Anda di halaman 1dari 9

KOMPLIKASI KLINIS GIGI TIRUAN CEKAT

Sebuah komplikasi dapat didefinisikan sebagai penyakit atau kondisi sekunder yang
berkembang dari sebuah penyakit atau kondisi primer. Komplikasi dapat merefleksikan
terjadinya kegagalan klinis, namun dapat juga merefleksikan perawatan yang tidak sesuai
standar. Seringkali komplikasi juga muncul setelah atau saat prosedur perawatan gigi tiruan
cekat yang sesuai standar telah dilaksanakan.

Pengetahuan mengenai komplikasi klinis yang dapat muncul saat perawatan gigi tiruan
cekat bisa meningkatkan kemampuan klinisi untuk membuat diagnosis menyeluruh, menentukan
rencana perawatan yang tepat, mengkomunikasikan ekspektasi realistis pada pasien, dan
merencanakan interval yang tepat untuk kontrol pasca perawatan. Walaupun banyak terdapat
artikel mengenai data komplikasi klinis, tidak ada yang menyediakan perbandingan
komprehensif pada komplikasi terkait dengan restorasi yang paling banyak digunakan.

Pada bagian ini akan dibahas data mengenai insiden komplikasi klinis, identifikasi
komplikasi yang paling sering terjadi, dan membandingkan protesa berdasarkan insiden
komplikasi yang terjadi terkait mahkota tiruan tunggal (all metal, metal ceramic, resin veneered
metal); gigi tiruan sebagian cekat (all metal, metal ceramic, resin veneered metal); all ceramic
crown; resin bonded prostheses; dan pasak-inti.

MAHKOTA TIRUAN TUNGGAL

Total Penelitian: 8 penelitian

 1 penelitian mengidentifikasi jumlah komplukasi yang terjadi namun tidak


mendeskripsikan penyebab komplikasi.
 7 penelitian lain mengidentifikasi jumlah total komplikasi dan tipe komplikasi yang
terjadi.

Jumlah Populasi/ Subjek:


 1476 mahkota tiruan; 157 terkait dengan beberapa jenis komplikasi
Insidens Komplikasi

 11% (mean)

Durasi Penelitian

 1-23 tahun
 Rata-rata sekitar 6 tahun

Deskripsi Penelitian yang Ada

 Jackson et al hanya menyediakan data berkaitan dengan 1 jenis komplikasi (kebutuhan


perawatan endodontik) dan jumlahnya sudah termasuk dalam perhitungan populasi
komplikasi yang membutuhkan perawatan endodontik
 Penelitian yang dilakukan Hursey, Cheung, Milleding et al, Bergman et al, dan Nilson et
al termasuk dalam kalkulasi insidens yang mengevaluasi mahkota tiruan dalam periode
waktu 1-4 tahun dan mean insidens komplikasi yang dihasilkan sebesar 16%.
 Sementara penelitian Lundqvist et al, Palmqvist et al, dan Walton melaporkan data dari
penelitian yang durasinya 5 tahun atau lebih. Mereka melaporka mean insidens
komplikasi sebesar 7%.

Kebutuhan Perawatan Endodontik

o Diulas dalam 5 penelitian yang ada


o Dari 823 mahkota tiruan yang dipelajari, 27 memerlukan perawatan endodontik.
o Mean insidens 3%, kisaran insidens 0%-6%.
o Pada penelitian Lundqvist et al, 6% insidensi (3 dari 51 mahkota tiruan) berkaitan dengan
mahkota tiruan pinledge.masih dalam penelitian yang sama 2 dari 3 gigi yang
membutuhkan perawatan endodontik terjadi bersamaan dengan preparasi gigi dan 1
setelah restorasi.

Fraktur Porselen

o Penelitian Cheung, Milleding et al, dan Nilson et al mengidentifikasi insidens fraktur


porselen terjadi pada 6 dari 199 mahkota tiruan dengan kisaran 2,7% - 6%.
Kehilangan Retensi

o Dilaporkan oleh 5 penelitian yang ada.


o Terjadi kekendoran mahkota pada 19 mahkota tiruan dari 1061 yang ada. Mean
kehilangan retensi 2% dengan kisaran 1% - 23%.
o Kehilangan retensi terbanyak dialami oleh restorasi pinledge yang mean durasi
evaluasinya 98 bulan dan kisaran waktu observasi 75-108 bulan. Terdapat 12 dari 53
pinledge yang kehilangan retensi.

