Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1. Pengertian Tanah
Tanah sebagai sumber daya kehidupan, maka tidak ada
sekelompok masyarakat pada bangsa manapun yang tidak
memiliki aturan-aturan atau norma-norma tertentu dalam
penggunaan, penguasaaan, pemilikan dan pemanfaatan tanah
untuk hidupnya. Penduduk bertambah, pemikiran manusia
berkembang dan berkembang pula system, struktur dan tata cara
manusia menentukan sikapnya terhadap tanah, yang mana sikap
ini juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain seperti alamnya,
geografisnya, sosial-budaya, adat-religi dan sebagainya.

Tanah adalah bagian dari bumi, air dan ruang angkasa


yang merupakan kekayaan alam sebagai rahmat Tuhan YME
kepada bangsa Indonesia yang harus dikelola dan dimanfaatkan
secara optimal bagi generasi sekarang dan generasi mendatang
dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang sangat
penting, baik dalam kehidupan bangsa Indonesia maupun dalam
pembangunan nasional yang diselenggarakan sebagai upaya
berkelanjutan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur
berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar tahun 1945,
khususnya pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar tahun 1945
“bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya
dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk
kemakmuran rakyat.”

Menurut penulis prinsip-prinsip yang terkandung dalam


pasal 33 ayat (3) tersebut diatas bersifat imperatif, karena

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 1


mengandung suatu perintah kepada Negara dimana bumi, air
dan ruang angkasa serta kekayaan alam yang terkandung
didalamnya berada pada penguasaan Negara yang dipergunakan
untuk mewujudkan “Kesejahteraan Bagi Seluruh Rakyat
Indonesia”

Tujuan Negara daripada kesejahteraan tersebut diatas


adalah kesejahteraan lahir batin yang merata bagi seluruh rakyat
Indonesia, untuk dapat mewujudkan tujuan Nasional Negara
Republik Indonesia ditetapkanlah Undang-Undang Pokok
Agraria No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-
pokok Agraria yang diundangkan pada tanggal 24 September
1960 Lembaran Negara 1960-104.

2. Pemahaman Ilmu Agraria & Ilmu Hukum Agraria


Bahwa untuk mengatur Hak-Hak Atas tanah baik
sebelum dan sesudah berlakunya Undang-undang Pokok Agraria
No. 5 tahun 1960 pada tanggal 24 September 1960 pada saat itu
telah dikenal adanya Ilmu Hukum Agraria dan Ilmu Agraria
perkataan “agraria” berasal dari bahasa latin “agrarius” yang
mempunyai arti segala sesuatu perbuatan Hukum yang
berhubungan dengan tanah, kata asalnya dari bahasa Yunani
yaitu “ager”, dan dalam bahasa Belanda “akker” artinya dalam
bahasa Indonesia adalah “ladang”, atau “tanah pertanian”

Ilmu Agraria adalah menurut artinya yang sekarang


semua hal-hal yang berhubungan dengan “tanah” pada
umumnya seperti masalah penggunaan tanah, pengikisan,
penghanyutan tanah (erosi), kesuburan tanah, kekeringan tanah
dsb.

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 2


Ilmu Hukum Agraria adalah sebagian dari Ilmu Agraria
sedangkan Hukum Agraria adalah mengatur hubungan antara
manusia dan tanah.

Salah satu pendapat Mr. Drs. E. Utrecht (dalam bukunya


pengantar dalam Hukum Indonesia, hal. 248) telah memberikan
suatu definisi Hukum Agraria sebagai “bagian hukum
administrasi yang menguji perhubungan hukum istimewa yang
diadakan bagi para birokrat yang bertugas menyelesaikan dan
mengurus soal-soal tentang Agraria dan melakukannya tugas-
tugas tersebut”.

Sebagai latar belakang dari pada Hukum Agraria ini


pertama-tama kita harus mengetahui dasar hukumnya yang
tertera didalam Undang-undang Dasar tahun 1945 mengenai
azas Hukum Agraria pasal 33 ayat (3) “bumi, air dan kekayaan
alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan
dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.”

Yang harus kita perhatikan makna “dikuasai” oleh


Negara tidak berarti bahwa semua tanah di Indonesia adalah
“kepunyaan” Negara pemahaman lebih lanjut ialah bahwa
Negara bila perlu dengan jalan peraturan-peraturan bisa
mengatur tentang penggunaan tanah maka dengan demikian
dapat dikemukakan bahwa Negara tidak mempunyai hak privat
atas tanah tetapi mempunyai hak publik, hak publik ini harus
dipergunakan oleh Negara agar dapat mencapai sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat.

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 3


Azas ini adalah berbeda dengan apa yang disebut
“domein verklaring” (pernyataan domein), yaitu yang
disebutkan dalam pasal 1 dari Agrarisch-Besruit, yang
memuat “pernyataan bahwa semua tanah yang tidak dapat
dibuktikan ada Hak Eigendom atasnya oleh pihak lain, adalah
domein (Eigendom) dari Negara”

Berdasarkan pernyataan domein ini dahulu Pemerintah


Hindia Belanda memberikan tanah dengan Hak-Hak Barat,
dalam hal itu Pemerintah bertindak sebagai yang berwenang
menurut Hukum Privat sebagai yang mempunyai tanah,
Pemerintah mengadakan Perjanjian tentang Pemberian
Eigendom, Erfacht, Opstal, Sewa dan sebagainya dengan tidak
mengindahkan Hak-hak Adat, Hak Ulayat menurut Persekutuan
Hukum Bangsa Indonesia.

