Anda di halaman 1dari 16

Makalah

Makna Pancasila dalam perspektif budaya lokal dan


Pendidikan Islam

Dosen Pembimbing :
Wahyudi Achmad M.Pd.I
Disusun oleh :
Ridlotul Sasmita Ningrum

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH


MUHAMMADIYAH BANGIL
TAHUN 2021/2022
1
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat
menyelesaikan tugas makalah yang berjudul "Makna Pancasila
dalam Prespektif Budaya Lokal dan Pendidikan Islam " ini tepat
pada waktunya. Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini
adalah untuk memenuhi tugas Wahyudi Achmad,M.Pd.I. Pada
mata studi " Pancasila " Selain itu, makalah ini juga bertujuan
untuk menambah wawasan tentang " Makna pancasila dalam
perspektif Budaya Lokal dan Pendidikan Islam " bagi para
pembaca dan juga bagi penulis.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Wahyudi
Achmad,M.Pd.I yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat
menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang
studi yang saya tekuni. Saya juga mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membagi sebagian
pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah
ini. Saya menyadari, makalah yang saya tulis ini masih jauh dari
kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang
membangun akan saya nantikan demi kesempurnaan makalah
ini.

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................. i


Daftar Isi ........................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
* Latar Belakang ................................................................ 1
* Rumusan Masalah ........................................................... 4
* Tujuan ............................................................................ 5
BAB II PEMBAHASAN
* Makna Pancasila dalam Perspektif Budaya lokal dan
Pendidikan Islam............................................................ 6
BAB III PENUTUPAN
* Kesimpulan ................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA ..................................................... 12

