Anda di halaman 1dari 82

Ciri-ciri Umum Kimia Logam Transisi

Halaman ini menjelaskan apa yang dimaksud dengan logam transisi berdasarkan
syarat-syarat struktur elektronik, dan kemudian diteruskan dengan melihat ciri-ciri
umum kimia logam transisi. Termasuk didalamnya perubahan tingkat oksidasi
(bilangan oksidasi), pembentukan ion kompleks, ion berwarna, dan aktivitas
katalitik.

Struktur elektronik logam transisi

Apakah logam transisi itu?

Istilah logam transisi (atau unsur) dan unsur blok d kadang-kadang dapat digunakan
secara bersamaan jika keduanya memberikan arti yang sama. Keduanya tidak sama -
terdapat perbedaan yang tidak kentara diantara dua istilah tersebut.

Kita akan membahas unsur-unsur blok d terlebih dahulu:

unsur-unsur blok d

Kamu akan mengingat bahwa ketika kamu membuat tabel periodik dan ketika
meletakkan elektron, sesuatu yang ganjil terjadi setelah argon.

Pada argon, tingkat 3s dan 3p terisi penuh, tetapi setelah itu daripada mengisi tingkat
3d berikutnya, malahan mengisi tingkat 4s terlebih dahulu menghasilkan kalium dan
kemudian kalsium.

Setelah itu baru tingkat orbital 3d yang akan diisi.

Unsur-unsur dalam tabel periodik yang bersesuaian dengan pengisian tingkat d


disebut dengan unsur-unsur blok d. Baris pertama ditunjukkan melalui tabel periodik
singkat di bawah ini.
Struktur elektronik unsur-unsur blok d adalah sebagai berikut:

Sc [Ar] 3d14s2

Ti [Ar] 3d24s2

V [Ar] 3d34s2

Cr [Ar] 3d54s1

Mn [Ar] 3d54s2

Fe [Ar] 3d64s2

Co [Ar] 3d74s2

Ni [Ar] 3d84s2

Cu [Ar] 3d104s1

Zn [Ar] 3d104s2

Kamu dapat memperhatikan bahwa pola pengisiannya sama sekali tidak teratur! Pola
ini dilanggar pada kromium dan tembaga.

Logam-logam transisi

Tidak semua unsur-unsur blok d termasuk sebagai logam transisi! Ada


ketidakcocokan pada berbagai UK-based syllabus, tetapi pada umumnya
menggunakan definisi:

Logam transisi adalah sesuatu yang dapat membentyk saty atau lebih ion stabil
yang memiliki orbidal d yang tidak terisi (incompletely filled d orbitals.)

Berdasarkan pengertian ini, skandium dan seng tidak termasuk logam transisi -
sekalipun termasuk anggota blok d.

Skandium memiliki struktur elektronik [Ar] 3d14s2. Ketika skandium membentuk


ion, skandium selalu kehilangan 3 elektron terluar dan pada akhirnya sesuai dengan
struktur argon. Ion Sc3+ tidak memiliki elektron d dan karena itu tidak sesuai dengan
definisi tersebut diatas.

Seng memiliki struktur elektronik [Ar] 3d104s2. Ketika seng membentuk ion, seng
selalu kehilangan dua elektron 4s menghasilkan ion 2+ dengan struktur elektronik
[Ar] 3d10. Ion seng memiliki tingkat d yang terisi penuh dan juga tidak sesuai dengan
definisi tersebut diatas.

Hal yang berbeda, tembaga, dengan struktur elektronik [Ar] 3d104s1, membentuk dua
ion. Pada ion Cu+ struktur elektroniknya adalah [Ar] 3d10. Akan tetapi, pada
umumnya membentuk ion Cu2+ yang memiliki struktur [Ar] 3d9.

Tembaga termasuk logam transisi karena ion Cu2+ memiliki tingkat orbital d yang
tidak terisi penuh.

Ion-ion logam transisi

Kamu dapat memahami fakta bahwa ketika tabel periodik disusun, orbital 4s lebih
dahulu diisi sebelum orbital-orbital 3 d. Hal ini karena pada atom kosong, orbital 4s
memiliki energi yang lebih rendah dibandingkan orbital-orbital 3d.

Akan tetapi, sekali elektron menempati orbitalnya, terjadi perubahan tingkat energi -
dan ini terjadi pada semua unsur-unsur transisi, orbital 4s berkedudukan paling luar,
tingkat energi orbital paling tinggi.

Urutan yang terbalik dari orbital-orbital 3d dan 4s hanya dapat digunakan untuk
menempatkan atom pada tempat pertama. Dalam mematuhi aturan, kamu
memperlakukan elektron- elektron 4s sebagai elektron-elektron paling luar.

Ingat ini:

Ketika unsur-unsur blok d membentuk ion, elektron-elektron 4s menghilang


terlebih dahulu.

Penulisan struktur elektronik untuk Co2+:

Co [Ar] 3d74s2

Co2+ [Ar] 3d7

Ion 2+ terbentuk melalui kehilangan dua elektron 4s.

Penulisan struktur elektronik untuk V3+:

V [Ar] 3d34s2
V3+ [Ar] 3d2

Elektron-elektron 4s menghilang terlebih dahulu kemudian diikuti oleh satu elektron


3d.

Perubahan tingkat oksidasi (bilangan)

Salah satu ciri kunci dari kimia logam transisi adalah bermacam-macamnya tingkat
oksidasi (bilangan oksidasi) yang dapat ditunjukkan oleh logam.

Sesuatu angapan yang salah, untuk memberikan kesan bahwa hanya logam transisi
saja yang memiliki perubahan tingkat oksidasi. Sebagai contoh, unsur-unsur seperti
belerang dan klor memiliki bermacam-macam tingkat oksidasi pada
persenyawaannya - dan sudah sangat jelas bahwa belerang dan klor tidak termasuk
logam transisi.

Akan tetapi, perubahan ini tidak sebanyak pada logam selain unsur-unsur transisi.
Logam yang dikenal yang berasal dari grup utama tabel periodik, hanya timbal dan
timah saja yang menunjukkan perubahan tingkat oksidasi sampai tingkat tertentu.

Contoh perubahan tingkat oksidasi dalam logam-logam transisi

Besi

Besi pada umumnya memiliki dua tingkat oksidasi (+2 dan +3) dalam bentuk,
sebagai contoh, Fe2+ dan Fe3+. Besi juga dapat memiliki bilangan oksidasi +6 pada
ion ferat(VI), FeO42-..

Mangan

Mangan memiliki tingkat oksidasi yang bermacam-macam pada persenyawaannya.


Sebagai contoh:

+2 in Mn2+

+3 in Mn2O3

+4 in MnO2

+6 in MnO42-

+7 in MnO4-
Contoh-contoh yang lain

Kamu dapat menemukan contoh-contoh di atas dan contoh- contoh yang lain dengan
lebih mendalam jika kamu mengeksplor sifat kimia dari masing-masing logam pada
menu logam transisi. Menu tersebut merupakan sambungan dari menu ini yang
terletak pada bagian bawah halaman ini.

Keterangan tentang perubahan tingkat oksidasi pada logam transisi

Perhatikan bentuk ion sederhana seperti Fe2+ dan Fe3+

Ketika logam membentuk senyawa ionik, rumus senyawa yang dihasilkan


tergantung pada proses energetika. Secara keseluruhan, senyawa yang terbentuk
merupakan suatu senyawa yang paling banyak melepaskan energi. Lebih banyak
energi yang dilepaskan, senyawa lebih stabil.

Terdapat beberapa pengertian mengenai istilah energi, tetapi kuncinya adalah:

• Jumlah energi yang diperlukan untuk mengionisasi logam (penjumlahan


berbagai energi ionisasi).
• Jumlah energi yang dilepaskan ketika terjadi pembentukan senyawa. Jumlah
energi ini merupakan salah satu dari entalpi kisi jika kamu berfikir tentang
padatan, atau entalpi hidrasi ion jika kamu berfikir tentang larutan.

Ion yang bermuatan lebih tinggi, kamu memiliki lebih banyak elektron untuk
dihilangkan dan lebih banyak energi ionisasi yang kamu perlukan.

Tetapi pada kasus ini, ion bermuatan lebih tinggi, lebih besar energi yang dilepaskan
oleh salah satu diantara entalpi kisi atau entalpi hidrasi ion logam.

Berfikir tentang logam non-transisi yang khas (kalsium)

Kalsium klorida adalah CaCl2. Mengapa begitu?

Jika kamu berusaha untuk membuat CaCl, (mengandung sebuah ion Ca+), proses
keseluruhan adalah sedikit eksoterm.

Malahan dengan membuat ion Ca2+, kamu memiliki banyak energi untuk mensuplai
energi ionisasi, tetapi kamu kehilangan lebih banyak energi kisi. Hal ini disebabkan
karena antaraksi yang terjadi antara ion klorida dengan ion Ca2+ lebih banyak
dibandingkan jika kamu hanya memiliki satu ion +1 saja. Keseluruan proses sangat
eksoterm.

Karena pembentukan CaCl2 lebih banyak melepaskan energi dibanding


pembentukan CaCl, menyebabkan CaCl2 lebih stabil - dan cenderung terbentuk.
Bagaimana dengan CaCl3? Saat ini kamu harus menghilangkan elektron lain dari
kalsium.