Terhadap hal-hal tersebut diatas Pemerintah Republik


Indonesia tidak membutuhkan teori domein tersebut karena
berdasarkan pasal 33 Undang-Undang Dasar tahun 1945 telah
memberi kekuasaan kepada Pemerintah untuk mengontrol
pemakaian dan pembagian tanah bahkan dari pada itu Negara
sebagai Negara tidak membutuhkan dasar Hukum Privat
(privaatrechtelijk) guna campur tangan dalam soal tanah untuk
kepentingan Negara dan masyarakat.

3. Hukum Tertulis & Hukum Tidak Tertulis


Bahwa mengenai Hukum Agraria yang ada di Indonesia
pada saat yang lalu terdapat dua macam hukum yaitu masing-
masing :

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 4


a. Hukum yang tertulis atau hukum Undang-undang,
ialah hukum yang tercantum dalam peraturan perundang-
undangan, oleh karena itu Hukum Agraria yang tertulis sebagian
tersebar terdapat didalam burgerlijkwetboek (BW) dan
peraturan-peraturan yang berhubungan dengan BW atas dasar
pasal 51 I.S yang berasal dari Pemerintah Belanda dalam praktek
kita memakai pula istilah Hukum Barat atau hukum Eropa

b. Hukum yang tidak tertulis ialah Hukum Agraria yang


terdapat didalam Hukum Adat. Untuk bangsa Indonesia asli
dalam lapangan Hukum Privaat berlaku terutama Hukum Adat
penduduk Indonesia terbagi dalam 3 (tiga) golongan masing-
masing :
 Bangsa Eropa ;
 Bangsa Timur Asing dan
 Bangsa Indonesia (asli/pribumi)
Dimana Hukum Adat didalam penafsirannya seolah-olah
sama di seluruh Indonesia padahal sesungguhnya
coraknya adalah berbeda-beda di pelbagai daerah.

Berdasarkan pendapat Prof. Van Vollen Hoven guru


besar dalam Hukum Adat dalam penyelidikannya di wilayah
Negara Republik Indonesia terbagi atas 19 (sembilan belas)
lingkungan Hukum Adat yang terdiri dari :
1. Aceh ;
2. Tanah Gayo, Alas dan Batak ;
3. Minangkabau ;
4. Sumatra Selatan ;
5. Sumatra Timur, Riau, Lingga, Sambas, Pontianak ;
6. Bangka dan Belitung ;
7. Kalimantan ;

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 5


8. Minahasa ;
9. Gorontalo ;
10. Toraja ;
11. Sulawesi Selatan ;
12. Ternate ;
13. Maluku ;
14. Irian Barat ;
15. Timor ;
16. Bali dan Lombok ;
17. Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura ;
18. Jogya dan Solo dan
19. Jawa Barat

Oleh karena beraneka ragam Hukum Adat, tambahan pula


belum tertulis seluruhnya didalam pengertian tidak ditetapkan
dalam Undang-undang maka sukarlah untuk menetapkan
apakah sesuatu kebiasaan adalah adat atau telah menjadi
Hukum Adat berhubungan dengan hal-hal tersebut diatas untuk
menempatkan hak-hak tanah menurut Hukum Adat dalam
kedudukan yang selayaknya didalam system Hukum Agraria
baru kiranya sebelum mempelajari hak-hak itu perlu dijelaskan
dan diterangkan secara singkat apa Hukum Adat itu.

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 6


BAB II
HAK-HAK TANAH MILIK ADAT

1. Hukum Tanah Hak Milik Adat


“Adat” berasal dari bahasa Arab “adah” ialah
“kebiasaan” maka pengertian Hukum Adat ialah “Hukum
Kebiasaan”

Hukum Kebiasaan ialah meliputi kaidah-kaidah hukum


yang timbul karena didalam persekutuan (gemeenschap).
Dimana orang dalam tindak tanduk yang sama pada umumnya
selalu bertingkah laku menurut aturan yang sama.

Dalam kebiasaan untuk bertingkah laku menurut aturan


yang tertentu, selanjutnya harus ada keyakinan didalam
persekutuan itu, bahwa orang itu memang selayaknya
bertingkah laku menurut cara yang tertentu.

Aturan-aturan kebiasaan akhirnya menjadi aturan-aturan


hukum apabila pentaatannya dapat dipaksa dengan jalan
keputusan yang memaksa dari orang-orang atau alat-alat
perlengkapan yang berkuasa didalam persekutuan, akan tetapi
istilah Hukum Kebiasaan tidak tepat untuk digunakan bagi arti
hukum yang berlaku dalam golongan bangsa Indonesia asli
(Hukum Adat).

Menurut pendapat Mr. Drs. E. Utrecht terdapat


perbedaan antara Hukum Adat dan Hukum Kebiasaan dimana
pendapatnya adalah sebagai berikut :

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 7


a. Hukum Adat asalnya bersifat agak sakral ; Hukum Adat
berasal dari kehendak nenek moyang, agama dan tradisi
rakyat sedangkan Hukum Kebiasaan sebagian besar berasal
dari kontak timur dengan barat
b. Hukum Adat sebagian besar terdiri dari kaidah-kaidah yang
tidak tertulis, akan tetapi ada juga Hukum Adat yang tertulis
misalnya didalam piagam raja atau kitab-kitab hukum,
sedangkan Hukum Kebiasaan semuanya terdiri atas kaidah-
kaidah yang tidak tertulis.