BAB I PENDAHULUAN

3
* Latar belakang

Pancasila sebagai salah satu pilar penyangga dalam kehidupan


berbangsa dan bernegara memiliki konsep, prinsip dan nilai yang
merupakan kristalisasi dari sistem berbagai wilayah lokal bangsa
Indonesia, memberikan warna dalam setiap sistem kedaerahan yang
termanifestasi secara nasional dan menjadikannya Bhinneka Tunggal
Ika. khususnya, Jawa terhadap nilai-nilai Pancasila sebagai pemersatu
bangsa. Pendekatan penelitian dengan studi kepustakaan dan analisis
historis. Lima sila dalam Pancasila menunjukkan ide-ide fundamental
mengenai manusia dan seluruh realitasnya dalam kehidupan bersama
dengan perbedaan perbedaan suku, ras, agama, budaya tetap bersatu
saling melengkapi yang dibungkus dengan bingkai kebhinekaan hidup
gotong-royong sesuai dengan konsep budaya Jawa, yang diyakini
kebenarannya oleh bangsa Indonesia dan bersumber pada watak,
kebudayaan Indonesia dan melandasi berdirinya Negara Indonesia.
Singkatnya, rumusan Pancasila adalah sebuah rumusan yang didapatkan
dari “sari-sari” budaya bangsa yang jumlahnya ribuan. Dalam berbagai
wacana selalu terungkap bahwa telah menjadi kesepakatan bangsa
adanya empat pilar penyangga kehidupan berbangsa dan bernegara bagi
negara-bangsa Indonesia. Secara umum dapat disadari bahwa negara
bangsa Indonesia adalah negara yang besar, wilayahnya sangat luas,
serta merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki 17.
000 pulau lebih, terdiri atas berbagai suku bangsa yang memiliki
beraneka adat dan budaya, serta memeluk berbagai agama dan
keyakinan, maka yang dijadikan pilar harus sesuai dengan kondisi
negara bangsa tersebut. Pancasila sebagai salah satu pilar penyangga
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara memiliki konsep, prinsip dan
4
nilai yang merupakan kristalisasi dari sistem kepercayaan yang terdapat
di seantero wilayah Indonesia, sehingga memberikan jaminan kokoh
kuatnya Pancasila sebagai pilar kehidupan berbangsa dan bernegara.
Karakteristik nilai-nilai Pancasila dalam kebudayaan, khususnya
kearifan lokal budaya Jawa adalah tentang falsafah hidup. “Falsafah
Jawa menekankan adanya kesempurnaan hidup, begitu juga dengan
Pancasila. Namun, untuk mencapai kesempurnaan hidup dalam falsafah
Jawa lebih menekankan kesempurnaan individu dan banyak dilakukan
dengan ritual mistik kejawen. Kesempurnaan hidup dalam Pancasila
ditujukan untuk kolektif dan dilakukan melalui sikap dan perilaku (yang
baik) yang dilakukan manusia Indonesia dengan sesama dan Tuhannya.”
Pancasila sebagai Pandangan hidup dalam kehidupan bangsa sangat
diperlukan, karena menjadi pegangan dan pedoman bangsa Indonesia
dalam memecahkan masalah-masalah politik, ekonomi, sosial dan
budaya. Secara materil Pancasila sebagai pandangan hidup berisi konsep
dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan bangsa Indonesia, serta
mengandung pikiran- pikiran mendasar mengenai kehidupan yang
dianggap baik sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Pancasila sebagai
pandangan hidup merupakan kristalisasi nilai-nilai yang bersumber dari
kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia (Daman, 1995:15-16).
Pancasila dirumuskan dari nilai budaya bangsa Indonesia yang terdiri
dari nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, masyarakat dan keadilan
sosial. Ketuhanan Yang Maha Esa, diwujudkan setiap orang seharusnya
memeluk agama sesuai keyakinannya, bertoleransi terhadap orang lain
yang berbeda agama. Kemanusiaan yang adil dan beradab, diwujudkan
dalam bentuk perilaku saling menghargai harkat dan martabat sesama,
kesamaan dalam kemasyarakatan dan hukum, saling mengasihi, dan
menyayangi. Persatuan Indonesia, diwujudkan dengan tiadanya
diskriminasi individu dan antar golongan, kesediaan bekerja sama untuk
kepentingan bersama, bergotong royong, rela berkorban, senantiasa
5
berupaya untuk menciptakan kerukunan. Kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan diwujudkan
ke dalam bentuk menyelesaikan masalah dengan musyawarah,
demokrasi substansial, dan tidak memaksakan kehendak. Keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia, diwujudkan dalam bentuk perilaku
menghargai hak orang lain, karya cipta orang lain, dan mengedepankan
kewajiban kemudian hak yang dilaksanakan secara seimbang. Wilayah
Indonesia yang sangat luas telah dihuni suku bangsa yang tersebar ke
seluruh pelosok tanah air secara tidak merata, dari persebaran yang tidak
merata tersebut pulau Jawa yang paling padat penduduknya,
dibandingkan dengan jumlah penduduk di pulau lainnya, pada dasarnya
masing-masing suku bangsa memiliki kebiasaan, tradisi, adat istiadat
dan budaya yang saling mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangannya. Adanya nilai persatuan inilah yang melatar belakangi
rasa toleransi yang tinggi terhadap perbedaan ras, budaya, dan agama
yang ada di Indonesia. Nilai Persatuan sangat di hormati dalam
keanekaragaman yang ada di Indonesia, sehingga masyarakatnya dapat
hidup berdampingan dengan perbedaan budaya dan terhindar dari
diskriminasi.

*Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud pancasila ?
2. Bagaimana perspektif budaya lokal terhadap makna pancasila ?
3. Bagaimana perspektif pendidikan islam terhadap makna pancasila ?

