Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Farmasi adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana cara membuat,
mencampur, meracik, memformulasi obat, identifikasi, kombinasi, analisis dan
standarisasi obat, termasuk pula sifat-sifat obat dan distribusinya serta
penggunaan yang aman, baik berupa bahan yang berasal dari alam atau sintetik.
Didalam farmasi terdapat ilmu yang mempelajari tentang bahan alam yang dapat
dimanfaatkan, salah satunya yaitu farmakognosi.
Farmakognosi merupakan salah satu ilmu yang mempelajari tentang
bagian-bagian tanaman atau hewan yang dapat digunakan sebagai obat alami yang
telah melewati berbagai macam uji seperti uji farmakodinamik, uji toksikologi
dan uji biofarmasetika. Di Indonesia saat ini untuk praktikum Farmakognosi
hanya meliputi segi pengamatan makroskopis, mikroskopis dan organoleptis yang
seharusnya juga mencakup indentifikasi, isolasi dan pemurnian setiap zat yang
terkandung dalam simplisia dan bila perlu penyelidikan dilanjutkan kearah sintesa
atau sintesis.
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam yang
berlimpah. Kurang lebih terdapat 40.000 – 50.000 spesies tanaman ada di
indonesia. Berbagai tanaman tersebut sebaian telah dimanfaatkan sebagai obat
tradisional oleh masyarakat contohnya dalam pembuatan infus dan dekok.
Cara penarikan kandungan kimia obat dalam tanaman sangat menentukan
senyawa apa saja yang akan berada dalam ekstrak. Pemilihan cara ekstraksi yang
salah menyebabkan hilangnya atau berkurangnya senyawa kimia berkhasiat yang
diinginkan. Pemahaman tentang sifat zat-zat kimia yang ada dalam tanaman
mutlak diperlukan untuk mendukung pemilihan cara ekstraksi.
Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan
kelarutannya terhadap dua cairan tidak saling larut yang berbeda, biasanya air dan
yang lainnya pelarut organik. Salah satu metode ekstraksi yang dapat digunakan
untuk mengekstraksi adalah infusa/dekokta. Cara ekstraksi sangat beragam,

1
disesuaikan dengan sifat simplisia, kandungan kimia di dalamnya dan
ketersediaan alat ekstraksi.
Infus merupakan sediaan cair pada suhu 9000 C selama 15 menit, hal-hal
yang harus diperhatikan dalam membuat cairan infus adalah jumlah simplisia,
derajat halus simplisia, banyaknya air ekstrak, serta cara menyari.
Dekok dapat diartikan sebagai sari-sari dalam air yang dibuat dari bahan-
bahan alam yang direbus pada suhu 900 – 980 0 C. Perbedaannya dengan infus
adalah dekok penyariannya selama 30 menit sedangkan infus hanya sekitar 15
menit dengan suhu yang sama. Untuk membuat infus dan dekok ditentukan oleh
sifat dari bahan/sampel.
Dari pernyataan diatas maka dilakukan percobaan membuat ekstrak
kering/kental yang berasal dari simplisia dengan cara infundasi dan dekoktasi.
1.2 Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah :
1. Mahasiswa mampu memahami cara pembuatan infuse dan dekok serta hal-hal
yang harus diperhatikan
2. Mahasiswa mampu membuat ekstrak kering/kental yang berasal dari simplisia
dengan cara infundasi dan dekoktasi
3. Mahasiswa dapat mengetahui perbandingan rendamen dan konsentrasi ekstrak
sampel secara infuse dan dekok
1.3 Manfaat Praktikum
Manfaat dari praktikum ini adalah :
1. Agar mahasiswa dapat memahami cara pembuatan infuse dan dekok
2. Agar mahasiswa dapat membuat ekstrak kering maupun kental yang berasal
dari simplisia dengan cara infundasi dan dekoktasi
3. Agar mahasiswa dapat mengetahui perbandingan dari rendamen dan
kosentrasi ekstrak sampel secara infuse dan dekok

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
Simplisia adalah bahan alam yang telah dikeringkan yang digunakan untuk
pengobatan dan belum mengalami pengolahan, kecuali dinyatakan lain suhu
pengeringan tidak lebih dari 60oC, sedangkan serbuk adalah sediaan obat
tradisional berupa butiran homogen dengan deraiat halus yang cocok; bahan
bakunya berupa simplisia sediaan galenik, atau campurannya Serbuk Simplisia
adalah sediaan Obat Tradisional berupa butiran homogen dengan derajat halus
yang sesuai, terbuat dari simplisia atau campuran dengan Ekstrak yang cara
penggunaannya diseduh dengan air panas (DepKes RI, 1994).
Simplisia merupakan bahan awal pembuatan sediaan herbal. Mutu sediaan
herbal sangat dipengaruhi oleh mutu simplisia yang digunakan. Oleh karena itu,
sumber simplisia, cara pengolahan, dan penyimpanan harus dapat dilakukan
dengan cara yang baik. Simplisia adalah bahan alam yang digunakan sebagai
bahan sediaan herbal yang belum mengalami pengolahan apapun dan kecuali
dinyatakan lain simplisia merupakan bahan yang telah dikeringkan. Standarisasi
simplisia mempunyai pengertian bahwa simplisia yang akan digunakan untuk obat
sebagai bahan baku harus memenuhi persyaratan yang tercantum dalam
monografi terbitan resmi Departemen Kesehatan (Materia Medika Indonesia).
Sedangkan sebagai produk yang langsung dikonsumsi (serbuk jamu dsb) masih
harus memenuhi persyaratan produk kefarmasian sesuai dengan peraturan yang
berlaku. Standarisasi suatu simplisia tidak lain merupakan pemenuhan terhadap
persyaratan sebagai bahan dan penetapan nilai berbagai parameter dari produk
seperti yang ditetapkan sebelumnya.
2.1.1 Infus
Infus merupakan sediaan yang dihasilkan dengan cara infundasi. Biasanya
berupa cairan yang langsung diminum sekaligus atau diminum dua atau tiga kali
pada hari yang sama. Ketentuan pembuatan infuse dalam farmakope yaitu satu
bagian simplisia untuk 10 bagian infuse atau infuse 10%. Bila simplisia tidak

3
mengandung zat yang berkhasiat keras. Bila simplisia memiliki zat yang
berkhasiat keras, maka ketentuan ini tidak berlaku. Infuse dibuat dengan cara :
1. Membasahi bahan baku dengan air sebanyak 2x bobotnya (untuk bunga air
yang digunakan sebanyak 4x bobot bahan).
2. Bahan baku ditambah dengan air dan dipanaskan selama 15 menit (dihitung
mulai suhu dalam panic mencapai 90oC) pada suhu 90-98oC, sambil sesekali
diaduk.
3. Untuk memindahkan penyarian kadang-kadang perlu ditambahkan bahan
kimia, misalnya asam sitrat untuk infuse kina, kalium atau natrium karbonat
untuk infuse kelembak.
4. Penyaringan dilakukan pada saat cairan masih panas melalui kain flannel.
Untuk mencukupi volume, ditambahkan air mendidih melalui ampasnya
Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, infusa merupakan sediaan cair
yang dibuat dengan mengekstraksi (menyari) simplisia nabati dengan air pada
suhu 90 derajat celcius selama 15 menit, yang mana ekstraksinya dilakukan
secara infundasi. Kecuali dinyatakan lain, infusa yang mengandung bukan
bahan khasiat keras dibuat dengan menggunakan 10% simplisia. Ada beberapa
hal yang harus diperhatikan dalam membuat cairan infus seperti jumlah simplisia,
derajat halus simplisia, banyaknya air ekstrak, serta cara menyari (Syamsuni,
2006).
Infundasi merupakan penyarian yang umum dilakukan untuk menyari zat
kandungan aktif yang larut dalam air dari bahan-bahan nabati. Penyarian
dengan metode ini menghasilkan sari/ekstrak yang tidak stabil dan mudah
tercemar oleh kuman dan kapang. Oleh sebab itu, sari yang diperoleh dengan cara
ini tidak boleh disimpan lebih dari 24 jam. Umumnya infus selalu dibuat dari
simplisia yang mempunyai jaringan lunak, yang mengandung minyak atsiri, dan
zat-zat yang tidak tahan pemanasan lama (Depkes RI.1979)
2.1.2 Dekok
Dekok merupakan sediaan yang dihasilkan dengan cara dekoktasi.
Perbedaan dengan infuse hanya terletak pada lamanya ekstraksi yaitu infuse 15

4
menit dan dekok 30 menit. Ekstraksi yang lebih lama pada simplisia tertentu dapat
meningkatkan kualitas ekstrak, namun hal tersebut tidak berlaku umum.
Penentuan apakah suatu simplisia lebih baik dibuat infuse atau dekok perlu
penelitian lebih lanjut, namun ada panduan dasar yang dapat dipertimbangkan,
yaitu :
Infus Dekok
Untuk bahan-bahan dasar yang lunak Untuk bahan-bahan dasar yang keras
Untuk bahan-bahan dasar yang zat-zat Untuk bahan-bahan dasar yang zat-
bagiannya tidak cukup tahan zat bagiannya sangat tahan
pemanasan pemanasan
Untuk bahan-bahan dasar dengan Untuk bahan-bahan dasar tanpa
minyak yang mudah menguap minyak yang mudah menguap
Untuk bahan-bahan dasar yang
banyak mengandung zat tepung