Dua yang pertama berasal dari tingkat 4s. Satu yang ketiga datang dari 3p. Keadaan
ini menyebabkan elektron-elektron lebih dekat ke inti dan karena itu lebih sulit
untuk dihilangkan. Terjadi lompatan yang besar pada energi ionisasi antara elektron
kedua dan ketiga yang dihilangkan.

Meskipun hal ini akan memberikan keuntungan pada segi entalpi kisi, tetapi entalpi
tersebut tidak cukup untuk menggantikan kelebihan energi ionisasi, dan secara
keseluruhan proses ini sangat endoterm.

Sesuatu hal yang tidak cukup tepat secara energetika untuk membuat CaCl3!

Berfikir tentang logam transisi khas (besi)

Berikut ini perubahan struktur elektronik besi untuk membuat ion 2+ atau 3+.

Fe [Ar] 3d64s2

Fe2+ [Ar] 3d6

Fe3+ [Ar] 3d5

Orbital 4s dan orbital-orbital 3d memiliki energi yang sangat mirip. Tidak terdapat
lonjakan jumlah energi yang sangat besar yang kamu perlukan untuk menghilangkan
elektron ketiga dibandingkan dengan yang elektron pertama dan kedua.

Gambaran untuk ketiga energi ionisasi pertama (dalam kJ mol-1) untuk besi
dibandingkan dengan kalsium adalah:

metal 1st IE 2nd IE 3rd IE

Ca 590 1150 4940

Fe 762 1560 2960

Terdapat kenaikan energi ionisasi yang disebabkan elektron yang lebih banyak yang
terdapat pada atom karena kamu memiliki bilangan proton yang sama pada beberapa
elektron. Akan tetapi, terdapat sedikit kenaikan ketika kamu memiliki elektron
ketiga dari besi dibanding dari kalsium.
Pada kasus besi, kelebihan energi ionisasi dapat digantikan lebih banyak atau lebih
sedikit oleh kelebihan entalpi kisi atau entalpi hidrasi yang tersusun ketika terjadi
pembentukan senyawa 3+.

Keuntungan dari ini semua adalah perubahan entalpi keseluruhan tidak terlalu
berbeda ketika kamu membuat, katakanlah, FeCl2 atau FeCl3. Hal ini berarti bahwa
tidak terlalu sulit untuk mengubah kedua senyawa.

Pembentukan ion-ion kompleks

Apakah ion kompleks itu?


Ion kompleks memiliki ion logam pada pusatnya dengan jumlah tertentu molekul-
molekul atau ion-ion yang mengelilinginya. Ion-ion yang mengelilinginya itu dapat
berdempet dengan ion pusat melalui ikatan koordinasi (dative covalent). (Pada
beberapa kasus, ikatan yang terbentuk sebenarnya lebih rumit dibandingkan dengan
ikatan koordinasi).

Molekul-molekul atau ion-ion yang mengelilingi logam pusat disebut dengan ligan-
ligan.

Yang termasuk pada ligan sederhana adalah air, amonia dan ion klorida.

Dimana semua ligan-ligan tersebut memiliki pasangan elektron tak berikatan yang
aktif pada tingkat energi paling luar. Pasangan elektron tak berikatan ini digunakan
untuk membentuk ikatan koordinasi dengan ion logam.

Beberapa contoh ion kompleks yang dibentuk oleh logam transisi

[Fe(H2O)6]2+

[Co(NH3)6]2+

[Cr(OH)6]3-

[CuCl4]2-

Logam-logam yang lain juga dapat membentuk ion-ion kompleks - ini tidak berarti
hanya logam transisi saja. Akan tetapi, logam-logam transisi dapat membentuk ion-
ion kompleks yang beragam

Pembentukan senyawa-senyawa berwarna

Beberapa contoh yang lazim

Diagram menunjukkan kisaran warna untuk beberapa ion kompleks logam yang
lazim.

Kamu dapat menemukan ion-ion kompleks logam tersebut diatas dan ion-ion
kompleks logam yang lain jika kamu membuka halaman yang berhubungan dari
menu logam transisi (link pada bagian bawah halaman).

Kemungkinan yang lain, kamu dapat mengekplorasi menu ion-ion kompleks


(mengikuti link pada kotak bantuan pada bagian atas layar).

Asal mula munculnya warna pada ion-ion logam transisi

Ketika sinar putih melewati larutan yang berisi salah satu dari ion tersebut, atau sinar
putih tersebut direfleksikan oleh larutan tersebut, beberapa warna dari sinar dapat di
absorpsi (diserap) oleh larutan tersebut. Warna yang dapat dilihat oleh mata kamu
adalah warna yang tertinggal (tidak di absorpsi).

Pelekatan ligan pada ion logam merupakan efek dari energi orbital-orbital d. Sinar
yang diserap sebagai akibat dari perpindahan elektron diantara orbital d yang satu
dengan yang lain. Penjelasan yang lebih jelas dapat dilihat pada halaman yang lain.

Aktivitas katalitik

Logam transisi dan persenyawaannya merupakan katalis yang baik. Beberapa kasus
yang nyata dapat dilihat dibawah ini, tetapi kamu akan menemukan penjelasan
katalisis secara mendalam pada bagian lain situs (ikuti link setelah contoh).

Logam transisi dan senyawa-senyawanya dapat berfungsi sebagai katalis karena


memiliki kemampuan mengubah tingkat oksidasi atau, pada kasus logam, dapat
meng-adsorp substansi yang lain pada permukaan logam dan mengaktivasi substansi
tersebut selama proses berlangsung. Semua bagian ini dibahas pada bagian katalisis.

Logam transisi sebagai katalis

Besi pada Proses Haber

Prose Haber menggabungkan hidrogen dan nitrogen untuk membuat amonia dengan
menggunakan katalis besi.

Nikel pada hidrogenasi ikatan C=C

Reaksi ini terdapat pada bagian inti pembuatan margarin dari minyak tumbuhan.

Akan tetapi, contoh sederhana terjadi pada reaksi antara etana dengan hidrogen
melalui keberadaan katalis nikel.

Senyawa-senyawa logam transisi sebagai katalis

Vanadium(V) oksida pada Proses Contact

Bagian inti Proses Contact adalah reaksi konversi belerang dioksida menjadi
belerang trioksida. Gas belerang dioksida dilewatkan bersamaan dengan udara
(sebagai sumber oksigen) diatas padatan katalis vanadium(V) oksida.

Ion-ion besi pada reaksi antara ion-ion persulfat dan ion-ion iodida

Ion persulfat (ion peroksodisulfat), S2O82-, merupakan agen pengoksidasi yang sangat
kuat. Ion iodida sangat mudah dioksidasi menjadi iodin. Dan reaksi antara keduanya
berlangsung sangat lambat pada larutan dengan pelarut air.

Reaksi di katalisis oleh keberadaan salah satu diantara ion besi(II) atau ion besi(III).

VANADIUM

Halaman ini memperhatikan beberapa aspek


tentang kimia vanadium. Termasuk didalamnya
penggunaan vanadium(V) oksida sebagai
katalis pada Proses Contact, dan perubahan
berbagai tingkat oksidasi vanadium.

Vanadium(V) oksida sebagai katalis Proses


Contact

Reaksi keseluruhan

Selama berlangsungnya proses kontak untuk


membuat asam sulfat, belerang dioksida
diubah menjadi belerang trioksida. Hal ini
dilakukan dengan cara melewatkan belerang
dioksida dan oksigen diatas padatan katalis
vanadium(V) oksida.

Bagaimana jalannya reaksi

Hal ini merupakan contoh yang baik untuk


melihat kemampuan logam transisi dan
persenyawaannya untuk digunakan sebagai
katalis karena kemampuan yang dimiliki oleh
logam transisi dan persenyawaannya untuk
mengubah tingkat oksidasinya (bilangan
oksidasi).
Belerang dioksida di oksidasi menjadi belerang
trioksida dengan vanadium(V) oksida. Pada
saat proses berlangsung, vanadium(V) oksida
di reduksi menjadi vanadium(IV) oksida.

Vanadium(IV) dioksida kemudian di oksidasi


kembali oleh oksigen.

Meskipun katalis berubah-ubah selama proses


reaksi berlangsung, pada akhir proses reaksi
sifat kimia dari katalis tersebut sama dengan
pada awal proses reaksi.
Tingkat oksidasi vanadium

Vanadium memiliki berbagai tingkat oksidasi


pada persenyawaannya yang terdiri dari +5, +4,
+3, dan +2. Bagian ini menunjukkan
perubahannya. Pembahasan dapat dimulai
dengan sedikit gambaran, dan kemudian
memperhatikan proses reaksi pada saat
potensial redoks standar (potensial elektroda
standar).

Pengamatan perubahan di laboratorium

Reduksi tingkat vanadium(V) menjadi


vanadium(II)

Sumber vanadium yang biasa pada tingkat


oksidasi +5 adalah amonium metavanadat,
NH4VO3. Zat ini sangat tidak larut dalam air
dan biasanya larut dengan mudah dalam
larutan natrium hidroksida.

Larutan dapat di reduksi dengan menggunakan


seng dan asam - baik itu asam klorida maupun
asam sulfat, biasanya dengan konsentrasi
asam yang sedang.

Keberadaan ion vanadium yang tepat dalam


larutan sangatlah rumit, dan berubah-ubah
sesuai dengan pH larutan. Reaksi terjadi dalam
kondisi asam ketika ion yang paling utama
dalam larutan adalah VO2+ - disebut ion
dioksovanadium(V).