Penyakit Periodontal

o Dilaporkan oleh 5 penelitian yang ada.


o Mean insidens komplikasi 0,6% (6 dari 986 mahkota tiruan)
o Lundqvist et al, melaporkan hanya terdapat sedikit perubahan perbedaan yang terjadi
dibandingkan dengan kontrol. Hal ini senada dengan penelitian Bergman et al dan Nilson
et al yang durasinya masing-masing selama 2 tahun.

Karies

o Karies terjadi pada 4 dari 1105 mahkota yang diteliti pada 6 penelitian
o Mean insidens 0,4%. Kisaran insiden 0%- 2,7%.

MAHKOTA TIRUAN PENUH PORSELEN

Total Penelitian:

 22 studi klinis
 Tiga penelitian tidak memenuhi kriteria karena data dipublikasikan setelah periode waktu
yang lama.
 Satu penelitian (selain tiga sebelumnya) tidak digunakan karena tidak menyediakan data
yang sesuai kriteria inklusi meta analisis Goodacre et al.

Populasi/ Subjek Penelitian:


 4277 mahkota tiruan; 357 mengalami komplikasi

Durasi Penelitian:

 Berkisar antara 1 bulann sampai 14 tahun.


 Durasi rata-rata adalah 4 tahun.

Insidens Komplikasi

 Dari 18 penelitian yang memenuhi kriteria, evaluasi yang dilakukan berlangsung antara
1-4 tahun, mean insidens komplikasi 7%. Kisaran insidens komplikasi antara 0% - 18%
 Empat penelitian dengan durasi 5 tahun ke atas melaporkan mean komplikasi sebesar
14% (berkisar antara 8%- 18%)

Deskripsi Penelitian yang Ada

 Terdapat 22 studi klinis yang menyediakan data tentang 5 jenis komplikasi yang terjadi:
fraktur mahkota, kehilangan retensi, kebutuhan perawatan endodontik, karies dan
penyakit periodontal.
 Terdapat faktor komplikasi lain yang dievaluasi pada penelitian-penelitian yang ada
namun tidak memenuhi syarat jumlah penelitian sehingga tidak ada data yang
dimasukkan pada laporan Goodace et al. Faktor tersebut diantaranya adalah: warna yang
tidak sesuai, kehalusan dan ketepatan marginal, diskolorasi marginal, sensitivitas gigi,
dan kesejajaran oklusal.

Fraktur Mahkota

o Diulas dalam 22 penelitian yang ada


o Dari 4277 mahkota tiruan yang dipelajari, 318 mengalami fraktur mahkota.
o Mean insidens 7%, kisaran insidens 0%-16%.
o Pada penelitian dengan durasi 1-4 tahun dilaporkan mean fraktur mahkota sebesar 5%
dengan kisaran insidens dari 0% sampai 16%.
o Empat penelitian yang durasinya 5 tahun atauu lebih melaporkan mean insidens fraktur
sebesar 13% dan berkisar antara 5-14%.
o Ada yang mengevaluasi fraktur dan hubungannya dengan letak mahkota pada lengkung
gigi dan jejas keausan/ kebiasaan oklusal.
o Hubungan antara fraktur dan lokasi mahkota (anterior, premolar, molar) dievaluasi pada
10 penelitian. Mean fraktur pada gigi anterior sebesar 3% (40 dari 1255 mahkota
megalami fraktur); premolar 7% (46 dari 712 mahkota fraktur); molar 21% (138 dari 670
mahkota mengalami fraktur).
o Tiga dari empat penelitian yang mempelajari hubungan antara kebiasaan oklusal dengan
fraktur mahkota menyatakan bahwa karakter tersebut tidak berkorelasi secara substansif
dengan fraktur mahkota, sedangkan pada satu peneitian lain dinyatakan terdapat
hubungan yang sangat penting.