Disamping itu pula menurut pendapat Prof. Van Vollen


Hoven Hukum Adat itu adalah sejumlah kaidah-kaidah yang
berlaku :
a. Ber-sanksi (karena itu disebut “hukum”)
b. Tidak tertulis, didalam arti tidak ada undang-undang yang
menetapkannya (karena disebut “adat”)
Maka oleh karena itu Hukum Adat ialah suatu bagian yang
berasal dari adat istiadat rakyat, akan tetapi tidak semua
yang terdapat didalam adat merupakan hukum jadi yang
dimaksud dengan adat misalnya memberikan sesuatu pada
upacara-upacara atau waktu-waktu tertentu sebaliknya
Hukum Adat menunjukan pada bagian dari adat yang jika
tidak ditaati menimbulkan akibat-akibat hukum.

Menurut Hukum Adat hak atas tanah itu dapat kita bagi
sebagai berikut :
a. Hak persekutuan hukum yaitu Hak Ulayat, termasuk
didalamnya :
 Hak pembukaan tanah
 Hak untuk mengumpulkan hasil hutan (verzamel atau
kaprecht)

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 8


b. Hak-hak perseorangan diantaranya :
 Hak Milik
 Hak memungut hasil tanah
 Hak wenang pilih atau hak pilih lebih dahulu
 Hak wenang beli
 Hak pejabat adat
c. Perbuatan-perbuatan hukum yang berwujud :
 Pemindahan hak :
• Menjual (lepas, gadai, tahunan)
• Menukarkan
• Memberikan
 Perjanjian ;
• Tanam bagi, bagi hasil (deelbouw)
• Sewa
• Tanggungan, dsb.

Dari apa yang diuraikan diatas ternyata bahwa di


Indonesia sekarang peraturan-peraturan dan ketentuan-
ketentuan tentang Agraria khususnya masih belum sama dan
berbeda-beda.

Hukum tanah Hak Milik Adat Adalah hak-hak atas tanah


yang bentuknya bermacam-macam tergantung bentuk
berlakunya adat dimasing-masing daerah dimana di Indonesia
terdiri dari banyak pulau yang masing-masing dihuni oleh suku
yang berbeda dimana tiap suku mempunyai adat istiadat sendiri-
sendiri yang satu dengan yang lainnya mempunyai perbedaan.

Hukum Adat adalah Hukum yang berkonsepsi


Komunalistik yang memungkinkan penguasaaan tanah secara
individual dengan hak-hak atas tanah yang bersifat pribadi
sekaligus mengandung unsur kebersamaan, didalam Hukum

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 9


Tanah Adat hak penguasaan atas tanah yang tertinggi adalah
Hak Ulayat masyarakat Hukum Adat dimana hak ini adalah hak
bersama dan tanahnya kepunyaan bersama para anggota
masyarakat Hukum Adat yang bersangkutan yang mana
pengelolaan Tanah Ulayat diserahkan dan ditugaskan kepada
Kepala Adat dan Para Tetua Adat.

Dengan demikian apa yang dimaksud dengan Hukum


Adat adalah : Hukum aslinya golongan rakyat pribumi yang
merupakan Hukum dan hidup dalam bentuk tidak tertulis serta
mengandung unsur-unsur yang mempunyai sifat
kemasyarakatan, kekeluargaan yang berazaskan keseimbangan
serta diliputi suasana keagamaan.

Bahwa menurut prof. Mr. C van Vollenhoven hak milik


bumi putera disebut “Inland Bezirtrecht”. Apabila hak ini ada
pada masyarakat hukum maka disebut “Communal Bezirtrecht”
atau hak milik komunal, dan jika hak ini pada hak perseorangan
disebut “Erferlijk Individueel Bezirtrecht” yang memberikan
kewenangan kepada pemiliknya untuk mnguasai tanah sebagai
miliknya sendiri dengan pembatasan yang berlaku. Terhadap
Hukum Adat dan Hukum Barat tidak membedakan hak
kebendaan dalam (Zakelijke rechten) dengan hak perseorangan
(Persoonlijke rechten) yang mana dalam penafsirannya hak
kebendaan adalah hak yang memberikan kekuasaaan langsung
atau sesuatu benda dan dapat dipertahankan terhadap orang
lain dan setiap orang harus menghormati kekuasaan itu.

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 10


1.1 Bukti-bukti Tanah Hak Milik Adat
Bukti-bukti Hak Tanah Milik Adat sebelum
berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria No. 5 tahun
1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria terdiri
dari :
a. Segel Jual Beli tentang perbuatan peralihan hak yang
dilakukan secara terang dan tunai yang disaksikan oleh
Kepala Desa atau Lurah atau Juru Tulis. (contoh
terlampir)
b. Pajak Bumi / Landrente, Girik, Pipil, Kikitir dan
Verponding Indonesia sebelum berlakunya Peraturan
Pemerintah No. 10 tahun 1961 tentang Pendaftaran
Tanah. (contoh-contoh terlampir)
c. Keterangan-keterangan lain yang diterangkan dalam
bentuk surat keterangan yang diterbitkan oleh Lurah /
Kepala Desa dan diketahui oleh Camat dan/atau
Keterangan Camat dimana lokasi tanah itu berada.
(contoh terlampir dan contoh keterangan IPEDA
terlampir)
d. Bukti Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (contoh
terlampir dan contoh keterangan IPEDA terlampir)
Bahwa keempat alat bukti tersebut yang menyangkut
suatu objek tanah dimana objek tanah itu berada dalam
suatu kecamatan harus tercatat atau teradministrasikan
dalam suatu system administratif tanah-tanah milik adat
yang tersedia pada Kantor Lurah / Kecamatan / Kepala
Desa yang mencatat bukti-bukti tersebut.