* Tujuan
6
1. Untuk mendeskripsikan apa itu pancasila
2. Untuk mendeskripsikan perspektif budaya lokal terhadap makna
pancasila
3. Untuk mendeskripsikan perspektif pendidikan islam terhadap makna
pancasila

BAB I
PEMBAHASAN

Pancasila adalah pilar ideologis negara Indonesia. Nama ini terdiri dari
dua kata dari Sanskerta: pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau
asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa
dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Lima ideologi utama
penyusun Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan
yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan tercantum pada alinea
ke-4 Preambule (Pembukaan) Undang-Undang Dasar 1945. Pancasila,
serta arti lambang Pancasila. Fungsi Utama Pancasila Sebagai dasar
negara, Pancasila tentu memiliki fungsi. Pada dasarnya Pancasila
berfungsi sebagai dasar dari semua hukum yang berlaku di Indonesia.
Dalam bukunya, Ronto merumuskan fungsi utama pancasila dalam 9
7
poin, di antaranya: Pancasila sebagai ideologi negara, Pancasila sebagai
dasar negara, Pancasila sebagai jiwa bangsa Indonesia, Pancasila sebagai
kepribadian bangsa Indonesia, Pancasila sebagai pandangan hidup
bangsa Indonesia, Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum
atau sumber tertib hukum bagi negara republik Indonesia, Pancasila
sebagai perjanjian luhur bangsa Indonesia, Pancasila sebagai cita-cita
dan tujuan bangsa Indonesia, Pancasila sebagai falsafah hidup yang
mempersatukan bangsa.

Perspektif Budaya
Falsafah Pancasila dan keragaman budaya indonesia merupakan
fakta kebudayaan. Namun dalam hal ini, Pancasila dapat disebut sebagai
great tradition karena merupakan bagian utama dari struktur negara,
sedangkan little tradition adalah budaya lokal yang dapat diperinci ke
dalam berbagai ragam etnis, bahasa, adat istiadat, dan agama.
Keterkaitan suatu budaya lokal dengan aspek agama khususnya, juga
memperluas corak kebudayaan itu.. Demikian hubungan antara
Pancasila dengan budaya tersebut, dapat digali nilai-nilai yang
memperkaya falsafah negara ini dari khazanah budaya yang sangat unik
dan beragam. Pancasila dalam perspektif kebudayaan, antara lain
disebutkan Soekarno, bahwa “…..Ketika itulah datang ilham yang
diturunkan Tuhan mengenai lima dasar falsafah hidup yang sekarang
dikenal dengan Pncasila. Aku tidak mengatakan aku menciptakan
Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali tradisi kami jauh
sampai ke dasarnya, dan keluarlah aku dengan lima butir mutiara yang
indah”. Pendapat dalam renungan Sang Proklamator ini mengandung
pemahaman bahwa Pancasila adalah saripatikebudayaan dan cara hidup
yang digali dari kebhinekaan masyarakat Indonesia. Selain dari sudut
8
pandang kebudayaan, Pancasila juga dapat dikatakan sebagai moral
bangsa. Berarti Pancasila adalah kristalisasi dari aneka ragam adat-
istiadat secara turun menurun, maupun dari pengaruh berbagai ajaran
agama yang masuk ke wilayah Nusantara. Karena itu, dalam lintasan
sejarah dapat dikatakan bahwa moral bangsa bersumber dari sejarah
yang sangat jauh ke masa lampau, sekalipun pembinaannya dimulai
sejak timbulnya cita-cita kemerdekaan pada permulaan abad XX.
Kemudian antara adat dan agama dalam moral Pancasila itu terus
terpadu dengan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh bangsa Indonesia
dalam mengisi kemerdekaannya hingga sekarang. Moral Pancasila yang
mencerminkan perpaduan nilai-nilai agama dan budaya ini sangat
menarik, karena hal itu ditunjukkan dalam pola-pola pengembangan
nilai-nilai Pancasila yang unik seiring dengan penyebaran agama dalam
berbagai etnis di negeri ini. Seperti agama Islam yang dipeluk mayoritas
penduduk negeri, hal ini dapat dilihat pengaruhnya terhadap pembinaan
moral bangsa sekaligus moral Pancasila, yang juga berkembang dalam
keanekaragaman budaya lokal atau suku-suku bangsa di berbagai
daerah.

