Anda di halaman 1dari 6

DIGITAL MARKETING

Kasus Transformasi Digital : Direktorat Jendral Pajak

Transformasi Digital Direktorat Jendral Pajak

A. Sejarah dan Profil Perusahaan

Direktorat Jenderal Pajak merupakan unit kerja di bawah koordinasi Kementerian


Keuangan Republik Indonesia yang mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan
kebijakan dan standardisasi teknis di bidang perpajakan. Dalam melaksanakan tugasnya,
Direktorat Jenderal Pajak menyelenggarakan fungsi:

1. Perumusan kebijakan di bidang perpajakan;


2. Pelaksanaan kebijakan di bidang perpajakan;
3. Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang perpajakan;
4. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang perpajakan; dan
5. Pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Pajak.

Direktorat Jenderal Pajak memiliki posisi krusial dalam pemerintahan Republik


Indonesia karena memiliki tugas dalam menghimpun penerimaan negara melalui pajak.
Dalam satu dasawarsa ini, kurang lebih 75% penerimaan negara berasal dari pajak.
Dalam perspektif anggaran, penerimaan pajak merupakan faktor penentu besarnya
APBN. Mayoritas pembiayaan APBN berasal dari penerimaan pajak.

Hampir seluruh aspek pembangunan infrastruktur negara berhubungan langsung


dengan kemampuan Direktorat Jenderal Pajak dalam menghimpun penerimaan pajak
sehingga Presiden dan Wakil Presiden dan rakyat pada umumnya menaruh harapan besar
agar Direktorat Jenderal Pajak menjadi Institusi perpajakan yang mampu dan memiliki
kapasitas untuk mendanai pembangunan secara mandiri.

Organisasi DJP terbagi atas unit kantor pusat dan unit kantor operasional. Kantor
pusat terdiri atas Sekretariat Direktorat Jenderal, direktorat, dan jabatan tenaga pengkaji.
Unit kantor operasional terdiri atas Kantor Wilayah DJP (Kanwil DJP), Kantor Pelayanan
Pajak (KPP), Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP), Pusat
Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan (PPDDP), dan Kantor Pengolahan Data dan
Dokumen Perpajakan (KPDDP).

Organisasi DJP, dengan jumlah kantor operasional lebih dari 500 unit dan jumlah
pegawai lebih dari 32.000 orang yang tersebar di seluruh penjuru nusantara, merupakan
salah satu organisasi besar yang ada dalam lingkungan Kementerian Keuangan. Segenap
sumber daya yang ada tersebut diberdayakan untuk melaksanakan pengamanan
penerimaan pajak yang beban setiap tahunnya semakin berat.

Dengan mempertimbangkan capaian kinerja, potensi, permasalahan, dan


tantangan, memperhatikan visi pembangunan nasional 2005-2025, visi dan misi
pemerintah 2014-2019, visi dan misi Kementerian Keuangan 2015-2019, serta dalam
rangka mendukung Sembilan Agenda Prioritas Pembangunan (Nawa Cita), maka visi dan
misi DJP untuk tahun 2015-2019 adalah:

VISI :

Menjadi Institusi Penghimpun Penerimaan Negara yang Terbaik demi Menjamin


Kedaulatan dan Kemandirian Negara.

MISI :

Menjamin penyelenggaraan negara yang berdaulat dan mandiri dengan:

1. Mengumpulkan penerimaan berdasarkan kepatuhan pajak sukarela yang tinggi


dan penegakan hukum yang adil;

2. Pelayanan berbasis teknologi modern untuk kemudahan pemenuhan kewajiban


perpajakan;

3. Aparatur pajak yang berintegritas, kompeten dan profesional; dan

4. Kompensasi yang kompetitif berbasis sistem manajemen kinerja.


B. Sejarah Online Pajak

1. e-Billing

Pada tahun 2013, sebelum pemerintah mengenalkan metode pembayaran pajak


secara online melalui sistem e-billing, Wajib Pajak dapat membayar pajak secara online
melalui ATM. Namun, jenis pajak yang dapat dibayarkan masih terbatas yakni hanya
Pajak Penghasilan (PPh).