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 11


1.2 Sistem Administratif Tanah Hak Milik Adat
Bahwa mengenai system administratif Tanah Hak
Milik Adat sejak dahulu telah dilakukan secara sistematis
dimana disetiap Desa/Kelurahan/Kecamatan telah tersedia
buku-buku dan peta-peta bidang atas objek tanah untuk
suatu Kelurahan atau Desa sehingga dengan demikian
system adiministratif tersebut telah diatur didalam Tata
Laksana Pencatatan tanah-tanah Hak Milik Adat yang
meliputi :
a. Peta Desa/Kelurahan adalah merupakan peta atas
bidang tanah yang telah tergambar dalam suatu peta
yang berada di wilayah Desa/Kelurahan yang
bersangkutan
b. Leter A menggabarkan hasik pemetaan seluruh tanah-
tanah di Desa tersebut lengkap dengan batas-batasnya
atau istilah lain disebut peta rincikan
c. Leter B memuat persil-persil yang dikuasai dan atau
digarap lengkap dengan batas-batas, luas, besarnya
pajak dan nama pemilik
d. Leter C adalah daftar tanah dan pemilik tanah nomor
urut dan besarnya pajak sebagai bukti wajib pajak yang
menikmati atas tanah tersebut

1.3 Proses Perolehan Tanah Hak Milik Adat


Dalam Hukum Adat perolehan tanah dapat
diperoleh melalui perbuatan hukum pemindahan hak atas
tanah melalui jual-beli, hibah, wasiat dan warisan.

Didalam jual-beli tanah yang mempunyai sifat tunai


dan terang dimana jual-beli tanah tersebut adalah

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 12


merupakan perbuatan hukum berupa penyerahan atas
tanah oleh penjual kepada pembeli dan pada saat yang
sama pembeli membayar harganya secara penuh kepada
penjual, namun demikian sebelum dilakukan jual-beli atas
tanah tersebut terlebih dahulu telah terdapat kesepakatan
(perjanjian) antara pemilik tanah dengan pihak yang
memerlukan tanah (pembeli) yang pada pokoknya pembeli
tanah bersedia menjual tanahnya kepada yang memerlukan
tanah (pembeli) dengan harga yang disepakati bersama dan
kapan jual-beli akan dilakukan kesepakatan itu kita sebut
Perjanjian akan melakukan jual-beli.

Dalam Hukum Adat jual-beli dilakukan dihadapan


Kepala Desa/Adat yang selanjutnya dituangkan dalam Surat
Bukti Segel Jual Beli yang ditandatangani oleh penjual dan
pembeli serta dijelaskan objek tanah yang dijual berikut
data-datanya baik yang menyangkut pemilikan, kikitir,
persil, luas lebih kurang, berikut letaknya, batas-batasnya
dan nilai jualnya yang disaksikan oleh Kepala Desa dimana
objek tanah itu berada sehingga sejak saat dibuat Surat Segel
Jual Beli tersebut bahwa hak pemilik tanah telah berlaih
kepada pembeli sehingga hak atas tanah yang bersangkutan
berpindah kepada pembeli, maka dengan demikian bukti
perolehan dan pemilikan tanah sebelum berlakunya
Undang-Undang Pokok Agraria No. 5 tahun 1960 adalah
“Surat Segel Jual Beli”

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 13


2. Hak Ulayat
Hak Ulayat adalah Hak dari Persekutuan Hukum untuk
menggunakan dengan bebas tanah-tanah yang masih merupakan
hutan belukar didalam lingkungan wilayahnya, guna
kepentingan persekutuan Hukum itu sendiri dan anggota-
anggotanya atau guna kepentingan orang luar (pendatang atau
orangasing) akan tetapi dengan ijinnya dan senantiasa dengan
pembayaran pengakuan rekognisi dalam pada itu persekutuan
hukum tetap campur tangan juga atas tanah-tanah yang telah
diusahakan orang yang terletak di dalam lingkungannya.

Menurut Prof. Mr. C Van Hollen Hoven, Sarjana Hukum


Adat menerangkan dan menjelaskan hak dari persekutuan
hukum ini menamakan “Beschikkingsrecht” yang mempunyai
pengertian “Hak untuk mengurusi tanah” tetapi harus diartikan
penguasaan tersebut tidak secara mutlak sebab apabila tanah
tersebut hendak dijual tidaklah ada dalam “kekuasaan
persekutuan hukum itu” nama yang khusus untuk menunjukan
hubungan hukum antara tanah dengan persekutuan hukum
sampai saat ini tidak dikenal dalam Bahasa Indonesia atau
bahasa daerah akan tetapi mengenai wilayahnya dimana hak
persekutuan itu berlaku terdapat nama-nama seperti dibawah ini
:
a. Patuanan artinya “Lingkungan kepunyaan” di Ambon ;
b. Panjampeto artinya “daerah bahan makanan” di
Kalimantan ;
c. Panjanturui, panetapan di Kalimantan ;
d. Pawatasan di Kalimantan, wewengkon di Djawa,
prabumian di Bali artinya “daerah yang berbatas” ;
e. Totabuan ialah “tanah yang terlarang bagi orang lain” di
Bolaang Mongdow ;

