Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

PERCOBAAN 1
Penentuan Kadar Asam Benzoat Pada Minuman Teh Kemasan

Nama : Eunike Filia Tandidatu


NIM : 1813015219
Kelas : S1 D 2018
Nama Dosen/Asisten: Fikri Novan

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM STUDI FARMASI
UNIVERSITAS MULAWARMAN
2021
LAPORAN PRAKTIKUM
PENGUJIAN MUTU DAN KEAMANAN FARMASI

A. Waktu Praktikum
Senin, 12 April 2021
B. Judul Praktikum
Penentuan Kadar Asam Benzoat Pada Minuman Teh Kemasan
C. Tujuan Praktikum
Mengetahui, memahami, dan menentukan kadar asam benzoat pada minuman
teh kemasan secara kualitatif dan kuantitatif
D. Dasar Teori
Salah satu bahan pengawet yang banyak digunakan adalah asam benzoat.
Asam benzoat lebih banyak digunakan dalam bentuk garamnya karena
kelarutannya lebih baik daripada bentuk asamnya. Bentuk garam dari asam
benzoat yang banyak digunakan adalah natrium benzoat. Benzoat dan
turunannya dapat menghancurkan sel-sel mikroba terutama kapang. Natrium
benzoat bekerja efektif pada pH 2,5-4 sehingga banyak digunakan pada
makanan atau minuman yang bersifat asam (Winarno, 1980).
Sifat-sifat dari asam benzoat menurut (Depkes RI, 1995) adalah sebagai
berikut: Bobot molekul 122,12, mengandung tidak kurang dari 99,5% dan
tidak lebih dari 100,5% C7H6O2 dihitung terhadap zat anhidrat, pemerian:
hablur berbentuk jarum atau sisik, putih, sedikit berbau, biasanya bau
benzaldehid atau benzoin. Agak mudah menguap pada suhu hangat, mudah
menguap dalamuap air, kelarutan : sukar larut dalam air, mudah larut dalam
etanol, dalam kloroform, dan dalam eter.
Asam benzoat merupakan salah satu pengawet yang diizinkan oleh
Departemen Kesehatan untuk digunakan pada makanan. Menurut Permenkes
RI No.722/Menkes/Per/IX/88, batas penggunaan asam benzoat pada
minuman ringan dan kecap adalah 600 mg/kg, sedangkan pada sari buah,
saus, jelly, manisan dan agar adalah 1000 mg/kg.
Uji kualitatif dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya asam benzoat
pada minuman tersebut. Uji kualitatif dilakukan dengan cara, uji dengan
pereaksi FeCl3 dan dengan membandingkan antara spektra hasil ekstraksi
sampel dengan spektra larutan standar asam benzoat. Uji kualitatif ini
dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya benzoat pada sampel teh kemasan
tersebut. Pereaksi yang digunakan pada uji kualitatif ini adalah FeCl3 yang
dapat membentuk endapan kecoklatan atau merah bata bila bereaksi dengan
benzoat. Endapan yang terbentuk adalah Besi (III) benzoat (Saad, 2019).
Uji kuantitatif pada asam benzoat yaitu dengan menggunakan metode
titrasi. Titrasi yang digunanakan adalah jenis titrasi asam basa atau yang lebih
dikenal dengan metode titrimetri. Titrasi asam basa atau titrasi netralisasi
adalah titrasi yang didasarkan pada reaksi antara suatu asam dengan basa,
apabila asam ditambahkan dengan basa maka akan membentuk garam, pada
titrasi ini juga digunakan larutan baku standar baik larutan baku standar asam
maupun larutan baku standar basa. Titrasi asam basa melibatkan asam
maupun basa sebagai titer ataupun titran. Kadar larutan asam ditentukan
dengan menggunakan larutan basa atau sebaliknya. Titran ditambahkan titer
tetes demi tetes sampai mencapai keadaan ekuivalen yang artinya secara
stoikiometri titran dan titer tepat habis bereaksi yang biasanya ditandai
dengan berubahnya warna indikator. Keadaan ini disebut sebagai titik
ekuivalen, yaitu titik dimana konsentrasi asam sama dengan konsentrasi basa
atau titik dimana jumlah basa yang ditambahkan sama dengan jumlah asam
yang dinetralkan : [H+] = [OH-]. Sedangkan keadaan dimana titrasi dihentikan
dengan cara melihat perubahan warna indikator disebut sebagai “titik akhir
titrasi”. Titik akhir titrasi ini mendekati titik ekuivalen, tapi biasanya titik
akhir titrasi melewati titik ekuivalen. Oleh karena itu, titik akhir titrasi sering
disebut juga sebagai titik ekuivalen (Sumardjo, 2008).
E. Alat dan Bahan
1. Alat
No Nama Alat Gambar Fungsi