Kebutuhan Perawatan Endodontik

o Terdapat 12 penelitian yang mengidentifikasi jumlah gigi yang telah direstorasi yang
kemudian membutuhkan perawatan endodontik.
o Dari 1088 mahkota tiruan penuh porselen yang dievaluasi, 15 gigi membutuhkan
perawatan endodontik.
o Mean insidens sebesar 1%, dengan kisaran dari 0% sampai 5% pada setiap penelitian.

Kehilangan Retensi

o Dilaporkan oleh 4 penelitian yang ada.


o Terjadi kekendoran mahkota pada 11 mahkota tiruan dari 545 yang ada. Mean
kehilangan retensi 2% dengan kisaran 0,3% - 5%.

Penyakit Periodontal

o Dilaporkan oleh 8 penelitian yang ada.


o Dari 942 mahkota tiruan, tidak dilaporkan terjadi perubahan yang signifikan pada
keadaan perioodontall gigi yang diteliti.

Karies

o Karies terjadi pada 13 dari 1650 mahkota yang diteliti pada 13 penelitian
o Mean insidens 0,8%. Kisaran insiden 0%- 5%.
RESIN BONDED PROSTHESES

Total Penelitian:

 Terdapat 56 penelitian yang diterbitkan.


 Hanya 48 yang menggunakan grup pasien yang berbeda.
 Penelitian lain hanya meneliti satu pasien dalam jangka waktu yang berbeda, sehingga
merupakan kriteria ekslusi pada penelitian Goodacre et al.

Populasi/ Subjek Penelitian:

 7029 resin bonded prostheses; 1823 mengalami komplikasi

Durasi Penelitian:

 Berkisar antara 1 bulann sampai 15 tahun.


 Durasi rata-rata adalah 4 tahun.

Insidens Komplikasi

 Dari 48 penelitian yang memenuhi kriteria, evaluasi yang dilakukan berlangsung antara
1-4 tahun (37 penelitian), mean insidens komplikasi 25%. 1304 dari 5024 resin bonded
prostheses mengalami komplikasi.
 Sebelas penelitian dengan durasi 5 tahun ke atas melaporkan mean komplikasi sebesar
28% . 519 dari 1825 resin bonded prostheses mengalami komplikasi.

Deskripsi Penelitian yang Ada

 Terdapat 48 penelitian yang menyediakan data tentang 5 jenis komplikasi yang terjadi:
debonding, diskolorasi gigi penjangkaran, karies gigi penjangkaran, fraktur porselen, dan
penyakit periodontal

Fraktur Porselen

o Diulas dalam 15 penelitian yang ada


o Dari 1126 resin bonded prostheses, mengalami fraktur porselen
o Mean insidens 3%, kisaran insidens 0,8%- 8%.
o Empat penelitian diantaranya melaporkan tidak terjadi fraktur porselen sama sekali,
sedangkan 11 penelitian lain melaporkan insidens fraktur porselen.

Diskolorasi Gigi Penjangkaran

o Keberadaan metal pada permukaan lingual mengakibatkan diskolorasi gigi penjangkaran.


o Komplikasi ini kedua paling sering terjadi.
o Terdapat 7 penelitian yang mengidentifikasi jumlah gigi penjangkaran yang mengalami
diskolorasi.
o Dari 343 resin bonded prostheses, 62 gigi mengalami diskolorasi.
o Mean insidens sebesar 18%, dengan kisaran dari 3% sampai 37% pada setiap penelitian.

Penyakit Periodontal

o Dilaporkan oleh 15 penelitian yang ada.


o Tujuh penelitian melaporkan tidak terdapat masalah periodontal, 4 menyatakan terjadi
inflamasi minimal, dan pada salh satu penelitian 1 protesa harus diekstraksi karena
penyakit periodontal tingkat lanjut. Sedangkat 3 studi lainnya menyatakan tidak terjadi
perubahan periodontal yang signifikan.