Catatan: Ion biasanya ditulis sebagai VO2+


tetapi penulisan yang lebih akurat adalah
[VO2(H2O)4]+.
Jika kamu melakukan reaksi pada labu yang
kecil, pada keadaan normal biasanya labu
disumbat dengan kapas mentah. Hal ini
dilakukan untuk menyediakan jalan keluar buat
hidrogen (yang dihasilkan dari reaksi antara
seng dengan asam). Pada saat yang
bersamaan penyumbatan ini dilakukan untuk
membatasi terlalu banyaknya udara yang
masuk pada labu. Penyumbatan dilakukan
untuk mencegah re-oksidasi vanadium yang
memiliki tingkat oksidasi yang lebih rendah
(khususnya tingkat +2) oleh oksigen di udara.

Reaksi biasanya dipanaskan sehingga


perubahan yang terjadi berada pada rentang
waktu yang memungkinkan.

Reduksi ditunjukkan oleh dua tahap. Satu hal


yang penting adalah penampakan warna, tetapi
proses perubahan terus berlanjut dari awal
sampai akhir.

Reduksi dari +5 ke +4
Suatu hal yang penting untuk memperhatikan
bahwa warna hijau yang kamu lihat tidak benar-
benar menunjukkan tingkat oksidasi yang
sebenarnya. Warna ini hanyalah campuran
warna kuning tingkat +5 dan warna biru tingkat
+4.

Hati-hatilah dengan kedua rumus ion vanadium


- kedua-duanya sangatlah membingungkan!

Catatan: Sepeti halnya ion VO2+, ion VO2+ juga


memiliki molekul air yang melekat dengan baik
- [VO(H2O)5]2+.
The reduction from +4 to +2

Perubahan warna terus berlangsung.


Alasan untuk membubuhkan tanda kutip pada
ion vanadium(III) adalah bertujuan untuk
sebuah penyederhanaan. Khuluk yang pasti
yang dimiliki oleh ion kompleks akan
tergantung pada asam yang kamu gunakan
pada proses reduksi. Penyederhanaan sangat
beralasan pada bagian ini.
Re-oksidasi vanadium(II)

Ion vanadium(II) sangat mudah teroksidasi.


Jika kamu mencabut kapas mentah dari labu
dan menuangkan sebagaian larutan pada
tabung reaksi, maka warna akan kembali hijau
karena larutan ini bersentuhan dengan oksigen
di udara. Larutan kembali teroksidasi menjadi
vanadium(III).
Jika larutan dibiarkan untuk jangka waktu yang
lama, larutan akan kembali menjadi biru
sebagai pengaruh oksidasi udara dan kembali
lagi menjadi tingkat vanadium(IV) - ion VO2+.
Penambahan asam nitrat (agen pengoksidasi
yang sangat kuat) pada larutan vanadium(II)
juga dapat menghasilkan ion VO2+ yang
berwarna biru. Vanadium(II) kembali teroksidasi
menjadi vanadium(IV).
Penjelasan perubahan potensial redoks
(potensial elektroda)

Penggunaan seng sebagai agen pereduksi

Tingkat pertama dari rangkaian reduksi

Coba perhatikan pada reduksi tingkat pertama -


dari VO2+ ke VO2+. Potensial redoks setengah
reaksi untuk vanadium diberikan oleh:

Kesetimbangan yang berkaitan untuk seng


adalah:

Prinsip sederhana adalah jika kamu merangkaikan dua setengah reaksi secara
bersamaan, salah satu setengah reaksi dengan harga E°yang lebih positif akan
bergerak ke kanan; dan satu yang lain dengan harga E°yang negatif (kurang
positif) akan bergerak ke kiri

Jadi... jika kamu mencampurkan seng dengan


ion VO2+ dengan keberadaan asam adalah
untuk menyediakan ion H+:

Konversi dua kesetimbangan menjadi satu


jalan reaksi. Jika kamu menginginkannya,
kamu dapat menulis hal itu berurutan ke bawah
dan menggabungkannya untuk menghasilkan
persamaan ionik untuk reaksi.

Tingkat reaksi yang lain

Berikut ini adalah harga-harga Eo untuk


seluruh tahap reduksi dari vanadium(V)
menjadi vanadium(II):
... dan berikut adalah harga untuk seng:

Harus diingat bahwa supaya reaksi vanadium


bergerak ke arah kanan (sesuai dengan yang
kita inginkan), harga Eo-nya harus lebih positif
apapun yang kamu reaksikan dengannya.

Dengan kata lain, supaya reaksi dapat


berlangsung, seng harus selalu memiliki harga
lebih negatif - pada kasus ini.

Seng dapat mereduksi vanadium melalui tiap


tahap dari tahapan-tahapan tersebut untuk
menghasilkan ion vanadium(II).

Penggunaan agen reduksi yang lain

Andaikata kamu menggantikan seng sebagai


agen pereduksi dengan timah. Seberapa jauh
reduksi berlangsung kali ini?
Berikut adalah beberapa harga E° :

. . . dan berikut harga untuk timah:

Supaya setiap reaksi dapat terjadi, reaksi


vanadium harus memiliki harga Eo lebih positif
karena kita menginginkannya supaya reaksi
tersebut bergeser kearah kanan. Hal ini berarti
bahwa timah harus memiliki harga yang lebih
negatif.

Pada persamaan vanadium yang pertama (dari


+5 ke +4), harga untuk timah lebih negatif. Ini
akan bekerja dengan baik.

Pada persamaan vanadium yang kedua (dari +4


ke +3), harga untuk timah lebih negatif juga. Ini
juga akan bekerja dengan baik.

Tetapi pada reaksi vanadium yang terakhir (dari


+3 ke +2), timah tidak lagi memiliki harga Eo
yang lebih negatif. Timah tidak akan mereduksi
vanadium(III) manjadi vanadium(II)
Re-oksidasi vanadium(II)

Tingkat oksidasi vanadium(II) lebih mudah


teroksidasi kembali menjadi vanadium(III) - atau
lebih tinggi.

Oksidasi oleh ion hidrogen

Kamu pasti ingat bahwa reduksi awal yang kita


bicarakan adalah mengenai penggunaan seng
dan asam pada labu yang disumbat dengan
kapas mentah untuk menjaga supaya udara
tetap diluar labu. Udara akan mengoksidasi ion
vanadium(II) dengan cepat ? tetapi oksidasi
juga akan terjadi jika ion hidrigen terdapat
dalam larutan!

Larutan vanadium(II) hanya akan tetap stabil


selama kamu menjaganya supaya udara tetap
diluar dan dengan adanya seng. Seng
dibutuhkan untuk menjaga supaya vanadium
tereduksi.

Apa yang ajkan terjadi jika seng tidak ada


disana? Lihatlah harga Eo berikut:
Reaksi dengan harga E° yang lebih negatif
akan bergeser ke kiri; reaksi dengan harga
lebih positif (atau kurang negatif) akan
bergeser ke kanan.

Hal itu berarti bahwa ion vanadium (II) akan


teroksidasi menjadi ion vanadium(III), dan ion
hidrogen tereduksi menjadi hidrogen.

Akankah reaksi oksidasi berlanjut - sebagai


contoh, ke tingkat vanadium(IV)?

Perhatikan beberapa harga E° dan tentukan:

Supaya kesetimbangan vanadium bergerak ke


kiri, maka harus memiliki harga Eo yang lebih
negatif. Kesetimbangan di atas tidak memiliki
harga Eo yang lebih negatif dan karena itu
reaksi tidak akan terjadi.

Oksidasi dengan asam nitrat

Pada arah yang sama, kamu dapat mencoba


seberapa jauh asam nitrat akan mengoksidasi
vanadium(II).

Berikut adalah tahap pertama:

Reaksi vanadium memiliki harga Eo yang lebih


negatif dan jkarena itu reaksi akan bergerak ke
kiri; reaksi asam nitrat bergerak ke kanan.

Asam nitrat akan mengoksidasi vanadium(II)


menjadi vanadium(III).

Tahap yang kedua meliputi harga Eo:

Asam nitrat lagi-lagi memiliki harga Eo yang


lebih positif dan karena itu bergerak ke kanan.
Reaksi vanadium yang lebih negatif (kurang
positif) bergerak ke kiri.

Asam nitrat tentu saja akan mengoksidasi


vanadium(III) menjadi vanadium(IV).
Akankah hal ini akan terjadi untuk
vanadium(V)?:

Tidak, itu tidak akan terjadi! Untuk reaksi


vanadium supaya bergerak ke kiri untuk
membentuk ion dioksovanadium(V), harus
memiliki harga Eo yang lebih negatif (kurang
positif). Reaksi kesetimbangan di atas tidak
memiliki harga yang kurang positif, dan oleh
karena itu reaksi tidak akan terjadi.
Catatan: Berikut adalah beberapa kemungkinan
setengah-reaksi yang mungkin terjadi yang
melibatkan asam nitrat dengan berbagai harga
Eo. Dua diantaranya benar-benar memiliki
harga Eo lebih positif di atas +1,00 dan karena
itu, secara prinsip, asam nitrat dapat
mengoksidasi vanadium(IV) menjadi
vanadium(V) - tetapi membutuhkan produk
asam nitrat dalam bentuk yang lain.

