Anda di halaman 1dari 4

Gelling agent

1. Definisi
Gelling agent merupakan suatu gum alam atau sintesis, resin maupun hidrokoloid lain yang
dapat digunakan dalam formulasi gel untuk menjaga konsituen cairan serta padatan dalam
suatu bentuk gel yang halus.
Bahan berbasis polisakarida atau protein merupakan jenis bahan yang biasanya digunakan
sebagai pembentuk gel.
(Raton, et al., 1993).

*Catatan:
Senyawa basis atau gelling agent dibutuhkan dalam formulasi gel sebagai bahan pembentuk
gel dalam sediaan.Senyawa-senyawa pembentuk gel yaitu polimer alam (seperti alginat,
tragakan, gom arab, pektin, karagenan, dan lain-lain), polimer akrilik (seperti karbomer 934 P
dan karbopol 934 P), derivat selulosa, polietilen, padatan koloidal terdispersi, surfaktan dan
bahan pengel lain seperti beeswax (Liebarman, 1996). CMC Na merupakan basis gel
golongan polimer semi sintetik, karbopol termasuk basis golongan sintetik sedangkan
tragakan termasuk basis gel golongan gom alam
(Erawati, 2013)

2. Macam Jenis
Terdapat berbagai macam jenis,diantaranya adalah
a. Tragakan
Tragakan adalah eksudat gom kering yang diperoleh dengan penorehan batang
Astrogalus gummifer Labill dan spesies Astragalus lain. Tidak berbau dan hampir
tidak berasa, kelarutan dalam air agak sukar larut, tetapi mengembang menjadi masa
homogen, lengket, dan seperti gelatin (Depkes RI, 1979).
b. Na CMC
Na CMC yangmerupakan basis gel golongan polimer semisintetik. Natrium CMC
adalah garam natrium polikarboksimetil eter selulosa, mengandung tidak kurang dari
6,5 % dan tidak lebih dari 9,5 % Na dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
Kekentalan larutan 2 gr dalam 100 mL air, untuk zat yang mempunyai kekentalan 100
centipoise (cP) atau kurang, tidak kurang dari 80% dan tidak lebih dari 120% dari
ketentuan yang tertera pada etiket, untuk zat yang mempunyai kekentalan lebih dari
100 cP, dan tidak kurang dari 75 % dan tidak lebih dari 140 % dari ketentuan yang
tertera dietiket. Natrium CMC berupa serbuk atau butiran, putih atau putih gading,
tidak berbau, higroskopik. Natrium CMC mudah mendispersi dalam air, membentuk
suspensi koloidal, tidak larut dalam etanol 95 % P, dalam eter P, dan pelarut organik
lain. Khasiat dan kegunaan sebagai zat tambahan (Depkes RI, 1979). Penggunaan Na
CMC sebagai gelling agent adalah 4 – 6 % (Rowe et al.,2009).
c. Karbopol (carbomer 940)
karbopol termasuk sintesis dan tragakan termasuk basis gel golongan gom alam.
Karbopol berwarna putih berbentuk serbuk halus, bersifat asam, higroskopik, dengan
sedikit karakteristik bau. Karbopol dapat larut di alam air, di dalam etanol (95%) dan
gliserin, dapat terdispersi di dalam air untuk membentuk larutan koloidal bersifat
asam, sifat merekatnya rendah. Karbopol bersifat stabil dan higroskopik, penambahan
temperatur berlebih dapat mengakibatkan kekentalan menurun sehingga mengurangi
stabilitas. Karbopol mempunyai viskositas antara 40.000 – 60.000 cP digunakan
sebagai bahan pengental yang baik memiliki viskositasnya tinggi, menghasilkan gel
yang bening. Karbopol digunakan untuk bahan pengemulsi pada konsentrasi 0,1 - 0,5
% B, bahan pembentuk gel pada konsentrasi 0,5 - 2,0 % B, bahan pensuspensi pada
konsentrasi 0.5–1.0 % dan bahan perekat sediaan tablet pada konsentrasi 5 – 10%
(Rowe et. Al. 2009)
d. HPMC
Hidroksipropil metilselulose adalah turunan selulosa eter semisintetik yang telah
digunakan secara luas sebagai polimer hidrofilik dalam sistem pemberian obat oral
(Parakh et al., 2003) dan topikal (Rogers, 2009). Pemilihan basis HPMC dikarenakan
penampakan gel jernih dan kompatibel dengan bahan-bahan lain, kecuali oxidative
materials (Gibson, 2001) serta dapat mengembang terbatas dalam air sehingga
merupakan bahan pembentuk hidrogel yang baik (Suardi et al., 2008). Selain itu
substitusi pada metil memberi satu ciri unik HPMC yaitu kekuatan gel dan gel
terbentuk pada suhu 60-90°C tergantung substitusi polimer dan konsentrasi pada air
(Lieberman et al., 1998). Hasil penelitian Madan & Singh (2010) menyebutkan basis
HPMC memiliki kemampuan daya sebar yang lebih baik dari karbopol, metilselulosa,
dan sodium alginat, sehingga mudah diaplikasikan ke kulit. Gel yang baik mempunyai
waktu penyebaran yang singkat.