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 14


f. Pertuwanan di Batak Simelungun Sumatera Timur ;
g. Kawasan di Indragiri ;
h. Torluk di Angkola ;
i. Limpo di Sulawesi Selatan ;
j. Nuru di Buru ;
k. Paja, paer di Bali, Lombok ;
l. Ulajat di Minangkabau, berasal dari kata bahasa Arab
“wilayah” yang artinya “daerah kekuasan wali, pengurus,
kepala daerah” dan lain sebagainya.
Hubungan antara tanah dengan persekutuan manusia dimana-
mana hubungannya sangat erat sekali ialah dimana tempat
orang berdiam sumber yang menghasilkan bahan makanan,
tempat dimana orang kelak akan dikubur setelah meninggal
dunia dan oleh karena tanah dan pohon-pohonnya memberi
tempat kepada “machluk gaib” yang melindungi persekutuan
itu didalam masyarakat bangsa Indonesia hubungannya
mempunyai 3 (tiga) macam dasar : Keinsapan bathin,
Kemasyarakatan dan Perekonomian.

a. Pengertian dasar keinsapan bathin


atau apa yang dikatakan ahli ethologie : Magic Religius,
Kepercayaan kepada yang gaib atau tersembunyi dimana
kita dapat melihat cara-cara orang berbakti dalam
lingkungan masyarakat yang primitive misalnya bila akan
membuka atau mengusahakan tanah bersama-sama.
Didaerah-daerah yang lebih maju yang telah ada
rasionalisasi, hubungan bathin antara persekutuan manusia
dan tanah itu lambat-laun menjadi lemah atau berubah
sedemikian hingga merupakan ikatan sesorang antara
tanah dan individu saja sebagai hal ini tampil dalam
perjanjian-perjanjian mengenai tanah.

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 15


b. Pengertian dasar kemasyarakatan
Ternyata dalam adanya rasa tanggung jawab yang harus
dipikul oleh persekutuan manusia seluruhnya atas
kejahatan yang terjadi didalam lingkungan wilayahnya.

c. Pengertian dasar perekonomian


Berwujud dalam kekuasaan persekutuan hukum ialah
sekalian anggotanya untuk mempergunakan tanah milik
bersama secara bebas dengan mengecualikan atau
melarang orang yang bukan anggota.

Hubungan-hubungan yang kokoh ini akhirnya menjelma


menjadi hak persekutuan hukum atas tanah di daerah
lingkungannya, hak tanah yang luas dan penting artinya
dalam system Hukum Agraria menurut adat itu disebut
Hak Ulayat.

Persekutuan hukum (rechtsgemeenschap) ialah


“lingkungan-lingkungan teratur yang bersifat kekal” yang
mempunyai kekuasaan sendiri dan kekayaan sendiri baik
berupa jasmani ataupun rohani.

Setiap lingkungan itu berisi sejumlah manusia yang hidup


secara bersama-sama dan terikat antara yang satu dan
yang lainnya dalam perikehidupan dan pergaulannya
sedemikian rupa sehingga ditinjau dari luar merupakan
satu kesatuan.

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 16


2.1 Tanda-tanda Hak Ulayat
Dari adanya hak ini :
a. Persekutuan hukum itu dan anggota-anggotanya dapat
mempergunakan tanah hutan belukar didalam
wilayahnya dengan bebas, seperti membuka tanah,
mendirikan perkampungan, memungut hasilnya,
berburu, menggembala dsb.
b. Yang bukan anggota dari persekutuan hukum dapat pula
mempergunakan hak itu tetapi hanya atas pemberian
ijin dari persekutuan hukum itu ; tanpa ijin ia telah
membuat kesalahan.
c. Dalam mepergunakan tanah itu, bagi anggota hanya
kadang-kadang, tapi bagi yang bukan anggota selalu
harus membayar sesuatu baik hasil bumi atau uang
sebagai tanda dan menyatakan bahwa orang itu sadar
akan mengusahakan tanah kepunyaan orang lain
(recognitie).
d. Persekutuan hukum mempunyai tanggung jawab atas
beberapa kejahatan yang tertentu, yang terjadi didalam
lingkungan wilayahnya, bilamana orang yang
melakukan kejahatan itu sendiri tidak dapat digugat,
tidak dikenal.
e. Persekutuan hukum tidak boleh memindah tangankan
haknya (menjual, menukarkan, memberikan) untuk
selama-lamanya kepada siapapun juga.
f. Persekutuan hukum mempunyai hak percampuran
tangan juga terhadap tanah-tanah yang telah digarap,
seperti dalam pembagian pekarangan, dalam jual-beli
tanah dsb.

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 17


2.2 Tanah Pengangonan (weidevelden)
Bahwa yang dimaksud dengan tanah pengangonan
berdasarkan Bb. 6536 jis. S 1854 No. 51, 1925 No. 434,
1931 No. 373 Residen Jawa Madura di kuasakan untuk
memberikan Tanah Negara yang bebas kepada Desa sebagai
milik Desa (gemeentelijk-bezit) bagi keperluan pangonan
(padang gembala) dalam pemberian tanah tersebut
hendaknya ditentukan :
a. Hak milik itu dianggap berakhir, bila menurut
keputusan Residen ternyata bahwa tanah itu tidak lagi
dipergunakan untuk maksudnya atau tidak dipelihara
sesuai dengan peruntukannya ; dalam keputusan
tersebut bila perlu ditetapkan pula dalam tempo berapa
lama bangunan-bangunan dan tanaman-tanaman yang
ada diatas tanah itu harus dihilangkan, apabila hal ini
tidak dipenuhi maka Bupati menajalankan pekerjaan itu
atas biaya yang berkpentingan.
b. Untuk membuat dan memelihara tanah pangonan itu
tidak boleh mempergunakan kerja desa selain dari yang
dimaksud dalam pasal 17 I.G.O (S.1906 No. 83) untuk
jelasnya pasal 17 I.G.O berbunyi “peraturan untuk
memenuhi keperluan desa yang dimaksud dalam ayat
(1) dari pasal 16 (diatas) atau semacam lainnya lain
daripada menuntut mengerjakan semua penduduk desa
atau kampung yang wajib kerja secara bergilir-giliran
sepanjang bukan perintah dari pemerintahan negeri
tidak boleh dijalankan sebelum mendapat persetujuan
lebih dahulu dari bagian yang terbanyak dari penduduk
desa yang berhak memilik Kepala Desa.”
c. Pasal 16 ayat (1) berbunyi “Kepala Desa berkuasa
dengan mengingat adat kebiasaan setempat dan