Debonding

o Dilaporkan oleh 48 penelitian yang ada.


o Dari 7029 resin bonded prostheses, terdapat 1481 yang mengalami debonding.
o Mean insidens 21% dengan kisaran 0%-52%.
o Dari 27 penelitian yang membandingkan debonding yang terjadi di maksila dan
mandibula, 6 penelitian menyatakan lebih sering terjadi debonding pada maksila, 8
menyatakan lebih sering pada mandibula, dan 13 penelitian lain tidak menemukan
perbedaan yang signifikan.
o Dari 23 penelitian yang membandingkan debonding antara protesa anterior dan posterior,
8 menyatakan lebih sering trjadi pada protesa posterior, 4 menyatakan lebih sering pada
anterior, dan 11 menyatakan tidak terdapat perbedaan signifikan.
o Perbandingan antara preparasi minimal/ gigi penjangkaran yang tidak dipreparasi dengan
preparasi gigi retentif dibahas dalam 9 penelitian. Kriteria preparasi retentive: terdapat
proximal guiding surface,diperluas sampai seluruh permukaan besar gigi, groove
proksimal, pinholes, dan rest. Tiga penelitian menyatakan tidak terdapat perbedaan
signifikan, sedangkan 5 penelitian meyatakan debonding terjadi lebih minimal pada gigi
yang dipreparasi secara retentif.
o Pada 8 penelitian mengenai efek jenis kelamin, 5 penelitian menyatakan tidak terdapat
perbedaan bermakna, sedangkan 3 penelitian menyatakan terdapat insidens yang lebih
besar pada pasien pria.
o Enam penelitan mengenai efek span. Penelitian menyatakan semakin panjang span,,
maka debonding akan semakin sering.
o Dari 8 penelitian mengenai efek kekuatan oklusal, 2 mengindikasikan insidens
debonding sebesar 70% dan 45% terjadi pada daerah dengan kekuatan oklusal yang
besar. Penelitian lain menyatakan 22% debonding terjadi karena kekuatan oklusal yang
besar.

Karies Gigi Penjangkaran

o Karies terjadi pada 242 dari 3246 gigi penjangkaran resin bonded prostheses yang diteliti
pada 22 penelitian
o Mean insidens 7%. Kisaran insiden 0%- 12%.

GIGI TIRUAN SEBAGIAN CEKAT: POST & CORES

Terdapat 12 studi klinis yang melaporkan sejumlah kasus post dan core yang telah
dievaluasi, serta sejumlah komplikasi yang dihadapi. Dalam studi tersebut, terdapat 279
komplikasi yang ditemukan dari 2784 kasus post dan core, yang menghasilkan angka insiden
rata-rata sebesar 10%. Periode rata-rata observasi kasus post dan core dari ke-12 studi ini
adalah ± 6 tahun. Beberapa komplikasi yang paling sering ditemukan antara lain post yang
menjadi longgar, fraktur akar, karies, dan penyakit periodontal. Terdapat 11 studi yang
menyediakan data yang berhubungan dengan kelonggaran post, dimana 135 dari jumlah 2596
total kasus mengalami kelonggaran post dan insidens rata-rata komplikasi ini sebesar 5%. Dari
13 studi klinis, fraktur akar juga ditemukan pada 95 dari jumlah 3043 total kasus, sehingga
menghasilkan angka insiden rata-rata sebesar 3%. Beberapa studi juga melaporkan adanya karies
sebagai salah satu penyebab kegagalan post dan core, dimana ditemukan 16 dari jumlah 1047
total kasus pada 4 studi klinis. Kegagalan yang disebabkan oleh penyakit periodontal dari gigi
yang telah direstorasi dengan post dan core juga diidentifikasi pada 3 studi klinis, dimana 6 dari
jumlah 283 total kasus mengalami komplikasi ini, sehingga insiden rata-ratanya sebesar 2%.

Terdapat juga beberapa faktor penyebab lain yang dapat mengakibatkan kegagalan dari
post dan core seperti perforasi akar, patahnya (fraktur) post, serta kegagalan endodontik.
Namun, data-data insiden dari ketiga komplikasi diatas hanya terdapat pada 2 studi klinis
sehingga tidak dapat dimasukkan.

Efek dari posisi gigi pada lengkung rahang juga diteliti pada 6 studi klinis, akan tetapi
tidak terdapat angka insiden yang spesifik. Tiga dari 6 studi klinis tersebut menyebutkan tingkat
kegagalan yang lebih tinggi pada anterior maksila, namun 2 dari 6 studi klinis tersebut
menganggap bahwa posisi gigi pada lengkung rahang bukan merupakan faktor yang signifikan.

Anda mungkin juga menyukai