Anda di halaman 1dari 9

A.

Teori Dasar Penyakit


1. Pengertian Dekubitus
Dekubitus berasal dari bahasa latin decumbree yang berarti merebahkan
diri yang didefinisikan sebagai suatu luka akibat posisi penderita yang tidak
berubah dalam jangka waktu lebih dari 6 jam (Sabandar, 2008). Dekubitus
adalah kerusakan struktur anatomis dan fungsi kulit normal akibat dari
tekanan eksternal yang berhubungan dengan penonjolan tulang dan tidak
sembuh dengan urutan dan waktu yang biasa. Selanjutnya gangguan ini
terjadi pada individu yang berada di atas kursi atau diatas tempat tidur sering
kali pada inkontinensia, malnutrisi, ataupun individu yang mengalami
kesulitan makan sendiri, serta mengalami gangguan tingkat kesadaran (potter
& perry, 2005).
Dekubitus adalah kerusakan jaringan terlokalisir yang disebabkan karena
adanya penekanan jaringan lunak diatas tulang yang menonjol (Bony
Prominence) akibat adanya tekanan dari luar dalam jangka waktu lama yang
menyebabkan gangguan pada suplai darah pada daerah yang tertekan
Sehingga terjadi terjadi insufisiensi aliran darah, anoksia, isckemic jaringan
dan akhirnya dapat mengakibatkan kematian sel (Sari, 2007). Pressure Ulcers
(diketahui sebagai luka tekan, luka ranjang atau luka dekubitus) adalah
kerusakan jaringan yang terlokasi karena tekanan yang berlebihan yang
terjadi pada area tertentu yang tidak mengalami reposisi (Moore & Cowman,
2009).
Luka tekan telah lama dikenal di kalangan perawatan kesehatan dan ini
merupakan masalah cukup sulit diatasi bagi para praktisi perawatan karena
memang banyak faktor yang terkait dengan upaya penyembuhan luka tekan
(Fatmawati, 2007).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Dekubitus
adalah kerusakan jaringan terlokalisir yang disebabkan karena adanya
penekanan jaringan lunak diatas tulang yang menonjol (Bony Prominence)
akibat adanya tekanan dari luar dalam jangka waktu lama.

2. Epidemiologi Dekubitus
Prevalensi adalah jumlah kasus yang ada dalam sebuah populasi pada
saat waktu tertentu (AHCPR, 1994). Angka prevalensi bervariasi pada
berbagai keadaan klien . Angka prevalensi yang dilaporkan dari rumah sakit
berada di rentang antara 3% - 11% (Allman, 1989), 11% (Meehan, 1994),
14% (Langemo dkk, 1989) dan 20% Leshem dan Skelskey, 1994). (Angka
prevalensi pada tempat perawatan pemulihan dan perawatan jangka panjang
berada pada rentang dari 3,5% Leshem dan Skelskey, 1994), 5% (Survey
McKnight, 1992), sampai 23% (Langemo dkk, 1989; Young 1989).
Prevalensi dekubitus pada individu yang dirawat di rumah tanpa supervisi
atau dengan bantuan tenaga professional tidak begitu jelas (AHCPR, 1994).