Fenomena Lokal
Dalam hal ini, antara lain dapat dijelaskan tentang fenomena budaya
masyarakat Indonesia adalah salah satunya budaya Sunda. Keunikan
etnis Sunda, seperti digambarkan seorang pujangga Pasundan, R.H.
Hasan Moestafa (1852-1930), bahwa budaya Sunda terbentuk dari hasil
akulturasi antara agama (Islam) dengan kebudayaan setempat, di
wilayah Priangan khususnya, atau lebih luasnya di Jawa Barat.
Menurutnya, budaya akulturatif itu tercermin dalam adat pengajaran,
upacara daur hidup, ramalan, dan sebagainya. Pengembangan nilai-nilai
budaya tersebut dalam kehidupan sehari-hari orang Sunda dirangkum
9
dalam filosofi cageur, bageur, bener, pinter (sehat, baik, benar, pintar).
Cageur jasmani dan rohani sebagai modal utama untuk bisa berkarya.
Bageur menunjukan kebaikan bertingkah-laku yang didasarkan pada
akhlak yang baik. Kemudian bersikap bener, sesuai dengan ketentuan
agama, adat, hukum, dan sosial. Bener secara Islam khususnya adalah
sesuai dengan tuntunan untuk mentaati Allah, Rasul, dan Ulil Amri
(pemerintah). Selanjutnya, orang Sunda menekankan pinter, agar apa
yang dilakukan selalu didasarkan pada pemahaman yang baik, bukan
semata didasarkan pada kecerdasan akal, melainkan kepintaran yang
dilandasi tiga sifat terdahulu. Pembinaan moral bangsa seperti pada
masyarakat Sunda tersebut juga tercermin dari peranan tarekat, suatu
pola keagamaan yang sangat adaptif dengan budaya lokal. Tarekat
sendiri adalah metode keagamaan Islam yang lebih menekankan segi
spritual dan batiniyah. Seperti terjadi dalam peranan tarekat Qadiriyah
wa Naqsyabandiyah di Suryalaya, pembinaan moral masyarakat
dilakukan dengan pengembangan ajaran dan ritual, yang berpedoman
atas Tanbih, semacam wasiat dari Abah Sepuh, pendiri tarekat tersebut.
Salah satu butir pesannya menyebutkan, bahwa ”berhati-hatilah dalam
segala hal, jangan sampai berbuat yang bertentangan dengan Peraturan
Agama maupun Negara”. Pandangan ini juga bermakna sebagai
penanaman cinta tanah air dan bangsa Indonesia, sehingga di antara
refleksinya selalu diadakan upacara tahlilan pada setiap tanggal 16
Agustus, menyambut hari kemerdekaan Indonesia. Gejala lain tercermin
dalam tradisi lisan masyarakat Sunda, misalnya dalam sebuah teks
berjudul Nadzam Pancasila, ditulis dengan huruf Arab pegon berbahasa
Sunda. Bait-bait awal nadham (sajak) ini menyebutkan bahwa negara
dan Pancasila tidak boleh dibantah, sebab dasar Pancasila dibenarkan
oleh agama sesuai Quran dan Hadits serta syariatnya.