Pada prakteknya, jika kamu melakukan reaksi


ini di laboratorium, larutan membiru ?
menghasilkan tingkat vanadium (IV). Hanya
karena harga Eo yang menunjukkan pada kamu
bahwa kemungkinan reaksi dapat terjadi, kamu
tidak dapat mengasumsikan bahwa hal itu akan
benar-benar terjadi. Reaksi itu mungkin
melibatkan rintangan energi aktivasi yang
sangat besar, yang menyebabkan reaksi akan
berjalan dengan sangat-sangat lambat!
Krom

Reaksi ion krom(III) dalam larutan

Ion yang paling sederhana dalam bentuk krom


dalam larutan adalah ion heksaaquokrom(III) -
[Cr(H2O)6]3+.
Keasaman ion heksaaquo

Biasanya dengan ion 3+, ion


heksaaquokrom(III) agak asam ? dengan pH
pada larutan tertentu antara 2 -3.

Ion bereaksi dengan molekul air dalam larutan.


Ion hidrogen terlepas dari salah satu ligan
molekul air:

Ion kompleks berperan sebagai asam dengan


memberikan ion hidrogen kepada molekul air
dalam larutan. Air, sudah tentu, berperan
sebagai basa yang menerima ion hidrogen.

Karena keberadaan air ada berasal dari dua


sumber yang berbeda cukup membingungkan
(dari ligan dan larutan), maka lebih mudah
menyederhanakannya seperti berikut ini:

Akan tetapi, jika kamu menuliskannya seperti


ini, harus diingat bahwa ion hidrogen tidak
terletak pada ion kompleks. Ion hidrogen
tertarik oleh molekul air dalam larutan.
Sewaktu-waktu kamu dapat menulis "H+(aq)"
yang dimaksud sebenarnya adalah ion
hidroksonium, H3O+.
Reaksi pertukaran ligan yang melibatkan ion
klorida dan ion sulfat

Warna ion heksaaquokrom(III) sulit ”untuk


dilukiskan” karena berwarna ungu-biru-abu.
Akan tetapi, ketika diproduksi melalui reaksi
dalam tabung reaksi, ion ini berwarna hijau.

Kita selalu menggambarkan ion hijau sebagai


Cr3+(aq) - secara tidak langsung ion
heksaaquokrom(III). Hal ini sebenarnya adalah
suatu penyederhanaan.

Apa yang terjadi jika salah satu atau lebih ligan


molekul air dapat digantikan oleh ion negatif
yang dalam larutan ? khususnya sulfat atau
klorida.

Penggantian air oleh ion sulfat

Kamu dapat melakukan hal ini secara


sederhana dengan memanaskan larutan
krom(III) sulfat.

Satu molekul air digantikan oleh ion sulfat.


Perhatikan perubahan muatan pada ion. Dua
muatan positif dibatalkan oleh keberadaan dua
muatan negatif pada ion sulfat.

Penggantian air oleh ion klorida

Pada saat adanya ion klorida (sebagai contoh


dengan krom(III) klorida), warna yang biasanya
dapat dilihat adalah hijau. Hal ini terjadi ketika
dua molekul air digantikan oleh ion klorida
untuk menghasilkan ion
tetraaquodiklorokrom(III) - [Cr(H2O)4Cl2]+.

Sekali lagi, perhatikan bahwa penggantian


molekul air oleh ion klorida mengubah muatan
pada ion.
Reaksi ion heksaaquokrom(III) dengan ion
hidroksida

Ion hidroksida (dari, katakanlah, larutan


natrium hidroksida, NaOH) dapat
menghilangkan ion hidrogen dari ligan air
kemudian didempetkan pada ion krom.

Sekali waktu ion hidrogen dapat dihilangkan


dari tiga molekul air, kamu akan memperoleh
kompleks yang tidak bermuatan - komplek
netral. Kompleks netral ini tidak larut dalam air
dan endapan terbentuk.

Tetapi proses tidak berhenti sampai disini. Ion


hidrogen yang lebih benyak akan dihilangkan
untuk menghasilkan ion seperti
[Cr(H2O)2(OH)4]- dan [Cr(OH)6]3-.

Sebagai contoh:
Endapan larut kembali karena ion tersebut larut
dalam air.

Pada tabung reaksi, perubahan warna yang


terjadi adalah:

Reaksi ion heksaaquokrom(III) dengan larutan


amonia

Amonia dapat berperan sebagai basa maupun


sebagai ligan. Dengan jumlah amonia yang
sedikit, ion hidrogen tertarik oleh ion
heksaaquo seperti pada kasus ion hidroksida
untuk menghasilkan kompleks netral yang
sama.

Endapan tersebut larut secara luas jika kamu


menambahkan amonia berlebih (terutama jika
amonianya pekat). Amonia menggantikan air
sebagai ligan untuk menghasilkan ion
heksaaminkrom(III).

Perubahan warna yang terjadi adalah:

Reaksi ion heksaaquokrom(III) dengan ion


karbonat

Jika kamu menambahkan larutan natrium


karbonat pada larutan ion heksaaquokrom(III),
kamu akan memperoleh endapan yang sama
jika kamu menambahkan larutan natrium
hidroksida atau larutan amonia.

Pada saat seperti ini, ion karbonat ion yang


menghilangkan ion hidrogen dari ion
heksaaquo dan menghasilkan kompleks netral.

Berdasarkan pada proporsi ion karbonat dan


ion heksaaqua, kamu akan memperoleh salah
satu diantara ion hidrogenkarbonat atau gas
karbon dioksida dari reaksi antara ion hidrogen
dan ion karbonat. Persamaan hasil bagi
menunjukkan lebih memungkinkan terjadinya
pembentukan karbon dioksida:

Selain karbon dioksida, tidak terjadi sesuatu


yang baru pada reaksi ini:

Oksidasi krom(III) menjadi krom(VI)

Sebagai akibat dari penambahan larutan


natrium hidroksida pada ion
heksaaquokrom(III) menghasilkan larutan ion
heksahidroksokromat(III) yang berwarna hijau.
Larutan ion heksahidroksokromat(III) yang
berwarna hijau kemudian di oksidasi dengan
memanaskan larutan tersebut dengan larutan
hidrogen peroksida. Setelah itu kamu akan
memperoleh larutan berwarna kuning terang
yang mengandung ion kromat(VI).

Persamaan untuk tahap oksidasi adalah:

Beberapa sifat kimia krom(VI)

Kesetimbangan kromat(VI)-dikromat(VI)

Kamu mungkin lebih terbiasa dengan ion


dikromat(VI) yang berwarna jingga, Cr2O72-,
dibandingkan dengan ion kromat(VI) yang
berwarna kuning, CrO42-.

Perubahan antara keduanya adalah sesuatu hal


yang mudah:

Jika kamu menambahkan asam sulfat encer


pada larutan yang berwarna kuning maka
larutan tersebut akan berubah menjadi
berwarna jingga. Jika kamu menambahkan
natrium hidroksida ke dalam larutan jingga
maka larutan tersebut berubah menjadi kuning.

Reaksi kesetimbangan pada pusat


interkonversi adalah:

Jika kamu menambahkan ion hidrogen


berlebih, kesetimbangan bergeser ke kanan.
Hal ini sesuai dengan prinsip Le Chatelier.

Jika kamu menambahkan ion hidroksida, maka


ion hidroksida akan bereaksi dengan ion
hidrogen. Kesetimbangan cenderung ke arah
kiri untuk menggantikannya.
Pembuatan kristal dikromat(VI)

Kristal kalium dikromat dapat dibuat dengan


mengkombinasikan reaksi yang akan kita lihat
pada halaman ini.

Berawal dari sumber ion kromium(III) seperti


larutan kromium klorida:

Kamu tambahakan larutan kalium hidroksida


untuk menghasilkan endapan hijau-biru dan
kemudian larutan hijau tua yang mengandung
ion [Cr(OH)6]3- Hal ini akan dijelaskan dengan
lebih mendalam pada halaman berikutnya.
Harap diperhatikan bahwa kamu harus
menggunakan kalium hidroksida. Jka kamu
menggunakan natrium hidroksida, maka akan
berakhir dengan pembentukan natrium
dikromat(VI).
Sekarang kamu oksidasi larutan ini dengan
cara memanaskannya dengan menggunakan
larutan hidrogen peroksida. Larutan berubah
menjadi kuning menunjukkan pembentukan
kalium kromat(VI). Reaksi ini juga dijelaskan
secara lebih mendalam pada halaman
berikutnya.

Semua yang berada pada bagian sebelah kiri


mengubah larutan kalium kromat(VI berwarna
kuning menjadi larutan kalium dikromat(VI)
yang berwarna jingga. Kamu dapat
mengingatnya bahwa hal ini terjadi dengan
penambahan asam. Hal ini untuk mengingatkan
bagian yang telah disebut di atas jika kamu
melupakannya.

Sayangnya terdapat sebuah masalah. Kalium


dikromat akan bereaksi dengan kelebihan
hidrogen peroksida kemudian selanjutnya
memberikan prakarsa pada pembentukan
larutan biru tua yang tidak stabil dan sejak itu
terbentuk ion kromium(III) lagi! Untuk
memecahkan masalah ini, kamu terlebih dahulu
harus menghilangkan kelebihan hidrogen
peroksida.
Hal ini dapat dilakukan dengan mendidihkan
larutan. Hidrogen peroksida terdekomposisi
pada pemanasan dengan menghasilkan air dan
oksigen. Larutan dididihkan sampai tidak
terbentuk lagi gelembung gas oksigen yang
dihasilkan. Larutan dipanaskan lebih lanjut
untuk memekatkannya, dan kemudian asam
etanoat pekat ditambahkan untuk
mengasamkannya. Kristal kalium dikromat
yang berwarna jingga terbentuk melalui proses
pendinginan.