Pada awalnya sebelum menggunakan ATM, pembayaran hanya bisa dilakukan di


bank tertentu saja. Untuk menyetorkan pajak, Wajib Pajak hanya perlu mendatangi ATM
dan memasukkan NPWP diikuti 2 digit bulan dan 2 digit Tahun Pajak. Beberapa tahun
berjalan, pemerintah mulai mengembangkan sendiri sistem pembayaran berbasis aplikasi
e-Billing yang lebih modern yakni Surat Setoran Elektronik (SSE) Pajak versi 1,
kemudian disempurnakan melalui SSE Pajak versi 2 dan SSE Pajak versi 3.

2. e-Filing

Aplikasi e-Filing pertama kali diperkenalkan oleh Application Service Provider


(ASP) dan disahkan melalui PER Dirjen Pajak Nomor KEP-05/PJ./2005 tentang Tata
Cara Penyampaian Surat Pemberitahuan Secara Elektronik (e-Filing) Melalui Perusahaan
Penyedia Jasa Aplikasi (ASP). Dalam perkembangannya, DJP kemudian
mengembangkan aplikasi e-Filing milik pemerintah yang dapat diakses melalui website
DJP.

Sisi Keamanan dari Online Pajak

Apabila dilihat dari sisi keamanan, pajak online dianggap lebih aman. Salah satu
alasannya, karena sistem pajak online didukung oleh keberadaan e-FIN atau Electronic
Filing Identification Number (e-FIN). Dengan e-FIN, transaksi perpajakan secara online
baik itu yang dilakukan melalui situs DJP Online maupun ASP perpajakan akan
terenkripsi aman dan rahasia.

Sistem perpajakan online juga membebaskan Wajib Pajak dari keharusan


menyantumkan tanda tangan. Dan sebagai gantinya DJP dan ASP perpajakan
mengirimkan kode-kode verifikasi yang harus dimasukkan Wajib Pajak ketika akan
melakukan transaksi baik itu melaporkan pajak secara online maupun bayar pajak secara
online. Hal ini juga dinilai jauh lebih aman karena kode verifikasi ini tidak dapat
dipalsukan.

Sejak Modul Penerimaan Negara Generasi 2 (MPNG 2) diluncurkan, DJP


mengintegrasikan seluruh aplikasi perpajakan baik e-Filing dan e-Billing ke dalam situs
DJP Online. Website ini baru diluncurkan pada tahun 2014, bersamaan dengan
diluncurkannya layanan e-Filing milik pemerintah.

C. Proses Digitalisasi Perusahaan

Di era digital atau revolusi industri 4.0 saat ini, penggunaan teknologi digital menjadi
suatu tuntutan agar suatu usaha tetap mampu bersaing, baik itu perusahaan besar maupun
menengah kecil. Beberapa kalangan usahawan telah mengimplementasikan transformasi digital
untuk perkembangan usahanya. Dalam teorinya e-marketing didefinisikan sebagai segala upaya
untuk memasarkan suatu produk jasa atau barang dengan menggunakan media elektronik atau
internet. Sekarang penggunaan e-marketing semakin masif saja, tidak hanya perusahaan yang
profit tetapi beberapa perusahaan nonprofit juga menggunakan e-marketing untuk berbagai
tujuan.

Perusahaan atau kantor yang menggunakan media elektronik pada dasarnya adalah untuk
memberikan fasilitas yang memudahkan penggunaan mengakses sesuatu yang ditawarkan.
Sesuatu itu atau informasi tersebut bertujuan untuk menarik seseorang membaca dan tergerak
untuk melakukan sesuatu. Apabila hal tersebut berupa barang atau jasa maka diharapkan
khalayak ramai dapat tergerak untuk memesannya. Sedangkan untuk kantor pemerintahan,
penggunaan media elektronik juga bertujuan untuk memasarkan produk layanannya, sehingga
masyarakat mudah untuk mengaksesnya. Selain kemudahan dalam hal mengakses, peningkatan
citra positif juga menjadi tujuan dari kantor pemerintahan tersebut.