10
Perspektif pendidikan islam

Sejalan dengan bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan tersebut


di atas, Islam juga memiliki ajaran yang khas dalam bidang pendidikan.
Islam memandang bahwa pendidikan adalah hak bagi setiap orang
(education for all), laki-laki atau perempuan, dan berlangsung sepanjang
hayat (long life education) 40 Al-Qur‟an memuat nilai normatif yang
menjadi acuan dalam pendidikan Islam. Nilai yang dimaksud terdiri atas
tiga pilar utama, yaitu:
a. Aqidah, yang berkaitan dengan pendidikan keimanan, seperti percaya
kepada Allah, Malaikat, Rasul, Kitab, Hari Akhir dan Takdir, yang
bertujuan untuk menata kepercayaan individu.
b. Syari’ah, yang berkaitan dengan pendidikan tingkah laku sehari-
hari,baik yang berhubungan dengan:
1) Pendidikan ibadah, yang memuat hubungan antara manusia dengan
Tuhannya, seperti shalat, puasa, zakat, haji dan nazar, yang bertujuan
untuk aktualisasi nilai-nilai ubudiyah.
2) Pendidikan muamalah, yang memuat hubungan antara manusia, baik
secara individual maupun institusional. Bagian ini terdiri atas :
a) Pendidikan syakhsiyah, seperti perilaku individu seperti masalah
perkawinan, hubungan suami istri dan keluarga serta kerabat dekat, yang
bertujuan untuk membentuk keluarga sakinah dan sejahtera.
b) Pendidikan madaniyah, yang berhubungan dengan perdagangan
seperti upah, gadai, kongsi, dan sebagainya yang bertujuan untuk
mengelola harta benda atau hak-hak individu.

11
c) Pendidikan jana’iyah, yang berhubungan dengan pidana atas
pelanggaran yang dilakukan, yang bertujuan untuk memelihara
kelangsungan kehidupan manusia, baik berkaitan dengan harta,
kehormatan, maupun hak-hak individu lainnya.
d) Pendidikan murafa’at, yang berhubungan dengan acara seperti
peradilan, saksi maupun sumpah yang bertujuan untuk stabilitas bangsa
dan Negara.
e) Pendidikan dusturiyah, yang berhubungan dengan undang-undang
Negara yang mengaturhubungan antara rakyat dengan pemerintah atau
Negara, yang bertujuan untuk stabilitas bangsa dan Negara.
f) Pendidikan dawaliyah, yang berhubungan dengan tata Negara, seperti
tata Negara Islam, tata Negara tidak Islam, wilayah perdamaian dan
wilayah perang, dan hubungan muslim satu Negara dengan muslim di
Negara lain, yang bertujuan untuk perdamaian dunia.
g) Pendidikan iqtishadiyah, yang berhubungan dengan perekonomian
individu dan Negara, hubungan yang miskin dan yang kaya, yang
bertujuan untuk keseimbangan atau pemerataan pendapatan.
c. Akhlak, yang berkaitan dengan pendidikan etika, yang bertujuan
untuk membersihkan diri dari perilaku rendah dan menghiasi diri dengan
perilaku terpuji. Dengan demikian, misi ajaran agama Islam juga tidak
dapat diabaikan dalam rangka merumuskan tujuan pendidikan nasional,
karena pada dasarnya ketiga misi ajaran agama Islam tersebut di atas
juga merupakan tolok ukur dalam merumuskan tujuan pendidikan
nasional tersebut. Dari penjabaran diatas, maka dapat penulis ambil
kesimpulan bahwa nilai-nilai Pancasila dan misi ajaran agama Islam
sangat berpengaruh terhadap tujuan pendidikan nasional, yaitu keduanya
sebagai dasar dan pelindung dalam menentukan kebijakan tentang
tujauan pendidikan Nasional dalam mengembangkan kemampuan dan
12
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, juga bertujuan untuk
berkembangnya potensi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Karenanya tujuan pendidikan nasional tidak boleh menyimpang dan atau
bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan ajaran agama Islam.
Pendidikan Islam memang menjadi peranan yang sangat penting untuk
menjamin kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara, karena
pendidikan Islam juga merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas
sumber daya manusia. Pendidikan Islam merupakan salah satu cara
untuk mencapai tujuan pembangunan bangsa. Pendidikan islam
bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan
pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi
manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta
berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara serta untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.
Sistem pendidikan Islam adalah berpusat pada kemampuan otak dan
keterampilan teknis, pendidikan islam juga merupakan sistem
pendidikan yang berdasarkan nilai-nilai Islam.Teori-teori yang
digunakan dalam pendidikan Islam yaitu teori yang disusun berdasarkan
Al-Qur,an dan Al-Hadist. Al-Qur,an banyak dikembangkan oleh para
mufasir dalam berbagai karya tafsir. Al-hadist juga banyak
dikembangkan oleh para ahli hadist. Jadi para ahli tafsir dan hadist dapat
dijadikan rujukan dalam menyusun teori pendidikan Islam. Pancasila
adalah dasar dalam kehidupan bagi negara Indonesia. Pancasila
merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara
bagi seluruh rakyat Indonesia. Kita ketahui seluruh dunia pendidikan
yang ada di Indonesia mengajarkan nilai-nilai islam yang tercantum di
dalam tiap sila Pancasila, sehingga akan menjadi suatu hal yang aneh
13
apabila di wilayah Indonesia terkhusus yang berlatar belakang Agama
Islam tidak paham atau tidak mengerti apa saja Nilai-Nilai Pendidikan
Islam Yang terkandung didalam tiap sila Pancasila. Oleh karena itu
untuk menanggulangi permasalahan tersebut dan sejalan berkembangnya
dunia pendidikan penulis mencoba ikut memberi sumbangsih kecil
dalam khasanah keilmuan di dunia pendidikan Islam dan yang berwarga
negara berlandaskan Pancasila.

