Anda di halaman 1dari 7

TUGAS FARMAKOTERAPI II

Dosen Pengampu: Dewi Rahmawati, S.Farm., M.Farm-Klin., Apt.

NAMA : Eunike Filia Tandidatu


NIM : 1813015219
KELAS : D 2018

KASUS 1

Tn HM 45th BB 66kg TB ± 170cm MRS dengan keluhan sesak napas dengan


eksaserbasi akut, batuk sedikit. Pasien mengaku memiliki riwayat asma sejak 5 tahun
yang lalu, tidak memiliki hipertensi maupun DM. TD 180/90 mmHg, RR 25/menit,
Nadi 100x/menit. Pengobatan rutin seretide 250 mcg 2 puff 2 x1 dan salbutamol inhaler
prn. Pasien selanjutnya didiagnosa sebagai Asma dengan HT Bagaimana Pharm Care
pada kasus ini?

ASUHAN KEFARMASIAN

Nama : Tn. HM
Umur : 45 tahun
Berat Badan/Tinggi Badan : 66 kg/170 cm
Keluhan : sesak napas dengan eksaserbasi akut, batuk sedikit
Riwayat penyakit dahulu : Asma sejak 5 tahun yang lalu, tidak memiliki
hipertensi maupun DM
Tanda-tanda vital:
Suhu :-
Tekanan Darah (TD) : 180/90 mmHg
Respiratory Rate (RR) : 25/menit
Denyut Nadi : 100x/menit
Pengobatan : seretide 250 mcg 2 puff 2 x1 dan salbutamol inhaler
prn

A. DATA LAB
Parameter Kadar Normal Hasil Lab Keterangan
Tekanan darah 110/70-120/80 180/90 mmHg Tinggi
mmHg atau (diatas normal)
140/90 mmHg
Respiratory rate 12-16 bpm 25 bpm Tinggi
(diatas normal)
Denyut nadi 60-100 bpm 100 bpm Normal

B. DRP
Perlunya penambahan obat antihipertensi yang juga dapat digunakan pada pasien
dengan gangguan respirasi dan perlunya penggunaan obat yang memiliki aksi cepat
atau Short Acting β-Agonist (SABA).

C. ASSESMENT
Berdasarkan data lab, selain mengalami asma, pasien juga mengalami
hipertensi. Pada penderita asma yang menderita hipertensi seringkali memiliki
fenotipe asma yang parah dan menerima pengobatan jangka panjang atau dosis
tinggi dengan glukokortikoid sistemik, dapat menyebabkan tingginya tekanan
darah. Selain itu, seringnya penggunaan SABA sebagai obat penyelamat juga
menjadi perhatian sehubungan dengan risiko kardiovaskular. Oleh karena itu, target
terapi pada pasein ini adalah untuk meminimalkan dosis glukokortikoid sistemik
dan SABA. Pasien HM masuk rumah sakit karena mengalami eksaserbasi akut,
sehingga harus diberikan obat SABA untuk menghilangkan serangan dengan dosis
yang rendah untuk mengurangi risiko kardiovaskularnya.
Karena pasien baru satu kali mendapatkan hasil pemeriksaan tekanan
darah yang diatas normal, maka dari itu pada pasien HM diberikan obat
antihipertensi yang juga dapat diberikan pada pasien asma. Menurut review article
“Treatment of Hypertension in Patients with Asthma”, obat golongan ARB
(Angiotensin Receptor Blocker) merupakan obat pilihan yang bekerja pada sistem
renin-angiotensin untuk digunakan pada pasien asma yang mengalami hipertensi.
Tingkat sirkulasi angiotensin II dan renin ditemukan meningkat pada pasien dengan
asma berat selama eksaserbasi.Selain itu, obat golongan ARB tidak menyebabkan
batuk atau peningkatan respons jalan napas. Obat ARB yang dipilih yaitu
Candesartan. Mekanisme kerja dari candesartan yaitu bekerja dengan cara
menghambat reseptor angiotensin II. Ketika angiotensin dihambat, pembuluh darah
akan lemas dan melebar sehingga aliran darah menjadi lebih lancer dan tekanan
darah menurun. Candesartan merupakan agen antihipertensi dengan kerja long-
acting yang aktivitasnya lebih efektif dibandingkan obat lain dalam golongan ARB.
Untuk mengatasi sesak nafas dengan eksaserbasi akut, pasien dapat
diberikan terapi kombinasi ICS (Fluticasone propionate) dan formoterol sebagai
terapi kontrol dan pereda asma. Kombinasi ICS dengan formoterol memberikan
tingkat kontrol dan pereda asma yang baik.