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 18


pertauran yang diadakan oleh DPRD Kabupaten untuk
membatasi pemungutan-pemungutan dalam batas-batas
yang layak berhubung dengan ketentuan pasal 3, 4 dan
7 untuk memanggil penduduk desa bagi melakukan
kerja desa.”
d. Menurut pasal 5 ayat (2) Grondhuurordonnatie S. 1918
No. 88, maka tanah pagongan itu tidak boleh
disewakan.

2.3 Tanah Bengkok (ambtsveld) / Titisara


Yang dimaksud dengan Tanah Bengkok menurut Bb. 6535
jis. S. 1854 No. 51, 1925 No. 434, 1931 No. 373 Itr.C 6,
1939 No. 287, Residen di Jawa dan Madura di kuasakan
untuk memberikan Tanah Negara yang bebas kepada desa
bagi keperluan Tanah Bengkok untuk penghasilan Pamong
Desa.

Yang dinamai “ambtelijkgrond-bezit” atau “ambtsveld”


ialah tanah pertanian atau empang yang diberikan untuk
“dipakai“ (tengebruike) kepada Kepala Desa atau anggota
desa lainnya karena jabatannya pasal 1 Bb. 5558 di pelbagai
daerah dipakai nama-nama seperti tanah kejaroan banten,
sawah cari (priangan timur), kalungguhan (ciamis),
kalungguhan, lungguh, carik lungguh, sawah bengkok
(Cirebon), caton Madura, sawah petingen, sawah bekelan
dan umumnya di Jawa : bengkok.

Bb. 5558 berisi petunjuk-petunjuk untuk memberikan Tanah


Bengkok itu yaitu :
a. Ketetapan Tanah Bengkok, berapa maksimum luasnya,
harus diatur dalam peraturan daerah kabupaten.

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 19


b. Sedapat-dapatnya untuk masing-masing jabatan
Pamong Desa harus ada ketetapan pula.
c. Letak dan luasnya Tanah Bengkok itu tidak boleh
berubah.

Maksimum luasnya tanah itu ditetapkan dengan longsar


sekali maksudnya hanyalah akan mencegah pemberian
Tanah Bengkok yang berlebih-lebihan sekali luasnya.

Luas Tanah Bengkok itu ditetapkan dengan mengingat


keadaan setempat dan pentingnya satu persatu jabatan,
sehingga tanah yang diperuntukan bagi jabatan yang
penting tidak boleh diberikan kepada jabatan yang kurang
penting/berat.

Dalam pemberian Hak Tanah Bengkok harus ditentukan


bahwa :
a. Hak tanah itu dianggap berakhir, bila menurut
Keputusan Residen ternyata tanah itu tidak lagi
dipergunakan untuk maksudnya (S. 1931 No. 373)
b. Untuk membuat dan memelihara Tanah Bengkok tidak
boleh mempergunakan kerja desa, selain dari yang
dimaksud dalam pasal 17 I.G.O berbunyi “peraturan
untuk memenuhi keperluan desa yang dimaksud dalam
ayat (1) dari pasal 16 (diatas) atau semacam lainnya lain
daripada menuntut mengerjakan semua penduduk desa
atau kampung yang wajib kerja secara bergilir-giliran
sepanjang bukan perintah dari Pemerintahan Negeri
tidak boleh dijalankan sebelum mendapat persetujuan
lebih dahulu dari bagian yang terbanyak dari penduduk
desa yang berhak memilik Kepala Desa.”

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 20


Bahwa Tanah Bengkok selain tanah darat ataupun sawah
dapat juga berupa empang atau tambang dan apabila
menurut anggapan rakyat bentuk Tanah Bengkok sewaktu-
waktu ternyata tidak ada tempatnya lagi, maka diubah
menjadi Titisara (titsrama, tititama, suksasra, bondodesa,
sawah krocokan, sawah kas desa, sanggan, sawah celengan)
hasilnya dapat untuk memperkuat kas desa sehingga beban
kewajiban rakyat terhadap desa dalam hal ini uruan atau
iuran menjadi ringan, sebaiknya Tanah Bengkok atau
titisara itu berada didalam desa yang berkepentingan
sendiri supaya dapat diurus dan diawasi oleh Kepala Desa
dengan sebaik-baiknya seperti yang dimaksud pasal 5 ayat
(1) I.G.O dimana pasal tersebut berbunyi “Kepala Desa
harus menjaga supaya pengurusan perusahaan-perusahaan
harta benda, milik dan kepunyaan desa lainnya dijalankan
dengan sebaik-baiknya sesuai dengan ketentuan yang
diputuskan oleh DPRD Kabupaten dan pada umumnya
wajib mengganti kerugian desa yang timbul langsung atau
tidak langsung karena satu kesalahan atau kealfaanya”

Pada umumnya Tanah Bengkok diperlukan adanya untuk


penghasilan Pamong Desa yang tidak mendapat gaji tetap
dari pemerintah yang diatur dalam pasal 3 I.G.O

Pamong Desa dapat memakai Tanah Bengkok dan


menerima hasilnnya untuk diri sendiri dan keluarganya dan
atas Tanah Bengkok tersebut tidak boleh dijual, diberikan,
ditukarkan atau digadaikan tidak dapat disewakan atau
ditanam bagikan, walaupun dalam kenyataannya dimana-
mana di Jawa Barat sewa dan tanah bagi (maparo) sudah
biasa dilakukan menurut grondhuurordonnantie (S. 1918

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 21


No. 88) Tanah Bengkok itu diperkenankan untuk
disewakan juga kepada yang bukan bangsa Indonesia.