Dekok adalah ekstrasi dengan pelarut air pada temperatur 90°C selama 30
menit. Dekok diperuntukkan untuk simplisia nabati yang keras seperti kayu,
batang, biji dan lain sebagainya. Selain itu dekok juga dapat digunakan untuk
menyari simplisia yang mengandung minyak atsiri (Simanjuntak, 2008)
2.1.3 Rebusan
Rebusan merupakan cara yang penyarian yang sedikit berbeda dengan
infuse dan dekok. Rebusan dilakukan menggunakan panas yang bersumber dari
api lngsung bukan dari penangas air seperti infuse dan dekok. Waktu ekstraksi
biasanya lebih lama, namun lamanya ekstraksi belum ada literature pasti yang
menentukannya. Umumnya ekstraksi dihentikan bila miscela sudah mencapai 1/2
sampai 1/3 bagian dari jumlah awal atau 2-3 bagian pelarut menghasilkan satu
bagian ekstrak. Jumlah simplisia disesuaikan dengan dosis simplisia masing-
masing. Waktu yang diperlukan menurut percobaan berkisar antara 45-60 menit
dihitung mulai air mendidih. Cara ini terbatas untuk simplisia yang tahan
pemanasan atau yang tidak mudah rusak karena pemanasan karena suhu ekstraksi
mencapai 100oC
Perbedaan infuse, dekok, dan rebusan antara lain :

5
Faktor Infus Dekok Rebusan
Suhu 90-98oC 90-98oC 100 oC
Waktu 15 menit (dari 30 menit (dari 45-60 menit (dari suhu
ekstraksi suhu mencapai suhu mencapai mencapai 100 oC) atau 3
90 oC) 90 oC) bagian menjadi 1 bagian
Hasil akhir ditambahkan ditambahkan tidak ditambahkan
ekstrak pelarut sampai pelarut sampai pelarut
100 bagian 100 bagian
Sumber penangas air penangas air api langusung
panas

2.2 Uraian Tanaman


2.2.1 Tanaman Singkong (Manihot esculenta tuber)
a. Klasifikasi Tanaman Singkongmenurut Medanense (2016)
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Subkelas : Commelinidae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Manihot Singkong
Spesies : Manihot esculenta (Manihot esculenta)
b. Morfologi
Ubi kayu atau singkong adalah tanaman dikotil berumah satu yang
ditanam untuk diambil patinya yang sangat layak cerna.Sebagai belukar tahunan,
ubi kayu tumbuh setinggi 1-4 m dengan daun besar yang menjari dengan 5 hingga
9 belahan lembar daun.Susunan daun ubi kayu pada batang (phyllotaxis) berbetuk
2/5 spiral.
Daun ubi kayu terdiri darihelai daun (lamina) dan tangkai daun
(petiole).Panjang tangkai daun berkisar antara 5 –30 cm dan warnanya bervariasi
dari hijau ke ungu.Helai daun mempunyai permukaan yang halus dan berbentuk
seperti jari.Jumlah jari bervariasi antara 3 sampai 9 helai.Warna helai daun juga

6
bervariasi ada yang hijau dan ada juga yang berwarna ungu.Bentuk helai daun
terutama lebarnya juga bervariasi tergantung pada varietasnya.
Batang tanaman singkong berkayu, beruas-ruas dengan ketinggian
mencapai 3 meter.Warna batang ubi kayu bervariasi, ketika masih muda
umumnya batang ubi kayu berwarna hijau dan setelah tua menjadi keputih –
putihan, kelabu atau hijau kelabu atau cokelat kelabu.
Umbi ubi kayu atau singkong terbentuk dari akar yang berubah bentuk
dan fungsinya sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan.Bentuk umbi
biasanya bulat memanjang, daging umbi mengandung pati.Umbi pada singkong
terdiri atas kulit luar yang tipis berwarna kecoklatan atau kekuningan, kulit dalam
agak tebal berwarna keputihan dan basah.Warna umbi berwarna putih gelap atau
kuning gelap.Satu batang tanaman ubi kayu dapat menghasilkan 5–10 umbi.Umbi
singkong mengandung asam sianida berkadar rendah sampai tinggi. Suprapti
(2005)
c. Kadungan Kimia
Protein 8,11 g; serat kasar 15,20 g; pektin 0,22 g; lemak 1,29 g; kalsium
0,63 gsedangkan komponen kimia dan gizi daging singkong dalam 100 g adalah
protein 1 g; kalori 154 g; karbohidrat 36,8 g; lemak 0,1 g. Rukmana (1997)
d. Khasiat dan Kegunaan
umbi singkong yang diolah dengan cara dibakar kemudian dikonsumsi
dengan madu, dipercaya dapat mengobati keluhan penyakit lambung. Hal ini
dimungkinkan oleh kehadiran senyawa fenolik dan aktivitasantioksidan pada kulit
singkong (Siyumba et al,2014).

7
2.2.2 Daun Ketumbar (Coriandrum sativum )
a. Klasifikasi Tanaman Singkong menurut Itis Report (2016)
Kingdom : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Subdivisi : Spermatophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Commelinidae
Ordo : Apiales
Famili : Apiaceae Daun Ketumbar
Genus : Coriandrum L
(Coriandrum sativum)
Spesies : Coriandrum sativum
b. Morfologi
Tanaman ketumbar memiliki batang yang tidak berkayu tapi beralur dan
penampangnya berlubang. Percabangan pada batang ketumbar adalah dikotom
dan akan berbau wangi ketika batang tersebut kondisinya memar. Daun berwarna
hijau.Tanaman umbar memiliki daun majemuk bentuknya seperti payung
bersusun, di tepi daun tersebut bergerigi dan memiliki warna putih dan merah
muda.Daun – daun ketumbar menyirip.Bunga pada tanaman ketumbar termasuk
pada bunga majemuk yang memiliki bentuk seperti payung.
Bunga tersebut memiliki tangkai berukuran 2 – 10 cm dan memiliki daun
pembalut berukuran kecil.Bunganya memiliki mahkota berwarna merah muda
atau merah pucat, ukuran panjang bunga sekitar 3 – 4 mm. Ada sebagian bunga
yang telah mekar dan gugur.Ketika buah tanaman ketumbar sudah tua akan
berubah warna menjadi cokelat muda dan memiliki bentuk bulat yang warnanya
hijau. Buah yang dihasilkan memiliki panjang sekitar 4 – 5 mm dan ketika sudah
matang, buah tersebut akan sangat mudah untuk di rontokkan. Tanaman ketumbar
memiliki jenis akar tunggang berbentuk bulat, bercabang dan memiliki warna
putih untuk memenuhi nutrisinya.
c. Kadungan Kimia
Ketumbar mengandung komponen aktif yaitu vitamin, rasa, peptida,
mineral, asam lemak, polyunsaturated fatty acids, antioksidan, enzim dan sel
hidup (Cristian D et al., 2013).

8
d. Khasiat dan Kegunaan
Bubuk ketumbar dan minyak esensial ketumbar sebagai makanan
preservatif alami termasuk sebagai antibakteri, antifungi dan
antioksidan.Beberapa penelitian menyatakan bahwa ketumbar memiliki efek
farmakologi, diantaranya sebagai diuretik, antioksidan, antikonvulsan, sedatif,
antimikroba, antidiabetik, antimutagen serta antihelmintes.
2.2.3 Daun Paku (Pteridophyta)
a. Klasifikasi Tanaman. Madanese (2016)
Kingdom : Plantae
Clade : Tracheophytes
Class : Polypodiopsida
Ordo : Salviniales
Famili : Salviniaceae Daun Paku
Genus : Salvinia (Pteridophyta)
Spesies : Salvinia natans
b. Morfologi
Paku-pakuan memiliki jenis akar serabut yang dilengkapi dengan kaliptra
di bagian ujungnya.Jaringan akar tumbuhan paku terdiri atas epidermis, korteks,
serta silinder pusat.Pada bagian ini juga terdapat berkas pengangkut xylem dan
floem.Fungsi akar pada tanaman paku adalah sebagai alat penopang agar dapat
tumbuh tegak.Batang tumbuhan paku mempunyai struktur yang sama dengan
akarnya, yaitu terdiri dari lapisan epidermis, korteks, dan silinder pusat. Para
peneliti menganggap akar dan batang tanaman ini sebagai satu bagian yang sama
dimana separuh batang tumbuhan paku hidup di dalam tanah. Tinggi batang
tanaman paku sangat bervariasi, mulai yang paling pendek setinggi 2 cm dan
paling tinggi dapat mencapai 5 meter.
Ketinggian batang tersebut dipengaruhi oleh lingkungan hidup atau
habitatnya.Jenis yang hidup di air umumnya lebih pendek, sedang jenis yang
hidup di darat cenderung berukuran besar dan tinggi.Salah satu jenis tumbuhan
paku yang hidup di darat dan mampu mencapai ketinggian 5 meter adalah
Sphaeropteris atau paku tiang.Adapun bentuk fisik tumbuhan paku juga
bervariasi, mulai dari berbentuk lembaran, mirip pohon dan perdu, hingga