3. Contoh
Beberapa contoh gelling agent yaitu CMC-Na, metil selulosa, asam alginat, sodium alginate,
kalium alginat, kalsium alginate, agar, karagenan, locust bean gum, pektin serta gelatin
(Raton, et al., 1993).

4. Pemerian Bahan
Pemberian bahan gelling agent maksudnya penjelasan (tentang sifat, keadaan, hal) bahan
yang digunakan. Pemerian memuat paparan mengenai sifat zat secara umum terutama
meliputi wujud, rupa, warna, rasa, bau dan untuk beberapa hal dilengkapi dengan sifat kimia
atau sifat fisika, dimaksudkan untuk dijadikan petunjuk dalam pengelolaan, peracikan, dan
penggunaan.
1) Hidroksipropil Metilselulosa (HPMC)
Hidroksipropil metilselulosa merupakan bahan yang tidak mengiritasi dan tidak
beracun, mengalami perubahan dari sol menjadi gel yang reversibel pada
pendinginan dan pemanasan. Kegunaannya sebagai polimer dalam film coating
dan emulgator suspending agent (Kibbe, 2004) juga zat pengemulsi, agen
penstabil, dan agen pensuspensi dalam sediaan salep dan gel. Hidroksipropil
metilselulosa membentuk gel pada suhu 50-90°C dan stabil pada pH 3-11
(Rogers, 2009).
2) Karbomer
Karbomer merupakan polimer akrilik. Viskositas yang dihasilkan
karbomertergantung pada pH. Pada pH 3, karbomer akanberbentuk larutan, dan
pada pH 6-8 viskositasakan meningkat dan membentuk gel (Quinoneset al., 2008).
Karbomer tidak mengiritasi padapemakaian berulang serta cocok untuk sediaangel
yang didalamnya terdapat air dan alkohol(Shu, 2013). Karbomer akan membentuk
gelyang transparan dan bioadhesive. Karbomersaat disebar dalam air akan
mengembang,membentuk polimer untuk membentuk dispersikoloid yang
bertindak sebagai elektrolit anionik(Buchan et al., 2010).
3) Metilparaben
Metilparaben digunakan sebagai bahan pengawet/ preservative pada sediaan
farmasi, bersifat nonmutagenik, nonkarsinogenik, dan nonteratogenik. Dalam
sediaan topikal konsentrasi metilparaben yaitu 0,02-0,3% (Haley, 2009).
4) Propilparaben
Propilparaben digunakan sebagai pengawet/ preservative dalam sediaan farmasi,
bisa digunakan secara tunggal ataupun bersamaan dengan paraben lain. Dalam
sediaan topikal konsentrasinya yaitu 0,01-0,6% (Haley, 2009).
5) Propilen glikol
Propilen glikol berupa cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, rasa
agak manis, dan higroskopik. Propilen glikol dapat campur dengan air, dengan
etanol (95%) P dan dengan kloroform P, larut dalam 6 bagian eter P, tidak dapat
campur dengan eter minyak tanah P dan dengan minyak lemak. Berfungsi sebagai
pengawet, antimikroba, disinfektan, humektan, solven. Konsentrasinya yaitu 10-
20% (Weller, 2009).