3. Etiologi dekubitus
Luka dekubitus disebabkan oleh kombinasi dari faktor ekstrinsik dan
intrinsik pada pasien, yaitu sebagai berikut :
1. Faktor Ekstrinsik
a. Tekanan
Kulit dan jaringan dibawahnya tertekan antara tulang dengan
permukaan keras lainnya, seperti tempat tidur dan meja operasi.
Tekanan ringan dalam waktu yang lama sama bahayanya dengan
tekanan besar dalam waktu singkat. Terjadi gangguan mikrosirkulasi
lokal kemudian menyebabkan hipoksi dan nekrosis. tekanan antar
muka ( interface pressure). Tekanan antar muka adalah kekuatan per
unit area antara tubuh dengan permukaan matras. Apabila tekanan
antar muka lebih besar daripada tekanan kapiler rata rata, maka
pembuluh darah kapiler akan mudah kolap, daerah tersebut menjadi
lebih mudah untuk terjadinya iskemia dan nekrotik. Tekanan kapiler
rata rata adalah sekitar 32 mmHg.
b. Gesekan dan pergeseran
Gesekan berulang akan menyebabkan abrasi sehingga integritas
jaringan rusak. Kulit mengalami regangan, lapisan kulit bergeser
terjadi gangguan mikrosirkulasi lokal.
c. Kelembaban
Menyebabkan maserasi, biasanya akibat inkontinensia, drain dan
keringat. Jaringan yang mengalami maserasi akan mudah mengalami
erosi. Selain itu kelembapan juga mengakibatkan kulit mudah terkena
pergesekan (friction) dan perobekan jaringan (shear). Inkontinensia
alvi lebih signifikan dalam perkembangan luka tekan daripada
inkontinensia urin karena adanya bakteri dan enzim pada feses dapat
merusak permukaan kulit.
d. Kebersihan tempat tidur, alat-alat tenun yang kusut dan kotor, atau
Peralatan medik yang menyebabkan klien terfiksasi pada suatu
sikap tertentu juga memudahkan terjadinya dekubitus.

2. Fase Intrinsik
a. Usia
Pada usia lanjut akan terjadi penurunan elastisitas dan
vaskularisasi. Pasien yang sudah tua memiliki resiko yang tinggi
untuk terkena luka tekan karena kulit dan jaringan akan berubah
seiring dengan penuaan. Penuaan mengakibatkan kehilangan otot,
penurunan kadar serum albumin, penurunan respon inflamatori,
penurunan elastisitas kulit, serta penurunan kohesi antara epidermis
dan dermis. Perubahan ini berkombinasi dengan faktor penuaan lain
akan membuat kulit menjadi berkurang toleransinya terhadap
tekanan, pergesekan, dan tenaga yang merobek. Selain itu, akibat dari
penuaan adalah berkurangnya jaringan lemak subkutan,
berkurangnya jaringan kolagen dan elastin. menurunnya efesiensi
kolateral kapiler pada kulit sehingga kulit menjadi lebih tipis dan
rapuh.
b. Penurunan sensori persepsi
Pasien dengan penurunan sensori persepsi akan mengalami
penurunan untuk merasakan sensari nyeri akibat tekanan diatas
tulang yang menonjol. Bila ini terjadi dalam durasi yang lama, pasien
akan mudah terkena luka tekan. karena nyeri merupakan suatu tanda
yang secara normal mendorong seseorang untuk bergerak. Kerusakan
saraf (misalnya akibat cedera, stroke, diabetes) dan koma bisa
menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk merasakan nyeri.
c. Penurunan kesadaran
Hal ini seperti angguan neurologis, trauma, analgetik narkotik.
d. Malnutrisi
Orang-orang yang mengalami kekurangan gizi (malnutrisi) tidak
memiliki lapisan lemak sebagai pelindung dan kulitnya tidak
mengalami pemulihan sempurna karena kekurangan zat-zat gizi yang
penting.
Malnutrisi memiliki resiko tinggi menderita ulkus dekubitus.
Selain itu, malnutrisi dapat gangguan penyembuhan luka. Biasanya
berhubungan dengan hipoalbumin. Hipoalbuminemia, kehilangan
berat badan, dan malnutrisi umumnya diidentifikasi sebagai faktor
predisposisi untuk terjadinya luka tekan.
e. Mobilitas dan aktivitas
Mobilitas adalah kemampuan untuk mengubah dan mengontrol
posisi tubuh, sedangkan aktivitas adalah kemampuan untuk
berpindah. Pasien yang berbaring terus menerus ditempat tidur tanpa
mampu untuk merubah posisi beresiko tinggi untuk terkena luka
tekan. Orang-orang yang tidak dapat bergerak (misalnya lumpuh,
sangat lemah, dipasung). Imobilitas adalah faktor yang paling
signifikan dalam kejadian luka tekan.
f. Merokok
Nikotin yang terdapat pada rokok dapat menurunkan aliran darah
dan memiliki efek toksik terhadap endotelium pembuluh darah
g. Temperatur kulit
Peningkatan temperatur merupakan faktor yang signifikan
dengan resiko terjadinya luka tekan.
h. Kemampuan sistem kardiovaskuler menurun, sehingga perfusi kulit
menurun.
i. Anemia
j. Hipoalbuminemia, beresiko tinggi terkena dekubitus dan
memperlambat penyembuhannya.
k. Penyakit-penyakit yang merusak pembuluh darah juga
mempermudah terkena dekubitus dan memperburuk dekubitus.