9
menyerupai bentuk tanduk rusa.Daun paku adalah bagian paling atas dari
tumbuhan ini.Daunnya terdiri atas lapisan epidermis, pembuluh pengangkut
berupa xylem dan floem, serta mesofil.Ukuran daun tumbuhan paku dapat dibagi
menjadi dua jenis, yaitu daun makrofil yang berukuran besar dan daun mikrofil
yang berukuran kecil.
c. Kadungan Kimia
Berdasarkan hasil penelitian Fahma (2007) menyatakan bahwa
pteridophyta spesies Azzolla pinnata dapat digunakan sebagai peningkat kualitas
air yang tercemar zat kimia dengan indikator meningkatannya nilai DO air dan pH
air, menurunnya nilai COD dan BOD air. Selain itupteridophyta memiliki manfaat
sebagai bahan pembuatan obat karena mengandung senyawa metabolit sekunder.
d. Khasiat dan Kegunaan
Manfaat tanaman paku (pteridophyta) dimana kita tahu bahwa tanaman paku
merupakan organisme fotoautotrofik, artinya adalah membuat makanan sendiri
dengan cara fotosintesis. Tanaman paku dapt hidup di berbagai tempat seperti
tempat yang lembab (higrofit), di air (hidrofit), permukaan batu, tanah dan
melekat (epifit) berkulit pohon.Tanaman paku akan hidup di habitat yang subur
dan dapat subur di hutan hujan tropis. Tanaman paku banyak memiliki manfaat di
berbagai kehidupan manusia.Tapi ada juga yang kurang menguntungkan.Selain
itu di mana tema kita di atas masih ada lagi penjelasan tentang manfaat tanaman
paku (pteridophyta).
2.2.4 Daun Bungale (Catharanthus roseus)
a. Klasifikasi Tanaman Bungale (Plantamor, 2008)
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Asteridae
Ordo : Gentianales
Famili : Apocynaceae Daun Bungale
Genus : Catharanthus (Catharanthus roseus)
Spesies : Catharanthus roseus

10
b. Morfologi
Bunga tapak dara biasanya digunakan sebagai obat oles atau topikal. Air
rebusannya pun dimanfaatkan untuk meredakan mata yang bengkak, menurunkan
kadar gula pada penderita diabetes, perdarahan, gigitan serangga, hingga kanker.
Tinggi dari tanaman bisa mencapai sekitar 0,2-1 meter. Tanaman ini mempunyai
batang yang berbentuk bulat dengan ukuran diameter yang berukuran kecil,
berkayu, mempunyai ruas, mempunyai cabang serta berambut.
Daun dari tanaman ini berbentuk bulat telur, memiliki warna hijau,
daunnya tersusun menyirip berselingan dan diklasifikasikan sebagai daun
tunggal.Panjang dari daun tanaman tersebut sekitar 2-6 cm, mempunyai lebar
sekitar 1-3 cm, dan mempunyai tangkai daun yang sangat pendek. Bunga dari
tanaman ini aksial atau bunga muncul dari ketiak daun.Untuk kelopak bunga
terlihat kecil, dan berbentuk paku.Mahkota bunga tanaman tapak dara ini
berbentuk seperti terompet dengan mempunyai permukaan yang berbulu
halus.Ujung dari mahkota ini melebar, mempunyai warna putih, biru, dan merah
jambu tapi bisa juga berwarna ungu tergantung dari kultivarnya.Buah tanaman ini
berbentuk seperti silinder, ujung yang lancip, mempunyai rambut. Panjang buah
ini sekitar 1,5 – 2,5 cm, dan mempunyai banyak biji.
c. Kadungan Kimia
Kandungan Senyawa Bioaktif dalam Tapak Dara Tapak dara mengandung
berbagai zat kimia aktif.Hasil analisa fitokimia ekstrak daun tapak dara
(Catharantus roseus) menunjukkan adanya kandungan tanin, triterpenoid, alkaloid,
dan flavonoid.Alkaloid dan flavonoid merupakan senyawa aktif yang telah diteliti
memiliki aktivasi hipoglikemik (Ivorra et al., 1989).
Flavonoid dapat menghambat kerja enzim α-glukosidase dalam luteolin
(Kim dan Sura, 2000). Sementara tanin dapat berfungsi sebagai antimikroba untuk
bakteri dan virus (Hara et al.,1993).Alkaloid adalah kelompok besar senyawa
organik alami dalam hampir semua jenis tumbuhan.

11
d. Khasiat dan Kegunaan
Berdasarkan hasil penelitian Fahma (2007) menyatakan bahwa
pteridophyta spesies Azzolla pinnata dapat digunakan sebagai peningkat kualitas
air yang tercemar zat kimia dengan indikator meningkatannya nilai DO air dan pH
air, menurunnya nilai COD dan BOD air. Selain itupteridophyta memiliki manfaat
sebagai bahan pembuatan obat karena mengandung senyawa metabolit sekunder.
2.2.5 Tanaman Mahoni (Swietenia mahagoni)
a. Klasifikasi dari tanaman mahoni adalah (Plantamor, 2012):
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Devisi : Spermatophyta
Devisi : Magnoliophyta
Ordo : Sapindales
Famili : Meliaceae
Genus : Swietenia Mahoni
Spesies : Swietenia mahagoni (Swietenia mahagoni)
b. Morfologi
Pohon mahoni adalah tumbuhan berkayu keras dengan ukuran besar.
Tanaman ini mampu tumbuh mencapi ketinggian 40 meter dengan diameter
batang hingga 120 cm. Mahoni memiliki batang yang lurus, bentuknya silindris,
banyak cabang, serta tidak berbanir. Kulit batang pohon mahoni muda berwarna
abu-abu halus. Selanjutnya setelah tua kulit bantangnya akan berubah menjadi
kehitaman dengan alur dangkal seperti sisik yang mudah dikelupas.
Sistem perakaran mahoni adalah akar tunggang yang tumbuh kedalam
tanah yang memiliki kadar air sedikit, namun tumbuh dangkal pada tanah yang
berkadar air tinggi. Daun mahoni berbentuk majemuk menyirip genap dan
menyerupai bulat telur.Ketika diraba, daunnya terasa halus dan agak tebal,
warnanya hijau muda pada saat muda dan berubah menjadi hijau kecokelatan
ketika tua.Pada musim kemarau, pohon mahoni memiliki ciri-ciri mirip pohon
jati, yaitu menggugurkan daunnya untuk mengurangi penguapan.Kumpulan daun
pohon mahoni dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk kompos secara alami.
Setelah memasuki musim hujan, pertumbuhan daun mahoni akan kembali dengan

12
munculnya tunas daun baru.Tumbuhan mahoni yang umurnya menginjak 7 atau 8
tahun akan menghasilkan bunga dan buah.
c. Kadungan Kimia
Kandungan kimia mahoni dipengaruhi oleh iklim dan cuaca serta habitat
masing-masing mahoni. Biji mahagoni afrika Khaya segenalensis yang diekstraksi
dengan etanol, dan dipartisi dengan etil asetat mengandung senyawa
tetranortriterpenoid. mengandung triterpenoid yaitu swietenin dan swietenolida
tiglat, serta flavonoid dan tanin. Esktrak etanol dari biji Swietenia sp mengandung
alkaloid, terpenoid, dan flavonoid (Sianturi, 2001).
2.2.6 Tanaman Bandotan (Ageratum conyzoides Linn)
a. Klasifikasi dari tanaman Bandotan adalah (Kartesz, 2012):
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Devisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Family : Asteraceae
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Tanaman Bandotan
Genus : Ageratum Linn
(Ageratum conyzoides)
Spesies : Ageratum conyzoides
b. Morfologi
Bentuk batangnya bulat, berambut jarang tegak atau berbring dengan
ketinggian rata rata 0,1-1,2 meter, batang berwarna hijau.daun bawah berhadapan
dan bertangkai cukup panjang , yang teratas tersebar dan bertangkai pendek,
helaian daun berbentuk bulat telur dan ujung adaun meruncing, tepi daun
bergerigi, panjang daun 1-10 cm dengan lebar 0,5-6 cm, dan warna daun hijau.
bunga berwarna putih, bongkol bunga berkelamin satu macam, yang mana
berkumpul 3 atau lebih menjadi karangan bunga, berbentuk bulat dengan panjang
bongkol 6-8 mm, bunga memiliki tangkai yang berambut.buah keras bersegi 5
runcing, memiliki rambut sisik pada buah, dengan panjang 2-3,5 mm(Van Steenis,
1997)

