Anda di halaman 1dari 9

PRAKTIKUM BIOFARMASI DAN FARMAKOKINETIKA

PERCOBAAN 1

Judul : Uji Difusi Sediaan Topikal Secara In Vitro

Nama : Eunike Filia Tandidatu

Kelas : S1 D 2018

NIM : 1813015219

A. Uraian Teori
Biofarmasetika merupakan ilmu yang mempelajari hubungan antara sifat
fisikokimia obat, bentuk sediaan yang mana obat diberikan dan rute pemakaian
terhadap laju serta jumlah absorpsi obat sistemik. Biofarmasetika juga mencakup
stabilitas obat dalam produk obat, pelepasan obat dari produk obat, laju disolusi
atau pelepasan obat pada site absorpsi dan absorpsi sistemik obat. Studi dalam
biofarmasetika menggunakan metode in vitro dan in vivo. Metode in vitro adalah
metode yang menggunakan peralatan dan perlengkapan uji tanpa melibatkan hewan
coba atau pun manusia. Metode in vivo merupakan metode yang melibatkan subjek
manusia dan hewan coba (Shargel,2012).
Farmakokinetika merupakan ilmu dari kinetika absorpsi, distribusi dan
eliminasi suatu obat. Studi farmakokinetika mencakup pendekatan eksperimental
dan teoritis. Aspek eksperimental yaitu aspek yang meliputi pengembangan teknik
sampling biologis, metode analitik untuk pengukuran obat dan metabolit serta
prosedur yang memfasilitasi pengumpulan dan manipulasi data. Aspek teoritis
merupakan aspek yang meliputi pengembangan model farmakokinetika yang
memprediksi disposisi obat setelah pemakaian obat (Shargel,2012).
Obat topikal merupakan salah satu bentuk obat yang sering dipakai dalam
terapi dermatologi. Obat ini terdiri dari vehikulum (bahan pembawa) dan zat aktif
(Yanhendri,2012). Terapi topikal didefinisikan sebagai aplikasi obat dengan
formulasi tertentu pada kulit yang bertujuan mengobati penyakit kulit atau penyakit
sistemik yang bermanifestasi pada kulit. Keberhasilannya bergantung pada
pemahaman mengenai struktur sawar kulit, mekanisme absorpsi obat melalui kulit,
dan pemilihan vehikulum yang sesuai diperlukan dalam keberhasilan suatu
pengobatan topikal. Farmakokinetik obat topikal menggambarkan perubahan
konsentrasi obat setelah aplikasinya pada permukaan kulit, perjalanannya
menembus sawar kulit dan jaringan di bawahnya, dan distribusinya ke dalam
sirkulasi sistemik. Kulit merupakan organ tubuh terbesar dan memiliki banyak
fungsi penting, di antaranya adalah fungsi proteksi, termoregulasi, respons imun,
sintesis senyawa biokimia, dan peran sebagai organ sensoris (Asmara,2012).
Beberapa macam sediaan topikal yang ada antara lain, salep, pasta, gel dan krim
(Lachman, 1994).
Difusi adalah proses bergeraknya molekul lewat pori-pori. Larutan akan
bergerak dari konsentrasi tinggi ke arah larutan berkonsentarasi rendah
(Anthara,2011). Tetapan difusi suatu membrane berkaitan dengan tahanan yang
menunjukkan keadaan perpindahan. Tetapan difusi merupakan fungsi bobot
molekul senyawa dan interaksi kimia dengan konstituen membran serta bergantung
pada kekentalan media dan suhu. Pada sediaan topikal setelah dilakukan uji
kekentalan bentuk sediaan, ketercampuran, pengawetan selanjutnya dilakukan uji
pelepasan zat aktif secara in vitro, agar dapat ditentukan pembawa yang paling
sesuai untuk dapat melepaskan zat aktif di tempat pengolesan. Metode yang
digunakan pada difusi sediaan topikal secara in vitro, diantaranya difusi sederhana
dalam air dan dialisis melalui membrane kolodion atau selofan (Aiache,1993).