4. Patofisiologi Dekubitus
5. Pathway Dekubitus
6. Klasifikasi
Dekubitus dapat terjadi pada pasien-pasien paraplegia, quadriplegia,
spina bifida, multipel sklerosis dan imobilisasi lama di rumah sakit. Selain
itu, factor lain perlu diketahui dari riwayat penderita meliputi onset, durasi,
riwayat pengobatan sebelumnya, perawatan luka, riwayat operasi
sebelumnya, status gizi dan perubahan berat badan, riwayat alergi, konsumsi
alkohol, merokok serta keadaan sosial ekonomi penderita. Anamnesa sistem
termasuk di dalamnya antara lain demam, keringat malam, spasme (kaku),
kelumpuhan, bau, nyeri (Arwaniku, 2007).
Menurut NPUAP ( National Pressure Ulcers Advisory Panel ), luka tekan
dibagi menjadi empat stadium ,yaitu :
a. Stadium 1 : Ulserasi terbatas pada epidermis dan dermis dengan eritema
pada kulit. Penderita dengan sensibilitas baik akan mengeluh nyeri,
stadium ini biasanya reversible dan dapat sembuh dalam 5-10 hari.
b. Stadium 2 : Ulserasi mengenai dermis, epidermis dan meluas ke jaringan
adiposa terlihat eritema dan indurasi serta kerusakan kulit partial
(epidermis dan sebagian dermis) ditandai dengan adanya lecet dan lepuh .
Stadium ini dapat sembuh dalam 10- 15 hari.
c. Stadium 3 : Ulserasi meluas sampai ke lapisan lemak subkulit dan otot
sudah mulai terganggu dengan adanya edema dan inflamasi, infeksi akan
hilang struktur fibril. Kerusakan seluruh lapisan kulit sampai subkutis,
tidak melewati fascia. Biasanya sembuh dalam 3-8 minggu.
d. Stadium 4 : Ulserasi dan nekrosis meluas mengenai fasia,otot serta sendi.
Dapat sembuh dalam 3-6 bulan.

7. Gejala Klinis
Tanda dan Gejala dari ulkus dekubitus di bagi berdasarkan stadium,
yaitu
sebagai adalah sebagai berikut : :
1. Stadium 1 :
a. Adanya perubahan dari kulit yang dapat diobservasi. Apabila
dibandingkan dengan kulit yang normal, maka akan tampak salah
satu tanda sebagai berikut: perubahan temperatur kulit (lebih dingin
atau lebih hangat)
b. Perubahan konsistensi jaringan (lebih keras atau lunak)
c. Perubahan sensasi (gatal atau nyeri)
d. Pada orang yang berkulit putih, luka mungkin kelihatan sebagai
kemerahan yang menetap. Sedangkan pada yang berkulit gelap, luka
akan kelihatan sebagai warna merah yang menetap, biru atau ungu.
2. Stadium 2 :
a. Hilangnya sebagian lapisan kulit yaitu epidermis atau dermis, atau
keduanya.
Cirinya adalah lukanya superficial, abrasi, melempuh, atau
membentuk lubang yang dangkal.
3. Stadium 3 :
a. Hilangnya lapisan kulit secara lengkap, meliputi kerusakan atau
nekrosis dari jaringn subkutan atau lebih dalam, tapi tidak sampai
pada fascia. Luka terlihat seperti lubang yang dalam.
4. Stadium 4 :
a. Hilangnya lapisan kulit secara lengkap dengan kerusakan yang luas,
nekrosis jaringan, kerusakan pada otot, tulang atau tendon. Adanya
lubang yang dalam serta saluran sinus juga termasuk dalam stadium
IV dari luka tekan.