BAB III PENUTUPAN

* Kesimpulan

Meskipun demikian, tetap bersatu dan saling melengkapi yang


dibungkus dengan bingkai kebhinekaan hidup gotong-royong sesuai
dengan konsep budaya Jawa, yang diyakini kebenarannya oleh bangsa
Indonesia dan bersumber pada watak, kebudayaan Indonesia dan
melandasi berdirinya Negara Indonesia. Singkatnya, rumusan Pancasila
adalah sebuah rumusan yang didapatkan dari “sari-sari” budaya bangsa
yang jumlahnya ribuan.

14
Secara umum bahwa Pancasila mengandung nilai-nilai ke-Tuhanan,
kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan, yaitu sebuah nilai-
nilai universal yang luhur. Semangat dari nilai-nilai Pancasila tersebut
sangat sesuai dengan nilai-nilai Islam. Bahkan apa yang diusung oleh
Pancasila secara keseluruhan menjadi visi Islam dalam risalahnya.
Hanya saja keduanya secara eksistensial memiliki hak otonomi
tersendiri. Artinya bahwa Islam adalah agama dan Pancasila adalah
ideologi. Pancasila tidak akan menjadi agama dan agama tidak akan
menjadi ideologi. Tetapi secara substansial, Islam dan Pancasila
merupakan satu kesatuan yang utuh dalam artian nilai-nilai yang
dikandungnya.
Hal ini sekaligus memberikan pemahaman bahwa perumusan ide
Pancasila sejatinya diilhami oleh konsep dan nilai-nilai keislaman.
Penegasan ini berdasarkan pemikiran bahwa yang dimaksud adalah
nilai-nilai Pancasila bersesuaian dengan Islam tanpa harus menjadikan
Indonesia sebagai negara Islam secara formal. Pemikiran ini pula sangat
menganjurkan bahwa nilai-nilai Islam dapat tumbuh dan berkembang
pada sebuah negara yang tidak menegaskan sebagai negara yang
berafiliasi pada Islam.

DAFTAR PUSTAKA

15
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pancasila
Franciscus Xaverius Wartoyo
Darmodiharjo Darji, Nyoman dekker dkk, Santiaji Pancasila (Surabaya:
Usaha Nasional, 1991), 11-12.
https://m.cnnindonesia.com/nasional/20201202162341-31-
577170/mengenal-pancasila-fungsi-nilai-dan-arti-lambang
(Daman, 1995:15-16).
Abdul Mujib, ,Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:Kencana, 2008), cet. II,
hlm. 36-37
Prof. Dr. H. Dudung Abdurahman

16