D. PLAN
1. Plan Farmakologi
Berdasarkan tatalaksana terapi asma GINA (2015), pasien sebaiknya
menerima terapi dengan step 3, yaitu kombinasi ICS dan LABA dengan dosis
rendah sebagai terapi kontrol asma dengan penambahan SABA atau kombinasi
ICS dan formoterol sebagai terapi kontrol dan pereda asma.
a. Pemberian Fluticasone propionate untuk terapi asma jangka panjang.
Alasan: Pemberian golongan ICS ini untuk mengontrol gejala dan
meminimalisir risiko eksaserbasi. Kombinasi ICS dengan formoterol
memberikan tingkat kontrol dan pereda asma yang baik
Dosis: Dua semprotan (100 mcg) per lubang hidung sekali sehari; setelah
beberapa hari kurangi menjadi 1 semprotan per lubang hidung

b. Pemberian obat Formoterol sebagai SABA


Alasan: Formoterol termasuk golongan Long Acting Beta 2-Agonist
(LABA) yang juga efektif sebagai Short Acting β-Agonist (SABA) dimana
berperan dalam pereda eksaserbasi (reliever). Formoterol digunakan untuk
terapi jangka pendek, menghilangkan gejala serta untuk mencegah spasme
bronkus akibat kerja fisik dengan mula kerja yang sama cepatnya dengan
salbutamol.
Dosis:
 Terapi pelega : maksimal 6 spray per 1 x kejadian sesak napas
 Terapi pengontrol (jangka panjang): 4,5 mcg 1 atau 2 spray 2 x sehari

c. Pemberian Candesartan untuk antihipertensi


Jika modifikasi gaya hidup tidak dapat menurunkan tekanan darah pasien,
dapat digunakan obat Candesartan.
Alasan: Obat golongan ARB tidak akan memperparah batuk yang dialami
pasien
Dosis: 8-32 mg/hari

2. Plan Non-Farmakologi
a) ASMA
1) Memberikan edukasi kepada pasien untuk meningkatkan kepatuhan
pengobatan, keterampilan manajemen diri, dan penggunaan layanan
kesehatan.
2) Pemantauan PEF (Peak Expiratory Flow) atau pengukuran laju aliran
ekspirasi puncak pernapasan maksimal. PEF merupakan kecepatan
maksimal pengeluaran udara melalui hidung hanya untuk pasien
dengan asma persisten parah yang mengalami kesulitan merasakan
obstruksi saluran napas.
3) Menghindari pemicu alergi yang diketahui dapat memperbaiki gejala,
mengurangi penggunaan obat, dan menurunkan Bronchus
Hiperresponsiveness (BHR). Pemicu lingkungan (misalnya, hewan)
harus dihindari pada pasien yang sensitif, dan pada pasien perokok
harus didorong untuk berhenti merokok.
4) Pasien dengan asma akut berat harus menerima oksigen untuk
mempertahankan Pa02 lebih besar dari 90% (> 95% pada kehamilan
dan penyakit jantung). Dehidrasi harus diperbaiki; berat jenis urin
dapat membantu memandu terapi pada anak-anak ketika penilaian
status hidrasi sulit dilakukan.

b) HIPERTENSI
Modifikasi gaya hidup:
1) Mengurangi berat badan jika kelebihan berat badan
2) Gizi seimbang dan pembatasan gula, garam, dan diet kaya buah,
sayuran, produk rendah lemak dengan jumlah lemak total dan lemak
jenuh yang rendah (Dietary Approaches to Stop Hypertension)
3) Pembatasan natrium makanan menjadi 1,5 hari (3,8 g/hari natrium
klorida)
4) Melakukan aktivitas fisik aerobik teratur
5) Mengurangi mengonsumsi alkohol
6) Berhenti merokok.

E. MONITORING
1. Monitroing tekanan darah
2. Monitoring respiratory rate
3. Monitoring efek samping obat-obatan yang dipakai
a. Formoterol: sakit kepala, gangguan tidur, agitasi, lemah; kardiovaskular:
palpitasi, takikardi; sistem pernapasan: spasme bronkus; muskuloskeletal:
tremor, kram otot.
b. Fluticasone propionate: epistaksis, kandidiasis mulut dan kerongkongan.
c. Candesarstan : pusing, sakit kepala, mual, nyeri otot

F. KONSELING DAN EDUKASI


1. Edukasi pasien/keluarga mengenai cara penggunaan fluticasone
Kocok terlebih dulu sebelum digunakan. Kemudian dongakkan kepala dan
masukkan ujung semprotan ke salah satu hidung. Tutup lubang hidung yang lain
saat Anda menyemprotkan obat, lalu bernapaslah secara perlahan. Ulangi
langkah yang sama di lubang yang satunya.
2. Meningkatkan pemahaman mengenai penyakit asma secara umum dan pola
penyakit asma sendiri
3. Meningkatkan kemampuan dalam penanganan asma mandiri
4. Membantu pasien agar dapat melakukana penatalaksanan dan mengontrol asma
DAFTAR PUSTAKA

Christiansen, S. C., & Zuraw, B. L. (2019). Treatment of hypertension in patients with


asthma. New England Journal of Medicine, 381(11), 1046-1057.

DiPiro J.T., Wells B.G., Schwinghammer T.L. and DiPiro C. V., 2015,
Pharmacotherapy Handbook, Ninth Edit., page 89&818. McGraw-Hill
Education Companies, Inggris.

GINA (Global Initiative for Astma). 2015. Pocket Guide For Asthma Management and
Prevention.

Pusat Informasi Obat Nasional (PIONAS), Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM) Republik Indonesia 2015, Informatorium Obat Nasional Indonesia
(IONI), BPOM RI, diakses 22 Maret 2021.
http://pionas.pom.go.id/monografi/formoterol-fumarat

Okpechi. 2010. Update On The Role Of Candesartan In The Optimal Management Of


Hypertension And Cardiovascular Risk Reduction. Integrated Blood
Pressure Control. 3(45), (https://doi.org/10.2147/ibpc.s9963).