Reduksi ion dikromat(VI) dengan seng dan


asam

Ion dikromat(VI) (sebagai contoh, pada larutan


kalium dikromat(VI)) dapat di reduksi menjadi
ion krom(III) dan kemudian menjadi ion krom(II)
dengan menggunakan seng dan salah satu
diantara asam sulfat encer atau asam klorida.

Hidrogen dihasilkan dari reaksi antara seng


dengan asam. Hidrogen harus dibiarkan keluar,
tetapi kamu perlu untuk tetap menjaga agar
udara tidak terlibat dalam reaksi. Oksigen di
udara me-re-oksidasi krom(II) menjadi krom(III)
dengan cepat.
Suatu hal yang mudah untuk meletakkan
sedikit kapas mentah pada bagian atas labu
(atau tabung reaksi) selama kamu
mengunakannya. Hal ini dilakukan untuk
menyediakan jalan keluar bagi hidrogen, tetapi
menghentikan udara yang mengalir berlawanan
dengan aliran hidrogen.

Alasan untuk membubuhkan tanda kutip pada


ion krom(III) adalah untuk penyederhanaan.
Khuluk yang pasti yang dimiliki oleh ion
kompleks akan tergantung pada asam yang
kamu gunakan pada proses reduksi. Hal ini
sudah didiskusikan pada bagian awal halaman
ini.
Persamaan untuk dua tahap reaksi adalah:

Untuk reduksi dari +6 menjadi +3:


Untuk reduksi dari +3 menjadi +2:

Penggunaan kalium dikromat(VI) sebagai agen


pengoksidasi pada kimia organik

Larutan Kalium dikromat(VI) yang diasamkan


dengan asam sulfat encer biasa digunakan
sebagai agen pengoksidasi pada kimia organik.
Hal ini beralasan karena larutan kalium
dikromat(VI) yang diasamkan dengan asam
sulfat encer merupakan agen pengoksidasi
yang kuat disamping memiliki kekuatan yang
mampu menjadikan senyawa organik menjadi
terpotong-potong! (larutan kalium
manganat(VII) juga memberikan
kecenderungan yang sama).

Larutan Kalium dikromat(VI) yang diasamkan


dengan asam sulfat encer digunakan untuk:

• Mengoksidasi alkohol sekunder menjadi


keton;
• Mengoksidasi alkohol primer menjadi
aldehid;
• Mengoksidasi alkohol primer menjadi asam
karboksilat;
Sebagai contoh, dengan etanol (alkohol
promer), kamu dapat memperoleh salah satu
antara etanal (aldehid) atau asam etanoat
(asam karboksilat) tergantung pada kondisinya.

• Jika kelebihan alkohol, dan kamu


mendetilasi aldehid yang terbentuk, kamu
akan memperoleh etanal sebagai produk
utama.

• Jika kelebihan agen pengoksidasi, dan


kamu tidak membiarkan bagi produk untuk
keluar, sebagai contoh, dengan
pemanasan campuran dibawah refluk
(pemanasan labu dengan menempatkan
kondensor secara vertikal pada leher labu)
- kamu akan memperoleh asam etanoat.

Dalam kimia organik, persamaan tersebut


sering kali disederhanakan untuk proses
pemekatan yang terjadi pada molekul organik.
Sebagai contoh, dua yang terakhir dapat
ditulis:
Oksigen ditulis dengan kurung kuadrat hanya
memberikan arti ”oksigen berasal dari agen
pengoksidasi”
Penggunaan reaksi yang sama untuk membuat
kristal krom alum

Kamu dapat menemukan krom alum dalam


berbagai nama yang berbeda

• Krom alum
• Kalium krom(III) sulfat
• Krom(III) kalium sulfat
• Krom(III) kalium sulfat-12-air
• Krom(III) kalium sulfat dodekahidratchrome
alum

...dan beragai variasi yang lain!

Kamu juga akan menemukan berbagai variasi


rumus kimia krom alum. Sebagai contoh:

• CrK(SO4)2,12H2O
• Cr2(SO4)3,K2SO4,24H2O
• K2SO4,Cr2(SO4)3,24H2O

Rumus yang pertama hanya salah satu bentuk


penulisan dan dapat disusun kembali. Secara
pribadi, saya lebih suka yang kedua karena
sangat mudah untuk dimengerti tentang apa
yang terjadi.

Krom alum dikenal dengan double salt (garam


ganda). Jika kamu mencampurkan larutan
kalium sulfat dan krom(III) sulfat yang memiliki
konsentrasi molar yang sama, larutan akan
dikira hanya seperti sebuah campuran.
Pencampuran ini memberikan reaksi ion
krom(III), ion kalium, dan ion sulfat.

Akan tetapi, jika kamu mengkristalkannya,


untuk memperoleh campuran kristal kalium
sulfat dan krom(III) sulfat, larutan akan
mengkristal sebagai kristal yang berwarna
ungu tua. Itulah ”krom alum”.

Kristal krom alum dapat dibuat dengan


mereduksi larutan kalium dikromat(VI) yang
telah diasamkan dengan menggunakan etanol,
dan kemudian kristalisasi larutan yang
dihasilkan.

Dengan asumsi kamu dapat mengunakan


kelebihan etanol, produk organik utama yang
akan diperoleh adalah etanal - dan kita
perhatikan persamaan di bawah ini:
Persamaan ionik jelas tidak mengandung ion
spektator, kalium dan sulfat. Lihat kembali
melalui persamaan lengkap:

Jika kamu memperhatikan baris paling atas


pada sisi kanan persamaan, kamu akan melihat
bahwa krom(III) sulfat dan kalium sulfat
diproduksi secara pasti pada proporsi bagian
kanan untuk memperolah double salt.

Apa yang kamu lakukan, kemudian, adalah:


Kamu awali dengan larutan kalium dikromat(VI)
yang telah ditambahkan sedikit asam sulfat
pekat. Larutan kemudian didinginkan dengan
meletakkannya dalam es.

Kelebihan etanol ditambahkan secara perlahan


sambil diaduk dengan kenaikan suhu yang
tidak terlalu tinggi.
Ketika semua etanol telah ditambahkan, larutan
dibiarkan sepanjang malam, lebih baik dalam
lemari pendingin, untuk kristalisasi. Kristal
dipisahkan dari larutan sisa, dicuci dengan
sedikit air murni dan kemudian dikeringkan
dengan kertas saring.

Penggunaaan kalium dikromat(VI) sebagai


agen pengoksidasi dalam titrasi

Kalium dikromat(VI) seringkali digunakan untuk


menentukan konsentrasi ion besi(II) dalam
larutan. Hal ini dilakukan sebagai alternatif
penggunaan larutan kalium permanganat(VII).
Pada prakteknya

Berikut ini keuntungan dan kerugian dalam


penggunaan kalium dikromat(VI).

Keuntungan:

• Kalium dikromat(VI) dapat digunakan


sebagai standar primer. Hal ini berarti
bahwa kalium dikromat(VI) dapat dijadikan
sebagai larutan stabil yang konsentrasinya
diketahui dengan tepat. Hal ini tidak terjadi
pada kalium permanganat(VII).
• Kalium dikromat(VI) dapat digunakan untuk
mendeteksi keberadaan ion klorida (selama
ion klorida tidak berada pada konsentrasi
yang sangat tinggi).
• Kalium manganat(VII) mengoksidasi ion
klorida menjadi klorin; kalium dikromat(VI)
tidak benar-benar cukup kuat sebagai agen
pengoksidasi. Hal ini berarti bahwa kamu
tidak akan mendapatkan reaksi yang tidak
diinginkan dengan larutan kalium
dikromat(VI).

Kerugian:

• Kerugian yang paling utama adalah pada


perubahan warna. Titrasi kalium
manganat(VII) menunjukkan dirinya sendiri.
Ketika kamu menyertakan larutan kalium
manganat(VII) pada reaksi, larutan menjadi
tidak berwarna.

Jika kamu menambahkannya terlalu


banyak, larutan menjadi merah muda - dan
kamu tahu bahwa kamu telah melewati titik
akhir. Sayangnya larutan kalium
dikromat(VI) berubah menjadi hijau pada
saat kamu memasukkannya ke dalam
reaksi, dan disana tidak ada jalan yang
memungkinkan bagi kamu untuk
mendeteksi perubahan warna ketika kamu
menuangkan larutan jingga berlebih pada
larutan berwarna hijau yang kuat.

Dengan larutan kalium dikromat(VI) kamu


dapat menggunakan indikator terpisah,
dikenal dengan redox indicator. Warna
berubah melalui kehadiran agen
pengoksidasi.
Berikut beberapa contoh indikator - seperti
difenil sulfonat. Indikator memberikan
warna ungu-biru dengan adanya larutan
kalium dikromat(VI) yang berlebih. Akan
tetapi, warna menjadi lebih sulit
diinterpretasikan dengan munculnya warna
hijau yang kuat. Titik akhir titrasi kalium
dikromat(VI) tidak mudah untuk dilihat
seperti titik akhir kalium manganat(VII).

