Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kelompok Bermain merupakan salah satu layanan dalam satuan
atau program Pendidikan Anak Usia Dini. Dalam Permendikbud RI Nomor
137 tahun 2014 Tentang Standart Nasional Pendidikan Anak Usia Dini
dijelaskari bahwa satuan atau program PAUD adalah layanan PAUD yang
dilaksanakan pada suatu lembaga pendidikan dalam bentuk Taman Kanak-
kanak (TK)/Raudatul Athfal (RA)/Bustanul Athfal (BA), Kelompok
Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), dan Satuan PAUD Sejenis
(SPS).
Berdasarkan Permendikbud nomor 137 ini Kelompok Bermain
(KB) jelas merupakan layanan dan program PAUD yang sangat penting.
Kelompok Bermain (KB) adalah wadah pembinaan sebagai usaha
kesejahteraan anak dengan mengutamakan kegiatan bermain dan
menyelenggarakan pendidikan prasekolah bagi anak yang berusia sekurang-
kurangnya 3 tahun sampai dengan memasuki pendidikan dasar (Diretorat
PAUD, 2006).
Selain itu Kelompok Bermain adalah salah satu bentuk pendidikan
anak usia dini pada jalur pendidikan nonforma1 yang menyelenggarakan
program pendidikan sekaligus program kesejahteraan bagi anak usia dini
sampai dengan 6 tahun.
Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu
proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupan
selanjutnya. Anak Usia dini berada pada rentang usia 0-8 tahun (NAEYC,
1992) Anak pada masa usia 0-8 tahun mi mengalami masa yang cepat dalam
rentang perkembangan hidup manusia. Pendidikan anak usia dini khususnya
pada jenjang kelompok bermain dalam menyelenggarákan pendidikan
memfokuskan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan
perkembangan fisik motorik kasar, motorik halus, kecerdasan dalam
berfikir, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual, kecerdasan sosial
emosional atau kecerdasan sikap dan perilaku saat beragama, kecerdasan
bahasa dan komunikasi sesuai dengan keunikan dan tahapan perkembangan
yang dilalui oleh anak usia dini.
Oleh karena itu, guru sebagai pelaku pendidikan yang secara
langsung berhadapan dengan anak sangat penting memahami aspek-aspek
perkembangan tersebut, memahami teori belajar, keunikan anak, serta
tahapan perkembangan anak. Karena kualitas pendidikan salah satunya
dipengaruhi oleh guru. Guru merupakan figur manusia yang mempunyai
tugas dan tanggung jawab dalam hal mengajar, mendidik, melatih dan
membimbing dalam upaya menciptakan manusia yang memiliki bobot
pengetahuan, keterampilan dan sikap yang menjadi bekal hidupnya kelak
dikemudian hari.
Dengan demikian, kemampuan guru bukan hanya berkaitan dengan
kemampuan intelektualnya saja, akan tetapi kemampuan guru juga meliputi
kemampuan kepribadian. Jati diri sebagai seorang tenaga pendidik yang
menjadi panutan bagi peserta didik Kompetensi mi selalu menggambarkan
prinsip bahwasanna guru adalah sosok yang patut digugu dan ditiru. Dengan
kata lain, guru menjadi suri teladan bagi peserta didik atau guru menjadi
sumber dasar bagi peserta didik.
Kepribadian menjadi syarat mutlak bagi tenaga pendidik dalarn
proses pembelajaran. Kepribadian yang menarik dan mempesona sangat
dibutuhkan bagi seorang tenaga pendidik karena tenaga pendidik merupakan
sosok yang memberikan kontribusi besar bagi pencapaian proses
pembelajaran baik dimensi kognitif, afektif, dan psikomotor. Apalagi
kepribadian berhubungan pada pembentukan dimensi afeksi dan psikornotor
anak didik.
Anak mempunyai karakteristik yang khas dan tidak sama dengan
orang dewasa, mereka selalu aktif, antusias dan memiliki rasa ingin tahu
yang tinggi terhadap apa yang dilihat, dirasakan, didengar, anak tak pernah
berhenti untuk bereksplorasi dan belajar. Ada beberapa aspek kemampuan
anak yang harus distimulasi pada anak sejak usia dini, salah satu aspek
tersebut yaitu aspek motorik. Menurut Zulham (dalam Suroso Dkk, 2013)
menjelaskan bahwa motorik merupakan semua hal yang ada hubunganya
dengan gerakan tubuh, yang disasari pada tiga unsur meliputi otot, syaraf,
otak.
Motorik terbagi menjadi motorik kasar dan motorik halus. Masing-
masing motorik tersebut memiliki fungsi sendiri. Motori kasar dapat dilihat
dari kemampuan gerak lokomotor, non lokomotor, dan manipulatif pada
seorang. Memiliki kemampuan motorik kasar yang baik pada seorang anak
merupakan modal anak untuk mempersiapkan diri menghadapi usai
kehidupan berikutnya.
Menurut Samsudin kemampuan motorik kasar adalah kemampuan
anak beraktivitas/bergerak dengan menggunakan otot – otot besar.
Kemampuan menggunakan otot-otot besar ini bagi anak – anak tergolong
pada kemampuan gerak dasar. Salah satu kemampuan gerak dasar ini adalah
kemampuan lokomotor, kemampuan lokomotor di gunakan untuk
memindahkan tubuh dan satu tempat ke tempat lain atau untuk mengangkat
tubuh ke atas seperti lompat dan loncat.
Gerakan motorik kasar melibatkan aktivitas otot tangan, kaki, dan
seluruh tubuh anak. Gerakan ini mengandalkan kematangan dalam
koordinasi. Berbagai gerakan motorik kasar yang dicapai anak tentu sangat
berguna bagi kehidupannya kelak. Misalnya, anak dibiasakan untuk
terampil berlari, maka anak akan senang berolahraga (Sujiono.2007:1.13).
Pengembangan gerakan motorik kasar juga memerlukan koordinasi
kelompok otot-otot anak yang tertentu yang dapat membuat mereka dapat
meloncat, melompat, memanjat, berlari, menaiki sepeda roda tiga, serta
berdiri dengan satu kaki.
Melompat merupakan suatu gerakan mengangkat tubuh dari suatu titik ke
titik lain yang lebih jauh atau tinggi dengan ancang-ancang lari cepat atau lambat
dengan menumpu satu kaki dan mendarat dengan kaki/anggota tubuh lainnya
dengan keseimbangn yang baik. Sebelum anak diajarkan gerakan melompat maka
anak perlu dibekali pemahaman tentang arti lompat, seorang anak bisa mulai
melompat di mana saja, tetapi bidang pendaratan atau tujuannya harus diberi tanda
agar anak mengetahui tanda tersebut sebagai tingkat keberhasilan dalam
lompatannya.
Berdasarkan uraian di atas peneliti memilih menganalisa kemampuan
guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran melalui kegiatan memindah bola dan
melompat sesuai dengan angka yang dirancang agar menarik minat anak, karena
kegiatan ini berbasis pada kegiatan bermain sambil belajar, selain itu kegiatan ini
mengasah kreatifitas anak.