13
c. Kadungan Kimia
Selain tanaman tersebut bandotan merupakan tanaman yang mengandung
tanin, kandungan kimia lainya yang terdapat dalam tanaman bandotan meliputi
minyak atsiri, asam organik, kumarin, ageratochromene, friedelin, s-sitosterol,
stigmasterol, kalium klorida, sulfur, dan a-siatosterol. Daun dan bunga
mengandung saponin, flavanoid, dan polifenol (Hidayat dan Hutapea, 1991 cit.
oleh Handayani, 2009).
d. Khasiat dan Kegunaan
Kandungan flavonoid, glikosida dan tanin juga berkhasiat dalam
meredakan dan mengatasi sakit asam urat.Anda bisa menumbuk atau merebus
daun bandotan lalu tempelkan pada bagian tubuh yang sakit atau diminum.
Manfaat daun bandotan juga baik untuk mencegah dan menangkal diabetes atau
kencing manis. Kandungan zat kimia dan mineral dalam herbal ini efektif untuk
mengontrol kadar gula darah.
2.2.7 Tanaman Jati (Tectona grandis Linn)
a. Klasifikasi dari tanaman Bandotan adalah (Kartesz, 2012):
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Viridiplantae
Divisi : Tracheophyta
Family : Lamiaceae
Ordo : Lamiales
Genus : Tectona Jati
Spesies : Tectona grandis  (Tectona grandis)

b. Morfologi
Batang memiliki ukuran relatif besar, bulat dan lurus, tinggi total
mencapai 40 m. Batang juga memiliki percabangan bebas dapat mencapai 18-20
m dan berbatang bengkok dan bercabang. Kulit batang berwarna coklat kuning
keabu-abuan, terpecah-pecah dangkal dalam alur memanjang batang, tebal dan
permukaan kasar.Daun umumnya besar, berbentuk bulat telur terbalik, keberatan,
dengan tangkai yang sangat pendek. Daun pada anakan phon jatu berukuran besar,
sekitar 60-70 cm x 80-100 cm, sedangkan pohon tua menyusut menjadi sekitar 15
x 20 cm. Berbulu halus dan mempunyai rambut yang berada di permukaan
14
bawahnya. Daun muda berwarna kemerahan dan mengeluarkan cairan berwarna
merah muda merah muda dan daun tua berwarna hijau muda hingga tua.
Bunga pohon jati majemuk yang terletak di dalam malai besar, berkisar
40 cm x 40 cm atau lebih besar, berisi ratusan kuntum bunga yang tersusun dalam
anak payung menggarpu dan terletak di ujung ranting (jauh di puncak tajuk
pohon). Taju mahkota bunga 6-7 buah, berwarna keputih-putihan, dalam satu
rumah.Buah pohon jati berbentuk bulat agak gepeng, berukuran 0,5-2,5 cm,
Wawasan kasar dengan inti tebal, berbiji 2-4, umumnya hanya satu buah yang
tumbuh.
c. Kadungan Kimia
Kandungan ekstraktif yang terlarut dalam cairan, selanjutnya
dikarakterisasi menggunakan Py-GCMS. Hasil analisis Py-GCMS pada ekstrak
serbuk kayu jati menunjukkan adanya konsentrasi beberapa zat, antara lain
Carbamic acid (70,70%), mono ammonium salt (CAS) Ammonium carbamate
(70,70%), Acetic acid (CAS) Ethylic acid (10,52%), Acetic acid (CAS) Ethylic
acid(2,35%), Acetic acid (CAS) Ethylic acid (3,26%), dan Phenol (CAS) Izal
(13,17%).
d. Khasiat dan Kegunaan
Daun pohon jati memiliki manfaat untuk mengurangi dan mencegah
asma. Goswami et al., (2010) melakukan penelitian menggunakan model
binatang. Dan dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa ekstrak dari daun
tanaman jati memiliki efek signifikan sebagai anti asma.Daun dari pohon jati
dipercaya dapat melawan infeksi parasit seperti cacing. Guraraj et al., (2011)
menemukan bahwa ekstrak dari daun jati dapat dimanfaatkan untuk mengobati
cacingan. Penelitian dilakukan dengan menentukan waktu kelumpuhan dan
kematian cacing terhadap obat standard piperazine citrate. Hasilnya, daun pohon
jati memiliki efek yang cukup ampuh seperti piperazine citrate dalam melawan
cacing penyebab penyakit.

15
2.2.8 Tanaman Lengkuas (Alpinia galanga)
a. Klasifikasi dari tanaman Lengkuas adalah (Kartesz, 2012):
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Divisi : Magnoliophuta
Family : Zingiberaceae
Ordo : Zingiberales
Genus : Alpina Tanaman Lengkuas
Spesies : Alpinia galanga (Alpinia galanga)

b. Morfologi
Tanaman lengkuas memiliki batang muda yang keluar sebagai tunas dari
pangkal batang yang telah berusia tua. Lengkuas memiliki jenis lengkuas putih
dan merah. Biasanya pohon lengkuas berwarna putih memiliki ukuran yang lebih
tinggi, dimana ketinggiannya dapat mencapai sekitar 3 meter sedangkan yang
berwarna merah biasanya hanya mencapai 1 – 1,5 meter. Pertulangan daun
tanaman lengkuas memiliki bentuk menyirip dengan panjang daun sekitar 20 – 60
cm dengan lebarnya 4 – 15 cm. Pelepah daunnya memiliki ukuran panjang kurang
lebih 15 – 30 cm yan beralur dan memiliki warna hijau. Pelepah daun ini saling
menutup dan membentuk batang semu dengan warna hijau.Tanaman lengkuas
memiliki rimpang yang cukup besar dan tebal serta memiliki daging dengan
bentuk silindris dengan diameter sekitar 2 – 4 cm serta memiliki cabang-cabang.
c. Kadungan Kimia
Rimpang lengkuas mengandung lebih kurang 1% minyak atsiri berwarna
kuning kehijauan yang terutama terdiri dari metil-sinamat 48%, sineol 20% -
30%, eugenol, kamfer 1%, seskuiterpen. Selain itu rimpang juga mengandung
resin yang disebut galangol, kristal berwarna kuning yang disebut kaemferida dan
galangin, kadinen, heksabidrokadalen hidrat, kuersetin, amilum, beberapa
senyawa flavonoid, dan lain-lain. Lengkuas mengandung suatu senyawa
diarilheptanoid yang dinamakan 1- (4-hidroksifenil) -7-fenilheptan-3,5-diol,
setoksichavikol asetat dan asetoksieugenol asetat yang bersifat anti radang dan
antitumor. kariofilen oksida, kario- filenol, kuersetin-3-metil eter, isoramnetin,

16
kaemferida, galangin, galangin-3-metil eter, ramnositrin, dan 7- hidroksi-3,5-
dimetoksiflavon.
d. Khasiat dan Kegunaan
Sebagai anti tumor.Hal ini terkait dengan penelitian yang menemukan
fakta bahwa rimpang lengkuas mampu menghambat enzim xanthin oksidase
karena mengandung senyawa transkoniferil disasetat, asetoksi chavikol asetat,
asetoksi eugenol setat dan lain-lain.Sebagai anti-radang karena mengandung
karioferida, galangin, galangin-3-metil eter dan lain-lain.
2.2.9 Jarak Pagar (Jatropha curcas)
a. Klasifikasi Jarak Pagar (Steenis, 2008)
Kingdom : Plantae
Divisio : Embryophyta
Class : Spermatopsida
Ordo : Malpighiales
Family : Euporbiaceae
Jarak Pagar
Genus : Jatropha
(Jatropha curcas)
Spesies : Jatropha curcas
b. Morfologi
Tanaman jarak merupakan salah satu tanaman perdu yang dapat tumbuh
hingga tinggi mencapai 1 sampai 7 meter. Morfologi daunnya bentuknya berlekuk
dengan sudut tiga atau lima. Umumnya, daun pohon jarak ini berukuran lebar dan
membulat serupa telur. Panjangnya pun sekitar 5 hingga 15 cm. Perlu diketahui,
tulang daun jarak memiliki karakter menjari yang daunnya terhubung pada
tangkai daun dengan ukuran sekitar 4 hingga 15 cm. Bunga tanaman jarak
berbentuk malai dan termasuk kelompok bunga majemuk. Tanaman satu ini
memiliki bunga berwarna kuning kehijauan dan berkelamin tunggal, serta
berumah satu. Artinya, bagian putik dan benang sarinya terdapat dalam satu
tanaman yang sama. Bunga jarak memiliki 5 kelopak berbentuk bulat oval dengan
panjang lebih dari 4 mm. Umumnya, benang sari dari bunga tanaman jarak
terletak di bagian pangkal dengan warna kuning cerah. Tangkai putiknya
berukuran lebih pendek disertai warna hijau dengan kepala putih terlihat
melengkung keluar berwarna kuning. Bunga tanaman jarak mempunyai 5

17
mahkota dengan warna keungunan. Pada setiap tandan terdapat kurang lebih 15
bunga dengan proporsi bunga betina bisa mencapai 4 sampai 5 kali lipat
ketimbang bunga jantan.
Bunga betina ataupun bunga jantan tersusun pada rangkaian yang
membentuk cawan dan tumbuh di bagian ketiak daun ataupun ujung batang.
Tanaman jarak memiliki bunga berjenis uniseksual yang termasuk pada golongan
tanaman monoecious. Uniknya, seringkali juga ditemukan bunga hermafrodit
berwarna hijau kekuningan. Tanaman jarak memiliki batang berbentuk silindris
yang jika terluka akan mengeluarkan getah. Perlu diketahui, batang ini memiliki
peran sebagai sistem percabangan untuk mendukung perluasan di bidang
fotosintesis. Hal ini merupakan bentuk suatu transportasi utama air, udara, dan
bahan organik sebagai fotosintat serta unsur hara.
c. Kandungan kimia
Kandungan kimia pada daun, buah, dan akar Jatropa curcas adalah
saponin dan flavonoid, disamping itu buahnya, mengandung alkaloid dan tanin,
sedangkan akarnya mengandung senyawa polifenol (Steenis, 2008).
Selain itu, daun awar-awar (Ficus septica Burm F) juga mengandung
senyawa flavonoid genistin dan kaempferitrin, kumarin, senyawa fenolik,
pirimidin dan alkaloid antofin, 10S, 13aR-antofin N-oxide,
dehidrotylophorinficuseptin A, tylophorin, 2-Demetoksitylophorin, 14α-
Hidroksiisotyloprebin N- oxide, saponin triterpenoid, sterol. Buahnya
mengandung alkaloid dan tanin, sedangkan akarnya mengandung senyawa aktif
polifenol (Kinho 2011).
d. Manfaat Jarak Pagar
Konstipasi yang juga dikenal dengan istilah sembelit merupakan kondisi
di mana seseorang mengalami kesulitan dalam buang air besar (BAB). Nah, salah
satu cara untuk mengobati sembelit adalah dengan memanfaatkan daun jarak,
terutama jenis jarak pagar. Daun jarak pagar memang sangat berkhasiat dalam
mengatasi sembelit, tapi tidak sesederhana mitos yang selama ini dipercaya oleh
masyarakat, yakni hanya dengan menempelkannya pada perut. Alih-alih