B. Tujuan Praktikum
Tujuan dari dilakukannya uji difusi sediaan topikal secara in vitro adalah
mahasiswa dapat melakukan pengamatan proses difusi zat aktif secara semi
kuantitatif.
C. Hasil dan Pembahasan
1. Hasil Praktikum
Salep asam salisilat Cream asam salisilat

2. Pembahasan
Praktikum yang telah dilakukan pada percobaan 1 yang berjudul “Uji
Difusi Sediaan Topikal Secara In Vitro” ini bertujuan agar mahasiswa dapat
melakukan pengamatan proses difusi zat aktif secara semi kuantitatif pada
sediaan topikal. Uji difusi ini menggunakan perbandingan antara sediaan salep
asam salisilat dengan krim asam salisilat.
Obat topikal merupakan salah satu bentuk obat yang sering dipakai dalam
terapi dermatologi. Terapi topikal atau obat topikal juga didefinisikan sebagai
obat dengan formulasi tertentu yang diberikan pada kulit yang bertujuan
mengobati penyakit kulit atau penyakit sistemik yang bermanifestasi pada
kulit. Adapun farmakokinetik dari obat topikal yaitu menggambarkan
perubahan konsentrasi obat setelah aplikasinya pada permukaan kulit,
perjalanannya menembus sawar kulit dan jaringan di bawahnya, dan
distribusinya ke dalam sirkulasi sistemik. Kulit merupakan organ tubuh
terbesar dan memiliki banyak fungsi penting, di antaranya adalah fungsi
proteksi, termoregulasi, respons imun, sintesis senyawa biokimia, dan peran
sebagai organ sensoris. Beberapa macam sediaan topikal yang ada antara lain,
salep, pasta, gel dan krim.
Difusi adalah proses bergeraknya molekul lewat pori-pori, dimana
larutan akan bergerak dari konsentrasi tinggi ke arah larutan berkonsentarasi
rendah. Pada sediaan topikal setelah dilakukan uji kekentalan bentuk sediaan,
ketercampuran, pengawetan selanjutnya dilakukan uji pelepasan zat aktif
secara in vitro, agar dapat ditentukan pembawa yang paling sesuai untuk dapat
melepaskan zat aktif di tempat pengolesan. Metode yang digunakan pada difusi
sediaan topikal secara in vitro, diantaranya difusi sederhana dalam air dan
dialisis melalui membrane kolodion atau selofan. Pelepasan obat sediaan salep
sangat bergantung pada sifat fisikakimia dari obat tersebut yang dapat
mempengaruhi absorbsi pada saluran cerna dengan laju difusi.
Adapun prosedur kerja yang dilakukan pada percobaan “Uji Difusi
Sediaan Topikal Secara In Vitro” dalam praktikum ini, yaitu pertama-tama
dipersiapkan terlebih dahulu 4 buah cawan petri yang telah berisi media agar,
lalu ditambahkan 2 mL FeCl3 ke dalam masing-masing cawan petri hingga
menutupi semua permukaan media agar. Tujuan dari ditetesi FeCl3 adalah
untuk memberikan ketajaman dan ketebalan warna pada media agar.
Selanjutnya, media agar didiamkan selama ± 3 menit, jika pada media agar
masih terdapat larutan FeCl3 maka media agar dapat dikeringkan menggunakan
kertas saring. Setelah kering, dibuat tiga lubang menggunakan sumuran dalam
media agar pada masing-masing cawan petri. Jika telah dilubangi, salep asam
salisilat dimasukkan pada dua cawan petri pertama dan begitupun pada dua
cawan petri berikutnya, dimasukkan krim asam salisilat hingga lubang penuh
dan diratakan, serta jangan lupa untuk memberi penanda pada tiap cawan petri
tersebut agar dapat membedakan mana sediaan salep dan mana sediaan krim.
Kemudian, setelah masing-masing sediaan telah dimasukkan pada tiap cawan
petri, simpan semua cawan petri dalam lemari pendingin dengan suhu
terkontrol secara bertahap selama 30 menit, 60 menit dan 90 menit. Lalu setelah
didinginkan, keluarkan cawan petri tersebut dan biarkan dalam suhu ruangan.
Setelah itu, untuk dapat mengetahui apakah percobaan yang dilakukan
berbanding lurus dengan jumlah asam salisilat yang dilepas dari basisnya
dilakukan dengan mengamati dan dicatat perubahan warna yang terjadi pada
media agar tersebut dan kedalaman warna yang terjadi pada media agar.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan pada praktikum ini,
didapatkan hasil pengamatan pada media sediaan salep asam salisilat terjadi
perubahan warna menjadi biru keunguan yang lebih pekat dari sediaan krim
asam salisilat. Pada media sediaan krim asam salisilat terjadi perubahan warna
menjadi ungu pucat. Dari hasil pengamatan media sediaan salep dan krim asam
salisilat tersebut menunjukkan hasil bahwa yang memiliki difusi yang baik
pada kedua sediaan topikal tersebut adalah sediaan salep asam salisilat. Pada
pengujian difusi sediaan topikal yang berzat aktif asam salisilat ini dapat dilihat
juga berdasarkan dari sifat fisika dan kimia bahan-bahan sediaan dari salep dan
krim tersebut. Dimana, berdasarkan teori yang ada sediaan yang memiliki
konsistensi kepadatan yang tinggi pada sediaannya memiliki kandungan lemak
yang lebih banyak dibandingkan dengan sediaan yang memiliki konsistensi
kepadatannya yang rendah. Sediaan yang memiliki konsistensi kepadatan yang
rendah memiliki kandungan air yang lebih banyak. Sehingga, sediaan yang
memiliki konsistensi kepadatan yang tinggi atau lebih padat dan yang memiliki
kandungan lemak lebih banyak akan lebih mudah diabsorpsi oleh kulit karena
membran kulit merupakan suatu lapisan lipoid biomolekular atau membran
yang mengandung lemak. Dilihat dari sifat fisika dan kimia dari keduaa sediaan
topikal ini menunjukkan bahwa sediaan salep asam salisilat memiliki
konsistensi yang lebih padat dari sediaan krim asam salisilat sehingga salep
asam salisilat memiliki difusi yang lebih baik daripada sediaan krim asam
salisilat. Secara mekanisme absorpsi atau penyerapannya pada membran kulit
sediaan salep memiliki efektivitas absorpsi yang lebih baik daripada sediaan
krim karena proses absorpsi pada sediaan salep yang lebih cepat menuju
membran. Maka berdasarkan dari hasil pengamatan difusi dari kedua sediaan
topikal asam salisilat tersebut dapat disimpulkan bahwa meskipun memiliki zat
aktif yang sama, tetapi memiliki perbedaan pada sifat fisika dan kimia,
formulasi dan pelarut akan menghasilkan kecepatan difusi yang berbeda pula.

D. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan pada percobaan “Uji Difusi
Sediaan Topikal Secara In Vitro” ini didapatkan kesimpulan bahwa dari kedua
sediaan topikal yang diujikan, yang memiliki kecepatan difusi yang baik adalah
sediaan salep asam salisilat karena sediaan salep asam salisilat tersebut
memiliki efektivitas absorpsi yang lebih baik daripada sediaan krim asam
salisilat yang dilihat berdasarkan perubahan yang terjadi pada kedua media
sediaan topikal dan sifat fisika dan kimianya. Meskipun memiliki zat aktif yang
sama, tetapi jika memiliki perbedaan pada sifat fisika dan kimia, formulasi dan
pelarut akan menghasilkan kecepatan difusi yang berbeda pula.
Latihan Soal

1. Apa kelebihan dan kekurangan pemakaian obat secara topikal?


Jawaban :
Adapun kelebihan dam kekurangan dari pemakaian obat secara topikal adalah
sebagai berikut:
a. Kelebihan dari sediaan obat topikal
 Menggantikan pemakaian obat melalui mulut bila tidak sesuai
 Menghindari first-pass effect yang merupakan pelepasan pertama
suatu bahan obat melalui sistemik dari sirkulasi portal dengan
menyertai absorpsi pada saluran cerna
 Menghindari kesulitan absorpsi obat melalui saluran cerna yang
disebabkan oleh pH saluran cerna, aktivitas enzim, interaksi obat
dengan makanan, minuman atau pemberian obat secara oral lainnya
 Memperbaiki keadaan pasien pada pemakaian bentuk-bentuk
sediaan berhari-hari dan yang memerlukan penggunaan dosis yang
lebih sering
 Memperpanjang aktivitas obat melalui penyimpanan obat yang ada
pada system pemberian teraupetik dan sifat pengaturan dan
pelepasannya yang terkendali pada obat yang mempunyai waktu
paruh yang pendek
b. Kekurangan dari sediaan topikal
 Kesukaran teknis pelekatan pada kulit baik secara teraupetik maupun
secara ekonomi untuk zat obat yang lebih banyak
 Karena sifat impermeabilitas kulit, sehingga obat yang dapat masuk
menembus pada kulit terbatas dan hanya obat-obat yang memiliki
potensi yang sesuai disampaikan melalui kulit
 Dapat menimbulkan iritasi atau peka pada kulit untuk obat-obat yang
cara pemberiannya tidak sesuai pada kulit
(Ansel, 2011).
2. Pada praktikum ini apa yang mempengaruhi perbedaan difusi dari salep dan
cream Asam Salisilat?
Jawaban :
Yang mempengaruhi adanya perbedaan difusi dari salep dan cream asam
salisilat dapat dilihat dari sifat fisika dan kimia kedua sediaan tersebut,
dimana sediaan yang memiliki konsistensi kepadatan yang tinggi atau lebih
padat dan yang memiliki kandungan lemak lebih banyak akan lebih mudah
diabsorpsi oleh kulit. Serta dapat juga dilihat dari basis kedua sediaan
tersebut. Sediaan salep mempunyai sifat pH, polaritas, viskositas, dan
sebagainya yang berbeda sehingga dengan adanya perbedaan koefisien partisi
suatu obat dalam suatu basis dalam basis yang lain, maka kecepatan pelepasan
obat dari basis yang berbeda akan berbeda pula. Sediaan yang memiliki basis
dengan viskositas tinggi akan menyebabkan koefisien difusi suatu obat dalam
basis menjadi rendah, sehingga akan menyebabkan pelepasan obat dari basis
akan kecil pula (Lachman, 1994).
DAFTAR PUSTAKA

Aiache, J.M. 1993. Farmasetika 2-Biofarmasi. Edisi Kedua. Penerjemah: Dr. Widji

Soeratri. Surabaya : Penerbit Airlangga University Press.

Ansel, Howard C. 2011. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi Empat. Jakarta:

UI Press.

Anthara, I Made Suma dan I Nyoman Suartha. 2011. Homeostasis Cairan Tubuh

pada Anjing dan Kucing. Buletin Veteriner Udayana, Vol. 3 No. 1 : 23-37

Asmara, Anjas., dkk. 2012. Vehikulum Dalam Dermatoterapi Topikal. MDVI,

Vol.39. No.1 : 25-35.

Lachman, L., Lieberman, H.A., Kanig, J.L. 1994.Teori dan Praktek Farmasi

Industri, Edisi ke-3. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Shargel, Leon., Susanna Wu-Pong., dan Andrew B.C. YU. 2012. Biofarmasetika

dan Farmakokinetika Terapan Edisi 5. Surabaya : Airlangga University

Press.

Yanhendri dan Satya Wydya Yenny. 2012. Berbagai Bentuk Sediaan Topikal dalam

Dermatologi. CDK-194, vol. 39 no. 6 : 423-430.