Perhitungan

Setengah reaksi untuk ion dikromat(VI) adalah:

...dan untuk ion besi(II) adalah:

Penggabungan keduanya memberikan:

Kamu dapat melihat bahwa proporsi reaksi


adalah 1 mol ion dikromat(VI) berbanding 6 mol
ion besi(II).
Sekali lagi kamu tidak dapat memungkiri
bahwa, perhitungan titrasi sama seperti halnya
yang lain.
Tes untuk ion kromat(VI) dalam larutan

Secara khusus, kamu dapat perhatikan pada


larutan yang mengandung natrium, kalium atau
amonium kromat(VI). Sebagian besar kromat
sangat larut; beberapa diantaranya dapat kita
golongkan tidak larut.
Warna larutan kuning terang menunjukkan
bahwa larutan tersebut bermanfaat untuk tes
ion kromat.

Tes dengan penambahan asam

Jika kamu menambahkan beberapa larutan


asam sulfat encer pada larutan yang
mengandung ion kromat(VI), perubahan warna
berubah menjadi jingga ion dikromat(VI).

Kamu tidak dapat dapat menggunakan tes ini


sebagai tes untuk ion kromat(VI), walau
bagaimanapun. Ini mungkin terjadi bahwa
kamu memiliki larutan yang mengandung
indikator asam-basa yang memiliki perubahan
warna yang sama!

Tes dengan penambahan larutan klorida (atau


nitrat)

Ion kromat(VI) dapat memberikan endapan


kuning barium kromat(VI).

Tes dengan penambahan larutan klorida (atau


nitrat)

Ion kromat(VI) dapat memberikan endapan


kuning barium kromat(VI).
MANGAN

Halaman ini terdiri dari: dua reaksi sederhana


ion mangan(II) dalam larutan (hasil ringkasan
dari bagian lain situs), dan kegunaan kalium
manganat(VII) (kalium permanganat) sebagai
agen pengoksidasi - termasuk kegunaannya
dalam titrasi.

Reaksi ion mangan(II) dalam larutan

Ion yang paling sederhana dalam bentuk


mangan dalam larutan adalah ion
heksaaquomangan(II) - [Mn(H2O)6]2+.
Reaksi ion heksaaquomangan(II) dengan ion
hidroksida

Ion hidroksida (dari, katakanlah, larutan


natrium hidroksida) dapat menghilangkan ion
hidrogen dari ligan air dan kemudian melekat
pada ion mangan.

Setelah ion hidrogen dihilangkan dari dua


molekul air, kamu akan memperoleh kompleks
tidak bermuatan - kompleks netral. Kompleks
netral ini tidak larut dalam air dan terbentuk
endapan.

Dalam tabung reaksi, perubahan warna yang


terjadi adalah:

Saya dapat menunjukkan bahwa larutan aslinya


berwarna merah muda yang pucat sekali
(warna merah muda paling pucat yang bisa
saya hasilkan!), tetapi pada faktanya larutan
tersebut sebenarnya tidak berwarna. Endapan
coklat pucat di oksidasi menjadi mangan(II)
oksida yang berwarna coklat lebih gelap pada
saat bersentuhan dengan oksigen dari udara.
Reaksi ion heksaaquomangan(II) dengan
larutan amonia
Amonia dapat berperan sebagai basa maupun
sebagai ligan. Pada kasus ini, pada konsentrasi
laboratorium yang biasa, amonia berperan
sebagai basa - dapat menghilangkan ion
hidrogen dari kompleks aquo.

Sekali lagi, saya dapat menunjukkan larutan


asli sebagai larutan berwarna merah muda
paling pucat yang dapat saya hasilkan, tetapi
pada faktanya larutan tersebut sebenarnya
tidak berwarna. Endapan coklat pucat di
oksidasi menjadi mangan(II) oksida yang
berwarna coklat lebih gelap ketika bersentuhan
dengan oksigen dari udara.

Tidak terlihat perbedaan bentuk reaksi antara


reaksi tersebut dengan reaksi yang terakhir.
Beberapa sifat kimia kalium manganat(VII)
Kalium manganat(VII) (kalium permanganat)
merupakan agen pengoksidasi yang kuat.

Penggunaan kalium manganat(VII) sebagai


agen pengoksidasi dalam kimia organik

Kalium manganat(VII) biasa digunakan dalam


larutan netral atau larutan yang bersifat basa
dalam kimia organik. Pengasaman kalium
manganat(VII) cenderung untuk lebih
meningkatkan kekuatan destruktif agen
pengoksidasi, memecah ikatan-ikatan karbon-
karbon.

Larutan kalium manganat(VII) biasa dibuat


sedikit basa dengan larutan natrium karbonat,
dan perubahan warna yang khas adalah
sebagai berikut:
Pada pengujian untuk ikatan rangkap C=C

Kalium manganat(VII) mengoksidasi ikatan


rangkap karbon-karbon, dan berlangsung
melalui perubahan warna diatas.

Etana, sebagai contoh, di oksidasi menjadi


etana-1,2-diol.

Oksigen dalam tanda kurung persegi berarti


”oksigen dari agen pengoksidasi”. Ini
merupakan singkatan dari persamaan yang
banyak digunakan dalam kimia organik. Kamu
pasti sangat tidak menyukai untuk menulis
persamaan ion yang lengkap untuk reaksi
tersebut pada tingkatan ini.

Sejujurnya, pengujian ini bukanlah suatu tes


yang baik untuk ikatan rangkap karbon-karbon,
karena semua yang mengalami reduksi dapat
memiliki efek yang sama pada larutan kalium
manganat(VII).

Akan tetapi, kamu dapat menggunakan reaksi


sederhana ini sebagai cara untuk membuat
diol.

Pada oksidasi rantai cabang aromatik

Larutan kalium menganat(VII) yang bersifat


basa mengoksidasi semua rantai cabang yang
melekat pada pada cincin benzen menjadi satu
grup -COOH. Pemanasan yang lama sangat
diperlukan pada tahap ini.

Sebagai contoh:

Pada kasus rantai cabang etil, kamu juga akan


memperoleh karbon dioksida. Dengan rantai
cabang yang lebih panjang, kamu dapat
memilah campuran produk yang lain - tetapi
pada tiap kasus, produk utama adalah asam
benzoat.

Penggunaan kalium manganat(VII) sebagai


agen pengoksidasi dalam titrasi
Latar belakang

Larutan kalium manganat(VII) digunakan untuk


menentukan konsentrasi semua agen
pengoksidasi yang dipilah. Kalium
manganat(VII) selalu digunakan dalam larutan
asam.

Sebagai contoh, kalium manganat(VII)


mengoksidasi

• Ion besi(II) menjadi ion besi(III)

• Larutan hidrogen peroksida menjadi


oksigen

• Asam etandioat (asam oksalat) menjadi


karbon dioksida (reaksi ini berlangsung
dalam kondisi panas).

• Ion sulfit (ion sulfat(IV)) menjadi ion sulfat


(ion sulfat(VI))
Pada setiap kasus, persamaan setengah reaksi
untuk ion manganat(VII) daalm larutan asam
adalah:

Persamaan tersebut dapat digabungkan untuk


memberikan kamu persamaan ion secara
keseluruhan untuk setiap kemungkinan reaksi.
Hal ini, tentunya, juga memberikan kepada
kamu suatu perbandingan reaksi.

Sebagai contoh, ketika persamaan


digabungkan, kamu menemukan bahwa 1 mol
ion MnO4- bereaksi dengan 5 mol ion Fe2+.
Melalui informasi yang diperoleh tersebut,
perhitungan titrasi sama seperti yang lain.
Melakukan titrasi

Larutan kalium manganat(VII) selalu


dimasukkan ke dalam buret, dan larutan yang
lain ditempatkan dalam labu yang diasamkan
dengan asam sulfat encer terlebih dahulu.

Larutan kalium manganat(VII) menetes kedalam


labu dan menjadikannya tidak berwarna. Titik
akhir adalah warna merah muda permanen
yang muncul pertama kali dalam larutan yang
menunjukkan adanya sedikit ion manganat(VII)
berlebih.

Permasalahan pada penggunaan larutan kalium


manganat(VII)

Terdapat dua hal yang perlu kamu ketahui:

• Kalium manganat(VII) tidak dapat


digunakan pada titrasi yang mengandung
ion-ion klorida atau bromida yang mana
kedua ion tersebut dapat teroksidasi.
Jumlah kalium manganat(VII) yang tidak
diketahui digunakan dalam reaksi samping,
dan pasti hasil titrasi tidak akurat.

Hal inilah yang menyebabkan kenapa kamu


tidak boleh mengasamkan larutan dengan
asam klorida.

• Kalium manganat(VII) bukan standar


primer. Ini berarti bahwa kalium
manganat(VII) tidak dapat dibuat untuk
menghasilkan larutan stabil yang
konsentrasinya diketahui dengan akurat.

Kalium manganat(VII) berwarna kuat dan


ini memungkinkan untuk dilihat ketika
kristal yang kamu gunakan dilarutkan
semuanya, dan untuk jangka waktu yang
lama kalium manganat(VII) dapat
mengoksidasi air yang terlarut menjadi
oksigen.

Botol larutan kalium manganat(VII) selalu


memiliki endapan coklat pada bagian
atasnya. Endapan ini adalah mangan(IV)
oksida - yang dihasilkan ketika ion
manganat(VII) bereaksi dengan air.