Tanah Bengkok tidak dapat diwariskan apabila


pemakaiannya dalam hal ini Kepala Desa meninggal dunia
atau berhenti pada jabatannya dimana tanah ini kembali
kepada desa untuk diserahkan kembali kepada
penggantinya.

Bahwa disamping faidah-faidah tersebut diatas terhadap


Tanah Bengkok terdapat pula kelemahan-kelemahannya
seperti hal-hal sebagai berikut :

1. Pengahasilan Pamong Desa yang tidak tetap


(Wisslielvallig) dan sangat berbeda banyaknya di
pelbagai daerah.
2. Mudah menimbulkan tindakan atau kompeten yang
kurang jujur.
3. Setiap kali penggarapan harus diserahkan kepada orang
lain.

Bahwa terhadap Tanah Bengkok seperti yang telah


diuraikan diatas menurut ketentuan Bab Kedua pasal VI
Undang-undnag Pokok Agraria No. 5 tahun 1960 jo. Pasal
22 Peraturan Menteri Agraria No. 62 tahun 1960 maka
Tanah Hak Bengkok dapat dikonversi menjadi tanah Hak
Pakai.

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 22


2.4 Agrarisch Eigendom

Bahwa peraturan mengenai Agrarisch Eigendom yang diatur


didalam Peraturan Pemerintah Belanda begitu pula
pelaksanaannya dalam ketentuan Koninklijk besluit tanggal
16 April 1872 No. 29 (S. 1872-117) telah dicabut dengan
diundangkannya Undang-undang Pokok Agraria No. 5
tahun 1960 selanjutnya berdasarkan pasal 19 Peraturan
Menteri Agraria No. 2 tahun 1960 telah ditetapkan atas
tanah konversi tanah hak-hak Agrarisch Eigendom
dikonversi menjadi Hak Milik, Hak Guna Bangunan atau
Hak Guna Usaha sebagaimana yang dimaksud dalam pasal
II ketentuan Konversi Undang-undang Pokok Agraria dan
dilaksanakan oleh pejabat yang bertugas pada waktu itu
menyelenggarakan pendaftaran tanah menurut Peraturan
Menteri Agraria No. 9 tahun 1959 setelah diterimanya
salinan Surat Keputusan Penegasan dari Kepala Inspeksi
Agraria yang bersangkutan atas dasar hasil pemeriksaan
dibuat Surat Keputusan menegaskan apakah suatu hak
Agrarisch Eigendom dikonversi menjadi Hak Milik, Hak
Guna Bangunan atau Hak Guna Usaha.

Terjadinya Hak Agrarisch Eigendom :


Bahwa peraturan mengenai Agrarisch Eigendom sejak
tanggal 24 september 1960 tidak berlaku lagi tetapi
alangkah baiknya akan diuraikan bagaimana maksud dan
terjadinya hak Agrarisch Eigendom itu :
Menurut ketentuan keempat dari Agrarisch Weet (pasal 51
ayat (7) I.S apabila sebidang tanah dengan hak milik
kepunyaan bangsa Indonesia atas permintaan yang berhak
dapat diberikan kepada nya dengan Hak Eigendom sesuai

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 23


dengan syarat-syarat yang ditetapkan dengan undang-
undang (ordonnantie) dan yang akan dinyatakan didalam
Surat Eigendomnya dan mengenai kewajiban-kewajiban
terhadap negeri dan desa serta kewenangannya untuk
menjual kepada yang bukan bangsa Indonesia.

Yang dimaksud ordonnantie dalam ketentuan tersebut


hingga kini belum pernah ada akan tetapi sebelum tahun
1925 berhubung dengan pasal 4 ayat (1) Agrarisch Besluit
tentang perubahan milik menjadi Eigendom telah
ditetapkan dalam K.B tanggal 16 April 1872 No. 29 (S. 1872
No. 117), (S.1872 No. 234), (S. 1931 No. 163 jo 423 dan
pasal 2 ayat (1) S. 1925 No. 415) peraturan ini berlaku bagi
Jawa dan Madura (pasal 24); sehingga di luar Jawa dan
Madura hak Agrarisch Eigendom itu tidak ada.

Tujuan pembentukan Undang-undang di Negeri Belanda


dalam tahun 1870 bermaksud memberikan kesempatan
kepada orang bumi putera untuk memperoleh hak atas
tanah baru yang disebut “Eigendom” atas tanah “yang
dipakainya” dimana pemberian hak atas tanah baru itu
adalah fakultatip (bebas) pemberian hak atas tanah baru
tersebut diatas dalam prakteknya disebut Agrarisch
Eigendom hal ini untuk menunjukan perbedaanya dengan
Hak Eigendom yang diatur dalam B.W

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 24


BAB III
TANAH HAK BARAT

1. Hukum Tanah Hak Barat

Hukum Tanah Hak Barat adalah merupakan bagian dari Hukum


Barat yang pokok-pokoknya diatur dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Perdata, hukum ini berkonsepsi Individualistis
Liberal dalam hukum Tanah Hak Barat penguasaan atas tanah
yang tertinggi berada pada hak individu yang besrsifat pribadi
semata-mata yang disebut Hak Eigendom. Dimana hak-hak
perorangan didalam hukum Tanah Hak Barat ini semula
berpedoman kepada kepetingan pribadi dan dalam
perkembangannya kemuadian dimasukan juga unsur-unsur
kepentingan bersama yang dirumuskan dengan kata-kata, hak-
hak individu mempunyai fungsi sosial namun sifat dasarnya
tetap individualistis.