8. Pemeriksaan Diagnostik/ Penunjang


Pemeriksaan yang dilakukan pada pasien yang menderita dekubitus
antara lain :
a. Darah lengkap
b. Peningkatan tertentu awal menunjukkan hemo konsentrasi, sehubungan
dengan perpindahan atau kehilangan cairan dan untuk mengetahui adanya
defisiensi nutrisi pada klien. Jika terjadi leukositosis karena adanya
kehilangan sel pada sisi luka dan respon inflamasi terhadap edema.
Glukosa serum yang terjadi peningkatan karena respon stres.
c. Biopsi luka
Untuk mengetahui jumlah bakteri.
d. Kultur swab
Untuk mengidentifikasi tipe bakteri pada permukaan ulkus.
e. Pembuatan foto klinis
f. Urine
Pemeriksaan didapatkan adanya glukosa dalam urine. Pemeriksaan
dilakukan dengan cara Benedict ( reduksi ). Hasil dapat dilihat melalui
perubahan warna pada urine : hijau ( + ), kuning ( ++ ), merah ( +++ ),
dan merah bata ( ++++ ).

9. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dari dekubitus diataranya :
1. Observasi keadaan kulit
Pemeriksaan dengan cara inspeksi, visual, dan taktil pada kulit. Observasi
dilakukanuntuk menentukan karakteristik kulit normal pasien dan
setiap area yang potensialatau aktual mengalami kerusakan. Tanda
peringatan dini yang menunjukkankerusakkan jaringan akibat tekanan
adalah lecet atau bintil-bintil pada area yangmenanggung beban berat
tubuh mungkin disertai hiperemia.
2. Mobilisasi
Pasien harus memiliki rentang gerak yang adekuat untuk bergerak secara
mandiri ke bentuk posisi yang lebih terlindungi. Lakukan
perubahan posisi setiap 2 jam untukmenghilangkan tekanan yang dialami
sehingga luka dekubitus tidak bertambah luas.
3. Status nutrisiUntuk mempercepat penyembuhan luka dekubitius lakukan
diet TKTP.
4. Nyeri
Manajemen nyeri dalam perawatan pasien luka dekubitus5.
5. Infeksi
Dapat diberikan antipiretik dan antibiotik spektrum luas untuk mengatasi
infeksinya. Bila dapat dikultur, maka antibiotik diberikan sesuai hasil
kultur.

10. Komplikasi
Komplikasi sering terjadi pada luka dekubitus derajat III dan IV,
walaupun dapat terjadi pada luka yang superfisial.
Menurut subandar (2008) komplikasi yang dap-at terjadi antara lain:
1. Infeksi Sering bersifat multibakterial, baik yang aerobic maupun anaerobic.
2. Keterlibatan jaringan tulang dan sendi, seperti : periostitis, osteitis,
osteomielitis.
3. Septicemia
4. Anemia
5. Hipoalbumin
6. Hiperalbumin
7. Kematian
DAFTAR PUSTAKA

Atika, S. 2018. Asuhan Keperawatan Ulkus Dekubitus. Tersedia pada


https://www.academia.edu/34670874/Asuhan_Keperawatan_Ulkus_Dek
ubitus diakses pada tanggal 18 November 2020
Sabandar. 2008. Laporan Pendahuluan Dekubitus. Tersedia pada
http://digilib.unimus.ac.id/files//disk1/168/jtptunimus-gdl-
sutrisnoni-8359-3-i.babii-e.pdf diakses pada tanggal 18 November
2020
Udayati, M. 2017. Askep Dekubitus Pada Lansia. Tersedia pada
https://www.academia.edu/16447539/Ashuhan_Keperawatan_Ulkus_Dekubit
us diakses pada tanggal 18 November 2020
Utari. 2016. Konsep Asuhan Keperawatan Dekubitus Pada Lansia. Tersedia pada
https://www.academia.edu/28699258/Konsep_Asuhan_Dasar_Keperawa
tan_Dekubitus_Pada_Lansia diakses pada tanggal 18 November 2020

Anda mungkin juga menyukai