Digunakan untuk
Batang
1 mengaduk larutan
pengaduk
(Kemenkes, 2016).

Digunakan untuk titrasi


dengan cara meneteskan
sejumlah reagen cairan
2 Buret ke dalam obyek dalam
wadah gelas di
bawahnya
(Kemenkes, 2016).
Digunakan untuk
memijarkan endapan
Cawan
3 sehingga terbentuk
porselin
senyawa yang stabil
(Kemenkes, 2016).

Digunakan dalam proses


pemisahan cairan dari
dua fase yang tidak
4 Corong pisah
saling bercampur, yaitu
kloroform dan sampel
teh (Kemenkes, 2016).
Digunakan ditempat
larutan yang dititrasi
dalam analisa volumetri.
Bentuk seperti beaker
glass yang memiliki
leher yang sempit,
dengan keuntungan
5 Erlenmeyer
mengurangi penguapan
zat cair dalam
pemanasan dan
menghindari tumpah
ketika dalam proses
titrasi
(Kemenkes, 2016).

Digunakan untuk
menuang, membuat dan
6 Gelas kimia
mendidihkan larutan
(Kemenkes, 2016).

Digunakan untuk
membuat larutan dengan
konsentrasi tertentu dan
7 Labu ukur mengencerkan larutan
dengan akurasi yang
tepat
(Kemenkes, 2016).
Digunakan untuk
menciptakan suhu yang
8 Penangas air
konstan dan
menguapkan pelarut
untuk mendapatkan
residu kering
(Kemenkes, 2016).

Digunakan untuk
mengukur volume tepat
9 Pipet volume berdasarkan volume
yang diinginkan
(Kemenkes, 2016).

Rak tabung berfungsi


sebagai tempat
10 Rak Tabung meletakkan tabung
reaksi
(Khamidinal, 2009).
Klem buret : terbuat dari
besi atau baja untuk
memegang buret yang
digunakan untuk titrasi
(Kemenkes, 2016).
Statif dan
11 Statif : Terbuat dari besi
klem
atau baja yang berfungsi
untuk menegakkan buret
dan corong pisah pada
saat digunakan
(Kemenkes, 2016).
Digunakan untuk
mereaksikan hasil
Tabung preparasi dan indikator
12
reaksi PP untuk mendapatkan
hasil uji kualitatif yang
dibutuhkan
(Kemenkes, 2016).