1.2. Fokus Penelitian


Setelah Diadakan observasi maka penelitian fokus pada
"Kemampuan Guru Dalam Mengelola Kegiatan Pembelajaran Pada
Kegiatan Memindah Bola dan Melompat Sesuai dengan Angka Anak
Usia 2 - 4 Tahun di KB AL-KAUTSAR Kalibaru Banyuwangi Tahun
Pelajaran 2020 – 2021"

1.3. Tujuan Penelitian


Penelitian Bertujuan:
1. Menganalisis "Kemampuan Guru PAUD Dalam Mengelola Kegiatan

Pembelajaran Anak Usia 2-4 Tahun di KB AL-KAUTSAR tahun


Pelajaran 2020-2021"
2. Ingin mengetahui "Kemampuan Guru PAUD Dalam Mengelola
Kegiatan Pembelajaran Anak Usia 2-4 Tahun di KB AL-KAUTSAR
tahun Pelajaran 2020 —2021"
3. Membuat analisa Kritis tentang " Kemampuan Guru Dalam
Mengelola Kegiatan Pembelajaran Pada Kegiatan Memindah Bola
dan Melompat Anak Usia 2 - 4 Tahun di KB AL-KAUTSAR
Kalibaru Banyuwangi Tahun Pelajaran 2020 – 2021"

1.4. Manfaat Penelitian


1.4.1. Bagi Guru
 Untuk menjadikan seorang pendidik yang lebih kreatif dan
inovatifdalam mengelola kegiatan pembelajaran.
 Untuk meningkatkan kinerja seorang pendidik dengan harapan
dan tujuan kejenjang yang lebih baik.
 Untuk menjadikan guru yang professional, yang memahami
karakteristik pesera didik.

1.4.2. Bagi Lembaga


 Dapat memberikan inspirasi kepada lembaga untuk
mengembangkan layanan pendidikan dan pembelajaran yang
kreatif dan inovatif.
 Dapat Meningkatkan mutu dan citra sekolah dengan prestasi
yang baik.

1.4.3. Bagi Peneliti


 Dapat mengetahui " Kemampuan Guru Dalam Mengelola
Kegiatan Pembelajaran Pada Kegiatan Memindah Bola dan
Melompat Anak Usia 2 - 4 Tahun di KB AL-KAUTSAR
Kalibaru Banyuwangi Tahun Pelajaran 2020 – 2021 "
 Untuk merefleksikan diri dengan tujuan memperbaiki hasil kerja
demi mengingkatkan motivasi belajar anak didik.
 Sebagai Alat untuk membuat tugas mata kuliah Analisis
Kegiatan Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini.