Do:
- Pasien tampak
menghabiskan ¾ porsi
makan
- Pasien tampak lemas
berkurang
12.00 I, II Melakukan monitor keadaan umum Ds: - Andin
danTTV Do:
KU. Lemah composmentis
HR : 100x/mnt, RR : 26
x/mnt, S : 36,7 oC
16.00 I, II Memberikan intake cairan yang Ds. – Andin
adekuat Do.
Terpasang Kaen 3B 12 tpm
16.15 III Menganjurkan pasien makan makanan Ds: Ibu pasien mengatakan Andin
dengan porsi sedikit namun sering anaknya makan masih susah
namun sudah mulai mau
untuk makan
Do: Pasien tampak muntah (-
), makan ¾ porsi makan.
17.00 II, III Menganjurkan kepada orang tua pasien Ds: - Andin
untuk memberikan minum yang Do: Pasien tampak minum
banyak banyak dengan susu LLM
(rendah laktusa)
18.00 I, II, Melakukan monitor keadaan umum Ds: Pasien mengatakan mau Andin
III danTTV bersedia dilakukan TTV
Do:
KU. Lemah composmentis
S : 36’4C
N : 101x/min
RR: 26 x/min
19.30 I, II Memberikan terapi sesuai advice doter Ds: - Andin
Do: Inj. Ondansentron ½
amp melalui IV dan L-bio½
sachet
Rabu, II 1. Melakukan monitor dan status Ds: Andin
11–11- dehidrasi padapasien - Ibu mengatakan anaknya
2020 2. Melakukan penimbangan berat sudah mau makan dandiare
08.00 badan pasien sudah berkurangkonsistensi
WIB III 3. Mengkaji status nutrisi pasien lembek
Do:
- HR:99x/mnt,RR:26
x/mnt, S : 36,4 oC
- Pasien tampak sedang
composmentis
- BABcair 1x konsistensi
lembek
- Pasien berat badannya14
kg
08.00 II Berikan terapi sesuai advice dokter Ds. – Andin
Do. Inj. Ondansentron ½
amp melalui IV dan PO zink
1 x 10mg dan L-bio ½sachet
11.30 II Memberikan intake nutrisi sesuai Ds: Ibu pasien mengatakan Andin
program menghabiskan 1 porsi makan
Do:
- Pasien tampak
menghabiskan 1 porsimakan
- Pasien tampaksedang
12.00 I, II Melakukan monitor keadaan umum Ds: - Andin
danTTV Do:
KU. sedang composmentis
HR : 100x/mnt, RR : 26
x/mnt, S : 36,8 oC
16.00 I, II Memberikan intake cairan yang Ds. – Andin
adekuat Do.
Terpasang Kaen 3B 12 tpm
16.15 III Menganjurkan pasien makan makanan Ds: Ibu pasien mengatakan Andin
dengan porsi sedikit namun sering anaknya mau makan dan
minum
Do: Pasien makan 1 porsi
makan.
17.00 II, III Menganjurkan kepada orang tua pasien Ds: - Andin
untuk memberikan minum yang Do: Pasien tampak minum
banyak banyak dengan susu LLM
(rendah laktusa)
18.00 I, II, Melakukan monitor keadaan umum Ds: Pasien mengatakan mau Andin
III danTTV bersedia dilakukan TTV
Do:
KU. Lemah composmentis
S : 36’3C
N :98x/min
RR: 24 x/min
19.30 I, II Memberikan terapi sesuai advice doter Ds: - Andin
Do: Inj. Ondansentron ½
amp melalui IV dan L-bio ½
sachet

F. EVALUASI/ CATATANPERKEMBANGAN
NO HARI & TANGGAL TANDA
CATATAN PERKEMBANGAN
DP PUKUL TANGAN
I S : Keluarga pasien mengatakan anaknya
BAB cair >5x konsistensi encer
O : KU: lemah, composmentis, BAB cair
Andin
>10x encer (+)
A : Diare belum teratasi
Senin, 9 November P : Lanjutkan intervensi
2020/ 20.00 WIB 1. Identifikasi penyebab diare (mis.
Inflamasi gastrointestinal, iritasi
gastrointestinal)
2. Monitor warna, volume, frekwensi,
dan konsistensitinja
3. Monitor jumlah pengeluarandiare
4. Berikan cairanintravena
5. Anjurkan makanan porsi kecildan
sering secara bertahap
6. Kolaborasi pemberian obat
antimotilitas
II S : Keluarga pasien mengatakan anaknya
lemes, BAB cair (+)
O : KU: lemah, Na: 132 mmol/L, K: 3.2
Andin
mmol/mL, Cl: 95 mmol/mL, muntah (+)
A : Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit
belum teratasi
Senin, 9 November P : Lanjutkan intervensi
2020/ 20.00 WIB 1. Monitor statushidrasi
2. Monitor berat badanharian
3. Monitor hasil pemeriksaan
laboratorium
4. Catat intake output dan hitung balans
cairan dalam 24jam
4. Berikan asupan cairan sesuai
kebutuhan
III S : Keluarga pasien mengatakan anaknya
tidak ada nafsu makan
O : Tiaap makan muntah, hanya
mengahabiskan ½ porsi makan, BB: 13 kg Andin
A : Defisit nutrisi belumteratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Identifikasi statusnutrisi
2. Monitor asupanmakanan
3. Monitor berat badan
4. Berikan makanan tinggi kalori
5. Berikan suplemenmakanan
NO HARI & TANGGAL TANDA
CATATAN PERKEMBANGAN
DP PUKUL TANGAN
I S : Keluarga pasien mengatakan anaknya
BAB cair >5x konsistensi encer ampas (+)
O : KU: lemah, composmentis, BAB cair
Andin
>5x encer, ampas (+)
A : Diare belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Monitor warna, volume, frekwensi,
dan konsistensitinja
2. Monitor jumlah pengeluarandiare
3. Berikan cairanintravena
4. Anjurkan makanan porsi kecil dan
sering secarabertahap
II S : Keluarga pasien mengatakan anaknya
lemes, BAB cair (+)
O : KU: lemah, composmentis, BAB cair
Andin
Selasa, 10 November (+) muntah (-)
2020/ 20.00 WIB A : Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit
belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Monitor statushidrasi
2. Monitor berat badanharian
3. Catat intake output dan hitung balans
cairan dalam 24jam
4. Berikan asupan cairan sesuai
kebutuhan
III S : Keluarga pasien mengatakan anaknya
sudah mulai ada nafsu makan
O : Muntah (-), hanya mengahabiskan ¾
porsi makan, BB: 14 kg Andin
A : Defisit nutrisi belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Identifikasi statusnutrisi
2. Monitor asupanmakanan
3. Monitor beratbadan
4. Berikan suplemenmakanan

I S : Keluarga pasien mengatakan anaknya


BAB cair 1x konsistensi lembek (+)
O : KU: sedang, composmentis, BAB
Andin
cair1x lembek (+)
A : Diare belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Monitor warna, volume, frekwensi,
dan konsistensitinja
2. Monitor jumlah pengeluarandiare
3. Berikan cairanintravena
II S : Keluarga pasien mengatakan anaknya
Rabu, 11 November sudah tidak lemas dan sudah aktif
2020/ 20.00 WIB O : KU: sedang, composmentis, muntah
Andin
(-), BAB lembek (+)
A : Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit
teratasi
P : Hentikan intervensi
III S : Keluarga pasien mengatakan anaknya
sudah mau makan
O : Mengahabiskan 1 porsi makan, BB:
14 kg (naik sebelumnya 13kg) Andin
A : Defisit nutrisi teratasi
P : Hentikan intervensi