2. Bahan
No Nama Bahan Sifat Fisik Sifat Kimia
Aquadest memiliki Zat cair yang jernih tidak
viskositas 1.002 berwarna, berasa dan
centipoise pada 20°C, berbau, bereaksi netral
Air mempunyai titik terhadap methyl merah,
1 Aquadest beku 0°C pada tekanan aquadest tersusun atas dua
1 atm, titik didih 100°C atom hydrogen yang terikat
dan kerapatan 1,0 secara kovalen pada satu
g/cm3 pada suhu 4°C atom oksigen
(Petrucci,2008) (Petrucci,2008)
Tidak mudah menguap, Larut dalam lebih kurang
tidak berwarna bau 200 bagian air, mudah larut
khas, rasa manis dan dalam etanol mutlak p,
membakar dalam eter p, dalam
2 CHCl3
(Depkes,1979) sebagian besar pelarut
organik, dalam minyak
atsiri dan minyak lemak
(Depkes.1979)
Cairan jernih, mudah Mudah terbakar, sangat
menguap, bau khas, dan mudah larut dalam air,
3 Etanol 95%
rasa panas kloroform P dan dalam eter
(Depkes,1979) P (Depkes,1979)
FeCl3 memiliki titik FeCl3 dapat bereaksi
lebur yang relatif dengan garam klorida
4 FeCl3 1% rendah, titik didih lainnya membentuk ion
315°C. Uapnya tetrahedral FeCl4− yang
merupkan dimer Fe2 Cl6, berwarna kuning, dalam
yang pada suhu yang suasana basa, alkoksida
semakin tinggi lebih dari logam alkali bereaksi
cenderung terurai membentuk kompleks
menjadi monomer dimer, agen oksidator yang
FeCl3, daripada sedang (Pradyot, 2002).
penguraian reversibel
menjadi besi(II) klorida
dan gas klorin
(Holleman, 2001)
HCl memiliki Berat Asam kuat, tak berwarna,
molekul 36,461 g/mol, kadang-kadang berwarna
Tak berwarna atau kuning pucat, sangat krosif,
kuning pucat, Densitas larut dalam air, alkohol dan
5 HCl 10% larutan HCl pada 25°C benzene (Lewis, 1993).
adalah 1,18 g/mL, Titik
leleh 114,4°C, Titik
didih -85°C (Lewis,
1993).
Tidak berbau, berwarna Bersifat toksin, larut dalam
H2C2O4 0,05 putih, dan tidak air panas maupun air dingin
6
M menyerap air (Atikah, serta larut dalam alkohol
2017) (Atikah, 2017)
Memberikan warna Indikator fenolftalein dapat
merah dalam alkali kuat membentuk larutan tidak
Indikator (Depkes,1979) berwarna dalam suasana
7
Fenolftalein asam dan alkali lemah ,
murni pereaksi, C20H14O4
(Depkes,1979)
NaOH memiliki berat Zat berwarna putih dan
8 NaOH 0,1 M
molekul 40g/mol, titik rapuh dengan cepat dapat
leleh 323°C, titik didih mengabsorbsi uap air dan
1390 °C, tekanan kritis CO2 dari udara, kristal
249,998 atm, densitas NaOH berserat membentuk
1090,41 kg/m3 dan anyaman. NaOH mudah
temperature kritis larut dalam air, jika kontak
2546,85 °C dengan udara akan mencair
(Perry,1984) dan jika dibakar akan
meleleh (Kirk & Othmer,
1981).
Memiliki senyawa Warna kuning kecoklatan,
tannin, memiliki kadar aroma khas teh
9 Sampel
air dibawah 12% (Kusumaningrum,2013)
(Kusumaningrum,2013)

F. Pengamatan
No Prosedur Kerja Hasil Pengamatan
1 Standarisasi NaOH dengan a. Volume X (NaOH) yang
H2C2O4 0,05 M diperoleh adalah 11,6 ml; 11,8
ml; dan 12,0 ml
b. Volume Y (H2C2O4) yang
digunakan adalah 10 ml
c. Terjadi perubahan warna
menjadi ungu lembayung
2 Preparasi Sampel Sampel teh di dalam labu takar 50
ml memiliki warna kuning bening
keemasan
3 Uji Kualitatif Pada Sampel Hasil negatif, berwarna kuning
keruh serta terbentuk endapan
hitam dibawah tabung.
4 Uji Kuantitaif Pada Sampel a. Replikasi 1 didapatkan hasil
kadar 2,971 mg/ml
b. Replikasi 2 didapatkan hasil
kadar 2,664 mg/ml
c. Replikasi 3 didapatkan hasil
kadar 2,562 mg/ml

G. Pembahasan
Praktikum yang telah dilakukan pada percobaan 1 yang berjudul
“Penentuan Kadar Asam Benzoat Pada Minuman Teh Kemasan” ini
bertujuan untuk dapat mengetahui, memahami, dan menentukan kadar asam
benzoat pada minuman teh kemasan secara kualitatif dan kuantitatif.
Asam benzoat merupakan salah satu pengawet yang paling sering
digunakan oleh masyarakt dan diizinkan oleh Departemen Kesehatan untuk
digunakan pada makanan. Menurut Permenkes RI
No.722/Menkes/Per/IX/88, batas penggunaan asam benzoat pada minuman
ringan dan kecap adalah 600 mg/kg, sedangkan pada sari buah, saus, jelly,
manisan dan agar adalah 1000 mg/kg. Karena kelarutan bentuk garamnya
lebih baik daripada bentuk asamnya sehingga asam benzoat lebih banyak
digunakan dalam garamnya. Natrium benzoate merupakan salah satu bentuk
garam dari asam benzoat yang banyak digunakan pada makanan atau
minuman yang bersifat asam karena dapat bekerja efektif pada pH 2,5-4.
Pada percobaan praktikum ini dilakukan melalui 4 tahap, yaitu tahap
pertama dilakukan standarisasi NaOH 0,1 M dengan dimasukkan NaOH ke
dalam buret sebanyak 50 ML lalu ditambahkan H2C2O4 0,05 M sebanyak 10
mL dan 3 tetes indicator PP 1%. Kemudian, dititrasi hingga berwarna ungu
lembayung dan dilakukan 3x replikasi. Setelah iu, dicatat volume replikasi.
Tahap kedua, dilakukan preparasi sampel dengan memasukkan 50 mL sampel
teh ke dalam corong pisah dan ditambahkan 10 mL HCl 10%, digojog.
Selanjutnya, ditambahkan CHCl3 sebanyak 25mL, digojog dan didiamkan
hingga terbentuk 2 lapisan. Setelah terbentuk 2 lapisan, bagian kloroform
(CHCl3) ditampung dan diuapkan diatas penangas hingga residu kering. Jika
residu telah kering, ditambahkan etanol 96% hingga residu larut dan
dimasukkan ke dalam labu takar 50 mL. Kemudian, ditambahkan kembali
etanol ad tanda batas dan dikocok perlahan. Tahap ketiga, dilakukan uji
kualitatif. Dimana, uji kualitatif ini dilakukan dengan mengambil 3 mL
sampel hasil preparasi dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu
ditambahkan 5 tetes FeCl3 1%. Jika sampel berubah menjadi warna ungu,
menandakan hasilnya positif. Tahap keempat, dilakukan uji kuantitatif. Uji
kuantitatif ini dilakukan dengan memasukkan NaOH ke dalam buret
sebanyak 50 mL dan ditambahkan 10 mL sampel hasil preparasi. Lalu,
ditambahkan 3 tetes indicator PP 1% dan dititrasi hingga berwarna ungu
lembayung. Setelah dititrasi, dicatat volume titrasi dan dilakukan 3x replikasi.
Tujuan dari penambahan HCl dan kloroform (CHCl3) adalah untuk
melepaskan atau memisahkan garam dari natrium benzoate menjadi asam
benzoate. Pada proses penguapan menggunakan suhu tertinggi agar proses
penguapan dapat berjalan cepat dan menghilangkan pelarut agar sampel yang
dihasilkan murni. Mengapa dilakukan penguapan dan diambil residu kering
karena untuk memisahkan asam benzoat pada sampel teh kemasan dari
kandungan lain yang terdapat pada teh kemasan tersebut. Uji kualitatif
dilakukan karena bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya asam benzoat
pada minuman teh kemasan tersebut.
Hasil yang didapatkan pada percobaan praktikum ini adalah pada
pengujian kualitatif sampel teh kemasan menunjukkan hasil negatif
mengandung Asam Benzoat dikarenakan sampel tidak terjadinya perubahan
warna menjadi ungu lembayung melainkan warna yang dihasilkan adalah
berwarna kuning keruh serta terbentu endapan hitam dibawah tabung hal ini
disebabkan karena kadar asam benzoat pada sampel minuman masih sedikit
sehingga ketika dilakukan uji kualitatif tidak menghasilkan hasil yang positif
(berwarna ungu), sedangkan pada hasil uji kuantitatif didapatkan hasil yaitu,
kadar kandungan asam benzoat pada sampel replikasi 1 sebanyak 2,971
mg/ml, replikasi 2 sebanyak 2,664 mg/ml, dan replikasi 3 sebanyak 2,562
mg/ml. Total kadar kandungan asam benzoat adalah sebanyak 0,53%,
sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel teh kemasan yang di uji masih
dalam batas aman untuk dikonsumsi.

H. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan pada percobaan “Penentuan
Kadar Asam Benzoat Pada Minuman Teh Kemasan” dapat disimpulkan
bahwa pada pengujian kualitatif sampel teh kemasan menunjukkan hasil
negatif mengandung Asam Benzoat dikarenakan sampel tidak terjadinya
perubahan warna menjadi ungu lembayung melainkan warna yang dihasilkan
adalah berwarna kuning keruh serta terbentu endapan hitam dibawah tabung,
sedangkan pada hasil uji kuantitatif didapatkan hasil yaitu, kadar kandungan
asam benzoat pada sampel replikasi 1 sebanyak 2,971 mg/ml, replikasi 2
sebanyak 2,664 mg/ml, dan replikasi 3 sebanyak 2,562 mg/ml. Total kadar
kandungan asam benzoat adalah sebanyak 0,53%, sehingga dapat
disimpulkan bahwa sampel teh kemasan yang di uji masih dalam batas aman
untuk dikonsumsi.

I. Daftar Pustaka

Atiqah. 2017. Pengaruh Oksidator Dan Waktu Terhadap Yield Asam Oksalat
Dari Kulit Pisang Dengan Proses Oksidasi Karbohidrat. Jurnal
Redoks Teknik Kimia, Volume 2, Nomor 1.
Depkes RI. 1978. Farmakope Indonesia, Edisi. III. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI.

Departemen Kesehatan RI. 1988. Peraturan Menteri Kesehatan RI. Nomor:


722/MenKes/Per/IX/88 Tentang Bahan Tambahan Makanan.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia, Ed. IV: 47-48,548.


Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Holleman, A.F. 2001. Inorganic Chemistry. San Diego: Academic Press.

Khamidinal. 2009. Teknik Laboratorium Kimia. Yogyakarta: Pustaka


Pelajar.

Kirk, K. E. and Othmer, D. F., 1981, Encyclopedia of Chemical Technology,


3 edition, Volume 9, The Interscience Encyclopedia, John Willey
and Sons, Inc, New York.

Kusumaningrum, ria, dkk. 2013. Karakteristik Dan Mutu Teh Bunga Lotus
(Nelumbo nucifera). Fishtech, volume 11 no 1.

Lewis, Sr. 1993. Hawley’s : Condensed Chemical Dictionary Twelfth


Edition. Reinhold Company. Van Norstand.

Pradyot, Patnaik. 2002. Handbook of Inorganic Chemicals. McGraw-Hill.

Perry, R.H., and Green, D.W., 1984, “Perry’s Chemical Engineers Hand
Book“, 6 th. ed. Mc. Graw Hill Co., International Student edition,
Kogakusha, Tokyo.

Petrucci, H. Ralph; Wiliam, S. Harwood; Geoffrey, F, Herring; dan Jeffrey


D. Madura. 2008. Kimia Dasar ( Prinsip – Prinsip dan Aplikasi
Modern) Edisi Kesembilan Jilid 2. Jakarta : Erlangga.

Saad, A. Asmawati; Santi Sinala; Indriani. 2019. Analisis Kadar Natrium


Benzoat Saos Tomat Jajanan Makanan di Lingkungan Kampus
STIKES Pelamonia Makassar dengan Metode Spektrofotometri
UV-Vis. Jurnal Penelitian Kesehatan Pelamonia Indonesia.
Volume 02, Nomor 01.

Sumardjo, Damin. 2008. Pengantar Kimia : Buku PAnduan Kuliah


Mahasiswa Kedokteran dan Program Strata 1 Fakultas
Bioeksakta. EGC: Jakarta
Winarno, Srikandi F, Dedi F. 1980. Pengantar Teknologi Pangan. Jakarta:
PT Gramedia.

J. Jawab Soal
1 Soal Uraikan secara narasi, singkat, dan padat tentang tata cara
pelaksanaan percobaan yang anda lakukan!
Jawaban Pada percobaan “Penentuan Kadar Asam Benzoat
Pada Minuman Teh Kemasan” dilakukan melalui 4 tahap.
Tahap pertama yaitu standarisasi NaOH. Dimasukkan 10
mL H2C2O4 0,05 M ke dalam erlenmeyer dan ditambahkan
3 tetes indikator PP, lalu dititrasi dengan NaOH dalam
buret hingga terjadi perubahan warna ungu lembayung
dan ukur volume titrasi.
Tahap kedua yaitu preparasi sampel. Dimasukkan 50
mL larutan sampel ke dalam corong pisah dan tambahkan
10 mL HCl 10% lalu dikocok. Kemudian tambahkan
CHCl3 25 mL, dikocok kembali lalu diamkan hingga
terbentuk 2 lapisan. Bagian kloroform ditampung dalam
erlenmeyer. Kemudian diuapkan diatas penangas sampai
residu kering. Tambahkan sedikit etanol sampai residu
larut, masukkan ke dalam labu takar 50 ml. Tambahkan
etanol hingga tanda batas.
Tahap ketiga yaitu uji kualitatif. Dimasukkan 3 ml
sampel hasil preparasi dalam tabung reaksi dan tambahkan
FeCl3.
Tahap keempat yaitu uji kuantitatif. Dimasukkan 10
ml sampel yang telah dipreparasi ke dalam Erlenmeyer
lalu tambahkan indikator PP, titrasi dengan NaOH hasil
standarisasi hingga ungu lembayung. Volume titrasi,
dicatat dan diulangi sebanyak 3 kali replikasi
Referensi
2 Soal Uraikan kegunaan atau fungsi setiap bahan yang anda
gunakan dalam pelaksanaan percobaan ini!
Jawaban Adapun bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini
yaitu aquadest yang berfungsi sebagai pelarut serta
membantu membersihkan alat-alat laboratorium dari zat
pengotor, CHCl3 yang berfungsi sebagai pelarut non-
polar, etanol 95% yang berfungsi sebagai pelarut yang
menghasilkan filtrat warna hijau (Kusumawati, 2016),
FeCl3 1% yang berfungsi untuk mengidentifikasi
senyawa tannin secara kualitatif (Fajrina, 2016), HCl
10% yang befungsi sebagai bahan pembuatan sampel,
H2C2O4 0,05 M yang berfungsi sebagai larutan baku
pimer dalam standarisasi NaOH (Basset, 1994)
Referensi Basset J. dan Mendham. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia
Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta: Buku
kedokteran EGC.
Fajrina, Anzharni., Junuarty Jubahar., Stevani Sabirin.
2016. Penetapan Kadar Tanin Pada Teh Celup yang
Beredar di Pasaran Secara Spektrofotometri UV-Vis.
Jurnal Farmasi Higea Vol. 8 No. 2
Kusumawati, Afriani. 2016. Identifikasi Flavonoid Daun
Teh Hijau (Camelia sinensis L. Kuntze) secara
Reaksi Warna dan Kromatograsi Lapis Tipis. As-
Syifaa Vol.8 No. 02.
3 Soal Uraikan tujuan dilakukan standarisas, penentuan angka
asam, preparasi sampel, uji kualitatif dan uji kuantitatif
yang dilakukan pada percobaan ini!
Jawaban a. Standarisasi
Standarisasi bertujuan untuk mengukur konsentrasi
sebenarnya dari larutan yang dihasilkan (Rusman, 2018).
b. Penentuan angka asam
Penentuan angka asam bertujuan untuk menentukan nilai
angka asam. Nilai angka asam yang besar menunjukkan
asam lemak bebas yang besar yang berasal dari hidrolisa
minyak ataupun karena proses pengolahan yang kurang
baik. Makin tinggi angka asam makin rendah kualitasnya
(Prasetyaningsih, 2017).
c. Preparasi sampel
Preparasi sampel bertujuan untuk mempersiapkan sampel
yang akan diujikan (Prasetyaningsih, 2017).
d. Uji kualitatif
Uji kualitatif bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya
asam benzoate pada minuman tersebut (Wati,2012).
e. Uji kuantitatif
Hasil panjang gelombang serapan maksimum asam
benzoat dalam pengukuran pada panjang
gelombang serapan maksimum,
bertujuan untuk mendapatkan serapan
yang optimal (Wati,2012).
Referensi Prasetyaningsih, Yusi. 2017. Identifikasi Kadar Natrium
Benzoat Pada Beberapa Merek Teh Kemasan,
Saos Tomat Dan Kecap. TEDC Vol. 11 No. 1,
Januari 2017.
Rusman. 2018. Kimia Larutan. Aceh :Unsyiah Press
Wati, Wahyu Irna. 2012. Determination Of Benzoic Acid
Levels In Some Brand Name Of Soft Drinks
By Ultraviolet Spectrophotometry. Jurnal Ilmiah
Kefarmasian, Vol. 2, No. 2, 2012 : 111 – 118.
4 Soal Sifat fisika dan kimia asam benzoate!
Jawaban Sifat fisik : hablur berbentuk jarum atau sisik, putih, sedikit
berbau, biasanya bau benzaldehid atau benzoin. Agak
mudah menguap pada suhu hangat, mudah menguap dalam
uap air
Sifat kimia : sukar larut dalam air, mudah larut dalam
etanol, dalam kloroform, dan dalam eter.
Referensi Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia, Ed. IV. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI
5 Soal Metode yang digunakan dalam menganalisis kadar asam
benzoate dan jelaskan!
Jawaban Metode yang digunakan dalam menganalisis kadar asam
benzoat yaitu metode titrasi asam basa. Titrasi asam basa
merupakan salah satu metode analisis kuantitatif untuk
menentukan konsentrasi dari suatu zat yang ada dalam
larutan. Keberhasilan dalam titrasi asam-basa sangat
ditentukan oleh kinerja indikator yang mampu
menunjukkan titik akhir dari titrasi. Suatu zat dapat
dikatakan sebagai indikator titrasi asam basa apabila dapat
memberikan perubahan warna sampel seiring dengan
terjadinya perubahan konsentrasi ion hidrogen atau
perubahan pH. Indikator asam basa yang sering digunakan
di laboratorium untuk titrasi asam basa merupakan
indikator sintetis contohnya fenolftalein (PP) dan metil
jingga (MJ).
Referensi Ratnasari, Sinta., et al. 2016. Studi Potensi Ekstrak Daun
Adam Hawa (Rhoeo discolor) Sebagai Indikator Asam-
Basa. Chimica et Natura Acta Vol.4 No.1
6 Soal Jelaskan Mekanisme perubahan warna yang terjadi pada
percobaan ini!
Jawaban Asam benzoat yang direaksikan FeCl3 warna larutan
menjadi putih kecoklatan dan saat dipanaskan warna
larutan berubah menjadi kuning kecoklatan hal tersebut
dikarenakan asam benzoat bereaksi dengan FeCl3 dengan
membentuk endapan besi (III) benzoat yang berwarna
jingga-kekuningan dan endapan tersebut dapat larut dalam
asam klorida.
Referensi Vogel, (Eds)., 1985, Buku Teks Analisis Anorganik
Kualitatif Makro dan Semimikro, Edisi Kelima,
diterjemahkan oleh Setiono dan Hadyana Pudjaatmaka,
402-403, PT. Kalman Media Pustaka, Jakarta.
7 Soal Jelaskan mengapa dilakukannya standarisasi, dan dalam
percobaan ini mengapa standarisasi NaOH menggunakan
asam oksalat!
Jawaban Standarisasi dilakukan untuk mengetahui konsentrasi
NaOH secara teliti sehingga konsentrasinya bisa
dinyatakan dalam satuan N atau M. Dipilih asam oksalat
karena asam oksalat memiliki berat ekuivalen (BE) yang
besar (126) sehingga tidak mudah terpengaruh
kemurniannya (Rohman, 2007).
Referensi Rohman, Abdul. 2007. Kimia Farmasi Analisis
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
8 Soal Simpulkan hasil percobaan sesuai dengan tujuan, terkait
dengan bahan dan teknik perngerjaan dan juga percobaan
yang gagal atau hasilnya tidak sesuai!
Jawaban a. Hasil pengamatan visual, diperoleh hasil sampel dengan
warna jingga dengan endapan warna hitam yang
menunjukkan hasil negatif karena tidak bewarna ungu.
b. Hasil perhitungan kadar asam benzoat dengan tiga
replikasi yaitu Replikasi 1 didapatkan hasil kadar 2,971
mg/ml, Replikasi 2 didapatkan hasil kadar 2,664 mg/ml,
Replikasi 3 didapatkan hasil kadar 2,562 mg/ml
c. Analisis secara kuantitatif untuk menentukan kadar
asam benzoat pada sampel teh kemasan dengan metode
titrasi asam-basa. Hasil menunjukkan kadar sebanyak
0,53% dimana kadar tersebut masih berada di rentang
aman untuk dikonsumsi
Referensi