18
demikian, kita harus merebus daun jarak dalam air mendidih. Kemudian, minum
air rebusan tersebut hingga sembelit mereda. (Kurdi, 2010).
2.2.10 Tembelekan (Lantana camara)
a. Klasifikasi Tembelekan
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Class : Dicotyledonae
Ordo : Lamiales
Family : Verbenaceae Tembelekan
Genus : Lantana (Lantana camara)
Spesies : Lantana camara

b. Morfologi
Termasuk habitus perdu, tanaman tegak atau setengah merambat,
mempunyai banyak cabang, dan ranting berbentuk segi empat. Tinggi tanaman
sekitar 2 m, varietas berduri dan ada yang tidak berduri. Ciri daun tanaman
berbentuk bulat telur, ujungnya meruncing, pinggir daun tampak bergerigi, tulang
daun menyirip. Permukaan atas daun berambut banyak, terasa kasar bila diraba,
dan bagian bawah daun berambut jarang. Daun tembelekan berbau harum dan
duduk saling berhadapan. Ciri bunganya berwarna putih, merah muda, jingga,
kuning, dan warna lain sesuai varietas. Bunga berbentuk rangkaian yang bersifat
rasemos, bergerombol dan tampak bulat. Ciri buah tembelekan seperti buah buni,
tampak hijau jika masih muda dan berwarna hitam mengkilat jika sudah matang.
c. Kandungan kimia
Daun, batang dan akar tanaman tembelekan mempunyai kandungan
senyawa kimia diantaranya pati, fenol, alkaloid, steroid, flavonoid, saponin, tanin,
catachin dan anthroquinone (Kensa, 2011).
d. Manfaat Tembelekan
Herba akar tembelekan berasa manis dan sejuk. Manfaat akar tembelekan
berkhasiat untuk menurunkan panas (antipiretik), penawar racun (antitoksik),
penghilang rasa sakit (analgesik), menghentikan pendarahan (hemostatik). Selain
itu juga berguna untuk mengobati influenza, TBC, gondongan (parotitis
epedemica), rematik, keseleo, memar (haematoma). Juga digunakan untuk

19
mengobati sakit kulit yang berkaitan dengan gangguan emosi (neurodermatitis),
keputihan (leucorrhea), gonorrhoea, sering buang air kecil (Kurdi, 2010).
2.3. Uraian Bahan
2.3.1 Alkohol (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : AETHANOLUM
Nama Lain : Etanol
RumusMolekul : C2H6O
Beratmolekul : 46,07 gr/mol
Rumus strukur :

Pemerian : Cairan tidak berwarna,mudah menguap, bau khas.


Kelarutan : Bercampur dengan air, praktis bercampur dengan
pelarut organik.
Khasiat : Sebagai antiseptik
Kegunaan : Sebagai pelarut
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
2.3.2 Nama Resmi : AQUA DESTILLATA
        Nama Lain : Aquadest, air suling
        RM/BM :   H2O/18,02 g/mol
Struktur molekul :
        
       Pemerian :   Cairan tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa
       Kelarutan :   Larut dengan semua jenis larutan
       Kegunaan :   Zat pelarut
Penyimpanan :   Dalam wadah tertutup kedap

20
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Farmakognosi ‘Infus dan Dekok’’ dilaksanakan pada Selasa, 20
Oktober 2020, pukul 18.00 WITA sampai selesai. Bertempat di Laboratorium
Farmasi Bahan Alam, Jurusan Farmasi, Fakultas Olahraga dan Kesehatan,
Universitas Negeri Gorontalo.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu gelas kimia, batang
pengaduk, gelas kimia, gelas ukur, Loyang, , kompor panci, neraca ohaus, kain
saring, pipet, penjepit, oven, cawan porselin, , spatula,. Adapun bahan yang
digunakan dalam praktikum ini yaitu alkohol 70%, Aquades, sampel haksel
batang tembelekan (Lantana camara caulis), kulit batang mahoni (Swietenia
mahagoni corteks), batang bandotan (Ageratum conyzoides caulis), kulit batang
jati (Tectona grandis corteks), dan rimpang lengkuas (Alpinia galanga rhizoma)
sebagai sampel dekok. Untuk sampel infusa digunakan serbuk singkong (Manihot
esculenta tuber), daun ketumbar (Coriandrum sativum folia), daun paku (Salvinia
natans folia), daun jarah pagar (Jatropha curcas folium), daun bungale (Catrantus
raseus folia).
3.3 Cara Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%
3. Ditimbang sampel
4. Diukur aquadest pada gelas ukur, kemudian dimasukan kedalam gelas
kimia
5. Dimasukan sampel ke dalam gelas kimia, lalu diaduk
6. Dinyalakan kompor dan letakkan panci yang telah terisi air
7. Ditunggu beberapa menit hingga air mendidih
8. Dijepit gelas kimia yang berisi sampel dan diletakkan dalam panci selama
15 menit untuk infus dan 30 menit untuk dekok, sambil diaduk.
9. Diangkat dan tuang dikain saring
21
10. Disaring dalam loyang hingga benar-benar tersaring semua sarinya
11. Disalin hasil saringan kegelas ukur
12. Dihitung rindamen ekstrak dengan rumus

22
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Uji Organoleptik
a. Infus
SAMPEL BAU RASA WARNA
Umbi Singkong Tidak berbau Tawar Putih keruh
(Manihot esculenta tuber)
Daun Ketumbar Menyengat Pahit Hijau
(Coriandrum Sativum folia) kehitaman
Daun Paku Seperti teh Pahit Coklat pekat
(Salvinia natans folia)
Daun Jarak Pagar Seperti teh Hambar, Kecoklatan
(Jatropha curcas folium) pekat
Daun Bungale Menyerupai Pahit Hijau tua
(Catrantus raseus folia) teh

b. Dekok
SAMPEL BAU RASA WARNA
Batang Tembelekan Seperti teh Pahit, pekat Coklat
(Lantana camara caulis) kemerahan
Kulit Batang Mahoni Tidak berbau Sangat pahit Coklat
(Swietenia mahagoni corteks) kehitaman
Batang Bandotan Menyengat Pahit Kuning
(Ageratum conyzoides caulis) kecoklatan

Kulit Batang Jati Berbau tajam Pahit Coklat


(Tectona grandis corteks) Kehitaman
Rimpang Lengkuas Menyengat Pedas Putih Keruh
(Alpinia galanga rhizoma)

4.1.2 Perhitungan
1. Daun Bungale (Catrantus raseus folia)
Dik : % = 12,9 %
V = 125,5 ml
23
Dit : Massa ...?

Solusi : % = x 100%

12,9 = x 100%

m =
m = 16,18 gr
2. Batang Bandotan (Ageratum conyzoides caulis)
Dik : % = 10,29 %
V = 121,5 ml
Dit : Massa ...?

Solusi : % = x 100%

10,29 = x 100%

m =
m = 12,5 gr
3. Daun Ketumbar (Coriandrum Sativum folia)
Dik : % = 20 %
V = 150 ml
Dit : Massa ...?

Solusi : % = x 100%

20 = x 100%

m =
m = 30 gr
4. Kulit Batang Mahoni (Swietenia mahagoni corteks)
Dik : % = 25 %

24
V = 150 ml
Dit : Massa ...?

Solusi : % = x 100%

25 = x 100%

m =
m = 32,5 gr
5. Daun Jarak Pagar (Jatropha curcas folium)
Dik : % = 23,3 %
V = 123,4 ml
Dit : Massa ...?

Solusi : % = x 100%

23,3 = x 100%

m =
m = 28,8 gr
6. Kulit batang jati (Tectona grandis corteks)
Dik : % = 19 %
V = 105,5 ml
Dit : Massa ...?

Solusi : % = x 100%

19 = x 100%

m =
m = 20,15 gr

25
7. Daun Paku (Salvinia natans folia)
Dik : % = 22,2 %
V = 150 ml
Dit : Massa ...?

Solusi : % = x 100%

22,2 = x 100%

m =
m = 33,3 gr
8. Lengkuas (Alpinia galanga rhizoma)
Dik : % = 60 %
V = 150 ml
Dit : Massa ...?