Kamu dapat membuat larutan yang kamu


mau secukupnya, dan kemudian di
standarisasi melalui titrasi. Standarisasi
sering kali dilakukan dengan larutan asan
etandioat (asam oksalat), karena larutan
asam etandioat (asam oksalat) merupakan
standar primer.
Besi

Besi dan ion-nya sebagai katalis

Besi sebagai katalis pada Proses Haber

Proses Haber menggabungkan nitrogen dan


hidrogen ke dalam amonia. Nitrogen berasal
dari udara dan hidrogen sebagian besar
diperoleh dari gas alam (metan). Besi
digunakan sebagai katalis.

Ion besi sebagai katalis pada reaksi antara ion


persulfat dan ion iodida

Reaksi antara ion persulfat (ion peroxodisulfat),


S2O82-, dan ion iodida dalam larutan dapat
dikatalisis dengan ion besi(II) maupun ion
besi(III).

Persamaan keseluruhan untuk reaksinya


adalah:

Untuk penjelasannya, kita akan mengunakan


katalis besi(II). Reaksi terjadi dalam dua tahap.

Jika kamu menggunakan ion besi(III), reaksi


kedua yang terjadi diatas akan menjadi reaksi
yang pertama.

Besi merupakan sebuah contoh yang baik


dalam hal penggunaan senyawa logam transisi
sebagai katalis karena kemampuan senyawa
logam transisi tersebut untuk mengubah
tingkat oksidasi.

Reaksi ion besi dalam larutan

Ion-ion yang paling sederhana dalam larutan


adalah:

• Ion heksaaquobesi(II) - [Fe(H2O)6]2+.


• Ion heksaaquobesi(III) - [Fe(H2O)6]3+.

Kedua-duanya bersifat asam, tetapi ion besi(III)


lebih kuat sifat asamnya.
Reaksi ion besi dengan ion hidroksida

Ion hidroksida (dari, katakanlah, larutan


natrium hidroksda) dapat menghilangkan ion
hidrogen dari ligan air dan kemudian melekat
pada ion besi.

Setelah ion hidrogen dihilangkan, kamu


memperoleh kompleks tidak muatan -
kompleks netral. Kompleks netral ini tidak larut
dalam air dan terbentuk endapan.

Pada kasus besi(II):


:
Pada kasus besi(III):

Pada tabung reaksi, perubahan warna yang


terjadi adalah:

Pada kasus besi(II):

Besi sangat mudah di oksidasi pada kondisi


yang bersifat basa. Oksigen di udara
mengoksidasi endapan besi(II) hidroksida
menjadi besi(III) hidroksida terutama pada
bagian atas tabung reaksi. Warna endapan
yang menjadi gelap berasal dari efek yang
sama.

Pada kasus besi(III):


Reaksi ion besi dengan larutan amonia

Amonia dapat berperan sebagai basa atau


ligan. Pada kasus ini, amonia berperan sebagai
basa - menghilangkan ion hidrogen dari
kompleks aquo.

Pada kasus besi(II):

Kejadian yang sama terjadi ketika kamu


menambahkan larutan natrium hidroksida.
Endapan kembali berubah warna yang
menunjukkan kompleks besi(II) hidroksida
teroksidasi oleh udara menjadi besi(III)
hidroksida.

Pada kasus besi(III):

Reaksi yang sama ketika kamu menambahkan


larutan natrium hidroksida.
Reaksi-reaksi ion besi dengan ion karbonat

Berikut ini merupakan perbedaan yang penting


antara sifat ion besi(II) dan ion besi(III).

Ion besi(II) dan ion karbonat

Kamu dapat memperoleh dengan mudah


endapan besi(II) karbonat sesuai dengan yang
kamu pikirkan.
Ion besi(III) dan ion karbonat

Ion heksaaquobesi(III) cukup asam untuk


bereaksi dengan ion karbonat yang bersifat
basa lemah.

Jika kamu menambahkan larutan natrium


karbonat ke larutan yang mengandung ion
heksaaquobesi(III), dengan pasti kamu akan
memperoleh endapan seperti jika kamu
menambahkan larutan natrium hidroksida atau
larutan amonia.

Saat ini, ion karbonat yang menghilangkan ion


hidrogen dari ion heksaaquo dan menghasilkan
kompleks netral.

Berdasarkan pada perbandingan ion karbonat


dengan ion heksaaquo, kamu akan
memperoleh ion hidrogen karbonat maupun
gas karbon dioksida dari reaksi antara ion
hidrogen dengan ion karbonat. Persamaan
reaksi menunjukkan pembentukan karbon
dioksida.

Selain karbon dioksida, tidak terdapat sesuatu


yang baru pada reaksi ini:

Pengujian untuk ion besi(III) dengan ion


tiosianat

Pengujian ini merupakan tes yang sangat


sensitif untuk ion besi(III) dalam larutan.

Jika kamu menambahkan ion tiosianat, SCN-,


(dari, katakanlah, larutan natrium atau kalium
atau amonium tiosianat) ke dalam larutan yang
mengandung ion besi(II), kamu akan
memperoleh larutan berwarna merah darah
kuat yang mengandung ion [Fe(SCN)(H2O)5]2+.
Penentuan konsentrasi ion besi(II) dalam
larutan dengan cara titrasi

Kamu dapat menentukan konsentrasi ion


besi(II) dalam larutan melalui cara titrasi
dengan menggunakan larutan kalium
manganat(VII) atau larutan kalium dikromat(VI).
Reaksi berlangsung dengan adanya asam
sulfat encer.

Pada kasus yang lain, kamu dapat mempipet


larutan yang mengandung ion besi(II) yang
sudah diketahui volumenya ke dalam labu, dan
kemudian menambahkan asam sulfat encer
secukupnya. Apa yang akan terjadi kemudian
tergantung pada penggunaan larutan kalium
manganat(VII) atau larutan kalium dikromat(VI).

Menggunakan larutan kalium manganat(VII)

Larutan kalium manganat(VII) diteteskan


melalui buret. Pada awalnya, larutan tersebut
menjadi tidak berwarna yang menunjukkan
larutan tersebut bereaksi. Pada titik akhir titrasi
warna merah muda permanen dalam larutan
menunjukkan ion manganat(VII) sedikit
berlebih.

Ion manganat(VII) mengoksidasi ion besi(II)


menjadi ion besi(III). Dua persamaan setengah-
reaksinya adalah:

Penggabungan keduanya memberikan


persamaaan ion untuk reaksi:

Persamaan yang lengkap menunjukkan bahwa


1 mol ion manganat(VII) bereaksi dengan 5 mol
ion besi(II). Melalui informasi tersebut,
perhitungan titrasi sama seperti yang lainnya.
Menggunakan larutan kalium dikromat(VI)

Larutan kalium dikromat(VI) berubah menjadi


hijau menunjukkan larutan tersebut bereaksi
dengan ion besi(II), dan kamu tidak akan bisa
mendeteksi perubahan warna ketika kamu
meneteskan larutan jingga berlebih ke dalam
larutan berwarna hijau kuat.
Dengan larutan kalium dikromat(VI) kamu harus
menggunakan inndikator tertentu, dikenal
dengan indikator redoks. Perubahan warna
menunjukkan keberadaan agen pengoksidasi.

Berikut adalah beberapa indikator - seperti


difenilamin sulfonat. Indikator ini memberikan
warna ungu-biru yang menandakan adanya
kelebihan larutan kalium dikromat(VI).

Dua persamaan setengah-reaksinya adalah:

Penggabungan keduanya memberikan:

Kamu dapat melihat bahwa perbandingan


reaksi antara 1 mol ion dikromat(VI) dengan 6
mol ion besi(II).

Sekali lagi kamu tidak dapat memungkiri,


perhitungan titirasi sekali lagi dilakukan seperti
yang lainnya.
Kobal

Reaksi ion kobal(II) dalam larutan


Ion yang paling sederhana dalam bentuk kobal
dalam larutan adalah ion berwarna merah muda
heksaaquokobal(II) - [Co(H2O)6]2+.

Reaksi ion heksaaquokobal(II) dengan ion


hidroksida

Ion hidroksida (dari, katakanlah, larutan


natrium hidroksida) dapat menghilangkan ion
hidrogen dari ligan air dan kemudian melekat
ke ion kobal.

Setelah ion hidrogen dihilangkan dari dua


molekul air, kamu akan memperoleh kompleks
tidak bermuatan - kompleks netral. Kompleks
ini tidak larut dalam air dan terbentuk endapan.

Dalam tabung reaksi, perubahan warna yang


terjadi adalah:
Reaksi-reaksi ion heksaaquokobalt(II) dengan
larutan amonia

Amonia dapat berperan sebagai basa maupun


ligan. Dengan jumlah kecil amonia, ion
hidrogen ditarik ion heksaaquo dengan tepat
seperti pada kasus perubahan ion hidroksida
menjadi kompleks netral.

Endapan tersebut melarut jika kamu


menambahkan amonia berlebih. Amonia
menggantikan air sebagai ligan untuk
menghasilkan ion heksaaminkobal(II).

Perubahan warna yang terjadi adalah:


Kompleks heksaaminkobal(II) sangat mudah
teroksidasi menjadi kompleks kobal(III) yang
bersesuaian. Pada tabung reaksi kompleks ini
terlihat berubah gelap dengan cepat sampai
larutan menjadi merah-coklat tua.

Pada faktanya ion heksaaminkobal(II) berwarna


kuning! Apa yang kamu lihat adalah campuran
dari ion ini dengan berbagai ion kobal(III) lain
yang melibatkan reaksi pertukaran ligan antara
molekul air dengan ion negatif yang terdapat
dalam larutan.