2. Hak-hak Tanah menurut Hukum Barat

a. Hak Eigendom
Pengertian dari Hak Eigendom adalah hak yang paling luas
dan sempurna yang dapat dimiliki sesorang terhadap benda
yang memberi kewenangan paling luas kepada
pemegangnya dibandingkan dengan hak-hak lainnya yang
diatur didalam pasal 570 s.d 624 B.W disamping itu pula
telah dikenal istilah Verponding Eigendom, pengertiaannya
adalah verponding itu merupakan pajak pemilikan tanah
Hak-hak Barat yang diatur didalam STB. 1923 No. 425, STB.

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 25


1927 No. 151 dan STB. 1931 No. 168 sehingga dengan
demikian Eigendom Verponding adalah bekas Hak Milik
Barat yang menjadi objek pajak yang dipungut oleh Inspeksi
Pajak Departemen Keuangan (rechviskal) yang dilakukan
duhulu oleh Kantor Kadaster dimana Kantor Kadaster adalah
lembaga yang semula tugasnya memungut pajak yang didata
dalam kumpulan kartu-kartu/daftar-daftar yang mana setiap
persil mempunyai nomor dengan memuat kota, luas beserta
sifat dari tanah tersebut.

b. Terjadinya Hak Eigendom


Terjadinya Hak Eigendom pertama-tama adalah pemohon
harus mengajukan pengukuran tanah untuk mendapatkan
surat ukur (meetbrief) dengan memasang tanda-tanda batas
bidang tanah yang dimohon dari Kantor Kadaster (sekarang
seksi Pendaftaran Tanah), yang selanjutnya pemohon
Eigendom melampirkan Surat Ukur yang dimaksud
mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal cq.
Direktur Binenenlands Beestuur (sekarang Pimpinan
Depatemen dalam Negeri) kemudian dilakukan penelitian
oleh 1 (satu) panitia yang terdiri dari : Kepala
Distrik/Kabupaten dan Wakil Kepala Distrik/Wedana.

Dalam menyusun Surat Keputusan pemberian eigendom


selain persyaratan-persyaratan yang ditentukan oleh
Undang-undang dan pertaturan lainnya juga harus
memperhatikan Direktur Ekonomi dan Dinas Kehutanan
serta dinas-dinas lainnya, setelah pemohon memenuhi semua
persyaratan yang tercantum dalam Surat Keputusan
pemberian eigendom termasuk uang pembayaran
pemasukan (koopsoom) barulah Surat Keputusan itu

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 26


didaftarkan di Kantor Kadaster untuk mendapatkan Acte Van
Eigendom tanda bukti hak

Acte Van Eigendom tersebut adalah merupakan alat bukti


pemilikan yang mana dokumen pemilikan tersebut ada dua
yaitu :
- Akta Eigendom yang pertama dibukukan di Grondbook
(buku Tanah) sebagai asli Eigendom yang disimpan di
Kantor Kadaster
- Akta Eigendom diberikan kepada pemegang atau pemilik
Hak Eigendom sebagai tanda bukti pemilikan

c. Apakah Hak Eigendom dapat dialihkan


Bahwa Hak Eigendom dapat dialihkan karena perbuatan
hukum melalui : Jual Beli, Hibah, tukar-menukar, pemasukan
modal ke dalam perusahaan dan pembebanan Hak
Eigendom dengan Hypoteek yang harus dibuat dengan Akta
Notaris

Perbuatan hukum tersebut disebut veitelijkelevering


(penyerahan nyata) dan harus dilengkapi dengan
lanmeterscannis yang merupakan surat pemberitahuan dari
Kantor Kadaster yang menyatakan tentang peralihan hak
serta pula dilengkapi dengan surat ukur serta tanda telah
melunasi pajak balik nama, yang mana selajutnya harus
didaftarkan di griffer v/h grechtsshof Panitera Pengadilan
Negeri setelah itu barulah diterbitkabn Akta Van Eigendom
atas nama pembeli perbuatan hukum tersebut dinamakan
yuridischlevering (penyerahan yuridis) terhadap peralihan-
peralihan karena peristiwa hukum seperti warisan, testamen,

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 27


perkawinan dsb. terlebih dahulu diperlukan persyaratan
berupa keterangan meninggalnya pewaris, testamen dari
Notaris, keterangan waris dari Notaris/balai harta
peninggalan.

Veitelijkelevering (penyerahan nyata) adalah suatu


penyerahan nyata atas tanah akan tetapi belum dilakukan
pencatatan (overschrijvings) akta dalam register umur (Akta
Van Transfor) yang mengakibatkan terjadinya perbuatan
hukum dengan mana Hak Eigendomnya diserahkan
(penyerahan yuridis atau yuridischlevering)

Jadi Hak Milik atas tanah baru beralih kepada


pembeli/penerima peralihan jika telah dilakukan penyerahan
yuridis yang wajib diselenggarakan dengan pembuatan akta
dimuka oleh dan Kepala Kantor Pendaftaran Tanah selaku
Overschrijvings Ambtenaar menurut Overschrijvings
Ordonnantie STB. 1834 No. 27 atau pasal 1459 BW.

Benny Oewes, SH., M.Kn | Hukum Agraria Indonesia 28