Solusi : % = x 100%

60 % = x 100%

m =
m = 90 gr
9. Umbi singkong (Manihot esculenta tuber)
Dik : % = 12 %
V = 100 ml
Dit : Massa ...?

Solusi : % = x 100%

12 % = x 100%

m =
m = 12 gr
26
10. Batang tembelekan (Lantana camara caulis)
Dik : % = 10,5 %
V = 100 ml
Dit : Massa ...?

Solusi : % = x 100%

10,5 = x 100%

m =
m = 11,76 gr
4.2 Pembahasan
Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, infusa merupakan sediaan cair
yang dibuat dengan mengekstraksi (menyari) simplisia nabati dengan air pada
suhu 90 derajat celcius selama 15 menit, yang mana ekstraksinya dilakukan secara
infundasi.. Kecuali dinyatakan lain, infusa yang mengandung bukan bahan khasiat
keras dibuat dengan menggunakan 10% simplisia. Menurut Syamsuni (2006), ada
beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat cairan infus seperti jumlah
simplisia, derajat halus simplisia, banyaknya air ekstrak, serta cara menyari.
Dekokta merupakan sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi
(menyari) simplisia nabati dengan air pada suhu 90 derajat celcius selama 30
menit. Dekok diperuntukkan untuk simplisia nabati yang keras seperti kayu,
batang, biji dan lain sebagainya. Selain itu dekok juga dapat digunakan untuk
menyari simplisia yang tidak mengandung minyak atsiri, dan pada bahan bahan
dimana bagian-bagiannya tahan terhadap penghangatan. Seperti halnya infus, jika
tidak dinyatakan lain, dekok yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras,
dibuat dengan menggunakan 10% simplisia (Dirjen POM, 1979).
Tujuan praktikum kali ini mahasiswa mampu memahami cara pembuatan
infusa dan dekokta serta hal-hal yang harus diperhatikan, mampu membuat
ekstrak kering / kental yang berasal dari simplisia dengan cara infudasi dan

27
dekoktasi, dan terakhir dapat mengetahui perbandingan rendamen dan konsentrasi
ekstrak sampel secara infuse dan dekok.
4.2.1 Infusa
Pada pembuatan sediaan infusa digunakan simplisia serbuk umbi singkong,
daun paku, daun jarak pagar, daun ketumbar, daun bangale. Cara kerjanya hampir
sama, yang membedakan hanya penggunaan sampel masing-masing kelompok
yang berbeda.
1. Infusa serbuk umbi singkong
Pertama dilakukan yaitu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
kemudian dibersihkan semua alat menggunakan alkohol 70%, karena menurut
(Pratiwi, 2008), alkohol dengan konsentrasi 70% dapat berperan sebagai
desinfektan dan mempercepat pembersihan alat dari benda asing maupun
mikrooraganisme. Kemudian ditimbang sampel yang akan digunakan sebanyak 12
gram pada neraca mekanik tujuannnya untuk mendapatkan berat sampel yang
akan digunakan serta dapat memperoleh hasil penimbangan yang pasti atau akurat
(Rully,2012).
Selanjutnya dibasahi serbuk simplisia tersebut dengan air ekstrak sebanyak
empat kali bobot simplisia dan ditambahkan air sebanyak ± 100ml. Dipanaskan
selama 15 menit dihitung pada saat suhu mencapai 90˚ C, hal ini sesuai dengan
( Farmakope Indonesia Ed. IV, 1995) bahwa infusa merupakan sediaan cair yang
dibuat dengan cara mengekstraksi bahan nabati dengan pelarut air pada suhu 90˚
C selama 15 menit. Selanjutnya disaring cairan pada saat panas menggunakan
kain flannel, jika perlu ditambahkan air secukupnya melalui ampas hingga
diperoleh 200ml. Hasil yang diperoleh pada perhitungan rendamen ekstrak yaitu
12 %. Uji organoleptik pada sampel ini meliputi rasa; tawar , bau; soft, dan warna;
putih.
2. Infusa serbuk daun paku
Pertama dilakukan yaitu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
kemudian dibersihkan semua alat menggunakan alkohol 70%, karena menurut
(Pratiwi, 2008) , alkohol dengan konsentrasi 70% dapat berperan sebagai

28
desinfektan dan mempercepat pembersihan alat dari benda asing maupun
mikrooraganisme. Kemudian ditimbang sampel yang akan digunakan sebanyak
33,3 gram pada neraca mekanik tujuannnya untuk mendapatkan berat sampel yang
akan digunakan serta dapat memperoleh hasil penimbangan yang pasti atau akurat
(Rully,2012).
Selanjutnya di basahi serbuk simplisia tersebut dengan air ekstrak sebanyak
empat kali bobot simplisia dan ditambahkan air sebanyak ± 150ml. Dipanaskan
selama 15 menit dihitung pada saat suhu mencapai 90˚ C, hal ini sesuai dengan
( Farmakope Indonesia Ed. IV, 1995) bahwa infusa merupakan sediaan cair yang
dibuat dengan cara mengekstraksi bahan nabati dengan pelarut air pada suhu 90˚
C selama 15 menit. Selanjutnya disaring cairan pada saat panas menggunakan
kain flannel, jika perlu ditambahkan air secukupnya melalui ampas hingga
diperoleh 200ml. Hasil yang diperoleh pada perhitungan rendamen ekstrak yaitu
22,2 %. Uji organoleptik pada sampel ini meliputi rasa; pahit , bau; seperti teh,
dan warna; coklat pekat.
3. Infusa serbuk daun jarak pagar
Pertama dilakukan yaitu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
kemudian dibersihkan semua alat menggunakan alkohol 70%, karena menurut
(Pratiwi, 2008), alkohol dengan konsentrasi 70% dapat berperan sebagai
desinfektan dan mempercepat pembersihan alat dari benda asing maupun
mikrooraganisme. Kemudian ditimbang sampel yang akan digunakan sebanyak
28,8 gram pada neraca mekanik tujuannnya untuk mendapatkan berat sampel yang
akan digunakan serta dapat memperoleh hasil penimbangan yang pasti atau akurat
(Rully, 2012).
Selanjutnya di ibasahi serbuk simplisia tersebut dengan air ekstrak
sebanyak empat kali bobot simplisia dan ditambahkan air sebanyak ± 123,4ml.
Dipanaskan selama 15 menit dihitung pada saat suhu mencapai 90˚ C, hal ini
sesuai dengan ( Farmakope Indonesia Ed. IV, 1995) bahwa infusa merupakan
sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi bahan nabati dengan pelarut
air pada suhu 90˚ C selama 15 menit. Selanjutnya disaring cairan pada saat panas

29
menggunakan kain flannel, jika perlu ditambahkan air secukupnya melalui ampas
hingga diperoleh 200ml. Uji organoleptik pada sampel ini meliputi rasa; hambar
dan pekat, bau; seperti teh, dan warna; coklat pekat.
4. Infusa serbuk daun ketumbar
Pertama dilakukan yaitu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
kemudian dibersihkan semua alat menggunakan alkohol 70%, karena menurut
(Pratiwi, 2008) , alkohol dengan konsentrasi 70% dapat berperan sebagai
desinfektan dan mempercepat pembersihan alat dari benda asing maupun
mikrooraganisme. Kemudian ditimbang sampel yang akan digunakan sebanyak 30
gram pada neraca mekanik tujuannnya untuk mendapatkan berat sampel yang
akan digunakan serta dapat memperoleh hasil penimbangan yang pasti atau akurat
(Rully,2012).
Selanjutnya di ibasahi serbuk simplisia tersebut dengan air ekstrak
sebanyak empat kali bobot simplisia dan ditambahkan air sebanyak ± 150 ml.
Dipanaskan selama 15 menit dihitung pada saat suhu mencapai 90˚ C, hal ini
sesuai dengan ( Farmakope Indonesia Ed. IV, 1995) bahwa infusa merupakan
sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi bahan nabati dengan pelarut
air pada suhu 90˚ C selama 15 menit. Selanjutnya disaring cairan pada saat panas
menggunakan kain flannel, jika perlu ditambahkan air secukupnya melalui ampas
hingga diperoleh 200ml. Uji organoleptik pada sampel ini meliputi rasa; pahit,
bau; memiliki bau menyengat, dan warna; hijau kehitaman.
5. Infusa serbuk daun bungale
Pertama dilakukan yaitu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
kemudian dibersihkan semua alat menggunakan alkohol 70%, karena menurut
(Pratiwi, 2008) , alkohol dengan konsentrasi 70% dapat berperan sebagai
desinfektan dan mempercepat pembersihan alat dari benda asing maupun
mikrooraganisme. Kemudian ditimbang sampel yang akan digunakan sebanyak
16,28 gram pada neraca mekanik tujuannnya untuk mendapatkan berat sampel
yang akan digunakan serta dapat memperoleh hasil penimbangan yang pasti atau
akurat (Rully,2012).