Di era revolusi industri, kemudahan dalam melaporkan dan membayar pajak juga
menjadi tantangan tersendiri bagi Direktorat Jenderal Pajak untuk memenuhinya. Beberapa
fasilitas sudah diterbitkan, mulai dari e-filing untuk SPT Tahunan, e-billing, pelaporan SPT masa
secara elektronik, dan konsultasi perpajakan juga bisa dilakukan secara elektronik. Semua ini
dilakukan untuk memberikan kemudahan bagi wajib pajak untuk membayar dan melaporkan
kewajiban perpajakannya.

Kemudahan yang dibuat merupakan upaya dari DJP untuk melakukan transformasi
digital, transformasi ini selain bentuk pelayanan juga merupakan upaya peningkatan citra. Bila
selama ini wajib pajak banyak mengeluhkan kesulitan dalam membayar dan melaporkan
kewajiban perpajakannya maka diharapkan hal tersebut akan terkikis. Kritik terhadap DJP
tentang kesulitan dalam membayar dan dipersulit dalam melaporkan, membuat pihak DJP
melakukan mitigasi, dari hasil mitigasi maka diputuskan transformasi pelaporan ke era elektronik
menjadi hal yang penting.

Direktorat Jenderal Pajak saat ini sudah menyediakan hampir semua laporan secara
elektronik. Hanya ada 2 (dua) pelaporan yang masih belum yaitu PPh yang bersifat final. Ada
beberapa juga yang masih dalam tahap uji coba dalam pelaporannya. Namun apapun itu tujuan
utama dari ini semua adalah untuk transformasi menjadi lebih baik, lebih mudah, lebih dekat
dengan wajib pajak namun tidak mengurangi isi dan makna dari laporan itu sendiri.

Lalu apa indikator keberhasilan DJP dalam transformasi e-report atau pelaporan secara
elektronik? Ada 2 (dua) indikator yang bisa menjadi acuan yaitu indikator proses dan indikator
hasil. Indikator proses adalah makin mudahnya wajib pajak dalam melaporkan SPT-nya,
sedangkan indikator hasil adalah makin banyaknya wajib pajak yang menggunakan pelaporan
secara elektronik. Setiap tahunnya, makin meningkat wajib pajak yang menggunakan media ini.
Hal ini mengurangi jumlah wajib pajak yang lapor secara manual di kantor pelayanan pajak
sehingga antrian pelaporan tidak menjadi panjang. Bahkan di beberapa Kantor Pelayanan Pajak
sudah mulai sepi wajib pajak yang lapor secara manual, baik SPT Tahunan maupun SPT Masa.
Tahun 2017 wajib pajak yang menggunakan e-filing dalam melaporkan SPT Tahunan
adalah 4,8 juta sedangkan di tahun 2018 mencapai 5,7 juta, dengan pertumbuhan hampir
mencapai 20%. Pertumbuhan ini selain promosi gencar yang dilakukan DJP, dikarenakan juga
sudah mulai bergesernya kebiasaan wajib pajak dalam melaporkan SPT. Promosi melalui media
sosial, tutorial cara menggunakan e-filing, serta aplikasi yang mudah digunakan turut membantu
dalam marketing produk e-filing DJP. Di tahun 2018 ini juga keluhan wajib pajak akan antrean
dalam menyampaikan SPT Tahunan sudah tidak ada, hanya dalam aplikasi masih sering error.
Hal ini tidak lepas dari kebiasaan wajib pajak yang masih suka melaporkan kewajibannya di
akhir episode.

Membuat nyata berbagai kemudahan dalam pembayaran dan pelaporan untuk


membangun negeri bisa menjadi semangat DJP untuk terus berinovasi. Generasi milenial sebagai
calon pembayar pajak masa depan menjadi target dari inovasi ini. Jadi e-marketing bukan hanya
domain perusahaan saja, kantor pemerintah juga harus memasarkan produknya, tentunya produk
yang sesuai dengan jamannya. Perubahan itu adalah sesuatu yang pasti terjadi, tinggal bagaimana
kita menyikapinya. Sesuatu yang baik hendaknya terus dikembangkan. Lewat transformasi
digital, DJP berharap dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak dalam membayar dan
melaporkan kewajibannya.