5. Sifat
Sifat dan Karakteristik Gel (Lachman L, et al., 1989)
a. Swelling
Gel dapat mengembang karena komponen pembentuk gel dapat mengabsorbsi
larutan sehingga terjadi pertambahan volume.
b. Sineresis
Suatu proses yang terjadi akibat adanya kontraksi di dalam massa gel.
c. Efek suhu
Efek suhu mempengaruhi struktur gel. Gel dapat terbentuk melalui penurunan
temperatur tapi dapat juga pembentukan gel terjadi setelah pemanasan hingga
suhu tertentu.
d. Efek elektrolit
Konsentrasi elektrolit yang sangat tinggi akan berpengaruh pada gel hidrofilik di
mana ion berkompetisi secara efektif dengan koloid terhadap pelarut mengurangi
waktu untuk menyusun diri sesudah pemberian tekanan geser.
e. Elastisitas dan rigiditas
Sifat ini merupakan karakteristik dari gel gelatin agar dan nitroselulosa, selama
transformasi dari bentuk sol menjadi gel terjadi peningkatan elastisitas dengan
peningkatan konsentrasi pembentuk gel.
f. Rheologi
Larutan pembentuk gel (gelling agent) dan dispersi padatan yang terflokulasi
memberikan sifat aliran pseudoplastis yang khas, dan menunjukkan  jalan aliran
non – Newton yang dikarakterisasi oleh penurunan viskositas dan peningkatan
laju aliran.

6. Konsentasi
a. Hidroksipropil Metilselulosa (HPMC)
Arikumalasari et al. (2013) juga mengemukakan jika semakin tinggi konsentrasi
HPMC dalam sediaan maka akan semakin meningkatkan daya lekat sediaan gel.
Daya lekat ini berpengaruh pada kemampuan gel melekat pada kulit, jika semakin
tinggi maka akan semakin lama gel melekat pada kulit dan efek terapi yang
diberikan akan lebih lama. Hal ini sangat baik untuk pengobatan. Namun semakin
tinggi konsentrasi akan menurunkan daya sebar dari sediaan. Tingginya
konsentrasi HPMC akan meningkatkan viskositas gel, sehingga gel semakin
tertahan untuk mengalir dan menyebar pada kulit. Hal ini dapat mengurangi
kualitas sediaan gel.

7. Cara Pengembangan Menjadi Basis Gel


Dalam pembuatan gel semua bahan harus dilarutkan dahulu pada pelarut atau zat
pembawanya sebelum penambahan gelling agent (Allena , 2002).
a. Pada pembuatan sediaan gel ini digunakan gelling agent hidroksipropil metilselulosa
dimana pembuatannya basis gel (HPMC) dilarutkan/ didispersikan terlebih dahulu
baru kemudian ditambahkan dengan pengawet dilarutkan dalam propilen glikol dan
ekstrak herba pegagan yang sebelumnya sudah dicampur, kemudian diaduk sampai
homogen. Dalam pembuatannya, HPMC dikembangkan di dalam air yang telah
dipanaskan sehingga terbentuk gel yang diinginkan.
b. Pada pembuatan gel dengan karbomer sebagai gelling agent, tidak seperti HPMC
yang membutuhkan air panas untuk mengembangkannya. Untuk pengembangan
karbomer cukup menggunakan air pada suhu ruang. Karbomer ditaburkan di atas air
lalu diaduk cepat hingga terbentuk masa gel.

8. Kekuatan gel yang dapat dibentuk


Gel strength adalah ukuran kemampuan dispersi untuk mempertahankan bentuk
sediaan gel.
Mekanisme pembentukan gel terjadi saat struktur polimer dari karbomer terikat dalam
pelarut dan terjadi ikatan silang pada polimer-polimer sehingga molekul pelarut akan
terjebak di dalamnya, kemudian terjadi imobilisasi molekul pelarut dan terbentuk
strukrtur yang kaku dan tegar yang tahan terhadap gaya maupun tekanan tertentu.

Anda mungkin juga menyukai