30
Selanjutnya di basahi serbuk simplisia tersebut dengan air ekstrak sebanyak
empat kali bobot simplisia dan ditambahkan air sebanyak ± 125,5 ml. Dipanaskan
selama 15 menit dihitung pada saat suhu mencapai 90˚ C, hal ini sesuai dengan
( Farmakope Indonesia Ed. IV, 1995) bahwa infusa merupakan sediaan cair yang
dibuat dengan cara mengekstraksi bahan nabati dengan pelarut air pada suhu 90˚
C selama 15 menit. Selanjutnya disaring cairan pada saat panas menggunakan
kain flannel, jika perlu ditambahkan air secukupnya melalui ampas hingga
diperoleh 200ml. Hasil yang diperoleh pada perhitungan rendamen ekstrak yaitu
12,9 %. Uji organoleptik pada sampel ini meliputi rasa; pahit , bau; soft, dan
warna; hijau tua.
4.2.1 Dekok
Pada pembuatan sediaan dekok digunakan simplisia haksel batang
tembelekan, kulit batang mahoni, batang bandotan, lengkuas, kulit batang jati.
Cara kerjanya hampir sama, yang membedakan hanya penggunaan sampel
masing-masing kelompok yang berbeda.
1. Dekok haksel batang tembelekan
pertama dilakukan yaitu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
kemudian dibersihkan semua alat menggunakan alkohol 70%, karena menurut
(Pratiwi, 2008) , alkohol dengan konsentrasi 70% dapat berperan sebagai
desinfektan dan mempercepat pembersihan alat dari benda asing maupun
mikrooraganisme. Kemudian ditimbang sampel yang akan digunakan sebanyak
11,76 gram pada neraca mekanik tujuannnya untuk mendapatkan berat sampel
yang akan digunakan serta dapat memperoleh hasil penimbangan yang pasti atau
akurat (Rully,2012).
Selanjutnya dibasahi serbuk simplisia tersebut dengan air ekstrak sebanyak
empat kali bobot simplisia, lalu ditambahkan air sebanyak ± 112ml. Dipanaskan
selama 30 menit dihitung pada saat suhu mencapai 90˚ C, dibuat dalam bentuk
dekokta karena simplisia batang tembelekan merupakan simplisia yang cukup
keras sehingga lebih susah untuk diekstraksi, oleh sebab itu simplisia batang
tembelekan membutuhkan waktu perebusan yang lebih lama dibandingkan infusa

31
umbi singkong yaitu 30 menit. Selanjutnya disaring cairan pada saat panas
menggunakan kain flannel, jika perlu ditambahkan air secukupnya melalui ampas
hingga diperoleh 200ml. Hasil yang diperoleh pada perhitungan rendamen ekstrak
yaitu 10,5 %. Uji organoleptik pada sampel ini meliputi rasa; pekat , bau; soft, dan
warna; merah tua.
2. Dekok haksel kulit batang mahoni
Pertama dilakukan yaitu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
kemudian dibersihkan semua alat menggunakan alkohol 70%, karena menurut
(Pratiwi, 2008) , alkohol dengan konsentrasi 70% dapat berperan sebagai
desinfektan dan mempercepat pembersihan alat dari benda asing maupun
mikrooraganisme. Kemudian ditimbang sampel yang akan digunakan sebanyak
12,5 gram pada neraca mekanik tujuannnya untuk mendapatkan berat sampel yang
akan digunakan serta dapat memperoleh hasil penimbangan yang pasti atau akurat
(Rully,2012).
Selanjutnya dibasahi serbuk simplisia tersebut dengan air ekstrak sebanyak
empat kali bobot simplisia, lalu ditambahkan air sebanyak ± 130 ml. Dipanaskan
selama 30 menit dihitung pada saat suhu mencapai 90˚ C, dibuat dalam bentuk
dekokta karena simplisia batang tembelekan merupakan simplisia yang cukup
keras sehingga lebih susah untuk diekstraksi, oleh sebab itu simplisia batang
tembelekan membutuhkan waktu perebusan yang lebih lama dibandingkan infusa
umbi singkong yaitu 30 menit. Selanjutnya disaring cairan pada saat panas
menggunakan kain flannel, jika perlu ditambahkan air secukupnya melalui ampas
hingga diperoleh 200ml. Uji organoleptik pada sampel ini meliputi rasa; pahit ,
bau; tidak berbau, dan warna; cokelat kehitaman.
3. Dekok haksel batang bandotan
Pertama dilakukan yaitu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
kemudian dibersihkan semua alat menggunakan alkohol 70%, karena menurut
(Pratiwi, 2008) , alkohol dengan konsentrasi 70% dapat berperan sebagai
desinfektan dan mempercepat pembersihan alat dari benda asing maupun
mikrooraganisme. Kemudian ditimbang sampel yang akan digunakan sebanyak

32
12,5 gram pada neraca mekanik tujuannnya untuk mendapatkan berat sampel yang
akan digunakan serta dapat memperoleh hasil penimbangan yang pasti atau akurat
(Rully,2012).
Selanjutnya dibasahi serbuk simplisia tersebut dengan air ekstrak sebanyak
empat kali bobot simplisia, lalu ditambahkan air sebanyak ± 121,5 ml.
Dipanaskan selama 30 menit dihitung pada saat suhu mencapai 90˚ C, dibuat
dalam bentuk dekokta karena simplisia batang tembelekan merupakan simplisia
yang cukup keras sehingga lebih susah untuk diekstraksi, oleh sebab itu simplisia
batang tembelekan membutuhkan waktu perebusan yang lebih lama dibandingkan
infusa umbi singkong yaitu 30 menit. Selanjutnya disaring cairan pada saat panas
menggunakan kain flannel, jika perlu ditambahkan air secukupnya melalui ampas
hingga diperoleh 200ml. Hasil yang diperoleh pada perhitungan rendamen ekstrak
yaitu 10,29%. Uji organoleptik pada sampel ini meliputi rasa; pahit , bau;
menyengat, dan warna; kuning kecoklatan.
4. Dekok haksel lengkuas
Pertama dilakukan yaitu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
kemudian dibersihkan semua alat menggunakan alkohol 70%, karena menurut
(Pratiwi, 2008) , alkohol dengan konsentrasi 70% dapat berperan sebagai
desinfektan dan mempercepat pembersihan alat dari benda asing maupun
mikrooraganisme. Kemudian ditimbang sampel yang akan digunakan sebanyak
90gram pada neraca mekanik tujuannnya untuk mendapatkan berat sampel yang
akan digunakan serta dapat memperoleh hasil penimbangan yang pasti atau akurat
(Rully,2012).
Selanjutnya dibasahi serbuk simplisia tersebut dengan air ekstrak sebanyak
empat kali bobot simplisia, lalu ditambahkan air sebanyak ± 150 ml. Dipanaskan
selama 30 menit dihitung pada saat suhu mencapai 90˚ C, dibuat dalam bentuk
dekokta karena simplisia batang tembelekan merupakan simplisia yang cukup
keras sehingga lebih susah untuk diekstraksi, oleh sebab itu simplisia batang
tembelekan membutuhkan waktu perebusan yang lebih lama dibandingkan infusa
umbi singkong yaitu 30 menit. Selanjutnya disaring cairan pada saat panas

33
menggunakan kain flannel, jika perlu ditambahkan air secukupnya melalui ampas
hingga diperoleh 200ml. Hasil yang diperoleh pada perhitungan rendamen ekstrak
yaitu 60%. Uji organoleptik pada sampel ini meliputi rasa; pedis, bau; menyengat,
dan warna; keruh.
5. Dekok kulit batang jati
Pertama dilakukan yaitu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
kemudian dibersihkan semua alat menggunakan alkohol 70%, karena menurut
(Pratiwi, 2008) , alkohol dengan konsentrasi 70% dapat berperan sebagai
desinfektan dan mempercepat pembersihan alat dari benda asing maupun
mikrooraganisme. Kemudian ditimbang sampel yang akan digunakan sebanyak
20,15 gram pada neraca mekanik tujuannnya untuk mendapatkan berat sampel
yang akan digunakan serta dapat memperoleh hasil penimbangan yang pasti atau
akurat (Rully,2012).
Selanjutnya dibasahi serbuk simplisia tersebut dengan air ekstrak sebanyak
empat kali bobot simplisia, lalu ditambahkan air sebanyak ± 105,5 ml.
Dipanaskan selama 30 menit dihitung pada saat suhu mencapai 90˚ C, dibuat
dalam bentuk dekokta karena simplisia batang tembelekan merupakan simplisia
yang cukup keras sehingga lebih susah untuk diekstraksi, oleh sebab itu simplisia
batang tembelekan membutuhkan waktu perebusan yang lebih lama dibandingkan
infusa umbi singkong yaitu 30 menit. Selanjutnya disaring cairan pada saat panas
menggunakan kain flannel, jika perlu ditambahkan air secukupnya melalui ampas
hingga diperoleh 200ml. Uji organoleptik pada sampel ini meliputi rasa; sedikit
pahit , bau; khas, dan warna; cokelat kehitaman.