Oksidasi ion heksaaquokobal(II) yang lain

Daripada mengandalkan oksidasi dengan


menggunakan udara, kamu dapat
menambahkan agen pengoksidasi seperti
hidrogen peroksida. Kamu dapat melakukan ini
setelah penambahan amonia seperti pada
kasus yang terakhir, atau kamu dapat
melakukannya dengan diikuti penambahan
larutan natrium hidroksida.

Dengan larutan amonia dan hidrogen peroksida

Reaksi dengan larutan amonia diikuti


pembentukan hidrogen peroksida yang
berwarna larutan coklat-merah tua seperti
sebelumnya - hanya lebih cepat. Persamaan
untuk oksidasi kompleks amin adalah:

Dengan larutan natrium hidroksida dan


hidrogen peroksida

Kamu dapat memperoleh endapan dengan


bermacam-macam warna dari kompleks
kobal(II) hidroksida ketika kamu menambahkan
larutan natrium hidroksida.

Penambahan hidrogen peroksida


menghasilkan banyak gelembung oksigen dan
endapan coklat tua.
Endapan yang terakhir mengandung kobal
dalam tingkat oksidasi +3. Saya tidak dapat
memberikan rumus kimia untuk yang satu ini,
karena saya tidak tahu dengan pasti kobal apa
ini! Saya juga tidak dapat memberikan
persamaan reaksinya dengan alasan yang
sama.

Reaksi ion heksaaquokobal(II) dengan ion


karbonat

Kamu dapat memperoleh dengan mudah


endapan kobal(II) karbonat sesuai dengan yang
kamu pikirkan.
Reaksi pertukaran ligan yang melibatkan ion
klorida

Jika kamu menambahkan asam klorida pekat


ke dalam larutan yang mengandung ion
heksaqauakobal(I), larutan berubah warna dari
merah muda menjadi biru. Enam molekul air
digantikan oleh empat ion klorida.

Reaksi yang terjadi berlangsung reversibel.

Jika kamu menambahkan air ke dalam larutan


yang berwarna biru, maka larutan tersebut
kembali berwarna merah muda.
Tembaga

Reaksi ion tembaga(II) dalam larutan

Ion yang paling sederhana dalam bentuk


tembaga dalam larutan adalah ion berwarna
biru heksaaquotembaga(II) - [Cu(H2O)6]2+.

Reaksi ion hekasaquotembaga(II) dengan ion


hidroksida

Ion hidroksida (dari, katakanlah, larutan


natrium hidroksida) menggantikan ion hidrogen
dari ligan air dan kemudian melekat pada ion
tembaga.

Setalah ion hidrogen dihilangkan dari dua


molekul air, kamu akan memperoleh kompleks
tidak bermuatan - kompleks netral. Kompleks
ini tidak larut dalam air dan terbentuk endapan.

Pada tabung reaksi, perubahan warna yang


terjadi adalah:

Reaksi ion heksaaquotembaga(II) dengan


larutan amonia
Amonia dapat berperan sebagai basa maupun
ligan. Dengan jumlah amonia yang sedikit, ion
hidrogen dihilangkan dengan pasti seperti pada
kasus ion hidrogen menghasilkan kompleks
netral.

Endapan yang terbentuk akan melarut jika


kamu menambahkan amonia berlebih.

Amonia menggantikan air sebagai ligan untuk


menghasilkan ion tetraamindiaquotembaga(II).
Dengan catatan hanya empat dari enam
molekul air yang digantikan.

Perubahan warna yang terjadi adalah:

Reaksi ion heksaaquotembaga(II) dengan ion


karbonat
Kamu akan memperoleh dengan mudah
endapan tembaga(II) karbonat seperti yang
kamu pikirkan

Reaksi pertukaran ligan yang melibatkan ion


klorida

Jika kamu menambahakan asam klorida pekat


ke dalam larutan yang mengandung ion
heksaaquotembaga(II), enam molekul air
digantikan oleh empat ion klorida.
Reaksi yang terjadi berlangsung reversibel.

Karena reaksi berlangsung secara reversibel,


kamu dapat memperoleh campuran warna dari
kedua ion kompleks.

Kamu mungkin dapat menemukan beraneka


warna ion tetraklorokuprat(II) mulai dari hijau
minyak zaitun atau kuning. Jika kamu
menambahkan air ke dalam larutan yang
berwarna hijau, maka larutan tersebut akan
kembali berwarna biru.

Reaksi ion heksaaquotembaga(II) dengan ion


iodida

Reaksi sederhana

Ion tembaga(II) akan mengoksidasi ion iodida


menjadi iodium, dan selama berlangsungnya
proses reaksi ion tembaga(II) mereduksi
dengan sendirinya menjadi tembaga(I) iodida.
Campuran coklat yang merupakan pengotor
dipisahkan terlebih dahulu sehingg tinggal
endapan putih tembaga(I) iodida dalam larutan
iodium.

Penggunaan reaksi tersebut untuk menentukan


konsentrasi ion tembaga(II) dalam larutan

Jika kamu mempipet sejumlah volume tertentu


suatu larutan yang mengandung ion
tembaga(II) ke dalam labu, dan kemudian
menembahkan larutan kalium iodida berlebih,
kamu memperoleh reaksi yang mana kita hanya
dapat menulisnya.
Kamu dapat menentukan sejumlah iodium yang
dibebaskan dengan menggunakan titrasi
dengan larutan natrium tiosulfat.

Selama larutan natrium tiosulfat diteteskan dari


buret, warna iodium menjadi pudar. Ketika
warna akan menghilang, kamu tambahakan
larutan kanji secukupnya. Reaksi ini
berlangsung secara reversibel dengan iodium
menghasilkan kompleks iodium-kanji yang
berwarna biru tua yang lebih mudah untuk
dilihat.

Kamu tambahkan tetes-tetes terakhir larutan


natrium tiosulfat secara perlahan sampai warna
biru menghilang.

Jika kamu mengurutkan perbandingan reaksi


dari awal sampai akhir dari dua persamaan
tersebut, kamu akan menemukan bahwa setiap
dua mol ion tembaga(II), kamu memerlukan dua
mol larutan natrium tiosulfat.

Jika kamu mengetahui konsentrasi larutan


narium tiosulfat, hal itu memudahkan untuk
menghitung konsentrasi ion tembaga(II).

Beberapa sifat kimia tembaga(I)

Disproporsionasi ion tembaga(I) dalam larutan

Sifat kimia tembaga(I) terbatas pada reaksi


yang melibatkan ion tembaga(I) yang
sederhana dalam larutan. Berikut adalah satu
contoh yang baik mengenai disproporsionasi -
suatu reaksi dimana sesuatu mengalami
oksidasi dan reduksi sendiri.

Ion tembaga(I) dalam larutan terdisproporsi


menghasilkan ion tembaga(II) dan endapan
tembaga.

Reaksinya adalah:

Semua percobaan untuk menghasilkan


senyawa tembaga(I) yang sederhana dalam
larutan dapat dilakukan.
Sebagai contoh, jika kamu mereaksikan
tembaga(I) oksida dengan asam sulfat encer
panas, kamu mungkin akan mengira akan
memperoleh larutan tembaga(I) sulfat dan
dihasilkan air. Pada faktanya kamu akan
memperoleh endapan coklat tembaga dan
larutan biru tembaga(II) sulfat karena reaksi
disproporsionasi.

Kestabilan tingkat oksidasi tembaga(I)

Senyawa tembaga(I) yang tidak larut

Kita akan melihat bahwa tembaga(I) iodida


yang dihasilkan berupa endapan berwarna
putih jika kamu menambahkan larutan kalium
iodida ke dalam larutan yang mengandung ion
tembaga(II). Tembaga(I) iodida sebenarnya
tidak larut adalam air, dan karena itu reaksi
disproporsionasi tidak terjadi.

Tembaga(I) klorida dapat dihasilkan sebagai


endapan putih (reaksi dituliskan dibawah).
Asalkan pemisahan endapan dari larutan
dilakukan secepat mungkin dan dikeringkan
secepat mungkin pula, endapan akan tetap
berwarna putih. Pada saat kontak dengan air,
endapan ini akan berubah manjadi biru dengan
terbentuknya ion tembaga(II).

Reaksi disproporsionasi hanya terjadi pada ion


tembaga(I) yang sederhana dalam larutan.

Kompleks-kompleks tembaga(I)

Pembentukan kompleks-kompleks tembaga(I)


(bisa juga dengan air sebagai ligannya) juga
menstabilkan tingkat oksidasi tembaga(I).

Sebagai contoh, antara [Cu(NH3)2]+ and


[CuCl2]- merupakan kompleks tembaga(I) yang
tidak terjadi disproporsionasi.

Kompleks yang mengandung klor terbentuk


jika tembaga(I) oksida dilarutkan dalam asam
klorida pekat.

Kamu dapat menduga bahwa hal ini terjadi


dalam dua tahap. Pertama, kamu akan
memperoleh tembaga(I) klorida yang terbentuk:

Tetapi dengan adanya ion klorida yang


berelebih dari HCl, reaksi ini memberikan
kestabilan, kompleks tembaga(I) terlarut.

Kamu dapat memperoleh endapan putih


tembaga(I) klorida (seperti yang disebutkan
diatas) dengan menambahkan air ke dalam
larutan. Reaksi ini merupakan kebalikan dari
reaksi tanpa kelebihan ion klorida.