34
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Pada pembuatan sediaan infus dan dekok dilakukan dengan cara membasahi
serbuk simplisia dengan air ektrak kemudian dipanaskan selama 30 menit untuk
dekok dan 15 menit untuk infus kemudian disaring dan dihitung rendamen ektrak
tersebut.
2. Dibuat dengan cara mengekstrak simplisia nabati dengan air pada suhu yang
telah ditentukan. Jika bahan yang digunakan untuk membuat dekok berasal dari
bahan bertekstur keras, bahan yang digunakan dalam infusa berasal dari bahan yang
lunak (simplisia, daun dan bunga). Cara pembuatan infusa hampir sama dengan
merebus teh. Siapkan simplisia kering 12 Gram. Bahan tersebut dimasukkan kedalam
gelas dan di letakkan pada air m1endidih selama Menit setelah direbus airnya
disaring dan hasil penyarinagn ini disebut infusa.
3. Hasil yang diperoleh pada perhitungan rendamen ekstrak yaitu 12 %. Uji
organoleptik pada sampel ini meliputi rasa; tawar , bau; soft, dan warna; putih, dan
pada hasil yang kedua diperoleh pada perhitungan rendamen ekstrak yaitu 10,5 %.
Uji organoleptik pada sampel ini meliputi rasa; pekat , bau; soft, dan warna; merah
tua.
5.2 Saran
5.2.1 Saran UntukAsisten
Diharapkan agar kerja sama antara asisten dengan praktikan lebih ditingkatkan
dengan banyak memberi wawasan tentang tingtur, diharapkan hubungan antara
asisten dengan praktikan tetap terjaga baik, hubungan asisten dengan praktikan
diharapkan selalu terjaga keharmonisannya agar dapat tercipta suasana kerjasama
yang baik.
5.2.2 Saran Untuk Praktikan
Untuk praktikan diharapkan lebih banyak menguasai materi mengenai
percobaan tingtur ini dan diharpakan dapat tepat waktu dalam proses pelaksanaan
praktikum. Praktikan diharapkan akan mendapatkan hasil yang maksimal.

35
5.2.3 Saran Untuk Laboratorium
Diharapkan dapat menjaga kebersihan dan tatanan di dalam laboratorium agar
dapat melakukan praktikum dengan nyaman.
5.2.4 Saran Untuk Jurusan
Untuk lebih memfasilitasi alat yang akan digunakan untuk praktikum di
laboratorium agar para praktikan tidak mengalami kendala dalam melakukan
praktikum.

36
DAFTAR PUSTAKA
Arif, M. W. (2011), Budidaya Kopi Konservas, C.I Indonesia.

Arrijani. 2005. Biologi dan konservasi marga myristica di Indonesia. Biodiversitas


6(2):147-151.

Bursatriannyo, 2014. Identifikasi Varietas Tanaman Kunyit Menggunakan Sistem


Pakar. UGM press

Depkes RI. (2002). Pedoman Pengendalian Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan


Akut.Dirjen Pengendalian penyakit penyehatan lingkungan.Jakarta :
Depkes RI.

Ditjen POM, (1979). Farmakope Indonesia, Edisi III, Depkes RI, Jakarta

Ditjen POM, (1995). Farmakope Indonesia, Edisi IV, Depkes RI, Jakarta

Ditjen POM, Depkes RI. 1986. Sediaan Galenik . Jakarta: Departemen Kesehatan RI

Estu Rahayu. 2007. Bawang Merah. Jakarta: Penebar Swadaya. Gembong,


Tjitrosoepomo.1988.TaksonomiTumbuhanSpermatophita.Yogyakarta.UG
M Press.

Hasan, R.H., Mohammad. K.A., 2005, The effects of drying techniques on


thecompressive strength of gypsum products. Al-Rafidain Dent J. 5 (1):63-
68

Herebian D, Choi JH, El-Aty AMA, Shim JH, Spiteller M. 2009. Metaboliteanalysis
in Curcuma domestica using various GCMS and LC-MSseparation and
detection techniques. Biomed Chromatogr.23(9).Hlm.951-965.

Hermawan, A., 2007, Pengaruh Ekstrak Daun Sirih (Piper betle L.) terhadap
Pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia coli Dengan
MetodeDifusi Disk, Artikel Ilmiah, Fakultas Kedokteran Hewan,
Universitas Airlangga Surabaya.

Jawa, T. 2016. Uji Daya Hambat Antibakteri Ekstrak Umbi Bawang Merah (Allium
ascalonicum L.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Pembentukan Karies Gigi
Streptococcus mutans.Skripsi. Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Kinho. J. 2011. Tumbuhan Obat Tradisional di Sulawesi Selatan Jilid II. Sulawesi
Selatan: Ristek.

Kurdi. A. 2010. Tanaman Herbal (Cara Mengolah dan Manfaatnya Bagi Kesehatan).
Artikel.Tanjung.
Nurmalina dkk.2012, ‘Peningkatan produksi dan mutu benih botani bawang merah
(true shallot seed) dengan introduksi serangga penyerbuk’, J. Hort., vol.
25, no.1, hlm. 26-36

Rahayu, Estu & Berlian Nur .2006.Bawang Merah. Penebar Swadaya Jakarta

Rini Damayanti Moeljanto, Mulyono. Khasiat dan manfaat daun sirih: obat

Rukmana. 1997. Ubi Jalar, Budidaya dan Pasca Panen. Kanisius, Yogyakarta.

Syamsuhidayat dan Hutapea, J.R., 1991, Inventaris Tanaman Obat Indonesia, 305-
306, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Badan Penelitian dan
Pengenmbangan Kesehatan, Jakarta.

Syamsuni. H. A. 2006. Ilmu Resep. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Syukur, C., O. Rostiana, S. Fatimah Syahid dan L.Udarno. 2006. Petunjuk


Pelaksanaan Pengelolaan plasma Nutfah Kunyit (Curcuma domestica
Valh).Petunjuk Pelaksanaan Plasma Nutfah Tanaman Perkebunan.
Puslitbang Perkebunan. Hlm 258-272.

Tim Dosen UIT. 2012. Penuntun Praktikum Analisis Instrumen Farmasi.Universitas


Indonesia Timur.Makassar.

Van Steenis, C.G.G.J, 2008, Flora untuk Sekolah di Indonesia, PT Pradnya Paramita,
Jakarta.
LAMPIRAN
Lampiran 1 : Alat dan Bahan
1. Alat
No. Nama Fungsi
Gambar

Untuk mengaduk
1. Batang pengaduk
larutan

Sebagai wadah
2. Gelas kimia
sampel

Untuk mengukur
3. Gelas ukur
larutan

Untuk wadah
4. Loyang
sampel

Untuk
5. Kompor memanaskan
sampel
Untuk menimbang
6. Neraca ohaus
sampel

Untuk menyaring
7. Kain saring
sampel

Untuk mengambil
8. Pipet larutan dalam
jumlah kecil

Untuk menjepit
9. Penjepit
wadah/gelas ukur

Sebagai wadah saat


10. Panci memanaskan
sampel

Untuk mengambil
sampel
11. Spatula
2. Bahan
No Nama Gambar Fungsi
.

Untuk
1. Alkohol 70% membersihkan
Alat

2. Aquadest Sebagai pelarut

Serbuk umbi
3. Singkong dan Sebagai sampel
haksel Tembelekan

Untuk
4. Tisu membersihkan
alat
Lampiran 2 : Diagram Alir
1. Percobaan Infus

Serbuk

- Disiapkan alat dan bahan


- Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%
- Ditimbang sampel
- Diukur aquadest pada gelas ukur, kemudian dimasukan
kedalam gelas kimia
- Dimasukan sampel ke dalam gelas kimia, lalu diaduk
- Dinyalakan kompor dan letakkan panci yang telah terisi air
- Ditunggu beberapa menit hingga air mendidih
- Dijepit gelas kimia yang berisi sampel dan diletakkan
dalam panci selama 15 menit dan diaduk
- Diangkat dan tuang dikain saring
- Disaring dalam loyang hingga benar-benar tersaring semua
sarinya
- Disalin hasil saringan kegelas ukur

HASIL
2. Percobaan dekok

Haksel

- Disiapkan alat dan bahan


- Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%
- Ditimbang sampel
- Diukur aquadest pada gelas ukur, kemudian dimasukan
kedalam gelas kimia
- Dimasukan sampel ke dalam gelas kimia, lalu diaduk
- Dinyalakan kompor dan letakkan panci yang telah terisi air
- Ditunggu beberapa menit hingga air mendidih
- Dijepit gelas kimia yang berisi sampel dan diletakkan
dalam panci selama 15 menit dan diaduk
- Diangkat dan tuang dikain saring
- Disaring dalam loyang hingga benar-benar tersaring semua
sarinya
- Dipindahkan hasil saringan kegelas ukur

HASIL
Lampiran 3 Skema Kerja
1. Percobaan Infus

Disiapkan alat
dan bahan, dan Ditimbang Diukur air dan
bersihkan sampel dimasukan
menggunakan pada gelas
alkohol 70% kimia

Dimasukkan Dinyalakan Dimasukan


wadah yang kompor, dan sampel
berisi sampel letakkan panci kegelas kimia,
selama 15 yang terisi air lalu diaduk
menit

Disaring Disalin air hasil


sampel dikain saringan Hasil
saring kegelas ukur

2. Percobaan Dekok
Disiapkan alat dan Ditimbang Diukur air dan
bahan, dan sampel dimasukan
bersihkan pada gelas
menggunakan kimia
alkohol 70%

Dimasukkan Dinyalakan Dimasukan


wadah yang berisi kompor, dan sampel
sampel selama 30 letakkan panci kegelas kimia,
menit yang terisi air lalu diaduk

Disaring Disalin air hasil


sampel dikain saringan Hasil
saring kegelas ukur